Jumat, 16 Januari 2015

Good Luck Gadis .....

6 Desember 2014 - Mulia Hotel
Kamis 16 Januari 2015 siang, Gadis ... staff HRD yang mengundurkan diri menjelang libur akhir tahun 2014 datang ke kantor. Dia memang janji akan mampir ke kantor menjelang keberangkatannya ke Groeningen - Belanda. Semula, saya pikir dia akan menghabiskan waktu seharian di kantor untuk makan siang sama-sama. Tapi rupanya, dia hanya mampir khusus untuk pamit, menjelang keberangkatannya di malam hari.

Gadis kelahiran pulau Bangka yang lulusan fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, menerima beasiswa LPDP dari pemerintah Indonesia untuk meneruskan pendidikannya di Groeningen - Belanda. Sebetulnya, beasiswa yang diterimanya hanya untuk meneruskan jenjang S2 di dalam negeri. Namun entah mengapa, LPDP menyarankannya untuk mengambil gelar tersebut di luar negeri. Bisa jadi karena prestasi akademis sejak sekolah di Bangka dulu hingga di FPsy UI yang sangat baik, sehingga tawaran itu datang. Baguslah .... kenapa tidak...? Walau keberangkatannya sedikit terlambat dari rekan seangkatannya, namun sekarang dia sudah terbang ... dan saat saya menulis cerita ini, mungkin masih melayang-layang di atas daratan Eropa. Semoga selamat .... tidak menemukan nasib naas seperti alm Munir beberapa tahun lalu yang menemui ajalnya dalam penerbangan dengan Garuda. Pesawat yang sama yang membawanya untuk meraih angan-angannya.

Entah apa yang membuat saya ingin menulis tentang gadis ini ....., gadis yang seringkali sering kami ganggu saat makan siang di kantor. Ada banyak hal, memang yang menjadikannya sasaran gangguan kami. Yang pertama saya ingat adalah gaya salah tingkahnya saat ada "cowo baru" di kantor .... kemudian, saat dia merasa sedikit putus asa kala nilai ujian, entah TOEFL atau IELTS nya tak kunjung membaik sehingga entah main-main atau serius, dia sempat melontarkan ucapan...


Behavioural & Social Science - Univ of Groeningen
"Duh ... susahnya mau sekolah, kalau gini terus, mending kawin aja deh ....!", kira2 begitu keluhannya yang kemudian disambut ramai dengan upaya perjodohan untuknya.
"Ada keponakan suamiku, yang kerja di Sydney, minta dicariin jodoh nih ... mau gak...?, COO kami melontarkan idea....
"Boleh .....!!!"
Ramai kami melihat spontanitasnya tentang perjodohan itu walau dilontarkan agak malu-malu...
"Iya tuh ..... kan lumayan, sekali dayung dua pulau terlewati .... Kalau jadi, menikah kemudian tinggal di Sydney... terus sekolah lagi deh di UNSW.... Wuih .... gaya banget deh...!"

Sayangnya.... upaya inipun kandas, mungkin karena sang calon sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga upaya menghubunginya selalu terkendala. Dari calon dalam negeripun, ada juga .... sayangnya, sang lelaki mensyaratkan "hijab" untuk perempuan yang ingin dinikahinya. Ya sudahlah .... belum jodoh ....

Hingga akhirnya ..... pertengahan November atau awal Desember 2014 yang lalu, saya mendapat kabar, akhirnya si Gadis memperoleh nilai bahasa Inggris yang memadai untuk meneruskan kuliahnya di Groeningen.
***

Setelah Andrea Hirata yang fenomenal itu, entah sudah berapa banyak anak muda dari kepulauan Bangka-Belitung yang berhasil menamatkan jenjang pendidikan tinggi baik di dalam negeri, khususnya di PTN terkenal Indonesia, maupun di luar negeri. Yang patut dicermati, seberapa banyak dari mereka yang kemudian kembali ke daerahnya untuk membangun dan memajukan provinsi tanah kelahirannya. Entahlah .....

Paradigma keberhasilan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, adalah apabila mampu "menaklukkan" belantara persaingan dunia kerja dan karir di ibukota. Itulah kebanggaan diri dan bahkan kebanggaan keluarga besar. Bahkan mereka yang menempuh pendidikan tinggi di daerah/provinsi kelahirannyapun berbondong-bondong mengadu nasib di ibukota. Karenanya, mereka yang hanya bekerja di daerah, seperti kalah pamor dengan rekan-rekannya yang bekerja di ibukota.  
***


Kemarin sore, saya sempat menceritakan perihal keberangkatan ini kepada suami,
"Alangkah baiknya, kalau setelah selesai S2 nya, dia kembali ke Bangka. Membangun tanah kelahirannya agar maju seperti provinsi lainnya di Jawa"
"Ah ..... mana mungkin ....? Semua orang ingin bekerja di ibukota. Mana ada yang mau kerja dan meraih karir di tanah kelahirannya? Yang sudah pensiun aja, jarang yang mau kembali ke tanah kelahirannya".
"Jangan yang pensiun dong .... anak-anak muda yang perlu membangun tanah kelahirannya!"
"Yah .... ibaratnya, yang sudah pensiun aja masih cari-cari kesempatan kerja di ibukota, enggan kembali ke tanah kelahiran, membina dan menularkan semangat juangnya kepada orang-orang desa, apalagi anak muda yang orientasinya hedonis...?"

Biasanya, cuma orang-orang yang kalah bersaing saja yang mau kembali ke tanah kelahiran. Kalau ada dari mereka yang dengan kesadaran tinggi kembali ke tanah kelahirannya, tentu patut kita hargai perjuangannya. Yang pertama, atas keberhasilannya "meyakinkan dan membuat orangtuanya menyerah" pada pilihannya bekerja di tanah kelahirannya. Hal ini saya pikir memang perjuangan berat, karena pada umumnya orang tua ingin anaknya berhasil meraih karir yang tinggi dan tentunya materi. Akan lebih bergengsi lagi kalau keberhasilan itu diraih dari ibukota. Kalau usai menempuh pendidikan tinggi lalu ada permintaan kembali ke tanah kelahiran dari orangtuanya .... maka orangtua ini perlu diacungi jempol. Bukan hanya satu .... tapi dua jempol...!!!
***


Nah balik ke Gadis yang mungkin dalam beberapa jam lagi akan menyapa udara dingin dan mungkin menikmati keindahan salju yang melayang-layang di udara untuk pertama kali, saya cuma bisa berdoa semoga semuanya berjalan lancar ....

Tinggal di Eropa, jauh dari keluarga apalagi kemudian sekolah dalam bahasa asing, past sangat tidak mudah untuk dilalui. Ada kebiasaan dan budaya yang sangat berbeda dengan kebiasaan kita di tanah air. Tapi .... Belanda bukanlah sesuatu yang sangat asing dengan Indonesia. Makanan khas Indonesia dengan sangat mudah ditemui di toko-toko makanan dan juga restaurant. Sebut saja petai, terasi, tempe, tahu, kangkung, toge dll .... Jadi, jangan sedih.... cuma tinggal kemauan untuk memasakknya.

