Rabu, 12 Juli 2006

Perjalanan mencari jati diri (1) - Medina Al Munawarah


Pengantar.
Dengan kerendahan hati, mohon dimaafkan bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memamerkan ritual ibadah, tetapi lebih ditujukan untuk membuat catatan perjalanan saja.
Nilai spiritualnyapun rendah. Tidak akan ditemui ledakan emosi yang dalam saat memiliki kesempatan berdoa di Raudhah, melihat Kaabah ataupun mencium Hajar Aswad. Mungkin karena ini bukanlah perjalanan ibadah ke tanah Haram yang pertama. Yang tidak bisa hilang adalah rasa haru yang sangat mendalam dan menyebabkan airmata berlinang tak terasa, saat berjalan menuju makam Rasulullah untuk berziarah sambil mendengar cerita perjuangan beliau yang dibawakan oleh muthawwif serta saat memberikan salam untuknya.
Cerita ditulis di Jakarta, satu minggu setelah tiba kembali di tanah air dengan selamat. Semoga cerita ini bermanfaat bagi yang membacanya.


 Prolog.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia seringkali kehilangan jatidirinya. Demi suatu kehidupan sosial yang dikatakan “beradab” kita seringkali terperangkap dalam basa-basi yang lama kelamaan terasa membosankan dan melelahkan. Bukan saja dalam kehidupan bermasyarakat, terkadang terjadi juga dalam kehidupan rumahtangga. Ada banyak cara orang melepaskan topeng-topengnya. Berwisata ketempat-tempat sepi, bertualangan di rimba belantara bisa menjadi salah satu cara.


Sejak awal tahun 2006, kami sekeluarga sudah merencanakan melaksanakan ibadah umroh. Awalnya sekalian berlibur ke Istanbul, menyusuri jejak kejayaan masa kerajaan Ottoman di Turki. Sayangnya rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena jadwalnya kurang sesuai dan Lulu agak takut. Bulan April 2006 yang lalu, saat melihat film Forces of Nature di teater IMAX – Keong Emas TMII, salah satu episodenya menceritakan tentang gempa bumi dahsyat yang diprediksi akan berulang lagi pada tahun 2007 di lokasi sekitar 10 km dari Istanbul (gempa terakhir terjadi tahun 1997 di Izmits). Ya sudahlah … akhirnya diputuskan hanya akan melaksanakan umroh saja.


Persiapanpun dilakukan, termasuk menjahit baju yang diperlukan selama beribadah. Maklum saja, perjalanan terakhir umroh sudah cukup lama, sehingga baju putihnya sudah tidak dapat lagi digunakan. Yang agak istimewa, mungkin karena kali ini saya berniat untuk merekam perjalanan umroh dalam bentuk jurnal (tulisan). Untuk mendukung rencana tersebut, buku, ballpen, digital camera, web-cam maupun camera-phone sebagai cadangan sudah disiapkan.


Perjalanan umroh regular kali ini akan memakan waktu 9 hari. Berangkat hari Senin 26 Juni 2006 jam 16.20 dengan pesawat Saudi Arabia SV-815 dan tiba di Jakarta hari Selasa 4 Juli 2006 jam 11.20. Hari senin, kami sudah mulai cuti kerja dan Lulu sudah dimintakan ijin dari sekolah. Menjelang berangkat, saya sudah ke sekolah menyelesaikan semua kewajiban terhutang agar tidak ada suatu hal yang mengganjal perjalanan. Usai dari sekolah Lulu, ternyata biro perjalanan menelpon ke rumah, mengabarkan bahwa perjalanan diundur menjadi jam 18.00. Namun demikian jamaah diharapkan sudah berkumpul di Bandara pada jam 16.00 wib. Jadi jam 14.00 kamipun berangkat ke Cengkareng. Maklum, lalu lintas Jakarta pada hari kerja super macet.


Jakarta – Cengkareng.
Tiba di Cengkareng dan menyerahkan koper kepada petugas, kami harus menunggu boarding pass dan ticket untuk bisa masuk airport. Ini khas perjalanan rombongan hehe…!! Sambil menunggu, ternyata di signboard tertulis bahwa penerbangan SV-815 delayed menjadi jam 19.00. Jadi sudah terlambat 2 jam 40 menit dari jadwal semula jam 16.20. Padahal pada tanggal 27 juni jam 5.35 waktu Saudi, kami sudah harus terbang ke Madina. Hitung-punya hitung, bila penerbangan on time (maksimal 10 jam), masih ada waktu yang cukup untuk transfer pesawat. Jadi hati masih tenang. Masih ada waktu cukup. Semoga petugas immigrasi di Jeddah tidak mengada-ada dan semua berjalan lancar.


Jam 18.00 penumpang sudah mulai boarding … Pesawat fully booked dan 75% terisi oleh para TKI. Wah …. sudah mulai terbayang, kualitas penerbangan macam apa yang akan terjadi nanti. Sambil menunggu pesawat take off, buku dikeluarkan, mulai menulis pembukaan jurnal perjalanan. Ternyata pesawat baru take off pada jam 20.00 untuk transit di Singapore 1 jam, lalu disambung dengan perjalanan SingaporeRiyadh selama 8 jam dan Riyadh – Jeddah 1 jam. Jadi, secara teroritis  perjalanan akan memakan waktu total 12 jam, sejak take off dari Cengkareng. Cuma ada waktu 1,5 jam untuk transfer pesawat dari internasional ke penerbangan domestik Jeddah-Medina.


Terbang dengan TKI atau penerbangan dengan jamaah haji regular, hamper sama. Bisa dipastikan kita harus menahan diri ketika menggunakan toilet, karena biasanya cabin pesawat akan harum dengan bebauan berbagai minyak angin dan balsam, toilet pesawat menjadi amat sangat jorok. Lantai basah…., closet kadang tidak dibersihkan sehingga menimbulkan bau menyengat, kertas pembersih bekas pakai bertaburan disana-sini, kotoran bekas muntah menumpuk di atas wastafel. Duh ...., perjalanan panjang malam hari menjadi sangat menyiksa, karena keinginan buang air kecil akibat udara dingin di pesawat terpaksa ditahan. Kalau terpaksa menggunakan toilet maka harus masuk di toilet executive class (yang kadang-kadang dilarang oleh pramugari) atau terpaksa menahan rasa mual dan jijik saat menggunakan lavatory.


