Senin, 24 September 2018

Apakah NKRI akan menjadi Lebih Baik Jika Ganti Presiden?

Di pagi hari Senin ini, begitu buka WA, terbaca kiriman tulisan dari VANCOUVER .... Isi tulisannya, membuat saya haras introspeksi diri, menilai diri secara jujur untuk kemudian menjalankannya dalam kehidupuan se-hari2. Tidak perlu menilai bahwa tulisan ini merupakan dukungan politik bagi Jokowi .... terapi lebih untuk menilai apakah kita ingin INDONESIA yang lebih baik atau menghancurkannya atau minimal menghambat kemajuan itu "tanpa sadar"
Tulisan tersebut saya copy paste, dengan sedikit editing (membenarkan tanda baca dan singkatan-singkatan), tentu tanpa menghilangkan sumbernya.
***
©Eiwieyounora
Apakah NKRI akan menjadi Lebih Baik Jika Presiden Jokowi di Ganti?
Jawabnya TIDAK. Kenapa?

Walau di ganti dengan siapapun, NKRI tidak akan pernah maju karena NKRI mempunyai masalah yang paling mendasar besar yaitu màjalah pola pikir Rakyat nya sendiri yang mempunyai prilaku, antara lain:

  1. Perbedaan Agama selalu di permasalahkan oleh “sebagian” pihak mayoritas.
  2. Punya tradisi ikut-ikutan atau tidak punya pendirian.
  3. Tidak bisa disiplin dan tidak jujur dengan kesepakatan dirinya.
  4. Susah dipercaya dan sangat munafik.
  5. Tidak memilih pemimpin berdasarkan visi, misi, program2nya melainkan hanya mendasarkan  Agamanya.
  6. Cara berpikir yangg selalu di dalam satu kotak dan tidak pernah mau berpikir dan menggali apa yang ada di luar kotak.
  7. Mudah diperdaya dan gampang terpengaruh karena kebodohan yang amat sangat.
  8. Tidak pernah mengakui kesalahan sendiri melainkan melemparkannya kepada yang lain.
  9. Pandai bersilat lidah.
  10. Tidak punya sifat membangun atau tidak supportif dan hanya mengandalkan rasa dendam, iri dan siriknya.
  11. Selalu berdebat tentang ayat-ayat di kitab sucinya, padahal tidak paham tentang isi ayat-ayat tersebut, maka cara berpikirnyapun jadi terbelakang.
  12. Mengabaikan dan melecehkan etika sopan santun umum dalam berpolitik, berBangsa dan berNegara.
  13. Suka mencela, memfitnah, menghasut dan menghina sesama.
  14. Suka mengKafirkan pihak lain, padahal dalam kehidupan sehari-hari sangat tergantung jasa dan hasil produksi bangsa kafir.
  15. Senang mencaci maki dan mencela serta dengan penuh kebencian memfitnah Pemimpinnya sendiri dengan alasan kebebasan berpendapat.

Kalau rakyat bisa mengganti semua perilaku di atas maka NKRI bisa menjadi Negara maju. Untuk itu belajarlah jadi manusia yang selalu menggunakan akal sehat dan punya pikiran untuk maju ke depan, bukannya ke belakang.

With peace
Vancouver BC 210818 ©Eiwieyounora

Kamis, 20 September 2018

Majalah Tempo this week

Konglomerat Theodore Permadi Rachmat, yang telah melewati masa-masa ekonomi sulit, mengatakan jangan melihat ekonomi dari devaluasi nilai tukar semata. Menurut dia, inflasi tinggi lebih mengerikan karena membuat masyarakat bawah tak sanggup membeli kebutuhan pokok.

SAAT kebanyakan pelaku usaha kelimpungan melihat rupiah yang limbung, Theodore Permadi Rachmat, 74 tahun, adem-ayem saja. Pengalamannya berbisnis selama lima puluh tahun membuatnya yakin bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisi ekonomi Indonesia sekarang. “Di masa Presiden Soeharto, devaluasi sering sekali. Enggak ada masalah. Ini mah kecil,” ujar pendiri Triputra Group itu.

(Gratis 5 Artikel Majalah/Koran Tempo per bulan._
Download aplikasi TEMPO di  Android:
http://bit.ly/tempo-android2 dan di  iPhone:

Theodore telah melewati masa-masa ekonomi sulit, dari 1997-1998, 2005, 2008, hingga terakhir tahun ini. Ia meminta kondisi ekonomi tidak dilihat dari penurunan nilai tukar semata. Rupiah yang melemah, kata dia, hanya berdampak hebat terhadap importir. Selama konsumen tidak menggunakan barang impor, tidak ada pengaruhnya. “Inflasi tinggi lebih mengerikan karena membuat masyarakat bawah tidak sanggup membeli barang kebutuhan pokok,” ujarnya kepada wartawan Tempo Reza Maulana dan Andi Ibnu dalam wawancara khusus di kantor PT Kirana Megatara—anak usaha Triputra yang bergerak di bidang perdagangan karet—di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu petang pekan lalu.

Ia menilai situasi perekonomian Indonesia saat ini berbeda dengan masa krisis ekonomi 1998. Kala itu, perbankan terkena krisis dan inflasi melambung hingga 77 persen. Saat ini, inflasi Indonesia 3,2 persen. Pada 1998, selain ekonomi, politik mengalami krisis.

Lulus dari Institut Teknologi Bandung pada 1968, Theodore ikut pamannya, William Soeryadjaya, yang saat itu sedang membangun Astra—perusahaan multinasional yang kini mempekerjakan lebih dari 200 ribu karyawan di 200-an anak perusahaan. Sarjana teknik mesin itu mendapat nomor karyawan 16 dengan tugas menjual alat-alat berat. Teddy—panggilan Theodore—mengakhiri kariernya di Astra pada 1998, setelah 14 tahun menjadi presiden direktur.

Ketimbang bermain golf pada masa pensiun, Theodore memilih mendirikan PT Triputra Investindo Arya, yang menjadi perusahaan induk Adira Mobil dan Adira Finance. Penjualan Adira Finance ke Bank Danamon Tbk pada 2004 membuat perusahaan itu merambah ke berbagai sektor. Triputra Group kini bergerak di bidang perkebunan, manufaktur, pertambangan, dan perdagangan. Pendirinya pun menjadi orang nomor 19 terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.

Sebagai pengusaha, bagaimana Anda membandingkan situasi sekarang dengan krisis ekonomi 1997-1998?
Bedalah. Waktu itu, perbankan rusak. Inflasi tinggi (sempat menyentuh 77 persen). Sekarang inflasi kita 3,2 persen. Sebelum tiga tahun terakhir, inflasi kita tidak pernah di bawah 5 persen. Itu yang penting. Inflasi jangan naik. Lagi pula, kenapa harus naik? Beras dibikin di Indonesia, cabai dibikin di Indonesia. Tidak impor. So, why worry?

Anda memimpin Astra saat krisis ekonomi pecah. Apa masalah terbesar yang Anda hadapi?
Market hancur. Orang enggak ada yang beli mobil dan sepeda motor. Harga naik karena komponen impor dan dibayar pakai dolar. Sekarang beda. Baru saja kami ngomong dengan para dealer sepeda motor, harga jual mereka enggak naik. Waktu 1998, yang krisis bukan hanya ekonomi, tapi juga politik. Saat itu orang menganggap Pak Harto overstayed. Dia berkuasa sejak 1966 sampai 1998, sudah 32 tahun. Kelamaan.

Mungkinkah pemilihan presiden dan Pemilihan Umum 2019 memperlemah rupiah?
Menurut saya, tidak, karena aturan main di politik lebih ketat. Jauh benar dengan situasi 1998.

Apa pandangan Anda terhadap upaya pemerintah menahan pelemahan rupiah?
All in all, it’s okay. Pemerintah memotong biosolar 20 persen, impor dikurangi, penjadwalan ulang proyek-proyek besar. Sudah benar semua. Saya punya rasa hormat yang tinggi sekali kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia. Di bawah Pak Agus Martowardojo dan Perry Warjiyo, Bank Indonesia sudah melakukan langkah-langkah yang tepat. Sekarang, setiap kali beli dolar mesti ada underlying transaction. Jadi terkontrol. Yang penting, jangan panik. Tahun depan pemerintah menargetkan defisit fiskal kita kurang dari 2 persen. Itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Penyebabnya, banyak uang masuk dari pajak.

