Allah telah menetapkan rejeki manusia.
Rejeki kita tidak akan pernah bertambah atau berkurang kecuali atas ijinnya.
Kalimat-kalimat seperti itu pasti sudah sering kita dengar namun seringkali kita tidak peduli.
Pagi ini, menjelang berangkat kerja, sambil mengantar anak sekolah, pembantu rumah masuk dan mengatakan bahwa ada seorang ibu yang memaksa masuk
halaman rumah untuk menawarkan barang. Pembantu yang tahu kebiasaan saya
hanya belanja seperlunya saja dan sangat terjadwal, tentu sudah berusaha
menolak,. Apalagi, hari masih pagi dan saya repot dan tergesa-gesa untuk
berangkat kerja. Namun demikian saya meluangkan waktu untuk menemui
perempuan tersebut.
Perempuan gemuk berwajah dan logat khas sumatera utara menawarkan produk
pembersih rumah. Saya berusaha menolak dengan halus dan menyatakan bahwa
barang-barang tersebut tersedia dengan lengkap di rumah, karena itu merupakan barang yang masuk daftar wajib belanja bulanan. Dia tetap memaksa dan menyatakan bahwa barang dagangan itu untuk memberi makan anak yatim. Namun saya "berburuk sangka", dan memastikan bahwa perempuan tersebut pasti berbohong dengan mengatasnamakan anak yatim agar barang dagangannya laku. Hal ini sudah sering kali terjadi dan lumrah, sehingga masih dengan nada baik saya tetap bersiteguh menolak tawaran tersebut.
Mangkel karena bujukannya tidak berhasil, tanpa pamit, dia langsung pergi.
Melihat dia pergi, sayapun langsung menuju mobil seraya menjawab pertanyaan
suami tentang kejadian yang baru saja berlangsung. Sambil mengeluarkan mobil, saya berpesan pada pembantu agar menggembok saja pintu pagar dan berhati-hati dalam menerima tamu. Apalagi beberapa hari sebelumnya ada 2 orang lelaki yang berusaha masuk rumah dengan dalih "panggilan ibu" untuk membetulkan AC (padahal di rumah sama sekali tidak memasang AC)
Subhanallah ...... entah apa yang menyebabkannya ... kelalaian atau memang
garis takdir Allah yang terjadi untuk memperingatkan saya, batas tembok yang
sudah 5 tahun saya lewati dengan baik dan selamat, pagi ini terserempet
mobil. Maka penyoklah bumper kanan depan.
Saya terhenyak ... astaghfirullah.... sungguh besar perasaan bersalah saya
pagi ini. Saya sudah berburuk sangka pada ibu itu. Mungkin dia benar ....
menjual produk pembersih itu untuk anak yatim, entah apakah itu anak asuh
atau anaknya sendiri. Kalau saja saya rela mengeluarkan uang untuk membeli produk tersebut, mungkin mobil saya tetap mulus, berpahala ... (mungkin) dan tidak tidak rugi karena saya memiliki produk pembersih tambahan. Tapi nasi sudah menjadi bubur .... walaupun ada asuransi yang akan menyelesaikan kerusakan mobil, tapi saya akan kehilangan waktu untuk mengurus mobil tersebut..... Saya sudah kehilangan muka di hadapan Allah yang Maha Pemurah..
Yang paling layak dicintai adalah cinta itu sendiri dan.. Yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri #BadiuzzamanSaidNursi
Sabtu, 31 Desember 2011
Toilet - Cermin kesehatan serta kondisi sosial/budaya bangsa
Hari minggu yang lalu, saya membaca di harian Republika mengenai profil ibu Naning Adiwoso, mantan ketua umum Himpunan Desainer Interior Indonesia - HDII dalam memperjuangkan standarisasi toilet umum.
Seperti yang beliau katakan, kelihatannya kok sepele sekali, seorang Arsitek - Interior jebolan satu Universitas terkenal di USA yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di luar negeri mengikuti bapaknya yang diplomat, berbicara mengenai toilet umum. Seperti kurang kerjaan ..... mungkin itu pendapat mayoritas masyarakat kita.
Membaca isi wawancara dengan beliau, saya sangat sepakat bahwa pada toilet itulah bermula kesehatan kita dan kemudian berkembang lebih jauh lagi hingga menjadi cerminan kondisi sosial/budaya suatu bangsa.
Belakangan ini, kita banyak membaca berita dikoran-koran mengenai wabah penyakit polio, campak, diare, DBD hingga kekurangan gizi yang berakibat pada busung lapar. Kalau kita mau sedikit cermat memperhatikan wabah-wabah tersebut, maka penyebab utama dari percepatan penyebaran wabah penyakit-penyakit tersebut adalah disebabkan oleh buruknya kualitas sanitasi lingkungan hidup kita.
Tidak perlu jauh hingga pelosok desa, tidak jauh dari kemegahan bangunan di sepanjang Jl. MH Thamrin atau jalan Tol menuju bandara Sukarno Hatta - Cengkareng, dengan jelas akan terlihat betapa kumuhnya lingkungan hidup kita. Air kali yang hitam keruh, penuh sampah dan berbau. Tepat tinggal yang seadanya, dari bilik bambu/kardus di pinggiran tumpukan sampah/limbah rumah tangga dan pasti tanpa fasiltas MCK. Jangan lagi kita bicara saluran pembuangan kota ..., kalaupun ada, maka campur baurlah disana dan sebagian besar mampat karena sampah. Bahkan kali yang dulu kala menjadi sumber air utama bagi kehidupan kita pun keruh, kotor dan bersampah. Padahal, sumber air baku bagi PAM adalah sungai-sungai yang telah tercemar itu.
Tidak salah, bila dalam kondisi seperti itu, maka wabah penyakit akan mudah terbawa terbang olet lalat atau debu-debu yang telah bercampur dengan kotoran dan dari sumber air baku PAM kita
Apakah hal ini karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan, baik karena kemiskinan (tidak mampu menyediakan fasilitas MCK), atau karena rendahnya pengetahuan tentang kebersihan lingkungan. Masyarakat miskin pasti tidak akan mampu menyediakan fasilitas MCK pribadi. Jangankan untuk itu, dengan tinggal di rumah kardus/lingkungan kumuh, makan seadanya 3 kali sehari saja belum tentu mereka mampu dan menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Jadi, itu adalah kewajiban pemerintah untuk memperbaiki/membenahi lingkungan hidup mereka sekaligus memberikan kail agar mereka bisa meningkatkan taraf hidupnya secara bertahap.
Saya pernah melihat suatu dokumentasi perbaikan lingkungan, disuatu desa nelayan di Jawa Tengah. Program perbaikan yang dilakukan oleh Dr.Ir. Andy Siswanto dkk, itu dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Dengan pendekatan yang sangat persuasif, masyarakat merelakan lingkungan hidupnya ditata ulang tanpa ganti rugi sedikitpun. Ini memperlihatkan betapa sesungguhnya masyarakat kita haus akan perhatian serius dari pemerintah untuk memperbaiki kehidupannya.
Kembali kepada masalah toilet (baik toilet pribadi maupun toilet umum), ada 2 pengalaman yang tidak dapat saya lupakan. Yang pertama... seorang kawan mengatakan, bila kita ingin mengetahui tingkat kebersihan seseorang, mintalah ijin untuk ke toilet saat kita mengunjungi rumahnya. Di tempat itulah kita bisa mengukur kebersihan orang itu.
