Rabu, 19 Maret 2014

Musuh Bersama Partai Politik Indonesia di tahun 2014

Hari ini, Rabu 19 Maret 2014, saya baca berita di harian Republika bahwa Pendiri Pusat Data Bersatu - PDB, Didik J Rachbini yang profesor itu menyatakan bahwa pemerintahan Jokowi meninggalkan banyak masalah di Jakarta. Pendapat ini dilontarkan dalam diskusi "Nasib Jakarta pasca Jokowi", dan pendapat/kesimpulan itu diambil dari data riset yang dilakukan PDB pada bulan Oktober 2013.

3 masalah besar yang ditinggalkan Jokowi bila yang bersangkutan terpilih menjadi presiden Republik Indonesia ke 7 pada pemilihan presiden 2014 yang akan datang antara lain macet, banjir dan pengangguran. Menurut saya, pendapat Ini bisa dikategorikan sebagai penyesatan opini yang luar biasa. 

Siapapun tahu bahwa kemacetan Jakarta sudah terjadi sejak lama. Itu sebabnya pada akhir pemerintahan Sutiyoso, dia membangun jaringan bus Trans Jakarta koridor 1 Blok M - Kota dan angkutan air dari Manggarai menyusuri kali sepanjang jalan sultan Agugung hingga di samping gedung BNI. Pada masa pemerintahan Fauzi Bowo, pembangunan koridor Trans Jakartapun dilanjutkan berikut dengan rencana pembangunan Monorail yang sampai sekarang masih berupa kerangka terbengkelai. Walaupun kemudian angkutan air menjadi tidak jelas kelanjutannya. 


Akan halnya MRT yang sejak lama didengungkan dan bahkan sudah ada dalam Rencana Umum Tata Ruang - RUTR Jakarta 65-85 tak kunjung dibangun, justru mulai dilakukan pembangunannya awal tahun 2014 ini. Pada masa pemerintahan Jokowi-Ahok. Jangan dilupakan pula bahwa pada saat Jokowi-Ahok mulai membenahi transportasi Jakarta dengan "segudang" rencana, pemerintah pusat melalui Departemen Perindustrian malah memberi ijin bagi pemasaran low cost green car - LCGC yang lantas memicu pertumbuhan luar biasa atas penjualan mobil "murah" tersebut. 


Bagaimana mungkin menimpakan kemacetan akibat peningkatan laju penjualan mobil kepada gubernur kepala daerah. Bahwa ada kelambanan pertumbuhan infrastruktur kota, itu pasti. Tapi dalam upaya mengurangi kemacetan Jakarta, selain harus membangun jaringan transportasi massal juga harus dibarengi dengan kebijakan nasional mengenai transportasi umum. Untuk kota besar patut diingat sekali lagi .... harus dibangun jaringan transportasi massal...... bukan infrastruktur untuk kendaraan pribadi berupa jalan raya/jalan layang baik berbayar atau tidak.

Berkenaan dengan banjir, mungkin perlu diingatkan lagi bahwa pembangunan besar-besaran pada akhir 80 sampai dengan sebelum masa krisis moneter, dimana pertumbuhan property di Indonesia sangat tinggi menyebabkan peraturan bahwa kawasan Puncak (Bopunjur) yang seharusnya dikelola sebagai wilayah penyangga hujan, berubah total dan malah dipenuhi dengan pembangunan kawasan villa/perumahan demi yang namanya pertumbuhan ekonomi atau kongkalikong antara pejabat dengan pengusaha. Belum lagi perkembangan tidak terkendali di seluruh wilayah Jakarta. Wilayah Jakarta Selatan yang seharusnya merupakan wilayah pemukiman "hijau", yaitu wilayah pemukiman yang sekaligus merupakan wilayah penyangga air hujan dengan koefisien dasar bangunan - KDB hanya 20%, sudah semrawut. 


Jakarta Selatan tumbuh menjadi wilayah pemukiman "elite" dan mahal. Berbagai kluster perumahan yang menamakan diri sebagai townhouse dengan luas kavling di bawah 150 meter menjamur bahkan hingga ke wilayah perkampungan dengan lebar jalan hanya 4-5 meter saja. Hal ini tentu memperkecil

area resapan air hujan karena kavling kecil seluas di bawah 150m tidak mungkin dibangun hanya dengan KDB 20%. Kluster-kluster ini tentunya menjadi beban buat pemerintah, karena dengan kecilnya luas "pengembangan" lahan, maka si pengembang yang pada umumnnya menyiasatinya dengan memakai nama pribadi menjadi terbebas dari kewajiban penyediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial. Kalau sudah begini ... tentu ada yang tidak beres pada instansi pemberi ijin. Penyimpangan pembangunan fisik seperti ini sudah berlangsung jauh sebelum Jokowi - Ahok menduduki jabatan tertinggi di DKI Jakarta.

Pembangunan di Indonesia pada umumnya tidak pernah dilakukan secara terpadu tetapi hanya dilakukan pada satu bidang, yaitu pembangunan fisik. Kita melupakan bahwa pengelolaan, penjagaan dan mempertahankan keseimbangan lingkungan dengan tetap mempertahankan lahan hijau entah secara mikro (perkotaan) ataupun secara makro dalam tata ruang nasional juga merupakan pilar pembangunan. Bahwa kerusakan alam yang kemudian berakibat kepada makin seringnya terjadi musibah alam berupa banjir, longsor dan sebagainya adalah akibat ketidakmampuan kita menjaga dan mempertahankan keseimbangan lingkungan. Pola pikir bahwa pembangunan adalah menambah sarana, prasarana dan bangunan secara fisik namun mengabaikan dan tidak mempedulikan keseimbangan lingkungan secara makro.

Begitu juga dengan masalah pengangguran di Jakarta.....

Rasanya amat sangat lucu menimpakan semua kesalahan dan berbagai masalah aktual di Jakarta kepada Jokowi. Siapapun tahu bahwa Jokowi - Ahok baru 1,5 tahun menduduki jabatan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dan selama itu sudah banyak pembenahan yang dilakukannya. Itupun dengan banyak gangguan dan hambatan bukan saja oleh masyarakat yang "kenyamanan dan peruntungannya" terganggu. Gangguan itu bahkan dilakukan oleh segelintir orang yang menamakan dirinya sebagai wakil rakyat di DPRD dan mengatasnamakan kepentingan rakyat secara membabi-buta.

Lha .... apakah prestasi gubernur sebelumnya memang lebih spektakuler daripada apa yang dilakukan pemerintahan Jokowi - Ahok sehingga mereka seolah tidak berdosa atas kesemrawutan yang ada di Jakarta? Atau apakah "kerusakan" yang ada di Jakarta dan perusakan selanjutnya hanya terjadi pada 1,5 masa pemerintahan Jokowi-Ahok?

