Selasa, 26 September 2006

Inside the Kingdom - my life in Saudi Arabia


Rating:★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Carmen bin Ladin
see resume in english at http://www.bookbrowse.com/reviews/index.cfm?book_number=1448 or below.

Sekitar 3 bulan yang lalu, salah seorang guru bahasa di Pusat Kebudayaan Perancis - CCF memberi kami sebuah artikel berbahasa Perancis berkenaan dengan terbitnya buku tersebut. Dua minggu yang lalu, saya berkesempatan membaca buku tersebut karena suami menemukan buku tersebut dan membelinya.

Cerita dibuka dengan dampak peristiwa 11 September 2001 terhadap Carmen dan ketiga anak gadisnya yang ketika itu sudah lepas dari “jerat” tradisi kehidupan keluarga besan bin Laden dan sudah menikmati kehidupan di “alam bebas” Carmen tinggal di rumahnya di Swiss sedangkan anak-anaknya bersekolah di USA.

Setting cerita berlangsung antara 1973 hingga 1984 di Swiss – Jeddah/Saudi Arabia dan Amerika Serikat. Carmen berkenalan dengan Yeslam bin Laden – kakak Osama, di Swiss, ketika keluarga besar bin Laden menyewa rumah milik ibu Carmen. Sebagaimana keluarga Arab kelas atas lainnya, penampilan Yeslam tidak jauh berbeda dengan lelaki Eropa lainnya. Ganteng, kaya, terpelajar dan tentu saja modern. Tidak mengherankan bila pertemuan dua sejoli ini kemudian berlanjut menjadi semakin akrab. Pernikahannya dengan Yeslam, membawa Carmen ke dalam kehidupan dan intrik-intrik keluarga besar bin Laden. Termasuk juga pergulatannya dengan perubahan sikap hidup Yeslam yang pada akhirnya membawa pernikahannya kepada perpisahan.

Saya yang mengunjungi Saudi Arabia untuk pertama kali pada tahun 1994, 20 tahun sesudah pernikahan Carmen dengan Yeslam melihat bahwa kondisi Arab Saudi tidak seperti apa yang diceritakan oleh Carmen. Perempuan sudah banyak terlihat di luar rumah terutama di Jeddah. Bahkan saat shalat di Nabawi saya bertemu dan berbicara banyak dengan perempuan Saudi berumur kira2 40 tahun yang bercerita bahwa dia sering berkunjung ke Indonesia. Jadi agak sukar untuk membayangkan suasana Saudia tahun 1974 an.

Mungkin juga, perempuan yang “berkeliaran” tersebut hanya perempuan dari kalangan biasa, bukan dari keluarga terpandang (kerajaan dan orang kaya). Namun jangan dilupakan, Carmen terlahir dari keluarga kaya Persia, yang walaupun mengaku muslim tetapi “abangan/sekuler”. Seperti laiknya sebagian besar kelas atasnya Iran saat itu, Carmen sangat terobsesi dengan kebebasan a la Amerika – maklum jamannya Shah Reza Pahlevi. Tentu saja pola pikirnya westernized dan cenderung merendahkan akar budaya timur (Persia)nya.

Hal yang menarik yang diungkap dalam buku Inside the Kingdom dan sampai sekarang masih terjadi adalah perilaku lelaki arab (Timur Tengah) yang menurut saya agak kontradiktif dan cenderung munafik. Di negeri mereka yang berpaham Wahabi, mereka seolah-olah begitu “memegang” teguh ajaran agama Islam. Perempuan menutup rapat-rapat tubuhnya dari pandangan lelaki, membatasi interaksi lelaki dan perempuan. Tetapi begitu keluar dari tanah Arab, maka semua sontak berubah. Seolah seperti kuda lepas dari kendali, liar dalam segala hal termasuk menghalalkan segala cara dalam kehidupan seksual.

Buku ini pasti sangat menarik bagi para ”feminis”. Selamat membaca.
--------------

From the Jacket

On September 11, 2001, Carmen Bin Ladin heard the news that the Twin Towers had been struck. She instinctively knew that her brother-in-law was involved in these horrifying acts of terrorism, and her heart went out to America. She also knew that her life and the lives of her daughters would never be the same again.

In 1974 Carmen, half-Swiss and half-Persian, married into the Bin Laden family. She was young and in love, an independent European woman about to join a complex clan and a culture she neither knew nor understood. In Saudi Arabia, she was forbidden to leave her home without the head-to-toe black abaya that completely covered her. Her face could never be seen by a man outside the family. And according to Saudi law, her husband could divorce her at will, without any kind of court procedure, and take her children away from her forever.

Carmen was an outsider among the Bin Laden wives, their closets full of haute couture dresses, their rights so restricted that they could not go outside their homes-not even to cross the street-without a chaperone. The author takes us inside the hearts and minds of these women-always at the mercy of the husbands who totally control their lives, and always convinced that their religion and culture are superior to any other. And as Carmen tells of her struggle to save her marriage and raise her daughters to be freethinking young women, she describes this family's ties to the Saudi royal family and introduces us to the ever loyal Bin Laden brothers, including one particular brother-in-law she was to encounter-Osama.

In 1988, in Switzerland, Carmen Bin Ladin separated from her husband and began one of her toughest battles: to gain the custody of her three daughters. Now, with her candid memoir, she dares to pull off the veils that conceal one of the most powerful, secretive, and repressive countries in the world--and the Bin Laden family's role within it. Inside The Kingdom is shocking, impossible to put down, and a must-read for anyone who wishes to understand the events of today's world.

