Hari minggu ini, ada acara keluarga. Ibu mertua, ulang tahun yang ke 84 tahun. Seperti biasa, anak menantu dan cucu-cucunya berkumpul, membaca doa diakhiri dengan makan siang bersama, sambil ngobrol. Kalau tidak begitu, anggota keluarga besar tidak akan pernah berkumpul lengkap. Semua larut dalam kesibukan masing-masing atau sok sibuk.
Aku datang agak telat, karena salah satu teman kantor, menikah di Puri Caping Gunung – salah satu restoran di TMII. Jadi setelah mengantar makanan dan suami, yang tentu lebih memilih berkumpul dengan kakak adiknya, dibandingkan dengan mengantar istrinya ke pesta pernikahan, ditemani gadis kecilku, aku pergi dulu menghadiri acara pernikahan tersebut. Usai pesta pernikahan, aku kembali ke cipinang, bergabung dengan yang lain.
Topik obrolan kali ini, selain tentang gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tentu saja tak terlewatkan tentang kasus keluarga Bambang Trihatmodjo, anak ke 3 Suharto. Apalagi beberapa kakak iparku memang mengenal mereka sejak jaman mereka masih kecil dan latihan pramuka bersama di kawasan Menteng.
Aku teringat pada temanku. Sedang apa dia sekarang, dan bagaimana perkembangan hubungan dengan suaminya. Dalam percakapan terakhir per telpon, 6 bulan yang lalu, dia mengatakan bahwa mereka sudah mencapai kesepakatan di hadapan orangtua dari kedua belah pihak. Temanku masih ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan bersedia menerima WIL suaminya sebagai istri kedua.
Namun sayangnya, niat baik itu tidak diterima oleh suami yang sedang keblinger.
Hubungan suami istri itu memang sudah semakin jauh. Sang suami sudah tidak lagi pulang ke rumah mereka karena sudah membentuk rumah tangga baru, walau belum menikah secara resmi. Ajaran agama sudah ditinggalkan. Hidup sudah bergelimpangan dengan kemewahan duniawi. Dugem dan minuman keras sudah menjadi bagian keseharian pasangan baru itu. Itu saja yang kudengar. Karena itu, kepada istri kakak iparku, yang tinggal di komplek perumahan yang sama, tadi kutanyakan kabar Ine.
“Sudah masuk sidang di pengadilan agama. Hubungan mereka sudah tidak bisa diperbaiki, karena WIL tidak mau dimadu dan meminta suami Ine untuk menceraikan istrinya”.
Mungkin lebih baik begitu …. Kalau cinta sudah tidak ada di hati, untuk apa lagi mempertahankan hipokrisi di dalam rumah.
Jatuh cinta memang suatu yang aneh. Lelaki memang mahluk yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Berpetualang termasuk juga berpetualang dalam kehidupan cinta kasih, mungkin menjadi bagian dari tantangan hidup dan stimulan yang membuat lelaki tetap bergairah.
Itu kata orang. Namun, mengapa banyak perempuan yang larut dalam jebakan petualangan cinta lelaki beristri?
Mereka bahkan seperti terlena akan bujuk rayu sehingga rela melakukan apa saja, bahkan hingga ke jenjang pernikahan resmi maupun tidak. Bukankah hal itu sangat menyakitkan bagi para perempuan lainnya (istri si lelaki dan keluarganya). Tidak pernahkah para perempuan itu berpikir, bahwa suatu saat … si lelaki akan memulai kembali petualangannya untuk mendapatkan yang ke tiga, ke empat dan seterusnya?
Apakah hanya persaingan antar perempuan atau ada motif lainnya? Salah satunya, katakanlah sebagai cara mewujudkan angan-angan untuk memiliki kemapanan status ( sebagai istri dan dalam hal financial) secara instant karena konon lelaki yang “bermain mata dan berpetualang” umumnya mereka yang sudah mapan … fisik, materi dan kejiwaan sehingga mereka sangat mampu memukau dan memanipulir perasaan perempuan.
Di lain pihak, para perempuan yang disakiti hatinya, juga memperlihatkan reaksi yang agak sulit diterka maknanya. Mengapa mereka mati-matian mempertahankan keutuhan rumah tangga yang jelas-jelas sudah tersusupi aroma perselingkuhan. Apakah itu karena rasa cinta yang terlalu besar kepada suami, rasa kasihan kepada anak-anaknya yang mungkin akan tersia-siakan, atau tanda ketidakmampuan perempuan untuk hidup mandiri dan keengganan kehilangan “kemapanan” baik dalam status sebagai istri maupun kemapanan finansial? Walaupun untuk itu, sebetulnya harga diri perempuan sudah tercabik-cabik.
Padahal, dari banyak perempuan yang teraniaya perasaannya, banyak pula yang tergolong ” mandiri” dalam arti kata memiliki pekerjaan yang layak sehingga mapan secara financial Entahlah … setiap orang memiliki hak untuk memilih, apapun yang melatarbelakangi keputusannya.
Mungkin perlu dipikirkan, bagaimana cara agar anak perempuan kita mampu berkata “TIDAK” kepada para lelaki petualang. Terutama kepada lelaki beristri yang mencoba "mendekati".
Bukankah petualangan lelaki (yang secara langsung menyakiti hati perempuan/istrinya) merupakan salah satu bentuk non fisik dari KDRT?
Mengapa perempuan tidak memanfaatkan secara maksimal keberadaan Undang-undang tentang KDRT untuk kepentingan dirinya dari tindak kesewenang-wenangan suami?
Mengapa perempuan masih lebih suka terbuai dalam kemapanan status (sebagai istri), kemapanan keuangan dengan berbagai dalih, walaupun untuk itu perempuan lalu membiarkan KDRT terjadi di dalam rumahnya sendiri.
Kalau begitu, bagaimana mungkin para perempuan itu mampu mendidik anak-anak gadis mereka untuk “mandiri dalam segala hal” bila para ibu lebih suka menjadi “sub-ordinate“ para suami sambil membiarkan KDRT terjadi dan tidak mampu menjadi “dirinya” sendiri?
