Kamis, 16 Agustus 2007

Juragan Jengkol vs miss Jengki.

Selama satu minggu ini, saya mendadak jadi juragan jengkol. Tahu, kan jengkol? Itu jenis buah berkulit tebal dan keras berwarna coklat kehitaman. Buah yang masih muda, oleh orang Sunda, seringkali dimakan sebagai salah satu bahan lalapan mentah. Orang Sumatera barat lebih suka makan jengkol balado atau dibuat gulai pedas yang bersantan pekat. Mereka menyebut jengkol sebagai “jariang




Entah bagaimana rasanya makan nasi berlauk jengkol. Konon, bagi yang suka jengkol, nikmatnya …. Bukan main!!!. Ibaratnya, mertua lewatpun lupa ditegur, saking asyiknya makan jengkol. Yang pasti … pemakan buah yang mengandung kadar asam oksalat tinggi ini, saat buang air kecil akan berbau tidak enak. Konon pula bagi yang tidak tahan atau terlalu banyak makan jengkol bisa terkena radang kandung kemih karena kristal asam oksalat akan menyumbat saluran air kemih.
*****

Awalnya, saya tidak sadar bahwa di balik tembok samping yang membatasi pekarangan dengan tanah kosong di sebelah, berdampingan dengan pohon petai di halaman samping, ada pohon jengkol. Selama lebih dari 15 tahun tinggal di lebak bulus, kami semua hanya tahu bahwa di halaman samping rumah ada pohon petai yang enak sekali. Buahnya bulat, padat dan sama sekali tidak pernah berulat. Petai ini menjadi idaman bagi kerabat dan teman-teman yang mengetahuinya. Setiap tahun menjelang akhir bulan Oktober, mereka sudah sibuk mengingatkan untuk minta disisihkan beberapa papan petai, kalau kami memanennya.

Tahun lalu, saat saya sedang menghitung-hitung petai yang sudah layak diturunkan, terlihat banyak “untaian” buah berwarna coklat kehitaman dengan bentuk melingkar-lingkar disela-sela daun petai. Buahnya terlihat ranum dan padat. Belum pernah saya melihat untaian buah seperti itu. Bolak-balik, saya amati buah yang berada pada dahan-dahan yang cukup tinggi. Sampai saat mata saya focus pada satu “mata” buah tersebut, sadarlah bahwa buah yang menarik perhatian saya itu adalah untaian jengkol. Untaian utuh jengkol yang masih berada pada dahannya. Baru sekali itu saya melihat jengkol utuh pada dahannya. Karena saya bukan penggemar jengkol, jadi buah itupun utuh tak terganggu.

Di keluarga kami, selain almarhum bapak, hanya adik lelaki terkecil dan ibu saya yang suka gulai atau balado jengkol. Yang lain tak ada yang suka. Baunya itu lho. Selagi mentah, baunya langu sekali … Kalau sudah matang dimasak …, sama saja. Karena itu, sama sekali tidak timbul keinginan untuk mencicipinya. Jadi sejak bapak saya meninggal dunia dan adik-adik menikah semua, jengkol tidak lagi terhidang di meja makan, kecuali kalau ada kerabat ibu  saya dari kampong menginap di rumah.
*****

Sabtu di minggu pertama bulan Agustus adalah semester break di CCF. Jadi saya punya cukup waktu di pagi hari untuk keliling halaman rumah. Melihat-lihat tanaman dan bebungaan yang tumbuh. Mengecek apakah stek adenium sudah tumbuh tunasnya, hingga sampailah saya di bawah pohon petai yang tumbuh berdampingan dengan pohon jengkol.

Wah… ada jengkol. Banyak sekali…………..  Entah kenapa terbersit tiba-tiba untuk memanggil Yana (Mulyana) si tukang kebun. Memintanya menurunkan jengkol yang terlihat sudah cukup tua. Dalam sekejap, diambilnya bamboo dan diikatkan pisau di ujungnya untuk pengerat batang untaian jengkol. Hanya beberapa untai jengkol saja yang diturunkan, ternyata sudah memenuhi setengah kantung kresek ukuran besar. Tidak terpikir sama sekali untuk apa jengkol-jengkol tersebut. Saya hanya tertarik pada untaiannya yang unik melingkar-lingkat.

Malam hari, tiba-tiba muncul ide … Kenapa tidak ditawarkan saja pada teman kantor? Siapa tahu ada yang suka makan jengkol. Walau dalam hati, agak ragu juga… heree geenee doyan jengkol…???? Nggak salah tuh…??? Ini jamannya keju…!!!

Walau begitu, saya tetap mengirim sms ke beberapa teman … Ada sambutan atau tidak, hari Senin, saya mau bawa jengkol-jengkol ini ke kantor. Syukur kalau ada yang mau. Kalau nggak, berikan ke Uzair saja. Biar istrinya jualan jengkol di warungnya. Nggak perlu bagi hasil …. Gratis deh….  Hitung-hitung beramal….

“Ada yang mau jengkol, nggak? Kalau mau …. hari Senin saya bawa deh…!!! Lumayan banyak lho…!!!, begitu kira-kira isi sms yang saya kirim ke 5 orang teman perempuan di kantor.
Minggu pagi, ada satu jawaban masuk.
“Pipiet mau bu…!!! Buat dibikin semur. Asyik …. Makan semur jengkol!!!”.
Yang lain masih bungkam… entah karena enggak suka jengkol, atau malu-malu Sore hari, ada sms masuk. Kali ini dari Ina..
“Nggak ah, mbak…!!! Nggak suka dan nggak tahu gimana masaknya…!!!” begitu isi sms nya. Yang lain masih tetap bungkam.
Ya sudah…... Jadi cuma Pipiet yang terang-terangan berminat sama jengkol gratis ini.

Senin pagi, sambil setir mobil, saya sempatkan kirim sms ke Pipiet.
“Saya bawain jengkol pesananmu. Nanti minta pak Utjen ya…!!!”
“OK …., thanks ya. Tapi aku baru bisa datang sekitar jam 15.00 lho”

Sampai di kantor, Ina minta beberapa untaian jengkol yang masih utuh. Kokon katanya karena bentuk untaian jengkol yang unik.
“Lucu bentuknya, mbak …!!! Anak-anakku belum pernah lihat jengkol utuh lho!”
“Iya tuh …. Bisa digantung di depan pintu…. Buat mainan angin”, yang lain menimpali, sambil mengamati untaian jengkol.
“Lha… terus, nanti mau diapain tu jengkol?”, tanyaku pada Ina.
 “Kalo anak-anak sudah liat, dikasiin ke tetangga aja. Rasanya, mereka doyan jengkol deh”.

