Kamis, 01 Maret 2018

LOKASI VAKSIN MENINGITIS

Daftar Lokasi Vaksinasi Meningitis
Mereka yang berencana menunaikan ibadah Umroh tentu tahu bahwa salah satu syarat untuk bepergian ke Saudi Arabia adalah membekali diri dengan kartu kuning yang mengisyaratkan bahwa pemiliknya sudah mendapat vaksinasi Meningitis. Penyakit yang menyerang selaput otak dan bisa mengakibatkan penderitanya meninggal dunia.

"Dahulu kala", vaksinasi Meningitis ini sering diakali. Kartu kuning akan diurus oleh biro perjalanan terkait dan pemiliknya sama sekali tidak mendapatkan suntikan. Sebetulnya hal ini sangat beresiko, apabila kita tertimpa musibah dan disukai oleh virus tersebut.

Kini, sepertinya pemerintah tidak mau main-main lagi dengan resiko penyakit ini sehingga seluruh calon jamaah umroh, haji maupun TKI yang akan melakukan perjalanan ke wilaya Timur Tengahj, wajib mendapat suntikan vaksin Meningitis.

Yang menjadi masalah, karena vaksinasi tersebut merupakan bagian dari syarat perjalanan, maka tentu diperlukan dokumen pendukung sebagai bukti. Dengan demikian, vaksinasi ini tidak semudah meminta suntikan vaksinasi biasa yang bisa diperoleh "dimana" saja termasuk dokter praktek, klinik, puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah. 

Beberapa biro perjalanan memiliki kerjasama dengan dinas kesehatan setempat sehingga calon jamaahnya bisa dikoordinir untuk memperoleh suntikan di kantor biro perjalanan tersebut. Itupun tentu dengan syarat, kalau jamahnya memiliki jumlah yang cukup besar, umumnya sekitar 100 orang. Kalau tidak, tentu dinas kesehatan tidak mau melayaninya.

Selama ini, lokasi untuk memperoleh vaksinasi Meningitis berada di bandara atau pelabuhan serta bêberapa Rumah Sakit tertentu. Konon, tempat vaksinasi yang paling leluasa adalah di kantor kesehatan pelabuhan. Untuk di Jakarta ada di Cengkareng - area Bandara, lalu di area bandara Halim Perdanakusuma dan pelabuhan Tanjung Priok. Terbayang kan, kaal hards ke tempêta tersebut? Selain jauh dan memerlukan "semangat" juang yang tinggi karena jauh dan sudah pasti memerlukan waktu yang cukup panjang. 

Jadi bisa dimengerti Kalau banyak orang lebih suka mengunjungi rumah sakit antara lain RS Persahabatan di Rawamangun, RS Fatmawati di Jakarta Selatan, RS Sulianti Saroso ... nah yang ini entah berada dimana dan satu lagi, hasil browsing, diketahui, RS PON alias Pusat Otak National di Cawang, juga memberikan Layanan vaksinasi meningitis

Namun Rumah Sakit yang ditunjukpun belum tentu memiliki persediaan vaksin yang mencukupi sehingga mereka, selain merujuk pada hari-hari tertentu, juga memiliki kuota vaksin per harı jadwalnya. Itu sebab, untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit, calon harus antri sejak dini hari, minimal sejak jam 05.00 pagi untuk mendapatkan nomor mendaftarkan diri memperoleh vaksin. Itu baru ambil nomor untuk mendaftar lho .... Setelah itu, baru mendaftarkan diri di loket Rumah Sakit terkait yang baru dibuka sekitar jam 07.00. Dapat nomor pelayanan, baru bisa membayar biaya dan menunggu panggilan untuk mendapat vaksin. Sangat melelahkan, membuang waktu dan menyebalkan bagi orang-orang yang harus bekerja.

Jadi .... kalau mau cepat dan relative terlayani pada gari yang sama, lebih baik pergi ke kantor kesehatan pelabuhan; yaitu ke Cengkareng, Tanjung Priok atau Halim Perdanakusuma, yang seksrang Sudan pinda ke Cililitan Besar. Jadi tyda di area bandara Halim Perdanakusuma lagi. 

Untuk yang bertempat tinggal di wilayah selatan, mungkin lebih baik ke Cililitan Besar. Kuota per hari yang bisa dilayani hingga 400 orang dan pelayanannya cukup cepat. Persyaratannyapun hanya cukup menyediakan fotokopi passport saja.


