Senin, 08 Februari 2010

KALTIM - 15 tahun kemudian

gersang
Awal bulan Februari 2010 yang lalu, saya berkesempatan lagi berkunjung ke Kalimantan Timur untuk yang kedua kalinya. Masih mengunjungi dan mengurusi prospek yang sama setelah berselang 15 tahun.

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu mengenang Kalimantan Timur yang kaya dengan batubara. Masih terbayang dengan jelas di pelupuk mata, bahwa dalam perjalanan naik mobil dari Balikpapan ke Samarinda menempuh jalan yang mulus melintasi Kawasan Hutan Raya Bukit Suharto yang... saat itu memang sudah terlihat gundul, namun bongkahan hitam batubara masih terlihat menyembul disana-sini di antara pepohonan. Beberapa di antaranya malah terlihat berasap, terbakar karena gesekan alang-alang kering yang tertiup angin di bawah terik matahari bulan Juli. Titik-titik api dan asap bisa diduga sebagai petunjuk lokasi adanya bongkahan batubara. Kesan itulah yang terpatri dalam benak saya.

Mengharapkan bertemu hutan hujan tropis selama perjalanan memang tidak diharapkan, kecuali kalau kita mau berpayah-payah masuk hutan. Tetapi, kala itu, puluhan ikatan gelondong kayu berdiameter lebih dari 75cm masih banyak terlihat terapung di atas permukaan sungai Mahakam yang jarak terlebarnya bisa mencapai 800 meter (aduh .... sungai di pulau Jawa betul-betul nggak ada artinya, deh...).

Pabrik pengergajian kayu beroperasi penuh ... Pengusaha pemilik kerajaan kayu tebang masih bisa tersenyum lebar membayangkan rupiah dan dolar mengalir ke dalam rekening yang sengaja  dibuka tidak saja di dalam negeri tetapi juga d luar negeri, minimal Singapura. Begitu juga apa yang saya temui saat awal abad ini, diberi kesempatan untuk mengunjungi Banjarmasin. Masih terlihat ikatan gelondongan kayu mengapung di sepanjang sungai Martapura.

Itulah bayangan Kalimantan Timur yang saya bawa saat menginjakkan kaki di bandara Sepinggan - Balikpapan. Apalagi, secara sepintas kawasan bandara memang tertata rapi sehingga sejenak hati terasa sangat terhibur, dapat lepas dari jeratan kesibukan Jakarta.

Pesawat mendarat sekitar jam 9 waktu setempat dan staff kepercayaan mantan raja kayu Kalimantan Timur sudah menunggu dan kami langsung dibawa menuju Samarinda dengan mobil berlambang grup hotel miliknya. Beruntung sempat tidur di pesawat, saya bisa menikmati pemandangan selama perjalanan.

Jalan mulus nyaris tanpa lubang menghubungkan Balikpapan - Samarinda. Di sepanjang jalan, banyak pedagang durian hutan yang menurut saya agak unik. Besarnya hanya sebesar mangga harumanis jenis suluhan yang besar. Kalau kulit durian yang kita temui di Jakarta/Jawa berwarna hijau ke-abu2an, maka durian hutan yang unik ini berwarna kuning dan begitu juga warna dagingya. Kuning mulus.... tapi nggak tahu deh rasanya. Denger2 sih.... nggak "sekeras" bau dan rasa durian yang biasa kita kenal. Nah si kuning dari Kalimantan ini dikenal sebagai LAI.

Sambil menikmati pemandangan yang menurut saya sama sekali tidak indah, terutama bila dibandingkan dengan Jawa dan Bali, perjalanan Balikpapan - Samarinda hanya disuguhi dengan lahan-lahan kosong yang susah untuk digambarkan lagi, apakah itu hutan atau bekas ladang atau padang ilalang terutama bila dibandingkan dengan hutan jati di wilayah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur atau perkebunan kelapa sawit yang teratur. Pantas kalau kalangan pecinta lingkungan selalu berteriak..... telah terjadi penyusutan luar biasa atas luas hutan hujan tropis di pulau Kalimantan.

Jangankan melihat hutan hujan tropis Kalimantan, bayangan melihat bongkahan batubara yang menyembul dari dalam tanah di sela-sela pokok tanaman, yang selalu lekat dalam ingatan sayapun pupus sudah. Entah apakah karena memang sudah diekploitasi orang atau memang sudah terbakar habis saat terjadi kebakaran hebat di hutan-hutan Kalimantan beberapa tahun yang lalu, pendeknya .... selama dalam perjalanan tersebut saya terpaksa menelan ludah ... pahit. Mungkin diperlukan upaya yang lebih panjang lagi untuk menikmati hutan hujan tropis. Kita harus menyusuri sungai-sungai lebar di Kalimantan selama berjam-jam menuju hulu untuk sekedar menikmati keindahan hutan tropis yang masih perawan.

Memang ada terlihat pembangunan infrastruktur. Rencana pembangunan trans Kalimantan (?!), jembatan-jembatan bentang panjang yang menyeberangi sungai-sungai seperti di Samarinda namun entah untuk tujuan apa pembangunan tersebut dilaksanakan. Satu yang pasti, di balik kehebohan isu illegal logging, industri pengolahan kayu sudah tamat riwayatnya. Banyak industri penggerjajian yang sudah merumahkan buruh-buruhnya termasuk juga industri kayu lapis. Kalaupun masih ada yang beroperasi, merekapun merasakan betapa pasokan kayu semakin berkurang.

