Rabu, 01 Agustus 2007

Super woman kah, anda?

Sudah hampir dua bulan, saya nggak sempat up date multiply. Itu berarti saya tidak sempat lagi menulis pengalaman atau apapun saja yang terjadi selama kurun waktu hampir dua bulan itu. Bisa jadi karena pikiran saya tidak lagi sempat mengembara atau bisa juga karena kejadian-kejadian menarik yang berlangsung selama ini tidak lagi sempat dicerna lebih mendalam. Tapi yang pasti …. ini menandakan bahwa otak, jiwa dan terutama fisik saya sedang lelah. Kalau fisik tidak lelah, tentu saya masih mampu meluangkan sedikit waktu menjelang tidur, seusai mandi dan shalat isya untuk membuka notebook. Menuliskan opini atau hanya sekedar catatan atas kejadian yang saya alami setiap hari.

Suami walaupun terlihat memaklumi kesibukan kerja istrinya, tetap saja masih terpancar rasa “kurang suka” di wajahnya berbalut rasa prihatin, melihat istri berangkat terburu-buru di pagi hari untuk pulang ke rumah dengan wajah lelah menjelang tengah malam.

Anak, sama saja. Walau saat berbicara di telpon terdengar “mau mengerti” bahwa ibunya tidak dapat menemani makan malam, tetap saja memprotes di keesokan paginya, atas ketidakhadiran ibunya pada saat makan malam.

Ini memang dilema pengaturan waktu bagi istri atau ibu rumah tangga yang bekerja. Khususnya mereka yang bekerja sebagai “kuli” …., bukan sebagai majikan bagi dirinya sendiri. Bagi perempuan yang masih bekerja pada jam kerja yang teratur yaitu 08.00 to 17.00, pengaturan waktu antara kewajiban professional dan kewajibannya sebagai istri dan ibu rumah tangga, mungkin tidak terlalu bermasalah. Namun tidak begitu dengan pekerja perempuan yang karena tugas dan tanggung jawab pekerjaan “memaksanya” untuk selalu siap bekerja atau dihubungi untuk masalah pekerjaan selama 24 hours dan 7 days a week. Apalagi manakala sang suami masih berpaham tradisional yang menuntut istri untuk siap “melayani” keperluan keluarga.

Kala sepasang manusia berjenis kelamin lelaki dan perempuan memadu janji untuk sehidup semati dan membentuk rumah tangga, pembagian porsi tugas sebagai pencari nafkah, mengurusi rumah tangga termasuk manajemen keuangan, mengurus anak termasuk juga pendidikannya seringkali tidak menjadi topik pembicaraan yang serius. Calon pasangan itu seolah-olah sudah mengerti bahwa kesemuanya akan berjalan secara alamiah. Masing-masing seakan-akan sudah mengerti akan hak, kewajiban dan tanggungjawabnya. Belum lagi bila menyangkut pada hak dan kewajiban pasangan suami istri di mata hukum. Hampir semua pasangan merasa bahwa kesemuanya akan berjalan aman-aman saja. Jarang ada calon pasangan suami istri yang berani menandatangani perjanjian pra nikah.

Hampir dua tahun yang lalu, saat kami berdiskusi dengan seorang teman perempuan dan akhirnya sepakat bahwa perjanjian pranikah layak ditandatangani menjelang pernikahannya, ternyata tidak mampu meyakinkan calon suaminya saat itu. Teman itu sekarang sedikit menyalahkan dirinya atas ketidakberdayaannya “memaksa” suaminya menandatangani perjanjian tersebut, manakala masalah rumahtangga terutama yang berkaitan dengan keuangan dan kewajiban "membantu mengurus bayi" mulai menjadi persoalan terutama dengan adanya intervensi dari mertua perempuan.

Problem mungkin masih bisa terhindari bila istri tidak bekerja, istri bekerja di rumah atau berwiraswasta. Mereka tentu bisa mengatur waktu kerjanya sekaligus mendedikasikan waktunya sama baik antara pekerjaan dan kewajiban rumah tangga.

Bagi istri tidak bekerja, ketergantungan keuangan kepada suami, akan membuatnya “relatif” lebih bisa menerima “tekanan” persepsi tradisi yang masih kental di masyarakat bahwa seorang istri dan ibu “wajib” mengabdi kepada suami, anak-anak dan kehidupan rumahtangganya. Menjaga dan mendukung agar karir suaminya terus berkembang dengan baik. Anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak baik yang membanggakan kedua orangtuanya. Itu sebabnya, bila tanpa terduga terjadi suatu masalah dalam rumahtangganya, masyarakat, tanpa mengetahui latar belakangnya, langsung menuduh bahwa masalah tersebut terjadi karena kesalahan istri atau ibu yang tidak mampu “mengendalikan” suami, anak dan roda kehidupan rumah tangganya.

