Kamis, 11 Agustus 2005

COMMON PROBLEMS IN PEDIATRICS

Rating:★★★★★
Category:Other
(Original article written by Dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed. Edited by Lulu to be used in Seminat PESAT 2)

Beberapa negara, terutama negara maju, telah menerapkan konsep partnership atau kemitraan antara dokter dan konsumen medis (pasien). Kondisi ini suka atau tidak suka masih belum membudaya di negara kita, Indonesia. Sistem yg berlaku relatif paternalistik. Sementara itu di era komunikasi ini, konsumen banyak sekali dibantu dengan kemudahan teknologi yg ada. Melalui internet, konsumen medis dapat belajar lebih jauh untuk memahami masalah kesehatan. Sehingga pasien yg aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya merupakan hal penting dalam layanan kedokteran yang baik. Karenanya, istilah Konsumen Medis jauh lebih tepat dibandingkan "pasien". Konsumen terkesan lebih aktif dibandingkan dg pasien yg terkesan pasif dan pasrah. Ingat, sebagai konsumen medis/kesehatan, kita memiliki hak, bukan hanya kewajiban.

Apa hak konsumen kesehatan?
Memperoleh informasi yang benar dan obyektif. Hal ini sesuai dengan tugas seorang tenaga kesehatan. Tugas kewajiban dokter bukan hanya KURATIF (mengobati kondisi sakit), melainkan juga EDUKATIF PROMOTIF (penyuluhan kesehatan) dan upaya PREVENTIF (Pencegahan).

Apa kewajiban konsumen?
Learn as much as possible. Salah satunya adalah mencari informasi, mempelajari dasar-dasar kesehatan dan mempelajari segala sesuatu perihal penyakit yang sedang dialami. Manfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Cari informasi kesehatan melalui internet, tetapi selektiflah memilih situs yang dipercaya. Be active, speak up terutama saat medical visit. Jika perlu cari 2nd opinion. Topik pertemuan kali ini adalah berbagai masalah kesehatan yang umum terjadi pada anak. Selain demam, alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter adalah batuk pilek, radang tenggorokan, dan diare. Orang tua panik, anak memperoleh berbagai macam obat yang belum tentu diperlukan, yang juga belum tentu tanpa efek samping. Sedihnya lagi, tak jarang anak diberikan antibiotik. Padahal sebagian besar penyebabnya adalah virus, yang tidak bisa "dilawan" oleh antibiotik.

Demam, batuk-pilek, radang tenggorokan, diare, merupakan kondisi langganan anak-anak. Pelajarilah, agar dapat bertindak dengan tenang dan rasional, agar tidak tergopoh-gopoh mengambil obat dan mengobati gejala-gejala tersebut. Semoga melalui sharing dan materi ini kita, para orang tua, akan jauh lebih bijak dalam menyikapi masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak.

Common Problems in Pediatrics : Title
Peran seorang pasien (tepatnya konsumen medis) sangat berpengaruh dan menentukan dalam kinerja tenaga medis. Konsumen medis yang aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya, akan sangat membantu kinerja dokter dan tenaga medis lainnya. Terutama kinerja dokter untuk tetap berpegang pada prinsip pola pengobatan yang rasional (Rational Use of Drugs/RUD). Pola pengobatan yang rasional adalah AMAN dan COST EFFECTIVE.
Perlu kita ketahui banyak faktor yang berperan dalam pemberian obat. Paling tidak ada 3 faktor yang dominan berperan kuat, yaitu dokter (penulis resep), konsumen (pasien) dan industri obat. Intinya, konsumen (pasien) yang tidak rasional akan mendorong iklim layanan kesehatan yang tidak rasional pula.Demikian pula sebaliknya.

IRRATIONAL USE OF DRUGS (IRUD)
Pola pengobatan yang irrational menjadi concern seluruh dunia. Minimal ada dua masalah utama perihal IRUD yaitu polifarmasi dan pemberian antibiotik yg berlebihan/tidak pada tempatnya. Masalah polifarmasi tanpa disadari sering terjadi, terutama saat anak sakit. Evaluasi kembali buku kesehatan/kartu berobat putra/I bapak/ibu. Perhatikan berapa kali dalam 1 th kita membawa anak berobat karena sakit. Coba jawab pertanyaan berikut

  • Berapa kali dalam kunjungan ke dokter, ibu tidak memperoleh obat ? Tidak juga antibiotik ?
  • Apakah setiap kali berobat anak mendapatkan obat puyer ?
  • Berapa jumlah obat dalam tiap puyer ?

Umumnya para dokter mengajukan minimal 3 alasan mengapa mereka cenderung abusive, yaitu :
1. LACK OF CONFIDENCE.
Kebanyakan dokter sering tidak yakin atau merasa kurang PEDE untuk menyatakan bahwa pasien tsb sakit akibat infeksi virus, yang tidak membutuhkan antibiotik. Para dokter juga merasa insecure takut pasien pindah ke dokter lain.
2. PATIENT PRESSURE.
Tidak sedikit pasien, tanpa disadari, memilih bersikap pasif dan menganggap dokter tahu yg terbaik. Sehingga obat yang diberikan dokter pasti yang terbaik. Padahal dokter dapat bisa saja salah memberikan obat. Pasien yang irasional, sering menuntut dokter untuk memberikan antibiotik, karena menganggap antibiotik merupakan obat dewa yang bisa menyembuhkan segala kondisi. Pasien irrasional sering menuntut dokter sebagai tukang sihir, yang dapat memberikan obat yang cespleng. DOCTOR is a kind of MAGICIAN sehingga setiap kita ke dokter kita selalu berharap segera sembuh. Hal ini juga menimbulkan beban tersendiri bagi para dokter.
3. COMPANY PRESSURE.
Dalam Doctor-patient partnership, dokter sangat bergantung/membutuhkan pasien sebagaimana pasien bergantung/membutuhkan dokter. Tindakan pasien akan sangat mempengaruhi tindakan sang dokter. Pasien yang irrasional akan mendorong dokter menjadi irrasional. Intinya adalah tanggung jawab atau
kewajiban menyehatkan anak bukan hanya di bahu seorang dokter, tetapi juga orangtua sbg konsumen medis.

IMMUNE SYSTEM
Sejak lahir Tuhan telah melengkapi kita dengan sistem imun (daya tahan tubuh) yang sempurna & canggih. Diantaranya ASI. Secara garis besar, sistem imun terdiri atas 2 bagian, yaitu :
1. Bagian yang langsung "membunuh" kuman/virus/parasit, dll yang menyerang tubuh kita dan membuat tameng/proteksi untuk ”serangan” serupa. Sistem imun yang bertugas langsung membasmi ”musuh” tsb adalah Sel Darah Putih atau LEUKOSIT. Leukosit juga membentuk antibodi, suatu zat untuk menetralisir ”musuh” bila suatu saat kita kembali terserang oleh infeksi yang sama.
2. Bagian atau sel-sel yang bertugas membantu sel leukosit sehingga leukosit jauh lebih efektif ”serangan”nya.

BACTERIA & VIRUS
Kedua makhluk tersebut amat dangat kecil tetapi memiliki canggih & lihai agar dapat lolos dari serangan sistem imun tubuh kita.

Bakteri.
Bakteri ada dimana-mana, di alam, dan di sekitar kita. Bahkan tubuh kita dipenuhi oleh bakteri. Bahkan ASI mengandung bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri TIDAK JAHAT, bahkan menguntungkan. Kita justru membutuhkan bakteri tsb di dalam usus seperti untuk:
- Mencernakan makanan menjadi zat-zat bergizi
- Mengolah makanan menjadi vitamin B & K
- Melindungi kita agar tidak terinfeksi oleh kuman yang jahat.
- Membantu pencernaan agar kita tidak sembelit

Berdasarkan sifat kimiawinya, bakteri dibagi dua yaitu bakteri Gram Positif dan bakteri Gram negatif.
1. Bakteri Gram positif
- umumnya lebih mudah ”lawan” dibandingkan bakteri Gram negatif.
- dapat diatasi oleh antibiotik yang ringan (narrow spectrum antibiotik)
- umumnya menyebabkan Infeksi di bagian atas diafragma
2. Bakteri Gram negatif
- menyebabkan infeksi di bagian bawah diafragma.

Broad spectrum antibiotics adalah antibiotik yang menyerang kedua kelompok bakteri di atas INGAT :
- Pemberian antibiotik yang terlalu sering dan terlalu lama akan mematikan kuman yang baik. Hal ini akan menganggu pencernaan misalnya diare akibat munculnya banyak jamur, kekurangan vitamin B & K.
- Semakin sering kita memakan antibiotik, semakin sering kita jatuh sakit.

Virus.
Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat, antibiotik sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.

RADANG / INFLAMMATION – ITIS
Kita sering menyalahartikan istilah radang sebagai suatu keadaan akibat infeksi kuman. Radang atau inflamasi artinya MERAH, BENGKAK, dan SAKIT. Radang tenggorokan, artinya tenggorokannya merah, sakit, dan mungkin agak membengkak (amandelnya).

Radang karena INFEKSI.
Radang akibat infeksi dapat dibagi2, yaitu :
1. Radang karena kuman
2. Radang karena virus.
85% radang tenggorokan pada bayi/anak disebabkan oleh infeksi VIRUS -sehingga tidak perlu antibiotik.

Radang BUKAN INFEKSI.
Biasanya disebabkan oleh kondisi seperti ALERGI, TRAUMA, AUTOIMMUN, TEETHING, dll. Kesemuanya, sekali lagi, tidak dapat diobati dengan antibiotik. Upaya terbaik mengatasi alergi adalah avoidance – mengurangi kemungkinan exposure hal2 yang bisa menimbulkan alergi (debu, karpet, binatang berbulu, mainan berbulu, AC, makanan tertentu dengan pewarna, pengawet, perasa sintetik, permen, sea food, dll).

Demikian halnya dengan DEMAM.
Demam dapat disebabkan oleh infeksi dan juga bukan karena infeksi. Sekali lagi, penyebab demam terbanyak pada anak adalah infeksi virus. Demam itu sendiri merupakan salah senjata tubuh untuk melawan infeksi. Dengan perkataan lain, kalau ada infeksi, tubuh kita memproduksi panas sebagai bagian dari sistem imun untuk melawan infeksinya. Tetapi demam juga bisa dikarenakan hal lain yg tidak ada hubungannya dengan infeksi.

FEVER
Demam adalah alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter. Apalagi jika orangtua tidak memiliki ilmu yang cukup mengenai demam, penyebab demam & tatacara merawat anak demam.

Bahayakah demam itu ? Burukkah demam itu ?
Tidak ada sesuatu yang 100% buruk atau 100% baik. Demikian juga dengan demam. Tuhan pasti memiliki maksud dibalik fenomena demam. There is something for many reasons.

Tubuh kita diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi mekanisme pengaturan yang canggih, termasuk mekanisme pengaturan suhu. Di otak kita terdapat termostat bernama hipotalamus yang mengatur mekanisme ini. Tepatnya terdapat pusat pengaturan suhu disebut juga SET POINT. Pengatur suhu tubuh ini akan memastikan tubuh kita senantiasa pada suhu konstan (sekitar 37C) .

