Jumat, 06 Desember 2013

Antara Kesombongan dan Kepercayaan Diri.

Sore itu ... sudah lewat dari jam kantor. Kantor sudah mulai sepi, di lantai tempat saya kerja hanya tinggal 1 staff yang sedang menunggu jemputan suaminya. Saya masih di ruang rapat, dengan ditemani seorang staff, jebolan arsitektur di salah satu PTN terkenal, bertemu dengan arsitek yang akan kami tunjuk untuk melaksanakan pembuatan/revisi desain dan gambar kerja salah satu proyek kami di luar kota, ketika seseorang mengetuk pintu dan menghampiri :

"Maaf bu ..., ada telpon dari Mr. XX, ingin bicara."
"Tolong kasih tahu, saya sedang rapat ..., nanti saya telpon", sahut saya.
Enak saja, mengganggu konsentrasi pembicaraan ... lagi pula, saya belum tahu, jenis manusia seperti apa, dia dan apa keperluannya.
"Sudah diberitahu bu ..., tapi dia maksa saya, untuk bilang sama ibu, bahwa dia mau bicara", jawabnya lagi.
"Bilang rapatnya gak bisa diganggu ... nanti ditelpon...!"

Usai rapat, saya hampiri staff kantor tersebut. Dia masih ada di meja kerjanya, masih menunggu suaminya. Mukanya kusut .... Mungkin tertekan dengan omelan yang dirasa kurang pada tempatnya.
"Telpon dari siapa dan apa keperluannya..? tanya saya.
"Namanya XX bu ..., dia mengaku GM di salah satu BUMN. Dia marah besar saat saya bilang ibu sedang rapat. Makanya saya ketuk ruang rapat."
"Memang kamu nggak minta untuk tinggalkan pesan, agar nanti ditelpon kembali...?"
"Sudah bu ...., tapi dia bilang dia pernah telpon 4 hari yang lalu dan meninggalkan nomor telpon agar ibu bisa menelpon kembali. Tapi ibu gak nelpon. Makanya dia marah ....!"

Saya agak lupa, apakah memang pernah ada telpon dari Mr XX tersebut. Biasanya, kalau jelas keperluan si penelpon, maka saya akan selalu menelpon kembali. Tetapi kalau urusannya tidak jelas ... saya agak malas menelpon kembali . Biasanya, orang-orang yang enggan memberitahukan maksud dan tujuannya menelpon, adalah mereka yang bekerja di asuransi, bank atau perusahaan consumer goods/life style product dan sejenisnya untuk menawarkan produk.

"Gak kasih tahu apa keperluannya?"
"Nggak bu ... cuma, dengan nada tinggi ... dia tanya ..., Memang apa jabatan si ibu itu? Saya ini kenalan baik A dan B, anak pemilik perusahaan tempat kamu bekerja. Kenapa ibu itu gak mau terima telpon saya? Apa dia salah satu owner?", begitu cerita staff terkait.
"Hm .... !!!"
"Iya bu ... saya bilang ... kan bapak sudah tahu siapa pemilik perusahaan. Jadi ibu memang bukan pemilik perusahaan. Terus dia bilang ... masih sambil marah-marah ... pastikan saya ditelpon balik...!", dengan nada geram .... Begitu cerita staff kantor. Entah memang benar begitu, atau hanya perasaannya saja. Tapi ... menilik dari raut wajahnya saat menceritakan hal itu pada saya, jelas terlihat wajah kusut dan tertekan.

Hm .... sungguh sangat tidak beretika....! Menelpon kantor orang dengan cara seperti itu, cuma akan menunjukkan kualitas intelektual dan martabat dirinya. Untuk apa marah pada "orang kecil" di kantor yang sama sekali tidak kita kenal?

Untuk menghargai dan menenangkan hati staff yang sudah kena marah tidak pada tempatnya itu, saya memutar nomor telpon yang diberikannya. 3x mencoba tanpa tanggapan. Jadi saya hentikan usaha itu. Balas dendam dengan tidak menerima telpon saya ...? Biar saja ... kalau butuh, dia akan menelpon saya lagi. Toh saya tidak kenal dan tidak tahu pula apa keperluannya.

Keesokan harinya, saat saya bertemu dengan anak pemilik perusahaan tempat saya bekerja, saya tanyakan identitas orang tersebut.
"Wah ... saya lupa bu ....! Kalau nggak salah dia kerja di..... (disebutnya nama salah satu BUMN). Saya ketemu di suatu tempat. Lupa dimana... Dia mau nawarin tanah ....", sahutnya.

