Selasa, 31 Desember 2013

I share, because I care

Pagi tadi, hari terakhir di tahun 2013, hujan gerimis yang mengiringi terbitnya matahari membuat kita agak malas memulai aktifitas rutin. Apalagi hari-hari ini adalah liburan bagi hampir seluruh penduduk dunia. Jadi, usai membuat zuppa soup dan menyantapnya sebagai sarapan pagi, maka saya mulai membuka facebook dan menemukan artikel yang sangat menarik, yaitu How to avoid cancer.

Artikel tersebut menjadi menarik perhatian  saya karena cancer atau kanker sekarang sudah menjadi penyakit menakutkan bagi penderitanya yang menyebabkan si penderita seolah langsung divonis "mati", begitu mendengar bahwa dirinya didiagnosis menderita cancer. Belakangan ini, di "lingkungan" saya memang banyak yang menderita kanker, baik mereka yang dinamakan  dan diberi "label" survivor, warrior maupun yang sudah lepas dari penderitaannya alias akhirnya meninggal dunia.

Mereka; yaitu para penderita kanker, adalah rekan kerja, istri atau suaminya, teman kuliah dulu bahkan juga keluarga dekat. Mereka "memperoleh" kanker, konon karena keturunan tetapi juga karena gaya hidup atau lingkungan. Bahkan ada teman kuliah dulu yang terkena kanker paru-paru hanya karena dia bekerja di lingkungan dan ruangan dimana penghuninya perokok berat semua. Ironinya, si teman sama sekali tidak pernah menyentuh rokok. Begitu juga salah satu rekan kursus yang sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Dia terkena kanker paru, konon karena suaminya perokok berat dan lingkungan hidup/rumah terpolusi asap rokok. Jenis kanker yang umumnya diderita rekan, keluarga atau teman wanita, biasanya kanker payudara alias breast cancer. Kalau penderita lelaki biasanya kanker hari atau prostat.

Tanpa disadari, ternyata, adik saya yang baru saja meninggal dunia itu juga salah seorang penderita kanker. Entah kanker jenis apa ..... Selama ini, kami hanya tahu bahwa dia memiliki tumor di rongga otak, di antara ke dua rongga mata. Itupun telah diangkat sekitar 6 tahun yang lalu. Tumor mana sempat membuatnya kehilangan penglihatan. Merasa sembuh, karena dokter tidak memberikan signal bahwa tumor tersebut ganas, maka tidak seorangpun yang menyadari bahwa, mungkin akibat operasi tersebut, sel tumor menyebar dan berubah menjadi ganas serta tumbuh kembali. Walau masih di rongga otak namun serangan tumor kali ini, selain induknya, terdapat pula akar-akar yang mencengkeram bola matanya. 

Rupanya, tumor yang sudah bermutasi menjadi ganas tersebut berkembang dengan sangat cepatnya dan sayangnya, hal itu baru disadari tidak lebih dari 2 minggu sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya. 
***

Konon .... setiap manusia memiliki potensi untuk menderita kanker, yaitu berasal dari sel tubuh kita sendiri yang "bermutasi". Mutasi sel normal menjadi sel kanker dipicu oleh berbagai sebab, antara lain gaya hidup, asupan makanan, stress, polusi dan banyak lagi sebab-sebabnya. Makanan jaman sekarang yang serba instant dan transgenic ditengarai juga menjadi salah satu sebab meruyaknya mutasi sel normal menjadi sel kanker.

Namun dari pengamatan selama ini, baik dari bacaan dan sekaligus belajar dari kejadian alam; saya termasuk orang yang anti pengangkatan sel kanker. Logikanya adalah fenomena alam. Ketika sebuah batang pohon ditebang, perhatkan dengan baik, maka tidak lebih dari 1 bulan setelahnya, dari setiap "mata" pada kulit batang pohon, akan timbul tunas batang baru yang jauh lebih banyak dan dahsyat jumlahnya. Bayangkan .... kalau tumor dalam tubuh kita diangkat, maka dari puluhan, ratusan dan bahkan mungkin ribuan serabut akar dimana tumor tersebut tumbuh, dalam waktu yang unpredictable, akan tumbuh lagi puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tunas kanker. Persis seperti tunas tanaman pada dahan yang sudah ditebang.

