Jumat, 21 Mei 2010

Pelayanan Kesehatan

Sebel denganu asistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Sdh daftar n datang sebelum waktunya, eh dokternya sedang "lari" ke RS yang lain tanpa bisa diketahui jam berapa dia kembali atau apakah dia akan kembali lagi ke RS
---

Ini cerita pengalaman pribadi berurusan dengan rumah sakit. Semoga.... gua nggak dituntut seperti Prita Mulyasari ... makanya
gua nggak bakal nyebut nama RS nya deh.
Sudah lebih dari 5 tahun, alhamdulillah, saya tidak pernah berurusan dengan rumah sakit. Terakhir kali... ya lebih dari 5 tahun itupun karena terpaksa.

Seperti biasa, penyakit yang mampir di badan, biasanya cuma batuk atau pilek dan tanpa obat-obatan kimiawi, batuk atau pilek itupun hilang dengan sendirinya, Biasanya dibantu dengan pijat/refleksi, minum rebusan jahe+gula batu+perasan jeruk nipis setiap malam. Tapi ada kejadian yang menyebabkan saya harus berurusan dengan rumah sakit....

Saat itu, karena lendir dalam hidung agak bandel sehingga untuk mengeluarkannya harus menggunakan "tenaga" dorong yang kuat. Akibatnya ... ada kebocoran dari lubang hidung sebelah kiri ke telinga kanan. Gimana kejadian dan rasanya?

Nah, hari itu usai makan siang dan shalat dhuhur.... sambil ngetik di notebook... tiba-tiba terasa seperti ada korsleting listrik di telinga kanan. Betul-betul bunyinya seperti kalau ada dua kabel "telanjang" tersambung. Nggak sampe satu menit... terasa ada cairan mengalir dari telinga yang "korslet" tadi. Saya ambil tissu untuk melapnya.... terlihat basah oleh cairan bening. Tapi si cairan... walau hanya sedikit tapi tetap mengalir dan lama kelamaan warnanya berubah menjadi kekuningan dan akhirnya agak kemerahan.

Saat melihat cairan berubah warna menjadi kemerahan, saya segera sadar bahwa betul-betul ada yang nggak beres dengan telinga kanan saya. Untungnya .... supir kantor ada yang sedang "menganggur" sehingga saya bisa minta antar ke sebuah RS, tidak jauh dari kantor.

Maka... sayapun ditangani oleh dokter THT, yang dengan sedikit "mengomel", membersihkan telinga saya lalu memberikan resep dengan pesan harus kembali lagi 1 minggu kemudian setelah obat habis.

Kenapa dia ngomel..... Karena ... saya dianggap bandel... Batu/pilek tapi nggak mau berobat ke dokter. Si dokter kali nggak tahu kalau..... sumpah mati... saya termasuk golongan orang yang tidak percaya dengan pengobatan kedokteran "modern" yang menjejali pasien dengan obat2an kimiawi.

Tapi, ya sudahlah... dokter mau ngomong apa, toh saya sebagai pasien punya hak sendiri, mau nurut atau nggak. Jadi telan aja tu omongan... hehehe... Jadi kembalilah saya ke kantor dengan sekantong obat-obatan kimiawi yang amit-amit... kalo nggak kepaksa banget, pasti udah saya buang ke selokan di pinggir jalan.

Hari pertama, untungnya Sabtu... jadi saya bisa istirahat di rumah sambil berusaha mendisiplinkan diri minum obat yang harganya mahal.... Konon begitulah maunya dokter... Ngasi obat paten buat pasien, supaya komisi dari pabrik obat makin gede.... Yang ini sudah jadi rahasia umum-lah...

Hari ke 3, Senin... ternyata kondisi saya bukan malah lebih baik.... tetapi saya malah "terkapar" nggak bisa bangun. Terpaksalah telpon ke kantor, minta ijin nggak masuk... lalu telpon adik saya ... menceritakan segala sesuatu yang terjadi sambil menyebutkan nama obat yang dikasih dokter THT itu.

"Gila ...." teriak adik saya di telpon.
"Mau bunuh nyamuk aja pake bom...!!!" begitu komentarnya saat saya menyebutkan merek dagang antibiotik yang saya minum selama 7x.
"Tentu lambungmu nggak tahan... kamu yang nggak pernah minum obat dikasih bom antibiotik. Sudah ganti dengan ini...., minum 3x sehari sampai habis!", begitu katanya sambil menyebutkan merek antibiotik pengganti.
Maka, sang suami terpaksa pergi dulu ke apotik sebelum berangkat ke kantor dan setelah mengganti antibiotik itu saya bisa tidur dengan nyaman dan keesokan harinya sudah bisa masuk kantor lagi dan sejak saat itu .... saya tidak pernah mau lagi minum obat kimiawi kecuali dalam keadaan terpaksa, dimana rasa sakit betul-betul sudah tak tertahankan lagi. Alhamdulillah hal tersebut sudah berjalan lebih dari enam tahun hingga..... tibalah kejadian sekitar hampir 4 minggu yang lalu.

Nah... saat itu, suami pulang dari Johor Bahru/Singapore membawa oleh-oleh batuk dan pilek. Sebetulnya... tidur dengan suami yang kena batuk/pilek sudah biasa. Kalau saya sudah merasa "bakal kena", biasanya saya minta dibuatkan ramuan khusus dalam mug super besar untuk diminum sepanjang malam. Apalagi kalau bukan rebusan jahe+gula batu+perasan jeruk nipis. Lalu pagi-pagi setelah anak pergi ke sekolah, saya akan tidur lagi 1 jam, baru mandi dan berangkat ke kantor. Itu sudah cerita klasik, yang sekretaris kantor sudah hafal betul karena sudah berjalan hampir 6 tahun dan dengan cara itu relatif saya tidak pernah "bolos" kantor karena sakit.