Yang kedua, penggunaan toilet umum yang tidak jelas kebersihannya akan menulari kita dengan segala macam penyakit yang tidak terduga. Hal ini berkaitan dengan kejadian 25 tahun yang lalu, saat saya berjalan-jalan dengan suami di Paris. Toilet umum di kota itu pasti bersih, dengan air yang berlimpah. Tetapi usai kembali ke kota tempat kami tinggal, saya mengalami sulit buang air kecil yang dalam waktu 24 jam langsung keluar darah. Terpaksa saya ke dokter dan setelah menanyakan kegiatan saya selama 1 minggu sebelumnya, dia mengatakan bahwa hal itu dikarenakan saya telah menggunakan toilet umum dan hal itu banyak dialami oleh, perempuan. Sejak peristiwa itu, saya menjadi trauma menggunakan toilet umum.
Keengganan menggunakan toilet umum, banyak dirasakan orang. Bagaimana mungkin kita menggunakan toilet umum, apabila toilet tersebut berbau tak sedap dan jorok. Namun menahan rasa ingin ke toilet pun bukan hal yang mudah. Jangan-jangan malah akan mengakibatkan kita menjadi sakit.
Bagi masyarakat golongan menengah - atas, mungkin tidak bermasalah yang terlalu besar. Shopping mall/plasa kelas atas atau hotel-hotel mewah berbintang pasti menyediakan fasilitas tersebut dengan baiknya. Tapi bagaimana bila kita sedang berjalan-jalan di keramaian umum, katakanlah saat berbelanja ke pasar atau membawa anak-anak ke Kebun Binatang Ragunan,saat kita menunggu di halte busway yang nyaman itu atau bahkan di kawasan wisata yang banyak bertebaran di bumi Indonesia ini? Hampir seluruh fasilitas toilet yang tersedia, tidak memadai. Jorok, berbau dan kadang-kadang kran airnya macet. Jangan lagi kita melihat dan menilainya dari segi kenyamanan dan faktor higienis. Haruskah kita menderita untuk menunggu hingga kembali ke rumah/hotel tempat kita menginap.
Seorang teman pernah mengatakan... pergilah ke mesjid, di sana kita harus ber wudhu dulu sebelum shalat. Jadi pasti ada air. Betul ada air... tapi apakah toiletnya bersih tak berbau dan nyaman? Belum tentu..... Air memang ada, tetapi banyak sampah bertebaran di lantai. Pengurus mesjid mungkin lupa atau tidak tahu, bahwa perempuan yang menggunakan toilet terkadang memerlukan tempat sampah untuk membuang sanitary napkins atau kertas pembersih. Maka, lantai toiletlah yang menjadi keranjang sampah. Padahal kita tahu benar ajaran kebersihan ... cuci tangan sesudah ke toilet. Tapi jangankan cuci tangan dengan bersih ... airpun kadang tak ada, apalagi sabun atau kertas pembersih.
Padahal Islam mengajarkan bahwa Kebersihan adalah sebagian dari iman. Namun ternyata ajaran itupun tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh penganutnya. Nun jauh di negara petro dolar, di hampir seluruh wilayah Timur Tengah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, toilet umum juga menjadi masalah. Betul bahwa di sekitar mesjid yang banyak air pasti ada toilet dan sayangnya masih berbau tak sedap. Mungkin karena toilet digunakan oleh berbagai bangsa di dunia dengan berbagai caranya, jadi sukar untuk mempertahankan standar kebersihannya. Padahal kita tidak berharap toilet mesjid seharum toilet di hotel berbintang. Yang pasti, jangan sekali-kali menggunakan toilet umum yang ada di sepanjang perjalanan antara Mekkah - Medinah, atau di hampir seluruh kawasan wisata di Timur Tengah, bila anda tidak ingin pingsan karena bau dan kotornya.
Ternyata memelihara kebersihan toilet tidak semudah menggunakannya. Entah karena keengganan atau karena hal itu adalah masalah sepele yang tidak perlu diperhatikan. Toh itu tempat kita membuang kotoran ..... jadi ya memang sewajarnya kotor. Padahal Justru karena itulah kita harus membersihkannya agar kekotoran itu tidak berubah menjadi sarang penyakit yang akan disebarkan oleh lalat dan kecoa.
Ibu Naning Adiwoso mengatakan, bahwa di beberapa negara (saya lupa negara apa yang disebutkannya), para aktifis kesehatan telah membuat standard pembuatan toilet umum yang mencakup segala aspek, antara lain kenyamanan, kebersihan, aksesibilitas dan higienis. Standard tersebut menjadi acuan bagi pembangunan toilet umum. Bahkan ada suatu kota yang sudah memiliki Peta Toilet Umum. Bukan main......
Di negara kita? Masih jauhlah ..... rasanya cukup agar kita, terutama kaum muslimin menyadari dan menerapkan aspek kebersihan tersebut dalam segala segi kehidupannya termasuk dalam mengelola toiletnya. Insya Allah ... semagat kebersihan itu akan menjalar dalam segala aspek kehidupan kita
salam
Seperti yang beliau katakan, kelihatannya kok sepele sekali, seorang Arsitek - Interior jebolan satu Universitas terkenal di USA yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di luar negeri mengikuti bapaknya yang diplomat, berbicara mengenai toilet umum. Seperti kurang kerjaan ..... mungkin itu pendapat mayoritas masyarakat kita.
Membaca isi wawancara dengan beliau, saya sangat sepakat bahwa pada toilet itulah bermula kesehatan kita dan kemudian berkembang lebih jauh lagi hingga menjadi cerminan kondisi sosial/budaya suatu bangsa.
Belakangan ini, kita banyak membaca berita dikoran-koran mengenai wabah penyakit polio, campak, diare, DBD hingga kekurangan gizi yang berakibat pada busung lapar. Kalau kita mau sedikit cermat memperhatikan wabah-wabah tersebut, maka penyebab utama dari percepatan penyebaran wabah penyakit-penyakit tersebut adalah disebabkan oleh buruknya kualitas sanitasi lingkungan hidup kita.
Tidak perlu jauh hingga pelosok desa, tidak jauh dari kemegahan bangunan di sepanjang Jl. MH Thamrin atau jalan Tol menuju bandara Sukarno Hatta - Cengkareng, dengan jelas akan terlihat betapa kumuhnya lingkungan hidup kita. Air kali yang hitam keruh, penuh sampah dan berbau. Tepat tinggal yang seadanya, dari bilik bambu/kardus di pinggiran tumpukan sampah/limbah rumah tangga dan pasti tanpa fasiltas MCK. Jangan lagi kita bicara saluran pembuangan kota ..., kalaupun ada, maka campur baurlah disana dan sebagian besar mampat karena sampah. Bahkan kali yang dulu kala menjadi sumber air utama bagi kehidupan kita pun keruh, kotor dan bersampah. Padahal, sumber air baku bagi PAM adalah sungai-sungai yang telah tercemar itu.
Tidak salah, bila dalam kondisi seperti itu, maka wabah penyakit akan mudah terbawa terbang olet lalat atau debu-debu yang telah bercampur dengan kotoran dan dari sumber air baku PAM kita
Apakah hal ini karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan, baik karena kemiskinan (tidak mampu menyediakan fasilitas MCK), atau karena rendahnya pengetahuan tentang kebersihan lingkungan. Masyarakat miskin pasti tidak akan mampu menyediakan fasilitas MCK pribadi. Jangankan untuk itu, dengan tinggal di rumah kardus/lingkungan kumuh, makan seadanya 3 kali sehari saja belum tentu mereka mampu dan menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Jadi, itu adalah kewajiban pemerintah untuk memperbaiki/membenahi lingkungan hidup mereka sekaligus memberikan kail agar mereka bisa meningkatkan taraf hidupnya secara bertahap.