Sambil memilih beberapa untaian jengkol yang panjang dan utuh, saya mengingatkan pak Utjen;
“Pak…. Si Pipiet mau. Jadi tolong dipisahkan ya… dia baru bisa datang siang nanti. Kalau ada yang tidak kebagian, bilang saja. Besok saya bawa lagi deh…! Yang penting, sisihkan untuk Pipiet dulu”, pinta saya pada pak tua yang sudah sedikit pikun ini.

Sore hari, usai shalat ashar, saya berpapasan dengan Pipiet yang agak manyun…
“ Pipiet nggak kebagian bu…”
“Ha….? Kok bisa sih? Kan tadi saya sudah pesan ke pak Utjen, sisihkan jengkol buat kamu”
“Eh … si Pipiet doyan jengkol…? Ngak salah lu…? Mau dibikin apaan”
“Ih …. Enak lho…. Dibikin semur, tahu…?!!”
“Gilee…. Miss Jengki …
Gayanya cewek Mall, makanannya semur jengkol” ramai gurauan di ruang keuangan sore itu. Meledek Pipiet yang kontan dapat julukan miss Jengki. Sarjana Arsitektur yang masih lajang ini, cuek saja mendengar ledekan teman-temannya. Dia, anaknya sangat helpful, dan karenanya selalu heboh dan panik, kalo ada sesuatu yang tidak beres.
 “Udah deh …. Nggak usah sedih. Nanti saya minta orang di rumah untuk nurunin jengkol lagi. Besok Pipit dapat prioritas milih jengkol deh….!!!”, saya menyahut sambil menekan tust, menelpon ke rumah.
*****

Begitulah, selama tiga hari berturut-turut, bak seorang juragan, saya membawa jengkol rata-rata satu kantung kresek ukuran besar. Mungkin sekitar 5 – 6 kg, karena terasa berat diangkat. Siapa dan kemana saja jengkol itu beredar, saya nggak perduli. Yang penting itu jengkol bermanfaat.

Konon kabarnya, Leny memberikan jengkol jatahnya ke ibu RT, tetangga depan rumahnya yang kemudian membuat balado jengkol. Usai memasaknya, ibu RT memanggil para tetangga untuk makan jengkol ramai-ramai. Jadi, usai pilkada hari rabu 8 Agustus…, para tetangga langsung pulang ke rumah, mengambil sepiring nasi panas untuk dibawa ke rumah RT dan makan balado jengkol beramai-ramai.

Adhe meminta pembantunya membagi-bagikan jengkol pada para tetangga. Ketika dilihat jengkol jatah tetangganya hanya sedikit, dia lalu bertanya;
“ Lho, kok sedikit sih? Rasanya tadi bawa jengkol cukup banyak. Sisanya mana?
“Ini bu ….”, kata sang pembantu menyerahkan kantung kresek berisi sebagian besar jengkol sambil malu-malu. Lebih banyak dari jatah untuk para tetangga.
“ Saya suka jengkol bu …. Jadi sisanya boleh saya minta, kan bu…?”
“Ya boleh… tapi jangan banyak-banyak dong….! Yang makan jengkol di rumah ini, kan cuma kamu sendiri!”

Cerita Pipiet, lain lagi. Keesokan hari setelah dia mendapat jatah jengkol yang ditunggu-tunggu, dia kirim sms, pagi-pagi;
“Bu… Pipiet datangnya agak siang ya… Mesti nganter bapak ke rumah sakit dulu…”
Wah… gawat…!!! Jangan-jangan si bapak kolaps gara-gara jengkol! Merasa sedikit berdosa, saya langsung menelpon Pipiet.
“Piet… kenapa bapakmu? Kebanyakan makan jengkol ya…?”
“Ah, nggak kok..!! Memang bapak sering kumat. Sejak kena stroke, hampir setiap tiga bulan sekali beliau kena serangan ayan”
“Beneran bukan karena jengkol ya…?!”, tanya saya untuk meyakinkan diri.
“Bener kok …, bapak, gak apa-apa..”
*****

Begitulah, cerita lain dari salah satu sudut Jakarta yang metropolitan. Mall dan apartment boleh dibangun untuk memenuhi Jakarta dan jadi bagian dari gaya hidup kaum urban. Pizza+pasta, sushi+sashimi, beefsteak, hamburger dan barbeque boleh jadi makanan orang-orang, terutama kaum muda di masa kini, menggantikan rujak cingur, karedok, tongseng, gudeg, rendang dan lain-lain.

Ternyata…………., makan jengkol rame-rame dengan tetangga masih tetap mengasyikkan. Dan ….. jadi juragan dadakan untuk memberikan jengkol serta mendengar cerita bagaimana teman-teman kantor berbagi dan menikmati kebersamaan yang guyub sambil menikmati kengkol balado dengan para tetangganya ternyata mengasikkan juga.

Ternyata…. sekantung jengkol bisa memberi kebahagian bagi banyak orang. Jadi, saya sudah berjanji pada teman-teman. Kalau tahun depan masih ada umur dan panen jengkolnya masih banyak, saya akan bawa jengkol lagi ke kantor. Hidup jengkol ……!!!!

Lebak bulus, 14 Agustus 2007 jam 22.45

Selasa, 14 Agustus 2007

Study Banding .....

Hampir sekitar satu bulan yang lalu, usai makan siang Big boss mencari saya. Tumben …..!!! Di kantor, saya tidak termasuk daftar “cari” sehari-hari kecuali kalau beliau sedang “berunding” dan ada dokumen yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Yang pertama dicari, pasti sekretarisnya. Lalu IN. Maklum saja, urusan yang saya pegang biasanya hanya “calon proyek”. Kalau sudah jadi proyek, sudah pasti pekerjaannya “dilungsurin” ke orang lain. Jadi, pekerjaan saya lebih banyak mengarah pada investasi dan masalah legal. Kelayakan proyek, Memorandum of Understanding dan perjanjian-perjanjian jadi makanan sehari-hari. Jadi, memang agak luar biasa kalau pada siang hari itu saya dicari. Nyarinya juga, heboh banget… seperti ada urusan penting.

Masih sambil berbicara di telpon, yang kemudian saya tahu beliau sedang bicara dengan managing director sebuah travel bureau langganannya, yang biasa menangani convention atau perjalanan-perjalanannya ke luar negeri, terutama untuk perjalanan yang agak rumit, beliau bertanya:

“Kota-kota satelit baru yang ada di sekitar Paris, apa saja?”
“Wah … rasanya sudah nggak ada lagi yang baru. Sudah jadi semua, pak!”
“Paling tidak … yang masih layak dikunjungi….!”
“Hm ……, Evry … boleh juga, atau La Defense dan Marne la Vallee.”, jawab saya sekenanya. Paling tidak 3 banlieu[1] itulah yang ada di kepala saya.

