Kamis, 12 Agustus 2010

aku dan supir pribadi

Sebelum tulisan ini dilanjutkan, saya perlu meminta maaf terlebih dulu pada mereka yang berprofesi sebagai supir pribadi. Sungguh, tidak ada niat merendahkan profesi sebagai supir karena pekerjaan itu lebih mulia daripada mereka yang meminta-minta. Martabat mereka masih lebih mulia dari orang-orang berpenampilan necis, berdasi dan berjas tapi tak malu-malu mencuri hak orang lain, memperkaya diri sendiri, golongan dan lingkungannya. Melakukan tindak pidana korupsi. Bagi saya, profesi apapun tentu baik selama tidak merugikan orang dan jauh lebih bermartabat dibandingkan dengan para koruptor atau peminta-minta baik meminta karena kondisi ekonomi terlebih lagi "peminta" karena keserakahan dan kerakusan yang sering dilakukan oknum-oknum pemegang kekuasaan menjelang lebaran begini.

Ceritanya begini ... suatu waktu, dalam perjalanan dari proyek ke kantor di bilangan Blok M, usai rapat rutin, masuk pesan di blackberry, dari seorang staff proyek ...
"Ibu setir mobil sendiri?"
"Ya ... ada apa?," saya balas bertanya. Untung jalan di sepajang jalan raya Pasar Minggu, setiap hari memang macet. Jadi saya masih bisa dan sempat membalas pesan yang masuk.
"Kenapa nggak pake supir?"
Iya ya .... kenapa saya selalu menolak untuk mempekerjakan seorang supir?

Sungguh, pertanyaan tentang supir ini bukan pertanyaan pertama yang diajukan pada saya. Sudah berulang kali saya mendengar pertanyaan itu. Dari teman-teman dan boss di kantor juga pernah menanyakan hal tersebut. Bahkan suami saya sendiri seringkali "menyindir" saya yang lebih suka setir mobil sendiri daripada mempekerjakan supir. Terakhir, beberapa bulan yang lalu, bahkan rekan kantor menyatakan bahwa kalau saya mau, kantor bisa memberikan ada alokasi/tunjangan untuk supir, tentunya dengan syarat ... betul-betul ada supir yang dipekerjakan. Namun, saya masih tetap mengelak untuk mempekerjakan seorang supir. Ya... memang pantas dipertanyakan; kenapa tidak mau?Apalagi dengan adanya fasilitas kantor tersebut.

"Saya merasa jengah, ada orang lain di dalam mobil setiap hari. Saya merasa sangat tidak nyaman karenanya."

Tentu, itu bukan satu-satunya alasan saya merasa enggan mempekerjakan supir. Toh sesekali saya juga sering menggunakan dan meminta supir kantor mengantar ke suatu tempat. Tapi ... kepergian itu umumnya dilakukan beramai-ramai. Bukan hanya saya sendiri. Saya bahkan selalu menggunakan taxi setiap kali harus ke bandara saat bertugas keluar kota dan pasti hanya berdua saja dengan supir taxi tersebut. Tapi karena hal itu terjadi sesekali saja, maka saya masih bisa mengabaikan perasaan jengah. Berbeda halnya kalau supir hadir setiap saat ....

Sebetulnya, mengendarai mobil sendiri kan nggak salah ya...? Memang ada resiko kalau terjadi musibah tak terduga di perjalanan, mengingat umur yang sudah berada dalam koridor "usia beresiko tinggi". Refleks saat mengendarai mobil tentu sekarang sudah sangat berbeda dibandingkan masa muda dulu... Gila, nggak terasa, saya sudah memiliki SIM selama 33 tahun.

Tapi saya masih ingat pada Mr/Mme Blanchet, induk semang kami saat tinggal di Buxerolles - Poitiers pada tahun 1980-1981. Mereka adalah para pensiunan yang sudah berusia di atas 65 tahun, Masih aktif mengurus kebun di belakang rumah yang ditanaminya dengan buncir, apel, plums, pir, strawberry dan lain-lain. Tentu menggunakan traktor mini. Kemana-mana masih setir mobil sendiri, bahkan pernah mengajak kami ke pantai La Rochelle yang jaraknya lumayan jauh dari Poitiers tampat kami tinggal. Jadi, ingatan kepada mereka juga merupakan salah satu alasan saya untuk tetap setir sendiri. Semoga otak saya tetap bisa bekerja, karena digunakan untuk memerintah dan mengkoordinasikan syaraf motorik saat mengendarai mobil.

Seorang supir pribadi, mengacu pada pengamatan pribadi selama ini, akan mengetahui banyak rahasia majikannya. Dengan demikian, dia haruslah orang yang bisa dipercaya. Mungkin kalau perlu "harus bisu, buta dan tuli" karena dia melihat dan mendengar apa yang dilakukan dan dipercakapkan majikannya. Bisa dibayangkan, kalau kita memiliki supir pribadi yang comel dan senang "ngember" .... Waduh ..... segala yang dilihat dan didengar setiap saat bersama majikannya itu, bisa diumbar kesana-kemari. Segala rahasia pribadi berubah menjadi konsumsi umum, minimal di lingkungan gaul si supir. Kalau kebetulan majikannya juga public figure, bisa-bisa, gosip yang merebak mengalahkan kehebohan videonya Ariel+Luna Maya. Ingat kan heboh perselingkuhan KD - Tohpati yang diumbar oleh mantan supirnya KD?

Walau bukan karena adanya perselingkuhan yang harus ditutupi, namun saya tetap lebih suka mengendarai mobil sendiri. Saya hanya tidak suka ada "orang asing" masuk ke dalam wilayah kehidupan pribadi, yaitu .... mengetahui kemana saya pergi, dengan siapa dan untuk urusan apa.

Saya ingat sekali, seorang teman yang sedang dalam proses "berpisah" dengan istrinya, menjadi lebih "nekat" untuk menceraikan si istri karena dibumbui cerita supir keluarganya yang menyatakan bahwa istrinya tersebut seringkali keluar masuk hotel dengan lelaki. Entah apakah supir itu memang melihat dengan mata dan kepala sendiri atau mendengar cerita dari supir si istri. Tetapi darimanapun sumber berita tersebut, tetap saja mereka tidak tahu maksud dan tujuan kita ke hotel. Saya yang juga suka melakukan hal itu tentu "sangat tersinggung" karenanya. 