Bukan itu saja, logikanya; dari "bukaan" yang terjadi saat tumor terlepas dari "pegangannya" karena aksi pisau operasi, akan "berloncatan" ratusan, ribuan bahkan jutaan sel kanker ke dalam jaringan aliran darah dan dibawanya sel kanker tersebut ke seluruh tubuh manusia melalui peredaran darah. Maka .... tanpa disadari, menurut saya yang awam ini, peristiwa mengangkat sel tumor/kanker adalah peristiwa penyebaran sel kanker ke seluruh tubuh kita, yang sadar atau tidak sadar, sudah kita lakukan dan ijinkan kepada dokter atas nama pengobatan kedokteran modern.

Memang ... segera setelah operasi, akan dilakukan chemotherapy, proses "mematikan" sel kanker yang sejatinya, bukan saja sel-sel abnormal itu saja yang "dimatikan" tetapi seluruh sel tubuh kitapun "dimatikan" oleh obat yang sangat beracun tersebut. Bahkan ... salah satu rekan saya pernah bercerita bahwa kenalannya yang ahli oncology terkenal menyatakan bahwa andai dia terkena kanker, maka dia tidak akan pernah mengijinkan dilakukan kemoterapi, karena itu berarti dia secara sadar sudah "meracuni" diri sendiri dan karenanya cepat atau lambat akan mematikan sel-sel tubuhnya. Bukan hanya sel kanker, tetapi juga sel-sel normal tubuhnya. Karena racun yang dimasukkan ke dalam tubuh, tidak akan pernah bisa memilih sel yang akan dimatikannya. Apakah itu sel kanker atau sel normal.

Lalu, mengapa MRI dan pet scan, prosedur standar yang selalu dilakukan dalam pengobatan kanker, seringkali tidak mendeteksi penyebaran sel kanker dan karenanya dokter dengan sangat percaya diri menyatakan pada pasien bahwa tidak ada penyebaran. Aman .... tetapi sekonyong-konyong, suatu ketika sel kanker si pasien diketahui sudah menyebar dan sudah sulit diatasi? Itu, karena alat secanggih apapun bahkan dengan teknologi nano sekalipun belum bisa mendeteksi keberadaan sel kanker hingga sel kanker tersebut mencapai dimensi tertentu. Hal itu karena konon, kalau tidak salah 1 buah sel besarnya hanya 1- 4 nano alias satu pangkat minus 4 nano. Tentu undetectable, belum dapat dideteksi. 
Ini menjelaskan, mengapa sekonyong-konyong, pasien yang sangat rajin kontrol sekalipun akan terperangah mendapati penyebaran kanker di seluruh tubuhnya.

Mengerikan ya .....? 
Sangat....!!! 
Jadi, sangat dimaklumi kalau menderita kanker, seperti mendapat vonis mati pelan-pelan.

Sering terpikir, mengapa di Indonesia, tidak pernah terdengar upaya kemoterapi melalui suntikan langsung ke dalam tumor terkait. Dengan demikian, kerja racun "kelas berat" yang berlabel "kemoterapi" itu langsung kepada obyek yang dituju. Tidak merusak sel tubuh yang masih sehat. Konon kabar yang saya dengar dari dokter gigi yang menangani anak saya, ada salah satu dokter di negeri jiran yang sudah mencoba kemoterapi dengan cara seperti ini dan ibunya adalah salah satu pasien dokter tersebut.

Dengan berbagai masalah tersebut, pengobatan kanker memang pengobatan yang sangat dilematis. Namun sebaiknya, jangan berpikir untuk melakukan "peperangan" melawan kanker. 

Lebih baik kita menghindar saja .... 
Yuk kita baca link di atas dan terapkan dalam kehidupan kita,
karena
Prevention is better than curing ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...