Kamis, 31 Januari 2019

THE DARK AND BLOODY SIDE OF KHILAFAH

THE DARK AND BLOODY SIDE OF KHILAFAH
(Satria Dharma)
“Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama..” 
Ibnu Rusd

Sudah baca buku “Islam Yes, Khilafah No” Jilid 2 karya Nadirsyah Hosen? Kalau belum, beli dan bacalah bukunya. Umat Islam perlu mengetahui fakta sejarah kekhilafahan yang sebenarnya dan jangan mau dibodoh-bodohi terus. Bodoh kok dilaminating…! 

Saya berkali-kali menahan napas dan tak mampu meneruskan membaca buku ini. Saya harus berhenti membaca berkali-kali karena kisahnya begitu shocking, mengenaskan dan mengerikan. Saya hampir tidak percaya bahwa kisah yang dituliskan itu nyata dan merupakan fakta sejarah. Masalahnya ini bukan sekedar sejarah tentang raja-raja dan kaisar tapi ini sejarah kekhilafahan Islam. Onok Islame, Bro…! 


Selama ini kekhilafahan Islam digambarkan oleh para pengusung khilafah dengan begitu gemerlap, indah, terberkati oleh Tuhan, satu-satunya solusi dunia, yang ternyata faktanya terbalik 180 derajat Celcius, eh, gak pakai Celcius ding! Anjir…! Rasanya saya mau misuhi semua pentolan HTI yang selama ini telah membohongi umat Islam dengan gambaran yang keliru dan menyesatkan dari sistem khilafah yang mereka jajakan. 


Buku pertama “Islam Yes, Khilafah No” juga sebenarnya telah menjelaskan betapa busuk, kejam dan mengerikannya perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh para keluarga dari Dinasti Umayyah. Dinasti Umayyah adalah dinasti yang mengakhiri kekuasaan Ali bin Abi Thalib RA sebagai salah satu dari Khulafaur Rasyidin, empat khalifah Islam yang paling diagungkan dalam sejarah Islam. 


Sulit dipercaya bahwa umat Islam pada zaman itu bisa begitu kejam dan telengas jika berurusan dengan perebutan kekuasaan. Tapi begitulah faktanya.  Tapi buku kedua yang bercerita tentang Dinasti Abbasiyah yang memiliki 37 khalifah yang berkuasa sejak tahun 750 – 1258 lebih mengejutkan, mengenaskan, dan mengerikan. Saya sampai tidak percaya bahwa perebutan kekuasaan di antara mereka bisa begitu kejam, ganas dan tak mengenal belas kasihan. Mosok umat Islam yang mewarisi ajaran agama yang penuh belas kasih dari Nabi Muhammad seolah manusia-manusia barbar yang tidak pernah mengenal ajaran agama sama sekali? Sampai segitunya…?! Kok rasanya lebih biadab ketimbang kisah "Games of Thrones" ya...?! 


Tapi itulah fakta sejarah yang tidak akan pernah dikisahkan oleh para pengusung khilafah macam HTI. Mereka akan menipu umat Islam seolah sistem khilafah yang mereka tawarkan adalah suci, murni, syar’i, tak punya cacat dan merupakan perintah Tuhan bagi umat Islam untuk mendirikannya. 

Tentu saja ada di antara tokoh mereka yang sudah pernah membaca kisah kelam dari sistem khilafah ini dan tahu bahwa sebenarnya sistem ini bukanlah ajaran Islam yang diwajibkan bagi umat Islam melainkan hanya ijtihad semata. Tapi kalau hati sudah tertutup oleh angan-angan maka semua fakta dan kisah yang ada tidak akan membuat mereka berubah. Semoga dibukakan hati kkalian untuk bertobat. Amin!

BAHAYANYA IDEOLOGI HTI

Sejak awal tahun 2003 di Balikpapan saya sudah mencium bau busuk dari propaganda HTI dan sejak itu saya terus aktif menentang mereka baik melalui tulisan mau pun dalam forum diskusi langsung. Tentu saja saya dimusuhi oleh para pengusung dan pendukungHTI ini. 

Ada seorang teman yang bertanya dengan setengah menggugat mengapa saya getol sekali menulis tentang bahayanya HTI dan perlunya umat Islam mengenyahkan gerakan mereka dari bumi persada ini. Bahkan ada banyak teman yang dengan terang-terangan membela HTI dan mengecam saya. Saya bisa mengerti bahwa memang banyak umat Islam yang telah tertipu oleh pemikiran islamisasi negara ala HTI ini. Belakangan ini banyak orang yang baru paham akan bahayanya gerakan Hizbut Tahrir setelah gerakan ini membesar dan terasa benar-benar mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara. 


Selama ini kita memang menganggap remeh gerakan berbahaya ini dan meski kemudian tersadar gerakan ini telah begitu menusuk dan merusak pemikiran banyak umat Islam. Untunglah kemudian Presiden Jokowi melarang gerakan ini mengikuti puluhan negara lain yang juga telah melarang gerakan ini di negara masing-masing. Tapi keterlambatan ini jelas membawa ongkos yang tidak sedikit yang sampai sekarang dan entah sampai kapan masih harus kita bayar. Telah terlalu banyak umat Islam yang tertipu oleh gerakan ini.


Umat Islam Indonesia memang masih mudah dikecoh dengan segala atribut yang berbau agama. Dan itu sudah disampaikan oleh Ibnu Rusd berabad-abad yang lalu dengan peringatannya, :”Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama.” 


Umat Islam sangat mudah dikecoh dengan kemasan yang berbau agama dan itulah yang dilakukan oleh organisasi politik bernama Hizbut Tahrir ini. Meskipun mereka jelas-jelas adalah organisasi politik yang berasal dari Timur Tengah toh sangat banyak umat Islam yang menganggap ini semacam lembaga dakwah Islam yang ingin membawa kemurnian dan kejayaan agama Islam dan menghancurkan kebatilan yang ada di Indonesia. 


“HTI selamaini baik-baik saja dan pendukungnya adalah orang-orang yang taat beragama.”, demikian kata teman saya membela HTI. Tentu saja yang pertama-tama mudah ditipu oleh gerakan ini adalah orang-orang yang taat beragama karena memang bungkus yang digunakan adalah agama dengan menggunakan hadist dan ayat-ayat Alquran. HTI tidak akan mungkin didukung oleh non-muslim atau muslim yang tidak silau dengan atribut agama. 

“HTI tidak pernah memberontak seperti PKI.”, demikian katanya lagi. Memang belum tapi pasti suatu saat akan memberontak. Tidak mungkin tidak. Seperti juga PKI dulu mereka hanya menunggu kapan mereka siap melakukannya. Dan itu sudah dilakukannya di beberapa negara. 


Pada tanggal 6 Oktober 1981, Hizbut Tahrir melakukan kudeta dengan membunuh Presiden Anwar Sadat dan mengumumkan berdirinya negara Islam di Mesir di bawah kendali HT. Kudeta ini gagal dan semua pelakunya dihukum mati. HT kemudian dilarang di Mesir. 


Di Yordania, Bangladesh Pakistan Irak, Pakistan dan Suriah mereka pun mencoba melakukan kudeta, dan gagal. Tapi tentu saja informasi kejahatan HT dan pembrangusan organisasi ini di berbagai negara tidak akan pernah disampaikan oleh para pendukung fanatik HTI. Itu akan membuat kedok dan belang mereka terbongkar.

Di Indonesia mereka melakukan cuci otak melalui ceramah dan pengajian supaya bisa mendukung gerakan mereka untuk mendirikan negara Islam. Mereka melakukan ini dengan massif, sistematis, dan terstruktur pada masjid-masjid, kampus-kampus, dan berbagai pengajian dan halaqah yang mereka masuki. Mereka melakukan cuci otak pada umat Islam dengan menggunakan jargon-jargon agama yang tentu saja mereka kuasai dengan sangat baik. Itulah sebabnya banyak sekali umat Islam yang terkecoh danmengira bahwa mendirikan negara Islam adalah perintah Tuhan yang wajib ditaati. Mereka akhirnya terbius oleh racun dogma yang menyatakan bahwa negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah negara thagut yang harus diperangi dan harus diganti dengan sistem kekhilafahan ala HTI.

