Rabu, 06 Juni 2012

MACET Euy....!!!

Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia sekarang dilanda kemacetan yang luar biasa. Bukan saja pada rush hour, saat penduduknya berangkat dan pulang kantor, tetapi sudah hampir sepanjang waktu. Berbagai jenis kendaraan memenuhi jalan. Mobil, kendaraan umum yang sarat penumpumpang memenuhi jalan. Apalagi motor yang jumlahnya tak terhitung lagi memenuhi jalan.Hampir seluruhnya sama sekali tidak berniat mematuhi rambu lalu lintas. Saling serobot, dahulu mendahului tanpa etika sama sekali. 

Kemacetan parah yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia, menurut saya, disebabkan karena sejak awal (akhir tahun 60an), pemerintah lebih menekankan pada pertumbuhan industri semu antara lain industri otomotif sehingga segala daya upaya diarahkan untuk meningkatkan produksi. Padahal, industri kendaraan bermotor memerlukan infrastruktur yang mampu mengakomodasikan pertumbuhannya yaitu membangun dan terus membangun ruas jalan. Apalagi Indonesia sama sekali tidak menganut "pemusnahan" kendaraan bermotor yang sudah tua, kecuali si pemiliknya sendiri yang secara sukarela memusnahkannya. Dengan demikian, konsep dan strategi transportasi masa (mass transportation - railways) tidak berkembang atau memang sengaja tidak dikembangkan. Akibatnya, lama kelamaan terjadi peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang luar biasa dan hasilnya terasa saat ini. Kemacetan juga yang luar biasa yang kita alami saat ini.

Pada tahun 2000, 12 tahun yang silam saat kami memutuskan "hijrah" dari Bekasi ke kawasan Jakarta Selatan, waktu tempuh dari rumah ke kantor di bilangan Blok M yang hanya berjarak + 8km dapat ditempuh dalam waktu 15 menit saja. sehingga, saya masih bisa menikmati matahari sore, saat kebetulan bisa pulang tepat waktu. Malam hari, masih sempat jalan-jalan dengan anak karena masih cukup sisa tenaga untuk itu.

Sekarang, jarak 8 km itu harus ditempuh dalam waktu minimal 1 jam. Sudah 4 kali lipat dan ini terjadi bukan saja pada saat rush hour, tetapi hingga jam 22.00, apalagi Jum'at sore. Bukan sekali dua, jarak 8km tersebut harus ditempuh dalam waktu 2 jam, bahkan hingga 3 jam. Sama dengan waktu tempuh Jakarta - Bandung (gerbang toll Buah Batu) sejauh +140km via jalan bebas hambatan Jakarta - Cipularang - Cileunyi.

Bayangkan... dalam kondisi seperti inipun, transportasi masa tetap dianaktirikan. Pertumbuhan/penambahan panjang jalur KA relatif tidak ada. Kalaupun ada hanya menambah jalur dari single track menjadi double track pada jalur-jalur yang sudah ada sejak jaman kumpeni dulu. Bahkan beberapa track yang berada Sumatera dan jalur menuju kota2 kecil di Jawa dan Sumaterapun banyak yang "dimatikan" dan jangan lagi berpikir untuk menghidupkan track di dalam kota Jakarta yang pada akhir tahun 50an s/d awal 60an masih dilalui trem. Itu sama saja dengan bermimpi di siang bolong. Padahal .... di banyak kota Eropa, trem, bus, taxi kendaraan pribadi dan bahkan dengan sepeda berjalan berdampingan digunakan masyarakat.

Masyarakat kebanyakan di Indonesia memang harus banyak mengalah pada segelintir orang berpunya yang memiliki kemampuan membeli mobil. Pemilik kendaraan pribadilah, terutama mobil, yang mendapat benefit terbanyak di jalan raya. Sudah mendapat subsidi BBM, ditambah lagi menjadi raja di jalan raya. Bayangkan saja.... kalau macet, jalan diperlebar, dibuatkan under pass, jalan layang dan bahkan jalan bebas hambatan. Pembenaranpun dicari.... karena mereka sudah membayar pajak kendaraan yang mahal sehingga layak mendapat pelayanan yang prima.

Rakyat biasa yang bosan dengan kemacetan dan terlalu lelah karena lamanya waktu tempuh dari rumah ke tempat kerja dan mahalnya biaya transportasi "dipaksa" berjejalan di dalam kereta api, bahkan hingga ke atap gerbong. Kalau punya modal sedikit berlebih, silakan beralih menggunakan motor. Apalagi kepemilikan motor begitu mudahnya. Cukup dengan uang muka 500 ribu saja, motor kredit sudah bisa dimiliki.

Maka.... lihatlah suasana jalan raya pada jam sibuk! Motor berebut jalan, saling salip, saling sikut... Siapa berani, dia menang... Keselamatan menjadi nomor sekian... Tak heran kalau angka kecelakaan motor bertambah banyak.

Lalu selesaikah problem transportasi dan kemacetan? Jauh panggang dari api....!!! Selama orientasi pemerintah masih kepada peningkatan sektor industri terutama peningkatan produksi otomotif, tanpa adanya "pengereman" jumlah pemakai kendaraan pribadi baik kendaraan beroda empat maupun beroda dua, maka problematika kemacetan tidak akan terselesaikan.

Industri memang harus tetap berkembang agar tenaga kerja tetap terserap. Tapi alangkah baiknya bila peningkatan produksi kendaraan jangan sampai menambah jumlah kendaraan di jalan. Seperti di negara-negara maju, usia kendaraan memang harus dibatasi dan kendaraan yang sudah tidak layak jalan "harus dimusnahkan". Salah satu cara adalah produsen otomotif "membeli kendaraan tua" yang jumlahnya sesuai dengan jumlah produksinya. 

Di samping itu, konsep transportasi publik harus diarahkan pada transportasi masa dengan membangun/menghidupkan kembali jalur/rail track di tengah kota yaitu trem atau membangun subway/metro atau monorail. Masyarakat harus didorong menggunakan kendaraan umum yang nyaman, aman dan murah. bukan didorong memiliki motor.

Rasanya, membangun jalan tol layang seperti jalan tol dalam kota Jakarta, membuat under pass atau jalan layang termasuk juga membebaskan lahannya, sama mahalnya dengan membangun transportasi massa tersebut. Jadi kalau dana pembangunannya sama mahal maka pembangunan sarana transportasi publik harus menjadi prioritas dan para pembuat kebijakan di negeri ini harus memiliki mengambil keputusan ekstrim --> berpihak kepada kebutuhan rakyat banyak dan mengurangi tekanan produsen otomotif. Jangan takut berbenturan dengan kepentingan para industrialis mobil. 

Rasanya ironis sekali .... Negara yang masih masuk dalam kategori negara berkembang ini malah menjadi incaran produsen mobil untuk memasarkan produknya. bukan sekedar kendaraan tingkat menengah, tapi bahkan hingga kendaraan mewah berharga milyaran rupiah.

Kebijakan industri otomotif ini sebetulnya hanya memperkaya Jepang saja. Coba tengok! Hampir seluruh kendaraan yang lalu lalang di seluruh pelosok negeri ini adalah merek Jepang. Belum lagi pemborosan energi akibat BBM yang terbuang percuma karena kemacetan. Andai kita mau berhitung cermat dan mau melepaskan diri dari "jeratan" para industrialis otomotif ... niscaya akan selalu ada jalan untuk mendapatkan investor serius untuk membangun jaringan subway, trem atau monorail. Syarat lainnya, tentu saja ada kepastian hukum, keamanan berinvestasi and last but not the least .... Jangan ada John toel dan mark up biaya.