Saat ini, para pelaku bisnis seringkali melakukan pertemuan di restoran-restoran, istilah kerennya breakfast/lunch meeting atau di business center/lounge yang memang menjadi salah satu fasilitas hotel. Di beberapa hotel, business lounge malah terletak di salah satu lantai hotel. Bukan di area umum di sekitar lobby, sehingga pengunjungnya harus masuk ke lift yang sama dengan pengunjung yang menginap. Nah... apa jadinya kalau ada yang melihat pasangan lelaki dan perempuan keluar dari lift. Padahal ... bisa jadi mereka baru saja menghadiri pertemuan di executive lounge tersebut. Jadi belum tentu orang-orang yang keluar masuk hotel dengan niat mesum. 

Tentu, kita juga tidak perlu menjelaskan panjang lebar kepada supir apa maksud dan tujuan ke hotel. Lucu aja.... masa supir harus tahu apa urusan si majikan? Tapi "keluguan dan ketidaktahuan" bisa membuat supir menduga-duga sesuatu dan hal ini bisa jadi boomerang, manakala si supir suatu saat merasa sakit hati pada majikannya. Atau hanya sekedar menjadi bahan obrolan di kalangannya.

Sebetulnya, ada satu alasan lain yang juga menyebabkan saya lebih suka sendiri, yaitu saat berbelanja. 

Jujur saja, belanjaan saya banyak, apalagi kalau belanja bulanan.  Segala macam dibeli... Mungkin sudah pantas punya toko sendiri. Kasir yang melayani saja, seringkali bingung melihat betapa melimpahnya belanjaan saya... hehehe... Belanja orang sekampung, kali ya...? 

Kalau saya punya supir pribadi, saya merasa sangat tidak nyaman kalau si supir tahu jenis barang belanjaan saya, apalagi kalau dia sempat mengintip harganya. Semurah apapun barang belanjaan saya, tetap saja akan membuat kening si supir berkerut. Menghitung dan membatin melihat barang belanjaan saya, apalagi kalau barang belanjaan itu makanan yang bisa jadi belum pernah dicicipinya.

Saya jadi ingat, lebih dari 10 tahun yang lalu saat masih tinggal di Kemang Pratama. Pada anak kampung yang, tinggal di balik tembok pembatas antara perumahan dengan perkampungan penduduk asli, suka bantu membersihkan halaman rumah, saya berikan beberapa butir lengkeng. Rupanya lengkeng yangtidak seberapa banyaknya itu dibawa pulang dan dibagikannya kepada ibu dan adiknya. Itu sebabnya keesokan harinya, si ibu datang ke rumah, mengucapkan terima kasih. Baru kali itu mereka sekeluarga mencicipi lengkeng. Padahal .... buah itu banyak bergantungan dan dijual oleh pedagang di pinggir jalan. Saya agak terkesiap dan tersadar, ternyata ... buah-buahan yang dijajakan di pinggir jalanpun belum tentu bisa dinikmati oleh semua orang. Saya sendiri jadi ragu apakah si penjualnya juga tahu rasa semua buah-buahan yang dijualnya.

Nah .... bayangkan, kalau supir saya melihat belanjaan saya, lalu terbit air liurnya, sementara, belum tentu saya "berniat memberinya", karena sesuatu alasan. Toh, kecuali memberinya gaji yang pantas setiap bulan, saya tidak punya kewajiban memberinya semua apa yang saya beli, kepada supir. Atau kalaupun memang saya berniat memberi sepotong, dua potong makanan yang saya beli atau makan, tetapi karena sok sibuknya, seringkali  lupa menyisihkannya. 

Waduh ..... bayangkan, betapa banyaknya dosa saya, kalau hal itu rutin terjadi. Bukankah kita dianjurkan harus selalu berbagi. Jangan sampai ada orang yang menderita sementara di hadapan mereka, kita menikmati apa-apa yang tidak mampu mereka dapatkan. 

Jadi .....itu juga merupakan salah satu alasan saya, mengapa hingga saat ini saya tidak menggunakan supir. Tapi.... ssstttt, jangan bilang-bilang ya .... sebetulnya, saya punya supir pribadi kok....! Ya suami saya itu ... hehehe, walau kadangkala dalam perjalanan ke Bandung, saya tetap harus mengendarai mobil sementara dia nyenyak terlelap di jok depan sambil buka penggerjajian.....

Rabu, 07 Juli 2010

Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (dwilogi)


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Andrea Hirata
Maryamah Karpov yang benar

Mizan Book Publisher menerbitkan karya Andrea Hirata terbaru, yang tersaji dalam dua cerita tetapi disatukan dalam sebuah buku yang diberi judul ... Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas.

Ceritanya masih berkisar tentang Ikal dan kisah-kisah petualangan bersama teman-temannya, sedangkan rentang terjadi peristiwa dalam kisah petualangan ini adalah masa Ikal dewasa setelah dia menyelesaikan kuliah dan memperoleh gelar master di Perancis/Inggris.

Buku pertama, PADANG BULAN mengisahkan pertengkaran antara Ikal dan bapak “juara satu di dunia” yang disayanginya sehingga menyebabkan Ikal enggan pulang kerumah. Pertengkaran itu sendiri dipicu karena ketidak-setujuan bapak akan hubungan Ikal dengan Aling dan ditambah dengan ketidak sukaan sang ibu, melihat Ikal yang telah bersusah payah bersekolah dan memiliki sederetan gelar tidak kunjung mencari dan mendapatkan kerja kantor yang dapat menjamin masa depan dan pensiun di hari tua.

Di tengah masalah antara Ikal dan ibu/bapaknya, muncul M Nur, kawan main Ikal semasa kecil, yang mengaku dirinya sebagai detektif Melayu, memperkeruh hubungan Ikal dengan Aling. Berita yang dihembuskan M. Nur kepada Ikal tentang hubungan Aling dengan Zinar, pengusaha muda, tinggi, ganteng dan atletis, pemiliki warung kopi membuat Ikal terbakar rasa cemburu.

Tampilan fisik Zinar dan info hubungan “asmara” antara Zinar dan Aling tak pelak membuat Ikal pontang–panting, martabatnya terusik sehingga dia berusaha mati–matian untuk mengalahkan Zinar. Kesempatan itu datang dalam berbagai pertandingan yang akan digelar saat perayaan 17 Agustus.

Di lain pihak, ada kisah Enong, gadis kecil yang bercita–cita menjadi guru bahasa Inggris, namun terpaksa mengurungkan niatnya sejak sang bapak meninggal terkubur hidup–hidup tertimbun longsoran pasir timah. Sebagaimana tradisi Melayu, sebagai anak tertua, Enong terpaksa mengambil alih tanggung jawab sang ayah dan mengubur segala cita–citanya hanya beberapa bulan menjelang ujian akhir SD.