Tapi apa sih sebenarnya bahayanya gerakan HT ini? Jelas sekali bahwa organisasi ini akan merongrong dan menggerogoti kecintaan rakyat pada bangsa dan negaranya. 

Umat Islam diajarkan untuk kufur terhadap nikmat kemerdekaan dan berdirinya bangsa dan negara NKRI karena bukan berbentuk khilafah.  Bahkan lebih daripada itu, warga muslim Indonesia diajak untuk melakukan makar dan berkhianat pada bangsa dan negaranya sendiri dengan menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara thagut yang tidak layak untuk diikuti dan patut ditentang. Hal ini menyebabkan warga muslim Indonesia kehilangan kepatuhan dan kesetiaannya pada pemerintah, bangsa dan negaranya.

Salah satu metode yang dilakukan oleh orang-orang HTI adalah mereka secara konsisten, sistematis, dan terstruktur mengembangkan kultur negatif pada masyarakat, khususnya umat Islam. Orang-orangHTI memfokuskan dirinya untuk mencari-cari kesalahan pemerintah dan menyebar-nyebarkannya pada semua umat Islam. Mereka fokus mengembangkan psikologi dan kultur negatip pada umat Islam agar mereka membenci pemerintah dan negaranya sendiri yang mereka cap thagut. Dan semua itu mereka bungkus dengan manipulasi dakwah agama. Mereka secara sistematis berupaya menghilangkan kesetiaan umat Islam pada bangsa dan negara mereka.

Mereka selalu menyatakan bahwa umat Islam yang hidup di negara Indonesia yang thagut akan mati kafir. Padahal mereka sendiri hidup di Indonesia yang mereka tuding sebagai negara thagut yang artinya mereka sendiri akan mati kafir dengan sendirinya. Tak ada sedikit pun kebaikan pemerintah di mata orang-orang HTI. Sementara itu mereka meninggikan diri mereka dengan mengaku-ngaku menegakkan perintah agama utk mendirikan khilafah. Merekalah para pejuang agama yang kaffah sedangkan yang tidak ikut mereka adalah umat yang akan mati kafir. Semua orang dan pemerintahan adalah batil kecuali mereka yang berada di jalan perjuangan menegakkan khilafah. Sic…!

Apa yang paling buruk dari itu? Tentu saja karena mereka menggunakan kedok dakwah dan agama yang mereka selewengkan untuk menipu umat yang tidak sadar akan keburukan yang mereka sebarkan. Mereka menggunakan kedok sebagai organisasi massa padahal apa yang mereka lakukan adalah kegiatan politik untuk mengkhianati perjuangan bangsa demi sebuah ideologi politik dari negara asing yang di negara asalnya pun mereka ditolak dan dilarang.

Khilafah adalah bagian dari produk ijtihad masa lampau dan telah habis masanya pada tahun 1924. Sejarah kekhilafahan faktanya ternyata jauh lebih mengerikan dan biadab ketimbang yang pernah kita tahu dan mungkin tidak pernah disampaikan pada kita. Khilafah juga bukan bagian inti dari ajaran Islam. Ia tidak terdapat dalam rukun iman atau pun rukun Islam. Semua itu bisa kita ketahui dan pahami jika kita mau membaca buku-buku sejarah tentang kekhilafahan yang terserak. Umat Islam harus cerdas dan paham bahwa mereka selama ini telah dijadikan sasaran dari sebuah ambisi kekuasaan politik yang datang dari Timur Tengah yang bakal menghancurkan sendi-sendi kesetiaan warga kepada negaranya. Dan itu harus dicegah dengan sekuat tenaga kita.

Mari kita bersama melawan pengkhianatan ini. 

Surabaya, 29Januari 2018

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

Kamis, 24 Januari 2019

TRANSFORMASI EKONOMI JOKOWI: DARI ERA DUM-DUMAN MENUJU KEMAKMURAN BERKELANJUTAN

KOLOM: TRANSFORMASI EKONOMI JOKOWI: DARI ERA DUM-DUMAN MENUJU KEMAKMURAN BERKELANJUTAN
ditulis oleh Agus Budiyono dan di posted di Facebook 22 Januari 2019 jam 19.52
Saya sering merujuk almamater saya, Massachusetts Institute of Technology, dalam banyak tulisan saya. Bukan untuk bangga-banggaan. Memang kenyataannya begitu banyak mendatangkan inspirasi. Apalagi kok saya, praktis semua film director Hollywood akan merujuk nama MIT untuk menggambarkan suatu fenomena yang world class, fantastic, out of the box and ordinary dan mungkin sekalian other worldly. Yang layak untuk dijadikan sentuhan plot atau mendukung cerita. Pendeknya yang film-worthy. 

Ada begitu banyak prestasi dari the Mecca of Innovation ini. Ini mencakup pencapaian dalam bidang sains dan teknologi, kreatifitas maupun finansial. Dalam konteks ini, tidak bisa disangkal bahwa MIT adalah Entrepreneurial University nomor wahid dunia. Sebuah institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berhenti mengajarkan ilmu-ilmu dasar dan terapan tapi sekaligus menyediakan lingkungan yang fertile untuk menumbuhkan kegiatan ekonomi berbasis inovasi. All the way dari mengajarkan masalah mencari inverse matriks, solusi persamaan Diophantine sampai strategi mendirikan start-ups. 

Selama kuliah disana dan disambung bekerja di salah satu start-ups spin-off dari MIT, saya bisa secara langsung merasakan bagaimana bila sumberdaya itu benar-benar dikelola dengan baik maka akan menghasilkan banyak kemaslahatan. Mendatangkan kemakmuran. Dengan baik di sini saya maksudkan dengan transparan dan mengikuti kaidah-kaidah bisnis. Yang meritokratik. Bukan yang berbasis pada cara potong kompas, maen kayu, kong kalikong, akal-akalan ataupun mafia-mafiaan. Sehingga kalo suatu aktifitas start-ups membesar juga akan bisa ditarik pelajarannya, bisa memberikan inspirasi ke pemain lain yang tidak atau belum berpengalaman. Bisa diajarkan sebagai business case di sekolah-sekolah managemen karena sifatnya berupa penerapan bidang keilmuan yang aplikasinya reproducible. Karena sifatnya juga mengikuti kaidah bisnis yang berlaku generik, maka bisa juga keberhasilannya dicopy and paste ke domain yang berbeda atau regional yang lain.  

+++

Dengan rumus seperti di atas, alumni MIT secara keseluruhan telah menghasilkan lebih dari 31 ribu start-ups. Revenue yang dihasilkan secara kumulatif setara dengan ekonomi no 10 dunia. Sebagai gambaran saat ini Indonesia berada para no 15 atau 16 dunia. Bisalah kiranya dibayangkan impact dari aktifitas start-ups alumni MIT itu. Case-casenya banyak menjadi rujukan sekolah-sekolah bisnis di seluruh dunia. 

Selama hampir sepuluh tahun keberadaan saya di lingkungan MIT, saya tentunya selalu memimpikan kondisi iklim bisnis di tanah air bisa seperti itu. Dengan sumber daya alam yang melimpah ruah dan juga kualitas SDM yang bersaing secara internasional (yang cukup canggih sehingga pesawat terbang buatan bangsa Indonesia dihormati di MIT), mengapa ekonomi kita tidak maju-maju dan rakyat kita tidak makmur-makmur? 

Kami tinggal hampir 8 tahun di Korea. Tiap akhir minggu anak-anak saya selalu saya ajak ke resto seafood favorit mereka dimana mereka bisa makan ikan segar (salmon, tuna, makarel, …) sepuasnya, unlimited. Saya bertanya: mengapa warga negara rata-rata Korea (yang tidak seberapa kaya), negara sebesar Jawa Barat dengan wilayah laut terbatas, bisa membeli dan makan sashimi (salmon, tuna, dsb) segar secara murah? Sementara kita warga negara sebuah kepulauan terbesar dunia dengan 17 ribu pulau dan wilayah 20 kali lipat Korea, tidak bisa menikmati hasil lautnya sendiri. 