Tiba di Riyadh, hati sudah mulai deg-degan saat seluruh penumpang diminta turun ke ruang transit. Ini alamat buruk, bahwa pesawat tidak akan take off dalam waktu 1 jam. Betul saja.... pesawat ternyata delayed lagi. Tidak tanggung-tangung, 3 jam ….!!! Pupus sudah harapan untuk tiba di Medina hari selasa pagi. Sambil menunggu di airport Riyadh, setelah menunaikan shalat Subuh, saya putuskan untuk menulis lagi. Tapi ... astaghfirullah .... buku tulis yang saya yakin sudah dimasukkan ke dalam tas menjelang turun ke ruang transit, ternyata raib ... hilang tak berbekas. Duh .... mulai hati tercekat, mungkin Allah tidak meridhoi ibadah dicampur-campur dengan niat lain walaupun itu sekedar hanya untuk menulis kesan perjalanan saja. Bukan tidak mungkin, keterlambatan demi keterlambatan yang terjadi dalam penerbangan kali ini dan raibnya buku merupakan pertanda yang diberikanNya. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Sudahlah ... rencana menulis jurnal dibatalkan saja. Lebih baik dzikir di sepanjang perjalanan daripada menulis dan mengotori hati melihat kekurangan selama di perjalanan.


Pesawat SV815 akhirnya tiba di Jeddah airport sekitar jam 6.30. Dari 32 orang anggota rombongan kami, 9 orang (termasuk saya) tidak mungkin lagi mengejar penerbangan berikutnya ke Medina. Ini peak season, kalaupun dipaksakan, kami baru bisa terbang pada jam 18.45 itupun sebagioan masih waiting list. Apalagi, menunggu selama 12 jam di airport pasti sangat tidak menyenangkan. Setelah berembuk, terutama setelah penyelenggara meminta pendapat kami yang sudah mengetahui medan dan perjalanan ke Medina baik melalui darat maupun udara, akhirnya semua sepakat untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan minibus ke Medina dengan waktu antara 4 – 5 jam menempuh jarak +525km di tollway. Blessing in disguise, Haikal yang imut seperti boneka berwajah arab (kata suami), sang ustadz pembimbing ternyata ikut tertinggal pesawat. Jadi kami ber 12 berangkat dengan minibus ke Medina.


Inipun bukan perjalanan menyenangkan, restroom yang tersedia di rest area sepanjang tollway sudah dipastikan sangat jorok, walaupun air berlimpah. Entah budaya orang Arab atau budaya para penggunanya yang datang dari berbagai negara seluruh penjuru dunia yang jorok. Padahal, bukankah kejorokan sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang menomorsatukan kebersihan?


Medina al Munawarah – Saudi Arabia.
Tiba di Medina, selasa 27 Juni menjelang maghrib, kami masih harus menunggu kamar dibersihkan. Maklum peak season. Jangan berharap mendapat welcome drink dari hotel. Kalau beruntung, kita masih bisa ikut ambil minum di restotan tempat makan para jamaah disediakan.


Setelah mendapat kunci kamar 419 hotel Dallah Taiba dan masuk kamar, kami berencana membersihkan diri sebelum berangkat menunaikan shalat Maghrib di Nabawi. Tapi, lagi-lagi “kecelakaan terjadi”. Salah satu koper tidak dapat dibuka! Padahal sungguh mati, kode kuncinya adalah komposisi angka yang sangat mudah diingat. Sebelum berangkatpun sudah dicoba berulang kali untuk memastikan bahwa komposisi itu sudah benar.


Entah pertanda apa lagi. Introspeksi diri lagi …. Istighfar lagi…, mungkin masih ada prasangka buruk yang tidak disadari masih tersimpan dalam hati. Mungkin hati saya masih penuh caci-maki atas berbagai keterlambatan perjalanan ini. Istighfar ... istighfar ... istighfar ... Perjalanan ke tanah Haram ini, bagi saya memang membawa nuansa tertentu. Terlalu banyak hal-hal di luar nalar yang menimpa dan hanya kepasrahanlah yang menjadi obat penawarnya. Tanpa mandi, kami bertiga terpaksa bergegas ke masjid Nabawi untuk shalat Maghrib dan disambung dengan Isya. Usai shalat dan makan malam, terpaksa kunci koper dirusak agar bisa mengambil baju ganti.


Rabu 28 juni 2006, usai shalat subuh dan sarapan pagi, peserta diajak ziarah ke makam Rasulullah SAW dan makam para syuhada di Baqi. Sambil berjalan, Haikal bercerita banyak tentang Rasulullah SAW. Sungguhpun cerita tersebut sudah didengar berulang kali, namun rasa haru yang sangat mendalam selalu menyergap hati. Tanpa terasa airmata berlinang … tanpa dapat dibendung. Mungkin jamaah lain merasa heran, mengapa kami yang notabene sudah berulang kali mengunjungi Medina, justru tidak dapat menahan airmata. Tapi biarlah … masing-masing jamaah mengalami pengalaman spiritual yang berbeda yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun.


Ziarah ke makam Rasulullah SAW hanya dapat dilakukan dari jarak jauh. Usai mengucap salam, salawat, doa bagi Rasulullah SAW, salam dan doa bagi sahabat Abubakar Ash Shiddiq dan Umar Ibn Khattab  serta para syuhada di makan Baqi, para perempuan dipersilakan untuk masuk Raudhah. Pagi hari adalah waktu yang diperuntukkan bagi perempuan untuk memasuki Raudhah dan sayangnya akses dari Raudhah ke makam Rasululullah SAW tertutup sehingga kami tidak dapat mendekati rumah Rasul. Raudhah, sedang di renovasi.


Usai shalat sunnah di Raudhah dan berdoa, saya meluangkan waktu sejenak untuk shalat Tasbih di Nabawi sebelum kembali ke hotel. Shalat Tasbih seperti ini terasa sukar dilakukan di Jakarta, apalagi di tengah kesibukan duniawi yang mendera. Jadi kesempatan langka di tanah Haram rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Masa libur sekolah ini dipergunakan juga oleh para selebriti untuk berumroh dan membuat heboh ruang makan karena banyaknya orang yang berebut berfoto bersama. Tercatat adalah rombongan sinetron Kiamat Sudah Dekat (Deddy Mizwar cs), Doyok cs, Didi Petet. Semuanya terlihat dengan keluarga. Ada selebriti yang terlihat tekun dan rendah hati saat beribadah. Namun ada juga yang masih sukar melepaskan diri dari predikat selebriti. Biarlah, hanya Allah SWT yang mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati mereka.

Kamis, 06 Juli 2006

Ibadah dan kemajuan teknologi.