Perjuangan Enong mengais rejeki untuk menopang kehidupan keluarga tentu sangat berat. Upaya mencari pekerjaan di Tanjung Pandan gagal total karena tubuhnya yang kecil dan kurus kering dianggap tidak memadai untuk jenis pekerjaan yang dilamarnya sehingga Enong akhirnya terpaksa kembali ke kampung.

Buku ke dua CINTA DI DALAM GELAS melanjutkan perjuangan Enong mengais rejeki di kampung,menggantikan fungsi bapak. Enong memutar otak untuk mencari penghasilan untuk menopang biaya rumah tangga dan sekolah adik–adiknya dengan adat dan tradisi Melayu dengan menjadi pendulang timah perempuan yang pertama di kampungnya, menghadang berbagai tantangan yang keras dan kasar. Bertahun – tahun dijalaninya kehidupan keras tersebut sambil tetap menjaga semangatnya untuk menguasai bahasa Inggris. Dibiayai adik–adiknya bersekolah hingga mereka kemudian menikah satu persatu, hingga tinggal Enong membujang dengan tampilan kasar khas pendulang timah.

Hingga suatu saat seorang lelaki melamar dan mengajaknya menikah. Namun bayangan cinta sejati seperti yang dialami ibu/bapaknya pupus ketika seorang perempuan datang ke rumah Enong seraya mengaku sebagai istri Matarom, suami Enong.

Enong kecewa dan dalam kemarahan dia memutuskan untuk bercerai dan melanjutkan hidupnya sendiri, mengejar cita–cita masa kecilnya untuk menguasai bahasa Inggris dengan mengikuti kursus bahasa Inggris. Ditemani buku kecil berjudul kamus Inggris satu milyar kata,hadiah bapaknya menjelang kematiannya Enong semangat mengejar cita–citanya.

Sementara itu kemarahan Enong karena tertipu Matarom, dilampiaskannya dengan niat mengalahkan lelaki yang sempat menjadi suaminya itu diajang pertandingan catur menjelang perayaan 17 Agustus. Catur adalah wilayah lelaki dan perempuan Melayu tidak akan pernah diberi kesempatan bermain catur apalagi kalau sampai mengalahkan lelaki.

Ikal, M Nur sang detektif, Enong yang memiliki nama asli Maryamah serta Jose Rizal dan Ratna Manikam berkomplot untuk mendukung Enong alias Maryamah “menuntaskan” dendamnya mengalahkan Matarom sang juara catur 2 tahun berturutan. Pertemanan Ikal dengan Ninoschka di Sorbone yang pada saat sama sedang berjuang untuk menjadi salah satu master catur dunia, memperlancar niat Enong yang Maryamah melangkah sedikit demi sedikit mengalahkan para lelaki.

Dukungan teknologi telekomunikasi tradisional melalui merpati pos dan telekomunikasi modern internet memuluskan transfer pengetahuan bermain catur tingkat dunia kepada pemain catur desa nun di pelosok pulau kecil wilayah Sumatera. Lembar catatan langkah pesaing yang “disadap” sang detektif dan disampaikan Jose Rizal kepada Ikal, diterjemahkan langsung oleh Ikal untuk dimintakan petunjuk langkah antisipasi lansung dari Ninoschka di belahan dunia Eropa. Bagaimana akhir pertandingan Enong dengan Matarom, ada baiknya kita simak 2 buku yang menjadi satu ini.

Sebagaimana kisah perjalanan Ikal terdahulu, buku ini sarat dengan semangat hidup yang patut menjadi teladan dan contoh bahwa tidak ada yang mustahil tatkala semangat dan kemauan untuk meraih cita–cita masih terpateri dalam dada.

Bagi saya, buku ini, terutama buku bagian ke dua lebih cocok diberi nama MARYAMAH KARPOV dibandingkan dengan buku ke 4 tetralogi Andrea Hirata terdahulu. Saya masih ingat, mungkin sekitar 1 tahun sebelum film Laskar Pelangi beredar, saya sempat melihat buku Maryamah Karpov di toko buku Gramedia PIM1. Sempat terbersit maksud untuk membelinya sekaligus 3 buku yaitu Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Namum suami saya melarang, karena buku pertama, Laskar Pelangi pun belum selesai saya baca. Beberapa minggu setelahnya, tatkala saya memutuskan untuk membeli buku tersebut ... maka Maryamah Karpov sudah menghilang dari peredaran .... untuk kemudian diedarkan kembali di bulan September (tahunnya lupa...) mendekati jadwal peredaran film Laskar Pelangi

Bisa jadi, cerita dalam dwilogi inilah yang menjadi isi buku Maryamah Karpov terdahulu, yang sebenarnya dan kemudian diperkaya kembali oleh Andrea Hirata dengan menuliskan akhir kisah percintaan antara Ikal dengan Aling.

Buku ini juga sekaligus menjelaskan mengapa kisah–kisah dalam buku Maryamah Karpov – versi Tetralogi “nggak nyambung” dengan judul bukunya, karena sama sekali tidak tercermin apa, siapa dan mengapa ada Maryamah Karpov

Selasa, 06 Juli 2010

Mencari Endek yang hilang

Tenun Ikat Bali - Endek
Sejak terbetik berita DTM bermaksud mengadakan perjalanan liburan bersama ke Bali, saya berniat untuk mencari endek di ranah kelahirannya. Terakhir saya menjumpai dan memperolehnya, juga di ranah kelahirannya adalah 21 tahun yang lalu pada kesempatan yang sama pula, yaitu perjalanan bersama keluarga DTM. Bedanya, tentu saat itu anak pertama saya masih berumur 6 tahun dan sekarang, kami pergi bersama anak kedua yang berumur 12 tahun. Bahkan salah satu peserta perjalanan 21 tahun yang lalu sudah meninggal dunia beberapa hari sebelum DTM melakukan perjalanan liburan bersama pada awal bulan Juli 2010 yang baru lalu.

Beberapa hari sebelum keberangkatan kami, saya menghubungi keponakan suami yang tinggal dan bekerja di Denpasar untuk mencari endek, tentu dengan menyertakan ciri - cirinya. Sayang, sang keponakan sama sekali tidak bisa menemukannya. Ternyata bukan saja karena dia tidak mengetahui jenis kain yang dimaksud. Maklum saat endek sedang merajai dunia fashion di tanah air, dia masih kanak-kanak.

Merasa akan mengunjungi ranah kelahiran Endek, saya berpikir akan mencarinya sendiri. Tentu akan lebih menyenangkan karena akan dapat memilah dan memilih endek sesuai dengan kehendak hati.

Maka .... hari kedua, di Bali ... tanah kelahirannya, saya sempat menanyakan keberadaan endek kepada Komang, supir sekaligus pemilik APV yang membawa kami melakukan perjalanan liburan. Memang .... perjalanan yang konon diberi judul DTM Gathering .... ternyata malah "memandirikan" pesertanya. Seluruh acara selama 4 hari 3 malam di Bali, diisi dengan acara bebas.

