Rabu, 30 Oktober 2013

Belajar bahasa Inggris ..... Dimana dan untuk apa?

The Union Jack
Jum'at minggu lalu, anak saya telpon. Minta ijin mengunjungi expo salah satu lembaga pendidikan bahasa asing di WTC Jakarta sepanjang siang hingga sore hari. Karena kunjungan ke Expo itu dilaksanakan pada hari Minggu, maka saya memintanya untuk memberitahu pengawas asrama bahwa dia baru akan kembali ke asrama hari Senin pagi, seperti biasa, harus sudah hadir sebelum jam 06.30. Minggu sore adalah jadwalnya kembali ke asrama.

Maka ..... Minggu pagi, saya mengantarnya ke rumah salah satu temannya. Cucu seorang pengacara Indonesia yang cukup kondang dan sering wira-wiri di layar kaca. Konon, mereka akan berangkat sama-sama ke gedung WTC. Sore hari, setelah mereka "bosan" melihat expo, baru saya menjemputnya kembali di meeting point yang akan ditentukan kemudian. Ini salah satu bentuk "penjajahan" anak kepada orangtua. Si anak, seenaknya mengatur acara dan orangtua "pasrah" melaksanakan "perintah" antar jemput.

Memang ada kendaraan umum atau taxi, tapi kemacetan luar biasa di Jakarta dan terutama, yang lebih penting adalah keamanan saat perempuan muda "jalan" sendiri, membuat kami harus meluangkan waktu antar - jemput anak gadis kami kemanapun dia akan pergi. Transportasi umum dan kondisi ruang publik Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia bukanlah tempat yang aman bagi perempuan. Itu menurut kami ... Entahlah... Bisa jadi kami over protective pada anak. Tetapi, sudah banyak kejadian mengerikan yang di alami perempuan muda saat naik taxi. Mulai dari "sekedar" pelecehan seksual hingga yang berakhir dengan pembunuhan.
***

Menjelang sore, sekitar jam 16.00, si anak membunyikan "ping" pada perangkat blackberry;
"Ma ... aku boleh daftar program mereka gak?", tanyanya
'Program apa...?"
"Macam-macamlah..."
"Boleh aja... Berapa lama?", tanyaku
"Minimal 2 minggu, tapi ada yang 2 - 4 bulan"
"Oh .... daftar sih boleh aja, selama nggak ada ikatan!"
"Iya ... cuma kalau mau ikut, pendaftarannya dikasih waktu sampai hari Kamis, supaya dapat diskon lho .... Lumayan gede ma...!"
"Oh ...., Boleh aja daftar. Nanti kita bicarakan di rumah, apa dan bagaimana kelanjutannya ya! Jam berapa dijemput?"
"Agak sore ya ma, supaya aku bisa ikut testnya dulu... Nanti kalau sudah mau pulang, aku telpon atau ping lagi"
"OK ........!!!"

Tidak berapa lama sesudahnya, ibu salah seorang temannya, mengirim pesan melalui blackberry messenger. Rupanya, anak saya memberikan pin kepadanya agar bisa berkomunikasi dengan saya berkenaan dengan program yang ditawarkan dalam expo tersebut. Saya katakan, bahwa saya sama sekali tidak berkeberatan mengikutsertakan anak dalam kegiatan apapun selama tidak mengganggu urusan sekolah dan programnya sesuai dengan kriteria yang kami terapkan dalam "mendidik" anak.

Sore itu, menjelang maghrib, kami menjemput si anak di Kuningan city yang terletak di jalan Prof Dr Satrio. Sepertinya, itu adalah mall yang baru dibuka, atau ada salah satu toko yang baru dibuka. Ada banyak bunga papan di halaman depan gedung tersebut. Kami hanya sempat makan malam di salah satu resto di lantai teratas mall. Lalu, langsung pulang dan tidak sempat membahas mengenai program belajar bahasa tersebut.

Hari Minggu itu, saya memang terlalu lelah untuk kesana-kemari lagi. Sejak pukul 6.30, saya sudah kluyuran keluar rumah. Ke pasar tradisional, lalu antar anak ke rumah temannya. Kembali ke rumah, lalu bersiap-siap melaksanakan rutinitas belanja bulanan, setiap akhir bulan. Tiba di rumah, hanya sempat istirahat sebentar, sudah masuk "panggilan" si anak untuk menjemputnya. Padahal .... Senin pagi sudah harus mengantarnya kembali ke asrama, dan itu berarti sudah harus eluar rumah pada jam 05.30. Badan yang sudah uzur ini, seringkali tidak bisa mendukung aktifitas yang seabreg, mengikuti kegiatan dan kemauan si anak remaja.
***

Senin pagi, selagi berangkat kantor, ibu teman anak saya, mengirim pesan melalui blackberry, berkenaan dengan rencana keikutsertaan anak-anak remaja tersebut dalam program belajar bahasa.
"Nanti saya telpon ya .... Masih di jalan dan setir mobil", sahut saya, mengetik cepat saat terhambat oleh traffic light.

Usai menyelesaikan beberapa pekerjaan pagi itu, saya sempatkan menelpon si ibu. Sepertinya, dia begitu tergesa-gesa ingin mendapat jawaban kami akan keikutsertaan anak-anak dalam program yang ditawarkan pada expo tersebut.

"Aku kemarin ikut hadir mendengar penjelasannya. Programnya menarik lho mbak ....! Jadi bukan sekedar home-stay. Anak-anak belajar bahasa selama 2-4 bulan. Itu waktu minimal yang dibutuhkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas bahasa si anak. Aku usul agar anak-anak ambil program bulan Januari 2014 nanti dengan pilihan belajar di Brisbane" begitu penjelasannya.

"2-4 bulan apa nggak terlalu lama? Bagaimana dengan sekolah anak-anak dan juga, kenapa di Brisbane? Bukankah belajar bahasa Inggris yang baik ya seharusnya di UK atau minimal di USA. Yang pasti, bukan Australia", tanya saya

"Saya sudah telpon direktur sekolah. Beliau sangat mendukung dan bersedia memberikan pelajaran tambahan kepada siswa yang ikut program ini, supaya mereka tidak tinggal kelas dan Brisbane jadi pilihan, supaya dekat dari Jakarta. Jadi kalau mau nengok, bisa lebih mudah dan cepat", jawabnya.


Agak tercenung juga saya mendengar antusiasmenya. Antusiasme yang khas dari ibu-ibu "muda" dari golongan berduit. Mereka yang sama sekali tidak memiliki masalah dengan keuangan. Saya katakan muda karena umur mereka memang rata-rata 10 - 15 tahun di bawah umur saya.

"Menurut saya, peningkatan kemampuan bahasa anak atau siapapun tidak akan tercapai hanya dalam waktu 2 bulan saja. Ada banyak faktor penyebabnya. Salah satu yang paling penting adalah kepribadian si anak. Kalau dia talkative, tanpa harus belajar ke "luar"pun, in sha Allah dia akan berbahasa asing dengan sangat baik. Saya punya pengalaman pribadi belajar bahasa asing 20 jam/minggu selama 1 tahun dan toh setelah upaya keras itu, saya tetap berkeringat dingin kalau harus bicara dengan penutur asli bahasa tersebut. Sebaliknya ... anak saya yang besar, tanpa pernah ikut les bahasa Inggris sedikitpun, dia mampu melalui test IELTS pada kesempatan pertama kali dengan hasil yang sangat baik saat dia akan melanjutkan kuliah".

"Mungkin mbak belajar bahasanya di Jakarta....", bantahnya.

"Saya belajar di negeri asal bahasa tersebut. Di kota kecil yang saat itu hanya dihuni 5 orang asal Indonesia. Dan saya satu-satunya orang Indonesia di kelas. Kami, saat itu tinggal di sebuah studio milik penduduk asli. Kecuali ketika suami ada di rumah, praktis saya harus berkomunikasi dengan penduduk setempat dengan bahasa yang seadanya. Bisa jadi, hal itu disebabkan karena saya memang kurang berbakat dalam bahasa asing... Tapi hasil ujian saya dan ini tercantum dalam sertifikat yang saya peroleh, adalah nilai tertinggi di angkatan tersebut. Dan toh ... hingga saat ini, saya tidak atau belum menjadi penutur yang fasih dari bahasa tersebut", sahut saya.