Perkawinan merupakan komitmen dari dua belah pihak. Bila salah satu pihak melanggar komitmen dan setelah “diperingatkan” berulang kali namun sama sekali tidak terlihat perbaikan dan bahkan terlihat keengganan untuk kembali kepada komitmen lama atau memperbaiki/merevisi komitmen agar sesuai dengan waktu dan perkembangan kehidupan pasangan suami istri.
Masih adakah gunanya suatu pernikahan dipertahankan untuk kemudian “melahirkan” pasangan suami istri yang hipokrit?
Ini baru satu bentuk “saling menyakiti” antar perempuan.. Bentuk lainnya adalah hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuan yang seringkali saling “cakar mencakar” untuk memperebutkan perhatian seorang lelaki. Anak lelaki dari perempuan yang satu sekaligus suami perempuan yang lain.
Waduh …. Ini juga sama rumitnya … saling bersaing apalagi kalau mereka masih hidup satu atap di perumahan Mertua Indah. Atau persaingan antara anak perempuan dengan ibunya dalam merebut perhatian bapak/suami. Duh…. Rumit euy…!!! Kumaha atuh??? Kenapa nggak saling memahami dan menghormati hak-hak satu sama lain ya….Biar aman, damai dan tenteram ….
Lebak bulus, minggu 28 mei 06 – reedit senin 29 mei 2006 jam 20.25
Yang paling layak dicintai adalah cinta itu sendiri dan.. Yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri #BadiuzzamanSaidNursi
Senin, 29 Mei 2006
Selasa, 16 Mei 2006
Lasagna Bolognaise
Description:
I found this recipe on internet, and it has been tested. My families and colleagues like it. so, don't hesitate to try
Ingredients:
For Pasta ;
400 grams flour
4 eggs
a pinch of salt
For the Lasagna :
1 portion of fresh lasagna (see the recipe above)
1 ½ cup freshly grated parmesan cheese
Bolognaise sauce
Bechamel sauce
For the Bolognaise sauce :
2 tablespoon butter
6 sheet smoke beef - diced
250 grams chicken’s filet, diced
½ cup chopped onion
½ cup finely chopped carrots
½ cup finely chopped celery
100 grams thinly sliced mushrooms
3 cloves garlic, minced
Pinch of dried cloves
3 tablespoon tomato pasta
4 cups chicken stock
1 ½ teaspoon salts
½ teaspoon black pepper
1 teaspoons sugar
¼ teaspoons nutmeg
½ cup heavy cream
1 cup dry white wine (or 1 cup stock in addition)
For the Bechamel
4 ½ cups milk
6 tablespoons butter
6 tablespoons flour
¼ tablespoons white pepper
¼ teaspoons nutmeg
Directions:
Make Pasta
1. Make mound with flour on your work surface and scoop out well in the middle
2. Pour eggs into the hole, add salt and work the eggs and the flour together till you have a smooth dough. Adding just a drop of water if necessary and no more.
3. Knead the dough for ten or fifteen minutes until it’s smooth, firm and quite elastic. Don’t skimp on the kneading or the dough will tear while you’re rolling it out.
4. separate the dough into four pieces. Flour your work surface and start to roll out the dough, rolling from the middle, flipping it occasionally and flouring it as necessary to keep it from sticking.
5. keep on flipping and rolling till you have a sheet that almost transparent as thin as a dime or thinner.
6. Cook the pasta in salted and oiled boiling water. Since its fresh, it will cook in 3 or 5 minutes.
Make the Bolognaise Sauce
1. In large pot, heat butter over medium heat
2. Add chicken, smoke beef and sauté, stirring constantly until light brown.
3. Add onion, carrots, celery and mushrooms and cook until soft.
4. Add garlic, cloves and nutmeg to the pan.
5. Add tomato paste and cook for an additional 2 minutes
6. Then add the stock and simmer over medium heat until sauce is thickened and flavorful
7. Season the sauce with salt, pepper and sugar to taste
8. Stir in the cream and set aside until ready to assemble lasagna.
Make the Bechamel.
1. In saucepan, melt the butter over low heat and stir the flour, stirring constantly until smooth about 2 minutes.
2. Slowly whisk the milk into the flour, stirring vigorously to blend together. Set over high heat and quickly bring to a boil for 1 minutes stirring.
3. Allow to cook another 5 minutes or until floury taste is gone. Remove from the heat and add salt, nutmeg and pepper to taste.
Build the Lasagna Bolognaise.
1. Preheat the oven to 160 degree C
2. Butter a large rectangular baking dish, then spoon some meat sauce onto bottom of the dish
3. cover with one sheet of pasta
4. Top the lasagna with a layer of meat sauce (making certain that pasta is completely covered), a layer of béchamel sauce, the a light dusting of parmesan cheese.
5. Repeat layering lasagna, sauce and cheese in the manner until all have been used. Ending with a topping of béchamel sauce and cheese.
6. Bake the lasagna covered with aluminum foil for 45 minutes and then unwrap and return to the oven for 15 minutes to reach a golden brown
7. Allow to sit 10 minutes to firm before serving.
Senin, 08 Mei 2006
Pendidikan dan masa depan anak-anak kita.
Pada setiap bulan April, anak-anak di kelas terakhir, dari mulai tingkat sekolah dasar hingga di tingkat sekolah menengah sedang disibukkan dengan try out dan ujian-ujian masuk sekolah tingkat selanjutnya termasuk untuk masuk ke universitas. Bukan saja anak-anak yang sibuk, para orangtuapun cukup disibukkan dengan ritual menjelang akhir tahun ajaran, yaitu membantu anak-anaknya agar mendapat nilai yang baik dengan cara mengawasi jam belajar, mengajari anak-anak, dan bahkan ada yang sampai berpuasa dan shalat tahajud, memohon kepada Allah SWT agar anak-anaknya mendapatkan nilai yang memuaskan atau diterima di sekolah yang dituju.
Berbeda dengan dekade sebelumnya dimana ujian saringan masuk ke sekolah lanjutan/universitas dilaksanakan setelah anak-anak selesai ujian akhir, maka sejak beberapa tahun yang lalu, sejak awal tahun kalender, sekolah dan universitas mulai jorjoran memasang iklan pengumuman penerimaan/pelaksanaan ujian dalam rangka seleksi penerimaan murid dan mahasiswa baru pada triwulan kedua. Seleksi calon murid/mahasiswa telah dilaksanakan jauh hari sebelum ujian akhir berlangsung.