Kini, industri di Kalimantan beralih dari industri kayu menjadi ekspoitasi batubara. Meski berbeda apa yang diambilnya dari alam, tetapi tetap ada kesamaannya. Keduanya hanya mengekploitasi kekayaan alam. Menguras kandungan bumi untuk kemudian menjualnya entah kemana tanpa ada nilai tambahnya sedikitpun.

Bumi kemudian dikupas habis tanpa ada upaya rehabilitasi atau kalaupun ada, minim sekali. Tidak heran bila disana-sini terlihat kupasan bukit berwarna kuning, menambah kegersangan bumi Borneo. Bila dulu hutang ditebangi dan dieksploitasi habis-habisan dengan upaya reboisasi yang minim, maka menurut saya kondisi saat ini malah lebih mengerikan. Ekploitasi batubara dengan sistem open pit tidak saja menghilangkan hutan hujan tropis tetapi juga mendeformasikan susunan tanah. Ngeri membayangkan bahwa humus hutan hujan tropis yang biasanya memiliki sifat menyuburkan tanah semakin hari semakin terkikis hilang. Bukit-bukit gundul yang susunan tanahnya telah terdeformasi tentu tak sanggup lagi menghidupi sepokok pohon. Entah bagaimana nasib dan masa depan paru-paru dunia ini. Ngeri membayangkannya.

Senin, 11 Januari 2010

MACET euy......!!!

Kemacetan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia, menurut saya, disebabkan karena sejak awal (akhir tahun 60an), pemerintah lebih menekankan pada pertumbuhan industri (semu) antara lain industri otomotif sehingga segala daya upaya diarahkan untuk meningkatkan produksi. Akibatnya, konsep dan strategi transportasi masa (mass transportation - railways) tidak berkembang atau memang sengaja tidak dikembangkan. Lama kelamaan, terjadilah peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang luar biasa dan mengakibatkan kemacetan juga yang luar biasa yang kita alami saat ini.

Bayangkan... dalam kondisi seperti inipun, transportasi masa tetap dianaktirikan. Pertumbuhan/penambahan panjang jalur KA relatif tidak ada. Kalaupun ada hanya menambah jalur dari single track menjadi double track pada jalur-jalur yang sudah ada sejak jaman kumpeni dulu. Bahkan beberapa track yang berada Sumatera dan jalur menuju kota2 kecil di Jawa dan Sumaterapun banyak yang "dimatikan" dan jangan lagi berpikir untuk menghidupkan track di dalam kota Jakarta yang pada akhir tahun 50an s/d awal 60an masih dilalui trem. Itu sama saja dengan bermimpi di siang bolong. Padahal .... di banyak kota Eropa, trem, bus, taxi kendaraan pribadidan bahkan dengan sepeda berjalan berdampingan digunakan masyarakat.

Masyarakat kebanyakan di Indonesia memang harus banyak mengalah pada segelintir orang berpunya yang memiliki kemampuan membeli mobil. Pemilik mobillah yang mendapat benefit terbanyak di jalan raya. Bayangkan saja.... kalau macet, jalan diperlebar, dibuatkan under pass, jalan layang dan bahkan jalan bebas hambatan. Pembenaranpun dicari.... karena mereka sudah membayar pajak kendaraan yang mahal sehingga layak mendapat pelayanan yang prima.

Rakyat biasa yang bosan dengan kemacetan dan terlalu lelah karena lamanya waktu tempuh dari rumah ke tempat kerja dan mahalnya biaya transportasi "dipaksa" berjejalan di dalam kereta api, bahkan hingga ke atap gerbong. Kalau punya modal sedikit berlebih, silakan beralih menggunakan motor.

Maka.... lihatlah suasana jalan raya pada jam sibuk! Motor berebut jalan, saling salip, saling sikut... Siapa berani, dia menang... Keselamatan menjadi nomor sekian... Tak heran kalau angka kecelakaan motor bertambah banyak.

Lalu selesaikah problem transportasi dan kemacetan? Jauh panggang dari api....!!! Selama orientasi pemerintah masih kepada peningkatan sektor industri terutama peningkatan produksi otomotif, tanpa adanya "pengereman" jumlah pemakai kendaraan pribadi baik kendaraan beroda empat maupun beroda dua, maka problematika kemacetan tidak akan terselesaikan.

Industri memang harus tetap berkembang agar tenaga kerja tetap terserap. Tapi alangkah baiknya bila peningkatan produksi kendaraan jangan sampai menambah jumlah kendaraan di jalan. Seperti di negara-negara maju, usia kendaraan memang harus dibatasi dan kendaraan yang sudah tidak layak jalan "harus dimusnahkan". Salah satu cara adalah produsen otomotif "membeli kendaraan tua" yang jumlahnya sesuai dengan jumlah produksinya.

Di samping itu, konsep transportasi publik harus diarahkan pada transportasi masa dengan membangun/menghidupkan kembali jalur/rail track di tengah kota yaitu trem atau membangun subway/metro atau monorail. Rasanya, membangun jalan tol layang seperti jalan tol dalam kota Jakarta, membuat under pass atau jalan layang termasuk juga membebaskan lahannya, sama mahalnya dengan membangun transportasi massa tersebut. Yang penting, adakah keberanian para pembuat kebijakan di negeri ini untuk mengambil keputusan ekstrim --> berpihak kepada kebutuhan rakyat banyak dan mengurangi tekanan produsen otomotif.

