Kamis, 01 Agustus 2019

SEBEGITU TOLOLNYAKAH KITA…?!

Wed Jul 31, 2019 7:41 pm (PDT) . written  by: 

"Satria Dharma" satriadharma2002 


Saya membaca posting Husni Syawie soal segelintir umat Islam yang masih terus saja memperjuangkan masuknya syariat Islam dalam konstitusi kita, dalam hal ini adalah FPI. Postingnya bisa dibaca di 

Umat Islam memang tidak pernah mau belajar dari sejarah, meski pun itu di depan matanya sendiri. Mereka terus menerus terjebak dalam kesalahan yang sama dan dengan bebalnya mengira mereka sedang memperjuangkan kebenaran agama mereka. Padahal mereka sedang tertipu oleh agenda politik kekuasaan. Sungguh menyedihkan…!

Umat Islam Indonesia memang masih mudah dikecoh dengan segala atribut yang berbau agama. Dan itu sudah disampaikan oleh Ibnu Rusd berabad-abad yang lalu dengan peringatannya: ”Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama.” 

Umat Islam sangat mudah dikecoh dengan kemasan yang berbau agama dan itulah yangdilakukan oleh berbagai organisasi, termasuk organisasi massa FPI dan organisasi politik Hizbut Tahrir yang telah diberangus itu. Coba lihat fakta yang ada di depan mata kita ini.

PAKISTANSebelum merdeka Pakistan merupakan bagian dari negara India. Tapi umat Islam di Pakistan tidak ingin berada di bawah pemerintahan umat Hindu. Mereka tidak ingin menjadi satu dengan umat Hindu. Mungkin mereka merasa menjadi satu dengan umat lain itu ‘tidak islami’ dan mengira bahwa jika mereka berbentuk negara Islam maka kemajuan, kemakmuran, berkah, rahmat, aman, damai, tentram akan tercurahkan secara otomatis pada negara mereka. Kemudian mereka memisahkan diri dan membentuk negara nasionalnya sendiri yang berdasar pada agama Islam. Di bawah Ali Jinnah, Pakistan mengambil jalan sendiri memisahkan diri dari India karena merasa bahwa aspirasi politik umat Islam saat itu tak bisa disalurkan.

Apakah dengan memiliki negara sendiri umat Islam di Pakistan menjadi negara hebat, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur? Nehi…! Apakah setelah jadi negara Islam maka umat Islam di negara tersebut merasa puas dan berhenti bertikai? Nehi…! Pakistan akhirnya juga pecah. Pakistan Timur memisahkan diri dan menjadi negara Bangladesh melalui banyak pertumpahan darah dan perang saudara. Perang saudara antara sesama muslim…! Jadi meski pun sudah menjadi negara sendiri dengan pemimpin umat Islam perpecahan tetap tidak terhindarkan. Itu adalah sejarah dan fakta yang ada di depan mata kita dan masih terus berlangsung sampai saat ini.
 
Pakistan adalah negara Islam. Selain berkonflik dengan India ia juga berkonflik dengan Afghanistan yang juga negara Islam. Jadi pertikaian antar sesama umat dan pemerintahan Islam itu terus berlanjut sampai sekarang.

AFGHANISTANAfganistan sebetulnya adalah negara yang damai pada waktu pemerintahan Zahir Syah selama empat puluh tahun. Di tahun 1970an, serangkaian kudeta diikuti dengan serangkaian perang sipil menghancurkan sebagian besar Afganistan. Kejadian–kejadian ini mulai ketika negara tersebut dijadikan negara sosialis di bawah pengaruh Uni Soviet selama Perang Soviet–Afganistan. Setelah pasukan Soviet meninggalkan Afganistan negara ini menjadi negara Islam. Namun sebagian besar wilayahnya telah dikuasai oleh kelompok supremasi Islam, Taliban, yang memerintah negara itu selama hampir lima tahun sebagai rezim totaliter. Taliban berusaha menerapkan interpretasi hukum Syariah Islam yang ketat. 

Apakah dengan menerapkan hukum syariah Islam yang ketat dan ‘murni’ lantas membuat negara ini menjadi makmur, sejahtera, sentosa, aman dan damai, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur? Nehi…! Afghanistan bahkan menjadi daerah konflik yang tidak berkesudahan. Ia menjadi tempat bersarang bagi individu dan organisasi yang terlibat terorisme,terutama jaringan Al-Qaeda Osama bin Laden. Sampai sekarang Afghanistan masih juga kacau dan dianggap sebagai negara yang paling tidak aman bagi wanita. Kemiskinan, ketiadaan jaminan kesehatan dan perang antar–suku membuat Afghanistan menjadi negara paling tidak bersahabat bagi kaum wanita di dunia.