Mungkin dia sebal juga mendengar cerita saya yang panjang lebar itu..
"Jadi ... bagaimana? Apa anakmu akan ikut? Kita harus segera daftar. Batas waktunya hanya sampai hari Kamis. Idealnya, pesertanya genap, supaya masing-masing bisa tinggal di host parent yang sama", desaknya

"Saya harus bicara dulu dengan suami, malam ini karena ini menyangkut kondisi meninggalkan sekolah dalam waktu yang relatif lama. Besok saya kabari ya...."

Coincidence, suami menelpon saya ... satu hal yang sangat jarang dilakukan. Kesempatan itu saya gunakan untuk menceritakan seluruh percakapan telpon tadi.
***

Sore hari menjelang jam pulang kantor, petugas marketing lembaga pendidikan tersebut menelpon saya. Pasti anak gadis saya mencantumkan nomor telpon genggam saya di formulir yang harus diisinya. Panjang lebar dia menjelaskan keunggulan program-programnya. Cape juga mendengar penjelasannya. Toh saya sudah sempat membaca booklet tebal yang dibawa anak saya.

"Program kami ada diberbagai kota dunia. Ibu bisa memilih kota mana saja yang diinginkan. Bisa juga di Singapore, kalau di tempat lain terasa terlalu jauh, misalnya", begitu tuturan pamungkasnya.


the very known RED Bus of London
"Menurut saya ...., tempat terbaik belajar bahasa dan budaya Inggris hanya ada satu. Di negeri asalnya, yaitu UK, tidak ditempat lain, apalagi negara-negara yang anda sebutkan tadi. Alternatif ke 2 adalah USA dan bukan Australia", sahut saya.

"Kalau begitu ... ke UK saja bu ..., tapi tidak bisa Januari yang akan datang. Untuk UK, kami hanya ada summer program. Berat bagi siswa kalau mereka ikut winter program. Cuaca di UK pasti sangat tidak mendukung", sambarnya, sama sekali tidak mau kehilangan kesempatan dalam memasarkan produknya.

"Nah ... itu dia ... Kami hanya mengijinkan anak pergi selama libur sekolah. Jadi hanya home stay antara 2-3 minggu saja. Libur sekolah yang akan datang dan tentunya Summer program 2014 dan 2015 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Jadi, sudah tentu kami tidak akan mengijinkannya pergi selama bulan Ramadhan tersebut. Lagi pula, home stay berlangsung setiap waktu, jadi tidak harus disegerakan. Kami akan cari waktu yang tepat bagi semuanya".

"Tapi bu ....., kalau ibu daftar sekarang, anak ibu akan mendapat diskon USD 250 lho....! Penawaran ini sudah diperpanjang dan hanya berlaku hingga hari Kamis 31/10 saja. Sayang kalau tidak dimanfaatkan....!!!", rayunya lagi... Khas cara kerja para marketer.

"Come on .... Orang yang sudah mau mengeluarkan uang sebesar itu, minimal USD 5.000 hanya untuk membiayai anaknya belajar bahasa selama 2-3 minggu saja, rasanya sudah tidak perlu tergiur iming-iming diskon deh...!", bantah saya sambil tertawa.

Bukan karena sombong ... tapi begitulah seharusnya, minimal menurut saya, logika berpikir orangtua yang sudah dengan ringan hati "membuang uang" membiayai anaknya ikut program belajar bahasa asing hanya untuk waktu singkat. Kalau masih hitung-hitungan diskon begitu, lebih baik belajar di tempat kursus di Indonesia saja.
***

Ada banyak contoh anak-anak yang belajar bahasa Inggris hanya di Indonesia saja dengan biaya yang relatif murah dan toh mereka mampu berbicara dengan sangat baik. Saya ingat di salah satu episode acara Kick Andy beberapa bulan lalu, ada seorang wanita, dari kalangan kurang beruntung, tetapi mampu berbicara dalam 6 bahasa asing dan istimewanya........, dia belajar secara otodidak.

Dan seperti yang sudah saya ceritakan, anak lelaki saya sama sekali tidak pernah les bahasa Inggris, toh dia mampu melalui test IELTS dengan hasil yang sangat baik hanya dalam 1 kali kesempatan test saja. Entah bagaimana cara dia belajar. Bisa jadi melalui tontonan film kartun yang pada jamannya kecil dulu tidak di dubbing dengan bahasa Indonesia. Bisa juga melalui lagu-lagu berbahasa Inggris yang selalu kami pasang di mobil dan dimanapun kami memasang radio/compact disk... Yang pasti dia mampu berbahasa Inggris dengan cukup baik. Bahkan karena apa yang didengarnya adalah produk USA, maka teman2nya di Australia sana, mendengar aksen bahasanya sangat American.

Sebaliknya... saya juga banyak menemui orang yang bertahun-tahun tinggal di "luar" tetapi kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris/asingnya sangat parah. Tidak sebanding dengan lamnya waktu tinggal di negeri "asing" tersebut. Jadi ... sudah sangat bisa dipastikan ... belajar bahasa Inggris hanya 2 bulan, walau di negeri aslinya sekalipun, tidak menjamin akan meningkatkan kualitas kemampuan berbahasa kita.
***


UK Map
Malam hari ... menjelang tidur, saya sempatkan menulis pesan di perangkat blackberry. Rencananya, akan saya kirim menjelang berangkat kantor, untuk memenuhi janji saya, memberitahukan isi dan keputusan hasil pembicaraan dengan suami.

Isinya begini (edited):

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Maaf saya menyampaikan via blackberry™, takut lupa ☎ kalau sudah di kantor nanti.

Saya sudah bicara dengan suami tentang program belajar bahasa untuk anak2. Tadi sore marketingnya juga ☎ & kami sudah bicara panjang lebar.

Kesimpulannya; saya+suami sepakat bahwa tempat belajar bahasa+budaya Inggris yang ideal & pas adalah di UK, bukan negara lainnya. Suami saya juga keberatan kalau anak2 meninggalkan sekolah, walau nantinya ada pelajaran tambahan utk mengejar pelajaran yang tertinggal. Anak harus belajar pada jadwal regular & berproses secara normal.

Menurut pengalaman kami, belajar bahasa dalam waktu singkat (beberapa bulan) tidak akan memberi kemajuan luar biasa untuk anak, kecuali kalau tujuannya hanya penyesuaian diri dengan lingkungan setempat sebelum kuliah di negeri terkait. Kalaupun anak kami akan ikut serta, maka sifatnya hanya untuk "melepas dia" belajar beradaptasi di lingkungan asing. Jadi hanya program Home stay 2 - 3 minggu saja. Sementara itu, karena untuk UK, program mereka hanya ada pada musim panas & mengingat libur sekolah tahun 2014 & 2015 adalah Ramadhan, maka kami pikir anak kami tidak akan ikut program ini.

Terima kasih informasinya ya. Wassalam
***

Ternyata ..... saya kalah set juga hehe ....... Pagi-pagi sekali, saat BB saya dinyalakan, sudah masuk pertanyaannya untuk memastikan rencana keberangkatan anak-anak. Maka langsung saja saya kirim jawaban yang sudah disiapkan tersebut.

Jawaban yang hilang begitu saja, tanpa tanggapan apapun juga sebagai tanda bahwa dia sudah menerima konfirmasi saya. Tapi sudahlah ... sayapun tidak memerlukan jawaban apapun lagi... Stand point nya sudah sangat jelas.

Saya hanya teringat lagi akan perbincangan seorang psikolog, dalam suatu talk show di radio yang selalu saya dengar saat berangkat ke kantor. Dia bilang begini:

"Seorang marketer/tim pemasaran menginterpretasikan penelitian laboratorium/akademis  sedemikian rupa sehingga menimbulkan kecemasan bagi yang membacanya. Kemudian mereka memanfaatkan kecemasan itu dalam  sebuah strategi untuk memasarkan suatu produk. Tujuannya adalah mempermainkan & menjebak perasaan konsumen ke dalam perasaan cemas yang mereka (para marketer) ciptakan agar calon konsumen merasa bahwa tanpa menggunakan produk (apapun juga bentuk produknya) terkait, hidup (konsumen yang dituju) akan terasa menjadi kurang sempurna"


So parents ... be a smart consumer in any case

Rabu, 23 Oktober 2013

The Butler dan strata sosial/rasisme.