Selasa, 09 Januari 2018

Jalan panjang pernikahan

Banyak orang beranggapan bahwa pernikahan adalah tujuan akhir dari pasangan yang saling jatuh cinta. Mengganggap bahwa pernikahan adalah pelabuhan tempat mereka menambatkan perahu .... "Rumah" tempat mereka memadu kasih yang nyaman dan menyemai kebahagiaan ... Jarang yang menyadari bahwa pernikahan sebetulnya adalah awal dari sebuah perjalanan panjang dalam sebuah perahu bernama "rumah tangga". Perahu yang akan berlayar mengarungi riak dan gelombang kehidupan, entah untuk berapa lama. Tanpa tahu apakah perahu rumah tangga tersebut bisa dan mampu melewati Irak dan gelombang yang "pasti" akan menghampirinya ... Akankah dia berlabuh dengan selamat dan dimana, kapan dan akankah biduk berlabuh dalam kondisi yang baik.

Manusia ... siapapun dia ..., masih berstatus sendiri maupun sudah berpasangan akan berkembang sesuai dengan latar belakang pendidikan, lingkungan pergaulan, status sosial, pekerjaannya, status ekonomi selain bekal yang diperolehnya dari keluarga asal, berupa pendidikan etika, moral dan juga teladan yang dilihat dan dirasakan dari kedua orangtuanya.

Begitu pula yang terjadi pada pasangan suami istri. Mereka masing-masing berkembang sesuai pergaulan, status sosial, pekerjaannya, status ekonomi dan minatnya. Karenanya tidaklah heran bila pengaruh peer group ke dalam perilaku manusia seringkali menjadi sangat kuat. Kehadiran anak-anak yang diharapkan bisa menjadi pengikat hubungan, namun juga bisa jadi sebab berkurangnya hubungan antar pasangan karena kesibukan dan perhatian untuk mengurus anak menyebabkan salah satu pasangan merasa terabaikan. Pada pasangan yang keduanya bekerja, masalah mungkin akan bertambah rumit. Mulai dari masalah "penjaga dan pengawas" anak, pendidikan dini anak balita dan sebagainya. Betul ada pengasuh anak professional, tetapi perbedaan status sosial antara pengasuh dan orangtua tentu akan berpengaruh terhadap persepsi dan cara pengasuhan anak. Jangan juga dilupakan, anak juga memerlukan sentuhan kasih sayang orangtua. Berapa banyak orangtua bekerja yang dengan kesadaran dan kesabaran penuh masih mau meluangkan waktu "memegang" si anak, setelah lelah bekerja sepanjang hari?

Belum lagi masalah keuangan dan psikologis pasangan ... Secara tradisi dan agama, suami diposisikan sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Manakala penghasilan istri dan status sosial profesional Istri jauh melampaui suami, sangat mungkin menjadi masalah tambahan bagi pasangan suami istri. Tidak dapat dipungkiri, kondisi ini Membuat istri menjadi sangat mandiri baik secara psikologis maupun keuangan untuk kemudian dianggap "suka berlaku semaunya" di hadapan suami. Beruntunglah kalau hubungan, komunikasi dan keterbukaan dengan pasangannya tetap terjaga.

Maka ... jangan heran kalau bertambahnya usia pernikahan tidak menjamin hubungan suami istri menjadi semakin kuat. Alasan, bahwa salah satu pasangan tidak lagi menjaga komitmen pernikahan seringkali dijadikan masalah dalam pertengkaran. Kita seringkali lupa bahwa perubahan usia, status sosial/ekonomi dan pergaulan menyebabkan cara pandang kita akan mengalami pergeseran. Komitmen awal pernikahan yang dilakukan beberapa tahun lalu, mungkin perlu disesuaikan secara periodik mengikuti pertambahan usia, status sosial/ekonomi dan banyak aspek lainnya. Ibaratnya .... kalau saat ini sudah era komunikasi via internet ... akankah kita masih harus berkeras berkomunikasi dengan menggunaka telegram jaman tahun 60an ....


Jadi .... rasanya tidak perlu heran, kalau setelah belasan tahun atau bahkan telah melewati masa pernikahan perak alias 25 tahun berlayar bersama, hubungan suami istri menjadi hambar dan banyak diwarnai pertengkaran tak berkesudahan .... Menganggap pasangan tidak lagi memegang komitmen atau janji-janji yang mungkin dianggap sudah ketinggalan jaman oleh pasangannya.