Media Reviews

Publishers Weekly
Addicted to the "I-married-the-Mob" genre? Try this variation: smart women who marry Islamic fundamentalists....The gravity of the events Carmen writes of, her insider's perspective and her engaging style make this memoir a page-turner.

The New York Times
Makes a fiery case against what its author calls the oppression and fanaticism that dominates much of Saudi society. Her unabashed conclusion: 'The Saudis are the Taliban, in luxury.'

Le Figaro
Takes us into the heart of the ruling class of Saudi Arabia, and into the Bin Laden tribe...The Middle Ages in the desert with dollars added...she fled the clan, fought to save her children, publicly condemned Osama, and criticized Saudi Arabia: that's a lot.

International Herald Tribune
Carmen Bin Ladin chronicles her nine years of married life in a puritanical, male-dominated community where 'women are no more than house pets'....the book is a diary-style account of her struggle to cope with rules and strictures as suffocating as the desert climate.

Paris Match
Tells how she fell in love with the rich Saudi Arabian that she met in Geneva, and how, after the early days of happiness, she had to face the reality of life within a powerful Saudi family...Today she has chosen to tell the truth...For her it is the only way to fight against the terror.

USA Today - Carol Memmott
Bin Ladin's story is a courageous one. To stand up as a woman and share her personal experiences and feelings, although quite subjectively, about the Bin Laden family's daily life in Saudi Arabia is surely a bold and possibly consequential act.

Rabu, 20 September 2006

Rame-rame cari suami JAWA

Bulan Sya'ban/September 2006 ini memang bulan pilihannya masyarakat untuk menyelenggarakan pernikahan. Jadi jangan heran, kalau dalam satu minggu, kita akan menerima 2 sampai dengan 3 undangan resepsi pernikahan. Itu berarti unpredictable cost. Coba kita hitung deh berapa besar pengeluaran tambahannya. Buat "nyecep" - kata orang Sunda, terus buat bikin baju baru ... . Perempuan kan biasanya nggak mau pake baju yang sama untuk acara yang sama (pernikahan) takut ketemu orang yang sama .... (tapi nggak termasuk gue lho ....). Belum lagi buat sanggul dan make up di Salon .... Belum lagi kalo undangannya di luar kota.  Wuaduh .... bayangin aja kalo setiap minggu selama bulan Sya'ban ada undangan dan mesti hadir ... Alamat, akan ada krisis di dapur.

Hari minggu 10 September 2006 yang lalu, gue dapet undangan pernikahan dari Padang. Ini kenalan lama waktu tinggal di Stains 1981-1984. Keluarga dosen dari Universitas Andalas. Saat mengikuti suaminya ke Perancis, uni Tjul (begitu sama memanggilnya) sudah punya 2 anak perempuan. Yang besar, Dhini (dia ini yang menikah) kira2 umur 7 tahun dan Lydia berumur 1 1/2 tahun. Baru tinggal 1 bulan di Stains, uni Tjul langsung hamil anak ke 3. Kehamilan yang berat secara psikologis maupun fisik, harus dilaluinya. Sampai2 PMI (protection Maternelle et Infantile) mengirimkan femme au foyer, yang membantu uni Tjul untuk mengerjakan urusan rumah tangga (masak, cuci, ke pasar dll). Kehamilan itu juga dilalui dengan harap-harap cemas, menginginkan kehadiran anak lelaki dalam keluarga. Maklum, punya anak perempuan saja, bagi orang Minang itu costly.

Saya yang kebetulan secara bersamaan hamil anak pertama dan tahu kekhawatiran uni Tjul, sering mengganggunya. Apalagi saat dari hasil USG, diketahui bahwa bayi saya berkelamin lelaki sementara uni Tjul ... lagi-lagi perempuan.

Kembali ke Jakarta tahun 1984, saya sempat bertemu lagi dengan uni di Jakarta dan di Padang saat ada perayaan hut REI. Saat itu, uni Tjul sudah punya anak ke 4, masih perempuan dan terakhir. Putus asa juga rupanya ..... 4 anak perempuan pasti bisa bikin pusing keluarga Minang.

Dalam perkawinan adat Minang, keluarga perempuan wajib "manjapuik marapulai" dengan sejumlah hantaran dan "uang panjapuik". Inilah sumber kekhawatiran Uni.

" Bayangkan Lin .... berapa kilo "ameh" yang mesti uni sediakan untuk manjapuik marapulai" bila anak uni berjodoh dengan urang awak...? Onde.... indak tabayang, jo uni....!" Saat itu, Dhini sudah kuliah di Unpad dan ketiga adiknya masih tinggal di Padang.  
"Doakan uni supaya bisa menyekolahkan anak-anak di Jawa ya..."
"Kenapa ni....?"
"Biar anak-anak mendapat jodoh orang Jawa. Biar putus kewajiban uni menyediakan "ameh" tu!"

Duh .... kasihan si Uni!! gue inget banget, saat di Stains, uni cerita bahwa saat menikah dengan uda, beberapa keluarga si uda memaksakan untuk meminta "panjapuik marapulai" yang sesungguhnya diluar kesanggupan keluarga uni. Untungnya, diam-diam uda sudah punya simpanan yang cukup besar sehingga demi cinta dan terlaksananya pernikahan, simpanannya itu direlakan untuk digunakan dalam acara "manjapuik marapulai".