Perempuan bekerja dan kemudian sekaligus menjadi istri dan ibu, bukanlah hal yang aneh pada jaman sekarang. Kesempatan memperoleh pendidikan yang setara dengan lelaki, penemuan alat kontrasepsi yang memungkinkan perempuan menikah untuk “memiliki” hak menentukan kapan dia berfungsi sebagai “pabrik anak” (walaupun tidak selamanya dapat dilakukan). Kesemuanya kemudian mengubah paradigma dan persepsi perempuan atas hak-hak dan kewajibannya baik sebagai istri, ibu maupun individu.

Sebelum akhir tahun 50an, paradigma pendidikan bagi anak perempuan dicekoki dengan ucapan “untuk apa sekolah tinggi, nantinya toh akan masuk dapur juga”. Dengan demikian perempuan yang menempuh jenjang pendidkan universitas masih dapat dihitung dengan jari. Namun kemudian mulai terjadi perubahan akses kepada pendidikan tinggi, Orangtua mulai dapat menerima bahwa perempuan tidak melulu disiapkan sebagai ibu rumah tangga saja, tetapi juga mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan anak lelaki, walaupun masih banyak di antara mereka yang kemudian tidak meneruskan kuliahnya atau tidak bekerja, setelah menikah baik karena alasan suaminya berkeberatan ataupun karena pilihannya sendiri. Tetapi, perempuan mulai melihat kesempatan pengembangan diri. Menjadi “seseorang” yang dipandang dan dihargai atas kemampuan dirinya. Bukan lagi hanya sebagai subordinate dari suaminya.

Masalah mungkin akan mulai timbul manakala salah satu pihak semakin larut pada haknya sebagai individu dan kemudian sedikit demi sedikit secara tidak sadar, karena kesibukannya mulai mengabaikan kewajiban dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga. Seorang lelaki yang tenggelam pada kehidupan individunya dan sibuk mengejar karir sangat diuntungkan oleh persepsi dan paradigma yang melekat di masyarakat sehingga jarang terdengar seorang istri memprotes kesibukan suami bekerja. Apalagi kalau karir suami kemudian melesat cepat dan membawa keberuntungan financial keluarga. Namun lain halnya apabila istri bekerja yang mengalaminya.

Seorang mantan menteri (perempuan) di jaman Suharto, pernah berkata pada saya, saat kami ngobrol dan saya menyatakaan kekaguman terhadap salah satu tokoh nasional perempuan.

“Jangan iri dengan keberhasilan mereka (para tokoh perempuan). Sebagian besar dari para tokoh itu memiliki kehidupan rumahtangga yang dingin. Sebagian besar lelaki Indonesia belum mampu menerima kenyataan bahwa secara professional istrinya memiliki kemampuan yang melebihi kemampuannya. Manakala dia mendapati diri “terkalahkan” oleh kemampuan istrinya, maka akan ada berbagai cara untuk “membalas” kekalahannya. Dari yang sangat halus hingga yang vulgar dan barbar. Itulah harga yang harus dibayar oleh perempuan yang ingin eksis untuk dirinya sendiri. Tentu tidak semuanya begitu. Tetapi lelaki generasimu (generasi saya, maksudnya) belum siap untuk menerima kenyataan itu. Mungkin generasi selanjutnya. Jadi …. Pandai-pandailah membawakan diri dalam mengelola rumahtangga dan mengatur keseimbangan hidup.”

Saya juga teringat obrolan dengan salah satu kakak ipar, sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu dia bercerita bahwa keluarga dekat besannya berkeinginan untuk menjodohkan anak perempuannya dengan keponakan lelaki kakak ipar saya. Sebetulnya mereka bisa jadi pasangan intelektual yang pas. Si gadis lulusan PTN terkenal di Indonesia dan menyandang 2 gelar master dari manca Negara sedangkan si lelaki adalah lulusan sarjana dan master di Amerika Serikat. Namun saat kakak ipar menjajaki niat tersebut kepada keponakan lelakinya, ternyata sang keponakan menolak ide perjodohan tersebut. Alasannya sangat sederhana …. :

“Perempuan itu terlalu pandai. Saya hanya ingin memiliki istri yang mampu dan pandai mengatur rumahtangga serta mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya kelak. Saya tidak ingin memiliki istri yang darinya saya hanya mendapatkan “ceramah akademis” dan adu argumentasi yang menyala-nyala.”

Begitulah dilematika kehidupan perempuan. Akan kemana pendidikan dan intelektualitas manakala dia memasuki kehidupan rumahtangga. Pekerjaan memberikan akses independensi keuangan bagi perempuan. Manakala  perempuan memiliki pekerjaan, karir dan tentunya kondisi keuangan yang baik yang membuatnya merasa sangat independent, maka tentu tidak dapat disalahkan bila perempuan menuntut hak dan kewajiban yang sama dengan suaminya.  tidak lagi tergantung kepada suami. Tentu tidak dapat dihindari, akan terjadi konflik berkepanjangan di dalam rumah tangga yang dapat berbuah perceraian bila tuntutan perempuan tidak dapat dipenuhi suami. Mungkin itu pula yang menyebabkan usia pernikahan lelaki maupun perempuan menjadi semakin tinggi dari tahun ke tahun, sebagaimana tingkat perceraian.

