Sistem Jaminan Kesehatan Masyarakat (posted June 10, 2005)
Terutama bagi golongan berpenghasilan rendah.
Kamis pagi, sambil berangkat kantor, saya membaca harian Kompas tentang bagaimana ruwetnya mengurus kartu GAKIN (keluarga miskin) agar masyarakat golongan tidak mampu dapat menikmati dana kompensasi subsidi BBM yang katanya dialihkan untuk bidang kesehatan dan pendidikan masyarakat golongan bawah. Keruwetan itu juga ditambah lagi dengan berbagai persyaratan administrasi dan lambannya aparat dalam menangani prosedur penerbitan kartu Gakin. Aduh ..... kalau begitu ruwetnya, bisa-bisa orang sakit itu meninggal sebelum sempat diobati.
Tahun 2005 ini Indonesia memang sedang dirundung malang. Setelah badai tsunami menghantam Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 lalu, tahun 2005 kita masuki juga dengan bencana beruntun. Banjir ..... itu sudah berita rutin awal tahun yang tak berkesudahan. Reda masalah gempa dan tsunami, muncul berita mengenai wabah polio di Sukabumi dan pelan-pelan terkuak adanya penyakit polio (katanya lumpuh layu ..... entah apa bedanya dengan polio...?) di beberapa kota di Jawa Barat dan Banten. Lalu busung lapar di lumbung padi NTT dan wabah german measles (campak jerman), di samping berita-berita kecil lainnya mengenai problem kesehatan masyarakat.
Aduh ... kok pemerintahan SBY ini dirundung malang ya...? Alih-alih mengenjot laju pembangunan negara, malah bencana bertubi-tubi yang mampir. Entah pertanda apa lagi bagi bangsa dan negara ini... tapi, mungkin inilah puncak gunung es dari segudang problem yang diderita rakyat Indonesia selama ini.
Selama ini, secara bisik-bisik, kita pernah mendengar bahwa program KB (keluarga Berencana) seringkali dilaksanakan secara ngawur. Petugas lapangan hanya mengejar target jumlah akseptor yang berhasil dijangkaunya. Terkadang, nenek-nenek peot pun diakui sebagai akseptor KB. Kita memang melihat ada banyak puskesmas di setiap kecamatan, namun tidak jarang pula kita dengar keluhan tentang ketiadaan tenaga medis. Jangan lagi bicara mengenai peralatan yang tersedia .... Sedih mengetahui bahwa fasilitas kesehatan bagi rakyat kecil betul-betul terabaikan. Tidak salah bila kualitas kesehatan mereka begitu rendah. Kesehatan menjadi barang yang sangat mewah. Mereka takut sakit karena ketiadaan uang untuk berobat .... tetapi pada saat yang bersamaan mereka tidak mampu mencegah penyakit datang. Kemiskinan dan kekumuhan hidup mereka menyebabkan penyakit sangat bersahabat dengan mereka.
Keadaan ini sangat berbeda dengan pengalaman saya menjadi ”orang miskin” di negara orang. 23 tahun yang lalu, saat merasa diri mulai hamil, saya pergi ke PMI (Protection Maternelle et Infantile) di lingkungan tempat tinggal kami di Residence du Clos Saint Lazare. Saya diperiksa oleh Dr. Toutlemonde - gynecolog perempuan. Dengan ramahnya dia memeriksa kehamilan saya dan menanyakan ini-itu. Yang terpenting ditanyakan adalah; apakah saya memiliki ”securite-sociale - SS”; semacam asuransi kesehatan.
Securite Sociale, bagi orang Perancis menjadi sambungan nyawa yang akan melindunginya. Sudah tentu, saya tidak memilikinya. Tapi saya tenang-tenang saja .... sebelum memutuskan hamil, saya sudah mempelajari bagaimana cara mendapatkan ”securite sociale a la cotisation tres modere” (memiliki asuransi dengan biaya sangat ringan). Jadi begitu hamil, mulailah saya mengajukan permohonan ”prise en charge” (minta dibayarin) untuk SS tersebut melalui Caisse d’Allocation Familiale di Saint Denis.
Sebelum lupa... saya cerita dulu, apa itu Caisse d’Allocation Familiale - CAF. Lembaga ini, mungkin kaki tangannya Departemen sosial. Jadi orang-orang miskin yang memiliki penghasilan di bawah SMIC (salaire minimum) dapat mengajukan permohonan tunjangan sesuai dengan aturan yang berlaku dengan berbagai kategori. Kami yang baru menikah di bawah 5 (lima) tahun dan memiliki pemasukan hanya dari beasiswa suami yang nilainya di bawah SMIC, berhak atas tunjangan perumahan yang besarnya sekitar 90% hari sewa apartemen yang kami tempati. Nah atas dasar itu sebagai ”beneficiaire” alias penerima tunjangan ”miskin” itulah, maka menurut aturan, CAF atau Mairie (kantor walikota) berkewajiban menanggung biaya SS kami. Ini namanya ”aji mumpung”
”Perburuan” untuk mendapatkan SS ternyata cukup seru (saya terkadang masih merasa aneh ... kok nekat dan malu-maluin juga pengalamannya). Keluar dari PMI, saya langsung pergi ke kantor CAF, mengambil dokumen dan mengisinya dengan keyakinan penuh. Bagaimana tidak, tetangga saya yang sama-sama hamil (satu Australian, dan satunya lagi dari Univ. Andalas, keduanya hamil anak ke 3) sudah mendapat SS hanya dalam waktu 1 bulan sesudah deklarasi kehamilan. Malah si Uni itu sudah mendapat banyak kemudahan karenanya. Sudah dapat SS gratis, eh dia dapat ”pembantu” orang perancis lagi..... Gila juga tuh si Uni, mana ada orang Indonesia punya pembantu orang perancis di negaranya lagi. Tapi itulah.... gara-gara kehamilannya agak bermasalah; si uni muntah-muntah terus selama 4 bulan pertama dan berat badannya turun, Dr. Toutlemonde melaporkan dan merekomendasikan kepada Mairie agar ada tenaga yang mengurus rumah tangga si uni selama masa hamil. Di samping itu, untuk menghindari komplikasi kehamilan, si Uni tidak perlu datang ke PMI untuk pengecekan rutin kehamilan. Petugas kesehatan akan datang ke apartemennya, rutin 1x seminggu untuk mengecek perkembangan kehamilannya. Semuanya gratis.
Nah kembali pada proses pengurusan SS, sampai dengan kehamilan bulan ke 3, saya mendapatkan jawaban bahwa permintaan ”prise en charge” ditolak karena saya bukan beneficiare dari allocation familiale. Saya bingung dan tidak mengerti alasannya, karena kami sudah mendapat tunjangan perumahan, kok nggak dianggap sebagai beneficiare?
Tetangga saya, refugie vietnamienne mengusulkan untuk menulis surat kepada Perdana Menteri (kala itu Pierre Mauroi). Nekat, saya lakukan itu tanpa sepengetahuan suami tentunya. Setelah menulis surat, saya pergi lagi ke CAF, menanyakan alasan penolakan tersebut. Mereka menjelaskan bahwa beneficiare CAF adalah suami, dan saya harus memproses penggantian nama dari nama suami kepada nama saya sendiri agar saya mendapat fasilitas Prise en Charge tersebut.. Petugas CAF memberikan dokumen isian yang saya isi saat itu juga untuk mempercepat proses. Toh dokumen pendukungnya sudah ada dalam komputer mereka. Jadi nggak perlu tambahan dokumen-dokumen lainnya. Pemberitahuan perubahan nama ”beneficiare”, saya terima 2 minggu kemudian dan saya kembali mengajukan permohonan Prise en charge dengan bukti-bukti baru.
Singkatnya ... setelah menunggu sekian lama, saya akhirnya menerima surat pemberitahuan dari Kantor Perdana Menteri, bahwa mereka memperhatikan isi surat tersebut dan telah meneruskannya ke pada pihak yang berwenang. Tentu saja, hal ini membuat saya panik ... ini jawaban klasik yang, kalau di Indonesia berarti penolakan secara halus.
Rupanya saya lupa, bahwa saya berada di negara dengan sistem jaminan kesehatan yang sudah sangat baku. 2 minggu setelah saya menerima surat dari kantor perdana menteri, saya mendapat surat dari SS yang menyatakan bahwa Peraturan mengenai batas umur pemohon ”prise en charge” berubah, dari tadinya hanya sampai dengan umur 22 tahun menjadi umur 27 tahun. Permohonan saya dikabulkan dan saya hanya diwajibkan membayar SS sebesar 10% dari tarif standard.. Alhamdulillah .... kebetulan apalagi itu .... Saya percaya kuasa Allah berlaku untuk hal tersebut.
Setelah saya membayar lunas SS, saya mendapat 1 buku yang disebut ”carnet de maternite” yang berisi kewajiban-kewajiban pemeriksaan selama hamil dan setelah melahirkan. Pada tanggal 8 April 1983, jadilah saya melahirkan dengan normal, selamat..... dirumah sakit umum yang fasilitasnya sekelas dengan RS mewahnya Indonesia.... 100% gratis. Yang lebih hebat lagi, setelah pemeriksaan wajib bayi pada hari ke delapan dan mengembalikan salah satu lembar ’kewajiban periksa” itu ke kantor SS .... saya mendapat selembar CEK TUNAI ..... betul-betul cek tunai yang bisa digunakan buat kebutuhan bayi. Untuk iuran SS tahun selanjutnya... karena saya memiliki anak di bawah umur 3 tahun, maka biaya SS ditanggung sepenuhnya oleh CAF.