Gue juga inget, keponakan suami (Jawa+Sunda) beberapa tahun yang lalu terpaksa putus dengan pacarnya yang anak dokter asal Minang. Konon ibu si pacar keberatan anaknya menikah dengan non Minang, karena anak lelaki (sarjana bo .... nilainya sama dengan BMW) mereka tidak akan menerima "panjapuik". 

Beberapa tahun kemudian, selesai mendapai ijasah S1, Dhini mulai kerja di Jakarta. Uni yang kebetulan berkunjung ke Jakarta, lagi-lagi berpesan....

"Carikan jodoh orang Jawa untuk Dhini ya Lin...", Gue gak bisa ngomong apa-apa .... Haree geenee ngejodohin anak orang .... Ngeri skalee....!!!

Jadi, saat menerima undangan dari uni Tjul ....buru-buru gue telpon dia ke Padang. Ngobrol agak lama, gak ngitung pulsa telpon lagi deh.

"Uni ..... selamat ya. Menantu uni; tepat dan sesuai dengan idaman uni ya....  ! Ketemu dimana tuh?"(keluarga calon suami Dhini, tinggal di Kediri - Jatim)
"Tetangga sebelah rumah kost di Depok, sewaktu Dhini ambil S2" 
"Syukurlah ....Maaf nggak bisa hadir ya, ni..., kami di Jakarta juga banyak dapat undangan pernikahan! Maklum, menjelang puasa".

"Sayang ya, nggak bisa hadir. Mohon doanya ya .... Masih berat tanggungan uni nih .... masih ada 3 anak gadis lagi yang belum menikah...!"

Waduh si uni....! , masih itu aja yang dipikirin....!

Semua anak gadisnya "diusir" dari Padang agar mendapat jodoh non Minang. Lydia, selesai kuliah di univ Andalas, lalu kerja di kantor akuntan Jakarta. Irma ... yang lahir di St Denis - France, baru selesai S1 dan sudah dikirim di Jakarta untuk cari kerja. Tinggal si bungsu yang baru masuk kuliah, tinggal bersama mereka di Padang.

Apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup? Ternyata mempertahankan adat istiadat yang sakral dan katanya bernilai budaya yang sangat tinggi dalam berbagai aspek ternyata membebani masyarakat. 

Selasa, 22 Agustus 2006

Puding Karamel


Description:
Puding Karamel biasanya jadi dessert yang tidak pernah absen dari meja prasmanan kalo sedang ada pesta pernikahan. Walaupun membuatnya mudah, ternyata tidak banyak orang yang mau susah payah membuatnya.

Ingredients:
Untuk Karamel
- 1 gelas gula putih
- 2 sendok makan air

Untuk pudding
1 lt susu cair
1/2 gelas gula
1 butir lemon parut kulitnya saja (kalau nggak ada bisa diganti dengan 10 lembar daun jeruk purut)
12 butir telur ayam
1/2 sendok teh vanilla

Directions:
Karamel.
1. Jerang gula dan air hingga gula mencair dan berwarna kuning emas. (agak lama, jadi harap sabar agar tidak gosong). Segera tuangkan ke dalam pyrex supaya tidak membeku dalam wajan.
2. Panaskan susu, vanilla dan parutan kulit jeruk (daun jeruk). Masak hingga mendidih lalu matikan.
3. Kocok gula dan telur hingga kental, lalu masukkan susu (sambil disaring agar parutan lemon/daun jeruk tidak tercampur).
4. Siapkan loyang yang lebih besar dari ukuran pyrex, isi air. Taruh pyrex diatas loyang berair (istilahnya masak "au bain marie").
5.Panggang selama +/- 40 menit.
6 Dinginkan. Bila sudah dingin masukkan ke lemari es. Siap dihidangkan setelah +/- 12 jam setelahnya.

Nasi goreng


Description:
Nasi goreng ini, makanan rakyat banget. Mulanya dibuat untuk menyiasati sisa-sisa makan malam yang tak habis. Jadi semua di campur aduk ... cuma sayangnya, rasanya jadi nggak keruan. Jadi sekarang Nasi gorengya harus pakai bahan yang fresh, supaya "rasanya" lebih pas. Silahkan coba. Resep ini ada 3 macam, yang Nasi goreng biasa - Nasi Goreng Gila dan NAsi goreng ala Chinese.

Kalau suka, nasi goreng juga bisa ditambahkan dengan buah segar seperti apel, nanas atau mangga muda diiris cube 5x5x5 mm. Masukkan terakhir supaya buah2annya tidak layu karena panas.

Ingredients:
Bahan Dasar :
150 gr beras dimasak (jangan terlalu lembek), dinginkan. Kalau bisa diamkan di lemari es semalaman.
1 batang daun bawang di iris halus
1 butir telur ayam
3 sendok makan miyak goreng
1/2 sendok teh minyak wijen
1/2 sendok teh worchester sauce

Untuk Tambahan
udang segar, kupas kulitnya dan buang kepala
3 butir baso iris tipis
1/4 dada ayam diiris tipis
5 butir jamur iris tipis (bila suka)
1/2 papan pete dipotong 3 lalu digoreng dulu (bila suka)
2 sendok makan kacang polong (untuk chinese fried rice)

Bumbu
Nasi goreng Asli
Haluskan
- 5 butir bawang merah
- 1 butir bawang putih
- 3 buah cabe merah
- 1/2 sendok teh terasi matang
- garam sesuai selera