Nah kembali pada si Endek, tahukah anda siapa dia? Kepada Komang, saya tanyakan keberadaan tenun ikat Bali yang pada tahun 80 an begitu menguasai ranah fashion di Indonesia. Bahkan mengalahkan dominasi batik. Dimana - mana tenun ikat Bali digunakan baik sebagai gaun maupun kemeja. Bahan, warna dan motifnya begitu beragam.

Di tanah kelahirannya, tenun Ikat Bali ternyata lebih dikenal sebagai Endek. Dialah yang saya cari, di tengah membanjirnya beragam motif batik dari Sabang hingga Merauke. Ternyata .... Endek memang sudah sukar ditemukan dijajakan orang baik sebagai bahan untuk dibuat kemeja/gaun, kain pantai atau sarung. Dari puluhan kios penjual kain pantai, hanya beberapa saja yang menjual kain pantai endek. Itupun dari jenis yang bermutu rendah .... kain tipis dengan tenunan benang jarang.

Sempat juga mencari di berbagai toko yang mengkhususkan diri menjual souvenir khas Bali, mereka hanya menjual endek berbentuk sarung pantai yang dari motifnya kurang cocok dibuat blouse atau kemeja.


motif Rang-rang Tenun Ikat Troso - Jepara
Hari terakhir di Bali, keponakan suami berkesempatan menemani kami dan mengajak ke mencari endek di jalan Sulawesi Denpasar, yang merupakan pusat penjualan kain, Kesanalaah kami berburu endek. Dalam belasan toko yang kami masuki, hanya ada 4 toko yang menjual endek meteran yang dapat digunakan untuk blus atau kemeja. Sementara batik Jawa, mulai dari batik motif Megamendung gaya Cirebonan, Jawa Tengah (motif Solo, Jogja, Pekalongan dll) maupun Jawa Timuran seperti Batik Tubanan dan Madura, sekedar menyebut motif yang saya kenal menguasai pusat penjualan kain. Memang ada kain motif Bali seperti yang sering digunakan para penari, namun tetap saja terlihat dengan sangat kasat mata bahwa Batik Jawa sudah "menjajah" ranah kelahiran Endek.

Ironi sekali .... saya merasa kehilangan endek sang TENUN IKAT justru di tanah kelahirannya. Tenun ikat Bali justru kehilangan pamor dan tempat kelahirannya.

Minggu, 27 Juni 2010

Transformasi Surabaya ... Jakarta, kalah jauh deh...!

Week end akhir Juni yang baru lalu, saya berkesempatan mengunjungi Surabaya lagi, walau hanya satu hari dan bukan sekedar jalan-jalan santai tapi karena ada tugas untuk survey salah satu mall yang konon mau diambil-alih sebagian kepemilikannya.

Terakhir saya mengunjungi Surabaya, mungkin sekitar 3 tahun yang lalu saat keponakan suami menikah dan so pasti nggak sempat jalan - jalan. Nah kali ini malah kebanyakan jalannya, cuma mblusuk ke pasar tradisional karena mall yang dikunjungi dan harus diamati itu letaknya di atas pasar tradisional di daerah Kapas Krampung. Pasar tradisionalnya lebih dikenal dengan nama Pasar Tambah Rejo sedangkan Mall nya dulu diberi nama East Point, karena memang berada di timur Surabaya,tidak jauh dari Jembatan Suramadu. Sekarang dikembalikan pada nama daerahnya Kapas Krampung Plaza yang disingkat menjadi Kaza.

Namun bukan Kaza yang ingin saya ceritakan, tetapi kemajuan wajah kota Surabaya yang sangat mengagumkan. Minimal dari sudut pandang pengunjung walaupun sangat singkat.

3 Tahun yang lalu, saat menghadiri pernikahan keponakan suami, dalam perjalanan dari airport ke tempat menginap yang lokasinya tidak jauh dari Universitas Airlangga, terasa betul adanya perbedaan antara Jakarta dengan Surabaya, terutama dalam hal kebersihan dan kerapihan kota. Jalan protokol di Surabaya tidak selebar yang ada di Jakarta, tetapi terasa teduh dinaungi pepohonan yang begitu rimbun. Tepi sungat memang agak semrawut ... biasalah.... kalau sedang ada proyek, entah itu proyek normalisasi sungat atau penggalian-penggalian untuk penanaman kabel, saluran air atau pipa air minum.

Saya mendarat di bandara Juanda - Surabaya sekitar jam 19.30, langsung menuju Kaza , yang sebetulnya menjadi tujuan survey pada hari sabtu, dengan ditemani seorang teman , yang sudah 21 tahun menjadi penduduk Surabaya dan Project Manager dari PP yang membawahi Balcony dan Kaza. Dari airport, kami berpisah mobil, Saya ikut teman, mencari makan malam dulu sekaligus melihat lokasi tujuan survey esok hari.Tentu ingin melihat Kaza dan pasar Tambah Rejonya pada malam hari. Tidak banyak yang bisa dilihat di sepanjang perjalanan dari bandara menuju Kapas Krampung karena hari sudah gelap.

Sabtu pagi sekitar jam 09.30 saya dijemput Dwi, supir pribadi temanku untuk diantar ke Kapas Krampung. Kali ini Kemarin .... terus terang, saya dibuat kagum dengan kebersihan, kerimbu
nan dan keindahan Surabaya. Rasanya .... Surabaya lebih pantas mendapat Adipura dibandingkan dengan Jakarta Pusat. Betul, masih ada PKL disana-sini tetapi bila dibandingkan dengan Jakarta .... jumlah PKL di Surabaya relatif sedikit.

Keberadaan Citraland dengan slogannya The Singapore of Surabaya yang konon katanya suasana lingkungan perumahan tersebut sudah 80% mirip Surabaya, dari segi keindahan, kebersihan dan pengelolaannya, memacu pemkot Surabaya "meniru" dan belajar dari pengembang kawasan tersebut bagaimana "mengolah" kota Surabaya yang semula berantakan menjadi lebih "berbudaya".