Tetapi, bukankah akan lebih baik kalau selama tinggal disana, menikmati masakan lokal...? Cuma hati-hati .... akan kehalalannya..... Good Luck Gadis.......


Kamis, 08 Januari 2015

21st century's LIFE STYLE - Dilema orangtua

Hari pertama kerja di tahun 2015, Senin tanggal 5 Januari, hampir seluruh isi dan penghuni kantor kami sudah lengkap berada di tempat. Bahkan sang bigboss merangkap pemilik perusahaan sudah hadir beberapa puluh menit sebelum para karyawannya hadir lengkap.

Pagi itu, setelah saling mengucapkan  selamat tahun baru, kami memulai jam kerja dengan konsolidasi pekerjaan terutama dengan bigboss yang kelihatannya pada tahun 2015 akan lebih jarang hadir di kantor dan bahkan mungkin akan lebih konsentrasi pada peluang bisnis yang lebih besar dan lebih menantang. Lebih mendunia ....? Semoga .... dengan dukungan dana yang konon kabarnya hampir tak terbatas. Kita lihat saja sambil berdoa ....

Sore hari, menjelang jam kantor usai, kami bertiga meluangkan sedikit waktu ngobrol disela-sela obrolan mengenai peluang bisnis yang bisa dimasuki perusahaan maupun evaluasi kinerja dan pending matters. Topiknya apalagi kalau bukan ....."kemana saja libur akhir tahun"

"Aku sakit .... batuk pilek, jadi gak bisa kemana-mana", begitu celoteh sang Chief Operating Officer tempat kami bekerja.
"Rumahmu sudah selesai...?"
"Nah itulah .... Kerjaan kontraktor belum selesai dan mungkin karena banyak debulah yang bikin gue pilek...!". 
"Sama .... aku juga bersin2 nih ... sampe sekarang badan masih nggak enak banget. Nggak lucu kalau hari pertama kantor, masih bolos juga"
"Kemana aja liburan ...?", tanyanya
"Minggu pertama, di rumah saja judulnya. Pembokat pulang kampung karena ada saudaranya datang dari Pontianak. Aku berangkat ke Palembang Minggu 28 Desember. Sekali-sekali nebeng suami yang dapat undangan untuk menghadiri pengukuhan professor di Universitas Sriwijaya"
"Wah ... asyik dong, makan pempek .....!!!", timpal yang yang lain ...
"Yah begitulah ... tapi pake degdegan .... Bayangin aja, lagi nunggu di waiting room tau-tau liat berita di TV, Air Asia lost contact di wilayah Bangka Belitung. Bayangin aja, arah penerbangan ke Palembang kan gak jauh2 dari Ba-bel ....! Gila lo ..... degdegan abis..... tiap ada guncangan di pesawat, langsung mantra2 keluar deh ......"


"Elo mas ..... kemana aja...?" tanya sang COO kepada rekan lelaki kami di ruang itu...
"Ke Bali, ...."
"Wah .... asyik ... pasti rame banget Bali ya .... Asyik bila liburan akhir tahun sama keluarga ke Bali....!"
"Wah ... enggak .... Cuma berdua sama anak gadis gue aja .... Gue malah disangka oom yang lagi antar ponakan berlibur..."
"Lho .... emak dan abangnya kenapa gak ikut ....?"
"Si abang sibuk ngamen di cafe .... si emak gak mau ikut karena si anak gadis ini sukanya berangkat dadakan gitu... Untung masih dapet tiket"
"Lho ..... kok? Emangnya bukan acara liburan keluarga?
"Nggaklah .... si gadis diajak libur akhir tahun sama keluarga pacarnya... Daripada dia berangkat sendiri, ya gue temenin lah...!"
"Hah ....... emang kelas berapa dia sekarang?", teriak dua emak yang kebingungan dan kaget dengar cerita itu.
"Kelas dua sma ..."
"Gila lo mas ..... anak masih sma kayak gitu pacaran serius-serius banget ...? Gue aja yang anak sudah hampir selesai kuliah, masih gue wanti-wanti, jangan terlalu serius dulu ... umur masih muda, baru sekitar 21tahun .... jangan sampe nyesel kalo keburu nikah... Makanya, gue jaga jarak banget sama cowonya...", sahut temanku yang anaknya memang masih kuliah di Australia untuk mengambil double degree dari salah satu PTN di Indonesia.

Teman lelaki kami itu dengan raut muka polos atau bangga lalu bercerita tentang perjalanan liburannya dengan keluarga pacar anaknya (yang notabene sesama anak SMA), Dia juga bercerita dengan sangat bangganya tentang betapa anak gadisnya sangat "gaul". Sering keluar-masuk cafe atau main game hingga pagi hari dengan ditemani oleh teman-teman kakak lelakinya. Entah dimana ... bisa main game jadi di rumah atau mungkin juga di luar rumah. Setahu saya ... kedua anaknya memang masing-masing dibelikan mobil oleh si bapak, Bukan main ......

Terbayang penampilan anak gadisnya itu pada beberapa kali kami bertemu baik di Pondok Indah Mall maupun yang terakhir pada saat resepsi pernikahan di salah satu hotel mewah di Jakarta. Khas anak gadis metropolitan abad ke 21. Make up lengkap, baju sexy dengan sepatu berhak tinggi lancip .....

Saya juga membayangkan wajah anak gadis sang COO yang mahasiswa itu .... Penampilan khas mahasiswa dengan sneakers dan tshirt dengan wajah polos alamiah. Sangat berbeda jauh dengan anak gadis teman kantor lelaki itu. Bahkan bagai langit dan bumi. Aku juga teringat dengan penampilan anak gadisku sendiri yang relatif cenderung sangat puritan. Dengan jilbab sederhananya, wajah polos yang bahkan pelembab mukapun enggan dipakai.....

"Hati-hatilah mas ..... anak lo kan perempuan .... masih SMA lagi, masa iya elo ijinkan liburan sama keluarga pacarnya begitu...?"
"Ya abis gimana .... kan gue temenin juga .... Dia gak pergi sendiri..."
"Iyalah .... gak pergi sendiri, tapi persepsi si anak atas kejadian ini, bisa-bisa mereka anggap ... Oh nggak apa-apa .... sekali, dua kali, ntar kalo kebablasan... baru nyesel lho ..."
"Nggaklah ...."
"Ya nggak tahu deh .... kami ini mungkin perempuan-perempuan kuno yang nggak akan pernah mengijinkan anak perempuan bergaul berlebihan dengan lelaki", sahut temanku mengatasnamakan kami berdua.
"Gue aja, selalu bilang sama anak gue ... mami nggak mau kehadiran pacar mengganggu acara keluarga kita. kalau dia mau ikut acara kita, welcome ....! tapi kalau kamu bikin acara berdua dengan pacar sementara kita punya acara keluarga, maka kamu harus ikut acara mami...!", sambung temanku lagi menjelaskan posisinya terhadap si anak yang mahasiswi itu.