Kebijakan industri otomotif ini sebetulnya hanya memperkaya Jepang saja. Coba tengok! Hampir seluruh kendaraan yang lalu lalang di seluruh pelosok negeri ini adalah merek Jepang. Belum lagi pemborosan energi akibat BBM yang terbuang percuma karena kemacetan. Andai kita mau berhitung cermat dan mau melepaskan diri dari "jeratan" para industrialis otomotif ... niscaya akan selalu ada jalan untuk mendapatkan investor serius untuk membangun jaringan subway, trem atau monorail. Syarat lainnya, tentu saja ada kepastian hukum, keamanan berinvestasi and last but not the least .... Jangan ada John toel dan mark up biaya.

Sanggupkah kita?


Sabtu, 19 Desember 2009

Yang wajib ditonton : SANG PEMIMPI

Saya, bukan penggemar akut nonton film. Bisa dihitung dengan jari, tak akan lebih dari 5 kali nonton. Bahkan mungkin hanya 1 kali setahun karena saya ingat, film terakhir yang saya tonton adalah Laskar Pelangi dan sekarang Sang Pemimpi.

Film sang pemimpi memang sudah masuk dalam daftar "wajib tonton" karena selain "sudah terpengaruh" dengan isi novelnya Andrea Hirata, tapi juga karena untuk memvisualkan novel tersebut ke dalam film, Andrea bekerja sama dengan Riri Reza dan Mira Lesmana yang sudah menjadi "jaminan mutu". Maka.... karena itulah, hari Jum'at 18 Desember 2009 lalu (tidak terasa tahun sudah berganti) usai makan siang kami bertiga berangkat ke citos untuk nonton SANG PEMIMPI.

Saya memang tidak ingin membuat resensi film tersebut. Seperti yang sudah saya katakan, untuk kelas Indonesia, Riri Reza dan Mira Lesmana sudah merupakan jaminan mutu bagi film-film "berkelas". Saya cuma ingin bicara tentang isi film tersebut, yaitu penggalan hidup sang penulis, Andrea Hirata saat masih remaja.

Terus terang saja, kalau saja saya hanya lahir dan besar di Jakarta serta tidak pernah tinggal di daerah, agak sukar mempercayai betapa kerasnya perjuangan hidup Ikal atau dalam hal ini Andrea Hirata.

Belitong, khususnya Gantong dan Mangar di tahun 90an bisa jadi terlalu sederhana dibandingkan dengan gemerlapnya Jakarta baik pada tahun-tahun tersebut apalagi kalau dibandingkan dengan sekarang. Padahal.... kalau kita mau sedikit "berpayah-payah" keluar masuk daerah kumuh di balik kemewahan Jakarta, sesungguhnya "kekumuhan" dan kekerasan hidup itu tidak jauh dari mata kita dan ini terjadi bukan saja pada tahun 70an - awal 80an saat saya harus "mblusukan" masuk ke perkampungan kumuh dan padat di Tambora untuk melaksanakan tugas kuliah. Tapi, ternyata hingga abad ke 21, kekumuhan Jakarta masih tetap ada dan saya temukan saat secara tidak sengaja jalan pagi di sekitar tempat tinggal, menemukan kampung di atas tumpukan sampah di "pedalaman" Lebak Bulus. Di balik perumahan elite dimana rumah-rumah mewah dengan luas halaman menutupi "aroma busuk" sampah dan kekumuhannya.

Bisa jadi, kehidupan di wilayah kumuh tersebut sama kerasnya dengan kehidupan anak-anak buruh tambang timah di Belitong tersebut. Bahkan mungkin juga tidak sekeras anak-anak Belitong karena anak-anak itu tumbuh menjadi anak jalanan yang "dengan mudah" meraih belas kasihan dan memperoleh uang dari masyarakat Jakarta, pada setiap perempatan jalan


Senin, 14 Desember 2009

Musimnya orang menikah

Nggak tahu mesti nulis apa, kali ini. Mau nulis komentar tentang carut marut hukum di Indonesia, sudah terlalu banyak yang ngomong. Sampai bosan dengar di TV, radio dan dimana saja kita ketemu teman. Kalau masih nekat juga nulis, nanti “dimarahi” Tintin…. hehehe….

Tumben dia ngomel!!! Biasanya orang seperti dia, akan mudah “tersentuh” hal-hal yang terasa tidak adil dan menyakiti rakyat kecil. Mungkin kali ini dia sudah muak dengan “kebebalan” para aparat penegak hukum yang sudah terbutakan mata hati nuraninya. Bagaimana tidak, kalau orang yang mencuri 3 buah coklat, makan 1 buah semangka dan hal-hal yang remeh temeh saja sudah kena bui 1–3 bulan. Sementara yang ngemplang duit negara milyaran bahkan trilyunan malah merasa aman melanglang buana di luar negeri dari hotel ke hotel atau bahkan bisa jadi sedang menikmati rumah dan apartemen mewah nya di daerah elite manca negara. Jadi… sekarang, kita nggosip aja ya… Kan perempuan suka gossip.

Bulan Desember ini rupanya jadi pilihan banyak orang untuk menikah. Bulan baik kalau buat muslim …., karena bertepatan dengan bulan pelaksanaan ibadah haji dan awal tahun baru, yaitu bulan Muharam yang dimulai pada tanggal 18 Desember yang akan datang.