Tidak juga harus heran apabila semakin banyak perpisahan terjadi di usia pernikahan yang sudah berlangsung selama belasan dan dua atau tiga puluhan tahun lamanya. Bahkan pada pasangan yang sudah uzur sekalipun. Mereka yang "kuat mental"nya mungkin akan mengambil jalan perpisahan .... Namun para hipokrit akan tetap bertahan dalam pernikahan hambar hanya karena tidak ingin mendengar "apa kata orang nanti" walaupun mereka harus memendam perasaan dan merasa tersakiti. 

Apapun juga yang kita lihat atau dengar tentang perjalanan pernikahan orang, jangan menghakiminya karena setiap manusia akan memilih apa yang dianggapnya terbaik baginya dan mereka tentu sadar akan konsekuensi dari pilihannya.

Senin, 11 Desember 2017

Lagi - lagi soal Jilbab



Beberapa tahun belakangan ini, seiring dengan makin banyaknya perempuan beragama Islam yang menggunakan jilbab, baik yang syar'i maupun modis, ada kecenderungan terjadi pelecehan kepada perempuan beragama Islam lainnya yang tidak menggunakan jilbab, terutama di media sosial ... Padahal, perilaku mereka yang berjilbab belum tentu mencerminkan adab dan ajaran agamanya yang rahmatan lil alamin. Mereka masih suka bergunjing, mencaci maki dengan kata dan tulisan kasar serta tidak pantas, melakukan korupsi, melakukan hubungan terlarang dan banyak hal lainnya yang sudah jelas melanggar ajaran agamanya. Bahkan jilbab atau katakanlah berkerudung kini seolah menjadi pakaian baku saat perempuan bermasalah dengan hukum.
Dalam beberapa kesempatan hadir pada acara pernikahan keluarga keturunan Arab, ternyata perempuan muda Arab di Indonesia banyak yang tidak mengenakan jilbab dan bahkan berpakaian sebagaimana anak-anak muda umumnya. Beberapa keluarga/tokoh agama Islam di Indonesia juga membebaskan anak perempuannya tidak menggunakan jilbab. Apakah mereka tidak mengerti ajaran agamanya? Rasanya ... orangtua tersebut tentu mengajarkan agama kepada anak–anaknya dengan sangat baik. Anak–anak mereka tentu sangat pandai membaca kitab suci al Qur'an dan bahkan mungkin berbicara dalam bahasa Arabpun mereka cukup fasih ...
Kenalan saya keturunan Arabpun banyak yang membiarkan anak perempuannya tidak menggunakan jilbab dan bahkan membiarkan anak perempuannya menggunakan lensa kontak berwarna hijau atau biru saat rambutnya disemir bersemu pirang. Dalam pesta pernikahan "tradisional Arab" di Indonesia, dimana pesta pernikahan dipisahkan antara undangan lelaki dan perempuan, maka pesta khusus yang hanya dihadiri oleh perempuan, maka perempuan – perempuan Arab berdandan dan berpakaian sama seperti perempuan – perempuan lain yang dalam keseharian tidak menggunakan jilbab. Mereka menari/dansa berpasangan dengan sesamanya karena memang tidak ada seorang lelakipun dalam ruang dan bernyanyi. Jadi … apakah musik dan tari dilarang …? Atau kita harus membedakan mana yang menjadi tradisi Arab atau ajaran agama Islam. Ini berarti bahwa yang “berbau” Arab …. Belum tentu Islami atau berasal dari ajaran Islam, kan? Bisa jadi hal itu adalah budaya dan tradisi Arab. Bukan ajaran agama Islam
Begitu juga tatkala melakukan perjalanan ke Negara-negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Abu Dhabi dan Dubai, begitu juga di Mesir, maka di tempat umum seperti Mall, banyak dijumpai perempuan Arab yang tidak menggunakan jilbab. Tentu tidak kalah menghebohkan juga saat perempuan Arab bepergian kelar negaranya naik pesawat lengkap dengan abaya hitam dan cadarnya, namun begitu pesawat lepas dari teritori negaranya, maka mereka serentak melepaskan abaya hitam dan cadarnya. Sampai suatu kali suami saya bergumam …. Menduga bahwa rambut perempuan Mesir berwarna merah (burgundy), saking banyaknya perempuan Arab–Mesir menggunakan henna berwarna burgundy.