Kali ini... entah karena virusnya made in Johor Bahru/Singapore atau mungkin Allah SWT ingin menyentil saya karena "kejumawaan" saya atas kondisi kesehatan yang relatif prima untuk orangyang sudah berumur hampir balak lima, kiat-kiat yang biasanya manjur ternyata bablas...... 4 hari saya terkapar di rumah. Kalau hanya sekedar batuk/pilek saja, saya masih berani berangkat ke kantor. Tapi untuk kali ini, dibarengi dengan sakit kepala yang amat sangat dan deman setiap malam dan pagi hari. Bahkan saking nggak tahannya dengan rasa sakit kepala, saya sempat masuk UGD untuk mendapat 2 flacon cairan infus termasuk 1 flacon paracetamol.

Setelah sempat nggak masuk selama 4 hari kerja, minggu kedua, karena sakit kepala sudah reda, maka saya mulai masuk kantor. Berangkat sedikit lebih siang dan pulang lebih cepat karena kondisi terasa masih belum 100% pulih.

Nah... lagi-lagi, di hari jum'at setelah makan siang, terasa ada yang mengalir dari telinga kanan. Persis di tempat yang dulu lagi. Memang ... sejak mulai batuk pilek, saya sudah agak waswas dengan "kelemahan" hidung-telinga akibat "kebocoran" yang telah terjadi + 6 tahun yang lalu. Apalagi setiap lendir keluar dari hidung, terlihat warna yang berbeda. Lendir yang keluar dari hidung sebelah kanan berwarna kecoklatan seperti tercampur darah. Mungkin sedikit mimisan.

Sayangnya Jum'at malam itu, saya tidak bisa ke RS, kali ini yang ada dekat rumah, karena dokternya sudah pulang. Jadi baru keesokan paginya saya kembali ke RS.

Dokter THT, perempuan, yang menangani cukup baik walau agak "sebel", kali ya... karena saya tidak mencatat antibiotik yang 6 tahun lalu menyebabkan saya terkapar serta antibiotik pengganti yang diresepkan oleh adik saya. Tapi... siapa sih yang ingat dengan obat yang diminum 6 tahun lalu, apalagi buat saya yang nggak suka obat-obatan kimiawi?

Lalu, diberikanlah sekantong obat, berupa clavamox (amoxillin sang antibiotik) - mucopec untuk batuk dan Rhino untuk pilek. Antibiotiknya dihabiskan..... Ini SOP standar penggunaan antibiotik. Ya sudah.... terpaksa manut.... Cuma sebalnya... saat diperiksa... "kebocoran" itu tak terdeteksi, apalagi cairannya juga sudah berhenti mengalir. Jadi bu dokter nggak ngasi obat telinga.

Apa yang terjadi...? sore harinya, kepala saya sebelah kanan dari ubun-ubun sampai tempurung otak di atas tulang tengkuk  sakit bukan kepalang dan ini berlangsung selama 3 hari sehingga hari Senin saya kembali nggak masuk kantor. Ampyun deh.....

Hari ini .... antibiotik sudah habis. Batuk walaupun sudah tidak ada lagi, tapi saya merasa masih ada sisa batuk yang "mengganjal" rongga dada sehingga napas saya terasa pendek.
Telinga saya hanya berfungsi 50%, sehingga suara di sekitar terdengar sayup-sayup.

Itu sebabnya, hari ini saya pulang agak cepat setelah dibuatkan janji untuk kembali ke ruang praktek bu dokter. Maka, usai shalat ashar saya bergegas meninggalkan kantor agak tidak terlambat. Apalagi terlihat mendung mulai menggayuti langit di selatan Jakarta.

Tiba di RS, di tempat pendaftaran... sang petugas bilang begini :
"Maaf bu .... dokternya baru keluar. Ada panggilan dari RS."
Disebutkannya nama sebuah RS yang jaraknya sekitar 5km dari RS tempat saya akan berobat. Tapi... pada jam sore tersebut yang pasti akan sangat macet, jarak 5km bisa ditempuh dalam waktu 1 jam.

"Berapa lama dia akan berada disana?", tanya saya
"Entah bu, kami belum bisa memastikannya. Tapi kalau mau ibu bisa menunggu..."
Hah.....Nunggu tanpa kejelasan berapa lama.... Yang bener aja? Apalagi di luar terlihat hujan sudah mengguyur tanah dengan deras.

Saya berhitung waktu ... Saat itu jam 17.00 dan dokter baru 20 menit berangkat untuk menangangi pasiennya di RS lain yang sedang gawat. Jarak 5 km di Jum'at sore dengan kondisi hujan deras, pasti akan memakan waktu 1 jam atau 2 jam pergi pulang. Kalau bu dokter mampu menangani pasiennya dalam waktu 1 jam, maka berarti 3 jam waktu yang digunakannya. Kalau saya menunggu, artinya paling cepat jam 19.00 dia baru kembali. Padahal jelas-jelas jam prakteknya hanyasampai jam 18.00.

