Senin, 28 September 2015

Ibadah Haji dan Musibah Mina

Ritual ibadah haji 1436H atau tahun 2015 Masehi, kembali menelan korban. Belum hilang dalam ingatan atas musibah runtuhnya crane di Masjidil Haram, akibat cuaca buruk, yang telah menewaskan jamaah yang sedang melaksanakan ibadah tawaf maupun sedang berada di masjid. Lalu ada kebakaran di hotel tempat jamaah Indonesia bermukim

Kini pada saat melaksanakan ritual ibadah lempar jumrah Aqobah di Mina, terjadi musibah yang jauh lebih besar lagi. Hari ini, Kamis 24 September 2015, diberitakan sudah lebih dari +700 orang meninggal dunia dan +800 orang lagi dirawat di rumah sakit karena terluka akibat dorongan dan desakan gelombang jamaah haji. 

Bagaikan kartu domino, tatkala satu kartu jatuh, maka serentak kartu-kartu yang berada dibelakangnya jatuh pula menimpa kartu di depannya. Jamaah yang berada di depan tak kuasa menahan gelombang dorongan jamaah di belakangnya, jatuh dan terinjak-injak. Itu sebab begitu banyak jamaah yang meninggal dunia dan terluka.  Korban meninggal dunia, masih mungkin bertambah.

Sedih dan prihatin, tentu kita rasakan ... tetapi menyalahkan pihak lain apalagi pihak kerajaan Saudi Arabia, tentu juga bukan cara yang bijak. Secara fisik, Makkah berkembang dan berubah luar biasa. Pemerintah Saudi telah berbuat banyak untuk melakukan pembangunan fisik, yaitu infrastruktur dan sistem transportasi, dan hingga sekarang, mereka terus menerus melakukan pembangunan dan penyempurnaan segala fasilitas dan kebutuhan jamaah haji dan umroh yang semakin meningkat. 

Di Madinah, area masjid Nabawi dipugar, bangunan-bangunan tua dibongkar dan dibangun hotel-hotel untuk menampung jamaah umroh maupun Haji yang jumlahnya jutaan orang setiap tahunnya.

Masjid Bir Ali, tempat jamaah umroh yang berangkat dari Madinah, melaksanakan miqat sudah diperluas pula, tentu dengan maksud agar jamaah memperoleh kenyamanan, saat membersihkan diri dan berganti pakaian dengan ihram, untuk memulai ibadah umroh. 

Padang Arafah, yang terletak sekitar 12km dari Makkah, selalu lengang di luar musim haji. Tidak terlihat kegiatan luar biasa kecuali bis-bis rombongan umroh yang bergantian, berhenti beberapa ratus meter dari Jabal Rahmah, bukit yang dipercayai sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa. 

Arafah di luar musim haji
Pemerintah Saudi Arabia terus menanami padang Arafah dengan pepohonan untuk mengurangi terik matahari.  Di samping itu juga terpancang tiang-tiang penyembur air yang menghasilkan butiran air untuk melembabkan udara agar panas terik gurun tidak terlalu menyengat kulit. Begitu juga dengan fasilitas toilet dan kamar mandi. 

Terbayangkah bagaimana susah dan besarnya biaya untuk menghijaukan gurun pasir dan menyediakan air? Padahal ... Arafah hanya digunakan 1 hari dalam setahun .... atau katakanlah 2 hari, kalau hari kedatangan/persiapan pra wukuf mau dihitung. Biaya yang dikeluarkan pemerintah Saudi untuk ini, tentu tidak bisa dihitung secara matematika dagang ... Tidak akan bertemu untung dan ruginya. 

Begitu juga dengan Mina. Kota "mati" yang hanya berpenduduk selama 3 hari saja. Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah Timur kota Makkah, yaitu antara Makkah dan Muzdalifah. Mina mendapat julukan kota tenda, pada musim haji, Mina akan dipenuhi dengan tenda-tenda tempat menginap jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu, kini tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung.
menjelang wukuf

Mina hanya akan dipadati penghuni saat  yaitu sebelum jamaah haji menuju Arafah pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah dan saat jamaah haji melakukan ritual jumrah. Jamaah mengikuti ritual ibadah haji yang dilaksanakan oleh Rasulullah, yaitu tinggal di Mina sehari semalam sehingga dapat melakukan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh. Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke ArafahSecara resmi jamaah haji Indonesia, umumnya langsung menuju Arafah, walau ada beberapa yang memisahkan diri dan melakukan perjalanan ke Arafah dengan berjalan kaki, via Mina. 

Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji dimana jamaah haji berkunjung lagi ke Mina setelah selesai melaksanakan wukuf di Arafah untuk melaksanakan ibadah melempar jumrah. Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Jamaah haji juga diwajibkan mabit (bermalam) di Mina, yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani. 

Apa penyebab musibah ini? Ada banyak penyebab yang memungkinkan terjadinya musibah ini, terutama tentunya dari para jamaah dan para pembimbingnya. Mau tidak mau, kita harus mawas diri dan introspeksi diri sendiri harus menyalahkan pihak manapun juga. Pemerintah Indonesia dan pemerintah Saudia inshaa Allah, sudah melakukan yang terbaik untuk keamanan dan kebaikan para tamu Allah walau tentu tidak memuaskan para pihak. 

suasana Arafah saat Wukuf
"Menjamu" dan mengurusi hampir 3 juta manusia yang "harus berada di suatu tempat dengan area yang sangat terbatas dalam waktu yang bersamaan, tentu bukan pekerjaan yang mudah, betapapun sudah diatur dengan jadwal yang sangat ketat. Perjalanan 3 juta manusia dari Makkah-Arafah yang berjarak 12 km, apakah melalui Mina terlebih dahulu atau langsung ke Arafah, tentu bukan hal mudah. Apalagi kalau hal ini dilakukan dalam waktu hanya 24 jam sebelumnya. Meminta jamaah untuk berangkat dan berdiam lebih dari 24 jam di padang pasir, tentu bukan pula solusi yang baik. Ini memerlukan logistik dan sanitasi yang luar biasa besarnya.