Nah lo.... Nggak jauh-jauh.... Makelar tanah/proyek rupanya? Nggak nyambung banget deh ... Dia bilang kenalan baik, si anak owner bilang, cuma kenal selintas dan tidak ingat dimana kenalan. Ngaku jabatan GM di BUMN, rupanya masih butuh cari tambahan gaji sebagai makelar tanah. Ya sudah...... que sera... sera...!!!

Beberapa hari kemudian .... masuk email dari mr XX, mengirimkan daftar tanah dari beberapa lokasi dan permintaan uang muka transaksi tanah. Mungkin, anak owner kami menelponnya kembali dan meminta untuk mengirimkan email. Entah apa yang dibicarakan mereka. Hasilnya adalah email tersebut. Lucu rasanya ... belum ada pembicaraan apapun atas tanah/proyek, sudah dimintakan uang muka. Jadi, saya teruskan email tersebut ke Business Development manager agar dia menindaklanjutinya.

Beberapa hari kemudian, penerima telpon kantor memberitahu bahwa mr. XX menelpon dan mencari saya. Jujur saja, saya merasa agak terganggu. Namun, rasa penasaran ingin tahu identitasnya mengalahkan rasa terganggu ditelpon saat sedang kerja.

"Ya... ada yang bisa saya bantu...?"
"Langsung saja bu ..., beberapa hari yang lalu, saya mengirim email. Kapan kira-kira saya bisa menerima proposal kerjasamanya?" begitu katanya...
"Lho ... kok begitu...? Kita belum pernah bertemu membicarakan lahan yang ditawarkan. Tidak tahu lokasinya, kondisi lahan serta legalitasnya. Banyak hal yang perlu dibicarakan sebelum sampai pada proposal kerjasama. Saya tidak juga tahu dalam kapasitas apa anda di sini. Jadi bagaimana mungkin secara "buta" saya mengirimkan proposal kerjasama?"
"A bilang ... email yang saya kirim itu sudah cukup untuk kemudian ditindaklanjuti dengan proposal kerjasama bu ...!"

Nggak tahu siapa yang bego ..... Atau ... bisa jadi saya kurang canggih dalam memahami trend bisnis masa kini...

"Ada business development yang akan mempelajari, mengevaluasi dan kemudian memberikan rekomendasi internal. Kalau semua OK, baru kita bisa membicarakan langkah selanjutnya. Mereka akan menghubungi anda, nanti."
"Baik bu ... Ditunggu beritanya. Anyway ... saya adalah GM di salah satu BUMN dan sudah biasa deal dengan perusahaan-perusahaannya bapak X ..., Y ... Z dan lain-lain (disebutkannya beberapa nama terkenal dalam dunia bisnis di Indonesia ... namun menurut saya mereka semua sudah phase out). Saya juga memiliki lisensi pilot dan dengan bapak-bapak itu biasa ketemu di lapangan golf, atau di club. Ternyata saya juga teman fitness bapaknya A (pemilik perusahaan tempat saya bekerja) di fitness center the Sultan. Cuma... saya nggak tahu kalau beliau itu bapaknya A" , cerocosnya tanpa ditanya.

Hadoohh........ pening rasa kepala ini mendengar cerita seperti itu. Menurut saya, ini jenis orang yang gak percaya diri dan sedang mencari "pegangan" pada status sosial mana dia berada. Lucu banget ... orang dengan posisi GM di sebuah BUMN masih harus menyebut-nyebut betapa dia bergaul dengan pengusaha golongan atas. Tanpa harus disebutkan, siapapun sudah bisa meraba dan merasakan, pada status sosial apa, masing-masing teman bicara kita berada. Nggak perlu ditambah-tambah. Penambahan itu malah semakin membuka tingkat sosial dan intelektual kita.

"Oh .... iya!" sahut saya pendek.
"Nanti saya minta Business development kami menghubungi anda ya....!" segera saya sudahi pembicaraan yang berkembang nggak jelas lagi arahnya kecuali menceritakan betapa dia bergaul di kalangan atas Jakarta.
"Baik bu ... sebelumnya, boleh saya minta nomor HP atau pin ibu?"

Waduh ....., ini dia nih .... Sudahlah merasa nggak nyaman bicara dengan orang jenis seperti ini, eh ... dia minta nomor telpon dan pin lagi.
"Anda bisa telpon ke kantor kok. Sebagian besar waktu saya ada di kantor."
"Tapi kan susah kalau harus lewat operator. Nanti pesan saya nggak sampe!", masih ngotot juga.
"Atau pin saja bu... jadi saya bisa langsung connect dengan ibu!"

