Selasa, 31 Oktober 2006

Indahnya keikhlasan.

Hari Selasa 24 Oktober 2006 yang lalu, Lebaran hari pertama atau hari kedua bagi yang mengikuti jadwal lebaran versi Muhammadiyah, pada siang hari adalah jadwal kunjungan keluarga besar ibu saya, ke rumah. Yang hadir biasanya 3 orang adik lelakinya beserta keluarga dan keluarga adik sepupunya beserta anak-menantunya.

3 adik terkecil ibu saya, semasa remaja hingga mereka menikah, tinggal susul menyusul bersama kami, menjadi tanggung jawab bapak saya seiring dengan meninggalnya opa pada tahun 1967. Apalagi umur mereka tidak terpaut jauh dengan saya. Bahkan adik bungsu ibu saya hanya terpaut 1 bulan saja usianya. Jadi kami memang saling menyapa dengan nama saja, apalagi istri-istri mereka berusia jauh lebih muda daripada saya.

 Tahun ini, hanya satu adik lelakinya yang hadir dengan istrinya. Satu orang adik bungsunya berlebaran di Padang dan sudah berangkat pada tanggal 21 oktober yang lalu. Sedangkan satu lagi adik lelakinya tidak dapat datang karena YH istrinya, sudah hampir satu tahun ini menderita kanker rahim. Konon katanya sudah mencapai stadium lanjut. Bahkan, beberapa bulan yang lalu, saat dirawat di RS St Carolus, dokter memprediksi umurnya hanya tinggal sekitar 3 bulan saja. Prediksi ini ternyata sudah terlewati, Allah SWT yang menentukan umur seseorang, bukan dokter.

Ihwal perawatan ini, sering memicu diskusi panjang di antara keluarga. YH hanya sempat dirawat di RS St, Carolus selama 3 hari saja. Entah apa sebabnya, dia kembali dirawat di rumah. Berita yang tersebar, konon ustadt yang mencoba menyembuhkannya melalui pengobatan spiritual (dzikir) berkeberatan dengan intervensi medis. Saya menduga bahwa biaya perawatan yang tinggi dengan tipisnya harapan akan kemungkinan sembuhnya penyakit tersebut menjadi faktor utama dari pengambilan keputusan tersebut.

Salah satu adik ipar (lsuami adik bungsu saya) termasuk yang “ngotot” akan hal ini :
“Kenapa nggak jual rumahnya saja untuk biaya rumah sakit?”
“Gila …!!! Rumah yang mana lagi?”
”Ya rumah yang ditinggali itu!”
”Lalu, mereka mau tinggal dimana?”
”Minimal, ada usaha untuk menyembuhkan penyakit...!”

”Lho ...., kok enak aja ngomong begitu! Kita yang tidak terkait dengan penderitaan mereka, sebaiknya nggak usah berkomentar panjang lebar. Apalagi kalau cuma ngomong aja dan nggak ada usaha apapun untuk mengurangi penderitaan mereka!”
”Tapi ..., masa iya, penyakit gawat begitu cuma diobati oleh ustadt?”
”Apapun caranya... itu sudah merupakan usaha mereka untuk menyembuhkan penyakit yang diderita”.
”Tapi ... bukan dengan dengan ustadt dong ... Pantasnya ya ke rumah sakit”.

”Setiap orang mengobati penyakit sesuai dengan kemampuan dan keyakinannya. Kalau punya uang tentu akan dibawa ke RS atau bahkan hingga ke luar negeri. Tapi saat kita tidak mampu, maka pengobatan alternatif menjadi pilihan. Tetapi apapun jalan yang ditempuh, itu adalah cara pengobatan yang dipercayainya”.

”Makanya kubilang, jual aja rumahnya untuk biaya RS. Aku dulu sampai habis-habisan untuk bayar biaya rumah sakit istriku. Kalau kita ikhlas, Insya Allah, ada gantinya”.

”Berapa sih harga rumahnya itu? Katakanlah harga tanahnya 1 juta/m2. Paling banter dia hanya akan dapat uang bersih sebesar 100 juta. Apa yang bisa diharapkan dari uang sebesar itu untuk pengobatan kanker yang panjang dan rumit? Apalagi penyakitnya sudah masuk stadium lanjut. Realistis sajalah .... Yang ada, uang ludes, dan yang sakit akan meninggal juga.”

”Minimal, sudah ada usaha!”

”Usaha apa yang bisa dilakukan untuk kanker stadium lanjut dengan uang 100 juta? Itu ibarat menabur garam di laut... Gak terlihat manfaatnya. Lalu, setelah rumah terjual, mau kemana mereka tinggal? Di emperan? Di kolong jembatan? Rumah yang sekarang aja sudah kumuh kok...! Setiap orang punya masalahnya sendiri. Kamu dengan mudah menjual rumah karena tahu ada kakak/ipar yang mampu membantu dalam kondisi darurat. Tetapi mereka tidak punya siapapun yang dapat dijadikan tempat bersandar kala dibutuhkan. Tidak ada orangtua/mertua yang mampu menyokong. Apalagi mengharap bantuan kakak/adiknya. Kalaupun kakaknya mampu, tapi itu sama sekali tidak mungkin. Kamu tahu betul bagaimana mereka! Sudahlah .... jangan banyak komentar. Kalau mau, bantu saja sebisanya, tapi jangan berkomentar yang menyakitkan”.

Percakapan semacam itu selalu menjadi topik berulang, manakala kami mendengar perkembangan penyakit YH.