Nggak peduli tas kerjanya masih ada di ruang praktek, siapa yang bisa menjamin dokter akan kembali ke RS di luar jam prakteknya untuk menangani pasiennya? Soal tas...? gampang saja kan.... Tinggalkan saja di RS, toh Sabtu pagi dia akan kembali praktek. Tinggal telpon ke perawat untuk memintanya menyimpan tas..... dan pasien yang menunggu....? silakan gigit jari....dan pulanglah....

Mungkin saya terlalu berburuk sangka, tapi cerita dokter lari kesana-kemari, dari warung (ini istilah umum untuk menyebut tempat praktek) yang satu ke warungnya yang lain, sudah jadi cerita klasik khas kota besar di Indonesia. Kenapa untuk "menghidupi" dirinya secara layak, dokter harus berpaktek disana-sini sehingga menerlantarkan pasien-pasiennya di satu tempat prakteknya. Apakah tidak mungkin mereka mendapatkan penghasilan yang cukup besar sehingga tidak perlu "buka warung" di setiap pojokan?

Semoga, para dokter tidak termasuk golongan kaum hedonis di Indonesia yang tak pernah terpuaskan naluri kebendaannya, sehigga seberapa besarpun penghasilan, tidak pernah akan mencukupi.

Entah kapan hak-hak pasien terlayani dengan baik ...

Kamis, 22 April 2010

Inikah hasil perjuangan Kartini

Rabu malam, tepat pada hari dimana Indonesia merayakan hari Kartini, memperingati hari lahirnya perempuan Jawa yang dianggap pelopor "persamaan hak antara lelaki dan perempuan Indonesia, sekitar jam 20.15 saya pergi ke citos alias Cilandak Town Square untuk beli roti. Belakangan ini, anakku lagi doyan roti dari salah satu bakery yang ada di Citos itu. Biasanya kalau ke Citos jam segitu, kecuali jum'at malam, parkir sudah agak kosong. Namun malam itu, pelataran parkir masih sangat penuh.

Naik ke lantai dasar, saya agak kaget karena hampir tidak ada area kosong di sepanjang pedestrian utama. Semua penuh dengan stand yang bertuliskan lady's day. Oh... baru ingat bahwa setiap hari Rabu, Citos menyelenggarakan Lady's day dan saya baru menyadari bahwa hampir 99.9% isi both berkaitan dengan "PIRANTI" perempuan. Yang terbanyak sudah pasti.... BAJU.... lalu assesoris baik berupa kalung, gelang yang etnis maupun logam dengan desain modern.

Hari ini ...., sehari setelah perayaan Hari Kartini, menjelang pulang kantor, seorang rekan dari Manado datang dengan sepupunya. Rekan dari Manado itu memang selalu mampir ke kantor, sebagian besar untuk mengantarkan makanan khas Manado baik berupa ikan bakar, sayur mayurnya bahkan klappertaart dan dodol Manado yang harum lembut dan menjadi kesukaan saya.

Sang sepupu, rupanya pedagang berlian yang baru saja selesai menjajakan dagangannya di suatu pertemuan "ibu2 jetset dan sosialita" Jakarta. Di kamar kerja rekan saya, dia membuka "barang dagangan"nya dan memamerkannya pada rekan saya yang kemudian mencoba beberapa barang di antaranya.

Sambil menjelaskan barang-barang dagangan bertatahkan berlian berharga puluhan bahkan hingga ratusan juta untuk berlian soliter berukuran 2,5 cts, dia dengan bangganya menceritakan bahwa dalam satu kesempatan .... seorang pejabat dan istrinya memborong 10 unit barang dagangannya. Bayangkan .... andai rata-rata harga perhiasan yang diambilnya itu senilai 75 juta per unit, maka dia telah menghabiskan dana sebesar 750 juta, 3x bayar katanya alias 3 @ 250juta.

Lalu mengalirlah cerita mengenai klien-klien alias para pelanggannya yang rata-rata seringkali membeli berlian berharga ratusan juta rupiah. Tidak itu saja.... dia juga mengatakan bahwa di dalam mobilnya masih ada tas perempuan merek Hermes crocos asli seharga 750 juta atau tas Hermes seperti yang dipakainya seharga 90 juta rupiah.

Bosan mendengar celotehan yang menurut saya "nggak mutu" karena memang bukan "level" hidup saya, pelan-pelan saya mengundurkan diri dan kembali ke ruang kerja saya. Nggak mutu dan bukan level saya, bukan berarti merendahkan mereka yang memiliki selera seperti itu, tetapi lebih dikarenakan saya memang tidak atau belum masuk kategori perempuan-perempuan yang mampu membeli barang2 mahal tersebut. Memang mutu dan level saya masih sangat rendah...

Lamat-lamat masih terdengar "undangan" rekan kerja saya agar dia datang ke beberapa arisan yang diikutinya dimana banyak ibu-ibu sosialita dan istri pejabat baik level daerah maupun level nasional menjadi anggotanya. Disana..., katanya dagangan berlian seharga ratusan juta biasa diperebutkan seperti membeli pisang goreng.

Entah apa yang ada dalam pikiran ibu Kartini bila mengetahui bahwa perempuan Indonesia yang diperjuangkan pendidikan dan hak-haknya sebagai manusia masih belum beranjak dari "baju dan perhiasan"...

Senin, 05 April 2010

balada malam hari

Malam minggu di awal April, kebetulan long week end untuk merayakan Paskah. Jum'at pagi jam 08.00, tanpa terduga, bel rumah berdenting. Keponakanku seperti biasa datang. Hal ini sudah menjadi rutinitas kegiatan liburannya bila kami tidak berkunjung ke Bandung, tempatnya tinggal. Tidak heran ... saudara-saudaranya selalu berkomentar "anak kost" pulang kampung ... Padahal, dia tinggal dengan orangtuanya di Bandung.