Bayangkan saja, andai mereka berangkat dengan bus berkapasitas 50 orang, berarti sama dengan 60.000 bus atau 2.500 bus yang harus berangkat dalam waktu 1 jam atau +42 bus per menit. Itu sebabnya pemerintah Saudia memutuskan membangun kereta api, khusus untuk keperluan tersebut. Hanya untuk melayani jamaah selama musim haji. Setelah musim haji .... fasilitas transportasi tersebut menganggur, karena padang pasir Arafah bukanlah tempat tinggal atau kota. Begitu juga dengan Mina.  

Maket areal Jumrah
Di samping itu, bukankah, dalam banyak pemberitaan sudah kita dengar bahwa setiap negara/maktab sudah diberikan jadwal untuk melaksanakan jumrah. Bahkan area jumrahpun telah diperluas/ditambah sehingga bertingkat-tingkat guna menampung jumlah jamaah yang lebih besar lagi. Masalahnya kembali kepada kita sendiri. Mampukah atau lebih tepat lagi, maukah kita mematuhi jadwal yang sudah ditentukan? Pada kenyataan, TIDAK .... selalu ada godaan, terutama dari para pembimbing, untuk melaksanakan ritual lempar jumrah pada waktu yang dianggap AFDAL, lebih utama, karena konon pada waktu itulah Rasulullah melaksanakan lempar jumroh.

Pembimbing jamaah, baik itu yang berasal dari kelompok/regunya dan terutama lagi dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji yang dianggap orang-orang yang mumpuni di bidang ibadah khususnya dalam ritual haji, seringkali "menggoda" atau mengajak regu/kelompoknya untuk melaksanakan ibadah haji sesuai dengan apa yang dilaksanakan oleh Rasulullah.... Mereka mungkin lupa, bahwa jumlah jamaah haji sekitar 14 abad yang lalu, tidak sebanyak sekarang.

Belum lagi upaya perlindungan kelompok, dan ini biasanya dilakukan oleh jamaah dari negara-negara Afrika dan Turki. Mereka akan membentuk barikade, bergandengan tangan dengan sangat erat, berjalan serentak dan seringkali "menerjang" apapun dan siapapun yang ada didepannya. 


tiang sebagai penanda tempat pelemparan batu
Mungkin bukan maksud mereka "menerjang" jamaah di depannya, tetapi kekhawatiran kehilangan kepala rombongan, membuat mereka tidak akan pernah melepaskan barikadenya saat bertemu rombongan lain yang berada di depannya. Sebagai akibat dari terjangan badan2 besar itu, tentu rombongan depan akan terpelanting. Diperparah lagi dengan derasnya arus jamaah dari belakang. Maka bisa terbayangkan bahwa akan banyak jamaah yang jatuh dan terinjak-injak.

Sedih ..... Tapi begitulah kenyataannya. Siapa yang salah ...? Entahlah .... Itu sebab pula Saudi membatasi jumlah jamaah haji melalui kuota per jumlah penduduk negara terkait. Agar pemerintah Saudi bisa memberikan pelayanan yang baik bagi para tamu Allah.

Bagi jamaah yang berasal dari negara berkembang, yang pada umumnya, sebagian besar datang dari golongan masyarakat berpenghasilan dan berpendidikan rendah, mungkin sukar memberikan pemahaman untuk mengutamakan keselamatan. 


suasana melempar Jumrah
Mereka umumnya "pasrah bongkokan" pada pembimbingnya. Pemerintah Indonesia mungkin harus mengevaluasi pola bimbingan jamaah haji. Manasik Haji selama ini hanya "berkutat" pada ritual ibadah dan doa-doa saja. Sedikit tentang cara menjaga kesehatan selama berhaji. Mungkin mereka lupa memberitahu bagaiman cara dan etika berada di dalam pesawat terbang, agar tidak menggunakan air semaunya, membuang kertas di lavatory. Bagaimana adab berada di hotel/naik lift dan hal lainnya yang pasti baru pertama kali mereka lihat dan kenal.

Ibadah haji adalah ibadah fisik. Tentu akan lebih baik bila ibadah ini dilaksanakan oleh orang muda dan "terdidik", minimal mengerti dan mau mengerti tata cara bukan saja tentang ibadahnya tetapi juga etika dan hal-hal non ibadah. Melarang jamaah berusia lanjut, tentu bukan pula hal yang bijak. Apalagi mereka, pada umumnya telah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit demi menggenapi Rukun Islam. Yang bisa dilakukan mungkin adalah agar pemerintah lebih selektif dalam hal menunjuk ketua regu/kelompok dan melaksanakan pembinaan pada KBIH, terutama untuk hal-hal non peribadahan.

Buat sebagian masyarakat Indonesia, terutama mereka yang bertempat tinggal diperkampungan dan pedesaan, HAJI berarti peningkatan status sosial dan jangan salahkan mereka bila mereka rela melaksanakannya sebelum ajal menjemput. Wallahu alam ...