Saya bukan pendukung Jokowi tapi saya sebal betul kalau ada orang pintar bergelar profesor pula memberikan opini menyesatkan dan membodohi rakyat.... Apalagi pendapat ini dilontarkan setelah Joko Widodo ditunjuk partainya sebagai calon presiden RI pada pemilihan raya yang akan datang.

Nuansa pesanan, kampanye hitam dan pembunuhan karakter Joko Widodo terlalu nyata untuk diabaikan dan ironinya hal ini dilakukan oleh "orang pintar"

Jumat, 14 Maret 2014

BUNTU dan karenanya jadi buta segalanya

Sepertinya, bulan Maret ini menjadi bulan yang membuat pikiran saya menjadi buntu. Kebuntuan itu menyebabkan saya tidak mampu menuangkan apapun dalam bentuk tulisan walau berbagai peristiwa datang menyapa aktifitas keseharian untuk kemudian seharusnya pergi dengan membawa kesan mendalam yang layak dituliskan.

Sepertinya, aktifitas mendesain untuk kemudian membangun rumah dengan hanya mengandalkan tukang kepercayaan menyita hampir seluruh waktu luang di malam hari, usai bekerja. Ternyata masih banyak gambar-gambar detil yang harus diselesaikan dalam waktu yang hanya tersedia maksimal 2 jam setiap malam. Apalagi ... sebagai orangtua, kemampuan mengadopsi perangkat canggih untuk menggambar sama sekali tidak saya miliki. Maklum selama masa kerja profesional, hanya 5 tahun pertama saja saya bekerja sebagai arsitek  dan masa itu, perangkat/software autocad belum dikenal orang. Selebihnya walau bidang kerja saya masih bersinggungan dengan dunia arsitektur, namun saya sama sekali tidak bersentuhan langsung dengan gambar menggambar kecuali mengevaluasi gambar yang diajukan konsultan.

Upaya menuangkan ide dan keinginan pribadi dalam sebentuk rumah tinggal pribadi, kelak akan saya tuliskan dalam suatu cerita sendiri. Kali ini saya hanya akan mentautkan cerita saat dengan tulisan di blog "tetangga" .... tanpa ijin .... maaf buat pemilik blog, tapi saya yakin yang bersangkutan tidak akan berkeberatan sama sekali. Inshaa Allah

https://koestoer.wordpress.com/2014/03/13/buta-mata-buta-warna-dan-buta-hati/

Senin, 10 Februari 2014

WISUDA Sarjana di Universitas Indonesia

Wisuda Sarjana, adalah waktu yang sangat ditunggu, bukan saja oleh semua anak muda yang baru saja menyelesaikan kuliahnya tetapi juga ditunggu oleh para orangtuanya .... oleh pacar dan mungkin juga calon mertua .... Walau belum tentu segera akan menikah, tetapi wisuda ternyata menjadi salah satu langkah penentu para pasangan kasmaran.

Sejujurnya .... saya tidak pernah merasakan greget suasana wisuda sarjana seperti apa yang dirasakan semua orang. Tidak merasakan luapan kegembiraan yang luar biasa untuk akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah, kecuali "lepas beban berat" atas "kecelakaan" selama masa kuliah, sehingga saya harus menyelesaikan waktu kuliah yang amat sangat teramat panjang .... Walau diselingi cuti selama 4 tahun...., ternyata masa kuliah saya masih lebih pendek dari masa kuliah salah satu mantan menteri era Suharto yang berasal dari kampus yang sama hehe.... # ini salah satu cara pembenaran atas kesalahan diri.

Saya juga tidak sempat dan tidak memiliki kesempatan hadir saat anak sulung menyelesaikan kuliahnya baik pada strata 1 maupun 2. Semoga si anak tidak merasa kecewa ataupun bersedih karena tidak didampingi orangtuanya pada saat yang mungkin sangat berarti baginya. Anak itu terlalu mandiri dan kalaupun ada rasa "kehilangan" di hati orangtua karena kemandiriannya, tapi kami tetap bangga dan merasa sangat berarti memiliki anak seperti dia.
***

Awal bulan Februari dan akhir September setiap tahun, seperti biasa selama hampir 10 tahun ini, saya akan menerima beberapa undangan untuk hadir di acara wisuda. Tentu tidak selalu dihadiri, tergantung kepentingannya. Kalau ada keponakan yang di wisuda dan saya tidak sedang merasa malas untuk pergi, maka kami akan hadir bersama. Tetapi lebih sering suami saja yang hadir. Itupun kalau dia sedang tidak merasa malas untuk bermacet ria di sepanjang jalur Pasar Minggu - Kampus UI dan sebaliknya. 

Kadang-kadang, undangan itu digunakan teman yang membutuhkannya, karena kerabat yang ingin hadir melebihi jumlah undangan yang diperoleh wisudawan. Apalagi, undangan yang kami miliki itu memberikan kami kesempatan untuk hadir di ruang utama upacara. Di dalam Balairung Universitas Indonesia.

Kali ini, tiba-tiba saja saya merasa ingin membawa suasana kehidupan kampus kepada anak saya yang saat ini masih duduk di bangku kelas XI SMA. Tentu ada alasan tertentu mengapa keinginan tersebut timbul.

Dalam berbagai kesempatan bicara dengan si anak, seringkali dia bercerita, betapa teman-temannya ingin sekali berkunjung ke perpustakaan UI yang konon kabarnya terbesar di Indonesia dan hal ini akhirnya sudah beberapa kali dilakukan baik dari sekolah maupun secara individual. Sementara anak saya sendiri sama sekali tidak memperlihatkan rasa tertariknya untuk diajak mengunjungi dan mengikuti beberapa acara di kampus UI yang sejuk itu. Tentu bukan hadir di acara resmi, tetapi memang ada beberapa acara kekerabatan baik untuk staff pengajar maupun alumni yang memungkinkan anggota keluarga hadir. JAdi memang agak ironi. Sementara teman-temannya "iri" akan adanya kesempatan itu, anak saya malah acuh tak acuh.

Mungkin karena tahun ini, dia sudah duduk di kelas XI dan berbagai masalah mengenai universitas, fakultas dan program study sudah mulai ramai dijadikan topik pembicaraan siswa sebagai persiapan mereka kelak, maka topik yang sama sudah mulai muncul dalam beberapa kesempatan makan bersama yang hanya ada di setiap akhir minggu saja. Itu sebabnya pada saat saya lontarkan maksud untuk mengajaknya hadir pada acara wisuda sarjana, dia segera menyambutnya. Tentu ajakan tersebut saya sampaikan setelah beberapa hari sebelumnya melakukan konfirmasi kehadiran. 
***
Sudah beberapa tahun, karena terjadi peningkatan jumlah wisudawan yang luar biasa serta adanya berbagai jenjang kependidikan, maka acara wisuda sarjana UI dilakukan 2 kali dalam satu hari yang pasti sangat melelahkan bagi pejabat UI yang terlibat langsung serta seluruh pendukung acara. Belum lagi acara gladi resik yang biasanya diselenggarakan sehari sebelumnya.

