Selasa, 01 Desember 2015

Catamenial Pneumothorax

Catamenial Pneumothorax, dua kata yang baru masuk ke dalam perbendaharaan pengetahuan saya beberapa bulan ini saja. Berawal dari berita yang diperoleh karena adik ipar saya, bolak-balik masuk rumah sakit karena sebelah paru-parunya, kempes. Konon gejala awalnya karena batuk yang tak berkesudahan dan kemudian disusul dengan sesak napas. Kondisi ini tentu sangat tidak menyenangkan buatnya. Aktifitasnya yang seabreg banyaknya disertai dengan pembawaannya yang sangat supel, super gesit dan sangat pro aktif, tentu sangat terganggu oleh kondisi kesehatannya tersebut.

Singkat kata, dalam waktu tidak sampai 1 tahun, dia sudah bolak-balik keluar masuk rumah sakit dan  dilakukan tindakan operasi untuk "menggembungkan" kembali paru-parunya yang kempes tersebut. Dari selintas pembicaraan, lebih tepatnya chatting baik melalui blackberry messenger maupun whatsapp, tergerak ingin mengetahui apa sebenarnya Catamenial Pneumothorax tersebut. Setidaknya, seperti myoma yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Saya selalu punya prinsip, bahwa kita yang memiliki tubuh, jadi harus kenal betul apa dan bagaimana kondisi tubuh terutama bila terjadi anomali. Kenal juga anomali seperti apa yang terjadi, sehingga bisa "mengambil keputusan" yang terbaik sesuai "keinginan" ... bukan atas "perintah" siapapun yang sebenarnya tidak memiliki atau setidaknya "tidak terlalu peduli" terhadap tubuh kita.

Intinya... siapa yang peduli dengan kondisi tubuh kita, kesakitan yang dialami dan dirasakan, kecuali diri kita sendiri. Bukan dengan niat sok pinter atau keminter, tapi minimal kita sebagai penderita, setelah menerima masukan secara medis dari para dokter, referensi ilmiah dari berbagai sumber tulisan, menimbang kondisi keuangan serta konsekuensi logis dari "penderitaan/rasa sakit" baik fisik, emosi dan panjangnya masa penyembuhan serta dampak terhadap kehidupan keluarga, bisa mengambil keputusan sesuai dengan kata hati dengan segala resikonya
***

Catamenial Pneumotorax - CP adalah kondisi sangat langka yang mempengaruhi kesehatan perempuan dan merupakan istilah medis untuk menunjukkan kondisi paru-paru kempes, yaitu suatu kondisi di mana ada udara yang terperangkap dalam ruang yang mengelilingi paru-paru sehingga menyebabkan paru-paru mengempes. 

Wanita yang mengalami CP terserang berulang kali yang terjadi dalam waktu 72 jam sebelum atau setelah dimulainya menstruasi. Penyebab pasti CP sampai saat ini, tidak diketahui, namun dari berbagai kasus yang ditemui, diduga serangan CP berhubungan dengan berkembangnya jaringan abnormal endometrium di luar rahim (endometriosis).

Tanda & Gejala
Gejala dan tingkat keparahan CP sangat bervariasi, dari satu periode ke periode yang lain dan dari satu orang ke orang lain namun pada umumnya, serangan CP mengenai paru -paru kanan perempuan penderita.

Gejala CP yang seringkali terjadi saat periode menstruasi adalah nyeri dada yang dapat menjalar ke tulang belikat, sesak napas atau kesulitan bernapas (dyspnea), pusing, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa orang merasa ada suara "berderak" pada saat menghirup udara selama masa menstruasi. Nyeri dada yang berhubungan dengan pengempesan paru-paru sedemikianparah sehingga membutuhkan perhatian medis.

Penyebab
Penyebab pasti CP hingga saat ini belum diketahui. Beberapa teori menyatakan penyebabnya terjadi akibat adanya metastasis sel kanker, ketidakseimbangan hormonal dan kelainan anatomi. Ada kemungkinan CP memiliki penyebab yang berbeda dalam kasus yang berbeda.

Berdasarkan teori metastasis, CP diduga disebabkan oleh migrasi abnormal jaringan endometrium dari dinding rahim (endometrium) ke area lain dari tubuh seperti diafragma atau ruang di antara membran yang melapisi dinding rongga dada dan paru-paru (rongga pleura). Jaringan endometrium yang ditemukan di luar rahim, disebut endometriosis. 

Endometriosis dapat menyebabkan lubang kecil atau bukaan (fenestrasi) di diafragma, yang akan memungkinkan udara dan cairan masuk ke dalam rongga pleura dan  wanita penderita CP memiliki jaringan endometrium di paru-paru yang disebut sebagai endometriosis dada. Namun, ada juga penderita CP yang tidak mengalami fenestrasi diafragma atau jaringan endometrium di paru-paru. Bisa jadi ada sebab-sebab lain yang menyebabkan adanya gangguan pada paru-paru.

Sementara berdasarkan teori hormonal, diduga bahwa hormon yang dikenal sebagai prostaglandin F2, yang meningkat selama ovulasi, menyebabkan penyempitan (konstriksi) dari tabung kecil dalam paru-paru (bronkiolus). Penyempitan bronkiolus dapat menyebabkan kantung udara kecil (alveoli) di paru-paru pecah, sehingga udara menjadi terperangkap dalam rongga pleura.

Sedangkan menurut teori anatomi, tidak adanya plug lendir serviks, yaitu kejadian normal selama siklus menstruasi, memungkinkan udara lolos dari saluran kelamin ke dalam rongga pleura melalui lubang-lubang kecil atau bukaan (fenestrasi) di diafragma.

Teori lain penyebab CP  adalah pecahnya blebs secara spontan. Blebs lecet kecil atau pustula yang terisi cairan atau udara dan dapat mengembangkan di paru-paru. Beberapa peneliti menduga bahwa perubahan hormon selama siklus menstruasi dapat menyebabkan blebs pecah, yang pada gilirannya menyebabkan pneumotoraks.

Siapa yang dapat terkena CP?
CP dapat diderita perempuan selama tahun-tahun reproduksi mereka, terutama mereka yang telah berumur tiga puluhan atau empat puluhan. Karena sebab utama CP belum diketahui, maka CP seringkali tidak terdiagnosis atau salah diagnosis, sehingga jumlah penderitanya sulit terdeteksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUKAN KARANGAN BUNGA­čî║­čî║

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...