Kamis, 03 September 2015

MEA dan WISUDA Sarjana / PENERIMAAN MAHASISWA BARU

Entah sudah berapa kali saya menghadiri acara wisuda sarjana dan penerimaan mahasiswa baru di universitas Indonesia, namun acara pada tanggal 28 - 19 Agustus 2015  ini terasa sedikit lebih istimewa karena anak kedua saya ada di dalam barisan mahasiswa baru. Itu sebab, sejak awal sudah saya pesankan pada suami bahwa saya akan hadir di acara tersebut. Ge-er banget hehe ....

Siang hari, Jum'at 28 Agustus 2015, usai shalat Dhuhur, saya segera meluncur ke kampus UI di Depok, menjemput suami dulu di kantornya lalu masuk ke gedung pusat administrasi universitas, tempat peserta acara berkumpul.

Sekitar jam 14.15, kami para pendamping, di antar menuju Balairung Universitas Indonesia karena acara sudah akan dimulai. Saya bersyukur mendapat tempat di jajaran pertama Balairung, arah jalan keluar rektor dan guru besar.

Sepertinya ada yang berubah dari suasana wisuda dan penerimaan mahasiswa baru kali ini, terutama tentunya dari kemeriahan dan keriuhan teriakan para mahasiswa baru meneriakkan yel-yel fakultasnya. Kondisi ini sebetulnya sudah mulai terasa saat mahasiswa baru mengikuti masa orientasi kegiatan kampus - OKK dan MADK (yang ini saya lupa apa singkatannya) dimana kelompok mahasiswa baru yang terdiri dari 10 orang, diwajibkan terdiri dari beragam fakultas dan membaurkan antara rumpun science, humaniora dan kesehatan. Tentu maksudnya agar ego fakultas menjadi hilang. Baguslah ..... kita memang harus bersatu dan menghilangkan ego sektoral. Indonesia harus bersatu padu terutama menghadapi era MEA alias Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan mulai berlaku pada bulan Desember 2015.


Kalaupun ada yang hilang dari wisuda sarjana & penerimaan mahasiswa baru tahun 2015 ini hanyalah kemeriahan dan keriuhannya saja. Acara menjadi "sedikit lebih senyap", kurang greget ... tapi, andai kesenyapan itu mampu diganti dengan kesadaran bahwa mahasiswa baru Universitas Indonesia adalah bagian dari suatu kesatuan bangsa dan negara Indonesia yang harus saling menguatkan dan kompak untuk masa depan bangsa, kenapa tidak...? Hal ini tentu harus dimulai dari kampus, karena mahasiswa adalah calon pemimpin dan penggerak kehidupan berbangsa dan bernegara. Harapan dan masa depan kita semua.
***

Mungkin banyak diantara kita yang belum sadar bahwa pada akhir tahun 2015 ini, yaitu pada bulan Desember 2015, perjanjian/kesepakatan untuk menyatukan bangsa - bangsa ASEAN ke dalam suatu ikatan masyarakat berbasis ekonomi, mulai diberlakukan.


Apakah MEA itu?
MEA–Masyarakat Ekonomi Asean atau juga disebut AEC (Asean Economic Community) adalah integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. MEA dirancang untuk mewujudkan Wawasan ASEAN 2020, dan telah disepakati oleh seluruh negara anggota ASEAN lebih dari 1 dekade yang lalu.

Apa artinya bagi kita, bagi masyarakat di Negara–Negara ASEAN dan khususnya Indonesia? Itu berarti bahwa Indonesia harus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang trampil, cerdas, dan kompetitif untuk menghadapi persaingan yang akan sangat ketat dan berat. Ketat dan berat karena Indonesia dan negara manapun yang tergabung dalam ASEAN tidak bisa menutup diri dari masuknya barang dan/atau tenaga kerja dari negara ASEAN. Ini bisa dikatakan sebagai awal pemberlakuan WTO beberapa tahun yang datang.

Siapkah kita–Indonesia menghadapi persaingan yang akan dimulai di akhir tahun 2015?[i]
Untuk menjawab pertanyan itu, kita perlu memperhatikan unsur apa saja yang akan dan harus diperhatikan dengan pemberlakuan MEA tersebut. 

Ada empat hal yang akan menjadi fokus MEA pada tahun 2015 yang dapat dijadikan suatu momentum yang baik untuk Indonesia.

Pertama, Negara–Negara di kawasan Asia Tenggara akan dijadikan sebuah wilayah kesatuan pasar dan basis produksi agar tidak terjadi hambatan atas pergerakan arus barang, jasa, investasi, modal dalam jumlah yang besar, dan skilled labour dari satu negara ke negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Kedua, MEA dibentuk sebagai kawasan ekonomi dengan tingkat kompetisi tinggi dan memerlukan suatu kebijakan yang meliputi competition policy, consumer protection, Intellectual Property Rights (IPR), taxation, dan E-Commerce agar tercipta iklim persaingan yang adil; ada perlindungan dari sistem jaringan perlindungan konsumen; mencegah terjadinya pelanggaran hak cipta; menciptakan jaringan transportasi yang efisien, aman, dan terintegrasi; menghilangkan sistem Double Taxation, dan; meningkatkan perdagangan berbasis online.

Ketiga, MEA dijadikan sebagai kawasan perkembangan ekonomi yang merata, dengan memprioritaskan pada Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk meningkatkan kemampuan daya saing dan dinamisme UKM dengan memfasilitasi akses mereka terhadap informasi terkini, kondisi pasar, pengembangan kemampuan sumber daya manusia dalam bidang keuangan, serta teknologi. 

