Kemajuan teknologi komunikasi memang luar biasa pesatnya. Saat wireless/mobile telephone masuk ke Indonesia sekitar 20 tahun yang lalu, bentuknya betul-betul sangat tidak menarik. Handset nya masih seperti fixed telephone dilengkapi dengan batere seperti accu mobil. Jadi cukup besar dan tidak mungkin dibawa kesana-kemari sehingga lebih banyak digunakan sebagai telpon yang diletakkan di dalam mobil. Harganyapun sangat mahal. Kira-kira lima belas juta rupiah atau setara dengan usd 23.000 pada saat itu (kurs sekitar Rp.650,-). Fungsinya pun betul-betul masih sangat sederhana. Tidak jauh dengan fixed telephone yang ada di rumah. Pemiliknya tentu saja hanya orang-orang kaya dan karenanya antena wireless telephone berbasis CDMA tersebut akan menghiasi atap mobil-mobil mewah mereka. Saat itu, mobile telephone merupakan status symbol tersendiri pemiliknya
Era palm telephone berbasis GSM di Indonesia mungkin dimulai pada awal tahun 90 an. Jangan bayangkan bentuknya sekecil dan seindah handphone sekarang. Rata-rata ukurannya sebesar ukuran Nokia-9300 dengan feature yang sangat sederhana. Berfungsi sebagai telpon saja. Short message service – sms pun baru bisa dilakukan oleh telkomsel. Indosat belum belum bisa melayani sms. Pemilik handphone, lagi-lagi masih sangat terbatas dan kesemuanya berbasis abonemen. Belum lagi ada layanan pra bayar.
Penggunaan kartu prabayar, lagi-lagi dimulai oleh Telkomsel dengan meluncurkan kartu simpati (local), kalau tidak salah, pertama kali di Batam. Kiat ini tentu saja dilakukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas lagi. Belakangan, seluruh provider memiliki 2 jenis SIM card yaitu prabayar dan pasca bayar.
Era tahun 2000 an, penggunaan mobile telephone - handphone atau singkatnya disebut HP sudah sangat meluas. Feature handsetnya sudah sangat luas. Dari yang sangat sederhana hingga berfungsi sebagai PDA, communicator, camera/videophone dan walkman. Perputaran model dan feature sedemikian cepatnya. Tua muda, kaya miskin kesemuanya tergila-gila oleh kecanggihan alat komunikasi yang satu ini.
Menggunakan pesawat telpon tentu memerlukan etika agar alat komunikasi ini dapat digunakan dengan baik dan benar serta tidak mengganggu orang lain. Seringkali kita diingatkan untuk tidak menyalakan HP saat rapat, beribadah maupun dalam perjalanan (saat menyetir mobil). Termasuk juga kala berada di dalam pesawat terbang. Signal HP dikhawatirkan mengganggu system komunikasi dan navigasi pesawat.
Sayangnya tidak banyak orang mau mematuhinya sehingga seringkali rapat kita terganggu karena ada panggilan telpon yang masuk. Kekhusu’an ibadah kita terusik oleh dering panggilan HP yang masuk berulang kali. Mungkin si penelpon lupa bahwa dia melakukan panggilan pada jam-jam kita melaksanakan shalat
Sementara itu, tidak jarang pemilik telpon, tanpa rasa malu ataupun bersalah, menjawab panggilan tersebut di dalam masjid. Bahkan ada orang yang tidak sungkan untuk bertelpon ria saat melakukan tawaf dan sai. Bayangkan, saat kita menjadi tamu Allah SWT di Baitullah, masih juga mendahulukan kepentingan duniawi (menjawab dan berbicara di telpon) dibandingkan dengan khusu’ melaksanakan dan meneladani ritual agama yang telah dijalankan oleh para nabi sejak jaman nabi Ibrahim AS. Atau kita merasa lebih mulia dari tuan rumah (Allah SWT), sehingga sang Tuan Rumah kita abaikan demi panggilan umat manusia lainnya di seberang sana? Astaghfirullah ……
Kalau sudah begini, bagaimana mungkin, kita yang masih lebih tergoda pada nafsu keduniawian memperoleh hidayah Allah SWT. Bagaimana mungkin, kita yang masih mengabaikan Tuan Rumah, bahkan di rumahnya sendiri (Baitullah) dengan menjawab telpon sambil bertawaf/sai masih berharap pahala dari Allah SWT atas tawaf dan sai yang kita lakukan? Semoga Allah SWT mengampuni mereka yang khilaf.Wa Allahu Alam ….
Yang paling layak dicintai adalah cinta itu sendiri dan.. Yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri #BadiuzzamanSaidNursi
Minggu, 01 Januari 2012
Kenal dengan yang namanya MYOMA?
Ayo tebak ..... gambar apa yang saya upload? Bagus ya.... warnanya pinky .... menarik, persis seperti sirop campuran kalau kita beli cincau daun di abang yang suka lewat di depan rumah. Saya nggak tahu apakah gambar yang saya copy-paste dari Johns Hopkins School of Medicine ini memang warna aslinya atau sudah di utak-atik supaya menarik orang yang melihatnya. Nah ... gambar itu adalah gambar sel-sel tumor uterine yang biasanya dikenal dengan MYOMA.
Saya baru saja berkenalan dengan MYOMA. Belum lama kok, belum sampai satu minggu. Kenalannya juga secara tidak sengaja.Kira-kira dua minggu yang lalu, saya mengalami sedikit perdarahan ... bercak-bercak di luar kebiasaan. Maklum saja sudah lebih dari 10 tahun saya mengalami apa yang dinamakan orang amenorrhae (tidak menstruasi). Jadi melihat darah/bercak, pasti merupakan sesuatu yang extraordinary. Kebetulan juga, saya lagi baca-baca koran, kok ya kena juga mata memandang dan akhirnya membaca artikel "gejala-gejala kanker rahim", yang antara lain adalah "unusual bleeding". Di tambah lagi, tante saya (istri adik ibu saya) kena kanker rahim stadium lanjut. Apalagi, sudah lebih dari 5 tahun saya nggak melakukan pap'smear. Padahal, saya tahu persis bahwa untuk perempuan di atas 35 tahun, pap'smear harus rutin dilakukan minimal 1 kali setahun.
Bukan soal nggak mau keluar uang untuk bayar ob-gyn/pap'smear atau nggak "care" dengan kesehatan organ reproduksi. Tapi ... pergi ke ob-gyn itu merupakan suatu yang membuat saya sangat menderita lahir batin. Saya paling nggak suka harus tidur ... (maaf..) ngangkang di depan orang yang tidak dikenal baik, walaupun selama ini sudah di atasi dengan mencari ob-gyn perempuan. Tetap saja perut jadi kejang luar biasa dan dampaknya terasa sampai berhari-hari sesudahnya.
Tapi, kali ini ada sesuatu yang membuat saya mengambil keputusan untuk mengunjungi ob-gyn. Jadi sambil berangkat kantor, mata melirik nomor telpon klinik/rs mencari info, siapa tahu ada ob-gyn perempuan di klinik yang tidak terlalu jauh dari rumah.
Nah, malam minggu kemarin, saya pergi sendiri ke ob-gyn. Padahal, mana ada perempuan pergi ke ob-gyn sendiri? Biasanya pasti diantar suami. Apa boleh buat. Suami kebetulan mesti "ngamen" dengan the Prof's nya di PTIK dan saya sendiri merasa lebih bebas dan nyaman untuk pergi sendiri. Si dokter mungkin agak heran aja, ada perempuan "tua", datang konsultasi sendirian .Ya sudahlah...
Sesudah cerita sedikit mengenai latar belakang dan segala riwayat "perdarahan" sejak tahun 1987 yang lalu (supaya ob-gyn tahu riwayat keluhan), dia mulai periksa ... Mula-mula pap'smear .... BERSIH, katanya. Terus dia memasukkan alat (camera, kali ya...) Nah di situ keliatan ada gumpalan ukurannya 3,5x4cm. Dia bilang .... MYOMA namanya. Tapi karena saya mungkin akan memasuki periode menopause (entah sudah ... atau belum ... ob-gyn bilang belum menopause karena "belum kering" dan masih ada sel telur, tapi saya merasa sudah), maka dia tidak akan melakukan tindakan apapun terhadap myoma. Konon myoma akan mengecil bila perempuan memasuki masa menopause. Tapi dia menganjurkan saya untuk periksa hormon (darah) dan indikasi CA di lab.
Jadi, Rabu 21 juni, sesudah makalahnya bos beres, sebelum ke kantor saya sempatkan mampir ke Prodia - di Jl. Gunawarman untuk periksa darah (gila ... mahal banget periksa hormon dari darah untuk 4 items saja). Tadi, iseng saya buka hasil labnya.... Nggak ngerti, tapi angkanya semua di bawah atau masih dalam range angka rujukan. Jadi malam nanti saya mesti telpon adik di Bandung untuk tanya-tanya sedikit. Siapa tahu dia ngerti (eh apa iya spesialis anak bisa ngerti nilai rujukan hormon ya...???).