Siang itu, saat kami menelpon ke rumah dalam perjalanan pulang dari rumah ibu mertua saya di Cipinang, adik saya bercerita bahwa oom tidak mungkin datang ke Lebak Bulus untuk berlebaran. Kondisi YH sangat tidak memungkinkan untuk ditinggal. Mendengar kabar tersebut, spontan saja diputuskan untuk berkunjung ke rumah mereka di Pondok Pekayon Indah, usai shalat Isya.

Kehidupan di Jakarta memang semakin membuat tali silaturahmi kerap terputus akibat kesibukan (sikap pura-pura sibuk) manusia penghuninya. Lebaran tentu selayaknya menjadi kesempatan yang baik untuk menjalin kembali keakraban di antara keluarga besar. Namun demikian, niat baik untuk bersilaturahmi ini masih memerlukan konfirmasi dari yang bersangkutan. Maklum saja ... jarak Lebak Bulus ke Bekasi lumayan jauh. Jangan sampai kami hanya mendapati rumah kosong setelah menempuh kemacetan dan jarak yang lumayan jauh itu.

Sekitar jam 20, usai shalat dan makan malam, berdua kami kembali menyusuri jalanan yang relatif lebih lengang menuju Bekasi via jalan tol. Agak bingung juga mencari rumah yang kerap kami datangi dulu. Sudah hampir 7 tahun kami tidak mengunjungi mereka, apalagi sejak kepindahan kami dari Kemang Pratama di pertengahan tahun 2000. Untunglah, keberadaan telpon genggam sangat membantu  dalam menemukan rumah di dalam komplek yang dipenuhi dengan portal terkunci untuk alasan keamanan selama masa libur lebaran.

Rumah mungil yang dulu terawat rapi itu sudah terlihat sangat kusam dan kumuh. Rumput hijau dan bebungaan yang dulu menghiasi halaman muka sudah tak tampak lagi. Entah mati kekeringan karena kemarau panjang tahun ini atau juga mungkin mati seiring dengan penderitaan sang ibu rumah tangga yang biasa menyirami dan memupuknya. Plafon rumah yang hancur dimakan bocor menyeruak disana-sini. Dindingpun sudah kotor tanda sudah terlalu lama tak tersentuh cat. Jujur saja, sejak mereka pindah ke Pekayon sekitar tahun 1988 yang lalu (wah ... tidak terasa, sudah hampir 20 tahun lamanya mereka tinggal disana), saya tidak tahu sama sekali apa pekerjaan/profesi oom. Ini pertanyaan sensitif yang terasa kurang layak diajukan pada siapapun.

Oom sudah siap menunggu kami di muka rumahnya. Setelah cukup berbasa-basi, tiba juga pertanyaan mengenai kondisi YH.
”Dia baru saja tertidur....”
”Oh ... kalau begitu, nggak usah diganggu. Biar kita ngobrol disini saja. Apa sebetulnya penyekit yang diderita”

“Kanker rahim ... entah sudah stadium berapa. Saat dirawat di RS, Dokter memperkirakan hanya tinggal menunggu masa 3 bulan saja. Itu sebabnya, YH meminta untuk dirawat dirumah saja. Selain itu, kami memang tidak mempunyai biaya yang memadai. Jujur saja ... saat membawa YH masuk RS, saya hanya memiliki uang 500 ribu saja. Hanya atas kuasa Allah SWT sematalah, maka biaya perawatan selama 3 hari yang mencapai 11 juta itu bisa terbayar tanpa hutang sama sekali.”
”Lalu bagaimana kondisinya sekarang...?”

”Jangan kita bicara soal medis. Ini soal penglihatan awam saja. Dulu, sebelum ditangani ustadt, kalau serangan kanker itu datang, YH seringkali teriak-teriak kesakitan sambil berguling-guling dengan darah mengucur tak terkendali. Itu pula sebabnya kami membawanya ke RS, karena saat itu Hb nya sudah drop hingga level 4 saja”.
”Di RS, bagaimana diagnosanya?”
”Ya... begitulah. Dokter hanya bilang, harapannya tipis. Jadi untuk apa lagi dirawat di RS dalam kondisi keuangan yang tidak memungkinkan. Lebih baik dirawat di rumah sesuai dengan keyakinan saja”.
”Pengobatan apa sih yang dianjurkan ustadt?”

”Melalui dzikir .... Saya berdzikir setiap malam .... kadang-kadang beberapa teman juga ikut berdzikir disini. Ustadt seringkali mengirimkan air yang sudah didzikiri, bergalon-galon banyaknya untuk diminumkan. Alhamdulillah... sekarang ini, kalau serangan sakit datang, dia tidak lagi berteriak/bergulingan. Perutnyapun tidak terasa menggelembung keras lagi seperti sebelumnya”.

”Hm ... saya jadi ingat waktu berobat ke pak Anto di jalan Mundu-Rawamangun dulu.... untuk mengobati perdarahan. Mungkin hampir mirip ya... kita disuruh berdzikir sambil menaruh botol air minum dan kemudian air tersebut diminum. Eh ... ternyata ada dokter dari Jepang yang meneliti bahwa partikel air itu mendengar dan berubah bentuk sesuai dengan apa yang kita ucapkan berulang-ulang di depan air tersebut. Ini kuasa Allah SWT”.

”Ya..... Mohon doa saja. Merawat orang sakit seperti ini memerlukan kesabaran dan keteguhan hati. Saya mendapat banyak pelajaran dari hal ini. Merupaka anugerah Allah SWT juga, saya dipertemukan dengan ustadt yang mampu mencerahkan jiwa saya yang kotor hingga menerima hidayah seperti ini. Penyakit YH istri saya, mungkin merupakan ujian kesabaran dan ketakwaan dalam perjalanan menuju pensucian jiwa. Saya menerimanya dengan ikhlas dan berharap agar dalam sakitnya, istri saya mau mendoakan agar saya dan anak-anak mendapatkan rahmah dan berkah dari Yang Maha Kuasa. Saya yakin, doa orang yang sedang menderita akan diijabah Allah SWT”.