Perbincangan kemudian menjadi ramai tentang bagaimana nilai-nilai yang kami anut dalam membesarkan anak perempuan di tengah pergaulan metropolitan yang cenderung "mengerikan" ditinjau dari sudut kebebasan ekspresi yang mengarah pada eksploitasi seksual dan narkotika.
***


Aku memiliki sepasang anak dengan jarak lahir 15 tahun. Masing-masing tumbuh dan berkembang secara individu pada era yang berbeda. nyaris 1 generasi bedanya. Kepada si kakak lelaki, walau dengan penuh kekhawatiran, yang mungkin juga saat itu si anak merasa terlalu diawasi, aku relatif bisa melepasnya. Pergi menghadiri pesta akhir tahun di apartemen temannya atau pesta-pesta ulang tahun hingga larut malam. Mungkin juga berbeda karena anak lelakiku itu sangat percaya diri dan merasa sangat mampu menjaga diri sehingga melanggar dan cenderung mengabaikan apapun yang diomongkan ibunya yang cerewet.

Anakku yang kedua, perempuan tumbuh menjadi anak manja, namun juga punya karakter sendiri. Dibalik sikap-sikapnya yang klemer-klemer, gampang jatuh hati pada "rayuan lelaki", tapi sejak kelas 5 SD, walau masih on n off sudah memutuskan memakai jilbab. Tanpa suruhan, anjuran ... (kecuali anjuran guru SDnya saat anak kami pulang umroh). Kini bahkan gerak hidupnya terlihat lebih relijius dibanding kedua orangtuanya .... hehe, dibanding ibunya, tepatnya begitu .....

Begitupun, aku begitu khawatir karena gaya klemer-klemernya itu membuatku bertanya-tanya, mampukan dia menjaga diri dari "serangan" lawan jenis.... Duh ... susahnya jadi orangtua.
***


Kami bertiga di kantor, memang berasal dari keluarga dengan latar belakang yang sangat berbeda. Tetapi kalau ditinjau dari kota kelahiran, maka kami yang perempuan lahir dan besar di Jakarta. Jadi .... amat sangat menegrti lekak lekuk pergaulan metropolitan. Bahkan bagaimana gaya hidup hedonisme penghuninyapun sudah dihafal luar kepala. Sementara kawan lelaki kami itu, baik dia maupun istrinya adalah keluarga yang besar di wilayah Jawa Tengah/Timur dan mereka masuk ke Jakarta pada saat sang suami bergabung ke perusahaan tempat kami bekerja ini. 

Apakah hal ini ada pengaruhnya...? Entahlah... tapi saya seringkali membaca bahwa orang cenderung mengikuti gaya hidup sekelompok/segolongan lainnya yang menjadi acuan dan panutan agar dia dianggap termasuk dalam golongan tersebut. Apakah agar dianggap modern/maju atau masuk dalam golongan intelektual dan lainnya. Maka ke situlah kiblat hidupnya diarahkan...

Tapi .... kembali pada gaya hidup dan pergaulan remaja abad ke 21 ini ...., sebagai ibu dari anak remaja, saya seringkali ngeri terhadap kondisi pergaulan saat ini, dimana anak-anak terpapar pada godaan sexualitas, narkotika dan lainnya yang sangat bertubi-tubi dan .... borderless ..... 

Kamis, 01 Januari 2015

EVALUASI AKHIR TAHUN?? Nggaklah ...

Sore tadi, Rabu 31 Desember, hari terakhir di tahun 2014, kami baru kembali dari kunjungan selama 4 hari 3 malam ke Palembang. Ini adalah kunjungan pertama setelah sekitar 40 tahun yang lalu, Kebetulan suami mendapat undangan untuk hadir dalam acara pengukuhan guru besar di Departemen Teknik Mesin - Universitas Sriwijaya dan kebetulan juga sedang libur akhir tahun dan tidak ada rencana acara liburan kemanapun juga. Jadi .... ikutlah ke Palembang.

Malam ini, adalah malam pertama di tahun 2015, usai berbuka puasa dan sambil mendengar acara berita di televisi yang sebagian besar diisi dengan update upaya evakuasi korban musibah penerbangan air Asia yang terjadi pada tanggal 28 Desember yang lalu, tepat dengan hari keberangkatan kami ke Palembang, saya berupaya meneruskan tulisan yang sebetulnya sudah agak lama tertunda.

Saya, sebetulnya, bukan orang yang suka membuat resolusi menjelang pergantian tahun sehingga tentu juga tidak akan melakukan evaluasi tentang apa yang sudah saya lakukan sepanjang tahun 2014 dan apa yang akan saya lakukan di sepanjang tahun 2015 mendatang. Hidup .... biarkanlah berlalu apa adanya saja. Seperti aliran air di sungai ... toh akhirnya akan mencapai muara .... 

Lelah sekali kalau kita harus mematok target dan kemudian mengevaluasinya. Mungkin juga karena faktor umur dan beragam peristiwa yang pernah terjadi dan masih sangat membekas dalam sehingga saya merasa harus meredam beragam ambisi.

Khusus kali ini, rasanya saya hanya akan bercerita saja tentang apa yang terjadi di hari terakhir hari kerja di tahun 2014. Senin 22 Desember 2014
***

Hari itu .... sementara saya sedang mengetik sesuatu di Mac book pro, seorang staff kantor masuk ruangan. Sambil mempersilakannya duduk, saya melihatnya seperti agak salah tingkah.
"Bu ... maaf .... saya mau pamit ....."
"Lho ......? Resign ya .... kapan?
"Pertengahan Januari bu! 15 Januari ..."
"Wah ... mendadak sekali ya ...? Aturannya kan 1 month notice?"
"Maaf bu ... saya baru dapat kabar hari Jum'at dan tanggal 15 Januari itu harus apel sambil melengkapi data administrasi yang kurang ...."
"Oh .... OK, gak masalah .... buat aja surat ke HRD, pemberitahuan pengunduran diri, lalu coba telpon managermu. Tanya, kapan dia masuk kantor setelah cuti melahirkan itu... Siapkan serah terimanya. Kita bicara begitu masuk kantor, nanti. Dokumen2 dan administrasi bisa diserahkan ke managermu. Bagian tekniknya biar langsung saja sama saya ... pak E, mungkin akan lama di luar kota dan baru akan kembali kalau sudah ada manager teknik proyek".
"Baik bu ..."
"Pindah kemana ...?"
"Kemenkeu bu ..."
"Oh .... OK ... baguslah, kalau begitu ...! Selamat ... Semoga tempat itu jadi pelabuhan terakhir dan cocok buatmu"

Setelah itu, kami bicara beragam hal. Sambil bicara, ingatan saya melayang-layang pada anak sulung saya yang entah sedang apa saat itu ... Di suatu negeri asing yang telah menjadi pilihannya untuk menetap sejak 12 tahun yang lalu.
***

Sejujurnya ... saya memang tidak terlalu berharap staff tersebut akan betah bekerja di kantor tepat saya bekerja. Ada berapa hal yang mendasarinya .... Pertama tentu saja saya peroleh saat pertama saya bertemu dan merekrutnya. Dia menyebutnya hanya akan bekerja paling lama 5 tahun saja di kantor kami.