BANGLADESHBangladesh, yang sebelumnya adalah bagian dari Pakistan, juga merupakan negara Islam, dengan populasi Muslim terbesar keempat di dunia. Hingga saat ini, tercatat 83% penduduknya, atau sekitar 150 juta orang, beragama Islam. Negara ini juga penuh dengan konflik. Dalam sebuah kudeta yang dipimpin oleh perwira militer muda, Sheikh Mujibur Rahman, Perdana Menteri Pertama Bangladesh dan banyak keluarganya dibunuh pada tanggal 15 Agustus 1975. Kudeta ini mengantar periode pemerintahan militer yang berlangsung selama 15 tahun sampai tahun1990. Bangladesh dianggap sebagai salah satu negara pusat perdagangan manusiadi dunia. Bayangkan betapa ironisnya ini. Sebuah negara berdasarkan Islam tapimenjadi salah satu negara pusat perdagangan manusia di dunia.

Masihkurangkah contoh? 

TURKITurki dulunya adalah negara terakhir kekhilafahan. Ini adalah negara yang sampai saat ini masih dipuja–puji oleh para pengasong khilafah. Mereka mempromosikan Erdogan sebagai ‘pemimpin Islam’ yang jauh lebih baik daripada Jokowi. Tapi mereka menyembunyikan fakta bahwa Turki yang pernah menjadi negara kekhilafahan yang besar dan berkuasa di dunia selama lima abad justru sekarang berbalik arah menjadi NEGARA SEKULER dan bahkan tidak menjadikan Islam sebagai agama negara. Jadi Turki adalah negara sekuler. Tahu nggak apa artinya negara sekuler? Artinya kebijakan negaranya TIDAK berdasarkan agama. Turki mengamandemen Undang–Undang Dasar 1924 hanya empat tahun setelah diresmikan dan MENGHAPUS ISLAM sebagai agama resmi negara. Para ahli sejarah memandang langkah itu merupakan dasar dari Republik Turki yang modern, demokratis, dan sekuler. Konstitusi yang berlaku saat ini tidak menonjolkan agama apa pun yang dipeluk warga Turki.

Turki memiliki sejarah kekhilafahan yang ratusan tahun panjangnya sehingga paham benar apa dan bagaimana itu sistem khilafah. Apakah mereka tidak pingin balik ke zaman khilafah? Nehi…! Mungkin mereka berpikir bahwa hanya orang bodoh yang ingin kembali ke zaman dulu dengan mengorbankan apa yang dimilikinya sekarang dan masa depan yang membentang di hadapannya. Bahkan Erdogan menegaskan bahwa Turki akan tetap menjadi negara sekuler.
https://internasional.kompas.com/read/2016/04/27/10112461/Presiden.Erdogan.Tegaskan.Turki..Tetap.Negara.Sekuler

Saat ini ajaran Islam belum menjadi inspirasi bagi perdamaian dan ketentraman dunia. Kekacauan dan kerusuhan masih terus terjadi di berbagai negara Islam atau dimana umat Islam menjadi mayoritas. Peperangan demi peperangan untuk merebut kekuasaan terus berlangsung di berbagai negara Islam. Hal ini menyebabkan kemiskinan di mana–mana, mundurnya pengaruh Islam di dunia dan terpuruknya umat Islam dalam berbagai percaturan dunia modern. Terorisme dengan mengatasnamakan Islam masih terjadi di mana–mana (sementara sebagian umat Islam bahkan masih menolak untuk mengakuinya). Dan ini menjadikan komunitas atau masyarakat Islam tidak merasakan keamanan dan kedamaian. Bahkan katanya dari 10 Negara Paling Berbahaya di Dunia enam di antaranya adalah negara Islam atau negara dengan rakyat mayoritas beragama Islam (Suriah berada di peringkat tertinggi saat ini). Sungguh ngeri melihat fakta ini.
 
Ketika seluruh rakyat Indonesia menikmati kemerdekaan dari penjajahan dan mensyukuri keberkahan dan rahmat yang dilimpahkan oleh Allah SWT selama ini, sebagian kecil umat Islam ada yang merasa tidak puas, tidak mensyukuri, dan bahkan mengingkari nikmat tersebut. Mereka mengkufuri nikmat Tuhan tersebut dan merasa bahwa apa yang diperoleh oleh umat Islam di Indonesia tidaklah sesuai dengan pandangan keagamaan mereka. Apa sebenarnya yang terjadi dengan orang–orang yang kufur ini? Mengapa mereka tidak bersyukur dengan nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia dan ingin menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam? Tidakkah mereka melihat dan belajar dari sejarah negara–negara lain dan membandingkannya dengan apa yang telah kita peroleh berkat perjuangan para ulama kita dahulu? Mengapa umat Islam Indonesia yang selama ini dipuji oleh dunia toleransinya masih mau dibohongi oleh para petulangan politik berbungkuskan agama?
 
Sebegitu kufur nikmat dan tololnyakah kita ini…?!