Seperti biasa juga dia akan meminta kami mengajaknya jalan-jalan, walau tanpa tujuan. Jum'at malam, kami berempat menghabiskan waktu di Grand Indonesia. Ini kali pertama kali berkunjung ke Mall yang berlokasi di bunderan Hotel Indonesia. Mall besar super mewah yang lebih banyak dikunjungi golongan atas.

Tentu bukan karena kami termasuk golongan atas, sehingga Mall tersebut menjadi tujuan tempat makan malam, tapi karena tempat itu memang belum pernah didatangi dan pilihan tempat lainnya ditolak anak dan keponakanku. Mereka memang sudah lama ingin berkunjung ke Grand Indonesia.

Maka.... makanlah keluarga kecil dengan dua anak ini, di... entah lantai berapa. Tapi food areanya memang sangat nyaman dengan suasana pedestrian. Pilihannya nggak jauh-jauh dari mie/pasta dan kali ini pasta/mie campuran a la Jepun & Italiano. Nama restonya beraroma Jepun, namun sajian makanannya lebih mengarah ke selera Italiano. Jangan tanya berapa biayanya... tapi pasti lebih murah dari hidangan makan malam saat pernikahan Ardie Bakrie dan Nia Ramadhani yang digelar di Hotel Mulia - Jakarta. Usai makan, kami masih sempai masuk toko buku Gramedia baru pulang menjelang jam 22.00.

Bukan anak remaja tentunya kalau sudah puas dengan terpenuhinya hajat selera makan malam. Hari Sabtu, setelah sepanjang hari mereka menghabiskan waktu di rumah, sibuk dengan facebook dan twitternya, belum lagi turun isi makanan ke lambung... usai makan malam, mereka sudah ribut mengajak jalan keliling kota.

Setelah istirahat beberapa saat dan meminta mereka shalat Isya terlebih dahulu, maka pergilah kami berempat keluar rumah tanpa tujuan yang jelas.
"Sate Padang yang enak dimana ya?" tanya anak gadisku.
"Hmmm.... katanya sih, ada di Jalan Radio Dalam. Sate Mak Syukur. Konon sangat terkenal. Baru selesai makan malam kok sudah mau makan lagi?"
"Kan sudah disisakan ruang buat sate padang...!", begitu jawab mereka. Huh..... itu perut kok nggak meledak diisi terus ya? Ampun deh.... anak remaja jaman sekarang...!

"Ayolah....! Jadi kita belok ke Radio dalam?", tanyaku. Kebetulan posisi mobil masih di depan Blok M Plasa. Jadi masih bisa dibelokkan arah ke jalan Radio Dalam melalui jalan Kyai Maja.
"Nggak ah.... cari tempat yang lain...!"
Wah .... dimana ada penjual sate padang lagi?
"OK, kalau begitu kita jalan ke arah istana ... lalu masuk ke memutar arah ke patung pak tani. Nanti masuk ke jalan Kramat Raya. Nah di situ banyak warung masakan Padang a la Kapau. Semoga ada sate Padang. Kalau nggak ada, itu namanya bukan rejeki.

Maka ... ditemani dengan keributan-keributan kecil antara anak - keponakan dalam mencari pemancar radio, kami menyusuri jalan Sudirman -  MH Thamrin - Merdeka Barat - Majapahit - Juanda - Veteran - Merdeka Utara - Merdeka Timur - Patung pak tani - Kwitang..... Suami, entah karena menikmati perjalanan, atau malah agak mengantuk, mengendarai mobil perlahan sekali hingga akhirnya kami tiba di  jalan Kramat Raya.

Mobil dijalankan perlahan sambil melihat adakah penjual nasi Kapau yang juga menjual sate. oups...... untung ada satu warung ... dan ke sanalah kami turun dari kendaraan dan pergi memesan sate Padang dan juice alpukat.

Seperti biasa.... kalau sudah memutuskan untuk makan di warung pinggir jalan, jangan berharap akan menemukan kebersihan dan kenyamanan. Pikirkan saja rasa makanannya. Dan yang satu ini, .... dijamin hampir selalu enak. Kenapa....?

Warung pinggir jalan dimasak oleh tangan-tangan trampil "asli dari sononye" kata orang Betawi. Takaran bumbu-bumbunya diracik sesuai petuah dan ajaran orang tua2. Kalau suatu masakan harus mempunyai rasa pedas .... maka begitulah dia dimasak dengan banyak bumbu dan cabai giling.

Ini tentu berbeda dengan masakan tradisional a la resto terkenal, dimana bumbunya sudah dimodifikasi sesuai dengan "target market" nya. Maka masakan Padang bisa saja hanya "berani" warnanya ... tapi rasanya sudah "manis", supaya masyarakat non Sumatera Barat bisa turut menikmatinya. Persis seperti masakan di rumah. Kalau adik ibuku berkunjung dan makan di rumah, wajahnya selalu memberengut dan langsung pergi ke dapur mencari cabe sambil menggerutu....
"Masakan padang gaya mana lagi nih? Manis semua...". Begitu selalu komentarnya. Memang, cabe yang digunakan untuk masakan Padang di rumah sudah banyak dikurangi, supaya suamiku yang bukan berasal dari Sumbar bisa ikut menikmatinya.