Kerendahan hati walikota Surabaya untuk mau belajar dari kalangan swasta, patut diacungi jempol sehingga membawa SUrabaya menjadi lebih bersih, rimbun dan tertata dengan lebih baik. BRAVO Surabaya

Jumat, 21 Mei 2010

Pelayanan Kesehatan

Sebel denganu asistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Sdh daftar n datang sebelum waktunya, eh dokternya sedang "lari" ke RS yang lain tanpa bisa diketahui jam berapa dia kembali atau apakah dia akan kembali lagi ke RS
---

Ini cerita pengalaman pribadi berurusan dengan rumah sakit. Semoga.... gua nggak dituntut seperti Prita Mulyasari ... makanya
gua nggak bakal nyebut nama RS nya deh.
Sudah lebih dari 5 tahun, alhamdulillah, saya tidak pernah berurusan dengan rumah sakit. Terakhir kali... ya lebih dari 5 tahun itupun karena terpaksa.

Seperti biasa, penyakit yang mampir di badan, biasanya cuma batuk atau pilek dan tanpa obat-obatan kimiawi, batuk atau pilek itupun hilang dengan sendirinya, Biasanya dibantu dengan pijat/refleksi, minum rebusan jahe+gula batu+perasan jeruk nipis setiap malam. Tapi ada kejadian yang menyebabkan saya harus berurusan dengan rumah sakit....

Saat itu, karena lendir dalam hidung agak bandel sehingga untuk mengeluarkannya harus menggunakan "tenaga" dorong yang kuat. Akibatnya ... ada kebocoran dari lubang hidung sebelah kiri ke telinga kanan. Gimana kejadian dan rasanya?

Nah, hari itu usai makan siang dan shalat dhuhur.... sambil ngetik di notebook... tiba-tiba terasa seperti ada korsleting listrik di telinga kanan. Betul-betul bunyinya seperti kalau ada dua kabel "telanjang" tersambung. Nggak sampe satu menit... terasa ada cairan mengalir dari telinga yang "korslet" tadi. Saya ambil tissu untuk melapnya.... terlihat basah oleh cairan bening. Tapi si cairan... walau hanya sedikit tapi tetap mengalir dan lama kelamaan warnanya berubah menjadi kekuningan dan akhirnya agak kemerahan.

Saat melihat cairan berubah warna menjadi kemerahan, saya segera sadar bahwa betul-betul ada yang nggak beres dengan telinga kanan saya. Untungnya .... supir kantor ada yang sedang "menganggur" sehingga saya bisa minta antar ke sebuah RS, tidak jauh dari kantor.

Maka... sayapun ditangani oleh dokter THT, yang dengan sedikit "mengomel", membersihkan telinga saya lalu memberikan resep dengan pesan harus kembali lagi 1 minggu kemudian setelah obat habis.

Kenapa dia ngomel..... Karena ... saya dianggap bandel... Batu/pilek tapi nggak mau berobat ke dokter. Si dokter kali nggak tahu kalau..... sumpah mati... saya termasuk golongan orang yang tidak percaya dengan pengobatan kedokteran "modern" yang menjejali pasien dengan obat2an kimiawi.

Tapi, ya sudahlah... dokter mau ngomong apa, toh saya sebagai pasien punya hak sendiri, mau nurut atau nggak. Jadi telan aja tu omongan... hehehe... Jadi kembalilah saya ke kantor dengan sekantong obat-obatan kimiawi yang amit-amit... kalo nggak kepaksa banget, pasti udah saya buang ke selokan di pinggir jalan.

Hari pertama, untungnya Sabtu... jadi saya bisa istirahat di rumah sambil berusaha mendisiplinkan diri minum obat yang harganya mahal.... Konon begitulah maunya dokter... Ngasi obat paten buat pasien, supaya komisi dari pabrik obat makin gede.... Yang ini sudah jadi rahasia umum-lah...

Hari ke 3, Senin... ternyata kondisi saya bukan malah lebih baik.... tetapi saya malah "terkapar" nggak bisa bangun. Terpaksalah telpon ke kantor, minta ijin nggak masuk... lalu telpon adik saya ... menceritakan segala sesuatu yang terjadi sambil menyebutkan nama obat yang dikasih dokter THT itu.

"Gila ...." teriak adik saya di telpon.
"Mau bunuh nyamuk aja pake bom...!!!" begitu komentarnya saat saya menyebutkan merek dagang antibiotik yang saya minum selama 7x.
"Tentu lambungmu nggak tahan... kamu yang nggak pernah minum obat dikasih bom antibiotik. Sudah ganti dengan ini...., minum 3x sehari sampai habis!", begitu katanya sambil menyebutkan merek antibiotik pengganti.
Maka, sang suami terpaksa pergi dulu ke apotik sebelum berangkat ke kantor dan setelah mengganti antibiotik itu saya bisa tidur dengan nyaman dan keesokan harinya sudah bisa masuk kantor lagi dan sejak saat itu .... saya tidak pernah mau lagi minum obat kimiawi kecuali dalam keadaan terpaksa, dimana rasa sakit betul-betul sudah tak tertahankan lagi. Alhamdulillah hal tersebut sudah berjalan lebih dari enam tahun hingga..... tibalah kejadian sekitar hampir 4 minggu yang lalu.

Nah... saat itu, suami pulang dari Johor Bahru/Singapore membawa oleh-oleh batuk dan pilek. Sebetulnya... tidur dengan suami yang kena batuk/pilek sudah biasa. Kalau saya sudah merasa "bakal kena", biasanya saya minta dibuatkan ramuan khusus dalam mug super besar untuk diminum sepanjang malam. Apalagi kalau bukan rebusan jahe+gula batu+perasan jeruk nipis. Lalu pagi-pagi setelah anak pergi ke sekolah, saya akan tidur lagi 1 jam, baru mandi dan berangkat ke kantor. Itu sudah cerita klasik, yang sekretaris kantor sudah hafal betul karena sudah berjalan hampir 6 tahun dan dengan cara itu relatif saya tidak pernah "bolos" kantor karena sakit.

Kali ini... entah karena virusnya made in Johor Bahru/Singapore atau mungkin Allah SWT ingin menyentil saya karena "kejumawaan" saya atas kondisi kesehatan yang relatif prima untuk orangyang sudah berumur hampir balak lima, kiat-kiat yang biasanya manjur ternyata bablas...... 4 hari saya terkapar di rumah. Kalau hanya sekedar batuk/pilek saja, saya masih berani berangkat ke kantor. Tapi untuk kali ini, dibarengi dengan sakit kepala yang amat sangat dan deman setiap malam dan pagi hari. Bahkan saking nggak tahannya dengan rasa sakit kepala, saya sempat masuk UGD untuk mendapat 2 flacon cairan infus termasuk 1 flacon paracetamol.

Setelah sempat nggak masuk selama 4 hari kerja, minggu kedua, karena sakit kepala sudah reda, maka saya mulai masuk kantor. Berangkat sedikit lebih siang dan pulang lebih cepat karena kondisi terasa masih belum 100% pulih.

