Senin, 09 Januari 2006

Life begins @ 30 years after


Ini adalah thema yang akhirnya terpilih untuk acara REUNI AKBAR Angkatan 75 Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada hari Sabtu tanggal 7 Januari 2006. Thema sederhana yang rasanya sangat mengena bagi semua yang hadir, tanpa kecuali.

Sehari sebelumnya, usai shalat Jum’at, seksi repot mulai membenahi ruang yang akan digunakan. Menggelar karpet biru, menata back drop dan lay out perlengkapan acara. Semua berbagi tugas sesuai kesepakatan, yang bisa dating, silakan … yang berhalangan, jangan kecil hati ... Namun komunikasi melalui sms terus berjalan, mengecek persiapan yang menjadi tugas masing-masing.

D-day …, mentari Jakarta cerah berawan. Jadi cukup nyaman dan tidak terlalu terik. Ini kendala yang membuat orang malas keluar rumah. Pada H-hour, tempat acara yang memakai ruang terbuka di gedung A, masih terlihat sepi. Kecuali kami yang menjadi seksi repot, belum terlihat tamu yang datang. Agak kecut juga, hati rasanya. Sambil menunggu kehadiran teman-teman, Sita dan Conny meluruskan dan melemaskan pita-pita suaranya yang mungkin sudah mulai kaku dimakan usia. 

Buku catatan lagu lama jaman tahun 70 an, dikebet … seperti kebetan akordeon jaman ujian dulu …. Cari lagu sana-sini, lalu mengalunlah beberapa lagu nostalgia diiringi organ tunggal dan flute dari Raldiartono, salah satu senior yang hadir. Senior yang satu ini, dari jaman mahasiswa memang gak pernah bisa lepas dari alat musik!! Semua sudah sepakat bahwa acara baru akan dibuka pada jam 10.30 untuk memberikan kesempatan bagi yang telambat datang. Kita sudah sama-sama maklum, di Indonesia, jarang ada acara, kecuali acara kenegaraan yang sangat rigid dengan aturan protokoler, yang bisa berlangsung tepat waktu.

Jam 10.30, daftar undangan baru terisi 35 orang saja, termasuk beberapa senior. But  ... the show must go on. Seksi repot sudah sama sepakat, kalaupun jumlah yang hadir tidak sesuai dengan harapan, mereka tidak akan kecewa. Itu sudah hasil maksimal yang bisa dicapai.  Bukan kuantitas kehadiran yang ingin dicapai, tetapi kualitas pertemuan yang lebih ingin dikedepankan.

Sesuai rencana, Agus Kabul dari Jurusan Mesin dan Conny Mewengkang dari Arsitektur membuka acara, berbasa basi sedikit dan mempersilakan Andy, sang penggagas acara Reuni 30 tahun 0475 bicara. Seperti biasa, memang agak sukar untuk melepaskan diri dari ritual seremonial, yaitu acara sambutan-sambutan. Beruntung Andy cukup konsisten dengan ”aturan main” acara reuni yang sudah disepakati, yaitu .... mengalir apa adanya, nostalgia kehidupan kampus 30 tahun yang lalu, melepaskan diri dari ”jubah keakuan” yang selalu disandang setiap hari kerja. Maka sambutan dari senior, mantan Ketua Senat Mahasiswa 74-75, yaitu Gunawan Hadisusilo, maupun Ketua Iluni FTUI, Aswil Nasir mengalir apa adanya bahkan cenderung ”ger-geran” penuh nostalgia. 

Album nostalgia angkatan 75 saat POSMA 75, Inaugurasi maupun camping di desa Rarahan – Cibodas ditayangkan. Walaupun kualitas gambar agak buram. Maklum, itu adalah reproduksi foto hampir 31 tahun yang lalu.  Sampai acara doa yang secara spontan dipimpin oleh Wirya Murad, senior kami dari Sipil 71 dan jauh-jauh datang dari Jambi, semua acara masih terjalin dengan rapi, walaupun celetukan pembawa acara dan seluruh yang hadir terdengar disana-sini, membaurkan sekat-sekat keakuan yang mungkin masih melekat dalam keseharian. Beruntung pembawa acara juga cukup mampu dan tanggap akan nuansa yang ingin dihadirkan. Suasana riuh rendah, celetukan, teriakan kangen, jabat tangan erat bahkan peluk cium mewarnai pertemuan tak terduga.