Sanggupkah kita?
reedit 6 Juni 2012

Sabtu, 02 Juni 2012

Duka di Hari Pengumuman Hasil UN SMP

Hari ini, Sabtu 2 Juni 2012 adalah hari pengumuman hasil Ujian Nasional tingkat SMP se Indonesia. Hasilnya tidak lagi mengejutkan karena sejak tanggal 1, resume hasil ujian tersebut sudah tersebar di dunia maya. Terlebih lagi untuk DKI Jakarta yang hanya menyisakan 1 siswa yang gagal dalam UN. Itupun konon kabarnya karena yang bersangkutan tidak mengikuti ujian akhir. Jadi.... kalaupun anak-anak berdatangan ke sekolah dan konon pula diwajibkan hadir mendengarkan pengumuman hasil ujian, tentu hanya merupakan seremoni saja.

Begitulah keadaannya, maka Jum'at sore, anakku memberikan surat pemberitahuan dari sekolah bahwa siswa wajib hadir mendengarkan pengumuman hasil ujian dengan disertai imbauan, sekiranya orangtua berkenan hadir.

Sayangnya, kami tidak dapat hadir. Suamiku sudah lama berniat hadir dalam acara pernikahan kolega mudanya (lebih tepat "anak", karena aku yakin, usianya seumur anak pertama kami) yang lokasinya nun "di ujung" utara Jakarta, alias Jakarta Utara. Di salah satu wilayah yang bernama Semper. Biasanya orang akan senang hadir bila acara resepsi pernikahan diselenggarakan di gedung pertemuan kelas atas yang mewah dan ber AC, namun jarang yang berkenan hadir bila diselenggarakan di perumahan apalagi perumahan yang letaknya di pelosok kota.

Aku sendiri, seperti biasa, "merasa wajib" hadir di IF, yang dulu dikenal sebagai CCF, untuk meluruskan otak yang sudah keriting sepanjang hari kerja. Apalagi karena Jum'at tanggal 1 Juni itu, lalu lintas di Jakarta Selatan, sejak pagi saat berangkat kantor hingga sore selewat maghrib saat pulang kantor, sedang kacau balau, bikin stress berkepanjangan. Jadi bertambahlah alasan untuk merasa wajib hadir di IF. Maka... dengan sangat menyesal, aku membalas SMS dari guru bantu di kelas anakku, bahwa kami tidak hadir pada acara pengumuman tersebut.

Tadi pagi, dalam perjalanan ke IF, anakku kirim pesan melalui BB, yang berisi adalah nilai ujiannya. Padahal .... waktu pada saat itu belum lagi lewat dari jam 09.00. Jadi, aku yakin, dia masih berada di rumah dan nilai ujian tersebut sudah diperolehnya dari web site Depdiknas. Tapi biarlah ... anak2 pasti ingin melampiaskan kegembiraannya bersama teman sekelas. Maka, berangkatlah si anak, diantar bapaknya, dalam perjalanan menuju Semper dengan kesepakatan, aku wajib menjemputnya di sekolah setelah selesai acara di IF sekitar jam 13.00.

Tepat jam 12.45, aku sudah berada di pelataran sekolah, Sudah agak sepi dan satpam sekolah menyatakan bahwa sebagian besar anak-anak sudah pulang. Namun karena sudah janji, maka kutelpon anakku, memberitahu bahwa aku sudah menunggunya di tempat parkir.

Sekitar 10 menit kemudian, anakku masuk mobil dengan raut muka yang agak kurang menyenangkan.
" Ada apa non....? Lulus, kok malah murung...?"
"Itu ma... Audi"
"Ya .... kenapa..? Kan semua anak lulus... apalagi yang perlu dibuat sedih?"
"Nah, itulah..! Kami juga nggak ngerti... Tadi dia datang sama bapaknya. Wajahnya murung ... trus waktu kami tanya kenapa, eh dia malah nangis...!"
"Mungkin ada musibah di keluarganya?"
"Musibah sangat besar.....!!!"
"Ada apa..?
" Ibunya marah besar karena hasil UN-nya cuma 34. Padahal mau ibunya, dia harus dapat minimal 36 supaya bisa masuk SMAN yang diinginkan ibunya, dan SMAN itu mematok nilai UN segitu untuk dapat diterima di situ."
"Ah.... masih ada SMAN lain .... memang apa istimewanya SMAN itu?"
"SMAN favoritlah.... apalagi, kalau bukan itu?"
"Masuk SMAN favorit bukan jaminan masa depan yang cerah. Setiap anak bisa punya masa depan yang sama cerahnya, dimanapun dia sekolah. Lebih tergantung pada kualitas anak dan kehidupan/kecakapan sosialnya. Tidak semata-mata dari kemampuan akademis. Percaya deh..."
"Tapi ibunya marah-marah, malah dia dibilang anak yang nggak ada gunanya..."
"Astaghfirullah ......."

Aku tercenung... sedih, prihatin mendengar cerita anakku.... Di hari yang sebetulnya sangat membahagiakan ini ada seorang anak yang menangis karena ibunya mengatakan dia sebagai anak yang tidak ada gunanya. Hanya karena si anak memperoleh nilai ujian 34 koma. Si anak tidak berhasil mencapai nilai UN 36 yang berarti rata-rata 9 sebagaimana keinginan si ibu. Ibu yang konon merasa sudah mengorbankan banyak uang untuk membiayai pelajaran tambahan berupa les-les dan bimbingan belajar di luar sekolah. Padahal... dengan pencapaian 34 koma itu, si anak sudah memperoleh nilai ujian rata-rata di atas 8,5. Jauh di atas batas kelulusan siswa. Apalagi yang kurang....?

Masih banyak cerita anakku tentang temannya tersebut terutama tentang kehidupan keluarganya sebagaimana yang seringkali dikeluhkannya. Cerita yang rupanya sudah menjadi rahasia umum.
***

Penerimaan siswa baru tingkat SMP Negeri dan SMA Negeri selalu mensyaratkan nilai ujian tertentu sebagai passing grade. Itu bisa diartikan bahwa secara tidak langsung "anak-anak kurang pintar" tidak berhak mendapat sekolah yang "baik dan berkualitas". Mereka sudah divonis sejak awal oleh segolongan orang yang kepadanya selalu ingin disebut sebagai "pendidik". Lagipula, apa definisi serta kriteria "sekolah yang baik dan berkualitas" di negeri yang segalanya ingin hasil yang serba instant ini?

Itukah arti pendidik? Yang sejak awal sudah memilah-milah murid berdasarkan "otak"nya, sementara secara bisik-bisik, hasil kerja otak pada saat Ujian Nasional itupun sudah disusupi oleh kunci-kunci jawaban yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Aku bersyukur bahwa sekolah anakku dipujikan sebagai sekolah yang bersih dari praktek sejenis itu. Maka ....pendidikkah namanya yang "mengajarkan" anak muridnya "mensiasati" ujian nasional dengan cara memberikan kunci jawaban hanya untuk alasan agar sekolahnya "dipandang" sebagai sekolah dengan hasil ujian yang tinggi. Padahal ... praktek seperti itu sama juga dengan mengajarkan anak perilaku yang sangat tidak terpuji .... Perilaku yang akan membekas di dalam sanubari si anak. Kelak di kemudian hari, saat terjun di masyarakat, bukan tidak mungkin "bekas" itu akan tercermin dalam perilaku umum sebuah generasi. Sebuah generasi yang kehilangan orientasi akan nilai kebenaran dan kejujuran.