Anak-anak sendiri, tidak kalah stressnya dalam menghadapi evaluasi hasil belajar. Berbagai pelajaran tambahan dalam bentuk les, seperti les matematika atau bahasa Inggris sudah rutin menghiasi hari-harinya. Tidak itu saja, demi sebuah ambisi orangtua yang berbungkus “menyalurkan bakat anak” atau “mempersiapkan diri dalam era global”, sejak kecil anak-anak sudah pula disibukkan dengan kegiatan-kegiatan tari (umumnya balet atau tari bali), les musik, les melukis bahkan sampai dengan les-les kepribadian.
Betapa lelahnya menjadi anak-anak yang hidup di bawah tekanan “mempersiapkan diri memasuki era global”. Apalagi, hidup di kota besar yang padat, membuat perjalanan dari rumah ke sekolah lalu ke tempat les menjadi sangat panjang, lama dan menjemukan. Tidak jarang ditemukan, seorang anak harus bangun pada jam 04.30 untuk shalat, mandi dan segera berangkat ke sekolah. Sarapan di mobil, di tengah antrian mobil dalam kemacetan. Usai sekolah langsung berangkat ke tempat les dan baru kembali sampai rumah sesudah hari menjelang malam, atau sekitar jam 18.00 atau 19.00. Lelah lahir dan batin. Manalagi waktu yang tersisa untuk belajar, apalagi untuk bersenang-senang.
Ini adalah potret kehidupan seorang anak dari kelas menengah dan kelas atas di Indonesia terutama yang hidup di Jakarta. Namun kelelahan dan kejemuan bukan hanya milik mereka. Hampir semua anak-anak yang hidup di kota besar, mengalami hal yang sama. Bangun pagi, sarapan seadanya kalau sempat. Anak-anak lainnya masih harus mengejar kendaraan umum yang terkadang enggan mengangkut mereka, berpeluh sambil menghirup udara kotor bertimbal, yang katanya bisa menurunkan kecerdasan. Bahkan tidak jarang terlihat anak-anak usia sekolah masih berkeliaran, menjajakan koran atau bahkan menjajakan suara dalam lagu yang kadang tak jelas benar apa maknanya, di jalanan hingga larut malam untuk mengetuk belas kasih pengendara mobil. Entah orang tua mana yang tega membiarkan mereka kehilangan masa kanak-kanak yang ceria. Kemiskinan, mungkin telah membuat mereka tidak berdaya.
Begitu beratnya kehidupan yang harus dijalani anak-anak, hingga mereka sama sekali tidak lagi sempat mengikuti naluri alamiahnya, yaitu bermain, mengeksplorasi keingintahuannya dalam kegiatan yang sesuai dengan usianya. Yang paling parah, kegiatan mencari uang, cepat atau lambat, berdampak pada pemahaman mereka tentang uang dan pendidikan. Menyimak dua sisi yang jauh berbeda ini, terbersit pertanyaan, untuk apa sebenarnya semua “kehebohan” ini?
Ambisi orang tua.
Pendidikan dan masa depan anak-anak tidak pernah lepas dari perhatian para orang tua. Siapapun mereka dan dari kalangan apapun mereka. Orang tua akan selalu berharap bahwa anak-anak mereka, suatu waktu kelak, akan mencapai “kesuksesan” sebagaimana yang telah mereka raih. Bahkan di kalangan miskin, harapan ini semakin bertambah dengan keinginan agar anak-anak itu tidak lagi mengalami kepahitan hidup orang tuanya dan kalau mungkin menjadi “alat” dari orang tuanya untuk keluar dari jaring kemiskinan. Demi sebuah masa depan yang kita semua tidak tahu, maka seorang anak “dipaksa” sejak dini untuk mulai dibentuk sesuai dengan “imaginasi dan ambisi” orang tua akan masa depan yang nantinya akan dihadapi oleh anak.
Masa depan yang bagaimana yang akan dihadapi oleh si anak di masa yang akan datang?
Dalam pemikiran yang sangat sederhana, masa depan yang dihadapi oleh seorang anak adalah; dia harus bisa melepaskan diri dari ketergantungannya kepada orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk di antaranya adalah kebutuhan sandang pangan dan papan. Bahkan kemudian, sesuai dengan kodrat yang ditetapkan dalam penciptaan manusia, maka si anak akan menikah dan beranak pinak, mengulangi siklus kehidupan manusia. Jadi, seluruh perjalanan hidup sejak kecil, bertumbuh menjadi kanak-kanak, remaja lalu beranjak dewasa lengkap dengan segala kegiatan fisik, maupun rohani, apakah itu bentuknya olah pikiran, yaitu bersekolah atau sekedar olah otot membantu orang tua bekerja di kebun/hutan, kesemuanya merupakan suatu latihan dan proses yang harus dijalani anak manusia untuk melepaskan diri dari ketergantungan tersebut.
Andreas Harefa, salah seorang pelopor gerakan manusia pembelajar, dalam salah satu buku karangan, menyatakan bahwa pendidikan, seyogyanya harus mampu menjadikan masyarakat menjadi mandiri namun tidak menjauhkannya dari alam dan lingkungan dimana dia berada.
Kalau tujuan akhirnya adalah kemandirian baik secara fisik, emosional maupun keuangan, apalagi dengan prasyarat “tidak menjauhkan dari alam dan lingkungan dimana dia berada”, maka ada banyak cara untuk menuju kesana dan sekolah hanya merupakan salah satu cara saja. Dan sekolah yang terbaik adalah sekolah yang mengakar kepada kebutuhan dan alam dimana peserta didik itu berada.