Ada yang bilang amnesti pajak tidak berpengaruh....
Jangan bilang tax amnesty is not working. Saya lihat, mungkin 90 persen pengusaha ikut tax amnesty. Mereka yang tidak ikut sekarang kepayahan. Mau beli mobil saja ketahuan. Hidup ketakutan terus. Enggak tahu mau bagaimana. Jadi Indonesia should be okay. Walaupun banyak hal yang masih bisa dilakukan pemerintah.

Apa saja yang bisa dilakukan?
Kenapa harga bahan bakar minyak tidak dinaikkan sesuai dengan nilai keekonomian? Padahal defisit transaksi neraca berjalan paling besar ada di impor bahan bakar minyak. Dengan menaikkan harga BBM, konsumsi akan turun dan transaksi neraca berjalan juga turun. Seperti kata Muhammad Chatib Basri (Menteri Keuangan 2013-2014), ini obat yang paling manjur.

Tapi tidak populis di tahun politik....
Ya, ini tahun politik. Pak Harto dulu jatuh setelah menaikkan Premium dari Rp 700 menjadi Rp 1.200 per liter. Di masa Susilo Bambang Yudhoyono, saya menjadi anggota Komite Ekonomi Nasional. Waktu itu, beban subsidi BBM sampai Rp 300 triliun. Pemerintah selalu berhati-hati menaikkan harga bensin. Takut ada demonstrasi dan sebagainya. Padahal itu wasted semua. Sekarang juga begitu. Tujuh bulan lagi pemilihan presiden dan pemilihan umum. Ini pilihan politik.
(Pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan harga Premium dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.500 pada 22 Juni 2013.)

Dari kacamata ekonomi, kenaikan harga BBM tak bisa ditawar?
Saya bukan orang politik. Tapi, dari pertimbangan ekonomi, ya, naikkan saja.

Beberapa waktu lalu, Anda dipanggil Wakil Presiden Jusuf Kalla. Membicarakan apa?
Saya sampaikan, program biofuel B20 sudah bagus, mengganti 20 persen impor solar dengan konten lokal, yaitu minyak kelapa sawit. Kalau jalannya sudah benar, kenapa tidak dipercepat? Misalnya ke B25 atau B30. Saya juga sampaikan usul tambahan, yaitu kembali menerapkan biaya fiskal luar negeri. Itu sama dengan ajakan menghabiskan uang di dalam negeri saja. Kenapa mesti spend di luar negeri? Pariwisata di Indonesia kan banyak dan bagus.

Apakah pengusaha memandang pelemahan rupiah sekarang sudah pada tahap mengkhawatirkan?
Saya enggak bisa bilang atas nama pengusaha, karena tiap bisnis berbeda. Bisnis saya kebanyakan di ekspor. Jadi, saat rupiah melemah, saya lebih senang, ha-ha-ha…. Yang komplain dolar naik kan orang-orang Jawa saja. Orang-orang yang hidup dari perkebunan dan pertambangan di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi tertawa semua. Saya berusaha mulai akhir 1970. Di masa Presiden Soeharto, devaluasi sering sekali. Enggak ada masalah. Ini mah kecil.

Perusahaan Anda untung banyak?
Buat saya, rupiah turun, ya, happy-happy saja, ha-ha-ha…. Misalnya bisnis kantor ini, PT Kirana Megatara, hampir 100 persen ekspor karet.

Tapi pengusaha impor rugi besar....
Pengusaha impor pasti marah-marah. Misalnya importir Lamborghini, yang produknya kini dipajaki tinggi oleh Menteri Keuangan, pasti kesal. Tapi buat apa mobil mewah seperti itu? Saya melihat orang pakai Lamborghini di Indonesia, ngelus dada. Kijang saja cukup.

Anda sehari-hari pakai mobil apa?
Saya pakai Lexus yang usianya sudah tujuh tahun. Ada juga Toyota Alphard. Saya pakai bergantian sesuai dengan tanggal ganjil-genap, he-he-he…. Setiap kali melihat Lamborghini, saya langsung terbayang harganya, Rp 5 miliar. Berapa ton minyak sawit mentah yang harus saya ekspor untuk mengimbangi transaksi berjalan dari masuknya mobil itu? Begitu juga kalau melihat orang yang pakai handbag Hermes. Rasanya kok enggak pantas.

Untuk menahan pelemahan rupiah, apakah pengusaha ekspor mau menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri?
Asalkan dikasih insentif. Misalnya mendapat bunga yang sesuai. Aturannya belum keluar. Kami lihat dulu aturan mainnya seperti apa. Tapi, saat ini, DHE saya sudah di bank nasional.

Peluang apa yang pengusaha bisa ambil dalam kondisi rupiah yang lemah?
Kalau rupiah kuat, orang berpikir impor saja. Dengan rupiah melemah, ekspor jadi lebih lancar dan konten lokal lebih besar. Jadi low currency itu bisa melindungi industri lokal.

Muhammad Chatib Basri mengatakan rupiah bergerak menuju titik kesetimbangan baru. Apakah industri bisa bertahan jika angkanya di atas 15 ribu?
Setiap hari pun angkanya baru. Mau 14 ribu atau 15 ribu, buat saya enggak penting. Yang penting stabil, jangan inflasi besar. Inflasi ini yang lebih ngeri dibanding devaluasi. Karena, dengan inflasi, kasihan masyarakat bawah, enggak sanggup beli barang kebutuhan pokok.

Berapa kurs rupiah yang ideal?
Enggak ada angka ideal. Buat saya, mending Rp 16 ribu per dolar Amerika Serikat. Tapi, buat importir, mending Rp 14 ribu. Siapa yang benar? Mau Rp 14 ribu, mau Rp 15 ribu, mau Rp 16 ribu per dolar, enggak jadi masalah. Yang penting jangan bergejolak, karena gejolak memberi ketidakpastian.

Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Anwar Nasution, mengatakan fundamen ekonomi Indonesia lemah. Anda merasakannya?
Waktu saya mulai kerja di Astra, 50 tahun lalu, satu rupiah hampir sama dengan satu yen. Waktu itu nilai dolar Amerika Serikat sekitar Rp 300. Sekarang yen menguat ke Rp 132 dan dolar Amerika hampir Rp 15 ribu. Kenapa? Karena fundamen ekonomi Indonesia weak.

Apa sebabnya?
Indonesia tidak punya ekosistem industri yang kuat. Indonesia tidak punya basis manufaktur seperti Jepang, Cina, Taiwan, Korea Selatan, dan yang terbaru, Vietnam. Sebab, dibanding negara-negara tersebut, investor menilai Indonesia paling tidak nyaman. Hingga dua tahun lalu, sedikit-sedikit buruh berdemonstrasi, menutup jalan, dan sebagainya. Mana mau investor masuk? Di Vietnam, buruh kerja 48 jam dalam sepekan. Di Indonesia, 40 jam. Di Karawang (sentra industri manufaktur di Jawa Barat), upah minimum Rp 4,2 juta per bulan. Lima tahun lalu cuma Rp 2 jutaan. Masak, naik 200 persen? Siapa yang mau invest?

Bukankah upah minimum merupakan kesepakatan bersama?
Itu karena pemilihan kepala daerah. Biar terpilih, menjanjikan sesuatu yang berat untuk dilaksanakan. Ibarat menembak ke kaki sendiri. Baru ada kepastian setelah Presiden Joko Widodo menetapkan kenaikan gaji didapat dari penghitungan pertumbuhan ekonomi plus inflasi.
***

Bagaimana rasanya jadi salah satu orang terkaya di Indonesia?
Siapa yang diberi Tuhan berkah lebih banyak, tanggung jawabnya lebih banyak. Sebagai pengusaha, kami diberi keberuntungan dapat hidup lebih dari cukup. Maka selayaknya juga berpikir, bagaimana dengan yang lain? Yang penting, setiap orang harus punya misi dalam hidupnya.