Padahal.... coba lihat dan baca buku-buku biografi orang-orang ternama .....!!! Mereka
umumnya adalah orang-orang yang seringkali meninggalkan bangku sekolah/kuliah entah karena memang tidak mampu bersekolah karena kemiskinan atau karena mereka malah menganggap bahwa sekolah/kuliah membelenggu jiwa/kebebasan berekspresi dan mengungkung imajinasi. Namun yang pasti, mereka yang berhasil adalah orang-orang yang memiliki semangat pantang menyerah  dan visi yang jauh melampaui batas dinding sekolah. Kesemuanya ini belum tentu bisa diperoleh dari sekolah. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya selain sekolah .....

Ah, ya.... ada juga tuh .... Visi dan semangat pantang menyerah yang diperoleh dari sekolah....! Dari seorang guru sederhana di SD Muhammadiyah yang hampir roboh di Belitong. Dan itupun, hanya berdampak kepada Andrea Hirata semata .... Jadi, masa depan dan keberhasilan anak tidaklah semata ditentukan oleh "otak"nya...

Orang tua, sistem pendidikan, sistem penerimaan siswa di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Masih segar dalam ingatan... peristiwa 1 tahun yang lalu di Surabaya. Seorang anak SD dan orangtuanya dihujat, dikucilkan dan kemudian diusir dari lingkungan hanya karena mereka melaporkan kecurangan yang dilakukan sekolah saat ujian nasional. Sekolah dan orangtua murid berang karena "kebenaran" yang diungkapkan keluarga tersebut. Itulah potret sebagian pendidikan di Indonesia, kala nilai ujian menjadi berhala baru ....
***

Teman anakku mungkin sudah menerima kenyataan dan sadar bahwa kemarahan ibunya disebabkan karena "pengorbanan materi" yang sudah dilakukannya tidak sepadan dengan hasil yang diberikannya. Tapi, dia juga sama tidak mengertinya, mengapa hasil 8,5 yang diperolehnya tidak memuaskan ibunya, sementara sebagian besar teman lainnya hanya mendapat nilai di bawah 34. Dan mereka masih bisa bergembira dan merayakan kelulusannya di tengah ke dua orangtua mereka.

Remaja itu mungkin belum sepenuhnya mengerti bahwa masa depan dan karirnya nanti tidak semata-mata ditentukan oleh hasil ujian SMPnya hari ini. Ini baru sebagian kecil dari perjalanan hidupnya dan proses yang harus dilaluinya menuju masa depan. Jalan menuju masa depan yang masih sangat panjang....., dan yang pasti dia masih butuh uluran kasih sayang, dukungan, dorongan orangtua terutama ibunya dan tentu saja bantuan biaya sekolah.

Anak adalah titipan yang dipercayakan Allah SWT kepada sepasang manusia yang berlabel orangtua. Mereka tidak pernah minta dilahirkan, sebaliknya orangtualah yang menginginkan kehadirannya. Maka ... menjadi kewajiban orangtualah untuk "mengurusnya" dengan baik dan penuh kasih sayang. Bukan dengan perhitungan untung rugi atau berdasarkan azas manfaat.

Kalau hanya karena nilai UN SMP setinggi 34 saja dia sudah dimaki (ah... kok bahasanya kasar sekali...?) sebagai anak tak berguna ...., maka maro kita doakan semoga Allah SWT tidak mendengar ucapan ibunya itu .... Semoga malaikat-malaikat lupa mencatat ucapan sang ibu .... Jangan sampai ucapan ibu yang seringkali dianalogikan sebagai "doa" buat anak, terjadi.....! Agar anak itu tidak patah semangat. Agar dia tetap mendapat kesempatan membuktikan diri sebagai anak yang berguna dan mampu memberikan kebanggaan bagi orangtuanya. Karena, aku tahu ... anak itu sungguh manis budi dan pandai ....

Rabu, 30 Mei 2012

EKSPLOITASI ANAK DI JALAN RAYA

Setiap hari saat pulang kantor, kemacetan sudah pasti menghadang di perempatan Jl TB Simatupang - Jl. RS Fatmawati. DI sana, puluhan dan bahkan mungkin ratusan mobil antri, menunggu traffic light memberi signal hijau, sehingga mobil bisa melewati perempatan yang selalu sibuk itu.


Berbagai jenis kendaraan memenuhi jalan, saling serobot, seakan tak rela melepaskan meter demi meter yang ditempuh demi kelancaran perjalanan pulang. Apalagi motor-motor yang jumlahnya puluhan. Namun di balik keriuhan raungan mesin kendaraan bermotor, coba perhatikan kegiatan yang terjadi di sela-sela antrian mobil/motor. Di bawah sinar kuning lampu penerangan jalan. Tentu akan tersembul beberapa kepala yang tingginya bahkan lebih rendah dari kaca spion mobil atau motor. Mereka berlari di sela-sela mobil dan motor, berebut sasaran untuk menadahkan tangan-tangan mungil berdebu. Tak dipedulikannya pengap dan kotornya udara akibat terpaan polusi asap kendaraan bermotor.


Menyedihkan tentunya ... di malam yang telah larut, seringkali lewat dari jam 22.00, anak-anak yang seharusnya sudah terlelap di pelukan sang ibu, dalam kenyamanan tempat tidur, masih nanar di tengah keramaian malam. Apakah mereka tidak perlu istrirahat agar esok bisa bangun lebih pagi dan berangkat sekolah? Sudahkan mereka mengerjakan tugas-tugas sekolah? Ah.... jangan-jangan, mereka sama sekali tidak mengenal sekolah ... Jangankan anak-anak kecil yang menurut taksiranku (melihat tinggi badannya) baru berusia sekitar 2 tahun ... bahkan anak-anak yang lebih besarpun, belum tentu mengenal sekolah... Anak siapa mereka...? Begitu teganya orangtua yang melepas dan membiarkan mereka berkeliaran di jalanan, sementara malam sudah sedemikian larut... 


Kepolosan anak-anak itu tak akan pernah mampu memasang wajah memelas untuk meraih belas kasihan pengendara mobil dan motor. Senda gurau tetap terdengar ....., Entah karena memang para pengendara sudah lelah setelah seharian bekerja... atau karena mereka sangat paham betul bahwa anak-anak tak berdosa itu diperalat segelintir orangtua "pemalas" untuk mengais rejeki... Tentu kita tidak berharap bahwa para pengendara motor dan mobil sudah kehilangan empati, nurani dan "rasa" sehingga jarang sekali terlihat tangan menyisipkan selembar uang ke dalam tangan mungil yang tersodor... Begitulah fragmen kehidupan malam, di salah satu sudut, penggalan ibukota Jakarta.
***


Jalan Kyai Maja, tepatnya di depan kolam renang Bulungan, saat pagi atau sore, yaitu pada peak hours. Berbagai ragam merek mobil dan motor turut menambah kemacetan yang sudah terjadi akibat deretan metro mini yang tidak pernah mau mentaati traffic light. 