Dengan logika yang sederhana itu pula, dan dalam kasus yang sangat ekstrim, kita kemudian dapat mempertanyakan, apakah sekolah bagi anak-anak suku anak dalam di Jambi atau anak-anak suku Dani di lembah Baliem, harus memiliki kurikulum yang sama dengan anak-anak di pulau Jawa? Tidak perlu terlalu jauh membandingkan dengan kebutuhan anak sekolah di pulau Jawa. Apakah sekolah yang dibutuhkan mereka sama dengan kebutuhan anak-anak sekolah di salah satu kota kabupaten di Sulawesi. Apakah mereka juga harus mengikuti kurikulum standar dari Diknas serta mengikuti ujian nasional? Apakah memang mereka membutuhkan hitungan-hitungan rumit a la anak-anak sekolah di kota-kota besar, sementara kebutuhan riel yang mereka hadapi adalah cara bertahan hidup di tengah hutan. Mereka membutuhkan keterampilan mengolah alam bukan hitung-hitungan matematika yang rumit. Pendapat ini mungkin dianggap sebagai “pelanggaran terhadap hak asasi manusia”. Menghambat kemajuan putera daerah.
Tetapi marilah kita berpikir secara rasional dan realistis. Berdasarkan penelitian, hanya ada 15% manusia yang bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang sarjana ke atas terutama ditinjau dari sisi kemampuan akademik. 85% lainnya adalah manusia yang memang hanya mampu menempuh pendidikan menengah dan rendah, baik karena kemampuan akademis maupun finansial. Bagi anak-anak seperti ini, maka yang diperlukan adalah eksplorasi kemampuan ”non akademis”, berupa pengajaran praktis – keterampilan yang langsung dapat dimanfaatkan sebagai bekal menata kehidupan di masa depan. Sekaligus juga untuk mengeksplorasi ”bakat-bakat terpendam” mereka. Bagi anak-anak seperti ini, sekolah umum cenderung membelenggu dan mematikan kreatifitas manusia.
Konon pula, keberhasilan Jepang dan Jerman untuk bangkit dari kehancuran total setelah perang dunia ke dua disebabkan karena pemerintah kedua negara tersebut menaruh prioritas pembangunan pendidikan jenjang menengah terutama pada pendidikan kejuruan. Bukan kepada pendidikan tinggi dengan gelar-gelar yang mentereng. Konsentrasi pembangunan tenaga menengah pada gilirannya, mampu meningkatkan jumlah tenaga terlatih kelas menengah yang kemudian menopang kebangkitan industri di kedua negara tersebut.
Sayangnya, paradigma pendidikan Indonesia cenderung ”menghamba” kepada gelar akademis. Bukan kepada proses dan kompetensi. Setiap orang dicekoki oleh paradigma bahwa menjadi sarjana adalah jaminan masa depan yang lebih cerah. Hal ini dilakukan tanpa melihat kondisi geografis, demografi, sosial, budaya serta distribusi ekonomi Indonesia yang kurang merata. Tidak heran bila akhirnya, semua orang berebut dan berlomba-lomba masuk universitas agar kelak menjadi sarjana. Kualitas lulusan SMApun semakin menurun, karena kualitas sekolah ditentukan oleh seberapa banyak lulusannya yang diterima di universitas terkemuka Indonesia, bukan oleh proses belajar-mengajar. Sebagian besar sekolah lebih bangga dengan status kelulusan 100% dibandingkan dengan kualitas lulusan. Tidak heran, saat para lulusan SMA tidak mampu melalui ujian saringan masuk Universitas berkualitas, maka universitas ”cap dua kendi” (ini istilah yang selalu digunakan Budi Tampubolon, untuk menekankan sesuatu yang buruk kualitasnya) pun dimasuki. Akhirnya, gelar sarjana tidak lagi mencerminkan kompetensi para penyandangnya.
Bahkan yang lebih menyedihkan, penghambaan kepada gelar ini merambat kepada golongan menengah dan para birokrat terhadap jenjang pendidikan lebih tinggi lagi, yaitu terhadap gelar magister (S2), doktor (S3) dan professor. Semua orang, sekarang berebut untuk menyandang gelar profesi sebagai guru besar.
Konon, di negara maju seperti Perancis, banyak anak muda yang tidak memiliki ijasah bacalaureat (berhasil lulus dari sekolah setara SMA) yang menjadi ”tiket” masuk universitas/grande ecole. Toh lulusan sekolah mereka, pada jenjang manapun juga memiliki keterampilan yang memadai untuk bekerja. Walaupun dengan persyaratan ketat ”kompetensi”, seperti misalnya; bekerja sebagai tukang potong dagingpun wajib memiliki sertifikat yang menandai pengetahuannya tentang tubuh binatang dan bagaimana menghasilkan potongan-potongan daging yang baik dan benar dari setiap bagian tubuh binatang tersebut.
Masalahnya, perbedaan tingkat sosial di Indonesia terlalu besar dan berbagai kebijakan yang dibuat terlalu berorientasi pada kebutuhan golongan menengah ke atas yang memang sudah memerlukan pendidikan dengan wawasan global. Sementara itu, seperti sering dikatakan, 80% penduduk Indonesia hidup di pedesaan dan bahkan hingga di pelosok gunung/pedalaman hutan perawan dan pesisir pantai yang jauh dari jangkauan modernisasi yang melanda kota besar. Pendidikan kepada mereka tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan riel lingkungan hidup mereka yang dekat dengan alam. Yaitu kebutuhan pendidikan yang berbasis kompetensi untuk memanfaatkan alam sehingga mereka mampu menggunakan sumber daya alam sekelilingnya untuk kemudian meningkatkan taraf hidupnya. Ini mungkin lebih realistis daripada mendapat pendidikan akademis yang terasa absurd bagi rakyat kebanyakan.
Betapa besarnya kerugian bangsa ini bila para pengambil kebijakan tidak dapat menangkap esensi pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia yang memang beragam tingkat sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Kebutuhan akan pendidikan yang mampu membuat anak-anak Indonesia mandiri dan responsif terhadap lingkungan dimana mereka besar dan tinggal. Pendidikan yang mampu menahan mereka untuk tetap tinggal di kota tempat mereka lahir dan dibesarkan, mengembangkan potensi daerahnya masing-masing dibandingkan dengan keinginan berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke kota besar. Pendidikan yang mampu membuat seluruh anak Indonesia merasa sama tinggi sama derajat dimanapun mereka berada dan apapun profesinya.
Bila ini bisa diterapkan, tentu bangsa ini tidak akan mengalami kerugian akibat ketidak seimbangan antara biaya dan waktu yang terbuang dengan hasil pendidikan yang diperoleh peserta didik. Sampai kapan ini akan berlangsung?