Saya pernah melihat suatu dokumentasi perbaikan lingkungan, disuatu desa nelayan di Jawa Tengah. Program perbaikan yang dilakukan oleh Dr.Ir. Andy Siswanto dkk, itu dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Dengan pendekatan yang sangat persuasif, masyarakat merelakan lingkungan hidupnya ditata ulang tanpa ganti rugi sedikitpun. Ini memperlihatkan betapa sesungguhnya masyarakat kita haus akan perhatian serius dari pemerintah untuk memperbaiki kehidupannya.
Kembali kepada masalah toilet (baik toilet pribadi maupun toilet umum), ada 2 pengalaman yang tidak dapat saya lupakan. Yang pertama... seorang kawan mengatakan, bila kita ingin mengetahui tingkat kebersihan seseorang, mintalah ijin untuk ke toilet saat kita mengunjungi rumahnya. Di tempat itulah kita bisa mengukur kebersihan orang itu.
Yang kedua, penggunaan toilet umum yang tidak jelas kebersihannya akan menulari kita dengan segala macam penyakit yang tidak terduga. Hal ini berkaitan dengan kejadian 25 tahun yang lalu, saat saya berjalan-jalan dengan suami di Paris. Toilet umum di kota itu pasti bersih, dengan air yang berlimpah. Tetapi usai kembali ke kota tempat kami tinggal, saya mengalami sulit buang air kecil yang dalam waktu 24 jam langsung keluar darah. Terpaksa saya ke dokter dan setelah menanyakan kegiatan saya selama 1 minggu sebelumnya, dia mengatakan bahwa hal itu dikarenakan saya telah menggunakan toilet umum dan hal itu banyak dialami oleh, perempuan. Sejak peristiwa itu, saya menjadi trauma menggunakan toilet umum.
Keengganan menggunakan toilet umum, banyak dirasakan orang. Bagaimana mungkin kita menggunakan toilet umum, apabila toilet tersebut berbau tak sedap dan jorok. Namun menahan rasa ingin ke toilet pun bukan hal yang mudah. Jangan-jangan malah akan mengakibatkan kita menjadi sakit.
Bagi masyarakat golongan menengah - atas, mungkin tidak bermasalah yang terlalu besar. Shopping mall/plasa kelas atas atau hotel-hotel mewah berbintang pasti menyediakan fasilitas tersebut dengan baiknya. Tapi bagaimana bila kita sedang berjalan-jalan di keramaian umum, katakanlah saat berbelanja ke pasar atau membawa anak-anak ke Kebun Binatang Ragunan,saat kita menunggu di halte busway yang nyaman itu atau bahkan di kawasan wisata yang banyak bertebaran di bumi Indonesia ini? Hampir seluruh fasilitas toilet yang tersedia, tidak memadai. Jorok, berbau dan kadang-kadang kran airnya macet. Jangan lagi kita melihat dan menilainya dari segi kenyamanan dan faktor higienis. Haruskah kita menderita untuk menunggu hingga kembali ke rumah/hotel tempat kita menginap.
Seorang teman pernah mengatakan... pergilah ke mesjid, di sana kita harus ber wudhu dulu sebelum shalat. Jadi pasti ada air. Betul ada air... tapi apakah toiletnya bersih tak berbau dan nyaman? Belum tentu..... Air memang ada, tetapi banyak sampah bertebaran di lantai. Pengurus mesjid mungkin lupa atau tidak tahu, bahwa perempuan yang menggunakan toilet terkadang memerlukan tempat sampah untuk membuang sanitary napkins atau kertas pembersih. Maka, lantai toiletlah yang menjadi keranjang sampah. Padahal kita tahu benar ajaran kebersihan ... cuci tangan sesudah ke toilet. Tapi jangankan cuci tangan dengan bersih ... airpun kadang tak ada, apalagi sabun atau kertas pembersih.
Padahal Islam mengajarkan bahwa Kebersihan adalah sebagian dari iman. Namun ternyata ajaran itupun tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh penganutnya. Nun jauh di negara petro dolar, di hampir seluruh wilayah Timur Tengah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, toilet umum juga menjadi masalah. Betul bahwa di sekitar mesjid yang banyak air pasti ada toilet dan sayangnya masih berbau tak sedap. Mungkin karena toilet digunakan oleh berbagai bangsa di dunia dengan berbagai caranya, jadi sukar untuk mempertahankan standar kebersihannya. Padahal kita tidak berharap toilet mesjid seharum toilet di hotel berbintang. Yang pasti, jangan sekali-kali menggunakan toilet umum yang ada di sepanjang perjalanan antara Mekkah - Medinah, atau di hampir seluruh kawasan wisata di Timur Tengah, bila anda tidak ingin pingsan karena bau dan kotornya.
Ternyata memelihara kebersihan toilet tidak semudah menggunakannya. Entah karena keengganan atau karena hal itu adalah masalah sepele yang tidak perlu diperhatikan. Toh itu tempat kita membuang kotoran ..... jadi ya memang sewajarnya kotor. Padahal Justru karena itulah kita harus membersihkannya agar kekotoran itu tidak berubah menjadi sarang penyakit yang akan disebarkan oleh lalat dan kecoa.
Ibu Naning Adiwoso mengatakan, bahwa di beberapa negara (saya lupa negara apa yang disebutkannya), para aktifis kesehatan telah membuat standard pembuatan toilet umum yang mencakup segala aspek, antara lain kenyamanan, kebersihan, aksesibilitas dan higienis. Standard tersebut menjadi acuan bagi pembangunan toilet umum. Bahkan ada suatu kota yang sudah memiliki Peta Toilet Umum. Bukan main......
Di negara kita? Masih jauhlah ..... rasanya cukup agar kita, terutama kaum muslimin menyadari dan menerapkan aspek kebersihan tersebut dalam segala segi kehidupannya termasuk dalam mengelola toiletnya. Insya Allah ... semagat kebersihan itu akan menjalar dalam segala aspek kehidupan kita
salam
Planetarium dan Fasilitas pendidikan kita.
Planetarium dan Fasilitas pendidikan kita.
(tulisan ini pertama kali di upload pada tanggal 6 Juni 2005 di multiply)
Anak saya yang berumur 7 tahun senang sekali membaca ensiklopedi a la mickey mouse. Gambarnya lucu, penjelasannya singkat. Baru-baru ini, dia membeli seri angkasa luar dan mulai bertanya-tanya tentang alam raya ini, tentang planet, bintang dan matahari. Pertanyaannya lama-lama sukar dijawab dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Selain karena saya maupun suami kurang menguasainya, kami juga kesulitan mencari kata-kata yang mudah dimengerti anak seusia itu. Kesulitan tersebut membuat saya berencana mengajaknya ke Planetarium di Taman Ismail Marzuki - Cikini. Saya ingat, bahwa pada hari Sabtu dan minggu, planetarium membuka pertunjukan pada siang hari.
Dengan gembira, saya mengajak anak untuk mulai mencari nomor telpon Planetarium tersebut ke 108, dan kemudian menelpon Planetarium - Tim. Anak saya tentu masa gembira bukan kepalang, membayangkan diajak ke Planetarium menyaksikan simulasi alam raya. Sayang, kegembiraan itu pupus dalam sekejap dan berganti dengan tangis kecewa.
Informasi Planetarium menjelaskan bahwa Planetarium hanya buka hari Selasa s/d jum'at jam 16.30 dengan biaya Rp.3.500/orang dewasa dan Rp.1.750,-/anak. Sangat murah dibandingkan dengan pengetahuan yang diperoleh. Sayangnya, pertunjukan hanya dilakukan 1 kali/hari, karena peralatan dikhawatirkan rusak karena panas bila digunakan 2 kali pertunjukan/hari. Sedangkan pertunjukan hari Sabtu dan Minggu yang biasanya dilakukan sebanyak 4x, ditiadakan sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Hal ini dikarenakan proyektor sedang diperbaiki di Jerman sejak bulan Desember 2004 yang lalu.