”Insya Allah ....”.

Oom saya yang satu ini, masa mudanya memang agak ”jahiliyah”. Segala macam dikerjakan. Perlakuannya terhadap istri mungkin sekarang bisa dikategorikan dalam KDRT. Kelihatannya, perkenalannya dengan ustadt dari Ngawi itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Dia terlihat lebih pasrah dan ikhlas. Gaya bicaranyapun jauh berbeda. Lebih relijius dan sufistik. Tidak heran bila keluarga besar, memandangnya dengan ”aneh”. Tapi, bukankah seharusnya kita menjadi lebih baik dari hari ke hari terutama dalam kualitas keimanan dan ketakwaan kepada sang Pencipta?

Hari sudah menunjukkan jam 22.30 saat kami meninggalkan Pondok Pekayon Indah untuk kemudian mampir sejenak ke masjid Baabut Taubah di Kemang Pratama. Mesjid yang dahulu kala, selama bertahun-tahun kami ikuti perkembangannya. Mesjid terlihat gelap, pintu-pintu sudah tertutup rapat, namun belum terkunci. Masih ada 2 orang pekerja .... satu sedang menyiram rumput, satu lagi sedang asyik menonton televisi yang terpasang di teras masjid. Keduanya tidak kami kenal ... orang-orang yang baru bekerja selama 2 tahun saja. Pengurus mesjidpun bukan lagi orang-orang yang kami kenal. Sudah berganti ....

Begitu mungkin ada baiknya ... dunia yang fana ini terus berputar. Kala kita merasa tidak terikat dengan segala kebendaan didunia ini, maka kita akan menyikapi segala yang kita alami selama hidup ini dengan langkah dan perasaan yang ringan. Ikhlas dan pasrah bahwa segalanya adalah milik dan berada dalam penguasaan Allah SWT. Wa Allah ’alam.
Lebak Bulus 28 Otober 2006 – 06.00.










Kamis, 19 Oktober 2006

Susahnya memegang AMANAH

Hari Jum'at minggu lalu, usai shalat maghrib dan berbuka puasa, kami pergi ke komplek sekolah Islam A-A menjemput anak gadis kami yang sedang menghadiri acara buka puasa bersama sekaligus menandai penutupan acara Pesantren Kilat dan akhir masa belajar, menjelang hari Raya Idul Fitri. Tengah memanggil anak gadis kami, yang sedang berjalan beriringan dengan teman kelasnya, datang pak Sonny ... mantan Ketua Komite Sekolah periode sebelumnya, menghadang mobil kami, "memaksa" suami untuk turun dan ngobrol sejenak. Suami akhirnya turun dan ngobrol dengan beberapa orang bapak-bapak. Saya sendiri akhirnya turun juga, masuk ke aula mesjid menemui beberapa guru yang sedang asyik menyantap hidangan dan menyapa beberapa orang tua murid yang kebetulan saya kenal.

Sejak adanya perubahan kebijakan pendidikan seiring dengan masuknya kepala sekolah baru kira-kira 2 tahun yang lalu, saya memang mengurangi keterlibatan dengan sekolah. Entahlah... pada pertemuan pertama dengan kepala sekolah baru tersebut, saya memperoleh kesan yang tidak menyenangkan. Jadi ceritanya, saya agak mutung setelah "berdebat keras" berdua dengannya, sebelum peserta rapat anggota komite sekolah saat itu berkumpul. Bukan karena kesal argumentasi saya dipatahkan, entahlah... ada perasaan tidak percaya terhadap sosok kepala sekolah tersebut.Maklum pada "kesan pribadi" yang buruk itu, tidak perlu ditularkan kepada orang lain, maka kemudian saya mengundurkan diri dari kepengurusan Komite Sekolah. 

Setelah anak kami bosan dan lelah dengan acara sekolahnya, kamipun pamit. Di tengah perjalanan pulang suami saya tiba-tiba bicara :
"Ada berita buruk dari sekolah..."
"Ada apalagi?"
"Yayasan dan Komite Sekolah berseteru .... ada penggelapan uang sebesar +/- 400 juta oleh sekolah yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, termasuk dana bos. Komite Sekolah sendiri sudah dikebiri oleh sekolah sehingga tidak dianggap lagi"
"Apa iya  SDI itu mendapat BOS? Kalaupun ya... apa jumlahnya sebesar itu? BOS dan disalurkan sesuai dengan jumlah murid... rasanya terlalu berlebihan deh..."
"Nyatanya ... menurut pak Sonny, Guru-gurupun turut menjadi korban ulah Yayasan. Waktu libur kemarin (bulan Juli), mereka tidak mendapat gaji penuh ... Kan kasihan... masa begitu cara memperlakukan guru?. Itu sebabnya Komite kemudian menunjuk pengacara untuk menyelesaikan masalah ini karena perseteruan ini sudah menjurus hal yang destruktif. Jangan sampai nanti Yayasan main keras dengan membekukan kegiatan sekolah."