Saya tahu, saya tidak bisa membandingkan fasilitas sosial yang dinikmati masyarakat di negara maju dengan negara kita yang saat ini masuk dalam kategori miskin. Saya hanya merasa beruntung ... hidup dinegara orang dengan status ”orang miskin” ternyata jauh lebih beruntung daripada hidup di negara sendiri. Selama proses mendapatkan SS, saya mendapatkan bantuan dan simpati yang begitu besar dari setiap orang yang saya temui.
Saya sedih memikirkan, betapa, di negara sendiri, kita senang mempersulit orang. Kita sering membaca/mendengar berita betapa banyak orang mengeluhkan pelayanan RS yang sangat komersial. Meminta uang jaminan untuk perawatan sebelum menerima pasien.
Ada sesuatu yang salah dalam sistem jaminan kesehatan di negara ini. Kalaupun kita mampu membayar asuransi kesehatan, maka terlalu banyak batasannya, sehingga asuransi tersebut terasa sangat tidak bermanfaat kecuali kalau rawat inap. Padahal, berapa sih jumlah orang sakit yang harus rawat inap? Sebagian besar adalah sakit-sakit biasa yang tidak memerlukan rawat inap.
Jadi jangan salahkan bila praktek dukun, para normal, orang pintar atau orang pura-pura pintar tumbuh subur. Penyakit mewabah tanpa kendali ......, Jangan salahkan rakyat bila mereka tidak mampu hidup sehat dan bersih... mereka tidak mampu. Tapi ... kita yang mampu, bantulah mereka kala mereka memerlukan bantuan kita. Kalau kita kita juga bisa membantu mereka dengan materi, setidaknya janganlah mempersulit apa yang menjadi hak-hak mereka ... jangan makan hak mereka.
Padahal, pada jaman yang serba online ini, dana kompensasi BBM buat kesehatan tidak harus dibatasi per daerah/wilayah. Bukankah BPS memiliki data penduduk Indonesia. Mengapa tidak dibuatkan satu Kartu Identitas Nasional (KTP nasional) dan data base penerbitan kartu tersebut dapat diisi dengan apa saja data yang diperlukan untuk setiap orang, baik yang bersifat kewajiban maupun hak. Dengan demikian, tidak perlu ada KTP ganda, pemalsuan data atau hal-hal negatif lainnya. Begitu juga halnya dengan data tingkat sosial/penghasilan rakyat. Sekali input data KTP Nasional itu dimasukkan, maka tidak ada alasan bagi rumah sakit/puskesmas atau siapapun menghindar dari kewajiban memberikan pelayanan yang dibutuhkan rakyat. Sebagaimana rakyat juga tidak bisa menghindar dari kewajibannya.
Menata data administrasi 220 juta rakyat Indonesia memang bukan hal yang mudah. Tetapi itu bukan tidak mungkin dilaksanakan, bila ada kemauan. Sistem online akan menjamin transparansi dalam seluruh segi kehidupan kita. Perbankan kita sudah menggunakan sistem online ... sehingga nasabah di Jakarta bisa menarik uangnya melalui atm di seluruh Indonesia. Tidak ada batas wilayah lagi. Jadi pundi-pundi dana kompensasi BBM, dengan suatu program integrated, saya yakin, juga bisa diakses oleh rakyat miskin dimana saja dia membutuhkan pengobatan. Banyak pakar tentang sistem di Indonesia. Masalahnya.... apakah kita mau mengubah sistem manual ... yang memungkinkan untuk ”bermain-main” dengan sistem online yang sangat rigid. Ini soal kemauan ... bukan soal bisa atau tidak. Kemauanlah yang akan menggerakkan sesuatu dari ”tidak bisa” menjadi ”bisa”
salam
Yang paling layak dicintai adalah cinta itu sendiri dan.. Yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri #BadiuzzamanSaidNursi
Sabtu, 31 Desember 2011
Maaf... maaf... maaf ....
rasanya sepanjang tahun 2011, aku tak pernah lagi menulis.
entah karena kesibukan atau lebih tepat dan jujur adalah kemalasan yang menjadi sebab.
tapi ... aku bertekad, 2012 akan mulai menulis lagi.
minimal 1 kali sebulan
kalau bisa tentu lebih banyak lagi
tapi untuk memulainya,
akan kupindahkan dulu semua tulisanku dari blog sebelumnya
yang sekarang menjadi online shopping blog,
yang kemudian terasa sangat menggangguku
untuk itulah maaf kusampaikan terlebih dahulu
karena bisa jadi tulisannya sudah out of date
insya Allah, ke depannya akan lebih baik.
salam
entah karena kesibukan atau lebih tepat dan jujur adalah kemalasan yang menjadi sebab.
tapi ... aku bertekad, 2012 akan mulai menulis lagi.
minimal 1 kali sebulan
kalau bisa tentu lebih banyak lagi
tapi untuk memulainya,
akan kupindahkan dulu semua tulisanku dari blog sebelumnya
yang sekarang menjadi online shopping blog,
yang kemudian terasa sangat menggangguku
untuk itulah maaf kusampaikan terlebih dahulu
karena bisa jadi tulisannya sudah out of date
insya Allah, ke depannya akan lebih baik.
salam
Sebetulnya .... apa sih tujuan pendidikan kita?
Pada bulan Juni ini, anak-anak dalam berbagai tingkatan sekolah memasuki masa ujian akhir dan evaluasi belajar. Sebentar lagi orang tua mulai bingung menakar-nakar kemampuan keuangan dan prestasi anak. Bagi mereka yang mampu, mereka mulai bersiap mengincar sekolah favorit untuk kemudian mendaftar disana. Bagi mereka yang kurang mampu .... akhir tahun ajaran adalah masa-masa yang terberat bagi beban keuangan rumah tangga. Ditambah dengan kebingungan anak-anak bila tidak dapat mengikuti UN I pada bulan Juni ini dan si kakak yang terancam tidak dapat melanjutkan ke Universitas Negeri favorit yang sekarang uang masuknya tidak kurang dari 8 digits
Kesibukan dan persoalan yang sama setiap tahun menyisakan pertanyaan yang sama sejak lama dan hingga kini saya tidak mampu menjawabnya. Sebetulnya ... apa sih tujuan pendidikan kita?
Secara awam, saya menterjemahkan pendidikan adalah sarana agar manusia mampu hidup mandiri, dalam arti kata mampu memberikan penghasilan kepada diri/keluarganya. dan ini, semoga saja dengan cara yang "halal" bukan dengan korupsi. Namun demikian, bagaimana kita mendidik anak hingga, suatu saat, dia mampu mandiri. Nah ini yang masih menjadi pertanyaan bagi saya hingga saat ini dan karenanya saya ingin berbagi cerita agar mendapat masukan dalam upaya "mendidik" anak gadis kecil saya.
Saya memilik 2 anak tunggal. Saya sebut demikian karena mereka berbeda 15 tahun sehingga, mereka praktis hidup dan besar sebagai anak tunggal pada masa yang berbeda. Anak yang besar, lelaki, masuk SD Negeri Percontohan di Jakarta Pusat. Menjadi kebanggaan sekolahnya karena melalui dia, sekolahnya meraih gelar Juara Matematika tingkat SD se DKI Jaya, walaupun di tingkat nasional hanya meraih juara harapan I. Prestasi lainnya adalah menjadi Pelajar Teladan DKI dan banyak lagi prestasi-prestasi lainnya. Juara kelas? itu sudah pasti, dan dia juga meraih juara umum pada saat ujian akhir SD. Sebagai orang tua tentu bangga, karena anak itu juga tumbuh dengan segudang kegiatan eks-kul secara sukarela. Seluruh kegiatan sekolah selalu diikutinya, hingga kami seringkali harus mengingatkannya untuk mengurangi kegiatan eks-kul nya.
Lulus SD, saya sedikit memaksanya untuk masuk ke Labschool dengan berbagai pertimbangan antara lain, sekolah tersebut menerapkan sisitem 5 hari belajar dari jam 7.15 - 15.45 WIB dan bila masih ikut eks-kul anak akan berada di sekolah hingga jam 17.00. Ini akan mengakibatkan anak tidak memiliki waktu lagi untuk keluyuran dan tawuran. Di samping itu, keluarga memiliki waktu bersama secara penuh pada hari Sabtu.
Prestasi di SLP, walaupun tidak sebaik di SD, tapi minimal masih masuk 5 besar di kelas dan saat duduk di kelas 3, dimasukkan pada kelas anak-anak yang memiliki kemampuan akademis tinggi. Satu hal yang mencolok, semasa dia di SLP, setiap kali saya menghadap guru untuk mengambil raport, maka guru kelas pasti akan mengatakan "anak ibu kurang optimal" bila dibandingkan antara hasil test IQ dengan nilai raport. Sebagaimana umumnya ibu2 ... saya menanyakan pada anak saya, apa yang terjadi. Dia dengan entengnya mengatakan ... itu adalah hasil murni kemampuan saya. Saya tidak suka menjadi juara kelas karena contekan, "ngebet saat ulangan", atau hal lainnya. Saya masih mendebatnya ... "ya, itu bagus, tapi kan ada baiknyakalau nilainya lebih baik lagi (padahal... saat itu rata2 raport nya sudah di angka 8)" ... Perdebatan seperti ini biasanya terhenti saat bapaknya turun tangan.... ah nilai 6 aja udah cukup kok... ibu2 maunya anak dapat 10 terus..." (yang saya tahu, anak saya memang tidak pernah lagi belajar .. buka buku di rumah, kecuali buku komik kesukaannya dan melakukan segala kegiatan olah raga kesukaannya).