Jawaban itu bagi saya cukup "fair" .... Dulu, saat pertama bekerja, sayapun mematok waktu 5 tahun untuk bekerja di suatu kantor. Kalau dalam jangka waktu tersebut saya merasa "tidak memperoleh apa-apa", maka saya akan mengundurkan diri, mencari kesempatan lain yang lebih baik. Harap bisa dimengerti karena masa kerja sejak lulus hingga usia 35 tahun adalah masa keemasan untuk mendapatkan remunerasi maupun kesempatan yang dialokasikan untuk meraih jenjang karir terutama bagi yang bekerja di sektor swasta. Selebihnya... setelah usia tersebut, karir relatif menjadi lebih stagnan. 

Itu sebabnya, orang muda pada range umur itu seringkali berganti pekerjaan. Tetapi ... terlalu sering mengganti pekerjaan juga akan menimbulkan pertanyaan bagi para recruiter ... Apakah ada yang salah dengan orang tersebut.

Hal lain yang turut mengambil peran dalam menentukan sektor pekerjaan, adalah latar belakang keluarga, baik keluarga asal maupun keluarga pasangan. Sebagian masyarakat Indonesia masih memiliki pola pikir feodalistis. Menjadi Pegawai Negeri Sipil alias PNS dengan harapan suatu waktu nanti akan menjadi pejabat terpandang, baik apakah itu pada level daerah setempat (kabupaten, provinsi) maupun pada level nasional. Syukur-syukur kalau suatu saat terpilih jadi menteri, tapi minimal sebagai pejabat karier, level eselon 1 tentu jadi harapan. 

Posisi sebagai "penentu kebijakan umum" yang wajib "dipatuhi" seluruh anak negeri menjadi suatu previlege yang tidak mungkin diperoleh kala kita bekerja di sektor swasta. Setinggi-tingginya jabatan di sektor swasta, dia akan tetap "menundukkan" kepala ... mematuhi segala aturan yang dibuat "pejabat negara"..... Walau di belakang, misuh-misuh ... hehe ...

Atas dasar itulah, saya akan sangat memaklumi bila ada staff yang mengundurkan diri untuk kemudian menjadi PNS atau minimal menjadi pegawai BUMN. Namun demikian ... saya akan jauh lebih salut dan bangga bila ada yang mengundurkan diri dengan alasan ingin membangun bisnis sendiri ..... Ini jarang dan sampai saat ini belum pernah terjadi. Yang lebih banyak terjadi adalah, staff yang memanfaatkan waktu luang di luar kantor untuk berbisnis dan lebih parah lagi memanfaatkan fasilitas kantor untuk melaksanakan bisnisnya. Apalagi hampir semua kantor saat ini dilengkapi dengan saluran internet dan online business sedang menjadi kecenderungan utama.

Sabtu, 27 Desember 2014

SERBA SALAH

Penampilan presiden RI ke 7Joko Widodo alias Jokowi dan ibu negara alias first lady Iriana yang apa adanya sebagaimana layaknya masyarakat biasa, selalu mengundang pro dan kontra. Ada yang suka melihat kesederhanaan yang mereka tampilkan, tetapi tidak kurang pula yang menganggap penampilan mereka sebagai pencitraan belaka.
Masyarakat Indonesia memang terlalu biasa dengan pola pikir feodalisme. Citra bahwa seorang ksatria atau raja, pastilah gagah, tampan dan pandai sementara seorang sekar kedaton dan permaisuri  sangat cantik, lembut. Penampilan mereka pastilah sangat mewah dan tentu berbalut pakaian kelas atas lengkap dengan perhiasan emas permata yang berkilauan.
Pada era modern image tersebut diterjemahkan bahwa para penguasa negara dan pejabat lainnya yang berjenis kelamin lelaki harus gagah dan berwajah tampang sementara yang perempuan pastlah cantik kemayu dengan penampilan "berkelas" baik baju maupun tatanan rambut.  Ibaratnya .... pakaian kalau tidak atau belum mampu membeli karya adibusana kelas dunia, maka karya adibusana kelas nasional pastu diburu habus. Tas harus bermerek yang harganya aduhai. Belum lagi jam tangan, tas, sepatu dan lainnya. Di luar dari itu semua, sesuatu yang sangat khas adalah .... si perempuan akan menata rambutnya dengan disasak tinggi serta melebar seperti sarang burung. Entah bagaimana cara tidur mereka ...... atau bisa jadi, mereka memiliki penata rambut sendiri yang siap sedia melayani setiap pagi hari 
Era kepemimpinan Jokowi, menjungkirbalikkan segalanya .... Wajah dan penampilan Jokowi yang ndeso, caranya saat mengunjungi dan berdialog dengan masyarakat yang tanpa canggung, yang kemudian populer dengan istilah mblusukan, menunjukkan bahwa Jokowi memang pemimpin rakyat  yang siap sedia melayani. Itulah yang sebenarnya layak dilakukan seorang pemimpin untuk menyerap kondisi riel masyarakat. Namun di sisi lain ada pula yang menganggapnya sebagai pencitraan yg tidak perlu.
Padahal ... mari bandingkan mblusukan ala Jokowi dengan setting dialogis pemimpin dengan masyarakat yang diatur dan diselenggarakan di pendopo kabupaten    . Apa yang akan diperoleh oleh pemimpin dari 2 situasi yg berbeda bagai langit dan bumi tersebut ....? Mendatangi dan berdialog langsung di tempat masyarakat beraktifitas, atau mengumpulkan masa di sebuah pendopo yang .... ah... kok seperti jaman raja-raja dahulu? Sepertinya, akan tetap ada yang menganggap bahwa apa yang dilakukan Jokowi tidak lebih dari pencitraan  
Belum lagi penampilan Iriana sebagai ibu negara yang sangat jauh dari stereotype istri pejabat yang kinclong dan menor ... Pakai kerudung/jilbab seperti yang pernah dilakukannya saat periode kampanye.... salah.....!!! Kemudian saat dia membuka kerudung/jilbabnya... lebih salah lagi  , karena memang pada dasarnya Iriana bukanlah perempuan berhijab.Tapi .... bukankah banyak juga perempuan berjilbab dengan cara asal cantol .... Seolah berjilbab, namun jambul masih nongol...., atau lehernya masih terlihat. Masih tergiur memamerkan giwang berlian yang gemerlap di telinga. Belum lagi pakaiannya. Walau menggunakan gaun panjang, tapi tetap dengan model dan gaya sexy berwarna warni sehingga menarik perhatian orang.
Mungkin itu sebabnya, seorang teman pernah bercerita bahwa konon kabarnya, teman-teman lama Iriana berusaha keras membujuknya untuk mengubah penampilannya sebagai first lady. Agar penampilan Iriana menjadi agak lebih "berkelas". Nggak ndeso seperti saat ini. Padahal ... ndeso atau berkelas ... mewah ataupun sederhana sesungguhnya bergantung pada kenyamanan pribadi.
Gaya sederhana ini juga akhirnya terbawa pada penampilan para menteri perempuan. Mereka semua nyaris tampil berbeda dengan menteri perempuan pada kabinet-kabinet terdahulu. Mungkin hanya Nila Moeloek saja yang bergaya à la pejabat sebagaimana yang diinginkankan masyarakat. Maklum juga karena yang bersangkutan adalah istri mantan menteri jaman lalu.
Jadi ..... apakah kita memang masih memandang penampilan wah para pejabat masih menjadi suatu keharusan? Jangan lupa .... kemewahan yang mereka tampilkan sebetulnya dibebankan pada masyarakat. Bukankah kita sering membaca berita betapa besarnya anggaran pakaian/rumah tangga pejabat daerah. Apakah stereotype pejabat & keluarga harus tampil berkelas dan kinclong lebih penting daripada kinerjanya?.