Aduh .... kepalaku mendadak pusing ... terbayang bagaimana nasib anak-anak sekolah itu. Mungkin ini resiko memasukkan anak kesekolah yang baru didirikan (SD ini memang baru 6 tahun berdiri, setelah sebelumnya hanya membuka pendidikan tingkat playgroup dan TK). Memindahkan anak ke sekolah lain, bukanlah hal yang mudah. Selain biaya, anak kami sudah begitu sangat menyukai lingkungan sekolah, teman-teman dan bahkan guru-gurunya. Pasti dia akan banyak bertanya sebab musabab kami memindahkannya ke sekolah lain dan penjelasan kami akan menyebar di sekolah ... Hal ini tentu akan memperkeruh suasana sekolah. Apalagi kabar yang kami terima masih kabar angin sepihak, yaitu dari para orang tua yang masih terlibat dalam komite sekolah. Belum ada penjelasan versi sekolah/yayasan itu sendiri.

"Coba tanya ibunya Filza atau Zaid ... mungkin kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang keadaan sebenarnya. Cerita pak Sonny itu sepotong-sepotong, loncat sana- loncat ini. Sukar digabungkan.. apalagi saya masuk ddi tengah obrolan mereka", begitu suami saya mengusulkan.
"Aduh ... nggak ah, kalo tanya sama ibu-ibu, malah makin nggak keruan... banyak imaginasi ibu-ibu yang berbau gosip.  Nanti malah memperkeruh suasana. Atau tanya pak Saichul".
"Dia juga sudah berhenti! ssttt ... nous arretons de parler ceci. ta fille nous entends attentivement. Elle va apprendre des mauvais images sur son ecole alors qu'on ne sais pas exactement ce qui s'est passe"

Duh ... kok kelihatannya gawat sih kondisinya... semua orang berhenti.
"OK .... gini deh, besok malam, kita shalat di masjid. Temuin pak SM usai tarawih dan tanyakan ke dia apa yang terjadi. Saya akan telpon bu Mei besok dari kantor. Daripada kita penasaran dan menanyakan pada orang yang kurang tepat".  
“OK deh … semoga tidak separah yang kita duga… Semoga ada yang bias kita Bantu untuk menyelesaikan masalah ini. Memang tidak mudah mengelola sekolah.”

Begitulah ... pagi ini saya sempatkan untuk menelpon sekolah. Ternyata guru-guru sudah mulai libur. Lalu saya mengirim sms dulu ke ibu MLT menanyakan keberadaannya. Semoga dia belum pulang kampung. Tidak berapa lama, ada missed call di layar hp yang langsung saya call back … suara ibu MLT terdengar di seberang …

“Assalamualaikum bu, … maaf mengganggu. Langsung aja nih … hari jum’at lalu, saat buka puasa, kami mendengar kabar kurang menyenagkan tentang sekolah. Apakah ibu berkenan menceritakan kepada saya…?”
“Tentang apa, misalnya...?”
”Maaf bu ... saya hanya berusaha memperoleh kabar dari pihak yang berwenang (sekolah) agar mendapat gambaran yang lebih jelas tentang pengunduran diri kepala sekolah, tentang penyalahgunaan dana dan perseteruan antara Komite Sekolah dengan Yayasan yang terjadi akhir-akhir ini di sekolah”
”Hm ... ya, saya berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Kepala Sekolah diberhentikan oleh Yayasan karena kasus penyalahgunaan keuangan sekolah, antara lain uang sekolah dan kegiatan anak, uang tabungan murid, dana BOS. Sekarang sudah dilaporkan dan diproses polisi”.
”Lho ... kenapa bisa terjadi ....? Bukankah selama ini uang sekolah langsung dibayarkan ke tata usaha Yayasan?”
”Ya .... tapi kemudian petugas tata usaha dipaksa menyerahkan seluruh uang-uang yang diterima melalui tata usaha kepada kepala sekolah dengan dalih, dia yang akan menyetorkan ke rekening yayasan di bank”.

”Masya Allah ......., lalu bagaimana dengan perseteruan dengan Komite Sekolah...?”
”Komite Sekolah meminta rapat dengan kepala sekolah untuk berbicara mengenai masalah keuangan, karena banyak kegiatan sekolah yang sebtulnya sudah ditarik dananya dari murid, tapi pelaksanaannya Komite masih dimintakan bantuan dana. Jadi Komite menduga pengurus Yayasan menyalahgunakan dana. Keadaan yang sebenarnya adalah, dana sudah diserahkan penuh oleh Yayasan kepada kepala sekolah, namun yang digunakan hanya sebagian. Sebagian lagi digunakan untuk kepentingan pribadi”
”Wah ... miscommunication dong jadinya antara Yayasan dengan Komite...!”

”Ya..., Kepala sekolah memang sudah menciptakan suasana dan sistem yang membuat komunikasi antara guru-komite-yayasan menjadi terputus. Bahkan untuk urusan mengangkat telpon pun, dia yang menanganinya.
”Pantas... setiap kali saya menelpon sekolah, selalu saja pak SA yang mengangkat...”
”Ya, begitulah .... tapi Alhamdulillah sudah terselesaikan ... Komite dan Yayasan sudah bertemu hari Senin yang lalu. Semua persoalan sudah dibeberkan dengan sejelas-jelasnya. Yayasan berjanji untuk menutupi segala kerugian keuangan sekolah akibat penyalahgunaan kepala sekolah tersebut”.

”Syukurlah ... Ibu, selamat juga bahwa ibu ditunjuk sebagai kepala sekolah pengganti. Semoga ibu mampu memegang amanah ini untuk kebaikan sekolah, guru-guru dan anak-anak didik. Selamat Mudik ya... semoga selamat diperjalanan, Minal Aidin wal Faidzin”
”Terima kasih ... mohon doanya ya...”