Keempat, MEA akan diintegrasikan secara penuh terhadap perekonomian global dengan membangun sebuah sistem untuk meningkatkan koordinasi dan bantuan terhadap negara-negara anggota yang kurang berkembang agar terjadi peningkatkan partisipasi Negara Asean pada skala regional termasuk untuk mengintegrasikannya secara global.

Berdasarkan ASEAN Economic Blueprint, MEA menjadi sangat dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota–anggota di dalamnya. MEA dapat mengembangkan konsep meta-nasional dalam rantai suplai makanan, dan menghasilkan blok perdagangan tunggal yang akan menangani dan bernegosiasi dengan eksportir dan importir non-ASEAN.

Secara teroritis, bagi Indonesia, MEA akan menjadi kesempatan untuk mengurangi hambatan perdagangan sehingga terjadi peningkatan ekspor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia. Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam di berbagai Negara ASEAN yang dapat dimasuki. Akses untuk pergi keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi  lebih mudah bahkan bisa jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Masyarakat Ekonomi Asean - MEA nantinya tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya. MEA juga mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing. Keterbukaan ini jelas akan  memunculkan risiko ketenagakerjaan bagi Indonesia dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia. Walau intinya, MEA lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya namun persaingan di bursa tenaga kerja akan semakin meningkat.[ii] Satu hal yang sudah bisa dipastikan, sarjana Indonesia dan tenaga kerja Indonesia pada umumnya akan dan harus bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara ASEAN. Bukan saja di sesama negara ASEAN )luar negeri) tetapi bahkan di dalam negeri sendiri. Apalagi ada kecenderungan bahwa banyak perusahaan (swasta) yang lebih suka menggunakan tenaga asing pada posisi tinggi di perusahaan, karena pada umumnya tenaga kerja Indonesia menjadi lebih patuh bila pimpinannya adalah orang asing. Miris .....

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah tenaga kerja Indonesia bisa bersaing dengan negara Asia Tenggara lain?
Secara jujur ada kekhawatiran karena banyak pekerja muda yang belum menyadari adanya kompetisi yang semakin ketat. Selain kemampuan Bahasa Inggris yang kurang, kesiapan mereka juga sangat tergantung pada mental. Banyak yang belum tahu dan belum siap kalau mereka akan dan harus bersaing dengan tenaga asing, apalagi kalau harus bekerja di luar Indonesia. Sementara di dalam negeri akan banyak perusahaan yang akan menemukan pegawainya kurang terampil atau bahkan salah penempatan kerja karena kurangnya pelatihan dan pendidikan profesi. Indonesia tentu tidak ingin "kecolongan" dan tidak boleh kecolongan. Inilah wajah persaingan kerja yang akan dihadapi oleh sarjana baru dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. 

Kita memang tidak perlu berkecil hati dengan persaingan era MEA tersebut. Kondisi ini harus dijadikan sebagai tantangan untuk membuktikan bahwa sarjana Indonesia, dengan bekal yang sudah diperoleh dari institusi pendidikannya, mampu bersaing bukan saja di dalam negeri tetapi mampu pula masuk mengisi kekosongan tenaga pendidik di Negara – Negara jiran terutama pada Negara serumpun.

Momentum MEA ini juga diharapkan, walau agak terlambat, agar kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi berbenah diri ... mengingatkan pada 134 PTN dan sekitar 4000 PTS untuk berbenah diri, meningkatkan kualitas institusi dan lulusannya. Masa depan Indonesia kini ada di di kedua Kementerian tersebut.

Semoga sarjana dan tenaga kerja Indonesia mampu menjadi tuan di negerinya sendiri sekaligus mampu bersaing dan berdiri tegak, bekerja di negara-negara ASEAN kelak




[i] http://crmsindonesia.org/knowledge/crms-articles/peluang-tantangan-dan-risiko-bagi-indonesia-dengan-adanya-masyarakat-ekonomi
[ii] http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec

Kamis, 20 Agustus 2015

MEMBENTAK ....

Aduh duh ...... Maaf banget deh, gara2 mood nulis lagi lenyap, terpaksa copy paste tulisan orang .....

Membentak 

Tue Aug 18, 2015 6:19 pm (PDT) . Posted by: 

"S.Rahardjo" sinungra 

SEKALI MEMBENTAK, MILYARAN SEL OTAK ANAK RUSAK! (sekali membully? ??)


“Tahukan Anda di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.”

Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa, satu bentakan merusak milyaran sel-sel otak anak kita. Hasil penelitian Lise Eliot, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan, red), suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah.

Penelitian Lise Eliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer sehingga bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. “Hasilnya luar biasa, saat menyusui terbentuk rangkaian indah, namun saat ia terkejut dan sedikit bersuara keras pada anaknya, rangkaian indah menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan terjadi perubahan warna. Ini baru teriakan,” ujarnya.

Dari hasil penelitian ini, jelas pengaruh marah terhadap anak sangat mempengaruhi perkembangan otak anak. Jika ini dilakukan secara tak terkendali, bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak anak itu sendiri. “Makanya, kita harus berhati-hati dalam memarahi anaknya,” Tidak hanya itu, juga mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh. Tak hanya otak, tapi juga hati, jantung dan lainnya.

