Senin, 04 Februari 2008

Dies Natalis ke 48 Universitas Indonesia; Out of the box kebablasan.

Pergantian pimpinan suatu institusi diharapkan akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Begitu juga di dalam dunia pendidikan, apalagi di Indonesia. Maklum, pendidikan tinggi Indonesia saat ini tidak berada pada posisi yang menggembirakan. Simak saja dalam peringkat 500 universitas dunia, universitas di Indonesia tidak pernah masuk dalam 200 terbaik, terkalahkan oleh Singapore.

Ini berbeda dengan akhir tahun 60 hingga tahun 70an, Malaysia banyak berguru kepada dunia pendidikan Indonesia baik di tingkat sekolah menengah hingga universitas. Kini sang guru harus belajar ke Malaysia.

Kalau pada dasawarsa 60–70, dosen dari Indonesia diundang dengan penuh hormat untuk mengajar mahasiswa Malaysia di negaranya, maka tiga puluh tahun kemudian dosen Indonesia belajar di Malaysia untuk meraih gelar magister (S2) atau bahkan gelar doktor. Sebagaimana banyak orangtua Indonesia yang mengirim anak-anaknya ke berbagai universitas di Malaysia untuk tingkat sarjana dan magister, yang biayanya relatif murah namun konon memiliki kualitas dan fasilitas pengajaran yang lebih baik daripada di Indonesia. Namun itupun masih harus ditebus pula dengan rasa malu dan traumatis terkena penggeledahan pendatang haram.

Secara individu, kualitas dosen Indonesia yang berasal dari universitas terkemuka masih jauh lebih baik dari dosen Malaysia. Namun sayangnya, pada tataran institusi, kualitas universitas-universitas dari Indonesia di tingkat Asia Tenggarapun banyak dipertanyakan.

Di samping itu, pelaku industri dan masyarakat seringkali mengeluhkan bahwa lulusan universitas saat ini kurang siap pakai atau penelitian universitas tidak relevan dengan kebutuhan dunia industri. Alumnipun mengeluhkan bahwa universitas kurang mampu bersinergi dan memanfaatkan potensi alumni dalam pengembangan ilmu/pendidikan. Semua berjalan sendiri, tidak pernah titik temu. Universitas seringkali ditengarai “terlalu merasa tahu dan karenanya merasa paling mampu mendidik” mahasiswa. Tidak mau tahu bahwa dunia luar bergerak sangat cepat. Lupa bahwa sebagian besar akademisi hanya tahu teori tetapi miskin pengalaman praktis. Bahwa masyarakat sudah berubah, dunia berubah dan tantanganpun berganti. Ada berbagai pergerakan ekonomi global yang terus menerus serta perkembangan teknologi yang tak terbendung. Semua berubah dan untuk mengantisipasi perubahan tersebut diperlukan orang muda. Kaum yang umumnya lebih “berani” menerobos berbagai tantangan dengan berbagai inovasi dan kreatifitas.

Itu sebab, terpilihnya Prof. DR. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri dari jajaran professor yang relatif berusia sangat muda, menjadi rektor UI membawa asa bagi banyak orang untuk mengangkat pamor Universitas Indonesia. Prof. Gumilar, pada masa jabatannya sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik - FISIP telah banyak membawa perubahan. Menempatkan FISIP menjadi salah satu fakultas di Universitas Indonesia – UI “terkaya” dan memiliki berbagai fasilitas pendidikan yang baik.

Berpikir out of the box, konon begitu kiatnya untuk membuat FISIP menjadi sedemikian berkembang. Kiat itu pula yang kiranya ingin dibawa dalam “memerintah” kaum akademisi di tingkat universitas. Itu pula yang disampaikan Rektor UI pada akhir pidatonya, mengenai alasan penunjukan Maurits DR Lalisang, presiden direktur PT. Unilever Indonesia Tbk. Salah satu alumni FISIP yang berhasil memimpin sebuah perusahaan multi nasional untuk menyajikan pidato ilmiah dalam rangka acara Dies Natalis ke 48 Universitas Indonesia. Acara yang sekaligus merupakan wisuda program spesialis, magister dan doktor di Balairung Universitas Indonesia – Depok Sabtu 2 Februari 2008.

