Senin, 09 Januari 2006

DARI BALIK ACARA REUNI 30 TAHUN ANGKATAN 75


DARI BALIK ACARA REUNI 30 TAHUN ANGKATAN 75

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA

7 JANUARI 2006

Waktu merencanakan reuni angkatan 75 FTUI yang akhirnya terselenggara pada hari Sabtu tanggal 7 Januari 2006 di Salemba 4, kami semua bingung, apa thema yang layak untuk diangkat dalam reuni. Thema yang mengena dalam segala hal. Yang membumi dan tidak mengada-ada.

Mula-mula terpikir untuk memakai "back to Salemba 4 after 30 years". Angkatan 75 memang menghabiskan seluruh masa kuliahnya di Salemba 4 – Jakarta Pusat, karena UI baru pindah ke Depok pada tahun 1987 (kalau gak salah). Tapi, back to Salemba 4 tidak terlalu menyentuh perasaan karena suasana Salemba 4 tidak lagi menampakkan nuansa/ambience yang bisa mengingatkan kami ke masa-masa kuliah dulu. Terlalu banyak yang berubah. Kompleks Fakultas Teknik yang sekarang digunakan untuk Gedung Pasca Sarjana FTUI sudah banyak berubah. Orang yang tidak biasa ke Salemba 4, tidak lagi bisa mengingat-ingat dan menerka bahwa gedung Pasca Sarjana tersebut merupakan gabungan dua buah gedung lama yaitu Gedung A yang dulu digunakan untuk Dekanat dan gedung Arsitektur. Jangankan bedeng tempat anak-anak KAPA nongkrong, kantin tempat kami biasa ngobrol di sela-sela kuliahpun, sudah tidak lagi terlihat bentuk aslinya.

Warung tempat kami biasa beli "tahu telanjang" (ini istilah khusus, tahu yang digoreng tanpa adonan tepung. Karena, kalau hanya pesan tahu goreng, akan diberi tahu yang sudah diberi adonan tepung), soto mie, sate ayam/kambing, toko alat-alat tulis, di samping mesji ARH sudah hilang sama sekali. Apalagi bengkel di depan gedung UI Press tempat biasa kami memesan sate atau makan mie baso, sekarang sudah bertengger gedung bertingkat yang kokoh.  Bahkan di komplek Salemba 4, di lingkungan FMIPA dan FEUI sudah banyak dibangun gedung-gedung modern. Entah siapa yang menggunakannya sekarang... Jangankan alumni yang bekerja di luar kampus, alumni yang jadi dosen saja belum tentu tahu... Konon, mereka sibuk di Depok yang teduh, di balik rerimbunan pohon dan hutan kota. Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk Jakarta. Bisa jadi, dosen dan mahasiswanya UI sekarang sudah tidak terlalu sensitif lagi dengan kejadian-kejadian faktual di masyarakat.

Selagi bingung-bingung mencari thema untuk spanduk/back drop, masuk BePe, yang satu ini alumni jurusan Teknik Mesin ... Semua orang menyalaminya... Maklum, dia baru sekitar 2 minggu keluar dari RS Mitra Keluarga karena mengalami gangguan jantung. Obrolan kemudian beralih pada acara "mengabsen" teman-teman seangkatan yang sudah "lewat" .... Di antaranya; Dade (May Singadaru) yang meninggal dunia karena kecelakaan di tol Jakarta - Merak, Hubaya Tamsil yang kena stroke saat mau berangkat main golf hingga beberapa teman yang masih dirawat di rumah sakit atau di rumahnya. Maka, obrolan meloncat kesana-kemari, Tanpa arah tujuan dan kata sepakat. Biar saja …!! Maklumlah, ternyata walaupun sama-sama tinggal di Jakarta, kami tidak pernah bertemu. Apalagi, kami memang ingin agar acara reuni mengalir apa adanya...