Sampai di kantor, coba browsing tentang myoma ... ada buanyak banget ...... Semua menyatakan bahwa myoma bukan kanker, walau bisa berubah menjadi kanker bila penanganannya kurang tepat. Nah, mau baca, nggak? lihat di link http://health.cancer-help.org/web/Myoma.html
Beberapa sudah saya copy paste dan akan saya masukkan di REVIEW. Semoga bermanfaat buat yang ingin tahu lebih banyak tentang si cantik MYOMA
Ada apa di Sidoardjo?
Sungguh mati, sebetulnya saya sama sekali gak tertarik untuk nulis tentang semburan lumpur panas di Sidoarjo. Alasannya sih simpel banget ..... Gak suka dengan sepak terjangnya kelompok usaha BAKRIE ... Biasanya kalo kita udah enggak suka dengan sesuatu, bawaannya jadi negatif aja .... (ini sebabnya saya nggak akan pernah mau pake ESIA walaupun banyak orang bilang Esia murah ... tapi sebodo amat ....!!!).
Itu alasan pertama ... Alasan kedua, dalam suatu acara makan siang santai dengan owner di kantor (beliau anggota legislatif yang cukup vokal dan cuma ada di kantor jum'at siang), beliau cerita bahwa ...... Lapindo Brantas telah melakukan pelanggaran etika dalam penunjukan kontraktor pelaksana pengeboran. Biasanya, kontraktor pelaksana ditunjuk berdasarkan tender terbuka yang diikuti oleh professional di bidangnya dan tidak boleh terkait dengan para pemegang saham perusahaan induk (dalam hal ini para pemegang saham lapindo - yaitu Bakrie groups, Medco dan Santos). Nyatanya, kontraktor pelaksananya adalah salah satu anak perusahaan bakrie. Ini juga yang menyulut keributan antara bakrie dan medco. Bagaimana kebenarannya .... Jujur aja ... ini cuma bisik2 di kalangan tertentu. Pasti nggak akan muncul di permukaan. Orang Indonesia kan paling pinter berkelit dan mencari kambing hitam .... hehe.... Nah cerita bos ini kan bisa dikategorikan gosip yang gak jelas kali ye.....
Teman kantor yang baru pulang dari Malang via Surabaya, cerita tentang lumpur di Sidoarjo itu .... Wuih ... bau.... dan letupannya itu persis seperti letupan kecil gunung berapi .... (kayak udah pernah liat aja...).
Nah ... yang terakhir, gara2 baca postingnya masarcon ... Kok banjir lumpur itu dikaitkan dengan gempa Jogja ya....? Terus omong2 di rumah. Suami memforward tulisan seseorang di salah satu mailing list ... Ini isinya......; Simak baik-baik ya.... semoga menjadi referensi tambahan lagi bagi yang tertarik dengan lumpur Sidoarjo ini .... (eh ada yang tertarik untuk mengolahnya jadi kosmetika, nggak ya?? kan perempuan suka berlulur dengan lumpur untuk menghaluskan kulit....)
Salam - maaf kalo ada yang kurang berkenan karena tulisan ini..
*******
From: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
[mailto:Migas_Indonesia@yahoogroups.com] On Behalf Of Aris
Dwipurnomo
Sent: Sunday, June 11, 2006 10:54 PM
To: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
Subject: RE: [Oil&Gas] Semburan Lumpur Lapindo Brantas
Entah hal ini benar atau tidak. Diambil dari http://www.media-indonesia.com/
Bagian Komentar Editorial
TRUE STORY-1
Mudah2an dengan tulisan ini bisa menjelaskan sejarah kejadiannya:
Master plan untuk sumur ini adalah pada kedalaman 8500 Ft akan di set cassing dan di-cement, sehingga apabila terjadi semburan gas, kondisi sumur sudah aman karena arah semburan tdk akan ke formasi (menyamping) tapi bisa diarahkan ke atas dan semburan gas tsb mudah untuk di "kill" (kill well). Tetapi, pihak Lapindo tetap ngotot untuk terus ngebor sampai formasi limestone (gas) ditemukan tanpa memikirkan saftey-nya jika terjadi semburan. Dalam hitung2an bisnis artinya:masih ingin ketemu formasi gas yg lebih besar. Sampai kedalaman 9000Ft, pihak Lapindo diingatkan lagi untuk set casing karena semua orang di lokasi sudah ketar-ketir apabila terjadi semburan, blm ada proteksinya,lagi2, Lapindo menolaknya. Akhirnya di +/- 9200, terjadi loss total (indikasi telah masuk formasi gas) dan mulai terjadi kepanikan. Saat itupun sebenarnya keadaan masih bisa dikendalikan, harusnya langsung dipompakan cement untuk plug sumur, lagi2 Lapindo masih berpikir untuk menyelamatkan sumur yg sudah di bor dengan biaya $$$million. Jujur saja, untuk menghentikan semburan lumpur harus dilakukan pengeboran miring ke arah formasi gas tsb,utk proses ini akan butuh biaya $$$million dan baru bisa dilakukan setelah peralatan penunjang ada (rig, cement unit, dll), mungkin 3-4 bulan lagi, tergantung kecepatan Lapindo utk menyiapkan dana, teknisi, kontrak, dll untuk mulai pengeboran miring.Untuk mengaitkan gempa sbg penyebabnya adalah mungkin, tapi itu hanya 1% kemungkinannya. Mudah2an tulisan ini bisa memberikan gambaran secara lebih jujur ke media tanpa harus ada yg ditutup-tutupi.
Pengirim:
wisnu05
Itu alasan pertama ... Alasan kedua, dalam suatu acara makan siang santai dengan owner di kantor (beliau anggota legislatif yang cukup vokal dan cuma ada di kantor jum'at siang), beliau cerita bahwa ...... Lapindo Brantas telah melakukan pelanggaran etika dalam penunjukan kontraktor pelaksana pengeboran. Biasanya, kontraktor pelaksana ditunjuk berdasarkan tender terbuka yang diikuti oleh professional di bidangnya dan tidak boleh terkait dengan para pemegang saham perusahaan induk (dalam hal ini para pemegang saham lapindo - yaitu Bakrie groups, Medco dan Santos). Nyatanya, kontraktor pelaksananya adalah salah satu anak perusahaan bakrie. Ini juga yang menyulut keributan antara bakrie dan medco. Bagaimana kebenarannya .... Jujur aja ... ini cuma bisik2 di kalangan tertentu. Pasti nggak akan muncul di permukaan. Orang Indonesia kan paling pinter berkelit dan mencari kambing hitam .... hehe.... Nah cerita bos ini kan bisa dikategorikan gosip yang gak jelas kali ye.....
Teman kantor yang baru pulang dari Malang via Surabaya, cerita tentang lumpur di Sidoarjo itu .... Wuih ... bau.... dan letupannya itu persis seperti letupan kecil gunung berapi .... (kayak udah pernah liat aja...).
Nah ... yang terakhir, gara2 baca postingnya masarcon ... Kok banjir lumpur itu dikaitkan dengan gempa Jogja ya....? Terus omong2 di rumah. Suami memforward tulisan seseorang di salah satu mailing list ... Ini isinya......; Simak baik-baik ya.... semoga menjadi referensi tambahan lagi bagi yang tertarik dengan lumpur Sidoarjo ini .... (eh ada yang tertarik untuk mengolahnya jadi kosmetika, nggak ya?? kan perempuan suka berlulur dengan lumpur untuk menghaluskan kulit....)
Salam - maaf kalo ada yang kurang berkenan karena tulisan ini..
*******
From: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
[mailto:Migas_Indonesia@yahoogroups.com] On Behalf Of Aris
Dwipurnomo
Sent: Sunday, June 11, 2006 10:54 PM
To: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
Subject: RE: [Oil&Gas] Semburan Lumpur Lapindo Brantas
Entah hal ini benar atau tidak. Diambil dari http://www.media-indonesia.com/
Bagian Komentar Editorial
TRUE STORY-1
Mudah2an dengan tulisan ini bisa menjelaskan sejarah kejadiannya:
Master plan untuk sumur ini adalah pada kedalaman 8500 Ft akan di set cassing dan di-cement, sehingga apabila terjadi semburan gas, kondisi sumur sudah aman karena arah semburan tdk akan ke formasi (menyamping) tapi bisa diarahkan ke atas dan semburan gas tsb mudah untuk di "kill" (kill well). Tetapi, pihak Lapindo tetap ngotot untuk terus ngebor sampai formasi limestone (gas) ditemukan tanpa memikirkan saftey-nya jika terjadi semburan. Dalam hitung2an bisnis artinya:masih ingin ketemu formasi gas yg lebih besar. Sampai kedalaman 9000Ft, pihak Lapindo diingatkan lagi untuk set casing karena semua orang di lokasi sudah ketar-ketir apabila terjadi semburan, blm ada proteksinya,lagi2, Lapindo menolaknya. Akhirnya di +/- 9200, terjadi loss total (indikasi telah masuk formasi gas) dan mulai terjadi kepanikan. Saat itupun sebenarnya keadaan masih bisa dikendalikan, harusnya langsung dipompakan cement untuk plug sumur, lagi2 Lapindo masih berpikir untuk menyelamatkan sumur yg sudah di bor dengan biaya $$$million. Jujur saja, untuk menghentikan semburan lumpur harus dilakukan pengeboran miring ke arah formasi gas tsb,utk proses ini akan butuh biaya $$$million dan baru bisa dilakukan setelah peralatan penunjang ada (rig, cement unit, dll), mungkin 3-4 bulan lagi, tergantung kecepatan Lapindo utk menyiapkan dana, teknisi, kontrak, dll untuk mulai pengeboran miring.Untuk mengaitkan gempa sbg penyebabnya adalah mungkin, tapi itu hanya 1% kemungkinannya. Mudah2an tulisan ini bisa memberikan gambaran secara lebih jujur ke media tanpa harus ada yg ditutup-tutupi.