Teriakan dan Bentakan menghasilkan gelombang suara. Ya, hampir semua orang mengetahui itu. Yang belum banyak diketahui orang banyak adalah, bentakan yang disertai emosi seperti marah menghasilkan suatu gelombang baru.

Emosi negatif seperti marah mempunyai gelombang khusus yang merupakan gelombang yang dipancarkan dari otak. Gelombang ini dapat bergabung dengan gelombang suara orang yang berteriak. Nah, gabungan gelombang suara dan gelombang emosi marah ini menghasilkan gelombang ketiga dengan efek yang khusus.

Efek dari gelombang ketiga ini adalah sifat destruktifnya terhadap sel-sel otak orang yang dituju. Dalam satu kali bentakan saja, sejumlah sel-sel otak orang yang dijadikan target akan mengalami kerusakan saat dia terkena gelombang ini, baik bila dia mendengar suaranya atau pun tidak. Hal ini karena gelombang ketiga ini tetap merambat sebagaimana dia gelombang suara tapi langsung ditangkap oleh otak sebagaimana gelombang otak.

Efek kerusakan pada sel-sel otak akan lebih besar pada anak-anak yang dijadikan sasaran bentakan ini. Pada remaja dan orang dewasa mengalami kerusakan yang tidak sebesar anak-anak, tapi tetap saja terjadi kerusakan.

Efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang sering mengalami bentakan di masa lalunya. Mereka lebih banyak melamun serta termasuk lambat dalam memahami sesuatu. Orang-orang ini biasanya mudah meluapkan emosi negatif seperti marah, panik atau sedih. Mereka biasanya seringkali mengalami stress hingga depresi dalam hidup, karena kesulitan memahami pola-pola masalah yang mereka hadapi. Semuanya akibat dari sel-sel otaknya yang aktif lebih sedikit dari yang seharusnya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua, pendidik, ataupun orang yang lebih tua dari ‘mereka’, sebaiknya memilih sikap yang lebih kreatif dalam menghadapi tingkah anak yang mungkin kurang baik. Seringkali orang tua bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. Seharusnya orang tua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat aturan. Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa.

Harus diakui, orang tua yang habis kesabarannya sering membentak dengan kata-kata yang keras bila anak-anak menumpahkan susu di lantai, terlambat mandi, mengotori dinding dengan kaki, atau membanting pintu. Sikap orang tua tersebut seperti polisi menghadapi penjahat. Sebaliknya, orang tua sering lupa untuk memberikan perhatian positif ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan susu dan makanannya, serta memberesi mainannya. Padahal seharusnya, antara perhatian positif dengan perhatian negatif harus seimbang.

Mari yuk selalu memberi pujian tulus dan pelukan kasih sayang kepada anak-anak kita agar kelak menjadi anak yang cerdas berjiwa penuh kasih sayang 😘😘

Selasa, 30 Juni 2015

LEBARAN SEBENTAR LAGI ....

Lebaran sebentar lagi ...
Tanpa terasa, Selasa 30 Juni 2015, shaum sudah menginjak hari ke 13. Shaft tarawih sudah mulai maju .... Dari awal shaum penuh melimpah ruah hingga memenuhi jalan menuju rumah, sehingga menyulitkan penghuni masuk rumahnya bila terlambat pulang, kini jalan sudah bisa dilalui pejalan kaki dengan cukup lapang. Ada 1 shaft yang hilang. Sementara di dalam mesjid, shaft lelakipun sudah menyusut pula. Mengapa ....? Entahlah .... mungkin ada kesibukan yang tidak bisa ditingggalkan dalam mencari dan mengais rejeki. 

Maklum juga... Ramadhan dan Idul Fitri memang menguras isi dompey dan tabungan terutama bagi mereka yang kurang bisa menahan diri dalam banyak hal .... Misalnya mengecat rumah (ini selalu dilakukan almarhum bapak saya saat saya kecil dulu, di kampung), sambil mengganti furniture, minimal menggantil upholstery dan tirai jendela. Lalu membeli perangkat makan atau istilah kerennya Chinaware. Setelah itu mempersiapkan penampilan diri dan seluruh anggota rumah tangga. Mulai dari perangkat shalat (walau cuma digunakan 2 kali setahun hehe ...) lalu baju untuk shalat, acara sungkeman ke orangtua, lalu sowan ke rumah boss lalu sowan di hari-hari selanjutnya .... Duh ribet ... apalagi kalau harus pulang kampung.... Kalau kampungnya masih di Jawa, bingung mau naik kendaraan umum (mulai dari bus, KA atau pesawat) atau kendaraan entah pinjam dari kantor, sewa atau milik sendiri. Kalau milik sendiri, apa masih layak dipamerkan ke tetangga sebagai bukti keberhasilan di rantau ... Duh, ribet bin mumet .....

Belum lagi perbekalan selama perjalanan darat yang super duper macer dan oleh-oleh buat orangtua di kampung, sanak saudara dan tetangga-tetangga .... Oupfs ........ yang tak kalah penting persiapan untuk para pembantu yang juga akan mudik. Baju, perangkat shalat, ongkos pulang kampung, oleh-oleh dan THR mereka .... Duh ... kebayang kan... berapa besar dana yang harus dipersiapkan....

Kehebohan persiapan Idl Fitri ini ternyata tidak hanya didominasi oleh masyarakat golongan menengah ke atas saja tetapi hampir "merata" sesuai dengan kemampuannya.
Jadi ... di balik semua kehebohan yang melanda masyarakat kalangan menengah ke atas, masih banyak masyarakat yang dibalik kesulitan keuangan untuk kehidupan sehari-hari, tetapi tetap mengupayakan agar Idul Fitri yang biasa dikenal sebagai Lebaran tetap bisa dirayakan dengan meriah dan mereka mengupayakan dana dengan segala macam cara.