Dengan ilmu terang MIT di atas tadi, seharusnya tiap warga negara Indonesia dari Sabang, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Solor, Alor, Wetar, Timor, Roti, Sawu dan pulau-pulau lainnya sepantasnya bisa makan ikan segar atau masak setiap hari. Seharusnya bisa terhidang tuna, cakalang, tongkol, kakap, makarel, baronang, tenggiri,… di meja makan keluarga rata-rata Indonesia.  Setiap hari. Sehingga anak-anak Indonesia juga bisa mempunyai asupan Omega 3 dan omega 6 dan nutrisi sehat lainnya yang membuat mereka bisa cerdas dan mampu bersaing. 

Kemanakah ikan-ikan kita? Bagaimana kok sampai terjadi fenomena sebagaian warga negara kita seperti kelaparan di lumbung beras? Bagaimana ceritanya kok kita sebagai pusatnya penghasil tuna, tongkol, dan ikan besar lainnya kita malah hanya kebagian bothok teri? 

+++

Seseorang tidak perlu sekolah jauh-jauh ke MIT untuk tahu bahwa ada mafia yang menguasai dunia perikanan kita selama lebih dari setengah abad. Dan bukan hanya perikanan tapi hal yang sama terjadi juga di minyak dan pertambangan, infrastruktur dan sektor-sektor basah lainnya. It has been well known for so many many years. Kebocoran pendapatan negara karena masalah mafia perikanan (illegal fishing) ini adalah USD 5 billion per tahun atau setara dengan Rp 75 trilyun per tahun. Kebocoran yang sama terjadi di sektor kehutanan (illegal logging), dan sektor-sektor strategis semuanya. 

Tahun 2014 ada perubahan yang sangat fundamental. Seorang pemimpin yang low profile, unassuming berhasil terpilih. Dari kaca mata saya seorang yang tidak hanya mengamati tapi juga terlibat langsung dengan kegiatan ekonomi berbasis inovasi di tanah air, perubahan tersebut adalah angin segar. Saya katakan fundamental, karena perubahan yang ada mampu menyentuh akar masalah. 

Dalam tulisan saya yang lain mengenai 10 faktor yang menentukan kesuksesan seseorang, faktor no 1 adalah integritas. Faktor ini yang sangat menentukan seseorang untuk sukses jangka panjang, dan utamanya untuk seorang yang memimpin Indonesia yang sangat kaya raya ini. Seorang yang berani secara jujur dengan bahasa yang mudah dan terang benderang bahwa bangsa Indonesia itu sebenarnya sudah akan kaya dari hasil di pekarangan rumahnya sendiri. Dari hasil laut, hasil tambang, hasil hutan, dan kekayaan alam lainnya yang diolah dengan ilmu pengetahuan sehingga menghasilkan nilai tambah setinggi-tingginya. 

Era sebelumnya, ekonomi Indonesia tidak bisa dipetakan dengan ilmu-ilmu canggih dari Harvard Business School, Sloan School of Management MIT atau Kellog Business school. Ilmu-ilmu yang sebenarnya sangat jitu tersebut menjadi tidak begitu berguna. Karena di setiap sudut ada saja yang selalu mengatakan: “Sudahlah maasss, jangan susah-susaah. Tidak perlu itu teori-teori rumit dari MIT atau Harvard. Yang penting di sini adalah wani piro?”. Atau yang sedikit mengancam “Nanti kalo kita tidak ikut kebiasaan ini (uang katalis dan pelancar sana-sini) nanti malah projeknya gak jalan loh”. 

Demikianlah dalam era dum-duman, tidak diperlukan ilmu-ilmu dari sekolah managemen tersebut. Semua sudah ada “sistem”nya, department sudah dikavling-kavling, berbagai sektor sudah habis didum (dibagi). Tidak ada integritas yang bisa kita pegang. Dalam iklim bisnis seperti ini, orang yang berprestasi menjadi males. Buat apa bekerja keras wong di ujung sana akhirnya yang menentukan akan bertanya: wani piro? Sebuah dunia dengan wilayah kelabu yang tidak mudah dipetakan yang mengizinkan fenomena “papa minta saham”, “mami minta dividen”, dan “dedek minta jatah persenan”. Saya paham mengapa teman bisnis saya yang gusar di Jakarta mengomentar keadaan tersebut sebagai “truly dried cassava!”. Bener-benar nggapleki! Bikin kezel. 

+++

Saya termasuk yang bernapas lega ketika figur Jokowi muncul dalam hutan belantara ekonomi seperti di atas. Seperti angin segar dalam ruangan yang pengap, suffocating. Insting pertamanya sangatlah sesuai dengan harapan orang-orang (saya percaya ini mewakili hati nurani sebagian besar rakyat Indonesia) yang berkiprah dalam kegiatan ekonomi seperti saya yaitu mengangkat orang-orang berintegritas dan terpercaya dalam pos-pos dengan kebocoran paling tinggi di atas. Kue ekonomi Indonesia harus dikembalikan kepada yang paling berhak: rakyat Indonesia. 

Saya paham ini tidak akan serta merta membalikkan keadaan. Sebuah sistem yang sudah berurat berakar sekian lama tentu juga akan membutuhkan waktu untuk berubah. Tapi langkah pertama tidaklah bisa ditawar, di pucuk pimpinan haruslah seorang yang tidak hanya kapabel tapi juga harus bersih dan terpercaya.  Saya merasa bangga dan senang di ESDM ada figur Pak Ignasius Jonan di tangan dingin blio blok Mahakam, blok Rokan dan divestasi 51% saham Freeport bisa diselesaikan, di Kementrian Kelautan dan Perikanan ada Bu Susi yang secara tegas dan berani menerjemahkan visi Jokowi dengan membersihkan wilayah laut Indonesia dari mafia illegal fishers, pertama kali dalam sejarah perikanan Indonesia. Seandainya 10% saja (Rp 7,5 T) dari devisa yang sekarang diselamatkan dari kebocoran illegal fishing digunakan untuk pembinaan start-ups unggulan di Indonesia, ada berapa calon unicorns  atau sub-unicors yang mampu kita hasilkan? 

Di Kementerian PUPR ada Pak Basuki yang selama empat tahun terakhir hidupnya praktis ada di jalan. Setiap saat sibuk mengawasi dan menginspeksi program-program infrastruktur yang digenjot pemerintah Jokowi. Disini terlihat terang benderang, bagi yang berpikir dengan jernih, bagaimana strategi pembanguan Jokowi adalah sangat berpihak pada Indonesia jangka panjang. Kenapa? 

Dalam konstelasi global geostrategis China sudah mencanangkan dengan terbuka program OBOR (One Belt One Road) dan Amerika dengan skema Grand Pacific. OBOR menghububungkan China dengan ASEAN, melalui jalur kereta logistik dari Guangxie melalui Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapore dan rencana jembatan laut Malaka akan terhubung dengan Dumai. Ini artinya kedua raksasa ini membangun jaringan infra yang akan terhubung langsung dengan urat nadi perekonomian kita. Kalo kita tidak siap, maka Indonesia akan jadi penonton. Hanya bila infrastruktur terbangun di seluruh Indonesia, kita bisa bersaing dengan gempuran raksasa China dan Amerika. Adalah pandangan keliru dan keblinger kalo mengatakan Jokowi adalah pro China. Yang terjadi, program toll laut dan juga infrastruktur jalan toll Sumatra adalah program yang justru menchallenge OBOR China. Itu adalah pengumuman terbuka bahwa Indonesia siap bersaing.
Dan tentunya saya harus menyebut Bu Sri Mulyani Indrawati yang menggawangi Kementrian Keuangan. Sosok SMI yang dihormati ahli keuangan dunia ini mampu mengawal pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sehat di tengah persaingan global yang ketat dan peta kekuatan yang cepat berubah. SMI sukses menjaga ketahanan perekonomian Indonesia di tengah berbagai bencana sepanjang tahun 2018. Defisit Produk Domestik Bruto tahun 2018 diperkirakan sekitar 1,86 persen, lebih rendah dari yang diperkirakan dalam APBN 2018 sebesar 2,19 persen. 