Evry masuk ke dalam daftar isi kepala saya, karena saya punya buku terbitan tahun 1980 berjudul “Evry, creer une centre ville[2]” yang diterbitkan oleh municipalite[3] Evry itu sendiri.

La Defense, yang terletak di barat Paris, ada dalam ingatan karena daerah ini terkenal dengan bangunan la Grande Arche de la Defense. Kalau nggak salah sebuah perkantoran, tiruan l”Arc de Triomphe dalam bentuk modern. Jujur saja, saya sendiri belum pernah mengunjungi La Defense selama 4 tahun tinggal di Stains, banlieu noir de Paris[4]. Selalu saja ada halangan untuk melihat bangunan tersebut. Mungkin karena La Defense merupakan wilayah kota modern, sehingga bagi saya, tidak terlalu menarik dikunjungi. Apalagi bila dibandingkan dengan keindahan bangunan, jembatan, patung dan berbagai peninggalan kuno yang ada di segala penjuru kota Paris.

Marne la Vallee, terletak di wilayah timur Paris dan dapat dicapai hanya dalam hitungan 20 menit saja dengan RER – reseau express regional[5]. Belakangan ini Marne la Vallee ramai dikunjungi dan menjadi salah satu tujuan wisata di Region Parisienne sejak dibangun Euro – Disneyland hampir dua dekade yang lalu. Anak, suami disertai dengan mertua saya, pernah mengunjunginya pada tahun 1993, saat suami kebetulan bertugas ke UK dan kami “menjemputnya” pulang. Saya sendiri, saat itu, memilih untuk menggelandang di Paris sendirian. Mencari  pesanan berbagai merek parfum yang dititipi oleh keluarga dekat.di La Fayette dan au Printemps[6] yang terletak di Bd Haussman dan sepatu Bally “bon marche[7] di rue Rivoli yang letaknya tidak jauh dari Musee du Louvre.

“Nanti saya browsing tentang ke 3 kota tersebut. Saya kirim kemana datanya…?”
“Fax saja ke H …. Biar nanti dia yang urus selebihnya.”
“OK …. Saya kirim segera. Minimal supaya ada sedikit  gambaran tentang kota/wilayah tersebut. Jadi nggak buta sama sekali”

*****

Kamis minggu lalu, big boss muncul lagi ke kantor setelah tiga hari absen. Beliau memang hanya muncul di kantor setiap hari Jum’at dan menghabiskan sepenuh hari kerja tersebut di kantor untuk koordinasi atau menerima tamu-tamu bisnisnya. Hari lainnya biasa dihabiskan di Senayan dan sepanjang minggu, hanya muncul di kantor di saat luang dan waktunya sama sekali unpredictable.

Rupanya, minggu terakhir bulan Juli hingga pertengahan Agustus adalah masa reses parlemen jadi anggota dewan yang terhormat berlibur dari masa-masa sidang yang lumayan ketat. Acara reses biasanya diisi untuk mengunjungi daerah pemilihan atau binaannya untuk mendengarkan aspirasi para konstituen. Begitu resminya. Ada juga yang mengisinya dengan kunjungan kerja atau study banding. Study banding ini jadi incaran terutama karena tujuan tempat studynya adalah negara-negara maju.

Adakah yang salah dengan studi banding? Sebetulnya sih … nggak ada yang salah, kalau dilaksanakan dengan maksud dan tujuan yang jelas dan hasilnya terukur dan bermanfaat bagi kelancaran pekerjaan kita. Atau minimal bisa menambah wawasan. 

Saya sendiri termasuk orang yang mendukung “studi banding” dalam berbagai bidang, walaupun itu hanya dilakukan sebagai “kamuflase” dari perjalanan wisata. Lho … kok bisa, ya…? Iya dong … kalau kita memang “pengamat” yang baik, maka segala yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari, pasti akan memberikan pengalaman yang berguna untuk “mengatur langkah” baik dalam perilaku, melaksanakan pekerjaan dan memberikan ide-ide baru yang segar dalam menyelesaikan pekerjaan, yang sekiranya sesuai dengan perjalanan dan pengalaman yang ada.

Dulu, jaman masih kuliah, studi lapangan seperti ini jadi penunjang kuliah dan tugas-tugas perencanaan arsitektur dan perkotaan. Coba bayangkan, bagaimana kita akan mampu “merancang” sebuah fasilitas transportasi modern lengkap dengan berbagai perangkat pendudkungnya seperti monorail, subway/metro dan lain-lain kalau kita sama sekali belum pernah mengalami dan merasakan “naik” moda transportasi tersebut.

Bagaimana kita mampu mendeskripsikan seluruhnya, bila sumbernya hanya berupa gambar, film atau textbook semata. Mengalaminya sendiri akan membawa nuansa yang berbeda dan kita akan semakin menjiwai apa yang akan kita deskripsi dan lakukan. Begitu banyak elemen-elemen kehidupan modern yang perlu kita rasakan sebelum kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin, yang jadi masalah adalah waktu kunjungan para anggota dewan tersebut. Bagaimana study banding itu, dalam arti bahwa para pelakunya harus berinteraksi dengan para pembuat kebijakan di Negara/kota yang dikunjunginya, bisa terlaksana dengan baik bila kunjungan itu dilakukan di tengah musim panas. Dimana semua orang di belahan utara khatulistiwa sedang menikmati liburan panjang musim panas. Tapi, tidak juga bisa disalahkan, karena hanya pada masa reses itu pulalah, para anggota dewan memiliki waktu yang luang. Apalagi, ada budget yang sudah dianggarkan untuk maksud tersebut dan kalau tidak digunakan, akan hangus.

Jadi, begitulah … minggu pertama bulan agustus 2007, ada sekitar 50 orang anggota salah satu komisi di parlemen yang melakukan perjalanan studi banding ke Paris untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Nice, Monaco, mount Tiltlis selama hampir 2 minggu. Sang ketua rombongan sangat piawai “mengawal” misi perjalanan tersebut dan mampu meyakinkan duta besar RI yang dikunjungi mereka, sehingga sang dubes hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti bahwa misi perjalanan tersebut memang sangat masuk akal walaupun bagi orang awam, terkesan hanya perjalanan wisata semata.