Biasanya, wisuda Sarjana strata 1 - S1 dan  program diploma diselenggarakan pada pagi hari dan wisuda jenjang S2 - S3, program profesi diselenggarakan pada siang hari. Seingat saya, acara wisuda yang diselenggarakan pada pagi hari di bulan Februari selalu dibarengi dengan acara Dies Natalis sementara wisuda yang diselenggarakan pada bulan September dibarengi dengan penerimaan mahasiswa baru yang pasti gegap gempita. Ada nuansa berbeda dari ke dua kesempatan tersebut. Rasanya ... acara yang dibarengi dengan penyambutan mahasiswa baru lebih meriah, karena kebanggaan menjadi mahasiswa baru begitu kental mewarnai seluruh rangkaian acara.
***

Hari itu .... Sabtu 8 Februari 2014, kami berangkat dari rumah sekitar jam 12.45 - usai makan siang dan shalat dhuhur, Mestinya, cukup waktu untuk mengejar acara yang dimulai tepat jam 14.30 dengan ketentuan wajib hadir 30 menit sebelumnya. Waktu tempuh dari rumah ke kampus UI, biasanya hanya 45 menit. Itu sudah memperhitungkan kemacetan. Ternyata .... kemacetan siang itu sangat luar biasa. Bukan karena adanya kemacetan akibat lalu lintas keluar-masuk kampus UI, tetapi karena adanya beberapa genangan air. Maka ...  kami baru memasuki gedung PAU pada jam 14.10 ... 


Sebetulnya masih ada waktu 20 menit sebelum acara dimulai. Tetapi .... gedung PAU, yang biasanya ramai, sudah relatif kosong. Penghuninya sudah bersiap, berdiri dan berbaris rapi untuk mengikuti upacara di koridor antara gedung PAU denga Balairung tempat penyelenggaraan acara Wisuda Sarjana. Agak, salah tingkah juga melihat keadaan ini. Beruntung ada petugas acara, mungkin yang bertugas untuk membimbing undangan memasuki ruang acara. Dialah yang mengantar kami memasuki Balairung dan mencarikan tempat duduk. Alhamdulillah......

Duduk di ruang utama upacara, tentu merupakan suatu keberuntungan yang tidak semua orang bisa memilikinya. Itu pula yang menghadirkan getar dan nuansa yang sangat berbeda selama mengikuti acara tersebut.

***

Tepat jam 14.30, Rektor dan pejabat universitas dan Fakultas disertai dengan para guru besar memasuki Balairung UI dengan diiringi lagu Godeamus Igitur yang dibawakan oleh orkestra dan paduan suara UI .... Lirih namun penuh hikmat ....., lalu upacara "standar" dimulai ....., yaitu dari seremoni menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, mengheningkan cipta, doa, pembacaan lulusan dan lain-lain. Standar dan buat saya, cenderung menjemukan .... biasalah... sesuatu yang rutin dan standar, akan cenderung menjemukan terutama bagi yang seringkali menghadiri acara serupa.

Usai, acara standar seremonial, penyanyi-penyanyi "jawara" dari berbagai fakultas menyanyikan lagu pop pilihan. Rupanya dari generasi Aning Katamsi ... sekarang sudah banyak bermunculan mahasiswa dan mahasiswi pemilik suara emas yang apik. Merekalah yang menggantikan para seniornya menyanyikan beberapa lagu  pop yang terasa anggun karena diiringi orkestra.


Usai upacara wisuda, acara bagi undangan dilanjutkan dengan resepsi di ruang PAU sementara para wisudawan biasanya memiliki acara lanjutan yang mereka rancang sendiri dan pasti sangat heboh. Dari mulai membuat foto standar dengan keluarga dan pacar, Umumnya dengan latar gedung rektorat UI atau mungkin sekarang ditambah dengan gedung perpustakaan pusat. Yang terakhir biasanya di gerbang masuk kampus dimana terletak tulisan besar UNIVERSITAS INDONESIA. Kapan lagi orangtua bisa berkunjung ke kampus tempat anak-anaknya kuliah, bukan?

Semoga, generasi muda Indonesia yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di salah satu kampus termegah di Indonesia, pada universitas penyandang nama negara, mampu membawa Indonesia menuju kemandirian di berbagai bidang dan melepaskan bangsa dan negara ini dari belitan neokolonialisme dan praktek KKN kelak.

Sabtu, 01 Februari 2014

Bukan rasis atau sara

Hari ini 1 Februari 2014. Hari ke 2 di tahun kuda menurut penanggalan Cina. Kemarin malam, pas tahun baru, kami sempat keluar rumah. Tepatnya ke PIM untuk memanfaatkan waktu kebersamaan keluarga. Mumpung anak gadis kami ada di rumah, yaitu setiap akhir minggu. Jadi kami memanfaatkannya untuk makan malam di luar rumah dalam suasana yang sedikit berbeda. Bukan saja suasana ruang tetapi juga menu makanannya.

Tulisan ini tentu bukan untuk menulis apa yan kami makan, yang kebetulan juga menu masakan Cina di salah satu resto Cina halal. Minimal menurut tulisan di dindingnya ... no pork & no lard. Atau juga bukan untuk mengulas hiasan yang tergantung di PIM terutama di PIM2 yang semuanya bernuansa merah. Saya hanya ingin menulis tentang lafal atau pengucapan kata dalam suatu bahasa.
***

Sudah beberapa waktu ini saya baru menyadari bahwa di radio atau televisi, kata CINA ternyata tidak diucapkan dengan suara "cina" dengan ucapan bahasa Indonesia tetapi diucapkan "caina" (China) dalam lafal bahasa Inggris. Semula, hanya satu atau beberapa penyiar televisi saja, yaitu di salah satu stasiun tv berita. Tetapi ..... lama kelamaan, ternyata semua penyiar televisi dan bahkan penyiar radio tidak lagi menyebut Cina dengan lafal bahasa Indonesia, tetapi China dengan lafal bahasa Inggris, yaitu "caina".

Andai saja lafal menurut bahasa Inggris itu diucapkan ketika membawakan berita berbahasa Inggris, saya masih bisa memakluminya. Tetapi .... tampaknya, saat ini ucapan kata Cina dengan lafal Inggris sudah menjadi lafal standar pemberitaan. Saya tidak tahu apakah di stasiun televisi itu ada orang/editor yang bertugas melatih dan mengkoreksi pelafalan setiap kata dalam berbagai bahasa agar pengucapannya sesuai dengan bahasa yang dibawakan penyiar tersebut. Kalau ada .... bagaimana dia bisa meloloskan pengucapan kata yang bertentangan dengan kaidah pengucapan dalam bahasa Indonesia.