Diselesaikan di lebak bulus – jakarta selatan, 5 mei 2006
Rabu, 03 Mei 2006
Back to Campus? Why not..??
Minggu lalu, saya dapat email lagi dari Tiu, teman kuliah seangkatan, di arsitektur dulu. Untuk yang kedua kali, dia meminta saya untuk jadi Reviewer tugas mahasiswa dalam mata kuliah Real Estate, khususnya untuk study kelayakan proyek. Bidang ini memang pekerjaan saya selama lebih dari 15 tahun.
Kembali ke kampus dan berbagi pengetahuan dengan mahasiswa, rasanya sangat menyenangkan. Teringat masa 20 tahun yang lalu saat membimbing mahasiswa jurusan Interior Trisakti melaksanakan kerja praktek di kantor saya yang pertama. Melibatkan mereka menyiapkan dokumen tender yang mencakup design, anggaran biaya, time schedule serta membimbing penyusunan laporan kerja praktek. Yang sangat mengharukan adalah saat mereka berkunjung lagi ke kantor dan mengucapkan terima kasih. Nilai kerja praktek mereka mendapat nilai A. Dan itu yang pertama kali terjadi di jurusan tersebut, karena apa yang tersaji dalam laporan tentang pengalaman selama kerja praktek serta dokumen pelengkapnya memang sesuai dengan maksud dan tujuan yang ditetapkan jurusan. Ada rasa haru, karena pengalaman yang mereka dapatkan selama kerja praktek itu bisa menjadi referensi kerja praktek bagi generasi selanjutnya.
Saya beruntung, bisa meluangkan waktu, keluar dari kantor sepanjang pagi tanpa ada keberatan dari pemilik perusahaan. Toh hanya 1x per semester .. Jadi, tidak mengganggu jadwal kerja. Apakah ini jalan bagi saya untuk beralih profesi ...? Entahlah ... masih jauh dari bayangan.
Kelihatannya, dunia kampus memang menyenangkan ... terlihat santai, egaliter dan lebih fleksibel dalam mengatur waktu. Yang lainnya .... ?? Namanya bekerja, pasti akan selalu ada intrik, pengelompokan minat dan persaingan ...
Repotnya ..., masa iya sih bapak-ibu dan anak, semuanya jadi guru/dosen? Sepertinya ... sempit sekali dunia kerja/profesi yang bisa dimasuki? Cukup suami dan anak sajalah yang masuk ke dunia pendidikan.....
Selasa, 02 Mei 2006
Confession of an Economic Hit Man
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Reference |
| Author: | John Perkins |
Amazon.com
John Perkins started and stopped writing Confessions of an Economic Hit Man four times over 20 years. He says he was threatened and bribed in an effort to kill the project, but after 9/11 he finally decided to go through with this expose of his former professional life. Perkins, a former chief economist at Boston strategic-consulting firm Chas. T. Main, says he was an "economic hit man" for 10 years, helping U.S. intelligence agencies and multinationals cajole and blackmail foreign leaders into serving U.S. foreign policy and awarding lucrative contracts to American business. "Economic hit men (EHMs) are highly paid professionals who cheat countries around the globe out of trillions of dollars," Perkins writes. Confessions of an Economic Hit Man is an extraordinary and gripping tale of intrigue and dark machinations. Think John Le Carré, except it's a true story.
Perkins writes that his economic projections cooked the books Enron-style to convince foreign governments to accept billions of dollars of loans from the World Bank and other institutions to build dams, airports, electric grids, and other infrastructure he knew they couldn't afford. The loans were given on condition that construction and engineering contracts went to U.S. companies. Often, the money would simply be transferred from one bank account in Washington, D.C., to another one in New York or San Francisco. The deals were smoothed over with bribes for foreign officials, but it was the taxpayers in the foreign countries who had to pay back the loans. When their governments couldn't do so, as was often the case, the U.S. or its henchmen at the World Bank or International Monetary Fund would step in and essentially place the country in trusteeship, dictating everything from its spending budget to security agreements and even its United Nations votes. It was, Perkins writes, a clever way for the U.S. to expand its "empire" at the expense of Third World citizens. While at times he seems a little overly focused on conspiracies, perhaps that's not surprising considering the life he's led. --Alex Roslin
From Publishers Weekly
Perkins spent the 1970s working as an economic planner for an international consulting firm, a job that took him to exotic locales like Indonesia and Panama, helping wealthy corporations exploit developing nations as, he claims, a not entirely unwitting front for the National Security Agency. He says he was trained early in his career by a glamorous older woman as one of many "economic hit men" advancing the cause of corporate hegemony. He also says he has wanted to tell his story for the last two decades, but his shadowy masters have either bought him off or threatened him until now. The story as presented is implausible to say the least, offering so few details that Perkins often seems paranoid, and the simplistic political analysis doesn’t enhance his credibility. Despite the claim that his work left him wracked with guilt, the artless prose is emotionally flat and generally comes across as a personal crisis of conscience blown up to monstrous proportions, casting Perkins as a victim not only of his own neuroses over class and money but of dark forces beyond his control. His claim to have assisted the House of Saud in strengthening its ties to American power brokers may be timely enough to attract some attention, but the yarn he spins is ultimately unconvincing, except perhaps to conspiracy buffs.
Copyright © Reed Business Information, a division of Reed Elsevier Inc. All rights reserved.
Jumat, 28 April 2006
Getting health with REIKI
Almost 3 months ago, during semester break of my French course, I attended to reiki healing short workshop, held at Jl. Wijayakusuma - Jakarta Selatan, not so far from home, known as Dapur Susu near Fatmawati Hospital.
I’ve already heard about Reiki for more than 5 years ago, since my husband received an attunement from Reiki Master. At that time, his colleague, a lecturer at Faculty of Engineering – University of Indonesia , organized a free Energy’s Healing at campus Salemba, every Saturday and opened attunement for the interested person.
Year by year after, Reiki has already known as an alternative natural’s healing. As a consequent, the workshop entrance’s fee became more and more expensive, especially for the lecturer’s financial capacity. That was the reason, why the same workshop has been especially organized for the lecturers at Depok’s Campus and my husband attended for the second times.
