Sabtu, 31 Desember 2011

Rasain lo.... Makanya, jangan ngrumpi aja...!!!

Hari ini, Selasa 16 Agustus 2005, saya baru masuk kantor lagi setelah "dihukum Allah SWT" sepanjang hari.... Ceritanya begini....;

Minggu lalu, saat keponakan suami menikah, kami tidak menghadirinya. Kebetulan Jurusan Mesin tempat suami mengajar, mengadakan acara Family Gathering, di Carita, yang jarang-jarang dilakukan. Apalagi tahun ini, acara tersebut diselenggarakan relatif menyeluruh, dari mulai dosen sampai dengan tukang sapu .... beserta keluarga lagi. Jadi, sayang untuk dilewatkan.

Seperti biasa kalau ada hajatan, pasti seluruh keluarga (kakak-adik, semua ngumpul. Nah, karena Ipar saya yang nomor dua mau kembali ke Surabaya, maka keluarga suami mengadakan pertemuan untuk membahas berbagai masalah keluarga... Biasalah... dimana-mana, di keluarga apalagi setingkat negara, akan selalu ada intrik-intrik dan perang dingin, perang urat syaraf dan lain-lain.... Kata suami, intrik-intrik dan perseteruan dalam keluarga itu lebih berat penyelesaiannya. Maklum saja, dendamnya kan langsung person to person ..... Jadi susah untuk mendamaikannya....

Jadilah, malam minggu kemarin, walauppun hanya dihadiri 9 anak+menantu dari 11 bersaudara - yang penting mencapai kuorum hehe.., keluarga besar berkumpul di rumah ketua suku di bilangan Jakarta timur, dengan didahului makan malam bersama ... biar perut kenyang... BIasanya kan kalau lapar, orang jadi gampang gelap mata... hehe...Mata ngantuk karena kekenyangan sudah diselesaikan dengan secangkir kopi panas..... Jadi perdebatan bisa berlangsung dengan seru ..... Dari mulai suara tinggi sampai suara bass.... Persis seperti gelombang di laut .... Tinggi bergulung-gulung, menderu-deru terus lenyap di pantai.... Dari mulai mata melotot karena emosi tinggi, sampai mata kuyu menahan kantuk. Yang penting semua unek-unek keluar. Semoga dengan demikian, tuntas sudah segala sumbatan dan hambatan di antara sesama saudara.

Karena saya membujuk ipar nomor dua untuk menunda kepulangannya, maka saya juga yang bertugas mengantar ke airport. Nah menjelang berangkat ke Cengkareng, setelah sarapan pagi, kami masih ngobrol ... meneruskan sisa cerita malam sebelumnya. Ya... begitu deh, orang kalau sudah ngobrol, suka ngelantur kemana-mana dan tidak terasa akhirnya jadi ngrumpi dengan balutan "mengkalirifikasi berbagai masalah". Apapun kemasannya... tetap saja itu namanya ghibah yang tidak disukai Allah SWT. Tapi siapa yang merasa... kalau sedang asyik???

Nah setelah ipar selesai diantar ke airport, saya pulang sendiri. Suami sedang mengurusi adik lelaki saya yang bemasalah ... (duh... manusia itu ternyata banyak masalahnya ya...???) Sambil dengar lagunya Helene Segara yang direkam dari CD pinjaman punya Hapsari, guru bahasa di CCF Wijaya. Sampai di rumah, ...lho... kok, suara saya mendadak hilang .... asli.... itu suara nggak bisa keluar... Kalaupun dipaksa, suaranya nggak keruan, tidak terkontrol, kadang ngebass, kadang melengking seperti cicitan burung.... Sudah begitu, leher terasa panas dan tercekik....

Masya Allah ... ini pasti peringatan Allah ... langsung ditimpakan azab atas ghibah yang sepanjang pagi dilakukan. Aduh ... istighfar berulang kali sambil berdzikir terus menerus memohon ampun.... Untung Allah berkenan menimpakan azab itu segera.. semoga itu menghapus azab atas dosa yang sama di akhirat nanti.

Sesungguhnya, saya seringkali merasakan peringatan Allah, bila melakukan hal-hal yang tidak benar. Yang paling sering adalah melalui makanan. Seringkali, bila ada makan siang bersama di kantor, kami membeli makanan di restoran Cina. Maklum, makanan cina kan enak dan netral. Semua orang suka. Namun repotnya, kita sering tidak tahu batas mana yang halal, mana yang haram ... atau malah pura-pura tidak tahu...

Nah kalau sudah begini, lebih baik dihindari saja. Kalau tidak, dalam waktu 2 jam sejak makanan tersebut masuk perut, bisa dipastikan, perut akan melilit, dan mengeluarkan seluruh isinya sepanjang hari.

Sesungguhnya Allah Maha Besar, Dia selalu memberi tanda-tanda dan peringatan kepada seluruh umatnya dengan berbagai cara. Sayang seringkali kita mengabaikan dan merasa tidak perlu mengasah kepekaan kita pada tanda-tanda yang diberikanNya. Jadi berbahagialah bila kita sering mendapat peringatan langsung dari Allah SWT. Itu berarti, Dia masih sangat sayang kepada kita dan menjaga kita agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dimurkaiNya. Wallahu 'alam

bu Menteri tak Rela Kursinya Diduduki Orang Lain

Ini kisah nyata istri pejabat yang merasa harus lebih dihormati dari pejabatnya itu sendiri. Tadinya saya berpikir bahwa cerita-cerita ini hanya rumor dari orang-orang yang irihati saja. Eh ternyata betul-betul ada. Aduh.... hari gini, masih ada aja perempuan yang gak malu-malunya sok kuasa di atas posisi suaminya... Nggak ngaca dia kali ya....???? Kondisi ini benar-benar melecehkan martabat perempuan. Tulisan di bawah diambil dari Kompas Minggu 7 Agustus 2005

salam

---------------------------

Walaupun nama menterinya tidak disebut, tetapi ini kejadian nyata, bukan cerita dunia lain yang ada penampakannya.

Cerita berawal ketika dua wartawati gigih berupaya mewawancarai seorang menteri. ”Besok pagi banget kita nyegat Pak Menteri. Katanya dia mau buka acara pekan olahraga 17 Agustus,” kata Inah, seorang wartawati, kepada rekannya sesama wartawati, Surti.

Sejak embun pagi masih turun, keduanya sudah menunggu di Kantor Bapak Menteri. Saat itu Pak Menteri sudah berapi-api berpidato tentang pentingnya berolahraga walaupun negeri lagi werit (susah). Ibu Menteri, eh istri sang menteri maksudnya, yang berpakaian training berdiri di sebelah Pak Menteri. Manggut-manggut.

Sepuluh menit berlalu, Bapak Menteri pun turun dari podium. Pak Menteri yang pagi itu berkacamata berlensa kuning pun duduk di kursi yang ada di depan meja bundar.

Kedua wartawati dan beberapa wartawan lainnya langsung mengerubuti Bapak Menteri. Mereka menanyakan isu terhangat saat itu. Inah dan Surti sengaja duduk di kursi sebelah Pak Menteri yang memang kosong. Saat itulah kehebohan terjadi. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kerumunan wartawan. Telunjuknya mengacung. ”Ayo, bangun, bangun, Mbak! Ibu Menteri marah, dia mau duduk,” kata seorang bapak yang ternyata ajudan Pak Menteri.

Kedua wartawati pun berdiri. Si Ibu Menteri pun mendekat. Wajahnya masam, mungkin lebih masam dari jeruk yang ada di meja Pak Menteri.

”Lain kali bilangin ya, jangan ada yang duduki kursi saya. Ajarin sopan santun tuh wartawan. Saya ndak mau kursi saya didudukin orang,” katanya bersungut-sungut. Suaranya lumayan keras di antara wawancara wartawan dengan Pak Menteri. Dada Inah dan Surti sesak juga antara marah dan merasa ganjil melihat adat Bu Menteri.

Eh, seusai wawancara dengan Pak Menteri, sang ajudan mendekat. Dia meminta kedua wartawati itu menyalami Ibu Menteri. Mungkin maksudnya sebagai ice breaker, menetralkan perasaan Ibu Menteri.

”Ini Ibu Menteri, Mbak. Ini Ibu Sesmen...,” kata ajudan itu mengenalkan. Namun, rupanya si Ibu Menteri masih marah melihat wartawati yang tadi menduduki kursinya. Dengan ketus dia menegur, ”Lain kali kursi saya jangan diduduki ya! Saya tidak suka! Mengerti!”

Seorang pegawai kantor Bapak Menteri itu mengaku terkejut dengan polah Bu Menteri. ”Saya baru tahu tabiat Bu Menteri sekarang. Kok kayak begitu ya marahnya, cuma gara-gara kursi saja,” kata sang pegawai mengeluh. Kursi menteri lain, Mas, enak dan empuk.... (VIN/ANA)

--------------------

Silahkan anda cek berita ini langsung ke Kompas.com


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/07/kontakjodoh/1952200.htm

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/08/sosok/1954048.htm

Rumah Kita

Kata para ahlinya ... asal mulanya, rumah adalah tempat kita bernaung dari panas dan hujan, dari gangguan dan serangan binatang liar. Itu sebabnya, dulu kala, orang bisa bertempat tinggal di atas pohon. Pada jaman modern yang serba materialistis ini, fungsi rumah menjadi semakin berkembang. Rumah menjadi ”status symbol” bagi penghuninya, sebagai tempat untuk mengekspresikan segala daya dan kekuatannya, terutama secara materi. Bukan itu saja, lokasi/wilayah tempat tinggalpun menjadi bagian yang tidak kalah penting bagi sebagian orang. Rumah menjadi ajang untuk menonjolkan ke”aku”an.

Memilih dan menentukan kepemilikan rumah, dalam sebuah keluarga, memang selalu menjadi perhatian setiap pasangan. Sama seperti yang lain, itu juga menjadi bahan perdebatan ”sepanjang masa” dalam keluarga, apalagi dengan latar belakang pendidikan arsitektur yang saya miliki. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua, walaupun pilihan ini bukan yang terbaik.