Kemajuan teknologi komunikasi memang luar biasa pesatnya. Saat wireless/mobile telephone masuk ke Indonesia sekitar 20 tahun yang lalu, bentuknya betul-betul sangat tidak menarik. Handset nya masih seperti fixed telephone dilengkapi dengan batere seperti accu mobil. Jadi cukup besar dan tidak mungkin dibawa kesana-kemari sehingga lebih banyak digunakan sebagai telpon yang diletakkan di dalam mobil. Harganyapun sangat mahal. Kira-kira lima belas juta rupiah atau setara dengan usd 23.000 pada saat itu (kurs sekitar Rp.650,-). Fungsinya pun betul-betul masih sangat sederhana. Tidak jauh dengan fixed telephone yang ada di rumah. Pemiliknya tentu saja hanya orang-orang kaya dan karenanya antena wireless telephone berbasis CDMA tersebut akan menghiasi atap mobil-mobil mewah mereka. Saat itu, mobile telephone merupakan status symbol tersendiri pemiliknya

Era palm telephone berbasis GSM di Indonesia mungkin dimulai pada awal tahun 90 an. Jangan bayangkan bentuknya sekecil dan seindah handphone sekarang. Rata-rata ukurannya sebesar ukuran Nokia-9300 dengan feature yang sangat sederhana. Berfungsi sebagai telpon saja. Short message service – sms pun baru bisa dilakukan oleh telkomsel. Indosat belum belum bisa melayani sms. Pemilik handphone, lagi-lagi masih sangat terbatas dan kesemuanya berbasis abonemen. Belum lagi ada layanan pra bayar.

Penggunaan kartu prabayar, lagi-lagi dimulai oleh Telkomsel dengan meluncurkan kartu simpati (local), kalau tidak salah, pertama kali di Batam. Kiat ini tentu saja dilakukan untuk meraih pangsa pasar yang lebih luas lagi. Belakangan, seluruh provider memiliki 2 jenis SIM card yaitu prabayar dan pasca bayar.

Era tahun 2000 an, penggunaan mobile telephone - handphone atau singkatnya disebut HP sudah sangat meluas. Feature handsetnya sudah sangat luas. Dari yang sangat sederhana hingga berfungsi sebagai PDA, communicator, camera/videophone dan walkman. Perputaran model dan feature sedemikian cepatnya. Tua muda, kaya miskin kesemuanya tergila-gila oleh kecanggihan alat komunikasi yang satu ini.

Menggunakan pesawat telpon tentu memerlukan etika agar alat komunikasi ini dapat digunakan dengan baik dan benar serta tidak mengganggu orang lain. Seringkali kita diingatkan untuk tidak menyalakan HP saat rapat, beribadah maupun dalam perjalanan (saat menyetir mobil). Termasuk juga kala berada di dalam pesawat terbang. Signal HP dikhawatirkan mengganggu system komunikasi dan navigasi pesawat.

Sayangnya tidak banyak orang mau mematuhinya sehingga seringkali rapat kita terganggu karena ada panggilan telpon yang masuk. Kekhusu’an ibadah kita terusik oleh dering panggilan HP yang masuk berulang kali. Mungkin si penelpon lupa bahwa dia melakukan panggilan pada jam-jam kita melaksanakan shalat

Sementara itu, tidak jarang pemilik telpon, tanpa rasa malu ataupun bersalah, menjawab panggilan tersebut di dalam masjid. Bahkan ada orang yang tidak sungkan untuk bertelpon ria saat melakukan tawaf dan sai. Bayangkan, saat kita menjadi tamu Allah SWT di Baitullah, masih juga mendahulukan kepentingan duniawi (menjawab dan berbicara di telpon) dibandingkan dengan khusu’ melaksanakan dan meneladani ritual agama yang telah dijalankan oleh para nabi sejak jaman nabi Ibrahim AS. Atau kita merasa lebih mulia dari tuan rumah (Allah SWT), sehingga sang Tuan Rumah kita abaikan demi panggilan umat manusia lainnya di seberang sana? Astaghfirullah ……

Kalau sudah begini, bagaimana mungkin, kita yang masih lebih tergoda pada nafsu keduniawian memperoleh hidayah Allah SWT. Bagaimana mungkin, kita yang masih mengabaikan Tuan Rumah, bahkan di rumahnya sendiri (Baitullah) dengan menjawab telpon sambil bertawaf/sai masih berharap pahala dari Allah SWT atas tawaf dan sai yang kita lakukan? Semoga Allah SWT mengampuni mereka yang khilaf.Wa Allahu Alam ….

Kamis, 22 Juni 2006

Kenal dengan yang namanya MYOMA?


Ayo tebak ..... gambar apa yang saya upload? Bagus ya.... warnanya pinky .... menarik, persis seperti sirop campuran kalau kita beli cincau daun di abang yang suka lewat di depan rumah. Saya nggak tahu apakah gambar yang saya copy-paste dari Johns Hopkins School of Medicine ini memang warna aslinya atau sudah di utak-atik supaya menarik orang yang melihatnya. Nah ... gambar itu adalah gambar sel-sel tumor uterine yang biasanya dikenal dengan MYOMA.

Saya baru saja berkenalan dengan MYOMA. Belum lama kok, belum sampai satu minggu. Kenalannya juga secara tidak sengaja.Kira-kira dua minggu yang lalu, saya mengalami sedikit perdarahan ... bercak-bercak di luar kebiasaan. Maklum saja sudah lebih dari 10 tahun saya mengalami apa yang dinamakan orang amenorrhae (tidak menstruasi). Jadi melihat darah/bercak, pasti merupakan sesuatu yang extraordinary. Kebetulan juga, saya lagi baca-baca koran, kok ya kena juga mata memandang dan akhirnya membaca artikel "gejala-gejala kanker rahim", yang antara lain adalah "unusual bleeding". Di tambah lagi, tante saya (istri adik ibu saya) kena kanker rahim stadium lanjut. Apalagi, sudah lebih dari 5 tahun saya nggak melakukan pap'smear. Padahal, saya tahu persis bahwa untuk perempuan di atas 35 tahun, pap'smear harus rutin dilakukan minimal 1 kali setahun.

Bukan soal nggak mau keluar uang untuk bayar ob-gyn/pap'smear atau nggak "care" dengan kesehatan organ reproduksi. Tapi ... pergi ke ob-gyn itu merupakan suatu yang membuat saya sangat menderita lahir batin. Saya paling nggak suka harus tidur ... (maaf..) ngangkang di depan orang yang tidak dikenal baik, walaupun selama ini sudah di atasi dengan mencari ob-gyn perempuan. Tetap saja perut jadi kejang luar biasa dan dampaknya terasa sampai berhari-hari sesudahnya.