Beberapa waktu yang lalu, sambil menunggu kendaraan maju, pandangan mataku terpaku pada sosok lelaki berumur sekitar 20an. Berpenampilan kumal bertato yang sedang menggendong bocah umur sekitar 8 tahun. Sempat terbersit rasa kagum melihatnya. Semula kupikir dia sedang menggendong adiknya dan ini merupakan pemandangan yang sangat langka. Seorang lelaki muda, walaupun berwajah dingin dan bertato, mau bersusah payah menggendong adiknya.

Bocah kecil di gendongan itu asyik memain-mainkan koin rupiah. Namun sayangnya, ia lengah dan koin tersebut jatuh menggelinding ke bawah metromini. Si "kakak" begitu marahnya sehingga dengan kasar dia melepaskan bocah dari gendongan ke jalan disela-sela kendaraan yang berhenti di tengah kemacetan. Bocah itu ternyata hanya berkaki satu dan untung juga dia cukup waspada untuk tidak terlempar dari gendongan. Si "kakak" begitu marah ...... Mereka rupanya "pasangan pengemis" yang mengais belas kasihan dengan memanfaatkan tubuh cacat si bocah. 

Pintu metro mini selalu terbuka, tanpa terduga, dilemparnya si bocah ke dalam metro mini. Tanpa terduga, dengan lincahnya si bocah mulai beroperasi, merangsek masuk ke dalam metro mini. Sementara si "kakak" berusaha meraih koin yang terjatuh sebelumnya.
***

Pemanfaatan orang cacat, anak-anak balita atau bayi sakit-sakitan sebagai umpan belas kasihan masyarakat kerap terlihat di perempatan jalan atau di kendaraan umum. ini adalah cermin kemiskinan yang merasuk di masyarakat. Kalau pemerintah selalu mengklaim bahwa tingkat kemiskinan telah menurun, maka itu hanya hitungan di atas kertas berdasarkan teori dan asumsi yang dibuat secara sepihak. Bukan berdasarkan fakta di lapangan. Apapun alasan yang disampaikan dan berbagai asumsi yang dibuat untuk menutupi kondisi riel masyarakat, itulah bukti ketidakberdayaan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraaan rakyat.

Kemiskinan memang "memaksa" mereka untuk menghalalkan segala cara untuk meraih uang pembeli sebungkus nasi karena lapangan pekerjaan sangatlah mustahil dimasuki oleh mereka yang tidak memiliki bekal pendidikan yang cukup. Mau berdagang, apalagi ... darimana modal bisa diperoleh? Mungkin juga mereka berpikir bahwa mengemis masih lebih baik daripada mencuri atau merampok karena profesi "pencuri dan perampok" sudah "dirampok" oleh golongan elite berdasi yang tanpa malu-malu mencuri dan merampok duit negara .... Duit yang sebetulnya hak masyarakat .... Duit yang sejatinya harus dikembalikan untuk dinikmati masyarakat dalam bentuk berbagai fasilitas pelayanan kesehatan "murah" di puskesmas, sekolah gratis berlabel wajib belajar ... pembangunan infrastruktur di berbagai pelosok negeri agar denyut pembangunan merata di hampir seluruh wilayah negeri tercinta.

Kini, di tengah maraknya kasus-kasus perampokan duit negara oleh perampok elite serta himbauan pemerintah daerah untuk tidak memberi uang kepada anak jalanan agar mereka "kapok" dan kembali ke rumah, apa yang harus kita lakukan?

Senin, 28 Mei 2012

BIJAK MENGUNDANG

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman di kantor yang lama, yang sekitar 18 tahun lalu pernah sekantor, menelpon .... Meminta alamat kantor saya sekarang. Dia bermaksud mengundang beberapa teman kantor saya yang sekarang beserta boss yang juga bossnya di kantor terdahulu untuk menghadiri pernikahan anaknya yang ke dua.

Setelah saya berikan alamat persisnya, beberapa hari kemudian saya menerima undangan tersebut. Alhamdulillah, dia masih ingat untuk mengundang teman-teman lamanya. Bisa jadi hal ini dilandasi untuk menfasilitasi teman-teman lamanya untuk melaksanakan reuni gratis heheheh .... Semangat menyambung tali silaturahim yang patut dihargai.

Saat membaca nama - nama pengundang, yaitu nama orang tua mempelai, saya agak tertegun... Bukan karena jumlahnya yang ternyata 3 pasang, yaitu 2 pasang berasal dari keluarga perempuan dan satu pasang dari keluarga lelaki, tetapi karena saya merasa nama salah satu istri pengundang agak familiar. Nama yang berasal dari "masa remaja" nun jauh di seberang... Apalagi dipadukan dengan nama suaminya yang berprofesi sebagai dokter spesialis anak dan alamat rumahnya. 

Tidak salah lagi .... karena belasan tahun yang lalu, sekitar beberapa bulan setelah kelahiran anak saya yang ke dua, saya pernah bertemu di sebuah RS di bilangan Bekasi. Saat itu dia yang juga berprofesi dokter, sedang menunggu sang suami.

Segera saja kutelpon mantan teman kantorku itu untuk meminta nomor telpon genggam calon besan perempuannya yang menjadi ibu tiri calon menantunya itu.

Singkat kata, berbekal nomor telpon genggam pemberian temanku, beberapa hari kemudian, hari minggu pagi, sambil menunggu asisten rumah membeli ketupat sayur di pelataran parkir dekat pasar pondok labu, kukirim sms kepada temanku tersebut, memberitahukan bahwa aku mendapat undangan untuk hadir dalam pernikahan anak tirinya tersebut dan bermaksud menghadirinya.

Di luar dugaan, alih-alih menjawab sms ku, teman lamaku itu malah langsung menelpon ... hihihi... inilah kemudahan dan dampak kemajuan teknologi komunikasi - sedang berbelanja di pasarpun bisa tetap berkomunikasi. Cerita panjang lebar, bernostalgia mengenai teman-teman lama kami saat di bangku SMA dulu.

Sebetulnya... teman lama ini adalah kawan sekelas adik perempuanku, tapi karena kami tinggal bersebelahan rumah dan kebetulan dia tinggal dengan kakak iparnya yang saat itu menjabat sebagai wakil kepala cabang suatu bank, maka kami cukup saling mengenal seluruh isi keluarga masing-masing.

Dua hari kemudian, saat berada di kantor, secara tiba-tiba aku menerima sms berisi penjelasan mengenai keluarga dan status anak-anaknya. Kaget juga aku membacanya .... Entah apa yang ada di dalam benak temanku, hingga dia merasa harus menjelaskan bagaimana dia melaksanakan pernikahannya dulu serta status anak-anaknya. Sumpah mati ... sama sekali tak pernah terlontar pertanyaan tentang hal itu. Itu urusan pribadi mereka.

Aku memang pernah mendengar cerita tentang pernikahannya tersebut dari adikku yang memiliki profesi yang sama dengan suaminya. Tapi... untuk apa mengusili urusan rumah tangga orang lain? Itu sebab ... aku hanya menjawab singkat..."ya, sudah pernah dengar ..... ! 