Banyak yang merujuk pada QS. Al Ahzaab:59 tentang kewajiban memakai jilbab, yang terjemahannya adalah sebagai berikut :
Hai Nabi Katakanlah Kepada Istri-Istrimu,Anak-Anak Perempuanmu Dan Istri-Istri Orang Mukmin: “Hendaklah Mereka Mengulurkan Jilbabnya Ke Seluruh Tubuh Mereka”, Yang Demikian Itu Supaya Mereka Lebih Mudah Untuk Dikenal, Karena Itu Mereka Tidak Diganggu, Dan Alloh Adalah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. 
(QS.Al-Ahzaab:59)
Namun dalam ayat tersebut tidak ditemukan adanya kata "DIWAJIBKAN" kepada istri, anak perempuan dan istri orang mukmin untuk menggunakan jilbab. Terjemahan ayat tersebut hanya menggunakan kata "HENDAKNYA" yang dapat diinterpretasikan sebagai ANJURAN/IMBAUAN saja.
***
Kalau kita perhatikan dengan seksama, menggunakan jilbab di Indonesia pun ada beberapa macam. Ada yang dikatakan berhijab secara syar'i dan bahkan agak berlebihan, yaitu menggunakan cadar sehingga hanya tinggal mata saja yang terlihat. Padahal wajah wanita bukanlah bagian dari aurat.... Maka saat shalat dan melaksanakan ibadah haji, perempuan Arab di Saudia sekalipun yang sehari-hari memakai cadar, melepaskan cadarnya.
Kemudian ada yang berjilbab secara modern .... hanya menutupi rambut dan leher atau kadang leherpun masih terlihat karena dia hanya menggunakan blus " turtle neck". Nah kategori ke 2 ini seringkali menggunakan jilbab secara berlebihan juga ... baik dalam warna maupun asesori.... Jilbab, asesori dam cara memggunakannya, akhirnya menjadi trend mode pakaian muslim Indonesia, yang juga berganti setiap waktu. Tentu supaya pemakainya terlihat menjadi lebih cantik dan menarik...
Kalau tidak salah .... bukankah perempuan Islam dianjurkan untuk tidak berlebihan dalam berpakaian dan berdandan. Bahkan dianjurkan untuk tidak menggunakan wewangian untuk mengurangi daya tariknya terhadap lawan jenis...
Setiap manusia memiliki akal dan pikiran dan karenanya memiliki kebebasan untuk memilih apa yang dilakukannya dengan segala konsekuensinya. Memiliki hak untuk memilih apa yang mau dijalankannya .... Bahkan dalam menelaah dan menginterpretasikan ayat2 al Qur'an. Mau ikut majlis taklim si A atau anjuran/tausyiah ustadz B atau ustadzah C. Yang perlu diingat adalah bukan kita manusia yang berhak menghakimi sesama manusia lainnya akan dosa maupun amal ibadah manusia. Bahkan kita yang terlihat begitu shalih dan shalihahpun belum tentu terjamin akan masuk surga karena hanya Allah SWT lah yang menilai amal ibadah, perbuatan manusia .... bukan kita sesama manusia....
Daripada memperdebatkan dan mencaci maki orang lain hanya karena perbedaan pandangan, bukankah akan lebih baik kalau kita memperbaiki diri sendiri lebih dulu. Dan perbaikan itu akan memakan waktu sepanjang usia kita, karena tidak ada manusia yang sempurna. Ini juga berarti .... setiap manusia mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya langsung kepada Sang Pencipta.
Entahlah .... saya cuma orang awam yang seringkali merasa kurang nyaman bila ada orang yang dengan sangat mudahnya menilai orang lain hanya dari permukaan saja.

Senin, 06 November 2017

FEODALISME dalam kehidupan sehari-hari

Melakukan dan membuat kerjasama dengan kalangan atau segolongan orang yang masih terkait dengan "ikatan masa lalu" atau keluarga kerajaan dan atau yang merasa memiliki ikatan atau "darah biru" kadang menjadi masalah yang unik. Kadang menyebalkan untuk dijalani terutama oleh mereka yang datang dari golongan "rakyat jelata" alias bukan dari kalangan yang kecipratan "darah biru". 


