Jumat, 17 Juni 2005

ASI adalah hak anak kita. Jangan biarkan mereka jadi ”anak sapi”!!!

Industri makanan anak balita di Indonesia termasuk industri makanan bayi berkembang pesat. Kesibukan ibu bekerja yang mengakibatkan kurang waktu untuk menyiapkan makanan segar, turut menyuburkan pertumbuhan tersebut. Cobalah tengok pada deretan rak di supermarket. Semua ada...., mulai dari snack yang katanya sehat dari berbagai rasa, makanan pagi jenis sereal, biskuit berbagai rasa dan bentuk, makanan kecil pencuci mulut hingga susu baik susu bubuk maupun susu cair. Bahkan makanan (bubur) bayi siap saji .... semua ada, campur aduk tidak ada lagi batasan umur. Semua menjanjikan kelebihan-kelebihan, dengan tambahan-tambahan multi vitamin dan berbagai macam unsur-unsur artifisial yang saya yakin, buat orang awam, sangat tidak dimengerti kegunaan pastinya .... Pokoknya, semua mengatakan produknya bisa mencerdaskan anak.

Dalam perbincangan dengan ibu bekerja dewasa ini, jarang sekali ditemukan ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif selama minimal 6 bulan. Alasannya macam-macam. Ada yang mengatakan ASInya tidak keluar .... yang lainnya mengatakan, karena harus kembali bekerja, sehingga tidak lagi sempat menyusui anak. Stress karena pekerjaan memang dapat menyebabkan produksi ASI berhenti. Ironisnya .... keengganan menyusui bayi juga menjangkiti ibu-ibu yang tidak bekerja. Mungkin promosi gencar produk susu mengenai kelebihan-kelebihan produknya terutama yang menyangkut ”peningkatan IQ anak” membuat ibu tidak percaya diri untuk menyusui anak. Apakah mereka mengerti bahwa makanan yang terbaik bagi bayi terutama di awal tahun kehidupannya adalah ASI. Melihat kenyataan yang ada, saya menjadi sangat tidak yakin akan hal ini. Kecuali mengetahui tentang kegunaan ASI dari bacaan/majalah yang hanya dapat diakses oleh keluarga mampu yang biasanya diakhiri dengan pesan terselubung dari sponsor bahwa ”apabila ibu mengalami kesulitan untuk menyusui bayi, maka gunakanlah susu formula sesuai dengan umur bayi” lengkap dengan promosi keunggulan-keunggulannya.

Tidak salah lagi, bila banyak ibu yang menganggap susu formula bagi bayi sebagai bagian dari gaya hidup modern, gaya hidup masa kini. Tidak ada sarana lain dari ibu-ibu muda untuk mengetahui manfat menyusui baik bagi bayi maupun si ibu sendiri. Jangan lagi berharap pengetahuan itu dapat diperoleh dari sekolah. Sekolah kita kan mendidik anak supaya cerdas dari segi ”akademis”. Aneh-aneh saja ... masa pengetahuan tentang menyusui diajarkan di sekolah? Padahal itu kan pengetahuan praktis yang secara alamiah pasti dibutuhkan manusia, terutama perempuan.

Dengan jumlah penduduk 220 juta orang dan sebagian besar masih dalam usia produktif, Indonesia memang pasar yang besar dan luas bagi produk makanan anak. Apalagi generasi muda Indonesia adalah generasi yuppies yang baru tumbuh sehingga mereka mengganggap kuno gaya hidup alami dan lebih cepat termakan dengan gaya hidup instant dan praktis. Tidak heran, usaha pemerintah untuk memasyarakatkan pemberian ASI pada bayi tidak terdengar sehingga imbauan pemerintah untuk menarik produk makanan untuk bayi di bawah usia 4 bulan tidak didengarkan oleh produsen.

Ini berlainan dengan sekolah asing. Bos saya, pernah cerita; anaknya yang kala itu masih duduk di level SMU JIS – Jakarta International School, suatu hari pulang sekolah dengan membawa tas besar. Isinya ...... boneka bayi, dengan segala macam peralatan dan produk makanannya. Pada pergelangan tangan si anak juga sudah terpasang gelang. Apa yang terjadi ...? Ternyata, si anak perempuan diberi tugas untuk ”bersimulasi” menjadi ibu yang memiliki bayi usia di bawah 6 bulan. Jadi mereka betul-betul harus berfungsi sebagai ibu dengan seabrek kewajiban mengurus anak. Gelang tangan itu rupanya juga berfungsi sebagai alarm yang mengingatkan si anak untuk mengerjakan kewajibannya sebagai ibu,