Surabaya, 1Agustus 2019
Salam
Satria Dharma

Sabtu, 25 Mei 2019

MENGENAL PENGIKUT PAHAM KHAWARIJ

Mengenal kaum Khawarij》Sambil nunggu bedug...yuuk kita renungkan sedikit...
(ditulis oleh Faishal Rahman)
๐Ÿ’ฅ Agak panjang tapi iniilah kondisi yg terjadi saat ini

Abdur Rahman bin Muljam menebas tubuh Sayyidina Ali bin Thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun mematikan seharga 1000 dinar. Tubuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. Tiga hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) ruh sahabat yang telah dijamin oleh Rasululah Shallahu 'Alaihi Wa Sallam menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam.

Ali dibunuh setelah dikafirkan. Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Allah. Ali dibunuh atas nama hukum Allah. Itulah kebodohan dan kesesatan orang khawarij, yang saat ini telah bermunculan generasi penerusnya.

Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya:

ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ู…َู†ْ ูŠَุดْุฑِูŠ ู†َูْุณَู‡ُ ุงุจْุชِุบَุงุกَ ู…َุฑْุถَุงุชِ ุงู„ู„َّู‡ِ ۗ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุฑَุกُูˆูٌ ุจِุงู„ْุนِุจَุงุฏِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Maka sebagai hukuman atas kejahatannya membunuh Khalifah Ali, akhirnya Ibnu Muljam divonis hukuman dengan diqishash. Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

“Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”

Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya mencabut suami Sayyidah Fathimah, sepupu Rasulullah, dan ayah dari Al-Hasan dan Al-Husein itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah. Seorang ahli surga harus meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Allah.

Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern. Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat melakukan provokasi-provokasi atas nama jihad di jalan Allah, dengan cara membunuh, membantai,  memerangi sesama bahkan dg melakukan bom bunuh diri yang oleh mereka disebut istisyhadiyah.

Siapa sebenarnya Ibnu Muljam? Dia adalah lelaki yang hafidz (hapal) Al Qur'an, zahid, rajin shalat,  rajin puasa dan mendapat julukan Al-Muqri’, dia jg sekaligus sebagai motivator orang lain untuk menghafalkan Al Qur'an.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Al Qur'an kepada penduduk negeri piramida itu. Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khattab bahkan menyatakan:
“Abdur Rahman bin Muljam, salah seorang ahli Alquran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur'an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Al Qur'an, berpenampilan regius, fasih berbicara agama dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya. Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, akibat kesesatannya yang disebabkan kedangkalannya dalam memahami ilmu agama. Afiliasinya kepada pahama Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit dan dangkal. Ibnu Muljam tergesa-gesa menetapkan klaim surga  kepada dirinya dan neraka kepada orang lain. Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim dalam rangka membela agama Allah.

Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan saleh yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda Indonesia. Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan kiai dan ulama.

Tampilan luar mereka cukup religius bahkan tampak ada bekas sujud di dahi. Mereka gemar membaca Al Qur'an, dan pandai berdalil dengan Al Qur'an. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits telah mewaspadakan kemunculan generasi Ibnu Muljam ini:

ูŠَุฎْุฑُุฌُ ู‚َูˆْู…ٌ ู…ِู†ْ ุฃُู…َّุชِูŠ ูŠَู‚ْุฑَุกُูˆู†َ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ู„َูŠْุณَุชْ ู‚ِุฑَุงุกَุชُูƒُู…ْ ุฅِู„َู‰ ู‚ِุฑَุงุกَุชِู‡ِู…ْ ، ูˆَู„ุง ุตَู„ุงุชُูƒُู…ْ ุฅِู„َู‰ ุตَู„ุงุชِู‡ِู…ْ ุดَูŠْุฆًุง ، ูˆَู„ุง ุตِูŠَุงู…ُูƒُู…ْ ุฅِู„َู‰ ุตِูŠَุงู…ِู‡ِู…ْ ุดَูŠْุฆًุง ، ูŠَู‚ْุฑَุกُูˆู†َ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†َ ูŠَุญْุณَุจُูˆู†َ ุฃَู†َّู‡ُ ู„َู‡ُู…ْ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َูŠْู‡ُู…ْ ، ู„ุง ุชَุฌَุงูˆَุฒُ ุตَู„ุงุชَู‡ُู…ْ ุชَุฑَุงู‚ِูŠَู‡ُู…ْ ، ูŠَู…ْุฑُู‚ُูˆู†َ ู…ِู†َ ุงู„ุฅِุณْู„ุงู…ِ ูƒَู…َุง ูŠَู…ْุฑُู‚ُ ุงู„ุณَّู‡ْู…ُ ู…ِู†َ ุงู„ุฑَّู…ِูŠَّุฉِ

Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Quran. Dimana bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Quran dan mereka menyangka bahwa Al Quran itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Quran itu adalah (bencana) atas mereka, yakni mereka mengira Al Qur'an membenarkan mereka,  padahal mereka bertentangan. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah yang melesat dari sasaran buruannya. (HR. Muslim : 1068).

Kebodohan kepada ilmu agama dan perasaan paling benar sendiri mengakibatkan mereka jatuh kepada kesesatan, merasa berjuang membela agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang merobohkan Islam dan kaum muslimin dari dalam.