Saya terhenyak karenanya.
Saya dapat membayangkan, alangkah sedih, kecewa dan geramnya, bang Ali Sadikin, Gubernur DKI Jaya yang mengupayakan terbangunnya Planetarium tersebut, seandainya beliau mengetahui keadaan ini. Jakarta yang metropolitan ini ternyata tidak sanggup memelihara apa yang sudah dibangun. Jangankan menambah fasilitas umum... memelihara yang sudah ada saja pemda DKI tidak mampu.
Mau tidak mau, ingatan saya melayang pada saat DKI Jaya di bawah kepemimpinan bang Ali. Lepas dari segala kontroversial dari segala kebijakannya, belialah satu-satunya gubernur yang membangun begitu banyak fasilitas sosial/umum bagi rakyatnya. Sebut saja, mulai dari program perbaikan kampung - MHT, pembangunan Gelanggang Remaja - lengkap dengan Kolam renangnya di setiap wilayah DKI, Taman Ismail Marzuki - Cikini, Kebun Binatang Ragunan, Gelanggang Mahasiswa Kuningan, rehabilitasi pasar-pasar kumuh menjadi pasar modern, penataan taman-taman/ruang publik ... dan saya yakin banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Beliau juga yang sudah membuat RUTR DKI s/d 1985 dimana sudah termuat rencana pembangunan MRT (mass rapid transit).
Sekarang, lihatlah wajah Jakarta kita yang tercinta. Pembangunan Jakarta memang begitu pesat, Shopping Mall, Plasa, ITC, Gedung Perkantoran, apartemen mewah bertaburan di segala penjuru kota.Tapi tengoklah fasilitas umum/sosial kota kita ..... tengoklah lapangan olah raga tempat anak-anak bermain... semua lenyap. Gelanggang Remaja memang masih ada..... tapi tengoklah apa yang sudah terjadi disana.... kumuh, dekil tak terawat. Ada yang makin terawat.... Gelanggang Mahasiswa Kuningan.... tapi komplek itu telah beralih pengelolaannya. Nuansa dan roh kegiatan kemahasiswaan yang dulu sangat kental dengan komplek tersebut telah hilang tak berbekas berganti dengan nuasa kemewahan yang absurd ditengah kemiskinan bangsa ini.
Kita menjadi borjuis ditengah kemiskinan. Pembangunan negeri ini sama sekali tidak mempedulikan kepentingan rakyat banyak. Kegiatan-kegiatan anak-anak, remaja dan mahasiswa yang secara alamiah penuh dinamika dan keceriaan telah berganti. Anak, remaja dan mahasiswa didorong untuk berburu materi. Kalaupun masih ada kegiatan mereka, maka selalu ada "umpan" materi yang menyertainya.
Lihatlah, betapa Indonesian Idol, KDI, AFI dan sejenisnya menarik ribuan anak-anak dan remaja kita dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan olah raga. Saya sendiri lupa.... apakah Pekan Olah Raga Mahasiswa atau Pekan Olah Raga anak-anak (setingkat SD/SMP) masih tetap diselenggarakan.
Mungkin ini menjawab, mengapa anak-anak sekarang lebih gemar tawuran dibandingkan berolah raga. Pengusaha dengan ber "kong-kalikong dengan Pemda" telah merengut lahan tempat anak-anak bergerak, mengekspresikan jiwa mudanya. Gelanggang Remaja/Mahasiswa bukan lagi tempat yang nyaman untuk dikunjungi ..... taman kota telah lenyap. Bahkan Kebun binatangpun bukan lagi menjadi tempat rekreasi yang enak untuk dikunjungi. Jangan lagi bicara mengenai Planetarium yang memerlukan alat-alat yang cukup canggih untuk mengoperasikannya.
Ternyata, kita bukan hanya tidak bisa memeliharanya. Membangunnya pun kita tidak mampu ... atau mungkin tidak mau. Karena setelah hampir 30 tahun bang Ali lengser dari jabatnnya.... fasilitas umum/sosial/pendidikan tersebut tidak juga bertambah.... bahkan yang adapun tidak lagi tersentuh oleh pemeliharaan.
Tidak salah, kalau anak-anak gemar tawuran ....
Jumat, 08 Juli 2011
ironi dan kontradiksi TKI/TKW
Interaksi pertama sudah dimulai begitu naik pesawat. Keberadaan para TKI/TKW sangat mudah ditandai karena mereka
yang berangkat untuk pertama kali, umumnya memakai seragam. Tetapi, kalaupun mereka tidak menggunakan seragam, keberadaan mereka sangat mudah ditandai. Merekayang baru pertama kali berangkat, pada wajahnya, terlihat ekspresi "takut dan gamang", sementara mereka yang sudah beberapa kali berangkat sebagai TKI/TKW seringkali terlihat overacting dalam sikap maupun pembicaraan.
Berada dalam pesawat yang sama dengan mereka juga membawa nuansa khusus. Beberapa saat setelah pesawat lepas landas dan suhu udara mulai turun, maka bebauan khas negara asia, yaitu mulai dari minyak kayuputih, balsem dan minyak angin mulai berhamburan memenuhi ruang pesawat. Bukan tidak mungkin, "harum parfum" khas asia itu tercium pula hingga kabin bisnis. Entah apa yang dipikirkan oleh penumpang cabin class yang berasal dari negara non asia.
Penggunaan toilet menjadi masalah lain lagi. Toilet pesawat yang kecil, penuh dengan kabin2 kecil yang terisi dengan kertas2 toilet, tempat sampah, pelembab kulit, sabun hingga flush pembersih closet semua kompak mengisi ruang seluas 1x1.5 meter itu. "Kering" itulah kondisi yang seharusnya mutlak terjadi dalam kabinet lavatory tersebut. Namun, tanpa maksud merendahkan status sosial para TKI/TKW, kehadiran mereka bisa ditandai saat kabinet lavatory tersebut menjadi kumuh bahkanseringkali lantainya menjadi basah dan sampah kertas toilet berhamburan di lantai.
Bisa dimaklumi karena semua tulisan di dalam kabinet mini itu dalam bahasa Inggris. Dalam pesawat berlabel "maskapai penerbangan negara gurun" mungkin ada tulisan arab. Tapi siapa diantara mereka yang mengerti? Apakah selama di tempat penampungan/pelatihan, para TKI dan TKW dibekali pengetahuan tentang bagaimana cara berlaku/bersikap di dalam pesawat? Sama juga dengan para jamaah haji dengan fasilitas ONH biasa yang pada umumnya berasal dari kota kecil/pedalaman dan bukan tidak mungkin baru pertama kali bersentuhan dengan peralatan modern?
Dalam perjalanan "city tour" di sekitar wilayah Makkah, saya sempat ngobrol dengan supir bus yang berasal dari desa Cililin - Cimahi Jawa Barat. Dia sudah melewati 1,5 tahun masa kerjanya di Arab Saudi (SA - Saudi Arabia).
"Sungguh bu .... saya tidak akan pernah kembali lagi ke Arab"
"Kenapa? Kan enak ... gaji besar, bisa berhaji ...!"
"Kalau dari hajinya sih iya... tapi kalau gaji, rasanya nggak jauh-jauh banget ... nggak terbayar dengan kesepian jauh dari keluarga dan harus menyesuaikan makanan. Apalagi kalo yang perempuan ... aduh rusak deh bu"
"Tapi, orang2 di kampung kan banyak yang lebih milih peri ke Arab, dibanding kerja di Indonesia"
"Gak ada kerjaan bu, masalahnya...."