 Reuni ini bukan tempat mengumbar syahwat "jorjoran" memamerkan keberhasilan diri atau ajang untuk mentertawakan kekurangan orang. Ini forum silaturahmi ... Tempat untuk menapak tilasi perjalanan seorang anak manusia. Mengingat kembali pada kehidupan kampus... pada masa-masa susah dulu ..... Masa, saat menu makan setiap hari hanya berupa nasi + tahu/tempe dan sayur seadanya. Yang diperoleh dengan cara berhutang selagi menunggu kiriman dari kampung .... Saat itu, tidak terbayang steak, rib ataupun shashimi/shushi dan teppanyaki di restoran mewah hotel berbintang. Jangankan makan makanan sejenis itu. Namanya saja terasa asing di telinga. Mungkin hanya beberapa gelintir teman yang kebetulan bapaknya ”konglomerat” saja yang pernah mendengar dan mencicipinya. 

Walhasil, sambil ngobrol-ngobrol, kami berbagi tugas, tentu sambil bercanda. Saya kebagian membuat pemberitahuan melalui mailing list alumni. Ini tugas dan partisipasi yang paling ringan, gak pakai modal besar. Maklum istri PNS... belum mampu memberi donasi.... hehe, jadi cari tugas yang ringan dan gratisan karena akses internetnya bisa menggunakan fasilitas kantor... (korupsi kecil2an). Partisipasi yang memerlukan modal besar, biar buat yang lain saja ..... Ini baru pembagian kerja yang adil ….. Yang penting, dilaksanakan tanpa paksaan, sesuai kemampuan serta keinginan dan semua ikhlas.

Saat itu juga, secara aklamasi, Andy, yang satu ini bossnya tukang minyak, karena konon dia tukang kontrol distribusi BBM (kalo salah jabatannya, kamu diam saja ya, Dy) juga didaulat jadi ketua suku. Nggak boleh nolak .... ini kerja sosial, yang menuntut kepekaan akan kebersamaan di tengah egoisme, individualisme, materialisme khas kehidupan kaum yuppy di kota besar. Apalagi dia juga merupakan salah satu pengurus ILUNI – FTUI periode saat ini.

Konon, sebagai penggagas acara Reuni 30 tahun angkatan 75, Andy "wajib bertanggung jawab" atas terlaksananya acara reuni termasuk seluruh gagasan lainnya yang masih tersimpan di kepalanya untuk kebersamaan angkatan 75 hehe.... . Bukan lagi kepentingan angkatan 75 jurusannya (Elektro) .... tapi berpikir untuk angkatan 75 FTUI dan selanjutnya untuk Iluni FTUI. Kita, jangan lagi berpikir terkotak-kotak menurut jurusan. Kalau kaum intelektual Indonesia yang pernah mencicipi kuliah di universitas ... UI, lagi, masih berpikir untuk kepentingan sesaat bagi golongan atau kelompoknya saja. Bagaimana dengan rakyat kecil yang kurang berpendidikan sehingga hanya bisa mengandalkan otot? Tentu pikiran mereka lebih sempit dan tindakannya akan lebih parah lagi… Jadi jangan heran kalau bangsa Indonesia masih saja gontok-gontokan di segala lini. Tidak ada yang mau berpikir untuk kepentingan bersama, untuk kepentingan yang lebih besar … untuk kepentingan bangsa dan masa depan Negara.

Lalu… kenapa harus “Life begins at 30 years after”? Ini thema yang dicomot  asal-asalan dan numpang lewat, sebetulnya. Tapi, alasannya bisa juga dicermati.

Dulu …, saat kami kuliah, tidak ada batasan masa kuliah. Maklum saja, masih banyak dosen luar biasa mengajar. Jadi, tidak ada target. Segala istilah Indeks Prestasi, tidak dikenal sehingga banyak mahasiswa abadi, yang menyelesaikan kuliah di atas 10 tahun atau bahkan tidak menyelesaikan kuliahnya karena terlanjur menikah dan kemudian sibuk bekerja, menafkahi keluarga. Yang selesai tepat 5 tahun masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Selesai 6 tahun saja (telat satu tahun) sudah termasuk golongan yang hebat…. Yang paling umum adalah antara 8 s/d 10 tahun. Itu berarti, kuliah selesai saat kami berumur antara 24 – 28 tahun. Tua amat ya… dibanding dengan anak-anak sekarang yang rata-rata selesai kuliah di umur 21 - 22 tahun saja.