Di bawah SMI, Indonesia mampu memodernisasi respon negara terhadap bencana alam, via strategi penjaminan dan pembiayaan resiko, sehingga proses bantuan dan pemulihan pasca bencana bisa berjalan cepat. SMI juga sukses mengarsiteki dan mengeksekusi berbagai jenis reformasi perpajakan yang mendongkrak ekonomi Indonesia. Bu Sri Mulyani memperoleh penghargaan sebagai Menteri Keuangan terbaik sedunia dari lembaga independen karena prestasinya ini. Meskipun demikian, seperti kata koleganya ekonom dan juga mantan Menteri Keuangan, Dr Chatib Basri, she is too humble to present what she has achieved. 
+++

Demikianlah, saya hanya bisa mensarikan sedikit dari yang saya pahami dari konstelasi besar perekonomian Indonesia. Banyak segi yang tentunya tidak bisa saya bahas dalam kolom pendek ini. Namun saya berharap pembaca bisa menangkap spirit yang ada. Bahwa ada transformasi yang dikawal oleh orang-orang hebat yang bersih dan berdedikasi untuk mentransformasi Indonesia menjadi negeri yang mencapai kemakmuran yang berkesinambungan, dilakukan dengan sepenuh kesadaran dan semangat. Bukan hanya untuk meresponse dan bereaksi terhadap peristiwa pergantian pemimpin tiap lima tahun. Bukan, bukan itu. Saya sangat kenal dengan figur-figur ini. Sekelompok orang yang tidak pernah lelah mencintai negerinya.🥰💓💓

P.S.

  1. Mohon bantuannya untuk menyebarluaskan sekiranya bisa membantu memberikan pencerahan kepada kalangan yang memerlukan. Mari kita bahu-membahu melawan hoaks dan disinformasi. Bila ada yang memerlukan versi WA, japri saya. Kebetulan selalu ada yang sudah membuatkan. 
  2. Saya menulis apa adanya berdasarkan fakta. Nothing more nothing less. Tidak dilebih-lebihkan, apa adanya. Di luar sana tetap saja ada suara katanya saya buzzernya Jokowi. We ladalah ..... nampaknya yang bersangkutan belum kenal riwayat penulisan saya. Seandainya ybs men-check semua tulisan saya, dan tetap menggunakan indikator tulisan memuji sebagai buzzer, saya yakin kesimpulan dia akan berubah: ooh maaf salah ternyata bukan buzzer Jokowi tapi buzzer Dian Sastrowardoyo .... mbok sekaliaaan, alaaa sukaknya nanggung. jangan buzzer tapi bodyguardnya.... kkk

Rabu, 23 Januari 2019

KOK MASIH IMPOR BERAS....?

Pada setiap masa kampanye pemilihan presiden, harga sembilan bahan pokok atau lebih dikenal dengan sembako, terutama komoditi beras dan garam selalu menjadi salah satu issue negatif yang dipandang sangat sexy untuk dihembuskan kupada masyarakat umum oleh kalangan oposisi untuk menurunkan kredibilitas dan kinerja pemerintah. Bisa sangat dimengerti karena mereka selalu "bernostalgia" bahwa pada tahun 1984 Indonesia sempat dinyatakan dan menyatakan diri "swasembada" beras. Namun sebetulnya, jarang yang mengetahui atau paham apa dan bagimana definisi swasembada beras terutama bila dikaitkan dengan "ketahanan pangan", dimana kondisi ketersediaan bajan pokok harus mencukupi untuk konsumsi sekian bulan ke depan.

Apakah definisi "swasembada" berarti hasil panen sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat pada tahun berjalan, atau sudah ditambahkan dengan persediaan dan cadangan ketahanan pangan bila terjadi gagal panen serta persediaan selama 6 bulan ke depan? 

Menjadi pertanyaan juga, apakah hasil panen yang dijadikan acuan perhitungan swasembada tersebut adalah kondisi aktual dan sudah terjadi atau masih merupakan hasil prediksi/perhitungan di atas kertas alias asumsi hasil panen jika berjalan sesuai harapan. Bagaimana jika ternyata sebelum panen, terjadi serangan hama atau ada musibah alam yang mengakibatkan sawah dan padi yang "siap panen" menjadi puso? Mungkin para pakar perberasan, birokrat, pengamat serta mereka yang selalu bising meributkan hal ini perlu menjelaskan dan menyepakati dulu asumsi-asumsinya sehingga perdebatan atau diskusinya berpijak pada pondasi yang sama. Jangan berbicara dengan niat buruk membuat keriuhan. Sudah saatnya kita berbicara untuk perbaikan negeri ini siapapun yang menjadi pucuk pimpinan.

Lepas dari keriuhan dan kesimpang-siuran di atas, saya ingin berbagi sedikit kenangan masa lalu, saat Orde Baru masih sibuk "membenahi" kondisi ekonomi Indonesia yang morat-marit akibat politik yang dijalankan pada masa pemerintaha Orde Lama. 

Sepertinya, nostalgia ini tidak ada hubungan dengan swasembada ya? Tapi kenangan itu menjelaskan betala kita "kehilangan" terlalu banyak persawahan subur di tanah Jawa Barat. 
***
Jerk Garut
Keluarga kami pindah ke Karawang pada tahun 1968, untuk mengikuti tugas ayah, setelah sebelumnya, selama sekitar 3 tahun bertempat tinggal di Garut - salah satu dataran tinggi Parahyangan yang hingga saat ini terkenal dengan dodolnya yang khas serta kerajinan kulit seperti jaket, tas, dompet dan sejenisnya yang berkualitas sangat baik.

Pada masa kami tinggal di Garut, wilayah tersebut masih dikenal sebagai penghasil jeruk manis yang sangat terkenal dengan beragam jenisnya antara lain, yang masih saya ingat adalah jeruk siam dan jeruk konde. Jeruk konde ini cukup unik, memiliki diameter yang cukup besar, sekitar 10cm dan agak pipih. Bila dikupas kulitnya, maka daging buahnya terlihat lepas dari kuit. Rasanya ....? sebagaimana jeruk dari kebun petani traditional, terutama di sentra Karang Pawitan, hampir seluruhnya terasa sangat manis. Sangat jarang ditemukan rasa peruk yang masam.

Ke sanalah biasanya kami menghabiskan waktu saat week end. Memancing ikan mas di kolam, makan siang di saung dengan ikan mas dan ayam kampung digoreng, lalaban dan sambal terapi. Terkadang disediakan juga petai bakar. Dengan menikmati nasi panas dan lauk pauknya, ditengahi olen suara seruling dikejauhan ... Kalau kebetulan sedang masa panen, usai makan siang  anak-anak diajak memilih dan memetik jeruk sendiri, tanpa batas .... Serasa memiliki kebun sendiri..... Wuih .... betapa terasa nikmatnya hidup ini ..... Itulah sepenggal kenangan masa kecil.


Kira-kira 100 meter di belakang rumah tempat tinggal kami di jalan Ciledug, ada pabrik penyulingan akar wangi yang oleh warga setempat disebut "usar". Itulah akhir jalan di samping rumah karena tepat di belakang pabrik sudah terbentang terasering sawah yang sangat luas. Tempat saya selalu melewatkan waktu sepanjang hari, usai sekolah. Berlarian di pematangnya, mencari tutut, genjer dan tanaman lain yang layak makan untuk kemudian diberikan kepada teman-teman yang menyukainya walau terkadang terpleset dan pulang ke rumah berlumuran lumpur. Maklumlah ....."anak kota" yang tidak pernah mengenal sawah, menjadi sangat suka bermain di pesawahan apalagi tatkala menemukan sumber mata air yang sangat jernih dan dingin. 