"Iya, saya pernah denger kalau TKW di SA banyak yang rusak, makanya ada gosip, harga perempuan Indonesia cuma 50SR. Kalo gitu mestinya, bilang dong sama orang2 di kampung... itu bapak-bapak, jangan ngirim perempuan2 (anak atau istri) ke SA dong... Kalau mau dapet duit ya si bapak itu yang kerja ke SA...., bukan anak/istrinya?"
"Mestinya pemerintah bu, yang nglarang... Pemerintah cuma ngeliat SR nya aja sih..."
"Mesti dari dua arah... masyarakatnya, juga pemerintah. Kalau dari pemerintah nggak jalan, ya rakyat mesti tahu kalo kerja di SA atau negara2 Tim-teng bahaya buat keselamatan/kehormatan perempuan"
"Iya bu... tapi nggak gampang, kan orang taunya cuma duit aja... apalagi kalo liat tetangga yg pulang bawa duit terus bangun rumah, beli sawah dll... mereka nggak tahu darimana duit didapat. Gak semua dapat majikan baik yg suka kasih hadiah. Sebagian... apalagi yang sampe kabur dari majikan, banyak yg melacur atau kumpul kebo... saya tahu persis bu... makanya ngeri deh... Itu sebabnya saya nggak pengen balik lagi ke SA"
Pembicaraan sambil menunggu peserta umroh yang naik ke Jabal Rahmah terhenti, karena mereka sudah kembali mengisi bus, dan siap melanjutkan perjalanan melintasi Muzdalifa - Mina dan akhirnya kembali ke penginapan.
***
Dalam kesempatan lain, usai menunaikan umroh, kami sempat ngobrol dengan TKI yang bekerja sebagai petugas kebersihan Masjidil Haram. Dia juga sudah bekerja hampir dua tahun dan segera kembali ke tanah air. Sama-sama tidak ingin kembali ke SA untuk memperpanjang kontrak kerja, walau gaji SR 800 (hampir 2 juta rupiah) tentu lebih besar dibandingkan dengan gaji seorang petugas kebersihan di Jakarta.
"Berapa jam kamu kerja disini?"
"Biasa bu ... ada 3 shift"
"Beruntung juga ya kerja di Haram ... ada banyak orang Indonesia yg kerja di Haram?"
"Nggak bu, cuma ada 3 orang. Kebanyakan dari Pakistan dan Bangladesh. Kerja di Haram gajinya nggak besar, dibanding dengan di luar Haram.Bisa SR1200 - SR 2000"
"Oh .... tapi dapat fasilitas makan/penginapan dong"
"Kalau makan sih, nggak dapat bu, kalau tidur, disediain mess, kamarnya pake AC, antar jemput dari mess ke Haram"
"Ah ... lumayan jugalah.....!"
***
"Ibu dari mana?"
"Oh... saya dari Jakarta"
"Kapan datang bu? sudah berapa lama di Makkah?"
"Sejak minggu pagi kemarin .... insya Allah sampe Jum'at besok, ke Jeddah"
"Sudah umroh berapa kali bu... sudah cium hajar aswad?"
"Maksudnya...?",
"Nggak bu ... tanya aja.... ibu mau cium hajar aswad?"
"Oh ..... lihat situasi aja...."
"Kamu mukimin ya...? TKI? sudah berapa lama disini?"
"Iya bu ... mukimin, tinggal gak jauh dari Dyar inn (dia bilangnya diar en), sudah 3 kali balik. Yang terakhir itu saya ditangkap, terus dipulangin. DUlu kalo dipulangin gitu kita tunggu 1 tahun dulu terus baru umroh lagi. Kalo sekarang mesti tunggu 5 tahun baru bisa umroh. Sudah gitu bayarnya mahal .... Waktu saya berangkat bayarnya sudah 20juta... sekarang kabarnya sudah 26 juta"
"Lho .... kamu itu TKI, atau apa sih? Kok pake bayar segitu mahal....?"
"Wah ... saya sih gak mau pake PT bu... gak enak, gak bebas"
"Lho....?"
"Iya bu... kalo pake PT, kan 2 tahun gak bisa keluar - kontraknya kan gitu... makanya yang dari PT, biar dapet majikan jahat, gak berani keluar."
"Trus kamu gimana ceritanya...?"
"Saya kan ada sponsornya bu .... ya itu bayar 20 juta (sekarang konon 26juta), ntar begitu sampe Makkah... kita dijemput sama sponsor yang ada di Makkah, dibawa ke penampungan. Dari situ kita dicariin kerjaan ... kalo 1 atau 2 bulan gak betah atau gak enak ya keluar, cari di tempat lain. Jadi nggak terikat."
"ada banyak yang seperti kamu?"
"Banyak bu .... ada yang dari Jawa, Banjar ... Lombok juga ada bu!"
Awalnya.... saya
ngga terlalu mengerti apa yang dimaksud perempuan muda yang duduk di sebelah saya itu. Lama kelamaan saya teringat dengan Laila, perempuan asal Malang yang saya temui tahun 1994 dan banyak menolong saya memasak di setiap jam makan selama menunaikan ibadah haji saat itu. Rupanya .... inilah TKI illegal berkedok umroh - overstay.
"Jadi, apa kerjaan kamu sekarang?"
"Kalau lagi musim um
roh dan haji seperti sekarang, pemeriksaan agak longgar bu. Kan kami gak punya iqomah .. . Kerja kami sekarang bantu2 orang yang mau cium hajar Aswad. Kalau di luar musim umroh.haji
... ya mesti hati-hati ... ngumpet di penampungan atau kerja di rumah2"
"Kalau nggak dapat kerja atau upah bantu cium hajar aswad, trus gimana cara bayar penginapan dan makan sehari-hari....?"
Perempuan muda itu diam ... tak menjawab pertanyaan saya hingga akhirnya shalat dimulai dan saat usai shalat... tempat di samping saya sudah kosong.. dia menghilang tanpa pamit. Saya teringat perkataan supir asal Cililin itu ...
"Banyak perempuan kita, yang kumpul kebo dengan orang2 Pakistan atau Bangladesh bu... Mereka yang l
ari dari majikan, kalo nggak melacur, ya kumpul kebo ... Rusak semua bu..."
Astaghfirullah .... semoga perempuan di samping saya tadi bukan yang termasuk golongan pelacur/kumpul kebo itu.
***
Masalah TKI ke negara tujuan manapun juga, terutama ke negara-negara Timur Tengah, ternyata memang pelik. Mungkin sedikit berbeda dengan TKI/TKW ke negara Tim-Teng selain SA yang bisa dimonitor melalui PJTKI, TKI terutama TKW dengan negara tujuan SA, memiliki entry gate lain, selain melalui PJTKI, yaitu melalui biro-biro peralanan umroh yang sekarang banyak bertebaran di seluruh pelosok tanah air.
Mereka ternyata banyak mengerahkan TKW melalui jalur ibadah umroh. Calon TKI/TKW membayar biaya perjalanan laiknya peserta umroh, di Madina atau Makkah, sudah ada penampung TKI/TKW gelap .... Mereka tentu tidak punya ijin dan pasti tidak pula melaporkan keberadaan para jamaah umrohnya, karena ibadah umroh memang hanya menjadi topeng pengerahan tenaga kerja saja.
Betapa enaknya cara kerja mereka (pengerah dan penampung TKI/TKW tsb). Mereka sama sekali tidak mengeluarkan biaya perjalanan para TKI/TKW tersebut .... bahkan bisa jadi menangguk keuntungan dari biaya yang sudah disetorkan tersebut karena tidak ada kewajiban menyelenggarakan "land arrangement para peserta umroh" tersebut.
Mungkin pemerintah dan migrant care harus mulai memperhatikancara kerja biro perjalanan umroh yang beroperasi di kantong-kantong pemasok TKI/TKW di seluruh wilayah Indonesia.