Duh ... lega rasanya, persoalan itu bisa terselesaikan dengan baik. Cuma.... lagi-lagi keperihan menyelinap di dalam hati ....Saya teringat sekelumit isi surat yang saya layangkan kepada kepala sekolah tersebut saat memprotes AC ruang kelas yang tidak juga diperbaiki selama 2 bulan ....
”Kegiatan pengajaran/pendidikan dan administrasi yang dikelola oleh Yayasan/Sekolah sekaligus merupakan ajang pembelajaran bagi anak murid untuk menghargai waktu, komitmen dan integritas dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.”

Bayangkanlah ... Sekolah Dasar Islam ... yang mengajarkan nilai dan norma agama kepada anak muridnya, ternyata disusupi oleh orang-orang yang berniat busuk untuk memperkaya diri sendiri.... Apa yang sudah terjadi dengan moralitas sebagian dari para pendidik di Indonesia?

Catatan :A-A bukan perguruan Al Azhar, hanya kebetulan ada kesamaan inisial

Kamis, 12 Oktober 2006

Kalau Bigboss berulangtahun ...!!!


Kalo bigboss berulang tahun ...., Kami semua di kantor antara senang dan sebel.... Senangnya karena ... agak sedikit santai. Yang dikerjain para sekretaris ... paling mendata bunga/kiriman kue yang datang supaya nggak ada yang kelewatan dikirimi uccapan terima kasih dari doi.  Bagian umum+personalia biasanya ngurusin makanan, dari menu sampai ke jumlahnya. Memastikan padanan menu yang kita susun dengan "sumbangan-sumbangan" makanan dari anak perusahaan. Semua udah ada bagian-bagiannya. Khusus untuk menu, biasanya sang istri ikut campur. Maklum aja, tastenya untuk makanan yang enak cukup dipujikan. Pilihan si ibu nggak pernah ada yang "kepleset" deh, pasti selalu enak.

Hari ini acara akan dimulai jam 17.30 ... ini teorynya. Kenyataannya pasti lebih dari itu. Maklum yang diundang orang proyek dari Bekasi yang super macet itu lho. Menunya, kalo gak salah Korean Barbeque. Wah... menu yang satu ini ... uenaaakkk banget... Sudah pernah dicoba, saat bigbos bikin acara ulang tahunnya 3 tahun yang lalu dan terakhir, untuk menyambut pasangan karyawan yang baru menikah, dalam suatu acara di rumahnya awal tahun lalu. Entah dimana si ibu nemuin catering khusus Korean Barbeque itu.


Saat acara itu, saya cuma makan sayurannya saja+kimchie ... nggak sempat makan barbequenya. Udah kekenyangan duluan sih ... Apalagi, saya memang sudah mulai mengurangi makan makanan bernyawa. Kecuali aklau betul-betul sedang tidak kuasa melawan godaan...  Selain Korean Barbeque, saya nggak tahu lagi apa yang akan disajikan. Maklum saja, karena pola makan saya yang agak nyeleneh itu, pilihan saya pati akan bertentangan dengan pilihan banyak orang. Jadi lebih baik ... diam saja... karena percaya pilihan orang-orang kantor ini pasti enak2.


Ngomong-ngomong ... hotel Mulia ngirim apa ya? Biasanya mereka selalu ngirim dimsum, mie hongkong dan chocolate cake ukuran satu meja...(a real big size... hehe) lengkap dengan pelayan hotelnya. Hari ini, kelihatannya nggak ada kabar beritanya... Mungkin orang-orangnya sudah ganti, jadi nggak begitu kenal dengan doi.

Gak apa-apa deh ... Lho, ngomongin makanan ya...? Nah ... ini sebagian kecil foto bunga-bunga ulangtahunnya tahun lalu. Usai acara, biasanya ada cara bungkus-bungkus... Apalagi kalo bukan makanan. Wah itu pasti yang paling seru ... Maklum aja makanannya OK punya.. Jadi banyak orang yang ingin berbagi dengan keluarga di rumah. Saya biasanya kebagian potong2kue ....Nah ini cerita senangnya.

Cerita sebelnya ...., belakangan ini, karena puasa, acara dilangsungkan malam hari. Pasti pulang terlambat... Gak bisa buka dengan keluarga... gak bisa shalat tarawih .... Kalaupun tarawih, ya harus sendiri dirumah .. itu kalo gak kecapean ....

Senin, 09 Oktober 2006

Sulit ambil keputusan untuk Menikah?

Jum'at kemarin, seusai shalat ashar, YM saya ada yang manggil, walaupun statusnya invisible.


"Madame .., ngganggu?"
"Nggak ... ada apa oom?"
Ini pasti Yudi, temanku yang agak “bawel” terutama untuk urusan hubungan antar jenis.


“Apa pantas kalo perempuan itu berlaku kasar…?”
Lho ...lho ... ada apa lagi ni orang? Belum apa-apa sudah menyergah dengan pertanyaan yang menyudutkan perempuan...


“Tergantung keadaan ....! Orang selalu berharap perempuan selalu bersikap halus, lemah lembut ... ya ... yang begitu-begitu deh...! Tapi kan, itu tergantung dari pembawaan dan mungkin juga dari suku bangsanya... Ada apa sih...?”
”Aku tuh suka sebel  ... cewe yang lagi deket sama aku itu, kok kasar banget ya...? Pernah suatu saat dia bilang gini ... dasar orang gak punya otak!! Kan nggak pantes perempuan ngomong begitu...!!”
”Ya kalo kamu ngerasa nggak suka dengan sikap, sifat atau kebiasaannya ... ya tinggalin ... cari yang lain...!, Kok susah banget sih?”


”Sudah ....!”
”Nah, kalo sudah ... terus kenapa lagi...?”
”Ya tapi gak bisa ....?”