Apa misi Anda?
Saya ingin tidak ada lagi kemiskinan di Indonesia. Rumah yang saya tinggali merupakan bagian dari rumah besar kita. Percuma rumah saya sangat berada kalau rumah besarnya berantakan. Semua jadi tidak bisa langgeng. Rumah besar itu Indonesia.

Caranya?
Lewat pendidikan. Pada 1999, saya mendirikan Yayasan Pelayanan Kasih A&A Rachmat. Diambil dari nama orang tua saya, Adi Rachmat dan Agustine. Hingga sekarang, telah tersalurkan 19.500 beasiswa jenjang D-3 dan S-1 bagi siswa kurang mampu di seluruh Indonesia. Kami juga membantu banyak panti asuhan.

Pernah berpikir menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia?
Sewaktu mulai bekerja, 50 tahun lalu, saya tidak punya apa-apa. Pak William Soeryadjaya—pendiri Astra—memberi tempat kerja di Jalan Juanda III Nomor 11, Jakarta Pusat, di garasinya. Pagi buat ngantor, malam buat tidur. Sebagai salesman, penjualan pertama saya adalah ekskavator ke Kementerian Pekerjaan Umum. Waktu itu, tidak mikir apa-apa. Kerja keras saja cari duit. Digaji Rp 30 ribu sebulan, dua minggu sudah habis. Istri saya jual koran bekas buat menutup pengeluaran, he-he-he….

Forbes menyebutkan kekayaan Anda turun dari US$ 1,7 miliar pada Maret lalu menjadi US$ 1,4 miliar bulan ini. Mengapa turun?
Wah, itu enggak pentinglah. Mau berapa juga enggak habis-habis, ha-ha-ha.... Forbes bilang US$ 1,7 miliar, yang lain bilang lain lagi. Mana yang benar juga kita enggak tahu.

Menurut hitungan Anda berapa?
(Menggeleng-gelengkan kepala) Not important, ha-ha-ha…. Yang penting bukan berapa yang kamu punya, tapi berapa yang kamu kasih. Yang saya rasakan, makin banyak saya memberi, makin banyak saya menerima.
***

BIODATA
Theodore Permadi Rachmat
Panggilan: Teddy
Tempat dan tanggal lahir: Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat, 15 Desember 1943
Pendidikan: SMA Katolik Santo Aloysius, Bandung; Sarjana Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung, lulus 1968

Riwayat pekerjaan:
  • PT Astra International Tbk (1968-1998); Mengelola United Tractors, anak usaha Astra (1972-1984); Presiden Direktur Astra International (1984-1998)
  • Mendirikan PT Porta Nigra (1970)
  • Mendirikan PT Tripel A Jaya (1979)
  • Mendirikan Triputra Group (1998)
Komisaris, di antaranya: PT Surya Esa Perkasa Tbk, PT Adaro Strategic Investments, PT Adaro Strategic Lestari, PT Viscaya Investments, PT Biscayne Investments, dan PT Dianlia Setyamukti

Kegiatan sosial: Yayasan Pelayanan Kasih A&A Rachmat (sejak 1999)

Jumat, 03 Agustus 2018

AKUISI PERUSAHAAN - Blok Rokan.

Beberapa bulan yang lalu, jagat maya diramaikan dengan tulisan-tulisan baik bernada positif maupun negatif mengenai penanda-tanganan Head of Agreement antara pemerintah dengan Freeport berkenaan dengan divestasi 51% saham Freeport. Tanpa mengerti dan mengetahui dengan jelas isi HoA maupun Kontrak Karya yang diberikan oleh pemerintah RI sejak awal hingga perubahan terakhir, kepada Freeport yang tentunya melatar belakangi HoA. Panjangnya waktu perundingan yang dilakukan oleh pemerintah sampai dengan ditandatangani HoA tersebut menyiratkan bahwa tidak mudah "meyakinkan" FI untuk melepaskan sebagian (hasil) hak pengelolaan pegunungan Grassberg ke tangan pemerintah Indonesia.

Sebagian masyarakat menyatakan dan bahkan menganggap pemerintah "bego" dan mempertanyakan mengapa tidak menunggu hingga tahun 2021 saat KK pengelolaan tersebut berakhir. Pemerintah tentulah yang paling tahu bagaimana kondisi KK beserta turunannya dan berbagai konsekuensi hukum, teknis, ekonomi dan lainnya, sehingga jalan itu (penandatangan HoA) lah yang paling mungkin diambil. HoA sebagaimana namanya hanya merupakan payung hukum untuk berbagai perjanjian turunan yang harus segera diproses dan ditindaklanjuti dengan sangat hati-hati. Para petinggi negara dan PT. Inalum yang dikomandani oleh Budi G Sadikin dan mantan bankir, yang dipercaya serta ditugasi pemerintah untuk mengambil alih porsi saham tersebut tentu paham betul apa yang harus dilaksanakan.  

Masyarakat Indonesia memang aneh bin ajaib... Saat pemerintah menandatangani HoA untuk pengambil-alihan Freeport, jagat maya heboh dan menganggap pemerintah bego karena membeli "harta" yang seharusnya bisa kembali "secara gratis, katanya" saat KK berakhir tahun 2021. Padahal mereka sama sekali tidak tahu secara mendalam isi KK maupun HoA. Yang penting ..... jadi oposan dengan dalih mengkritisi kebijakan pemerintah. Benar atau ngawur pendapatnya, itu soal belakangan.

Kini ..., jagat maya, layar kaca dan media cetak kembali memberitakan bahwa pemerintah menyerahkan 100% pengelolaan Blok Rokan - Sumatera kepada Pertamina mulai tahun 2021 atas dasar proposal yang diajukannya, "mengalahkan" proposal yang diajukan oleh Chevron. Blok Rokan yang awal mulanya dulu dikuasai oleh Stanvac, lalu berpindah tangan kepada CPI alias Caltex Pacific Indonesia lalu terakhir berganti baju menjadi Chevron memang sangat eksotis. Dengan 2 lapangan yang sangat terkenal yaitu Minas dan Duri, hasilnya memang minyak mentah berkualitas tinggi dan "melimpah ruah". 

Ah .... jadi ingat bahwa almarhum kakek dan salah satu oomku dulu bekerja di sana. Kakekku bekerja sejak blok Rokan masih dikuasai oleh Stanvac hingga berubah menjadi Caltex. Sementara oomku bekerja sebagai radio operator di Caltex. Jadi sesungguhnya nama kota Minas, Duri dan Rumbai, kesemuanya di Riau, dulu dikenal dengan sebutan Ridar alias Riau Daratan, sangat tidak asing ditelingaku. Hanya saja ..... belakangan ini, baru tahu bahwa lokasi penambangan minyak bumi itu bernama Blok Rokan.

Pemerintah Indonesia memang banyak mendapat tantangan untuk mengambil-alih Blok Rokan tersebut dari tangan Chevron agar setelah habis masa kontrak Blok Rokan tersebut dapat dikelola secara penuh oleh BUMN alias Pertamina. Dan .... itu dibuktikan saat pada tanggal 31 Juli 2018, pemerintah secara resmi mengumumkan bahwa terhitung tahun 2021 nanti, Pertamina secara penuh akan mengelola Blok Rokan. 

Kini setelah pemerintah telah berhasil membuktikannyasenangkah masyarakat Indonesia?Entahlah .... Kelihatannya masyarakat adem-adem saja... Mereka yang sebelumnya nyinyir mengomentari divestasi Freeport, diam seribu basa. Keberanian pemerintahan Jokowi dan jajarannya memutuskan Pertamina sebagai pemenang KK Blok Rokan sepertinya dianggap tidak patut diberikan apresiasi. Dan segelintir rakyat Indonesia yang selama ini mengenyam kenyamanan berlindung di bawah ketiak asing, yaitu mereka yang selama ini bekerja di perusahaan milik swasta Amerika itu, konon mulai dilanda keresahan .... Kabarnya mereka meragukan kemampuan Pertamina, perusahaan milik bangsa sendiri dalam mengelola blok Rokan.

