Jumat, 09 Agustus 2013

Ballada PRT

arus mudik lebaran
Mudik lebaran merupakan ritual tahunan yang ditunggu banyak orang. Entah kapan dimulai, peristiwa pulang kampung saat lebaran menjadi peristiwa luar biasa yang membuat heboh seantero negeri. Bukan saja membuat heboh para pejabat di sektor transportasi untuk membawa mereka kembali ke masing-masing kampung halamannya, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Timur, tetapi juga menyangkut persiapan sarana jalan raya hingga materi berupa sandang pangan yang akan dibawa mudik, baik bagi para pemudik itu sendiri maupun berupa buah tangan bagi keluarga, kerabat dan tetangga di kampung halaman.

Kalau dulu mudik hanya dikenal bagi para perantau yang berasal dari Jawa, maka sekarang para perantau Minang atau wilayah lainnya yang bekerja di pulau Jawapun ikut "mudik" ke kampung halamannya walau dengan istilah lain. Misalnya "pulang basamo" bagi perantau Minang.

Mudik .... entah sejak kapan pulang ke kampung halaman pada saat lebaran diberi label mudik dan melahirkan istilah/kosa kata pemudik ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Seingat saya .... atau terkaan saya, mudik berasal dari kata "udik" dalam perbendaharaan bahasa Betawi yang berarti kampung.

Jadi, saat saya kecil dulu ..., saya lebih mengenal kata udik untuk menyebut sesuatu yang berbau kampung dan kalau boleh terus terang, nuansanya lebih kepada "ejekan/cemooh". Misalnya mengatakan "orang udik", buat mereka yang berasal dari wilayah di luar Jakarta, seperti misalnya Cibinong, Cibarusah dll  untuk menyebut asal muasal orang yang berasal dari perkampungan di pinggiran Jakarta atau bagi orang yang penampilan/perilakunya agak kampungan/norak.

Sekarang, kata udik sudah bertransformasi menjadi mudik sebagai kata kerja, yang berarti pulang ke kampung. Orangnya disebut pemudik. Sedangkan kata dasar "udik" sebagai padanan "kampung" sudah jarang digunakan. Nah .... saat-saat lebaran inilah kata mudik digunakan dengan intensitas yang sangat tinggi.
***

PRT di rumah saya berasal dari wilayah Cililin-Cimahi, sudah bekerja hampir 12 tahun. Sejak anaknya baru masuk SD hingga sekarang duduk di kelas XII, SMK Grafika jurusan broadcasting, kalo nggak salah. Saat naik ke kelas XII yang baru lalu ini, dia memperoleh ranking 1 di kelasnya. Gaya kan.....? Hehe ..... Semoga si anak, kelak menjadi kebanggaan ibunya dan mampu mengangkat derajat kehidupan si ibu.

Pembantu saya ini sebetulnya lulusan SMA di kampungnya dulu. Sebelum terdampar di rumah saya, pengalaman kerjanya juga lumayan banyak. Pernah jadi staff administrasi di suatu pabrik di wilayah Cimareme-Bandung. Pernikahannya yang gagal menyebabkan dia terpaksa keluar dari pabrik setelah suaminya yang notabene teman kerjanya itu menghilang begitu saja setelah anak mereka lahir.

Maka .... demi si bayi, kala itu, dia sempat merantau ke Surabaya, bekerja di restoran sambil mengasuh bayinya. Tentu bukan hal yang mudah bekerja sambil membawa bayi apalagi jauh dari keluarga. Itu pula yang menyebabkan hingga akhirnya dia memutuskan kembali ke kampungnya. Petualangan kerjanya di Jakarta bermula dari ajakan supir ibu saya, tetangganya di Cililin, untuk bekerja di rumah ibu. Kala itu, saya sudah hampir 2 tahun menetap dan tinggal kembali, menemani ibu di rumahnya. Memanfaatkan lokasi rumah yang berada tepat di tengah antara lokasi kantor suami dan kantor saya. Lagipula ... pengalaman kurang menyenangkan dengan pembantu rumah saat tinggal di Bekasi, merupakan salah satu pertimbangan yang membuat saya pindah ke rumah ibu.

Sang PRT, yang dipanggil Ddh, sangat cekatan dan sangat bisa dipercaya. Minimal hingga saat ini saya menganggapnya sangat bisa dipercaya. Saya selalu bilang padanya .... kalau uang atau harta saya dicuri, InSha Allah tidak akan membuat saya jatuh miskin secara tiba-tiba. Tetapi juga tidak akan membuat si pencuri kaya raya. Tentu tergantung dari sebesar apa harta curiannya, tetapi kekayaan hasil curian tidak akan pernah langgeng. Satu hal yang pasti ............, harta itu tidak berkah atau membawa keberkahan bagi diri dan keluarganya. Maka ..., akan sia-sialah segala ibadah yang dilakukannya sepanjang hayat.