Jelasnya ....... kalau penyiar sedang membawakan acara berbahasa Indonesia, maka seluruh ucapan bahasanya harus sesuai dengan kaidah ucapan/lafal bahasa Indonesia. Begitu pula kalau sedang berbahasa Inggris, Cina, Arab, Perancis atau bahasa lainnya. Tentu pengucapannyapun harus sesuai dengan kaidah pengucapan bahasa terkait. Karena, apabila kita salah mengucapkannya maka para penutur bahasa tersebut tidak akan mengerti apa yang diucapkan/diberitakan.

Berkenaan dengan kata Cina, saya ingat sekali bahwa saat saya kecil dulu, saya selalu dilarang oleh orangtua menyebut kata Cina kepada tetangga, kenalan atau siapapun yang berasal dari etnis Cina. Saya selalu dianjurkan untuk membahasakannya dengan kata Tionghoa. Saya memang tidak terlalu mengerti dan tidak juga mempertanyakan sebabnya. Cukup dipatuhi saja, namun saya menduga bahwa penyebutan kata Cina itu selalu dilakukan orang saat marah atau dengan nada menghina, terutama pada awal tahun pemerintahan era Suharto. Mungkin itu sebabnya, orangtua saya melarang penggunaan kata Cina untuk penyebutan teman, tetangga, kenalanan atau siapapun yang berasal dari etnis/suku bangsa Cina.

Saya sendiri merasakan suka duka, dampak dari kata Cina tersebut.
Konon .... nenek dari kakek saya, jadi saya adalah keturunan ke 5nya; adalah perempuan Cina totok yang masih memiliki kaki pendek yang terbelenggu oleh sepatu besi (?), sebagai bentuk tradisi Cina jaman dahulu kala. Perempuan yang konon kabarnya anak dari penguasa klenteng (sekarang) di kawasan Ancol ini menikah dengan lelaki keturunan Jerman yang memiliki nama keluarga Muller. Dari pernikahan 2 orang berbeda bangsa itu, beranak pinak, dimana anak-anaknya, yang berjumlah 3 orang, kebetulan berjenis kelamin perempuan semua, keseluruhannya menikah dengan lelaki Indonesia asli. Mereka konon menyebar di 3 wilayah pulau Jawa. Jawa bagian barat yaitu di Jakarta berbaur dengan masyarakat Betawi sehingga keturunannya merasa dan tentunya mengaku sebagai etnis Betawi..... Lalu yang di Jawa Tengah beranak-pinak di kawasan Rembang serta di Jawa Timur, menyebar dari Malang. Mereka yang beranak pinak di Jawa Tengah dan Jawa Timur tentu lekat dengan budaya Jawa.

Akibat dari leluhur Cina tersebut atau mungkin sayangnya .... ternyata ada gen kuat dari perempuan Cina tersebut yang menurun pada saya dan bahkan kepada anak perempuan saya ........, walau anak perempuan saya memiliki kulit sawo matang, yaitu .... saya dan anak perempuan saya bermata sipit. Padahal .... adik saya lainnya ada yang berkulit sawo matang. Kalaupun ada yang berkulit "putih", maka matanya tidaklah sipit, sehingga mereka "lolos" dari olok-olok sebagai orang Cina.

Bayangkan  .... kalau anak saya saja, pada abad ke 21 ini, era dimana diskriminasi terhadap etnis Cina sudah dihapuskan oleh Gus Dur saat menjabat presiden, sering diledek teman2nya sebagai Cino Ireng ... apalagi saya yang memiliki kulit agak kuning ... Orang bilang kulit saya "putih" dan bermata sipit. Kloplah kalau disangka sebagai perempuan Cina.
***

Ibu saya cerita, saat saya kecil dulu, kalau saya dibawa ke pasar untuk belanja, maka encik penjual telur selalu menghadiahkan saya sebutir telur. Untuk si amoy .... begitu katanya untuk menyebut nama saya. 

Sebetulnya, saya sama sekali tidak menyadari bahwa mata sipit saya itu bermasalah. Masa sekolah saya yang selalu berpindah-pindah mulai TK-SD ibu Su, Muhamadiyah Jakarta, lalu ke Daya Susila - Garut dan seterusnya hingga akhirnya lulus dari SMA Fons Vitae Jakarta saya lalui tanpa sekalipun merasa adanya perbedaan etnis dengan teman sekolah lainnya karena bentuk mata sipit. Masalah tersebut justru baru timbul saat saya masuk kuliah. 

Ketika itu, saat posma alias pekan orientasi mahasiswa, saya ingat betul ... sempat diinterogasi oleh salah seorang kakak senior. Dia menanyakan asal-usul saya. Untuk meyakinkan bahwa saya ... mahasiswa baru bermata sipit ini bukan berasal dari etnis Cina, tetapi betul-betul lahir dari pasangan bapak beretnis Betawi-Sunda dan ibu dari Sumatera Barat seperti pengakuannya.

Mungkin saya beruntung, ada salah satu senior yang sudah kenal keluarga saya. Tapi .... sebagai akibatnya, selama posma tersebut saya "disuruh" menempelkan celotape pada kelopak mata agar mata saya menjadi sedikit lebih bulat. Tidak terlihat sipit. Lama setelah itu suami saya yang saat itu berstatus pacar, sempat bercerita bahwa dia juga ditanyai beberapa temannya...
"Kok pacaran sama perempuan Cina sih ....?"
Lho .... apakah salah....?

Ketidaknyamanan menjadi orang yang dianggap mengaku Indonesia tetapi memiliki wajah seperti perempuan Cina, tidak berhenti sampai disitu. Terus berlanjut ketika akhirnya saya masuk ke dunia kerja. Memang ada enaknya, karena saya menjadi mudah diterima di kalangan etnis Cina tetapi .... saya sungguh merasa sangat lelah justru tatkala masuk ke lingkungan masyarakat berkulit sawo matang karena seringkali harus menjawab berbagai ragam pertanyaan untuk mengkonfirmasi asal usul keluarga. Rasanya sungguh sangat menyakitkan..... Adakah yang salah dengan saya? 

Baru setelah saya memakai jilbab, maka pertanyaan tersebut, hilang. Atau bahkan sangat mungkin, sekarang ini ada yang menganggap saya sebagai muallaf... dan kalau benar, alangkah ironinya hidup saya....