Then, a couple years has passed away while suddenly, a wife of my colleague who has been attacked seriously by lupus and got paralyzed, she need to be healed naturally since a traditional china’s medicine practitioner discovered that she was empoisoned by excessive modern medicine’s treatment. My colleague, who has moved away to Malang – East Java and already heard about the practice of reiki a year before, asked me to find the practitioner of reiki to help his wife. After a series of treatments, his wife got better day by day. Now, both of them, become Reiki practitioner and the wife has recover her healthy and finally have a second infants, a couple months ago.
To be frank, in the beginning, I was not so attracted by energy healing, while I always try to avoid a contact with modern healing practiced by medical doctors. In other side, my husband had been initiated into Reiki, so I just ask him to heal me when needed. That should be very simple, isn’t it? In fact, it’s not so easy since I always think that he was not seriously in practicing this energy healing for the health’s prevention for member of family. That the real reason, why, finally I decided to be a practitioner of Reiki.
What’s Reiki?
Reiki (pronounced ray-key) is a Japanese word representing universal life energy and a form of natural’s healing that’s becoming popular worldwide. This life energy can be found around us. The word it self, is derived from rei, meaning “free passage” or “transcendental spirit” and ki meaning “vital life force energy” or “universal life energy”.
Reiki was founded by DR Mikao Usui in the mid to late 1800s and was introduced to the western world in the mid 1970s after having passed away from many reiki’s master and since, the reiki use has spread dramatically worldwide.
Now, there are many forms of reiki being practice, as well as in Indonesia , but the two principal forms are The Usui System of Natural Healing and The Radiance Technique.
Reiki is useful in treating serious illness as well as others such as sports injuries, cuts, burns, internal diseases, emotional disorders and stress related to illness.
How to become a Reiki Practitioner?
To be a practitioner of reiki is very simple. By attending a reiki workshop and receiving an attunement, everybody will automatically become a practitioner of reiki and be able to heal everybody we want. Once people are attuned, the power of reiki stays for the whole lifetime.
Is it that simple? The answer is …yes! But, as usual, for being able a good practitioner, we need some self-training. The first series of training is practicing “The Whole Body Reiki” for 21 days consecutive. The purpose of whole body reiki is to purifying the soul and body of the newcomer. But at the meantime, the new practitioners are able to heal anyone whose need their help.
Is reiki work properly to heal?
The power of reiki is quite unimaginable for non practitioner. To be frank, in the first week after attunement, I am not very sure of the power of reiki till the day when a colleague told me that she got headache and need a pill to remedy. I told her, that I have been attuned into reiki and if she believed on natural/energy healing, just let me practiced it. As she was agreed to do it, I asked her to sit in front of me and I tried to give her the energy. A couple minutes after, she told me that she got better and didn’t need a pill anymore.
The second occasion was in the middle of a very stressing meeting at Malang where I tried the same way and it worked, as well as when my daughter got gastro problem after having too much mandarin (orange) at once. After suffering with a series vomit all night long, I tried to give her reiki energy. And with God’s permission, after twice reiki’s healing, her condition became better than before, although the symptom was not totally disappeared. At least she didn’t need too much medicine, just a day.
The most recent proof of reiki’s healing, was on me. A week ago, I was attacked by gastro problems after having a small portion of rice fermented with chocolate syrup for finishing my diner. I was deeply suffered and thought not to be able to go to the office in the morning. Then, I did reiki self healing twice. The night, just a couple minutes after the attack and in the morning before going to the office. The result was quite ok. At least I could drive my car and work for the whole office hour.
That’s my experience with Reiki. Am I a practitioner of Reiki, now?
Of course not ….. Being initiated to reiki is one of many ways to prevent my family’s health and, of course, mine. Not more!!! And the reason is just because I don’t like to spend a lot of money to pay some Indonesian doctors who are now becoming a kind of economical animal, nor to buy the very expensive price of medicines at the pharmacies while most Indonesian have no health protection.
But … who know if one day, as a retreat, I decide to be a reiki master, to help everybody, especially the poor or unlucky peoples, freely. It will sound good, isn’t it…? As a believer, it should be a good investment before dying, for me. Let God decide and I will follow.
Lebak bulus 28 April 200
Selasa, 28 Februari 2006
Bang ALI …., Jakarta sungguh beruntung pernah dipimpin anda!
Nama Ali Sadikin, bisa jadi, kurang akrab di telinga generasi MTV dan sebagian besar generasi internet Jakarta . Terutama mereka yang lahir sesudah tahun 1975. Tentu tidaklah mengherankan bila berita penganugerahan gelar Empu Kebudayaan Kota bagi Bang Ali, tidak menarik untuk diangkat oleh para wartawan muda yang tidak mengenalnya dengan baik. Namun begitu, nama bang Ali masih dan akan tetap akrab di telinga dan hati sebagian besar anak muda/mahasiswa yang hidup dan besar di Jakarta pada periode tahun 1965 sampai dengan tahun 1980. Bahkan bagi mayoritas penduduk Jakarta saat itu, bang Ali adalah “idola”. Bukan karena kegantengannya, tetapi karena keberhasilannya dalam mengubah wajah kota Jakarta . Karenanya anugerah gelar “Empu Peradaban Kota”, walaupun sangat terlambat, amat sangat layak diberikan kepada bang Ali.
Ali Sadikin, putra Sunda kelahiran Sumedang, dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 28 April 1966 oleh Presiden Sukarno, di Istana Negara. Konon, alasan pengangkatan Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jaya, karena bung Karno menganggap Jakarta perlu dipimpin oleh orang “koppig” (keras kepala) dan satu-satunya orang yang dianggap keras kepala adalah Mayjen KKO Ali Sadikin, yang saat itu menjabat sebagai Deputy Menko Ekuin, setelah sebelumnya menjabat sebagai Menteri Perhubungan Laut dalam Kabinet Dwikora. Selain itu, bung Karno juga membutuhkan orang yang dapat mengimplementasikan impiannya akan ibukota Negara, sebagaimana ucapannya pada Ali Sadikin saat pelantikan, yaitu :”Saya sub-plant impian saya tentang Jakarta pada kalbumu. Biar nanti setelah kamu bukan gubernur, orang masih ngomong tentang kamu”
Pada saat menerima jabatan Gubernur, walaupun menyandang nama sebagai ibukota negara, kenyataannya, Bang Ali menerima beban mengurus sebuah “Big Village” yang dihuni 4,4 juta manusia dengan APBD sebesar 66 juta rupiah yang terdiri dari subsidi pusat 44 juta atau 66% dan pendapatan asli daerah hanya sebesar 22 juta atau 34% nya. Kondisi keuangan ini jelas tidak mencukupi untuk membangun Jakarta menjadi sebuah kota yang pantas menyandang predikat ibukota negara, sebagaimana yang diamanatkan bung Karno kepadanya dalam acara pelantikan. Apalagi ada batasan, pemerintah daerah sama sekali tidak diperkenankan mencari fasilitas pinjaman.