Big boss,  hanya mengikuti perjalanan tersebut hingga Paris saja, ikut melakukan courtesy visit ke kedutaan besar RI yang terletak di 49, rue cortambert Paris 16eme. Salah satu kawasan bergengsi di Paris. Mungkin beliau juga bergabung dengan rombongan, sekedar jalan-jalan sedikit di sepanjang Champs Elysees yang terkenal itu. Bagi beliau yang pengusaha, perjalanan ke luar negeri tentu bukan suatu hal yang aneh lagi.

“Kok nggak ikutan ke Nice dan Monaco sih, pak?”
“Nggak,lah … mati berdiri saya, kalo mesti ngikutin mereka jalan-jalan. Banyak kerjaan yang masih harus dilakukan di Jakarta”
“Ke Monaco, apa yang dicari…? Memang mau main judi?”
“Hehehe… biar anggota dewan yang bersih dan perduli itu tahu bahwa hasil judi kalau dikelola dengan baik, bisa dimanfaatkan buat pembangunan.”
“Lho … mereka ikut juga…?”
“Hahaha ….”

Begitulah… dalam diam, anggota dewan yang terhormat melewatkan masa resesnya dengan cara masing-masing. Setelah… 3 hari absen dari kantor, big boss muncul dan langsung ikut shareholder’s meeting di hari Kamis pagi. Seolah tidak terpengaruh oleh jetlag, sepanjang hari itu, beliau sudah disibukkan dengan berbagai acara hingga malam. Saya sendiri mendapat oleh-oleh cantik, yang diberikan pada keesokan harinya. Sebuah dompet bermerek LANCEL berwarna hitam … Asli dari Paris. Lumayan …..!!!




[1] Kota satelit
[2] Evry, menciptakan sebuah pusat kota
[3] Ketatakotaan
[4] Kota satelit hitam, karena mayoritas penduduknya berasal dari Negara-negara Afrika yang berkulit hitam
[5] Jaringan kereta api regional yang melayani wilayah Paris dengan kota-kota satelit sekitarnya yang biasa disebut dengan Region Parisienne
[6] Salah satu department store terkenal di Perancis. Sebelum krisis tahun 1997 sempat berniat masuk ke Indonesia dan membuka gerai di Ratu Plaza. Tapi kemudian batal.
[7] Murah meriah

Kamis, 09 Agustus 2007

Gila... kok ada yang mau "buang" uang 40 juta???


Kemarin, bertepatan dengan libur pilkada, ibu saya berpesan : "kalau ada orang yang mau liat Anthurium, suruh masuk aja. Siapa tahu harganya cocok. Lumayan bisa dipake untuk biaya cat rumah"

Saya mengangguk sambil tak acuh. Maklum saja ... saya nggak begitu yakin ada orang yang mau beli tanaman yang dihargai sebesar Rp. 35juta/pot, walaupun itu untuk sebuah tanaman daun indah yang konon lagi nge "trend".
Sekitar jam 09.00 pagi, adik lelaki saya datang didampingi satu orang lelaki, yang menilik dari penampilannya adalah "pedagang tanaman hias" kaki lima. Dia meneliti dua buah pot anthurium yang ada di teras belakang. Ditelitinya baik-baik terutama di bagian perakarannya. Entah apa yang dilihat dan ditelitinya.

Usai melihat-lihat, dia tanya berapa harga kedua pot anthurium tersebut yang menurutnya adalah Anthurium Jenmanii dan Anthurium Rafflesia. Adik saya menjawab bahwa kedua pot tersebut akan dilepas dengan harga Rp.50 juta. Saya diam saja karena tidak tahu bahwa ada kesepakatan antara adik dengan ibu. Sementara yang saya tahu, ibu membuka harga antara 30 - 35 juta. Si tukang tanya: "kalau hanya diambil Jenmanii saja, 30 juta boleh dong...?". Saya nggak mau komentar banyak. Tanaman itu milik ibu saya dan saya masih nggak terlalu yakin dengan omongan si "tukang kebun", walaupun sebagai orang yang ditugasi menjaga "kios tanaman hias" dia pasti tahu harga pasaran tanaman tersebut. Konon katanya... dua pot bunga ini akan dibawa ke "Jawa" untuk diperbanyak oleh bigboss dan si tukang masih harus melaporkan temuannya tersebut.


Sambil menunggu, adik mengkonfirmasi pada ibu, saya mengajak tukang keliling halaman melihat beberapa tanaman hias yang saya duga sejenis Anthurim berdaun indah juga.
Ternyata ... masih ada 2 pot Anthurium dengan panjang daun sekitar 30 - 35 cm. Katanya, jenis Wave of Love, satu pot jenis Garuda dan satu pot lagi Anthurium "golok". Begitu katanya. Wave of Love, Garuda dan Golok adalah Anthurium jenis lokal yang harganya tidak segila Rafflessia dan Jenmanii. Tapi.... lumayan mahal juga. Koleksi kami dinilai seharga antara 500 ribu hingga 1,5 juta per pot.   


Malam hari, adik saya memberi kabar, bahwa calon pembeli berminat dengan kedua pot Anthurium tersebut dan menawar harga total Rp.40 juta. Saya nggak habis pikir, kok ada orang yang mau "membuang" uang sebesar 40juta hanya untuk 2 buah pot tanaman berdaun "indah". Sudah sedemikian kayanyakah orang-orang Indonesia?

Rabu, 01 Agustus 2007

Super woman kah, anda?

Sudah hampir dua bulan, saya nggak sempat up date multiply. Itu berarti saya tidak sempat lagi menulis pengalaman atau apapun saja yang terjadi selama kurun waktu hampir dua bulan itu. Bisa jadi karena pikiran saya tidak lagi sempat mengembara atau bisa juga karena kejadian-kejadian menarik yang berlangsung selama ini tidak lagi sempat dicerna lebih mendalam. Tapi yang pasti …. ini menandakan bahwa otak, jiwa dan terutama fisik saya sedang lelah. Kalau fisik tidak lelah, tentu saya masih mampu meluangkan sedikit waktu menjelang tidur, seusai mandi dan shalat isya untuk membuka notebook. Menuliskan opini atau hanya sekedar catatan atas kejadian yang saya alami setiap hari.

Suami walaupun terlihat memaklumi kesibukan kerja istrinya, tetap saja masih terpancar rasa “kurang suka” di wajahnya berbalut rasa prihatin, melihat istri berangkat terburu-buru di pagi hari untuk pulang ke rumah dengan wajah lelah menjelang tengah malam.

Anak, sama saja. Walau saat berbicara di telpon terdengar “mau mengerti” bahwa ibunya tidak dapat menemani makan malam, tetap saja memprotes di keesokan paginya, atas ketidakhadiran ibunya pada saat makan malam.