Demam adalah kondisi dimana otak (melalui Set Point) memasag suhu di atas setting normal yaitu > 38C. Namun demikian demam yang sesungguhnya adalah bila suhu >38.5C. Akibat kenaikan setting suhu tubuh tsb, maka tubuh akan memproduksi panas melalui tahapan : menggigil hingga mencapai suhu puncak ïƒ suhu demam stabil ïƒ suhu mulai turun.

Bagaimana dan mengapa timbul demam ?
Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya molekul kecil dalam tubuh, yaitu PIROGEN ”suatu zat pencetus panas.”

Apa yang menyebabkan terjadinya peningkatan pirogen ?
Penyebabnya antara lain : infeksi, radang, keganasan, alergi. Teething, dll.
Pada saat terserang infeksi, sistem imun tubuh kita akan membasmi infeksi tsb dengan serangan leukosit (sel darah putih).

Agar tugas leukosit tsb efektif dan tepat sasaran, dibutuhkan dukungan banyak pihak termasuk pirogen, yang bertugas :
1. Mengerahkan sel darah putih (leukosit)
2. Menimbulkan demam yang akan membunuh virus. Karena virus tidak dapat hidup di suhu tinggi. Sementara itu virus akan tumbuh subur di suhu rendah.

Perhatikan hal berikut :
1. Selama infeksi masih berlangsung, memang harus ada demam.
2. Demam merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh untuk membasmi infeksi.
3. Prinsip utama adalah cari penyebab timbulnya demam. Dengan mengetahui sumber masalahnya, maka kita dapat bertindak secara rasional. Pada anak penyebab utamanya adalah infeksi virus.
4. Beri minum lebih banyak dari biasanya. Waspadai kemungkinan terjadinya komplikasi dehidrasi.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasi tatacara penanganan demam. Berikut kondisi kapan orang tua harus menghubungi dokter :
- Bila bayi berusia < 3 bulan dengan suhu tubuh > 38C
- Bila bayi berusia 3 – 6 bulan dengan suhu tubuh > 38.3C
- Bayi dan anak berusia > 6 bulan, dengan suhu tubuh > 40C

Konsultasikan juga dengan dokter jika terdapat kondisi berikut :
- Sama sekali tidak mau minum atau sudah dehidrasi; Gelisah, muntah, diare
- Iritabel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan
- Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (lethargic)
- Kejang; Kaku kuduk leher; Sakit kepala hebat
- Sesak napas
- Gelisah, muntah, daire

TREATING FEVER
Point-point utama yang harus diperhatikan selama merawat anak demam adalah:

  1. Mencari penyebab demam dan memperhatikan pola perilaku anak. Amati tingkah laku anak. Jika perilaku anak hampir sama seperti biasanya, maka kita tidak perlu khawatir. Karena pada dasarnya demam itu bukan hal yang membahayakan.
  2. Cegah dehidrasi. Demam akan meningkatkan penguapan cairan tubuh. Karenanya bayi dan anak beresiko mengalami dehidrasi. Berikan cairan lebih banyak. Berikan air, air sup, jus buah segar yang dicampur air, es batu, es krim. Bila muntah atau diare, berikan minuman elektrolit : pedialyte, oralit.
  3. Ruangan dijaga agar tidak panas, pasang kipas angin. Anak memakai baju yang tipis.
  4. Kompres air hangat atau berendam di air hangat.
  5. Biarkan anak memakan apa yang diinginkan. Jangan dipaksa. Hindarkan makanan berlemak, karena sulit dicerna oleh tubuh.
  6. Meskipun anak dianjurkan untuk tidak masuk sekolah, bukan berarti ia harus berada di tempat tidur seharian.

Pemberian obat penurun panas mengikuti aturan berikut :
- <102f :="" banyak="" br="" cairan="" ekstra="" minum="" obat="" panas="" penurun="" perlu="" tidak="">- >102F (38.3C), uncomfortable : Beri obat penurun panas, kompres hangat
- >104 (>40C) : Beri obat penurun panas, kompres hangat, hubungi dokter.

Ingat: DO NOT TREAT LOW GRADE FEVER (< 38.3C)

COLDS AND FLUPenyebabnya infeksi virus. Umumnya berlangsung selama 5 hari (3 - 14 hari rentangnya) tergantung daya tahan tubuh dan tergantung ada tidaknya penderita flu di rumah atau di sekolah. Jika bayi dan anak memiliki saudara kandung yang lebih besar dan sudah bersekolah, maka ia sangat potensial sering mengalami colds & flu Tidak ada obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan meningkat sejalan dengan waktu

Tatalaksana:
- Yang paling dibutuhkan adalah cairan, sering minum meski sedikit2.
- Supaya ”ingus” tidak kental dan menyumbat jalan nafas, berikan air garam steril sebagai tetes hidung. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga banyak membantu saat mengalami colds & flu.
- Apabila pada malam hari tiak dapat tidur karena hidung tersumbat, beri tetes hidung untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung (Iliadin, Otrivin).
- Humid environment, jangan kering seperti dalam ruangan berAC. Kalau perlu, taruh satu ember berisi air mendidih setelah anak tidur. ”Paracetamol” bila bayi/anak uncomfortable atau high fever (>38.5)
- Di lain pihak, kita sering mengacaukan alergi dengan flu. Pada alergi yang mengenai hidung, anak juga akan ”meler” tetapi anak tidak demam, tetap aktif bermain. Bukan berarti juga anak menderita infeksi virus flu.

Pencegahan:
- Sering cuci tangan
- Hindari kontak erat dengan penderita flu
- Jaga kebersihan rumah seperti di kamar mandi, dapur, dsb.

Kapan menghubungi dokter?
- Persistent cough, fever > 72 hours
- Sesak nafas, kuku dan bibir tampak biru
- Luar biasa rewel, atau luar biasa mengantuk (sangat sulit dibangunkan) Ingat: Tidak ada obat pilek yang efektif untuk bayi dan anak.

SORE THROAT / PHARYNGITIS (Radang tenggorokan & infeksi amandel)
Umumnya disebabkan oleh infeksi virus. ARTINYA: akan sembuh sendiri – self limiting; dan samasekali tidak memerlukan antibiotik. Hanya sekitar 15% saja yg infeksinya disebabkan oleh kuman Streptococcus dan umumnya menyerang anak usia 4 - 7 tahun. Dengan catatan, diagnosisnya harus berdasarkan biakan usap tenggorokan.

Tatalaksana
a. Banyak minum; minuman yg hangat akan memberikan rasa nyaman di tenggorokan.
b. Untuk anak yg lebih besar, bisa diajarkan untuk kumur2 atau mengisap lozenges.
c. Kalau panas atau kesakitan, berikan paracetamol (seperti panadol atau tempra).
d. Kalau hidung tersumbat, dapat diberikan tetes hidung NaCl dan menghirup uap panas. Kalau anak sangat terganggu, dapat diberikan Nasal decongestant.

COUGHSJika kita membaca literaratur kedokteran, sering diungkapkan bahwa batuk merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu saluran nafas kita, seperti dahak, riak, benda asing (kacang, dsb). Batuk sebagai anugerah terindah dari Tuhan sering disikapi dengan tidak bijak oleh mereka yang tidak memahaminya. Andaikan kita perhatikan sejenak para pada penderita stroke misalnya. Karena adanya gangguan dalam otak, refleks batuknya terganggu. Akibatnya dahak menumpuk di paru2 dan ybs umumnya mengalami pneumonia. Hingga berefek fatal kematian pada penderita tsb.

Batuk bukanlah momok. Melalui batuk, kita tetap dapat bernafas, karena lendir yang mengganggu saluran nafas akan dikeluarkan saat batuk. Dengan batuk, kita terhindari dari bahaya tersedak benda asing yang masuk ke saluran nafas kita.
Yang terpenting yang harus kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebab batuk. Infeksi kah atau bukan infeksi. Pada anak, batuk umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau oleh alergi. Batuk akibat infeksi virus flu misalnya bisa berlangsung sd 2 minggu. Bahkan lebih lama lagi bila anak kita sensitif atau alergi, atau bila di rumah ada anak lain yang lebih besar yang juga sedang sakit. Batuk karena alergi juga bisa berlangsung lama atau hilang timbul selama pencetus alerginya tidak diatasi. Alergi yang dimaksud bisa dalam bentuk alergi hidung (Allergic rhinitis), asma, alergi suatu zat dari lingkungan. Penyebab lainnya adalah sinusitis, reflux, pneumonia.

Tatalaksana :
Cari PENYEBAB batuk.
Jika batuk disebabkan oleh produksi dahak yang berlebihan, maka upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi produksi lendir. Melalui cara :
- Minum banyak yang hangat misalnya lemon
- Jangan ada asap rokok
- Ruangan jangan kering (Moist air - kamar mandi - buka keran air panas biarkan beberapa lama sehingga ruangan, atau taruh satu ember air panas mendidih, atau pasang humidifier)
- Agar anak lebih nyaman, tidurkan dengan bantal agak tinggi
- NO ANTIBIOTICS. Ingat ! Kebanyakan batuk tidak memerlukan antibiotik
- NO cough suppressant. Jangan mengkonsumsi obat penekan refleks batuk (seperti DMP). Anehnya, anak kita sering mendapatkan obat racikan/puyer yang salah satu kandungannya codein (sejenis narkotika) yang tidak diketahui manfaatnya.

Pada dasarnya, TIDAK ADA yang namanya obat batuk itu. Juga tidak ada obat pencair dahak. Cari pencetusnya !

BRONCHITIS (INFEKSI SALURAN NAFAS)Penyebab banyak, tetapi yang tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma, environmental exposures). Bisa juga karena sinusitis, refluks, reaksi obat, kelainan bawaan saluran napas, tersedak ”benda asing”, pneumonia (virus, jamur). Mohon diingat pneumonia belum tentu karena infeksi bakteri. Jadi - belum tentu perlu antibiotik. Biasanya ditandai dengan batuk lama.

Tatalaksana :
- Mencari penyebab. Bila karena alergi, modifikasi lingkungan sekitar untuk mengurangi eksposur pada anak
- Humidifikasi
Ekstra cairan, dll

Jika anak kita dinyatakan menderita bronkitis, maka kita harus segera berpikir bahwa -itis di sini artinya radang inflamasi. Penyebabnya belum tentu infeksi bakteri - mayoritas bronkitis pada anak tidak perlu antibiotik.

EAR INFECTION
Penyebab :
Umumnya karena infeksi virus Pasca infeksi hidung atau radang tenggorokan seperti cold/flu, Tooth problem

Gejala:
- Sakit telinga (biasanya 1 sisi), demam, pilek dengan hidung buntu, rewel, telinga di-tarik2, nafsu makan menurun
- Kadang2 tampak cairan kuning keluar dari telinga, kadang2 juga anak mengalami sedikit gangguan pendengaran
- Rata-rata setiap anak mengalami infeksi minimal 1 x sebelum usia 5 tahun.