Pengirim:
wisnu05
keinginan Anak versus Ambisi Orangtua
”Gue berencana kawin umur 22 tahun, nanti ...”
”Gak terlalu muda tuh ...?”
”Emang ada larangan ...?”
”Gak ... cuma terlalu muda aja ...!”
Diskusi terhenti begitu saja. Semoga dia berubah pikiran. Anak jaman sekarang ... baru masuk SMA aja udah mikirin kawin ....!!
Beberapa tahun kemudian ...
”Aku mau kawin ....”
”Hah ....? Gak salah tuh ....?”
”Gak .....”
”Gila ... yang bener aja!! Kuliah belum selesai ....!!”
”Cuma tinggal 3 mata kuliah lagi dan rasanya pasti lolos ....”
”Umur kamu baru 22 tahun ... Tunggulah sampe umur 30 tahun atau 25 tahun deh, jadi tunggu 2 atau 3 tahun lagi ...! Kenapa harus cepat-cepat ...?”
”Apa bedanya antara sekarang atau nanti ...?”
”Tentu beda .... kamu kan mesti cari kerja, mesti punya penghasilan tetap ... supaya lebih mapan sebelum menikah ...!”
”Jangan khawatir ... Aku bisa cari kerja sekarang”
”Nah kalo gitu, sampe dapat pekerjaan yang mantap deh ... kan kasihan anak orang. Mau dikasih makan apa dia? Lagipula belum tentu orangtuanya setuju ...”
”Aku sudah bicara dengan ibu-bapaknya, dengan nenek-kakeknya, semua menerimaku dengan tangan terbuka. Sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga. Apa lagi yang kurang ....?”
”Pekerjaan ...! Kamu akan punya tanggung jawab yang lebih besar lagi ...”
”Semua sudah didiskusikan, tidak ada masalah lagi ... kenapa justru orangtuaku yang keberatan?”
”Duh ... pulang aja dulu deh, ngomong baik-baik, dengan tenang dan kepala dingin .... Jangan chatting begini. Ini bukan urusan main-main...!”
”Gak terlalu muda tuh ...?”
”Emang ada larangan ...?”
”Gak ... cuma terlalu muda aja ...!”
Diskusi terhenti begitu saja. Semoga dia berubah pikiran. Anak jaman sekarang ... baru masuk SMA aja udah mikirin kawin ....!!
Beberapa tahun kemudian ...
”Aku mau kawin ....”
”Hah ....? Gak salah tuh ....?”
”Gak .....”
”Gila ... yang bener aja!! Kuliah belum selesai ....!!”
”Cuma tinggal 3 mata kuliah lagi dan rasanya pasti lolos ....”
”Umur kamu baru 22 tahun ... Tunggulah sampe umur 30 tahun atau 25 tahun deh, jadi tunggu 2 atau 3 tahun lagi ...! Kenapa harus cepat-cepat ...?”
”Apa bedanya antara sekarang atau nanti ...?”
”Tentu beda .... kamu kan mesti cari kerja, mesti punya penghasilan tetap ... supaya lebih mapan sebelum menikah ...!”
”Jangan khawatir ... Aku bisa cari kerja sekarang”
”Nah kalo gitu, sampe dapat pekerjaan yang mantap deh ... kan kasihan anak orang. Mau dikasih makan apa dia? Lagipula belum tentu orangtuanya setuju ...”
”Aku sudah bicara dengan ibu-bapaknya, dengan nenek-kakeknya, semua menerimaku dengan tangan terbuka. Sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga. Apa lagi yang kurang ....?”
”Pekerjaan ...! Kamu akan punya tanggung jawab yang lebih besar lagi ...”
”Semua sudah didiskusikan, tidak ada masalah lagi ... kenapa justru orangtuaku yang keberatan?”
”Duh ... pulang aja dulu deh, ngomong baik-baik, dengan tenang dan kepala dingin .... Jangan chatting begini. Ini bukan urusan main-main...!”
Kembali ke rumah yuk....
Coba tanya sama perempuan-perempuan di sekelilingmu …., “bisa menjahit nggak…?” Bisa dipastikan mata mereka langsung membulat ….merasa heran dan kaget mendengar pertanyaan yang aneh bin ajaib seperti itu. Sungguh …. Itulah reaksi mereka pada umumnya. Sama kagetnya tatkala mereka tahu bahwa saya masih menyempatkan diri menjahit pakaian sendiri, walaupun kualitas jahitannya sekarang sudah jauh menurun. Maklum, kemampuan penglihatan terutama untuk melihat benda-benda kecil seperti tusukan jarum jahit, sudah sangat jauh berkurang karena usia lanjut.
Hari gini jahit baju sendiri ? Kuno dan ketinggalan jaman kali yee…...!! Kurang gaul …!! Gak lihat bahwa di sekeliling kita bertaburan pakaian siap pakai yang ok punya. Sebut saja, kelas pedagang kaki lima sampai kelas butik. Dari kelas jahitan dari kawasan Sukabumi Udik – Jakarta Barat atau Cipulir – Jakarta Selatan sampai dengan jahitan kelas designer top. Baik dari koleksi prêt a porter maupun haute couture, dari designer lokal sampai designer kelas dunia yang menjadi langganan selebrity internasional, semua ada di Jakarta. Harganya ….? Tentu sesuai dengan kualitas. Dari mulai harga puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Banyak pilihan …. Tinggal pilih yang sesuai dengan kemampuan kantong saja. Kalaupun, kocek agak pas-pasan namun ingin sesuatu yang exclusive, pergi saja beli bahan pakaian baik kain produksi lokal, ataupun produksi Cina, India maupun dari Paris ataupun Italy … lalu, cari model pakaian dan penjahit yang cocok. Bisa mencari penjahit yang menjajakan jasanya di pasar-pasar dekat rumah. Setingkat di atasnya penjahit rumahan atas rekomendasi teman atau kalau memiliki dana yang cukup leluasan, gunakan jasa designer lokal baik yang sudah punya nama semacam Adjie Notonegoro atau designer yang baru lulus dari ESMOD. Lagi-lagi tinggal disesuaikan dengan kemampuan kocek. Kemudahan seperti ini tidak hanya ditemukan di Jakarta, tetapi juga di kota-kota kecil lainnya. Tentu dengan kelas yang berbeda.
Industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia memang berkembang sangat pesat, walaupun akhir-akhir ini mulai terengah-engah (lagi) akibat serangan bertubi-tubi dari Cina yang menerapkan dumping harga. Seperti biasa, barang produksi Indonesia, untuk kualitas yang sama, ternyata lebih mahaldibandingkan dengan produk yang berasal dari Cina. Tentu saja masyarakat terutama dari golongan mayoritas (menengah ke bawah) lebih menyukai produk Cina.
Industri pakaian tidak hanya didominasi oleh para pemodal kuat dengan pabrik modern dengan lisensi merek-merek terkenal, tetapi juga dilakukan pengusaha rumahan. Sama sebangun dengan industri makanan dan minuman. Dengan kondisi seperti ini, tidak heran bahwa menjahit pakaian sendiri atau masak memasak tidak lagi menjadi salah satu kemampuan yang bisa dibanggakan dari anak-anak gadis jaman sekarang. Apa yang dibutuhkan sudah tersedia dengan mudahnya di berbagai tempat.
Kemampuan atas pekerjaan domestik seperti menjahit, memasak, mengatur rumah tidak lagi diminati oleh anak gadis. Apalagi orang tua masa kini akan lebih bangga bila anak gadisnya memiliki sederetan gelar akademis, dibandingkan dengan anak gadis yang memiliki kemampuan tinggi untuk pekerjaan domesti seperti menjahit atau memasak. Walaupun dengan kemampuan tersebut, ternyata si gadis bisa membuka usaha secara mandiri. Menjadi majikan untuk diri sendiri dan lingkungannya.
Seorang teman kuliah di arsitektur dulu, sekarang menjadi “komisaris” di induk perusahaan yang “main business” nya adalah pakaian muslim. Jauh melenceng dari latar belakang pendidikannya. Konon setelah berkutat lebih dari 10 tahun, usaha jahit menjahit sang istri yang semula dimaksudkan untuk menunjang ekonomi keluarga ternyata berkembang sangat baik dan melebihi dari hasil kerja sang suami. Apalagi, pada akhirnya industri rumahan itu merambah pada bidang usaha lainnya yang tidak mampu lagi ditangani sang istri. Hingga akhirnya si suami melepaskan pekerjaannya sebagai dosen dan arsitek untuk semata-mata mengurusi bisnis sang istri.