Eits.... kembali ke topik awal ....
***

Kini ...., entah sejak kapan, pengucapan Tionghoa malah sudah sangat jarang terdengar. Kita sudah terbiasa mendengar kata Cina di mana saja. Konon, menurut mas Saptono, senior saya di masa kuliah dulu, penyebutan Cina atau China merupakan imbauan pemerintah Cina kepada pers di seluruh dunia untuk menggantikan kata Tiongkok

Sebagai orang yang mengalami sendiri berbagai suka duka berkenaan dengan etnis Cina. Pernah mendapat berbagai penolakan dan perlakuan rasisme di negara yang memiliki semboyan liberte, egalite & fraternite, sesungguhnya saya berusaha untuk tidak melihat dan memperlakukan siapapun berdasarkan warna kulit atau asal muasalnya. Saya merasakan betul sakitnya menerima perlakuan rasis.

Jadi kalau saya menyoal tentang Cina atau China (dengan lafal Inggris), bukan karena unsur rasisme tetapi hanya sekedar lontaran pertanyaan .... Mengapa kita harus melafalkan Cina dengan lafal bahasa Inggris dalam pemberitaan bahasa Indonesia.

Para pakar bahasa Indonesia ... editor/korektor bahasa di stasiun televisi dan radio ... ayo dong, koreksi pengucapan para penyiarnya. Kalau sedang berbahasa Indonesia ..., ucapkanlah segala sesuatunya dalam lafal dan kaidah bahasa Indonesia. 

Kita perlu bangga dengan bahasa persatuan ini... Kalau buka kita yang merawatnya dengan menggunakannya dengan baik dan benar ... siapa lagi dong?

Kamis, 23 Januari 2014

Prestasi buruk

Ini prestasi buruk betul ....
Perjalanan tahun 2014 diawali dengan prestasi 
yang sangat buruk.
Januari 2014 sudah hampir habis ...., 
Hari ini, sudah tanggal 23
dan
Halaman blogku belum bertambah apapun juga

Padahal ...
Ada banyak peristiwa terjadi
Sinabung masih melambungkan isi perutnya
Tak tertahankan
Persis seperti perempuan hamil, 
mual di sepanjang pagi
memuntahkan segalanya

Jakarta dilanda banjir
walau gubernur dan wakilnya sudah berupaya banyak
namun alam sepertinya tidak lagi peduli
sudah tidak mampu pula menahan muak
ulah manusia yang sudah terakumulasi panjang
yang tak mungkin terobati 
hanya dengan satu - dua upaya perbaikan

Sayangnya
akupun terkena imbas
beku karena dinginnya cuaca
lemas karena awan gelap kelabu
melumatkan segala daya

dan yang pasti ...
semua mencari kambing hitam
alibi dari prestasi buruk awal tahun
yang tak mampu dikendalikan

Selasa, 31 Desember 2013

I share, because I care

Pagi tadi, hari terakhir di tahun 2013, hujan gerimis yang mengiringi terbitnya matahari membuat kita agak malas memulai aktifitas rutin. Apalagi hari-hari ini adalah liburan bagi hampir seluruh penduduk dunia. Jadi, usai membuat zuppa soup dan menyantapnya sebagai sarapan pagi, maka saya mulai membuka facebook dan menemukan artikel yang sangat menarik, yaitu How to avoid cancer.

Artikel tersebut menjadi menarik perhatian  saya karena cancer atau kanker sekarang sudah menjadi penyakit menakutkan bagi penderitanya yang menyebabkan si penderita seolah langsung divonis "mati", begitu mendengar bahwa dirinya didiagnosis menderita cancer. Belakangan ini, di "lingkungan" saya memang banyak yang menderita kanker, baik mereka yang dinamakan  dan diberi "label" survivor, warrior maupun yang sudah lepas dari penderitaannya alias akhirnya meninggal dunia.

Mereka; yaitu para penderita kanker, adalah rekan kerja, istri atau suaminya, teman kuliah dulu bahkan juga keluarga dekat. Mereka "memperoleh" kanker, konon karena keturunan tetapi juga karena gaya hidup atau lingkungan. Bahkan ada teman kuliah dulu yang terkena kanker paru-paru hanya karena dia bekerja di lingkungan dan ruangan dimana penghuninya perokok berat semua. Ironinya, si teman sama sekali tidak pernah menyentuh rokok. Begitu juga salah satu rekan kursus yang sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Dia terkena kanker paru, konon karena suaminya perokok berat dan lingkungan hidup/rumah terpolusi asap rokok. Jenis kanker yang umumnya diderita rekan, keluarga atau teman wanita, biasanya kanker payudara alias breast cancer. Kalau penderita lelaki biasanya kanker hari atau prostat.

Tanpa disadari, ternyata, adik saya yang baru saja meninggal dunia itu juga salah seorang penderita kanker. Entah kanker jenis apa ..... Selama ini, kami hanya tahu bahwa dia memiliki tumor di rongga otak, di antara ke dua rongga mata. Itupun telah diangkat sekitar 6 tahun yang lalu. Tumor mana sempat membuatnya kehilangan penglihatan. Merasa sembuh, karena dokter tidak memberikan signal bahwa tumor tersebut ganas, maka tidak seorangpun yang menyadari bahwa, mungkin akibat operasi tersebut, sel tumor menyebar dan berubah menjadi ganas serta tumbuh kembali. Walau masih di rongga otak namun serangan tumor kali ini, selain induknya, terdapat pula akar-akar yang mencengkeram bola matanya. 

Rupanya, tumor yang sudah bermutasi menjadi ganas tersebut berkembang dengan sangat cepatnya dan sayangnya, hal itu baru disadari tidak lebih dari 2 minggu sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya. 
***

Konon .... setiap manusia memiliki potensi untuk menderita kanker, yaitu berasal dari sel tubuh kita sendiri yang "bermutasi". Mutasi sel normal menjadi sel kanker dipicu oleh berbagai sebab, antara lain gaya hidup, asupan makanan, stress, polusi dan banyak lagi sebab-sebabnya. Makanan jaman sekarang yang serba instant dan transgenic ditengarai juga menjadi salah satu sebab meruyaknya mutasi sel normal menjadi sel kanker.

Namun dari pengamatan selama ini, baik dari bacaan dan sekaligus belajar dari kejadian alam; saya termasuk orang yang anti pengangkatan sel kanker. Logikanya adalah fenomena alam. Ketika sebuah batang pohon ditebang, perhatkan dengan baik, maka tidak lebih dari 1 bulan setelahnya, dari setiap "mata" pada kulit batang pohon, akan timbul tunas batang baru yang jauh lebih banyak dan dahsyat jumlahnya. Bayangkan .... kalau tumor dalam tubuh kita diangkat, maka dari puluhan, ratusan dan bahkan mungkin ribuan serabut akar dimana tumor tersebut tumbuh, dalam waktu yang unpredictable, akan tumbuh lagi puluhan, ratusan dan bahkan ribuan tunas kanker. Persis seperti tunas tanaman pada dahan yang sudah ditebang.