Tatalaksana :
- Penghilang rasa sakit
- Posisi tegak/upright position,
- Jangan ada yang merokok
- Jangan minum susu dari dot-botol sambil tiduran
- Air hangat di botol, bungkus kain perca, taruh di atas telinga
- Kalau perlu minum obat decongestant (mengurangi hidung buntu)

Pencegahan:
- berikan ASI selama mungkin
- Hubungi DOKTER / penggunaan ANTIBIOTIK :
* Bila berkepanjangan, lebih dari 2 minggu atau
* Bila infeksi berat dan anak kesakitan hebat

DIARRHEA – VOMITING
Hampir serupa dengan batuk, diare & muntah adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada manusia. Diare & muntah adalah mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan racun, virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh. Diare & muntah itu ibarat alarm tubuh untuk memberitahukan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh kita. Yang perlu dilakukan adalah mencari PENYEBAB nya. Tidak perlu diberikan obat anti muntah atau obat untuk ”mampet”kan diarenya.

<102f :="" banyak="" br="" cairan="" ekstra="" minum="" obat="" panas="" penurun="" perlu="" tidak="">Obat-obat tsb memang akan mengurangi/menghentikan diare/muntah, tetapi
tidak mengobati penyakitnya. Perbaikan tersebut bersifat ”semu”. Ibarat bom waktu. Kita terkecoh seolah anak membaik, padahal penyakitnya masih terus berlangsung. Selain itu, obat2 tersebut juga bukan tanpa risiko/efek samping.

PENYEBAB:

  • >80% penyebabnya pada anak, terutama bayi, adalah virus. Dikenal juga dengan ROTAVIRUS. 
  • Food poisoning
  • Alergi makanan,
  • Pemakaian antibiotik.

TATALAKSANA
CEGAH DEHIDRASI
- Minum banyak
- ASI diteruskan, campur dg Oral rehydration Solution (ORS) seperti pedialit atau oralit.
- Perbanyak minum.
- Bila diare hebat, fokus pada upaya rehidrasi (menjaga agar tidak dehidrasi). Kalau perlu, untuk sementara waktu tidak perlu makan sampai dehidrasi teratasi

Kapan menghubungi dokter?
- Ada darah di tinja atau tinja berwarna hitam
- Tanda-tanda dehidrasi berat : tidak buang air kecil > 8 jam, bibir kering, air mata kering ketika menangis, skin turgor menurun (jika tangan dicubit, tidak akan kembali seperti semula), mata cekung, abdomen (sekitar perut) cekung, fontanelle (ubun-ubun) pada bayi cekung.
- Luar biasa mengantuk, sulit dibangunkan
- Luar biasa lemas, layu

PRINSIP:
Umumnya tidak perlu diberi antibiotik, antibiotik hanya bila tinja berdarah (butuh evidence/lab). Pada banyak kasus, antibiotik justru akan memperparah diarenya. Belum lagi pemakaian antibiotik tidak pada tempatnya akan menyebabkan infeksi tambahan oleh jamur/fungus/candida.

Jangan minum obat untuk menghentikan diare seperti primperan, motilium, juga tidak perlu minum Kaopectate, smecta, ensim, dsb. Pada diare biasa, tidak perlu mengganti susu formula.
- INGAT - Jangan memberikan obat anti muntah!!!!

KONSTIPASI
PENYEBAB:
Penyebab utama biasanya pola perilaku, khususnya pola konsumsi makanan yang low-fiber, high-fat & high-sugar. Pola makan kita dulu sarat dengan sayur dan buah (serat), sekarang beralih ke fast food yang bukan hanya rendah serat, tetapi juga tinggi garam dan lemak. Penyebab lainnya adalah:
- Kurang minum
- Ignoring the urge (anak mengacuhkan rasa ingin buang air besar dan justru menahannya)
- Kurang gerak/olah raga, banyak duduk
- Penyakit: Hypothyroidism (kelenjar gondok kurang berfungsi, jarang, ada gejala lain sejak bayi seperti retardasi mental), retardasi mental

GEJALA:
- Sakit perut, melilit, mules, kembung
- Nafsu makan menurun
- Rewel
- Celana dalam ada berkas tinja (Soiled underwear)
- Tinja keras, tinja ada goresan/bercak darah (Large/blood streaked stools)
- Sering buang air kecil

TATALAKSANA :
- Minum banyak
- Pola makan yang kaya serat
- Lebih memperhatikan bowel habit dari anak.
- Melatih anak akan kebersihan.
- Berbicara & diskusi dengan anak.

Hubungi dokter jika terjadi hal berikut :
- Tidak BAB > 10 hari
- Sering / rutin mengalami konstipasi sejak lahir.
- Aktivitas sehari-hari menurun.
- Terdapat anal tears atau hemorrhoids
- Sulit mengejan saat BAB
- Ada darah di tinja

TYPHOIDSebenarnya, tifus tidak tergolong kondisi yang sering terjadi pada anak. Namun demikian, kondisi ini sering sekali didiagnosis (gejala tifus/verdacht typhus). Padahal seharusnya untuk mendiagnosa suatu penyakit harus jelas dan tegas : TIFUS atau BUKAN.

Bagaimana dan kapan kita menegakkan diagnosis tifus?
- Curigai bila ANAK demam > 7 hari. Mengapa anak, bukan bayi ? Karena tifus
ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar. Sementara bayi masih mengkonsumsi ASI, susu formula, makanan rumah.
- Diagnosis: pemeriksaan laboratorium biakan empedu (GAL CULTURE) bukan
pemeriksaan widal. Di negara endemis seperti Indonesia, pemeriksaan widal
hampir pasti akan positif tetapi tidak otomatis menyatakan yang bersangkutan sedang menderita infeksi tifus.
- Be critical !

TBC.
Kondisi serupa yang juga sering salah diagnosa adalah TBC. Angka kejadian infeksi TBC di Indonesia memang tinggi, tetapi itu bukan berarti sedikit-sedikit TBC.
- Anak yang kurus, yang kurang nafsu makan, anak yang batuk-batuk, sering dicap ”ada vlek” di paru2nya. Padahal mendiagnosis TB tidak sesederhana ini.
- Di lain pihak, kalau memang anak kita TBC, perlu diterapi dengan benar agar kuman TBC benar-benar bisa dieradikasi dari tubuh kita. Yang sering terjadi: Anak mendapat obat TBC tanpa dasar diagnosis yang jelas.
- Obat TBC tersebut tidak diberikan dengan benar (jenis obat, jumlah obat, dosis, lama pemberian).

Selalu mencari second opinion ! 

<102f :="" banyak="" br="" cairan="" ekstra="" minum="" obat="" panas="" penurun="" perlu="" tidak="">Karena mendiagnosis TBC tidak mudah. Dan sekali anak didiagnosis TBC - konsekuensinya banyak harus mengkonsumsi obat-obatan untuk jangka waktu panjang. Padahal obat-obatan tersebut sangat berat`- berpotensi menimbulkan gangguan hati.

Again, be critical !

HOSPITALIZATION
Indikasi rawat inap harus kuat, seperti :
- Kehilangan kesadaran
- Kejang berulang
- Sesak napas
- Dehidrasi berat
- Membutuhkan obat yang harus diberikan ke pembuluh darah (IV medication)

Bagi anak, rawat inap di RS bukan hanya menyebabkan trauma kejiwaan, tetapi juga menghadapkan anak kepada risiko tertular INFEKSI NOSOKOMIAL. Yaitu infeksi akibat kuman rumah sakit, dari pasien lain. Sementara itu kuman di RS jauh lebih GANAS dibandingkan kuman di rumah. Mengapa? Coba cermati kalimat-kalimat berikut. Di RS, kita terlalu banyak mempergunakan antibiotik dan umumnya yang dipergunakan adalah antibiotik yang kuat. Dengan demikian, kuman di rumah sakit banyak yang sudah resisten (kebal) terhadap berbagai macam antibiotik (superbugs). Kuman di rumah jauh lebih jinak.

Perawatan di RS dapat memperbesar potensi terkena infeksi tambahan(nokosomial) ini. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita harus memahami betul kondisi emergency (kapan anak harus dirawat di RS). Sehingga kondisi-kondisi yang tidak memerlukan perawatan RS, maka anak tidak perlu dirawat di RS.

THE LIVER AND THE DRUGSApa yang terjadi dengan obat yang kita konsumsi? Obat harus menjalani serangkaian proses metabolisme di hati. Prosesnya dua tahap. Di antara kedua tahapan tersebut, dihasilkan suatu zat antara yang bersifat toksik (beracun). Hal inilah yang dapat menyebabkan timbulnya kemungkinan kerusakan hati akibat obat. Makin banyak obat, makin besar kemungkinan efek sampingnya (termasuk kerusakan hati).

Sebagai contoh adalah gabungan beberapa obat dalam satu puyer. Ibu umumnya tidak menyadari bahwa puyer tersebut terdiri dari beberapa obat. Tidak tertutup kemungkinan obat-obat tersebut saling berinteraksi.

Pertanyaan yang seharusnya selalu ada di benak kita sebelum mengkonsumsi obat atau menerima resep obat adalah :- Apakah anak kita benar-benar membutuhkan obat ?
- Apakah memang benar anak kita membutuhkan sekian banyak obat dan bukan hanya 1 atau 2 obat saja ? Ada baiknya kita mencari second opinion atau mencari informasi tentang penyakit & obat-obat tsb. Manfaatkan teknologi terkini yaitu internet untuk mencari informasi.

Siapa yang potensial terkena efek samping obat?
- Mereka yang berusia sangat muda
- Mereka yang lanjut usia

Sekarang mari kita evaluasi kembali kartu berobat anak kita. Coba perhatikan & hitung berapa banyak obat dalam setiap puyer/racikan. Bagaimana mengurangi risiko terkena efek samping obat?
1. Pada dasarnya, obat itu racun, sehingga potensial menimbulkan efek samping. Konsumsi obat hanya bilamana benar-benar diperlukan. Hindari polypharmacy.
2. Antibiotik bukan obat ”dewa’ yang dapat menyembuhkan semua penyakit, atau menyembuhkan semua gejala (mulai dari demam, diare, batuk, pilek, radang tenggorokan, alergi, dll)

WHAT ARE ANTIBIOTICS
Antibiotik adalah obat untuk membunuh infeksi bakteri. ANTIBIOTIK TIDAK DAPAT MEMATIKAN VIRUS. After their discovery in the early 20th century, they transformed medical care and dramatically reduced illness and death infectious diseases. Indeed, antibiotics are among the most powerful and important medicines known because when they are used properly, they can save lives.
Antibiotics = Against Life. Artinya antibiotik adalah suatu zat yang sifatnya mematikan kehidupan dalam hal ini, mematikan kuman. Berdasarkan konsep ”against life” tsb, beberapa ahli menyatakan bahwa penggunaan antibiotik dapat dikatakan sebagai penggunaan PESTISIDA bagi manusia (pesticide used on people).

