Selasa, 22 April 2008

Tamu dari Pusat

Lebih dari 15 tahun yang lalu, seorang teman yang bekerja di suatu instansi pemerintahan pusat, bercerita; suatu hari, dia ditugaskan kantornya untuk berkoordinasi dengan instansi daerah yang membawahi bidang yang sama. Teman saya, saat itu, masih bujangan berumur +28 tahun, lulusan dari PTN terkenal dan ganteng. Dia juga baru beberapa bulan masuk ke instansi tersebut, setelah meninggalkan pekerjaan lamanya, di kantorku. Jadi "masih bau kencur" di instansi pemerintahan tersebut.

Maka, berangkatlah dia dengan tim yang ditunjuk kantornya. Tiba di kota yang dituju, seperti biasa, langsung diantar ke hotel untuk chek in, lalu usai makan siang mereka langsung berkoordinasi hingga menjelang maghrib. Acara rapat koordinasi berlangsung beberapa hari. Malam hari, usai istirahat, panitya tuan rumah mengajak tamu-tamu "pusat" makan malam di restaurant bergengsi sambil berekreasi. Disana mereka ditemani oleh beberapa escort.

"Anak bau kencur" ini, mungkin belum sadar akan maksud kehadiran escort. Di kantor kami, dia memang dikenal sebagai "anak gaul". Hampir setiap ada waktu, dia selalu meluangkan waktu untuk pergi ke diskotek atau cafe. Sebagai anak kost, mungkin dia jenuh menghabiskan waktu di kamar kost yang sempit. Dengan gaya hidup seperti itu, tak heran bila setiap akhir bulan dia selalu pusing memikirkan tagihan credit card yang jauh melebihi nilai gajinya.

Menjelang larut malam, rombongan tamu diantar kembali ke hotel. Sebagai basa-basi, tuan rumah didampingi escortnya mengantar hingga di depan pintu kamar. Usai membuka pintu kamar, tuan rumah berbasa-basi :
"Pak .... bila ada kekurangan dan ketidakpuasan, jangan sungkan menyampaikannya pada saya", ujarnya sambil mempersilakan sang escort masuk ke dalam kamar. Konon .... (menurut cerita temanku itu ...) dia betul-betul kaget, dan serta merta tanpa basa-basi, langsung menyuruh escort keluar kamar sambil "mengancam" melaporkan tuan rumah kepada atasannya atas perlakuan yang dianggap merendahkan harga dirinya.

Mendengar cerita temanku itu, kami, semua temannya "ngakak" sambil ngeledek ....Namun demikian, kami semua percaya bahwa temanku itu "masih" bicara jujur. Masih belum terkontaminasi dengan perilaku "orang pusat" saat ke daerah. Entah apakah setelah bekerja di instansi yang sama lebih dari 15 tahun, dia masih senaif itu.
*****

Minggu lalu, aku "terpaksa" berangkat ke Jawa Timur. Tidak bisa tidak karena ini acara rapat kerja dan pra RUPS. Jadi tidak ada alasan lagi untuk mengelak. Berbarengan denganku, ada 3 orang "pusat" yang berkunjung ke salah satu anak perusahaan berkaitan dengan proses tukar guling. Mereka memang bagian dari tenaga ahli yang bertugas untuk menilai aset. Konon di Indonesia, keahlian yang dimilikinya masih tergolong langka.

Usai meninjau lapangan, tuan rumah menjadwalkan untuk mengadakan pertemuan ramah tamah dengan “pejabat daerah” setempat hingga lurah dan camat. Namun dengan halus, mereka (kalau tidak salah ada 5 orang) menolak ajakan makan malam. Mereka ingin “bernostalgia” menikmati kota yang sejuk itu di malam hari. Konon di antara tamu tersebut ada yang pernah kuliah di kota itu. Demi menghormat tamu, bos , menugaskan seorang rekan untuk menemani. Rekan kami tersebut dikenal sangat “militant” dalam menegakkan  syariat agama. Jangankan untuk berbuat tidak senonoh, menemani tamu masuk tempat karaokepun, ditolaknya dan dia akan meminta rekan lain sebagai pengganti tugasnya.
Karena acara makan malam dibatalkan, maka kami melanjutkan acara makan malam internal sambil ngobrol santai.
Nah, ditengah acara ngobrol itulah rekan kami menelpon, lapor  bahwa dia mendelegasikan tugas kepada seseorang sekaligus “misuh-misuh”. Ternyata, sambil  makan malam yang konon katanya ala kakilima. sang tamu selalu menggiring obrolan tentang wanita-wanita cantik. Karena temanku yang fanatik ini terlihat tidak “menangkap” arah maunya si tamu, maka salah satu counter-part nya memberi kode dan mengambil alih kewajiban “menjamu” tamu dari pusat. Mereka kemudian langsung menuju tempat karaoke yang dikenal dengan lady escort nya yang aduhai dalam pelayanan luar dalam. Tinggallah temanku misuh-misuh  ditinggal tamunya.
Oh lelaki …… Tamu dari pusat …. Ternyata, selang 15 tahun kemudian, perilaku mereka masih belum berubah. Apakah mereka tidak sadar bahwa perilaku mereka itu membuat mereka kehilangan respek dari tuan rumah. Apakah mereka tidak sadar bahwa permintaan itu seperti permintaan untuk melumuri muka mereka dengan najis?

7 komentar:

  1. ck,ck,ck,ck,ck..........sedih sekali mendengarnya>

    BalasHapus
  2. mbak Lina, kalau ke Amsterdam malam-malam, nongkronglah disana, nanti bisa ketemu org Indo yang juga pejabat asyiek nonton "lampu merah..."

    BalasHapus
  3. ternyata, itu cerita kuno, mbak... dari dulu sampe sekarang, nggak berubah

    BalasHapus
  4. takut, mbak.... Takut menerima kenyataan kalau-kalau ternyata si pejabat itu adalah orang yang saya kenal baik...

    BalasHapus
  5. takut, mbak.... Takut menerima kenyataan kalau-kalau ternyata si pejabat itu adalah orang yang saya kenal baik...

    BalasHapus
  6. padahal secara materi mungkin pejabat itu cukup berlebih ya mbak...manusia memang gak pernah puas. kasihan sekali...

    BalasHapus
  7. Mungkin karena berlebih, jadi nafsu duniawinya juga berlebih

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...