Berbeda dengan sate mak Syukur yang berwarna kuning kunyit dan pedas nylekit atau sate Sederhana Lintau di Cinere yang kuahnya juga berwarna kuning tapi ada cacahan kacang, sate padang a la Kapau ini kuahnya agak kemerahan dan so pasti ... pedas. Apa boleh buatlah ..... Sudah kadung pesan...!

Ada persamaan makan di warung dengan resto/cafe yang nyaman. Di kedua tempat, kita bersantap ditemani musik. Bedanya.... musik di cafe/resto bunyinya lembut dengan ketukan irama yang teratur .... Penyanyinya anggun dan wangi. Sementara di warung pemusik silih berganti bernyanyi, dengan suara serak-serak tak sampai lebih sering fals dengan irama asal jadi yang keluar juga dari alat musik asal comot. Lagupun terkadang hanya satu atau dua bait. Tergantung kebaikan hati tamu yang sedang bersantap. Kalau si tamu bermurah hati mengulurkan selembar kertas, maka lagu bisa berhenti seketika atau bersambung.

Soal apakah lagu berhenti seketika atau bersambung itupun tergantung baik dari si tamu atau penyanyi. Kalau penyanyi bersuara nyaring menyakitkan kuping apalagi nyanyiannya fals, maka si tamu cepat-cepat mengeluarkan uang agar penyanyi segera menyingkir. Dengan demikian, selera makan tak patah karenanya. Tetapi kalau suara penyanyinya bagus dan iramanyapun benar... bisa jadi, si penyanyi diminta menyanyikan lagu lainnya dengan bayaran tentunya bertambah. Cuma sayang .... belum pernah terlihat penyanyi yang cantik/ganteng, bersih dan wangi

Berapa sih mereka dibayar....? Jangan bandingkan dengan Siti Nurhaliza atau KD yang bintangnya mulai meredup. Tapi tentu jauh kalah dengan bayaran Aris ... Indonesian's idol yang keblinger usai dia memenangkan kontes penyanyi a ala Amrik itu.

Begitulah.... mungkin karena merasa suamiku memberi "di atas tarif normal" .... (tapi ngomong-ngomong berapa sih tarif normal untuk pengamen?), maka pengamen silih berganti mengunjungi warung tempat kami makan... Walhasil.... makan menjadi tidak nikmat lagi karena...... di samping para pengamen, muncullah bocah-bocah dekil berumur kita-kira antara 3 sampai 8 tahun mengerubungi meja makan kami meminta uang....

Astaghfirullah ...... Hilang sudah selera makan ... Bagaimana mungkin kami menikmati makan malam dengan nyaman di hadapan muka-muka dekil itu. Bukan hanya satu orang, tetapi lebih dari 5 orang sehingga pemilik warung yang merasa "tidak enak" terhadap tamunya, lalu mengusir mereka. Beruntung, sate di piring sudah tandas dan kami memang sudah bersiap untuk beranjak meninggalkan warung.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Anak-anak usia sekolah berumur 3 sampai 10 tahun seringkali masih berkeliaran di jalan raya hingga larut malam. Meminta-minta uang dari pengendara mobil/motor di perempatan jalan atau di warung-warung kaki lima.

Anak-anak itu seharusnya sudah menikmati makan malamnya dan sedang lelap bermimpi. Namun mereka masih saja berkeliaran di jalan. Entah mengapa orangtua mereka membiarkan anak-anak itu berada di jalanan terpapar oleh kekerasan kehidupan malam. Atau justru anak-anak itu menjadi "alat" bagi orangtuanya untuk memperoleh nafkah keluarga?

Kemiskinan dan ketidakmampuan orangtua memang membuat anak-anak tidak mendapatkan haknya secara memadai. Hak mendapat perlindungan, sandang-pangan, pendidikan dan lain-lain. Sekolah gratis masih menjadi sebatas wacana, karena konon walaupun uang sekolah SPP sudah dihapuskan, tetapi tetap ada pungutan-pungutan untuk kegiatan sekolah lainnya serta baju seragam.

Betapa ironisnya... kala penyiar cantik di tv memberitakan kasus-kasus korupsi miliaran rupiah yang dilakukan oleh PNS - politisi - penguasa negara/daerah gede-termasuk juga para penegak hukum, hanya dalam radius 5km dari istana tempat presiden bermukim dan hanya sepelmparan batu dari komplek gedung megah Departemen Keuangan, belasan anak berumur 3 - 10 tahun mencari uang, menadahkan tangan-tangan lusuhnya pada pengunjung warung di sepanjang Kramat Raya.

Andai mereka suatu kali mau mengunjungi warung makan semacam ini secara incognito .... tanpa harus melakukan sterilisasi lokasi, tanpa pengawalan .... menjadi orang biasa ... Tentu para penguasa negeri serta para ahli yang jago analisa ekonomi tidak akan berani lagi menyatakan ...... Kemiskinan di Indonesia telah berkurang..... pertumbuhan ekonomi Indonesia telah mencapai sekian persen, di atas rata-rata pertumbuhan di negara Asean ....

Senin, 22 Maret 2010

The Lost SYmbol


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Mystery & Thrillers
Author:Dan Brown
Satu lagi buku dari Dan Brown, pengarang yang namanya mendunia setelah bukunya berjudul The Da Vinci Code yang diklaimnya "mengguncang keimanan" menjadi best seller dunia dan diterjemahkan dalam berbagai ragam bahasa serta banyak diperdebatkan orang walau film layar lebarnya tidak "seindah" bukunya.