Pada saat kami (saat itu memilik 1 anak lelaki) kembali ke Indonesia tahun 1984, saya masih belum merasakan kebutuhan untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Maklum, rumah orang tua masih cukup besar untuk ditambah dengan 3 orang saja. Anak kami juga merupakan cucu pertama di keluarga. Jadi tinggal di rumah orang tua setelah menetap di Stains selama hampir 5 tahun bukanlah suatu problem yang besar.

Perasaan gamang memikirkan tempat tinggal mulai terasa kala, kami mulai masuk dalam pergaulan masyarakat. Hampir seluruh teman kuliah kami telah memiliki rumah dari yang sederhana sekelas rumah melalui fasilitas KPR BTN (saat itu kavling KPR-BTN masih besar, dengan kisaran harga Rp.4,5 juta untuk type 45/100) sampai kelas perumahan real estate. Tahun ke dua setelah menetap di rumah ortu, kami mulai berburu rumah. Kelas sederhana saja, sesuai dengan kemampuan keuangan. Dengan sedikit tambahan dari orangtua, kami membeli rumah type 45/100 melalui KPR BTN, ditambah kavling di sebelahnya sehingga luas tanahnya menjadi 200m2.

Seperti biasanya, kami mulai merancang pengembangan rumah yang kelak akan dihuni. Hitung sana dan hitung sini, lengkap dengan segala designnya. Maklum, walau kemampuan uang yang terbatas, pengaruh kuliah di arsitektur sangat berbekas. Jadi banyak maunya ... ingin yang ”khas”. Walhasil, setelah enam bulan serah terima, kami sudah memiliki gambaran ”rumah masa depan” lengkap dengan rincian perkiraan biaya untuk merealisasikannya. Sebelum rencana direalisasikan, kami mulai agak sering mengunjungi komplek perumahan yang terletak di Depok itu.

Namun sayangnya, makin sering kami mengunjungi komplek tersebut, keinginan merenovasi rumah dan kemudian tinggal di sana, malah semakin menyurut. Jalan komplek semakin tidak terawat dan lingkungan sekitar rumah menjadi semakin kumuh. Terus terang, saya menjadi enggan tinggal di sana. Terbayang betapa tidak nyamannya kami, kelak. Kelelahan sehabis seharian kerja, yang semula diharapkan bisa sirna dengan beristirahat di rumah, mungkin tidak terakomodasi. Bayangan duduk santai di teras rumah sambil bermain dengan anak, menjadi sirna kembali. Saya mulai berpikir keras, uang yang dialokasikan untuk renovasi rumah, tentu cukup untuk membeli rumah di sebuah real esate, yang memiliki lingkungan yang lebih terawat. Apalagi kami mungkin termasuk golongan yang beruntung. Pada era tahun 1985 – 1990, pemerintah sedang giat-giatnya melakukan program percepatan pendidikan insinyur, sehingga sebagai dosen di PTN, suami kecipratan nasib baik. Mendapat insentif tambahan gaji resmi dari pemerintah yang nilainya lumayan besar dan sangat mencukupi untuk membayar cicilan selama 10 tahun di Papan Sejahtera (saat itu).

Alih-alih memulai renovasi, kami malah mulai berburu rumah kembali. Saat ini sasarannya adalah komplek real estate. Setelah keliling seantero Jakarta, dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan, akhirnya kami memilih rumah type terkecil 56/162 di Bekasi. Sebetulnya, saat itu keuangan kami belum mencukupi untuk membayar uang muka yang besarnya kira-kira 30%, yaitu sekitar 10 juta rupiah. Semangatnya saja yang sudah mendahului kemampuan keuangan, dipicu oleh hitung-hitungan bahwa biaya renovasi sekitar 10 juta itu, sama dengan DP rumah di real estate. Tapi, tekad sudah bulat, dan alhamdulillah Allah SWT rupanya mendengar niat kami, sehingga atas kemurahanNya, suami mendapat ”obyekan” dari pak SBP yang saat itu menjadi konsultan di Summa Internasional sehingga kami bisa menggenapi uang muka yang 10 juta itu.

Maka pindahlah kami sekeluarga ke Kemang Pratama pertengahan tahun 1989. Rumah mungil yang interiornya dibuat kompak, hasil design sendiri dari kayu-kayu bekas. Tidak ada gordiyn, maka krei bambu jadilah sebagai gantinya. Sederhana, tapi itulah rumah pertama yang kami peroleh dengan susah payah. Dua tahun tinggal di rumah tersebut, kakak ipar yang juga membeli rumah di lokasi yang sama, menawarkan rumahnya yang besar untuk kami tinggali, karena saat itu mereka masih bertugas di Solo. Maka pada tahun 1991, kami pindah rumah di komplek yang sama. Sedangkan rumah kami dikosongkan, tanpa rencana yang jelas.

Baru satu tahun kami pindah, ternyata pemilik rumah memerlukannya. Entah itu suatu kebetulan, tetangga kami (single parents), yang memiliki rumah dengan type lebih besar bermaksud menikah kembali dan ingin menukar rumahnya dengan yang lebih kecil, untuk dihuni anaknya, karena setelah menikah, dia akan tinggal di rumah suaminya. Dia berminat untuk membeli rumah kami. Saya mengusulkan untuk saling tukar saja, dan kami membayar selisih harga. Saat saya tawarkan kemungkinan tersebut, dia tidak setuju. Mungkin berharap mendapat selisih yang lebih besar dibandingkan bila ditukar langsung dengan rumah kami. Enam bulan tanpa kabar berita, tiba-tiba dia menyetujui usulan saya.

Sayangnya, uang yang tadinya disediakan untuk membayar selisih harga, sebagian sudah digunakan untuk beribadah haji oleh suami. Namun, mungkin sudah jodoh, maka kami diberi kemudahan untuk mencicil selama 6 bulan. Maka, selama suami pergi beribadah haji, rumah baru (hasil tukar tambah) dicat dan dirapikan. Dengan bantuan supir (Trisno), setiap hari, kami mulai membereskan rumah, memindahkan barang-barang sedikit demi sedikit. Toh isi rumah kami memang tidak banyak. Selama 3 tahun punya rumah, kami memang hidup seadanya. Tidak ada barang mewah yang berlebihan, tidak ada lampu kristal atau pernak-pernik rumah tangga lainnya. Piringpun secukup jumlah penghuni saja.

Jadi dalam waktu 3 tahun saja, kami sudah mencicipi 3 rumah di Kemang Pratama. Pertama di Blok E2 lalu pindah ke rumah besar (milik kakak ipar) di AA28 lalu ke rumah sendiri di D45 yang luas tanahnya 216m2 dengan 3 kamar tidur. Jadi ada satu kamar yang multi fungsi, ruang kerja sekaligus ruang baca/kerja. Lumayan besar. Rumah BTN kami di Bukit Cengkeh sudah terjual juga. Rupanya kami berdua bukan termasuk orang yang suka berinvestasi dalam bentuk tanah.

Kami tinggal disini sekitar 5 tahun saja. Bukan karena bosan. Sebagaimana layaknya manusia biasa, selalu ada saja ketidakpuasan. Selalu saja ada kekurangan, maka, manakala anak semakin besar, kebutuhan ruang dirasa semakin bertambah. Salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan merenovasi rumah. Kamar dipindah dan dibesarkan. Tambah teras belakang tempat bersantai, merapikan taman belakang supaya nyaman dipandang. Kesemuanya dengan cara yang sederhana, dikerjakan tukang dengan diawasi sendiri. Bahkan selama renovasi itupun, kami masih tinggal di rumah tersebut. Beruntung juga pernah kuliah arsitektur, sehingga bisa mengatur tukang, Memberi petunjuk mana yang perlu dibongkar lebih dulu. Memindah-tukarkan kusen-kusen dilakukan pada hari yang sama agar, rumah tidak sempat bolong karena kusen pintu/jendela belum terpasang. Mereka-reka detail pergola di teras. Menyusun paduan warna lantai keramik untuk menyamarkan pertemuan keramik dari dua ruangan yang disatukan. Rasanya inilah satu-satunya keputusan merenovasi rumah yang pernah saya ambil.

Saya memang orang yang tidak suka merenovasi rumah (dalam arti memperluas rumah). Logikanya sederhana saja. Aset property itu, yang bertambah nilainya adalah tanah, sedangkan rumah setiap tahun mengalami depresiasi karena ketuaannya (life time). Jadi daripada menambah luas bangunan yang semakin hari semakin berkurang nilainya, maka lebih baik menambah luas tanah.

Atas dasar itulah, ketika kami mendapat warisan, yang terpikir adalah membeli rumah di atas tanah yang lebih luas. Semula kami berpikir untuk kembali masuk ke Jakarta, mendekati sekolah anak di Rawamangun. Jadi perburuan diarahkan ke wilayah Jakarta Timur. Tepatnya daerah Klender, Duren Sawit dan Pondok Kelapa. Sayangnya, kenyamanan lingkungan dan pergaulan yang sudah sangat menyatu dengan tetangga di Kemang Pratama, memupus segala rencana tersebut. Maka, jadilah kami membeli tanah dengan harga diskon dan kemudahan cara pembayaran (memanfaatkan status sebagai bagian dari proyek), lagi-lagi, masih di Kemang Pratama. Kali ini rumah dengan luas tanah 315m2 dengan bangunan yang sudah jauh lebih besar, yaitu 200m2. Khusus dibangun atas permintaan ... maksudnya di disain sendiri. Maklum... ini ”rekayasa” antar teman dan atas kebaikan hati direksi perusahaan yang kami kenal baik.

Kami masuk rumah baru pada bulan Juni 1997. Rumah ini rupanya rumah yang penuh berkah buat kami. Tidak sampai dua bulan tinggal di rumah ini, saya yang sudah lama mengharapkan lahirnya anak kedua, ternyata dinyatakan hamil. Padahal ini adalah kehamilan kedua setelah menunggu selama + 14 tahun. Dan ... Subhanallah ... tidak itu saja, perusahaan tempat kerja saya juga mendapat berkah. Selang satu bulan sesudah saya dipastikan hamil, asuransi mobil yang saya pakai juga mendapat undian berhadiah satu unit mobil Suzuki Sidekick. Jadi anak saya yang kedua hanya mengenal rumah di blok BE8 ini.