Orang bilang, acara mengalir tak terkendali ..... Tapi siapa peduli, ... ini naluri alamiah dari alam bawah sadar mahluk ciptaan Tuhan, yang selama ini terbungkus rapih dalam jubah dan topeng jabatan yang disandangnya. Di sini, di lobby tengah gedung Pasca Sarjana FTUI Salemba 4, topeng-topeng itu telah ditanggalkan .... Kita semua kembali ke masa-masa 30 tahun yang lalu, kala basa basi belum dikenal, kala materi belum menjadi penghalang keakraban. Yang ada hanya teriakan-teriakan keras yang akrab dan bersahabat, membahana dari segala sudut, celetukan-celetukan penuh nostalgia yang  tak kalah hingarnya. Tak ada sakit hati, tak ada gundah, semua senang ... semua ceria, kadang haru menyelimuti hati, Jangan bicara bisnis di sini .... yang ada hanya tatap haru dan senang kala kita masih mengenali nama dan wajah-wajah yang pernah akrab pada masa POSMA 75 di tempat yang sama. Mungkin juga perasaan hangat yang menyusup perlahan ke dalam relung hati, tatkala dari kejauhan terpandang wajah-wajah yang 30 tahun lampau pernah mengisi keseharian serta angan-angan di malam hari.

Ini juga yang membuat para penggagas acara reuni membuat ”aturan ketat” ... ”Jangan bawa keluarga”, kalau tidak ingin terjadi ”perang dunia ketiga” setelah reuni ...... Semua maklum ...., biarkan hati dan pikiran kita masuk ke lorong waktu 30 puluh tahun lampau dan berkeliaran dengan bebas tanpa beban untuk sehari saja ... Sehari yang hanya akan dapat dikenang dan tidak mungkin lagi dapat diulang.

Tanpa terasa, waktu merangkak menuju kulminasi hari, di pojok lain, luapan emosi kegembiraan dilontarkan dalam teriakan membahana dari lagu-lagu tahun 70 an, satu demi satu, mantan ”penyanyi” vocal group jurusan di jamannya, menguji kemampuannya. Ruang mulai terasa sesak oleh kehadiran satu persatu teman-teman yang datang susul menyusul. Perut kroncongan yang dulu hanya mampu diganjal dengan tahu+tempe, sekarang terlihat membuncit. Rambut lebat yang dulu bergaya gondrong atau kribo telah menipis ditingkahi jalinan warna putih disana-sini. Akordeon tulang iga yang terekam dalam kamera saat acara POSMA 75 sudah terselimuti dengan lemak-lemak kemakmuran. Tapi tentu bukan karena itu, maka ajakan makan siang seakan tak bersambut. Tentu saja, bukan juga karena makanan yang terhidang hanya berupa nasi langgi berbungkus daun pisang, soto mie dan empek-empek yang dicangking Wirya Murad langsung dari Jambi. Tetapi emosi kebahagian yang tak terbendung kala berjumpa kawan lama, mampu meredam nyanyian sumbang dari perut buncit yang bukan karena busung lapar yang saat ini kerap melanda negeri ini.

Mungkin, pemilihan tempat pertemuan di gedung A Pasca Sarjana Salemba 4 memiliki daya magis yang luar biasa untuk mengembalikan semangat kebersamaan yang dulu ..... 30 tahun lampau pernah mengisi hari-hari pertama di bangku kuliah. Kesederhanaan tata ruang, kewajiban ”lesehan” di karpet berwarna biru polos mampu menebarkan aura nostalgia dan kebersamaan serta meruntuhkan topeng duniawi yang selalu disandang setiap hari, bagi seluruh yang hadir. Di balik keriuhan itu Andy sempat mengingatkan agar ”para mantan vocalist tahun 70an” melepaskan mike dan beranjak makan siang,  untuk memberi kesempatan penyanyi dan organ tunggalnya beraksi. Namun akhirnya, dia meralat kembali ucapannya .... seakan maklum, dia hanya mampu bergumam ... ”Biarlah semua menikmati kebebasannya, biarkan semua mengalir apa adanya. Kita tidak pernah tahu lagi, kapan kita diberi kesempatan untuk berkumpul lagi. Semoga ini menjadi moment penting dalam kehidupan mereka yang hadir disini  untuk menjalin kembali kebersamaan yang selama ini telah hilang”.

Menjelang jam 13.30, acara, semula dijadwalkan untuk meninjau area ex Kampus FTUI Salemba 4. Namun Andy cukup tanggap membaca situasi untuk tidak meneruskannya, karena acara basa-basi a la kunjungan pejabat/birokrat ini bisa menjadi antiklimaks Reuni. Jadi, sigap sekali Andy dan Agus Kabul memandu acara mengulang adegan penutupan POSMA 75, yaitu ”mengeluarkan unek-unek” dari semua yang hadir.

Kesempatan pertama tentu diberikan kepada mantan Ketua SMFTUI, yang menceritakan sekilas cerita dibalik penerimaaan Mahasiswa Angkatan 75, yang menjadi satu-satunya angkatan di FTUI yang memiliki 2 gelombang penerimaan mahasiswa. Rupanya mas Gunawan tanpa sadar sedang ”merancang” masa depannya sendiri .... Sang nyonya yang dinikahinya hampir 30 tahun yang lalu adalah mahasiswa Arsitektur gelombang ke 2. Berangkat dari cerita itu, alih-alih unek-unek yang keluar, malah celetukan dan cerita penuh nostalgia bagi hampir semua yang hadir. Cerita nostalgia perburuan pasangan dari para senior maupun sesama mahasiswa angkatan 75 mengalir penuh canda dan tawa. Riuh rendah, haru senang, .... seakan terlintas kembali suasana keakraban mahasiswa. Rekan-rekan yang kebetulan saat ini menjadi pejabat/birokrat di instansinya malah menjadi sasaran celetukan dan saling balas celetukan ....., Suasana yang tidak mungkin ditemukan pada hari-hari kerja biasa. Namun, siapa peduli ...??? Sita bilang : No hard feeling, man!! ....