Mengutip wikipedia, Feodalisme adalah struktur pendelegasian kekuasaan sosiopolitik yang dijalankan kalangan bangsawan/monarki untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaimnya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra. Dalam pengertian yang asli, struktur ini disematkan oleh sejarawan pada sistem politik di Eropa pada Abad Pertengahan, yang menempatkan kalangan kesatria dan kelas bangsawan sebagai penguasa kawasan atau hak tertentu yang ditunjuk oleh monarki (biasanya raja atau lord).
Sejak abad ke-17 dan oleh pelakunya, istilah feodalisme tidak pernah lagi dipakai. Namun mulai tahun 1960-an, para sejarawan memperluas penggunaan istilah ini dengan memasukkan pula aspek kehidupan sosial para pekerja di lahan yang dikuasai oleh tuan tanah, sehingga muncul istilah "masyarakat feodal" yang semakin lama semakin berkonotasi negatif. Di Indonesia, kata ini digunakan untuk merujuk pada perilaku-perilaku negatif yang mirip dengan perilaku para penguasa yang lalim, seperti 'kolot', 'selalu ingin dihormati', atau 'bertahan pada nilai-nilai lama yang sudah banyak ditinggalkan', dan pengertian ini sudah banyak melenceng dari pengertian politiknya. 
*** 
Sungguh .... kalau bukan karena pekerjaan, saya paling tidak suka berhubungan dengan kalangan yang tidak bisa menghargai manusia lainnya setara dengan dirinya. Kalangan yang memandang dirinya, entah karena jabatan, pendidikan ataupun harta/kekayaannya, lebih tinggi dari yang lain. Ini adalah sebuah kelemahan dan kekurangan saya dalam kehidupan sosial dan professional yang, rasanya tidak bisa ditutup-tutupi dengan dalih apapun juga ....
***

Arloji di pergelangan kiri tangan saya menunjukkan waktu sekitar jam 15.30, usai waktu shalat Ashar ketika kami tiba di tempat kediamannya di suatu komplek kraton. Dua hari sebelumnya, saya sudah menyampaikan niat kami mengunjunginya kepada seorang rekan untuk memberitahukan rencana kedatangan kami, kepadanya. Walau tidak secara jelas mengatakan maksud dan tujuan kedatangan kami kepada rekan tersebut, namun orang yang dituju, pastilah akan paham apa maksud dan tujuan kami berkunjung. Tentu tidak akan jauh dan malah sangat berkaitan dengan surat "ancaman" yang tidak jelas dan mengambang maksud dan tujuan isinya, yang dikirimkannya beberapa hari sebelumnya dan sudah kami terima. Kami ...... , bukannya tidak bereaksi atas kiriman surat tersebut..... namun apa daya, beberapa kali dihubungi melalui telpon serta pesan-pesan yang dikirim via whatsapp, sama sekali tidak digubris.


Kami duduk di ruang tamu kediamannya, menunggunya dibangunkan dari "istirahat siang"nya ..... Dalam hati, saya bertanya-tanya .... gerangan apa yang dilakukannya usai shalat Ashar, apalagi kedatangan kami sudah dikabari. 


Maka .... keluarlah... dia yang ditunggu ... Setelah basa-basi sejenak, maka keluarlah segala unek-uneknya, yang sesungguhnya sudah sangat basi. Kenapa saya katakan basi...? Karena sudah berulangkali masalah tersebut dibahas dan dijelaskan. Bahkan ada dokumen yang sudah ditandatangani, sebagai bukti bahwa semua penjelasan sudah sangat terang benderang dan diterima kedua belah pihak. Bisa diartikan sudah ada kesepakatan yang dibuat ....


Kalau diperhatikan lebih jauh, intinya adalah .... ketersinggungan dan kemarahan karena ada "permintaannya" tidak dituruti. Sebetulnya, bukan tidak ingin menuruti permintaannya, tapi kalau permintaan tersebut melanggar aturan dan membahayakan pihak-pihak yang berwenang atau ..... ada kerugian hampir 25% karena penawarannya terlalu tinggi dan tidak bisa ditawar lagi. Apakah kemudian permintaan tersebut harus dituruti? Tentu .... hanya orang-orang tolol dan tidak punya integritas yang bisa melakukannya .... menuruti permintaan yang di kemudian hari hanya akan menimbulkan masalah, atau menimbulkan kerugian di perusahaan tempatnya bekerja.


Walhasil .... misi yang dibawa untuk diselesaikan berakhir tanpa kejelasan .... Batas waktu yang dicantumkan dalam surat menjadi tidak berarti ... Bahkan permintaan untuk bisa mendapat jawaban sesegera mungkin agar semua masalah/ganjalan bisa diselesaikan dengan baik sehingga kelanjutan proyek tidak terganggu, juga tidak tercapai .....