Hello .......
Kalian mungkin lupa atau Karang memperhatikan, bahwa selama ini mayoritas pekerja di blok Rokan adalah bangsa Indonesia sendiri... Tidak sepenuhnya dikuasai oleh asing berkulit putih ataupun si aseng bermata sipit. Kalaupun ada orang berkulit putih, mungkin jumlahnya hanya segelintir saja. 

Kalian juga mungkin lupa bahwa sejak puluhan tahun lalu, pucuk pimpinan blok Rokan selalu alias pimpinan Caltex sudah dipegang oleh putra Indonesia. Sebut saja, ini hanya yang saya ingat saja, adalah bapak Julius Tahiya dan bapak Harun al Rasyid yang suami Ibu Astari Rasyid, duta besar RI di Bulgaria. Bukankah ini membuktikan bahwa kita, bangsa Indonesia, sejak lama sudah membuktikan kemampuannya mengelola blok pertambangan minyak yang terbesar di Indonesia?

Memang, dalam setiap peristiwa pengalihan pengelolaan sebuah unit usaha, akan selalu terjadi perubahan. Perubahan jajaran management ... Ingat lho ... hanya jajaran management khususnya pada posisi kunci. Hal ini memang perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya "kecurangan" dan mengamankan posisi dan kepentingan pemilik baru. Selebihnya, pada jajaran pelangana, akan tetap dies oleh pekerja yang ada. Pertamina tidak mungkin mengganti seluruh pekerja yang selama ini berstatus karyawan Chevron. 

Bahwa kemudian ada perubahan "budaya" kerja atau mungkin akan ada penyesuaian salary, fringe and benefit dan ini suatu hal yang sangat wajar .... Memang hal ini pasti sangat tidak dikehendaki oleh mereka yang selama ini sangat termanjakan oleh fasilitas "mewah" sebagai karyawan minyak "asing". Maklum ... sudah jadi rahasia umum bahwa gaji pekerja di multi national company jauh lebih besar dibandingkan dengan BUMN sekelas Pertamina sekalipun. Yah ..... kalau sudah begini .... apa boleh buat. Kita memang sangat membutuhkan uang, walau ada sebagian yang lain menyatakan bahwa uang bukanlah segalanya yang menjadi tujuan hidup. Untuk yang memiliki pandandan terakhir inilah, mungkin bisa tersentuh dengan rasa patriotisme .... Bahwa akhirnya .... Blok Rokan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah (2021) genap 50 tahun dikuasai asing.

Masih dalam rangka pengalihan pengelolaan suatu perusahaan, bagi mereka yang pada akhirnya terpaksa atau "dipaksa" mengundurkan diri, ataupun karena hampir masuk usia pensiun  pasti dan sudah seharusnya akan mendapat hak-haknya. Umumnya apa yang disebut golden shake hand atau minimal sesuai peraturan UU Ketenagakerjaan. Ini pasti sudar diperhitungkan oleh Pertamina.

Memang .... akan selalu ada keresahan, karena belum kenal dengan pemilik baru dan seperti biasanya tidak mudah menerima orang baru dan perubahan. Tidak rela meninggalkan zona nyaman. Tapi ..... pemilik baru Blok Rokan adalah bangsa Indonesia dan kelak .... rakyat Indonesia sendiri yang akan menikmati hasil minyak bumi dari Blok Rokan setelah sekian pulun tahun memperkaya asing. 

Ayo .... bangkitkan nasionalisme dan patriotisme ... Kita kawal masuknya Pertamina menjadi pengelola Blok Rokan .... Kita jaga agar hasil yang diperoleh Pertamina dari Blok Rokan tidak dijadikan sapı perah golongan/kelompok elite, tapi semata-mata digunakan untuk kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia .... Kita kawal juga agar kelak Pertamina menjadi "pemain" minyak kelas dunia ... 

Ngomong-ngomong ..... berapa besar lagi cadangan minyak bumi di Indonesia ya...? Beberapa tahun yang lalu, saat akut workshop perminyakan, diperoleh info bahwa masih ada 22 basins yang belum di explore........

Kamis, 02 Agustus 2018

LGBT Merangkai Duka

Copy Paste tulisan dari dr. Ani Hasibuan, ahli syaraf di RSCM, dengan sedikit editing tanpa mengubah esensi tulisannya

Dulu takut menjaga anak perempuan.. tapi sekarang, selain takut menjaga anak perempuan, kita jadi lebih takut lagi menjaga anak laki-laki.

***

Sekedar berbagi cerita dari poli syaraf untuk para orang tua, supaya kita semakin gencar menjaga lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sekolah.

Sejak 1997 saya berurusan dengan para gay. Sampai hari ini belum pernah absen. Mereka pasien terbanyak HIV yang saya tangani. Yang hidup tinggal beberapa orang saja. Barusan suster saya lapor ada lagi yang meninggal 3 hari lalu, karena kriptokokus meningitis atau infeksi jamur di otak.

Dari pengamatan saya,  gay itu ada “kasta”nya.

  • Ada yang *dominan*; biasanya mereja yang punya uang dan lebih tua secara umur.
  • Ada yang *submissif*; kalau saya perhatikan, semacam “piaraan”. Piaraan ini berkasta juga, ada anak muda putih bersih klimis dari kalangan keluarga menengah. Ada juga yang kelas sandal jepit, bukan yang harga 18 ribu ya... 😔.
Perlakuan dari yang dominan pada piaraan juga berbeda, sesuai KW si piaraan. Yang KW original diperlakukan sangat istimewa. 

Waktu saya kerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat pasien mahasiswa universitas swasta terkenal di Jakarta yang kena meningitis kriptokokus (jamur otak). Orang tuanya pekerja petrol, tinggal di Dallas, USA. Dia di sini tinggal sendiri. 

Anaknya tampan, klimis dan kelihatan anak baik. Sang dominan sering ikut mengantar kalau kontrol. Jangan kaget ya... Dominannya ini seorang aktivitis LSM anti HIV! Itu kalau si pasien saya ini mengeluh sakit kepala, si dominan ini mengelus-elus punggung si submissif sambil bilang, “Sakit ya sayang? Yang mana yg sakit? Sabar ya sayang..”
Untung saya masih setia pada sumpah hipocrates. Kalau saya berkhianat, si dominan itu mau saya suntik fentanyl 1000 cc biar mokat, sekalian mampus..!. 

Tapi saya pernah juga dapat seorang dominan yang kena infeksi di medulla spinalis, spondilitis TB. Jadi lumpuh kedua kakinya tiba-tiba. Pas dirawat, submissifnya datang menemani. Itu dibentak-bentak, gak ada sayang-sayangnya. Si submissif ini tampilannya sih kelas sandal jepit, manggil dominannya "Abaaangg...” Jijik ya dengarnya 😖.

Ada juga piaraan bayaran. Satu pasien saya asal Jogja, sekarang sudah meninggal dengan Toksoensefalitis; bisul di dalam otak, karena kuman tokso yang sering nempel di badan kucing, anjing. Mengaku dia bayaran,  dipiara seorang laki-laki Cina untuk bayaran 1000 sampai 2000 USD per bulan. Uangnya dia kirim ke Jogja untuk anak dan istrinya... 😩. 

Dia ini sejatinya bukan gay, jadi semacam pelacur lelaki (gigolo) yang bekerja sebagai caddy lelaki di satu lapangan golf di Tangerang. Waktu ketahuan HIV dan tokso, dia  menangis meraung-raung. Selama dirawat di rumah sakit, baca Qur’an terus. Kalau saya periksa selalu terisak-isak dan bilang menyesal. Pas ketemu bininya saya yg berkaca-kaca. Sebab bininya perempuan berhijab rapi dengan dua balita yang juga berhijab. 