Hari Minggu, saat dilangsungkan resepsi pernikahan tersebut, aku hadir sendiri. Anakku sedang bermalas-malasan, kalau diperintahkan mandi lebih pagi. Mengikuti kebiasaan bapaknya, hari Minggu adalah hari santai dimana semua orang merasa "bebas" untuk mandi sesuka hati. Kebiasaan jelek yang tak patut ditiru. Suamiku, sudah sejak pagi keluar rumah. Hari Minggu adalah jadwalnya latihan senam pernafasan Sinar Putih. Pulang dari tempat latihan, usai sarapan pagi yang sudah sangat terlamabta, sekitar jam 10.30, biasanya acara memeluk guling tidak bisa diganggu gugat. Jadi.... kalau aku punya undangan dan dia sedang berbaik hati untuk ikut hadir, biasanya dia akan mengorbankan waktu latihannya. Namun kali itu, dia "berkeras" latihan karena minggu sebelumnya, kami pergi ke Bandung menjenguk ibuku yang baru usai melakukan operasi penggantian sendi pangkal paha kanannya.

Aku berangkat sendiri dari rumah sekitar jam 10.45, langsung mengambil jalan bebas hambatan menuju lokasi. Kebetulan bertemu beberapa teman lama dari kantor yang sama dengan orangtua mempelai lelaki. Kami ngobrol kesana-kemari. Memang begitulah motivasi kami hadir di acara pernikahan tersebut. REUNI..... Rupanya, mereka juga agak "curious" dengan adanya 3 keluarga pengundang. Itu sebab kami memilih tempat berdiri agak dekat dengan pelaminan, dengan harapan agar kami bisa "melihat" dari dekat  serta mendapat kesempatan awal memberi selamat kepada keluarga yang berbahagia tersebut.

Tiba saat pengantin dan keluarga berjalan menuju pelaminan, mataku menangkap sosok seorang perempuan yang sedang duduk di kursi roda dan seorang lelaki ganteng. Si perempuan, setelah kuperhatikan, ternyata menggunakan warna kebaya yang sama dengan orang tua pengantin yang sedang berjalan mengiringi pengantin menuju pelaminan, sedangkan sang pria juga memakai pakaian Jawa berblangkon. Tidak salah lagi ... ini tentu ibu pengantin perempuan disertai suami barunya.

Menjelang rombongan pengantin tiba di pelaminan, ibu kandung pengantin perempuan bangkit dari kursi rodanya. Berjalan perlahan tertatih-tatih sambil dipapah suaminya... dia berjalan dan duduk berdampingan dengan mantan suami dan istri "baru"nya. Memang agak terlihat tidak biasa ... apalagi saat itu sama sekali tidak terlihat adanya saling sapa di antara ke dua pasangan suami istri itu. Unik ..... Salah satu temanku sempat nyeletuk usil .... " lihat deh ... suaminya (bapak dari pengantin perempuan) mendapat istri yang lebih cantik, langsing dan lebih muda - begitu juga dengan ibunya. Usai diceraikan suami, dia yang terlihat sakit, mendapat suami yang juga lebih muda dan ganteng"

Kulihat seksama mereka yang ada di pelaminan.... Betul ... Sang suami Jawa yang wajahnya lebih pantas disebut wajah Minang - duduk berdampingan dengan istrinya (ini teman lamaku) yang jauh lebih segar dan cantik dibandingkan dengan mantan istrinya yang terlihat jauh lebih tua dan "sakit". Demikian juga mantan istri. Dia duduk tenang didampingi oleh suami yang terlihat gagah dan ganteng khas lelaki Jawa dengan kumisnya dan ..... terlihat jauh lebih muda dari wajah istrinya.

Entah apa yang berkecamuk di benak para undangan... Yang pasti, ke dua orangtua itu, walaupun sudah bercerai ... mereka punya hak dan kewajiban untuk "menyelesaikan" tugas, mengantar anak-anaknya ke gerbang pernikahan. Jadi memang.... mengapa harus malu dengan kondisi ini?

Minggu, 06 Mei 2012

Pasar Tradisional vs Hypermarket. Bersaing dalam era global.


Sejak ibu saya menderita komplikasi dari diabetes mellitus yang dideritanya sejak 19 tahun yang lalu, saya menjadi pelanggan pasar tradisional di Pondok Labu – Jakarta Selatan. Hal ini sudah berlangsung hampir enam tahun terakhir.



Sebelumnya, ibu saya selalu rajin berbelanja di pasar yang sama. Selain karena harganya lebih murah (katanya), berbelanja ke pasar tradisional menjadi salah satu kegiatannya sehari-hari selain mengaji. Anggaplah sebagai bagian dari kegiatan olahraga pengganti setelah beliau berhenti total dari kegiatannya main golf.

Saya sendiri agak malas belanja ke pasar tradisional. Sejak kembali ke Indonesia di tahun 1985, saya tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke pasar tradisional. Alasannya klasik. Tidak punya cukup waktu untuk dihabiskan bersama keluarga sehingga berbelanja harus merupakan aktifitas keluarga. Dan tempat yang memenuhi syarat untuk berbelanja sambil beraktifitas bersama keluarga adalah berbelanja di supermarket. Apalagi sekarang supermarket bertaburan dimana-mana. 

Jakarta bahkan sudah dipenuhi oleh hypermarket yang luasnya sudah belasan ribu meter persegi. Yang menyediakan seluruh kebutuhan manusia dari mulai kebutuhan primer maupun sekunder. Mereka bangga dengan sebutan one stop shopping. Apalagi buat sebagian besar masyarakat, berbelanja di pasar modern memiliki gengsi tersendiri.
*****

Pasar tradisional di Indonesia, khususnya di Jakarta, walau sudah dibangun bertingkat dan dikelola “secara professional” oleh PD Pasar Jaya, ternyata belum beranjak jauh dari ciri-cirinya sejak jaman dulu. Kotor, kumuh, sumpek dan berbau busuk. Fasilitas umum berupa toilet dan mushola sangat tidak memadai. Air tidak mengalir sehingga akibatnya menebarkan aroma tidak sedap.

Area perparkirannyapun tidak jauh berbeda. Selalu dipenuhi oleh pedagang yang menggelar dagangannya di pelataran parkir sehingga area tersebut beralih fungsi, tidak sebagaimana maksudnya. Pedagang di area parkir kemudian menjadi pesaing bagi pedagang resmi yang berada di dalam bangunan pasar. Sukar untuk menyebut mereka yang berjualan di pelataran parkir sebagai pedagang liar. Nyatanya, mereka berdagang dengan aman di tempat itu dan konon membayar sewa "lapak".

Tidak itu saja, di sekelililing bangunan pasar tradisional dimana saja di Indonesia, akan selalu ada “pasar kumuh” Orang sering menamakannya sebagai pasar bawah untuk membedakan dengan pasar atas yang berlokasi di dalam bangunan. 

Pasar bawah ini semakin membuat kesemrawutan lingkungan. Menyumbang bebauan sampah dan becek. Sungguh sangat jauh dari kebersihan dan kesehatan lingkungan. Padahal yang dijual adalah produk makanan, baik bahan makanan mentah dan juga makanan matang seperti kue2an, dan warung makan. Tetapi nyatanya orang tetap berbelanja dengan tenang.
*****

Awal tahun 1970an, Jakarta masih sepi dari supermarket. Kalaupun ada, hanya satu atau dua gerai yaitu Hero dan Gelael. Merekalah pionir pasar modern di Indonesia. Saat itu, jarang orang berbelanja di sana karena harga barang yang dijual relatif lebih mahal dari harga barang di pasar tradisional. Dengan demikian, konsumennyapun terbatas pada kalangan menengah ke atas saja.