Yah .... terpaksa deh, saya berikan pin blackberry. Toh walau pesan tersebut masuk, saya masih punya kebebasan untuk membalas kapan ada waktu. Jadi tidak terlalu mengganggu dibandingkan dengan telpon masuk.

Tidak menunggu lama setelah itu, beberapa kali ping terdengar masuk perangkat BB. Dikirimkannya 3 buah foto diri ... sedang main golf, duduk di ruang kerja dan foto cockpit. "Aktifitasku", begitu tulisan yang menyertai ke 3 foto tersebut. Menilik fotonya selintas, sepertinya, orang itu masih muda. Menjelang 40 tahun mungkin. Saya memang tidak men zoom in fotonya. Malah langsung saya delete. Nggak penting banget, gitu loh....!!! Saya malah jadi meragukan bahwa dia bergaul erat dengan pengusaha "papan atas" yang sudah phase out itu. Generasinya berbeda jauh.
***

Ternyata .........., di Jakarta ini banyak banget manusia jenis seperti ini. Sejenis orang yang "tidak percaya diri" kalau tidak mengenakan "topeng". Jenis topengnya bermacam-macam. Ada yang topengnya betul-betul topeng buat kesempurnaan tampilan wajah dan bentuk badannya, yaitu berupa make up atau segala macam upaya perbaikan penampilan wajah/badan seperti operasi plastik atau suntikan botox dan sejenisnya.

Belasan tahun yang lalu, saya pernah punya sekretaris yang super kinclong...!!! Penampilannya nyaris sempurna. Make up lengkap yang sangat rapih selalu menyertai penampilannya setiap hari ke kantor. Rambutnya tertata rapi, memanjang ikal karena si gadis rajin menggelungnya sebelum kemudian dirapikan dengan "blow dry" dan foam. Parfum nya jelas dari merek kelas atas. Harumnya "berkelas". Saya cukup maklum dengan segala penampilannya yang kinclong tersebut, karena ibunya adalah notaris yang cukup kaya raya. Jadi, sepanjang hari ... belum terlihat orangnya, harum parfumnya sudah menyapa penciuman kita. Konon dia bangun jam 04.00 setiap pagi untuk memulai ritual memoles penampilan untuk tiba di kantor jam 08.00.

Gadis ini juga akan panik luar biasa kalau ada yang kurang dalam penampilannya. Bahkan hanya karena dia kelupaan memoles lipstick ke bibirnya. Sayangnya ...., saat itu, saya sedang "mabok" karena kehamilan anak kedua dan sangat sensitif dengan bebauan termasuk harum parfum kelas atas sang sekretaris. Jadi .... dia terpaksa saya larang untuk berada dekat saya.

Pada kesempatan lain, pada suatu hari boss menerima salah satu executive dari grup usaha anak penguasa negeri ini, pada saat itu. Sekarang tentunya mantan penguasa dan grup usaha tersebut termasuk para executive nya sudah tidak terlalu jelas keberadaannya.

Lelaki tersebut berpenampilan metro sexual. Rapi dan harum. Datang dengan mengenakan pakaian formal. Kemeja berdasi dengan setelan jas Ermenegildo Zegna. Bingung kan, kenapa saya sampai tahu merek setelan jasnya. Ini disebabkan karena rancangan jas yang dikenakannya tersebut menjahitkan merek/label nya pada pergelangan tangan. Saya nggak tahu, secara etika, apakah label tersebut harus dicopot dulu sebelum dipakai atau memang disengaja perancangnya agar penggunanya "memamerkan" apa yang dipakainya? Yang pasti.... sang executive memakai jas tanpa mencopot labelnya, sehingga dengan pandangan sekilas saja, merek tersebut sudah jelas terbaca. Pamer ...., norak dan tidak mengerti etika berpakaian secara elegant... atau saya yang kurang gaul...? Silakan menilai sendiri

Masih tentang kelakuan para executive di Jakarta. Kali ini executive perempuan yang konon adalah "tangan kanan" seorang pengusaha kelas atas yang saat ini sedang berkibar. Saya diajak boss untuk menemuinya di Pan d'Or jalan Wijaya 1 Kebayoran Baru. Kami hanya bertiga saja saat itu. Boss memperkenalkan saya, lengkap dengan status saya di kantor. Dia menyambut jabat tangan sekedarnya. Kita tentu akan bisa merasakan sambutan seseorang hanya melalui jabat tangan. Jabat tangan dengan aura kehangatan, ketulusan, basa-basi atau bahkan "meprisant". Dari jabat tangannya, saya tahu dan merasa dianggap "nggak level" untuk dikenal lebih jauh ... Ya sudah ... saya toh diajak, dan "merasa" harus siap-siap kalau pertemuan tersebut harus ditindaklanjuti kemudian, apapun tanggapan dan pandangannya terhadap saya.