Waspadalah kepada gerakan generasi penerus Ibnu Muljam ini. Ingat, khawarij akan terus muncul sampai Dajjal keluar. Jangan sampai generasi kita terracuni oleh virus Ibnu Muljam gaya baru. Jauhi radikalisme dan ekstrimisme dalam beragama. Perangi terorisme yang dibungkus dengan kita jihad fi sabilillah. Mereka bukan mujahid tapi khawarij gaya baru. Sudah terlalu banyak korban akibat ulah mereka. Islam dan ajaran Islam menjadi tercoreng krn ulah mereka.

Islam itu agama Rohmatan Lil Alamin. 
Islam memberikan kedamaian bagi semua manusia...secara universal ....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

Selasa, 21 Mei 2019

Pengertian Infrastruktur

Sebel sama emak-emak dan/atau sebagian masyarakat yang kurang dan/atau nggak mau mengerti alias ngotot, walaupun salah, tentang infrastruktur, jadilah saya berburu pengetahuan tentang hal ini.
Jadi .... infrastruktur itu bukan sekedar semen atau adonan beton saja ya ....., tapi lebih luas dari itu.

Ayo baca dan simak....!!! Biar lebih mengerti dan tambah pintar...!!!
***
Beberapa versi tentano Pengertian InfrastrukturInfrastruktur menurut AmericanPublic Works Association (Stone, 1974 Dalam Kodoatie,R.J.,2005), adalah fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan sosial dan ekonomi. Jadi infrastruktur merupakan sistem fisik yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi.

Secara teknis, infrastruktur memiliki arti dan definisi sendiri yaitu merupakan aset fisik yang dirancang dalam sistem sehingga memberikan pelayanan publik yang penting.


Sistem Infrastruktur

Sistem infrastruktur didefinisikan sebagai fasilitas atau struktur dasar, peralatan, instalasi yang dibangun dan yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat (Grigg, 2000 dalam Kodoatie,R.J.,2005). Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama sistem sosial dan sistem ekonomi dalam kehidupan masyarakat.

Disini, infrastruktur berperan penting sebagai mediator antara sistem ekonomi dan sosial dalam tatanan kehidupan manusia dan lingkungan. Kondisi itu agar harmonisasi kehidupan tetap terjaga dalam arti infrastruktur tidak kekurangan (berdampak pada manusia), tapi juga tidak berlebihan tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan alam karena akan merusak alam dan pada akhirnya berdampak juga kepada manusia dan makhluk hidup lainnya.


Dalam hal ini, lingkungan alam merupakan pendukung sistem infrastruktur, dan sistem ekonomi didukung oleh sistem infrastruktur, sistem sosial sebagai obyek dan sasaran didukung oleh sistem ekonomi. Analoginya seperti gambar dibawah ini :

pembangunan infrastruktur Pengelompokan sistem insfrastruktur dapat dibedakan menjadi (Grigg, 2000 dalam Kodoatie,R.J.,2005) :
  1. Grup keairan
  2. Grup distribusi dan produksi energi
  3. Grup komunikasi
  4. Grup transportasi (jalan, rel)
  5. Grup bangunan
  6. Grup pelayanan transportasi (stasiun, terminal, bandara, pelabuhan, dll)
  7. Grup pengelolaan limbah

Komponen Infrastruktur

Komponen-komponen dalam infrastruktur menurut APWA (American Public Works Association) adalah :
  1. Sistem penyediaan air : waduk, penampungan air, transmisi dan distribusi, fasilitas pengolahan air (water treatment)
  2. Sistem pengelolaan air limbah : pengumpul, pengolahan, pembuangan, daur ulang
  3. Fasilitas pengelolaan limbah padat
  4. Fasilitas pengendalian banjir, drainase dan irigasi
  5. Fasilitas lintas air dan navigasi
  6. Fasilitas transportasi: jalan, rel, bandar udara (termasuk tanda-tanda lalu lintas dan fasilitas pengontrol
  7. Sistem transit publik
  8. Sistem kelistrikan: produksi dan distribusi
  9. Fasilitas gas alam
  10. Gedung publik: sekolah, rumah sakit
  11. Fasilitas perumahan publik
  12. Taman kota sebagai daerah resapan, tempat bermain termasuk stadion
  13. Komunikasi
Sedangkan menurut P3KT, komponen-komponen infrastruktur antara lain:
  1. Perencanaan kota
  2. Peremajaan kota
  3. Pembangunan kota baru
  4. Jalan kota
  5. Air minum
  6. Drainase
  7. Air limbah
  8. Persampahan
  9. Pengendalian banjir
  10. Perumahan
  11. Perbaikan kampung
  12. Perbaikan prasarana kawasan pasar
  13. Rumah sewa
Dilihat dari input-output bagi penduduk, komponen-komponen tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga karakteristik, yaitu:
  1. Komponen yang memberi input kepada penduduk. Jenis infrastruktur yang termasuk dalam kategori ini adalah prasarana air minum dan listrik
  2. Komponen yang mengambil output dari penduduk. Jenis infrastruktur yang termasuk dalam kelompok ini adalah prasarana drainase/pengendalian banjir, pembuangan air kotor/sanitasi, dan pembuangan sampah.
  3. Komponen yang dapat dipakai untuk memberi input maupun mengambil output. Jenis infrastruktur yang termasuk dalam kelompok ini meliputi: prasarana jalan dan telepon.
Demikian pemahaman mengenai pengertian infrastruktur, Sistem dan juga komponen didalamnya. 
***
Dah ngerti kan, apa yang dimaksud denna infrastruktur? Jadi .... jangan berharap Indonesia bisa swasembada pangan kalau sistem pengairan lahan Pertanian (waduk, irigasi dll) tidak atau sangat kurang. Jangan berpikir bisa hidup nyaman, ingin air bersih atas bahkan air minum berkualitas, ingin rumah berpendingin supaya nyaman dihuni, tapi nggak mau bayar listrik atau ingin lingkungan bebas banjir, tapi ngotot tinggal di pinggir kali/sungai serta memperlakukan kali/sungai sebagai bagian belakang rumah tempat pembuangan segala macam kotoran. Ayo perlakukan kali/sungai sebagai bagian muka rumah kita yang terpelihara indah. Ayo dukung program pembangunan pemerintah karena Bersama Kita Pasti Bisa mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Jumat, 15 Maret 2019