Bukan itu saja, logikanya; dari "bukaan" yang terjadi saat tumor terlepas dari "pegangannya" karena aksi pisau operasi, akan "berloncatan" ratusan, ribuan bahkan jutaan sel kanker ke dalam jaringan aliran darah dan dibawanya sel kanker tersebut ke seluruh tubuh manusia melalui peredaran darah. Maka .... tanpa disadari, menurut saya yang awam ini, peristiwa mengangkat sel tumor/kanker adalah peristiwa penyebaran sel kanker ke seluruh tubuh kita, yang sadar atau tidak sadar, sudah kita lakukan dan ijinkan kepada dokter atas nama pengobatan kedokteran modern.

Memang ... segera setelah operasi, akan dilakukan chemotherapy, proses "mematikan" sel kanker yang sejatinya, bukan saja sel-sel abnormal itu saja yang "dimatikan" tetapi seluruh sel tubuh kitapun "dimatikan" oleh obat yang sangat beracun tersebut. Bahkan ... salah satu rekan saya pernah bercerita bahwa kenalannya yang ahli oncology terkenal menyatakan bahwa andai dia terkena kanker, maka dia tidak akan pernah mengijinkan dilakukan kemoterapi, karena itu berarti dia secara sadar sudah "meracuni" diri sendiri dan karenanya cepat atau lambat akan mematikan sel-sel tubuhnya. Bukan hanya sel kanker, tetapi juga sel-sel normal tubuhnya. Karena racun yang dimasukkan ke dalam tubuh, tidak akan pernah bisa memilih sel yang akan dimatikannya. Apakah itu sel kanker atau sel normal.

Lalu, mengapa MRI dan pet scan, prosedur standar yang selalu dilakukan dalam pengobatan kanker, seringkali tidak mendeteksi penyebaran sel kanker dan karenanya dokter dengan sangat percaya diri menyatakan pada pasien bahwa tidak ada penyebaran. Aman .... tetapi sekonyong-konyong, suatu ketika sel kanker si pasien diketahui sudah menyebar dan sudah sulit diatasi? Itu, karena alat secanggih apapun bahkan dengan teknologi nano sekalipun belum bisa mendeteksi keberadaan sel kanker hingga sel kanker tersebut mencapai dimensi tertentu. Hal itu karena konon, kalau tidak salah 1 buah sel besarnya hanya 1- 4 nano alias satu pangkat minus 4 nano. Tentu undetectable, belum dapat dideteksi. 
Ini menjelaskan, mengapa sekonyong-konyong, pasien yang sangat rajin kontrol sekalipun akan terperangah mendapati penyebaran kanker di seluruh tubuhnya.

Mengerikan ya .....? 
Sangat....!!! 
Jadi, sangat dimaklumi kalau menderita kanker, seperti mendapat vonis mati pelan-pelan.

Sering terpikir, mengapa di Indonesia, tidak pernah terdengar upaya kemoterapi melalui suntikan langsung ke dalam tumor terkait. Dengan demikian, kerja racun "kelas berat" yang berlabel "kemoterapi" itu langsung kepada obyek yang dituju. Tidak merusak sel tubuh yang masih sehat. Konon kabar yang saya dengar dari dokter gigi yang menangani anak saya, ada salah satu dokter di negeri jiran yang sudah mencoba kemoterapi dengan cara seperti ini dan ibunya adalah salah satu pasien dokter tersebut.

Dengan berbagai masalah tersebut, pengobatan kanker memang pengobatan yang sangat dilematis. Namun sebaiknya, jangan berpikir untuk melakukan "peperangan" melawan kanker. 

Lebih baik kita menghindar saja .... 
Yuk kita baca link di atas dan terapkan dalam kehidupan kita,
karena
Prevention is better than curing ....

Minggu, 29 Desember 2013

Hari-hari terakhir - in memoriam my little sister

Senin 23 Desember 2013, adalah hari terakhir kerja yang diumumkan secara resmi oleh kantor tempat saya bekerja. Jam menunjukkan angka 10.18 saat pesan singkat dari Blackberry Messenger masuk. Dari adik lelaki saya :
"Aku di RS ruang ICU, kondisi adik kita sudah sangat menurun. Sepertinya sudah harus siap menghadapi kondisi yang terburuk". Begitu isi berita yang masuk.
"Lho ..... bukannya besok rencana operasi?".
"Ya, semula memang begitu, tapi sepertinya semua rencana berubah mendadak. Sekarang aku menuju HCU/ICU. Nanti kalau sudah beres, aku update lagi ya".
***

Adik perempuan saya yang paling kecil, atau nomor 4 dari 6 bersaudara, memang sudah lama diketahui menderita diabetes mellitus. Kalau tidak salah, konon sejak kelahiran anak keduanya. Tapi kami tidak begitu memperhatikannya, karena saat itu dia tinggal di Semarang. 

Saat mereka kembali ke Jakarta dan tinggal di daerah yang tidak terlalu jauh dari rumah ibu saya, kami juga tidak terlalu memperhatikan kondisi kesehatannya. Kelihatannya dia sehat-sehat saja dan penuh aktifitas. Jadi agen tupperware, antar-jemput anaknya sekolah termasuk juga mengurus rumahnya yang sebagian besar waktunya tidak dibantu dengan keberadaan pembantu rumah tangga.Sejak menikah, dia memang tidak bekerja lagi.

Hingga kemudian, entah kapan dimulai, dari yang semula hanya keluhan diabetes saja. Keluhan penyakit yang kemudian menjadi sebab dia menjadi pasien/penghuni tetap rumah sakit, adalah muntah berat yang tidak bisa tertahankan. Dokter mendiagnosa "ada masalah dengan kelenjar pankreas" dan tanpa mencari penyebab mengapa kelenjar pankreasnya "ngadat", langsung saja diberi "sekeranjang" obat-obatan untuk menjinakkan pancreas dan organ pencernaan yang bermasalah tersebut. Begitu berlangsung selama bertahun-tahun. Sekeranjang obat-obatan menjadi teman setia hidupnya.

Begitulah yang sempat terekam dalam ingatan saya, karena sejak saat itu, mungkin sekitar 8 - 10 tahun yang lalu, adik saya mulai menjadi pasien rawat inap yang paling setia di salah satu RS di wilayah selatan Jakarta. Secara bergurau, anaknya selalu menyebut RS sebagai "pesantren" tempat ibunya "berguru". Memang, sejak saat itu, hampir setiap 3 bulan sekali adik saya masuk RS untuk jangka waktu minimal satu minggu. Penyebabnya selalu masalah pencernaan, lambung dan usus. Disertai ikutannya; gula darah dan kreatininnya meningkat tinggi. 