Masih bercerita tentang petualangan Robert Langdon, symbolog dari Harvard yang "terjebak" di jantung kota Washington DC setelah mendapat "undangan" dari Peter Solomon, sahabat lamanya, untuk memberikan ceramah dalam seminar terbatas sebuah perkumpulan yang diketuainya.

Undangan yang ternyata tidak pernah dibuat oleh Peter, malah membuat Robert Langdon terlibat kejar-kejaran dengan CIA dalam upaya mengupas the Lost Symbol.

Lalu, siapa Mal'akh yang juga terobsesi untuk mengungkapkan the lost symbol demi menyempurnakan sang Mahakarya dan pengorbanannya.

Mengapa CIA terlibat begitu dalam untuk mengejar the lost symbol. Apa hubungan antara Peter Solomon dengan Mal'akh sehingga sedemikian bencinya Mal'akh kepada klan Solomon hingga dia mampu menghabisi klan tersebut.

Masih dengan gaya Dan Brown yang sangat cermat dalam mendeskripsikan detil arsitektur, suasana tempat terjadinya peristiwa-peristiwa, pembaca tetap diajak mengikuti alur cerita yang berpindah dari satu sekuel ke sekuel lainnya dengan tempo yang sangat cepat. Tidak kurang dari 24 jam.

Alur cerita yang Dan Brown yang sama dalam 5 bukunya (digital fortress, deception point, angels & demons, the da vinci code serta the lost symbol), membuat buku ini sedikit kehilangan greget dibandingkan dengan buku Dan Brown terdahulu.

Apapun.... karya Dan Brown tetap menarik untuk dibaca, karena banyak hal yang tak terduga di dalamnya.... dan pasti ... tidak sembarang orang bisa menceritakan sebuah kejadian yang berlangsung kurang dari 24 jam dalam sebuah buku setebal hampir 800 halaman

Senin, 08 Februari 2010

KALTIM - 15 tahun kemudian

gersang
Awal bulan Februari 2010 yang lalu, saya berkesempatan lagi berkunjung ke Kalimantan Timur untuk yang kedua kalinya. Masih mengunjungi dan mengurusi prospek yang sama setelah berselang 15 tahun.

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengenang Kalimantan Timur yang kaya dengan batubara. Masih terbayang dengan jelas di pelupuk mata, bahwa dalam perjalanan naik mobil dari Balikpapan ke Samarinda menempuh jalan yang mulus melintasi Kawasan Hutan Raya Bukit Suharto yang... saat itu memang sudah terlihat gundul, namun bongkahan hitam batubara masih terlihat menyembul disana-sini di antara pepohonan. Beberapa di antaranya malah terlihat berasap, terbakar karena gesekan alang-alang kering yang tertiup angin di bawah terik matahari bulan Juli. Titik-titik api dan asap bisa diduga sebagai petunjuk lokasi adanya bongkahan batubara. Kesan itulah yang terpatri dalam benak saya.

Mengharapkan bertemu hutan hujan tropis selama perjalanan memang tidak diharapkan, kecuali kalau kita mau berpayah-payah masuk hutan. Tetapi, kala itu, puluhan ikatan gelondong kayu berdiameter lebih dari 75cm masih banyak terlihat terapung di atas permukaan sungai Mahakam yang jarak terlebarnya bisa mencapai 800 meter (aduh .... sungai di pulau Jawa betul-betul nggak ada artinya, deh...).

Pabrik pengergajian kayu beroperasi penuh ... Pengusaha pemilik kerajaan kayu tebang masih bisa tersenyum lebar membayangkan rupiah dan dolar mengalir ke dalam rekening yang sengaja  dibuka tidak saja di dalam negeri tetapi juga d luar negeri, minimal Singapura. Begitu juga apa yang saya temui saat awal abad ini, diberi kesempatan untuk mengunjungi Banjarmasin. Masih terlihat ikatan gelondongan kayu mengapung di sepanjang sungai Martapura.

Itulah bayangan Kalimantan Timur yang saya bawa saat menginjakkan kaki di bandara Sepinggan - Balikpapan. Apalagi, secara sepintas kawasan bandara memang tertata rapi sehingga sejenak hati terasa sangat terhibur, dapat lepas dari jeratan kesibukan Jakarta.

Pesawat mendarat sekitar jam 9 waktu setempat dan staff kepercayaan mantan raja kayu Kalimantan Timur sudah menunggu dan kami langsung dibawa menuju Samarinda dengan mobil berlambang grup hotel miliknya. Beruntung sempat tidur di pesawat, saya bisa menikmati pemandangan selama perjalanan.

Jalan mulus nyaris tanpa lubang menghubungkan Balikpapan - Samarinda. Di sepanjang jalan, banyak pedagang durian hutan yang menurut saya agak unik. Besarnya hanya sebesar mangga harumanis jenis suluhan yang besar. Kalau kulit durian yang kita temui di Jakarta/Jawa berwarna hijau ke-abu2an, maka durian hutan yang unik ini berwarna kuning dan begitu juga warna dagingya. Kuning mulus.... tapi nggak tahu deh rasanya. Denger2 sih.... nggak "sekeras" bau dan rasa durian yang biasa kita kenal. Nah si kuning dari Kalimantan ini dikenal sebagai LAI.