Tapi, kali ini ada sesuatu yang membuat saya mengambil keputusan untuk mengunjungi ob-gyn. Jadi sambil berangkat kantor, mata melirik nomor telpon klinik/rs mencari info, siapa tahu ada ob-gyn perempuan di klinik yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Nah, malam minggu kemarin, saya pergi sendiri ke ob-gyn. Padahal, mana ada perempuan pergi ke ob-gyn sendiri? Biasanya pasti diantar suami. Apa boleh buat. Suami kebetulan mesti "ngamen" dengan the Prof's nya di PTIK dan saya sendiri merasa lebih bebas dan nyaman untuk pergi sendiri. Si dokter mungkin agak heran aja, ada perempuan "tua", datang konsultasi sendirian .Ya sudahlah...

Sesudah cerita sedikit mengenai latar belakang dan segala riwayat "perdarahan" sejak tahun 1987 yang lalu (supaya ob-gyn tahu riwayat keluhan), dia mulai periksa ... Mula-mula pap'smear .... BERSIH, katanya. Terus dia memasukkan alat (camera, kali ya...) Nah di situ keliatan ada gumpalan ukurannya 3,5x4cm. Dia bilang .... MYOMA namanya. Tapi karena saya mungkin akan memasuki periode menopause (entah sudah ... atau belum ... ob-gyn bilang belum menopause karena "belum kering" dan masih ada sel telur, tapi saya merasa sudah), maka dia tidak akan melakukan tindakan apapun terhadap myoma. Konon myoma akan mengecil bila perempuan memasuki masa menopause. Tapi dia menganjurkan saya untuk periksa hormon (darah) dan indikasi CA di lab.

Jadi, Rabu 21 juni, sesudah makalahnya bos beres, sebelum ke kantor saya sempatkan mampir ke Prodia - di Jl. Gunawarman untuk periksa darah (gila ... mahal banget periksa hormon dari darah untuk 4 items saja). Tadi, iseng saya buka hasil labnya.... Nggak ngerti, tapi angkanya semua di bawah atau masih dalam range angka rujukan. Jadi malam nanti saya mesti telpon adik di Bandung untuk tanya-tanya sedikit. Siapa tahu dia ngerti (eh apa iya spesialis anak bisa ngerti nilai rujukan hormon ya...???).

Sampai di kantor, coba browsing tentang myoma ... ada buanyak banget ...... Semua menyatakan bahwa myoma bukan kanker, walau bisa berubah menjadi kanker bila penanganannya kurang tepat. Nah, mau baca, nggak? lihat di link http://health.cancer-help.org/web/Myoma.html 

Beberapa sudah saya copy paste dan akan saya masukkan di REVIEW. Semoga bermanfaat buat yang ingin tahu lebih banyak tentang si cantik MYOMA

Rabu, 21 Juni 2006

Ada apa di SIDOARJO?

Sungguh mati, sebetulnya saya sama sekali gak tertarik untuk nulis tentang semburan lumpur panas di Sidoarjo. Alasannya sih simpel banget. Gak suka dengan sepak terjangnya kelompok usaha BAKRIE. Biasanya kalo kita udah enggak suka dengan sesuatu, bawaannya jadi negatif aja. (ini sebabnya saya nggak akan pernah mau pake ESIA walaupun banyak orang bilang Esia murah ... tapi sebodo amat ....!!!).

Itu alasan pertama ... Alasan kedua, dalam suatu acara makan siang santai dengan owner di kantor (beliau anggota legislatif yang cukup vokal dan cuma ada di kantor jum'at siang), beliau cerita bahwa ...... Lapindo Brantas telah melakukan pelanggaran etika dalam penunjukan kontraktor pelaksana pengeboran. Biasanya, kontraktor pelaksana ditunjuk berdasarkan tender terbuka yang diikuti oleh professional di bidangnya dan tidak boleh terkait dengan para pemegang saham perusahaan induk (dalam hal ini para pemegang saham lapindo - yaitu Bakrie groups, Medco dan Santos). Nyatanya, kontraktor pelaksananya adalah salah satu anak perusahaan bakrie. Ini juga yang menyulut keributan antara bakrie dan medco. 

Bagaimana kebenarannya .... Jujur aja ... ini cuma bisik2 di kalangan tertentu. Pasti nggak akan muncul di permukaan. Orang Indonesia kan paling pinter berkelit dan mencari kambing hitam .... hehe.... Nah cerita bos ini kan bisa dikategorikan gosip yang gak jelas kali ye.....

Teman kantor yang baru pulang dari Malang via Surabaya, cerita tentang lumpur di Sidoarjo itu .... Wuih ... bau.... dan letupannya itu persis seperti letupan kecil gunung berapi .... (kayak udah pernah liat aja...).


Nah ... yang terakhir, gara2 baca postingnya masarcon ... Kok banjir lumpur itu dikaitkan dengan gempa Jogja ya....? Terus omong2 di rumah. Suami memforward tulisan seseorang di salah satu mailing list ... Ini isinya......; Simak baik-baik ya.... semoga menjadi referensi tambahan lagi bagi yang tertarik dengan lumpur Sidoarjo ini .... (eh ada yang tertarik untuk mengolahnya jadi kosmetika, nggak ya?? kan perempuan suka berlulur dengan lumpur untuk menghaluskan kulit....) Salam - maaf kalo ada yang kurang berkenan karena tulisan ini..
*******


From: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
[mailto:Migas_Indonesia@yahoogroups.com] On Behalf Of Aris Dwipurnomo
Sent: Sunday, June 11, 2006 10:54 PM
To: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
Subject: RE: [Oil&Gas] Semburan Lumpur Lapindo Brantas
Entah hal ini benar atau tidak. Diambil dari http://www.media-indonesia.com/
Bagian Komentar Editorial


TRUE STORY-1
Mudah2an dengan tulisan ini bisa menjelaskan sejarah kejadiannya:


Master plan untuk sumur ini adalah pada kedalaman 8500 Ft akan di set cassing dan di-cement, sehingga apabila terjadi semburan gas, kondisi sumur sudah aman karena arah semburan tdk akan ke formasi (menyamping) tapi bisa diarahkan ke atas dan semburan gas tsb mudah untuk di "kill" (kill well). Tetapi, pihak Lapindo tetap ngotot untuk terus ngebor sampai formasi limestone (gas) ditemukan tanpa memikirkan safety-nya jika terjadi semburan. 