Sayang sekali ... kemacetan lalu lintas dari Jakarta ke Bekasi, semakin hari, semakin parah. Bila saat kami pindah pertama kali, tahun 1989, kami masih bisa ke Jakarta (Menteng), mengantar anak sekolah, jam 06.30, maka 10 tahun kemudian kami harus sudah berangkat dari rumah, paling lambat jam 05.45 pagi. Duh... mana sanggup lagi otot yang sudah mulai uzur ini menjalani kehidupan spartan?? Bayangkan saja ... perjalanan Bekasi – Jakarta dan sebaliknya, kalau lancar ditempuh dalam waktu minimal 90mn. Jadi, setiap hari, kami menghabiskan waktu selama minimal 3 jam di perjalanan. Minimal perjalanan 70km pulang pergi (straight forward). Padahal, kami sudah memakai jalan tol Bekasi-Jakarta dan tol dalam kota. Cape dan berat ongkosnya

Bisa dibayangkan ... kapan kami punya waktu yang relax untuk bercengkerama dengan anak? Yang besar, saat itu sudah duduk di bangku SMU, mungkin tidak menjadi masalah besar, karena dia bersekolah hampir sepanjang hari (5 hari sekolah). Tapi gadis kecilku ditinggal sepanjang hari di rumah ... Duh ... mana tega??? Maka.... mulailah kami berpikir-pikir, mau pindah kemana lagi?

Entah darimana asal muasalnya, dalam suatu kesempatan pertemuan keluarga, salah satu ipar saya menyinggung soal kesendirian ibu saya. Dia mengusulkan agar kami bersedia tinggal bersama ibu di lebak bulus – Jakarta Selatan. Ini usul gila ... Mana ada, keluarga, di usia yang sudah matang (dengan anggota 4 orang) kembali ke rumah orang tua? ... Yang tinggal di rumah orang tua itu, pasangan yang baru menikah. Bukan pasangan bangkotan seperti kami .... !!! Hi..hi..hi... ada-ada saja....!!! Lagi pula, mana cocok, saya tinggal dan menumpang di rumah orang, walaupun orang tua sendiri??

Ternyata, lain pikiran saya, lain lagi pikiran suami... Dia menyambut dengan sangat baik usulan itu. Pikirannya sih simple saja. Lokasi rumah ibu saya itu hampir tepat di tengah jarak antara Depok dan Blok M, tempat kantor kami berdua. Jadi, jarak tempuh bagi kami berdua, sangat ringan. Selain itu... dia selalu berprinsip .... Tidak perlu memiliki, tetapi cukup menikmati saja. Apalagi, dia selalu berpegang teguh pada pendapat bahwa tinggal dengan orang tua, sambil mengurusnya pada hari tua mereka (di saat uzur) itu, ibarat memperoleh kesempatan meraih surga. Kenapa kita (anak-anak) selalu menolak kesempatan yang sangat berharga itu...???? Dengan pertimbangan itu, hampir setiap hari, saya selalu ditanyai, kapan mau pindah ke lebak bulus. Sungguh mati, saya sebel ditanya-tanya terus. Bukan apa-apa, saya nggak bisa membayangkan tinggal di rumah ibu... Ada orang lain (di luar keluarga inti), pasti akan ada konflik ... pasti akan hilang kebebasan ... Nanti gimana suami ditengah hiruk pikuk, lalu lalang adik-adik saya (walau mereka sudah memiliki rumah sendiri, tapi pasti sering ”beredar dirumah ibu saya). Apalagi sudah hampir 13 tahun berumah tangga sendiri. Duh... nggak bisa dibayang deh repotnya...

Berulangkali suami mendesak saya untuk pindah ... sampai suatu hari, saya tanyakan kesungguhannya untuk masuk kembali ke rumah orang tua (mertua) dengan segala resikonya. Ternyata ... lagi-lagi dengan entengnya, dia bilang ”gak masalah”!! Ya... mau diapakan lagi?? Jadilah si keluarga bangkotan ini boyongan kembali ke rumah orang tua... di usia perkawinan ke 20 tahun, bertepatan saat anak saya lulus dari SMU .... Hi..hi...hi... lucu..., bukan keluar dari rumah orang tua, malah balik lagi masuk ke rumah orang tua...

Begitulah.... Juni 2005 kemarin, tepat 5 tahun sudah, kami kembali ke rumah orang tua, dengan segala suka dukanya. Rumah lama kami, keduanya, sudah dijual untuk biaya sekolah anak kami di QUT. Betul, jarak tempuh ke kantor tidak seberat dulu lagi. Hanya 15 menit ... kalau berangkat jam 06.30, he..he.. Kalau saat peak hour kira-kira 45 menit untuk jarak hanya 8km. Separuh dari waktu tempuh Jakarta - Bekasi dulu. Jadi, kami masih punya waktu mengantar gadis kecil ke sekolah dan ngobrol di malam hari.

Memang kadang terpikir juga, bila suatu saat ibu saya meninggal dunia. Mau tinggal dimana kami? Rumah ini pasti harus diselesaikan kepada seluruh ahli warisnya. Tapi, seperti biasanya suami dengan enteng bicara ... (yang ini gak boleh dibantah...)... ”tenang aja... Allah SWT pasti tahu apa yang terbaik buat kita ...., Nanti, pasti ada jalan keluarnya”

Ya sudah.... jalani saja hidup seperti ini... Bukankah rumah kita yang pasti, nantinya, hanya berukuran 1 x 2 meter saja? Yang megah-megah sekarang, kan hanya atribut sesaat saja. Jadi untuk apa dipikirkan>

Salam
Lebak bulus 5juli2005

Kita dan Biaya Kesehatan

Ibu saya baru keluar dari rumah sakit setelah dirawat selama + 8 hari. Sakitnya, juga nggak begitu jelas. Semua adik saya, yang pergi bersamanya, bilang, itu semua karena terlalu lelah dan praktis tidak makan selama + 5 hari menunaikan ibadah umroh. Memang ibu saya mempunyai penyakit diabetes dan darah tinggi, apalagi umurnya sudah sekitar 70 tahunan. Jadi, begitu menginjakkan kaki ke tanah air, beliau hanya mampir 2 jam di rumah untuk kemudian di bawa ke rumah sakit swasta di bilangan selatan Jakarta.

Masuk ke rumah sakit di antar adik perempuan terkecil dan suaminya, dokter menduga bahwa beliau terkena serangan jantung dengan komplikasi gula darah naik dan tekanan darah tinggi, sehingga akan segera dimasukkan ke ICCU. Untung sebelumnya, dia menelpon kakaknya, dokter, di Bandung yang juga berangkat umroh bersama untuk meminta opini. Tentu, dugaan penyakit jantung itu ditolaknya, dan minta hanya dirawat di ruang biasa. Bahwa ibu menderita DM dan hypertensi, semua juga sudah mahfum.

Maka jadilah beliau di rawat di ruang VIP. Nggak tahu berapa tarifnya semalam. Mungkin karena beliau mempunyai asuransi kesehatan (yang diperoleh sebagai istri pensiunan bank), jadi dengan ”sombong”nya minta di rawat diruang VIP. Malam itu saya tidak sempat menjenguk, karena kebetulan pulang kantor agak larut, sehingga lelah sekali. Baru keesokan harinya selama 2 hari berturut-turut saya menjenguk. Hari kerja sudah dipastikan tidak akan sempat menjenguknya. Selama beliau di rawat, saya selalu menanyakan kepada adik lelaki yang setiap hari menemani ibu, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada penyakit yang ditemukan kecuali ”kelelahan yang luar biasa apalagi ditambah tidak makan” selama 5 hari itu yang membuatnya sakit dan lemah. Jadi beliau diinfus saja dan ditambah obat-obatan dan diperkirakan dalam waktu 2 – 3 hari saja sudah dapat kembali ke rumah.

Tunggu punya tunggu, ternyata ibu tidak juga kembali dari rumah sakit. Maka hari ke 6 saya minta ijin pulang lebih cepat agar bisa menjenguk ke rumah sakit. Ibu kelihatan lebih segar, tetapi saat saya tanyakan kapan bisa keluar? Adik lelaki hanya memberitahukan bahwa kadar Na di dalam darah, rendah, sehingga masih memerlukan perawatan lebih lanjut. Saya betul-betul mangkel mendengar jawaban tersebut. Jujur saja, saya sama sekali tidak percaya lagi dengan ketulusan dokter di Indonesia, terutama yang berdomisili di kota besar, dalam merawat orang sakit. Di mata saya, sebagian dari mereka adalah ”binatang ekonomi” yang menjadi agen pemasaran obat tidak langsung dari pabrik obat. Menurut saya, bila persoalannya hanya menaikkan kadar Na dalam darah saja, mengapa tidak dijinkan pulang saja seraya diberikan petunjuk ”diet” saja.

Malamnya, saya menelpon adik ke Bandung untuk bicara pada ibu saya dan meminta beliau pulang. Bahkan adik saya berencana membawa ibu ke Bandung agar bisa mengawasi langsung kondisinya. Ini sungguh bukan karena ”biaya” yang harus ditanggung. Toh ibu memiliki asuransi, tetapi lebih kepada ”ketidakpercayaan” saya pada perawatan di rumah sakit. Akhirnya ibu keluar juga dari rumah sakit, dan biaya pengobatan (kamar rawat, infus + obat-obatan dan visit dokter) selama 8 hari itu berjumlah hampir sebelas juta. Bayangkan ... lebih dari satu juta rupiah per hari. Bagaimana bila yang sakit itu adalah orang tidak mampu dan pasti tidak memiliki asuransi kesehatan???

Tidak itu saja ... keluar dari rumah sakit, tidak kurang dari 11 jenis obat yang dibekali untuk dikonsumsi beliau. Apa dikiranya perut manusia itu gudang penyimpan obat, dimana kita bisa menjejali segala macam obat?? Bukankah obat itu sebetulnya ”racun” dengan segala macam ”side effect”??