Saat dia mulai bekerja di rumah, masih ada satu orang PRT lainnya yang berasal dari Jawa Tengah. Entah kenapa, selalu saja ada konflik diam-diam antara pembantu asal Jawa yang berpenampilan sangat lemah lembut ini dengan rekan kerjanya. Begitu juga dengan Ddh. Sejak dia mulai masuk, selalu saja ada pengaduan-pengaduan yang masuk tentang rekan kerjanya. Kesal karena pengaduan tak digubris, dia membuat ulah dengan sering-sering pulang kampung tanpa kejelasan berapa lama dia tinggal di kampung. Hingga suatu saat, setelah 1 bulan pulang kampung untuk berlebaran dengan janji hanya pulang selama 2 minggu saja, dia menelpon dari Solo. mengabarkan belum bisa kembali ke Jakarta dan entah apakah akan kembali ke Jakarta lagi. Saya dimintanya untuk mencari pengganti saja.

Konyolnya .... selang 1 minggu setelah saya mendapat pengganti, sang putri Solo tiba-tiba muncul di rumah ingin kembali bekerja. Saat itu hanya ada ibu saya dan Ddh di rumah. Konon kabarnya, begitu tahu di rumah sudah ada pengganti, maka murkalah si putri Solo yang biasanya lemah lembut itu dan mencaci-maki Ddh sebagai penyebab dia tidak bisa bekerja kembali. Padahal saya mencari ganti 1 bulan setelah dia menelpon, memberitahukan tidak pasti kapan kembali dimana saya sudah diminta untuk mencari ganti saja.

Dengan Ddh dan kemudian dia didampingi adiknya yang juga ikut bekerja di rumah, hampir segala urusan di rumah, ditanganinya dengan cukup baik. Beberapa bulan kemudian .... anaknya yang semula ditinggal di Cililin, saya minta dibawa saja ke Jakarta. Alasannya sederhana saja .... supaya dia bekerja dengan tenang sambil mengasuh anaknya yang saat itu berumur 5 tahun dan sudah masuk SD.

Di kampung, keluarga kakaknya, tempat dimana si anak dititipkan juga bukanlah keluarga mampu. Apa yang dikirim ke kampung untuk anaknya, pada kenyataannya digunakan untuk tambahan biaya rumah tangga keluarga si kakak. Jadi memang sangat tidak mengherankan bila saat si anak datang ke Jakarta untuk pertama kali, penampilannya sangat memprihatinkan. Khas anak kampung yang tidak terurus. Kurus kering dan dekil..... Alhamdulillah, sekarang si anak tumbuh jadi remaja yang sehat dan kelihatannya cukup gaul/aktif di sekolahnya. Tidak terlihat rendah diri karena ibunya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga saja.

Ddh ini cukup cekatan untuk pekerjaan rumah. Pandai masak terutama masakan tradisional. Kreatif untuk coba-coba masakan yang dilihatnya di acara masak memasak di TV. Saya paling suka minta dibuatkan karedok .... Karedok buatannya luar biasa enak.... Betul-betul karedok dengan cita rasa Sunda yang kental. Jarang saya temukan karedok seenak buatannya, termasuk karedok di rumah makan Sunda manapun yang pernah saya cicipi.

Bekerja rumahan, walau dengan 1 anak remaja yang masih bersekolah di SMK, ternyata membuat hidupnya lebih lumayan dibandingkan dengan anggota keluarganya yang lain, terutama yang masih tinggal di kampung. Hal ini menjadi ironi tersendiri .... Ddh menjadi tumpuan harapan kakak/adiknya saat mereka kekurangan dana, apapun bentuk kekurangannya. Entah untuk keperluan anak sekolah, sogokan saat anak mau bekerja di pabrik, anak menikah dan bahkan saat lebaran. Satu persatu adik-kakaknya bergantian menelpon .... Mengingatkan agar dia tidak lupa membelikan pakaian buat keponakan-keponakannya ,,,,,, karena para orangtuanya belum sempat dan belum punya uang untuk membeli baju lebaran anak-anaknya. Mengingatkannya jangan sampai terlambat tiba di kampung, karena ketupat dan lauk-pauknya belum terbeli, menunggu kehadirannya untuk berbelanja ke pasar. Tentu bukan hanya sekedar menemani sang kakak berbelanja. Tetapi yang lebih penting lagi adalah kelengkapan isi dompet Ddh.

Sampai saat ini, dengan semampunya, tetap diusahakannya membeli dan memenuhi hampir seluruh permintaan adik-kakaknya. Padahal mereka, adik-kakak perempuannya, semua memiliki suami yang seharusnya berkewajiban memenuhi kebutuhan keluarganya. Miris ......, tapi begitulah kehidupannya, karena bahkan kakak lelakinyapun seringkali meminta bantuan keuangan. Beberapa kali sering saya ganggu dia .... bahwa dia memiliki piutang pada adik-kakaknya dengan nominal yang cukup besar yang entah kapan bisa kembali ke rekening tabungannya.

Saya hanya bisa mengingatkan dia ..... "Jangan biasakan memberi pinjaman kepada keluarga, karena cepat atau lambat pinjaman tersebut akan menjadi bahan pertengkaran antar keluarga. Kalau mau membantu keluarga, bantulah semampunya. Betul-betul dalam bentuk bantuan yang ikhlas. Bukan pinjaman. Dengan demikian bila uang itu tidak dikembalikan, maka kita tidak akan pernah merasa kehilangan. Wa Allahu alam



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...