Dalam hitung2an bisnis artinya:masih ingin ketemu formasi gas yg lebih besar. Sampai kedalaman 9000Ft, pihak Lapindo diingatkan lagi untuk set casing karena semua orang di lokasi sudah ketar-ketir apabila terjadi semburan, blm ada proteksinya,lagi2, Lapindo menolaknya. Akhirnya di +/- 9200, terjadi loss total (indikasi telah masuk formasi gas) dan mulai terjadi kepanikan. Saat itupun sebenarnya keadaan masih bisa dikendalikan, harusnya langsung dipompakan cement untuk plug sumur, lagi2 Lapindo masih berpikir untuk menyelamatkan sumur yg sudah di bor dengan biaya $$$million. 

Jujur saja, untuk menghentikan semburan lumpur harus dilakukan pengeboran miring ke arah formasi gas tsb,utk proses ini akan butuh biaya $$$million dan baru bisa dilakukan setelah peralatan penunjang ada (rig, cement unit, dll), mungkin 3-4 bulan lagi, tergantung kecepatan Lapindo utk menyiapkan dana, teknisi, kontrak, dll untuk mulai pengeboran miring.Untuk mengaitkan gempa sbg penyebabnya adalah mungkin, tapi itu hanya 1% kemungkinannya. Mudah2an tulisan ini bisa memberikan gambaran secara lebih jujur ke media tanpa harus ada yg ditutup-tutupi.

Pengirim:
wisnu05




Senin, 29 Mei 2006

Mengapa wanita saling menyakiti?

Hari minggu ini, ada acara keluarga. Ibu mertua, ulang tahun yang ke 84 tahun. Seperti biasa, anak menantu dan cucu-cucunya berkumpul, membaca doa diakhiri dengan makan siang bersama, sambil ngobrol. Kalau tidak begitu, anggota keluarga besar tidak akan pernah berkumpul lengkap. Semua larut dalam kesibukan masing-masing atau sok sibuk.

Aku datang agak telat, karena salah satu teman kantor, menikah di Puri Caping Gunung – salah satu restoran di TMII. Jadi setelah mengantar makanan dan suami, yang tentu lebih memilih berkumpul dengan kakak adiknya, dibandingkan dengan mengantar istrinya ke pesta pernikahan, ditemani gadis kecilku, aku pergi dulu menghadiri acara pernikahan tersebut. Usai pesta pernikahan, aku kembali ke cipinang, bergabung dengan yang lain.

Topik obrolan kali ini, selain tentang gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tentu saja tak terlewatkan tentang kasus keluarga Bambang Trihatmodjo, anak ke 3 Suharto. Apalagi beberapa kakak iparku memang mengenal mereka sejak jaman mereka masih kecil dan latihan pramuka bersama di kawasan Menteng.

 Aku teringat pada temanku. Sedang apa dia sekarang, dan bagaimana perkembangan hubungan dengan suaminya. Dalam percakapan terakhir per telpon, 6 bulan yang lalu, dia mengatakan bahwa mereka sudah mencapai kesepakatan di hadapan orangtua dari kedua belah pihak. Temanku masih ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya dan bersedia menerima WIL suaminya sebagai istri kedua.

Namun sayangnya, niat baik itu tidak diterima oleh suami yang sedang keblinger. Hubungan suami istri itu memang sudah semakin jauh. Sang suami sudah tidak lagi pulang ke rumah mereka karena sudah membentuk rumah tangga baru, walau belum menikah secara resmi. Ajaran agama sudah ditinggalkan. Hidup sudah bergelimpangan dengan kemewahan duniawi. Dugem dan minuman keras sudah menjadi bagian keseharian pasangan baru itu. Itu saja yang kudengar. Karena itu, kepada istri kakak iparku, yang tinggal di komplek perumahan yang sama, tadi kutanyakan kabar Ine.

 “Sudah masuk sidang di pengadilan agama. Hubungan mereka sudah tidak bisa diperbaiki, karena WIL tidak mau dimadu dan meminta suami Ine untuk menceraikan istrinya”.

Mungkin lebih baik begitu …. Kalau cinta sudah tidak ada di hati, untuk apa lagi mempertahankan hipokrisi di dalam rumah.

Jatuh cinta memang suatu yang aneh. Lelaki memang mahluk yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Berpetualang termasuk juga berpetualang dalam kehidupan cinta kasih, mungkin menjadi bagian dari tantangan hidup dan stimulan yang membuat lelaki tetap bergairah. Itu kata orang. Namun, mengapa banyak perempuan yang larut dalam jebakan petualangan cinta lelaki beristri?

Mereka bahkan seperti terlena akan bujuk rayu sehingga rela melakukan apa saja, bahkan hingga ke jenjang pernikahan resmi maupun tidak. Bukankah hal itu sangat menyakitkan bagi para perempuan lainnya (istri si lelaki dan keluarganya). Tidak pernahkah para perempuan itu berpikir, bahwa suatu saat … si lelaki akan memulai kembali petualangannya untuk mendapatkan yang ke tiga, ke empat dan seterusnya?

Apakah hanya persaingan antar perempuan atau ada motif lainnya? Salah satunya, katakanlah sebagai cara mewujudkan angan-angan untuk memiliki kemapanan status ( sebagai istri dan dalam hal financial) secara instant karena konon lelaki yang “bermain mata dan berpetualang” umumnya mereka yang sudah mapan … fisik, materi dan kejiwaan sehingga mereka sangat mampu memukau dan memanipulir perasaan perempuan.

 Di lain pihak, para perempuan yang disakiti hatinya, juga memperlihatkan reaksi yang agak sulit diterka maknanya. Mengapa mereka mati-matian mempertahankan keutuhan rumah tangga yang jelas-jelas sudah tersusupi aroma perselingkuhan. Apakah itu karena rasa cinta yang terlalu besar kepada suami, rasa kasihan kepada anak-anaknya yang mungkin akan tersia-siakan, atau  tanda ketidakmampuan perempuan untuk hidup mandiri dan keengganan kehilangan “kemapanan” baik dalam status sebagai istri maupun kemapanan finansial? Walaupun untuk itu, sebetulnya harga diri perempuan sudah tercabik-cabik.

Padahal, dari banyak perempuan yang teraniaya perasaannya, banyak pula yang tergolong ” mandiri” dalam arti kata memiliki pekerjaan yang layak sehingga mapan secara financial Entahlah … setiap orang memiliki hak untuk memilih, apapun yang melatarbelakangi keputusannya. Mungkin perlu dipikirkan, bagaimana cara agar anak perempuan kita mampu berkata “TIDAK” kepada para lelaki petualang. Terutama kepada lelaki beristri yang mencoba "mendekati".