Ada satu hal yang sangat berkesan. Suatu saat dia mengatakan ingin menjadi pemain sepak bola professional saja.... Saya tercekat .... bagaimana mungkin. Namun dia menjawab ... pemain sepak bola itu sebaiknya orang2 yang ber IQ tinggi, karena perlu strategi ... bukan sekedar lari2 ngejar bola. Itu sebabnya PSSI nggak pernah maju lagi..." Walaupun saya menerima pendapatnya, tetap saja terbersit dalam hati ...... "no way"
Lepas dari SLP, dia masuk SLA di sekolah yang sama dan menyelesaikan sekolahnya melalui program akselerasi. Nyanyian lama selalu berulang, "prestasi anak ibu kurang optimal" dan saya selalu menerima jawaban yang sama dari anak dan bapak. Satu hal yang luput dari perhatian saya, rupanya diskusi panjang tentang sistem pendidikan di luar negeri yang selalu diceritakan bapaknya setiap kali habis "jalan2" karena seminar, kunjungan2 ke berbagai universitas manca negara atau saat ikut research fellow, terekam kuat di otaknya. Ini yang membuatnya menjadi pemberontak di kelas maupun di rumah. Menyoal sisitem pendidikan sekolah yang katanya membuat murid hanya mengejar nilai dengan berbagai cara, tetapi tidak memahami pelajaran. Apalagi ditambah dengan sebagian guru yang katanya hanya mengajar berdasarkan teks dan kurang kreatif.
Dalam berbagai kesempatan diskusi bertiga, akhirnya terlontar juga minatnya untuk menjadi guru/dosen saja (mengikuti jejak bapaknya) ... Alasannya sederhana ... menurut pendapatnya, Orang yang sejak semula secara sadar memilih IKIP dan kemudian jadi guru, itu sangat jarang. Semua orang ingin jadi bankir, insinyur dan bermacam profesi yang menjanjikan gaji besar. Masuk IKP umumnya menjadi pilihan ke sekian ,,, dan umumnya anak2 yang ber IQ tinggi tidak akan masuk IKIP. Jadi kalau kualitas mahasiswa IKIP adalah lulusan SLA yang "tersisa" seperti itu... bayangkan juga nantinya kualitas guru. Mau jadi apa anak-anak Indonesia kalau kualitas gurunya rendah. Karena itu saya ingin jadi guru/dosen. (untuk hal ini .... maaf bagi para guru ..., saya hanya mengungkapkan kembali pendapat anak saya beberapa tahun yang lalu). Saya hanya membatin ...... aduh, guru lagi, kasihan banget nanti istrinya mesti jungkir balik memenuhi kebutuhan hidup keluarga????
Dengan berbagai peristiwa yang melatar belakangi pendidikan selanjutnya di universitas, akhirnya dia kembali ke "jalur kesukaannya". lulus dari jurusan Applied Mathematics. Dalam usia menjelang 22 tahun, dia memutuskan menikah dan sekarang ini, sambil mencari pekerjaan yang pas, dia menjadi tutor di sebuah high school untuk mata pelajaran Mathematics and Physics. Apakah saya sudah berhasil mengantarnya hingga mampu mandiri... entahlah, saya tidak berani menjawabnya. Saya hanya tahu, bahwa kami berhasil mendidiknya untuk menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran.
Sampai saat ini, saya masih sering merenung .... apa yang didapat anak-anak di sekolah? bila benar seperti kata anak saya... "anak hanya mengejar nilai, bukan ilmu". Atau seperti satu posting beberapa waktu yang lalu ... "ada guru yang membantu murid mengerjakan UNAS nya".
Bila anak-anak, karena suatu sebab, tidak dapat melanjutkan sekolah... bekal kompetensi apa yang didapat dari sekolahnya untuk dia mengarungi belantara kehidupan. Saya jadi teringet pada tulisan Andreas Harefa .... bahwa seyogyanya, pendidikan itu harus mampu membuat manusia mandiri sesuai dengan lingkungan dimana dia tinggal. Harus mampu menciptakan kerja sesuai dengan bekal yang diperolehnya pada tiap tingkatan sekolah yang dilaluinya dan tidak menjadi beban/bergantung pada pemerintah.
Rasanya kita sepatutnya menyimak kembali tulisan-tulisan David Goleman mengenai Multiple Intelligent dan menerapkannya dalam pendidikan khususnya pada tingkatan dikdasmen. Kita tidak layak menyamakan pelajaran antara anak-anak di Papua dengan di Jawa. Anak-anak di desa nelayan dengan anak-anak di desa pertanian. Anak-anak pedalaman dengan anak-anak perkotaan. Pendidikan yang dibutuhkan masing-masing anak itu berbeda.
Berikanlah pendidikan sesuai dengan alamnya agar usai sekolah, maka teori yang diperolehnya di kelas dapat diimplementasikannya dalam kehidupan riel. Ini mungkin bisa meningkatkan taraf hidup dan kemampuan bangsa ini sehingga mereka secara sadar akan memajukan daerahnya. Tidak lagi berduyun-duyun mengejar fatamorgana gemerlap pulau Jawa.
salam
Kesibukan dan persoalan yang sama setiap tahun menyisakan pertanyaan yang sama sejak lama dan hingga kini saya tidak mampu menjawabnya. Sebetulnya ... apa sih tujuan pendidikan kita?
Secara awam, saya menterjemahkan pendidikan adalah sarana agar manusia mampu hidup mandiri, dalam arti kata mampu memberikan penghasilan kepada diri/keluarganya. dan ini, semoga saja dengan cara yang "halal" bukan dengan korupsi. Namun demikian, bagaimana kita mendidik anak hingga, suatu saat, dia mampu mandiri. Nah ini yang masih menjadi pertanyaan bagi saya hingga saat ini dan karenanya saya ingin berbagi cerita agar mendapat masukan dalam upaya "mendidik" anak gadis kecil saya.
Saya memilik 2 anak tunggal. Saya sebut demikian karena mereka berbeda 15 tahun sehingga, mereka praktis hidup dan besar sebagai anak tunggal pada masa yang berbeda. Anak yang besar, lelaki, masuk SD Negeri Percontohan di Jakarta Pusat. Menjadi kebanggaan sekolahnya karena melalui dia, sekolahnya meraih gelar Juara Matematika tingkat SD se DKI Jaya, walaupun di tingkat nasional hanya meraih juara harapan I. Prestasi lainnya adalah menjadi Pelajar Teladan DKI dan banyak lagi prestasi-prestasi lainnya. Juara kelas? itu sudah pasti, dan dia juga meraih juara umum pada saat ujian akhir SD. Sebagai orang tua tentu bangga, karena anak itu juga tumbuh dengan segudang kegiatan eks-kul secara sukarela. Seluruh kegiatan sekolah selalu diikutinya, hingga kami seringkali harus mengingatkannya untuk mengurangi kegiatan eks-kul nya.
Lulus SD, saya sedikit memaksanya untuk masuk ke Labschool dengan berbagai pertimbangan antara lain, sekolah tersebut menerapkan sisitem 5 hari belajar dari jam 7.15 - 15.45 WIB dan bila masih ikut eks-kul anak akan berada di sekolah hingga jam 17.00. Ini akan mengakibatkan anak tidak memiliki waktu lagi untuk keluyuran dan tawuran. Di samping itu, keluarga memiliki waktu bersama secara penuh pada hari Sabtu.
Prestasi di SLP, walaupun tidak sebaik di SD, tapi minimal masih masuk 5 besar di kelas dan saat duduk di kelas 3, dimasukkan pada kelas anak-anak yang memiliki kemampuan akademis tinggi. Satu hal yang mencolok, semasa dia di SLP, setiap kali saya menghadap guru untuk mengambil raport, maka guru kelas pasti akan mengatakan "anak ibu kurang optimal" bila dibandingkan antara hasil test IQ dengan nilai raport. Sebagaimana umumnya ibu2 ... saya menanyakan pada anak saya, apa yang terjadi. Dia dengan entengnya mengatakan ... itu adalah hasil murni kemampuan saya. Saya tidak suka menjadi juara kelas karena contekan, "ngebet saat ulangan", atau hal lainnya. Saya masih mendebatnya ... "ya, itu bagus, tapi kan ada baiknyakalau nilainya lebih baik lagi (padahal... saat itu rata2 raport nya sudah di angka 8)" ... Perdebatan seperti ini biasanya terhenti saat bapaknya turun tangan.... ah nilai 6 aja udah cukup kok... ibu2 maunya anak dapat 10 terus..." (yang saya tahu, anak saya memang tidak pernah lagi belajar .. buka buku di rumah, kecuali buku komik kesukaannya dan melakukan segala kegiatan olah raga kesukaannya).