Jadi … jangan anggap enteng kemampuan menjahit atau memasak lho….! Banyak cerita sukses usaha kecil dan menengah yang berasal dari pekerjaan masak-memasak dan menjahit. Kalaupun tidak dimanfaatkan secara komersial untuk menunjang ekonomi keluarga. Paling tidak, dua kemampuan tersebut bisa mengurangi pengeluaran rutin rumah tangga. Bayangkan saja, kalau ongkos menjahit satu stel pakaian di penjahit pasar Blok M rata-rata 250 ribu rupiah, tentu bisa dibayangkan berapa jasa menjahit kelas designer. Apalagi, sudah menjadi rahasia umum, perempuan selalu merasa kekurangan pakaian, terutama saat harus menghadiri suatu acara. Betapa besar penghematan yang bisa dilakukan. Belum lagi ditambah dengan penghematan dana “makan di luar” bersama keluarga dengan menu kesukaan anak-anak “kota”, seperti pasta/pizza. Wah ……
Yuk, kita kembali menekuni pekerjaan domestik seperti menjahit dan memasak. Nggak usah jadi professional deh …. Cukup untuk menjahitkan pakaian sendiri dan anak-anak atan memasak untuk makan malam bersama dengan keluarga, satu bulan sekali. Rasakan juga nikmatnya melihat anak dan suami menikmati hasil karya kita untuk kemudian mendapat reward berupa pujian mereka ….
Lebak bulus 3 Juni 2006 – 21.10
Hari gini jahit baju sendiri ? Kuno dan ketinggalan jaman kali yee…...!! Kurang gaul …!! Gak lihat bahwa di sekeliling kita bertaburan pakaian siap pakai yang ok punya. Sebut saja, kelas pedagang kaki lima sampai kelas butik. Dari kelas jahitan dari kawasan Sukabumi Udik – Jakarta Barat atau Cipulir – Jakarta Selatan sampai dengan jahitan kelas designer top. Baik dari koleksi prêt a porter maupun haute couture, dari designer lokal sampai designer kelas dunia yang menjadi langganan selebrity internasional, semua ada di Jakarta. Harganya ….? Tentu sesuai dengan kualitas. Dari mulai harga puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Banyak pilihan …. Tinggal pilih yang sesuai dengan kemampuan kantong saja. Kalaupun, kocek agak pas-pasan namun ingin sesuatu yang exclusive, pergi saja beli bahan pakaian baik kain produksi lokal, ataupun produksi Cina, India maupun dari Paris ataupun Italy … lalu, cari model pakaian dan penjahit yang cocok. Bisa mencari penjahit yang menjajakan jasanya di pasar-pasar dekat rumah. Setingkat di atasnya penjahit rumahan atas rekomendasi teman atau kalau memiliki dana yang cukup leluasan, gunakan jasa designer lokal baik yang sudah punya nama semacam Adjie Notonegoro atau designer yang baru lulus dari ESMOD. Lagi-lagi tinggal disesuaikan dengan kemampuan kocek. Kemudahan seperti ini tidak hanya ditemukan di Jakarta, tetapi juga di kota-kota kecil lainnya. Tentu dengan kelas yang berbeda.
Industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia memang berkembang sangat pesat, walaupun akhir-akhir ini mulai terengah-engah (lagi) akibat serangan bertubi-tubi dari Cina yang menerapkan dumping harga. Seperti biasa, barang produksi Indonesia, untuk kualitas yang sama, ternyata lebih mahaldibandingkan dengan produk yang berasal dari Cina. Tentu saja masyarakat terutama dari golongan mayoritas (menengah ke bawah) lebih menyukai produk Cina.
Industri pakaian tidak hanya didominasi oleh para pemodal kuat dengan pabrik modern dengan lisensi merek-merek terkenal, tetapi juga dilakukan pengusaha rumahan. Sama sebangun dengan industri makanan dan minuman. Dengan kondisi seperti ini, tidak heran bahwa menjahit pakaian sendiri atau masak memasak tidak lagi menjadi salah satu kemampuan yang bisa dibanggakan dari anak-anak gadis jaman sekarang. Apa yang dibutuhkan sudah tersedia dengan mudahnya di berbagai tempat.
Kemampuan atas pekerjaan domestik seperti menjahit, memasak, mengatur rumah tidak lagi diminati oleh anak gadis. Apalagi orang tua masa kini akan lebih bangga bila anak gadisnya memiliki sederetan gelar akademis, dibandingkan dengan anak gadis yang memiliki kemampuan tinggi untuk pekerjaan domesti seperti menjahit atau memasak. Walaupun dengan kemampuan tersebut, ternyata si gadis bisa membuka usaha secara mandiri. Menjadi majikan untuk diri sendiri dan lingkungannya.
Seorang teman kuliah di arsitektur dulu, sekarang menjadi “komisaris” di induk perusahaan yang “main business” nya adalah pakaian muslim. Jauh melenceng dari latar belakang pendidikannya. Konon setelah berkutat lebih dari 10 tahun, usaha jahit menjahit sang istri yang semula dimaksudkan untuk menunjang ekonomi keluarga ternyata berkembang sangat baik dan melebihi dari hasil kerja sang suami. Apalagi, pada akhirnya industri rumahan itu merambah pada bidang usaha lainnya yang tidak mampu lagi ditangani sang istri. Hingga akhirnya si suami melepaskan pekerjaannya sebagai dosen dan arsitek untuk semata-mata mengurusi bisnis sang istri.
Jadi … jangan anggap enteng kemampuan menjahit atau memasak lho….! Banyak cerita sukses usaha kecil dan menengah yang berasal dari pekerjaan masak-memasak dan menjahit. Kalaupun tidak dimanfaatkan secara komersial untuk menunjang ekonomi keluarga. Paling tidak, dua kemampuan tersebut bisa mengurangi pengeluaran rutin rumah tangga. Bayangkan saja, kalau ongkos menjahit satu stel pakaian di penjahit pasar Blok M rata-rata 250 ribu rupiah, tentu bisa dibayangkan berapa jasa menjahit kelas designer. Apalagi, sudah menjadi rahasia umum, perempuan selalu merasa kekurangan pakaian, terutama saat harus menghadiri suatu acara. Betapa besar penghematan yang bisa dilakukan. Belum lagi ditambah dengan penghematan dana “makan di luar” bersama keluarga dengan menu kesukaan anak-anak “kota”, seperti pasta/pizza. Wah ……
Yuk, kita kembali menekuni pekerjaan domestik seperti menjahit dan memasak. Nggak usah jadi professional deh …. Cukup untuk menjahitkan pakaian sendiri dan anak-anak atan memasak untuk makan malam bersama dengan keluarga, satu bulan sekali. Rasakan juga nikmatnya melihat anak dan suami menikmati hasil karya kita untuk kemudian mendapat reward berupa pujian mereka ….
Lebak bulus 3 Juni 2006 – 21.10
Paris ..... le reve de mon adolescence
Paris … le reve de mon adolescence mais la vie n’etait pas si belle que j’imaginais.
Le temps passé tres vite et l’ete 1981 a ete arrive. Nous avons ete reste en ville. Mon mari a du ratrapper ses cours. Le prof Cordier allait prendre sa retraite et il a fallu “se debarasser” de mon mari ….. et transferer ses affairs de diriger des recherches a son homologue a Paris XII.
En mi octobre 1981, apres avoir regler et s’incrire a l’universite de Paris XII et retrouver un logement, mon mari a retourne me chercher et nous avons demenage en region parisienne. Notre apartement se trouvait a Stains (department Seine St Denis – 93) en banlieu nord de Paris que l’on connait plutot comme une banlieu noire. La ou la plupart des habitants sont des noirs les immigres venant de l’afrique noir et des maghrebins. Tous sont des pays qui ont ete colonialises par la France.
Mon mari a du traverser Paris, en bus devant notre batiment pour aller a St Denis. Et puis prendre le metro jusqu’a les Halles continuer en RER jusqu’a Auber et reprendre le metro jusqu’au Cite Universitaire a Creteil. L universite de Paris Val de Marne (Paris XII) se trouve a Creteil, en banlieu de sud – est de Paris. Il a fallu 2 heures ou 4 heures en total, par jours. C’etait bien fatiguant mais nous n’avons pas eu de choix. C’est la seule hebergement du CROUS destinee aux couples d’etudiants. L’appartement a Creteil n’est destine que pour des celibatairs. Deja, comparer a ceux d’Antony, mon appartement etait plus grand.
Vivre a Paris, la belle ville du monde, c’est le reve. Mais il faut bien compter aux capacite financiere. D’ailleurs, cite universitaire qui est situee a boulevard Jourdan – Paris, etait toujours plein. Alors, il nous a fallu de recevoir le logement donc le CROUS nous a reserve. Sans protestation, si non ,,, il faut se loger ailleurs, qui est surement beaucoup plus cher.