Bukankah petualangan lelaki (yang secara langsung menyakiti hati perempuan/istrinya) merupakan salah satu bentuk non fisik dari KDRT?
Mengapa perempuan tidak memanfaatkan secara maksimal keberadaan Undang-undang tentang KDRT untuk kepentingan dirinya dari tindak kesewenang-wenangan suami?
Mengapa perempuan masih lebih suka terbuai dalam kemapanan status (sebagai istri), kemapanan keuangan dengan berbagai dalih, walaupun untuk itu perempuan lalu membiarkan KDRT terjadi di dalam rumahnya sendiri.

Kalau begitu, bagaimana mungkin para perempuan itu mampu mendidik anak-anak gadis mereka untuk “mandiri dalam segala hal” bila para ibu lebih suka menjadi “sub-ordinate“ para suami sambil membiarkan KDRT terjadi dan tidak mampu menjadi “dirinya” sendiri? Perkawinan merupakan komitmen dari dua belah pihak. Bila salah satu pihak melanggar komitmen dan setelah “diperingatkan” berulang kali namun sama sekali tidak terlihat perbaikan dan bahkan terlihat keengganan untuk kembali kepada komitmen lama atau memperbaiki/merevisi komitmen agar sesuai dengan waktu dan perkembangan kehidupan pasangan suami istri.

Masih adakah gunanya suatu pernikahan dipertahankan untuk kemudian “melahirkan” pasangan suami istri yang hipokrit? Ini baru satu bentuk “saling menyakiti” antar perempuan.. Bentuk lainnya adalah hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuan yang seringkali saling “cakar mencakar” untuk memperebutkan perhatian seorang lelaki. Anak lelaki dari perempuan yang satu sekaligus suami perempuan yang lain.

Waduh …. Ini juga sama rumitnya … saling bersaing apalagi kalau mereka masih hidup satu atap di perumahan Mertua Indah. Atau persaingan antara anak perempuan dengan ibunya dalam merebut perhatian bapak/suami. Duh…. Rumit euy…!!! Kumaha atuh??? Kenapa nggak saling memahami dan menghormati hak-hak satu sama lain ya….Biar aman, damai dan tenteram …. Lebak bulus, minggu 28 mei 06 – reedit senin 29 mei 2006 jam 20.25

Selasa, 16 Mei 2006

Lasagna Bolognaise


Description:
I found this recipe on internet, and it has been tested. My families and colleagues like it. so, don't hesitate to try

Ingredients:
For Pasta ;
400 grams flour
4 eggs
a pinch of salt

For the Lasagna :
1 portion of fresh lasagna (see the recipe above)
1 ½ cup freshly grated parmesan cheese
Bolognaise sauce
Bechamel sauce

For the Bolognaise sauce :
2 tablespoon butter
6 sheet smoke beef - diced
250 grams chicken’s filet, diced
½ cup chopped onion
½ cup finely chopped carrots
½ cup finely chopped celery
100 grams thinly sliced mushrooms
3 cloves garlic, minced
Pinch of dried cloves
3 tablespoon tomato pasta
4 cups chicken stock
1 ½ teaspoon salts
½ teaspoon black pepper
1 teaspoons sugar
¼ teaspoons nutmeg
½ cup heavy cream
1 cup dry white wine (or 1 cup stock in addition)

For the Bechamel
4 ½ cups milk
6 tablespoons butter
6 tablespoons flour
¼ tablespoons white pepper
¼ teaspoons nutmeg



Directions:
Make Pasta
1. Make mound with flour on your work surface and scoop out well in the middle
2. Pour eggs into the hole, add salt and work the eggs and the flour together till you have a smooth dough. Adding just a drop of water if necessary and no more.
3. Knead the dough for ten or fifteen minutes until it’s smooth, firm and quite elastic. Don’t skimp on the kneading or the dough will tear while you’re rolling it out.
4. separate the dough into four pieces. Flour your work surface and start to roll out the dough, rolling from the middle, flipping it occasionally and flouring it as necessary to keep it from sticking.
5. keep on flipping and rolling till you have a sheet that almost transparent as thin as a dime or thinner.
6. Cook the pasta in salted and oiled boiling water. Since its fresh, it will cook in 3 or 5 minutes.

Make the Bolognaise Sauce
1. In large pot, heat butter over medium heat
2. Add chicken, smoke beef and sauté, stirring constantly until light brown.
3. Add onion, carrots, celery and mushrooms and cook until soft.
4. Add garlic, cloves and nutmeg to the pan.
5. Add tomato paste and cook for an additional 2 minutes
6. Then add the stock and simmer over medium heat until sauce is thickened and flavorful
7. Season the sauce with salt, pepper and sugar to taste
8. Stir in the cream and set aside until ready to assemble lasagna.

Make the Bechamel.
1. In saucepan, melt the butter over low heat and stir the flour, stirring constantly until smooth about 2 minutes.
2. Slowly whisk the milk into the flour, stirring vigorously to blend together. Set over high heat and quickly bring to a boil for 1 minutes stirring.
3. Allow to cook another 5 minutes or until floury taste is gone. Remove from the heat and add salt, nutmeg and pepper to taste.

Build the Lasagna Bolognaise.
1. Preheat the oven to 160 degree C
2. Butter a large rectangular baking dish, then spoon some meat sauce onto bottom of the dish
3. cover with one sheet of pasta
4. Top the lasagna with a layer of meat sauce (making certain that pasta is completely covered), a layer of béchamel sauce, the a light dusting of parmesan cheese.
5. Repeat layering lasagna, sauce and cheese in the manner until all have been used. Ending with a topping of béchamel sauce and cheese.
6. Bake the lasagna covered with aluminum foil for 45 minutes and then unwrap and return to the oven for 15 minutes to reach a golden brown
7. Allow to sit 10 minutes to firm before serving.

Senin, 08 Mei 2006

Pendidikan dan masa depan anak-anak kita.


Pada setiap bulan April, anak-anak di kelas terakhir, dari mulai tingkat sekolah dasar hingga di tingkat sekolah menengah sedang disibukkan dengan try out dan ujian-ujian masuk sekolah tingkat selanjutnya termasuk untuk masuk ke universitas. Bukan saja anak-anak yang sibuk, para orangtuapun cukup disibukkan dengan ritual menjelang akhir tahun ajaran, yaitu membantu anak-anaknya agar mendapat nilai yang baik dengan cara mengawasi jam belajar, mengajari anak-anak, dan bahkan ada yang sampai berpuasa dan shalat tahajud, memohon kepada Allah SWT agar anak-anaknya mendapatkan nilai yang memuaskan atau diterima di sekolah yang dituju.