Ada satu hal yang sangat berkesan. Suatu saat dia mengatakan ingin menjadi pemain sepak bola professional saja.... Saya tercekat .... bagaimana mungkin. Namun dia menjawab ... pemain sepak bola itu sebaiknya orang2 yang ber IQ tinggi, karena perlu strategi ... bukan sekedar lari2 ngejar bola. Itu sebabnya PSSI nggak pernah maju lagi..." Walaupun saya menerima pendapatnya, tetap saja terbersit dalam hati ...... "no way"
Lepas dari SLP, dia masuk SLA di sekolah yang sama dan menyelesaikan sekolahnya melalui program akselerasi. Nyanyian lama selalu berulang, "prestasi anak ibu kurang optimal" dan saya selalu menerima jawaban yang sama dari anak dan bapak. Satu hal yang luput dari perhatian saya, rupanya diskusi panjang tentang sistem pendidikan di luar negeri yang selalu diceritakan bapaknya setiap kali habis "jalan2" karena seminar, kunjungan2 ke berbagai universitas manca negara atau saat ikut research fellow, terekam kuat di otaknya. Ini yang membuatnya menjadi pemberontak di kelas maupun di rumah. Menyoal sisitem pendidikan sekolah yang katanya membuat murid hanya mengejar nilai dengan berbagai cara, tetapi tidak memahami pelajaran. Apalagi ditambah dengan sebagian guru yang katanya hanya mengajar berdasarkan teks dan kurang kreatif.
Dalam berbagai kesempatan diskusi bertiga, akhirnya terlontar juga minatnya untuk menjadi guru/dosen saja (mengikuti jejak bapaknya) ... Alasannya sederhana ... menurut pendapatnya, Orang yang sejak semula secara sadar memilih IKIP dan kemudian jadi guru, itu sangat jarang. Semua orang ingin jadi bankir, insinyur dan bermacam profesi yang menjanjikan gaji besar. Masuk IKP umumnya menjadi pilihan ke sekian ,,, dan umumnya anak2 yang ber IQ tinggi tidak akan masuk IKIP. Jadi kalau kualitas mahasiswa IKIP adalah lulusan SLA yang "tersisa" seperti itu... bayangkan juga nantinya kualitas guru. Mau jadi apa anak-anak Indonesia kalau kualitas gurunya rendah. Karena itu saya ingin jadi guru/dosen. (untuk hal ini .... maaf bagi para guru ..., saya hanya mengungkapkan kembali pendapat anak saya beberapa tahun yang lalu). Saya hanya membatin ...... aduh, guru lagi, kasihan banget nanti istrinya mesti jungkir balik memenuhi kebutuhan hidup keluarga????
Dengan berbagai peristiwa yang melatar belakangi pendidikan selanjutnya di universitas, akhirnya dia kembali ke "jalur kesukaannya". lulus dari jurusan Applied Mathematics. Dalam usia menjelang 22 tahun, dia memutuskan menikah dan sekarang ini, sambil mencari pekerjaan yang pas, dia menjadi tutor di sebuah high school untuk mata pelajaran Mathematics and Physics. Apakah saya sudah berhasil mengantarnya hingga mampu mandiri... entahlah, saya tidak berani menjawabnya. Saya hanya tahu, bahwa kami berhasil mendidiknya untuk menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran.
Sampai saat ini, saya masih sering merenung .... apa yang didapat anak-anak di sekolah? bila benar seperti kata anak saya... "anak hanya mengejar nilai, bukan ilmu". Atau seperti satu posting beberapa waktu yang lalu ... "ada guru yang membantu murid mengerjakan UNAS nya".
Bila anak-anak, karena suatu sebab, tidak dapat melanjutkan sekolah... bekal kompetensi apa yang didapat dari sekolahnya untuk dia mengarungi belantara kehidupan. Saya jadi teringet pada tulisan Andreas Harefa .... bahwa seyogyanya, pendidikan itu harus mampu membuat manusia mandiri sesuai dengan lingkungan dimana dia tinggal. Harus mampu menciptakan kerja sesuai dengan bekal yang diperolehnya pada tiap tingkatan sekolah yang dilaluinya dan tidak menjadi beban/bergantung pada pemerintah.
Rasanya kita sepatutnya menyimak kembali tulisan-tulisan David Goleman mengenai Multiple Intelligent dan menerapkannya dalam pendidikan khususnya pada tingkatan dikdasmen. Kita tidak layak menyamakan pelajaran antara anak-anak di Papua dengan di Jawa. Anak-anak di desa nelayan dengan anak-anak di desa pertanian. Anak-anak pedalaman dengan anak-anak perkotaan. Pendidikan yang dibutuhkan masing-masing anak itu berbeda.
Berikanlah pendidikan sesuai dengan alamnya agar usai sekolah, maka teori yang diperolehnya di kelas dapat diimplementasikannya dalam kehidupan riel. Ini mungkin bisa meningkatkan taraf hidup dan kemampuan bangsa ini sehingga mereka secara sadar akan memajukan daerahnya. Tidak lagi berduyun-duyun mengejar fatamorgana gemerlap pulau Jawa.
salam
Allah telah menetapkan rejeki kita
Allah telah menetapkan rejeki manusia.
Rejeki kita tidak akan pernah bertambah atau berkurang kecuali atas ijinnya.
Kalimat-kalimat seperti itu pasti sudah sering kita dengar namun seringkali kita tidak peduli.
Pagi ini, menjelang berangkat kerja, sambil mengantar anak sekolah, pembantu rumah masuk dan mengatakan bahwa ada seorang ibu yang memaksa masuk
halaman rumah untuk menawarkan barang. Pembantu yang tahu kebiasaan saya
hanya belanja seperlunya saja dan sangat terjadwal, tentu sudah berusaha
menolak,. Apalagi, hari masih pagi dan saya repot dan tergesa-gesa untuk
berangkat kerja. Namun demikian saya meluangkan waktu untuk menemui
perempuan tersebut.
Perempuan gemuk berwajah dan logat khas sumatera utara menawarkan produk
pembersih rumah. Saya berusaha menolak dengan halus dan menyatakan bahwa
barang-barang tersebut tersedia dengan lengkap di rumah, karena itu merupakan barang yang masuk daftar wajib belanja bulanan. Dia tetap memaksa dan menyatakan bahwa barang dagangan itu untuk memberi makan anak yatim. Namun saya "berburuk sangka", dan memastikan bahwa perempuan tersebut pasti berbohong dengan mengatasnamakan anak yatim agar barang dagangannya laku. Hal ini sudah sering kali terjadi dan lumrah, sehingga masih dengan nada baik saya tetap bersiteguh menolak tawaran tersebut.
Mangkel karena bujukannya tidak berhasil, tanpa pamit, dia langsung pergi.
Melihat dia pergi, sayapun langsung menuju mobil seraya menjawab pertanyaan
suami tentang kejadian yang baru saja berlangsung. Sambil mengeluarkan mobil, saya berpesan pada pembantu agar menggembok saja pintu pagar dan berhati-hati dalam menerima tamu. Apalagi beberapa hari sebelumnya ada 2 orang lelaki yang berusaha masuk rumah dengan dalih "panggilan ibu" untuk membetulkan AC (padahal di rumah sama sekali tidak memasang AC)
Subhanallah ...... entah apa yang menyebabkannya ... kelalaian atau memang
garis takdir Allah yang terjadi untuk memperingatkan saya, batas tembok yang
sudah 5 tahun saya lewati dengan baik dan selamat, pagi ini terserempet
mobil. Maka penyoklah bumper kanan depan.
Saya terhenyak ... astaghfirullah.... sungguh besar perasaan bersalah saya
pagi ini. Saya sudah berburuk sangka pada ibu itu. Mungkin dia benar ....
menjual produk pembersih itu untuk anak yatim, entah apakah itu anak asuh
atau anaknya sendiri. Kalau saja saya rela mengeluarkan uang untuk membeli produk tersebut, mungkin mobil saya tetap mulus, berpahala ... (mungkin) dan tidak tidak rugi karena saya memiliki produk pembersih tambahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur .... walaupun ada asuransi yang akan menyelesaikan kerusakan mobil, tapi saya akan kehilangan waktu untuk mengurus mobil tersebut..... Saya sudah kehilangan muka di hadapan Allah yang Maha Pemurah..
Rejeki kita tidak akan pernah bertambah atau berkurang kecuali atas ijinnya.
Kalimat-kalimat seperti itu pasti sudah sering kita dengar namun seringkali kita tidak peduli.
Pagi ini, menjelang berangkat kerja, sambil mengantar anak sekolah, pembantu rumah masuk dan mengatakan bahwa ada seorang ibu yang memaksa masuk
halaman rumah untuk menawarkan barang. Pembantu yang tahu kebiasaan saya
hanya belanja seperlunya saja dan sangat terjadwal, tentu sudah berusaha
menolak,. Apalagi, hari masih pagi dan saya repot dan tergesa-gesa untuk
berangkat kerja. Namun demikian saya meluangkan waktu untuk menemui
perempuan tersebut.
Perempuan gemuk berwajah dan logat khas sumatera utara menawarkan produk
pembersih rumah. Saya berusaha menolak dengan halus dan menyatakan bahwa
barang-barang tersebut tersedia dengan lengkap di rumah, karena itu merupakan barang yang masuk daftar wajib belanja bulanan. Dia tetap memaksa dan menyatakan bahwa barang dagangan itu untuk memberi makan anak yatim. Namun saya "berburuk sangka", dan memastikan bahwa perempuan tersebut pasti berbohong dengan mengatasnamakan anak yatim agar barang dagangannya laku. Hal ini sudah sering kali terjadi dan lumrah, sehingga masih dengan nada baik saya tetap bersiteguh menolak tawaran tersebut.