Usai panen dan menjelang musim tanam selanjutnya, biasanya pemilik sawah akan  memanfaatkan waktu jeda tersebut untuk menyemaikan ikan. Ikan yang baru saya kenal bentuk dan rasanya saat tinggal di Garut. Pola tanam tersebut membuktikan bahwa sekitar tahun 1966 hingga masa mulai dikenal program intensifikasi persawahan sekitar tahun 1968, tanaman padi dan lingkungannya betul-betul bebas pupuk kimiawi, pestisida dan sejenisnya. Kalau saat ini dikenal sebagai pertanian organik.


Karawang si Lumbung Beras
Kembali ke Karawang, tempat tinggal kami di (dahulu) jalan Jend. A Yani - kawasan yang lebih dikenal sebagai Guro I, adalah kawasan perumahan baru. Sebagai wilayah yang saat itu dikenal sebagai gudang beras manjado wajar bila massif ditemukan persawahan. Sebagaimana laiknya kota-kota di Indonesia lainnya, kota tumbuh di sekitar pusat keramaian berupa pasar, station kereta api dan di sepanjang jalan yang meaghubungkan antara pasar dengan stasiun. Karena Karawang dikenal sebagai lumbung beras/padi maka kota tersebut masih di kelilingi oleh sawah. 
Itu sebab .... selain jalan Tuparev (Tujuh Pahlawan Revolusi), yaitu jalan utama yang membelah kota, untuk mencapai bagian kota lainnya, jalan raya masih menembus area pesawahan yang dialiri oleh air yang berasal dari saluran irigasi. Memang .... sampai akhir tahun 1960 an, Karawang masih dikenal sebagai daerha penghasil beras.

Transportasi menuju Jakarta dilakukan dengan kendaraan bermotor (mobil) dan kereta Api. Tentu jangan dibandingkan dengan kondisi saat ini. Jembatan yang melintasi sungai Citarum di daerah Tanjungpura, sebelum Lemah Abang, masih jembatan kayu yang harus dilalui secara bergantían. Namun demikian perjalanan ke Jakarta yang bebas macet dan dapat ditempuh dalam waktu 1 jam saja, terasa sangat menyenangkan terutama saat sudah lewat musim tanam. Pemandangan hijau royo-royo menghiasi hampir seluruh perjalanan. Batas setiap kecamatan masih sangat terasa, selain karena ciri khas kecamatan terkait, juga karena adanya hamparan sawah di setiap antara kecamatan.


gubuk pembakaran batu bata di tengah sawah
Setelah melewati station Lemah Abang, kami cembalo menyusuri jalan yang membelah persawahan kita menemukan gubuk-gubuk pembakaran batu bata yang sekelilingnya dipenuhi dengan tumpukan bata mentah berwarna merah. Itu sebagai tanda kami sudah memasuki wilayah Cikarang yang saat ini menjadi terkenal dengan kasus Meikarta. Sebagaimana Lemah Abang, pusat keramaian kota kecamatan Cikarang di sepanjang jalan menuju Jakarta yang dilewati kendaraan tidak terlalu luas dan panjang. Mungkin hanya sekitar 300-500 meter saja, kita sudah kembali menyusuri persawahan. menuju Tambun, lalu Bekasi, Cakung - Klender. Saat itu saya sama sekali belum meyadari bahwa Cakung adalah wilayah DKI Jakarta, karena masih menjadi area persawahan. Kesadaran sudah memasuki wilayah DKI Jakarta baru ada saat memasuki wilayah Klender dan Lapangan Golf Rawamangun.

Wilayah Cakung mudah dikenali karena biasanya kami menemukan rombongan penggembala itik atau saat itu kami sebut "meri". Entah kenapa, penggembala itik hanya bisa ditemukan di wilayah Cakung karena kalau acuannya adalah memberi makan dengan bulir padi sisa panen dan membawanya ke persawahan, seharusnya penggembala itik bisa ditemukan di hampir seluruh area persawahan di sepanjang perjalanan dari Karawang ke Jakarta. 

Sebetulnya, area persawahan tersebut sudah diairi secara teknis melalui irigasi yang sumbernya dari sungai Citarum dan telah dibendung di Jatiluhur. Entah apakah pola tanam dan pupuknya sudah menggunakan pupuk kimiawi, atau belum.  

Yang diingat betul, adalah bahwa sekitar tahun 1968, rumah di sebelah tempat tinggal kami tiba-tiba dihuni oleh bule-bule asal Belanda. Mereka menggunakan rumah tersebut sebagai kantor sekaligus tempat tinggal sebelum akhirnya menyewa 2 atas 3 rumah lagi masih di jalan yang sama. Pada mobil-mobil jeep yang digunakan, tarter tulisan CIBA-GEIGI. Rupanya, mereka adalah konsultan/perusahaan yang ditugaskan pemerintah untuk melakukan intensifikasi penanaman beras. Sangat mungkin pada masa itulah mulai diperkenalkan penggunaan pupuk kimia untuk meningkatkan hasil panen hingga akhirnya Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Bayangkan .... ada waktu sekitar 16 tahun sejak masuknya Ciba Geigi ke Indonesia, khususnya yang saya ketahui di kabupaten Karawang.

Sekarang ..... mari kita tengok apa yang terjadi di sepanjang jalan antara Karawang si lumbung padi ke Jakarta, bain melalui jalan toll, apalagi lewat jalur tradisional, jalan nacional yang lebih dikenal sebagai jalur pantura. Tetap menyusuri kecamatan-kecamatan yang sudah disebutkan tadi. Jalan nasional yang biasa dilalui pada awal tahun 1970an adalah menyusuri jalan Pramuka - jalan Pemuda dan masuk ke jalur pantura melewati Cakung - Kranji - Bekasi - Tambun - Cibitung - Cikarang - Lemah Abang - Kedung Gedeh - Karawang. Tengoklah apa yang tersaji selama perjalanan tersebut.... Nyaris tak ada jeda pemandangan hijau royo-royo. Hampir disepanjang jalan ditemukan ruko alias rumah toko, warung-warung, beragam pasar baik pasar tradisional maupun pasar modern yang berarti gedung bertingkat yang Padang Sudan terlihat lusuh tau yang sedikit lebbig blik kondisinya disebut Plaza atau Mall. Namun kesemuanya memiliki persamaan yang khas, ... penyumbang kemacetan karena kegiatan tersebut melimpah ruah ke badan jalan.
Cikarang saat ini

Kondisi di atas dapat berarti ada pengurangan lahan pertanian produktif terutama sawah dengan irigasi teknis yang menjadi Khas persawahan di wilayah Bekasi dan Karawang secara massive, sementara pada saat yang bersamaan terjadi peningkatan jumlah penduduk yang juga sangat massive akibat pertumbuhan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut.

Hal yang sama, secara analog, yaitu pengurangan lahan pertanian khususnya sawah dan kebab saurian secara massive, terjadi di wilayah lain di hampir seluruh wilayah pulau Jawa sebagai daerah yang paling subur untuk kegiatan menanam padi, maupun di pulau Sumatera. Sama halnya dengan pertumbuhan jumlah penduduk baik akibat kelahiran maupun peningkatan kegiatan ekonomi yang menyebabkan terjadinya arus urbanisasi.

Hal yang yang turut memperberat persediaan beras adalah, perubahan pola konsumsi masyarakat. Kalau dulu, makanan pokok masyarakat Madura adalah nasi jagung, Gunung Kidul di DI Yogyakarta dengan tiwulnya lalu masyarakat kawasan timur Indonesia, Maluku dan Papua, sangat bangga dengan makanan tradisional yang terbuat dari sagu dan kemudian dikenal juga dengan sajian bubur sagu bernama pepeda, kini semua nyaris ditinggalkan dan dianggap makanan kelas dua. 