Minggu lalu, saat libur panjang–long week end berkenaan dengan perayaan Idul Qurban 1434 H, kami berkesempatan atau lebih tepatnya menyempatkan diri menonton film.

Kecuali anak gadis saya, kami – saya dan suami bukanlah pengemar film yang fanatik. Kalau bisa disebut, malah cenderung pemilih. Suami saya sih tidak memiliki preferensi film. Lebih tepat disebut “pengikut” setia dari perempuan–perempuan “pemilih” yang tinggal serumah dengannya. Dia akan ikut apa yang kami inginkan. Cuma … kalau filmnya ber genre science fiction seperti Harry Potters, The Hunger Games dan sebangsanya, atau genre horror, saya sudah pasti menolak untuk ikut serta. Maka suami dan anak gadis saya akan nonton berdua saja. Sementara saya lebih suka nonton film “true story”. Beberapa film lepas terutama yang alur ceritanya lebih “membumi”, menjadi pilihan utama. Kalaupun ada titik temu tontonan saya dengan si gadis, adalah film–film kartun seperti Mandagaskar, Finding Nemo, Tangled, Rapunzel dan sejenisnya.

Nah … pilihan melihat the Butler, tentu saja atas usulan saya. Alasan utamanya, apalagi kalau bukan karena film tersebut dibuat berdasarkan cerita nyata alias true story dari salah satu kepala rumah tangga White House, warganegara Amerika berkulit hitam, yang mengabdikan dirinya sejak jaman pemerintahan presiden Dwight Eisenhower hingga ke Ronald Reagan.

Dalam film, dia bernama Cecil Gaines, anak buruh perkebunan kapas dari Negara bagian Arizona yang kemudian mencoba peruntungannya “di kota” setelah menyadari bahwa cepat atau lambat, dia akan terlibat keributan dengan anak pemilik perkebunan, yang mungkin beresiko kematian.

Mereka tentu saling menyimpan rasa tidak suka. Ibu Cecil menjadi hilang ingatan setelah perkosaan yang dilakukan oleh anak majikannya. Suaminya – ayah Cecil ditembak mati si pemerkosa, di depan mata Cecil, karena memprotes perlakuan yang dialami istrinya. Beruntung bagi Cecil, mungkin karena rasa berdosa atas perlakuan anak majikannya kepada para buruh kapas, ibu tua pengawas perkebunan, lalu “memasukkan” Cecil ke dalam rumah. Mendidik Cecil menjadi pelayan rumah tangga dan mengajarinya baca–tulis. Pengetahuan itulah, yang kemudian menjadi bekal Cecil untuk mengadu untung di kota.

Kesimpulan apa yang bisa kita peroleh setelah menonton film The Butler? Selain sebagai hiburan, tentunya.

Yang pertama adalah, perjuangan menuju kesetaraan hak dalam kehidupan sosial di Amerika Serikat, Negara yang selalu mengaku sebagai Negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, belum sepenuhnya selesai. Secara legal–formal, Amerika Serikat memang sudah memberlakukan UU kesetaraan hak warga negaranya. Tidak membedakan warganegara berdasarkan warna kulit. Namun tidak demikian halnya dalam praktek dan kenyataan di lapangan. Perbedaan perlakuan warganegara atas dasar warna kulit masih dan akan tetap berlaku. Bahkan hingga di White House sekalipun.

Kita mungkin diingatkan kembali betapa kematian JFK alias John Fitzgerald Kennedy. Presiden Amerika Serikat termuda yang “flamboyant” itu ternyata tewas ditembak setelah yang bersangkutan menunjukkan dukungannya atas pemberlakuan UU kesetaraan warganegara tersebut. UU yang akan menempatkan hak warganegara berkulit hitam setara dengan hak warganegara kulit putih.

Betapa bertahun-tahun setelah kematian JFK dan bahkan hingga 5 presiden selanjutnya perbedaan perlakuan terutama yang jelas dirasakan Cecil Gaines adalah dalam hal nominal gaji yang diterimanya dibandingkan dengan gaji staff kulit putih dalam posisi yang sama. Padahal, seluruh presiden yang dilayaninya, sangat memuji pelayanan yang diberikan oleh Cecil Gaines dan toh… seluruh pengabdian dan prestasinya tersebut tetap tidak cukup untuk diganjar dengan penghargaan berupa kenaikan gaji atau bahkan persamaan gaji dengan untuk staff selevel yang berkulit putih.

Saya juga baru mengetahui bahwa di Amerika Serikat sana, Negara adi kuasa penjunjung tinggi hak asasi manusia ternyata masih dan mungkin akan tetap ada universitas khusus untuk warganegara kulit hitam, walau sekarang universitas itu juga dimasuki oleh warganegara kulit putih. Namun saya yakin warga kulit putih yang kuliah di universitas “hitam” tersebut, mungkin berasal dari masyarakat dengan strata sosial rendah atau mereka yang memiliki kualitas akademis rendah. Entahlah … ini memang cuma dugaan saja.

Entah apa yang dirasa Cecil Gaines, mendengar langsung diskusi presiden dengan staffnya berkenaan dengan pro–kontra penghapusan diskriminasi hak warganegara kulit hitam, saat dia melayani presiden. Betapa, mungkin, sakit hatinya dia pada staff tertentu yang menolak penghapusan diskriminasi tersebut, namun di sisi lain dia harus tetap menutup mulut, mata dan telinga atas apa–apa yang dilihat dan didengarnya. Sementara itu, di luar tempat kerjanya, dia “melepas” anak sulungnya berjuang mati–matian, menghadapi diskriminasi perlakuan, di luar sana.

Perjuangan Jesse Jackson beberapa tahun lalu dalam konvensi calon presiden, tentu layak dipuji. Tentu menjadi sangat tidak mudah untuk menembus dominasi kulit putih dalam penentuan berbagai kebijakan baik pada level partai apalagi pada level penguasa publik, yaitu gubernur Negara bagian dan lembaga kepresidenan. Bagi warganegara berkulit putih pendukung penghapusan diskriminasipun, tidaklah mudah untuk membuat agar kebijakan yang berpihak pada warganegara kulit hitam dapat dilaksanakan sebagaimana tujuannya. Tanpa reserve. Dukungan yang berlebihan bisa membuat nyawa, menjadi taruhannya. Seperti yang dialami JFK.

Terpilihnya Barack Husein Obama sebagai presiden USA, hingga masa jabatan yang ke 2 kali, saya yakin tidak berarti diskriminasi perlakuan terhadap warganegara kulit hitam atau kulit berwarna berakhir. Apalagi terbukti belum sampai 1 tahun masa pemerintahan ke 2 Barack H Obama, kesulitan ekonomi yang luar biasa melanda USA dan memaksanya mengambil keputusan penghentian pelayanan publik alias governmental shut down. Hal yang mungkin tidak pernah terjadi pada berbagai pemerintahan sebelumnya dalam kondisi krisis ekonomi separah apapun juga.

Bukan tidak mungkin penolakan oposisi untuk mendukung program yang dicanangkan pemerintah Obama lebih didasari sebagai upaya “balas dendam” sekaligus menunjukkan kepada khalayak Amerika, bahwa presiden kulit hitam hanya “membawa“ kesusahan bagi rakyatnya. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi presiden berkulit hitam memerintah negeri adi kuasa ini.

Saya juga masih bisa mengingat dengan sangat jelas, betapa kami ditolak mentah-mentah saat kami menelpon pemilik studio saat kami sedang mencari tempat tinggal di suatu kota kecil di tenggara Paris di tahun 1980. Alasannya sangat jelas dikatakan …. tidak menerima penyewa berkewarganegaraan asing. Hanya atas jaminan dan telpon langsung dari sekretariat l’ENSMA lah, akhirnya kami bisa diterima untuk menyewa studio yang kami minati dan lama kelamaan mereka (pemilik rumah) bisa menerima kami dengan baik dan bahkan sempat mengundang kami untuk “gouter” di ruang keluarga mereka saat liburan Natal.