Kalau setelah itu para sarjana baru merintis pekerjaan atau bisnis … maka baru menjelang umur 40 tahun kelihatan hasilnya, yaitu setelah 10 – 15 tahun bergelut di bidangnya, baik sebagai pengusaha ataupun professional. Jadi, kehidupan mulai mapan, mulai mampu secara financial … mampu merealisasikan segala impian semasa mahasiswa, terutama impian jasmani/lahiriah. Mulai membeli mobil, rumah mentereng …, mencicipi main Golf, keluar/masuk restoran dan hotel mewah termasuk di dalamnya melakukan perjalanan wisata ke berbagai tujuan mancanegara.

Tanpa disadari, kita mulai masuk pada perilaku dan gaya hidup kelas atas yang mengundang resiko. Stress akan kehidupan kota yang serba materialistis. Makanan berkalori tinggi yang berpadu dengan menurunnya fungsi organ tubuh secara alamiah mengundang penyakit degeneratif seperti Diabetes Melittus yang manis, Jantung koroner, stroke dan berbagai turunannya. Jangan heran, kalo Bepe terpaksa ngendon di RS gara-gara jantungnya bermasalah. Rekan kita Tamsil, Irawanto. Hyandi Jonggala (ini maskotnya Posma 75) dan beberapa teman lainnya terpaksa menutup catatan hidupnya karena sang Pencipta sudah memanggil.

Last but not the least …. Effek samping penyakit yang paling ditakuti oleh lelaki ….. hayo apa ……. ??? Yang satu ini adalah DE alias disfungsinya sang jagoan …. Itu sebabnya Viagra dan Cialis laku keras. Coba deh sekali-sekali jalan-jalan malam hari ke kawasan jalan Gajah Mada. Di sepanjang jalan itu berderetan kios gerobak menjajakan alat pemuas nafsu syahwat, atau pijat urut ala JW Marriot (baca Ma’Erot). Duh para lelaki …. Jangan marah ya……!!!

Jadi, ucapkan Alhamdulillah … Puji syukur kepada Allah SWT yang masih menyambung nyawa kita yang hadir saat reuni …. , walau entah untuk berapa tahun ke depan lagi. Ini bonus kehidupan baru, yang selayaknya kita syukuri dan kita isi dengan hal-hal yang baik. Secara duniawi maupun rohaniah sebagai persiapan selama masa penantian, menunggu giliran panggilanNya, yang pasti akan datang.



BegItulah ceritanya, mengapa acara ini, Reuni Angkatan 75 Fakultas Teknik Universitas Indonesia, kumpul-kumpul penyambung tali silaturahmi , diberi thema LIFE BEGIN AT 30 YEARS AFTER.

3 komentar:

  1. Assalamu'alaikum mba Lina, itu foto lagi OSPEK ya? seru kayanya ya....
    Tema reuninya boleh juga ...tapi btw, tahun 75 tahun kelahiran saya he..he..

    BalasHapus
  2. wa alaikum salam wr wb
    Iya.... itu foto ospek, tapi itu acara ringan ... pelepas lelah, saya lupa apa tu istilahnya saat itu ... Acara yang berat-beratnya sih ... duh gaak kebayang lagi deh ... Rata-rata kita jadi trauma dama "raka2" yang galak jaman dulu, dan sampai sekarang, kesan itu gak bisa lepas. Padahal sudah 30 tahun.. Umur kita ternyata beda jauh juga ya.. tapi kan gak ada salahnya berteman..
    salam

    BalasHapus
  3. oooooh.... ternyata angkatan tuju-lima

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...