Ini memang dilema pengaturan waktu bagi istri atau ibu rumah tangga yang bekerja. Khususnya mereka yang bekerja sebagai “kuli” …., bukan sebagai majikan bagi dirinya sendiri. Bagi perempuan yang masih bekerja pada jam kerja yang teratur yaitu 08.00 to 17.00, pengaturan waktu antara kewajiban professional dan kewajibannya sebagai istri dan ibu rumah tangga, mungkin tidak terlalu bermasalah. Namun tidak begitu dengan pekerja perempuan yang karena tugas dan tanggung jawab pekerjaan “memaksanya” untuk selalu siap bekerja atau dihubungi untuk masalah pekerjaan selama 24 hours dan 7 days a week. Apalagi manakala sang suami masih berpaham tradisional yang menuntut istri untuk siap “melayani” keperluan keluarga.

Kala sepasang manusia berjenis kelamin lelaki dan perempuan memadu janji untuk sehidup semati dan membentuk rumah tangga, pembagian porsi tugas sebagai pencari nafkah, mengurusi rumah tangga termasuk manajemen keuangan, mengurus anak termasuk juga pendidikannya seringkali tidak menjadi topik pembicaraan yang serius. Calon pasangan itu seolah-olah sudah mengerti bahwa kesemuanya akan berjalan secara alamiah. Masing-masing seakan-akan sudah mengerti akan hak, kewajiban dan tanggungjawabnya. Belum lagi bila menyangkut pada hak dan kewajiban pasangan suami istri di mata hukum. Hampir semua pasangan merasa bahwa kesemuanya akan berjalan aman-aman saja. Jarang ada calon pasangan suami istri yang berani menandatangani perjanjian pra nikah.

Hampir dua tahun yang lalu, saat kami berdiskusi dengan seorang teman perempuan dan akhirnya sepakat bahwa perjanjian pranikah layak ditandatangani menjelang pernikahannya, ternyata tidak mampu meyakinkan calon suaminya saat itu. Teman itu sekarang sedikit menyalahkan dirinya atas ketidakberdayaannya “memaksa” suaminya menandatangani perjanjian tersebut, manakala masalah rumahtangga terutama yang berkaitan dengan keuangan dan kewajiban "membantu mengurus bayi" mulai menjadi persoalan terutama dengan adanya intervensi dari mertua perempuan.

Problem mungkin masih bisa terhindari bila istri tidak bekerja, istri bekerja di rumah atau berwiraswasta. Mereka tentu bisa mengatur waktu kerjanya sekaligus mendedikasikan waktunya sama baik antara pekerjaan dan kewajiban rumah tangga.

Bagi istri tidak bekerja, ketergantungan keuangan kepada suami, akan membuatnya “relatif” lebih bisa menerima “tekanan” persepsi tradisi yang masih kental di masyarakat bahwa seorang istri dan ibu “wajib” mengabdi kepada suami, anak-anak dan kehidupan rumahtangganya. Menjaga dan mendukung agar karir suaminya terus berkembang dengan baik. Anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak baik yang membanggakan kedua orangtuanya. Itu sebabnya, bila tanpa terduga terjadi suatu masalah dalam rumahtangganya, masyarakat, tanpa mengetahui latar belakangnya, langsung menuduh bahwa masalah tersebut terjadi karena kesalahan istri atau ibu yang tidak mampu “mengendalikan” suami, anak dan roda kehidupan rumah tangganya.

Perempuan bekerja dan kemudian sekaligus menjadi istri dan ibu, bukanlah hal yang aneh pada jaman sekarang. Kesempatan memperoleh pendidikan yang setara dengan lelaki, penemuan alat kontrasepsi yang memungkinkan perempuan menikah untuk “memiliki” hak menentukan kapan dia berfungsi sebagai “pabrik anak” (walaupun tidak selamanya dapat dilakukan). Kesemuanya kemudian mengubah paradigma dan persepsi perempuan atas hak-hak dan kewajibannya baik sebagai istri, ibu maupun individu.

Sebelum akhir tahun 50an, paradigma pendidikan bagi anak perempuan dicekoki dengan ucapan “untuk apa sekolah tinggi, nantinya toh akan masuk dapur juga”. Dengan demikian perempuan yang menempuh jenjang pendidkan universitas masih dapat dihitung dengan jari. Namun kemudian mulai terjadi perubahan akses kepada pendidikan tinggi, Orangtua mulai dapat menerima bahwa perempuan tidak melulu disiapkan sebagai ibu rumah tangga saja, tetapi juga mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan anak lelaki, walaupun masih banyak di antara mereka yang kemudian tidak meneruskan kuliahnya atau tidak bekerja, setelah menikah baik karena alasan suaminya berkeberatan ataupun karena pilihannya sendiri. Tetapi, perempuan mulai melihat kesempatan pengembangan diri. Menjadi “seseorang” yang dipandang dan dihargai atas kemampuan dirinya. Bukan lagi hanya sebagai subordinate dari suaminya.

Masalah mungkin akan mulai timbul manakala salah satu pihak semakin larut pada haknya sebagai individu dan kemudian sedikit demi sedikit secara tidak sadar, karena kesibukannya mulai mengabaikan kewajiban dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Seorang lelaki yang tenggelam pada kehidupan individunya dan sibuk mengejar karir sangat diuntungkan oleh persepsi dan paradigma yang melekat di masyarakat sehingga jarang terdengar seorang istri memprotes kesibukan suami bekerja. Apalagi kalau karir suami kemudian melesat cepat dan membawa keberuntungan financial keluarga. Namun lain halnya apabila istri bekerja yang mengalaminya.

Seorang mantan menteri (perempuan) di jaman Suharto, pernah berkata pada saya, saat kami ngobrol dan saya menyatakaan kekaguman terhadap salah satu tokoh nasional perempuan.

“Jangan iri dengan keberhasilan mereka (para tokoh perempuan). Sebagian besar dari para tokoh itu memiliki kehidupan rumahtangga yang dingin. Sebagian besar lelaki Indonesia belum mampu menerima kenyataan bahwa secara professional istrinya memiliki kemampuan yang melebihi kemampuannya. Manakala dia mendapati diri “terkalahkan” oleh kemampuan istrinya, maka akan ada berbagai cara untuk “membalas” kekalahannya. Dari yang sangat halus hingga yang vulgar dan barbar. Itulah harga yang harus dibayar oleh perempuan yang ingin eksis untuk dirinya sendiri. Tentu tidak semuanya begitu. Tetapi lelaki generasimu (generasi saya, maksudnya) belum siap untuk menerima kenyataan itu. Mungkin generasi selanjutnya. Jadi …. Pandai-pandailah membawakan diri dalam mengelola rumahtangga dan mengatur keseimbangan hidup.”