UNIKNYA NEGERI BERNAMA INDONESIA

Saya dikirimi seorang teman, sebuah *tulisan bagus, walaupun sudah lama, tapi masih relevan* dan tentu saja, dengan senang hati ingin berbagi tulisan ini

Penulis: Achmad Munjid
Sabtu, 29 September 2018
  
Dunia moderen adalah dunia sekuler. Para penganut konservatif teori sekulerisasi yakin bahwa semakin modern suatu masyarakat, semakin rasionallah dia dan semakin tersingkir pula peran agama. Apakah ini juga berlaku di Indonesia?

Karena tahun politik 2019 sudah semakin dekat, dan kampanye Pilpres sudah dimulai, seorang wartawan senior asal Amerika datang ke sini. Ia ingin melihat bagaimana relasi antara agama dan politik setelah bangsa yang dikenal religius ini merdeka 73 tahun.

“Saya ingin ketemu politisi,” katanya begitu ia tiba di Jogja.
“Kalau begitu, silakan datang ke masjid,” kata seorang warga yang ditemuinya.
“Ke masjid?” si wartawan kaget dan bingung. “Bukannya masjid itu tempatnya ustaz?”

Jika ini benar, teori sekularisasi benar-benar dijungkirbalikkan.
“Sampean keliru. Kalau mau ketemu ustaz, pergilah ke universitas.”
“Ada-ada saja Anda ini,” ia tambah bingung. Ini lebih kacau lagi. “Universitas kan tempatnya intelektual?”

“Ah, sampean keliru lagi. Kalau mau ketemu intelektual, pergilah ke warung angkringan.”
“Waduh,” kepala si wartawan mulai pening. “Warung angkringan kan tempat para broker dan orang-orang kurang kerjaan?”

“Sampean perlu lebih banyak bergaul di sini,” kata warga itu dengan senyum bijaksana. “Kalau mau ketemu broker dan orang-orang yang kurang kerjaan, silakan pergi ke gedung Parlemen.”

Kepala si wartawan benar-benar makin seperti dipilin-pilin. Tapi ia ingin terus mengejar lawan bicaranya. “Parlemen kan tempat wakil rakyat?”

“Sampean wartawan tapi mungkin kurang baca berita ya? Kalau mau ketemu wakil rakyat, silakan pergi ke tahanan KPK,” jawab si warga tadi sambil setengah terkekeh,
“Waduh, tobat saya. Di sana kan tempatnya para koruptur?”
“Nah ini. Kalau mau ketemu koruptor silakan datang ke partai-partai politik.”

“Bagaimana ini?” si wartawan sudah merasa nyaris tidak sanggup lagi mengikuti nalar lawan bicaranya. Tapi ia ingin mencoba untuk terakhir kali. “Partai politik kan tempatnya para politisi?”

“Lah, sampean masih belum paham juga. Kalau mau ketemu politisi, datanglah ke masjid. Kan sudah saya kasih tahu dari awal?”

Si wartawan Amerika itu pun hanya bisa melongo.

“Ini Indonesia, Bung. Jangan gampang terjebak kategori. Mungkin bagi Anda ini semua tampak membingungkan. Tapi asal tahu saja, kami rakyat punya rumus yang jitu untuk mengatasi kebingungan seperti itu.”
“Apa itu?”

“Jangan percaya agamawan yang selalu berbusa-busa bicara politik dan jangan pernah percaya politisi yang sibuk bicara agama.”

Itu!

==============

ACHMAD MUNJID
Menyelesaikan pendidikan doktoral di Temple University, Amerika Serikat. 
Sekarang mengajar di UGM. Selain menekuni bidang antropologi, juga menulis cerita pendek.