Jujur ..... saya tidak merasa gagal, tapi frustasi berat menghadapi "manusia" seperti itu. Apalagi beberapa hari kemudian saya mendapat kabar dan jawaban darinya melalui rekan penghubung. Jawaban yang mungkin karena saking sebalnya, saya interpretasikan bahwa "sebagai pejabat tinggi di suatu keraton .... yang bersangkutan hanya mau berurusan dan menyelesaikan masalah proyek ini dengan pejabat tinggi RI". 
Padahal .... ini murni kerjasama bisnis .... yang dirintis sudah lebih dari 2 tahun. Terlalu lama untuk sebuah nilai bisnis, kalaulah tidak ada idealisme untuk membantu pelestarian/perbaikan lingkungan.
***

Sepengetahuan saya, secara tata negara, Indonesia adalah negara kesatuan berbentuk Republik yang saat ini, kalau tidak salah, terdiri dari 34 provinsi dan masing-masing dipimpin oleh gubernur. Termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satu Daerah Istimewa di Indonesia, juga dipimpin oleh seorang Gubernur dan wakil gubernur, walau secara otomatis akan dijabat oleh Sultan dari Kraton Ngayogyakarta dan wakilnya dijabat oleh Puri Paku Alaman. 


Memang, kalau merujuk pada masa pra kemerdekaan, kita tahu ada banyak sekali kerajaan-kerajaan kecil di seantero Indonesia. Sebut saja, misalnya keturunan Sultan Deli, Sultan Banten, Sultan Ternate dan banyak lagi .... Keturunan para sultan pra kemerdekaan tersebut, sampai saat ini masih suka "bernostalgia" dengan menyelenggarakan Festival Keraton Nusantara, yang diadakan bergiliran setiap tahun.  

Mengenang masa lalu, tentu sah-sah saja .... tidak akan ada yang bisa melarang, sejauh tidak melanggar ketertiban umum. Dengan bekerja sama dan berkoordinasi dengan kementerian Pariwisata, Festival Keraton Nusantara tersebut malah bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menarik dan meningkatkan jumlah kunjungan wisata. Ada keuntungan ekonomi bagi daerah dan atau keraton penyelenggara. Pelestarian budaya tentu sangat diharapkan. Namun yang lebih penting adalah mentalitasnya .... Martabat manusia tidak lagi diukur dari "keturunan - darah biru", tetapi dari perilaku, integritas, intelektualitas dan banyak lagi. 


Ternya ... sukar mengubah sikap dan mentalitas "merasa memiliki derajat yang lebih tinggi" dari orang lain ....., walaupun sudah lebih dari 72 tahunbentuk negara Indonesia berubah menjadi Negara Kesatuan berbentuk Republik ..... 

Minggu, 27 Agustus 2017

WISUDA SARJANA - Program SPESIALISASI, MAGISTER dan DOKTOR

Hari Jum'at 25 Agustus 2017, setelah tahun lalu dan awal Februari 2017 lalu, absen menghadiri acara Wisuda sarjana, pada awal tahun ajaran baru ini, keisengan untuk ikut hadir pada acara tersebut muncul lagi.

Iseng ...? Bisa jadi .... untuk pengalih rasa jenuh dari kerjaan kantor .... kebetulan juga sudah berjalan selama sekitar 11 tahun, undangan untuk menghadiri acara ini selalu hadir. Bolehlah, sesekali menanggalkan identitas pribadi untuk masuk ke dalam identitas sebagai istri... hehe...

Jadi ...., setelah supir pak Boss usai shalat Jum'at, dan saya sendiri juga sudah menunaikannya ... dengan agak rebyek, karena kekhawatiran macet akibat banyaknya kendaraan menuju kampus UI Depok, saya dan si anak yang juga mahasiswa di departemen yang sama dengan tempat bapaknya mengajar, melundur ke Depok. Walau bila diratik garis lurus, rumah kami hanya berjarak pada radius tidak sampai 1km dari kampus UI, namun jalan memutar yang harus ditempuh bila menggunakan kendaraan beroda 4, menyebabkan waktu tempuh menjadi sekitar + 30 menit. Masih mendinglah, dibandingkan dengan waktu tempuh dari kawasan Lebak Bulus, tempat tinggal kami dulu.