Jumat, 28 November 2014

Pelayanan Medis di Indonesia

Sore itu, menjelang jam pulang kantor, kami berkumpul di ruang rapat untuk mengecek daftar undangan di ruang rapat. Salah satu anak boss akan menikah, sementara daftar undangan masih belum fixed. Saking banyaknya ... Maklum, bapak si pengantin lelaki memang salah satu tokoh nasional, jadi wajar kalau daftar undangannya "segunung".

Salah satu rekan keluar dari ruangan. Mungkin ke toilet atau untuk keperluan lain. "Anak" itu sepertinya memang punya masalah besar dengan pencernaannya, jadi dalam satu hari, frekuensinya keluar - masuk toilet cukup sering. Kebetulan, toilet khusus direksi perusahaan memang tepat berada di sebelah ruang kerja saya. 

Suasana kantor sudah agak sepi, beberapa staff, satu persatu mulai meninggalkan ruang kerjanya. Begitu juga suasana di ruang rapat. Walau ada beberapa orang yang masih bekerja meneliti daftar undangan, namun semua bekerja dalam hening. Cukup hening sehingga semua terkejut tatkala terdengar sayup-sayup teriakan riuh para sekretaris kantor di luar ruang rapat. Segera saja, semua yang berada di ruang rapat berhamburan ke ruang tengan kantor.

Di tengah ruang, dekat meja marmer yang kerap kami gunakan untuk diskusi, rekan yang tadi meninggalkan ruang rapat berdiri tegak. Tegak tanpa gerak. Mukanya pucat, pias ... dan bibir digigit menahan sakit. Dia sama sekali tidak bisa bergerak. Semua panik ... bingung ... gak tahu apa yang harus dilakukan. Yang paling "mengerikan" adalah membayangkan kalau sesuatu yang fatal terjadi, karena kurang dari 1 bulan, dia akan menikah.

Semua sibuk menelpon..., ke calon istri, itu sudah pasti. Lalu ke orangtuanya, ke rumah sakit yang berada tidak jauh dari kantor dan .... ke praktek Chiropractic di bilangan Senayan yang sering didatanginya. Semua di telpon saling silang. Yang pertama adalah bagaimana prosedur penanganan awal untuk mengurangi kesakitannya. Kasihan kan...., jangankan duduk, menggerakkan tangan sedikit saja sudah membuat dia berteriak keras karena kesakitan.

Melihat keadaan seperti itu, sudah pasti, dia tidak akan mungkin dibawa ke luar kantor, kami diusahakan, dirayu agar ada pelayanan medis yang bisa datang ke kantor. Ini sudah bukan masalah berapa harus membayar ... Ini masalah kesulitan yang amat sangat untuk bergerak. Ternyata ...... tidak mudah mendapat pelayanan di tempat. Semua yang dihubungi menolak datang .... Mungkin kami salah tempat yang dihubungi, tetapi... itulah yang terjadi. Tidak ada satupun yang bersedia datang. Alasannya macam-macam .. dari yang masuk akal sampai yang absurd sekalipun. Intinya .... tidak ada pelayanan di tempat, berapapun kita bersedia membayar .... Mereka hanya memberikan saran untuk mengoles bagian yang sakit (pinggang) dengan voltaren atau mengkompres dingin hingga hilang rasa sakit, lalu membawanya ke tempat praktek dokter/chiropractic. Itu maksimum pelayanan yang bisa diberikan....


Hadeuh ...... kebayang kan, kalau ada yang sakit berat yang akut seperti serangan jantung, stroke/pecah pembuluh darah dan sejenisnya ... Bisa meninggal sebelum mendapat layanan medis atau meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Maka .... hebohlah seisi kantor mencari voltaren dan es untuk mengkompres. Cukup lama melakukan kompres tersebut. Mungkin ada sekitar 1 jam, hingga rasa sakit agak "mereda" dan si penderita bisa melangkahkan kaki, walau tertatih-tatih dan dipapah.

Naik ke dalam mobil, menekuk badan serta menggeser badan agak memperoleh posisi duduk yang nyaman juga merupakan penderitaan berat. Entah bagaimana cara si pengantar membawa dan mengantar sampai akhirnya tiba di tempat praktek.

Begitulah pelayanan medis di kota metropolitan. Di tengah maraknya iklan-iklan pelayanan medis dan menjamurnya rumah sakit yang ditujukan kepada golongan menengah atas, pelayanan pada pertolongan pertama serangan akut, rasanya masih sangat menyedihkan. Bayangkan .... kalau pelayanan untuk masyarakat "berduit" saja begitu "menyebalkan", apalagi untuk kalangan masyarakat berpenghasilan rendah yang hanya mampu mengandalkan pelayanan gratis yang dijanjikan pemerintah?
***

Pelayanan medis di Indonesia masih sangat jauh dibandingkan dengan pelayanan medis di negara maju. Mungkin ada ketertinggalan hampir 50 tahun terutama untuk pelayanan emergency di tempat pasien.

Pemerintah memang sudah berusaha berjalan dan menuju perbaikan pelayanan kesehatan. Namun hambatannyapun tidak sedikit. Sepertinya ada yang merasa "kenyamanan dan keamanan" pundi-pundinya hilang apabila program Indonesia sehat versi pemerintah berjalan dengan baik.

Protes ...? 
Kepada siapa dan siapa yang harus protes ...
Ketika kalangan berpunya lebih memilih jalan pintas
Membanjiri pelayanan medis di negara jiran
Mungkinkah masih ada kepedulian mereka ...
Padahal ...
Justru merekalah yang "bisa bersuara"
dan ...
Mengubah segalanya agar menjadi lebih indah
Bagi mereka yang membutuhkan

Wallahu alam


Rabu, 29 Oktober 2014

Hipokrisi masyarakat Indonesia


Sebagian besar masyarakat Indonesia hingga abad ke 21 ini ternyata masih sangat feodalis dan hipokrit. Senang memakai "topeng" tatkala tampil ke hadapan publik. Tapi ..... mungkin bukan hanya masyarakat Indonesia saja, masyarakat duniapun terhinggapi "penyakit" hipokrit. Itu sebabnya dikenal adanya manner dan etiket dalam pergaulan internasional.