Rabu, 13 Maret 2019

OBROLAN PAGI LAGI DENGAN TETANGGA

Pagi ini, sebelum memulai pekerjaan, saya meneruskan pesan berkenaan tulisan Mantan Gubernur NTB; TGH Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) dalam menanggapi insiden pembakaran bertuliskan kalimat tauhid di Garut, Jabar, kepada beberapa teman, salah satunya adalah tetangga rumah yang saya kira - kira merupakan pendukung kelompok 212 yang cukup militan dan suaminya adalah salah satu pengurus ranting Muhammadiyah di kecamatan tempat kami tinggal.

Tanpa diduga, ternyata sang tetangga membalas kiriman pesan tersebut melalui whatssapp dengan pertanyaan ini:

Tanya : 
Mana lebih berbahaya : HTI , Komunis, LDII, SYIAH atau liberal ?
Ngomong-ngomong soal pileg, saya masih bingung mau pilih siapa dan dari partai apa ? 
Mohon advis dr ibu. Trims

Kaget dengan pertanyaannya, saya menjawab apa adanya, sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran saya saja seraya, terus terang, ingin menguji bagaimana orientasi pilihannya. Karenanya, terjadi tanya jawab yang saya copy di bawah ini ... Seperti ujian aja.... ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€ 

Jawab : 
Kalau bicara ideologi, HTI, Komunis, LDII, Syiah atau liberal, maka pada tataran kosakata Ideologi merupakan suatu ide atau gagasan untuk mendefinisikan "sains tentang ide".  dan dapat dianggap sebagai cara memandang segala sesuatu. Sesuatu/gagasan yang diidamkan, diimpikan dan karenanya  semua akan bagus-bagus saja. Namanya juga ideal.
Tapi kalau sudah masuk pada tataran politik maka semua bisa berarti suatu tujuan untuk "menciptakan yang ideal, yang diimpikan tersebut" dengan berbagai macam cara yang kemudian menjadi perebutan kekuasaan, dan karenanya segala cara dihalalkan termasuk fitnah, bunuh (perang) dll. 

Sekarang ini, terutama di Indonesia menjadi menyedihkan... Islam yang rahmatan lil alamin menjadi menakutkan dan menteror mereka/golongan yang tidak sepaham. Apa iya ... manusia bisa mengkafirkan atau menghitung amaliah manusia? Padahal ... hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui. Hitungan/hisab Allah SWT tidak semata-mata dilihat dan dinilai apakah seseorang memiliki jidat hitam, jenggot yang lebat, memakai celana cingkrang atau jilbab syar'i dan sejenisnya. Tetapi meliputi niat yang segala dan setiap tindakan kita,  yang ada dalam hati nurani, akal pikiran serta maksud dan tujuan manusia dalam melaksanakan hajat hidupnya. Dan yang terakhir ini, tidak ada satu manusiapun yang bisa menyelami kecuali sang Khalik. 

Silakan berpikir dengan jernih karena agama mengajarkan kita untuk membaca (Iqra). Mengaji bukan sekedar lancar membaca al Qur'an tetapi mengaji bisa diartikan ajakan untuk meng"kaji", menganalisa dan berpikir dalam atas sebab musabab turunnya ayat-ayat suci, begitu juga dengan seluruh kandungan al Qur'an.  

Saya tidak ingin mempengaruhi ibu untuk memilih siapapun, tapi berpikirlah untuk kemaslahatan umat manusia. Mari tunjukkan Islam yang Rahmatan lil Alamin. Bukan Islam yang menteror mereka yang tidak seakidah, karena perbedaan itu "diciptakan" Allah SWT agar kita berpikir dan menghargai takdirNya

Komentar:
Setuju, trims ibu
Maaf, menurut ibu kafir itu maknanya apa ya ?

Waduh ....... masih lanjut ujiannya ....

Jawab:
Kafir adalah orang yang tidak percaya pada keberadaan Allah SWT dan rasulNya. Ini bisa jadi perdebatan panjang, pada makna percaya pada rasulNya.  

Apakah mereka yang percaya kepada rasulNya selain Muhammad SAW, misalnya saja, mereka yang percaya kepada nabi Musa atau nabi Isa atau percaya pada kitab-kitab Allah seperti Zabur, Taurat, Injil, apakah mereka menjadi atau lantas disebut kafir? Lalu.... kalau seorang manusia percaya akan keberadaan Allah SWT namun tidak beragama-agnostik, dan seluruh hidupnya dijalani dengan amat sangat baik/lurus bahkan lebih baik dan lebih lurus daripada mereka yang menyatakan diri beragama. Apakah mereka lalu disebut kafir dan pasti masuk neraka? Sebaiknya jangan mudah mencap orang kafir dan pasti masuk neraka. 