Maka week end tersebut menjadi hari sibuk bagi si anak. Tidak bisa keluar rumah menghabiskan waktu dengan keluarga. Bagaimana mungkin keluar rumah dengan membawa boneka? Menyuruh si ”mbak” di rumah menggantikan? Itu juga tidak mungkin .... instruksi tersedia dalam bahasa Inggris dan dia juga harus membuat laporan tentang makanan si ”bayi”, kekentalannya, panas makanan saat disuapkan dll. Apalagi gelang tangannya juga berfungsi sebagai sensor dari aktifitas sianak dan interaksinya dengan ”bayinya”. Pendeknya, tidak ada kemungkinan untuk meminta bantuan orang rumah.

Jam 5 pagi, si anak sudah bangun. Hari dimulai dengan menyiapkan peralatan membuat susu, mensterilkan botol, masak air, dan menakar bubuk susu. Setelah selesai, lalu memberi susu kepada ”bayi”. Usai memberi susu, lalu menyiapkan air mandi buat ”bayi”, memandikannya, mengganti popok dan seterusnya.... Pendeknya segala kegiatan yang menyangkut pemeliharaan bayi sepanjang hari. Alarm di gelangnya sangat ”rigid” dengan waktu ... bahkan jadwal memberi susu dan mengganti popokpun persis seperti laiknya bayi manusia sungguhan. Ada waktu ”bayi menangis minta digendong, atau buang air. Hampir setiap 3 – 4 jam sekali ada saja ulah si ”bayi” yang telah diprogram tersebut .... Bahkan ulah itu juga yang membuatnya harus bangun pada jam 2 malam. Betul-betul seperti ibu mengurus bayi. Mengada-adakah kegiatan anak dan tugas dari sekolah itu..? Sepintas lalu ... ya, tetapi sesungguhnya, itulah pelajaran hidup yang nyata.

Bagaimana dengan sekolah di Indonesia? Wah ..... saya tidak yakin ada sekolah yang memberikan tugas semacam itu buat murid SLA nya. Bahkan Rumah Sakit Bersalinpun belum tentu melakukannya.

Pada saat saya melahirkan anak yang ke 2 pada usia menjelang 42 tahun di sebuah RS swasta di Bekasi. Wanti-wanti saya berpesan pada perawat dan dokter bahwa saya akan memberikan ASI. Tetapi yang terjadi adalah ... setiap kali bayi diberikan kepada saya untuk disusui, si bayi tidur dan menolak. Dua kali kejadian seperti itu, maka saat ketiga kali, saya tanyakan pada perawat, kenapa bayi saya menolak disusui? Perawat mengatakan ... bayi sudah diberi susu formula setelah dimandikan. Saya katakan : ”saya sudah bilang akan menyusui sendiri”. Jawabnya klise ”Ini standar. Ibu perlu istirahat banyak agar cepat pulih dari operasi caesar”. Saya marah ... ”Itu bayi saya, Adalah resiko saya akan kelelahan karena melahirkan bayi dan harus menyusui. Bukan anda yang mengatur saya untuk menyusui atau tidak! Sekarang... ambil box bayi dan letakkan di kamar saya ini!”

Perawat keluar dan mencari dokter anak yang langsung menanyakan kepada saya apa yang sudah terjadi. Kepada Dr W (belakangan saya tahu bahwa istri si dokter itu adalah teman sekelas adik saya di SMA), saya ulangi semua ucapan saya. Dokterpun menyatakan hal yang sama ... bahwa saya perlu banyak istirahat memulihkan kondisi. Lagipula belum tentu ASI saya mencukupi kebutuhan bayi. Saya betul-betul marah karenanya. Saya ulangi lagi bahwa ”hak saya untuk menyusui bayi dan saya minta anak saya untuk diletakkan dikamar rawat saya” Saya betul-betul tidak percaya lagi dengan niat perawat/dokter untuk menjamin pemberian ASI bagi bayi. Dengan muka masam, si dokter akhirnya mengijinkan perawat membawa box bayi ke kamar. Sejak hari itu dia tidak pernah lagi melakukan visit. Saya tidak perduli! Beruntung saya melahirkan dalam usia yang sudah mapan dan dirawat di ruang VIP. Bagaimana dengan ibu-ibu lainnya yang miskin pengalaman? Terlalu sekali....