Salah satu rekan kantor (boleh juga dibilang anak, kali ya… karena umurnya nggak jauh beda dengan anak sulungku) yang beragama Katholik akan menikah pada tanggal 18 Desember yang akan datang dan sementara keponakan suamiku (muslim) akan menikah pada tanggal 25 Desember (akad nikah) dan resepsinya diselenggarakan pada keesokan harinya. Lucu aja melihat koinsiden tersebut. Yang beragama katholik menikah pada saat umat Islam merayakan tahun baru hijrah sedangkan yang muslim menikah saat para kristiani merayakan Natal. Eh tapi, bukan hal itu yang jadi sorotanku.

Menikah sepertinya dan memang sudah seharusnya menjadi tujuan hubungan dua orang manusia yang berlainan jenis kelamin …., gimana enggak, wong yang berjenis kelamin sama aja berniat mengikatkan hubungan sejenisnya melalui lembaga pernikahan kok! Jadi…, pantas saja kalau suatu hubungan kasih sayang yang serius di antara dua orang manusia akan bermuara dalam sebuah lembaga pernikahan. Namun yang seringkali dilupakan adalah… bahwa pernikahan bukanlah sebuah akhir dan tujuan dari sebuah hubungan kasih sayang tetapi justru awal dari kehidupan yang sebenarnya.

Kalau mau diibaratkan seperti sekolah/kuliah… katakanlah saat pernikahan itu seperti saat wisuda. Senang sekali karena tujuan/akhir perjuangan panjang selama sekolah sudah tercapai. Begitu juga dengan pernikahan…, perjalanan panjang selama “pacaran” sudah mencapai garis finish, dengan menikah. Kenyataannya, setelah wisuda dan pernikahan, kita malah menghadapi realita kehidupan yang sebenarnya. Kalau selesai sekolah kita masuk ke dunia nyata untuk bekerja secara mandiri, menghidupi diri dari “kemampuan” diri sendiri, begitu juga dengan pernikahan.

Kita “melepaskan diri” dari “lindungan kenyamanan sebuah sarang” bernama keluarga dan membentuk sarang baru dengan anggota yang baru, yaitu istri untuk kemudian berkembang biak dengan anak-anak yang akan lahir.Menurut saya, ada persamaan dengan bekerja dengan perjalanan pernikahan. Bahwa perusahaan tempat kita bekerja dan para pekerjanya selalu berharap berkembang ke arah yang lebih baik, sehingga si pekerja bisa memperoleh posisi dan penghasilan yang lebih baik dari tahun ke tahun. Kalau salah satunya tidak terpenuhi, maka keduanya bisa jadi akan “berpisah jalan”.

Kalau jalannya perusahaan tidak baik, maka perusahaan mungkin akan mem PHK kan karyawannya. Begitu juga bila si karyawan lama-kelamaan merasa perusahaan tempatnya bekerja tidak lagi memenuhi harapannya, maka dia akan mulai “berselingkuh”, melirik kesempatan kerja di tempat lain untuk kemudian meninggalkan perusahaan tersebut untuk pindah ke perusahaan yang baru itu pada waktunya.

Ini untuk karyawan yang punya potensi baik dan “mampu” bersaing di dunia kerja. Kalau karyawan yang kemampuannya “terbatas” dengan lagak sebagai loyalis dia akan tetap bertahan. Tapi bukan tanpa protes. Protesnya justru lebih “berbahaya” karena makin membebani dan merugikan perusahaan. Dia tidak lagi bekerja dengan baik, malah mencuri-curi waktu untuk cari kerja sampingan dan lain-lain sementara perusahaan mungkin tidak sadar. Atau kalaupun sadar, tapi tidak “mampu” mem PHK karena kewajiban membayar pesangon.

Itu sebabnya perusahaan yang baik selalu me “refresh” karyawannya, memberi “makanan” rohani berupa fasilitas pelatihan, liburan, jabatan dan lain-lain, termasuk juga memberi makanan jasmani berupa fasilitas kendaraan, gaji besar, bonus dan lain sebagainya

Tidak berbeda dengan dunia kerja, sebetulnya kehidupan rumah tangga juga selalu dinamis. Kalau pada awal pernikahan, tinggal sekamar di rumah mertua sudah sangat indah, pulang kantor kehujanan naik motor, makan di warung pinggir jalan sepiring berdua begitu indahnya. Namun keindahan itu juga terus berevolusi.

Pasangan bisa jadi tidak lagi puas dengan kamar kecil di rumah orang tua dan ingin memiliki rumah, walau (relatif) kecil . Motor tidak lagi cukup bergengsi sebagai kendaraan sehari-hari dan mulai membutuhkan mobil, dan kemudian membelinya walau mobil bekas. Makan tidak lagi cukup di warung, tetapi harus sudah mulai beralih ke café atau resto bergengsi, untuk menyesuaikan posisi di kantor yang mulai meningkat dengan alasan memperluas network.
Itulah “tanda-tanda” perubahan dan peningkatan kebutuhan jiwa dan raga manusia yang kemudian salah kaprah menjadi life style pasangan muda terutama yang hidup di kota-kota besar dan berpendidikan tinggi lulusan luar negeri.