Sawah sudah berubah jadi jalan toll
Bayangkan .... betapa besar kebutuhan akan persediaan beras, sementara upaya untuk membuka lahan baru persawahan tentu tidak mudah dan memakan waktu yang panjang. Bukan hanya membuka hutan, tetapi harus memperhitungkan juga pembersihan lana dari bonggol-bonggol akar, kemudian meneliti kondisi tanah agar diperoleh bibit tanaman yang sesuai dengann fisiologis lahan setempat. Tidak lupa juga haras mempersiapkan sistem pengairannya apakah dari sungai. Kalau lahan berdekatan dengan sungaipun, masih harus membuat saluran-saluran irigasi agar seluruh lahan terairi dengan baik.

Jadi ..... itu, bukan jenis pekerjaan yang bisa diselesaikan sebelum Matahari terbit semacam dongeng berdirinya candi Loro Jongrang atau terjadinya Gunung Tangkuban Parahu. Berhentilah bermimpi dan pakai nalar .... Memperbaiki "ketidakseimbangan" lingkungan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Perlu akal sehat supaya bisa merencanakan pekerjaan dengan baik dan benar. Kalau sudah ada rencana, pelaksanaannya perlu waktu, perlu kesabaran, konsistensi dalam bekerja .... Singsingkan lengan baju bersama untuk saling bantu membangun NKRI.
Bukan misuh-misuh nagga keruan yang nantinya hanya menunjukkan betapa kita hanya pandai berkeluh kesah saja.

Salam 

Senin, 17 Desember 2018

WASPADA terhadap PENYESATAN opini

Selama bulan Desember 2018 ini, berita tentang massifnya penyesatan opini terhadap paslon salah satu capres bertebaran baik di wag maupun media sosial lainnya. Alih-alih melakukan politik mencerdaskan masyarakat dalam menilai paslon, tim pemenangan sepertinya cenderung untuk membodohi masyarakat. Apalagi, masyarakat Indonesia memang masih masuk pada golongan "malas membaca" termasuk kalangan "terpelajar" sekalipun. Lebih suka mendengar dan percaya omongan orang dan gosip. Tidak melakukan cross check atau mencari rujukan lain sebagai penyeimbang berita, apalagi berpikir kritis atas berätta dan rujukan yang diterima/dibaca.
  
Menyimak berita-berita yang breeder baik di wag maupun media sosial dan kemudian kalau berpatokan dengan polling yang dilaksanakan secara sporadis, pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin hampir selalu mengungguli pasangan Prabowo - Sandiaga. Jangan terlena pada hasil polling karena berita tersebut kemudian juga disusul dengan tambahan berita lain yang menyatakan bahwa tingkat keterpilihan pasangan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno bergerak naik, sementara keadaan sebaliknya terjadi pada paslon lawannya.

Ingat kasus pilkada DKI Jakarta 2017, saat polling menyatakan bahwa pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok - Djarot Saiful Hidayat mengungguli ke 2 passion lainnya apalagi saat tersebut Ahok sedan dibelit kasus "penistaan agama" yang konon kabarnya di "endorse" oleh suatu kelompok/golongan pendukung salah satu paslon. 

Menjelang pilpres 2019 yang akan datang, di banyak daerah, bahkan di Jakarta sendiri, dukungan kepada paslon no 2 begitu kuat. Hal ini bisa saja merupakan sisa-sisa dukungan saat pilkada DKI 2017 yang lalu, tetapi ada kecenderungan bahwa terjadi penyesatan opini terhadap program pemerataan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah saat ini dan kondisi disruptif ekonomi yang melanda di seluruh dunia, yatu perubahan perilaku transaksi ekonomi sebagai akibat dari perkembangan teknologi.

Di sisi lain, program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah seperti harga BBM yang sama untuk seluruh Indonesia, pembangunan infrastruktur (jalan, bandar utara, dermaga kapal laut, waduk dll), program tax amnesti, program tol laut,  akuisisi saham Freeport Indonesia dan lain-lain yang dilaksanakan oleh pemerintahan Joko Widodo, bukanlah program populis untuk menyenangkan masyarakat khususnya masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa yang terbiasa dimanjakan. Hasil pembangunan tersebut baru akan dan bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang, paling cepat 10 tahun lagi. Itupun dengan kondisi kalau Jokowi masih mendapat kesempatan untuk menuntaskan pekerjaannya dengan menerima amanah utk 5 tahun yang akan datang.

Ternyata harus disadari bahwa bila merujuk pada teori Maslow, masyarakat Indonesia, termasuk sebagian besar elite, masih berada pada level terbawah, yaitu memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup dan pemenuhan kebutuhan dasar tersebut dilakukan secara berlebihan sehingga bertambah dengan keserakahan menumpuk kekayaan. Atau paling banter masih pada taraf memenuhi keamanan dan kenyamanan diri sediri  Belum memikirkan kebutuhan yang lebih luas dan kebersamaan. Apalagi untu kemajuan bangsa dan negaranya. Itu sebab pemerataan pembangunan yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi ketimpangan antara wilayah Barat, terutama pembangunan di pulau Jawa  dengan pembangunan di widayat timur, tidak/kurang diberikan apresiasi.

Selain itu, ada beragam program yang dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan publik, justru "diingkari" oleh pelayan publik itu sendiri. Itu juga yang menjadi sebab, kenapa 72% ASN-aparatur sipil negara yang dulu dikenal sebagai PNS alias pegawai negeri sipil tidak mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Ditengarai bahwa upaya peningkatan pelayanan publik yang dilakukan pemerintah justru tidak disukai para ASN karena akan mengurangi bahkan menyumbat  sumber-sumber pendapatan non gaji yang mereka peroleh dari suap perijinan, mark-up - perjalanan dinas dan lain-lain. Dengan kata lain, para ASN, mungkin tidak seluruhnya, dan ternyata juga sebagian pengusaha, pemasok dan rekanan pemerintah lainnya yang sexual biasa "bermain" merasa dipersulit dengan diberlakukannya online procurement, e-budgeting dan lain-lain. 

Begitulah kenyataan dan sebab-sebab mengapa selalu terjadi ketimpangan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa. Program populis, BLT dll, pembiaran mark-up, suap, spj fiktif ternyata efektif untuk mendulang suara kemenangan paslon presiden, karena Jawa merupakan pulau terpadat di indonesia .....

Sedih .....? Sudah pasti .... terutama bagi orang yang menginginkan masa depan Indonesia yang lebih baik dan mampu mengejar ketertinggalannya dari negara Asia lainnya. 

Sedih .... Bukankah Cina, baru membuka diri kepada "dunia luar" sekitar tahun 1985, yaitu pada masa pemerintahanb Deng Xiau Ping. Lihatlah ...... dalam waktu "Hanna" sekitar 30 tahun saja, Cina sudah menjadi kekuatan ekonomi dunia yang memporak-porandakan dominasi Amerika dan kini, kekuatan ekonomi Cina ditakuti oleh hampir seluruh negara di dunia. Jepang, tidak lagi menjadi kekuatan ekonomi yang menggetarkan Barat, tergantikan oleh sang Naga yang kekuatannya demikian "mengerikan".

Begitu juga dengan kemajuan yang dilakukan Korea Selatan. Jangan heran bila dalam waktu tidak lama lagi, mungkin Indonesia akan terkejar oleh Vietnam, bila masyarakat Indonesia masih saja "berperang" antar mereka dan dengan menggunakan issue primordial yang sangat berpotensi memporak-porandakan NKRI, untuk memperebutkan kekuasaan, yang berarti akses kepada sumber kekayaan negeri semata.

Kalau kita memang ingin Indonesia maju di masa yang akan datang, tentu salah satu cara adalah memberikan kesempatan pada pemerintah saat ini untuk menyelesaikan pekerjaan menyiapkan segala sesuatu untuk "take off" menyusul ketertinggalan Indonesia dibandingkan negara lain. Membenahi infrastruktur pada periode pertama pemerintahannya dan pembenahan sumber daya manusia pada periode ke dua pemerintahan agar setelahnya bangsa Indonesia siap melaju meraih kemajuannya, siapapun kelak yang menjadi presiden.