Namun, bang Ali memang memiliki visi yang jelas dan kuat mengenai Jakarta . Kesemuanya dituangkan dalam Masterplan Jakarta 20 tahun, walaupun pada kenyataannya terasa sulit dilaksanakan akibat minimnya APBD. Dalam upaya mencari pendanaan, tiba pada masa di mana Bang Ali mengetahui bahwa di Jakarta terdapat perjudian illegal, yang dilindungi oleh oknum pejabat/ABRI. Apalagi mereka (penyelenggara dan pelindungnya) menikmati hasil judi illegal tersebut tanpa membayar pajak. Bang Ali lalu meminta staffnya untuk meneliti peraturan mengenai perjudian, dan ditemukan bahwa UU warisan Kolonial yang masih berlaku, menetapkan bahwa Judi hanya ditujukan bagi etnis Cina, karena bagi mereka judi terkait dengan budaya “buang sial”. Berbekal dengan UU tersebut dan UU no.11 tahun 1957 tentang Pajak Daerah, bang Ali mulai membenahi perjudian yaitu melalui tindakan preventif maupun represif terhadap perjudian antara lain melokalisir judi ke lokasi tertentu di Jakarta, membangun sarana judi-kasino seperti Copacobana di Ancol, agar kesemuanya mudah dikontrol. Ia juga memberlakukan peraturan ketat bahwa hanya dari golongan etnis tertentu saja yang boleh memasuki tempat perjudian dan kemudian memanfaatkan pajak judi untuk membangun Ibukota Jakarta. Dengan demikian, hasil judi tidak lagi dinikmati dan memperkaya segelintir orang saja, tetapi bermanfaat dalam pembangunan kota seutuhnya.
Hasilnya memang luar biasa! APBD Jakarta meningkat pesat sehingga Bang Ali mampu merealisasikan impiannya dalam meningkatkan citra the big village menjadi ibukota Negara yang pantas disejajarkan dengan kota-kota lain di Asia. Bang Ali mulai membenahi Jakarta . Membangun begitu banyak sekolah, Gelanggang Remaja yang dapat menampung kegiatan remaja dan pelajar dalam bidang kesenian dan olah raga, termasuk berenang, di lima wilayah Jakarta . Membangun Student Center , yaitu Gelanggang Mahasiswa Sumantri Brodjonegoro di Kuningan yang saat ini dikenal sebagai Pasar Festival.
Wilayah pemukiman mulai ditata dengan menyertakan partisipasi swasta, yang sekarang dikenal sebagai real estate di wilayah Taman Solo – Cempaka Putih, Tanah Mas di bilangan Rawamangun, Kemang dan banyak lagi. Kawasan industripun tak luput dari perhatiannya dengan dibangunnya Jakarta Insdustrial Estate Pulogadung - JIEP. Disamping itu, Bang Ali juga membentuk berbagai perusahaan daerah (BUMD) untuk membangun dan merenovasi pasar-pasar tradisional yang becek dan kumuh, membangun Pasar yang sampai saat ini dikenal sebagai Proyek Senen, lalu kawasan wisata Ancol. Begitu pula dengan pembangunan terminal-terminal bus dan shelter penghentian bus kota . Bukan hanya dalam bidang perekonomian dan remaja, Bang Ali juga memindahkan kebun binatang dari lokasi semula di tengah perumahan elite Cikini ke Ragunan yang teduh dan asri, sedangkan lokasi bekas kebun binatang tersebut di bangun sebuah pusat kesenian Taman Ismail Marzuki – TIM lengkap dengan Planetarium yang hingga saat ini, lebih dari 30 tahun kemudian, masih merupakan planetarium satu-satunya di Indonesia. Bukan hanya memperhatikan hunian kalangan menengah ke atas, kampung-kampung kumuh mulai dibenahi dengan program perbaikan kampung yang dikenal dengan nama MHT, yang diambil dari nama pahlawan asal Betawi, Muhamad Husni Thamrin.
Perhatian bang Ali tidak melulu tertuju pada hal-hal yang bersifat materialistis saja, tetapi juga terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan karakter manusia dan perlindungan hak masyarakat, antara lain pendirian Lembaga Bantuan Hukum, Kamar Dagang Indonesia, Lembaga Konsumen, OSIS, Karang Taruna, Puskesmas, yang kemudian menjadi contoh dan dikembangkan ke seluruh Indonesia.
Selain Taman Ismail Marzuki, kalangan seniman film dilengkapi dengan pembangunan komplek Pusat Perfilman di Kuningan, revitalisasi Gedung Kesenian di Kawasan Pasar Baru, pemanfaatan berbagai gedung kuno di Jakarta menjadi museum dan pembentukan Dewan Kesenian Jakarta, Pekan Raya Jakarta yang dulu dikenal sebagai Jakarta Fair, Taman Rekreasi Senayan dan banyak hal lain menjadi karya nyata seorang Ali Sadikin. Sarana transportasi kotapun tidak luput dari perhatiannya, termasuk Mass Rapid Transport – MRT walaupun masih dalam bentuk perencanaan (master plan) yang hingga saat ini sayangnya belum sempat terealisir. Bahkan realisasi pembangunan Taman Mini Indonesia Indahpun tak luput dari campur tangan bang Ali.