Sama seperti di perusahaan, pasangan mungkin perlu me “refresh” kembali perasaan, tujuan hidup dan mengevaluasi dan menyamakan kembali persepsi terhadap esensi ikatan perkawinannya. Seiring perjalanan waktu, “greget” perasaan terhadap pasangan hidup mungkin sudah berubah. Bukan karena tidak ada perasaan cinta/kasih sayang, tetapi “sebuah kebiasaan merasa sudah memiliki, seatap dan seranjang” selama bertahun–tahun membuat pasangan suami istri “meremehkan” perasaan satu sama lainnya.

Kita tidak tahu lagi kemana perasaan pasangan hidup kita mengembara, karena memang perasaan dan pikiran bisa mengembara tanpa batas dan tanpa bisa dikekang oleh siapapun kecuali atas kesadaran dan kendali diri yang bersangkutan.Ketidaksamaan visi dalam pengelolaan keuangan rumah tangga, pola pengasuhan anak maupun hubungan kekeluargaan dengan keluarga besar pasangan kerap kali memicu pertengkaran kecil yang bila tidak dikelola dan dikendalikan secara bijak akan menjadi gunung es yang mampu mengkaramkan bahtera rumah tangga setiap saat kita lengah.

Kalau ketidakpuasan dalam pekerjaan mudah diselesaikan dengan cara mencari tempat kerja baru, maka apakah akan kita perlakukan bahtera rumah tangga seperti kita meninggalkan perusahaan tempat kita bekerja, “berselingkuh” untuk kemudian melabuhkan bahtera di sandaran dermaga baru?Jawabnya tentu TIDAK.

Menyelesaikan masalah dalam sebuah ikatan pernikahan tentu tidak semudah seperti kita pindah kerja. Stake holder dalam sebuah pernikahan bukan hanya pasangan tetapi juga ada anak–anak yang terlahir. Itu kalau kita mengenyampingkan keluarga besar dari ke dua belah pihak.

Anak merupakan tanggung jawab orangtua bukan hanya secara materi tetapi juga dalah hal pendidikan jasmani dan rohani. Adalah tanggung jawab orangtua juga untuk “mendidik” mereka dalam memecahkan berbagai masalah sepanjang hidup karena anak sebetulnya merupakan “imitator” sempurna dari perilaku orangtua.

Orangtua yang “menggampangkan” segala sesuatu secara tidak sadar telah mengajarkan perilaku tersebut kepada anak–anaknya. Tetapi mempersulit hal yang mudah atau menunda–nunda penyelesaian masalah juga bukanlah contoh yang baik bagi anak.

Week end yang baru lalu, saya membaca artikel di suatu majalah bahwa anak–anak yang lahir dari keluarga kecil dan telah terbiasa hidup dalam kecukupan dan segala kemauannya terpenuhi dengan mudah, cenderung memutuskan segala sesuatu tanpa pertimbangan yang dalam. Karena mereka terbiasa hidup senang, sehingga kadar tenggang rasa terhadap oranglain cenderung tipis Ini tentu berbeda dengan anak yang terlahir dari keluarga besar yang selalu berbagi dengan kakak atau adik. Mereka telah terlatih sejak dini untuk berbagi dan bertenggang rasa. Tapi hal ini hanya merupakan salah satu faktor saja. Komunikasi yang terus menerus harus tetap dijaga.

Bagi saya, hal yang terpenting untuk diingat setiap pasangan adalah … melihat kelebihan pasangan kita dan melupakan kekurangannya, karena kita sendiri juga penuh dengan kekurangan yang harus “ditelan dan diterima” oleh pasangan.

Jumat, 04 Desember 2009

Ada apa dengan Indonesia?

Ada apa dengan Indonesia? Mungkin itu pertanyaan yang belakangan ini muncul di kepala masyarakat Indonesia terutama mereka yang hidup di perkotaan dan memiliki akses pada informasi ekonomi dan politik. Nyaris separuh tahun sudah kita disuguhi berita-berita di media massa baik cetak maupun elektronik dengan gonjang-ganjing di ranah hukum dan peradilan. Awalnya ada peradilan kasus pembunuhan Nazarudin Zulkarnain, salah satu direktur di grup Rajawali yang menyeret dan konon didalangi oleh Antasari Azhar (AA - sekarang mantan), sang ketua KPK.

Kasus ini konon ditengarai karena cinta segitiga antara AA–korban dan istri ketiganya. Namun lain lagi rumor yang berkembang di masyarakat setelah berjalannya pemeriksaan terhadap saksi–saksi dan pelaku langsung pembunuhan berdarah tersebut. Konon katanya, kasus ini penuh dengan rekayasa dengan maksud menggembosi KPK. Alasan penggembosan KPK memang cukup valid.

Kiprah KPK dalam membongkar berbagai kasus korupsi yang dilakukan oleh para eksekutif pemerintahan, anggota DPR/DPRD dan bahkan terakhir menyentuh juga lembaga judicatif dengan terbongkarnya kongkalikong antara jaksa Urip Tri Gunawan dengan Ayin, membuat GERAH banyak pihak yang merasa terancam "keselamatan" pundi-pundi emasnya. Apalagi kalau beberapa kasus yang sedang diselidiki KPK banyak menyangkut petinggi Negara. Ini ibarat anak macan ingin memangsa induknya. KEBLINGER …., katanya. Dari kasus cinta segitiga yang hanya melibatkan AA sang ketua, jeratan pada aktifis KPK kemudian melebar kepada anggota lainnya yang tersisa.