Pengalaman itu hanyalah satu dari berbagai pengalaman tidak menyenangkan menjadi warganegara asing, kulit berwarna yang tinggal di Negara maju milik kulit putih. Di Negara penyandang semboyan egalite–fraternite–liberte alias persamaan (hak)–persaudaraan–kemerdekaan. Mereka lupa bahwa karakteristik dan sifat manusia sebetulnya tidak bergantung pada warna kulit. Budaya masing–masing memang sangat berpengaruh pada perilaku manusia. Memang karakteristik budaya orang–orang berkulit hitam berbeda dengan orang kulit putih. Tetapi itu lebih pada masalah budaya yang berbeda dan tentunya akan menghasilkan “manner” yang berbeda pula. Jadi tidak berarti bahwa orang kulit berwarna tidak ada yang baik, pengacau dan berbagai cap buruk lainnya, Tetapi memang karena ada system nilai yang berbeda.
***

Tidak perlu jauh–jauh melanglang buana ke Negara orang. Perilaku rasisme sebetulnya juga terjadi di negeri kita. Lihat saja betapa setiap ada kerusuhan, selalu saja etnis Cina menjadi sasaran. Pertikaian antar ras, yaitu antara pribumi dengan non pribumi yang dikonotasikan dengan etnis Cina tidak putus–putusnya terjadi. Sama halnya dengan pertikaian antar suku atau antar agama. Padahal sudah jelas tercantum dalam berbagai dokumen perundang–undangan, berbagai peraturan dimana saja kecuali di Negara yang menganut system pemerintahan apartheid (itupun kalau masih ada), bahwa seluruh warganegara memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Perlakuan diskriminatif, apakah karena perbedaan warna kulit, ras, agama, suku, kasta dan sebagainya sesungguhnya disebabkan karena adanya perasaan “lebih tinggi, lebih benar, lebih berbudaya dan berbagai perasaan lebih lainnya” pada salah satu pihak terhadap pihak lainnya.

Kalau dalam hati, dalam perasaan kita sudah ada perasaan superioritas terhadap pihak lainnya, maka percayalah … dari situ akan timbul pola, cara dan perilaku diskriminatif dan … segala undang–undang, declaration of human rights atau sejanisnya tidak akan bermanfaat lagi dan akan dijungkir balikkan dengan berbagai cara.

Minggu, 06 Oktober 2013

Batik dan Nasionalisme

batik Madura
Beberapa hari yang lalu, tepat pada hari dan tanggal yang ditetapkan pemerintah sebagai hari Batik Nasional, saya terlibat pembicaraan dengan rekan kerja berkenaan dengan penggunaan batik dan akhirnya merembet kemana-mana...

Isi pembicaraan via blackberry itu kira-kira begini :
"Pagi bu .... Hari ini, Rabu 2 Oktober, hari Batik Nasional. Diharapkan agar pakai batik (ke kantor)", begitu sapanya.
Sudah agak terlambat sebetulnya kalau sapaan itu dimaksudkan untuk mengingatkan agar kami mengenakan baju batik ke kantor, karena saya yakin, semua rekan kerja sudah dalam perjalanan menuju kantor.

"Kan saya selalu pakai baju batik....!"
"Ya bu... Nasionalisme tinggi!!!", begitu jawabnya

Memang sudah hampir 3 tahun ini, sejak "berkenalan" kembali dengan batik dan warna batik yang masuk pasar sudah mengikuti trend warna tahunan dalam dunia mode, saya mulai membeli batik dan menjahitnya. Bukan sekedar untuk diri sendiri, tapi anak dan suamipun jadi "korban paksa" dijahitkan dan harus memakai batik. Bahkan anak lelaki saya yang kebetulan sedang berlibur akhir tahun sempat saya buatkan 2 buah kemeja batik. Tentu dia tidak akan pernah bisa menolak..., karena dia tahu persis, si ibu bukan menyuruh penjahit profesional yang menjahit kemeja batik. Tetapi betul-betul dijahit sendiri, meluangkan waktu ditengah segala aktifitasnya sebagai pekerja kantoran. Begitu juga dengan anak gadis saya dan suami ...
Secara bergurau ... saya sering meledek suami sebagai "bapak batik" di kantornya, karena nyaris tiada hari tanpa batik saat bekerja.

Tapi .... jawaban rekan saya tentang nasionalisme tinggi hanya karena setiap hari memakai baju batik ke kantor, membuat saya sedikit terhenyak.


blazer 2 muka untuk anak gadis saya
"Padahal ........, nggak segitunya juga...!!", jawab saya agak tidak enak hati.
"Biasanya, kalau pernah tinggal di luar negeri, (kita akan memiliki) masionalisme tinggi, karena tahu Indonesia itu lebih baik. Betul nggak, bu...?"

Jawaban itu lagi-lagi membuat saya semakin terhenyak .... Menurut saya, tidak sesederhana itu untuk mendefinisikan rasa nasionalisme seseorang.

"Kalau bagi saya, pengalaman tinggal di luar Indonesia, lebih tepatnya merasa prihatin dengan kondisi Indonesia. Saat tinggal di luar negeri, kita akan melihat masalah secara makro. Untuk kepentingan bersama sebagai bangsa. Jadi lebih toleran terhadap perbedaan. Sementara di dalam negeri kita mungkin melihat berbagai masalah secara mikro. Kepentingan suku/agama/kelompok (lebih dominan sehingga seringkali menjadi) militan, saat membela kepentingannya". Mungkin ini jawaban yang sangat tidak diharapkannya. Tapi, minimal inilah yang saya rasakan sejak dulu ..... saat saya memang berkesempatan tinggal di negeri orang.
***

Saat itu ...... Indonesia sedang memasuki masa pemerintahan Suharto periode ke 3. Pemilu yang digelar saat itu, kalau tidak salah mulai menuai kerusuhan karena mulai muncul keinginan untuk mengganti presiden, setelah gerakan mahasiswa pada tahun 1978 yang ingin mengusung Ali Sadikin menjadi presiden bisa diredam pemerintah dan kelompok petisi 50 pun mulai "diamputasi" pemerintah.

Di wilayah Timur Tengah yang sejak jaman nabi-nabi dahulu selalu bergejolak, sedang ramai dengan adanya perebutan kekuasaan di Libanon. Beirut yang sebelumnya dijuluki sebagai surga di Timur Tengah porak poranda karena bom dan perang saudara. Dua bersaudara Gemayel yang digadang-gadang sebagai pemimpin negara akhirnya satu demi satu tewas terbunuh.


Di Mesir, Anwar Sadat tewas ditembak secara dramatis saat menghadiri parade angkatan bersenjata. Serombongan tentara yang berada dalam tank/kendaraan yang sedang berdefile di hadapan pembesar negeri Fir'aun itu, turun dan serentak mengarahkan senjata otomatisnya ke podium kehormatan dan ..... pelurupun berhamburan ditembakkan. Upacara kemudian berubah jadi kacau balau.  Dunia jelas geger.....


blus untuk si gadis
Di Paris sendiri, ibukota Perancis yang indah dan elegant, nyaris setiap minggu ada bom meledak di bagian kota, silih berganti. Setiap kami menyalakan TV di sore hari, usai "cari angin" di ibukota Perancis yang elok itu, berita pengeboman hampir selalu menghiasi isi "breaking news alias a la une" nya TV.  Pengeboman itu umumnya diakui sebagai serangan dari suku Kurdi atau mereka yang bermusuhan dengan Yahudi, karena memang komunitas Turki dan Yahudilah yang saat itu paling sering menjadi sasaran. Seingat saya, belum terdengar adanya gerakan al Qaeda dan Osama bin Ladin.