Sambil menikmati pemandangan yang menurut saya sama sekali tidak indah, terutama bila dibandingkan dengan Jawa dan Bali, perjalanan Balikpapan - Samarinda hanya disuguhi dengan lahan-lahan kosong yang susah untuk digambarkan lagi, apakah itu hutan atau bekas ladang atau padang ilalang terutama bila dibandingkan dengan hutan jati di wilayah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur atau perkebunan kelapa sawit yang teratur. Pantas kalau kalangan pecinta lingkungan selalu berteriak..... telah terjadi penyusutan luar biasa atas luas hutan hujan tropis di pulau Kalimantan.

Jangankan melihat hutan hujan tropis Kalimantan, bayangan melihat bongkahan batubara yang menyembul dari dalam tanah di sela-sela pokok tanaman, yang selalu lekat dalam ingatan sayapun pupus sudah. Entah apakah karena memang sudah diekploitasi orang atau memang sudah terbakar habis saat terjadi kebakaran hebat di hutan-hutan Kalimantan beberapa tahun yang lalu, pendeknya .... selama dalam perjalanan tersebut saya terpaksa menelan ludah ... pahit. Mungkin diperlukan upaya yang lebih panjang lagi untuk menikmati hutan hujan tropis. Kita harus menyusuri sungai-sungai lebar di Kalimantan selama berjam-jam menuju hulu untuk sekedar menikmati keindahan hutan tropis yang masih perawan.

Memang ada terlihat pembangunan infrastruktur. Rencana pembangunan trans Kalimantan (?!), jembatan-jembatan bentang panjang yang menyeberangi sungai-sungai seperti di Samarinda namun entah untuk tujuan apa pembangunan tersebut dilaksanakan. Satu yang pasti, di balik kehebohan isu illegal logging, industri pengolahan kayu sudah tamat riwayatnya. Banyak industri penggerjajian yang sudah merumahkan buruh-buruhnya termasuk juga industri kayu lapis. Kalaupun masih ada yang beroperasi, merekapun merasakan betapa pasokan kayu semakin berkurang.

Kini, industri di Kalimantan beralih dari industri kayu menjadi ekspoitasi batubara. Meski berbeda apa yang diambilnya dari alam, tetapi tetap ada kesamaannya. Keduanya hanya mengekploitasi kekayaan alam. Menguras kandungan bumi untuk kemudian menjualnya entah kemana tanpa ada nilai tambahnya sedikitpun.

Bumi kemudian dikupas habis tanpa ada upaya rehabilitasi atau kalaupun ada, minim sekali. Tidak heran bila disana-sini terlihat kupasan bukit berwarna kuning, menambah kegersangan bumi Borneo. Bila dulu hutang ditebangi dan dieksploitasi habis-habisan dengan upaya reboisasi yang minim, maka menurut saya kondisi saat ini malah lebih mengerikan. Ekploitasi batubara dengan sistem open pit tidak saja menghilangkan hutan hujan tropis tetapi juga mendeformasikan susunan tanah. Ngeri membayangkan bahwa humus hutan hujan tropis yang biasanya memiliki sifat menyuburkan tanah semakin hari semakin terkikis hilang. Bukit-bukit gundul yang susunan tanahnya telah terdeformasi tentu tak sanggup lagi menghidupi sepokok pohon. Entah bagaimana nasib dan masa depan paru-paru dunia ini. Ngeri membayangkannya.

Senin, 11 Januari 2010

MACET euy......!!!

Kemacetan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia, menurut saya, disebabkan karena sejak awal (akhir tahun 60an), pemerintah lebih menekankan pada pertumbuhan industri (semu) antara lain industri otomotif sehingga segala daya upaya diarahkan untuk meningkatkan produksi. Akibatnya, konsep dan strategi transportasi masa (mass transportation - railways) tidak berkembang atau memang sengaja tidak dikembangkan. Lama kelamaan, terjadilah peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang luar biasa dan mengakibatkan kemacetan juga yang luar biasa yang kita alami saat ini.

Bayangkan... dalam kondisi seperti inipun, transportasi masa tetap dianaktirikan. Pertumbuhan/penambahan panjang jalur KA relatif tidak ada. Kalaupun ada hanya menambah jalur dari single track menjadi double track pada jalur-jalur yang sudah ada sejak jaman kumpeni dulu. Bahkan beberapa track yang berada Sumatera dan jalur menuju kota2 kecil di Jawa dan Sumaterapun banyak yang "dimatikan" dan jangan lagi berpikir untuk menghidupkan track di dalam kota Jakarta yang pada akhir tahun 50an s/d awal 60an masih dilalui trem. Itu sama saja dengan bermimpi di siang bolong. Padahal .... di banyak kota Eropa, trem, bus, taxi kendaraan pribadidan bahkan dengan sepeda berjalan berdampingan digunakan masyarakat.

Masyarakat kebanyakan di Indonesia memang harus banyak mengalah pada segelintir orang berpunya yang memiliki kemampuan membeli mobil. Pemilik mobillah yang mendapat benefit terbanyak di jalan raya. Bayangkan saja.... kalau macet, jalan diperlebar, dibuatkan under pass, jalan layang dan bahkan jalan bebas hambatan. Pembenaranpun dicari.... karena mereka sudah membayar pajak kendaraan yang mahal sehingga layak mendapat pelayanan yang prima.

Rakyat biasa yang bosan dengan kemacetan dan terlalu lelah karena lamanya waktu tempuh dari rumah ke tempat kerja dan mahalnya biaya transportasi "dipaksa" berjejalan di dalam kereta api, bahkan hingga ke atap gerbong. Kalau punya modal sedikit berlebih, silakan beralih menggunakan motor.