Mangkel karena bujukannya tidak berhasil, tanpa pamit, dia langsung pergi.
Melihat dia pergi, sayapun langsung menuju mobil seraya menjawab pertanyaan
suami tentang kejadian yang baru saja berlangsung. Sambil mengeluarkan mobil, saya berpesan pada pembantu agar menggembok saja pintu pagar dan berhati-hati dalam menerima tamu. Apalagi beberapa hari sebelumnya ada 2 orang lelaki yang berusaha masuk rumah dengan dalih "panggilan ibu" untuk membetulkan AC (padahal di rumah sama sekali tidak memasang AC)
Subhanallah ...... entah apa yang menyebabkannya ... kelalaian atau memang
garis takdir Allah yang terjadi untuk memperingatkan saya, batas tembok yang
sudah 5 tahun saya lewati dengan baik dan selamat, pagi ini terserempet
mobil. Maka penyoklah bumper kanan depan.
Saya terhenyak ... astaghfirullah.... sungguh besar perasaan bersalah saya
pagi ini. Saya sudah berburuk sangka pada ibu itu. Mungkin dia benar ....
menjual produk pembersih itu untuk anak yatim, entah apakah itu anak asuh
atau anaknya sendiri. Kalau saja saya rela mengeluarkan uang untuk membeli produk tersebut, mungkin mobil saya tetap mulus, berpahala ... (mungkin) dan tidak tidak rugi karena saya memiliki produk pembersih tambahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur .... walaupun ada asuransi yang akan menyelesaikan kerusakan mobil, tapi saya akan kehilangan waktu untuk mengurus mobil tersebut..... Saya sudah kehilangan muka di hadapan Allah yang Maha Pemurah..
Toilet - Cermin kesehatan serta kondisi sosial/budaya bangsa
Hari minggu yang lalu, saya membaca di harian Republika mengenai profil ibu Naning Adiwoso, mantan ketua umum Himpunan Desainer Interior Indonesia - HDII dalam memperjuangkan standarisasi toilet umum.
Seperti yang beliau katakan, kelihatannya kok sepele sekali, seorang Arsitek - Interior jebolan satu Universitas terkenal di USA yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di luar negeri mengikuti bapaknya yang diplomat, berbicara mengenai toilet umum. Seperti kurang kerjaan ..... mungkin itu pendapat mayoritas masyarakat kita.
Membaca isi wawancara dengan beliau, saya sangat sepakat bahwa pada toilet itulah bermula kesehatan kita dan kemudian berkembang lebih jauh lagi hingga menjadi cerminan kondisi sosial/budaya suatu bangsa.
Belakangan ini, kita banyak membaca berita dikoran-koran mengenai wabah penyakit polio, campak, diare, DBD hingga kekurangan gizi yang berakibat pada busung lapar. Kalau kita mau sedikit cermat memperhatikan wabah-wabah tersebut, maka penyebab utama dari percepatan penyebaran wabah penyakit-penyakit tersebut adalah disebabkan oleh buruknya kualitas sanitasi lingkungan hidup kita.
Tidak perlu jauh hingga pelosok desa, tidak jauh dari kemegahan bangunan di sepanjang Jl. MH Thamrin atau jalan Tol menuju bandara Sukarno Hatta - Cengkareng, dengan jelas akan terlihat betapa kumuhnya lingkungan hidup kita. Air kali yang hitam keruh, penuh sampah dan berbau. Tepat tinggal yang seadanya, dari bilik bambu/kardus di pinggiran tumpukan sampah/limbah rumah tangga dan pasti tanpa fasiltas MCK. Jangan lagi kita bicara saluran pembuangan kota ..., kalaupun ada, maka campur baurlah disana dan sebagian besar mampat karena sampah. Bahkan kali yang dulu kala menjadi sumber air utama bagi kehidupan kita pun keruh, kotor dan bersampah. Padahal, sumber air baku bagi PAM adalah sungai-sungai yang telah tercemar itu.
Tidak salah, bila dalam kondisi seperti itu, maka wabah penyakit akan mudah terbawa terbang olet lalat atau debu-debu yang telah bercampur dengan kotoran dan dari sumber air baku PAM kita
Apakah hal ini karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan, baik karena kemiskinan (tidak mampu menyediakan fasilitas MCK), atau karena rendahnya pengetahuan tentang kebersihan lingkungan. Masyarakat miskin pasti tidak akan mampu menyediakan fasilitas MCK pribadi. Jangankan untuk itu, dengan tinggal di rumah kardus/lingkungan kumuh, makan seadanya 3 kali sehari saja belum tentu mereka mampu dan menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Jadi, itu adalah kewajiban pemerintah untuk memperbaiki/membenahi lingkungan hidup mereka sekaligus memberikan kail agar mereka bisa meningkatkan taraf hidupnya secara bertahap.
Saya pernah melihat suatu dokumentasi perbaikan lingkungan, disuatu desa nelayan di Jawa Tengah. Program perbaikan yang dilakukan oleh Dr.Ir. Andy Siswanto dkk, itu dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Dengan pendekatan yang sangat persuasif, masyarakat merelakan lingkungan hidupnya ditata ulang tanpa ganti rugi sedikitpun. Ini memperlihatkan betapa sesungguhnya masyarakat kita haus akan perhatian serius dari pemerintah untuk memperbaiki kehidupannya.
Kembali kepada masalah toilet (baik toilet pribadi maupun toilet umum), ada 2 pengalaman yang tidak dapat saya lupakan. Yang pertama... seorang kawan mengatakan, bila kita ingin mengetahui tingkat kebersihan seseorang, mintalah ijin untuk ke toilet saat kita mengunjungi rumahnya. Di tempat itulah kita bisa mengukur kebersihan orang itu.
Yang kedua, penggunaan toilet umum yang tidak jelas kebersihannya akan menulari kita dengan segala macam penyakit yang tidak terduga. Hal ini berkaitan dengan kejadian 25 tahun yang lalu, saat saya berjalan-jalan dengan suami di Paris. Toilet umum di kota itu pasti bersih, dengan air yang berlimpah. Tetapi usai kembali ke kota tempat kami tinggal, saya mengalami sulit buang air kecil yang dalam waktu 24 jam langsung keluar darah. Terpaksa saya ke dokter dan setelah menanyakan kegiatan saya selama 1 minggu sebelumnya, dia mengatakan bahwa hal itu dikarenakan saya telah menggunakan toilet umum dan hal itu banyak dialami oleh, perempuan. Sejak peristiwa itu, saya menjadi trauma menggunakan toilet umum.
Keengganan menggunakan toilet umum, banyak dirasakan orang. Bagaimana mungkin kita menggunakan toilet umum, apabila toilet tersebut berbau tak sedap dan jorok. Namun menahan rasa ingin ke toilet pun bukan hal yang mudah. Jangan-jangan malah akan mengakibatkan kita menjadi sakit.
Bagi masyarakat golongan menengah - atas, mungkin tidak bermasalah yang terlalu besar. Shopping mall/plasa kelas atas atau hotel-hotel mewah berbintang pasti menyediakan fasilitas tersebut dengan baiknya. Tapi bagaimana bila kita sedang berjalan-jalan di keramaian umum, katakanlah saat berbelanja ke pasar atau membawa anak-anak ke Kebun Binatang Ragunan,saat kita menunggu di halte busway yang nyaman itu atau bahkan di kawasan wisata yang banyak bertebaran di bumi Indonesia ini? Hampir seluruh fasilitas toilet yang tersedia, tidak memadai. Jorok, berbau dan kadang-kadang kran airnya macet. Jangan lagi kita melihat dan menilainya dari segi kenyamanan dan faktor higienis. Haruskah kita menderita untuk menunggu hingga kembali ke rumah/hotel tempat kita menginap.
Seorang teman pernah mengatakan... pergilah ke mesjid, di sana kita harus ber wudhu dulu sebelum shalat. Jadi pasti ada air. Betul ada air... tapi apakah toiletnya bersih tak berbau dan nyaman? Belum tentu..... Air memang ada, tetapi banyak sampah bertebaran di lantai. Pengurus mesjid mungkin lupa atau tidak tahu, bahwa perempuan yang menggunakan toilet terkadang memerlukan tempat sampah untuk membuang sanitary napkins atau kertas pembersih. Maka, lantai toiletlah yang menjadi keranjang sampah. Padahal kita tahu benar ajaran kebersihan ... cuci tangan sesudah ke toilet. Tapi jangankan cuci tangan dengan bersih ... airpun kadang tak ada, apalagi sabun atau kertas pembersih.
Padahal Islam mengajarkan bahwa Kebersihan adalah sebagian dari iman. Namun ternyata ajaran itupun tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh penganutnya. Nun jauh di negara petro dolar, di hampir seluruh wilayah Timur Tengah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, toilet umum juga menjadi masalah. Betul bahwa di sekitar mesjid yang banyak air pasti ada toilet dan sayangnya masih berbau tak sedap. Mungkin karena toilet digunakan oleh berbagai bangsa di dunia dengan berbagai caranya, jadi sukar untuk mempertahankan standar kebersihannya. Padahal kita tidak berharap toilet mesjid seharum toilet di hotel berbintang. Yang pasti, jangan sekali-kali menggunakan toilet umum yang ada di sepanjang perjalanan antara Mekkah - Medinah, atau di hampir seluruh kawasan wisata di Timur Tengah, bila anda tidak ingin pingsan karena bau dan kotornya.