Saya juga teringat obrolan dengan salah satu kakak ipar, sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu dia bercerita bahwa keluarga dekat besannya berkeinginan untuk menjodohkan anak perempuannya dengan keponakan lelaki kakak ipar saya. Sebetulnya mereka bisa jadi pasangan intelektual yang pas. Si gadis lulusan PTN terkenal di Indonesia dan menyandang 2 gelar master dari manca Negara sedangkan si lelaki adalah lulusan sarjana dan master di Amerika Serikat. Namun saat kakak ipar menjajaki niat tersebut kepada keponakan lelakinya, ternyata sang keponakan menolak ide perjodohan tersebut. Alasannya sangat sederhana …. :

“Perempuan itu terlalu pandai. Saya hanya ingin memiliki istri yang mampu dan pandai mengatur rumahtangga serta mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya kelak. Saya tidak ingin memiliki istri yang darinya saya hanya mendapatkan “ceramah akademis” dan adu argumentasi yang menyala-nyala.”

Begitulah dilematika kehidupan perempuan. Akan kemana pendidikan dan intelektualitas manakala dia memasuki kehidupan rumahtangga. Pekerjaan memberikan akses independensi keuangan bagi perempuan. Manakala  perempuan memiliki pekerjaan, karir dan tentunya kondisi keuangan yang baik yang membuatnya merasa sangat independent, maka tentu tidak dapat disalahkan bila perempuan menuntut hak dan kewajiban yang sama dengan suaminya.  tidak lagi tergantung kepada suami. Tentu tidak dapat dihindari, akan terjadi konflik berkepanjangan di dalam rumah tangga yang dapat berbuah perceraian bila tuntutan perempuan tidak dapat dipenuhi suami. Mungkin itu pula yang menyebabkan usia pernikahan lelaki maupun perempuan menjadi semakin tinggi dari tahun ke tahun, sebagaimana tingkat perceraian.

Lebak bulus 2 – 29 juli 2007 jam 23.55

Selasa, 31 Juli 2007

Majelis Rumpi Sabtu pagi

Majelis rumpi hari sabtu pagi berakhir tanggal 28 juli yang lalu. Ini nama yang kami berikan buat classe conversation au centre culturelle francaise alias Pusat Kebudayaan Perancis – annexe yang berlokasi di Jl. Wijaya I Jakarta Selatan. Kali ini kami akan break selama satu minggu saja. Biasanya break antar semester berlangsung selama satu bulan, tapi kali ini, diperpendek selama satu minggu saja.

Namanya juga classe conversation, jadi acara rutinnya ya ngobrol. Topiknya macam-macam. Bisa diambil dari kejadian sehari-hari maupun berita politik, ekonomi yang agak serius atau gossip seputar selebriti.

Namanya juga ngobrol, jadi grammaire tidak menjadi perhatian utama bagi sebagian besar peserta kursus. Maklumlah… kalau kita masih berkutat dengan grammaire, ditanggung pasti, ngomongnya nggak lancar. Takut salah …. Takut ditertawakan orang… akhirnya, pembicaraan menjadi tersendat-sendat. Tapi kalau kita “tancap” terus dan berani malu ….. ya, bisa dibayangkanlah…. Rame omongannya, tapi ditanggung nggak keruan bentuk kalimatnya. Itu teorinya….. kenyataannya lain lagi, pembicaraan tetap saja tersendat. Mungkin karena orang Indonesia umumnya agak malas buka kamus…, jadi kosa kata yang dikuasainya relatif sedikit  dan belum mampu menunjang pembicaraan.

Orang yang ingin belajar bahasa Perancis dengan serius, tentu tidak akan betah dengan suasana yang ada di kelas ini. Nggak bikin peserta kursus menjadi lebih pintar. Yang ada malah degradasi kemampuan… Kemampuan menyusun kalimat yang baik dan benar …., kehilangan kemampuan  atas ejaan bahasa dan conjugasion dan kemampuan menulis. Inilah yang, paling tidak, saya rasakan. Sekarang saya tidak mampu lagi menulis surat berbahasa Perancis dengan baik dan benar, padahal surat menyurat dalam berhubungan dengan instansi pemerintahan, menjadi tugas saya, saat mendampingi suami belajar di Perancis sekitar 25 tahun yang lalu. Kalau tidak, urusan mendapatkan “Allocation Familliale” atau Securite Sociale secara gratis, tidak akan tertangani. Ya sudah, terima nasib saja. Apalagi bahasa Perancis bukan bahasa yang dipergunakan dalam dunia pergaulan global pada umumnya.

Itu sebabnya, classe conversation tidak berisi orang-orang yang ingin belajar bahasa Perancis dengan serius, tetapi oleh orang-orang yang hanya ingin mengisi waktunya dan keluar dari rutinitas kerja. Bertemu dengan orang di luar dari kesehariannya. Katakanlah semacam clubbing.

Jadi, salah satu topik pembicaraan minggu lalu adalah tentang “pernikahan diam-diam SBY”, sebelum yang bersangkutan masuk pendidkan di Akademi Militer di Magelang. Ini gossip basi yang pernah ramai dibicarakan di berbagai mailing list menjelang pemilihan umum tahun 2004 yang lalu. Tapi kalau pertanyaannya ditujukan kepada perempuan (karena kebetulan mayoritas peserta kursus adalah perempuan), tentu menarik juga menyimak jawaban-jawaban yang meluncur dari mulut-mulut cerewet lintas generasi. Tanggapan ibu-ibu berusia di kisaran umur 50 tahun tentu berbeda dengan tanggapan “anak-anak”nya yang berumur di bawah 30 tahunan.

Pertanyaannya begini …. “a la place d”Ani Yudhoyono, que feriez-vous en apprenant le premier marriage du mari?”[1] Bagi saya, jawaban pertanyaan tersebut mengingatkan pada kisah tetangga rumah hampir 15 tahun yang lalu.” Kisahnya begini;

Tetangga rumah saya itu pasangan yang sudah memiliki sepasang anak. Si istri sedang mengambil notariat di UI sedangkan suami adalah presiden direktur dari sebuah BUMD. Orangnya tinggi besar, Gagah dan ganteng. Walaupun berasal dari “sebrang” namun tutur katanya sopan, ramah dan teratur. Berbeda dengan istrinya yang terkesan agak tinggi hati. Jadi, tidak heran bila si istri menduga bahwa suaminya banyak memiliki extra marrital’s affair. Apalagi (mungkin) karena kesibukannya, beliau seringkali tiba di rumah menjelang tengah malam. Ini tentu memicu pertengkaran yang berkepanjangan.