Puluhan tahun yang lalu, saya pernah bertemu pasangan suami istri lanjut usia. Mereka mengundang kami makan malam di rumahnya. Usai makan, sambil ngobrol sana-sini, bertanya  ini-itu tentang Indonesia, tiba-tiba si istri bilang begini 
"Kami menjalani kehidupan dan memberikan kebaikan kepada sesama manusia ini, dengan apa adanya. Bukan karena mengharapkan segala macam pahala/balasan dari Tuhan. Tidak ...... Kami tidak ingin atau bermaksud berdagang dengan Tuhan karena anugerah dan segala apa yang kami terima dariNya sudah sangat melimpah dan selayaknya kami bagikan kepada sesama tanpa berharap balasan apapun dari siapapun". 

Mereka, orang Perancis asli yang tinggal di pinggiran kota kecil Poitiers sekitar 500km sebelah tenggara Paris, ibukota Perancis. Apakah orang-orang yang amat sangat baik itu akan masuk neraka karena dia bukan muslim? Belum tentu .....

Itulah rahasia kehidupan dan hanya Allah SWT yang berhak menghisab amal perbuatannya. Bukan kita sesama manusia.

Jawab:
Ibu, ada neraka namanya saqor

Seketika saya ingin "menguji" pengetahuannya. Jangan saya terus yang harus menjawab pertanyaannya. Lalu saya balik tanya:
Apa referensi tentang neraka saqor? Tolong jelaskan ya .....

Tidak ada jawaban lagi ..... si ibu menghilang ......
satu jam .....
dua jam ......
si Ibu tetap menghilang

Bagaimana bu ......?

Rabu, 06 Maret 2019

Obrolan Pagi Hari

Pagi ini, salah seorang sepupuku, mengirim pesan via whatsapp menanyakan apakah saya memiliki informasi atau konfirmasi mengenai kubu Pak Jokowi yang di dalamnya ada anggota PKI... dan apakah negara kita akan diarahkan kesana kah? Begitu juga dengan isu2 tentang banyaknya tki dari China yang bekerja di Indonesia.

Pertanyaan yang cukup sensitif pada masa menjelang pemilihan presiden 17 April yang akan datang.  Belum tentu bisa dimengerti dan diterima secara wajar apalagi oleh para pendukung fanatik pasangan calon presiden yang saling berlawanan. Namun demikinan, saya berusaha untuk menjawabnya, apapun tanggapan yang akan diberikannya. Kira–kira, beginilah dialog yang terjadi; memang PKI sekarang masih ada, setelah dibubarkan oleh Suharto pada tahun 1966? Kalau anak dan keturunan anggota PKI, tentu masih ada dimana–mana. Bukan sekedar di “kubu Jokowi” seperti yang anda katakana, bahkan bukan tidak mungkin pula bahwa anak dan keturunan anggota PKI ada di kubu Prabowo sendiri. Peristiwa Pemberontakan G30S/PKI sudah berlalu hampir 54 tahun yang lalu. Kalau kita baca buku–buku yang pada masa pemerintahan Soeharto terlarang, ada beragam versi dan silang sekarut berkenaan dengan peristiwa tersebut. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Soeharto sendiri “memanfaatkan” kekhawatiran petinggi PKI atas kondisi kesehatan Soekarno saat itu.

Dilain pihak, Soemitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo Subianto sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh pemberontak PRRI/PERMESTA yang karenanya “melarikan diri” ke luar Indonesia sampai suatu ketika, atas inisiatif Suharto belia “dipanggil kembali” ke Indonesia. Nah …. Kalau kita cukup kritis, mengapa kondisi ini tidak dipermasalahkan?

Prabowo Subianto adalah jelas anak kandung Sumitro Djojohadikusumo, yang karena “perbuatan” ayahnya, terpaksa turut dibawa mengungsi oleh kedua orangtuanya untuk hidup dalam pelarian di luar negeri. Itu menyatakan dengan gamblang sebab–sebab mengapa seluruh pendidikannya hingga bangku setingkat SMA dilalui di berbagai Negara di luar teritori Indonesia.  Sementara itu, mereka yang diduga sebagai anak–keturunan PKI yang berada di kubu Jokowi, mungkin ada beberapa atau bahkan banyak sekali, namun entah siapa dan entah sejauh atau sedekat apa pula hubungannya dengan Jokowi. Tuduhan – tuduhan tersebut tidak selalu jelas menyebutkan nama. Tetapi kalau kita bicara soal anak keturunan anggota PKI setelah 54 tahun berlalu, secara logika, tentu saja mereka sudah beranak–pinak dan tersebar kemana–mana. Bukan saja berada di kubu Jokowi, tapi …. percayalah, mereka ada di mana – mana. Di kubu Prabowo dan partai politik lainnya pun hampir tidak mungkin lepas dari mereka. Bahkan tetangga anda atau teman tidur seranjangpun bisa terindikasi “tidak bersih lingkungan”. Ini istilah yang biasa digunakan pada masa pemerintahan orde baru. Namun mengkaitkan mereka identik dengan paham PKI dan harus diperlakukan seperti layaknya kita berhadapan dengan virus penyakit yang mematikan dan karenanya perlu dijauhi atau bahkan dihancur–leburkan, jelas merupakan pendapat yang mengada–ada.