Ternyata memelihara kebersihan toilet tidak semudah menggunakannya. Entah karena keengganan atau karena hal itu adalah masalah sepele yang tidak perlu diperhatikan. Toh itu tempat kita membuang kotoran ..... jadi ya memang sewajarnya kotor. Padahal Justru karena itulah kita harus membersihkannya agar kekotoran itu tidak berubah menjadi sarang penyakit yang akan disebarkan oleh lalat dan kecoa.
Ibu Naning Adiwoso mengatakan, bahwa di beberapa negara (saya lupa negara apa yang disebutkannya), para aktifis kesehatan telah membuat standard pembuatan toilet umum yang mencakup segala aspek, antara lain kenyamanan, kebersihan, aksesibilitas dan higienis. Standard tersebut menjadi acuan bagi pembangunan toilet umum. Bahkan ada suatu kota yang sudah memiliki Peta Toilet Umum. Bukan main......
Di negara kita? Masih jauhlah ..... rasanya cukup agar kita, terutama kaum muslimin menyadari dan menerapkan aspek kebersihan tersebut dalam segala segi kehidupannya termasuk dalam mengelola toiletnya. Insya Allah ... semagat kebersihan itu akan menjalar dalam segala aspek kehidupan kita
salam
Seperti yang beliau katakan, kelihatannya kok sepele sekali, seorang Arsitek - Interior jebolan satu Universitas terkenal di USA yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di luar negeri mengikuti bapaknya yang diplomat, berbicara mengenai toilet umum. Seperti kurang kerjaan ..... mungkin itu pendapat mayoritas masyarakat kita.
Membaca isi wawancara dengan beliau, saya sangat sepakat bahwa pada toilet itulah bermula kesehatan kita dan kemudian berkembang lebih jauh lagi hingga menjadi cerminan kondisi sosial/budaya suatu bangsa.
Belakangan ini, kita banyak membaca berita dikoran-koran mengenai wabah penyakit polio, campak, diare, DBD hingga kekurangan gizi yang berakibat pada busung lapar. Kalau kita mau sedikit cermat memperhatikan wabah-wabah tersebut, maka penyebab utama dari percepatan penyebaran wabah penyakit-penyakit tersebut adalah disebabkan oleh buruknya kualitas sanitasi lingkungan hidup kita.
Tidak perlu jauh hingga pelosok desa, tidak jauh dari kemegahan bangunan di sepanjang Jl. MH Thamrin atau jalan Tol menuju bandara Sukarno Hatta - Cengkareng, dengan jelas akan terlihat betapa kumuhnya lingkungan hidup kita. Air kali yang hitam keruh, penuh sampah dan berbau. Tepat tinggal yang seadanya, dari bilik bambu/kardus di pinggiran tumpukan sampah/limbah rumah tangga dan pasti tanpa fasiltas MCK. Jangan lagi kita bicara saluran pembuangan kota ..., kalaupun ada, maka campur baurlah disana dan sebagian besar mampat karena sampah. Bahkan kali yang dulu kala menjadi sumber air utama bagi kehidupan kita pun keruh, kotor dan bersampah. Padahal, sumber air baku bagi PAM adalah sungai-sungai yang telah tercemar itu.
Tidak salah, bila dalam kondisi seperti itu, maka wabah penyakit akan mudah terbawa terbang olet lalat atau debu-debu yang telah bercampur dengan kotoran dan dari sumber air baku PAM kita
Apakah hal ini karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan, baik karena kemiskinan (tidak mampu menyediakan fasilitas MCK), atau karena rendahnya pengetahuan tentang kebersihan lingkungan. Masyarakat miskin pasti tidak akan mampu menyediakan fasilitas MCK pribadi. Jangankan untuk itu, dengan tinggal di rumah kardus/lingkungan kumuh, makan seadanya 3 kali sehari saja belum tentu mereka mampu dan menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Jadi, itu adalah kewajiban pemerintah untuk memperbaiki/membenahi lingkungan hidup mereka sekaligus memberikan kail agar mereka bisa meningkatkan taraf hidupnya secara bertahap.
Saya pernah melihat suatu dokumentasi perbaikan lingkungan, disuatu desa nelayan di Jawa Tengah. Program perbaikan yang dilakukan oleh Dr.Ir. Andy Siswanto dkk, itu dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Dengan pendekatan yang sangat persuasif, masyarakat merelakan lingkungan hidupnya ditata ulang tanpa ganti rugi sedikitpun. Ini memperlihatkan betapa sesungguhnya masyarakat kita haus akan perhatian serius dari pemerintah untuk memperbaiki kehidupannya.
Kembali kepada masalah toilet (baik toilet pribadi maupun toilet umum), ada 2 pengalaman yang tidak dapat saya lupakan. Yang pertama... seorang kawan mengatakan, bila kita ingin mengetahui tingkat kebersihan seseorang, mintalah ijin untuk ke toilet saat kita mengunjungi rumahnya. Di tempat itulah kita bisa mengukur kebersihan orang itu.
Yang kedua, penggunaan toilet umum yang tidak jelas kebersihannya akan menulari kita dengan segala macam penyakit yang tidak terduga. Hal ini berkaitan dengan kejadian 25 tahun yang lalu, saat saya berjalan-jalan dengan suami di Paris. Toilet umum di kota itu pasti bersih, dengan air yang berlimpah. Tetapi usai kembali ke kota tempat kami tinggal, saya mengalami sulit buang air kecil yang dalam waktu 24 jam langsung keluar darah. Terpaksa saya ke dokter dan setelah menanyakan kegiatan saya selama 1 minggu sebelumnya, dia mengatakan bahwa hal itu dikarenakan saya telah menggunakan toilet umum dan hal itu banyak dialami oleh, perempuan. Sejak peristiwa itu, saya menjadi trauma menggunakan toilet umum.
Keengganan menggunakan toilet umum, banyak dirasakan orang. Bagaimana mungkin kita menggunakan toilet umum, apabila toilet tersebut berbau tak sedap dan jorok. Namun menahan rasa ingin ke toilet pun bukan hal yang mudah. Jangan-jangan malah akan mengakibatkan kita menjadi sakit.
Bagi masyarakat golongan menengah - atas, mungkin tidak bermasalah yang terlalu besar. Shopping mall/plasa kelas atas atau hotel-hotel mewah berbintang pasti menyediakan fasilitas tersebut dengan baiknya. Tapi bagaimana bila kita sedang berjalan-jalan di keramaian umum, katakanlah saat berbelanja ke pasar atau membawa anak-anak ke Kebun Binatang Ragunan,saat kita menunggu di halte busway yang nyaman itu atau bahkan di kawasan wisata yang banyak bertebaran di bumi Indonesia ini? Hampir seluruh fasilitas toilet yang tersedia, tidak memadai. Jorok, berbau dan kadang-kadang kran airnya macet. Jangan lagi kita melihat dan menilainya dari segi kenyamanan dan faktor higienis. Haruskah kita menderita untuk menunggu hingga kembali ke rumah/hotel tempat kita menginap.
Seorang teman pernah mengatakan... pergilah ke mesjid, di sana kita harus ber wudhu dulu sebelum shalat. Jadi pasti ada air. Betul ada air... tapi apakah toiletnya bersih tak berbau dan nyaman? Belum tentu..... Air memang ada, tetapi banyak sampah bertebaran di lantai. Pengurus mesjid mungkin lupa atau tidak tahu, bahwa perempuan yang menggunakan toilet terkadang memerlukan tempat sampah untuk membuang sanitary napkins atau kertas pembersih. Maka, lantai toiletlah yang menjadi keranjang sampah. Padahal kita tahu benar ajaran kebersihan ... cuci tangan sesudah ke toilet. Tapi jangankan cuci tangan dengan bersih ... airpun kadang tak ada, apalagi sabun atau kertas pembersih.
Padahal Islam mengajarkan bahwa Kebersihan adalah sebagian dari iman. Namun ternyata ajaran itupun tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh penganutnya. Nun jauh di negara petro dolar, di hampir seluruh wilayah Timur Tengah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, toilet umum juga menjadi masalah. Betul bahwa di sekitar mesjid yang banyak air pasti ada toilet dan sayangnya masih berbau tak sedap. Mungkin karena toilet digunakan oleh berbagai bangsa di dunia dengan berbagai caranya, jadi sukar untuk mempertahankan standar kebersihannya. Padahal kita tidak berharap toilet mesjid seharum toilet di hotel berbintang. Yang pasti, jangan sekali-kali menggunakan toilet umum yang ada di sepanjang perjalanan antara Mekkah - Medinah, atau di hampir seluruh kawasan wisata di Timur Tengah, bila anda tidak ingin pingsan karena bau dan kotornya.
Ternyata memelihara kebersihan toilet tidak semudah menggunakannya. Entah karena keengganan atau karena hal itu adalah masalah sepele yang tidak perlu diperhatikan. Toh itu tempat kita membuang kotoran ..... jadi ya memang sewajarnya kotor. Padahal Justru karena itulah kita harus membersihkannya agar kekotoran itu tidak berubah menjadi sarang penyakit yang akan disebarkan oleh lalat dan kecoa.