Konon, setelah dilakukan endoscopy, dinding lambung dan ususnya terlihat penuh dengan parut luka sehingga "untuk menyembuhkannya" dokter  seringkali harus mengambil langkah "mengistirahatkan" fungsi seluruh organ pencernaannya dan mengambil alih peran pencernaan dengan mengganti asupan makanan melalui infus. Hal itu berlangsung cukup lama yang kemudian, berakibat organ pencernaan menjadi "malas bekerja". Mogok kerja sehingga untuk memulihkannya kepada keadaan normal, harus dilatih lagi mencerna makanan. Persis seperti bayi yang baru belajar makan makanan "padat".

Singkat kata.... setelah mondar-mandir rumah sakit dengan menghabiskan ratusan juta rupiah, bahkan mungkin lebih dari satu milyar, sebagai ongkos mondok "di pesantren", akhirnya diketahui bahwa sumber segala penyakitnya itu adalah tumor sebesar +19x10x10mm yang menekan syaraf kelenjar pankreas dan rongga mata. Akibatnya kelenjar pankreas tidak mampu memproduksi insulin dan akhirnya adik saya menderita diabetes mellitus, kerusakan organ pencernaan dan secara perlahan mengalami "kebutaan" akibat desakan tumor tersebut.

Maka, setelah konsultasi kesana-kemari, mencari cara terbaik, resiko minimal dan biaya yang "reasonable", diputuskan untuk menghubungi prof Padmo Santjojo yang sangat terkenal dengan operasi fenomenal pemisahan bayi kembar siam, untuk mengetahui bagaimana cara penanganan tumor tersebut. Jadilah, sekitar 6 tahun yang lalu, dalam kondisi yang cukup "buruk", adik saya "dibawa paksa" keluar dari RS di wilayah selatan Jakarta tersebut untuk kemudian dipindahkan ke RSCM, untuk ditangani oleh tim dokter disana. 

Setelah kondisinya berangsur baik, beberapa hari menjelang hari raya Idul Fitri, kalau tidak salah di bulan Oktober beberapa tahun yang lalu, operasi pengangkatan tumor dilaksanakan dan berhasil dengan baik. Walau sempat kritis, adik saya akhirnya bisa pulih. Mungkin karena dampak operasi, kondisi ginjalnya kemudian diketahui memburuk. Namun kondisi ini juga bisa jadi dikarenakan konsumsi obat-obatan secara terus-menerus dan diperparah dengan obat-obatan/anestesi selama proses operasi. 

Apapun juga hasilnya, yang terpenting, operasi berlangsung lancar dan dia terselamatkan, Tinggal saja memulihkan kondisi psikis pasca operasi dan pasca "sakit kronis" yang juga ternyata tidak begitu mudah dilalui baik bagi keluarga inti mereka maupun keluarga besar kami. Tentunya di samping kondisi kesehatannya yang tidak terlalu prima lagi. Artinya, di samping diabetes, fungsi ginjalnya menurun. Paling tidak, keluhan muntah dan kebutaan karena tertekannya syaraf pancreas di rongga otak, bisa mereda karena tumor penyebabnya sudah diangkat. 

Tahun berlalu walau dengan susah payah. Beragam masalah pasca operasi terjadi. Namun kehidupan tampaknya mulai berjalan "normal". Gangguan muntah hebat dan diabetes "mulai bisa teratasi". Komplikasi baru sebagai akibat konsumsi ragam obat-obatan dalam jangka waktu lama, yaitu fungsi ginjalnya yang melemah dan cenderung turun, mungkin hanya tinggal 30% atau bahkan, bisa jadi di bawah itu. adalah resiko pengobatan yang harus dijaga dengan baik. Sudah terbayang, cepat atau lambat cuci darah alias hemodialisis akan menjadi salah satu cara memperpanjang usianya atau cangkok ginjal yang pasti tidak akan mudah pula dilaksanakan. 

Begitulah rasanya, hingga sekitar 3 bulan yang lalu, adik saya mulai mengeluh sering sakit kepala dan muntah beratnya kambuh kembali. Bahkan saat hari raya Idul FItri 1344h bulan Agustus 2013 yang lalu, adik saya tidak kelihatan hadir berkumpul dengan keluarga di rumah peninggalan orangtua kami. Masuk rumah sakit, kemudian menjadi rutinitas kehidupan mereka kembali. 

Memang, saking seringnya mendengar beritanya masuk rumah sakit, membuat kami, kakak-kakaknya menjadi kurang sensitif terhadap perkembangan kesehatannya. Apalagi kelelahan usai bekerja dan kemacetan luar biasa di Jakarta, menjadi alasan kurangnya waktu bertemu, yang mau tidak mau harus dimaklumi siapapun yang tinggal di wilayah Jabodetabek. 

Mungkin kami masih beruntung. Masih ada adik lelaki saya yang begitu sigap, ringan tangan dan selalu siap sedia melakukan apapun yang kami minta untuk dilakukannya, sejauh dia tidak sedang sakit. Maklum juga ... usianya yang sudah di atas 50 tahun tentu sudah sangat rentan untuk dilanda penyakit degeneratif. Dialah yang menjadi satu-satunya sambungan silaturahim keluarga besar kami. Bukan hanya keluarga kami saja tetapi juga kepada keluarga besar kedua orangtua kami almarhum.
***
Senin 23 Desember 2013 itu. Pada hari terakhir masuk kantor di tahun 2013 itu, saya pulang lebih cepat agar masih ada waktu menjenguknya ke HCU/ICU. Tiba di RS, saya segera menuju HCU/ICU. Suami dan anak-anaknya ada semua disana. Ngeri saya melihat kondisi dan penampilannya. Seluruh badannya bengkak, sangat berbeda jauh dengan kondisi 1 bulan sebelumnya saat saya menjenguknya di ruang rawat umum di RS yang sama. 

Di lehernya sebelah kanan menjuntai pipa, entah untuk apa. Hampir di seluruh lehernya yang bengkak dan pucat itu terlihat titik-titik bekas tusukan jarum. Di bagian kiri ranjang tidur tempatnya berbaring terpasang kantong yang tersambung dengan pipa kateter ke kandung kemihnya. Masih ada cairan pekat. Tidak sampai 100ml.  

Dari hasil MRI, diketahui bahwa di rongga otaknya tumbuh tumor baru dengan dimensi yang hampir sama dengan yang terdahulu. Bedanya, tumor kali ini jenis ganas dengan "tangan" yang mencengkeram bola matanya, Itu sebabnya, sakit kepalanya kali ini tidak tertahankan dan karenanya adik saya sudah tidak mampu lagi membuka mata, saking sakitnya. Itu juga yang menyebabkan dokter memberi suntikan morphin, penghilang rasa sakit. Mungkin pula suntikan itu yang membawanya pada kondisi "tidak sadar" hingga akhir hayat.