Ini pula, mungkin yang menyebabkan peredaran uang kertas di bulan Ramadhan menjelang Idul Fitri meningkat. Kejahatan baik berupa pencurian dan perampokan meningkat, Pencetakan uang palsu juga meningkat dan ... yang "kelas atas dan terdidik" menggunakan kekuasaannya untuk "mencuri" ... Suap - menyuap meningkat, urusan dipersulit agar ada "setoran" percepatan urusan. Perjalanan pergi dan pulang kantor juga harus extra hati-hati karena pak-pol menjadi amat sangat giat memperhatika pelanggaran lalu lintas. Pengemis di jalanan bertambah banyak, surat-surat dan proposal permintaan bantuan berseliweran baik di kantor, di rumah bahkan di pelataran parkir mall ..... dan ...  ada juga yang dengan tidak sungkan-sungkan sindir menyindir menanyakan THR, padahal ... yang ditanya dan bertanya tidak ada hubungan majikan - buruh. Jadi tidak ada kewajiban memberikan THR.

Dari seluruh kejadian yang selalu berulang di setiap tahun, rasanya layak dipertanyakan, apakah Idul Fitri memang harus dirayakan dengan berlebihan ...? Isi rumah, mobil, perhiasan dan pakaian baru .... makanan berlimpah ruah ...? Seperti memuaskan nafsu yang terbelenggu selama shaum Ramadhan selama 1 bulan...?

Dan yang paling parah ...... mengapa kita tidak pernah malu atau sungkan menjadi "pengemis" ...? Pengemis sebenarnya karena memang penghidupannya masih dibawah tingkat kesejahteraan .... dan ini masih bisa dimaklumi .... Tetapi juga golongan atas, para pejabat yang tanpa sungkan meminta dan mengumpulkan THR dari orang-orang yang membutuhkan "jasa"nya .... 

Ah ... Apa iya, menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya atau bahkan mempercepat penyelesaiannya, yang karena pekerjaan itu kita mendapat gaji dari perusahaan/instansi kita bekerja, dianggap jasa? Bukankah, bila pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik dan tepat waktu, maka kita juga yang mendapat keberuntungannya?
Wallahu Alam

Selamat menjalankan Shaum Ramadhan 
Masih lebih dari separuh bulan lagi lho .....
Jangan kendur Tarawih ya ...



Senin, 15 Juni 2015

SMA - GIS LAZUARDI Graduation Day


13 Juni 2015, tepat jam 07.00 kami meninggalkan rumah yang lokasinya hanya sekitar 1km dari batas wilayah DKI Jakarta untuk menuju gedung Graha Sucofindo di bilangan jalan raya Pasar Minggu - Jakarta Selatan. Itulah gedung yang, minimal selama anak kami bersekolah disana, digunakan sebagai tempat berlangsungnya acara Wisuda siswa SMA dan pembagian raport kelas X dan XI.
Ngomong2 ... sejak kapan ya, istilah pelepasan siswa SMA jadi dinamakan wisuda, seperti lulusan universitas?

Hampir jam 08.00 kami baru memasuki area parkir dan mendapatkan tempat yang cukup nyaman. Acara yang tercantum dalam undangan resmi sebetulnya baru akan berlangsung jam 08.30. Jadi masih ada waktu sekitar 45 menit menjelang acara. Datang terlalu pagi kali ini patut disyukuri ... 

Ada hikmahnya, mengantar anak yang hari itu diwisuda. Biasanya, saya selalu mendapat kesulitan untuk memperoleh parkir di area gedung Sucofindo dan hanya dengan susah payah,  akhirnya mendapat parkir di gedung-gedung yang berada di sekitarnya. Pernah juga diusir satpam yang tidak rela gedung yang dijaganya menjadi tempat penampungan parkir acara wisuda SMA - GIS Lazuardi. 

10 menit menjelang acara dimulai, siswa SMA dan FES Lazuardi mulai menghibur undangan dengan penampilan musik mereka, ada permainan gitar, perkusi, angklung dan lainnya. Acara utama wisuda siswa SMA Lazuardi yang dimulai tepat jam 08.30, standardlah .... Seperti acara wisuda dimana-mana ... Ada sambutan, tayangan prestasi sekolah, pembagian hadiah bukan saja buat siswa yang berprestasi akademis (nilai raport tertinggi) tetapi juga dalam kecakapan non akademis/social relationship dan akhirnya prosesi pemberian ijasah dan tanda kelulusan. Yang khusus dan khas sekolah di lingkungan Lazuardi, wisudawan/wisudawatinya selalu diberi bekal kitab Al Qur'an.