Tanpa terasa, jam 14.00 sudah, sudah waktunya pulang, kembali ke pangkuan keluarga yang sudah menunggu di rumah. Dengan berat hati, acara ditutup dengan permintaan maaf akan kekurangan yang terjadi di sana-sini baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan. Beberapa rekan mulai membenahi peralatan dan merapikan ruangan, namun rupanya, seakan tak puas dengan pertemuan yang baru saja usai, hampir di seluruh sudut gedung terisi kelompok antara 5 – 15 orang yang masih asyik bercengkerama, melepas rindu. Masih riuh rendah, penuh teriakan, canda dan tawa.

Jam 15.30, Gedung Pasca Sarjana sudah bersih kembali. Sudah waktunya bersiap pulang, namun ternyata di halaman parkir masih berkumpul kelompok sekitar 20 orang yang dengan ”gaya asli jaman mahasiswa” dulu. Gaya bicara, gerak tubuh maupun gelegar tawa dan candanya, dan semua larut berbaur kembali dalam kelompok tersebut. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Noah Sembiring dari Mesin 75 .... ”Kami yang lelaki sudah dapat exit permit dari keluarga sepanjang hari, jadi rugi sekali kalau tidak dimanfaatkan sampai tuntas” Bukan main ..... 

Jam 16.00, mereka masih saja larut dalam canda dan tawa. Masih terdengar sayup suara canda tawa di kejauhan. Sambil menyenderkan tubuh di jok mobil yang semakin menjauhi kampus Salemba 4, Mendung mulai menggayuti menyelimuti Jakarta dan rintik hujan mulai menetes mengiringi langkah kembali ke rumah. Ada haru menyelimuti sepenuh dada .... tanpa terasa bening hangat mengalir di pipi ..... this was a great and precious moment I’ve ever had in my life.
----------------------
Terima kasih mas Gunawan Hadisusilo, Mas Anton Katili, Mas Arnold Lukman, Bang Teuku Iskandar, Uda Wirya Murad yang jauh-jauh datang dari Jambi dengan empek2nya yang gurih, Bang Benny Pangkerego, Mas Raldiartono, Mbak Meiske Widyarti, Aswil Nasir dan Wimala yang jauh-jauh dari Singapore mengantar istrinya Theresia yang ingin hadir di reuni 0475, Yvonne dari Tomohon dan tentunya seluruh yang hadir di acara Reuni 0475 FTUI yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih juga disampaikan untuk Prabowo, Bepe, Shariev serta rekan-rekan lain yang memberikan bantuan moril maupun materiel bagi terlaksananya acara ini. Percaya deh ….seluruh seksi repot acara reuni ini sangat menghargai kehadiran anda semua. Kita yang hadir di acara itu sudah membuktikan kebersamaan itu masih dan akan tetap ada. Tidak ada yang membedakan kita, tidak juga topeng-topeng duniawi yang melekat dan menemani kita sepanjang hari, kecuali perasaan yang datang dari dalam hati kita sendiri.

We are all and always be 0475 till our last breathing.

2 komentar:

  1. Lho Mbak, ternyata kita dulu bertetanggaan ya. Saya masih inget jamannya jadi "lasykar putri kampus" hehe.... jamannya lagi suka demo, itu di depan arsitek cowo-cowo tehnik pada nongkrong pakai halo-halo, sambil teriak teriak: buat Julia yang lagi ke kantor pos dapat salam dari sayangnya di fakultas tehnik.... Weh... he he.... gara-gara cewek cewek suka digitukan, trs para cewek se kampus salemba rajin ke kantor pos deh... kak kak kak...
    Suatu kali nonton tentara baris masuk kampus, liwat jalan di depan tehnik. Ada mhs ngeledek teriak..."Pak Pak ... pulang aja pak. Istri di rumah lagi hamil, nanti di rubung semut...!"Dari sisi kantor pos aku ketawa kepingkel pingkel, tapi tentaranya marah-marah... he he... Ya terang marah deh ya, wong diledekin. Wah, jadi ikutan nostalgila....

    BalasHapus
  2. Hehe... mbak Julia, sebetulnya saya sudah tahu, kalo kita tetangga ...karena saya pernah ngunjungi multiply nya mbak Julia.
    Senang deh, kalau tulisan saya bisa membawa mbak ikut bernostalgia.
    Tulis dong cerita nostalgia, biar makin banyak orang yang bisa membayangkan suasana Salemba jaman tahun 70 an
    salam

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...