Selasa, 07 Agustus 2012

Ramadhan Jadul - Persiapan Lebaran

Puasa di paruh pertama tahun 1960an dalam ingatan saya kegembiraan yang “suram”. Gembira karena kami semua menikmati libur panjang hampir selama 1,5 bulan. Dengan demikian, selama satu bulan penuh, sambil menunggu orangtua menunaikan shalat tarawih, anak-anak bisa bermain di halaman rumah atau bahkan di tengah jalanan yang memang masih sepi dari kendaraan bermotor.
Namun, tidak bisa dipungkiri, kehidupan masa itu memang suram. Konon ekonomi Indonesia memang sudah menunjukkan arah kebangkrutan yang di kemudian hari baru saya tahu disebabkan oleh proyek-proyek yang disebut golongan Orba sebagai proyek mercusuarnya Bung Karno. Namun di balik pengetahuan anak usia SD kelas 2 – 4, saat itu, saya hanya mengenangkannya melalui beberapa peristiwa sehari-hari.
Saat itu, Indonesia memang sedang memasuki periode konfrontasi dengan Malaysia. Coretan-coretan anti Malaysia seperti “Ganyang Malaysia”, Malaysia boneka Inggris atau Malaysia antek Inggris bertebaran dimana-mana. Pada malam hari yang temaram, seringkali tiba-tiba terdengar bunyi sirine yang dibarengi denganpemadaman lampu. Kalau sudah begini, maka anak-anak wajib masuk ke kolong tempat tidur atau dimana saja mencari perlindungan. Ini dinamakan latihan bila ada serangan udara pada malam hari.
Bukan hanya konfrontasi saja yang menyebabkan kehidupan menjadi suram. Kesulitan ekonomi negara tercermin dari berbagai "fasilitas" yang biasa diperoleh para pegawai. Entah karena ekonomi Indonesia menganut gaya sosialis, saya hanya ingat bahwa setiap bulan selalu ada pembagian beras dari kantor dan setahun sekali saya ditugasi ibu untuk antri mengambil jatah kain/bahan baju. 
Pernah pada bulan-bulan tertentu, ayah saya membawa sekarung jagung pecah jatah pembagian kantor untuk makan kami serumah sebagai pengganti beras. Maka, hari-hari kemudian, selama sebulan kami akan menyantap nasi jagung tersebut. Di lain waktu, ayah membawa sekarung bulgur yang berwarna kecoklatan. Bagaimana rasanya…? Jujur saja, saya sudah lupa bagaimana rasa bulgur. Kalau rasa jagung, tentu masih tahu karena sampai saat ini saya masih sering dan suka menyantap cenil lengkap dengan getuk dan jagungnya. Apalagi perkedel jagung manis merupakan salah satu santapan kesukaan saya. Namun demikian, berbagai kesuraman itu tidaklah menyurutkan minat masyarakat untuk merayakan Idul Fitri dengan sebaik-baiknya.
Nah bagaimana masyarakat Betawi mempersiapkan lebaran? 
Pada paruh kedua bulan puasa, ibu-ibu mulai mempersiapkan kue lebaran. Semua memang harus disiapkan sendiri, karena toko kue belum umum. Andaikan ada, maka hanya orang-orang kayalah yang mempu membelinya. 
Umumnya mereka membuat kue semprit atau nastar. Kalau nastar, tahu kan? Itu lho, kue kering umumnya berbentuk bulat kelereng yang isinya selai nanas. Ada juga yang berbentuk bulat panjang seperti biji kenari. Membuatnya agak repot, karena kita harus terlebih dahulu menyiapkan dan membuat selai nanas. Kastengel…? Aduh… jauh deh… itu makanan orang kaya, karena keju sudah pasti sukar diperoleh.
Kalau kue semprit, ada nggak yang tahu benda seperti apa itu? Sekarang kue semprit disebut cookies terbuat dari adonan tepung mentega, telur dan gula. Kenapa disebut semprit? Karena untuk mencetak kue, adonan dimasukkan ke dalam contong kertas minyak yang ujungnya sudah disisipkan corong kecil yang ujungnya berlubang. Ada yang lubangnya datar, ada juga yang bergerigi. Kalau contong sudah terisi sekitar ½nya, maka ujung kertas akan dipelintir dan didorong agar kue keluar dari corong. Itu sebabnya disebut semprit. Mungkin diimaginasikan seperti saat kita meniup sempritan/peluit.
Corong yang lubang datar akan membentuk kue yang lurus-lurus saja, sedang corong bergerigi akan mengeluarkan adonan bergelombang seperti helai bunga. Lalu bagian tengahnya diberi bulatan kecil, biasanya adonan yang diberi coklat. Karena saat itu belum ada mixer, maka suara kopyokan telur ramai bersahut-sahutan dari rumah kerumah membentuk simpony indah khas ramadhan di perkampungan. Kadang-kadang ada beberapa tetangga yang saling bergotong-royong saling menyumbang bagian bahan kue yang dimiliknya, lalu memasaknya bersama untuk kemudian dibagikan.
Nenek saya yang keturunan Sunda-Betawi, selalu membuat geplak, kue satu khas betawi dan kue lapis legit selain tape ketan dan uli. Makanan buatan nenek saya itu legit dan enak sekali. Apalagi tape ketan dan ulinya. Duh, rasanya sampai sekarang saya belum pernah menemukan tape ketan selezat buatannya.. Selain itu ada penganan bernama geplak. Geplak adalah makanan kesukaan nenek saya. Jadi lebaran ibarat tidak bermakna tanpa geplak. Di luar lebaran, beliau seringkali membuatnya. 
Tahukan anda apakah geplak itu? 
Makanan ini dibuat dari bahan tepung beras dan kelapa parut yang disangrai, lalu dimasukkan ke dalam cairan gula merah atau biasa disebut kinca. Diaduk secukupnya dengan porsi tepung beras yang sangat banyak sehingga membentuk adonan basah sekedarnya dan bisa dipipihkan. Sudah… begitu saja. Sederhana sekali pembuatannya. Tapi, walaupun sederhana, persiapannya cukup lama karena kita harus membuat sendiri tepung beras. Saya lebih suka makan tepung beras yang sudah tercampur kelapa parut itu lalu ditambahkan gula pasir. Ini disebut sagon. Enak lho…, karena bahan-bahannya alami dan tepung berasnyapun masih baru. Yang mengagumkan ... walau usia beliau sudah cukup lanjut, menumbuk beras hingga menjadi tepung beras, dilakukannya sendiri. Bukan karena terlalu rajin, tetapi jangan bayangkan suasana pasar seperti masa kini dimana semua serba ada. Pada tahun 1960an, semua harus dikerjakan sendiri dan beruntunglah, bahwa karenanya semua bahan makanan dan kue2an masih alami, tanpa bantuan bahan kimiawi yang banyak digunakan saat ini.
Ibu saya, biasanya sibuk menjahit. Beliau memang bisa menjahit baju perempuan. Jadi semua baju anak-anaknya adalah buatannya. Apalagi, pada saat itu industri pakaian jadi masih sangat terbatas. Jarang orang membeli baju jadi. Department Store belum menjamur. Hanya ada Toko Matahari di Pasar Baru .. cikal bakal Matahari Department Store yang kita kenal sekarang dan satunya toko Mickey Mouse. Jadi hanya berbentuk toko biasa.