Saat itu, napasnya sudah dibantu dengan oksigen. Botol infus bergelantungan di sekitar tempat tidur begitu juga dengan beragam alat monitor. Badannya pucat kekuningan dan dingin sekali. Sambil menggenggam tangannya, saya memintanya untuk pasrah, tawakal dan terus mengingat Allah SWT sambil berdzikir. Matanya membuka dan terlihat bola matanya bergerak, namun tidak ada reaksi sama sekali saat kita mendekatkan tangan di depan bola matanya. Dia sudah tidak bisa melihat apapun juga. Saya juga memintanya untuk menggenggam tangan saya, bila mendengar ucapan saya, tapi tidak terasa ada reaksi. Mungkin reaksinya terlalu lemah dan saya kurang peka untuk itu. 

Apa yang terjadi ... terjadilah .... Bila memang waktunya sudah dekat semoga Allah SWT memudahkan jalannya.
***

Selasa 24 Desember 2013, sore, usai shalat ashar yang agar terlambat karena kemacetan di hampir seluruh ruas jalan di Jakarta Selatan. Hari pertama libur tersebut, saya memang mengalokasikan waktu untuk menunaikan janji pada anak gadis saya yang sedang libur. Saya bergegas ke RS, untuk menjemput adik perempuan yang khusus datang menjenguk langsung dari Bandung. Agak lama kami berdua di ruang rawat HCU/ICU mengamati dan mendiskusikan kondisi adik kami. Adik saya yang kebetulan berprofesi dokter itu mengatakan, kondisinya sudah sangat berat. Sepertinya sudah masuk fase terminal. Kelihatannya jauh lebih berat dibandingkan dengan kondisi almarhumah ibu kami menjelang akhir hayatnya.

"Sepertinya, ini sudah masuk fase terminal. Paru-parunya sudah penuh cairan sehingga O2 tidak bisa terserap. Lihat deh ..., sama sekali tidak terlihat gerakan nafasnya. Kalau pompa ini di tekan, maka gerakan pompa ini terlihat sama dengan gerakan dada. Kalau dilepas, hilang pula gerakan dadanya. Padahal almarhumah mami, dulu, bernafas dengan paru-parunya sendiri, tenang dan teratur. Aku melihat dengan sangat jelas tarikan nafas terakhirnya", komentarnya sambil menekan bola pemompa O2
"Lalu ... bagaimana?"
"Tadi dokter jaga sudah mengusulkan untuk dipasang ventilator. Aku serahkan keputusan pada keluarga, walau secara medis, rasanya tidak terlalu banyak manfaat. Selama tumornya tidak diangkat, maka dia tidak bisa sembuh. Tapi kondisinya yang kritis ini juga sangat tidak memungkinkan untuk melaksanakan operasi pengangkatan tumor. Dokter anestesinya pasti menolak melakukan tindakan. Operasi ini seperti mengantar nyawa pada kematian dan dokter pasti tidak akan mau pasien meninggal di meja operasi. Menunggu kondisinya membaik, sama juga memberi waktu pada tumor yang ganas itu membesar. Akhirnya kita cuma adu cepat dengan perkembangan tumor. Lokasi tumornya juga sangat rawan. Pembesaran tumor akan mendesak syaraf gerak organ vital tubuhnya. Akhirnya ..., cepat atau lambat, akan tetap sama, meninggal dunia!"
"Lalu, apa fungsi ventilator?"
"Menggantikan perawat yang ogah2an mompa", sinis adik saya menjawab.
"Pasien punya pilihan, mau pasang ventilator atau manual dengan pompa seperti ini. Di RS tempatku praktek, kalau pasien memilih tidak memasang ventilator, maka satu perawat akan disiagakan membantu pernafasan pasien, bergantian sepanjang malam. Begitu SOPnya", sambungnya lagi.
"Berapa lama bisa bertahan hidup dengan ventilator? Satu bulan?"
"Entahlah ... tanpa mendahului takdir Allah SWT, rasanya hanya beberapa hari saja. Tidak lebih dari satu minggu. Kita lihat saja, kalau malam ini keluarganya memutuskan untuk memasang ventilator, besok (Rabu 25 Desember 2013), aku pulang ke Bandung. Di rumah nggak ada yang bantu urus bayi".

Adik saya ini memang baru mendapat cucu. Baru 1 minggu. Cucu perempuan lagi...! Tentu dia lebih suka pulang ke Bandung, mengurus cucu selama cuti akhir tahun ini, sambil praktek dan visit ke RS.
***

25 Desember 2013, setelah mengantar adik saya ke tempat pemberangkatan minibus jurusan Bandung, kami tinggal di rumah, sambil memonitor kondisi. 2 adik lelaki yang lain, saya suruh pergi memancing. Menghibur diri, daripada ikut stress memikirkan yang sedang dirawat di ICU, sambil tetap diingatkan agar sambil pulang dari pemancingan, mampir dulu ke RS, melihat perkembangan.

Malam itu, kami berencana makan malam bersama di luar, kebetulan ada keluarga adik bungsu saya, juga dari Bandung yang memanfaatkan waktu libur sekolah di Jakarta.
"Bagaimana perkembangan terakhir?", tanya saya melalui blackberry messenger. 
Saat itu jarum jam menunjukkan waktu sekitar jam 17.27, saat itu adik lelaki saya, sang komunikator, saya minta mampir ke RS dalam perjalanannya pulang ke rumah.
"Berangsur membaik..."
"Oh .... syukurlah ...."

Bersamaan dengan saya membaca pesan tersebut, adik ipar saya juga menerima pesan yang isinya sangat bertolak belakang. Kali ini pesan dari Evi, kakak dari ipar lelaki saya yang kebetulan saat itu sedang menjenguk di RS..
"Kondisi menurun, keluarga sudah dipanggil dokter untuk dijelaskan perkembangannya", begitu isi pesan yang diterima dari ipar adik saya.
"Lho ... kok beda banget sih pesannya? Yang satu bilang membaik, satu lagi memburuk! Coba cek lagi!", sahut saya sambil pergi untuk menuntaskan jahitan blus batik yang belum terselesaikan.

Adzan maghrib sayup-sayup masih terdengar baik dari TV maupun pengeras suara masjid, saat dering telpon di ruang keluarga, berbunyi.
"Yuli meninggal dunia tepat saat adzan mulai berkumandang, beberapa waktu yang lalu....", telpon singkat dari adik lelaki saya.

Inna lillahi wa inna illaihi rojiun ............



BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...