Jadilah ..... saya menjadi pendengar setia atas omong-omong kosong yang menurut saya sangat tidak bermutu. Alih-alih bicara soal prospek bisnis, pertemuan itu lebih banyak diisi dan didominasi si perempuan dengan pembicaraan tentang sekolah anak-anaknya di luar negeri, lengkap dengan biaya sekolahnya yang bernilai puluhan ribu USD per semester. Tentang tas bermerek yang baru dibelinya. Cincin, gelang, kalung dan giwang berlian yang dipakainya saat itu. Bahkan dia juga cerita tentang renovasi rumahnya yang memakan biaya miliaran rupiah .... Kesemuanya, menurut saya, sangat tidak perlu dan tidak pantas dibicarakan di depan umum, kecuali kalau niatnya memang mau pamer.

Entah bagaimana, si boss dengan sabar meladeni ocehan perempuan itu....! Salut saya pada si boss yang sabar mendengarkan omong kosong seperti itu. Saya sebagai sesama perempuan, merasa jengah mendengar omongannya. Bukan karena iri/dengki. Hanya merasa ada hal-hal yang tidak pantas dibicarakan dengan orang lain. Apalagi konteks pertemuan tersebut adalah bisnis. Bukan pertemuan pribadi antar dua kawan.

Beberapa hari kemudian, tatkala saya ceritakan pengalaman tersebut pada salah satu teman (perempuan juga) ... dia malah ngakak tertawa .....
"Wah ... tu ibu mau nunjukin bahwa kamu bukan level gaulnya dia kali....", celotehnya.
Iya juga, kali ya ....? Saya tidak akan pernah tahan bergaul dengan orang model begitu. Tahu diri bahwa tingkat kehidupan sosialnya terlalu tinggi .... Sangat jauh dari jangkauan cara hidup keseharian saya....
***

Menurut saya, dI Indonesia, ternyata memang sangat banyak orang yang merasa kurang percaya diri akan kualitas hidupnya lalu mencari-cari cara supaya dianggap masuk ke dalam suatu status sosial tertentu. Kalau ingin dianggap intelek, maka setengah mati dicarinya gelar-gelar akademis untuk dicantolkan di depan atau belakang namanya.

Untuk terlihat terpelajar, mereka bicara dengan mencampur adukkan bahasa tanpa tahu konteks penggunaan bahasa/istilahnya. Seperti gaya bicara Vicky Prasetyo yang baru-baru ini ramai dibincangkan orang. Alih-alih dianggap terpelajar, malah kelihatan "mutu" sebenarnya, Memang ... kualitas intelektual orang akan terlihat saat orang tersebut berbicara.

Ada yang merasa tidak percaya diri kalau tidak menggunakan barang bermerek ... Kalau nggak yang asli, karena harganya luar biasa mahalnya... maka digunakanlah barang-barang "aspal". Banyak lagi cara yang digunakan untuk "menggapai" status sosial tertentu.

Salah satu teman saya, pernah dicuekin teman sekelasnya saat dia kuliah management di PTN terkenal, hanya karena dia menggunakan mobil tua. Padahal saya tahu dia adalah pengusaha, walaupun saat itu baru merintis usaha di bidang telekomunikasi.

Rekan yang lain, notaris yang baru pindah dari luar kota ke Jakarta, terpaksa "megap-megap" mengambil kredit mobil Mercedes Benz seri terbaru agar dia dianggap "bonafide"  oleh calon kliennya.

Saya, bahkan sering diledek staff proyek di luar kota sana, karena hanya memiliki low end gadget yang kuno. Itu karena saya hanya akan menggantinya kalau memang sudah tidak berfungsi dengan baik lagi, sementara di lingkungan saya, hampir seluruhnya menggunakan gadget keluaran terbaru, termasuk keponakan2.

Padahal ...... kalau dipikir-pikir, cape lho memakai "topeng". Berat di ongkos pula ...!!! Tapi .... begitulah manusia ....
Wallahu alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...