Nasi Goreng Gila
15 buah cabe rawit merah diiris tipis (masukkan terakhir sebelum diangkat)
Haluskan
- 3 butir bawang putih
- 1/2 sendok teh terasi

Chinese Fried Rice
1/2 sendok teh merica halus
Cincang
- 1/4 bawang bombay
- 2 butir bawang putih

Directions:
1. Panaskan minyak, lalu goreng telur sambil di acak2 (seperti membuat scramble egg) lalu angkat
2. Masukkan bumbu halus/cincang, tambahkan minyak goreng bila dirasa kurang. Aduk hingga harum, lalu masukkan daging ayam, baso iris, jamur, bumbu (worchester sauce + garam) Masak hingga matang.
3. Masukkan nasi dingin dan telur goreng. (masukkan merica untuk Chinese Fried Rice), aduk hingga semua bumbu tercampur. Rasakan bumbu (garam). Aduk terus hingga nasi menjadi panas (keluar asap tipis)
4. Masukkan sisa bahan (misalnya kacang polong, daun bawang, cabe rawit dan buah2an). Masukkan minyak wijen. Aduk hingga rata.
5. Angkat dan hidangkan.

Catatan.
- Bisa disajikan dengan tambahan acar atau irisan mentimu.

Senin, 14 Agustus 2006

Pos Indonesia – Pelayanan Publik yang semakin dilupakan.


Jum’at sore 11 agustus lalu, saat pulang kantor, ada siaran bincang-bincang (talk show) di RRI Pro 2 FM antara penyiar – Reader’s Digest Indonesia dan nara sumber psikolog Sartono Mukadis. Topiknya mungkin (karena saya hanya mengikuti kira-kira 15 menit menjelang akhir acara) mengenai persepsi orang Indonesia terhadap Negara (Indonesia)nya. Topik ini diangkat, berdasarkan survey yang dilakukan oleh Reader’s Digest Indonesia, mengingat banyak ketidak puasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah terutama pada sector pelayanan publik, bencana-bencana yang tidak tertangani dengan baik dan banyak hal yang menyangkut hajat hidup sehari-hari.

Tiba pada pertanyaan tentang sektor pelayanan publik mana yang dianggap paling memuaskan kebutuhan masyarakat, hasil survey Reader’s Digest menyatakan bahwa layanan informasi 108 yang diberikan oleh PT. Telkom, menduduki peringkat tertinggi.

Sartono Mukadis, kemudian menimpali bahwa baginya, pelayanan PT. Pos Indonesia adalah pelayanan publik yang paling memuaskan baginya seraya memberikan beberapa contoh pengalamannya tatkala berhubungan dengan PT. Pos Indonesia. Yang paling mengesankan adalah tatkala pak Sartono Mukadis menceritakan bahwa dia mengajukan pertanyaan kepada pengantar surat; bagaimana cara seorang pengantar surat menemukan alamat rumah di lingkungan yang penomoran rumahnya tidak beraturan. Atas pertanyaan tersebut pengantar surat menjawab “kami ditugaskan untuk menghapalkan nama orang dan tempat kediamannya, bukan alamat dan nomor rumahnya”. Itu yang menyebabkan, betapa sukarnya alamat pos di Jakarta, pengantar pos akan menemukan dan menyampaikan suratnya. Itu juga yang menyebabkan, untuk orang-orang yang seringkali menerima kiriman surat, walaupun nomor rumah pada alamat yang tertera dalam surat, salah, maka pengantar surat masih dapat menyampaikannya ke alamat yang tepat.

Selama ini, persepsi masyarakat terhadap pelayanan PT. Pos Indonesia memang cenderung negatif. Lambat, tidak professional dan banyak lagi hal-hal negatif yang dikemukakan. Saya juga teringat pengalaman pembantu di rumah, tatkala dia mengirim uang, melalui wesel untuk anaknya, di kampungnya, desa Cihampelas kecamatan Cililin – Cimahi. Mungkin, jaraknya tidak lebih dari radius 50 km dari kantor pusat PT. Pos Indonesia di Bandung.

Selama + 4 bulan, melalui telpon, keluarganya di kampung berulang kali menanyakan kiriman uang tersebut. Ketika itu dijawab bahwa kiriman uang selalu dikirim tiap bulan, melalui kantor pos besar di Jl. Fatmawati Jakarta, tepat waktu dan agar ditanyakan ke kantor pos di kecamatan tujuan. Namun mereka menyatakan tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari petugas pos kecamatan. Hingga akhirnya tatkala hari lebaran, pembantu pulang ke kampung. Dia datang ke kantor pos seraya menunjukkan bukti-bukti pengiriman wesel, dengan enteng oknum pegawai PT. Pos Indonesia di kecamatan tersebut menyatakan bahwa berkas wesel selama 4 bulan tersebut terselip di antara tumpukan kertas dalam laci meja. Bukan main ......!!!

Bayangkan .... 4 bulan, kiriman uang tidak dibayarkan. Padahal uang itu sangat ditunggu untuk biaya hidup seorang anak kelas 1 SD. Kalau saja bukti pengiriman itu tidak disimpan dengan rapi, entah bagaimana nasib uang yang telah terkirim itu. Sejak saat itu, kiriman uang yang biasanya dilakukan melalui wesel pos, dialihkan melalui bank. Dan saya, kemudian, sebisa mungkin menghindar untuk berhubungan dengan Pos.