”Lho ... kamu ini gimana sih? Sudah putus, tapi gak bisa... Maksudnya apa?”
”Ya sudah berulang kali putus. Kalo sudah berantem, putus... tapi akunya balik lagi sama dia....”
”Oalah ....! itu karena kamu gak mau, makanya kamu nggak bisa!”
”Apa maksudnya...?
”Hati kecil kamu sebetulnya ”nggak mau” putus, makanya kamu nggak bisa putus... bolak-balik terus...! Au fond du coeur, kamu itu follement amoureux d’elle!!! Kalo gitu sih .... udahlah ... kawinin aja dia, beres kan....!”


”Gak bisa .... gak bakalan cocok sama ibuku...!”
”Eh .. denger baik-baik ... Gak ada sejarahnya perempuan yang cocok dengan mertua perempuannya. Kalaupun ada, jarang banget...! Jadi itu persoalan biasa ... Lagipula, yang kawin, kamu ...!”
”Tapi ... dia sudah pernah menikah ... dan pernikahannya nggak berumur panjang, gak sampe 1 tahun...!”
”So ... what...?”
”Gue gak mau nasib gue kayak gitu...!”


“Setiap pernikahan itu adalah judi…Kesalahan kita adalah saat berpendapat bahwa pernikahan adalah tujuan dari persatuan dua hati anak manusia. Jadi pernikahan adalah final dari perjalanan cinta! Padahal .. itu salah besar, karena pernikahan adalah starting point of an open-ended problems. Akan ada berbagai macam masalah yang datang silih berganti dan kita sudah menandatangani kontrak (yang diharapkan) berjangka panjang. Yang perjalanannya sama sekali unpredictable. Apa bukan berjudi, namanya? Perlu effort untuk memeliharanya. Sejauh ada kesamaan visi, saling menghormati dan punya komitmen yang sama, apalagi yang ditakuti?”
”Sifatnya itu. ...”
”Kenapa harus melihat segala kekurangannya? Memangnya kamu sudah sempurna? Coba hargai segala kelebihannya sebagaimana kamu berharap dia juga mau menghargai kelebihanmu diantara banyak kekurangan yang ada di kamu...!”


”Aku nggak suka, dengan sikapnya yang arogan...!”
”Duh ... bolak-balik kesitu ....! Gini deh ... pilihannya kan Cuma dua... kawin atau putus...! Nah pilih salah satu ...”
”Aku udah coba putus sama dia, tapi gak bisa, selalu balik sama dia...”
”Ya sudah. .. kawin aja sama dia...”
”Tapi ... kalo ternyata nggak cocok ...?”


” Udah deh .... Sekarang ini kan kamu cinta buta banget, jadi kamu kawin aja sama dia ... Ntar, kalo udah kawin, mata hati kamu jadi terang benderang ... bisa melihat dengan jernih segala kekurangan-kekurangannya”
”Memang, kalau sudah menikah, perasaan cinta bisa hilang...?”
”Nggak juga sih ... tapi nuansa dan suasananya sudah berbeda. Kamu bisa mengambil keputusan dengan lebih jernih, yang tidak ditutupi perasaan cinta menggebu-gebu. Nah, kalau memang dirasa susah untuk dipertahankan. ya cerai aja ....... Kok susah banget sih?”


”Duh, madame ... kok jahat amat sih?”
”Lha.... kamu ini gimana sih? Disuruh putus..., kamu bilang gak bisa! Disuruh kawin... kamu bilang, gak suka sama sifatnya...! Kalo begini terus... sumpah mati deh ... sampe kapanpun kamu nggak akan pernah menikah ...!”


(duh ... maaf Yudi ... kok lagi puasa gini, omonganku ”jahat” banget ya....? Sungguh mati, aku nggak bermaksud jahat sama kamu, cuma gregetan aja! Umur kamu sudah pantas untuk memiliki 2 orang anak balita.... lho! Keburu kiamat ...!!!)

Rabu, 04 Oktober 2006

Hari-hati ...!!! Rampok menjelang lebaran

Pagi ini, saat datang ke kantor, saya merasa ada yang agak aneh dengan penampilan Ina, sekretaris bos. Jadi saya mampir ke mejanya...!

"Ada apa Na, kok gak seperti biasanya..?
“Ada rampok mbak …..!!”
“Hah ….? Dimana …, kapan?”
”Masuk ke rumah..., semalam...!”

Walaupun belum pernah mampir ke rumah Ina, tapi saya bisa membayangkan bahwa rumah Ina yang besar dengan halaman yang luas, bisa jadi, selalu jadi incaran rampok. Apalagi , kalau dengar deskripsi Ina mengenai rumahnya, banyak celah yang memungkinkan rampok menyelinap masuk. Ditambah lagi, saat ini menjelang lebaran. Kebutuhan rumah tangga meningkat sementara harga meningkat luar biasa dan banyak pengangguran lagi. Kontradiktif juga ya, alih-alih memperbanyak ibadah dan bertaubat, eh malah cenderung mengingat kebutuhan duniawi!

Sejak saya tinggal di kawasan lebak bulus 6 tahun lalu, rumah kami sudah 2 kali kemasukan rampok. Untung mereka tidak masuk kamar kami yang selalu tidak terkunci dan hanya mengambil sedikit barang yang berada di ruang keluarga. Bayangkan kalau sampai masuk kamar dan mengancam kami ... hiiiiii, ngeri, pastinya.