Saya jadi teringat pengalaman buruk berhubungan dengan dokter THT di sebuah RS terkenal di bilangan Jakarta Selatan. Kala itu, saya sudah seminggu menderita batuk. Seperti biasa, akibat tidak percaya pada dokter, saya hanya meminum obat tradisional saja, jeruk nipis+kecap ditambah dengan pijat+urut. Biasanya penyembuhan tradisional seperti ini cukup manjur. Tidak ada satu butir obatpun yang mampir ke dalam tubuh saya. Sayangnya, kiat jitu tersebut, kali ini tidak berhasil. Saat di kantor, tiba-tiba telinga saya berdenging dan terasa tersengat seperti, kalau ada dua kabel listrik yang korslet. Rasa sakitnya pun tidak tertahan dan dalam waktu hanya 15 menit, terasa keluar cairan dari telinga dari semula bening hingga kemudian agak memerah. Tidak tahan dengan kondisi ini, saya meminta bantuan supir kantor untuk mengantar ke RS yang hanya berjarak 200 meter dari kantor untuk berkonsultasi ke spesialis THT.

Biasanya, selesai periksa dokter, sebelum membeli obat, saya selalu menelpon adik untuk menanyakan obat-obat yang harus dibeli (second opinion). Tapi karena saya merasa sangat kesakitan, kali itu saya langsung membeli obat di apotik RS tanpa tanya-tanya pada adik saya itu. Pokoknya hari itu saya menghabiskan uang hampir 500 ribu untuk dokter dan 3 jenis obat yang harus dimakan selama 5 hari. Yang paling menyakitkan, saya ambruk pada hari ketiga setelah makan obat. Telinga saya memang agak berkurang sakitnya, tetapi badan saya lemas tidak berdaya dan keluar keringat dingin. Rupanya obat yang diberikan dokter terlalu keras dan cenderung mubazir. Adik saya mengistilahkannya dengan ”membunuh nyamuk dengan bom nuklir”. Berlebihan, mahal dan tidak bermanfaat.

Pengalaman buruk berhadapan dengan dokter juga dialami oleh seorang teman. Bapaknya selama + 2 tahun didiagnosa kena ”kanker prostat” dan tidak bisa dilakukan tindakan apapun (karena usianya sudah di atas 70 tahun) sehingga hanya bisa diberikan obat penahan rasa sakit dan ”sekantong” vitamin yang harus dikonsumsi. Selama itulah teman saya ber”belanja” obat sebesar 30 juta per bulan. Beruntung bapaknya itu tuan tanah yang memiliki kebun cengkeh sehingga mampu membiayai ”belanja obat”nya tersebut. Tahun lalu, si bapak yang sudah ”hampir koma” itu dibawa ke Jakarta dan dioperasi. Ternyata apa yang selama ini diduga kanker prostat itu hanya berupa pengapuran dan setelah diambil tindakan operasi, beliau sehat dan bugar kembali hingga sekarang.

Belum lepas dari masalah itu, suaminya, tahun lalu kena stroke dan berlanjut pada timbulnya gejala parkinson. Dari bulan September hingga saat ini, setiap bulan dia harus membelanjakan uangnya untuk membeli obat sebesar 20 juta per bulan, diluar biaya rumah sakit. Beruntung suaminya memiliki asuransi dan penggantian pengobatan yang cukup memadai sehingga tidak perlu jatuh bangkrut karenanya. Adik saya yang lain setiap tahun harus mengeluarkan biaya sekitar 200 juta per tahun untuk 4 kali perawatan rumah sakit dengan rata-rata lama perawatan sekitar 10 hari.. Sampai saat ini, apa penyakitnyapun tak pernah terdeteksi. Sayangnya, saya tidak bisa mempengaruhi dia dan suaminya untuk mencari second opinion baik di RS/dokter lain atau RS di Malaysia yang konon, relatif cukup murah.

Kemarin, saat ibu saya keluar dari RS, adik dan keluarganya dari Bandung datang ke rumah, sekalian berencana membawa ibu ke Bandung. Memang ternyata ibu saya mengalami gangguan tidur. Tapi saya menduga, itu mungkin side effect dari 11 jenis obat yang harus dikonsumsinya pasca perawatan rumah sakit. Mana ada manusia mampu menelan obat yang tidak jelas indikasinya sebanyak itu? Bukankah itu mubazir dan hanya akan terjadi reaksi kimiawi di dalam tubuh yang akan membuat dampak kepada daya tahan tubuh?

Panjang lebar saya ngomel dan berkomentar tentang ”praktek kotor” para dokter sebagai agen pemasaran pabrik obat di hadapan adik yang juga dokter spesialis itu. Saya juga menceritakan bahwa ada dokter umum wanita tua yang sederhana yang sering saya kunjungi saat anak sakit. Ke tempatnya, kita hanya dikenai bayaran maksimal 50 ribu berikut obat. Bahkan tidak jarang bu dokter ini memberikan resep-resep tradisional sebagai tambahan pengobatan modern (obat kimiawi). Tidak banyak dokter yang sederhana dan sangat manusiawi seperti ini. Kebanyakan dokter, mungkin menganggap pasien seperti ”sumber dana” yang perlu dikuras habis-habisan terutama bila dilihatnya pasien tersebut datang dari kalangan berada. Dengan latar belakang seperti itu, pantas saja, tidak banyak dokter yang suka meladeni pasien yang kritis dan mau tahu banyak tentang penyakit dan cara pengobatannya. Selain menghabiskan waktu praktek, mungkin mereka takut ketahuan ”kartu” nya. Mereka lebih suka pada pasien yang ”pasrah bongkokan” pada ucapan dokter.

Ada pula dokter anak yang berpraktek hingga dini hari, melayani ratusan pasien setiap hari di ruang prakteknya. Bagaimana dokter dengan tingkat kelelahan semacam itu mampu mendiagnosa penyakit dengan benar dan teliti? Paling-paling dia akan mem ”bom” penyakit sederhana dengan antibiotik super keras agar terlihat manjur. Dan... anehnya orangtua senang, pula dan berpromosi kepada rekannya bahwa dokter A bertangan dingin dan obat-obatan yang diberikan sangat ”manjur”. Si orangtua mungkin tidak sadar bahwa anaknya sudah menerima ”racun” yang tidak perlu untuk mulai ditimbun dalam badannya. Saya teringat, saat tinggal di Stains, dokter yang saya kunjungi selalu memberi penjelasan yang gamblang mengenai penyakit dan jenis obat yang diberikan. Seringkali, dia memberikan tips & trick untuk merawat anak/bayi sakit agar si anak tidak menjadi ”gudang” timbunan obat-obatan kimiawi. Dokter di Stains tidak pernah memberikan vitamin apapun untuk bayi kecuali tips & tricks menyajikan makanan sehat dan segar bagi seluruh keluarga.

Mendengar ocehan saya yang pedas, adik saya hanya tersenyum saja tanpa komentar .... mungkin dalam hati membenarkan dugaan saya itu. Bagaimana tidak.... kala para dokter mengadakan seminar/kongres, maka para dokter (beserta keluarga – anak dan istri) mendapatkan fasilitas yang luar biasa dari para sponsor (pabrik obat). Bahkan tidak jarang, usai kongres masih dilanjutkan dengan wisata ke berbagai daerah. Ipar saya (dokter juga) malah membawa serta adik-adiknya, karena selama kongres dia mendapat 3 kamar (full board) dari 3 pabrik obat yang berlainan. Bukan main... pasti biaya untuk dokter itu, nantinya dibebankan sebagai biaya promosi yang pada akhirnya akan ditambahkan pada harga jual obat.

Untuk meredam ocehan yang membuat telinganya panas, akhirnya dia buka mulut juga. Detailman pabrik obat yang sering kita temui di ruang tunggu dokter memang seringkali memberi iming-iming kepada dokter termasuk adik saya. Menurut pengakuannya, memang begitulah cara kerja para detailman. Memberi iming-iming pada dokter agar memakai produk yang dijajakan termasuk di dalamnya menambah-nambah vitamin ”sehat” bagi pasien. Tetapi, memang tidak semua dokter tergiur oleh iming-iming. Masih banyak dokter idealis yang memiliki hati nurani. Para detailman, memang akhirnya tidak lagi mengunjungi kamar praktek setelah dengan tegas dokter menolak ajakan ”kerjasama”. Adik saya dengan gamblang bicara bahwa ... dia tidak perlu diajak kerjasama dengan iming-iming uang rutin yang nilainya hanya 500 ribu atau satu juta rupiah perbulan sebagai hasil komisi penjualan obat, karena dia sudah merasa cukup dengan penghasilan murni dari pasien. Obat dari pabrik apapun, bila dibutuhkan dan kualitas maupun penggunaannya tepat, akan diberikan kepada pasien walaupun tidak ada iming-iming dan dia (adik) tidak akan menambah-nambah vitamin yang tidak perlu bagi pasien. Yang perlu dibantu adalah pasien (dengan cara mendapatkan obat yang murah), bukan dokter yang sudah mendapatkan uang dari jasa yang diberikannya. Saya percaya adik saya, masih punya nurani yang bersih.

Jawaban adik secara tidak langsung membenarkan dugaan saya, ada praktek pemberian komisi yang luar biasa besar dari pabrik obat kepada dokter. Itu yang menyebabkan keluar dari praktek dokter, kita (pasien) seringkali dibekali dengan sederet resep yang menghasilkan sekantung besar obat-obatan yang belum tentu diperlukan dan dengan harga yang luar biasa mahalnya. Itu juga yang menyebabkan mengapa program obat generik yang terjangkau rakyat tidak bergaung karena dokter lebih suka memberikan resep obat-obatan paten yang harganya luar biasa mahal.

Walaupun demikian, saya percaya, masih banyak dokter yang memiliki hati nurani yang bersih, terutama yang berada di pelosok dan pedalaman. Dan saya selalu berharap semoga semakin banyak dokter-dokter yang sadar dan kembali pada kemuliaan profesinya. Amin.

Hang tuah- kebayoran baru jakarta selatan
25 juli 2005

Ketika Harus Menyiapkan Pernikahan Anak

Bulan Juli dan Agustus ini, rupanya, bagi sebagian besar orang Indonesia, dianggap sebagai bulan baik untuk melaksanakan pernikahan. Jadi saya mulai kebanjiran undangan pernikahan, baik dari teman-teman maupun keluarga.