Le batiment est nomme Le Clos Saint Lazare, a 10-12 rue Charles Peguy, construit en 15 etages et mon apartement etait no. 2954 au 14eme etage. Cet appartement appartient a l’HLM (habitation a loyer modere), donc la motie des locataires sont des ouvriers. Le CROUS loue a peu pres 50 apartements de 2 pieces pour fournir les besoins des etudiants.
Dans ce batiment, il y avait un famille indonesienne venant de Sumatera Est. Le mari etait, lui aussi enseignant a l’universite Andalas, etait boursier du gouvernement francais et travaillait (faisait sa recherché) a l’Universite de Paris XIII. Ils ont deja 2 enfants.
Pendant notre sejours a Stains, nous avons passé tous les fins de semaines pour se balader a Paris, notamment au champs de Mars/la tour Eiffel, l’Arc de Triomphe, musee du Louvre ou marcher tout au long du Champs Elysee, ou bien faire des courses mensuelles a Maubert Mutualite. L’un des quartier Chinois/Asiatique de Paris. Pour ca, il faut partir aussi tot après prendre le petit dejeuner et rentrer vers 5 heures de l’apres midi en passant au restaurant chinois du quartier pour acheter du canard – laque pour diner.
En ete, visiter la tour Eiffel peut etre dire tenter la chance a renconter des compatriots. Quelque fois, nous nous somme rendu visite a nos compatriots a Antony pour dejeuner chez Mr Darmin Nasution/Sally. (Mr Darmin est maintenant Directeur General aupres de la Ministre de Finance, charge des affairs des Impots, il est un bon cuisinier).
Compte rendu a taux de vie qui est plus cher qu’a Poitiers et la fierte de ne demander en aucun aide financier aux parents, j’ai eu decide de rester a la maison et travailler comme garde d’enfants a domicile en attendant le propre bebe arrive. Mais pourquoi pas …..?? Meme quand on se rend compte que la vie est dure … on a toujours le droits d’avoir un enfant, non ….? En plus …. c’est en France … ou on puisse profiter le principe “Egalite – Fraternite – et, quoi donc, une autre …? J’ai completement oublie ….!!! Eh voila ….. Egalite – Fraternite – et Liberte …!!! La … le gouvernement francais est obliger de traiter les etrangers en egalite, sauf en cas d’election nationale. C’est a dire, comme les francais, les etrangers ont le droit aux allocation familiaux (aide financiere etc)..
Le premier bebe a garder etait une bebe d’un couple francais vivre en concubinage …. Hehe …j’ai oublie comment ca se passait qu’ils me connaissaient et m’a fait confiance pour garder leur bebe. Mais la duree de garde ne durait pas longtemps, car ils ont ete demenage. La deuxieme bebe, etait Elodie … la fille unique d’un couple refugie vietnamien, habitait dans le meme batiment et meme etage. La garde est assez long jusqu’au moment ou j’ai eu decouvert que j’etait enceinte.
Centre Protection Maternelle et Infantile.
Si je n’etait pas enceinte, je n’auriais jamais visiter PMI. Ce centre, comme Puskesmas en Indonesie est destine pour donner l’acces aux protection de sante pour des habitants (les defavorises – pauvres) du quartier residential. Tous sont gratuits. Il nous suffit de s’incrire … et c’est tout. Les personages sont tous accueillants, gentils et souriants. Le batiment a 2 etages. Au rez de chausse du batiment, est destine a la crèche avec un jardin, largement suffisant pour accomplir les besoin des enfants de s’explorer, tandis que les cabinets de medicins (gynecolog, pediatric etc) se trouve au premiere etage. Le responsable de PMI etait Mme Petit (qui n’etait pas petit comme son nom …. Mais plutot grande…. Hehehe…).
Mme Toutlemonde etait le gynecolog qui m’a recu. Elle etait belle, accueillante et elle aussi etait enceinte. Après avoir observer la grosesse, standard, elle m’a demande si j’avais la securite sociale pour assurer les frais necessaires a l’accouchement. Et bien …. voila un grand probleme, car … je n’en a pas eu encore. Ma demande au pris en charge la cotisation de securite sociale par la caisse d’allocation familliale et la maire ne me donnait pas du tout un reponse favorable. Et pourtant, j’en ai ete tres sure que j’avais ce droit.
Un vrai bataille commence ….
En france, la majorite du peuple a l’acces a la securite sociale. Personne ne peut en negliger et voila……, Jeune etrangere, enceinte, qui osait vivre en France sans assurance ……!!! A vrai dire, j’etait completement deseperer pour la proceder, jusqu’un jour ou mon amie vietnamienne (la maman d’Elodie) venait avec une idée folle …. ECRIRE une lettre a Pierre Mauroi, le PREMIER MINISTRE de l’epoque. Elle a dit qu’elle avait fait le meme demarche pour faire sortir sa famille de Vietnam. Choquee …. mais, je l’ai fait pour tenter ma chance. Qui sait …???
En meme temps, je suis allee au siege de la Caisse d’Allocation Familialle a la Pleyel pour savoir la raison de refus de prise en charge. Et voila une surprise …., c’etait parce que, le beneficiare de l’allocation de logement etait mon mari. Alors il a fallu changer de nom pourque je puisse etre ecrite officiellement dans tous les papiers concernes comme beneficiare de l’allocation. Mais, une autre probleme est arrive. Puisque la demande de la securite sociale a datee depuis plus d’un an, il m’a fallu de regler la somme de 8.000F (a l’epoque – a ete equivalent a 4 mois de bourse) pour la cotisation annuelle. En ce qui concerne mon amie indonesienne qui habitait au meme batiment et donc enceinte en meme temps, elle, elle n’avait pas de probleme car ils ont deja 2 enfant donc l’une agee de moins de 3 ans. Ce qui leur donnaient automatiqement le droit a la securite sociale.
Le temps a passé et après avoir change le nom de beneficiare de l’allocation, j’ai redepose les dossiers aupres de la securite sociale. Il n’y a eu qu’attendre. A vrai dire, j’ai attendu deseperement la reponse de la securite sociale. C’etait peut etre ma faute ….prendre le risque, d’etre enceinte en France, sans avoir une assurance de vie et de sante. Tous les problemes ont abaisse le moral. Psychologiquement, j’etais completement deprimee et cela a influence la grossese. Des le debut de 5eme mois de grossese, j ’ai subi des contraction prematurees.
En decembre 1982, la reponse du bureau de premier minister est arrive, disant que ma lettre a tire leur attention et a ete transferre au bureau concerne. J’ai pas pu tire une conclusion a cette lettre.
Le nouvel an arrive, l’accouchement a ete prevu dans 4 mois qui suit quand une lettre venant de la mairie est arrivee. Une lettre precieusement attendue … car elle m’a donne une tres belle nouvelle …. Que la maire a accorde une prise en charge de 90% du montant de la cotisation de securite sociale. Aussi tot que j’ai paye le reste de la cotisation, j’ai recu le carnet de maternite qui m’a donne un libre acces au service de maternite aussi bien qu’au tout service de sante. Quoi qu’il en soit, jai recu beaucoup d’aide de la part des personelles de PMI, entre outré, la facilite de subir un examen echography (ultrasonography – USG) qui etait assez cher, en ce moment, du secours catholique et des amis venant des pays differents.
L’accouchement.
Le jour J est arrive. Ce jours la, vendredi, dans un beau matin de printemps, par hazard, j’ai demande a mon mari de rester a la maison, faire des courses. J’ai fait la cuisine quand je me sentais de l’eau coulait. L’infirmiere m’a deja dit que c’etait le signe de l’accouchement et si le moment est arrive, il ne faut pas retarder d’aller a l’hopital. Alors, mon mari est vite sorti de l’appartement pour demander au voisin de nous accompanger a l’hopital de la Fontaine – St Denis.
Heureusement, le probleme de la securite sociale est deja resolu. J’ai eu en moi le carnet de maternite qui est indispensable pour de femme enceinte. Avec ce carnet, l’accueil de l’hopital ne demande aucun renseignement complementaire.
Arriver dans la salle d’attente specialement concu pour l’accouchement, des infirmiere a vite prepare tous ce qu’il faut a l’accouhement. Elles m’ont demande si j’ai eu l’intention de suivre l’accouchement “en direct”. Mais, j’ai eu repondu ”non”. J’ai deja regarde un film de l’accouchement au bibliotheque centre Georges Pompidou il y a eu quelque mois et je n’ai pas eu l’intention de le revoir. Pour moi, c’etait l’horreur. Mais mon mari a voulu assiter, alors on lui ai donne le vetement necessaire. Le bebe est arrive a 23h45 et a 2h du matin j’ai ete transporte dans la chambre.
Le matin, une infirmiere m’a demande si j’ai voulu allaiter mon bebe ou non, parce qu’elle est alle nous donner des medicament necessaire selon notre choix. La sale de bebe se situe entre 2 chambre et la mama est oblige de s’ocupper son bebe et la presence de l’infirmire n’est que pour surveiller et aider la maman. Je suis restee 5 jours et la nouvelle vie en trois a commence.
Les enfants …? Il parrait que la France adore les enfants.
