Senin, 18 Februari 2008

Sudah merdekakah anda?

Ini sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala. Semula saya mengira bahwa menulis, menuangkan buah pikiran terutama yang berasal dari kejadian harian, akan memerdekakan diri dari jeratan keterkungkungan akal dan pikiran. Membebaskan hati dan pikiran dari aroma ketidakpuasan atas sesuatu yang mengganggu. Sampai disini, kemerdekaan sudah saya peroleh, karena apa-apa yang berkecamuk di kepala sudah tersalurkan. Persoalan nomor satu selesai. So what next ….?

Orang bijak mengatakan bahwa buah pikiran kita sebaiknya dibagikan kepada orang lain. Siapa tahu ada orang yang memiliki persoalan yang sama dan membutuhkan jalan keluar, memerlukan teman untuk berbagi. Agar pengalaman dan buah pikiran menjadi lebih kaya. Kaya masalah dan kaya solusinya. Namun kemudian timbul masalah kedua. Layakkah pengalaman dan buah pikiran itu dibagikan kepada khalayak ramai. Bukankah pengalaman yang ditulis akan mengaitkan pihak ke tiga, ke empat dan seterusnya sebagai bagian dari tulisan? Apakah mereka akan dengan senang hati merelakan penggalan hidupnya dipublikasikan menjadi bagian dari konsumsi publik? Lalu kemerdekaan pertama, yaitu menulis, kala berhasil memerdekakan diri dari pikiran yang mengganjal menjadi terbelenggu kembali.

Sang penulis kemudian “merasa diwajibkan” untuk meminta ijin kepada pihak-pihak terkait. Bahwa ada penggalan pengalaman hidup mereka saat berinteraksi dengan penulis yang akan dimasukkan ke wilayah publik. Reaksi tentu bermacam-macam. Ada yang memberi ijin dengan senang hati, tanpa harus menutup-nutupi. Sebagian lain memberi ijin dengan sedikit editing agar bagian yang merugikan citranya tidak terpublikasikan. Ada pula yang memberi ijin tetapi meminta agar nama dan tempat kejadian disamarkan atau dimodifikasi. Yang paling ekstrim tentunya menolak mentah-mentah seraya menumpahkan kekesalan karena merasa dipermalukan dengan adanya penulisan tersebut. Ternyata …. menulispun tidak serta merta memerdekakan akal dan pikiran manusia. Minimal tidak memerdekakan si penulisnya. Karena kalaupun tulisan itu merupakan tuliah ilmiah sekalipun, ada tata cara penulisan, tata cara memuat referensi dan terakhir editing naskah.

“Takutlah hanya kepada Allah SWT semata” begitu khotbah yang sering didengar. Dalam kehidupan bermasyarakat, ternyata manusia tidak sepenuhnya merdeka. Ada norma dan etika yang harus dipatuhi. Ada undang-undang dan beragam peraturan yang harus ditaati. Begitupun Allah SWT menurunkan wahyuNya sebagai pedoman bagi kehidupan bermasyarakat, di samping merupakan pedoman saat manusia berinteraksi dengan sang Pencipta.

Tetapi pada kenyataannya kita lebih patuh dan taat kepada norma, etika, undang-undang dan peraturan yang dibuat manusia. Lebih takut kepada sanksi masyarakat. Manusia seringkali takut menyuarakan kebenaran tatkala kebenaran itu berlawanan dengan lingkungan sekitar. Masih belum sepenuhnya merdeka dan mungkin sebenarnya manusia tidak akan pernah merdeka. Padahal  suara kebenaran yang harus disuarakannya itu sesuai garis perintah Tuhannya. Manusia ternyata dengan sangat mudah mengabaikan perintah Tuhan nya demi menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat. Apakah karena Tuhan – Allah SWT tidak berwujud, maka kita cenderung mengabaikanNya? Wallahu alam.

Lebak Bulus - Minggu 10 februari 2008 jam 10.30

2 komentar:

  1. Cuma para Rasul yang berani menyuarakan kebenaran Tuhan, walaupun harus menghadapi tentangan dari lingkungannya. Itulah sebabnya tidak banyak orang yang bisa diangkat menjadi Rasul

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...