Bahan pakaian, seperti juga beras, berasal dari penukaran kupon. Sayang, saya nggak tahu bagaimana ayah saya memperoleh kupon tersebut. Apakah pembagian kantor atau membelinya. Bisa jadi itu adalah jatah pegawai BUMN, karena ayah saya bekerja di salah satu BUMN keuangan. Bahan pakaian pembagian itu, biasanya bisa dibuat baju untuk semua anak-anaknya. Jadi jangan heran kalau pada saat lebaran kami sekeluarga memakai baju seragam. Bukan karena disengaja seperti sekarang, tetapi jaman itu, lebih dikarenakan itulah kemampuan yang dimiliki setiap keluarga.
Saya dan adik-adik hanya bisa memiliki baju dan sepatu baru saat lebaran. Biasanya ibu saya akan menjahitkan 3 buah rok seragam dengan adik-adik. Bukan hanya seragam motifnya tetapi juga modelnya. Sepatu selalu beli di Pasar Baru. Ada satu toko sepatu kulit yang sangat terkenal. Modelnya bagus dan kualitasnya prima. Rasanya, semua orang di Jakarta kenal dengan toko SIN LIE SENG. 

Begitulah berlangsung hingga saya duduk di bangku kelas 6 SD, saat saya mulai melakukan protes-protes kecil agar tidak dibuat seragam lagi. Saat itulah ibu saya mulai membedakan warna dan model baju namun bahannya tetap sama untuk menghindari rasa iri di antara kami.
Sementara itu, ayah saya akan mengecat rumah kami yang setengah tembok dengan kapur sepulang kerja dan terutama di akhir minggu. Saat itu, jam kantor memang hanya sampai jam 14.00 dan karena kendaraan di Jakarta masih sangat langka, maka jarak tempuh dari kantor, cukup dijalani dalam waktu 30 menit saja dengan naik sepeda onthel. Kelak sesudahnya, jarak tempuh itu menjadi lebih pendek saat ayah saya mendapat fasilitas mobil impala yang luar biasa lebar...
Begitulah cara kami dan sebagian besar masyarakat Jakarta yang saat itu masih menjadi the big village, menyiapkan lebaran. Mungkin saat itu sudah terjadi perbedaan kelas sosial, sama seperti sekarang. Ada jurang pemisah antara kaum berpunya dan kaum proletar. Namun keterbatasan media informasi dan komunikasi menyebabkan dunia kami terbatas pada lingkungan kecil saja. Jauh dari hiruk pikuk.

Beruntungkah…? Entahlah! Setiap jaman memiliki problematikanya sendiri dan saya merasa kenikmatan menjalankan puasa pada masa kecil dulu, jauh lebih bermakna daripada apa yang dialami anak saya sekarang.

1 komentar:

  1. Aku masih sempat menikmati libur panjang anak SD full sebulan saat ramadhan th 1987- 1990 setelah itu gak ada lagi libur panjang, aturan baru tetap sekolah selama ramadhan tp jam sekolah dikurangi. Masih kuingat saat usia kanak2 seblm masuk SD ada himbauan agar hati2 dan waspada terhadap teror ancaman kedaulatan negara, bahaya laten PKI, dan disekolah ada pertanyaan mengisi kemerdekaan dengan apa? jawabnya mempertahankan kemerdekaan lalu beberapa tahun kemudian diganti jawabnya mengisinya dengan belajar shg berguna bagi bangsa dan negara. Pelajaran PMP(pendidikan moral pancasila) berubah jadi PPKN lalu kata ponakanku ganti lagi entah apa. BMG (badan meteorologi & geofisika) menjadi BMKG. WIB (waktu indonesia barat) menjadi BBWI lalu kembali WIB. perubahan zaman jadul sampai kini.

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...