A l’epoque, avoir des enfants et vivre en France parait agreable. Il y avait beaucoup d’avantage. Au moins, après l’accouchement, la securite sociale est devenu gratuity, et puis j’ai recu des allocation supplementaire. Mon amie indonesienne qui a habitee au 10eme etage a recu l’allocation au vacances d’ete. C’etait pour attirer les francaises a avoir beaucoup d’enfants. Mais en realite, ce sont des etrangers qui en profiter(y compris, moi meme …. Hehehe…)
Bon, je vais terminer cet histoire et amener ma fille qui est nee 15 ans plutard. au lit…..
Bonne nuit.
Lebak bulus, lundi soir le 28 may 2006
Le temps passé tres vite et l’ete 1981 a ete arrive. Nous avons ete reste en ville. Mon mari a du ratrapper ses cours. Le prof Cordier allait prendre sa retraite et il a fallu “se debarasser” de mon mari ….. et transferer ses affairs de diriger des recherches a son homologue a Paris XII.
En mi octobre 1981, apres avoir regler et s’incrire a l’universite de Paris XII et retrouver un logement, mon mari a retourne me chercher et nous avons demenage en region parisienne. Notre apartement se trouvait a Stains (department Seine St Denis – 93) en banlieu nord de Paris que l’on connait plutot comme une banlieu noire. La ou la plupart des habitants sont des noirs les immigres venant de l’afrique noir et des maghrebins. Tous sont des pays qui ont ete colonialises par la France.
Mon mari a du traverser Paris, en bus devant notre batiment pour aller a St Denis. Et puis prendre le metro jusqu’a les Halles continuer en RER jusqu’a Auber et reprendre le metro jusqu’au Cite Universitaire a Creteil. L universite de Paris Val de Marne (Paris XII) se trouve a Creteil, en banlieu de sud – est de Paris. Il a fallu 2 heures ou 4 heures en total, par jours. C’etait bien fatiguant mais nous n’avons pas eu de choix. C’est la seule hebergement du CROUS destinee aux couples d’etudiants. L’appartement a Creteil n’est destine que pour des celibatairs. Deja, comparer a ceux d’Antony, mon appartement etait plus grand.
Vivre a Paris, la belle ville du monde, c’est le reve. Mais il faut bien compter aux capacite financiere. D’ailleurs, cite universitaire qui est situee a boulevard Jourdan – Paris, etait toujours plein. Alors, il nous a fallu de recevoir le logement donc le CROUS nous a reserve. Sans protestation, si non ,,, il faut se loger ailleurs, qui est surement beaucoup plus cher.
Le batiment est nomme Le Clos Saint Lazare, a 10-12 rue Charles Peguy, construit en 15 etages et mon apartement etait no. 2954 au 14eme etage. Cet appartement appartient a l’HLM (habitation a loyer modere), donc la motie des locataires sont des ouvriers. Le CROUS loue a peu pres 50 apartements de 2 pieces pour fournir les besoins des etudiants.
Dans ce batiment, il y avait un famille indonesienne venant de Sumatera Est. Le mari etait, lui aussi enseignant a l’universite Andalas, etait boursier du gouvernement francais et travaillait (faisait sa recherché) a l’Universite de Paris XIII. Ils ont deja 2 enfants.
Pendant notre sejours a Stains, nous avons passé tous les fins de semaines pour se balader a Paris, notamment au champs de Mars/la tour Eiffel, l’Arc de Triomphe, musee du Louvre ou marcher tout au long du Champs Elysee, ou bien faire des courses mensuelles a Maubert Mutualite. L’un des quartier Chinois/Asiatique de Paris. Pour ca, il faut partir aussi tot après prendre le petit dejeuner et rentrer vers 5 heures de l’apres midi en passant au restaurant chinois du quartier pour acheter du canard – laque pour diner.
En ete, visiter la tour Eiffel peut etre dire tenter la chance a renconter des compatriots. Quelque fois, nous nous somme rendu visite a nos compatriots a Antony pour dejeuner chez Mr Darmin Nasution/Sally. (Mr Darmin est maintenant Directeur General aupres de la Ministre de Finance, charge des affairs des Impots, il est un bon cuisinier).
Compte rendu a taux de vie qui est plus cher qu’a Poitiers et la fierte de ne demander en aucun aide financier aux parents, j’ai eu decide de rester a la maison et travailler comme garde d’enfants a domicile en attendant le propre bebe arrive. Mais pourquoi pas …..?? Meme quand on se rend compte que la vie est dure … on a toujours le droits d’avoir un enfant, non ….? En plus …. c’est en France … ou on puisse profiter le principe “Egalite – Fraternite – et, quoi donc, une autre …? J’ai completement oublie ….!!! Eh voila ….. Egalite – Fraternite – et Liberte …!!! La … le gouvernement francais est obliger de traiter les etrangers en egalite, sauf en cas d’election nationale. C’est a dire, comme les francais, les etrangers ont le droit aux allocation familiaux (aide financiere etc)..
Le premier bebe a garder etait une bebe d’un couple francais vivre en concubinage …. Hehe …j’ai oublie comment ca se passait qu’ils me connaissaient et m’a fait confiance pour garder leur bebe. Mais la duree de garde ne durait pas longtemps, car ils ont ete demenage. La deuxieme bebe, etait Elodie … la fille unique d’un couple refugie vietnamien, habitait dans le meme batiment et meme etage. La garde est assez long jusqu’au moment ou j’ai eu decouvert que j’etait enceinte.
Centre Protection Maternelle et Infantile.
Si je n’etait pas enceinte, je n’auriais jamais visiter PMI. Ce centre, comme Puskesmas en Indonesie est destine pour donner l’acces aux protection de sante pour des habitants (les defavorises – pauvres) du quartier residential. Tous sont gratuits. Il nous suffit de s’incrire … et c’est tout. Les personages sont tous accueillants, gentils et souriants. Le batiment a 2 etages. Au rez de chausse du batiment, est destine a la crèche avec un jardin, largement suffisant pour accomplir les besoin des enfants de s’explorer, tandis que les cabinets de medicins (gynecolog, pediatric etc) se trouve au premiere etage. Le responsable de PMI etait Mme Petit (qui n’etait pas petit comme son nom …. Mais plutot grande…. Hehehe…).
Mme Toutlemonde etait le gynecolog qui m’a recu. Elle etait belle, accueillante et elle aussi etait enceinte. Après avoir observer la grosesse, standard, elle m’a demande si j’avais la securite sociale pour assurer les frais necessaires a l’accouchement. Et bien …. voila un grand probleme, car … je n’en a pas eu encore. Ma demande au pris en charge la cotisation de securite sociale par la caisse d’allocation familliale et la maire ne me donnait pas du tout un reponse favorable. Et pourtant, j’en ai ete tres sure que j’avais ce droit.
Un vrai bataille commence ….
En france, la majorite du peuple a l’acces a la securite sociale. Personne ne peut en negliger et voila……, Jeune etrangere, enceinte, qui osait vivre en France sans assurance ……!!! A vrai dire, j’etait completement deseperer pour la proceder, jusqu’un jour ou mon amie vietnamienne (la maman d’Elodie) venait avec une idée folle …. ECRIRE une lettre a Pierre Mauroi, le PREMIER MINISTRE de l’epoque. Elle a dit qu’elle avait fait le meme demarche pour faire sortir sa famille de Vietnam. Choquee …. mais, je l’ai fait pour tenter ma chance. Qui sait …???
En meme temps, je suis allee au siege de la Caisse d’Allocation Familialle a la Pleyel pour savoir la raison de refus de prise en charge. Et voila une surprise …., c’etait parce que, le beneficiare de l’allocation de logement etait mon mari. Alors il a fallu changer de nom pourque je puisse etre ecrite officiellement dans tous les papiers concernes comme beneficiare de l’allocation. Mais, une autre probleme est arrive. Puisque la demande de la securite sociale a datee depuis plus d’un an, il m’a fallu de regler la somme de 8.000F (a l’epoque – a ete equivalent a 4 mois de bourse) pour la cotisation annuelle. En ce qui concerne mon amie indonesienne qui habitait au meme batiment et donc enceinte en meme temps, elle, elle n’avait pas de probleme car ils ont deja 2 enfant donc l’une agee de moins de 3 ans. Ce qui leur donnaient automatiqement le droit a la securite sociale.
Le temps a passé et après avoir change le nom de beneficiare de l’allocation, j’ai redepose les dossiers aupres de la securite sociale. Il n’y a eu qu’attendre. A vrai dire, j’ai attendu deseperement la reponse de la securite sociale. C’etait peut etre ma faute ….prendre le risque, d’etre enceinte en France, sans avoir une assurance de vie et de sante. Tous les problemes ont abaisse le moral. Psychologiquement, j’etais completement deprimee et cela a influence la grossese. Des le debut de 5eme mois de grossese, j ’ai subi des contraction prematurees.
En decembre 1982, la reponse du bureau de premier minister est arrive, disant que ma lettre a tire leur attention et a ete transferre au bureau concerne. J’ai pas pu tire une conclusion a cette lettre.