APA BAHAYA PEMBERIAN ANTIBIOTIK YANG MEMBABI BUTA?
Setelah pemakaian antibiotik selama beberapa dekade, ternyata bermunculan banyak bakteri yang resisten (kebal) terhadap antibiotik. Hal ini membuktikan bahwa pemakaian antibiotik yang tidak rasional/membabi buta, justru akan merugikan pasien dan khalayak luas. Antibiotik merupakan satu2nya obat yang memiliki dampak sosial yang besar.

Contoh. Anak X sering memakan antibiotik setiap kali demam atau pilek.batuk, diare. Cepat atau lambat, kuman-kuman di sekitar X menjadi kebal terhadap berbagai antibiotik. Bila kuman yang resisten terhadap antibiotik tersebut menyerang anak Y, maka anak Y otomatis juga tiurut dirugikan, bukan hanya anak X.

Antibiotic resistance dapat membahayakan jiwa dan memperberat kondisi dan penderitaan si pasien yang mungkin infeksinya sebenarnya tidak berat tetapi kumannya tidak dapat dibunuh oleh berbagai antibiotik (padahal sebelumnya, infeksi kuman ni dengan mudah dapat diatasi). Kuman yang kebal terhadap antibiotik ini ”berkembang biak dengan cepat, menyerang anggota keluarga lainnya, tetangga, teman sekolah, teman kerja“ mengancam seluruh komunitas.
Lingkungan terancam infeksi oleh kuman jenis baru, yang sudah berubah bentuk, yang lebih ganas, kuman yang sulit dibunuh oleh antibiotik.

THE TROUBLE WITH ANTIBIOTICS

  1. Pemberian antibiotik yang berlebihan menyebabkan kuman yang tidak terbunuh mengubah diri (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan dilawan dengan antibiotik. Kuman itu disebut juga ”superbug”. Superbugs ini juga dapat lolos dari serangan sistem imun tubuh kita, karena perubahan dirinya. Sistem imun tubuh kita tidak mengenalinya.
  2. Superbugs ini memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat, pasien harus di rawat di rumah sakit karena antibiotik harus diberikan melalui selang infus. Antibiotik super kuat ini berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat. Selain itu dalam waktu cepat, bakteri tsb juga menjadi kebal terhadap antibiotik yang super kuat. Pada kondisi ini, tenaga medis/dokter seperti berlari di treadmill, terus mengejar, mencari antibiotik yang lebih kuat dan lebih baru.
  3. Dampak negatif kedua dari pemberian antibiotik yang berlebihan dan tidak bijak adalah terbunuhnya ”kuman baik” di dalam tubuh kita. Tempat yang semula dipakai oleh kuman2 ini menjadi vakum dan kekosongan ini diisi oleh kuman ”jahat” atau jamur. Kondisi infeksi ini disebut sebagai ”superinfection”.
  4. Semakin lama/sering makan antibiotik semakin besar risiko terbentuknya superbugs, dan superinfection. Akibatnya SEMAKIN SERING KITA MENGKONSUMSI ANTIBIOTIK, SEMAKIN SERING KITA SAKIT.
  5. Antibiotik adalah sumber alam, karunia Tuhan yang harus dipergunakan secara bijaksana. Antibiotik menyelamatkan kita, kita harus ”menyelamatkan” mereka.

APPROPRIATE ANTIBIOTIC USE
Penelitian membuktikan setiap harinya, telah diresepkan jutaan antibiotik bagi pasien infeksi virus. Suatu kekeliruan yang sangat besar. Beberapa alasannya:

  1. Pasien meminta obat yang cespleng “apa saja“ termasuk antibiotik kalauperlu antibiotik yang superkuat
  2. Bagi dokter, jauh lebih mudah menulis resep dibandingkan harus bersusah payah memberi penjelasan, menenangkan orang tua.
Pada tabel tertera beberapa kondisi yang umumnya disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan antibiotik.

ILLNESS ANTIBIOTICS ?
1 Cold “ Flu No
2 Runny nose “ green yellow No
3 Sore throat * No
4 Sinusitis* No, some yes
5 Bronchitis* No
6 Fluid in the middle ear No

HOW TO BE A GOOD HEALTH CONSUMERSelalu pertanyakan: Does MY child really need the drug? Hal lain yang selanjutnya perlu dilakukan adalah:
  1. Hitung jumlah obat yang diberikan kepada anak. Bila dalam bentuk puyer, hitung jumlah baris dipuyer yang mencerminkan jumlah obat (bila bingung, tanya ke ahli farmasinya)
  2. Selalu membuat foto kopi resep dan diarsip dengan baik.
  3. Konsultasi ahli farmasi. Tanyakan obat apa saja (minta agar ditulis nama obat satu persatu), apa mekanisme kerja obat2 tersebut, apakah ada antibiotik, berapa antibiotik yang diberikan, bagaimana interaksi obat sebanyak itu.
  4. Beritahu dokter bila anak anda sedang mengkonsumsi produk herbal, suplemen, obat tradisional. Obat-obatan tsb mungkin saja berinteraksi dengan zat2 tambahan tersebut.
Intinya:
1. Hindarkan polifarmasi, mengkonsumsi obat sesedikit mungkin.
2. Antibiotik bukan magic saver. Hanya keadaan tertentu saja yang memerlukan
antibiotik. Dan Mayoritas penyakit pada anak disebabkan oleh infeksi virus, yang samasekali tidak membutuhkan antibiotik.

Selasa, 09 Agustus 2005

Bu Menteri Tak Rela Kursinya Diduduki

Ini kisah nyata istri pejabat yang merasa harus lebih dihormati dari pejabatnya itu sendiri. Tadinya saya berpikir bahwa cerita-cerita ini hanya rumor dari orang-orang yang irihati saja. Eh ternyata betul-betul ada. Aduh.... hari gini, masih ada aja perempuan yang gak malu-malunya sok kuasa di atas posisi suaminya... Nggak ngaca dia kali ya....???? Kondisi ini benar-benar melecehkan martabat perempuan. Tulisan di bawah diambil dari Kompas Minggu 7 Agustus 2005
salam
---------------------------

Walaupun nama menterinya tidak disebut, tetapi ini kejadian nyata, bukan cerita dunia lain yang ada penampakannya.

Cerita berawal ketika dua wartawati gigih berupaya mewawancarai seorang menteri. ”Besok pagi banget kita nyegat Pak Menteri. Katanya dia mau buka acara pekan olahraga 17 Agustus,” kata Inah, seorang wartawati, kepada rekannya sesama wartawati, Surti.

Sejak embun pagi masih turun, keduanya sudah menunggu di Kantor Bapak Menteri. Saat itu Pak Menteri sudah berapi-api berpidato tentang pentingnya berolahraga walaupun negeri lagi werit (susah). Ibu Menteri, eh istri sang menteri maksudnya, yang berpakaian training berdiri di sebelah Pak Menteri. Manggut-manggut.

Sepuluh menit berlalu, Bapak Menteri pun turun dari podium. Pak Menteri yang pagi itu berkacamata berlensa kuning pun duduk di kursi yang ada di depan meja bundar.

Kedua wartawati dan beberapa wartawan lainnya langsung mengerubuti Bapak Menteri. Mereka menanyakan isu terhangat saat itu. Inah dan Surti sengaja duduk di kursi sebelah Pak Menteri yang memang kosong. Saat itulah kehebohan terjadi. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kerumunan wartawan. Telunjuknya mengacung. ”Ayo, bangun, bangun, Mbak! Ibu Menteri marah, dia mau duduk,” kata seorang bapak yang ternyata ajudan Pak Menteri.

Kedua wartawati pun berdiri. Si Ibu Menteri pun mendekat. Wajahnya masam, mungkin lebih masam dari jeruk yang ada di meja Pak Menteri.

”Lain kali bilangin ya, jangan ada yang duduki kursi saya. Ajarin sopan santun tuh wartawan. Saya ndak mau kursi saya didudukin orang,” katanya bersungut-sungut. Suaranya lumayan keras di antara wawancara wartawan dengan Pak Menteri. Dada Inah dan Surti sesak juga antara marah dan merasa ganjil melihat adat Bu Menteri.

Eh, seusai wawancara dengan Pak Menteri, sang ajudan mendekat. Dia meminta kedua wartawati itu menyalami Ibu Menteri. Mungkin maksudnya sebagai ice breaker, menetralkan perasaan Ibu Menteri.

”Ini Ibu Menteri, Mbak. Ini Ibu Sesmen...,” kata ajudan itu mengenalkan. Namun, rupanya si Ibu Menteri masih marah melihat wartawati yang tadi menduduki kursinya. Dengan ketus dia menegur, ”Lain kali kursi saya jangan diduduki ya! Saya tidak suka! Mengerti!”

Seorang pegawai kantor Bapak Menteri itu mengaku terkejut dengan polah Bu Menteri. ”Saya baru tahu tabiat Bu Menteri sekarang. Kok kayak begitu ya marahnya, cuma gara-gara kursi saja,” kata sang pegawai mengeluh. Kursi menteri lain, Mas, enak dan empuk.... (VIN/ANA)
--------------------
Silahkan anda cek berita ini langsung ke Kompas.com
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/08/sosok/1954048.htm

Selasa, 26 Juli 2005

KITA dan BIAYA KESEHATAN

Ibu saya baru keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama + 8 hari. Sakitnya, juga nggak begitu jelas. Semua adik saya, yang pergi bersamanya, bilang, itu semua karena terlalu lelah dan praktis tidak makan selama + 5 hari menunaikan ibadah umroh. Memang ibu saya mempunyai penyakit diabetes dan darah tinggi, apalagi umurnya sudah sekitar 70 tahunan. Jadi, begitu menginjakkan kaki ke tanah air, beliau hanya mampir 2 jam di rumah untuk kemudian di bawa ke rumah sakit swasta di bilangan selatan Jakarta.

Masuk ke rumah sakit di antar adik perempuan terkecil dan suaminya, dokter menduga bahwa beliau terkena serangan jantung dengan komplikasi gula darah naik dan tekanan darah tinggi, sehingga akan segera dimasukkan ke ICCU. Untung sebelumnya, dia menelpon kakaknya, dokter, di Bandung yang juga berangkat umroh bersama untuk meminta opini. Tentu, dugaan penyakit jantung itu ditolaknya, dan minta hanya dirawat di ruang biasa. Bahwa ibu menderita DM dan hypertensi, semua juga sudah mahfum.

Maka jadilah beliau di rawat di ruang VIP. Nggak tahu berapa tarifnya semalam. Mungkin karena beliau mempunyai asuransi kesehatan (yang diperoleh sebagai istri pensiunan bank), jadi dengan ”sombong”nya minta di rawat diruang VIP. Malam itu saya tidak sempat menjenguk, karena kebetulan pulang kantor agak larut, sehingga lelah sekali. Baru keesokan harinya selama 2 hari berturut-turut saya menjenguk. Hari kerja sudah dipastikan tidak akan sempat menjenguknya. Selama beliau di rawat, saya selalu menanyakan kepada adik lelaki yang setiap hari menemani ibu, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada penyakit yang ditemukan kecuali ”kelelahan yang luar biasa apalagi ditambah tidak makan” selama 5 hari itu yang membuatnya sakit dan lemah. Jadi beliau diinfus saja dan ditambah obat-obatan dan diperkirakan dalam waktu 2 – 3 hari saja sudah dapat kembali ke rumah.

