Jumat, 11 Juli 2008

Penerimaan Mahasiswa Baru --> Mendzalimi orang tak mampu?

Seperti yang sudah direncanakan sejak semula, hari ini, teman kantorku minta ijin cuti untuk mengajukan “banding” atas permohonan keringanan uang kuliah dan uang masuk anak sulungnya di UI.

Temanku ini single parent yang memiliki 2 orang anak. Yang sulung diterima di UI sedangkan anak bungsunya diterima di SMP negri. Suaminya sudah meninggal dunia sekitar 7 tahun yang lalu dan sekarang mereka bertiga tinggal, menumpang di rumah neneknya.

Sore tadi, sambil mengendarai mobil saat pulang kantor, saya sempat berkomunikasi melalui sms untuk menyampaikan beberapa urusan kantor yang dititipkannya kemarin.
“Kamu dimana? Sudah beres urusan bandingnya?
“Belum mbak! Bete banget … nggak ada kepastian jam berapa dipanggil. Bayangin aja, kami cuma diberitahu bahwa banding dilakukan pada hari Jum’at jam 08.00. nggak ada penjelasan lain. JAdi bayangin deh…. Dari jam 08.00 aku stand by di Depok.
“Gila ……? Yang bener aja?”
“Iya…. Aku lagi antri nih….! Nah itu … baru dipanggil buat wawancara.”
Jarum jam sudah menunjukkan angka 8. Yang ini angka 8 saat matahari sudah tenggelam. Jadi temanku sudah “nangkring” di Depok selama 12 jam!

Sebelum aku cuti akhir bulan yang lalu, aku sudah bilang agar dia tidak sungkan “memperjuangkan” permohonan keringanan uang masuk dan uang kuliah, kalau memang membutuhkan.
Ada harga yang harus dibayar untuk itu! Kalau kamu memang kurang mampu membayar, perjuangkan dengan segala cara. Mulai dari permohonan keringanan hingga pembebasan atau yang teringan mengangsur pembayaran.”
“Tapi … nanti kalau aku terlalu rewel, bisa-bisa anakku nggak diterima kuliah dong.”
“Nggaklah…. Anakmu sudah diterima, tidak ada alasan untuk menolak mahasiswa yang tidak mampu, kecuali yang bersangkutan mengundurkan diri. UI punya dana untuk mengatasi biaya kuliah mahasiswa yang orangtuanya kurang mampu.”
“Bener nih?”
“Aku pernah baca itu. Tapi UI tentu nggak mau kebobolan dan kebijakannya menjadi tidak tepat sasaran. Jadi pasti ada mekanisme yang bisa merontokkan niat orangtua yang hanya pura-pura tidak mampu membayar. Jadi hanya orang yang benar-benar membutuhkan yang akan sabar menjalani proses tersebut. Nah kalau kamu memang butuh, jalani saja”

Kemarin, saat bertemu di kantor, dia sudah bicara panjang lebar tentang apa yang sudah dijalaninya. Betapa segala persyaratan yang diminta oleh fakultas, betul-betul seperti mengumbar “aib” diri sendiri.
“Bayangin, mbak! Surat keterangan gaji dari kantor wajib dilegalisir oleh RT – RW dan lurah. Belum lagi keterangan ini itu yang betul-betul bikin aku malu, rasanya”.
“Yah, nasib, lah! Mau diapain lagi? Makanya dari awal, aku sudah bilang, cuma orang yang betul butuh yang akan menjalani proses ini. Pokoknya berjuang sampai putus urat malu”
*****

Begitulah perjuangan temanku dan banyak orangtua lain yang sedang menggapai asa melalui anak-anaknya yang diterima di Universitas penyandang nama negara yang gemah ripah loh jinawi tapi sekarang sedang sekarat lahir batin.

Bahwa mekanismenya panjang, aku sudah membayangkan dan dapat memaklumi. Tetapi kalau setelah direpotkan dengan berbagai surat-surat dan pernyataan lalu orangtua “disiksa” untuk menunggu dan menunggu tanpa ada kejelasan waktu, maka aku nggak habis pikir, apa yang ada di belakang kepala pembuat kebijakan dan para pelaksananya.

Bukankah ada banyak ahli manajemen di UI yang mengajarkan kepada mahasiswa tentang effisiensi waktu dan customer satisfaction. Mereka tentunya tahu cara bekerja yang effisien demi kepuasan orangtua dan calon mahasiswa. Ini kalau dikaitkan dengan customer satisfaction.

Tapi mungkin aku lupa, bahwa calon mahasiswa dan orangtuanya, bisa jadi tidak digolongkan sebagai customer yang perlu diberikan layanan yang memuaskan. Tetapi mereka adalah pihak yang membutuhkan jasa. Menjadi pihak yang lemah! Jadi yang butuh harus mengalah dan mematuhi aturan main pihak yang lebih kuat. Yang terlihat hanya semangat : kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?