”Gimana kejadiannya..?”
”Tadi pagi ... pembantuku gedor pintu kamar. Aku pikir ’mbangunin sahur. Jadi aku jawab iya.. begitu aja. Tapi dia nggedor makin keras ... sambil teriak-teriak ... ibu ... buka...., ibu... buka pintunya..., begitu berulang kali. Jadi kubuka pintu, sedikit .. Untung pintu kamar pake slot dan gelap. Jadi begitu dia masuk, langsung kututup lagi. Di dalam ... dia langsung ngomong ... rampok bu .. rampok ... rampok..., begitu nggak putus2, sambil gemetar ketakutan”
”Untung, rampoknya nggak ikut masuk kamar”
”Kelihatannya dia nunggu di lantai bawah ...., jadi aku berteriak ... rampok...rampok ...!!! Tapi, mbak, namanya gugup dan ketakutan ... suaraku nggak keluar ...., aku meraba-raba seisi kamar sambil gemetaran, cari intercom untuk hubungi adikku di kamar lain ..., sialnya kabelnya lagi dicopot.”

”Lampu nggak dinyalain...?”
”Nggak berani ... untung aja, senter dikamar selalu ada ditempatnya. Jadi, aku suruh Wina ambil senter. Sementara aku pake intercom, kusuruh dia nelpon satpam komplek”
”Beruntung, satpam cepat datang ya....!!”
“Nggak juga …, gimana mau datang, yang keluar dari mulut Wina Cuma … rampok pak, rampok pak… gitu aja berulang kali … maklum ketakutan…! Aku juga begitu, … waktu aku intercom adikku … gugup banget.”

“Terus…?”
“Adikku berhasil lolos keluar rumah dan teriak … rampok … rampok ….!!!”
“Tertangkap dong…?
“Nggak … karena sebelum keluar kamar, adikku teriak-teriak dulu. Mungkin si rampok ngedenger teriakan … jadi, dia sempat kabur ….”

“Aduh … alhamdulillah, kamu selamat …….”
“Iya nih … aku masih ngaderekdek, sampe sekarang ... masih terasa lemesnya…!”
“Iyalah … ngerti, saya juga pernah ngalamin tuh…!”

Ina, lalu bercerita,, bahwa usai sahur yang sama sekali tidak nikmat, karena seisi rumah masih tercekam perasaannya, mereka menyusuri halaman rumah dan menemukan peralatan rampok yang tertinggal serta melihat jalan masuk  ke rumah.
“Jadi sebetulnya, gimana asal muasal si rampok masuk ke rumah….?”
“Mungkin ... mereka berdua masuk dari teras samping ..., lalu masuk ke garasi, dan membangunkan pembantu, minta uang satu juta...! Menantu pembantuku disandera di garasi, sementara yang satu lagi, sambil mengeluarkan golok panjang mengancam pembantu. Jadi pembantuku bilang ... tunggu saya minta ke ibu, terus dia buka pintu masuk rumah utama”

“Kenapa si pembantu bilang gitu ya...?”
“Ya... maklumlah... dia juga takut di bacok, kan ...... Jadi begitulah, si pembantu naik ke lantai atas, nggedor kamarku...!”
“Untung rampoknya nggak naik ke atas ya ....!!”
“Iya... duh, lemes... lemes banget deh ...!”
“Bersyukur sama Allah deh … sudah selamat dari bahaya. Hati-hati ya…!”
***

Duh ….. rampok lagi .. rampok lagi … Sepertinya negeri kita ini dipenuhi rampok deh. Yang ngerampok kerumah-rumah begitu sudah jelas karena mereka miskin dan butuh uang untuk makan dan mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi yang tak kalah bejatnya adalah ... mereka yang berdasi, bermobil bagus, tempat tinggal mentereng di kawasan elite, dan toh masih juga merampok ...uang negara, ... uang rakyat yang seharusnya mereka layani!

Kamis, 28 September 2006

Arok dan Dedes


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: History
Author:Pramoedya Ananta Toer
Buku Arok Dedes ini menurut saya lebih "cantik" daripada "Tetralogi". Kita dibawa bertualang dalam percaturan intrik-intrik para elite politik hingga lupa apakah kita yang berkelana ke jaman Singosari ataukah justru peristiwa ini terjadi pada jaman sekarang.
Ini buku pertama Pram yang menggugah pikiran saya dan semakin mengagumi kepiawaian Pram dalam mengolah kata dan peristiwa.
--------

Arok Dedes Pramoedya
Menafsir Sebuah Kudeta Politik
Judul : Arok Dedes
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tempat : Jakarta
Waktu Terbit : 1999
Tebal : x + 418 halaman

Buku Pramoedya Ananta Toer , Arok Dedes, merekonstruksi sejarah kudeta Arok atas Akuwu Tumapel Tunggul Ametung. Setting sejarah yang kuat dan premis dasar kudeta politik yang masuk akal membuat bangun karya ini kokoh sebagai sebuah "fiksi sejarah politik" yang tak sekedar novel biasa. Pram membuktikan kembali kepiawaiannya dan laku keras.

Pramoedya dikenal sebagai sastrawan yang bicara tentang sejarah. Sesudah karya masterpisnya, "Trilogi Pulau Buru", dia telah mengajukan sebuah versi sejarah. Kepiawaiannya adalah kemampuannya menilai sejarah dalam karya sastra. Apapun yang terjadi sebenarnya tidaklah penting, karena bagaimanapun juga, karyanya tetaplah sebuah karya sastra, bukan penelitian sejarah.

Dengan kebebasan yang sangat luas yang diberikan kesastraan, seorang
pengarang lebih bebas menafsir sebuah sejarah. Apalagi sebuah sejarah politik yang umumnya sarat dengan kepentingan, data yang kabur, pengakuan bermakna ganda, dan gelapnya waktu itu sendiri. Namun, kekaburan itu akan jadi begitu terang benderangnya di mata seorang pengarang, tanpa mengabaikan kerumitan yang sesungguhnya tetap terkandung dalam pelbagai peristiwa sejarah.