Berbeda dengan dekade sebelumnya dimana ujian saringan masuk ke sekolah lanjutan/universitas dilaksanakan setelah anak-anak selesai ujian akhir, maka sejak beberapa tahun yang lalu, sejak awal tahun kalender, sekolah dan universitas mulai jorjoran memasang iklan pengumuman penerimaan/pelaksanaan ujian dalam rangka seleksi penerimaan murid dan mahasiswa baru pada triwulan kedua. Seleksi calon murid/mahasiswa telah dilaksanakan jauh hari sebelum ujian akhir berlangsung.

Anak-anak sendiri, tidak kalah stressnya dalam menghadapi evaluasi hasil belajar. Berbagai pelajaran tambahan dalam bentuk les, seperti les matematika atau bahasa Inggris sudah rutin menghiasi hari-harinya. Tidak itu saja, demi sebuah ambisi orangtua yang berbungkus “menyalurkan bakat anak” atau “mempersiapkan diri dalam era global”, sejak kecil anak-anak sudah pula disibukkan dengan kegiatan-kegiatan tari (umumnya balet atau tari bali), les musik, les melukis bahkan sampai dengan les-les kepribadian.

Betapa lelahnya menjadi anak-anak yang hidup di bawah tekanan “mempersiapkan diri memasuki era global”. Apalagi, hidup di kota besar yang padat, membuat perjalanan dari rumah ke sekolah lalu ke tempat les menjadi sangat panjang, lama dan menjemukan. Tidak jarang ditemukan, seorang anak harus bangun pada jam 04.30 untuk shalat, mandi dan segera berangkat ke sekolah. Sarapan di mobil, di tengah antrian mobil dalam kemacetan. Usai sekolah langsung berangkat ke tempat les dan baru kembali sampai rumah sesudah hari menjelang malam, atau sekitar jam 18.00 atau 19.00. Lelah lahir dan batin. Manalagi waktu yang tersisa untuk belajar, apalagi untuk bersenang-senang.

Ini adalah potret kehidupan seorang anak dari kelas menengah dan kelas atas di Indonesia terutama yang hidup di Jakarta. Namun kelelahan dan kejemuan bukan hanya milik mereka. Hampir semua anak-anak yang hidup di kota besar, mengalami hal yang sama. Bangun pagi, sarapan seadanya kalau sempat. Anak-anak lainnya masih harus mengejar kendaraan umum yang terkadang enggan mengangkut mereka, berpeluh sambil menghirup udara kotor bertimbal, yang katanya bisa menurunkan kecerdasan. Bahkan tidak jarang terlihat anak-anak usia sekolah masih berkeliaran, menjajakan koran atau bahkan menjajakan suara dalam lagu yang kadang tak jelas benar apa maknanya, di jalanan hingga larut malam untuk mengetuk belas kasih pengendara mobil. Entah orang tua mana yang tega membiarkan mereka kehilangan masa kanak-kanak yang ceria. Kemiskinan, mungkin telah membuat mereka tidak berdaya.

Begitu beratnya kehidupan yang harus dijalani anak-anak, hingga mereka sama sekali tidak lagi sempat mengikuti naluri alamiahnya, yaitu bermain, mengeksplorasi keingintahuannya dalam kegiatan yang sesuai dengan usianya. Yang paling parah, kegiatan mencari uang, cepat atau lambat, berdampak pada pemahaman mereka tentang uang dan pendidikan. Menyimak dua sisi yang jauh berbeda ini, terbersit pertanyaan, untuk apa sebenarnya semua “kehebohan” ini?

Ambisi orang tua.
Pendidikan dan masa depan anak-anak tidak pernah lepas dari perhatian para orang tua. Siapapun mereka dan dari kalangan apapun mereka. Orang tua akan selalu berharap bahwa anak-anak mereka, suatu waktu kelak, akan mencapai “kesuksesan” sebagaimana yang telah mereka raih. Bahkan di kalangan miskin, harapan ini semakin bertambah dengan keinginan agar anak-anak itu tidak lagi mengalami kepahitan hidup orang tuanya dan kalau mungkin menjadi “alat” dari orang tuanya untuk keluar dari jaring kemiskinan. Demi sebuah masa depan yang kita semua tidak tahu, maka seorang anak “dipaksa” sejak dini untuk mulai dibentuk sesuai dengan “imaginasi dan ambisi” orang tua akan masa depan yang nantinya akan dihadapi oleh anak.

Masa depan yang bagaimana yang akan dihadapi oleh si anak di masa yang akan datang?
Dalam pemikiran yang sangat sederhana, masa depan yang dihadapi oleh seorang anak adalah; dia harus bisa melepaskan diri dari ketergantungannya kepada orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk di antaranya adalah kebutuhan sandang pangan dan papan. Bahkan kemudian, sesuai dengan kodrat yang ditetapkan dalam penciptaan manusia, maka si anak akan menikah dan beranak pinak, mengulangi siklus kehidupan manusia. Jadi, seluruh perjalanan hidup sejak kecil, bertumbuh menjadi kanak-kanak, remaja lalu beranjak dewasa lengkap dengan segala kegiatan fisik, maupun rohani, apakah itu bentuknya olah pikiran, yaitu bersekolah atau sekedar olah otot membantu orang tua bekerja di kebun/hutan, kesemuanya merupakan suatu latihan dan proses yang harus dijalani anak manusia untuk melepaskan diri dari ketergantungan tersebut.

Andreas Harefa, salah seorang pelopor gerakan manusia pembelajar, dalam salah satu buku karangan, menyatakan bahwa pendidikan, seyogyanya harus mampu menjadikan masyarakat menjadi mandiri namun tidak menjauhkannya dari alam dan lingkungan dimana dia berada.

Kalau tujuan akhirnya adalah kemandirian baik secara fisik, emosional maupun keuangan, apalagi dengan prasyarat “tidak menjauhkan dari alam dan lingkungan dimana dia berada”, maka ada banyak cara untuk menuju kesana dan sekolah hanya merupakan salah satu cara saja. Dan sekolah yang terbaik adalah sekolah yang mengakar kepada kebutuhan dan alam dimana peserta didik itu berada.