Seperti saat wisuda di tingkat SMP, saat salah satu orangtua siswa memberi sambutan mewakili orangtua siswa lainnya, terpikir sebuah nama yang cukup familiar di telinga;

"Sepertinya nama itu cukup familiar deh ..."
"Sering muncul di berita pagi tv, kasih komentar ....", begitu jawaban singkat suami sambil menyebutkan nama stasiun tv terkait.
Segera saja teringat bahwa saya sering berhubungan dengan group usaha tersebut, sehingga saya lalu mengirim pesan kepada seorang teman yang menjadi executive secretary di perusahaan yang menginduki stasiun tv tersebut:

"Hai bu ..... aku lagi hadir acara wisuda sekolah anakku. Ada pak K nih .... Dia lagi kasih sambutan mewakili orangtua siswa!"
"Pas banget tuh ...", sahutnya. Mungkin terkait dengan jabatan si bapak.
"Sayang rumahmu jauh ya ... Kalau dekat, bisa masukkan anak sekolah ke Lazuardi tuh ... Kan si bapak itu bisa jadi referensi tentang GIS Lazuardi"
"Aku nggak suka sama Lazuardi. Ada saudara pernah menyekolahkan anaknya disana dari SD s/d SMP, banyak cerita. Jadi ... rasanya nggak cocok denganku"
"Memang apa yang diceritakan tentang Lazuardi ...", tanyaku penasaran.
"Wah sudah lupa ..... sudah terlalu lama ...., tapi kami semua bilang ... ih .... kok gitu...!"
"Oh ... OK, gak apa... Alhamdulillah, aku nggak punya pengalaman buruk. Malah anakku nggak mau pindah dari Lazuardi saat kutawari masuk SMA swasta lainnya atau negeri."
"Sekolah juga cocok-cocokan sih .....", sahutnya.
"Betul ...... Semua orangtua tentu ingin yang terbaik buat anaknya. Sesuai dengan visinya masing-masing dan nggak ada yang salah tentang itu.." jawabku menutup pembicaraan melalui gadget.

Pembicaraan itu merupakan kali kedua, saya mendengar cerita atau tanggapan yang kurang enak tentang GIS Lazuardi. Penyebabnya selalu tidak jelas karena penyanggahnya selalu tidak mau memberikan cerita yang sebenarnya. Ada apa dengan GIS Lazuardi dan apa masalah yang dihadapi oleh anak/siswa terkait sehingga orangtuanya mendapat kesan buruk terhadap sekolah ini. Yang pasti... secara perlahan cerita dan berita buruk ini menyebar, minimal di kalangan keluarga atau teman.


deretan civitas academica
Hal yang sangat berbeda, terjadi pada kami. "Setengah mati" kami meminta anak agar mau bersekolah di Jakarta saja, di lokasi yang berada dalam jangkauan jarak perjalanan kami ke kantor, dibandingkan dengan bersekolah di SMA Gis Lazuardi yang lokasinya berada di wilayah antah berantah Sawangan itu ... 

Kami sebut kampus SMA GIS Lazuardi sebagai wilayah antah berantah karena kalau tidak karena anak kami mati-matian hanya mau masuk ke SMA tersebut, mungkin wilayah Sawangan (termasuk daerah Parung Bingung) tidak akan pernah kami kunjungi hingga saat ini. 

Upaya keras anak kami untuk tetap bersekolah di GIS Lazuardi setelah menamatkan SMP di GIS Lazuardi Jakarta yang selalu disebut siswanya dengan singkatan keren mereka LAZTA, dan perdebatan panjang itu berbuah kompromi. Dia bersedia tinggal di asrama sekolah selama menempuh SMA sebagaimana yang kami persyaratkan dan karenanya rute jalan Pangkalan Jati - Bukit Cinere - jalan Raya Limo - Parung Bingung - SMA Lazuardi Sawangan, kami jalani setiap minggu sore saat mengantarnya kembali ke asrama, setelah sebelumnya pada hari Jum'at sore, anak dijemput bapaknya, sambil pulang dari tempatnya mengajar.
***

Menanggapi komentar teman tadi, dan berkenaan dengan acara pelepasan siswa SMA Lazuardi, kali ini, ingin saya berbagi sedikit tentang Lazuardi , yang mungkin sedikit berbeda dengan apa yang pernah didengar kawan saya itu, namun saya yakin dirasakan oleh sebagian besar orangtua yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah tersebut.

Lazuardi yang Global Islamic School ini sebetulnya mulai masuk "radar" pengamatan saya, saat anak saya menyelesaikan TKnya. Jadi sudah 12 tahun yang lalu, sudah ada keinginan untuk menyekolahkannya di Lazuardi. Namun lokasinya yang berada di jalan Garuda Ujung - Cinere, betul-betul di luar jangkauan kami untuk mencapainya. Kami sama sekali tidak memiliki gambaran di belahan mana Jakarta letak sekolah itu. Pertimbangan lainnya adalah bahwa selain lokasi tersebut terlalu jauh dari tempat tinggal kami atau ada sekitar 10km. Walau lalu lintas belum sepadat saat ini, namun membangunkan anak umur 5,5 tahun yang dengan terkantuk-kantuk harus menempuh perjalanan ke sekolah tentu akan menjadi beban berat. Belum lagi urusan antar jemputnya. Kami tidak memiliki supir dan merasa agak kurang nyaman bila si Anak harus ikut antar jemput. Entah jam berapa dia di jemput di pagi hari dan jam berapa pula dia akan tiba di rumah usai sekolah. Tentu kesemuanya akan sangat melelahkan buat si anak. Maka .... saat SD, si anak dimasukkan di sekolah berbasis Islam yang lokasinya hanya memerlukan waktu 10 menit ke sekolah.


Tamat SD, barulah kami kembali mencari Lazuardi dan kebetulan menemukan lokasi di bilangan jalan Margasatwa, yang sebelumnya saya ketahui digunakan untuk TK Madania. AKhirnya niat memasukkannya ke SMP Lazuardi Jakarta tercapai. Si anak dengan senang hati bisa menerima, karena dia juga tidak mau masuk sekolah terlalu pagi. Di samping itu, kami juga sangat terkesan dengan paparan pak Haidar Bagir tentang mengapa dia mendirikan sekolah ini, yang diceritakannya pada acara penyambutan siswa baru.