Entah apa pula alasan dihembuskan dan diedarkannya sehingga dari 4 anggota KPK, justru Bibit Sama Riyanto–BSR dan Chandra M Hamzah–CMH menjadi korban selanjutnya untuk di”bungkam” kiprahnya.Adalah "testimoni" AA yang menyatakan bahwa dua koleganya di KPK yaitu BSR dan CMH menerima suap dari Anggodo Widjojo menjadi entry untuk menyeret mereka menjadi tersangka dan dijebloskan ke dalam penjara. Polisi rupanya sedang sangat proaktif dan kelebihan energy. Bagi saya, testimoni dari AA begitu absurd, kecuali kalau antara ke 3 orang tersebut memang terlibat perseteruan internal atau AA merasa dijebloskan oleh kedua rekannya tersebut. Tapi kasus AA sama sekali tidak ada hubungan dengan KPK. Dakwaan yang dituduhkan kepada AA, adalah murni kasus perseteruan pribadi karena "perselingkuhan dan pelecehan" AA kepada istri ketiga almarhum korban.

Mungkin Allah SWT memang memiliki rencana tersendiri. Yang Maha Kuasa sudah terlalu “gerah” melihat betapa masyarakat Indonesia telah "dibohongi" oleh para pemegang amanah pemerintahan. Kongkalikong antara trias politica (executive–judicative dan legislative) melalui para makelar kasus apakah itu para pengacara atau benar-benar para makelar dengan para konglomerat atau siapapun yang berkantong tebal dan siap sedia menggelontorkan dana demi sebuah nama bersih dan tidak tercemar.Mereka adalah para tertuduh kasus (umumnya) korupsi dan mark-up biaya proyek baik yang berasal dari kalangan pemerintahan dan legislatif atau para konglomerat pengemplang duit negara. Dan.... para tertuduh itu, suka atau tidak suka, diperas atau ikhlas menyediakan dana agar kasus yang menimpanya bisa dipeti-eskan atau kalaupun tetap disidangkan, maka hukuman yang ditimpakan hanyalah proforma saja.

Keberadaan KPK dengan perangkat pengadilan TIPIKOR, memang memangkas kewenangan kejaksaan dan pengadilan. Lebih jauh lagi, ini adalah (sebetulnya) bentuk ketidakpercayaan pemerintah kepada lembaga tersebut. Hanya..... mungkin, lama-lama, aparat pemerintah juga merasa "NGERI" dengan kiprah KPK yang mulai tanpa pandang bulu melibas semua kasus korupsi. Keberanian KPK melibas besan presiden, walaupun di ranah publik presiden menampakkan wajah ikhlas, namun saya yakin dalam kehidupan pribadi, hal ini menimbulkan "sedikit" gejolak yang harus diredam demi sebuah pencitraan. Bukankah beliau dikenal sebagai presiden yang sangat menjaga pencitraan diri dan gemar tebar pesona? Jadi, setelah menyadari "bahaya"nya kuatnya dukungan masyarakat atas keberadaan KPK, maka niat "setengah-setengah" pemberantasan korupsi ini harus ditata kembali sesuai dengan koridor "politik pencitraan" saja. Tidak boleh terlalu serius.... Cukup asal rakyat senang bahwa ada pemberantasan korupsi "dipermukaan. Ini memang cuma dugaan iseng seorang ibu rumah tangga.

Allah SWT bisa jadi sudah terlalu muak dengan kelakuan para pemimpin dan elit negara ini. Maka melalui testimoni AA yang kemudian menggiring BSR dan CMH sebagai tersangka kasus pemerasan kepada tersangka Anggoro Widjojo dan uji materi atas pemberhentian mereka sebagai Wakil Ketua KPK yang diajukan kepada Mahkamah Konstitusi menjadi ENTRY POINT akan terkuak dan terbukanya apa yang sejak lama ditengarai oleh seluruh masyarakat Indonesia bahwa HUKUM di INDONESIA BISA DIATUR melalui para MAKELAR KASUS dengan MENYEDIAKAN DANA sesuai dengan SKENARIO yang DIINGINKAN oleh sang TERDAKWA.

Melalui bukti yang diajukan oleh pihak BSR+CMH, rekaman pembicaraan dan transaksi keuangan begitu gamblang terdengar antara makelar kasus dan aparat penegak hukum. Tidak tanggung-tanggung.... makelar kasus ini masuk ke jantung institusi penyidik (POLISI) dan KEJAKSAAN. Bukan tidak mungkin, saat pengadilan kasus digelar, makelar kasus akan masuk pula ke dalam institusi KEHAKIMAN.

Para makelar kasus memang nekat! Bayangkan saja, dengan sangat berani, mereka membawa-bawa nama presiden. Tidak tanggung-tanggung, memang....!!!Setelah silang sengketa bagaikan benang kusut dan lingkaran setan yang mbulet nggak keruan dan pembentukan TPF yang lebih dikenal sebagai Tim 8 karena beranggotakan 8 orang, oleh presiden. Hasilnya .....? TETAP TIDAK JELAS dan TETAP MENCURIGAKAN.