Berbeda dengan saat saya dulu menikah, saat ini undangan pernikahan terbuat dari berbagai ragam bahan, warna dan bentuk. Dari yang sangat sederhana hingga yang super mewah. Dari yang hanya terdiri dari karton conqueror berwarna sampai dengan undangan yang dimasukkan ke dalam box mewah lengkap dengan bunga, pita dan photo pengantin. Bahkan bos saya di kantor pernah menerima undangan berbentuk pigura photo yang sangat cantik dan eksklusif, yang saya taksir harganya tidak kurang dari Rp.75.000,- per buah. Begitulah, di kantor, kami seringkali berebut undangan yang cantik-cantik itu untuk dimodifikasikan menjadi hiasan meja/dinding atau bingkai photo.

Itu belum tempat pesta, makanan dan dekorasi termasuk pelaminan. Jujur saja ... kadang-kadang, kala menerima undangan, kami sering memprediksi .. bahwa kalau gedung resepsinya di Wisma A atau di hotel A, sudah dipastikan bahwa makanannya mewah dan enak. Melimpah dan mengundang selera. Kalau di gedung atau hotel C maka, jangan berharap akan makan enak ... Hehe... kok milih-milih undangan sih?? ini niatnya mau memberi doa restu atau makan-makan ?? Untungnya, sudah beberapa tahun ini, kami menganut food combining sehingga tidak terlalu kemaruk dengan makanan mewah dan enak yang tersaji. Suami saya saja yang selalu lupa diri bila melihat nasi goreng. Berbekal pengetahuan tentang korelasi antara gedung dengan kualitas makanan, saya sering memberi peringatan pada suami, bahwa nasi goreng di gedung/hotel kelas A sangat enak dan layak disantap, sedangkan di gedung/hotel kelas C tidak bisa diandalkan. Namun fanatisme terhadap nasi goreng membuatnya sering mengabaikan ”peringatan dini” saya. Belakangan baru dia sadar dan nggrundel ... bahwa nasi gorengnya tidak enak.. walaupun habis juga satu piring.

Jumlah undangan yang terlalu banyak juga seringkali menjengkelkan tamu. Saya paling tidak suka menghadiri undangan yang jumlah tamunya melebihi kapasitas gedung, membuat tamu tidak nyaman bergerak. Kalau sudah begini, setelah mengisi buku tamu, dan melihat antrian masih sangat panjang baik menuju pelaminan maupun di tempat makan, maka sudah dapat dipastikan kami akan balik pulang dan mencari restoran terdekat untuk mengisi perut. Kok mengundang orang untuk disiksa antri berjam-jam? Ya antri memberikan salam dan doa restu lalu antri untuk ambil makanan. Duh... yang butuh doa restu itu siapa ya...??? Tamu atau yang mengundang? Terbalik-balik logikanya. Lagi pula, sudah dipastikan yang diundang adalah orang-orang yang mampu membeli makanan sekelas yang dihidangkan di pesta itu. Kok ya tega-teganya disuruh antri pembagian makanan. Kaya jaman resesi aja.... Padahal, katanya, kita diundang dan pengundang sangat mengaharapkan kedatangan tamu untuk memberikan doa restu .... Artinyanya yang diundang itu harus dihormati karena ”diharapkan” kehadirannya. Tapi ketika datang kok ya disiksa untuk ngantri.....????

Belum lagi soal hari/waktu resepsi. Jakarta yang macet dan sibuk ini membuat kita harus mempersiapkan diri dengan baik untuk datang ke undangan. Mempersiapkan waktu yang cermat agar tidak terkena macet. Saya dapat dipastikan tidak akan pernah datang bila resepsi diadakan pada hari kerja . Tidak perduli yang mengundang itu keluarga apalagi hanya teman. Cukup kirim sms saja, memberitahukan ketidakhadiran dan doa restu bagi mempelai. Kemacetan yang luar biasa di Jakarta untuk menuju tempat resepsi membuat saya sudah patah arang. Jauh-jauh hari sudah ada komitmen dengan suami bahwa undangan yang akan dihadiri bersama, hanyalah undangan pada hari Sabtu atau Minggu, sehingga tidak merepotkan baik saya maupun suami. Bila suami merasa perlu hadir pada undangan di hari kerja, saya persilakan untuk hadir sendiri. Dia sudah tahu untuk tidak mengharapkan kehadiran saya bersama, pada undangan di hari kerja. Dan toh akhirnya, seringkali dia tidak hadir juga setelah melihat kenyataan bahwa hadir pada undangan di hari kerja sangat melelahkan dan menjemukan.

Dengan kondisi seperti ini, sebetulnya apa yang harus dipersiapkan, ketika kita akan mengadakan pesta pernikahan anak? Jujur saja ... saya tidak tahu. Semua tergantung pada persepsi si calon mempelai dalam menghadapi momen ”terpenting” dalam hidup mereka. Itupun juga masih diembeli-embeli dengan persepsi dan kepentingan, termasuk gengsi orangtua ke dua calon mempelai.

Sewaktu masih kuliah, saya tidak pernah membayangkan akan menikah. Terpengaruh oleh kisah ”cengeng” dalam majalah, saya berpikir, untuk apa menikah bila perempuan hanya menjadi pelengkap penderita dalam kehidupan berumah tangga. Dan toh akhirnya saya menikah dalam usia yang relatif muda dan belum selesai kuliah lagi. Maka terpaksa saya merevisi angan-angan tersebut. Bayangan saya adalah menikah dalam suasana yang sederhana saja. Hanya akan mengadakan ijab-kabul serta walimah sederhana langsung setelah ijab kabul yang hanya dihadiri keluarga terdekat dan teman dekat dari mempelai. Itupun tidak tercapai .... dengan berbagai dalih, orang tua ”memaksa” untuk membuat pesta, mengundang relasi. Alasannya terdengar klasik ... takut disangka anaknya sudah hamil sebelum menikah. Duh gemes banget dengar alasannya. Tapi apa boleh buat, daripada bertengkar dengan orang tua.

Akhirnya setelah berdebat panjang lebar, kebetulan orangtua saya tidak ”fanatik” terhadap tradisi, upacara pernikahan berlangsung secara simple. Tidak ada acara siraman – seserahan – midodareni – malam bainai (ibu saya orang Minang). Bahkan setelah akad nikah, tidak ada upacara ini itu, injak telur – kacar-kucur (suami berasal dari Jawa) dan lain sebagainya yang dianggap sebagai simbolisasi dari kehidupan rumah tangga. Termasuk upacara yang biasa dilakukan orang saat menjelang resepsi. Mana saya peduli ....???, Bagi saya, kehidupan rumah tangga tidak terkait dengan lengkap atau tidaknya tradisi itu dijalankan. Kehidupan rumah tangga lebih terkait pada bagaimana komitmen pasutri dalam menjalankan bahtera rumah tangganya. Cukup itu, dan sama sekali bukan tergantung pada simbol-simbol yang menghabiskan waktu dan biaya.

Yang tidak dapat saya tentang adalah penyelenggaraan resepsi, yang tergolong relatif mewah untuk waktu itu. Sungguh mati, saya benci sekali menjalani acara itu. Bagi saya... kok menyebalkan sekali jadi pengantin. Didandani dengan riasan medok seperti wayang orang. Dijadikan pajangan di tengah gedung pertemuan, lalu ditonton dan mesti cengar-cengir kepada orang yang menyalami (yang tidak semuanya kita kenal). Duh .... betul-betul menyebalkan sekaligus melelahkan. Demi gengsi orang tua ...... Padahal, kalau saja uang yang dihabiskan untuk pesta itu diberikan kepada kami, pasti bisa digunakan untuk membeli sebuah rumah mungil yang memadai bagi pengantin baru.

Sejak saat itu, saya selalu berandai-andai, bila suatu saat menikahkan anak, maka saya tidak akan membuat pesta. Cukup akad nikah dan walimah di antara keluarga dan teman dekat. Tidak lebih dari 100 orang, menurut perhitungan saya. Tidak jarang perandaian itu memicu ”pertengkaran kecil” dengan suami. Alasannya karena ”calon besan” belum tentu sama persepsinya dengan kami dan kami harus mau menyesuaikan diri. Sementara saya selalu ngotot dengan ”model ideal tata cara pernikahan” saya itu. Dan..... di luar dugaan.... anak saya menikah hanya dihadiri oleh 7 orang saja ... penghulu, saksi dan kami sekeluarga. Bahkan keluarga anak gadispun (non muslim) tak hadir karena anak saya menikah di mesjid. Sedihkah perasaan saya pada saat itu? Rasanya, tidak. Jauh dari perasaan sedih. Saya hanya merasa lega bahwa anak saya sudah menikah. Pernikahan anak saya adalah wujud dari bentuk pernikahan yang saya inginkan dulu. .... Singkat dan memenuhi syariat. Entah kalau perasaan anak saya saat itu. Saya tidak bertanya lebih jauh.

Minggu lalu, sebagian dari keluarga besar suami saya berkumpul. Kebetulan, salah seorang ipar saya berulang tahun, jadi kami semua berkumpul sekaligus membicarakan rencana acara pernikahan anak lelaki si tuan rumah. Calon menantu ipar saya itu blasteran Minangkabau (dari ibu) dengan Jawa (dari bapak).

Tadinya, saya berpikir jaman sudah banyak berubah, jadi, saya berasumsi, bahwa dalam mempersiapkan pernikahan, kita hanya akan mengambil yang esensial saja dari pernikahan itu. Kita tidak lagi terkungkung dengan segala adat istiadat dan simbolisasi upacara pernikahan ruwet. Apalagi bila ditambah dengan konsekuensi biaya yang akan melambung tinggi.

Ternyata, dugaan saya keliru sama sekali. Rupanya, semakin tinggi status sosial masyarakat, maka kecenderungan untuk mengadopsi segala pernak-pernik dan tata cara adat/tradisi dalam penyelenggaraan pernikahan yang ruwet, semakin mengental. Semakin tinggi status sosial, maka semakin ruwet pula adat istiadat yang digunakan dan itu berdampak semakin besar biaya yang harus dikeluarkan. Dan itulah (mungkin) yang diinginkan, karena semakin ”menonjolkan gengsi dan status sosial keluarga”.