Akan halnya di Indonesia, topeng-topeng ini berdampak pada beragam "kriteria" yang seakan "wajib" disematkan dan dilakukan oleh "pejabat publik" sosialita dan selebriti.
Lihat saja penampilan para pejabat maupun istri/keluarganya, para sosialita dan selebriti. Yang lelaki, harus terlihat gagah dan rapi. Berpakaian "mewah" kalau perlu pakai jas sambil memamerkan merek di bagian pergelangan tangan, memakai jam merek terkenal seharga ratusan juta bahkan hingga milyaran rupiah serta berkendaraan mewah. Punya hobi main golf atau mengendarai motor gede.
Sementara yang perempuan seperti merasa "wajib" mengecat warna rambut serta menyasak tinggi2 rambutnya hingga berbentuk seperti sarang burung dan karenanya harus memiliki "hair stylist" yang mengurusi rambutnya setiap hari. Padahal menyasak rambut, memakai foam untuk menjaga "sasakan" rambut malah akan merusak kesehatan rambut dan gatal. Sementara itu, wajah dipoles dengan make up tebal, atau melakukan minimal botox, kalau kebetulan tidak memiliki waktu atau keberanian melakukan operasi plastik agar kisut dan kerut wajah menghilang .... Pakaian harus rapih buatan perancang mode terkenal. Kalau bisa dari Paris atau Milan. Tas bermerek terkenal, baik dari dalam maupun luar negeri sama seperti bajunya .... dan memakai perhiasan berkilauan. Seringkali nggak jelas mau kerja, rekreasi atau pesta ... Ingat kan, saat pelantikan anggota legislatif yang baru lalu?
Dari sisi pendidikan, semua orang rasanya, minimal harus memiliki pendidikan S1 kalau bisa malah S2 atau S3/Doktor. Pokoknya ada deretan gelar akademis di depan maupun di belakang namanya, supaya terlihat intelek. Setelah itu harus memiliki gelar profesor. Apalagi kalau jabatan Menteri jadi incaran... Ini akan lebih dihargai. Lupa bahwa profesor itu bukan gelar akademis tapi profesi sebagai guru ... pengajar/pendidik. Maka ramailah para pejabat publik mengejar gelar-gelar akademis. Nggak peduli lagi apakah pendidikan lanjutan tersebut sesuai dengan minat/kebutuhan pekerjaan atau apakah universitas tempat memperoleh gelar tersebut memang terakreditasi atau universitas abal-abal.

Maka tatkala pejabat tidak memiliki pendidikan mumpuni, ramailah orang mencibir dan berkomentar negatif. Padahal manusia diciptakan Tuhan dengan beragam kemampuan. Bahasa kerennya multiple intelligent. Lihatlah .... betapa orang-orang sukses dalam bisnis di negara maju dan bahkan di Indonesia sendiri, banyak dari golongan "putus sekolah". Kenapa ....? Karena ternyata sekolah itu membelengu kreatifitas. Pendidikan mengajarkan terlalu banyak resiko. Segalanya dianalisa dari sudut pandang "negatif"nya dulu. Faktor resikonya. Sementara peluang yang menciptakan kreatifitas tanpa batas, seringkali dilupakan.
Belum lagi urusan asal-usul keluarga. Bobot - bibit - bebet. Seperti ada kasta dalam kehidupan sosial ... Anak pedagang "harus" jadi pedagang .... Nggak boleh jadi pejabat tinggi. Anak pejabat tinggi pasti dan pantasnya harus jadi pejabat tinggi lagi .... Padahal... ada banyak anak dari kalangan "atas" yang terjerumus pada perilaku buruk .... dan untuk mereka ada "maaf dan permakluman....". Tapi kalau orang-orang dari kalangan biasa berperilaku tidak sesuai dengan "topeng2 dan imaji" masyarakat, maka cacian dan cercaan ditebar .... Persis perilaku feodalistis.

Anak dokter biasanya akan "dipaksa" orangtuanya menjadi dokter pula, karena sang ortu  melihat hanya profesi dokterlah yang bisa menjamin kehidupan si anak kelak. Jadi alasan jadi dokter, bukan pengabdian. Kalau orangtuanya dulu kerja di bank, mati-matian pula dia akan menganjurkan si anak kerja di bank. Seakan tidak ada profesi lain yang menjanjikan hidup "mapan" selain kerja di bank.
Itu sebabnya ..... tatkala wajah ndeso memasuki istana, maka banyak orang yang belum rela ... karena sepertinya istana hanya diperuntukan "kalangan atas". Bukan untuk kalangan dan wajah ndeso ..... Manakala seorang perempuan berpendidikan "rendah", bertato, perokok dan nyeleneh diangkat menjadi pejabat tinggi negara, orang ramai mencaci. Sementara koruptor lalu lalang sambil tersenyum simpul melambaikan tangan tanpa malu. Sepertinya, kita ..... lebih menghargai kosmetika dan hipokrisi berseliweran di muka kita, di media cetak maupun layar kaca.

Sedih dan sangat ironi.
Padahal ....
Katanya, kita seringkali dianjurkan untuk "harus bermimpi setinggi langit..."
Meraih kehidupan yang lebih baik ...
Dan seharusnya semua wajib dan punya hak bermimpi yang sama...
Atau ....
Adakah perbedaan antara langit masyarakat kalangan atas dengan langitnya kalangan bawah...?

Senin, 27 Oktober 2014

siswa, sekolah dan orangtua

Hari Sabtu 25 Oktober 2014, bertepatan dengan libur tahun baru Hijriah, saya terpaksa membatalkan acara keluar kota untuk menghadiri resepsi pernikahan staff kantor. Pembagian raport tengah semester yang semula dijadwalkan pada hari Jum'at, diundur menjadi Sabtu. Apa boleh buat ..., mengambil raport sekolah jauh lebih penting, apalagi si anak sudah duduk di kelas XII.

Kami tiba di sekolah, jam 08.20. tempat parkir di area sekolah sudah relatif penuh. Beruntung masih ada tempat di depan kantin. Jadi .... nggak perlu jalan terlalu jauh. Ini kebiasaan dari kebanyakan orang Indonesia..., malas jalan hehe....... Daftar dan ambil nomor untuk pengambilan raport, lalu masuk aula untuk bincang-bincang dan tanya jawab dengan direktur sekolah dan kepala sekolah. Acara ini biasanya diawali dengan paparan direktur sekolah mengenai kegiatan sekolah, kondisi anak-anak, hubungan orangtua dengan sekolah dan banyak lagi.

Ibu Al .... sang Direktur Sekolah memang "cerewet" dalam banyak hal, terutama dalam menjaga "perilaku anak muridnya". Anak-anak remaja ini pasti jengkel banget dengan kecerewetan ibu Al .... Bahkan tidak bisa dipungkiri sebagian orangtua juga tidak terlalu suka dengan ketatnya aturan sekolah. Contohnya saja kebijakan sekolah untuk melarang siswa membawa smartphone ke sekolah. Jadi siswa sekolah ini hanya diperkenankan menggunakan telpon genggam standard yang fungsinya hanya untuk menelpon dan mengirim sms saja. Cameraphone...? No way... Apalagi smartphone.