Namun, pengalaman yang diungkapkan oleh pak Sartono Mukadis dalam acara di RRI Pro2FM tersebut membuat saya memutar kembali ingatan tentang hal-hal positif dalam berhubungan dengan PT. Pos Indonesia.

Ini pengalaman ketika kami masih tinggal di bilangan Bekasi, tepatnya di perumahan Kemang Pratama antara tahun 1988 – 2000. Selama kurun waktu 12 tahun tersebut, kami sempat berpindah alamat rumah sebanyak 4 kali dan selama itu pula tidak ada satu suratpun yang luput kami terima. Surat-surat tersebut selalu tiba di alamat tempat kediaman kami yang baru. Bahkan surat dari kawan-kawan lama yang di alamatkan ke rumah yang pertama kali kami huni di perumahan tersebut, tidak pernah dikembalikan ke alamat pengirim, karena pengantar surat dengan lugas mengikuti jejak kami di alamat baru. Dan yang lebih mengharukan lagi, lebih dari 6 tahun setelah kami pindah dari Kemang Pratama, surat-surat untuk kami yang di alamatkan ke Kemang Pratama, masih dapat kami terima dengan selamat. Caranya ....? petugas pos menitipkannya ke alamat kakak ipar yang juga tinggal di perumahan yang sama. Kebetulan nama kakak-beradik di keluarga suami memang hampir sama. Bukan main ..... !!

Pengalaman baik dengan Pos Indonesia juga dialami saat mengirim paket melalui layanan EMS (Express Mail Service) untuk anak yang saat itu tinggal di Brisbane - Australia. Layanan ini memang cepat dan akurat apalagi ada fasilitas ”Mail Tracking” dimana kita dapat menelusuri perjalanan surat/paket tersebut, sejak diterima petugas kantor pos, perjalanannya di kantor-kantor pos antara hingga diserahterimakan di alamat tujuan surat/paket, melalui internet.

Bahkan, saat paket tersebut tidak dapat diserahkan kepadanya karena dia selalu tidak berada di tempat saat pengantar surat/paket datang, mereka menelpon dan menanyakan apakah surat perlu di retour atau di simpan terlebih dahulu di kantor pos tujuan seraya meminta saya mengirim sms/email memberitahukan keberadaan paket tersebut.

Dibandingkan dengan pelayanan jasa kurir semacam FedEx, DHL dan lainnya, biaya pengiriman melalui EMS jelas jauh lebih murah. Bahkan hanya sekitar 50% - 60% dari biaya yang biasa dikenakan jasa pengiriman swasta. Apalagi banyak kasus dimana jasa layanan kurir swasta terutama yang berlabel lokal, melakukan kecurangan, yaitu ”membuang” atau tidak menyampaikan surat yang dititipkan.

Namun demikian, tentu masih banyak pelayanan pos yang perlu diperbaiki. Kenyamanan dan keamanan layanan Pos Indonesia hanya dapat dinikmati di kota-kota besar saja dan belum dapat dinikmati oleh masyarakat pedesaan karena berbagai macam alasan. Entah itu karena jumlah pegawai yang kurang, alat transportasi yang kurang memadai sementara jarak dan medan pedesaan sulit terjangkau atau mungkin juga karena tidak ada insentif yang memadai bagi para pengantar surat. Padahal ... pada era cyber technology sekarang ini, masyarakat perkotaan secara berangsur meninggalkan jasa pos untuk mengirim surat dan uang, maka kepada masyarakat pedesaan dan kota kecil terpencillah, layanan pos masih dapat dioptimalkan. Sayangnya, layanan inipun membutuhkan biaya yang tidak kecil, yang mungkin sulit ditanggung oleh PT. Pos Indonesia bila mereka dibebankan kewajiban untuk beroperasi secara mandiri. Seharusnya layanan publik semacam ini terutama untuk layanan di daerah-daerah terpencil yang seringkali disebut sebagai ”layanan perintis” menjadi tanggungan pemerintah sepenuhnya.

Semoga Pos Indonesia dapat terus meningkatkan layanannya kepada masyarakat perkotaan maupun pedesaan di tengah era cyber technology dan persaingan dengan jasa kurir swasta ini.

Sabtu, 12 agustus 2006 jam 16.25


Rabu, 12 Juli 2006

Perjalanan mencari jati diri (1) - Medina Al Munawarah


Pengantar.
Dengan kerendahan hati, mohon dimaafkan bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memamerkan ritual ibadah, tetapi lebih ditujukan untuk membuat catatan perjalanan saja.
Nilai spiritualnyapun rendah. Tidak akan ditemui ledakan emosi yang dalam saat memiliki kesempatan berdoa di Raudhah, melihat Kaabah ataupun mencium Hajar Aswad. Mungkin karena ini bukanlah perjalanan ibadah ke tanah Haram yang pertama. Yang tidak bisa hilang adalah rasa haru yang sangat mendalam dan menyebabkan airmata berlinang tak terasa, saat berjalan menuju makam Rasulullah untuk berziarah sambil mendengar cerita perjuangan beliau yang dibawakan oleh muthawwif serta saat memberikan salam untuknya.
Cerita ditulis di Jakarta, satu minggu setelah tiba kembali di tanah air dengan selamat. Semoga cerita ini bermanfaat bagi yang membacanya.