Wallahu'alam
Selasa, 14 Juni 2011
Tragedi Pendidikan di Surabaya - 2 Beginilah cara DPRD menangani kasus kecurangan
Ujian besar bagi walikota Surabaya Tri Rismaharini … akankah ybs “takluk” pada politik pencitraan atau dia akan tetap teguh menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran.
Kalau hal ini dibiarkan terus menerus … maka tunggulah kehancuran bangsa ini…!!!
Kasus Contek Massal
Dewan Desak Pemkot Cabut Sanksi 3 Guru Gadel
Jum'at, 10 Juni 2011 11:04:19 WIB Reporter : Arif Fajar Ardianto
Surabaya (beritajatim.com) - Meredam dendam warga Gadel, terhadap Ny Siami orang tua AL terkait kasus contek massal di SDN gadel II Surabaya dewan mengupayakan memenuhi tuntutan warga, yakni mengembalikan tiga guru yang terkena sanksi dari Dinas Pendidikan.
Seperti diketahui, pasca pelaporan dan pemberian sanksi ketiga guru SDN Gadel II, warga Gadel menaruh dendam yang mendalam terhadap Ny Siami, karena dianggap telah membocorkan serta membahayakan psikologis murid–murid SDN Gadel II.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Surabaya Eddi Budi Prabowo mengatakan bahwa saat ini warga Gadel menaruh kebencian yang mendalam terhadap Ny Siami, yang berujung pada pengusiran.
"Sepertinya warga disana menaruh dendam yang sangat terhadap pelapor," ujar eddi saat ditemui di gedung DPRD Surabaya, Jumat (10/06/2011).
Lebih lanjut, Eddi mengatakan, bahwa pihaknya berupaya untuk meredam amarah warga dengan berusaha mengabulkan salah satu tuntutannya, yakni meminta ketiga guru yang terkena sanksi bebas dan kembali mengajar. meski sulit, karena harus melewati beberapa tahapan, namun Eddi mengaku pihaknya akan tetap berupaya.
"Kita tahu, pengembalian status ketiga guru tersebut sulit, tapi akan kita upayakan, untuk meredam emosi warga, agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan," imbuhnya.
Sebagai langkah awal, Komisi D DPRD surabaya meminta kepada walikota untuk melakukan kajian ulang terhadap sanksi tiga guru SDN Gadel II. "Kami akan mencoba untuk meminta Walikota mengkaji lagi persoalan tersebut. Kasus ini harus segera diselesaikan," tegasnya.
Eddi menjanjikan, bahwa Komisi D DPRD Surabaya yang membidangi masalah Pendidikan dan Kesra akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas, tanpa mengorbankan salah satu pihak. "Kita akan beri perhatian khusus, karena ini menyangkut psikologis anak," pungkasnya.[rif/ted]
Tragedi Pendidikan Indonesia di Surabaya - 1
Kejujuran menjadi barang langka. Yang jujur–karena minoritas malah dianggap bersalah dan harus meminta maaf. Sementara orang yang bersalah didukung habis–habisan dan perbuatan bersalah dianggap wajar dan didukung ramai–ramai. Betul yang dikatakan Prof Daniel Rosyid, “Masyaraka sudah sakit”.
Mengerikan, kalau masyarakat sudah kehilangan moralitas dan kejujuran .... maka bangsa ini tinggal menunggu kehancurannya .... Kemana alim ulama yang katanya penjaga moral bangsa...?
------
Diusir Warga karena Lapor Contek Massal, Ny Siami, Si Jujur yang Malah Ajur
Jumat, 10 Juni 2011 | 07:18 WIB - Dibaca: 23,686
TERHARU - Ny Siami dan Fatkhur Rohman, wali kelas Al, teharu saat saling minta maaf dalam mediasi di balai RW, Kamis (9/6).
SURABAYA | SURYA - Ny Siami tak pernah membayangkan niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Warga Jl Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya itu diusir ratusan warga setelah ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat Unas pada 10-12 Mei 2011 lalu. Bertindak jujur malah ajur!
Teriakan "Usir, usir...tak punya hati nurani" terus menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya, Kamis (9/6) siang. Ratusan orang menuntut Ny Siami meninggalkan kampung. Sementara wanita berkerudung biru di depan kerumunan warga itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maaf Siami yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki.
Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, menghujat tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang kemarin. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya.
Padahal, agenda pertemuan tersebut sebenarnya mediasi antara warga dan wali murid dengan Siami. Namun, rembukan yang difasilitasi Muspika (Musyarah Pimpinan Kecamatan Tandes) itu malah berbuah pengusiran. Mediasi itu sendiri digelar untuk menuruti tuntutan warga agar keluarga Siami minta maaf di hadapan warga dan wali murid.
Siami dituding sok pahlawan setelah melaporkan wali kelas anaknya, yang diduga merancang kerjasama contek-mencontek dengan menggunakan anaknya sebagai sumber contekan.
Sebelumnya, Siami mengatakan, dirinya baru mengetahui kasus itu pada 16 Mei lalu atau empat hari setelah Unas selesai. Itu pun karena diberi tahu wali murid lainnya, yang mendapat informasi dari anak-anak mereka bahwa Al, anaknya, diplot memberikan contekan. Al sendiri sebelumnya tidak pernah menceritakan 'taktik kotor' itu. Namun, akhirnya sambil menangis, Al, mengaku. Ia bercerita sejak tiga bulan sebelum Unas sudah dipaksa gurunya agar mau memberi contekan kepada seluruh siswa kelas 6. Setelah Al akhirnya mau, oknum guru itu diduga menggelar simulasi tentang bagaimana caranya memberikan contekan.
Setelah itu, dia mengadu pada Komite Sekolah, namun tidak mendapat respons memuaskan, sehingga akhirnya dia melaporkan masalah ini ke Dinas Pendidikan serta berbicara kepada media, sehingga kasus itu menjadi perhatian publik.
Dan perkembangan selanjutnya, warga dan wali murid malah menyalahkan Siami dan puncaknya adalah aksi pengusiran terhadap Siami pada Kamis kemarin. Situasi panas sebenarnya sudah terasa sehari menjelang pertemuan. Hari Rabu (8/6), warga sudah lebih dulu menggeruduk rumah Siami di Jl Gadel Sari Barat. Demo itu mendesak Ny Siami meminta maaf secara terbuka. Namun, Siami berjanji menyampaikannya, Kamis.
Pertemuan juga dihadiri Ketua Tim Independen, Prof Daniel M Rosyid, Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dindik Tandes, Dakah Wahyudi, Komite Sekolah, dan sejumlah anggota DPRD Kota Surabaya. Satu jam menjelang mediasi, sudah banyak massa terkonsentrasi di beberapa gang.
Pukul 09.00 WIB, tampak Ny Siami ditemani kakak dan suaminya, Widodo dan Saki Edi Purnomo mendatangi Balai RW. Mereka berjalan kaki karena jarak rumah dengan balai pertemuan ini sekitar 100 meter. Massa yang sudah menyemut di sekitar balai RW langsung menghujat keluarga Siami.
Mereka langsung mengepung keluarga ini. Beberapa polisi yang sebelumnya memang bersiaga langsung bertindak. Mereka melindungi keluarga ini untuk menuju ruang Balai RW. Warga kian menyemut dan terus memadati balai pertemuan. Ratusan warga terus merangsek. Salah satu ibu nekat menerobos. Namun, karena yang diizinkan masuk adalah perwakilan warga, perempuan ini harus digelandang keluar oleh petugas.