Tentu, rektor berharap bahwa dengan perubahan pembawa pidato ilmiah dari yang biasanya, kalangan akademisi menjadi praktisi industri, akan terselenggara sebuah sharing session yang menarik. Yang merupakan pembekalan bagi para wisudawati/wisudawan mengenai kiat-kiat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di universitas ke dunia kerja agar meraih sukses baik bagi pribadi maupun bagi perusahaan tempat berkarya. Sharing session yang akan menjadi masukan bagi para akademisi mengenai kebutuhan dunia kerja terutama dalam bidang manajemen dan industri terkait. Agar universitas tidak hanya menjadi menara gading yang kropos. Dengan demikian jurang yang memisahkan antara kalangan akademisi dengan dunia industri menjadi semakin kecil

Tapi …. Itulah!!! Bak pepatah, tak ada gading yang tak retak …. Niat baik tidak selalu berakhir dengan baik terutama kala persiapan tidak dilakukan dengan seksama. Usai memperkenalkan profil pembicara, dan saat pembicara telah berada di atas mimbar, di hadapan senat guru besar Universitas Indonesia, di hadapan lebih dari 1.000 orang wisudawati/wisudawan tingkat S2 dan S3, pidato ilmiah sudah bergerak secara pasti dan nyata serta tidak terkendali menjadi ajang promosi gratis bagi PT. Unilever Indonesia Tbk, walaupun yang bersangkutan dalam bukunya, sudah menyatakan tidak bermaksud mempromosikan Unilever.

*****
“Unilever Indonesia udah dibeli UI tuh…”, itulah sms yang tiba-tiba masuk ke mobile-phone saya di tengah “pidato ilmiah” tersebut. Sms itu dikirim oleh seorang teman yang hadir dan kebetulan merupakan salah satu yang duduk di panggung, sejajar dengan rektor. Gilee….. si kumis keren banget, pake dasi kuning dan jas. Padahal biasanya saya ketemu dia pake baju “tukang minyak”. Pagi ini dia jaim banget…. Duduk “berwibawa” di deretan terdepan bersama Ketua MWA, ketua SAU, rektor UI dan para dekan fakultas di lingkungan UI. JAdi, pantaslah kalau dia pasang muka “garang”, lengkap sama kumis tebalnya.

Lama saya mencernakan isi sms itu. Maklum, otak karatan ini telmi dan lagi gak mudeng sama maksud sms. Entah apa maksud UI dibeli Unilever. Belakangan baru saya tahu bahwa gerombolan “hantu” yang ada dipanggung itu memiliki buku pidato ilmiah sang presdir Unilever. Setelah sadar, langsung saya balas sms itu,
“Apa bukan terbalik? …. UI yang sudah dibeli oleh Unilever! Yang pasti ini promosi gratis Unilever di forum terhormat.”
“Apa maksud …?

Wakakak …… UI yang pendidikan digratisin sama UI yang industrialis tuh! Tertipu dia...! Masa, cuma segitu harganya? Lu tahu gak? Sponsored talkshow/advertorial di TV untuk satu session berdurasi 30 menit harganya 200 juta. Satu sloot iklan di prime time berharga tidak kurang dari 60 juta. Ayo …. Hitung tuh, ada berapa slot iklan yang tadi ditayangkan di LCD! Gila aja … forum resmi UI dipake beginian. Malu-maluin! Kurang dana, ya gak gini caranya! Murah banget ya UI sekarang?
*****

Di tengah sebuah forum terhormat. Pada sidang terbuka Universitas Indonesia dalam rangka Wisuda dan Dies Natalisnya yang ke 48. tayangan power point dari berbagai produk dan bahkan beberapa thriller iklan Unilever terpampang silih berganti di layar LCD di berbagai penjuru Balairung kampus UI - Depok. Tidak bisa dihentikan, dan tidak lagi bisa dikendalikan. Sukar dihindari kesan bahwa telah terjadi sebuah komersialisasi sebuah forum yang dinamakan pidato ilmiah.