Jadi ... sebagaimana apa yang dikatakan ibu Al, banyak siswa dan orangtua yang merasa "terjebak" memasukkan anaknya bersekolah di SMA di bilangan Sawangan ini. Rasanya ... begitu juga kami ....
***
Perkenalan kami dengan sekolah yang menamakan diri Global Islamic School ini dimulai beberapa bulan sebelum anak kami (yang sekarang sudah duduk di kelas XII ... Jadi tepat 6 tahun yang lalu) duduk di kelas 6 SD. Si anak, sebagaimana kakaknya dulu, memang tidak kami masukkan ke sekolah negeri. Alasannya cukup sederhana ... si anak keberatan masuk sekolah jam 06.30 sementara kami orangtua yang kebetulan keduanya bekerja, ingin agar hari Sabtu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan bersama, setelah 5 hari kerja relatif tidak memiliki waktu yang nyaman untuk bercengkerama.

Ada banyak sekolah swasta - SMP yang saat itu kami jadikan alternatif pilihan, walau dengan beberapa catatan. Yang terutama tidak kami rekomendasikan adalah sekolah-sekolah yang baik orangtua maupun murid-muridnya memiliki kecenderungan hedonisme/borjuis. 

Pilihan utama kami adalah sekolah yang mau menghargai kemampuan anak, bukan sekedar dari nilai akademis tetapi penghargaan sekolah pada bidang non akademis. Memang ada banyak sekolah-sekolah yang menproklamirkan diri sebagai sekolah sebagaimana yang kami inginkan. Tapi ..... biaya sekolahnya itu lho .... extraordinary expensive dan pada akhirnya kami bisa terjebak pada perilaku borjuis. 

Sekolah bagus tetapi "murah" memang sukar ditemukan, apalagi semua sekolah "ideal" itu umumnya sekolah swasta dan pasti identik sekolah mahal. Mahal atau tidak, tentu relatif ... tapi kalau sekolahnya sudah menawarkan olahraga seperti berkuda...., rasanya ini juga terlalu berlebihan.


Maka .... setelah berdiskusi panjang lebar di meja makan, kami memutuskan untuk memilih sekolah (Global Islamic School) di bilangan Margasatwa ini. Sebetulnya, sekolah ini sudah masuk "radar" untuk kami pilih sebagai tempat pendidikan anak kedua kami sejak si anak masuk pendidikan SD. Namun lokasi sekolah (SD) di Cinere terlalu jauh, 12km dari rumah, menyebabkan kami mengurungkan niat tersebut. Baru pada jenjang SMP itulah kami masukkan anak ke sekolah yang sebelumnya, lokasi tersebut kami ketahui sebagai sekolah tingkat TK/SD dengan label lain.

Pendek kata .... 3 tahun di SMP berlalu dengan baik, tanpa halangan. Tentu kami merasa tidak aneh dan sama sekali tidak keberatan bila si anak ingin meneruskan SMA yang sama. Apalagi, saat acara perpisahan sekolah, kepala sekolah menyebutkan bahwa SMP tersebut mendapat peringkat akreditasi tertinggi se Jakarta Selatan dan menjadi salah satu dari 2 SMP di Jakarta Selatan yang meluluskan siswanya tanpa kecurangan sedikitpun. Prestasi ini tentu sangat membanggakan dan mengharukan. Bukan saja buat sekolah, tapi juga buat orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya disana. 

Seperti 3 tahun sebelumnya, usai ujian tengah semester pertama di kelas IX, kami mulai mendiskusikan ke sekolah mana si anak melanjutkan SMA nya. Tentu lengkap dengan beragam alternatif sekolah swasta yang kami anggap baik.  Seingat saya, ada 4 sekolah yang kami rekomendasikan. 2 SMA berada sekitar 500m - 1km dari kantor. Harapannya adalah agar si anak bisa berangkat dan pulang bersama ibunya. Terkontrol kegiatannya... begitulah mau si orangtua. 2 sekolah lagi justru berada sekitar 2 km dari rumah. Bisa dijangkau dengan kendaraan umum.

"Nggak mau ... aku nggak mau masuk sekolah itu...!", sahutnya saat kami menyodorkan nama 2 sekolah yang berada tidak terlalu jauh dari kantor saya.
'Kenapa...? Kan bisa berangkat sama2 setiap hari...", saya membujuk si anak agar masuk ke sekolah yang memiliki label sama dengan sekolah kakaknya dulu
"Kalau nggak mau sekolah itu ... Sekolah Islam itu aja deh... Kan ada teman SDmu dulu, di sana...!"
"Nggak ....!"
"Lho .....??? Ya sudah..... yang dekat rumah aja deh, kalau begitu... Pilih salah satu... Sekolah A atau sekolah B!"
"Nggak dua-duanya..."
"Kenapa ....?"
"Kan mama sudah bilang, sekolah A itu sekolah borju... gimana sih...?"
Hehe .... si emak lupa, kalau 3 tahun yang sebelumnya memang tidak merekomendasikan sekolah itu.

"Ya sudah .... yang B aja deh....!"
"Nggak .... nggak dan nggak ....!"
"Adooooh ..... kenapa sih...."
"Ma ...aku gak suka sama anak2nya..."
"Hm .... sok tahu! Gaul aja enggak, mau sok menilai siswa sekolah lain lagi..!"
"Aku kan diceritain teman2 ...., anak2nya tuh ma... suka foto2an sexy dan norak ... terus di upload... Emang mama mau anaknya masuk ke sekolah yang begitu...? Nggak deh....!"

"Jadi, kamu maunya kemana ...?"
"Ya ke sekolah yang sama....", sahutnya merujuk sama sekolah dengan label yang sama dengan SMPnya.
"Masya Allah .... jauh banget ......!!! Nggak sanggup, aku kalau harus antar jemput kesana tiap hari. Sudah uzur nih. Kamu juga nanti akan terlalu cape dan stress...! Cari yang dekat aja deh...!"
"Nggak ....!"
"Ampun deh .... kaya nggak ada sekolah lain aja..."
"Biarin ...."

Aduh duh .... pusing juga untuk memenuhi permintaan itu, walau dalam hati terselip rasa syukur yang sangat besar bahwa penolakan anak kami masuk sekolah yang kami usulkan adalah karena alasan moralitas. Dia tidak suka dengan perilaku siswa-siswa sekolah tersebut.