Si anak, agak malas2an diajak... namun emak sedikit memaksa, supaya ada teman mengobrol. Maklum saja ... saya bukan aktifis kegiatan emak2 Dharma Wanita. Bahkan sama sekali tidak pernah aktif, sejak dulu kala ..... jaman emak2 bilang bahwa aktifitas istri di Dharma Wanita berperan penting buat karier suami.

Setelah menjemput suami di "kandang"nya ... kami meluncur ke gedung PAU ... Biasanya emak2 undangan berkumpul disini dulu, icip2 makanan kecil, menjelang acara. Biasanya sekitar 15 menit sebelum rombongan guru besar memasuki tempat acara, emak2 mulai memasuki ruang acara. Mendapat kehormatan duduk di kursi VIP pada arah keluar para guru besar, usai acara wisuda dan penerimaan mahasiswa.

Acaranya sih rutin saja .... Dari tahun ke tahun, urutan acaranya juga persis sama... Yang istimewa tahun ini, atau juga saya baru tahu dan menyadarinya bahwa ada perubahan besar untuk lagu pengiring saat para guru besar masuk ke ruang acara, yaitu Balairung Uinversitas Indonesia.

Bila biasanya, lagu Gaudeamus Igitur yang mengiringi langkah para guru besar dengan jubah kebesarannya ... yang memang ukurannya besar-besar ...., maka saat itu, langkah mereka diiringi lagu SATU NUSA SATU BANGSA ...
Syahdu ...? so pasti .... Malah jadi terharu ...
Tidak kalah terharu dibanding saat mendengar lagu Gaudeamus yang sebetulnya sama sekali tidak dimengerti arti liriknya. Hanya iramanya saja yang memang mengundang haru.

Entah siapa dan karena apa, terjadi perubahan itu..., namun apapun alasannya, keputusan tersebut patut diacungi jempol...

Hidup Universitas Indonesia
VIVA Universitas Indonesia
VIVRE Universite Indonesia

Selasa, 16 Mei 2017

Free incubators save lives of Indonesian babies

Hundreds of premature babies born in Indonesia are benefiting from the work of an engineering professor who is building incubators and lending them for free to low-income families in a bid to fill a gap in the healthcare system.







Kamis, 20 April 2017

SELAMAT UNTUK SEMUA…!

Pertama, Selamat untuk Mas Anies dan Sandi yang berhasil menarik simpati lebih banyak warga DKI untuk memilihnya menjadi Gubernur DKI baru. Anda telah berhasil meyakinkan warga DKI bahwa Anda layak untuk menjadi pemimpin yang lebih baik daripada sebelumnya. Anda pasti tidak akan mengecewakan mereka karena Anda berdua punya kapasitas untuk menjadi pemimpin besar Indonesia. 

Seperti yang selalu saya katakan, Mas Anies adalah orang yang akan mampu merangkul dan mengajak semua pihak untuk membantunya membangun visi dan misi Jakarta (dan Indonesia) yang lebih baik. Saya yakin bahwa Mas Anies juga akan mampu meyakinkan para penentang dan penolaknya sebelumnya bahwa apa yang mereka kuatirkan darinya sebelum ini akan dapat ditepis. Percayalah, Anies Baswedan, seperti yang saya kenal selama ini, adalah orang yang memiliki kualitas pribadi dengan kemampuan membangun yang luar biasa. Ia adalah pemimpin hebat yang dicintai oleh orang-orang yang bekerja dengannya. 

Jika Anda pikir Anies Baswedan akan membiarkan intoleransi dan radikalisme merajalela di bawah kepemimpinannya maka insya Allah Anda salah. Anies Baswedan itu sama teguhnya dengan Ahok dalam soal intoleransi dan radikalisme dengan cara yang berbeda. Ahok itu gaya Bugis sedangkan Anies gaya Jogya. Jadi, jika sebelum ini Anda berada di kubu Ahok dan Djarot, mari lupakan pertentangan dan permusuhan yang berlarut-larut dan mari kita menatap masa depan DKI Jakarta dan Indonesia dengan optimisme dan harapan yang baru. Tuhan telah menetapkan kehendakNya dan mari kita terima kehendakTuhan ini dengan penuh tawakkal dan rasa syukur. 

Kedua, selamat untuk Ahok dan Djarot. Anda berdua telah menunjukkan sikap ksatria yang akan menjadi contoh bagi pemimpin lain di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Begitulah cara berkompetisi dan begitulah cara menerima kekalahan. 