Ini bertentangan dengan kelahiran anak saya yang pertama di l’hopital de la Fontaine – Saint Denis, Perancis. Pagi hari setelah melahirkan, perawat membangunkan saya dari tidur (saya masuk ruang perawatan pada jam 2 pagi setelah melahirkan pada jam 23.45), meminta saya untuk bangun, mandi karena tempat tidur akan dibersihkan dan menanyakan apakah bayi akan diberikan ASI atau tidak. Setelah saya mengatakan akan diberi ASI, perawat memberikan pil yang katanya akan memperlancar pengeluaran ASI. Sementara tetangga kamar yang tidak memberikan ASI diberi pil untuk menghentikan produksi ASI. Ternyata produk ASI menjadi sangat berlebihan dan karena saya belum berpengalaman bagaimana memberikan ASI, akibatnya buah dada menjadi keras dan ASI sukar keluar. Saya demam. Tetapi dengan sabar mereka membantu saya, mengurut dada yang bengkak, mengkompres dan mengajari saya mengatasi seluruh masalah yang ada. Sementara saya masih demam dan belum sanggup memberikan ASI langsung, maka saya diwajibkan ”memerah susu”, menyimpannya di dalam botol dan memberikan kepada bayi pada saatnya hingga akhirnya saya berhasil menyusui bayi secara langsung. Semua harus dilakukan sendiri, termasuk memandikan anak dan perawatan ”pusat” yang belum puput. Perawat hanya membantu manakala kita mengalami kesulitan.

Banyak penelitian yang menyatakan keunggulan ASI, terutama pada masa tepat pasca kelahiran, dibandingan dengan susu formula jenis apapun dan direkayasa bagaimanapun. Apapun usaha manusia untuk mendekati susu formula dengan ASI, secara alamiah tetap saja, susu itu susu sapi. Bukan susu manusia ..... Siapa yang menjamin bahwa tidak ada ”sel hewani” yang terbawa dalam formulanya. Kalau ya.... berarti ada gen ”hewani” yang masuk dalam tubuh anak kita.... Aduh.................

Mungkin akan banyak orang yang menyatakan ”penelitian sudah sedemikian canggihnya dan menjamin bahwa formulanya sudah mendekati ASI. Tapi kembalilah pada fitrahnya! Susu manusia untuk manusia, susu hewan untuk hewan... Jangan mencampur adukkannya. Allah SWT sudah mengatur semuanya dengan gratis buat kita... Jadi jangan disia-siakan. Anak-anak saya tumbuh sehat, walaupun tidak gemuk, mereka tumbuh secara proporsional, jarang sakit apalagi kena diare, walaupun mereka sama sekali tidak meminum susu formula. Saya memang beruntung, setelah cuti hamil, bos pun memperkenankan saya membawa bayi ke kantor. Jadilah dia karyawan termuda di kantor sampai usia 15 bulan. Jadi saya bisa menyusui bayi saya sepuasnya.

Ayo dong..... kita kembali ke alam... jangan tergiur oleh iklan yang menyesatkan itu!!!

Salam,
Lebak bulus 12 juni 2005

1 komentar:

  1. soal asi ini. saya juga sempat kecewa dengan rumah sakit. menurut buku yang saya baca, air susu pertama yang keluar, itulah yang terbaik.
    ternyata anak saya tidak diserahkan ke saya untuk langsung disusui.
    padahal kelahiran 4 anak saya semua, normal.

    saya menyusui semua anak sampai air susu saya habis. anak saya yang pertama, saya hentikan asi setelah asi saya berhenti karena saya mengandung anak kedua. anak pertama dan kedua beda 20 bulan. begitu juga dengan anak ke dua. anak kedua dan ketiga beda 20 bulan.

    anak ke dua saya(sekarang 11 tahun), punya keluhan, sakit perut, sering pusing,otot pegal2.
    menurut dokter anak, dia stress.
    tapi setelah saya bawa ke prof suharyono di mmc, ternyata dia kekurangan calsium disebabkan oleh ibunya yang kekurangan calsium selama mengandung dia.
    anak saya sendiri setelah lahir, dikatakan alergi susu sapi. jadi dia jarang mengkonsumsi susu.
    menurut prof suharyono, mutu asi itu ternyata ada 3 macam. jelek, sedang, dan baik.
    ada kemungkinan mutu asi saya dulu jelek.
    sebaiknya ibu2 yang menyusui anaknya, memeriksakan mutu asinya terlebih dahulu. begitu menurut pak profesor ini.

    mawar

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...