Bukankah dulu kita selalu dibekali dengan peribahasa "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian"? 
Atau ....
kita memang sudah melupakan peribahasa tersebut karena sudah terlalu lama terlena dengan perilaku koruptif dan segala sessuata yang serba instant sehingga kepekaan kita sebagai elemen bangsa terhadap masalah ketimpangan pembangunan di Jawa dan pulau-pulau lainnya, semakin tumpul?

Mari introspeksi diri untuk kemajuan Indonesia.
Untuk pendukung pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin, jangan terlena dengan polling yang menyatakan keunggulan pasangan tersebut terhadap lawannya. Sadari bahwa memang kebutuhan masyarakat Indonesia masih sebatas kebutuhan sandang-pangan dan tumpukan kekayaan. Mereka masih jauh dari taraf "memberi dan berbagi".

Waspada ... jangan sampai tragedi pilkada dki 2017 terulang pada pilpres 2019.

Senin, 10 Desember 2018

Nasehat Pernikahan

Disalin dari nasihat penikahan, usai akad nikah Arindita Raldiutami Koestoer dengan Mohammad Arie Wibowo pada tanggal 9 Desember 2019.
disampaikan oleh Raldi Artono Koestoer
***
Pernikahan adalah suatu perjanjian besar. Suatu pertanggungjawaban yang berat bagi seorang laki-laki, di mana dia mengambil seorang wanita dari kedua orangtuanya untuk hidup bersamanya sekaligus mengambil alih tanggungjawab orangtuanya untuk kemudian membawanya berlayar dalam sebuah bahtera yang bernama rumah tangga yang dipimpin olehnya.

Istri adalah suatu amanah bagi suami, dan sebaik-baik suami adalah yang paling sayang terhadap istrinya. 

Karena suami pemimpin bagi wanita, maka  hendaknya suami memenuhi 3 fungsi yaitu:
  1. Mengarahkan istrinya
  2. Mengayomi istrinya
  3. Melindungi istrinya.
Suatu pernikahan, merupakan salah satu ibadah yang akan banyak mendapat godaan syaitan agar rumah tangganya karam. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi seorang suami untuk memahami tabiat istri sebagai wanita. 

Wanita tidak diciptakan dari baja yang bisa meleleh, tidak pula dari batu yang bisa hancur berkeping-keping jadi kerikil, tetapi wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, yang jika diubah paksa akan patah, namun jika tidak diubah akan tetap bengkok. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam- pun tidak menyuruh lelaki untuk mengubahnya, namun Beliau berwasiat: "Jagalah wanita-wanita itu..! Pelan-pelan dan berlemah lembutlah pada mereka!”

Sehingga setelah memahami tabiatnya, kemudian perlakukanlah wanita/istri dengan arif dan dengan sebaik-baiknya, serta ingatlah akan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا ۖ وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا


“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. [QS. An-Nisaa (4): 19].

Pada saat seorang suami mendapati hal yang tidak disukainya dari seorang istri, maka haruslah ia bersabar, dan berpikir baik-baik tentang firman Allah yang menyatakan, bahwa boleh jadi dalam kelakuan istri kita itu terdapat kebaikan-kebaikan lain yang banyak.

Untuk suami, agar dapat lebih sabar maka ingatlah akan tabiat-tabiat Wanita yang di antaranya adalah:
  1. Pencemburu, baik kepada ibu sang suami, saudara/saudari sang suami, apalagi kepada wanita-wanita lain, dll.
  2. Perasa. Perasaannya melebihi akalnya sehingga kadang-kadang mudah tersinggung, menduga-duga jauh melewati akal sehat.
  3. Istri membutuhkan pujian/sanjungan dari suami. Hargai pendapatnya, jangan egois.
  4. Luangkan waktu untuk bisa bersama istri.
  5. Istri kadang seperti layang-layang. Harus di tarik ulur.  Untuk itu suami perlu bersabar dan  jangan tergesa-gesa!
Setelah istri menunaikan kewajibannya, maka penuhilah hak-haknya, karena kalau tidak, dia akan mencarinya di tempat lain. 

Istri itu seperti wadah yang akan kekeringan, jika tidak terus diisi air. Ia akan mencari tempat curahan hati lain, selain suami.

Firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. At-Taghabun (64): 14]

Maka bagi suami, apabila ada masalah dengan istri, harap:
  1. Maafkan dia, jangan memberikan sanksi atas kesalahannya.
  2. Jangan menjelek-jelekkan dengan perkataan yang tidak baik.
  3. Bila masalah sudah reda segera LUPAKAN dan buka lembaran baru.
Seorang wanita menikah untuk mendapatkan kebahagiaan, dan ketenangan, bukan hanya kebutuhan biologis, bukan pula hanya sekedar uang. Hidup ini sangat singkat, jangan sampai di akhir nanti ada tulang rusuk yang patah.

Akhirul kata, dalam kalimat berisi nasehat :

Untuk suami:
"Jadilah manusia terbaik! Dimana manusia yang terbaik adalah suami yang terbaik kepada istri dan keluarganya.."

Untuk istri: 
Ketahuilah bahwasanya seorang lelaki itu dari Ujung rambut sampai ujung kaki adalah milik ibunya…

"Jadilah wanita yang terbaik! Yang bila dipandang menyenangkan dan bila
ditinggalkan menjaga kehormatan dan harta suami. Suami adalah Surga bagi istri dan istri adalah surga bagi suami.."

Jumat, 30 November 2018

Menilik CAPRES dan Cawapres 2019

Jokowi jelek ....
Iya ... wajahnya memang nggak seganteng Prabowo Subianto ataupun Sandiaga Uno. Wajah Jokowi memang wajah khas lelaki pedesaan ... Wajah rakyat jelata yang mudah ditemukan di sembarang tempat ... Berkulit hitam mengkilat, gurat2 otot muka yang begitu jelas tergambar, menyiratkan kehidupan keras masyarakat Indonesia. 

Didampingi oleh KH. Ma'ruf Amin yang berpenampilan a la kiai pesantren. Bersarung, dan baju koko atau kemeja bersanding dengan jas, lengkap dengan sorban tersampir di bahu dan kopiah hitam. Penampilan pasangan capres-cawapres ini memang sering di olok-olok pendukung pesaingnya.

Sesungguhnya .... penampilan lelaki bersarung dan kemeja+jas dengan kopiah, bagi saya yang keturunan Betawi, bukanlah hal yang mengejutkan. Almarhum ayah saya selalu menggunakan sarung dengan kemeja dan jas pada waktu-waktu yang dianggapnya istimewa, seperti kalau mau shalat Ied, kesempatan lebaran dan saat anak-anaknya melaksanakan akad nikah. Memang bukan pakaian setiap hari, namun beliau justru memakainya pada kesempatan yang dianggapnya istimewa.

Penampilan kedua pasangan capres dan cawapres ini memang tidak bisa diperbandingkan karena lingkungan dimana mereka tumbuh memang berbeda. 

Jokowi krempeng .......
Hehe .... bisa dimaklumi ... Jokowi tidak lahir dari dari pasangan suami Istri yang kaya raya. Dia lahir dari pasangan suami istri yang hidup sangat sederhana, di pedesaan. Makan seadanya sepeti layaknya kebanyakan masyarakat kelas sederhana di Indonesia. Begitu juga dengan sang kiai.

Tentu berbeda dengan Prabowo Subianto lahir dari bapak yang keturunan ningrat. Kakeknya RM. Margono Djojohadikusumo dikenal sebagai pendiri Bank Negara Indonesia, salah satu bank pelat merah alias BUMN. Walau pernah hidup dalam pengasingan karena sang ayah dianggap sebagai salah satu pemberontak PRRI/Permesta, oleh Soekarno, ayah dari Megawati Soekarnoputri, Presiden RI ke 4, tentu Prabowo tidak hidup dalam kemiskinan absolut. Prabowo masih bisa bersekolah dengan baik. Begitu juga Sandiaga yang bapaknya adalah professional perminyakan. Tahu dong ... bagaimana kehidupan karyawan perusahaan minyak asing ... Walau berada di "field", namun segala kebutuhan hidupnya sangat terjamin.