Berpikir out of the box nya pak rektor sudah diterjemahkan dan dilaksanakan. Entah apakah memang itu yang dimaksudkan oleh pak rektor. Ataukah karena sang penterjemahnya terlalu bersemangat sehingga salah mengartikan. Yang pasti …….. nasi sudah menjadi bubur. Universitas Indonesia sudah kebobolan dan mempermalukan dirinya sendiri.

Sungguh … sebagai salah satu alumni yang hadir pada kesempatan itu. Masih terikat sangat dekat sebagai keluarga besar UI karena suami menjadi staff pengajar di kampus sejak tahun 1980, saya merasa sedih, kecewa dan sekaligus malu.

Hari ini, Sabtu 2 Februari 2008 disaksikan oleh sekitar 100 guru besar yang penuh wibawa, + 1.200 wisudawati/wisudawan, ratusan mahasiswa berjaket almamater berwarna kuning, orangtua wisudawan serta ratusan undangan, Universitas Indonesia, universitas penyandang nama negara secara sengaja atau tidak, telah mempermalukan dirinya sendiri. Acara resmi sidang terbuka Universitas Indonesia untuk memperingati Dies Natalis ke 48 dan wisuda, sadar atau tidak sadar, telah menjadi tempat promosi gratis bagi PT. Unilever Indonesia Tbk.

Entah dimana salahnya …. Apakah karena Unilever Indonesia juga bisa disingkat menjadi UI sehingga sang presiden direktur yang notabene alumni merasa sangat memiliki almamaternya sehingga lupa menempatkan diri. Lupa menyaring apa yang pantas dan tidak untuk disajikan sebagai makalah ilmiah dalam forum resmi. UI yang bergerak di bidang pendidikan bukanlah klien UI alias Unilever Indonesia yang produsen utama household dan makanan ringan. Universitas bukan klien yang memerlukan penjelasan mengenai company profile, berbagai produksi dan aktifitasnya. Ataukah karena penanggung jawab acara Dies Natalis kurang perhatian, kurang seksama memperhatikan materi pidato ilmiah. Atau saking sibuknya, beliau menjadi kebobolan tidak sempat mengecek persiapan dan materi acara.

Saya masih ingin percaya bahwa para akademisi dan pendidik di UI yang Universitas Indonesia, masih “bersih” dan tidak mungkin mengotori nilai-nilai, etika dan norma profesinya sebagai pendidik anak bangsa. Walaupun wajah akademisi UI sempat babak belur tercoreng oleh perilaku beberapa dosen FISIP dalam kasus Komisi Pemilihan Umum. Kesemuanya, kebetulan berasal dari fakultas yang sama dengan rektor UI saat ini. Para petinggi UI  sama sekali berniat “menjual” forum pidato ilmiah itu. Ini hanya suatu kecelakaan yang tidak disengaja.

Namun, yang pasti, mata seorang awam sukar menepiskan bahwa UI yang universitas sudah “menggadaikan” acara Dies Natalis nya kepada Unilever Indonesia dan nasi sudah menjadi bubur. Sejarah Dies Natalis UI akan mencatatnya. Sms permintaan maaf dari penanggung jawab acara Dies Natalis telah disebarkan, kepada para gurubesar. Namun semuanya sudah tidak berarti lagi dan tidak bisa menghapus peristiwa yang sudah terjadi. Image sudah terpatri. Permintaan maaf tidak lagi cukup untuk sesuatu baik disengaja ataupun tidak sengaja telah mencoreng nama baik UI.