Komunis adalah paham dan ideologi, sama halnya dengan paham dan ideology sosialis bahkan kapitalis sekalipun. Semua yang berasal dari ide ร  ideal ร  ideology tentu selalu berbicara tentang hal yang baik–baik saja dan akan menjadi berbeda sesuai dengan maksud, tujuan, cara menerapkan dan pelakunya. Bisa menjadi hal yang sangat positif bila maksud, tujuan, cara menerapkan dilaksanakan dengan cara yang baik dan pelakunya memiliki niat yang baik pula. Namun bisa juga menjadi sangat mengerikan dan menghancur leburkan tatanan kemanusiaan manakala maksud, tujuan, cara menerapkan dan pelakunya mengabaikan nilai universal kemanusiaan.

Akan halnya berita tentang adanya 10 juta tenaga kerja asing berasal Cina di Morowali juga merupakan suatu berita yang berlebihan dan sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin?

Morowali adalah kota kecil dengan penduduk hanya + 113 ribu jiwa. Bayangkan, seperti apa wajah wilayah Morowali bila benar ada 10 juta tenaga kerja asing yang berasal dari Cina. Kelompok bisnis seperti sinarmas, salim grup dll paling banter punya pegawai sekitar 150rb hingga 400 ribu saja dan itupun tersebar di seluruh Indonesia.

Sebuah pabrik yang sangat besar, apalagi pada era otomatisasi peralatan, rasanya hanya akan menyerap sekitar 3rb sd 10rb buruh per pabrik. Tentu untuk menampung 10 juta tenaga kerja asing diperlukan setidaknya 1.000 sampai dengan 3.000 pabrik besar yang beroperasi di Morowali. Dengan logika seperti itu, masuk akalkah kalau di Morowali ada 10 juta TKA Cina?
Ayolah berpikir logis ….

Tanpa mengesampingkan masalah tenaga kerja asing, mari berpikir rasional dan terbuka. PT Wijaya Karya, salah satu BUMN di bawah kementrian PUPR alias Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, hampir setiap kontraknya di Negara lain seperti Timur Tenggah, Afrika Utara, maupun Negara Asean akan membawa ratusan hingga ribuan tenaga kerja Indonesia dari berbagai tingkat untuk bekerja disana demi effisiensi kerja dan meminimalkan miskomunikasi (kendala bahasa) dalam pelaksanaa proyek. Jadi ... adalah suatu hal yang sangat biasa dalam bisnis manakala dalam suatu proyek, maka pemegang proyek akan membawa pekerja yang biasa kerja dengannya. Apalagi kalau proyek tersebut dibiayai kontraktor dengan perjanjian kerja semacam turn-key project.

Jadi ... siapapun pemenang atau pemegang kontrak kerja, bukan hanya pemerintah atau pengusaha yang berasal dari Cina, yang bekerja di Indonesia dan melengkapinya dengan pembiayaan yang mereka tanggung juga, maka sangat wajar kalau mereka membawa orang–orangnya sekaligus supaya lebih effisien, murah dan tidak terkendala dalam komunikasi. Apalagi, khusus untuk pekerja Cina, sebagai masyarakat yang sejak lama berinteraksi dengan mereka, secara jujur harus diakui bagaimana etos kerja masyarakat Cina yang sangat luar biasa bila dibandingkan dengan etos kerja orang Indonesia.

Akhirnya … alangkah baiknya kalau masyarakat mau bersikap bijak, kritis dan tidak terbawa perasaan dalam membaca berita terutama yang berseliweran di media sosial dan bahkan sekarang banyak dibicarakan di masjid–masjid, bahkan dari rumah ke rumah karena sayangnya, berita apapun dan darimanapun asalnya tidak pernah obyektif. Akan selalu ada “maksud dan tujuan terselubung” baik dari penulis maupun media yang menyebarkannya. Apalagi jaman sekarang dimana setiap orang dengan sangat mudah memlintir dan mendistorsi apapun yang dimauinya, dengan mengabaikan etika dan etiket.
Mengerikan sekali … Berita tidak dapat dipercaya 100% dan itu sudah terjadi sejak lama. Bisa dijadikan referensi. Selebihnya tetap berpulang pada keyakinan kita.

Kita doakan agar Presiden mendatang adalah Pemimpin yang akan membawa kebaikan bagi seluruh rakyat Indonesia siapapun dia. Serahkan kepada keputusan Allah  SWT namun dengan tetap menggunakan hak dan kewajiban politik, yaitu memilih presiden. Yang terakhir tentu jangan sampai salah pilih, karena taruhannya terlalu besar bagi NKRI.

Semoga pemimpin yang akan datang adalah yang dapat membawa kesejahteraan rakyat  Indonesia dengan.penuh kedamaian... Aamiin

BUKAN KARANGAN BUNGA๐ŸŒบ๐ŸŒบ

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...