Jokowi Ndeso ...
Nggak salah lagi .... sesuai dengan wajahnya yang sangat menggambarkan asal muasal kehidupannya. Wajah Jokowi betul-betul tipikal lelaki yang hidup di pedesaan Jawa. Guratan wajahnya menyiratkan kerasnya kehidupan. Masa lalunya memang tidak jauh dari kerasnya perjuangan hidup. Konon pernah harus berdagang untuk sekedar memiliki uang jajan dan tempat tinggalnya sering kali berpindah karena tergusur. Lagi-lagi, jangan bandingkan dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang semiskin-miskinnya orangtua mereka, tentu tidak sampai menyebabkan mereka anak beranak hidup kekurangan.

Akan halnya KH Ma'ruf Amin, tentu sudah sangat terbiasa dengan kehidupan sederhana a la pesantren, apalagi pesantren tahun 50an. 
Menyesal punya pasangan capres - cawapres dari kalangan rakyat jelata ...?

Jokowi nggak bisa Bahasa Inggris .....
Ah ... yang ini mungkin terlalu berlebihan... masa iya, sarjana kehutanan Universitas Gajah Mada, salah satu universitas papan atas di Indonesia, tidak bisa berbahasa Inggris? Selama ini, generasi seumur Jokowi, minimal belajar bahasa Inggris sejak masuk SMP hingga SMA, Jokowi sudah belajar bahasa Inggris selama 6 tahun, arena saat kuliah sudah tidak ada lagi mata kuliah Bahasa Inggris. Kalaupun tidak sefasih Prabowo Subianto atau Sandiaga Uno ... harap maklum saja. Mereka berdua kan pernah bersekolah di luar negeri. Nanti kita bilang ke Menteri Pendidikan Nasional agar kurikulum dan pengajaran Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya diperbaiki sehingga siswa dan mahasiswa jadi fasih berbahasa asing. Sepertinya memang ada penurunan kualitas pengajaran bahasa. Saya ingat dulu, ayah saya, walau hanya berpendidikan setingkat akademi, cukup fasih berbahasa Inggris dan Belanda, yang diperolehnya selama sekolah di HIS dan AMS ... Jangan tanya singkatan apa ya...

Tapi ... ngomong-ngomong, Bahasa nasional kita kan masih Bahasa Indonesia, kan? Jadi svarat fasih berbahasa Indonesia mungkin yang harus dipenuhi oleh siapapun yang mengaku warga negara Indonesia. Bukan kefasihan cas cis cus berbahasa asing yang diperlukan sebagai pemimpin pemerintahan walau kita hidup di jaman abad ke 21 yang konon katanya masuk era globalisasi dan penguasaan bahasa asing minimal satu bahasa asing juga sangat diperlukan. Toh masih ada profesi penterjemah .... bagi-bagi rejeki dan kesempatan kerja dong ...  

Kasihan para pejuang kemerdekaan yang sudah berpayah-payah menyelenggarakan kongres Pemuda 28 Oktober 1928, kalau sekarang, masyarakat "mewajibkan" calon presiden fasih berbahasa Inggris .....? Sekarang aja, anak2 remaja golongan atas di kota2 besar Indonesia sudah banyak yang tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik ... Miris kan...? Memang kita hidup dimana dan menjadi pemimpin bangsa apa?

Berkaitan dengan soal bahasa, orang Jawa dengan logatnya yang medok, agak lucu kalau berbahasa asing ... Namun soal aksen dan lafas Bahasa asing yang ajaib sih biasa aja tuh. Coba dengar bagaimana orang Cina, Jepang dan lain-lain berbahasa Inggris. Pasti sukar dimengerti seperti juga kalau orang asing berbicara bahasa Indonesia.... Jadi bukan suatu hal yang aneh dan harus ditertawakan

Justru ... kalau Prabowo dan Sandi yang lama tinggal di luar negeri namun tidak fasih berbahasa Inggris atau mengucapkannya dengan logat medok kedaerahan ... Nah ... boleh dipertanyakan tuh .... kemana aja dan ngapain aja lo di sono ...?

Jadi ....
Sebetulnya apa sih yang mau kita pilih?
Ini bukan kontes olympiade Bahasa, kan?

Apakah memang sebegitu buruknya pasangan nomor 1 dan sebegitu baiknya pasangan nomor 2? Ah ... itu sih tergantung dari sudut mana penilaiannya.

Kalau minimal kriteria yang sudah ditulis di atas menjadi dasar penilaian untuk memilih presiden dan wakilnya, pasangan nomor 1 pasti kalah jauh deh .... dan pilihan kepada pasangan nomor 2 hanya akan menyiratkan bahwa masyarakat masih memandang faktor penampilan dan asal usul sangat berpengaruh. ini bentik feodalisme yang terpengaruh budaya hinduisme yang melihat dan menilai manusia berdasarkan kasta. Jadi tidak mungkin seorang sudra menjadi raja/presiden. Jabatan tersebut hanya bisa di"pegang" boleh golongan/kasta ksatria. 

Ksatria juga dibayangkan "harus" gagah perkasa, kaya raya, punya istri cantik jelita dan sudah tentu ada garis dari keturunan "darah biru", walau mungkin sang ibunda hanya rakyat jelata. (Jadi ingat bahwa RA Kartini, tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau, pun termasuk wanita yang "kecipratan darah biru" dari ayahnya yang menikahi ibundanya - Ngasirah, perempuan dari kalangan rakyat jelata).

Jelas bahwa pasangan capres dan cawapres nomor 1 sangat jauh dari kriteria tersebut. Tapi ..... tunggu dulu.... Apakah kita masih hidup pada alam penjajahan, dimana golongan berpendidikan memang didominasi oleh kalangan ningrat dan pamongpraja saja? Jadi apa gunanya masyarakat diajarkan untuk mengejar ilmu sebanyak-banyaknya bila kesempatan-kesempatan tertentu masih juga dibatasi oleh alasan-alasan yang sangat tidak masuk akal?

Tentu bukan salah kita, bila kita tidak dilahirkan oleh orangtua yang kaya raya atar ber"darah biru" Juga bukan salah kita bila karenanya wajah kita tidak menjelma jadi ganteng atau cantik. Dan ..... jangan paksa seseorang untuk melakukan operasi plastik hanya karena ingin disebut ganteng atau cantik walau praktek semacam ini sekarang sudah sangat biasa dilakukan orang-orang berpunya.

Bukankah "kekerasan dan kepahitan" hidup bisa menjadi bekal untuk memupuk empati terhadap realitas kehidupan masyarakat yang bila dilengkapi dengan pendidikan yang memadai bisa menjadi dasar keinginan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat sekitar? Perbaikan yang dimulai dari lingkungan sekitar rumah ... kemudian melebar ke lingkungan yang lebih luas hingga bahkan menjadi pemimpin baik di perusahaan milik sendiri atau tempat kerja dan bahkan menjadi pemimpin pemerintahan.

Lihatlah bagaimana perjuangan Jack Ma hingga dia berhasil menjadi billioner tingkat dunia. Mungkin juga kita belum lupa, lelaki kurus berambut keriting dari Belitong Timur yang kemudian lewat karyanya yang fenomenal "Laskar Pelangi", Andrea Hirata bercerita tentang betapa keras dan gigihnya dia meraih mimpi hingga dia berhasil kuliah di Universitas Indonesia dan kemudian meraih beasiswa ke Perancis. Novel-novel karya Andrea Hirata kemudian dikenal orang bahkan hingga mancanegara. Bukan itu saja, lewat Laskar Pelangi, Andrea Hirata membawa tanah kelahirannya Belitong ke ranah pariwisata sehingga kini menjadi salah satu tujuan wisatawan domestik. Jangan lupakan bahwa dia juga berasal dari kalangan sederhana yang ayahnya hanya buruh tambang?

Jadi jangan berhenti bermimpi dan juga jangan matikan keinginan tulus dari orang-orang yang ingin membangun negeri ini agar menjadi lebih baik lagi.



BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...