Ada juga gay kakak adik. Sejak kecil mereka dikasih satu kamar dan satu ranjang oleh emak bapaknya. Pas gede, tabu-tahu yang kakak kena kripto. Dicek HIV positif. Ditanya pasangannya siapa? Dia bilang adiknya. Pas adiknya dicek, positif juga HIV-nya. Keduanya sudah meninggal, dalam satu ruang rawat yang sama. Ayahnya hingga anak-anak itu dikubur pun gak pernah mau datang nengok.

Hati-hati dengan anak-anak.. Ajarkan mereka untuk bertindak agresif kalau ada yang coba-coba menggoda (gay). Jangan kasih ampun, langsung pukuli beramai2..!!

Pengalaman saya dari anak-anak yang kena goda para 'penyuka anus' ini,  mereka makin agresif kalau yang digoda diam atau menunjukkan rasa takut. Tapi langsung berhenti kalau yang digoda langsung main fisik. Beberapa anak muda yg digoda gay konsultasi ke saya bersama ortunya. 

Bila anak bepergian, jangan ijinkan kalau sendirian...! Usahakan beramai-ramai, supaya nyalinya tidak ciut kalau ada gay yang datang menggoda. Mereka bisa tawarkan apa saja; bisa uang, bisa bujuk rayu, bahkan ancaman.

Dari wawancara dengan pasien-pasien gay, mereka ini tadinya SEMUA pernah mengalami anal seks, sebagian besar secara paksa! Setelahnya mereka akan sangat dijaga dan ditemani oleh kelompok gay. Pergaulannya diganti jadi pergaulan gay, dst. 

Cerita tentang gay semua berakhir TRAGIS...!!! Belum pernah saya dengar yang berakhir seperti di cerita fairytopia... Misalnya berakhir seperti Cinderella, happily ever after... 

Kisah para gay berakhir dengan tokso, kripto, TB, pnemonia, kandida, dan diujungnya mati sendirian tanpa didampingi kaumnya.

Semoga bermanfaat..

----
💌 Bila Anda menganggap bahwa tulisan ini bagus dan perlu diketahui oleh banyak orang, tolong bagikan kpd teman, kerabat serta handai-taulan yg lain. Demi menyelamatkan generasi penerus bangsa.... 🇮🇩🇮🇩

Senin, 25 Juni 2018

SOAL ISRAEL DAN PALESTINA

Konflik Israel dan Palestina itu sangat kusut dan njlimet. Jauh lebih kusut, njlimet, dan tidak masuk akal ketimbang drama Korea, India, dan telenovela digabung menjadi satu. Apa pun upaya kita untuk menyederhanakannya pasti akan diketawai (atau dikecam) oleh orang lain yang merasa lebih tahu soal konflik ini (dan kok ya Alhamdulillah ada sangat banyak orang yang merasa lebih tahu soal konflik ini ketimbang Gus Yahya meski pun mungkin belum pernah membaca sedikitpun sejarah tentang konflik kedua negara ini). 

Bagaimana tidak kusut lha wong konflik ini sudah berlangsung puluhan tahun dan melibatkan begitu banyak negara dan kepentingan. Selain itu ada juga perang saudara antara dua faksi politik yang berbeda di Palestina, yaitu antara Hamas dan Fattah.. Jadi selain berperang melawan Israel rakyat Palestina juga berperang satu sama lain di bawah dua kekuatan politik dan militer yang berbeda yaitu Hamas dan Fattah yang telah berlangsung puluhan tahun. 

Jadi kalau kita mau tahu sebenarnya ada ‘Dua Palestina’ disana, yaitu Palestina Fattah dan Palestina Hamas. Jadi kalau kita membela Palestina maka kita akan ditodong dengan pertanyaan politis faksi mana yang kita bela, Palestina a la Hamas atau Palestina a la Fattah? Lha wong meski sama-sama mewakili rakyat Palestina mereka punya aspirasi politik dan wilayah yang berbeda. Ada faksi yang bersedia berdamai dengan Israel dengan solusi ‘Dua Negara’ dan ada faksi yang tidak mau damai dan mau tetap melenyapkan Israel dari muka bumi. Dua faksi ini selama belasan tahun juga berperang satu sama lain. Jadi kalau sampeyan bilang membela Palestina sebenarnya sampeyan membela Palestina yang mana? Palestina yang Fatah atau yang Hamas? Palestina yang mau berdamai dengan Israel atau Palestina yang mau melenyapkan Israel dari muka bumi?

Konflik Israel dan rakyat Palestina sendiri  kalau dirunut sudah berusia 70 tahunan dan bahkan sudah muncul sebelum Perang Dunia I. Tapi saya tidak akan bicara sejauh itu. Kuatir kebablasan dan gak bisa kembali karena jauhnya saya pergi. Sila buka referensi sendiri tentang konflik ini di internet yang bisa dibaca pelan-pelan sambil nyruput kopi.

Meski kusut bukan main tapi satu hal yang pasti dari konflik ini yaitu bahwa Israel, yang sebelumnya adalah bangsa yang menderita karena genosida kini telah menjelma menjadi negara penjajah yang melakukan pencaplokan tanah dan pengusiran bangsa lain, yaitu bangsa Arab, di Palestina. Dulu mereka datang sebagai pengungsi dan sekarang mereka mengusir penduduk Palestina yang telah lebih dulu tinggal disana. 

Secara sederhana, konflik ini intinya adalah perebutan wilayah Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, yang dalam hal ini adalah orang-orangYahudi yang datang ke daerah tersebut sebagai pengungsi dan bertikai dengan para penduduk Arab yang sudah lama menempati daerah tersebut. Akhirnya mereka berkonflik dan berperang berkali-kali yang terus dimenangkan oleh Israel. Hal ini membuat Israel merasa bahwa sebagai pemenang perang ia berhak mengakuisi tanah yang dimenangkannya. Mereka lalu mengusiri orang-orang Palestina yang sudah lama ada di sana.

Tentu saja kelakuan Israel ini kurang ajar. Israel terus menerus berupaya untuk menganeksasi tanah orang-orang Palestina. Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bahkan mengeluarkan kecaman terhadap langkah Israel mengesahkan permukiman ribuan rumah di tanah Palestina yang diduduki Israel di Tepi Barat. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan tindakan Israel tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan akan menyebabkan konsekuensi hukum bagi Israel. Mengapa Israel begitu adigang, adigung, adiguna? Ya karena selalu dibela oleh Amerika Serikat yang merupakan sekutu setianya dan juga karena terpecahnya Palestina itu sendiri. 

Fatah dan Hamas muncul sebagai dua kekuatan politik utama dalam gerakan kemerdekaan Palestina. Tetapi ada perbedaannya. Misalnya dalam strategi, dalam hal penentuan nasib dan status kemitraan politik mereka. Hamas dan Fatah memang berbeda pandangan dalam menyikapi perlawanan terhadap Israel. Tujuannya sama, yaitu penentuan nasib sendiri bagi Palestina tapi dengan cara yang berbeda. 

Fatah didirikan oleh Yasser Arafat pada tahun 1964 sebagai representasi berbagai faksi yang ingin menentukan nasib sendiri. Fatah jadi kekuatan utama dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Fatah berarti "kemenangan" organisasi ini dipimpinnya hingga meninggal pada tahun 2004. Partai sekuler ini awalnya berupaya mendirikan negara Palestina lewat gerilya. Fattah setujui solusi Dua Negara dengan Yerusalem sebagai ibukota bersama. Sebaliknya Hamas tidak mau menerima eksistensi Israel  dan menyerukan penghancurannya. Perbedaan ini semakin tajam ketika Fatah dan PLO bersedia berunding dengan Israel, bahkan mengakui eksistensi Israel (meskipun sering dikhianati oleh Israel).

Hamas adalah organisasi militan. Hamas singkatan dari Harakatal-Muqawamah al-Islamiyyah yang berarti Gerakan Perlawanan Islam. Organisasi militan ini didirikan Sheikh Ahmed Yassin pada tahun 1987 dengan sokongan Ikhwanul Muslimin dan anggota PLO yang religius. Partai keagamaan ini mulai naik pamornya pada tahun 1993, ketika menolak Kesepakatan Oslo, di mana PLOyang dipimpin Fatah setuju bahwa Israel punya hak untuk eksis, sedangkan Hamas tidak sudi mengakui Israel. 