Tunggu punya tunggu, ternyata ibu tidak juga kembali dari rumah sakit. Maka hari ke 6 saya minta ijin pulang lebih cepat agar bisa menjenguk ke rumah sakit. Ibu kelihatan lebih segar, tetapi saat saya tanyakan kapan bisa keluar? Adik lelaki hanya memberitahukan bahwa  kadar Na di dalam darah, rendah, sehingga masih memerlukan perawatan lebih lanjut. Saya betul-betul mangkel mendengar jawaban tersebut. Jujur saja, saya sama sekali tidak percaya lagi dengan ketulusan dokter di Indonesia, terutama yang berdomisili di kota besar, dalam merawat orang sakit. Di mata saya, sebagian dari mereka adalah ”binatang ekonomi” yang menjadi agen pemasaran obat tidak langsung dari pabrik obat. Menurut saya, bila persoalannya hanya menaikkan kadar Na dalam darah saja, mengapa tidak dijinkan pulang saja seraya diberikan petunjuk ”diet” saja.

Malamnya, saya menelpon adik ke Bandung untuk bicara pada ibu saya dan meminta beliau pulang. Bahkan adik saya berencana membawa ibu ke Bandung agar bisa mengawasi langsung kondisinya. Ini sungguh bukan karena ”biaya” yang harus ditanggung. Toh ibu memiliki asuransi, tetapi lebih kepada ”ketidakpercayaan” saya pada perawatan di rumah sakit. Akhirnya ibu keluar juga dari rumah sakit, dan biaya pengobatan (kamar rawat, infus + obat-obatan dan visit dokter) selama 8 hari itu berjumlah hampir sebelas juta. Bayangkan ... lebih dari satu juta rupiah per hari. Bagaimana bila yang sakit itu adalah orang tidak mampu dan pasti tidak memiliki asuransi kesehatan???

Tidak itu saja ... keluar dari rumah sakit, tidak kurang dari 11 jenis obat yang dibekali untuk dikonsumsi beliau. Apa dikiranya perut manusia itu gudang penyimpan obat, dimana kita bisa menjejali segala macam obat?? Bukankah obat itu sebetulnya ”racun” dengan segala macam ”side effect”??

Saya jadi teringat pengalaman buruk berhubungan dengan dokter THT di sebuah RS terkenal di bilangan Jakarta Selatan. Kala itu, saya sudah seminggu menderita batuk. Seperti biasa, akibat tidak percaya pada dokter, saya hanya meminum obat tradisional saja, jeruk nipis+kecap ditambah dengan pijat+urut. Biasanya penyembuhan tradisional seperti ini cukup manjur. Tidak ada satu butir obatpun yang mampir ke dalam tubuh saya. Sayangnya, kiat jitu tersebut, kali ini tidak berhasil. Saat di kantor, tiba-tiba telinga saya berdenging dan terasa tersengat seperti, kalau ada dua kabel listrik yang korslet. Rasa sakitnya pun tidak tertahan dan dalam waktu hanya 15 menit, terasa keluar cairan dari telinga dari semula bening hingga kemudian agak memerah. Tidak tahan dengan kondisi ini, saya meminta bantuan supir kantor untuk mengantar ke RS yang hanya berjarak 200 meter dari kantor untuk berkonsultasi ke spesialis THT.

Biasanya, selesai periksa dokter, sebelum membeli obat, saya selalu menelpon adik untuk menanyakan obat-obat yang harus dibeli (second opinion). Tapi karena saya merasa sangat kesakitan, kali itu saya langsung membeli obat di apotik RS tanpa tanya-tanya pada adik saya itu. Pokoknya hari itu saya menghabiskan uang hampir 500 ribu untuk dokter dan 3 jenis obat yang harus dimakan selama 5 hari. Yang paling menyakitkan, saya ambruk pada hari ketiga setelah makan obat. Telinga saya memang agak berkurang sakitnya, tetapi badan saya lemas tidak berdaya dan keluar keringat dingin. Rupanya obat yang diberikan dokter terlalu keras dan cenderung mubazir. Adik saya mengistilahkannya dengan ”membunuh nyamuk dengan bom nuklir”. Berlebihan, mahal dan tidak bermanfaat.

Pengalaman buruk berhadapan dengan dokter juga dialami oleh seorang teman. Bapaknya selama + 2 tahun didiagnosa kena ”kanker prostat” dan tidak bisa dilakukan tindakan apapun (karena usianya sudah di atas 70 tahun) sehingga hanya bisa diberikan obat penahan rasa sakit dan ”sekantong” vitamin yang harus dikonsumsi. Selama itulah teman saya ber”belanja” obat sebesar 30 juta per bulan. Beruntung bapaknya itu tuan tanah  yang memiliki kebun cengkeh sehingga mampu membiayai ”belanja obat”nya tersebut. Tahun lalu, si bapak yang sudah ”hampir koma” itu dibawa ke Jakarta dan dioperasi. Ternyata apa yang selama ini diduga kanker prostat itu hanya berupa pengapuran dan setelah diambil tindakan operasi, beliau sehat dan bugar kembali hingga sekarang.

Belum lepas dari masalah itu, suaminya, tahun lalu kena stroke dan berlanjut pada timbulnya gejala parkinson. Dari bulan September hingga saat ini, setiap bulan dia harus membelanjakan uangnya untuk membeli obat sebesar 20 juta per bulan, diluar biaya rumah sakit. Beruntung suaminya memiliki asuransi dan penggantian pengobatan yang cukup memadai sehingga tidak perlu jatuh bangkrut karenanya. Adik saya yang lain setiap tahun harus mengeluarkan biaya sekitar 200 juta per tahun untuk 4 kali perawatan rumah sakit dengan rata-rata lama perawatan sekitar 10 hari.. Sampai saat ini, apa penyakitnyapun tak pernah terdeteksi. Sayangnya, saya tidak bisa mempengaruhi dia dan suaminya untuk mencari second opinion baik di RS/dokter lain atau RS di Malaysia yang konon, relatif cukup murah.

Kemarin, saat ibu saya keluar dari RS, adik dan keluarganya dari Bandung datang ke rumah, sekalian berencana membawa ibu ke Bandung. Memang ternyata ibu saya mengalami gangguan tidur. Tapi saya menduga, itu mungkin side effect dari 11 jenis obat yang harus dikonsumsinya pasca perawatan rumah sakit. Mana ada manusia mampu menelan obat yang tidak jelas indikasinya sebanyak itu? Bukankah itu mubazir dan hanya akan terjadi reaksi kimiawi di dalam tubuh yang akan membuat dampak kepada daya tahan tubuh?

Panjang lebar saya ngomel dan berkomentar tentang ”praktek kotor” para dokter sebagai agen pemasaran pabrik obat di hadapan adik yang juga dokter spesialis itu. Saya juga menceritakan bahwa ada dokter umum wanita tua yang sederhana yang sering saya kunjungi saat anak sakit. Ke tempatnya, kita hanya dikenai bayaran maksimal 50 ribu berikut obat. Bahkan tidak jarang bu dokter ini memberikan resep-resep tradisional sebagai tambahan pengobatan modern (obat kimiawi).  Tidak banyak dokter yang sederhana dan sangat manusiawi seperti ini. Kebanyakan dokter, mungkin menganggap pasien seperti ”sumber dana” yang perlu dikuras habis-habisan terutama bila dilihatnya pasien tersebut datang dari kalangan berada. Dengan latar belakang seperti itu, pantas saja, tidak banyak dokter yang suka meladeni pasien yang kritis dan mau tahu banyak tentang penyakit dan cara pengobatannya. Selain menghabiskan waktu praktek, mungkin mereka takut ketahuan ”kartu” nya.  Mereka lebih suka pada pasien yang ”pasrah bongkokan” pada ucapan dokter.

Ada pula dokter anak yang berpraktek hingga dini hari, melayani ratusan pasien setiap hari di ruang prakteknya. Bagaimana dokter dengan tingkat kelelahan semacam itu mampu mendiagnosa penyakit dengan benar dan teliti? Paling-paling dia akan mem ”bom” penyakit sederhana dengan antibiotik super keras agar terlihat manjur. Dan... anehnya orangtua senang, pula dan berpromosi kepada rekannya bahwa dokter A bertangan dingin dan obat-obatan yang diberikan sangat ”manjur”. Si orangtua mungkin tidak sadar bahwa anaknya sudah menerima ”racun” yang tidak perlu untuk mulai ditimbun dalam badannya. Saya teringat, saat tinggal di Stains, dokter yang saya kunjungi selalu memberi penjelasan yang gamblang mengenai penyakit dan jenis obat yang diberikan. Seringkali, dia memberikan tips & trick untuk merawat anak/bayi sakit agar si anak tidak menjadi ”gudang” timbunan obat-obatan kimiawi. Dokter di Stains tidak pernah memberikan vitamin apapun untuk bayi kecuali tips & tricks menyajikan makanan sehat dan segar bagi seluruh keluarga.

Mendengar ocehan saya yang pedas, adik saya hanya tersenyum saja tanpa komentar .... mungkin dalam hati membenarkan dugaan saya itu. Bagaimana tidak.... kala para dokter mengadakan seminar/kongres, maka para dokter (beserta keluarga – anak dan istri) mendapatkan fasilitas yang luar biasa dari para sponsor (pabrik obat). Bahkan tidak jarang, usai kongres masih dilanjutkan dengan wisata ke berbagai daerah. Ipar saya (dokter juga) malah membawa serta adik-adiknya, karena selama kongres dia mendapat 3 kamar (full board) dari 3 pabrik obat yang berlainan. Bukan main... pasti biaya untuk dokter itu, nantinya dibebankan sebagai biaya promosi yang pada akhirnya akan ditambahkan pada harga jual obat.

Untuk meredam ocehan yang membuat telinganya panas, akhirnya dia buka mulut juga. Detailman pabrik obat yang sering kita temui di ruang tunggu dokter memang seringkali memberi iming-iming kepada dokter termasuk adik saya. Menurut pengakuannya, memang begitulah cara kerja para detailman. Memberi iming-iming pada dokter agar memakai produk yang dijajakan termasuk di dalamnya menambah-nambah vitamin ”sehat” bagi pasien. Tetapi, memang tidak semua dokter tergiur oleh iming-iming. Masih banyak dokter idealis yang memiliki hati nurani. Para detailman, memang akhirnya tidak lagi mengunjungi kamar praktek setelah dengan tegas dokter menolak ajakan ”kerjasama”. Adik saya dengan gamblang bicara bahwa ... dia tidak perlu diajak kerjasama dengan iming-iming uang rutin yang nilainya hanya 500 ribu atau satu juta rupiah perbulan sebagai hasil komisi penjualan obat, karena dia sudah merasa cukup dengan penghasilan murni dari pasien. Obat dari pabrik apapun, bila dibutuhkan dan kualitas maupun penggunaannya tepat, akan diberikan kepada pasien walaupun tidak ada iming-iming dan dia (adik) tidak akan menambah-nambah vitamin yang tidak perlu bagi pasien. Yang perlu dibantu adalah pasien (dengan cara mendapatkan obat yang murah), bukan dokter yang sudah mendapatkan uang dari jasa yang diberikannya. Saya percaya adik saya, masih punya nurani yang bersih.