Ini, kan sebuah pemborosan, kerugian bagi perusahaan tempat para orangtua bekerja. Bayangkan ada berapa banyak orangtua yang terpaksa mengambil cuti, dan berapa banyak pekerjaan kantor terbengkelai. Mungkin …. Manajemen UI dan para pelaksananya berkilah…. "Emang gue pikirin…..!!! Yang butuh siapa?"

Tapi, cobalah sedikit berempati…. Andaikan orangtua calon mahasiswa itu seorang buruh harian. Seorang tukang ojek, supir bus/angkutan kota atau pedagang sayur yang kesemuanya mengandalkan pemasukan harian bagi kelangsungan rumah tangganya. Maka karena rasa cintanya pada si anak… Karena setumpuk asa akan masa depan yang lebih cerah, yang digantungkan pada si anak yang telah diterima di UI, maka dia kehilangan sumber penghasilannya hari ini dan hari-hari sebelumnya demi mengurus segala macam persyaratan.

Demi anaknya yang telah diterima di UI, yang sedang diperjuangkannya untuk memperoleh keringanan biaya, maka anaknya yang lain terpaksa kelaparan di rumah. Karena bapaknya harus bolos bekerja dan ibunya tidak diperbolehkan berhutang lagi di warung, karena hutang-hutangnya yang kemarin belum terlunasi.

Padahal… andaikan saja ada empati bagi mereka yang kurang beruntung itu, maka aku yakin manajemen UI pasti sudah tahu dan mampu melakukannya. Tidak sulit! Saat pengembalian formulir permohonan keringanan, fakultas yang bersangkutan langsung menetapkan jadwal pertemuan evaluasi/wawancara. Katakanlah satu orang mahasiswa perlu dilayani selama 15-30 menit, alokasikan saja waktunya dan fakultas tinggal “menugaskan” sejumlah dosen dan panitia PMB. Katakanlah ada sepuluh orang hingga secara simultan ada 10 orang calon mahasiswa yang terlayani. Jadi orangtua dan mahasiswa tinggal datang pada jam yang telah ditetapkan. Tidak harus menunggu dari pagi tanpa kejelasan waktu.

Tapi, mungkin empati itu sudah hilang …. Atau segala teori manajemen itu memang hanya tinggal teori yang para pengajarnya sendiri tidak mampu menerapkan dan melaksanakannya pada diri sendiri.

Aku hanya teringat pada suatu tulisan, yang aku sendiri lupa isi persisnya. Tapi intinya begini:
Bila anak kita dididik dengan penuh empati, maka dia akan tumbuh menjadi orang yang penuh kasih sayang. Maka analoginya; bila anak-anak kita (baca: calon mahasiswa kurang mampu) diperlakukan dengan semena-mena saat penerimaan mahasiswa maka jangan kaget bila saat mereka terjun ke masyarakat kelak, maka mereka akan menjadi pejabat yang semena–mena dan suka mempersulit rakyatnya.

Jadi….. kalau ternyata Indonesia sekarang menjadi carut marut. Lembaga Eksekutif Legislatif dan Yudikatif sudah menjadi sarang korupsi. Tidak ada lagi empati kepada sesama, maka mungkin kita patut memutar kembali ingatan kita… contoh apa yang sudah kita terima dari lembaga pengajaran kita, baik yang formal maupun informal.

Yah…. Beginilah nasib …. Semoga, tidak ada menambah kesusahan dengan pertanyaan : Siapa suruh jadi orang miskin????

4 komentar:

  1. wah..sedih mb Lina bacanya.Kebetulan meskipun suami sdh diterima jadi dosen di US sini,msh ada niatan pulng ketanah air kembali mengajar.Apakah ini terjadi untuk semua fakultas di UI.Harusnyakan mrk sdh mempunyai team untuk penerimaan mahasiswa baru ya...

    BalasHapus
  2. Kelihatannya begitu.
    Menurut suami, yang melakukan seleksi calon mahasiswa yang pantas menerima dispensasi adalah mahasiswa (BEM), karena mahasiswa "ngotot" ingin ikut campur menseleksi karena mereka "mencurigai" manajemen universitas tidak transparant dalam pemberian dispensasi

    BalasHapus
  3. aku inget bu, beberapa tahun lalu, temenku ngurus perpanjangan keringanan bayar kuliah di dekanat sastra... dari pagi sampe maghrib.. itu juga belum ada kepastian bakal dikasih apa nggak. padahal bayarannya paling lambat besoknya. yang ada temenku pas pulang... di jalan setapak dari fisip menuju stasiun UI... dulu kan masih tinggi dan lebat pohonnya... PINGSAN... maghrib2.... saking stressnya ngurus keringanan. ujung2nya temenku yang satu lagi... cowok...ngamuk2 ke dekanat gara2 bikin pingsan temen cewekku ini. akhirnya dikasih juga tuh keringanan...duduls juga ye.... kudu jatuh korban duluw

    BalasHapus
  4. Memang nggak enak jadi orang miskin, tapi .... kita kan nggak bisa milih jadi orang miskin ya? Mbok ya sedikit berempati gitu...
    Duh, Sedih ya, ....

    BalasHapus

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...