Melihat begitu porak porandanya negara-negara di Timur Tengah karena pertikaian dan terutama perang saudara akibat perebutan kekuasaan, seringkali saya membatin...
"Biar deh Suharto mau jadi diktator atau apapun juga, yang penting asal Indonesia tetap aman tenteram ... Jangan sampai terjadi perang saudara, baik berupa perang suku atau perang dengan latar belakang agama"
***

Indonesia pasca 1998 memasuki era baru. Dari era Suharto yang diktator dan korup menjadi era reformasi yang konon lebih demokratis. Demokratis karena sejak saat itu, semua menjadi lebih terbuka. Bisa ngomong apa saja, apalagi didukung oleh teknologi dan social media networking. Jadilah segala macam ucapan, dari yang baik-baik hingga caci maki kepada siapapun bisa dilontarkan. Buruh-buruh yang pada era Suharto patuh bekerja, sekarang demo melulu, walau pasti ada provokatornya. Bukan buruh dan mahasiswa saja yang rajin demo, bahkan ibu-ibupun jadi rajin demo sambil buka baju, kalau hajat hidupnya terganggu. Tuntutannyapun beragam..., dari yang masuk akal hingga yang sangat tidak masuk akal.

Bukan itu saja..., teror bom, tawuran dan bahkan "perang saudara" antar etnis maupun agama acap terjadi. Kita pasti masih ingat akan "perang saudara" di Ambon antar umat Islam dan Kristen. "Perang saudara" di Poso, keributan  yang berbuntut pengusiran etnis Madura dari ranah Kalimantan dan yang belum lama terjadi adalah pengusiran penganut aliran Syiah dari Sampang. Begitulah ... demokrasi membawa auranya sendiri pada masyarakat Indonesia yang mayoritasnya, secara intelektual ternyata memang belum siap menerima perbedaan dengan sikap bijak.

Demokrasi juga membawa konsekuensi sendiri dalam kehidupan politik negara. Bila pada era Suharto, eksekutif begitu berkuasanya sehingga legislatif dan yudikatif hanya bertindak sebagai pelaksana yang patuh dalam menjalankan apa yang "diperintahkan dan sudah digariskan" oleh eksekutif yaitu presiden dan para pembantunya, maka pada era pasca 1998, semua lembaga eksekutif - legislatif - yudikatif, berebut dan beradu kekuasaan. Saling memperlihatkan "taringnya"

Akhirnya ...... untuk mengatasi segala perbedaan dan "perebutan leluasaan/wewenang" ternyata, uanglah yang jadi pemenang! Segala sesuatu bisa diselesaikan dengan uang! Tentu saja secara "bisik-bisik". Tidak terlihat di permukaan, tapi aroma dan auranya begitu jelas terasa,

Begitulah, akhirnya era reformasi 1998 berhasil memeratakan dan meningkatkan pola kerja korup dari semula hanya ada pada lingkungan eksekutif, sekarang merata ke segala lini. Eksekutif - legislatif - yudikatif. Dari tingkat pusat hingga  pelosok daerah. Dari level pejabat tinggi Negara dan bukan tidak mungkin hingga pejabat tingkat RT. Betul-betul pemerataan yang nyaris sempurna.


kemeja untuk suami
Lalu ... apa hubungannya dengan batik?
Ya, begitulah .... Hubungannya adalah soal rasa nasionalisme, yang tidak bisa diukur hanya dengan memakai batik setiap hari. Nasionalisme baiknya diukur dengan seberapa konsistennya kita untuk bersikap lurus, amanah terhadap tugas yang dibebankan/diamanatkan. Satu kata dengan perbuatan. Jelasnya tidak munafik...!!! Tidak menggunakan topeng!

Aduh .... sikap munafik ini yang rasanya sering kita jumpai sekarang. Tidak ada kesatuan antara kata dan perbuatan. Ibadah yang seharus menyatu dengan perilaku sehari-hari menjadi hanya ritual dan seremonial belaka. Akibatnya .... terlihat misalnya pada masyarakat yang beragama Islam. Lelaki dengan jidat menghitam yang dianggap sebagai tanda betapa orang tersebut rajin bersujud menyembahNya, namun mereka tak segan-segan melakukan perbuatan tercela. Perempuan dengan hijab yang menutupi tubuhnyapun tak segan memeras dan memperkaya diri dengan cara yang tidak patut sama sekali.

Jadi .... sama halnya dengan ciri-ciri fisik tersebut, maka nasionalisme tidak mungkin dan sama sekali tidak bisa dinilai dengan seberapa seringnya kita memakai batik atau berkoar-koar tentang indah dan kayanya alam Indonesia atau kebanggaannya akan kekayaan ragam tradisi dan budaya negeri ini. Tapi yang lebih penting adalah seberapa besar tindakan/perilaku kita dilaksanakan untuk kepentingan/kemajuan bangsa dan negara serta tidak merugikan siapapun yang ada di bumi Indonesia ini. Wallahu alam

Kamis, 26 September 2013

Life Style - Hedonisme a la masyarakat Indonesia part 2

Oupfs .... ternyata, sudah 1 bulan ini blog saya tak tersentuh lagi. Entah karena lagi sibuk beneran sama kerjaan kantor, atau sok sibuk - jadi pura-pura sibuk padahal nggak ada hasil kerjaan yang bermanfaat, atau bahkan bisa jadi memang lagi malas, Segala macam alasan bisa dikemukakan.

Nah ... sekarang, saya mau cerita lagi soal gaya hidup di kota besar yang terasa sangat tidak membumi. Lihat saja tayangan "tidak mendidik" yang banyak disiarkan di TV dan media cetak terutama tabloid-tabloid rumpi. Jelasnya ..., belakangan ini ada 2 topik utama yang sangat berkaitan dengan gaya hidup orang-orang yang sedang mencari jati dirinya supaya diakui "as a part of a high quality society". Sok jet set lah bahasa terangnya.

Dalam kondisi rielnya, masyarakat kita saat ini, sepertinya memang sedang terkena "cultural shock". Gegar budaya akibat terbuka luasnya akses informasi yang dipaparkan oleh media cetak maupun media visual. Apalagi dengan adanya internet connection, sehingga dunia ini secara virtual menjadi tidak berbatas alias borderless. Semua bisa diakses dalam hitungan detik.

Seperti laiknya berita dimanapun juga .... broadcasted news are usually bad and shocking news. Wartawan akan selalu mencari sudut pemberitaan yang "menarik perhatian" dan hal itu hanya akan ditemukan pada hal-hal "buruk" atau mengejutkan. Pemberitaan hal yang "baik-baik"pun akan selalu dilihat "sudut" pandang yang bombastis agar menarik perhatian. Nah ... hal inilah yang kemudian "dianggap" seolah-olah menjadi bagian "gaya" hidup di negara-negara maju yang menjadi kiblat masyarakat untuk ditiru, agar tidak dikatakan ketinggalan jaman.
***


salah satu koleksi jansport
Sudah sekitar 3 bulan ini, anak gadis saya grendengan ingin beli tas sekolah merek Jansport kalau nggak salah, kabarnya, buatan USA, yang banyak dijajakan di berbagai mall kelas menengah atas di Jakarta. Harganya ... buat ukuran rata-rata penduduk Indonesia, relatif mahal. 6 digits!!!

Emaknya sudah pasti nggak mau beliin tas "semahal" itu. apalagi bapaknya ... sudah pasti tidak akan pernah mengabulkan permintaan sejenis. Salah satu alasannya adalah karena banyak tas dengan harga yang lebih murah dengan kualitas lebih bagus, karena dijual bukan di mall kelas atas, tapi di ITC, misalnya. Tetapi bukan hanya itu alasannya. Agak sedikit curious, kenapa si anak memilih tas bukan karena tasnya tetapi karena mereknya. Harus Jansport dan bukan yang lain. Ini yang paling menyebalkan, karena saya paling tidak suka si anak membeli sesuatu karena dan hanya untuk memuaskan diri memiliki barang bermerek yang sedang in di kalangannya. Intinya, jangan jadi korban merek.

Saya teringat .. beberapa bulang yang lalu, seorang staff di kantor cerita. Anaknya yang masih duduk di kelas 6 SDN alias sekolah dasar negeri, meminta pada ibunya untuk dibelikan Samsung Galaxy seri terbaru, yang harganya saat itu di atas 7 juta. Si ibu jelas "marah" mendengar permintaan yang dirasa sangat tidak masuk akal tersebut. Tapi si anak terus merengek. Tahu kenapa....? Karena sebagian besar teman sekelasnya memiliki samsung seri terbaru itu.