Mediasi diawali dengan mendengarkan pernyataan Kepala UPT Tandes, Dakah Wahyudi. Ia menyatakan bahwa seluruh kelas VI SDN Gadel 2 tidak akan kena sanksi mengulang Unas. Ucapan Dakah sedikit membuat warga tenang. Namun, situasi kembali memanas. Apalagi Ny Siami tidak segera diberi kesempatan menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
Kemudian warga diminta kembali mendengarkan paparan yang disampaikan Prof Daniel Rosyid. Ketua tim independen pencari fakta bentukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ini berusaha menyejukkan warga dengan menyebut dirinya asli Solo. Dikatakan bahwa Solo, Surabaya adalah juga Indonesia, sehingga setiap warga tidak berhak mengusir warga Indonesia.
Kemudian dia berusaha berdialog santai dengan warga. Ada salah satu warga menyeletuk. "Kalau kita dikatakan menyontek massal. Lantas, kenapa saat menyontek pengawas membiarkannya," ucap salah satu ibu yang mendapat tepukan meriah warga lain.
Warga juga menyatakan bahwa menyontek sudah terjadi di mana-mana dan wajar dilakukan siswa agar bisa lulus. Mendengar hal ini, Daniel kemudian memperingatkan bahwa perbuatan menyontek adalah budaya buruk. Di masyarakat manapun, perbuatan curang dan tidak jujur ini tidak bisa ditoleransi.
"Menyontek adalah awal dari korupsi. Jika perbuatan curang ini sudah dianggap biasa, maka ini akan membuka perilaku yang lebih menghancurkan masyarakat. Tentu tidak ada yang mau demikian," sindir Daniel.
"Menyontek adalah awal dari korupsi. Jika perbuatan curang ini sudah dianggap biasa, maka ini akan membuka perilaku yang lebih menghancurkan masyarakat. Tentu tidak ada yang mau demikian," sindir Daniel.
Kemudian mediasi dilanjutkan dengan menghadirkan Kepala SDN Gadel 2, Sukatman. Akibat kasus contekan massal di sekolahnya, Sukatman dan dua guru kelas VI dicopot. Sukatman menyampaikan permintaan maaf kepada wali murid.
Namun wali murid menyambut dengan teriakan bahwa Sukatman tidak salah. Yang dianggap salah adalah keluarga Siami karena membesar-besarkan masalah. Warga pun kembali berteriak "usir... usir". Namun warga mulai tenang karena Sukatman tampak menghampiri Ny Siami dan suaminya. Mantan Kasek ini langsung meraih tangan ibunda Al dan saling meminta maaf. Namun, setelah itu warga kembali riuh rendah.
Setelah Siami diberi kesempatan berbicara, keributan langsung pecah. Suara massa di luar balai RW terus membahana, menghujat keluarga Siami. Padahal saat itu, Siami sedang menyiapkan mental dengan berdiri di hadapan warga.
Meski sudah berusaha tegar, namun ibu dua anak ini mulai lemah. Dia tampak berdiri merunduk sementara kedua matanya sudah mengeluarkan air mata. "Saya minta maaf kepada semua warga" ucap Siami yang tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya. Namun, sang suami terus membimbing, membuat perempuan ini kembali melanjutkan pernyataan maaf. Namun, suasana kian ricuh karena massa terus berteriak "usir".
Baik petugas polisi dan tokoh masyarakat berusaha menenangkan situasi. Baru kemudian kembali terdengar suara Siami. Dengan tangan gemetar dan ketegaran yang dipaksakan, Siami kembali berucap, "Saya tidak menyangka permasalahan akan seperti ini. Saya hanya ingin kejujuran ada pada anak saya. Saya sebelumnya sudah berusaha menyelesaikan persoalan dengan baik-baik."
Pernyataan tulus Siami tidak juga membuat massa tenang, sampai akhirnya polisi memutuskan untuk mengevakuasi Siami dan keluarganya. Siami diarahkan ke mobil polisi dengan pengamanan pagar betis. Namun massa tetap berusaha merangsek,ingin meraih tubuh Siami. Sejumlah warga bahkan sempat menarik-narik kerudung Siami hingga hampir terlepas. Siami akhirnya berhasil diamankan ke Mapolsek Tandes.
Baik Ny Siami dan suaminya enggan memberi komentar usai kericuhan. Namun, kakak kandung Siami, Saki, mengakui bahwa adiknya saat ini dalam tekanan yang luar biasa. "Dia tak tahan lagi dengan tekanan warga. Sampai tidak mau makan hari-hari ini. Nanti kami akan merasa tenang jika di Gresik," kata Saki.
Benjeng, Gresik adalah daerah asal Siami. Saat ini Al, anak Siami yang dipaksa memberi contekan, juga diungsikan ke Benjeng setelah rumahnya beberapa kali didemo warga.
Sementara itu, Ny Leni, perwakilan warga menyatakan bahwa pihaknya masih akan terus menuntut agar tiga guru yang dicopot tetap mengajar di SDN Gadel 2 dan menuntut Siami bertanggung jawab.
Budaya sakit
Prof Daniel M Rosyid yang juga Penasihat Dewan Pendidikan Jatim, menyesalkan tindakan warga Gadel yang berencana mengusir keluarga Siami, ibunda Al. "Tuntutan warga untuk mengusir keluarga Al tidak masuk akal. Itu tidak bisa dituruti," katanya.
Daniel menilai tuntutan warga tersebut sudah tidak rasional. Perbuatan benar yang dilakukan ibu Al, Siami, dinilai warga justru malah salah. Tindakan menyontek rupanya sudah mengakar dan menjadi kebiasaan bahkan budaya di masyarakat. "Warga ternyata sakit," katanya.
Lagi pula Kepala Sekolah Sukatman dan dua guru kelas VI, Fatkhur Rohman dan Prayitno, sudah legowo dan menerima keputusan sanksi yang diberikan. "Saya kira ini kalau dibiarkan masyarakat akan sakit terus. Orang jujur malah ajur, ini harus kita cegah," papar Daniel.
Sebelumnya, hasil tim independen pimpinan Daniel Rosyid menyampaikan temuannya bahwa Al, anak Siami, memang diintimidasi guru sehingga mau memberikan contekan. Namun, tim tidak menemukan cukup bukti sehingga Unas di SDN Gadel 2 perlu diulang. Alasannya tim independen tidak menemukan hasil jawaban Unas yang sistemik sama, dan nilai Unas pun hasilnya tidak sama. Al ternyata membuat contekan yang diplesetkan. Al tidak seluruhnya memberikan jawaban yang benar. Dan kawannya pun tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Al. Sehingga hasil ujian tidak sama.
Selain itu tim juga mempertimbangkan Unas ulang akan memberatkan siswa dan wali murid. Sanksi yang direkomendasikan yakni sanksi administratif dari Pemkot Surabaya kepada guru yang melakukan intimidasi kepada Al.
Selain itu tim juga mempertimbangkan Unas ulang akan memberatkan siswa dan wali murid. Sanksi yang direkomendasikan yakni sanksi administratif dari Pemkot Surabaya kepada guru yang melakukan intimidasi kepada Al.
Berdasarkan temuan tim independen ditambah pemeriksaan Inspektorat Pemkot Surabaya itulah, Wali Kota Tri Rismaharini akhirnya mencopot Kepala Sekolah SDN Gadel 2 Sukatman dan dua guru kelas VI Fatkhur Rohman dan Prayitno.
Selasa, 07 Juni 2011
BIJAK Mengundang....!
Beberapa minggu yang lalu, seorang teman di kantor yang lama, yang sekitar 17 tahun lalu pernah sekantor.menelpon .... meminta alamat kantor saya sekarang. Dia bermaksud mengundang beberapa teman kantor saya yang sekarang beserta boss yang juga bossnya di kantor terdahulu untuk menghadiri pernikahan anaknya yang ke dua.