Tahun 1980an mulai muncul Golden Trully dan Grasera. Keduanya menggelar komoditi sehari-hari di dalam gedung dengan area yang jauh lebih luas dan ragam jenis dagangan. Era one stop shopping di super store sudah dimulai. Masyarakat Jakarta mulai dididik untuk berbelanja di pertokoan modern. Persaingan antara pasar modern berupa super store dan pasar tradisional dimulai.

Seiring dengan perkembangan keberadaan supermarket dan hypermarket, perlindungan terhadap keberadaan pasar tradisional mulai terabaikan. Di atas kertas, keberadaan super store yang kemudian berkembang pesat menjadi hypermarket dibatasi. Harus berada pada radius sekian kilometer dari pasar tradisional dan tidak boleh menjual jenis komoditi tertentu yang menjadi jajaan di pasar tradisional. Namun kehadiran “pemain asing” yang dimulai dengan kehadiran “Continent” yang kemudian diakuisisi oleh Carrefour mengubah peta perpasaran modern di Indonesia terutama Jakarta.


Bayangkan …. Carrefour diijinkan beroperasi selama 365 atau 366 hari per tahun. 7 hari per minggu dari jam 10.00 hingga 22.00. Tidak ada hari libur. Kalaupun tutup, itu hanya untuk kepentingan stock opname - recheck. Bayangkan … di hari Raya apapun juga mereka tetap beroperasi walaupun jam bukanya digeser menjadi agak siang.

Carrefour juga merambah masuk pertokoan di tengah kota. Tetap dengan konsep hypermarket dan one stop shopping. Dengan sangat piawai mereka “mengeduk” isi dompet semua kalangan dimana mereka berada dengan berbagai marketing’s gimmick. Tak ada Carrefour yang sepi pengunjung dan berbelanja di Carrefour saat week end menjadi sangat tidak nyaman lagi.

Tanyalah pada orang Perancis yang mungkin anda kenal, bagaimana komentar mereka tentang keberadaan Carrefour di Indonesia. Mereka tentu akan geleng-geleng kepala. Entah karena kagum akan keberhasilan Carrefour menggaet pengunjung atau karena tidak habis pikir akan “isi kepala” para pembuat keputusan di Indonesia sehingga Carrefour bisa semena-mena dan hampir-hampir tanpa batas untuk menentukan lokasi hypermarket serta jam dan hari beroperasinya. Hal yang hampir mustahil mereka peroleh di negara asalnya. Benar-benar liberalisasi tanpa batas dan tanpa adanya perlindungan terhadap pemain kecil dan tradisional.

Jumlah Carrefour di Jakarta, ternyata lebih banyak daripada jumlahnya di Paris. Bahkan anda tidak akan pernah menemukan satupun hypermarket, apakah itu bernama Carrefour, Mammouth, Euromarche atau apapun namanya di pusat Paris ataupun pusat kota-kota lainnya di Perancis, kecuali mereka di luar outer ring road yang berarti di pinggiran kota.

Kebijakan ini dimaksudkan agar toko-toko makanan tradisional yang menjual sayur-mayur dan buah-buahan, daging-dagingan (bouchery), toko roti (boulangery) tetap hidup dan menghidupi dinamika masyarakat. Bahkan pada hari-hari tertentu, terutama week end, di berbagai lapangan parkir (place–plaza) atau di sebagian/potongan jalan di pusat kota digelar pasar tradisional yang hanya beroperasi hingga tengah hari saja.

Di negara asalnya, Carrefour dan seluruh “pasar modern” apakah itu supermarket atau hypermarket tidak akan pernah diijinkan untuk buka 7 hari seminggu atau 365 atau 366 hari setahun. Jaringan perpasaran modern itu akan bergantian menutup tokonya. Satu hari dalam seminggu. 

Dengan posisi sebagai “penguasa” jaringan retailer di Indonesia, bukan tidak mungkin kalau Carrefour menangguk keuntungan terbesarnya bukan di negara asalnya tetapi dari Indonesia. Di negara dunia ketiga yang lokasinya sangat jauh. Negara yang konon masih merangkak-rangkak mengemis pinjaman kepada pemerintahnya dan bahkan mungkin sama sekali tidak dikenal atau dilirik oleh rakyat Perancis. Kecuali mungkin sekarang, kalau rakyat Perancis sadar akan kehadiran Anggun sebagai penyanyi asal Indonesia. Ironis sekali!!!!

Sungguh memprihatinkan kondisi perpasaran di Indonesia. Para pedagang lemah “dipaksa” bersaing dan berperang dengan pemodal raksasa tingkat dunia. Kalau pada awal keberadaan pasar modern bernama supermarket, hanya masyarakat golongan menengah atas yang mampu berbelanja, maka pada era Carrefour, seluruh golongan masyarakat memadatinya.

Harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dan bahkan terkadang lebih murah dari pasar tradisional. Kualitas barang-barangnya terjamin. Kesegaran buah-buahan dan sayur-mayur tidak perlu diragukan lagi. Dan yang terpenting, belanja di Carrefour bisa dimanfaatkan sebagai aktifitas keluarga.

Sungguh terasa sangat tidak adil menghadapkan para pedagang kecil pasar tradisional dengan segala kekumuhannya dengan pasar modern. Entah apa yang ada di dalam benak para pengambil keputusan di negeri ini tertutama mereka yang memberikan ijin operasi hypermarket. Lihat saja saat ini. Jangankan pasar tradisional, jaringan retailer lokal seperti Gelael dan Hero sudah menampakkan wajah yang semakin redup dan diakuisisi oleh pihak asing
*****
Sejujurnya, kalau saya kembali berbelanja ke pasar tradisional, tentu bukan karena alasan-alasan yang sok humanitarian. Kalau boleh diakui,  awalnya hanya untuk “menyenangkan” hati ibu saya yang selalu “membanggakan” pedagang sayur langganannya. Ada rasa penasaran, untuk mengetahui siapakah sosok pedagang sayur itu. Kesempatan itu datang saat ibu saya harus “mengungsi” ke Bandung dan kemudian dirawat di rumah sakit hampir selama satu bulan karena DMnya kambuh.

Kekumuhan, kemacetan, kesemrawutan dan bebauan busuk yang langsung menyergap hidung di sekitar pasar hampir menyurutkan langkah saya untuk berbelanja. Namun waktu terus berjalan. Di tengah segala kesemrawutan itu ada nuansa dan suasana yang berbeda dengan “dingin”nya hypermarket. Ada interaksi antara penjual dan pembeli, ada kehangatan hubungan kemanusiaan. Tukar menukar info atau berbagi pengalaman dalam menangani “sisa sayuran” yang tidak laku mewarnai suasana berbelanja dan kadangkala info yang diperoleh di pasar bermanfaat untuk dijadikan resep olahan jenis hidangan baru.

Secara umum, tanpa melihat kualitas dan kesegarannya terutama bila berbelanja terlalu siang, harga hampir sebagian besar komoditi kebutuhan rumah tangga di pasar tradisional lebih murah dari supermarket. Namun, terkadang harga yang ditawarkan lebih mahal. Jadi, jangan terlalu berharap bahwa belanja di pasar tradisional akan lebih murah terutama bila kita termasuk jenis manusia yang tidak terlalu suka melakukan tawar menawar harga.