Nah... lagi-lagi, di hari jum'at setelah makan siang, terasa ada yang mengalir dari telinga kanan. Persis di tempat yang dulu lagi. Memang ... sejak mulai batuk pilek, saya sudah agak waswas dengan "kelemahan" hidung-telinga akibat "kebocoran" yang telah terjadi + 6 tahun yang lalu. Apalagi setiap lendir keluar dari hidung, terlihat warna yang berbeda. Lendir yang keluar dari hidung sebelah kanan berwarna kecoklatan seperti tercampur darah. Mungkin sedikit mimisan.

Sayangnya Jum'at malam itu, saya tidak bisa ke RS, kali ini yang ada dekat rumah, karena dokternya sudah pulang. Jadi baru keesokan paginya saya kembali ke RS.

Dokter THT, perempuan, yang menangani cukup baik walau agak "sebel", kali ya... karena saya tidak mencatat antibiotik yang 6 tahun lalu menyebabkan saya terkapar serta antibiotik pengganti yang diresepkan oleh adik saya. Tapi... siapa sih yang ingat dengan obat yang diminum 6 tahun lalu, apalagi buat saya yang nggak suka obat-obatan kimiawi?

Lalu, diberikanlah sekantong obat, berupa clavamox (amoxillin sang antibiotik) - mucopec untuk batuk dan Rhino untuk pilek. Antibiotiknya dihabiskan..... Ini SOP standar penggunaan antibiotik. Ya sudah.... terpaksa manut.... Cuma sebalnya... saat diperiksa... "kebocoran" itu tak terdeteksi, apalagi cairannya juga sudah berhenti mengalir. Jadi bu dokter nggak ngasi obat telinga.

Apa yang terjadi...? sore harinya, kepala saya sebelah kanan dari ubun-ubun sampai tempurung otak di atas tulang tengkuk  sakit bukan kepalang dan ini berlangsung selama 3 hari sehingga hari Senin saya kembali nggak masuk kantor. Ampyun deh.....

Hari ini .... antibiotik sudah habis. Batuk walaupun sudah tidak ada lagi, tapi saya merasa masih ada sisa batuk yang "mengganjal" rongga dada sehingga napas saya terasa pendek.
Telinga saya hanya berfungsi 50%, sehingga suara di sekitar terdengar sayup-sayup.

Itu sebabnya, hari ini saya pulang agak cepat setelah dibuatkan janji untuk kembali ke ruang praktek bu dokter. Maka, usai shalat ashar saya bergegas meninggalkan kantor agak tidak terlambat. Apalagi terlihat mendung mulai menggayuti langit di selatan Jakarta.

Tiba di RS, di tempat pendaftaran... sang petugas bilang begini :
"Maaf bu .... dokternya baru keluar. Ada panggilan dari RS."
Disebutkannya nama sebuah RS yang jaraknya sekitar 5km dari RS tempat saya akan berobat. Tapi... pada jam sore tersebut yang pasti akan sangat macet, jarak 5km bisa ditempuh dalam waktu 1 jam.

"Berapa lama dia akan berada disana?", tanya saya
"Entah bu, kami belum bisa memastikannya. Tapi kalau mau ibu bisa menunggu..."
Hah.....Nunggu tanpa kejelasan berapa lama.... Yang bener aja? Apalagi di luar terlihat hujan sudah mengguyur tanah dengan deras.

Saya berhitung waktu ... Saat itu jam 17.00 dan dokter baru 20 menit berangkat untuk menangangi pasiennya di RS lain yang sedang gawat. Jarak 5 km di Jum'at sore dengan kondisi hujan deras, pasti akan memakan waktu 1 jam atau 2 jam pergi pulang. Kalau bu dokter mampu menangani pasiennya dalam waktu 1 jam, maka berarti 3 jam waktu yang digunakannya. Kalau saya menunggu, artinya paling cepat jam 19.00 dia baru kembali. Padahal jelas-jelas jam prakteknya hanyasampai jam 18.00.

Nggak peduli tas kerjanya masih ada di ruang praktek, siapa yang bisa menjamin dokter akan kembali ke RS di luar jam prakteknya untuk menangani pasiennya? Soal tas...? gampang saja kan.... Tinggalkan saja di RS, toh Sabtu pagi dia akan kembali praktek. Tinggal telpon ke perawat untuk memintanya menyimpan tas..... dan pasien yang menunggu....? silakan gigit jari....dan pulanglah....

Mungkin saya terlalu berburuk sangka, tapi cerita dokter lari kesana-kemari, dari warung (ini istilah umum untuk menyebut tempat praktek) yang satu ke warungnya yang lain, sudah jadi cerita klasik khas kota besar di Indonesia. Kenapa untuk "menghidupi" dirinya secara layak, dokter harus berpaktek disana-sini sehingga menerlantarkan pasien-pasiennya di satu tempat prakteknya. Apakah tidak mungkin mereka mendapatkan penghasilan yang cukup besar sehingga tidak perlu "buka warung" di setiap pojokan?

Semoga, para dokter tidak termasuk golongan kaum hedonis di Indonesia yang tak pernah terpuaskan naluri kebendaannya, sehigga seberapa besarpun penghasilan, tidak pernah akan mencukupi.

Entah kapan hak-hak pasien terlayani dengan baik ...

Kamis, 22 April 2010

Inikah hasil perjuangan Kartini

Rabu malam, tepat pada hari dimana Indonesia merayakan hari Kartini, memperingati hari lahirnya perempuan Jawa yang dianggap pelopor "persamaan hak antara lelaki dan perempuan Indonesia, sekitar jam 20.15 saya pergi ke citos alias Cilandak Town Square untuk beli roti. Belakangan ini, anakku lagi doyan roti dari salah satu bakery yang ada di Citos itu. Biasanya kalau ke Citos jam segitu, kecuali jum'at malam, parkir sudah agak kosong. Namun malam itu, pelataran parkir masih sangat penuh.

Naik ke lantai dasar, saya agak kaget karena hampir tidak ada area kosong di sepanjang pedestrian utama. Semua penuh dengan stand yang bertuliskan lady's day. Oh... baru ingat bahwa setiap hari Rabu, Citos menyelenggarakan Lady's day dan saya baru menyadari bahwa hampir 99.9% isi both berkaitan dengan "PIRANTI" perempuan. Yang terbanyak sudah pasti.... BAJU.... lalu assesoris baik berupa kalung, gelang yang etnis maupun logam dengan desain modern.

Hari ini ...., sehari setelah perayaan Hari Kartini, menjelang pulang kantor, seorang rekan dari Manado datang dengan sepupunya. Rekan dari Manado itu memang selalu mampir ke kantor, sebagian besar untuk mengantarkan makanan khas Manado baik berupa ikan bakar, sayur mayurnya bahkan klappertaart dan dodol Manado yang harum lembut dan menjadi kesukaan saya.