Dalam "Arok Dedes" ini, Pram menafsir siapa sesungguhnya sosok seorang Ken Arok dan Ken Dedes yang terlanjur melegenda di masyarakat itu. Dengan referensi yang kuat, Pram bak seorang sejarawan yang sedang menyuguhkan sebuah disertasi tentang sejarah kudeta pertama di tanah Jawa yang diperankan oleh anak keturunan Sudra yang tak bernama dan tak juntrung asal usulnya, Arok.

Pram melukiskan bagaimana keberhasilan penggulingan kekuasaan seorang Akuwu Tumapel bisa terjadi tanpa menyandarkan diri pada daya-daya magis yang dimiliki seorang Arok seperti dikenal dalam legendanya. Kekuatan utama yang menjadi dasar keberhasilan kudeta Arok adalah dukungan yang kuat dari kaum Brahmana pemuja Wisnu yang pada masa itu telah tersingkirkan dalam peta politik tanah Jawa. Kekuatan lain adalah kecerdasannya yang luar biasa dalam menghapal naskah-naskah rontal yang dianggap suci dan bahasa Sansekerta yang dianggap bahasa para dewa.

Digambarkan juga bagaimana pertarungan kepentingan di tingkat elit politik masa itu, antara kepentingan kerajaan pusat Kediri, Gerakan Mpu Gandring yang berkoalisi dengan kasta satria, para resi Brahmana, dan Tunggul Ametung yang ingin mempertahankan status quonya. Semuanya berada di bawah bayang-banyang bangkitnya perlawanan rakyat pimpinan Arok. Dan ketika kaum Brahmana memihak Arok, gempuran pasukan Arok yang bergerilya di wilayah Tumapel tak tebendung lagi dan kudeta pun terjadi.

Pesan moral yang tampaknya ingin disampaikan dalam novel yang digarapnya sekitar tiga bulan (1 Oktober-24 Desember 1976) sewaktu ditahan di Pulau Buru ini adalah betapa kompleks sebenarnya sebuah kudeta terjadi, dan betapa licik para aktornya untuk bersegera mengambil kesempatan, memenangkannya, dan mengaburkan peristiwa sejarah yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, hingga halaman terakhir, tak begitu jelas, siapa pembunuh Tunggul Ametung sebenarnya, sementara Kebo Ijo yang jadi tertuduh menyanggah telah membunuhnya.

Demikianlah, Pram menggunakan sepenuhnya kelebihan yang diberikan kesusastraan dalam menafsir peristiwa sejarah yang tetap meninggalkan misteri itu.

Rabu, 27 September 2006

a father's affair


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Karel Glastra Van Loon
see resume below and or buy at http://www.amazon.com/gp/product/1841954217?tag2=highwaygoldph-20

Saat Armin yang telah memiliki Bo (13 tahun) dan teman hidupnya Ellen ingin memilik lagi anak, dia mendapati bahwa ternyata dirinya MANDUL. Kalau begitu siapa ayah Bo? Menanyai Monika, istri dan ibu Bo, sangatlah tidak mungkin. Monika meninggal saat Bo berumur 3 tahun.
Perjalanan mencari siapa sesungguhnya ayah Bo, sangat menarik dan lucu.

Cerita ini mengingatkan saya pada larangan ibu untuk tidak mengajak perempuan atau lelaki lain tinggal bersama di rumah pasangan suami istri, walaupun lelaki/perempuan itu masih terglong keluarga.

Editorial Reviews
From Publishers Weekly
Dutch novelist Van Loon's American debut is a whodunit with an irresistible twist: Armin Minderhout, a widower in his 30s with a 13-year-old son, learns that he has been sterile all his life. A doctor breaks the news to Armin after he and his girlfriend, Ellen, endure a battery of tests to find out why she can't get pregnant. The revelation is numbing; Armin's late wife, Monika, who died suddenly 10 years ago at the age of 25, was the love of his life. After deciding not to tell his son, Bo, Armin tries to figure out who could have been Bo's father. The first suspect, a former boyfriend and fatuous consultant named Robbert Hubeek, taunts Armin by describing his interlude with the pregnant Monika in detail. Armin gets enough information to eliminate Robbert from his list, and he also rules out Monika's doctor as a suspect. He seemingly hits pay dirt when he tracks down one of Monika's friends, Niko Neerinckx, and finds a photo of Monika in Niko's family album. But his meeting with Niko's wife touches off a fierce fight with Ellen, leading Armin deep into his own family history and eventually to an even more shocking discovery. Van Loon tells the story through dialogue and flashbacks as Armin retraces his courtship and marriage to Monika; his romance with Ellen, who had been a friend of Monika's; and his close relationship with his parents throughout the upheaval. The inventive story line and the stunning ending combine to make this book a winner.
Copyright 2003 Reed Business Information, Inc.

Book Description
What happens to the father of a thirteen-year-old boy when he discovers that he has been infertile all his life? That intriguing question is the starting point of A Father's Affair. Still reeling from the sudden death of his wife, the one person who could answer his questions, the protagonist, Armin Minderhout, begins a quest to discover the biological father of his son. The reader joins him on an extraordinary journey, one in which he is forced to reconsider everything and everyone he has ever believed in. With the page-turning suspense of a whodunit, A Father's Affair probes the eternal question of how well we know the ones we love. Touching, at times extremely funny, and erotically playful, it is a story of universal appeal -- a stylish, acutely insightful, and utterly captivating read.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...