Mungkin ada baiknya bila kita mau mengubah paradigma yang ada di kepala, kala berbelanja di pasar tradisional. Jangan melakukan tawar menawar dengan pedagang kecil itu. Karena itulah yang kita lakukan saat kita berbelanja di hypermarket. Kasihan para pedagang kecil itu!! 

Niatkan saja bahwa aktifitas belanja di pasar tradisional adalah bagian dari “berbagi” rejeki dengan sesama, yaitu kepada para pedagang kecil. Nggak ada ruginya kok. Daripada uang kita terus menerus mengisi pundi-pundi para pemodal Perancis itu? Ayo … pilih yang mana?

Selasa, 24 April 2012

catatan kecil dari STUDY BANDING


Hampir sekitar satu bulan yang lalu, usai makan siang Big boss mencari saya. Tumben …..!!! Di kantor, saya tidak termasuk daftar “cari” sehari-hari kecuali kalau beliau sedang “berunding” dan ada dokumen yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Yang pertama dicari, pasti sekretarisnya. Lalu IN. Maklum saja, urusan yang saya pegang biasanya hanya “calon proyek”. Kalau sudah jadi proyek, sudah pasti pekerjaannya “dilungsurin” ke orang lain. Jadi, pekerjaan saya lebih banyak mengarah pada investasi dan masalah legal. Kelayakan proyek, Memorandum of Understanding dan perjanjian-perjanjian jadi makanan sehari-hari. Jadi, memang agak luar biasa kalau pada siang hari itu saya dicari. Nyarinya juga, heboh banget… seperti ada urusan penting.

Masih sambil berbicara di telpon, yang kemudian saya tahu beliau sedang bicara dengan managing director sebuah travel bureau langganannya, yang biasa menangani convention atau perjalanan-perjalanannya ke luar negeri, terutama untuk perjalanan yang agak rumit, beliau bertanya:

“Kota-kota satelit baru yang ada di sekitar Paris, apa saja?”
“Wah … rasanya sudah nggak ada lagi yang baru. Sudah jadi semua, pak!”
“Paling tidak … yang masih layak dikunjungi….!”
“Hm ……, Evry … boleh juga, atau La Defense dan Marne la Vallee.”, jawab saya sekenanya. Paling tidak 3 banlieu[1] itulah yang ada di kepala saya.

Evry masuk ke dalam daftar isi kepala saya, karena saya punya buku terbitan tahun 1980 berjudul “Evry, creer une centre ville[2]” yang diterbitkan oleh municipalite[3] Evry itu sendiri.

La Defense, yang terletak di barat Paris, ada dalam ingatan karena daerah ini terkenal dengan bangunan la Grande Arche de la Defense. Kalau nggak salah sebuah perkantoran, tiruan l”Arc de Triomphe dalam bentuk modern. Jujur saja, saya sendiri belum pernah mengunjungi La Defense selama 4 tahun tinggal di Stains, banlieu noir de Paris[4]. 

Selalu saja ada halangan untuk melihat bangunan tersebut. Mungkin karena La Defense merupakan wilayah kota modern, sehingga bagi saya, tidak terlalu menarik dikunjungi. Apalagi bila dibandingkan dengan keindahan bangunan, jembatan, patung dan berbagai peninggalan kuno yang ada di segala penjuru kota Paris.

Marne la Vallee, terletak di wilayah timur Paris dan dapat dicapai hanya dalam hitungan 20 menit saja dengan RER – reseau express regional[5]. Belakangan ini Marne la Vallee ramai dikunjungi dan menjadi salah satu tujuan wisata di Region Parisienne sejak dibangun Euro – Disneyland hampir dua dekade yang lalu. Anak, suami disertai dengan mertua saya, pernah mengunjunginya pada tahun 1993, saat suami kebetulan bertugas ke UK dan kami “menjemputnya” pulang. Saya sendiri, saat itu, memilih untuk menggelandang di Paris sendirian. Mencari  pesanan berbagai merek parfum yang dititipi oleh keluarga dekat.di La Fayette dan au Printemps[6] yang terletak di Bd Haussman dan sepatu Bally “bon marche”[7] di rue Rivoli yang letaknya tidak jauh dari Musee du Louvre.

“Nanti saya browsing tentang ke 3 kota tersebut. Saya kirim kemana datanya…?”
“Fax saja ke H …. Biar nanti dia yang urus selebihnya.”
“OK …. Saya kirim segera. Minimal supaya ada sedikit  gambaran tentang kota/wilayah tersebut. Jadi nggak buta sama sekali”

*****

Kamis minggu lalu, big boss muncul lagi ke kantor setelah tiga hari absen. Beliau memang hanya muncul di kantor setiap hari Jum’at dan menghabiskan sepenuh hari kerja tersebut di kantor untuk koordinasi atau menerima tamu-tamu bisnisnya. Hari lainnya biasa dihabiskan di Senayan dan sepanjang minggu, hanya muncul di kantor di saat luang dan waktunya sama sekali unpredictable.

Rupanya, minggu terakhir bulan Juli hingga pertengahan Agustus adalah masa reses parlemen jadi anggota dewan yang terhormat berlibur dari masa-masa sidang yang lumayan ketat. Acara reses biasanya diisi untuk mengunjungi daerah pemilihan atau binaannya untuk mendengarkan aspirasi para konstituen. Begitu resminya. Ada juga yang mengisinya dengan kunjungan kerja atau study banding. Study banding ini jadi incaran terutama karena tujuan tempat studynya adalah negara-negara maju.

Adakah yang salah dengan studi banding? Sebetulnya sih … nggak ada yang salah, kalau dilaksanakan dengan maksud dan tujuan yang jelas dan hasilnya terukur dan bermanfaat bagi kelancaran pekerjaan kita. Atau minimal bisa menambah wawasan. 

Saya sendiri termasuk orang yang mendukung “studi banding” dalam berbagai bidang, walaupun itu hanya dilakukan sebagai “kamuflase” dari perjalanan wisata. Lho … kok bisa, ya…? Iya dong … kalau kita memang “pengamat” yang baik, maka segala yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari, pasti akan memberikan pengalaman yang berguna untuk “mengatur langkah” baik dalam perilaku, melaksanakan pekerjaan dan memberikan ide-ide baru yang segar dalam menyelesaikan pekerjaan, yang sekiranya sesuai dengan perjalanan dan pengalaman yang ada.

Dulu, jaman masih kuliah, studi lapangan seperti ini jadi penunjang kuliah dan tugas-tugas perencanaan arsitektur dan perkotaan. Coba bayangkan, bagaimana kita akan mampu “merancang” sebuah fasilitas transportasi modern lengkap dengan berbagai perangkat pendudkungnya seperti monorail, subway/metro dan lain-lain kalau kita sama sekali belum pernah mengalami dan merasakan “naik” moda transportasi tersebut.