Sang sepupu, rupanya pedagang berlian yang baru saja selesai menjajakan dagangannya di suatu pertemuan "ibu2 jetset dan sosialita" Jakarta. Di kamar kerja rekan saya, dia membuka "barang dagangan"nya dan memamerkannya pada rekan saya yang kemudian mencoba beberapa barang di antaranya.

Sambil menjelaskan barang-barang dagangan bertatahkan berlian berharga puluhan bahkan hingga ratusan juta untuk berlian soliter berukuran 2,5 cts, dia dengan bangganya menceritakan bahwa dalam satu kesempatan .... seorang pejabat dan istrinya memborong 10 unit barang dagangannya. Bayangkan .... andai rata-rata harga perhiasan yang diambilnya itu senilai 75 juta per unit, maka dia telah menghabiskan dana sebesar 750 juta, 3x bayar katanya alias 3 @ 250juta.

Lalu mengalirlah cerita mengenai klien-klien alias para pelanggannya yang rata-rata seringkali membeli berlian berharga ratusan juta rupiah. Tidak itu saja.... dia juga mengatakan bahwa di dalam mobilnya masih ada tas perempuan merek Hermes crocos asli seharga 750 juta atau tas Hermes seperti yang dipakainya seharga 90 juta rupiah.

Bosan mendengar celotehan yang menurut saya "nggak mutu" karena memang bukan "level" hidup saya, pelan-pelan saya mengundurkan diri dan kembali ke ruang kerja saya. Nggak mutu dan bukan level saya, bukan berarti merendahkan mereka yang memiliki selera seperti itu, tetapi lebih dikarenakan saya memang tidak atau belum masuk kategori perempuan-perempuan yang mampu membeli barang2 mahal tersebut. Memang mutu dan level saya masih sangat rendah...

Lamat-lamat masih terdengar "undangan" rekan kerja saya agar dia datang ke beberapa arisan yang diikutinya dimana banyak ibu-ibu sosialita dan istri pejabat baik level daerah maupun level nasional menjadi anggotanya. Disana..., katanya dagangan berlian seharga ratusan juta biasa diperebutkan seperti membeli pisang goreng.

Entah apa yang ada dalam pikiran ibu Kartini bila mengetahui bahwa perempuan Indonesia yang diperjuangkan pendidikan dan hak-haknya sebagai manusia masih belum beranjak dari "baju dan perhiasan"...

Senin, 05 April 2010

balada malam hari

Malam minggu di awal April, kebetulan long week end untuk merayakan Paskah. Jum'at pagi jam 08.00, tanpa terduga, bel rumah berdenting. Keponakanku seperti biasa datang. Hal ini sudah menjadi rutinitas kegiatan liburannya bila kami tidak berkunjung ke Bandung, tempatnya tinggal. Tidak heran ... saudara-saudaranya selalu berkomentar "anak kost" pulang kampung ... Padahal, dia tinggal dengan orangtuanya di Bandung.

Seperti biasa juga dia akan meminta kami mengajaknya jalan-jalan, walau tanpa tujuan. Jum'at malam, kami berempat menghabiskan waktu di Grand Indonesia. Ini kali pertama kali berkunjung ke Mall yang berlokasi di bunderan Hotel Indonesia. Mall besar super mewah yang lebih banyak dikunjungi golongan atas.

Tentu bukan karena kami termasuk golongan atas, sehingga Mall tersebut menjadi tujuan tempat makan malam, tapi karena tempat itu memang belum pernah didatangi dan pilihan tempat lainnya ditolak anak dan keponakanku. Mereka memang sudah lama ingin berkunjung ke Grand Indonesia.

Maka.... makanlah keluarga kecil dengan dua anak ini, di... entah lantai berapa. Tapi food areanya memang sangat nyaman dengan suasana pedestrian. Pilihannya nggak jauh-jauh dari mie/pasta dan kali ini pasta/mie campuran a la Jepun & Italiano. Nama restonya beraroma Jepun, namun sajian makanannya lebih mengarah ke selera Italiano. Jangan tanya berapa biayanya... tapi pasti lebih murah dari hidangan makan malam saat pernikahan Ardie Bakrie dan Nia Ramadhani yang digelar di Hotel Mulia - Jakarta. Usai makan, kami masih sempai masuk toko buku Gramedia baru pulang menjelang jam 22.00.

Bukan anak remaja tentunya kalau sudah puas dengan terpenuhinya hajat selera makan malam. Hari Sabtu, setelah sepanjang hari mereka menghabiskan waktu di rumah, sibuk dengan facebook dan twitternya, belum lagi turun isi makanan ke lambung... usai makan malam, mereka sudah ribut mengajak jalan keliling kota.

Setelah istirahat beberapa saat dan meminta mereka shalat Isya terlebih dahulu, maka pergilah kami berempat keluar rumah tanpa tujuan yang jelas.
"Sate Padang yang enak dimana ya?" tanya anak gadisku.
"Hmmm.... katanya sih, ada di Jalan Radio Dalam. Sate Mak Syukur. Konon sangat terkenal. Baru selesai makan malam kok sudah mau makan lagi?"
"Kan sudah disisakan ruang buat sate padang...!", begitu jawab mereka. Huh..... itu perut kok nggak meledak diisi terus ya? Ampun deh.... anak remaja jaman sekarang...!

"Ayolah....! Jadi kita belok ke Radio dalam?", tanyaku. Kebetulan posisi mobil masih di depan Blok M Plasa. Jadi masih bisa dibelokkan arah ke jalan Radio Dalam melalui jalan Kyai Maja.
"Nggak ah.... cari tempat yang lain...!"
Wah .... dimana ada penjual sate padang lagi?
"OK, kalau begitu kita jalan ke arah istana ... lalu masuk ke memutar arah ke patung pak tani. Nanti masuk ke jalan Kramat Raya. Nah di situ banyak warung masakan Padang a la Kapau. Semoga ada sate Padang. Kalau nggak ada, itu namanya bukan rejeki.

Maka ... ditemani dengan keributan-keributan kecil antara anak - keponakan dalam mencari pemancar radio, kami menyusuri jalan Sudirman -  MH Thamrin - Merdeka Barat - Majapahit - Juanda - Veteran - Merdeka Utara - Merdeka Timur - Patung pak tani - Kwitang..... Suami, entah karena menikmati perjalanan, atau malah agak mengantuk, mengendarai mobil perlahan sekali hingga akhirnya kami tiba di  jalan Kramat Raya.