Ibu Naning Adiwoso mengatakan, bahwa di beberapa negara (saya lupa negara apa yang disebutkannya), para aktifis kesehatan telah membuat standard pembuatan toilet umum yang mencakup segala aspek, antara lain kenyamanan, kebersihan, aksesibilitas dan higienis. Standard tersebut menjadi acuan bagi pembangunan toilet umum. Bahkan ada suatu kota yang sudah memiliki Peta Toilet Umum. Bukan main......
Di negara kita? Masih jauhlah ..... rasanya cukup agar kita, terutama kaum muslimin menyadari dan menerapkan aspek kebersihan tersebut dalam segala segi kehidupannya termasuk dalam mengelola toiletnya. Insya Allah ... semagat kebersihan itu akan menjalar dalam segala aspek kehidupan kita
salam
Planetarium dan Fasilitas pendidikan kita.
Planetarium dan Fasilitas pendidikan kita.
(tulisan ini pertama kali di upload pada tanggal 6 Juni 2005 di multiply)
Anak saya yang berumur 7 tahun senang sekali membaca ensiklopedi a la mickey mouse. Gambarnya lucu, penjelasannya singkat. Baru-baru ini, dia membeli seri angkasa luar dan mulai bertanya-tanya tentang alam raya ini, tentang planet, bintang dan matahari. Pertanyaannya lama-lama sukar dijawab dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Selain karena saya maupun suami kurang menguasainya, kami juga kesulitan mencari kata-kata yang mudah dimengerti anak seusia itu. Kesulitan tersebut membuat saya berencana mengajaknya ke Planetarium di Taman Ismail Marzuki - Cikini. Saya ingat, bahwa pada hari Sabtu dan minggu, planetarium membuka pertunjukan pada siang hari.
Dengan gembira, saya mengajak anak untuk mulai mencari nomor telpon Planetarium tersebut ke 108, dan kemudian menelpon Planetarium - Tim. Anak saya tentu masa gembira bukan kepalang, membayangkan diajak ke Planetarium menyaksikan simulasi alam raya. Sayang, kegembiraan itu pupus dalam sekejap dan berganti dengan tangis kecewa.
Informasi Planetarium menjelaskan bahwa Planetarium hanya buka hari Selasa s/d jum'at jam 16.30 dengan biaya Rp.3.500/orang dewasa dan Rp.1.750,-/anak. Sangat murah dibandingkan dengan pengetahuan yang diperoleh. Sayangnya, pertunjukan hanya dilakukan 1 kali/hari, karena peralatan dikhawatirkan rusak karena panas bila digunakan 2 kali pertunjukan/hari. Sedangkan pertunjukan hari Sabtu dan Minggu yang biasanya dilakukan sebanyak 4x, ditiadakan sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Hal ini dikarenakan proyektor sedang diperbaiki di Jerman sejak bulan Desember 2004 yang lalu.
Saya terhenyak karenanya.
Saya dapat membayangkan, alangkah sedih, kecewa dan geramnya, bang Ali Sadikin, Gubernur DKI Jaya yang mengupayakan terbangunnya Planetarium tersebut, seandainya beliau mengetahui keadaan ini. Jakarta yang metropolitan ini ternyata tidak sanggup memelihara apa yang sudah dibangun. Jangankan menambah fasilitas umum... memelihara yang sudah ada saja pemda DKI tidak mampu.
Mau tidak mau, ingatan saya melayang pada saat DKI Jaya di bawah kepemimpinan bang Ali. Lepas dari segala kontroversial dari segala kebijakannya, belialah satu-satunya gubernur yang membangun begitu banyak fasilitas sosial/umum bagi rakyatnya. Sebut saja, mulai dari program perbaikan kampung - MHT, pembangunan Gelanggang Remaja - lengkap dengan Kolam renangnya di setiap wilayah DKI, Taman Ismail Marzuki - Cikini, Kebun Binatang Ragunan, Gelanggang Mahasiswa Kuningan, rehabilitasi pasar-pasar kumuh menjadi pasar modern, penataan taman-taman/ruang publik ... dan saya yakin banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Beliau juga yang sudah membuat RUTR DKI s/d 1985 dimana sudah termuat rencana pembangunan MRT (mass rapid transit).
Sekarang, lihatlah wajah Jakarta kita yang tercinta. Pembangunan Jakarta memang begitu pesat, Shopping Mall, Plasa, ITC, Gedung Perkantoran, apartemen mewah bertaburan di segala penjuru kota.Tapi tengoklah fasilitas umum/sosial kota kita ..... tengoklah lapangan olah raga tempat anak-anak bermain... semua lenyap. Gelanggang Remaja memang masih ada..... tapi tengoklah apa yang sudah terjadi disana.... kumuh, dekil tak terawat. Ada yang makin terawat.... Gelanggang Mahasiswa Kuningan.... tapi komplek itu telah beralih pengelolaannya. Nuansa dan roh kegiatan kemahasiswaan yang dulu sangat kental dengan komplek tersebut telah hilang tak berbekas berganti dengan nuasa kemewahan yang absurd ditengah kemiskinan bangsa ini.
Kita menjadi borjuis ditengah kemiskinan. Pembangunan negeri ini sama sekali tidak mempedulikan kepentingan rakyat banyak. Kegiatan-kegiatan anak-anak, remaja dan mahasiswa yang secara alamiah penuh dinamika dan keceriaan telah berganti. Anak, remaja dan mahasiswa didorong untuk berburu materi. Kalaupun masih ada kegiatan mereka, maka selalu ada "umpan" materi yang menyertainya.
Lihatlah, betapa Indonesian Idol, KDI, AFI dan sejenisnya menarik ribuan anak-anak dan remaja kita dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan olah raga. Saya sendiri lupa.... apakah Pekan Olah Raga Mahasiswa atau Pekan Olah Raga anak-anak (setingkat SD/SMP) masih tetap diselenggarakan.
Mungkin ini menjawab, mengapa anak-anak sekarang lebih gemar tawuran dibandingkan berolah raga. Pengusaha dengan ber "kong-kalikong dengan Pemda" telah merengut lahan tempat anak-anak bergerak, mengekspresikan jiwa mudanya. Gelanggang Remaja/Mahasiswa bukan lagi tempat yang nyaman untuk dikunjungi ..... taman kota telah lenyap. Bahkan Kebun binatangpun bukan lagi menjadi tempat rekreasi yang enak untuk dikunjungi. Jangan lagi bicara mengenai Planetarium yang memerlukan alat-alat yang cukup canggih untuk mengoperasikannya.
Ternyata, kita bukan hanya tidak bisa memeliharanya. Membangunnya pun kita tidak mampu ... atau mungkin tidak mau. Karena setelah hampir 30 tahun bang Ali lengser dari jabatnnya.... fasilitas umum/sosial/pendidikan tersebut tidak juga bertambah.... bahkan yang adapun tidak lagi tersentuh oleh pemeliharaan.
Tidak salah, kalau anak-anak gemar tawuran ....
Jumat, 08 Juli 2011
ironi dan kontradiksi TKI/TKW
Interaksi pertama sudah dimulai begitu naik pesawat. Keberadaan para TKI/TKW sangat mudah ditandai karena mereka
yang berangkat untuk pertama kali, umumnya memakai seragam. Tetapi, kalaupun mereka tidak menggunakan seragam, keberadaan mereka sangat mudah ditandai. Merekayang baru pertama kali berangkat, pada wajahnya, terlihat ekspresi "takut dan gamang", sementara mereka yang sudah beberapa kali berangkat sebagai TKI/TKW seringkali terlihat overacting dalam sikap maupun pembicaraan.
Berada dalam pesawat yang sama dengan mereka juga membawa nuansa khusus. Beberapa saat setelah pesawat lepas landas dan suhu udara mulai turun, maka bebauan khas negara asia, yaitu mulai dari minyak kayuputih, balsem dan minyak angin mulai berhamburan memenuhi ruang pesawat. Bukan tidak mungkin, "harum parfum" khas asia itu tercium pula hingga kabin bisnis. Entah apa yang dipikirkan oleh penumpang cabin class yang berasal dari negara non asia.
Penggunaan toilet menjadi masalah lain lagi. Toilet pesawat yang kecil, penuh dengan kabin2 kecil yang terisi dengan kertas2 toilet, tempat sampah, pelembab kulit, sabun hingga flush pembersih closet semua kompak mengisi ruang seluas 1x1.5 meter itu. "Kering" itulah kondisi yang seharusnya mutlak terjadi dalam kabinet lavatory tersebut. Namun, tanpa maksud merendahkan status sosial para TKI/TKW, kehadiran mereka bisa ditandai saat kabinet lavatory tersebut menjadi kumuh bahkanseringkali lantainya menjadi basah dan sampah kertas toilet berhamburan di lantai.
Bisa dimaklumi karena semua tulisan di dalam kabinet mini itu dalam bahasa Inggris. Dalam pesawat berlabel "maskapai penerbangan negara gurun" mungkin ada tulisan arab. Tapi siapa diantara mereka yang mengerti? Apakah selama di tempat penampungan/pelatihan, para TKI dan TKW dibekali pengetahuan tentang bagaimana cara berlaku/bersikap di dalam pesawat? Sama juga dengan para jamaah haji dengan fasilitas ONH biasa yang pada umumnya berasal dari kota kecil/pedalaman dan bukan tidak mungkin baru pertama kali bersentuhan dengan peralatan modern?