Jawaban adik secara tidak langsung membenarkan dugaan saya, ada praktek pemberian komisi yang luar biasa besar dari pabrik obat kepada dokter. Itu yang menyebabkan keluar dari praktek dokter, kita (pasien) seringkali dibekali dengan sederet resep yang menghasilkan sekantung besar obat-obatan yang belum tentu diperlukan dan dengan harga yang luar biasa mahalnya. Itu juga yang menyebabkan mengapa program obat generik yang terjangkau rakyat tidak bergaung karena dokter lebih suka memberikan resep obat-obatan paten yang harganya luar biasa mahal. 

Walaupun demikian, saya percaya, masih banyak dokter yang memiliki hati nurani yang bersih, terutama yang berada di pelosok dan pedalaman. Dan saya selalu berharap semoga semakin banyak dokter-dokter yang sadar dan kembali pada kemuliaan profesinya. Amin.

Hang tuah- kebayoran baru jakarta selatan
25 juli 2005

Rabu, 20 Juli 2005

MENYIAPKAN PERNIKAHAN ANAK

Bulan Juli dan Agustus ini, rupanya, bagi sebagian besar orang Indonesia, dianggap sebagai bulan baik untuk melaksanakan pernikahan. Jadi saya mulai kebanjiran undangan pernikahan, baik dari teman-teman maupun keluarga.

Berbeda dengan saat saya dulu menikah, saat ini undangan pernikahan terbuat dari berbagai ragam bahan, warna dan bentuk. Dari yang sangat sederhana hingga yang super mewah. Dari yang hanya terdiri dari karton conqueror berwarna sampai dengan undangan yang dimasukkan ke dalam box mewah lengkap dengan bunga, pita dan photo pengantin. Bahkan bos saya di kantor pernah menerima undangan berbentuk pigura photo yang sangat cantik dan eksklusif, yang saya taksir harganya tidak kurang dari Rp.75.000,- per buah. Begitulah, di kantor, kami seringkali berebut undangan yang cantik-cantik itu untuk dimodifikasikan menjadi hiasan meja/dinding atau bingkai photo.

Itu belum tempat pesta, makanan dan dekorasi termasuk pelaminan. Jujur saja ... kadang-kadang, kala menerima undangan, kami sering memprediksi .. bahwa kalau gedung resepsinya di Wisma A atau di hotel A, sudah dipastikan bahwa makanannya mewah dan enak. Melimpah dan mengundang selera. Kalau di gedung atau hotel C maka, jangan berharap akan makan enak ... Hehe... kok milih-milih undangan sih?? ini niatnya mau memberi doa restu atau makan-makan ?? Untungnya, sudah beberapa tahun ini, kami menganut food combining sehingga tidak terlalu kemaruk dengan makanan mewah dan enak yang tersaji. Suami saya saja yang selalu lupa diri bila melihat nasi goreng. Berbekal pengetahuan tentang korelasi antara gedung dengan kualitas makanan, saya sering memberi peringatan pada suami, bahwa nasi goreng di gedung/hotel kelas A sangat enak dan layak disantap, sedangkan di gedung/hotel kelas C tidak bisa diandalkan. Namun fanatisme terhadap nasi goreng membuatnya sering mengabaikan ”peringatan dini” saya. Belakangan baru dia sadar dan nggrundel ... bahwa nasi gorengnya tidak enak.. walaupun habis juga satu piring.

Jumlah undangan yang terlalu banyak juga seringkali menjengkelkan tamu. Saya paling tidak suka menghadiri undangan yang jumlah tamunya melebihi kapasitas gedung, membuat tamu tidak nyaman bergerak. Kalau sudah begini, setelah mengisi buku tamu, dan melihat antrian masih sangat panjang baik menuju pelaminan maupun di tempat makan, maka sudah dapat dipastikan kami akan balik pulang dan mencari restoran terdekat untuk mengisi perut. Kok mengundang orang untuk disiksa antri berjam-jam? Ya antri memberikan salam dan doa restu lalu antri untuk ambil makanan. Duh... yang butuh doa restu itu siapa ya...??? Tamu atau yang mengundang? Terbalik-balik logikanya. Lagi pula, sudah dipastikan yang diundang adalah orang-orang yang mampu membeli makanan sekelas yang dihidangkan di pesta itu. Kok ya tega-teganya disuruh antri pembagian makanan. Kaya jaman resesi aja.... Padahal, katanya, kita diundang dan pengundang sangat mengaharapkan kedatangan tamu untuk memberikan doa restu .... Artinyanya yang diundang itu harus dihormati karena ”diharapkan” kehadirannya. Tapi ketika datang kok ya disiksa untuk ngantri.....????

Belum lagi soal hari/waktu resepsi. Jakarta yang macet dan sibuk ini membuat kita harus mempersiapkan diri dengan baik untuk datang ke undangan. Mempersiapkan waktu yang cermat agar tidak terkena macet. Saya dapat dipastikan tidak akan pernah datang bila resepsi diadakan pada hari kerja . Tidak perduli yang mengundang itu keluarga apalagi hanya teman. Cukup kirim sms saja, memberitahukan ketidakhadiran dan doa restu bagi mempelai. Kemacetan yang luar biasa di Jakarta untuk menuju tempat resepsi membuat saya sudah patah arang. Jauh-jauh hari sudah ada komitmen dengan suami bahwa undangan yang akan dihadiri bersama, hanyalah undangan pada hari Sabtu atau Minggu, sehingga tidak merepotkan baik saya maupun suami. Bila suami merasa perlu hadir pada undangan di hari kerja, saya persilakan untuk hadir sendiri. Dia sudah tahu untuk tidak mengharapkan kehadiran saya bersama, pada undangan di hari kerja. Dan toh akhirnya, seringkali dia tidak hadir juga setelah melihat kenyataan bahwa hadir pada undangan di hari kerja sangat melelahkan dan menjemukan.

Dengan kondisi seperti ini, sebetulnya apa yang harus dipersiapkan, ketika kita akan mengadakan pesta pernikahan anak? Jujur saja ... saya tidak tahu. Semua tergantung pada persepsi si calon mempelai dalam menghadapi momen ”terpenting” dalam hidup mereka. Itupun juga masih diembeli-embeli dengan persepsi dan kepentingan, termasuk gengsi orangtua ke dua calon mempelai.

Sewaktu masih kuliah, saya tidak pernah membayangkan akan menikah. Terpengaruh oleh kisah ”cengeng” dalam majalah, saya berpikir, untuk apa menikah bila perempuan  hanya menjadi pelengkap penderita dalam kehidupan berumah tangga. Dan toh akhirnya saya menikah dalam usia yang relatif muda dan belum selesai kuliah lagi. Maka terpaksa saya merevisi angan-angan tersebut. Bayangan saya adalah menikah dalam suasana yang sederhana saja. Hanya akan mengadakan ijab-kabul serta walimah sederhana langsung setelah ijab kabul yang hanya dihadiri keluarga terdekat dan teman dekat dari mempelai. Itupun tidak tercapai .... dengan berbagai dalih, orang tua ”memaksa” untuk membuat pesta, mengundang relasi. Alasannya terdengar klasik ... takut disangka anaknya sudah hamil sebelum menikah. Duh gemes banget dengar alasannya. Tapi apa boleh buat, daripada bertengkar dengan orang tua.

Akhirnya setelah berdebat panjang lebar, kebetulan orangtua saya tidak ”fanatik” terhadap tradisi, upacara pernikahan berlangsung secara simple. Tidak ada acara siraman – seserahan – midodareni – malam bainai (ibu saya orang Minang). Bahkan setelah akad nikah, tidak ada upacara ini itu, injak telur – kacar-kucur (suami berasal dari Jawa) dan lain sebagainya yang dianggap sebagai simbolisasi dari kehidupan rumah tangga. Termasuk upacara yang biasa dilakukan orang saat menjelang resepsi. Mana saya peduli ....???, Bagi saya, kehidupan rumah tangga tidak terkait dengan lengkap atau tidaknya tradisi itu dijalankan. Kehidupan rumah tangga lebih terkait pada bagaimana komitmen pasutri dalam menjalankan bahtera rumah tangganya. Cukup itu, dan sama sekali bukan tergantung pada simbol-simbol yang menghabiskan waktu dan biaya.

Yang tidak dapat saya tentang adalah penyelenggaraan resepsi, yang tergolong relatif mewah untuk waktu itu.  Sungguh mati, saya benci sekali menjalani acara itu. Bagi saya... kok menyebalkan sekali jadi pengantin. Didandani dengan riasan medok seperti wayang orang. Dijadikan pajangan di tengah gedung pertemuan, lalu ditonton dan mesti cengar-cengir kepada orang yang menyalami (yang tidak semuanya kita kenal). Duh .... betul-betul menyebalkan sekaligus melelahkan. Demi gengsi orang tua ...... Padahal, kalau saja uang yang dihabiskan untuk pesta itu diberikan kepada kami, pasti bisa digunakan untuk membeli sebuah rumah mungil yang memadai bagi pengantin baru.

Sejak saat itu, saya selalu berandai-andai,  bila suatu saat menikahkan anak, maka saya tidak akan membuat pesta. Cukup akad nikah dan walimah di antara keluarga dan teman dekat. Tidak lebih dari 100 orang, menurut perhitungan saya. Tidak jarang perandaian itu memicu ”pertengkaran kecil” dengan suami. Alasannya karena ”calon besan” belum tentu sama persepsinya dengan kami dan kami harus mau menyesuaikan diri. Sementara saya selalu ngotot dengan ”model ideal tata cara pernikahan” saya itu. Dan..... di luar dugaan.... anak saya menikah hanya dihadiri oleh 7 orang saja ... penghulu, saksi dan kami sekeluarga. Bahkan keluarga anak gadispun (non muslim) tak hadir karena anak saya menikah di mesjid. Sedihkah  perasaan saya pada saat itu? Rasanya, tidak. Jauh dari perasaan sedih. Saya hanya merasa lega bahwa anak saya sudah menikah. Pernikahan anak saya adalah wujud dari bentuk pernikahan yang saya inginkan dulu. ....  Singkat dan memenuhi syariat. Entah kalau perasaan anak saya saat itu. Saya tidak bertanya lebih jauh.
***

Minggu lalu, sebagian dari keluarga besar suami saya berkumpul. Kebetulan, salah seorang ipar saya berulang tahun, jadi kami semua berkumpul sekaligus membicarakan rencana acara pernikahan anak lelaki si tuan rumah. Calon menantu ipar saya itu blasteran Minangkabau (dari ibu) dengan Jawa (dari bapak).