Kalau hal ini terjadi di Jepang, mungkin hara-kiri sudah dilakukan oleh penanggungjawab acara. Tapi ini terjadi di Indonesia. Negara dimana orang yang sudah diketahui umum melakukan kesalahan masih bisa dan mampu berdiri tegak sebagaimana seorang innocent. Tapi, siapa tahu kaum intelektual dari UI yang universitas mampu memberi warna baru dan pendidikan bagi kaum elite Indonesia. Yaitu bagaimana cara bertanggung jawab atas kesalahan fatal dari pekerjaan yang tidak dipersiapkan dengan baik sehingga mencoreng nama baik institusi tempat kita bekerja. Mungkin… walaupun belum pernah terjadi, ada yang mau bertanggung jawab dan kemudian mengundurkan diri dari jabatan strukturalnya, sebagai bentuk tanggung jawab dan konsekuensi dari kejadian itu. Kita tunggu saja.

Nah, hari Minggu 3 Februari 2008, kita lihat …. Apa yang akan ditulis di Koran nasional mengenai pidato ilmiah yang sarat iklan tersebut.

Lebak bulus, minggu 3 februari 2008 jam 00.00

3 komentar:

  1. Kayak kenal deh saya sama Bang Kumis, he...he...he...

    BalasHapus
  2. Saya jadi pengen tau, Uni. Lima belas tahun yang lalu saya masuk Teknik cuma bayar Rp.315,000 per semester itu kok masih bisa sekolah ya? Duitnya buat bayar gaji dosen, fasilitas kampus, dll itu dari mana ya?

    Saya alumni SMAN 6 Palembang, kami punya dana bersama untuk membiayai pendidikan adik kelas dalam bentuk beasiswa bulanan. Saya kaget sekali bahwa ternyata sekarang harus disiapkan Rp.400,000 per bulan per siswa untuk SPP dan ini-itu di sekolah. Bandingkan dengan zaman saya dulu, SPP dan iuran BP3 hanya Rp.1,700 per bulan. Tak terbayangkan berapa biaya yang harus saya siapkan untuk Alif, 10-15 tahun mendatang...

    Nah, maka dari itu saya setuju saja Pak Rektor mengambil langkah di atas, asalkan paling tidak bisa "menghasilkan" biaya kuliah UI jadi murah lagi seperti dulu...supaya yang kuliah di sana bisa bangga berhasil diterima benar-benar karena kemampuan menembus seleksi masuk yang ketat...bukan sekadar karena mampu membayar mahal untuk diterima lewat "jalur khusus".

    Pfuih...nyaris hilang nih kebanggaan sebagai alumni UI.

    BalasHapus
  3. Mencari dana untuk UI supaya kuliah di UI bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia, saya setuju banget. Tapi caranya itu lho. Ada bagian2 yang bobot akademisnya tinggi yang tidak bisa diperlakukan "sembarangan".

    Pidato Ilmiah... namanya saja pidato ilmiah... ini bukan ajang berpromosi.
    Jalur pendidikan S2, S3 tidak boleh dikomersialkan dalam arti orang2 yang nggak punya waktu, tapi mau bayar mahal, boleh "kuliah privat" atau bayar orang utk bikin dan bahkan njiplak thesis (ini pernah terjadi!!).

    Nah yang beginian kan nggak bener. Kalau itu terjadi... UI bisa jadi "kaya" dan berlimpah dana, tapi secara akademis akan dilecehkan. Nggak akan lebih tinggi nilainya dari universitas ecek2. Ada banyak cara mencari dana yang elegant tanpa mengurangi bobot akademis, misalnya kerjasama dengan berbagai instansi pemerintah/swasta untuk penelitian atau penyaluran dana CSR misalnya. Orang2 UI itu pintar2 lho, tapi hendaknya kepintaran digunakan berbarengan dengan moralitas yang tinggi.
    salam

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...