Masyarakat Jakarta juga, tentu masih ingat bahwa ulang tahun Jakarta tanggal 22 Juni adalah waktu yang ditunggu khalayak ramai. Inilah arena pesta rakyat kolosal sepanjang malam yang diselenggarakan di sepanjang jalan MH Thamrin. Pesta rakyat yang dikenal dengan nama malam muda-mudi, tempat kaum marginal menikmati hiburan gratis setahun sekali.
Bang Ali memang fenomenal. Sebagai Gubernur, beliau memang sangat keras dan tegas. Pada jaman itu, masyarakat Jakarta tidak heran membaca berita bahwa sang Gubernur, dengan entengnya menampar supir bus yang dipergokinya ugal-ugalan. Bang Ali juga rajin menggusur rakyat untuk menjalankan program perbaikan kampung dan pembuatan jalan. Kesemuanya dilakukan tanpa ganti rugi kepada rakyat. Bukan karena bang Ali tidak peduli pada kerugian rakyat yang tanahnya digunakan untuk proyek pelebaran jalan atau perbaikan kampung, tetapi itulah bentuk kepercayaan dan kecintaan rakyat kepada pemimpinnya. Ini membuktikan bahwa kekerasan bang Ali tidak menjadikannya jauh dari rakyat yang dipimpin. Bang Ali mampu membuktikan bahwa semua yang dilakukannya, semata-mata untuk kemajuan kota Jakarta dan rakyatnya percaya penuh, karena ada hasil yang jelas terasa.
Bang Ali memang tidak dapat selalu diidentikkan dengan keberhasilan. Peraturan yang ditetapkan tentang larangan becak, dirasa menekan bagi rakyat kecil. Namun kesemuanya bukanlah dikarenakan beliau tidak “berpihak” kepada rakyat kecil, tetapi karena dalam pandangan bang Ali, becak merupakan bentuk eksploitasi manusia atas manusia lainnya. Apalagi, bang Ali juga memberikan alternatif kendaraan pengganti, yaitu helicak – becak bermotor. Kebijakan Jakarta sebagai kota tertutup yang ditetapkannya juga dimaksudkan agar pemerintah daerah terpacu untuk mencontoh keberhasilan Jakarta dalam membangun daerahnya. Agar dapat memberi lapangan kerja pada rakyatnya sehingga mereka tidak perlu berbondong-bondong mengadu nasib ke Jakarta .
Bang Ali menyelesaikan jabatannya pada tahun 1977 setelah 2 kali masa jabatan yang penuh warna. Banyak yang menangisi kepergiannya. Menangisi “kepergian bapaknya” … pemimpin yang dicintai seluruh rakyat. Selama berbulan-bulan kolom surat pembaca koran ibukota dipenuhi dengan luapan emosi kesedihan dan penyesalan berbagai lapisan masyarakat yang ditinggalkan bang Ali.
Masa jabatan bang Ali memang sudah berlalu hampir 30 tahun yang lalu. Jadi tidak mengherankan bila generasi sekarang tidak mengenal beliau. Apalagi, ada kecenderungan “character assassination” yang dilakukan penguasa negeri ini terhadap bang Ali. Berbagai kebijakan bang Ali yang seharusnya bersifat sustainable, seperti yang tercantum dalam Master Plan Jakarta 1985 dijungkirbalikkan sehingga Jakarta berkembang tak terkendali lagi, sesudahnya.
Gelanggang Mahasiswa Sumantri Brodjonegoro di Kuningan yang pada jamannya sangat dibanggakan mahasiswa, kini telah berubah menjadi fasilitas komersial yang dikuasai swasta. Bahkan pusat perfilman “Usmar Ismail”, gedung wanita “Nyi Ageng Serang” yang berada di sebelahnya, nyaris kumuh dan mungkin hanya dapat dikenang saja keberadaannya. Belum lagi gelanggang remaja di seluruh wilayah Jakarta , komplek Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan dan lainnya . Kesemuanya merana dan kumuh karena salah urus. Jangankan menambah fasilitas umum dan sosial bagi masyarakat, memelihara yang sudah dibangun oleh bang Ali – pun, kita tak mampu. Bahkan ada kecenderungan untuk meniadakannya dan “menjual” aset-aset pemerintah daerah ke tangan para pengusaha. Ini tentu sangat merisaukan bagi semua yang pernah merasakan masa-masa keemasan pemerintahan Ali Sadikin.
Judi, sejak jaman bang Ali memang sudah diharamkan. Bang Ali tahu akan hal itu. Bedanya, bang Ali mampu memanfaatkan dan mengendalikannya untuk pembangunan kota . Sekarang … judi masih tetap haram dan …. tetap ada. Namun, kita, nampaknya lebih suka dengan hal-hal yang bersifat munafik. Berpura-pura melarang dan menganggap judi tidak ada di Jakarta . Kemudian, Judi dikemas dengan nama lain "undian atau sumbangan" sehingga masyarakat terutama golongan berpenghasilan rendah "dipaksa" berjudi dengan dalih menjadi dermawan. Ini tentu sangat berbeda dengan kasino yang hanya menyentuh segelintir orang yang memang memiliki budaya "berjudi".
Semua orang juga tahu sama tahu akan hal itu, karena seperti kata bang Ali, Judi tidak akan pernah dapat diberantas. Kini, judi kembali illegal seperti jaman sebelum pemerintahan bang Ali, dan hasil judipun kembali hanya dinikmati oleh segelintir oknum.
Mengingat semua hasil karya nyata bang Ali selama beliau menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, memang pantaslah bila beliau diangkat sebagai Empu Peradaban Kota, melengkapi berbagai penghargaan yang pernah diterimanya, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Bang Ali …. Jakarta sungguh beruntung pernah dipimpin oleh anda!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺
Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa Mensholatkan kita... Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...
-
Sebelum tulisan ini dilanjutkan, saya perlu meminta maaf terlebih dulu pada mereka yang berprofesi sebagai supir pribadi. Sungguh, tidak ...
-
Hari Selasa 24 Oktober 2006 yang lalu, Lebaran hari pertama atau hari kedua bagi yang mengikuti jadwal lebaran versi Muhammadiyah, pada si...
-
3/5 Berusaha dan terus berusaha. Hari itu, adalah hari ke 14 menstruasi ... Masih sederas hari pertama dan tidak ada tanda-tanda mereda...