Tadinya, saya berpikir jaman sudah banyak berubah, jadi, saya berasumsi, bahwa dalam mempersiapkan pernikahan, kita hanya akan mengambil yang esensial saja dari pernikahan itu. Kita tidak lagi terkungkung dengan segala adat istiadat dan simbolisasi upacara pernikahan ruwet. Apalagi bila ditambah dengan konsekuensi biaya yang akan melambung tinggi.

Ternyata, dugaan saya keliru sama sekali. Rupanya, semakin tinggi status sosial masyarakat, maka kecenderungan untuk mengadopsi segala pernak-pernik dan tata cara adat/tradisi dalam penyelenggaraan pernikahan yang ruwet, semakin mengental. Semakin tinggi status sosial, maka semakin ruwet pula adat istiadat yang digunakan dan itu berdampak semakin besar biaya yang harus dikeluarkan. Dan itulah (mungkin) yang diinginkan, karena semakin ”menonjolkan gengsi dan status sosial keluarga”.

Maka, dalam rencana acara pernikahan keponakan suami, segala tata cara pernikahan yang diatur oleh keluarga perempuan, secara adat/tradisi baik dari garis bapak (Jawa) dan ibu (Minang) semuanya ingin dimasukkan. Sementara upacara pernikahan di keluarga pengantin lelaki, dimulai dengan ritual pengajian (yang ini bolehlah diadopsi .... dengan makna berdoa kepada Allah SWT) pada hari sebelum pernikahan, lalu siraman. Setelah siraman, keluarga pengantin lelaki akan berkunjung ke rumah keluarga perempuan untuk mengikuti acara midodareni (Jawa) dan sekaligus malam bainai (Minang) yang diperkirakan berlangsung dari jam 19.00 s/d 22.00. Lalu, keesokan harinya, tepat jam 09.00 pagi akan diadakan acara akad nikah dilanjutkan resepsi pada sore harinya yang dimulai jam 19.00 di suatu gedung pertemuan.

Yang menjadi titik perhatian saya yang pertama adalah acara midodareni dan resepsi yang keduanya berlangsung pada jam 19.00, dua hari berturut-turut. Lokasi rumah pengantin perempuan berada hampir di ujung selatan kota Jakarta dan mempelai lelaki di bilangan Jakarta Timur. Jadi untuk mencapainya memerlukan waktu minimal + 1 jam. Belum terhitung macet yang biasa terjadi di hampir seluruh ruas jalan di Jakarta pada malam minggu. Ini berarti, paling lambat, pada jam 18.00 rombongan calon pengantin lelaki sudah harus berangkat dari rumah menuju kediaman calon pengantin perempuan. Lalu, bagaimana menunaikan shalat maghrib. Haruskah ditunda (jama’)? Usulan mengundurkan waktu dimulainya acara midodareni/malam bainai, untuk memberi kesempatan menunaikan shalat maghrib hanya dijawab ” pengunduran waktu ini berarti acara midodareni/malam bainai akan berlangsung hingga larut malam. Sementara keesokan harinya, akad nikah akan berlangsung tepat jam 09.00. Tentu melelahkan bagi ke dua belah pihak. Terserah akan memilih yang mana. Tetap jam 19.00 dan selesai jam 22.00 atau mundur dengan konsekuensi mundur pula waktu selesainya”

Duh ... sedih mendengar jawaban seperti itu. Apakah demikian pentingnya acara adat midodareni/malam bainai itu sehingga waktu shalat maghrib pun harus dikorbankan? Bila demikian, mengapa tidak memotong acara adat (yang menurut saya tidak berguna – hanya buang-buang waktu dan uang saja) tersebut untuk memberikan kesempatan shalat maghrib dan istirahat yang cukup bagi keluarga ke dua belah pihak?

Belum urusan acara midodareni/malam bainai itu selesai, muncul lagi ”aturan baru” bahwa menjelang acara resepsi, keesokan harinya, seluruh keluarga kedua belah pihak diharapkan kumpul dan selesai berhias pada jam 17.00. Sesi photo keluarga akan dimulai sebelum acara resepsi, yaitu setelah mempelai dan keluarga selesai berhias. Jadi seluruhnya masih segar  dan cantik untuk berphoto. Lalu, untuk keluarga yang lain,... jam berapa kami harus mandi, para perempuan berdandan, kemudian berangkat ke gedung? Bagaimana dengan shalat ashar dan shalat maghrib kami?

Saya betul-betul bingung dibuatnya. Ingin sekali saya berbaik sangka saja, bahwa yang mengatur acara tersebut adalah non muslim yang tidak mengerti bahwa di antara waktu-waktu tersebut ada waktu shalat ”WAJIB” ... panggilan Allah SWT yang tidak bisa diabaikan bagi mereka yang mengaku  bahwa ”shalatku ... hidupku ... dan matiku ... hanyalah bagi Allah SWT semata....” Namun, nyatanya kedua belah pihak keluarga adalah keluarga muslim. Minimal yang saya ketahui, kedua ipar saya selalu shalat wajib lima waktu. Dan toh .... pada persiapan pernikahan tersebut, mereka luruh dan tunduk pada aturan manusia ... sudah diatur bahwa sesi berphoto ria adalah sebelum resepsi berlangsung, walau dengan resiko kehilangan waktu shalat. Betul, Islam memberikan kemudahan dengan adanya aturan jama’. Tapi apakah men-jama’ shalat bisa dibenarkan untuk alasan seperti ini? Wallahu ’alam.

Di luar dari pengaturan waktu tersebut, kecenderungan orang untuk bermewah-mewah dalam penyelenggaraan pesta pernikahan sungguh membuat hati bertambah sedih. Seorang teman wanita yang sedang mempersiapkan pernikahannya bercerita bahwa satu buah kebaya panjang brokat dengan sulaman mote untuk acara pernikahan harus dibayar dengan harga 8 juta rupiah. Konon harga ini 50% lebih murah dari harga resminya, karena sang teman langsung berhubungan dengan penjahit seorang designer terkenal di Indonesia.

Ipar saya yang lain, seorang florist  yang mengkhususkan diri pada pesta pernikahan, bercerita bahwa tarif untuk menghias (dengan  bunga) untuk suatu acara pernikahan minimal 25 juta untuk campuran bunga lokal plus sedikit bunga impor. Belum lagi biaya perias pengantin yang konon juga seharga di atas sepuluh juta, seragam panitia dan keluarga, biaya pelaminan, dokumentasi dan lain-lain. Sementara biaya makananpun paling tidak harus membayar minimal 35 ribu/per orang (ini menu paling sederhana), belum termasuk makanan yang tersaji di gubuk-gubuk yang tarifnya antara 10 ribu sampai dengan 35 ribu per porsi. Belum lagi bila resepsi diselenggarakan di hotel berbintang. Minimal 85 ribu per pax plus pajak dan service 21%. Ini tentunya juga, belum termasuk makanan tambahan yang ditata dalam gubuk. Jadi tidak heran bila biaya penyelenggaraan pesta pernikahan termurah (sederhana) yang pernah saya hadiri bernilai 200 juta (angka ini saya dapat dari keluarga mempelai perempuan) untuk undangan sebanyak 500 lembar.

Salah satu kenalan, secara bisik-bisik mengungkapkan angka di atas 1,5 miliar untuk suatu pesta di sebuah hotel berbintang 5 di Jakarta. Bayangkan ... dapat disimpulkan; harga sebuah pesta pernikahan kelas menengah di Jakarta dimulai dari 200 juta rupiah hingga di atas satu milyar.... .

Bayangkan bila uang sebesar itu dibelikan sebuah rumah untuk pengantin baru ... pasti jadilah sebuah rumah yang cukup indah di sebuah kawasan perumahan di Jakarta. Kalau saja uang tersebut dipinjamkan kepada pengusaha kecil untuk bantuan modal, minimal ada 40 pengusaha yang memperoleh pinjaman senilai 5 juta rupiah. Seandainya uang tersebut digunakan untuk memberi makan kaum dhuafa, pasti ada minimal 20.000 boks nasi seharga 10 ribu per boks yang dapat dinikmati mereka. Kalau saja.....

Sayangnya, kita lebih suka bermegah-megah, menonjolkan keakuan di tengah kemelaratan sesama .... Kita lebih suka memberi makan orang berpunya yang sudah kelebihan kalori di tubuhnya, yang juga mampu membayar makanan sejenis di restoran mewah, untuk datang ke pesta yang kita buat dibandingkan dengan memberi makanan yang lezat bagi kaum dhuafa satu kali saja dalam hidup mereka.

Kita juga lebih suka membuang-buang uang untuk membayar bunga hias dan pernak-perniknya yang hanya digunakan satu malam saja, dibandingkan dengan membina dan menolong pengusaha kecil dan lemah dengan jumlah uang yang sama.

Kita lebih suka membuat undangan yang indah dan mewah, memberikan seragam lengkap bagi para among tamu demi menaikkan gengsi keluarga ketimbang menyisihkan dana tersebut untuk anak tetangga yang nyaris bunuh diri karena tidak sanggup membayar uang sekolah...

Dan ... ah begitu banyak perandaian yang muncul di benak saya, sampai saya tersadar, saat suami saya mengingatkan...” jangan berburuk sangka.... mungkin ibadah, zakat dan sedekah mereka sudah lebih besar dari apa yang mereka buang untuk menyelenggarakan pesta pernikahan anak-anak mereka. Jadi biarkanlah mereka memenangkan egonya sekali saja dalam sepanjang umur hidup mereka ”..........

Cukupkah alasan itu ..... entahlah...! Sejuta protes dan ketidakpuasan masih menjejali kepala saya dan mungkin harus saya telan sendiri. (eh ada untungnya... nih, jadi tulisan yang bisa dibaca oleh semua orang...)

Jakarta, 20 juli 2005
Hangtuah – jakarta selatan.

Jumat, 08 Juli 2005

Menikah dengan orang Tunisia? Siapa takut...?

Avec grand remerciement pour Isna

Gerbang pernikahan di jaman sekarang kelihatannya semakin sukar dimasuki. Di kota-kota besar, usia penikahan baik lelaki maupun perempuan, cenderung makin meninggi Umumnya dikisaran usia 30 tahun. Entah apa yang jadi penyebabnya. Apakah karena perempuan sekarang banyak yang bersekolah tinggi, lalu menunda penikahan agar kuliah bisa selesai dulu. Dan karena pada umumnya usia perempuan lebih muda dari pasangannya otomatis usia lelaki saat memasuki pernikahan juga semakin tinggi.

Ternyata, selesai kuliahpun mereka tidak langsung menikah. Mencari pekerjaan dulu.... terbenam dalam sibuk.. Lalu setelah itu mulai sedikit realistis. Mulai menimbang-nimbang ... mesti punya rumah dulu ... punya mobil dulu... punya tabungan dulu .. punya asuransi jiwa dulu... Kalau materi belum siap, kasihan anak-anaknya. Sekolah sekarang mahal . Setelah semua tersedia ... lho..lho... Mental belum siap nih ... Tertunda lagi ... Terus begitu, tidak habis-habisnya.