"Ok ... kalau hanya sekolah itu yang jadi pilihan, apa boleh buat, tapi dengan satu syarat!"
"Apa ..."
"Harus mau masuk asrama. Bukan karena kami membuang anak karena tidak memenuhi permintaan untuk sekolah di Jakarta, tapi ini demi keamanan dan kenyamanan semua. Pertama, jarak rumah ke sekolah cukup jauh. Minimal 2-3 jam terbuang setiap hari untuk perjalanan pergi dan pulang. Ini pasti melelahkan, apalagi kalau ada PR. Kamu pasti gak bisa belajar lagi begitu sampe rumah. Kemudian kalau bapak tidak bisa menjemput ke sekolah berarti ada kesulitan besar, bagaimana kamu pulang ke rumah. Kami sama sekali tidak mau kamu naik taxi/angkutan umum di sore/menjelang malam, apalagi sendiri. Nggak ada cerita deh! Jadi kalau tetap mau masuk sekolah itu, tidak ada pilihan lain kecuali masuk asrama!"
"OK .... siapa takut...?", tantangnya....


Begitulah kejadian 3 tahun yang lalu, sebelum dia mengikuti test masuk SMA, berhasil diterima, masuk asrama dan bersekolah hingga sekarang duduk di kelas XII. Tidak terasa 3 tahun begitu cepat berlalu.

Tentu tidak mudah menjalaninya baik bagi orang tua maupun si anak. Pada bulan-bulan pertama, kami mengalami kesulitan membujuknya kembali ke asrama. Dia merasa terbuang ketika kami memintanya bersiap kembali ke asrama .... Memang ada rasa sedih melihatnya begitu tertekan harus kembali ke asrama. Apalagi, anak kami yang 2 orang itu relatif hidup seperti 2 anak tunggal. Hidup "sendiri" pada masanya, mendapat perhatian penuh dari ke dua orangtuanya pada saat kecil hingga masa remaja. Sehingga kamipun relatif merasa kehilangan dengan absennya keberadaan anak di rumah. Tapi anak manja ini memang harus konsisten dengan pilihannya. Dia harus memegang teguh dan konsekuen dengan pilihan sekolahnya.

Kami mungkin sedikit beruntung, bahwa dibandingkan dengan kakak lelakinya, si gadis lebih terbuka. Jadi kami relatif bisa memantau kegiatan, masalah-masalah yang dihadapinya, baik masalah di sekolah maupun masalah pribadi. Tentu pada koridor yang ingin dia ceritakan kepada kami, orangtuanya.
***

"Ibu/bapak jangan terkejut kalau sekolah menerapkan kebijakan sidak ke kelas seperti yang baru2 ini kami lakukan di kelas X" sayup-sayup terdengar suara ibu Al menceritakan tentang kegiatan sidak ponsel siswa, hingga grup diskusi orangtua yang berisi "keberatan" atas sidak yang dilakukan guru-guru karena dianggap melanggar privasi siswa.

Tenang bu Al .... saya juga melakukan inspeksi isi sms/wa/bbm di smartphone anak saya, begitu dia meninggalkan smartphonenya saat kembali ke asrama. Dengan demikian kami bisa mengetahui apa saja isi pembicaraan si anak dengan teman2nya. Jadi sidak ponsel di sekolah, juga kami lakukan kok ...

Bu Al masih melanjutkan banyak cerita tentang beragam kenakalan dan perilaku kebablasan siswa yang .... sungguh mati bikin hati saya "mencelos" .... Ngeri membayangkan kalau hal itu terjadi.Saya teringat beberapa kali pembicaraan kami di rumah;
"Aku sebel ma ...., teman-teman juga ternyata sama aja tuh .... Ada juga yang suka macam2", keluhnya suatu hari...
Atau di hari lain .... si anak juga mengeluh...
"Sebel ah... guru-guru rese banget.... kepo deh ..."
"Eits... gak boleh menduga yang buruk .... gimana kamu tahu mereka kepo?"
"Ye ..., mereka tuh canggih-canggih urusan sadap menyadap isi sms... Bayangin aja, masa aku pernah disangka bawa hp ,,, padahal mama tahu kan, hpku kan pasti ditinggal di mobil, kalo aku balik ke asrama...."
"Ya bilang aja ke gurunya... kalau perlu minta konfirmasi ke mama. Jangan dibikin susah lah...! Kamu mesti inget deh ... perilaku remaja itu dimana aja, sama. Maunya bebas ... nggak mau dilarang dan selalu merasa benar. Merasa terlalu dikekang... Kamu beruntung, sekolah/ibu dan bapak guru punya komitmen kuat menjaga anak muridnya supaya tidak tergelincir. Jadi buka karena kepo... Sebetulnya guru-guru itu ketakutan anak muridnya tergelincir ...Di dunia, itu jadi tanggung jawab mereka kepada orangtua dan masyarakat. Nah... nanti di akhirat diminta pertanggungjawaban juga lagi ...! Kasihan kan? Jadi beruntung kamu sekolah disitu ... Kalau gurunya cuek, nah seperti sekolah B itulah jadinya" 
***
Malam minggu setelah penerimaan raport tengah semester itu, kami keluar rumah untuk makan malam. Sebetulnya si anak menerima undangan peringatan ulang tahun ke 17 dari salah satu teman sekolahnya yang diselenggarakan di sebuah hotel di bilangan Depok. Sempat juga kami tawarkan si anak untuk hadir...

"Emang mama mau antar ke sana? "
"Kalau kamu mau hadir, boleh aja kami drop, nanti dijemput lagi"
"Mama nggak konsisten ih ...!
Eits ..... kaget juga dengar komentarnya ...
"Maksudnya...?"
"Dulu mama bilang nggak boleh hadir acara ulang tahun di hotel...!"
"Sebetulnya, bukan nggak boleh hadir acaranya. Boleh aja sih, karena kamu kan mesti gaul juga, asal tahu batas dan tahu waktu. Hidup juga nggak bisa steril banget. Ini yang jadi dilema buat orangtua."
"Ya sudah .... aku kan sudah mutusin gak hadir..."
"Ya ...., asal tahu aja, yang dilarang bukan acara ulang tahunnya. Tapi perayaan berlebihan apalagi diselenggarakan di hotel. Rasanya kurang pantas deh buat siswa sekolah..."

Ihwal perayaan ulang tahun secara berlebihan di hotel, pernah juga disinggung oleh bu Al, pada pertemuan, mungkin tahun yang lalu. Namun ternyata, walau hanya satu atau dua orang saja, tetapi masih selalu ada saja yang merayakan ulang tahun ke 17 anaknya secara berlebihan.
*** Pendidikan anak termasuk memilih tempat pendidikan anak yang kita anggap baik, rasanya tidak serta merta melepaskan seluruh tanggung jawab pendidikan anak terutamadalam hal moralitas kepada sekolah. Apalagi untuk pendidikan anak remaja yang penuh gejolak. Harus ada kesatuan visi dan misi dan tujuan pendidikan itu antara sekolah dan orangtua. 

Seperti yang disampaikan ibu Al ... sekolah tidak bisa dijadikan "musuh" tetapi harus jadi mitra dalam mendidik anak. Orangtua harus percaya bahwa sekolah memberlakukan beragam peraturan untuk kebaikan si anak. Kalau visi, misi dan tujuan pendidikannya dan sekolah dianggap kurang sesuai dengan gaya hidup keluarga siswa, mungkin orangtua tersebut telah salah memilih sekolah buat anak-anaknya.

Wallahu alam 





BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...