Mobil dijalankan perlahan sambil melihat adakah penjual nasi Kapau yang juga menjual sate. oups...... untung ada satu warung ... dan ke sanalah kami turun dari kendaraan dan pergi memesan sate Padang dan juice alpukat.

Seperti biasa.... kalau sudah memutuskan untuk makan di warung pinggir jalan, jangan berharap akan menemukan kebersihan dan kenyamanan. Pikirkan saja rasa makanannya. Dan yang satu ini, .... dijamin hampir selalu enak. Kenapa....?

Warung pinggir jalan dimasak oleh tangan-tangan trampil "asli dari sononye" kata orang Betawi. Takaran bumbu-bumbunya diracik sesuai petuah dan ajaran orang tua2. Kalau suatu masakan harus mempunyai rasa pedas .... maka begitulah dia dimasak dengan banyak bumbu dan cabai giling.

Ini tentu berbeda dengan masakan tradisional a la resto terkenal, dimana bumbunya sudah dimodifikasi sesuai dengan "target market" nya. Maka masakan Padang bisa saja hanya "berani" warnanya ... tapi rasanya sudah "manis", supaya masyarakat non Sumatera Barat bisa turut menikmatinya. Persis seperti masakan di rumah. Kalau adik ibuku berkunjung dan makan di rumah, wajahnya selalu memberengut dan langsung pergi ke dapur mencari cabe sambil menggerutu....
"Masakan padang gaya mana lagi nih? Manis semua...". Begitu selalu komentarnya. Memang, cabe yang digunakan untuk masakan Padang di rumah sudah banyak dikurangi, supaya suamiku yang bukan berasal dari Sumbar bisa ikut menikmatinya.

Berbeda dengan sate mak Syukur yang berwarna kuning kunyit dan pedas nylekit atau sate Sederhana Lintau di Cinere yang kuahnya juga berwarna kuning tapi ada cacahan kacang, sate padang a la Kapau ini kuahnya agak kemerahan dan so pasti ... pedas. Apa boleh buatlah ..... Sudah kadung pesan...!

Ada persamaan makan di warung dengan resto/cafe yang nyaman. Di kedua tempat, kita bersantap ditemani musik. Bedanya.... musik di cafe/resto bunyinya lembut dengan ketukan irama yang teratur .... Penyanyinya anggun dan wangi. Sementara di warung pemusik silih berganti bernyanyi, dengan suara serak-serak tak sampai lebih sering fals dengan irama asal jadi yang keluar juga dari alat musik asal comot. Lagupun terkadang hanya satu atau dua bait. Tergantung kebaikan hati tamu yang sedang bersantap. Kalau si tamu bermurah hati mengulurkan selembar kertas, maka lagu bisa berhenti seketika atau bersambung.

Soal apakah lagu berhenti seketika atau bersambung itupun tergantung baik dari si tamu atau penyanyi. Kalau penyanyi bersuara nyaring menyakitkan kuping apalagi nyanyiannya fals, maka si tamu cepat-cepat mengeluarkan uang agar penyanyi segera menyingkir. Dengan demikian, selera makan tak patah karenanya. Tetapi kalau suara penyanyinya bagus dan iramanyapun benar... bisa jadi, si penyanyi diminta menyanyikan lagu lainnya dengan bayaran tentunya bertambah. Cuma sayang .... belum pernah terlihat penyanyi yang cantik/ganteng, bersih dan wangi

Berapa sih mereka dibayar....? Jangan bandingkan dengan Siti Nurhaliza atau KD yang bintangnya mulai meredup. Tapi tentu jauh kalah dengan bayaran Aris ... Indonesian's idol yang keblinger usai dia memenangkan kontes penyanyi a ala Amrik itu.

Begitulah.... mungkin karena merasa suamiku memberi "di atas tarif normal" .... (tapi ngomong-ngomong berapa sih tarif normal untuk pengamen?), maka pengamen silih berganti mengunjungi warung tempat kami makan... Walhasil.... makan menjadi tidak nikmat lagi karena...... di samping para pengamen, muncullah bocah-bocah dekil berumur kita-kira antara 3 sampai 8 tahun mengerubungi meja makan kami meminta uang....

Astaghfirullah ...... Hilang sudah selera makan ... Bagaimana mungkin kami menikmati makan malam dengan nyaman di hadapan muka-muka dekil itu. Bukan hanya satu orang, tetapi lebih dari 5 orang sehingga pemilik warung yang merasa "tidak enak" terhadap tamunya, lalu mengusir mereka. Beruntung, sate di piring sudah tandas dan kami memang sudah bersiap untuk beranjak meninggalkan warung.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Anak-anak usia sekolah berumur 3 sampai 10 tahun seringkali masih berkeliaran di jalan raya hingga larut malam. Meminta-minta uang dari pengendara mobil/motor di perempatan jalan atau di warung-warung kaki lima.

Anak-anak itu seharusnya sudah menikmati makan malamnya dan sedang lelap bermimpi. Namun mereka masih saja berkeliaran di jalan. Entah mengapa orangtua mereka membiarkan anak-anak itu berada di jalanan terpapar oleh kekerasan kehidupan malam. Atau justru anak-anak itu menjadi "alat" bagi orangtuanya untuk memperoleh nafkah keluarga?

Kemiskinan dan ketidakmampuan orangtua memang membuat anak-anak tidak mendapatkan haknya secara memadai. Hak mendapat perlindungan, sandang-pangan, pendidikan dan lain-lain. Sekolah gratis masih menjadi sebatas wacana, karena konon walaupun uang sekolah SPP sudah dihapuskan, tetapi tetap ada pungutan-pungutan untuk kegiatan sekolah lainnya serta baju seragam.

Betapa ironisnya... kala penyiar cantik di tv memberitakan kasus-kasus korupsi miliaran rupiah yang dilakukan oleh PNS - politisi - penguasa negara/daerah gede-termasuk juga para penegak hukum, hanya dalam radius 5km dari istana tempat presiden bermukim dan hanya sepelmparan batu dari komplek gedung megah Departemen Keuangan, belasan anak berumur 3 - 10 tahun mencari uang, menadahkan tangan-tangan lusuhnya pada pengunjung warung di sepanjang Kramat Raya.

Andai mereka suatu kali mau mengunjungi warung makan semacam ini secara incognito .... tanpa harus melakukan sterilisasi lokasi, tanpa pengawalan .... menjadi orang biasa ... Tentu para penguasa negeri serta para ahli yang jago analisa ekonomi tidak akan berani lagi menyatakan ...... Kemiskinan di Indonesia telah berkurang..... pertumbuhan ekonomi Indonesia telah mencapai sekian persen, di atas rata-rata pertumbuhan di negara Asean ....

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...