Di sisi lain, perempuan sekarang juga sangat mandiri. Pekerjaan membuat mereka merasa mampu menghidupi dirinya. Tidak perlu tergantung pada orang lain. Dengan begitu persepsi perempuan terhadap nilai pernikahanpun berubah. Harus egaliter dalam hak dan kewajiban!
-----------

Teman les bahasa Perancis saya, datang dari berbagai golongan. Sebagian adalah perempuan matang, bahkan ada nenek berusia 65 tahun yang menurut saya sangat ”smart” dan ”open minded”. Pengetahuannya sangat luas terutama yang menyangkut budaya. Salah satu yang termasuk paling rajin les, perempuan muda usia 34an. Dia bisa digambarkan sebagai profil wanita karier masa kini. Smart, open minded, sangat extrovert, easy going dan gemar bertualang. Pendapat dan gaya hidupnya, terutama yang berkaitan dengan hubungan lawan jenis, sering bikin telinga ibu-ibu, terutama ”the housewife’s gang” merah padam. Bisa dimengerti, mereka yang tidak bekerja, mungkin tidak tahu bagaimana hutan belantara pergaulan para professional muda yang penuh gelora.

Baru-baru ini, dia yang selalu rajin hadir di kelas, menghilang dari ccf selama dua minggu. Tanpa kabar berita, sms yang dikirimpun tak sampai. Nah dua minggu yang lalu dia masuk, dan dengan wajah berseri-seri menceritakan petualangannya ”mencari cinta” ke negeri orang. Betul-betul ke negeri orang . Naik pesawat dari Jakarta – Singapore – Bangkok – Istambul dan lalu berlabuh di ujung utara benua Afrika, di salah satu negeri ”Maghreb”, Tunisia. Cerita perburuannya seru ... seram ... menegangkan ... dan sekaligus mengharukan. Minimal buat saya. Tapi, sayang bersifat sangat pribadi. Jadi, bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Lelaki yang ditemuinya itu atau sebutlah calon suaminya, berusia sekitar 50 tahun, bekerja di sebuah kementrian Tunisia. Jadi jelas asal usul dan pekerjaannya. Itu yang penting. Bagaimana bisa bertemu? Ini pergaulan global a la cyber net ... Jadi, ini salah satu keuntungan kita ber internet ria. Chatting telah membuka ruang pergaulan dan memungkinkan pertemuan dua orang yang berada di belahan dunia yang tak terjangkau mata.

Setelah berkenalan selama 4 tahun, si gadis nekat berangkat ke Tunisia ... tanpa tujuan yang jelas. Kalau cocok ayo menikah, kalau tidak.. masih banyak lelaki di seluruh penjuru dunia. Maklum ... kemandirian a la wanita karier Indonesia, kadang membuat mereka merasa kurang cocok dengan lelaki Indonesia, terutama yang masih berpikiran ”tradisionial”

Dia duda bercerai yang memiliki 3 orang anak. Itu biasa ... di Indonesia banyak lelaki menceraikan istrinya. Lalu cari istri lagi.... dan itu juga biasa. Bahkan yang masih punya istripun kadang masih suka jelalatan, goda sana- goda sini. Apa anehnya? Apalagi Tunisia kan negara Islam, yang memperbolehkan suami beristri 4.

Tapi, ternyata Tunisia itu negara Islam yang unik. Negara itu, konon merasa lebih ”modern” dari kebanyakan negara Islam di utara jazirah Afrika. Jadi dalam pergaulan diplomatik internasional, Tunisia tidak mau dekat-dekat dengan Aljazair, Sudan, Maroko atau bahkan Mesir. Tunisia lebih merasa sepaham dengan Turki yang sekuler dan setengah Eropa itu. Lebih modern ... Mungkin begitu pikir para politisi negara itu.

Masyarakat Tunisia hidup dalam kontradiksi. Di satu sisi, peraturan dan undang-undang yang berlaku sangat maju. Sangat melindungi kepentingan warga negaranya. Tidak kalah dengan negara barat Apalagi penerapannya pun dengan sanksi – dan hukuman yang jelas. Tidak main-main. Tetapi di lain pihak, kultur Arab tradisional masih kuat melekat di dalam kehidupan masyarakatnya. Kehidupan yang sangat patrilinial. Dari kacamata para feminis, Tunisia adalah negara yang masih didominasi oleh lelaki. Perempuan tugasnya di rumah, mengurus suami dan anak-anak. Perempuan Tunisia yang bekerja masih sangat jarang. Dan seperti di negara Arab lainnya, sepulang kantor, suami akan mampir ke supermarket, belanja kebutuhan rumah tangga. Istri tinggal memasak di rumah.

Jangan harap kita pasangan non muhrim berani bergandengan tangan di muka umum. Jangan berani berpakaian tidak sopan ... Harus pakaian tertutup! Kalaupun tidak berhijab ... pakailah pakaian yang sopan, sedikitnya jangan mengumbar kemolekan tubuh. Itu tabu. Urusan kemesraan dan kemolekan tubuh jangan diperlihatkan di muka umum. Dalam hal ini, Jakarta jauh lebih maju. Tetapi..., di pantai turistik Tunisia, perempuan berbikini dengan aman bergentayangan. Ini pantai bung ... masa berpakaian lengkap? Bahkan, aborsipun dapat dilakukan siapapun, di banyak rumah sakit, dengan syarat bahwa usia kandungan belum melebihi 3 bulan.

Bagaimana pemerintah mengatur kehidupan rakyatnya, terutama yang berkaitan dengan perlindungan kepada anak-anak dan wanita. Ini menjadi perhatian saya. Bukan karena sok feminis. Tapi, hanya ingin mengetahui bagaimana pemerintah sekuler dari sebuah negara Arab yang sudah pasti mayoritas penduduknya beragama Islam, menterjemahkan hak-hak anak dan perempuan ke dalam UU dan sekaligus aplikasinya. Saya hanya ingin mengutip cerita kawan saya itu terutama dalam kasus yang berkenaan dengan ”perceraian dan konsekuensinya. Yang berkaitan dengan perlindungan anak dan mantan istri”

Kita mulai dari ; Bagaimana gaya remaja Tunisia berpacaran? Remaja Tunisia dilarang pacaran! Jangan main-main, kalau naksir anak orang... nah, datang langsung kerumah orang tuanya. Ajak orang tua kita untuk bilang kalau anak kita naksir anaknya. Lalu orang tua akan membuat pesta, mengundang kenalan dan tetangga. Setelah itu siap-siap memasuki gerbang pernikahan. Apa persiapannya ?

Yang terpenting adalah rumah dengan segenap isinya Ini indispensable, ”wajib bin kudu”. Jangan berharap menikah kalau yang satu itu belum terpenuhi. Kalau masih ada uang berlebih, tambahkan mobil.. lalu perhiasan, emas berlian, gak boleh imitasi ... lalu .... deposito... hehe.. pokoknya lengkap!!! Jangan dikurangi ... kalau tidak, jangan harap bisa menikah cepat-cepat. Nah persiapan ini memakan waktu bertahun-tahun. Jadi perempuan maharnya ”mahal”. Bubar dan membatalkan rencana pernikahan ...? No way.... belum pernah terjadi. Mungkin seluruh kaum kerabat bisa malu besar. Masyarakat Tunisia menjaga betul hal ini!

Setelah menikah? Perempuan duduk manis di rumah. Memang begitulah tradisi Arab. Perempuan bagai hidup disangkar emas. Alasannya; karena perempuan sangat dimuliakan. Lelaki yang bertanggung jawab harus memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarganya. Jadi sebetulnya enak lho, jadi perempuan! Tapi sayangnya, ada sedikit kontradiksi ... di dalam rumah, lelaki, termasuk anak lelaki, menjadi raja. Jangan makan sebelum mereka selesai makan dan kenyang. Sediakan cepat seluruh kebutuhan mereka. Jangan sampai mereka marah karena perempuan tak sigap melayani. Lelaki Tunisia juga sangat senang menghabiskan sore hari, berkumpul di kafe-kafe yang bertebaran di segala penjuru kota. Mereka mengobrol sambil minum kopi dan merokok dengan pipa khas arab. Namun jangan harap dapat menemukan wanita di kafe. Ini hal yang tabu dan akan jadi pemandangan aneh jika seorang wanita masuk dan duduk untuk minum kopi di tempat seperti itu. kecuali memang di daerah turis dimana banyak terdapat kafe yang memang diperuntukkan untuk wanita dan keluarga. Kehidupan seperti ini, bagi perempuan yang berpendidikan tinggi, yang sudah ”teracuni oleh pemikiran Barat” akan menjemukan dan membuat mereka berontak dan bisa berbuntut pada perceraian.

Perceraian memang bukan hal yang dilarang dalam Islam, walaupun tidak dianjurkan. Perempuan Tunisia tidak akan pernah takut bercerai. Bisa jadi, justru lelaki yang takut untuk menceraikan istrinya. Perceraian bisa membuat lelaki Tunisia bangkut. Betul-betul bangkrut. Rumah dan seluruh kekayaan beralih tangan kepada mantan istri, karena itu bagian dari mahar yang sudah diserahkan kepada istri saat menikah. Yang tersisa, hanya gaji yang dimiliki. Itupun sudah dipotong-potong oleh berbagai kewajiban menyantuni anak serta mantan istri.

Kewajiban menyantuni anak dan mantan istri wajib hukumnya. Anak-anak harus disantuni, dicukupkan kewajibannya sampai mereka selesai kuliah. Mantan istri wajib, dinafkahi sampai dia menemukan jodohnya kembali. Kalaupun mantan istri menikah, jangan harap bisa lepas tangan terhadap kewajiban menafkahi anak. Yang terlepas kewajibannya adalah menafkahi mantan. Anak, nasabnya kepada bapak. Jadi jangan coba-coba ingkar janji. Tetap melekat sampai mereka selesai kuliah.

Bagaimana bila lelaki ingin menikah kembali? ... Tidak ada kendala. Boleh... tapi selama mantan istri belum menikah kembali, maka kewajiban terhadap mantan belum pupus. Hanya sedikit berkurang, karena berarti ada dua perempuan yang disantuni suami. Apakah cukup di atas kertas begitu? Tidak ...!!! Pemerintah Tunisia sudah melengkapi dengan berbagai aturan dan sanksi. Secara periodik, aparat akan datang dan mengecek bukti transfer kewajiban lelaki kepada mantan istri dan anak-anaknya. Jangan pernah berani ingkar!! Bukti-bukti harus lengkap dan jelas Kurang 1 kali kirim? Penjara ganjarannya!!!!

Peraturan ini jelas melindungi kepentingan anak-anak dan perempuan. Jadi... siapa takut menikah dengan lelaki Tunisia ....?????

Salam
Lebak bulus 15 juni 2005




BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...