Dalam perjalanan "city tour" di sekitar wilayah Makkah, saya sempat ngobrol dengan supir bus yang berasal dari desa Cililin - Cimahi Jawa Barat. Dia sudah melewati 1,5 tahun masa kerjanya di Arab Saudi (SA - Saudi Arabia).
"Sungguh bu .... saya tidak akan pernah kembali lagi ke Arab"
"Kenapa? Kan enak ... gaji besar, bisa berhaji ...!"
"Kalau dari hajinya sih iya... tapi kalau gaji, rasanya nggak jauh-jauh banget ... nggak terbayar dengan kesepian jauh dari keluarga dan harus menyesuaikan makanan. Apalagi kalo yang perempuan ... aduh rusak deh bu"
"Tapi, orang2 di kampung kan banyak yang lebih milih peri ke Arab, dibanding kerja di Indonesia"
"Gak ada kerjaan bu, masalahnya...."
"Iya, saya pernah denger kalau TKW di SA banyak yang rusak, makanya ada gosip, harga perempuan Indonesia cuma 50SR. Kalo gitu mestinya, bilang dong sama orang2 di kampung... itu bapak-bapak, jangan ngirim perempuan2 (anak atau istri) ke SA dong... Kalau mau dapet duit ya si bapak itu yang kerja ke SA...., bukan anak/istrinya?"
"Mestinya pemerintah bu, yang nglarang... Pemerintah cuma ngeliat SR nya aja sih..."
"Mesti dari dua arah... masyarakatnya, juga pemerintah. Kalau dari pemerintah nggak jalan, ya rakyat mesti tahu kalo kerja di SA atau negara2 Tim-teng bahaya buat keselamatan/kehormatan perempuan"
"Iya bu... tapi nggak gampang, kan orang taunya cuma duit aja... apalagi kalo liat tetangga yg pulang bawa duit terus bangun rumah, beli sawah dll... mereka nggak tahu darimana duit didapat. Gak semua dapat majikan baik yg suka kasih hadiah. Sebagian... apalagi yang sampe kabur dari majikan, banyak yg melacur atau kumpul kebo... saya tahu persis bu... makanya ngeri deh... Itu sebabnya saya nggak pengen balik lagi ke SA"
Pembicaraan sambil menunggu peserta umroh yang naik ke Jabal Rahmah terhenti, karena mereka sudah kembali mengisi bus, dan siap melanjutkan perjalanan melintasi Muzdalifa - Mina dan akhirnya kembali ke penginapan.
***
Dalam kesempatan lain, usai menunaikan umroh, kami sempat ngobrol dengan TKI yang bekerja sebagai petugas kebersihan Masjidil Haram. Dia juga sudah bekerja hampir dua tahun dan segera kembali ke tanah air. Sama-sama tidak ingin kembali ke SA untuk memperpanjang kontrak kerja, walau gaji SR 800 (hampir 2 juta rupiah) tentu lebih besar dibandingkan dengan gaji seorang petugas kebersihan di Jakarta.
"Berapa jam kamu kerja disini?"
"Biasa bu ... ada 3 shift"
"Beruntung juga ya kerja di Haram ... ada banyak orang Indonesia yg kerja di Haram?"
"Nggak bu, cuma ada 3 orang. Kebanyakan dari Pakistan dan Bangladesh. Kerja di Haram gajinya nggak besar, dibanding dengan di luar Haram.Bisa SR1200 - SR 2000"
"Oh .... tapi dapat fasilitas makan/penginapan dong"
"Kalau makan sih, nggak dapat bu, kalau tidur, disediain mess, kamarnya pake AC, antar jemput dari mess ke Haram"
"Ah ... lumayan jugalah.....!"
***
"Ibu dari mana?"
"Oh... saya dari Jakarta"
"Kapan datang bu? sudah berapa lama di Makkah?"
"Sejak minggu pagi kemarin .... insya Allah sampe Jum'at besok, ke Jeddah"
"Sudah umroh berapa kali bu... sudah cium hajar aswad?"
"Maksudnya...?",
"Nggak bu ... tanya aja.... ibu mau cium hajar aswad?"
"Oh ..... lihat situasi aja...."
"Kamu mukimin ya...? TKI? sudah berapa lama disini?"
"Iya bu ... mukimin, tinggal gak jauh dari Dyar inn (dia bilangnya diar en), sudah 3 kali balik. Yang terakhir itu saya ditangkap, terus dipulangin. DUlu kalo dipulangin gitu kita tunggu 1 tahun dulu terus baru umroh lagi. Kalo sekarang mesti tunggu 5 tahun baru bisa umroh. Sudah gitu bayarnya mahal .... Waktu saya berangkat bayarnya sudah 20juta... sekarang kabarnya sudah 26 juta"
"Lho .... kamu itu TKI, atau apa sih? Kok pake bayar segitu mahal....?"
"Wah ... saya sih gak mau pake PT bu... gak enak, gak bebas"
"Lho....?"
"Iya bu... kalo pake PT, kan 2 tahun gak bisa keluar - kontraknya kan gitu... makanya yang dari PT, biar dapet majikan jahat, gak berani keluar."
"Trus kamu gimana ceritanya...?"
"Saya kan ada sponsornya bu .... ya itu bayar 20 juta (sekarang konon 26juta), ntar begitu sampe Makkah... kita dijemput sama sponsor yang ada di Makkah, dibawa ke penampungan. Dari situ kita dicariin kerjaan ... kalo 1 atau 2 bulan gak betah atau gak enak ya keluar, cari di tempat lain. Jadi nggak terikat."
"ada banyak yang seperti kamu?"
"Banyak bu .... ada yang dari Jawa, Banjar ... Lombok juga ada bu!"
Awalnya.... saya
ngga terlalu mengerti apa yang dimaksud perempuan muda yang duduk di sebelah saya itu. Lama kelamaan saya teringat dengan Laila, perempuan asal Malang yang saya temui tahun 1994 dan banyak menolong saya memasak di setiap jam makan selama menunaikan ibadah haji saat itu. Rupanya .... inilah TKI illegal berkedok umroh - overstay.
"Jadi, apa kerjaan kamu sekarang?"
"Kalau lagi musim um
roh dan haji seperti sekarang, pemeriksaan agak longgar bu. Kan kami gak punya iqomah .. . Kerja kami sekarang bantu2 orang yang mau cium hajar Aswad. Kalau di luar musim umroh.haji
... ya mesti hati-hati ... ngumpet di penampungan atau kerja di rumah2"
"Kalau nggak dapat kerja atau upah bantu cium hajar aswad, trus gimana cara bayar penginapan dan makan sehari-hari....?"
Perempuan muda itu diam ... tak menjawab pertanyaan saya hingga akhirnya shalat dimulai dan saat usai shalat... tempat di samping saya sudah kosong.. dia menghilang tanpa pamit. Saya teringat perkataan supir asal Cililin itu ...
"Banyak perempuan kita, yang kumpul kebo dengan orang2 Pakistan atau Bangladesh bu... Mereka yang l
ari dari majikan, kalo nggak melacur, ya kumpul kebo ... Rusak semua bu..."
Astaghfirullah .... semoga perempuan di samping saya tadi bukan yang termasuk golongan pelacur/kumpul kebo itu.
***
Masalah TKI ke negara tujuan manapun juga, terutama ke negara-negara Timur Tengah, ternyata memang pelik. Mungkin sedikit berbeda dengan TKI/TKW ke negara Tim-Teng selain SA yang bisa dimonitor melalui PJTKI, TKI terutama TKW dengan negara tujuan SA, memiliki entry gate lain, selain melalui PJTKI, yaitu melalui biro-biro peralanan umroh yang sekarang banyak bertebaran di seluruh pelosok tanah air.
Mereka ternyata banyak mengerahkan TKW melalui jalur ibadah umroh. Calon TKI/TKW membayar biaya perjalanan laiknya peserta umroh, di Madina atau Makkah, sudah ada penampung TKI/TKW gelap .... Mereka tentu tidak punya ijin dan pasti tidak pula melaporkan keberadaan para jamaah umrohnya, karena ibadah umroh memang hanya menjadi topeng pengerahan tenaga kerja saja.
Betapa enaknya cara kerja mereka (pengerah dan penampung TKI/TKW tsb). Mereka sama sekali tidak mengeluarkan biaya perjalanan para TKI/TKW tersebut .... bahkan bisa jadi menangguk keuntungan dari biaya yang sudah disetorkan tersebut karena tidak ada kewajiban menyelenggarakan "land arrangement para peserta umroh" tersebut.
Mungkin pemerintah dan migrant care harus mulai memperhatikancara kerja biro perjalanan umroh yang beroperasi di kantong-kantong pemasok TKI/TKW di seluruh wilayah Indonesia.
Wallahu'alam
Langganan:
Postingan (Atom)
BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺
Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa Mensholatkan kita... Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...
-
Sebelum tulisan ini dilanjutkan, saya perlu meminta maaf terlebih dulu pada mereka yang berprofesi sebagai supir pribadi. Sungguh, tidak ...
-
Hari Selasa 24 Oktober 2006 yang lalu, Lebaran hari pertama atau hari kedua bagi yang mengikuti jadwal lebaran versi Muhammadiyah, pada si...
-
3/5 Berusaha dan terus berusaha. Hari itu, adalah hari ke 14 menstruasi ... Masih sederas hari pertama dan tidak ada tanda-tanda mereda...