Sebenarnya ada banyak upaya untuk melakukan perdamaian antara Israel dan Palestina. Diantaranya adalah perundingan PLO-Israel yang dimediasi oleh AS, yaitu Perundingan Oslo yang hasilnya adalah berdirinya Otoritas Nasional Palestina (PNA) pada tahun 1994. Otoritas Palestina ini dipimpin langsung oleh Yasser Arafat. Sayang sekali kesepakatan damai yang telah diteken olehYasser Arafat dan Yitzhak Rabin ini ditentang oleh kelompok Hamas dan sejumlah faksi radikal Palestina yang tetap ingin melakukan perjuangan melalui perang bersenjata.

Januari 2005, diadakan pemilihan Presiden Otoritas Palestina. Hamas memboikot pemilu ini, dimana pemilu ini dimenangkan Mahmoud Abbas, pemimpin Fatah pasca Arafat. Tapi Hamas kemudian berubah pikiran dan ikut dalam  pemilu Legislatif bulan Januari 2006 dan berhasil meraup 42,9% suara. Hal inimembuktikan perjuangan Hamas juga didukung oleh mayoritas penduduk Palestina..

Kemenangan Hamas dalam pemilu legislatif mengakibatkan terpilihnya Ismail Haniyah sebagai Perdana Menteri Palestina. Namun karena Hamas tidak pernah menghentikan serangan-serangan kepada Israel, negara-negara Barat telah menempatkan Hamas sebagai organisasi teroris. Terlebihi setelah pernyataan Ismail Haniyah yang menyatakan bahwa mereka tetap tidak akan mengakui keberadaan Israel. Ini jelas berbeda dengan Fattah yang mengusulkan solusi mengakui negara Israel agar Palestina juga dapat berdiri sebagai negara merdeka berdampingan dengan Israel.

Israel dan Hamas saling serang dengan saling melemparkan roket ke wilayah masing-masing. Jadi yang berperang di Gaza itu sebenarnya pasukan Israel dan pasukan Hamas. Fatah sendiri menentang tindakan Hamas karena dengan terus memerangi Israel akan membuat perdamaian tidak akan mungkin tercapai. Perang antara keduanya meletus dan menewaskan ratusan orang. Puncaknya pada 14Juni 2007, Presiden Otoritas Palestina membubarkan kabinet dan memecat Ismail Haniyah. Hamas menolak keputusan itu dan tetap menganggap Ismail Haniyah sebagai Perdana Menteri. Hingga kini Gaza dikuasai Hamas dan Tepi Barat dikuasai Fatah. Sejak bulan Juni 2007 pula Israel memblokade Gaza. Dan di Gaza inilah kekejaman Israel terus berlanjut karena provokasi yang tiada henti dari milisi Hamas. 

Hamas yang dicap sebagai kelompok teroris oleh negara-negara Barat berkuasa di Jalur Gaza menyusul perang sipil selepas pemilihan. Sementara Fatah yang diakui negara-negara Barat mengelola daerah pendudukan Israel di Tepi Barat melalui Otoritas Palestina. Serangan-serangan Israel yang terus meningkat dan menimbulkan ribuan korban jiwa di Gaza menyadarkan kedua kekuatan soal perlunya rekonsiliasi. Kedua pihak sepakat membentuk pemerintahan bersatu pada 2014 meski pelaksanaannya terus tertunda.

Pada September 2017 lalu, Fatah dan Hamas sepakat merundingkan rekonsiliasi yang disponsori Pemerintah Mesir. Sebagai langkah awal rekonsiliasi tersebut, Hamas sepakat menyerahkan pengelolaan Gaza pada pemerintahan bersama. Ini jelas sebuah langkah maju. 

Setelah lebih dari satu dekade bertikai, faksi Hamas dan Fatah yang membelah Palestina menjadi dua wilayah dengan administrasi berbeda akhirnya mencapai kesepakatan dalam sebuah rekonsiliasi di Kairo, Oktober 2017 kemarin. Pemerintahan bersama yang mengawasi seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza ditargetkan selesai terbentuk selambatnya pada Desember 2017.

Salah satu poin kesepakatan kemarin adalah kedua pihak sepakat menyerahkan pengamanan perbatasan Gaza-Mesir di Rafah kepada pemerintah bersama Palestina dengan pengawasan Badan Perbatasan Uni Eropa (EUBAM). Kedua kubu juga menyepakati penyerahan secara penuh kendali administrasi di Gaza kepada pemerintahan bersama pada 1 Desember 2017. Selain itu, disepakati juga Palestina akan menggelar pemilihan presiden dan pemilihan anggota parlemen setahun sejak kesepakatan rekonsiliasi ditandatangani. Alhamdulillah, semoga mereka akan terus berdamai dan bersepakat dalam kepemerintahan Palestina yang satu. 

Setiap bangsa dan negara akan melihat konflik ini dari perspektif dan kepentingan bangsanya masing-masing tentu saja. Nah, karena mayoritas orang Indonesia itu umat Islam sedangkan Israel itu mayoritas Yahudi maka mereka selalu mengambil angle PERANG AGAMA antara agama Yahudi dan agama Islam dalam melihat konflik ini. Mereka tidak mau tahu jika diberi narasi bahwa konflik ini bukan konflik antar agama. Siapa pun yang mencoba untuk bersikap sok bijaksana, sok Gus Yahya, sok damai akan ditentang. Mereka akan dianggap tidak punya ghirah dalam membela sesama umat Islam. Setelah itu tudingan akan meningkat menjadi  munafik bin pengkhianat agama jika coba-coba sok wise dalam urusan konflik ini.

Mari kita menarik napas dulu dan bertanya pada diri kita sendiri. Apa sih yang kita harapkan dari konflik Israel dan Palestina ini? Mosok kita masih terus berharap lenyapnya Israel dari muka bumi padahal orang Palestina sendiri sudah setuju untuk hidup berdampingan dengan damai dengan Israel yang mekithik itu? Sekarang pun Hamas sudah mulai bosan berperang dengan Israel dan sekaligus berperang dengan saudaranya sendiri. Lha mosok kita yang hidup di negara yang aman damai dan sentosa ini justru berharap terjadi peperangan terus menerus disana dan berkata ‘Jangan ada Gus Yahya di antara kita’. Kalau Donald Trump sudah gandengan tangan dengan Kim Jong Un, mari kita berharap Presiden Palestina Mahmoud Abbas bisa bergandengan tangan dengan Benyamin Netanyahu untuk menuju dunia yang lebih aman, damai, sentosa. 

Setelah itu mari kita pikirkan bagaimana caranya mendamaikan Sunni danSyiah.. Ini tampaknya lebih sulit karena usia konfliknya sudah belasan abad danmelibatkan lebih banyak negara. 

Surabaya, 25 Juni 2018
Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

Selasa, 15 Mei 2018

Bibit Teroris di Surabaya

Tulisan menarik untuk disimak, dimengerti dan diwaspadai

Bibit Teroris di Surabaya
Oleh: Muhammad Bahrudin (Kandidat Doktor Ilkom Fisip UI)

Bibit-bibit radikalis sebenarnya sudah sangat tampak di sekitar kita. Bahkan sudah lama. Di kampus, masjid, kos, kontrakan, dan lain-lain. Saat menjadi mahasiswa S1, saya sudah 3x diajak bergabung dengan kelompok-kelompok yang mengaku paling agamis, paling Islam, paling tahu jalan surga. Bahkan sekali saya dihipnotis di sebuah rumah kontrakan. Beruntung, Allah masih menolong saya. Aksi hipnotis tak berjalan sesuai dengan harapan..

Seorang teman kos nyaris tiap hari didatangi, dirayu, dan dirajuk untuk ikut kelompok mereka atas nama "kajian". Dia gamang, antara tertarik tapi juga khawatir. Bersama saya, akhirnya kami bendung dengan berbalik "menceramahi" mereka. Nyaris sama dengan kejadian yang terjadi pada saya dan kakak saya, sebelum kuliah.  