Maka, dalam rencana acara pernikahan keponakan suami, segala tata cara pernikahan yang diatur oleh keluarga perempuan, secara adat/tradisi baik dari garis bapak (Jawa) dan ibu (Minang) semuanya ingin dimasukkan. Sementara upacara pernikahan di keluarga pengantin lelaki, dimulai dengan ritual pengajian (yang ini bolehlah diadopsi .... dengan makna berdoa kepada Allah SWT) pada hari sebelum pernikahan, lalu siraman. Setelah siraman, keluarga pengantin lelaki akan berkunjung ke rumah keluarga perempuan untuk mengikuti acara midodareni (Jawa) dan sekaligus malam bainai (Minang) yang diperkirakan berlangsung dari jam 19.00 s/d 22.00. Lalu, keesokan harinya, tepat jam 09.00 pagi akan diadakan acara akad nikah dilanjutkan resepsi pada sore harinya yang dimulai jam 19.00 di suatu gedung pertemuan.

Yang menjadi titik perhatian saya yang pertama adalah acara midodareni dan resepsi yang keduanya berlangsung pada jam 19.00, dua hari berturut-turut. Lokasi rumah pengantin perempuan berada hampir di ujung selatan kota Jakarta dan mempelai lelaki di bilangan Jakarta Timur. Jadi untuk mencapainya memerlukan waktu minimal + 1 jam. Belum terhitung macet yang biasa terjadi di hampir seluruh ruas jalan di Jakarta pada malam minggu. Ini berarti, paling lambat, pada jam 18.00 rombongan calon pengantin lelaki sudah harus berangkat dari rumah menuju kediaman calon pengantin perempuan. Lalu, bagaimana menunaikan shalat maghrib. Haruskah ditunda (jama’)? Usulan mengundurkan waktu dimulainya acara midodareni/malam bainai, untuk memberi kesempatan menunaikan shalat maghrib hanya dijawab ” pengunduran waktu ini berarti acara midodareni/malam bainai akan berlangsung hingga larut malam. Sementara keesokan harinya, akad nikah akan berlangsung tepat jam 09.00. Tentu melelahkan bagi ke dua belah pihak. Terserah akan memilih yang mana. Tetap jam 19.00 dan selesai jam 22.00 atau mundur dengan konsekuensi mundur pula waktu selesainya”

Duh ... sedih mendengar jawaban seperti itu. Apakah demikian pentingnya acara adat midodareni/malam bainai itu sehingga waktu shalat maghrib pun harus dikorbankan? Bila demikian, mengapa tidak memotong acara adat (yang menurut saya tidak berguna – hanya buang-buang waktu dan uang saja) tersebut untuk memberikan kesempatan shalat maghrib dan istirahat yang cukup bagi keluarga ke dua belah pihak?

Belum urusan acara midodareni/malam bainai itu selesai, muncul lagi ”aturan baru” bahwa menjelang acara resepsi, keesokan harinya, seluruh keluarga kedua belah pihak diharapkan kumpul dan selesai berhias pada jam 17.00. Sesi photo keluarga akan dimulai sebelum acara resepsi, yaitu setelah mempelai dan keluarga selesai berhias. Jadi seluruhnya masih segar dan cantik untuk berphoto. Lalu, untuk keluarga yang lain,... jam berapa kami harus mandi, para perempuan berdandan, kemudian berangkat ke gedung? Bagaimana dengan shalat ashar dan shalat maghrib kami?

Saya betul-betul bingung dibuatnya. Ingin sekali saya berbaik sangka saja, bahwa yang mengatur acara tersebut adalah non muslim yang tidak mengerti bahwa di antara waktu-waktu tersebut ada waktu shalat ”WAJIB” ... panggilan Allah SWT yang tidak bisa diabaikan bagi mereka yang mengaku bahwa ”shalatku ... hidupku ... dan matiku ... hanyalah bagi Allah SWT semata....” Namun, nyatanya kedua belah pihak keluarga adalah keluarga muslim. Minimal yang saya ketahui, kedua ipar saya selalu shalat wajib lima waktu. Dan toh .... pada persiapan pernikahan tersebut, mereka luruh dan tunduk pada aturan manusia ... sudah diatur bahwa sesi berphoto ria adalah sebelum resepsi berlangsung, walau dengan resiko kehilangan waktu shalat. Betul, Islam memberikan kemudahan dengan adanya aturan jama’. Tapi apakah men-jama’ shalat bisa dibenarkan untuk alasan seperti ini? Wallahu ’alam.

Di luar dari pengaturan waktu tersebut, kecenderungan orang untuk bermewah-mewah dalam penyelenggaraan pesta pernikahan sungguh membuat hati bertambah sedih. Seorang teman wanita yang sedang mempersiapkan pernikahannya bercerita bahwa satu buah kebaya panjang brokat dengan sulaman mote untuk acara pernikahan harus dibayar dengan harga 8 juta rupiah. Konon harga ini 50% lebih murah dari harga resminya, karena sang teman langsung berhubungan dengan penjahit seorang designer terkenal di Indonesia.

Ipar saya yang lain, seorang florist yang mengkhususkan diri pada pesta pernikahan, bercerita bahwa tarif untuk menghias (dengan bunga) untuk suatu acara pernikahan minimal 25 juta untuk campuran bunga lokal plus sedikit bunga impor. Belum lagi biaya perias pengantin yang konon juga seharga di atas sepuluh juta, seragam panitia dan keluarga, biaya pelaminan, dokumentasi dan lain-lain. Sementara biaya makanan pun paling tidak harus membayar minimal 35 ribu/per orang (ini menu paling sederhana), belum termasuk makanan yang tersaji di gubuk-gubuk yang tarifnya antara 10 ribu sampai dengan 35 ribu per porsi. Belum lagi bila resepsi diselenggarakan di hotel berbintang. Minimal 85 ribu per pax plus pajak dan service 21%. Ini tentunya juga, belum termasuk makanan tambahan yang ditata dalam gubuk. Jadi tidak heran bila biaya penyelenggaraan pesta pernikahan termurah (sederhana) yang pernah saya hadiri bernilai 200 juta (angka ini saya dapat dari keluarga mempelai perempuan) untuk undangan sebanyak 500 lembar.

Salah satu kenalan, secara bisik-bisik mengungkapkan angka di atas 1,5 miliar untuk suatu pesta di sebuah hotel berbintang 5 di Jakarta. Bayangkan ... dapat disimpulkan; harga sebuah pesta pernikahan kelas menengah di Jakarta dimulai dari 200 juta rupiah hingga di atas satu milyar.... .

Bayangkan bila uang sebesar itu dibelikan sebuah rumah untuk pengantin baru ... pasti jadilah sebuah rumah yang cukup indah di sebuah kawasan perumahan di Jakarta. Kalau saja uang tersebut dipinjamkan kepada pengusaha kecil untuk bantuan modal, minimal ada 40 pengusaha yang memperoleh pinjaman senilai 5 juta rupiah. Seandainya uang tersebut digunakan untuk memberi makan kaum dhuafa, pasti ada minimal 20.000 boks nasi seharga 10 ribu per boks yang dapat dinikmati mereka. Kalau saja.....

Sayangnya, kita lebih suka bermegah-megah, menonjolkan keakuan di tengah kemelaratan sesama .... Kita lebih suka memberi makan orang berpunya yang sudah kelebihan kalori di tubuhnya, yang juga mampu membayar makanan sejenis di restoran mewah, untuk datang ke pesta yang kita buat dibandingkan dengan memberi makanan yang lezat bagi kaum dhuafa satu kali saja dalam hidup mereka.

Sayangnya lagi kita lebih suka membuang-buang uang untuk membayar bunga hias dan pernak-perniknya yang hanya digunakan satu malam saja, dibandingkan dengan membina dan menolong pengusaha kecil dan lemah dengan jumlah uang yang sama.

Sayangnya, kita lebih suka membuat undangan yang indah dan mewah, memberikan seragam lengkap bagi para among tamu demi menaikkan gengsi keluarga ketimbang menyisihkan dana tersebut untuk anak tetangga yang nyaris bunuh diri karena tidak sanggup membayar uang sekolah...

Dan ... ah begitu banyak perandaian yang muncul di benak saya, sampai saya tersadar, saat suami saya mengingatkan...” jangan berburuk sangka.... mungkin ibadah, zakat dan sedekah mereka sudah lebih besar dari apa yang mereka buang untuk menyelenggarakan pesta pernikahan anak-anak mereka. Jadi biarkanlah mereka memenangkan egonya sekali saja dalam sepanjang umur hidup mereka ”..........

Cukupkah alasan itu ..... entahlah...! Sejuta protes dan ketidakpuasan masih menjejali kepala saya dan mungkin harus saya telan sendiri. (eh ada untungnya... nih, jadi tulisan yang bisa dibaca oleh semua orang...)

Jakarta, 20 juli 2005
Hangtuah – jakarta selatan

Menikah dengan Tunisian, siapa takut...?

Avec grand remerciement pour Isna

Gerbang pernikahan di jaman sekarang kelihatannya semakin sukar dimasuki. Di kota-kota besar, usia penikahan baik lelaki maupun perempuan, cenderung makin meninggi Umumnya dikisaran usia 30 tahun. Entah apa yang jadi penyebabnya. Apakah karena perempuan sekarang banyak yang bersekolah tinggi, lalu menunda penikahan agar kuliah bisa selesai dulu. Dan karena pada umumnya usia perempuan lebih muda dari pasangannya otomatis usia lelaki saat memasuki pernikahan juga semakin tinggi.

Ternyata, selesai kuliahpun mereka tidak langsung menikah. Mencari pekerjaan dulu.... terbenam dalam sibuk.. Lalu setelah itu mulai sedikit realistis. Mulai menimbang-nimbang ... mesti punya rumah dulu ... punya mobil dulu... punya tabungan dulu .. punya asuransi jiwa dulu... Kalau materi belum siap, kasihan anak-anaknya. Sekolah sekarang mahal . Setelah semua tersedia ... lho..lho... Mental belum siap nih ... Tertunda lagi ... Terus begitu, tidak habis-habisnya.