Gila bener .... anak kelas 6 SD memakai dan membawa samsung galaxy seri terbaru ke sekolah? Entah kenapa sekolah mengijinkannya dan entah untuk alasan apa pula orang tua mereka membelikannya. Jelas samsung galaxy tidak digunakan "sebagaimana mestinya" oleh anak2 kecuali untuk mengakses games, atau social media. Kalau alasannya agar tetap bisa menghubungi si anak, tentu bisa menggunakan telpon genggam biasa saja. Tidak perlu membelikan smartphone yang harganya terlalu mahal.

Salah si anakkah kalau dia menginginkan hal tersebut dan kemudian memperoleh barang-barang bermerek dan mahal tersebut, apalagi kalau diperolehnya dari orangtuanya sendiri?


pasca kecelakaan
Bulan September 2013 ini, media massa terutama media massa golongan tabloid "rumpi alias gossip" rame memberitakan kecelakaan yang menewaskan cukup banyak orang dan dialami oleh AQJ, remaja berumur 13 tahun, anak salah satu selebriti musik yang sangat arogan menyiratkan betapa orangtua juga memiliki andil dalam "membentuk" anak menjadi sedemikian konsumtif dan berperilaku tak terkendali.

Bayangkan saja .... beberapa jam sebelum kecelakaan maut terjadi, si anak remaja ini merayakan ulang tahunnya yang ke 13 tahun dan pada kesempatan itu si bapak menghadiahinya sebuah mobil. Mobil itu jugalah yang dikendarainya pada dini hari hingga hancur lebur tak berbentuk lagi setelah mengalami kecelakaaan.

Andai saja, hadiah mobil tersebut diberikan pada seorang anak yang telah berumur 18 tahun dan telah memiliki SIMI, Dari orangtua yang secara finansial, sangat mampu untuk melakukannya, maka secara logika, pemberian itu masih bisa diterima. Tetapi memberikan mobil kepada anak "di bawah umur" dan menurut undang-undangpun jelas belum dan tidak dibenarkan untuk mengendarai kendaraan bermotor, walau dengan alasan, mobil tersebut "di;engkapi" dengan sopir, jelaslah bukan tindakan yang bijak.

Siapa yang bisa menjamin, bahwa si anak tidak "belajar" dan mengendarai mobil tersebut? Sang supir tentu tidak akan berani menolak untuk mengajari dan "melepaskan" kendalinya atas kendaraan tersebut pada majikan kecilnya. Begitulah ... kekayaan yang melimpah ruah membuat kita "kehilangan" kendali untuk mempergunakan dan memanfaatkan kekayaan itu secara wajar dan tidak berlebihan.


iphone 5 yang heboh
Kita juga tentu masih ingat, kalau tidak salah tahun lalu, keributan yang terjadi di Pacific Place - Jakarta, saat iphone 5, produksi apple, diluncurkan dan diberikan harga yang sangat istimewa untuk 1.000 pembeli pertama. Iklan yang dimuat di media cetak menyebabkan ribuan orang antri dan saling dorong untuk menjadi salah satu yang beruntung memperoleh gadget tersebut.

Begitulah .... life style - hedonisme melanda penduduk Indonesia dan mungkin juga menjadi perilaku umum penduduk di negara berkembang, dimana mereka masih mencari jati diri, agar masuk dan dianggap sebagai golongan manusia "modern" dan tidak ketinggalan jaman.

Akan halnya keinginan anak saya untuk membeli tas/bacpack  merek Jansport itu, setelah dia tahu betul bahwa ibu dan bapaknya tidak akan mengabulkan permintaannya, akhirnya dia mengusulkan jalan keluar .... bahwa dia akan mengumpulkan sebagian uang sakunya hingga terkumpul dan cukup untuk membeli tas idamannya. Good idea/solution ....

Sebetulnya ....  saya merasa agak terenyuh juga mendengar keputusannya. Rasanya seperti mendzalimi anak sendiri, karena alhamdulillah, sebenarnya saya cukup mampu membelikannya tanpa harus menunggunya mengumpulkan sejumlah uang tersebut. Tetapi ... kami ingin "mendidik'nya agar tidak membeli sesuatu karena dorongan kelompok, tidak mau kalah dengan teman-temannya. Jadi .... kalaupun tidak masih tetap ingin memiliki sesuatu yang dianggap orangtuanya "sesuatu" yang berlebihan, maka harus ada effort/harga yang harus "dibayarnya sehingga dia menghargai keberadaan barang tersebut.


Rabu, 28 Agustus 2013

Life Style - Hedonisme a la masyarakat Indonesia

logo TWG Tea
Awal minggu lalu, setelah libur panjang Idul Fitri yang sangat melelahkan karena harus menggantikan hampir semua pekerjaan para asisten rumah yang sedang ambil cuti tahunan, big boss di kantor mendekati saya. Di tangannya ada tas kertas berwarna kuning, yang kelihatannya cukup eksklusif dengan label TWG tea. Di dalamnya ternyata ada satu dus yang lumayan berat terbungkus rapi dengan kertas juga berwarna kuning. Pita hitam berlogo twg tea, membingkai manis dus tersebut. Ini khas kemasan belanjaan dari berbagai benda yang dijual pada toko-toko eksklusif di seluruh dunia.

Tiba di rumah, seperti kebiasaan saya, pita dan kemasan kertas saya lepas dengan sangat hati-hati. Seperti kebanyakan benda eksklusif, bahkan perekatnyapun tidak menggunakan cello tape biasa tetapi dengan kertas berlabel mungil yang cantik. Di dalam bungkusan terdapat kotak berwarna navy blue ... juga terlihat sangat eksklusif berukir label TWG Tea berwarna perak, paduan warna cantik, yang cukup berat. Isinya ...... ada 3 buah, yaitu 1 pot berisi Jelly Tea, 1 pot isi gula (batu) dan kemasan dus berwarna biru cerah yang cantik dan di dalamnya berisi kaleng teh seberat 100gr. Juga berwarna biru dan tertulis disana French Earl Grey Tea.

French - France - Perancis, adalah negara yang terkenal dengan berbagai benda bercitarasa tinggi, terutama bila kita bicara tentang hasil pekerjaan tangan (artisanale)nya. Melihat kemasannya dan berbagai asesori yang menyertainya, saya sudah bisa membayangkan bahwa bingkisan tersebut pasti tidak akan murah harganya. Berapa? .... Entahlah .... Aucun ide ....

Penasaran .... saya memperhatikan kembali tas kertasnya ... Di situ tertera cabang-cabang TWG tea. Kesemuanya berlokasi di luar negeri dan ....., ini yang agak aneh .... sebagai penyandang label French tea, TWG tea justru berpusat di Singapore. Nah lo .... ? Ya sudahlah .... Singaporean memang ahli dagang. Sepertinya mereka benar-benar bertangan dingin, terutama untuk "mengelabui" sebagian masyarakat Indonesia yang "gila" dengan segala macam berlabel "luar".

Saat makan malam malam, salah satu pot saya ambil ... Jelly tea, dengan aroma citrus yang, menurut saya adalah citrus kimiawi atau minimal sudah terkontaminasi dengan bahan pengawet dan aroma kimia. Teksturnya lebih lembut dari Nutrijel, salah satu merek lokal. Hehe ... ketahuan banget masih selera lokal. Yang pasti, Jelly tea ini agak manis. Anak gadis saya ternyata suka banget dan dia segera menghabiskan satu pot Jelly tea tersebut.