Sang marketing agama itu tiap hari ke rumah saya. Iming-iming surga dan semangat membela agama selalu disulut untuk membakar kami yang saat itu sedang getol ngurusi remaja-remaja masjid dikampung kami. Mereka berusaha menyusup dengan dalih dan dalil yang dianggap paling benar. Seolah saat itu Islam dalam keadaan terjepit sehingga harus diselamatkan dari kaum kafir, munafik, dan dibawah rezim yang dzalim.

Beruntung kami lebih dulu dijejali dengan dalil-dalil agama Islam yang mengedepankan cinta damai oleh bapak saya dan guru-guru saya sehingga apa yang disampaikan kaum radikalis itu selalu bertentangan dengan hati nurani kami. Kami secara tegas menolak dan memberikan ultimatum untuk tidak datang lagi ke rumah kami.

Masih tentang kaum radikalis. Sungguh sulit saya menyebut mereka adalah orang yang beragama, apalagi agama Islam.  

Seorang saudara keponakan tiba-tiba sangat rajin "mengaji" di kawasan Surabaya hingga larut malam, sekitar 15 tahun lalu. Ibu bapaknya kerap menangis karena tiap hari dia mengumpat negara-negara kafir di televisi. Kedua orangtuanya takut dengan perubahan drastis anaknya.

Suatu ketika dia bercerita, sang ustadz menawarkan jihad di negeri Afganistan. Respon para peserta kajian, yang sebagian besar dari para mahasiswa di Surabaya, saling berebut untuk ikut dan segera mendaftar. Tentu saja sebagian disiapkan jadi "pengantin" untuk masuk surga. Saya bertanya, 
"Kenapa kamu tidak ikut?"
"Belum siap," jawabnya
"Koq belum siap? Udah, ikut aja. Katanya dijamin masuk surga?" tanya saya retoris.

Dia diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Saya mulai bercerita ttg pengalaman saya saat dihipnotis, diajak kajian, hingga saya jelaskan paham-paham radikal yang menggejala di Indonesia, termasuk di Surabaya. Syukurlah sejak saat itu dia berhenti mengikuti kajian-kajian yang berisi kebencian dan kebencian. 

Yang merepotkan, bibit teroris itu saat ini semakin masuk dan mulai banyak diterima masyarakat. Korbannya adalah orang-orang baru mempelajari Islam atau orang-orang yang baru menginjak Indonesia karena lama di negeri seberang. Mereka sangat mudah dijebak. Tanpa harus dihipnotis, mereka dengan sukarela masuk dalam ajarannya dan dengan senang hati merayakan di medsos-medsos. Apalagi paham radikalis semakin berpolarisasi ke dalam sub-sub kelompok, sub-sub kajian, sub-sub agama, sub-sub budaya, dan sub-sub politik.

Yang menjadi dilematis adalah ketika aparatur negara (dengan pendampingan MUI) mengatur ajaran-ajaran agar tak bertentangan dengan konsensus NKRI, Pancasila, dan UUD 1945, justru dianggap mengkriminalisasi ulama. Yang memprihatinkan, ini diamini oleh sebagian masyarakat dan dikomodifikasi sebagian para politikus.

Semoga Surabaya yang damai akan terus damai. Toleransi akan terus dijaga. Turut berduka cita sedalam-dalamnya bagi saudara yang menjadi korban keberingasan teroris. Save Surabaya!
***

GIMANA SEORANG MUSLIM BISA JADI TERORIS ? 

1. Mereka ini awalnya adalah orang² baik yg berusaha jadi lebih baik dengan ikut kelompok-kelompok pengajian. 

2. Oleh guru ngaji kelompok pengajiannya ditanamkanlah mana sikap² yang sesuai sunnah nabi (berdasarkan versi mereka) , mana yang tidak nyunah. Mulai dari makan minum sambil duduk, tidur berbaring ke kanan. Kalo ada laler masuk ke minuman tuh laler dicelupin dulu ke air baru airnya bisa diminum. Ngerembet ke celana cingkrang, pake jenggot, jidat item, kalo ngobrol dengan lawan jenis gak boleh kontak mata. Wal hasil itu ditanamkan terus hingga mereka yang melakukan itu semua merasa lebih "nyunnah" dari yang lain. 

Belajar agama dengan orang² ini adalah SAMI'NA WA ATO'NA. nurut dengan ajaran mereka sama dengan nuruh ajaran Nabi. Kritis dilarang. Beda cara beragama berarti ngga sesuai sunnah nabi. Karena sumber sunnah Nabi harus berasal dari golongan yang sepemikiran dengan mereka. Mau dia kiyai,  mau dia profesor lulusan Mesir,  gak peduli.  Beda = Ngga sunnah. 
Jangan heran kalau ulama besar sekaliber Quraish Shihab,  KH Said Aqil,  Gus Mus, dan lain lain dianggap kalah ilmu dengan ustad² yang ngajinya seminggu sekali dengan murobi yang ilmunya 1 tahun di atas dia. Sekalipun dia mualaf (orang yang baru kenal Islam beberapa tahun saja). 

3. Dari sikap paling sesuai sunnah,  ngerembet ke sikap lebih Islami dari yg lain. Mereka hobbinya teriak² "KAMI UMAT ISLAM".  Seolah-olah agama ini hanya mereka yang punya, muslim yang lain ngontrak doang. Karena kurang Islam. Kalau sudah begini, anda beda pilihan/pendapat dengan mereka langsung dianggap sesat,  kafir, bid'ah. Kadang terhadap orang tua/keluarganya sendiri sering konflik hanya karena beda cara beragama. 

4. Dari menolak perbedaan, sampai menganggap mereka yang beda itu musuh. Walau pun mereka satu agama. Mereka merasa mewakili "Umat Islam" yang sedang dizolimi hingga harus melawan. Musuh kelompok dianggap musuh agama. Hingga membuat isu hoax/fitnah/kebencian terhadap kelompok2 yang beda dianggap bagian dari perjuangan agama. 

5. Kebencian yang mendalam terhadap kelompok yang berbeda, yang dianggap kafir, dianggap dzolim,  berubah menjadi perilaku keras yang berujung terorisme. Membunuh mereka dianggap jihad dan mereka bangga melakukannya.

Embrio kelompok-kelompok ini mulai dari Rohis di sekolah² , kampus², kegiatan² masjid. 
Sasarannya adalah orang² baik yang polos. Mereka memilih serius belajar agama dan ingin jadi pribadi yang lebih baik. Mereka mengira guru² yang mengajarkan agama adalah orang² tulus, ikhlas & tidak punya kepentingan apa pun seperti dirinya. Guru yang sama yang mengajarkan ma'rifatullah,  ma'rifaturrasul,  akhlaq,  shirah nabawi,  tauhid adalah orang yang sama yang juga mengajarkan kebencian dan membunuh saudaranya yang tidak sepaham sebagai ibadah. Sehingga ajaran kebenaran dan kebatilan terlihat sama. 

***
Saran saya,  gunakan "AKAL" mu saat akan berguru ke mana pun. Dengan akal kita bisa membedakan mana yang baik yang bisa diambil ibroh/pelajaran, dan mana yang penting untuk dikritisi.  Meski pun itu keluar dari GURU NGAJI.  Akal itulah yang membedakanmu dengan makhluk lainnya, hingga ketika kamu belajar kamu menjadi "Manusia" bukan malah menjadi "Domba" yang dicocok hidungnya. Hidupmu seperti zombie yang dikendalikan orang lain. 

Kamu diperintahkan Belajar Agama untuk menjadi menusia yang berilmu.  Karena ciri orang berilmu itu pasti BIJAK & TUJUAN AKHIR BERILMU AGAMA adalah TAWADLU & BERAKHLAQ MULIA terhadap sesama. Bukan malah semakin sombong dan buas.

Kamis, 10 Mei 2018

Sinyal Matinya Inovasi Daerah

Pada era desentralisasi ini, seringkali ada gurauan bahwa Indonesia diperintah oleh banyak raja - raja kecil yang seringkali "tidak mau tunduk" dan mensiasati aturan pemerintah pusat. Andaikan upaya mensiasati" aturan pusat digunakan untuk kepentingan rakyat banyak dalam arti penduduk di wilayahnya, tentu hal ini masih bisa "diterima". Namun seringkali siasat ini menjadi pintu masuk perilaku korup.