Di sisi lain, perempuan sekarang juga sangat mandiri. Pekerjaan membuat mereka merasa mampu menghidupi dirinya. Tidak perlu tergantung pada orang lain. Dengan begitu persepsi perempuan terhadap nilai pernikahanpun berubah. Harus egaliter dalam hak dan kewajiban!
-----------
Teman les bahasa Perancis saya, datang dari berbagai golongan. Sebagian adalah perempuan matang, bahkan ada nenek berusia 65 tahun yang menurut saya sangat ”smart” dan ”open minded”. Pengetahuannya sangat luas terutama yang menyangkut budaya. Salah satu yang termasuk paling rajin les, perempuan muda usia 34an. Dia bisa digambarkan sebagai profil wanita karier masa kini. Smart, open minded, sangat extrovert, easy going dan gemar bertualang. Pendapat dan gaya hidupnya, terutama yang berkaitan dengan hubungan lawan jenis, sering bikin telinga ibu-ibu, terutama ”the housewife’s gang” merah padam. Bisa dimengerti, mereka yang tidak bekerja, mungkin tidak tahu bagaimana hutan belantara pergaulan para professional muda yang penuh gelora.

Baru-baru ini, dia yang selalu rajin hadir di kelas, menghilang dari ccf selama dua minggu. Tanpa kabar berita, sms yang dikirimpun tak sampai. Nah dua minggu yang lalu dia masuk, dan dengan wajah berseri-seri menceritakan petualangannya ”mencari cinta” ke negeri orang. Betul-betul ke negeri orang . Naik pesawat dari Jakarta – Singapore – Bangkok – Istambul dan lalu berlabuh di ujung utara benua Afrika, di salah satu negeri ”Maghreb”, Tunisia. Cerita perburuannya seru ... seram ... menegangkan ... dan sekaligus mengharukan. Minimal buat saya. Tapi, sayang bersifat sangat pribadi. Jadi, bukan itu yang ingin saya ceritakan.

Lelaki yang ditemuinya itu atau sebutlah calon suaminya, berusia sekitar 50 tahun, bekerja di sebuah kementrian Tunisia. Jadi jelas asal usul dan pekerjaannya. Itu yang penting. Bagaimana bisa bertemu? Ini pergaulan global a la cyber net ... Jadi, ini salah satu keuntungan kita ber internet ria. Chatting telah membuka ruang pergaulan dan memungkinkan pertemuan dua orang yang berada di belahan dunia yang tak terjangkau mata.

Setelah berkenalan selama 4 tahun, si gadis nekat berangkat ke Tunisia ... tanpa tujuan yang jelas. Kalau cocok ayo menikah, kalau tidak.. masih banyak lelaki di seluruh penjuru dunia. Maklum ... kemandirian a la wanita karier Indonesia, kadang membuat mereka merasa kurang cocok dengan lelaki Indonesia, terutama yang masih berpikiran ”tradisionial”

Dia duda bercerai yang memiliki 3 orang anak. Itu biasa ... di Indonesia banyak lelaki menceraikan istrinya. Lalu cari istri lagi.... dan itu juga biasa. Bahkan yang masih punya istripun kadang masih suka jelalatan, goda sana- goda sini. Apa anehnya? Apalagi Tunisia kan negara Islam, yang memperbolehkan suami beristri 4.

Tapi, ternyata Tunisia itu negara Islam yang unik. Negara itu, konon merasa lebih ”modern” dari kebanyakan negara Islam di utara jazirah Afrika. Jadi dalam pergaulan diplomatik internasional, Tunisia tidak mau dekat-dekat dengan Aljazair, Sudan, Maroko atau bahkan Mesir. Tunisia lebih merasa sepaham dengan Turki yang sekuler dan setengah Eropa itu. Lebih modern ... Mungkin begitu pikir para politisi negara itu.

Masyarakat Tunisia hidup dalam kontradiksi. Di satu sisi, peraturan dan undang-undang yang berlaku sangat maju. Sangat melindungi kepentingan warga negaranya. Tidak kalah dengan negara barat Apalagi penerapannya pun dengan sanksi – dan hukuman yang jelas. Tidak main-main. Tetapi di lain pihak, kultur Arab tradisional masih kuat melekat di dalam kehidupan masyarakatnya. Kehidupan yang sangat patrilinial. Dari kacamata para feminis, Tunisia adalah negara yang masih didominasi oleh lelaki. Perempuan tugasnya di rumah, mengurus suami dan anak-anak. Perempuan Tunisia yang bekerja masih sangat jarang. Dan seperti di negara Arab lainnya, sepulang kantor, suami akan mampir ke supermarket, belanja kebutuhan rumah tangga. Istri tinggal memasak di rumah.

Jangan harap kita pasangan non muhrim berani bergandengan tangan di muka umum. Jangan berani berpakaian tidak sopan ... Harus pakaian tertutup! Kalaupun tidak berhijab ... pakailah pakaian yang sopan, sedikitnya jangan mengumbar kemolekan tubuh. Itu tabu. Urusan kemesraan dan kemolekan tubuh jangan diperlihatkan di muka umum. Dalam hal ini, Jakarta jauh lebih maju. Tetapi..., di pantai turistik Tunisia, perempuan berbikini dengan aman bergentayangan. Ini pantai bung ... masa berpakaian lengkap? Bahkan, aborsipun dapat dilakukan siapapun, di banyak rumah sakit, dengan syarat bahwa usia kandungan belum melebihi 3 bulan.

Bagaimana pemerintah mengatur kehidupan rakyatnya, terutama yang berkaitan dengan perlindungan kepada anak-anak dan wanita. Ini menjadi perhatian saya. Bukan karena sok feminis. Tapi, hanya ingin mengetahui bagaimana pemerintah sekuler dari sebuah negara Arab yang sudah pasti mayoritas penduduknya beragama Islam, menterjemahkan hak-hak anak dan perempuan ke dalam UU dan sekaligus aplikasinya. Saya hanya ingin mengutip cerita kawan saya itu terutama dalam kasus yang berkenaan dengan ”perceraian dan konsekuensinya. Yang berkaitan dengan perlindungan anak dan mantan istri”

Kita mulai dari ; Bagaimana gaya remaja Tunisia berpacaran? Remaja Tunisia dilarang pacaran! Jangan main-main, kalau naksir anak orang... nah, datang langsung kerumah orang tuanya. Ajak orang tua kita untuk bilang kalau anak kita naksir anaknya. Lalu orang tua akan membuat pesta, mengundang kenalan dan tetangga. Setelah itu siap-siap memasuki gerbang pernikahan. Apa persiapannya ?

Yang terpenting adalah rumah dengan segenap isinya Ini indispensable, ”wajib bin kudu”. Jangan berharap menikah kalau yang satu itu belum terpenuhi. Kalau masih ada uang berlebih, tambahkan mobil.. lalu perhiasan, emas berlian, gak boleh imitasi ... lalu .... deposito... hehe.. pokoknya lengkap!!! Jangan dikurangi ... kalau tidak, jangan harap bisa menikah cepat-cepat. Nah persiapan ini memakan waktu bertahun-tahun. Jadi perempuan maharnya ”mahal”. Bubar dan membatalkan rencana pernikahan ...? No way.... belum pernah terjadi. Mungkin seluruh kaum kerabat bisa malu besar. Masyarakat Tunisia menjaga betul hal ini!

Setelah menikah? Perempuan duduk manis di rumah. Memang begitulah tradisi Arab. Perempuan bagai hidup disangkar emas. Alasannya; karena perempuan sangat dimuliakan. Lelaki yang bertanggung jawab harus memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarganya. Jadi sebetulnya enak lho, jadi perempuan! Tapi sayangnya, ada sedikit kontradiksi ... di dalam rumah, lelaki, termasuk anak lelaki, menjadi raja. Jangan makan sebelum mereka selesai makan dan kenyang. Sediakan cepat seluruh kebutuhan mereka. Jangan sampai mereka marah karena perempuan tak sigap melayani. Lelaki Tunisia juga sangat senang menghabiskan sore hari, berkumpul di kafe-kafe yang bertebaran di segala penjuru kota. Mereka mengobrol sambil minum kopi dan merokok dengan pipa khas arab. Namun jangan harap dapat menemukan wanita di kafe. Ini hal yang tabu dan akan jadi pemandangan aneh jika seorang wanita masuk dan duduk untuk minum kopi di tempat seperti itu. kecuali memang di daerah turis dimana banyak terdapat kafe yang memang diperuntukkan untuk wanita dan keluarga. Kehidupan seperti ini, bagi perempuan yang berpendidikan tinggi, yang sudah ”teracuni oleh pemikiran Barat” akan menjemukan dan membuat mereka berontak dan bisa berbuntut pada perceraian.

Perceraian memang bukan hal yang dilarang dalam Islam, walaupun tidak dianjurkan. Perempuan Tunisia tidak akan pernah takut bercerai. Bisa jadi, justru lelaki yang takut untuk menceraikan istrinya. Perceraian bisa membuat lelaki Tunisia bangkut. Betul-betul bangkrut. Rumah dan seluruh kekayaan beralih tangan kepada mantan istri, karena itu bagian dari mahar yang sudah diserahkan kepada istri saat menikah. Yang tersisa, hanya gaji yang dimiliki. Itupun sudah dipotong-potong oleh berbagai kewajiban menyantuni anak serta mantan istri.

Kewajiban menyantuni anak dan mantan istri wajib hukumnya. Anak-anak harus disantuni, dicukupkan kewajibannya sampai mereka selesai kuliah. Mantan istri wajib, dinafkahi sampai dia menemukan jodohnya kembali. Kalaupun mantan istri menikah, jangan harap bisa lepas tangan terhadap kewajiban menafkahi anak. Yang terlepas kewajibannya adalah menafkahi mantan. Anak, nasabnya kepada bapak. Jadi jangan coba-coba ingkar janji. Tetap melekat sampai mereka selesai kuliah.

Bagaimana bila lelaki ingin menikah kembali? ... Tidak ada kendala. Boleh... tapi selama mantan istri belum menikah kembali, maka kewajiban terhadap mantan belum pupus. Hanya sedikit berkurang, karena berarti ada dua perempuan yang disantuni suami. Apakah cukup di atas kertas begitu? Tidak ...!!! Pemerintah Tunisia sudah melengkapi dengan berbagai aturan dan sanksi. Secara periodik, aparat akan datang dan mengecek bukti transfer kewajiban lelaki kepada mantan istri dan anak-anaknya. Jangan pernah berani ingkar!! Bukti-bukti harus lengkap dan jelas Kurang 1 kali kirim? Penjara ganjarannya!!!!