Bagaimana kita mampu mendeskripsikan seluruhnya, bila sumbernya hanya berupa gambar, film atau textbook semata. Mengalaminya sendiri akan membawa nuansa yang berbeda dan kita akan semakin menjiwai apa yang akan kita deskripsi dan lakukan. Begitu banyak elemen-elemen kehidupan modern yang perlu kita rasakan sebelum kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin, yang jadi masalah adalah waktu kunjungan para anggota dewan tersebut. Bagaimana study banding itu, dalam arti bahwa para pelakunya harus berinteraksi dengan para pembuat kebijakan di Negara/kota yang dikunjunginya, bisa terlaksana dengan baik bila kunjungan itu dilakukan di tengah musim panas. Dimana semua orang di belahan utara khatulistiwa sedang menikmati liburan panjang musim panas. Tapi, tidak juga bisa disalahkan, karena hanya pada masa reses itu pulalah, para anggota dewan memiliki waktu yang luang. Apalagi, ada budget yang sudah dianggarkan untuk maksud tersebut dan kalau tidak digunakan, akan hangus.

Jadi, begitulah … minggu pertama bulan agustus 2007, ada sekitar 50 orang anggota salah satu komisi di parlemen yang melakukan perjalanan studi banding ke Paris untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Nice, Monaco, mount Tiltlis selama hampir 2 minggu. Sang ketua rombongan sangat piawai “mengawal” misi perjalanan tersebut dan mampu meyakinkan duta besar RI yang dikunjungi mereka, sehingga sang dubes hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti bahwa misi perjalanan tersebut memang sangat masuk akal walaupun bagi orang awam, terkesan hanya perjalanan wisata semata.

Big boss,  hanya mengikuti perjalanan tersebut hingga Paris saja, ikut melakukan courtesy visit ke kedutaan besar RI yang terletak di 49, rue cortambert Paris 16eme. Salah satu kawasan bergengsi di Paris. Mungkin beliau juga bergabung dengan rombongan, sekedar jalan-jalan sedikit di sepanjang Champs Elysees yang terkenal itu. Bagi beliau yang pengusaha, perjalanan ke luar negeri tentu bukan suatu hal yang aneh lagi.

“Kok nggak ikutan ke Nice dan Monaco sih, pak?”
“Nggak,lah … mati berdiri saya, kalo mesti ngikutin mereka jalan-jalan. Banyak kerjaan yang masih harus dilakukan di Jakarta”
“Ke Monaco, apa yang dicari…? Memang mau main judi?”
“Hehehe… biar anggota dewan yang bersih dan perduli itu tahu bahwa hasil judi kalau dikelola dengan baik, bisa dimanfaatkan buat pembangunan.”
“Lho … mereka ikut juga…?”
“Hahaha ….”

Begitulah… dalam diam, anggota dewan yang terhormat melewatkan masa resesnya dengan cara masing-masing. Setelah… 3 hari absen dari kantor, big boss muncul dan langsung ikut shareholder’s meeting di hari Kamis pagi. Seolah tidak terpengaruh oleh jetlag, sepanjang hari itu, beliau sudah disibukkan dengan berbagai acara hingga malam. Saya sendiri mendapat oleh-oleh cantik, yang diberikan pada keesokan harinya.Sebuah dompet bermerek LANCEL berwarna hitam … Asli dari Paris. Lumayan …..!!!


[1] Kota satelit
[2] Evry, menciptakan sebuah pusat kota
[3] Ketatakotaan
[4] Kota satelit hitam, karena mayoritas penduduknya berasal dari Negara-negara Afrika yang berkulit hitam
[5] Jaringan kereta api regional yang melayani wilayah Paris dengan kota-kota satelit sekitarnya yang biasa disebut dengan Region Parisienne
[6] Salah satu department store terkenal di Perancis. Sebelum krisis tahun 1997 sempat berniat masuk ke Indonesia dan membuka gerai di Ratu Plaza. Tapi kemudian batal.
[7] Murah meriah

Selasa, 03 April 2012

FRUSTASI JAKARTA

Wacana untuk memindahkan fungsi ibukota Negara dari Jakarta ke tempat lain selalu timbul tenggelam. Tapi, hampir dipastikan kalau pejabat pemerintahan DKI Jakarta akan ramai – ramai menolak dengan alasan pemindahan ibukota tidak akan mengurangi kemacetan dan banjir.

Alasan ini memang masuk akal dan betul sekali pemindahan fungsi ibukota Negara tidak akan menyelesaikan problematika Jakarta yang sudah carut marut. Masalah mendasarnya adalah pertumbuhan Jakarta sudah melewati daya dukung wilayahnya dilihat dari berbagai segi.

Lihat saja dari jumlah penduduk, kalau saja semua orang yang bekerja di Jakarta harus bertempat tinggal juga di Jakarta, maka kepadatan kota menjadi sangat tinggi. Jumlah rumah yang dibutuhkan pasti tidak akan bisa ditampung dalam wilayah Jakarta yang cuma secuil. Itu sebabnya perumahan melebar ke pinggiran/wilayah Jabodetabek. Sudah begitupun, fasilitas kota (air – listrik – sanitasi kota, pembuangan sampah), transportasi dll untuk mendapatkan kualitas hidup yang layak tetap belum bisa terpenuhi dan menurut saya tidak akan pernah terpenuhi dalam 1 – 2 dekade lagi.


Saat saya kembali masuk dan bertempat tinggal di Jakarta 12 tahun yang lalu, jarak 8km dari rumah ke kantor, masih dapat ditempuh dalam waktu 20 menit saja - pada saat peak hours. Sekarang......? Yup ..... 8km masih bisa ditempuh dalam waktu, tapi....... itu hanya bisa terjadi antara jam 00.00 - 05.30 saja. Lewat dari waktu itu .... tak kurang dari 1 jam. Bahkan seringkali saya harus menempuhnya lebih dari 2 jama kala terjadi paduan antara hujan, banjir, peak hours dan sudah pasti akibatnya kemacetan yang luar biasa...
Kalau memang fungsi Jakarta sebagai ibu kota Negara, secara politis untuk kepentingan warga/pemerintah daerah dan lain - lain yang mengecap berbagai privilege sebagai bagian dari “orang pusat” enggan ditanggalkan, kenapa tidak memindahkan saja fungsi Jakarta sebagai Pelabuhan utama (Tg Priok) ke wilayah lain. Sebut saja misalnya Batam atau Makasar dijadikan Pelabuhan Utama di Indonesia. Dengan demikian minimal arus lalu lintas dan segala keribetan kegiatan pelabuhan tidak menumpuk di Jakarta dan Jakarta hanya ditujukan sebagai kota pelayanan jasa (keuangan – IT – perdagangan dll). Kan banyak contohnya seperti Perancis dengan kota pelabuhan Marseille, yang letaknya jauh di selatan Paris. Belanda yang beribukota di Den Haag dengan Rotterdam sebagai pelabuhan utama, Jerman yang beribukota di Berlin dengan Hamburg sebagai pelabuhan utamanya.

Kita berharap karenanya, pelayaran domestik akan berkembang dan hidup (kan katanya nenek moyangku orang pelaut…), ada gairah untuk kemajuan di wilayah lain dan industri yang «memberatkan» pulau Jawa akan pindah mendekati «pusat» ekonomi baru.

Ya… sekedar unek2 dari orang yang frustasi karena kemarin sore saya harus menempuh 2 jam untuk jarak 8 km saja…. dan saat mau keluar lagi membeli roti untuk sarapan pagi, saya dihadang kemacetan hanya berjarak 100 meter dari rumah. Untung ...., masih bisa memutar kendaraan, kembali ke rumah...! 


Jakarta.... oh Jakarta...... 
salam

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...