Rabu, 12 Desember 2012

Dua Anak Tunggal

Ada dua anak tunggal dalam sebuah keluarga, dari sepasang suami istri dan kedua anak tunggal tersebut lahir dari ibu dan bapak yang sama. Mungkinkah....?

Adalah suatu masa .... ketika tanpa terduga kehamilan itu terjadi setelah 7 tahun yang berdarah-darah dan 7 tahun kering kerontang .... Tapi begitulah kehendak Yang Maha Kuasa. Maha Pencipta yang selalu memberikan apa yang dibutuhkan manusia ... Bukan apa yang kita inginkan.

Manusia hanya merencanakan, namun Allah juga yang menentukan dan memilihkan apa yang terbaik bagi umatnya. Jadi ... berbaik sangka saja terhadap apa yang kita alami.

Begitulah .... aku hamil untuk yang kedua kali pada usia di atas 40 tahun. Tepatnya berusia 40 tahun 8 bulan saat kehamilan tersebut terdeteksi. Tanpa rencana dan sama sekali tak terduga.

Kenapa harus disebut terdeteksi ....?
Tentu karena selama bertahun-tahun sebelumnya aku berpikir sudah memasuki menopause. Menopause dini tepatnya karena saat itu terjadi, usiaku masih berada dalam kisaran 30 tahunan. Kemudian ..., tanpa terduga, terjadi menstruasi. Menstruasi terakhir yang kualami dan terasa sangat mencekam. Itu terjadi pada akhir tahun sebelum tahun kehamilanku. Mencekam sekali karena isi rahimku terasa seperti dikuras habis... Bahkan sempat secara bergurau, kusampaikan pada suami ...

"Sepertinya, rahimku dikuras habis supaya bersih ... Siapa tahu kelak akan terisi bayi lagi". Pikiran tersebut terasa absurd karena saat itu, sudah lebih dari 2 tahun aku seperti mengalami menopause. Bahkan seorang dukun pijat pernah mengatakan bahwa rahimku sudah "kisut", mengering dan hal itu bisa diterjemahkan bahwa kehamilan hampir mustahil terjadi.

Tapi .... begitulah kehendak Allah .... Menjadikan yang tak mungkin terjadi dalam kacamata manusia.

Aku sangat patut bersyukur karena kehamilan kedua berlangsung hampir tanpa masalah dan seakan menghapus segala teori yang selama ini sering dikatakan orang bahwa kesibukan dan stress dapat menyebabkan perempuan kesulitan untuk hamil. Kehamilan terjadi saat kesibukanku sedang sangat tinggi, sudah mengalami menopause ... dan pada usia sudah di atas 40 tahun.

Entah apa yang dipikirkan si sulung yang saat itu sudah duduk di bangku kelas 3 SMP melihat ibunya hamil dan melahirkan adiknya. Adik yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi diucapkannya dan dilupakan kehadirannya. Bagi orangtuanya, kelahiran anak kedua tersebut menggenapi anak kami menjadi sepasang. Lelaki dan perempuan..., walau 15 tahun jarak membentang di antaranya.

Mungkin karena secara alamiah, emosi dan perhatian lelaki agak berbeda dengan anak perempuan, maka si sulung lebih sibuk dengan kegiatan di luar rumah terutama melakukan olah raga kesenangannya ... sepak bola. Tidak membantu mengurus, memperhatikan atau mengakrabi si bayi/adik. Namun demikian, setelah si adik membesar, ada juga kedekatan di antara mereka ... si sulung tak segan mengajak adik mengunjungi teman perempuannya, kala kegiatan itu dilakukan di siang hari.

Kebersamaan itu ternyata tidak berlangsung lama. Saat si adik masih duduk di bangku taman kanak - kanak, si sulung meninggalkan kami untuk melanjutkan kuliahnya. Sejak itu kami kembali hidup bertiga untuk kali yang kedua. Kami kembali "memiliki" anak tunggal. Anak tunggal kedua.

Pada periode pertama, kami memiliki anak tunggal lelaki selama 15 tahun kemudian diberikan kesempatan memiliki sepasang anak lelaki dan perempuan. Mengayomi mereka selama 4 tahun untuk kemudian kembali mengasuh "anak tunggal" ke dua dan kali ini berjenis kelamin perempuan.

Ternyata .... ada perbedaan yang sangat signifikan di antara keduanya. Anak pertama, lelaki yang sangat mandiri .... sangat tahu apa yang diinginkannya sementara anak kedua, perempuan yang manja. Si kakak melakukan dan memutuskan segala kemauannya hampir tanpa intervensi orangtuanya. Bahkan sejak kecil, meja makan menjadi area adu argumentasi kami bertiga. Walau masih "di bawah umur", pandangan dan argumentasinya sangat tajam dan kritis.

Sementara anak kedua, lebih manja dan dengan caranya sendiri berusaha "menguasai" dan mendominasi orangtuanya. Sebagai sesama perempuan, seringkali terasa adanya "persaingan" untuk menarik perhatian si bapak. Dia menjadi begitu baik kepada ibu atau bapaknya saat berduaan saja dan berbalik "garang" saat kami bertiga.

Apakah kami memperlakukannya secara berbeda... Mungkin ya.... Usia yang sudah beranjak senja membuatku sedikit lebih bersabar dan assertif dalam menghadapi anak kedua. Atau bisa jadi aku terpengaruh "ramalan" seorang pakar fengshui yang menjelang kelahiran anak kedua tersebut dia wanti-wanti mengingatkan agar anak keduaku harus lahir sebelum tahun (Cina) berganti.

Dia mengingatkan .... kalau aku melahirkan setelah pergantian tahun (saat itu), maka aku akan melahirkan seorang anak di bawah naungan shio Macan .... dan aku, ibunya, yang bershio monyet akan kalah pengaruh.
Benarkah begitu....?
Wallahu alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...