Ada banyak pandangan pak Haidar Bagir yang dapat kami sepakati, walau dalam perjalanannya tidak semua kebijakan sekolah dapat kami pahami terutama kalau ada kebijakan sekolah yang terlalu menekankan prestasi akademis dengan "menggojlok" anak-anak dengan persiapan UN mati-matian atau minimal setengah mati .... hehe ... Menurut saya, itu tidak sesuai dengan visinya pak Haidar .... Atau, mungkin saya yang gagal paham ...

Seperti yang sudah diceritakan, usai menamatkan SMP di sekolah yang konon menjadi salah satu dari 2 SMP di Jakarta yang dipujikan Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta sebagai SMP yang JUJUR dalam pelaksanaan Ujian Nasional, anak kami melanjutkan SMA di GIS Lazuardi Sawangan.

Apa yang menyebabkan anak kami begitu "cinta" dengan sekolah Lazuardi? Jujur saja .... saya tidak tahu, karena seringkali dia juga "ngomel" dengan ketatnya peraturan sekolah, kelelahannya mengikuti kegiatan sekolah yang baru bisa diredam kalau ibunya sudah menjelaskan panjang lebar mengenai sebab-sebab sekolah menerapkan aturan ketat kepada anak-anak, terutama tentu yang berkaitan dengan akidah. Di samping itu, kami juga mengingatkannya bahwa pilihannya untuk tetap bersekolah di Lazuardi juga karena dia tidak mau terjerumus pada perilaku hedonistis anak muda sebagaimana yang didengar dan diketahuinya dari teman-temannya semasa dia duduk di bangku SD, yang masih sering berhubungan atau terhubung dengannya melalui social media.

Ada beberapa hal positif berkenaan dengan kemandirian dan tanggung jawab anak terhadap kegiatan sekolah. Kegiatan-kegiatan in field camp di pedesaan, field trip yang cukup edukatif maupun kegiatan extra kurikulum. Namun kegiatan tersebut, di luar in field camp, biasa juga dilakukan oleh sekolah lainnya. Yang membedakan, mungkin perubahan perilaku anak, seperti yang selalu diceritakan ibu Alwiyah, sang direktur sekolah .... Beberapa bulan menjelang Ujian Nasional, tanpa paksaan anak secara disiplin belajar sendiri, membeli buku-buku soal hingga seringkali justru kami orangtuanya yang "memaksanya" berhenti belajar. Tidak ingin anak menjadi stress menghadapi ujian. 

Memang, dengan mengikuti apa yang kami terapkan pada kakaknya yang terpaut usia 15 tahun dengannya, kami "menjauhkan" anak-anak dari kegiatan les atau bimbingan belajar. Belajar di sekolah, bila siswa memperhatikan dengan baik, ditambah dengan tugas yang diterima, sudah lebih dari cukup. Apa guna guru sekolah mengajar dengan penuh dedikasi, bila anak masih membutuhkan bimbingan belajar di luar jam sekolah. Bagi kami, hal itu seperti melecehkan kemampuan guru dalam mengajar dan membimbing anak-anak. 

Kami juga seringkali merasa terharu saat kami menjenguknya di kamar, pada saat hampir tengah malam menjelang tidur, melihatnya membaca al Qur'an, bangun dan shalat tahajjud menjelang shalat subuh. Apalagi sekarang setelah kami pindah rumah dekat mesjid, si anak hampir selalu melaksanakan shalat di masjid, begitu pula pada saat subuh. Ini tentu karena kebiasaan "ketat" di asrama yang akhirnya menjadi "kebiasaan" anak. 

Terakhir yang juga tak kalah mengharukan, tanpa mengikuti les bahasa Inggris sedikitpun, dia berhasil melalui test TOEFL dengan nilai 523 ... seperti kakaknya dulu yang berhasil mendapat nilai IELTS 7,5 hanya dengan 1 kali test, padahal mereka berdua sama sekali tidak pernah ikut les bahasa. Puncaknya ... tentu keberhasilannya untuk mendapatkan nilai akademis terbaik ke 2 di kelasnya. Ini menjadi kejutan tersendiri, karena menjadi capaian yang sangat tinggi dibandingkan dengan capaiannya saat duduk di kelas X dan XI.

Segala keberhasilan  anak baik secara akademis maupun kedisiplinannya menjalankan kegiatan ibadah, tentu tidak lepas dari pendidikan yang diterimanya di sekolah.... di SMA - GIS Lazuardi. Walau ... tentu tidak seluruhnya sempurna atau memenuhi kriteria ideal. Masih banyak yang kurang karena ada beragam visi orangtua tentang pendidikan anak-anaknya... dan mungkin tidak banyak orangtua atau siswa yang menerima visi pendidikan a la Lazuardi, namun bagi kami, pilihan anak kami untuk melanjutkan sekolah di SMA GIS Lazuardi - Sawangan layak kami syukuri.
Alhamdulillah ....

Mungkin ini adalah tulisan terakhir tentang GIS Lazuardi...
Semoga sekolah ini berkembang dengan baik sebagaimana tagline yang tertulis pada back drop acara wisuda tanggal 13 Juni 2015 yang lalu
BUILD YOUR FUTURE WITH ISLAMIC CHARACTER

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...