Konon, dalam satu pertengkarannya, si istri menyatakan…..;
“Kalau tahu begini rasanya dikhianati suami, lebih baik kita tidak memiliki rumah dan segala kemewahan ini. Orang yang tinggal di kolong jembatan dengan suami yang setia, tentu hidup lebbih bahagia daripada saya.”
Begitu si istri merajuk suaminya yang baru saja tiba di rumah di suatu tengah malam.

Suami yang kelelahan … entah karena lelah “beneran”, atau merasa disindir, tentu merasa sebal. Harapan bisa beristirahat dengan nyaman setelah lelah bekerja sepanjang hari di rumahnya yang besar, malah disambut dengan sindiran tajam, lalu meluapkan kemarahannya ;
“Kalau kau merasa tidak bahagia tinggal di rumah ini ….silakan keluar dan tinggal di kolong jembatan dengan suami impianmu itu…!!!”

Si istri kontan terdiam, kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan suaminya yang telak mematahkan rajukannya. Tentu dia tidak akan pernah rela meninggalkan rumah mewah dan segala kenyamanan hidupnya. Semua kehidupan yang menjadi impiannya dan diperjuangkan sedikit demi sedikit sejak awal masa pernikahan yang sederhana dulu. Dia juga tidak akan rela melepaskan kenyamanan itu untuk memberikan tempat dan kenyamanannya  kepada seorang perempuan lain, apabila dugaannya bahwa suami memiliki “perempuan lain” dalam hidupnya.

Bagaimana mungkin…., bertahun-tahun bahu membahu dengan suami untuk meraih kenyamanan hidup dalam bentuk harta, jabatan dan nama baik, lalu saat semuanya telah tergenggam, datang “orang baru” menikmati hasil perjuangannya??? Tidak…. Tentu tidak akan dilepaskannya posisi yang nyaman ini. posisi yang sebagai istri yang memberikannya akses pada kekayaan, posisi terhormat di keluarga maupun masyarakat sebagai istri dari suami “yang berhasil” dalam karirnya. Dengan berbagai cara, akan dipertahankannya status sebagai istri.

Itukah yang ada di dalam benak para istri para pejabat, pengusaha atau para lelaki “kaya dan berhasil” lainnya, yang dikhianati oleh suami. Apalagi kalau perempuan-perempuan itu hanya ibu rumah tangga yang sudah merasa cukup nyaman dengan statusnya sebagai subordinate dari suaminya. Tentu posisi tawarnya untuk menuntut kesetaraan dalam berbagai segi kehidupan rumah tangga semakin lemah dan dia hanya bisa menerima suratan takdir. Apapun yang terjadi.

Lebak bulus 30 juli 2007 jam 20.30


[1] sebagai Ani Yudhoyono, apa yang akan anda lakukan, mendengar berita pernikahan pertama suami?

Selasa, 19 Juni 2007

The Princess


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Jean P. Sasson
http://www.jeansasson.com/princess_trilogy.htm
Princess adalah salah satu trilogy dari Jean P Sasson. Dua buku lainnya adalah Princess Sultana’s Daughters dan Princess Sultana’s Circle.

Jean P Sasson, pengarang buku Princess, bertemu dan berkenalan dengan Sultana (bukan nama sebenarnya) salah satu cucu King Abdul Aziz, pendiri dinasti Al Saud pada tahun 1983 dan berhubungan erat hingga tahun 1991, saat Jean P Sasson benar-benar meninggalkan Saudi Arabia. Keakrabannya dengan Sultana, telah menjadikannya sebagai tempat Sultana mencurahkan isi hati, mimpi-mimpi dan keinginannya untuk “memerdekakan” perempuan Arab dari “penjajahan” kaum lelaki bangsanya.

Ini buku yang bercerita tentang kisah nyata kehidupan para putri kerajaan Saudi Arabia dan tercermin dalam kehidupan putri Sultana, salah satu cucu King Abdul Aziz. Ayah Sultana adalah anak dari satu di antara 300 orang isteri King Abdul Aziz. Dari istri-istrinya tersebut, King Abdul Aziz memiliki tak kurang dari 50 anak lelaki dan 80 anak perempuan dan ayah Sultana merupakan satu di antara 50 anak lelaki Abdul Aziz. Dinasti Al Saud, hingga kini merupakan penguasa Kerajaan Saudi Arabia.

Sultana adalah anak bungsu dari isteri pertama ayahnya. Keluarga mereka hanya memiliki satu orang anak lelaki, Farouq, yang cepat menjadi "raja" di keluarga dimana segala titahnya wajib dituruti. Sebagaimana keluarga Arab, anak lelaki merupa "harta berharga". Anak lelaki merupakan kebanggaan sementara anak perempuan selalu merupakan "bencana keluarga" Paham dan tradisi ini masih lekat seolah mewarisi tradisi masa jahiliyah sebelum turunnya agama Islam.

Sultana kecil tumbuh dalam pemberontakan. Otaknya yang cerdas seakan meraba dan kemudian secara perlahan-lahan melihat berbagai "penyimpangan" ajaran agama Islam di dalam kehidupan keluarga Arab. Ajaran Islam yang meninggikan harkat perempuan di dalam masyarakat maupun keluarga serta memberikan perlindungan kepada perempuan diinterpretasikan dengan pemahaman patriarchat yang memutarbalikkan esensi ajaran agama.

Perbedaan perlakuan kepada anak perempuan dan anak lelaki, yang terjadi di rumahnya, sangat terasakan dengan kelahiran Farouq di dalam keluarga. Serentak, Farouq mendominasi kehidupan keluarga, menyisihkan kepentingan anak-anak lainnya yang terlahir lebih dahulu maupun terhadap Sultana. Apalagi, ternyata kelahiran Farouq merupakan kelahiran lekaki satu-satunya di dalam keluarga, menjadikan ibu Sultana terbelenggu rasa khawatir, bahwa kelak suaminya akan menambah dan menambah lagi isteri baru demi mendapatkan banyak anak lelaki sebagai “kekayaan dan kebanggaan” keluarga.

Sultana juga melihat dan merasakan kegetiran kehidupan kakak perempuannya Sarah, terutama saat kakaknya Sarah yang saat itu baru berumur 17 tahun, dipaksa menikah dengan pria yang berumur 62 tahun dan berstatus sebagai isteri ke tiga. Sarah sebagaimana perempuan Arab lainnya, telah mengenakan cadar saat berumur 15 tahun, yaitu ketika mendapatkan menstruasi, Sarah yang cantik dan pandai terpaksa mengubur cita-cita dan minatnya dalam bidang seni. Kegetiran dan ketidaksiapannya menghadapi pernikahan akhirnya membuat Sarah nekat mencoba menghabisi hidupnya.