 Prolog.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia seringkali kehilangan jatidirinya. Demi suatu kehidupan sosial yang dikatakan “beradab” kita seringkali terperangkap dalam basa-basi yang lama kelamaan terasa membosankan dan melelahkan. Bukan saja dalam kehidupan bermasyarakat, terkadang terjadi juga dalam kehidupan rumahtangga. Ada banyak cara orang melepaskan topeng-topengnya. Berwisata ketempat-tempat sepi, bertualangan di rimba belantara bisa menjadi salah satu cara.


Sejak awal tahun 2006, kami sekeluarga sudah merencanakan melaksanakan ibadah umroh. Awalnya sekalian berlibur ke Istanbul, menyusuri jejak kejayaan masa kerajaan Ottoman di Turki. Sayangnya rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena jadwalnya kurang sesuai dan Lulu agak takut. Bulan April 2006 yang lalu, saat melihat film Forces of Nature di teater IMAX – Keong Emas TMII, salah satu episodenya menceritakan tentang gempa bumi dahsyat yang diprediksi akan berulang lagi pada tahun 2007 di lokasi sekitar 10 km dari Istanbul (gempa terakhir terjadi tahun 1997 di Izmits). Ya sudahlah … akhirnya diputuskan hanya akan melaksanakan umroh saja.


Persiapanpun dilakukan, termasuk menjahit baju yang diperlukan selama beribadah. Maklum saja, perjalanan terakhir umroh sudah cukup lama, sehingga baju putihnya sudah tidak dapat lagi digunakan. Yang agak istimewa, mungkin karena kali ini saya berniat untuk merekam perjalanan umroh dalam bentuk jurnal (tulisan). Untuk mendukung rencana tersebut, buku, ballpen, digital camera, web-cam maupun camera-phone sebagai cadangan sudah disiapkan.


Perjalanan umroh regular kali ini akan memakan waktu 9 hari. Berangkat hari Senin 26 Juni 2006 jam 16.20 dengan pesawat Saudi Arabia SV-815 dan tiba di Jakarta hari Selasa 4 Juli 2006 jam 11.20. Hari senin, kami sudah mulai cuti kerja dan Lulu sudah dimintakan ijin dari sekolah. Menjelang berangkat, saya sudah ke sekolah menyelesaikan semua kewajiban terhutang agar tidak ada suatu hal yang mengganjal perjalanan. Usai dari sekolah Lulu, ternyata biro perjalanan menelpon ke rumah, mengabarkan bahwa perjalanan diundur menjadi jam 18.00. Namun demikian jamaah diharapkan sudah berkumpul di Bandara pada jam 16.00 wib. Jadi jam 14.00 kamipun berangkat ke Cengkareng. Maklum, lalu lintas Jakarta pada hari kerja super macet.


Jakarta – Cengkareng.
Tiba di Cengkareng dan menyerahkan koper kepada petugas, kami harus menunggu boarding pass dan ticket untuk bisa masuk airport. Ini khas perjalanan rombongan hehe…!! Sambil menunggu, ternyata di signboard tertulis bahwa penerbangan SV-815 delayed menjadi jam 19.00. Jadi sudah terlambat 2 jam 40 menit dari jadwal semula jam 16.20. Padahal pada tanggal 27 juni jam 5.35 waktu Saudi, kami sudah harus terbang ke Madina. Hitung-punya hitung, bila penerbangan on time (maksimal 10 jam), masih ada waktu yang cukup untuk transfer pesawat. Jadi hati masih tenang. Masih ada waktu cukup. Semoga petugas immigrasi di Jeddah tidak mengada-ada dan semua berjalan lancar.


Jam 18.00 penumpang sudah mulai boarding … Pesawat fully booked dan 75% terisi oleh para TKI. Wah …. sudah mulai terbayang, kualitas penerbangan macam apa yang akan terjadi nanti. Sambil menunggu pesawat take off, buku dikeluarkan, mulai menulis pembukaan jurnal perjalanan. Ternyata pesawat baru take off pada jam 20.00 untuk transit di Singapore 1 jam, lalu disambung dengan perjalanan SingaporeRiyadh selama 8 jam dan Riyadh – Jeddah 1 jam. Jadi, secara teroritis  perjalanan akan memakan waktu total 12 jam, sejak take off dari Cengkareng. Cuma ada waktu 1,5 jam untuk transfer pesawat dari internasional ke penerbangan domestik Jeddah-Medina.


Terbang dengan TKI atau penerbangan dengan jamaah haji regular, hamper sama. Bisa dipastikan kita harus menahan diri ketika menggunakan toilet, karena biasanya cabin pesawat akan harum dengan bebauan berbagai minyak angin dan balsam, toilet pesawat menjadi amat sangat jorok. Lantai basah…., closet kadang tidak dibersihkan sehingga menimbulkan bau menyengat, kertas pembersih bekas pakai bertaburan disana-sini, kotoran bekas muntah menumpuk di atas wastafel. Duh ...., perjalanan panjang malam hari menjadi sangat menyiksa, karena keinginan buang air kecil akibat udara dingin di pesawat terpaksa ditahan. Kalau terpaksa menggunakan toilet maka harus masuk di toilet executive class (yang kadang-kadang dilarang oleh pramugari) atau terpaksa menahan rasa mual dan jijik saat menggunakan lavatory.