Bayangkan.... saat ada yang menyebarkan berita bahwa presiden telah menikah sebelum pernikahannya yang sekarang dibicarakan orang, beliau MENYEGERAKAN diri melaporkan "sang penyebar fitnah" ke Polda METRO Jaya. Saat kampanya yang lalu, beliau MENYEGERAKAN diri membuat PRESS RELEASE seraya memamerkan foto diri yang "ditengarai" sebagai sasaran tembak kelompok teroris. Entah apa maksudnya.... mungkin mencari simpati seperti pemilu yang dimenanginya pertama kali di tahun 2004. Yaitu bahwa beliau adalah PIHAK yang DIDZALIMI.Tapi anehnya..... saat namanya diCATUT oleh ONG JULIANA sebagai backing dan pemberi restu atas segala transaksi kasus Anggoro Widjojo .... beliau seolah tidak mendengar dan merasa cukup dengan mengatakan berulang-ulang bahwa hal tersebut tidak benar. Padahal .... jelas penyebutan nama presiden oleh ONG JULIANA menyebabkan masyarakat berpikir bahwa presiden ada dibalik dan terkait dengan kasus ANGGORO dan sudah sangat pantas bahwa presiden mengadukan ONG JULIANA sebagai penyebar fitnah. Namun kali ini, presiden kita rupanya sedang berbaik hati.

Hasil Rapat Dengar Pendapat Umum - RDPU antara Komisi III DPR dengan Polri maupun Kejaksaan Agung yang tergelar, bagaikan panggung sandiwara Srimulat, tempat segala macam sumpah dan airmata "sang buaya" diteteskan dan tidak menghasilkan apa-apa. Bukan karena kasus hukum baik kasus AA, BSR-CMH atau bank Century "tidak ada apa-apa", tetapi lebih dikarenakan adanya distorsi antara kemauan publik dan kemauan penguasa negeri, dalam hal ini kemauan para elit politik.

Rakyat melihat bahwa kasus AA, BSR-CMH dan Bank Century hanya merupakan ENTRY POINT untuk membuka dan memberantas habis CARUT - MARUT wajah HUKUM dan PERADILAN di Indonesia. Rekaman pembicaraan antara Anggodo Widjojo -  Ong Juliana - Susno Duaji dll yang diperdengarkan dalam sidang Mahkamah Konstitusi memperkuat dugaan PERMAINAN HUKUM di Indonesia yang sebelumnya telah terbongkar melalui kasus Urip Tri Gunawan dan Ayin.

Rumor MAFIA PERADILAN sesungguhnya bukan hal baru. Ini barang basi yang sudah menjadi rahasia umum karena memang sukar dibuktikan. Bahkan saat rekaman "permainan" para aparat penegak hukum telah terkuak dengan terang benderangpun, mereka masih mengelak dan berusaha untuk melokalisir hal tersebut kepada "materi pokok"nya, yaitu kasus dugaan pemerasan/suap yang melibatkan BSR dan CMH. Tentu saja, karenanya sang makelar kasus akan tetap tidak tersentuh.

Yang lebih menyedihkan, saya tidak lagi melihat rekan-rekan yang konon katanya BERSIH dan PEDULI berdiri dengan tegak menunjukkan kePEDULIannya untuk memBERSIHkan negara ini dari perilaku korup para elit negara ini.

Jadi.... ada apa dengan Indonesia saat ini?


Minggu, 08 November 2009

Benarkah ada hantu di Tol Cipularang?

aku memang penakut, makanya kalau lagi setir mobil sendiri di malam hari, aku selalu menghindari rute yang melewati pemakaman umum. Kalau perjalanan malam itu dilakukan bersama dengan anak dan suami dan melewati pemakaman, maka aku selalu berusaha memejamkan mata. Aku memang penakut... udah dari sononye....!!! Walaupun sampai saat ini belum pernah melihat hantu dan mudah-mudahan jangan sampai terjadi....

Hampir 3 bulan yang lalu, temanku yang tinggal di California, kirim/forward email yang isinya cerita-cerita tentang hantu gentayangan di jalan tol Cipularang. Kontan kubalas email itu dan menyanggahnya. Maklum, selain karena belum pernah mendengar cerita tersebut, perjalanan di sepanjang jalan tol Cipularang sering kulakoni baik malam apalagi siang hari. Bahkan perjalanan dari Bandung ke Jakarta pernah dijalani pada dini hari, lewat tengah malam dan alhamdulillah hingga saat ini berjalan lancar dan selamat.

Week end yang lalu, saat anakku meminta untuk berangkat hari jum'at malam dengan pesan khusus, setir mobilnya perlahan saja, kami mengiyakannya. Maka berangkatlah kami ke Bandung jam 20.15 langsung dari entry gate Fatmawati dengan harapan bisa tiba di rumah adikku paling lambat jam 22.30.

Dalam perjalanan, kantuk menyerang sehingga lewat Bekasi, aku sudah setengah sadar. Biasanya, kalau kami berjalan malam, saya harus terjaga karena suami yang buta warna terkadang tidak bisa membedakan rambu lalu lintas di tengah cahaya lampu dan neon sign berwarna-warni yang berpendaran. Tapi kantuk yang tak tertahankan membuatku tertidur hingga beberapa lama dan terjaga tiba-tiba saat suami menyadari mobil yang dipacu di jalur kanan tidak berbelok ke arah Bandung, melainkan melaju ke arah Cikampek.