Le nouvel an arrive, l’accouchement a ete prevu dans 4 mois qui suit quand une lettre venant de la mairie est arrivee. Une lettre precieusement attendue … car elle m’a donne une tres belle nouvelle …. Que la maire a accorde une prise en charge de 90% du montant de la cotisation de securite sociale. Aussi tot que j’ai paye le reste de la cotisation, j’ai recu le carnet de maternite qui m’a donne un libre acces au service de maternite aussi bien qu’au tout service de sante. Quoi qu’il en soit, jai recu beaucoup d’aide de la part des personelles de PMI, entre outré, la facilite de subir un examen echography (ultrasonography – USG) qui etait assez cher, en ce moment, du secours catholique et des amis venant des pays differents.
L’accouchement.
Le jour J est arrive. Ce jours la, vendredi, dans un beau matin de printemps, par hazard, j’ai demande a mon mari de rester a la maison, faire des courses. J’ai fait la cuisine quand je me sentais de l’eau coulait. L’infirmiere m’a deja dit que c’etait le signe de l’accouchement et si le moment est arrive, il ne faut pas retarder d’aller a l’hopital. Alors, mon mari est vite sorti de l’appartement pour demander au voisin de nous accompanger a l’hopital de la Fontaine – St Denis.
Heureusement, le probleme de la securite sociale est deja resolu. J’ai eu en moi le carnet de maternite qui est indispensable pour de femme enceinte. Avec ce carnet, l’accueil de l’hopital ne demande aucun renseignement complementaire.
Arriver dans la salle d’attente specialement concu pour l’accouchement, des infirmiere a vite prepare tous ce qu’il faut a l’accouhement. Elles m’ont demande si j’ai eu l’intention de suivre l’accouchement “en direct”. Mais, j’ai eu repondu ”non”. J’ai deja regarde un film de l’accouchement au bibliotheque centre Georges Pompidou il y a eu quelque mois et je n’ai pas eu l’intention de le revoir. Pour moi, c’etait l’horreur. Mais mon mari a voulu assiter, alors on lui ai donne le vetement necessaire. Le bebe est arrive a 23h45 et a 2h du matin j’ai ete transporte dans la chambre.
Le matin, une infirmiere m’a demande si j’ai voulu allaiter mon bebe ou non, parce qu’elle est alle nous donner des medicament necessaire selon notre choix. La sale de bebe se situe entre 2 chambre et la mama est oblige de s’ocupper son bebe et la presence de l’infirmire n’est que pour surveiller et aider la maman. Je suis restee 5 jours et la nouvelle vie en trois a commence.
Les enfants …? Il parrait que la France adore les enfants.
A l’epoque, avoir des enfants et vivre en France parait agreable. Il y avait beaucoup d’avantage. Au moins, après l’accouchement, la securite sociale est devenu gratuity, et puis j’ai recu des allocation supplementaire. Mon amie indonesienne qui a habitee au 10eme etage a recu l’allocation au vacances d’ete. C’etait pour attirer les francaises a avoir beaucoup d’enfants. Mais en realite, ce sont des etrangers qui en profiter(y compris, moi meme …. Hehehe…)
Bon, je vais terminer cet histoire et amener ma fille qui est nee 15 ans plutard. au lit…..
Bonne nuit.
Lebak bulus, lundi soir le 28 may 2006
Mengapa Wanita Saling Menyakiti...?
Hari minggu ini, ada acara keluarga. Ibu mertua, ulang tahun yang ke 84 tahun. Seperti biasa, anak menantu dan cucu-cucunya berkumpul, membaca doa diakhiri dengan makan siang bersama, sambil ngobrol. Kalau tidak begitu, anggota keluarga besar tidak akan pernah berkumpul lengkap. Semua larut dalam kesibukan masing-masing atau sok sibuk.
Aku datang agak telat, karena salah satu teman kantor, menikah di Puri Caping Gunung – salah satu restoran di TMII. Jadi setelah mengantar makanan dan suami, yang tentu lebih memilih berkumpul dengan kakak adiknya, dibandingkan dengan mengantar istrinya ke pesta pernikahan, ditemani gadis kecilku, aku pergi dulu menghadiri acara pernikahan tersebut. Usai pesta pernikahan, aku kembali ke cipinang, bergabung dengan yang lain.
Topik obrolan kali ini, selain tentang gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tentu saja tak terlewatkan tentang kasus keluarga Bambang Trihatmodjo, anak ke 3 Suharto. Apalagi beberapa kakak iparku memang mengenal mereka sejak jaman mereka masih kecil dan latihan pramuka bersama di kawasan Menteng.
Aku teringat pada temanku[1] Sedang apa dia sekarang, dan bagaimana perkembangan hubungan dengan suaminya. Dalam percakapan terakhir per telpon, 6 bulan yang lalu, dia mengatakan bahwa mereka sudah mencapai kesepakatan di hadapan orangtua dari kedua belah pihak. Temanku masih ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan bersedia menerima WIL suaminya sebagai istri kedua. Namun sayangnya, niat baik itu tidak diterima oleh suami yang sedang keblinger.
Hubungan suami istri itu memang sudah semakin jauh. Sang suami sudah tidak lagi pulang ke rumah mereka karena sudah membentuk rumah tangga baru, walau belum menikah secara resmi. Ajaran agama sudah ditinggalkan. Hidup sudah bergelimpangan dengan kemewahan duniawi. Dugem dan minuman keras sudah menjadi bagian keseharian pasangan baru itu. Itu saja yang kudengar.
Karena itu, kepada istri kakak iparku, yang tinggal di komplek perumahan yang sama, tadi kutanyakan kabar Ine.
“Sudah masuk sidang di pengadilan agama. Hubungan mereka sudah tidak bisa diperbaiki, karena WIL tidak mau dimadu dan meminta suami Ine untuk menceraikan istrinya”.
Mungkin lebih baik begitu …. Kalau cinta sudah tidak ada di hati, untuk apa lagi mempertahankan hipokrisi di dalam rumah.
Jatuh cinta memang suatu yang aneh. Lelaki memang mahluk yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Berpetualang termasuk juga berpetualang dalam kehidupan cinta kasih, mungkin menjadi bagian dari tantangan hidup dan stimulan yang membuat lelaki tetap bergairah. Itu kata orang. Namun, mengapa banyak perempuan yang larut dalam jebakan petualangan cinta lelaki beristri? Mereka bahkan seperti terlena akan bujuk rayu sehingga rela melakukan apa saja, bahkan hingga ke jenjang pernikahan resmi maupun tidak. Bukankah hal itu sangat menyakitkan bagi para perempuan lainnya (istri si lelaki dan keluarganya). Tidak pernahkah para perempuan itu berpikir, bahwa suatu saat … si lelaki akan memulai kembali petualangannya untuk mendapatkan yang ke tiga, ke empat dan seterusnya? Apakah hanya persaingan antar perempuan atau ada motif lainnya? Salah satunya, katakanlah sebagai cara mewujudkan angan-angan untuk memiliki kemapanan status ( sebagai istri dan dalam hal financial) secara instant karena konon lelaki yang “bermain mata dan berpetualang” umumnya mereka yang sudah mapan … fisik, materi dan kejiwaan sehingga mereka sangat mampu memukau dan memanipulir perasaan perempuan.
Di lain pihak, para perempuan yang disakiti hatinya, juga memperlihatkan reaksi yang agak sulit diterka maknanya. Mengapa mereka mati-matian mempertahankan keutuhan rumah tangga yang jelas-jelas sudah tersusupi aroma perselingkuhan. Apakah itu karena rasa cinta yang terlalu besar kepada suami, rasa kasihan kepada anak-anaknya yang mungkin akan tersia-siakan, atau tanda ketidakmampuan perempuan untuk hidup mandiri dan keengganan kehilangan “kemapanan” baik dalam status sebagai istri maupun kemapanan finansial? Walaupun untuk itu, sebetulnya harga diri perempuan sudah tercabik-cabik. Padahal, dari banyak perempuan yang teraniaya perasaannya, banyak pula yang tergolong ” mandiri” dalam arti kata memiliki pekerjaan yang layak sehingga mapan secara financial Entahlah … setiap orang memiliki hak untuk memilih, apapun yang melatarbelakangi keputusannya.
Mungkin perlu dipikirkan, bagaimana cara agar anak perempuan kita mampu berkata “TIDAK” kepada para lelaki petualang. Terutama kepada lelaki beristri yang mencoba "mendekati". Bukankah petualangan lelaki (yang secara langsung menyakiti hati perempuan/istrinya) merupakan salah satu bentuk non fisik dari KDRT? Mengapa perempuan tidak memanfaatkan secara maksimal keberadaan Undang-undang tentang KDRT untuk kepentingan dirinya dari tindak kesewenang-wenangan suami? Mengapa perempuan masih lebih suka terbuai dalam kemapanan status (sebagai istri), kemapanan keuangan dengan berbagai dalih, walaupun untuk itu perempuan lalu membiarkan KDRT terjadi di dalam rumahnya sendiri. Kalau begitu, bagaimana mungkin para perempuan itu mampu mendidik anak-anak gadis mereka untuk “mandiri dalam segala hal” bila para ibu lebih suka menjadi “sub-ordinate“ para suami sambil membiarkan KDRT terjadi dan tidak mampu menjadi “dirinya” sendiri?
