Kamis, 05 Januari 2006

Think Big and Think Global

Judul Think Big and Think Globally, terlihat bombastis sekali, sangat tidak sebanding dengan apa yang tertulis. Padahal, tulisan ini hanya sekedar pendapat kecil saja tentang persepsi yang ada di benak kita mengenai kebersamaan di antara sesama manusia.

Kira-kira satu bulan yang lalu, ada sms masuk berisi ajakan untuk berkumpul dengan teman-teman lama, merencanakan reuni. Agak terkejut juga menerimanya. Sudah lama aku tidak berkomunikasi dengan pengirim sms. Maklum, aku termasuk "bolot" dalam kuliah. Bayangkan saja... 10 tahun “ngendon” di kampus bukanlah waktu yang sedikit, walaupun yang 4 tahun itu kuhabiskan dalam bentuk cuti kuliah. Jaman sekarang, waktu kuliah 10 tahun sangat cukup untuk meraih gelar PhD yang serius dan bukan PhD cap “20 juta”. Jadi walaupun total waktu kuliahku hanya 6 tahun, kenyataan yang tercatat dalam arsip kemahasiswaan, aku termasuk kategori mahasiswa yang "nyaris" drop out.

Jadi, kupikir wajar saja bila saat dihubungi, agak malas-malasan sms tersebut kujawab; bahwa aku selesai kuliah paling akhir. Jadi tidak banyak kontak dengan teman seangkatan. Kalau ditunjuk jadi "contact person" yang mewakili jurusan, pasti akan menambah kerepotan. (Fakultas tempatku kuliah, saat itu masih terdiri dari 5 jurusan. Sekarang kalo nggak salah sudah jadi 7 jurusan). Ini jawaban jujur dan bukan alasan yang mengada-ada. Tapi,... temanku itu, kusebut “Gadis Ranti” meyakinkan ... “datang aja deh ... bukan soal kapan lulusnya, tapi soal membantu mengurus reuni”. Jadilah ......

Tapi, apa boleh buat. Pada pertemuan pertama, aku tak hadir karena menembus kemacetan pada hari Jum’at sore, dari Kedoya (Metro TV) ke Salemba, tempat pertemuan berlangsung bukanlah hal yang mudah. Jadi aku memutuskan tidak menghadiri pertemuan tersebut dan langsung pulang. Baru pada pertemuan ke dua, satu minggu sesudahnya, kusempatkan hadir walaupun agak terlambat, itupun sambil menjemput suami yang mengajar di gedung yang sama.

Teman-teman yang hadir pada pertemuan pertama itu cukup gesit bekerja. Aku segera menerima sms berisi ajakan untuk mengirimkan donasi dana awal acara reuni. Sms ini segera kuteruskan ke beberapa teman.

Singkat kata, acara dan budget disusun, tugas dibagikan termasuk juga contact person setiap jurusan. Tanpa terduga, sehari setelah pertemuan itu, tiba-tiba masuk sederetan nomor telpon genggam teman-teman sejurusan. Entah memang ditujukan untukku atau mungkin salah kirim, karena kata pengantar sms tersebut tidak ditujukan untukku.

Berbekal sejumlah nomor telpon tersebut, aku berinisiatif mengirim sms ke beberapa teman jurusan secara acak, mengikuti irama hati. Seperti sudah diduga ... urusan mengirim sms yang kulakukan tidak berjalan mulus. Semua didahului dengan tanya-jawab yang buatku cukup membosankan, namun aku cukup maklum. Walau kusebut nama jelas, mereka belum tentu ingat. Aku memang tidak pernah hadir pada acara reuni jurusan. Pernah kuterima undangan reuni via sms, tapi acara tersebut berbarengan dengan tugas kantor ke Malang. Jadi, tentu saja tidak bisa hadir. Setelah itu, mereka tidak lagi menghubungiku. Mungkin memang belum ada acara reuni lagi atau aku lupa apakah pernah menerima undangan lagi.

Pada pertemuan berikutnya, tanpa suatu maksud apapun juga, kuceritakan pengalaman ini pada teman-teman. Beberapa di antaranya memintaku untuk menghubungi saja teman yang menjadi person in charge di jurusan. Minta bantuannya untuk menghubungi teman-teman lain agar bisa hadir saat reuni. Usul itu kutanggapi dengan baik … Mengapa tidak? Ini akan meringankan tugas. Apalagi orang yang harus dihubungi adalah satu-satunya teman yang masih memiliki kontak denganku. Namun demikian, di luar dugaan, saat dihubungi kudengar suara “dingin”, menjawab ...