Di bawah ini, ada "keluhan" dari salah seorang bupati di Jawa Timur yang usulan "untuk kepentingan masyarakat" tidak sejalan dengan pemerintah provinsi. Silakan dicermati;
(terima kasih pada mbak Rerie Moerdijat atas ijin menyebabkan tulisan ini)
***

Penolakan Gubernur atas raperda dana abadi Bojonegoro: Sinyal Matinya Inovasi Daerah
Kang Yoto - Bupati Bojonegoro
Tiga tahun perjuangan pembentukan dana abadi Bojonegoro kini kandas di tangan Pemprov Jatim. Sudah sejak empat tahun yang lalu Bojonegoro mulai mematangkan gagasan pembentukan dana abadi... Apa semangat dan misinya?

Sebenarnya gagasan dana abadi itu bukan asli dari Bojonegoro. Timor Leste sudah melakukan. Norwegia negara yang berhasil menabung seluruh dana migasnya dan tidak boleh dibelanjakan pemerintahnya. Sampai sekarang dananya masih utuh dan bertambah terus. Di USA lebih dari 50 kota punya dana abadi. 

Argumen moralnya sederhana: kandungan migas itu beda dengan air sumur. Migas akan habis setelah diambil. UUD telah mengamanatkan kekayaan alam harus dimanfaatkan sebesar besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dalam hal migas, anak cucu juga berhak mendapatkannya.

Prinsipnyapun jelas: tabunglah dan sisakan untuk generasi berikutnya. Sedangkan kebalikan dari prinsip itu adalah: belanjakan semaksimal mungkin dan jangan sisakan untuk anak cucu.

Memang bisa saja berdalih jika pemkab pandai membelanjakan dalam lima tahun ke depan, toh hasilnya juga dapat dinikmati, termasuk diinvestasikan menjadi kegiatan usaha lewat BUMD. Tetapi pertanyaanya adalah: belanja apa yang pasti akan berdampak jangka panjang dan pasti akan untung?

Menabung itu juga bisa dimaknai: jangan belanjakan uangnya sekarang saat engkau belum siap atau belum melihat peluang yang tepat. Tapi kau boleh belanjakan di saat yang tepat. Atau dalam istilah lain bisa juga disebut kalahkanlah nafsu pesta pora"? 

Perjalanan panjang yang terseok-seok itu kini mencapai titik kulminasi setelah surat fasilitasi Pemprov keluar. Surat itu menyatakan bahwa: Substansi penolakan gubernur adalah: 

  1. Dianggap investasi dana abadi belum masuk RPJP, 
  2. Raperda keabadian dana tidak boleh lebih dari 5 tahun atau melampaui jabatan Bupati,
  3. Tidak ada payung hukum yang lebih tinggi.
Ada tiga jenis inovasi:

  1. Ad hoc : misalnya layanan satu atap perijinan, pelibatan warga dalam pembangunan kawasan
  2. Sektoral: misalnya aspek keuangan
  3. Sistemik dan strategis: misalnya Open data contract standart dan SDGS, dan dana abadi ini
Lokasi Bojonegoro di Jawa Timur
Selama 10 tahun ini Pemkab Bojonegoro telah mengeluarkan berbagai inovasi pengelolaan pemerintahan yang bersifat adhoc, sektoral dan sistemik-strategis. Pada umumnya inovasi jenis pertama selalu mendapatkan apresiasi, tapi inovasi yang kedua dan ketiga ini ternyata belum mendapatkan perhatian.

Perlakuan Pemprov Jatim terhadap raperda dana abadi Bojonegoro menggambarkan bahwa Pemprov belum mampu mengakomodir inovasi daerah yang bersifat sistemik-strategic dan sektoral. Pemprov terjebak pada alam berpikir legal formal daripada alam berpikir strategis jangka panjang dan substansi governance. 

Bayangkan, untuk melahirkan inovasi itu, para politisi lokal harus punya imajinasi yang sangat jauh sehingga saat penyusunan RPJP yang berusia 25 tahun, inovasi itu sudah dimasukkan. Dalam penyusunan RPJP terkait isu strategis Bojonegoro, naik turunnya pendapatan migas sebenarnya sudah mendapat perhatian. Demikian juga soal kesadaran bahwa kandungan migas akan habis pada masanya. Pembentukan dana abadi menjadi salah satu solusinya. Dari perspektif Pemprov Jatim, kesalahan Pemkab Bojonegoro adalah 10 tahun yang lalu belum menyebut istilah spesifik "dana abadi" dalam RPJP.

Lokasi Blok Cepu
Niat baik Bupati Bojonegoro (2008-2018) untuk tidak menghabiskan seluruh pendapatan dari sektor migas pada masa puncak produksi. Untuk kemudian ditabung agar dapat dimanfaatkan untuk pengembangan SDM dalam jangka panjang dipersalahkan karena melampaui periodesasi pejabatnya. Padahal dengan sifat keabadiannya, berarti dana ini akan menjadi "warisan" untuk bupati yang akan datang. 

Dari perspektif politik, justru sebenarnya ini sangat menguntungkan untuk bupati selanjutnya. Yang seharusnya dilarang adalah ketika sebuah kebijakan jangka panjang itu menjadi beban untuk pemimpin berikutnya. Misalnya seperti proyek pembangunan infrastruktur yang bersifat multi-years melampaui masa jabatan bupati. Kalau mengikuti logika Pemprov Jatim, berarti membelanjakan habis seluruh pendapatan migas lebih benar daripada menabung demi kesinambungan masa depan pembangunan Bojonegoro. 

Jika logika tentang payung hukum di atasnya diikuti, maka inovasi daerah akan sangat tergantung dengan kemampuan dan kemauan pusat dalam menyediakan payung hukum, bukan hanya untuk hal-hal yang bersifat makro, tetapi juga yang bersifat keunikan kedaerahan. Keunikan daerah seperti Bojonegoro bisa jadi hanya sebutir debu dilihat dari Jakarta. Dari sisi pengelolaan daerah, akan sangat berat bagi para politisi lokal untuk menghasilkan terobosan sistemik-strategis yang berdampak jangka panjang, sebab umumnya mereka berganti setiap lima tahun. Dengan mekanisme ini maka terobosan-terobosan pengelolan pemerintahan daerah yang muncul akan kandas di tengah jalan.

Blok Cepu - ladang minyak
Solusi:
Lalu apa yang dapat dilakukan para pihak? Sepanjang kebenaran moralitas publik bahwa "di balik sumber daya alam terkandung hak generasi mendatang" masih dibenarkan maka, Pemkab Bojonegoro dapat segera melakukan klarifikasi ke Gubernur dan menjelaskan substansinya. Mengingat, sebenarnya Kementerian Keuangan sudah memberikan lampu hijau lewat surat yang dikirim ke Pemkab Bojonegoro. 

Jika Pemprov tetap pada pendiriannya maka dapat dicari celah yang memungkinkan dengan mengubah bentuk kelembagaan atau nomenklaturnya namun misinya sama yaitu tabungan untuk pengembangan SDM berkelanjutan. Dalam hal ini Pemprov dapat menjadi fasilitator untuk menemukan solusi yang dipandang tepat.

Kedua, Pemerintah Pusat dapat segera memberikan payung hukum yang memungkinkan pembentukan dana abadi. Mengingat, baru-baru ini pemerintah pusat telah mentransformasikan dana beasiswa LPDP menjadi dana abadi pendidikan yang secara konsep memiliki kemiripan dengan dana abadi migas Bojonegoro.

Ketiga: buat kesepakatan atau pedoman bersama bahwa pada dasarnya apa yang tidak dilarang, sepanjang tidak mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara diperbolehkan. Jangan dibalik: apa yang tidak diperintah itu dilarang.

Kang yoto (suyoto)
Bupati Bojonegoro 2008-2018

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...