"Apa tuh ...", tanya suami
"Oleh2 dari boss ... baru pulang dari Tasmania. Agak aneh ... libur ke Tasmania kok yang dibawa malah TWG tea asal Singapore",
Tapi saya ingat ..., si boss memang langganan SQ hampir untuk seluruh perjalanan pribadi ke luar negeri. Bisa jadi karena lupa beli oleh2 buat para krucil di kantor, sang nyonya, seperti biasa, membeli berbagai macam makanan di duty free di Changi. Begitu pikiran yang sangat praktis.
"Enak ma .... Ada di Jakarta nggak ya? Kalau ada, besok malam ke situ yuk...!" si gadis menimpali.
TWG Tea oleh2 boss
"Nggak ah .... Bisa tekor kalo tiap malam makan di luar terus ...! Selama kamu libur, tagihan kartu kredit meledak nih! "
"Sekali aja deh ... cuma pengen tahu aja kok...!", rayunya...
"Lihat gimana nanti aja...! Belum tentu ada di Jakarta. Atau .... semoga nggak ada cabang di Jakarta", sahut saya nggak yakin juga. Maklum .... apa sih yang nggak ada di Jakarta, dengan pola hidup hedonis sebagian penduduknya?

Penasaran, malam itu saya browsing, ingin tahu apa dan bagaimana TWG Tea dan apakah ada cabang di Jakarta. Ternyata .... ada di suatu Mall atau tepatnya Plaza. Baru 4 bulan beroperasi dan .... ternyata sudah banyak yang mengulasnya di blog masing-masing. Semua memuji eksklusifitas tempat, interior dan peralatannya.

Makanan atau kue-kuenya sih, konon, umumnya standard saja ... Dari ulasan di blog yang disertai foto-foto dan komentar2nya berikut kemasan oleh2 boss, saya sudah bisa menduga seberapa "murah" harga sepoci atau bahkan secangkir teh. Minimal sama atau bisa jadi lebih mahal dari kopi di Starbuck atau cafe/tea shop sejenis.

Penasaran dan untuk meredakan rengekan si gadis, jadi ... kami memutuskan untuk mencicipi TWG tea, dengan kesepakatan makan malam di rumah dulu. Makan malam di plaza/mall di malam minggu, sama saja dengan "bunuh diri" kelaparan atau harus mulai keluar dari rumah jam 17.00. Ribetlah .... mesti mikir dimana shalat maghrib, terus kalau kebetulan masjidnya jauh dari Mall/Plaza, kebayang susahnya dapat parkir di Mall/Plaza saat kami tiba. Sementara shalat di Mall/Plaza di Jakarta, belum tentu nyaman. Saya belum pernah menemukan Mall/Plaza yang menyediakan tempat shalat yang nyaman.

Dengan bekal hasil browsing, lokasi TWG tea, dengan sangat mudah kami temukan. Agak jengah juga rasanya saat melihat penampilan TWG Tea salon tersebut. Dari kejauhan terlihat betapa para pelayannya berpakaian dengan sangat rapi, sepatu pantofel hitam mengkilat. Tersadar tiba-tiba betapa kami berpenampilan sangat seadanya. Sangat berbeda jauh dengan penampilan para pelayan dan suasana di dalam yang terlihat.

Masuk ke ruangan, ternyata beberapa meja terisi penuh dan hanya 1 yang sedang dirapikan. Sambil menunggu meja disiapkan, saya mengedarkan mata... menyapu seluruh isi boutique alias toko tersebut. Ada ratusan "kaleng" kuning berisi TWG tea dengan berbagai ragam aroma, Kabarnya ada sekitar 300an aroma teh. Ini betul-betul teh, dalam arti bahwa yang diseduh adalah daun teh yang sudah diberi beragam macam aroma. Ratusan aroma itulah. Selain itu ada berbagai kaleng dengan berbagai design (exterior finishing) dan beragam warna termasuk juga beragam poci yang rupanya digunakan untuk menyajikan teh.

Semua terasa berkelas .... dan kesemuanya "diawasi" mungkin oleh store manager yang saya yakin dari penampilannya adalah pria berkewarganegaraan atau berasal dari Perancis. Penampilannya khas sekali dan mudah "terbaca" dari bentuk tubuh,  gesture, maupun caranya bicara walau saya hanya melihatnya dari jauh.

Dalam tradisi Perancis, yang disebut minuman teh adalah seduhan dengan bahan dasar daun teh baik black tea maupun green tea. Dengan rasa asli maupun yang sudah diberi aroma. Yang penting bahan dasarnya adalah daun teh, maka sah disebut teh. Sedangkan dedaunan lain yang diseduh dan sekarang lebih dikenal sebagai "herbal tea", disebutnya sebagai infusion. Berbeda dengan di Indonesia, semuanya disebut teh. Pembedanya, seduhan non daun teh disebut jamu atau herbal tea.


salah satu kemasan cookies eksklusif dari teman
Nah sambil menunggu itulah saya memperhatikan display kemasan teh dalam kaleng/dus warna-warni yang menutup hampir seluruh dinding boutique. Kesemuanya sangat cantik dan ditata dengan sangat  artistik. Perancis gitu loh....! Cuma ..... begitu lihat harga yang tertera ..... alamak .......!!! Harga 1 kaleng teh bisa menghabiskan jatah bensin saya selama 10 - 30 hari. Teh dalam kemasan 50 gram ternyata dihargai 350K dan beberapa jenis dalam kemasan 100 gram diberi label 750K. Jadi ... saat ditawari untuk membeli, saya "terpaksa" jawab masih ada satu dus di rumah. Ini betul .... nggak bohong, karena justru dari satu dus oleh2 boss itulah, saya "kenal" TWG Tea,

Sambil lalu, sempat saya tanyakan juga berapa harga 1 pot Jelly tea yang disukai anak saya itu. Jelly tea dalam kemasan sekitar 100 ml dan ternyata berlabel 80K. Haduh ...... terbayang deh, nutrijel yang walau kelembutan dan aromanya memang jauh berbeda tetapi harganya sangat jauh. Memang nggak bisa dibandingkan antara lokal dan "luar". Ini masalah gengsi dan eksklusifitas!!!

Karena memang sudah diniatkan untuk mencicipi TWG tea, maka rombongan sirkus mini ini tetap sabar menanti tempat duduk. Kemudian sempat kebingungan memilih aroma apa yang ingin dicicipi dari ratusan jenis teh beraroma yang ditawarkan dengan harga rata-rata sekitar di atas 40K per tea pot. Rasanya ingin mencoba seluruh aroma yang ada disitu.

Akhirnya ... setelah pusing bolak-balik kartu menu, saya memilih Creme Brulee tea ..., Namanya agak berbau Perancis. Jadi penasaran juga gimana rasanya. Saya lupa apa yang dipilih anak & suami. Untuk cemilannya, saya memilih paket 3 pcs muffin yang disajikan dengan whipped cream dan jelly tea sementara anak saya memilih green tea ice cream. Kalau nggak salah. Belakangan si gadis menyesal karena dia tidak menyatakan dengan jelas berapa scoops yang diinginkan sehingga hanya tersaji 1 scoop. Kami hanya menyantap makanan ringan karena hari sudah menunjukkan jam 21.00. Sudah lewat jam makan malam kami, yaitu jam 18.30.

Bagaimana dengan rasa TWG tea ... menurut saya, rasa tehnya sangat ringan. Sama sekali tidak terasa aroma dan rasa tehnya. Kalah dengan aromanya.

Sambil minum dan ngobrol, iseng juga saya lirik kiri-kanan memperhatikan pengunjung yang silih berganti memenuhi sedikit meja yang ada. Mungkin tidak lebih dari 8 meja. Kesemuanya manusia-manusia gaul yang chic .... Dari penampilannya, pasti semua dari golongan atas.

Iyalah ..... mana ada yang mau bayar ratusan K untuk sekedar minum teh dengan sedikit kue2 di tempat chic kalau bukan kalangan atas. Pantas jugalah kalau TWG Tea punya potensi menjadi tempat hang out eksklusif yang cepat atau lambat mengalahkan pamor Starbuck. Atau mungkin juga TWG Tea mengambil kelas yang lebih tinggi dari Starbuck. Selama 4 bulan mereka beroperasi saja, mereka sudah berani mengambil ancang-ancang untuk membuka satu lagi gerainya di salah satu Mall yang prestigious di Jakarta.