"Ya, .. aku sudah baca sms mu, tapi nggak kujawab karena aku nggak bisa datang ke acara reuni itu."
"Kalau memang berhalangan, ya sudah ... Aku cuma minta bantuan untuk memberitahukan teman yang lain. Aku sudah coba, tapi mereka nggak kenal no hp ku, jadi agak repot. Teman lain juga menyarankan aku menghubungi kamu dan minta bantuanmu, karena biasanya kalo ada reuni, kamu selalu jadi seksi sibuknya..., so, please...."
" Tapi ... kenapa nggak ngurusin jurusan kita aja sih? Nggak usah melebar ke fakultas (angkatan) deh ...." jawabnya lagi. Aku agak heran dengan jawabannya.
"Apa maksudmu...?"
"Ya ... kita perkuat saja alumni angkatan di jurusan kita, banyak tuh yang membutuhkan bantuan kita... Aku nggak yakin apa teman-teman berminat"

Agak bingung mendengar jawaban tersebut. Namun segera kuingat sms yang kukirim sebelumnya ke beberapa teman, mengenai donasi reuni. Mungkin ini pangkal masalahnya. Wah … miscommunication …..!!! Ini pasti gara-gara meneruskan sms tanpa memperhatikan isinya dan tanpa memperhatikan benar maksud dan tujuan sms tersebut, sehingga membuat orang menjadi salah persepsi. Sudah setua ini, masih saja tidak mempedulikan etika.

"Duh ... ini nggak ada hubungan dengan uang .... Aku hanya minta bantuan memberitahukan acara reuni angkatan kepada teman-teman di jurusan kita. Ini acara angkatan dan kita kan bagian dari mereka. Aku hanya ingin teman-teman mengetahui acara ini. Mau datang atau tidak, serahkan saja sama mereka ... Yang penting kita sudah memberitahukannya"

Aku lupa, bagaimana akhirnya pembicaraan itu terputus. Tapi aku sangat yakin teman itu berbaik hati  dan mengirim sms ke teman seangkatan di jurusanku, seperti isi sms yang kuterima. Namun pembicaraan telpon yang pendek itu memberikan bekas yang dalam buatku.

Yang pertama adalah untuk tidak segera meneruskan pesan pendek (sms) berisi permintaan donasi  apapun juga kepada siapapun, kecuali menghubungi orang-orang dimaksud dan berbicara secara langsung. Mungkin ini akibat “keras”nya kehidupan di kota besar, sehingga kita cenderung untuk “menjaga jarak” dengan siapapun, kecuali dengan kelompok dekat. Kedua adalah nuansa penolakan yang berkaitan dengan “kelompok”. Kalau kita tidak sadar atau tahu pada kelompok mana kita berada maka jangan sekali-kali menyatukannya dengan kelompok lain tanpa pendekatan "personal dan persuasif". Alih-alih mendekatkan dua kelompok, malah akan menciptakan masalah baru. Ini bukan teory canggih dari manapun juga, tetapi dari pengalaman yang selalu saja kualami dalam peristiwa yang nyaris sama. Mungkin aku terlalu sensitif atau terlalu berburuk sangka.

Aku memang sedih mendengar "pengkotakan" antara alumni jurusan di dalam alumni fakultas dan begitu seterusnya ... Pengkotakan ini kemudian meluas dan berimbas telak kepada "pengkotakan" di berbagai bidang, golongan, suku, agama dan seterusnya .... "Anda bagian dari kami, dan mereka buka bagian dari kami...."

Kalau kita masih saja berpikir terkotak-kotak ...., memilah-milah golongan, kapan kita mampu berpikir besar untuk keseluruhan, kebersamaan dalam masyarakat. Berpikir untuk kemajuan, kebesaran seluruh elemen bangsa ini di masa depan. Bukan untuk kelompoknya sendiri .... Bukan untuk golongannya sendiri.

Kalau golongan intelektual (minimal yang mengecap pendidikan tingkat sarjana) saja berpikiran sempit ..., berpikir hanya untuk kepentingan sesaat bagi golongannya, apalah yang bisa kita harapkan dari golongan yang hanya mengandalkan otot semata. Tentu tidak mengherankan bila kita tidak pernah berpikir besar untuk kemajuan bangsa di masa yang akan datang. Bangsa kita masih akan terus saja "berperang". Sekolah satu tawuran dengan sekolah lainnya. Alumni suatu perguruan tinggi membuat kelompok masing-masing di departemen atau sektor apapun, bukan untuk kepentingan bangsa dan negara, tetapi demi kepentingan kelompoknya ... Lalu kita melihat lagi perang antar sekte di dalam suatu agama, perang antar penganut agama, lalu perang antar suku. Lalu kapan kita akan memikirkan kepentingan yang lebih besar ..... Kepentingan yang harus kita lakukan dan perjuangkan dengan penuh keikhlasan, yaitu memajukan bangsa dan negara ini... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...