Tiba di Riyadh, hati sudah mulai deg-degan saat seluruh penumpang diminta turun ke ruang transit. Ini alamat buruk, bahwa pesawat tidak akan take off dalam waktu 1 jam. Betul saja.... pesawat ternyata delayed lagi. Tidak tanggung-tangung, 3 jam ….!!! Pupus sudah harapan untuk tiba di Medina hari selasa pagi. Sambil menunggu di airport Riyadh, setelah menunaikan shalat Subuh, saya putuskan untuk menulis lagi. Tapi ... astaghfirullah .... buku tulis yang saya yakin sudah dimasukkan ke dalam tas menjelang turun ke ruang transit, ternyata raib ... hilang tak berbekas. Duh .... mulai hati tercekat, mungkin Allah tidak meridhoi ibadah dicampur-campur dengan niat lain walaupun itu sekedar hanya untuk menulis kesan perjalanan saja. Bukan tidak mungkin, keterlambatan demi keterlambatan yang terjadi dalam penerbangan kali ini dan raibnya buku merupakan pertanda yang diberikanNya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Sudahlah ... rencana menulis jurnal dibatalkan saja. Lebih baik dzikir di sepanjang perjalanan daripada menulis dan mengotori hati melihat kekurangan selama di perjalanan.


Pesawat SV815 akhirnya tiba di Jeddah airport sekitar jam 6.30. Dari 32 orang anggota rombongan kami, 9 orang (termasuk saya) tidak mungkin lagi mengejar penerbangan berikutnya ke Medina. Ini peak season, kalaupun dipaksakan, kami baru bisa terbang pada jam 18.45 itupun sebagioan masih waiting list. Apalagi, menunggu selama 12 jam di airport pasti sangat tidak menyenangkan. Setelah berembuk, terutama setelah penyelenggara meminta pendapat kami yang sudah mengetahui medan dan perjalanan ke Medina baik melalui darat maupun udara, akhirnya semua sepakat untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan minibus ke Medina dengan waktu antara 4 – 5 jam menempuh jarak +525km di tollway. Blessing in disguise, Haikal yang imut seperti boneka berwajah arab (kata suami), sang ustadz pembimbing ternyata ikut tertinggal pesawat. Jadi kami ber 12 berangkat dengan minibus ke Medina.


Inipun bukan perjalanan menyenangkan, restroom yang tersedia di rest area sepanjang tollway sudah dipastikan sangat jorok, walaupun air berlimpah. Entah budaya orang Arab atau budaya para penggunanya yang datang dari berbagai negara seluruh penjuru dunia yang jorok. Padahal, bukankah kejorokan sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang menomorsatukan kebersihan?


Medina al Munawarah – Saudi Arabia.
Tiba di Medina, selasa 27 Juni menjelang maghrib, kami masih harus menunggu kamar dibersihkan. Maklum peak season. Jangan berharap mendapat welcome drink dari hotel. Kalau beruntung, kita masih bisa ikut ambil minum di restotan tempat makan para jamaah disediakan.


Setelah mendapat kunci kamar 419 hotel Dallah Taiba dan masuk kamar, kami berencana membersihkan diri sebelum berangkat menunaikan shalat Maghrib di Nabawi. Tapi, lagi-lagi “kecelakaan terjadi”. Salah satu koper tidak dapat dibuka! Padahal sungguh mati, kode kuncinya adalah komposisi angka yang sangat mudah diingat. Sebelum berangkatpun sudah dicoba berulang kali untuk memastikan bahwa komposisi itu sudah benar.


Entah pertanda apa lagi. Introspeksi diri lagi …. Istighfar lagi…, mungkin masih ada prasangka buruk yang tidak disadari masih tersimpan dalam hati. Mungkin hati saya masih penuh caci-maki atas berbagai keterlambatan perjalanan ini. Istighfar ... istighfar ... istighfar ... Perjalanan ke tanah Haram ini, bagi saya memang membawa nuansa tertentu. Terlalu banyak hal-hal di luar nalar yang menimpa dan hanya kepasrahanlah yang menjadi obat penawarnya. Tanpa mandi, kami bertiga terpaksa bergegas ke masjid Nabawi untuk shalat Maghrib dan disambung dengan Isya. Usai shalat dan makan malam, terpaksa kunci koper dirusak agar bisa mengambil baju ganti.


Rabu 28 juni 2006, usai shalat subuh dan sarapan pagi, peserta diajak ziarah ke makam Rasulullah SAW dan makam para syuhada di Baqi. Sambil berjalan, Haikal bercerita banyak tentang Rasulullah SAW. Sungguhpun cerita tersebut sudah didengar berulang kali, namun rasa haru yang sangat mendalam selalu menyergap hati. Tanpa terasa airmata berlinang … tanpa dapat dibendung. Mungkin jamaah lain merasa heran, mengapa kami yang notabene sudah berulang kali mengunjungi Medina, justru tidak dapat menahan airmata. Tapi biarlah … masing-masing jamaah mengalami pengalaman spiritual yang berbeda yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun.


Ziarah ke makam Rasulullah SAW hanya dapat dilakukan dari jarak jauh. Usai mengucap salam, salawat, doa bagi Rasulullah SAW, salam dan doa bagi sahabat Abubakar Ash Shiddiq dan Umar Ibn Khattab  serta para syuhada di makan Baqi, para perempuan dipersilakan untuk masuk Raudhah. Pagi hari adalah waktu yang diperuntukkan bagi perempuan untuk memasuki Raudhah dan sayangnya akses dari Raudhah ke makam Rasululullah SAW tertutup sehingga kami tidak dapat mendekati rumah Rasul. Raudhah, sedang di renovasi.