Kaleng warna-warni di rak atas itu seharga 15jt/pcs
Hari beranjak sangat cepat dan pada jam 22, kami memutuskan meninggalkan lokasi. Sambil memasukkan kartu hutang alias kartu kredit yang saya gunakan untuk membayar 3 pot teh beserta penganannya, iseng saya lemparkan pertanyaan kepada vendeur alias pelayan toko tentang kaleng teh warna-warni yang terpajang di sepanjang dinding gerai di bagian atas;
" Boleh tanya ... berapa harga kaleng teh yang di atas itu?"
"Lima belas bu .....", jawabnya singkat.
"Maksudnya....?"
"Lima belas juta rupiah..."
Gubraks........., sempat kaget dan terhenyak mendengar harga kaleng teh warna-warni yang cantik itu, tapi saya nggak mau kelihatan kaget ... alias sok jaga gengsi juga hehe....

"Kok mahal banget ya....?"
"Ya bu .... kaleng itu hand made dan di import langsung dari Perancis...!"
"Oh ...............".

Iya sih ...... seperti yang sempat saya katakan, Perancis memang sangat menghargai kerja manual. Design, komposisi warna selalu digarap dengan sangat teliti. Pengerjaannyapun sangat halus dan terasa sangat berkelas.... Tapi ..... "Kaleng krupuk" seharga 15 juta...? Walau dibuat dengan design khusus, hand made dan impor langsung dari Perancis....? Rasanya sangat tidak masuk akal dan sangat berlebihan.

Tapi .... ya sudahlah!!! Saya mungkin memang belum masuk golongan kelas atas, sehingga masih shock dengan hal-hal seperti itu.

Begitulah gaya hidup di kota besar Indonesia.... Hedonisme dengan kata kunci eksklusif ternyata menjadi jurus ampuh para pemasar alias pakar pemasaran untuk menaklukkan dan mendikte kaum OKB Indonesia.

Sambil melangkah meninggalkan TWG tea boutique menuju tempat parkir, terbayang tambahan tagihan kartu kredit saya di bulan yang akan datang... Menyesalkah..? Nggaklah ... cuma dalam hati saya agak nggrendeng juga .... Saya ternyata seringkali jadi "korban" oleh-oleh dari boss dan nyonya saat mereka pulang dari perjalanan ke luar negeri ....

Selasa, 13 Agustus 2013

Ketika Allah berkehendak

Siang itu, kira-kira sekitar jam 15.00, ketika lamat-lamat kudengar suara adik lelaki saya bicara. Siang itu saya memang sengaja tidur di kamar anak gadis saya, sambil membaca seri ke 4 buku karangan Thomas Harris. Pembantu rumah masih istirahat di kampungnya.

"Tolong bukakan pintu untuk oom", pinta saya kepada anak gadis yang sedang browsing di kamarnya. Teringat bahwa pintu masuk ke rumah sudah saya kunci sebelum masuk kamar tadi. Tentu dia tidak bisa masuk rumah dan mengetuk pintu kamar saya yang letaknya bersebelahan dengan kamar anak saya.
"Sudah dibuka bapak", begitu sahutnya.
Saya kemudian bangun. Teringat bahwa saya menjanjikannya untuk memberi seperenam bagian opera cake untuknya.

Sambil berjalan menuju ruang makan, terdengar kehebohan di dapur. Asap menyeruak kelabu masuk ke ruang makan. Kaget, saya segera masuk ke dapur .... penuh asap, pengap namun tidak terlihat ada api sedikitpun. Di lantai dapur terlihat onggokan panci dan potongan segi empat yang hitam legam. Entah apa bentuk awalnya. Adik saya masih sibuk membuka lebar-lebar pintu dan jendela yang berhubungan dengan dapur. Berusaha menghilangkan asap yang memenuhi seluruh ruang dapur, gudang dan kamar PRT yang lokasinya saling berhubungan.

"Gila ..... tahu enggak, tadi aku lihat api berkobar besar... sudah menjilat-jilat ke atas! Untung dapur nggak terkunci. Mana tabung pemadam kebakaran kosong, lagi! Jadi aku ambil aja handuk2, kusiram pake air! Kita beruntung ....., api bisa padam!", begitu cerocosnya melihat saya masuk dapur.

Selain asap yang masih memenuhi dapur, gudang dan kamar PRT yang memang letaknya bersebelahan, praktis tak ada tanda-tanda bekas terbakar. Termasuk juga kitchen cabinet yang terbuat dari kayu, luput dari terjangan api. Mungkin masih terlindung oleh cooker hood.

Saya bingung, bengong .... nggak tahu lagi mesti bilang apa... Jam sudah menunjukkan kira2 jam 15.05.
"Aku tadi lagi di rumah sakit, habis antar Yuli. Trus kok perasaanku terasa enggak enak. Jadi langsung aja kutinggal dia dan cepat-cepat kesini. Aku kaget lihat api di dapur, gede banget...., sampe nggak sempat matiin mobil. Panik .... untung ada banyak handuk. Jadi api aku matiin pake handuk basah", lanjut cerita adikku.
"Kenapa sih....?", tanya suami kebingungan
"Nggak usah diomongin lagi", sahut saya, agak nervous, seraya meminta adik saya membuang semua bekas-bekas barang yang terbakar termasuk panci.

Masih dalam kondisi antara sadar dan tidak, saya hanya bisa mengucapkan ....
Alhamdulillah ....
Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Pelindung .....

Andai tak digerakkanNya hati dan perasaan adik lelaki saya itu, entah apa yang sudah terjadi dengan rumah peninggalan ibu saya ini. Mungkin sudah tinggal puing-puing hitam legam dan debu. Saya tidak bisa menafikan campur tangan Allah SWT, walau tidak melihat dengan sendiri seberapa besar api. Tapi .... melihat betapa sendok kayu sepanjang 30 cm hanya tinggal 10 cm serta talenan kayu sudah gosong menghitam dan sudah tinggal setengah ukuran semula, tentu seperti apa yang diceritakan adik saya, bahwa api memang sudah berkobar besar dan menjilat kesana-kemari. Ngeri membayangkannya, apalagi ... di bawah kompor, ada tabung gas.

Saya teringat, sekitar jam 13.00, adik lelaki saya datang ke rumah meminjam mobil suami untuk mengantar adik perempuan yang lain ke rumah sakit. Saat itu saya menawarkannya untuk membawa pulang sayur labu siam untuk makan siang di rumah, karena istrinyapun baru saja kembali dari dokter sehingga mungkin mereka belum sempat masak. Untuk itulah saya menghangatkan sayur tersebut.
"Ya ..., nanti aku ambil sesudah dari RS, sekalian ambil opera cake nya", begitu sahutnya

Entah mengapa, usai menutup pintu pagar, saya langsung menutup dapur, lalu membawa buku dan masuk ke kamar anak gadis saya. Sedikitpun tak teringat bahwa saya sedang dan masih memanaskan sayur di dapur. Bila dihitung waktu, saat adik saya meninggalkan rumah hingga saat saya terbangun, maka ada jeda 2 jam. Jadi selama itulah kompor menyala tanpa seorangpun melihat dan menyadarinya.

Tentu saja tidak ada satu orangpun yang tahu ... Suami sedang tidur di kamarnya, anak saya sejak pagi asyik browsing di kamar. Lha ... saya yang menyalakan kompor saja sama sekali tidak ingat. Bagaimana lagi dengan orang lain?  Pantas saja kalau isi panci kering-kerontang dan panci menjadi luar biasa panasnya sehingga mampu membakar sendok kayu serta talenan kayu yang menutupinya

Sungguh ...... saya shocked berat dengan kejadian ini. Ini adalah kejadian ke 3, lupa mematikan kompor gas dan seharusnya tidak boleh terjadi lagi kebodohan ini. Saya tidak boleh lagi berdalih faktor umur menyebabkan saya menjadi pelupa, tetapi harus lebih berhati-hati. Tidak boleh lagi meninggalkan kompor menyala untuk melakukan hal lain sambil menunggu mendidihnya air atau masakan.  Multitasking tidak boleh dilakukan saat memasak, kecuali area kerjanya masih di dapur juga.

Sungguhpun kita percaya bahwa Allah SWT Maha Pelindung umatNya, tapi sebaiknya kitapun berusaha untuk selalu berhati-hati. Wa Allahu alam

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...