Untukmu, Ahok, my best sympathy. I think I love youmore and more. Ada jutaan warga DKI yang begitu mencintaimu dan tidak rela jika kamu harus pergi dari DKI Jakarta. Mereka telah begitu tertambat hatinya oleh harapan akan Jakarta dan Indonesia yang gemilang di tanganmu. Dan mereka berharap agar kamu tetap menjadi gubernur. Tapi Tuhan menginginkan peran baru bagimu, 

Ahok. And you will do a new role in the future a much better way because you have learned a lot and there are so many people who will back you up in anyway they can. So step up and be ready with the new task from God sooner. Apa yang telah kalian lakukan bagi DKI Jakarta selama ini adalah sebuah karya fenomenal dan akan menjadi contoh yang akan menginspirasi para pemimpin Indonesia lainnya. You definitely rock so far…! 

Ketiga, selamat untuk semua warga DKI Jakarta danIndonesia. Meski sebelum ini kita menunjukkan betapa kerasnya permusuhan yang muncul di antara kedua kubu tapi kita berhasil lolos dari sikap dan prilaku yang brutal dalam menerima hasil pilgub ini. Ini bukti bahwa kita adalah warga dunia yang beradab yang mampu menahan diri. Ini adalah bukti kita masih selalu dilindungi oleh Tuhan dari bencana yang mungkin muncul dari tangan kita sendiri. 

Bagi warga DKI yang memilih Anies dan Sandi, selamat atas kemenangan ini. Anda tidak salah pilih. Mereka adalah harapan akan Jakarta yang lebih baik di masa depan. Adalah tugas Anda semua untuk menjaga agar Anies– Sandi benar-benar dapat menjalankan tugasnya untuk menjadikan DKI Jakarta jauh lebih baik dengan modal apa yang telah diletakkan oleh Ahok – Djarot selama ini. Mereka punya semua modal untuk menjadikan Jakarta yang luar biasa. Tuhan telah mengabulkan doa Anda dan Anda wajib bersyukur untuk itu dengan menunjukkan sikap yang rendah hati. Sikap sombong dan angkuh bukanlah sikap orang yang bersyukur.  

Bagi warga yang memilih Ahok – Djarot. Hei…! Cheer up…!Singkirkan wajah murammu dan show me your spirit (let’s have some coffee if we need to). Anda sebenarnya tidak kalah. No way, dude. You’re also a winner. Anda telah berjuang dengan begitu gagah berani sehingga saya sering menahan napas karena kagum dengan segala perjuangan Anda selama ini. You really rock and you amaze me…! Satu hal lagi yang membuat saya kagum adalah bahwa Anda menunjukkan kualitas Anda yang luar biasa dengan mampu menerima hasil pilgub ini dengan begitu elegan. Anda tidak mengamuk, meradang,meledakkan kemarahan, atau apa pun hal negatif yang mungkin diperkirakan oleh orang lain. Tidak! Anda menerima semua keputusan ini dengan dada lapang dan sikap ksatria. That’s what you are…! 

Anda tidak perlu cemas akan nasib DKI Jakarta ke depan karena Anda mendapat pemimpin yang sama hebatnya dengan Ahok-Djarot.  It’s only a switch of style, gayanya saja yang berbeda dengan tekad dan daya dobrak yang sama. Mari kita kuburkan semua kemarahan dan kebencian kita kepada siapa saja demi DKI Jakarta dan Indonesia yang kita cintai. Mari kita bantu Anies dan Sandi untuk menjadi pemimpin yang lebih baik dan lebih efektif bagi DKI Jakarta karena itu yang Anda inginkan dan harapkan. 

Oleh sebab itu, mari kita bersyukur pada Tuhan YMEyang telah menjaga bangsa dan negara ini dari azab dan bencana. Ini adalah berkah dan karunia bagi kita semua dan jika kita menerima ini dengan rasa syukur maka Tuhan akan melimpahkan lebih banyak lagi berkah dan karuniaNya.

Mari kita memberi selamat kepada semua orang dan juga diri kita. Kita telahmembuktikan diri bahwa kita adalah bangsa yang besar dan pantas menjadi contoh bagi bangsa lain. Musiiik….! (Yang mau shalawatan dipersilakan). 

Salam,
Surabaya, 20 April 2017
Satria Dharma http://satriadharma.com/

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...