Setelah saya berikan alamat persisnya, beberapa hari kemudian saya menerima undangan tersebut. Alhamdulillah, dia masih ingat untuk mengundang teman-teman lamanya. Bisa jadi hal ini dilandasi untuk menfasilitasi teman-teman lamanya untuk melaksanakan reuni gratis heheheh .... Semangat menyambung tali silaturahim yang patut dihargai.
Saat membaca nama - nama pengundang, yaitu nama orang tua mempelai, saya agak tertegun... Bukan karena jumlahnya yang ternyata 3 pasang, yaitu 2 pasang berasal dari keluarga perempuan dan satu pasang dari keluarga lelaki, tetapi karena saya merasa nama salah satu istri pengundang agak familiar. Nama yang berasal dari "masa remaja" nun jauh di seberang... Apalagi dipadukan dengan nama suaminya yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak dan alamat rumahnya.
Tidak salah lagi .... karena belasan tahun yang lalu, sekitar beberapa bulan setelah kelahiran anak saya yang ke dua, saya pernah bertemu di sebuah RS di bilangan Bekasi. Saat itu dia yang juga berprofesi dokter, sedang menunggu sang suami.
Segera saja kutelpon mantan teman kantorku itu untuk meminta nomor telpon genggam calon besan perempuannya yang menjadi ibu tiri calon menantunya itu.
Singkat kata, berbekal nomor telpon genggam pemberian temanku, beberapa hari kemudian, hari minggu pagi, sambil menunggu asisten rumah membeli ketupat sayur di pelataran parkir dekat pasar pondok labu, kukirim sms kepada temanku tersebut, memberitahukan bahwa aku mendapat undangan untuk hadir dalam pernikahan anak tirinya tersebut dan bermaksud menghadirinya.
Di luar dugaan, alih-alih menjawab sms ku, teman lamaku itu malah langsung menelpon ... hihihi... inilah kemudahan dan dampak kemajuan teknologi komunikasi - sedang berbelanja di pasarpun bisa tetap berkomunikasi. Cerita panjang lebar, bernostalgia mengenai teman-teman lama kami saat di bangku SMA dulu.
Sebetulnya... teman lama ini adalah kawan sekelas adik perempuanku, tapi karena kami tinggal bersebelahan rumah dan kebetulan dia tinggal dengan kakak iparnya yang saat itu menjabat sebagai wakil kepala cabang suatu bank, maka kami cukup saling mengenal seluruh isi keluarga masing-masing.
Dua hari kemudian, saat berada di kantor, secara tiba-tiba aku menerima sms berisi penjelasan mengenai keluarga dan status anak-anaknya. Kaget juga aku membacanya .... Entah apa yang ada di dalam benak temanku, hingga dia merasa harus menjelaskan bagaimana dia melaksanakan pernikahannya dulu serta status anak-anaknya. Sumpah mati ... sama sekali tak pernah terlontar pertanyaan tentang hal itu. Itu urusan pribadi mereka.
Aku memang pernah mendengar cerita tentang pernikahannya tersebut dari adikku yang memiliki profesi yang sama dengan suaminya. Tapi... untuk apa mengusili urusan rumah tangga orang lain? Itu sebab ... aku hanya menjawab singkat..."ya, sudah pernah dengar ..... !
Hari Minggu, saat dilangsungkan resepsi pernikahan tersebut, aku hadir sendiri. Anakku sedang bermalas-malasan, kalau diperintahkan mandi lebih pagi. Mengikuti kebiasaan bapaknya, hari Minggu adalah hari santai dimana semua orang merasa "bebas" untuk mandi sesuka hati. Kebiasaan jelek yang tak patut ditiru.
Suamiku, sudah sejak pagi keluar rumah. Hari Minggu adalah jadwalnya latihan senam pernafasan Sinar Putih. Pulang dari tempat latihan, usai sarapan pagi yang sudah sangat terlamabta, sekitar jam 10.30, biasanya acara memeluk guling tidak bisa diganggu gugat.
Jadi.... kalau aku punya undangan dan dia sedang berbaik hati untuk ikut hadir, biasanya dia akan mengorbankan waktu latihannya. Namun kali itu, dia "berkeras" latihan karena minggu sebelumnya, kami pergi ke Bandung menjenguk ibuku yang baru usai melakukan operasi penggantian sendi pangkal paha kanannya.
Aku berangkat sendiri dari rumah sekitar jam 10.45, langsung mengambil jalan bebas hambatan menuju lokasi. Kebetulan bertemu beberapa teman lama dari kantor yang sama dengan orangtua mempelai lelaki. Kami ngobrol kesana-kemari. Memang begitulah motivasi kami hadir di acara pernikahan tersebut. REUNI.....
Rupanya, mereka juga agak "curious" dengan adanya 3 keluarga pengundang. Itu sebab kami memilih tempat berdiri agak dekat dengan pelaminan, dengan harapan agar kami bisa "melihat" dari dekat serta mendapat kesempatan awal memberi selamat kepada keluarga yang berbahagia tersebut.
Tiba saat pengantin dan keluarga berjalan menuju pelaminan, mataku menangkap sosok seorang perempuan yang sedang duduk di kursi roda dan seorang lelaki ganteng. Si perempuan, setelah kuperhatikan, ternyata menggunakan warna kebaya yang sama dengan orang tua pengantin yang sedang berjalan mengiringi pengantin menuju pelaminan, sedangkan sang pria juga memakai pakaian Jawa berblangkon. Tidak salah lagi ... ini tentu ibu pengantin perempuan disertai suami barunya.
Menjelang rombongan pengantin tiba di pelaminan, ibu kandung pengantin perempuan bangkit dari kursi rodanya. Berjalan perlahan tertatih-tatih sambil dipapah suaminya... dia berjalan dan duduk berdampingan dengan mantan suami dan istri "baru"nya. Memang agak terlihat tidak biasa ... apalagi saat itu sama sekali tidak terlihat adanya saling sapa di antara ke dua pasangan suami istri itu. Unik .....
Salah satu temanku sempat nyeletuk usil .... " lihat deh ... suaminya (bapak dari pengantin perempuan) mendapat istri yang lebih cantik, langsing dan lebih muda - begitu juga dengan ibunya. Usai diceraikan suami, dia yang terlihat sakit, mendapat suami yang juga lebih muda dan ganteng"
Kulihat seksama mereka yang ada di pelaminan.... Betul ... Sang suami Jawa yang wajahnya lebih pantas disebut wajah Minang - duduk berdampingan dengan istrinya (ini teman lamaku) yang jauh lebih segar dan cantik dibandingkan dengan mantan istrinya yang terlihat jauh lebih tua dan "sakit". Demikian juga mantan istri. Dia duduk tenang didampingi oleh suami yang terlihat gagah dan ganteng khas lelaki Jawa dengan kumisnya dan ..... terlihat jauh lebih muda dari wajah istrinya.
Entah apa yang berkecamuk di benak para undangan... Yang pasti, ke dua orangtua itu, walaupun sudah bercerai ... mereka punya hak dan kewajiban untuk "menyelesaikan" tugas, mengantar anak-anaknya ke gerbang pernikahan. Jadi memang.... mengapa harus malu dengan kondisi ini?
Langganan:
Postingan (Atom)
BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺
Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa Mensholatkan kita... Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...
-
Sebelum tulisan ini dilanjutkan, saya perlu meminta maaf terlebih dulu pada mereka yang berprofesi sebagai supir pribadi. Sungguh, tidak ...
-
Hari Selasa 24 Oktober 2006 yang lalu, Lebaran hari pertama atau hari kedua bagi yang mengikuti jadwal lebaran versi Muhammadiyah, pada si...
-
Bulan Sya'ban/September 2006 ini memang bulan pilihannya masyarakat untuk menyelenggarakan pernikahan. Jadi jangan heran, kalau dalam s...