Peraturan ini jelas melindungi kepentingan anak-anak dan perempuan. Jadi... siapa takut menikah dengan lelaki Tunisia ....?????

Salam
Lebak bulus 15 juni 2005

Tanggapan di mailing list

Assalamualaiku wr, wr,

Mbak-mbak dan mas-mas di Mailing list wanita-muslimah yang saya hormati,
Senang sekali saya mendapat tanggapan yang bertubi-tubi, baik tanggapan yang bersifat positif maupun negative atas posting berjudul "mengawal anak remaja menyusuri gemerlap kehidupan kota besar". Ini menandakan bahwa kita masih sangat peduli dengan masalah remaja. Memang begitulah maksud dari tulisan saya tersebut.

Ingin saya sampaikan, seluruh cerita yang saya tuangkan, (baca juga posting saya tentang "Menyiapkan Pernikahan anak" dan 2/2 Mengawal remaja ...")., didasarkan atas keinginan berbagi pengalaman memiliki anak remaja. Saya tidak ingin membagi teori, karena bidang saya memang bukan pendidikan/psikologi. Saya juga bukan ahli agama, tapi hanya seorang ibu yang sedang dan selalu berusaha membimbing dan menjaga anak-anaknya agar hidup sesuai dengan ahlak Islami.

Berkaitan dengan apa yang saya tulis sebagai "pernikahan dini", yang dimaksud adalah pernikahan di usia relatif muda, yang normal, bukan karena MBA (married by accident). Sebagaimana kita ketahui, usia pernikahan (bagi kaum "terdidik") saat ini sudah bergeser dari rata-rata usia antara 25 – 30 tahun menjadi di atas 30 tahun. Jadi, penikahan di usia 22 tahun (seperti pernikahan anak lelaki saya) dapatlah dianggap sebagai pernikahan di luar kebiasaan umum. Kalimat "mau pernikahan dini atau perzinaan dini" juga tidak dimaksudkan untuk mencari jalan keluar bagi kehidupan seks pranikah remaja yang sudah meluas sampai pada taraf PSK. Ini sudah masuk wilayah masalah sosial kemasyarakatan yang sama sekali tidak saya kuasai.

Sebagai orang tua (ibu), segala teori yang dikemukakan oleh mbak/mas sekalian tentulah sudah menjadi perhatian kami sejak awal dan kami terapkan sejak anak kami masuk TK. Tanpa bermaksud sombong, dapat kami katakan bahwa dalam lingkungan kecil, anak kami bisa dijadikan contoh "sukses" bimbingan orang tua. Dalam bidang akademis, dia lulus SD dengan predikat terbaik sekaligus menyandang Pelajar teladan DKI, juara Matematika DKI dan 4 besar Matematika Nasional. DI SLP/SMU prestasi akademis masih tetap baik, terpilih masuk kelas akselerasi serta sering mewakili sekolah untuk lomba akademik maupun olah raga. Selama kuliahpun prestasinya cukup baik, paling tidak bila dilihat dari IPKnya.

Kegiatan olah raga juga diikuti; basket, rock climbing, sepak bola, bela diri termasuk juga kegiatan musik, dan kegiatan olah raga ini tetap berlangsung hingga saat ini. Ibadah? Alhamdulillah, sejak SD, sudah shalat 5 waktu dengan tertib dan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Rasanya, ibadah kami, orangtuanya, saat remaja tidak dapat dibandingkan karena betul-betul tidak sebaik apa yang dijalankannya.

Hubungan saya dengan anak juga cukup dekat, seperti teman. Berdiskusi, berdebat tentang berbagai hal, termasuk juga mendiskusikan konsep rumah tangga/pernikahan secara terbuka. Tentunya dia juga tahu persis, bahwa ibunya menikah sebelum selesai kuliah dan dia lahir saat bapaknya masih berkutat dengan thesisnya. Jadi, dia mendapat contoh langsung bahwa pernikahan sambil sekolahpun tidak menjadi hambatan bagi masa depan manusia.

Walau dengan latar belakang seperti itu, saya memang cukup kaget, saat masih di SMU, dia mengatakan ingin menikah di usia 22 tahun. Saat itu saya berpikir ... "ah pikiran anak SMU". Nanti juga akan berubah ... Sungguh, seperti layaknya orang tua lain, saya membayangkan bahwa anak saya akan menikah pada usia 30 tahun, setelah mapan, punya rumah dan lain-lain sebagaimana umumnya bayangan orang tua. Apalagi setiap saat, setiap waktu kami selalu berbicara banyak mengenai konsep-konsep kehidupan/pernikahan yang umum dianut orang.

Rupanya saya lupa, anak, bagaimanapun juga, dia, manusia yang punya akal, otak, pikiran dan jamannya sendiri. Referensi yang kita (sebagai orang tua) gunakan, adalah "masa lalu" yang minimal dari masa 25 tahun yang lalu (saat kita remaja), dan kadang tidak relevan dengan apa yang anak-anak kita hadapi saat ini. Bisa dibilang "kuno". Anak-anak kita memang menyimak ucapan orang tua... tetapi, belum tentu mereka mengadopsi pemikiran kita. Mereka punya persepsi sendiri.

Mungkin kita lupa, jaman kita muda dulu, kita juga sering mengabaikan nasehat orang tua. Merasa lebih tahu, dan orang tua dianggap punya pikiran yang sudah kuno/ketinggalan jaman. Berapa besar "nasehat" orang tua yang masuk ke hati kita? Kalau mau jujur, sementara dinasehati, kebanyakan dari kita malah "nggrundel" dalam hati. Dan tetap saja kita lakukan apa yang menurut kita (saat itu) "lebih sesuai" dengan keinginan hati.

Kalau "firman Allah yang termaktub dalam Al Qur'an" saja masih sering kita perdebatkan tanpa habis, sementara kita mengakui bahwa Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Benar, Maha Pengasih dan lain-lain. Tentu, wajar pula bila "perkataan seorang ibu (orang tua)" yang sama sekali tidak "maha tahu" dan tidak "maha benar" hanya dianggap angin lalu oleh anak.

Kalau "ayat-ayat Al Qur'an" yang katanya rahmatan lil alamin ini hanya diadopsi oleh manusia sesuai dengan "apa yang enak dan mudah" untuk dijalankan saja, sementara yang "kurang berkenan di hati" tidak jarang kita tinggalkan. Maka tentu wajar juga bila si anak, cuma mengatakan "ya" di depan orang tua, kala mendengar nasihat kita dan serta merta berbalik arah pikirannya, kala si orang tua hilang dari pandangan mata.

Maaf mbak/mas yang terhormat, kalau bisa saya katakan ...ketika anda berteori macam-macam dalam memperdebatkan posting tersebut, Saya sudah menjalankan seluruh teori-teori yang dikemukakan itu terlebih dahulu, mempertimbangkan segala segi sampai kemudian saya mengambil keputusan untuk mengijinkan anak saya menikah di usia yang relatif muda. Saya sungguh menyadari bahwa solusi itu belum tentu cocok bagi orang lain ... Tapi, sekali lagi itu hanya contoh kasus yang saya alami, dan saya ingin berbagi dengan orang lain tentang rumitnya menyelami dunia remaja..

Kehidupan anak saya memang "terlalu berwarna" Itu realitas hidup yang harus saya alami, dan saya sama sekali tidak akan pernah menyesalinya. Dalam setiap masalah, saya hanya berpedoman pada prinsip "tidak mempersulit hal yang sebenarnya mudah, tetapi juga, tidak mempermudah segalanya seperti membalik tangan", ketika harus mengambil keputusan dalam bingkai kaidah Islam. Kesetimbangan prinsip ini tentu sangat relatif, bergantung pada situasi dan kondisi.

Saya tidak mungkin mengatakan kepada anak saya untuk menggunakan kondom saja, karena anak saya belum boleh menikah karena belum bekerja. Sementara saya tahu bahwa Islam dengan tegas melarang hubungan seks pranikah. Atau saya bilang ... kamu berpuasa saja atau mencari aktifitas fisik, supaya libido bisa tertekan, sementara saya tahu anak saya rajin puasa sunnah dan selalu berolah raga (sepak bola, gym, rock climbing, scuba diving dll), Kok sepertinya lupa bahwa dulu saat remaja, kita juga mengalami masalah yang sama. Hanya jamannya saja yang berbeda, dulu masih ada rasa takut, malu dan lain-lain. Sekarang jaman serba permissive. Alat kontrasepsi dijual bebas, dokter untuk aborsipun banyak dan mudah ditemui. Remaja memiliki akses yang lebih luas pada perangkat yang berbau seks.

Sungguh, saya hanya ingin mengajak anda semua, mempersiapkan diri; bila suatu saat anak anda yang masih kuliah (katakanlah di semester akhir), meminta ijin menikah. Esensi dari permintaan si anak adalah, dia sudah menemukan perempuan yang cocok untuk diajak menikah, hubungan dua manusia berlainan jenis ini, dia tahu, pasti berpotensi untuk berlanjut sampai kepada hubungan seks. Untuk itu, daripada ditunda, si anak berpikir untuk segera menikah ... supaya tidak berdosa dan mereka berjanji untuk bertanggung jawab atas konsekuensi dari pernikahannya. Apakah kita sebagai orang tua menolak, karena hal-hal yang lebih bersifat "materi –logical reason"? Jawabannya tentu berpulang kepada kasusnya sendiri dan pertimbangan masing-masing orang tua. Tidak ada suatu yang mutlak disini.

Yang membedakannya mungkin hanyalah dasar pertimbangan kita. Apakah kita akan berpegang kepada hukum-hukum Allah SWT sebagaimana tercantum dalam Al Qur'an atau kita berpegang kepada teori manusia yang bersandarkan pada akal. Tidak ada yang bisa menyalahkan kita atas pilihan yang kita ambil. Semua ada konsekuensinya sendiri, di dunia maupun di akhirat kelak. Wallahu 'alam

Btw, terima kasih atas tanggapan anda semua. Saya menyimak tulisan anda dan itu semua semakin memperkaya pengetahuan saya.
Salam.
Lebak bulus 3juli2005

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...