Maka.... lihatlah suasana jalan raya pada jam sibuk! Motor berebut jalan, saling salip, saling sikut... Siapa berani, dia menang... Keselamatan menjadi nomor sekian... Tak heran kalau angka kecelakaan motor bertambah banyak.

Lalu selesaikah problem transportasi dan kemacetan? Jauh panggang dari api....!!! Selama orientasi pemerintah masih kepada peningkatan sektor industri terutama peningkatan produksi otomotif, tanpa adanya "pengereman" jumlah pemakai kendaraan pribadi baik kendaraan beroda empat maupun beroda dua, maka problematika kemacetan tidak akan terselesaikan.

Industri memang harus tetap berkembang agar tenaga kerja tetap terserap. Tapi alangkah baiknya bila peningkatan produksi kendaraan jangan sampai menambah jumlah kendaraan di jalan. Seperti di negara-negara maju, usia kendaraan memang harus dibatasi dan kendaraan yang sudah tidak layak jalan "harus dimusnahkan". Salah satu cara adalah produsen otomotif "membeli kendaraan tua" yang jumlahnya sesuai dengan jumlah produksinya.

Di samping itu, konsep transportasi publik harus diarahkan pada transportasi masa dengan membangun/menghidupkan kembali jalur/rail track di tengah kota yaitu trem atau membangun subway/metro atau monorail. Rasanya, membangun jalan tol layang seperti jalan tol dalam kota Jakarta, membuat under pass atau jalan layang termasuk juga membebaskan lahannya, sama mahalnya dengan membangun transportasi massa tersebut. Yang penting, adakah keberanian para pembuat kebijakan di negeri ini untuk mengambil keputusan ekstrim --> berpihak kepada kebutuhan rakyat banyak dan mengurangi tekanan produsen otomotif.

Kebijakan industri otomotif ini sebetulnya hanya memperkaya Jepang saja. Coba tengok! Hampir seluruh kendaraan yang lalu lalang di seluruh pelosok negeri ini adalah merek Jepang. Belum lagi pemborosan energi akibat BBM yang terbuang percuma karena kemacetan. Andai kita mau berhitung cermat dan mau melepaskan diri dari "jeratan" para industrialis otomotif ... niscaya akan selalu ada jalan untuk mendapatkan investor serius untuk membangun jaringan subway, trem atau monorail. Syarat lainnya, tentu saja ada kepastian hukum, keamanan berinvestasi and last but not the least .... Jangan ada John toel dan mark up biaya.

Sanggupkah kita?


Sabtu, 19 Desember 2009

Yang wajib ditonton : SANG PEMIMPI

Saya, bukan penggemar akut nonton film. Bisa dihitung dengan jari, tak akan lebih dari 5 kali nonton. Bahkan mungkin hanya 1 kali setahun karena saya ingat, film terakhir yang saya tonton adalah Laskar Pelangi dan sekarang Sang Pemimpi.

Film sang pemimpi memang sudah masuk dalam daftar "wajib tonton" karena selain "sudah terpengaruh" dengan isi novelnya Andrea Hirata, tapi juga karena untuk memvisualkan novel tersebut ke dalam film, Andrea bekerja sama dengan Riri Reza dan Mira Lesmana yang sudah menjadi "jaminan mutu". Maka.... karena itulah, hari Jum'at 18 Desember 2009 lalu (tidak terasa tahun sudah berganti) usai makan siang kami bertiga berangkat ke citos untuk nonton SANG PEMIMPI.

Saya memang tidak ingin membuat resensi film tersebut. Seperti yang sudah saya katakan, untuk kelas Indonesia, Riri Reza dan Mira Lesmana sudah merupakan jaminan mutu bagi film-film "berkelas". Saya cuma ingin bicara tentang isi film tersebut, yaitu penggalan hidup sang penulis, Andrea Hirata saat masih remaja.

Terus terang saja, kalau saja saya hanya lahir dan besar di Jakarta serta tidak pernah tinggal di daerah, agak sukar mempercayai betapa kerasnya perjuangan hidup Ikal atau dalam hal ini Andrea Hirata.

Belitong, khususnya Gantong dan Mangar di tahun 90an bisa jadi terlalu sederhana dibandingkan dengan gemerlapnya Jakarta baik pada tahun-tahun tersebut apalagi kalau dibandingkan dengan sekarang. Padahal.... kalau kita mau sedikit "berpayah-payah" keluar masuk daerah kumuh di balik kemewahan Jakarta, sesungguhnya "kekumuhan" dan kekerasan hidup itu tidak jauh dari mata kita dan ini terjadi bukan saja pada tahun 70an - awal 80an saat saya harus "mblusukan" masuk ke perkampungan kumuh dan padat di Tambora untuk melaksanakan tugas kuliah. Tapi, ternyata hingga abad ke 21, kekumuhan Jakarta masih tetap ada dan saya temukan saat secara tidak sengaja jalan pagi di sekitar tempat tinggal, menemukan kampung di atas tumpukan sampah di "pedalaman" Lebak Bulus. Di balik perumahan elite dimana rumah-rumah mewah dengan luas halaman menutupi "aroma busuk" sampah dan kekumuhannya.

Bisa jadi, kehidupan di wilayah kumuh tersebut sama kerasnya dengan kehidupan anak-anak buruh tambang timah di Belitong tersebut. Bahkan mungkin juga tidak sekeras anak-anak Belitong karena anak-anak itu tumbuh menjadi anak jalanan yang "dengan mudah" meraih belas kasihan dan memperoleh uang dari masyarakat Jakarta, pada setiap perempatan jalan


BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...