Dengan logika yang sederhana itu pula,  dan dalam kasus yang sangat ekstrim, kita kemudian dapat mempertanyakan, apakah sekolah bagi anak-anak suku anak dalam di Jambi atau anak-anak suku Dani di lembah Baliem, harus memiliki kurikulum yang sama dengan anak-anak di pulau Jawa? Tidak perlu terlalu jauh membandingkan dengan kebutuhan anak sekolah di pulau Jawa. Apakah sekolah yang dibutuhkan mereka sama dengan kebutuhan anak-anak sekolah di salah satu kota kabupaten di Sulawesi. Apakah mereka juga harus mengikuti kurikulum standar dari Diknas serta mengikuti ujian nasional? Apakah memang mereka membutuhkan hitungan-hitungan rumit a la anak-anak sekolah di kota-kota besar, sementara kebutuhan riel yang mereka hadapi adalah cara bertahan hidup di tengah hutan. Mereka membutuhkan keterampilan mengolah alam bukan hitung-hitungan matematika yang rumit. Pendapat ini mungkin dianggap sebagai “pelanggaran terhadap hak asasi manusia”. Menghambat kemajuan putera daerah.

Tetapi marilah kita berpikir secara rasional dan realistis. Berdasarkan penelitian, hanya ada 15% manusia yang bisa melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang sarjana ke atas terutama ditinjau dari sisi kemampuan akademik. 85% lainnya adalah manusia yang memang hanya mampu menempuh pendidikan menengah dan rendah, baik karena kemampuan akademis maupun finansial. Bagi anak-anak seperti ini, maka yang diperlukan adalah eksplorasi kemampuan ”non akademis”, berupa pengajaran praktis – keterampilan yang langsung dapat dimanfaatkan sebagai bekal menata kehidupan di masa depan. Sekaligus juga untuk mengeksplorasi ”bakat-bakat terpendam” mereka.  Bagi anak-anak seperti ini, sekolah umum cenderung membelenggu dan mematikan kreatifitas manusia.

Konon pula, keberhasilan Jepang dan Jerman untuk bangkit dari kehancuran total setelah perang dunia ke dua disebabkan karena pemerintah kedua negara tersebut menaruh prioritas pembangunan pendidikan jenjang menengah terutama pada pendidikan kejuruan. Bukan kepada pendidikan tinggi dengan gelar-gelar yang mentereng. Konsentrasi pembangunan tenaga menengah pada gilirannya, mampu meningkatkan jumlah tenaga terlatih kelas menengah yang kemudian menopang kebangkitan industri di kedua negara tersebut.

Sayangnya, paradigma pendidikan Indonesia cenderung ”menghamba” kepada gelar akademis. Bukan kepada proses dan kompetensi. Setiap orang dicekoki oleh paradigma bahwa menjadi sarjana adalah jaminan masa depan yang lebih cerah. Hal ini dilakukan tanpa melihat kondisi geografis, demografi, sosial, budaya serta distribusi ekonomi Indonesia yang kurang merata. Tidak heran bila akhirnya, semua orang berebut dan berlomba-lomba masuk universitas agar kelak menjadi sarjana. Kualitas lulusan SMApun semakin menurun, karena kualitas sekolah ditentukan oleh seberapa banyak lulusannya yang diterima di universitas terkemuka Indonesia, bukan oleh proses belajar-mengajar. Sebagian besar sekolah lebih bangga dengan status kelulusan 100% dibandingkan dengan kualitas lulusan. Tidak heran, saat para lulusan SMA tidak mampu melalui ujian saringan masuk Universitas berkualitas, maka universitas ”cap dua kendi” (ini istilah yang selalu digunakan Budi Tampubolon, untuk menekankan sesuatu yang buruk kualitasnya) pun dimasuki. Akhirnya, gelar sarjana tidak lagi mencerminkan kompetensi para penyandangnya.

Bahkan yang lebih menyedihkan, penghambaan kepada gelar ini merambat kepada golongan menengah dan para birokrat terhadap jenjang pendidikan lebih tinggi lagi, yaitu terhadap gelar magister (S2), doktor (S3) dan professor. Semua orang, sekarang berebut untuk menyandang gelar profesi sebagai guru besar.

Konon, di negara maju seperti Perancis, banyak anak muda yang tidak memiliki ijasah bacalaureat (berhasil lulus dari sekolah setara SMA) yang menjadi ”tiket” masuk universitas/grande ecole. Toh lulusan sekolah mereka, pada jenjang manapun juga memiliki keterampilan yang memadai untuk bekerja. Walaupun dengan persyaratan ketat ”kompetensi”, seperti misalnya; bekerja sebagai tukang potong dagingpun wajib memiliki sertifikat yang menandai pengetahuannya tentang tubuh binatang dan bagaimana menghasilkan potongan-potongan daging yang baik dan benar dari setiap bagian tubuh binatang tersebut.

Masalahnya, perbedaan tingkat sosial di Indonesia terlalu besar dan berbagai kebijakan yang dibuat terlalu berorientasi pada kebutuhan golongan menengah ke atas yang memang sudah memerlukan pendidikan dengan wawasan global. Sementara itu, seperti sering dikatakan, 80% penduduk Indonesia hidup di pedesaan dan bahkan hingga di pelosok gunung/pedalaman hutan perawan dan pesisir pantai yang jauh dari jangkauan modernisasi yang melanda kota besar. Pendidikan kepada mereka tentu harus disesuaikan dengan kebutuhan riel lingkungan hidup mereka yang dekat dengan alam. Yaitu kebutuhan pendidikan yang berbasis kompetensi untuk memanfaatkan alam sehingga mereka mampu menggunakan sumber daya alam sekelilingnya untuk kemudian meningkatkan taraf hidupnya. Ini mungkin lebih realistis daripada mendapat pendidikan akademis yang terasa absurd bagi rakyat kebanyakan.

Betapa besarnya kerugian bangsa ini bila para pengambil kebijakan tidak dapat menangkap esensi pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia yang memang beragam tingkat sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Kebutuhan akan pendidikan yang mampu membuat anak-anak Indonesia mandiri dan responsif terhadap lingkungan dimana mereka besar dan tinggal. Pendidikan yang mampu menahan mereka untuk tetap tinggal di kota tempat mereka lahir dan dibesarkan, mengembangkan potensi daerahnya masing-masing dibandingkan dengan keinginan berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke kota besar. Pendidikan yang mampu membuat seluruh anak Indonesia merasa sama tinggi sama derajat dimanapun mereka berada dan apapun profesinya.

Bila ini bisa diterapkan, tentu bangsa ini tidak akan mengalami kerugian akibat ketidak seimbangan antara biaya dan waktu yang terbuang dengan hasil pendidikan yang diperoleh peserta didik. Sampai kapan ini akan berlangsung?

Diselesaikan di lebak bulus – jakarta selatan, 5 mei 2006  


BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...