Sultana sendiri akhirnya beruntung memperoleh suami yang dapat memahami cita-citanya untuk membebaskan belenggu “kekuasaan” lelaki dalam kehidupan perempuan. Mereka hidup bahagia di tengah pergulatan hati Sultana melihat dan merasakan penderitaan para wanita disekitarnya, walau kebahagiaan tersebut akhirnya ternodai saat suami Sultana menyatakan akan mengambil istri kedua. Hal mana menyebabkan Sultana membawa anak-anaknya “kabur” dari Saudi Arabia, demi memprotes keinginan suaminya tersebut.

Buku ini semakin memperkuat dugaan bahwa kehidupan sosial di Saudi Arabia “masih” belum beranjak dari tradisi maskulinitas jaman jahiliyah yang sangat jauh dari ajaran agama Islam yang “meletakkan” perempuan pada posisi terhormat. Perempuan Arab masih menjadi obyek seksual dari para pria dan bahkan yang paling parah, persepsi pria Arab terhadap perempuan non Arab, yaitu bahwa perempuan non Arab adalah semata-mata obyek seksual/pelacur.

Lelaki Arab juga “mewajibkan” perempuan Arab menjaga keperawanannya hingga saat waktunya menikah. Namun, di lain pihak para lelaki Arab dengan bebas merdeka melakukan hubungan seksual dengan perempuan non Arab yang berprofesi sebagai pelayan rumah mereka.

Ketertutupan hubungan perempuan – lelaki di Arab membuat mereka, para lelaki dan perempuan Arab memiliki persepsi yang sangat “primitif” atas hubungan terbuka antara lelaki dan perempuan seperti yang terjadi di Negara non Arab. Ketidaktahuan mereka tentang hubungan lelaki dan perempuan di luar hubungan seksual membuat mereka seakan “tidak bisa menerima” adanya hubungan professional atau kesetaraan antar lelaki dan perempuan.

Itu mungkin yang menyebabkan para lelaki Arab selalu mencari kesempatan untuk melakukan hubungan seksual saat berada di luar Arab dan bahkan tidak jarang dari mereka yang melakukan perjalanan setidaknya 4 kali setahun keluar Arab bahkan hingga ke Indonesia untuk mencari kesenangan duniawi (kawin kontrak atau bahkan hanya mengejar objek wisata seksual). Konon, ada kelompok keluarga kerajaan yang saat ini sudah melebihi jumlah 20.000 orang, setiap minggu mengirim satu pesawat ke Paris untuk membawa perempuan penghibur ke beberapa kota/klub tertentu di Arab untuk melayani mereka

Di samping itu, fakta bahwa Rasulullah SWT berasal dari tanah Arab membuat mereka “merasa” memiliki derajat yang lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain di dunia. Hal yang tentunya sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam yang secara tegas menyatakan bahwa yang membedakan manusia di mata Allah SWT adalah ketaqwaannya.

Buku ini memang layak dibaca agar kita mengerti, sebaiknya Indonesia segera menghentikan pengiriman TKI ke Timur Tengah. Namun membaca bukuini sekaligus menyisakan kepedihan karena ajaran Islam yang sesungguhnya sangat “human” dijungkir-balikkan justru oleh orang Arab. Orang-orang sebangsa dengan Rasulullah SWT. Penerbitan buku ini, bukan tidak mungkin menjadi entry point untuk melecehkan ajaran Islam.

Selasa, 12 Juni 2007

Nostalgia

Mungkin ini penyakit orangtua .... Suka bernostalgia, mengingat-ingat kenangan masa lalu baik yang indah maupun yang sedih. Itu sebabnya, saat angka 40 tahun sudah terlewati... kita akan sangat senang menghadiri reuni dengan teman-teman sekolah/kuliah...
Banyak ragam untuk bernostalgia. Yang suka travelling akan menapak tilasi tempat-tempat yang pernah dikunjunginya di masa lalu, terutama tempat-tempat yang membawa kenangan manis. Yang suka makanan enak, akan mengejar tempat yang menjual makanan kesukaan di masa lalu terutama yang sekarang dipasarkan dengan label "dimasak dengan resep keluarga". Penggemar makan enak ini bisa gila-gilaan. Entah karena makanannya yang enak atau sekedar snob. Teman saya pernah terbang pergi-pulang ke Batam hanya sekedar untuk makan siang dengan menu gulai kepala ikan. Nah... yang senang lagu.... akan mencari lagu-lagu kuno...

Saya sebetulnya bukan penggemar salah satu aliran/genre musik yang fanatik. Apapun yang enak didengar saya nikmati. Mulai dari klasik, rock, R&B, pop, dangdut sampai musik kroncong dan tradisional (kecapi, suling, saluang, gamelan dll).Yang penting nyaman ditelinga dan ini sangat relatif.

Jujur saja, jangan ditanya nama penyanyi jaman sekarang, baik penyanyi lokal, apalagi penyanyi asing. Nggak ada yang nempel di kepala karena semua masuk ditelinga. Kalo enak... ya dinikmati tanpa harus mengetahui nama penyanyi atau nama lagunya.
Week end lalu, saat menemani suami beli cartridge, kami berpisah di lantai dasar Pons square - lebak bulus. Suami naik ke lantai 4, lantainya peralatan komputer. Sedang saya masuk ke atm. Usai dari atm, sambil menunggu saya melihat-lihat MP3. Siapa tahu ada yang berkenan. Repotnya, saya nggak kenal judul lagu dan penyanyi/grup band yang sekarang ini lagi ngetop. Jadi yang dicari, pasti oldies, baik lokal maupun yang berbahasa asing. Walhasil... dapatlah 3 buah cd MP3 dari Santana dan dua buah CD MP3 lagu Indonesianya Tetty Kadi, Ernie Djohan, Lilies Suryani, Bob Tutupoli. Yang paling menyenangkan, saya dapat lagu-lagunya The Rollies yang memang sudah lama saya cari. Selain itu dapat Audio disk Celine Dion (cover d'Elles), Bimbo, Balawan dan satu lagi cd gitar.

Wah seneng banget deh... di rumah beberapa lagu pilihan di convert ke audio supaya bisa dipasang di mobil. Lumayan, sudah dapat sekitar 55 buah lagu oldies yang converted ke dalam 3 buah disk pengisi cd di mobil. Tinggallah anakku yang ngomel.... Ih... mama, lagu di cd nya kuno banget...
Ya.... namanya juga nostalgia

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...