" Sudahlah, nanti kita masuk lagi di Purwakarta". kataku menghiburnya walaupun itu berarti jarak dan waktu perjalanan menjadi bertambah. Maka, mataku menjadi nanar mencari rambu-rambu lalu lintas. Rupanya sejak beroperasinya jalan tol Cipularang, rambu lalu lintas petunjuk arah ke Bandung menjadi tidak terawat lagi dan malah hilang. Atau mungkin juga tidak terlihat apalagi di malam hari. Sama dengan redupnya warung-warung serta restoran di sepanjang jalan nasional/propinsi tersebut.

Di pertigaan menuju Subang, ada juga entry gate, tetapi rupanya hanya untuk menuju arah Cirebon dan Jakarta sehingga kami terus melaju masuk kota Purwakarta.
" Kita masuk di Jatiluhur saja", kataku
Dalam keremangan malam dan di antara truk dan camion (aduh... kok tiba2 lupa istilahnya... oh iya, maksudnya mobil peti kemas), mobil kami masuk kembali ke jalan tol Cipularang. Jalur tersebut terasa agak sepi dan tidak rata. sempat kukomentari....:
"Jalannya jelek banget ya...?"
" Ya... sepertinya ada yang longsor lagi", suamiku menimpali.
Mobil melaju perlahan karena sebagian ditutup untuk perbaikan jalur.

Lepas dari jalur yang diperbaiki, dari kejauhan aku melihat ada mobil truk atau mobil peti kemas berwarna merah bordeaux kusam, besar sekali. Entah berhenti atau berjalan lambat, yang pasti tidak terlihat lampu belakang dan nomornya. Kalau tidak salah, lamat-lamat kulihat 2 lampu sangat kecil yang suram di bagian bawah mobil. Kuingatkan suami untuk pindah ke jalur kanan untuk mendahului truk.

Usai mendahului truk, suami bertanya....
" Tadi lihat, nggak...?"
" Lihat apa...?"
" Ada lelaki...!"
" Dimana? Dekat truk...?, tanyaku tanpa curiga
" Nggak ... aku nggak lihat apa2 kecuali truk itu, memang apa... dan dimana?" tanyaku
" Agak jauh sebelum truk tadi.... ada lelaki pakai celana pendek, kaos putih tapi... nggak ada kepalanya..." sahutnya tenang.
"Hah....? Alhamdulillah, aku nggak lihat..."

Betul.... alhamdulillah, bukan aku yang penakut ini yang melihat pemandangan itu. Bayangkan kalau kulihat mahluk tersebut, lalu aku berteriak histeris, pasti akan menggangu konsentrasi suami menyetir mobil sehingga bukan tidak mungkin akan menabrak truk tersebut atau kecelakaan lainnya. Tidak terpikir lagi apakah truk itu nyata adanya atau itu adalah truk siluman seperti cerita orang.

Sambil lalu kuceritakan pada suami, agak berbeda dengan perjalanan ke Bandung yang biasa kami lakukan, sore itu sambil memasukkan koper dan barang bawaan lainnya ke dalam bagasi mobil, sempat terlintas di kepalaku tentang cerita hantu tersebut dan terbersit ... "jangan-jangan ketemu hantu". Tapi seperti biasa, aku selalu menepis firasat-firasat buruk karena tidak mau meracuni isi kepalaku dan malangnya seperti  kejadian-kejadian yang lalu, firasat itu benar-benar terjadi.

Percaya atau tidak... terserah. Tapi pengalaman itu melengkapi cerita orang mengenai hantu di jalan tol Cipularang.

Minggu, 01 November 2009

NASI HIJAU BAKAR


Description:
Resep nasinya ditemukan di sebuah tabloid. Setelah dicoba ternyata enak sekali dan sekarang jadi makanan favorit seluruh keluarga

Ingredients:
Bahan Nasi Hijau:
2 sdm Margarin
300 gr beras cucu bersih dan tiriskan
2 ikat bayam petik daunnya
250 ml air
6 lembar daun salam
2 batang serai
1 sdt kaldu instan
1 sdt garam
2 ikat daun kemangi ambil daunnya
Daun pisang untuk pembungkus

Bahan Isi:
150 gr udang kupas (bisa diganti dengan fillet ayam)
100 gr jamur
150 ml air
15 buah cabe rawit utuh
3 lbr daun jeruk purut
2 btg serai dimemarkan
2 sdm margarin

Bumbu halus:
1 sdt ketumbar
5 bh bawang merah
3 siung bawang putih
1 cm kunyit
1 sdt garam


Directions:
1, cuci bersih bayam, proses dalam blender dg menambahkan air hingga halus, saring lalu ambil airnya

2. Bahan nasi:
- panaskan margarin tumis beras,
- masukan salam dan serai,
- masukan air bayam masak sampai air terserap habis.
- Masukkan kemangi dan aduk hingga rata.
- sisihkan

3. Bahan Isi:
- panaskan margarin, tumis bumbu halus, daun jeruk dan serai hingga harum
- masukkan udang atau ayam, masak hingga berubah warna
- masukkan jamur, rawit utuh dan air.
- Masak hingga air mengering

4. Penyelesaian
- ambil daun pisang, taruh 4 sendok makan adonan nasi, ratakan
- taruh adonan isi ditengan
- bungkus seperti lontong sematkan lidi/atau lipa kedua ujung daun
- kukus dalam dandang panas selama 30 menit atau sampai nasi matang
- bakar di atas bara api hingga daun kecoklatan

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...