Perkawinan merupakan komitmen dari dua belah pihak. Bila salah satu pihak melanggar komitmen dan setelah “diperingatkan” berulang kali namun sama sekali tidak terlihat perbaikan dan bahkan terlihat keengganan untuk kembali kepada komitmen lama atau memperbaiki/merevisi komitmen agar sesuai dengan waktu dan perkembangan kehidupan pasangan suami istri. Masih adakah gunanya suatu pernikahan dipertahankan untuk kemudian “melahirkan” pasangan suami istri yang hipokrit?
*****
Ini baru satu bentuk “saling menyakiti” antar perempuan.. Bentuk lainnya adalah hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuan yang seringkali saling “cakar mencakar” untuk memperebutkan perhatian seorang lelaki. Anak lelaki dari perempuan yang satu sekaligus suami perempuan yang lain. Waduh …. Ini juga sama rumitnya … saling bersaing apalagi kalau mereka masih hidup satu atap di perumahan Mertua Indah. Atau persaingan antara anak perempuan dengan ibunya dalam merebut perhatian bapak/suami. Duh…. Rumit euy…!!! Kumaha atuh??? Kenapa nggak saling memahami dan menghormati hak-hak satu sama lain ya….Biar aman, damai dan tenteram ….
Lebak bulus, minggu 28 mei 06 – reedit senin 29 mei 2006 jam 20.25
Aku datang agak telat, karena salah satu teman kantor, menikah di Puri Caping Gunung – salah satu restoran di TMII. Jadi setelah mengantar makanan dan suami, yang tentu lebih memilih berkumpul dengan kakak adiknya, dibandingkan dengan mengantar istrinya ke pesta pernikahan, ditemani gadis kecilku, aku pergi dulu menghadiri acara pernikahan tersebut. Usai pesta pernikahan, aku kembali ke cipinang, bergabung dengan yang lain.
Topik obrolan kali ini, selain tentang gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tentu saja tak terlewatkan tentang kasus keluarga Bambang Trihatmodjo, anak ke 3 Suharto. Apalagi beberapa kakak iparku memang mengenal mereka sejak jaman mereka masih kecil dan latihan pramuka bersama di kawasan Menteng.
Aku teringat pada temanku[1] Sedang apa dia sekarang, dan bagaimana perkembangan hubungan dengan suaminya. Dalam percakapan terakhir per telpon, 6 bulan yang lalu, dia mengatakan bahwa mereka sudah mencapai kesepakatan di hadapan orangtua dari kedua belah pihak. Temanku masih ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan bersedia menerima WIL suaminya sebagai istri kedua. Namun sayangnya, niat baik itu tidak diterima oleh suami yang sedang keblinger.
Hubungan suami istri itu memang sudah semakin jauh. Sang suami sudah tidak lagi pulang ke rumah mereka karena sudah membentuk rumah tangga baru, walau belum menikah secara resmi. Ajaran agama sudah ditinggalkan. Hidup sudah bergelimpangan dengan kemewahan duniawi. Dugem dan minuman keras sudah menjadi bagian keseharian pasangan baru itu. Itu saja yang kudengar.
Karena itu, kepada istri kakak iparku, yang tinggal di komplek perumahan yang sama, tadi kutanyakan kabar Ine.
“Sudah masuk sidang di pengadilan agama. Hubungan mereka sudah tidak bisa diperbaiki, karena WIL tidak mau dimadu dan meminta suami Ine untuk menceraikan istrinya”.
Mungkin lebih baik begitu …. Kalau cinta sudah tidak ada di hati, untuk apa lagi mempertahankan hipokrisi di dalam rumah.
Jatuh cinta memang suatu yang aneh. Lelaki memang mahluk yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Berpetualang termasuk juga berpetualang dalam kehidupan cinta kasih, mungkin menjadi bagian dari tantangan hidup dan stimulan yang membuat lelaki tetap bergairah. Itu kata orang. Namun, mengapa banyak perempuan yang larut dalam jebakan petualangan cinta lelaki beristri? Mereka bahkan seperti terlena akan bujuk rayu sehingga rela melakukan apa saja, bahkan hingga ke jenjang pernikahan resmi maupun tidak. Bukankah hal itu sangat menyakitkan bagi para perempuan lainnya (istri si lelaki dan keluarganya). Tidak pernahkah para perempuan itu berpikir, bahwa suatu saat … si lelaki akan memulai kembali petualangannya untuk mendapatkan yang ke tiga, ke empat dan seterusnya? Apakah hanya persaingan antar perempuan atau ada motif lainnya? Salah satunya, katakanlah sebagai cara mewujudkan angan-angan untuk memiliki kemapanan status ( sebagai istri dan dalam hal financial) secara instant karena konon lelaki yang “bermain mata dan berpetualang” umumnya mereka yang sudah mapan … fisik, materi dan kejiwaan sehingga mereka sangat mampu memukau dan memanipulir perasaan perempuan.
Di lain pihak, para perempuan yang disakiti hatinya, juga memperlihatkan reaksi yang agak sulit diterka maknanya. Mengapa mereka mati-matian mempertahankan keutuhan rumah tangga yang jelas-jelas sudah tersusupi aroma perselingkuhan. Apakah itu karena rasa cinta yang terlalu besar kepada suami, rasa kasihan kepada anak-anaknya yang mungkin akan tersia-siakan, atau tanda ketidakmampuan perempuan untuk hidup mandiri dan keengganan kehilangan “kemapanan” baik dalam status sebagai istri maupun kemapanan finansial? Walaupun untuk itu, sebetulnya harga diri perempuan sudah tercabik-cabik. Padahal, dari banyak perempuan yang teraniaya perasaannya, banyak pula yang tergolong ” mandiri” dalam arti kata memiliki pekerjaan yang layak sehingga mapan secara financial Entahlah … setiap orang memiliki hak untuk memilih, apapun yang melatarbelakangi keputusannya.
Mungkin perlu dipikirkan, bagaimana cara agar anak perempuan kita mampu berkata “TIDAK” kepada para lelaki petualang. Terutama kepada lelaki beristri yang mencoba "mendekati". Bukankah petualangan lelaki (yang secara langsung menyakiti hati perempuan/istrinya) merupakan salah satu bentuk non fisik dari KDRT? Mengapa perempuan tidak memanfaatkan secara maksimal keberadaan Undang-undang tentang KDRT untuk kepentingan dirinya dari tindak kesewenang-wenangan suami? Mengapa perempuan masih lebih suka terbuai dalam kemapanan status (sebagai istri), kemapanan keuangan dengan berbagai dalih, walaupun untuk itu perempuan lalu membiarkan KDRT terjadi di dalam rumahnya sendiri. Kalau begitu, bagaimana mungkin para perempuan itu mampu mendidik anak-anak gadis mereka untuk “mandiri dalam segala hal” bila para ibu lebih suka menjadi “sub-ordinate“ para suami sambil membiarkan KDRT terjadi dan tidak mampu menjadi “dirinya” sendiri?
Perkawinan merupakan komitmen dari dua belah pihak. Bila salah satu pihak melanggar komitmen dan setelah “diperingatkan” berulang kali namun sama sekali tidak terlihat perbaikan dan bahkan terlihat keengganan untuk kembali kepada komitmen lama atau memperbaiki/merevisi komitmen agar sesuai dengan waktu dan perkembangan kehidupan pasangan suami istri. Masih adakah gunanya suatu pernikahan dipertahankan untuk kemudian “melahirkan” pasangan suami istri yang hipokrit?
*****
Ini baru satu bentuk “saling menyakiti” antar perempuan.. Bentuk lainnya adalah hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuan yang seringkali saling “cakar mencakar” untuk memperebutkan perhatian seorang lelaki. Anak lelaki dari perempuan yang satu sekaligus suami perempuan yang lain. Waduh …. Ini juga sama rumitnya … saling bersaing apalagi kalau mereka masih hidup satu atap di perumahan Mertua Indah. Atau persaingan antara anak perempuan dengan ibunya dalam merebut perhatian bapak/suami. Duh…. Rumit euy…!!! Kumaha atuh??? Kenapa nggak saling memahami dan menghormati hak-hak satu sama lain ya….Biar aman, damai dan tenteram ….
Lebak bulus, minggu 28 mei 06 – reedit senin 29 mei 2006 jam 20.25
Langganan:
Postingan (Atom)
BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺
Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa Mensholatkan kita... Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...
-
Sebelum tulisan ini dilanjutkan, saya perlu meminta maaf terlebih dulu pada mereka yang berprofesi sebagai supir pribadi. Sungguh, tidak ...
-
Hari Selasa 24 Oktober 2006 yang lalu, Lebaran hari pertama atau hari kedua bagi yang mengikuti jadwal lebaran versi Muhammadiyah, pada si...
-
Bulan Sya'ban/September 2006 ini memang bulan pilihannya masyarakat untuk menyelenggarakan pernikahan. Jadi jangan heran, kalau dalam s...