Usai shalat sunnah di Raudhah dan berdoa, saya meluangkan waktu sejenak untuk shalat Tasbih di Nabawi sebelum kembali ke hotel. Shalat Tasbih seperti ini terasa sukar dilakukan di Jakarta, apalagi di tengah kesibukan duniawi yang mendera. Jadi kesempatan langka di tanah Haram rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Masa libur sekolah ini dipergunakan juga oleh para selebriti untuk berumroh dan membuat heboh ruang makan karena banyaknya orang yang berebut berfoto bersama. Tercatat adalah rombongan sinetron Kiamat Sudah Dekat (Deddy Mizwar cs), Doyok cs, Didi Petet. Semuanya terlihat dengan keluarga. Ada selebriti yang terlihat tekun dan rendah hati saat beribadah. Namun ada juga yang masih sukar melepaskan diri dari predikat selebriti. Biarlah, hanya Allah SWT yang mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati mereka.

Kamis, 06 Juli 2006

Ibadah dan kemajuan teknologi.


Kemajuan teknologi komunikasi memang luar biasa pesatnya. Saat wireless/mobile telephone masuk ke Indonesia sekitar 20 tahun yang lalu, bentuknya betul-betul sangat tidak menarik. Handset nya masih seperti fixed telephone dilengkapi dengan batere seperti accu mobil. Jadi cukup besar dan tidak mungkin dibawa kesana-kemari sehingga lebih banyak digunakan sebagai telpon yang diletakkan di dalam mobil. Harganyapun sangat mahal. Kira-kira lima belas juta rupiah atau setara dengan usd 23.000 pada saat itu (kurs sekitar Rp.650,-). Fungsinya pun betul-betul masih sangat sederhana. Tidak jauh dengan fixed telephone yang ada di rumah. Pemiliknya tentu saja hanya orang-orang kaya dan karenanya antena wireless telephone berbasis CDMA tersebut akan menghiasi atap mobil-mobil mewah mereka. Saat itu, mobile telephone merupakan status symbol tersendiri pemiliknya

Era palm telephone berbasis GSM di Indonesia mungkin dimulai pada awal tahun 90 an. Jangan bayangkan bentuknya sekecil dan seindah handphone sekarang. Rata-rata ukurannya sebesar ukuran Nokia-9300 dengan feature yang sangat sederhana. Berfungsi sebagai telpon saja. Short message service – sms pun baru bisa dilakukan oleh telkomsel. Indosat belum belum bisa melayani sms. Pemilik handphone, lagi-lagi masih sangat terbatas dan kesemuanya berbasis abonemen. Belum lagi ada layanan pra bayar.

Penggunaan kartu prabayar, lagi-lagi dimulai oleh Telkomsel dengan meluncurkan kartu simpati (local), kalau tidak salah, pertama kali di Batam. Kiat ini tentu saja dilakukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas lagi. Belakangan, seluruh provider memiliki 2 jenis SIM card yaitu prabayar dan pasca bayar.

Era tahun 2000 an, penggunaan mobile telephone - handphone atau singkatnya disebut HP sudah sangat meluas. Feature handsetnya sudah sangat luas. Dari yang sangat sederhana hingga berfungsi sebagai PDA, communicator, camera/videophone dan walkman. Perputaran model dan feature sedemikian cepatnya. Tua muda, kaya miskin kesemuanya tergila-gila oleh kecanggihan alat komunikasi yang satu ini.

Menggunakan pesawat telpon tentu memerlukan etika agar alat komunikasi ini dapat digunakan dengan baik dan benar serta tidak mengganggu orang lain. Seringkali kita diingatkan untuk tidak menyalakan HP saat rapat, beribadah maupun dalam perjalanan (saat menyetir mobil). Termasuk juga kala berada di dalam pesawat terbang. Signal HP dikhawatirkan mengganggu system komunikasi dan navigasi pesawat.

Sayangnya tidak banyak orang mau mematuhinya sehingga seringkali rapat kita terganggu karena ada panggilan telpon yang masuk. Kekhusu’an ibadah kita terusik oleh dering panggilan HP yang masuk berulang kali. Mungkin si penelpon lupa bahwa dia melakukan panggilan pada jam-jam kita melaksanakan shalat

Sementara itu, tidak jarang pemilik telpon, tanpa rasa malu ataupun bersalah, menjawab panggilan tersebut di dalam masjid. Bahkan ada orang yang tidak sungkan untuk bertelpon ria saat melakukan tawaf dan sai. Bayangkan, saat kita menjadi tamu Allah SWT di Baitullah, masih juga mendahulukan kepentingan duniawi (menjawab dan berbicara di telpon) dibandingkan dengan khusu’ melaksanakan dan meneladani ritual agama yang telah dijalankan oleh para nabi sejak jaman nabi Ibrahim AS. Atau kita merasa lebih mulia dari tuan rumah (Allah SWT), sehingga sang Tuan Rumah kita abaikan demi panggilan umat manusia lainnya di seberang sana? Astaghfirullah ……

Kalau sudah begini, bagaimana mungkin, kita yang masih lebih tergoda pada nafsu keduniawian memperoleh hidayah Allah SWT. Bagaimana mungkin, kita yang masih mengabaikan Tuan Rumah, bahkan di rumahnya sendiri (Baitullah) dengan menjawab telpon sambil bertawaf/sai masih berharap pahala dari Allah SWT atas tawaf dan sai yang kita lakukan? Semoga Allah SWT mengampuni mereka yang khilaf.Wa Allahu Alam ….

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...