Lebak bulus 2 – 29 juli 2007 jam 23.55

Selasa, 31 Juli 2007

Majelis Rumpi Sabtu pagi

Majelis rumpi hari sabtu pagi berakhir tanggal 28 juli yang lalu. Ini nama yang kami berikan buat classe conversation au centre culturelle francaise alias Pusat Kebudayaan Perancis – annexe yang berlokasi di Jl. Wijaya I Jakarta Selatan. Kali ini kami akan break selama satu minggu saja. Biasanya break antar semester berlangsung selama satu bulan, tapi kali ini, diperpendek selama satu minggu saja.

Namanya juga classe conversation, jadi acara rutinnya ya ngobrol. Topiknya macam-macam. Bisa diambil dari kejadian sehari-hari maupun berita politik, ekonomi yang agak serius atau gossip seputar selebriti.

Namanya juga ngobrol, jadi grammaire tidak menjadi perhatian utama bagi sebagian besar peserta kursus. Maklumlah… kalau kita masih berkutat dengan grammaire, ditanggung pasti, ngomongnya nggak lancar. Takut salah …. Takut ditertawakan orang… akhirnya, pembicaraan menjadi tersendat-sendat. Tapi kalau kita “tancap” terus dan berani malu ….. ya, bisa dibayangkanlah…. Rame omongannya, tapi ditanggung nggak keruan bentuk kalimatnya. Itu teorinya….. kenyataannya lain lagi, pembicaraan tetap saja tersendat. Mungkin karena orang Indonesia umumnya agak malas buka kamus…, jadi kosa kata yang dikuasainya relatif sedikit  dan belum mampu menunjang pembicaraan.

Orang yang ingin belajar bahasa Perancis dengan serius, tentu tidak akan betah dengan suasana yang ada di kelas ini. Nggak bikin peserta kursus menjadi lebih pintar. Yang ada malah degradasi kemampuan… Kemampuan menyusun kalimat yang baik dan benar …., kehilangan kemampuan  atas ejaan bahasa dan conjugasion dan kemampuan menulis. Inilah yang, paling tidak, saya rasakan. Sekarang saya tidak mampu lagi menulis surat berbahasa Perancis dengan baik dan benar, padahal surat menyurat dalam berhubungan dengan instansi pemerintahan, menjadi tugas saya, saat mendampingi suami belajar di Perancis sekitar 25 tahun yang lalu. Kalau tidak, urusan mendapatkan “Allocation Familliale” atau Securite Sociale secara gratis, tidak akan tertangani. Ya sudah, terima nasib saja. Apalagi bahasa Perancis bukan bahasa yang dipergunakan dalam dunia pergaulan global pada umumnya.

Itu sebabnya, classe conversation tidak berisi orang-orang yang ingin belajar bahasa Perancis dengan serius, tetapi oleh orang-orang yang hanya ingin mengisi waktunya dan keluar dari rutinitas kerja. Bertemu dengan orang di luar dari kesehariannya. Katakanlah semacam clubbing.

Jadi, salah satu topik pembicaraan minggu lalu adalah tentang “pernikahan diam-diam SBY”, sebelum yang bersangkutan masuk pendidkan di Akademi Militer di Magelang. Ini gossip basi yang pernah ramai dibicarakan di berbagai mailing list menjelang pemilihan umum tahun 2004 yang lalu. Tapi kalau pertanyaannya ditujukan kepada perempuan (karena kebetulan mayoritas peserta kursus adalah perempuan), tentu menarik juga menyimak jawaban-jawaban yang meluncur dari mulut-mulut cerewet lintas generasi. Tanggapan ibu-ibu berusia di kisaran umur 50 tahun tentu berbeda dengan tanggapan “anak-anak”nya yang berumur di bawah 30 tahunan.

Pertanyaannya begini …. “a la place d”Ani Yudhoyono, que feriez-vous en apprenant le premier marriage du mari?”[1] Bagi saya, jawaban pertanyaan tersebut mengingatkan pada kisah tetangga rumah hampir 15 tahun yang lalu.” Kisahnya begini;

Tetangga rumah saya itu pasangan yang sudah memiliki sepasang anak. Si istri sedang mengambil notariat di UI sedangkan suami adalah presiden direktur dari sebuah BUMD. Orangnya tinggi besar, Gagah dan ganteng. Walaupun berasal dari “sebrang” namun tutur katanya sopan, ramah dan teratur. Berbeda dengan istrinya yang terkesan agak tinggi hati. Jadi, tidak heran bila si istri menduga bahwa suaminya banyak memiliki extra marrital’s affair. Apalagi (mungkin) karena kesibukannya, beliau seringkali tiba di rumah menjelang tengah malam. Ini tentu memicu pertengkaran yang berkepanjangan.

Konon, dalam satu pertengkarannya, si istri menyatakan…..;
“Kalau tahu begini rasanya dikhianati suami, lebih baik kita tidak memiliki rumah dan segala kemewahan ini. Orang yang tinggal di kolong jembatan dengan suami yang setia, tentu hidup lebbih bahagia daripada saya.”
Begitu si istri merajuk suaminya yang baru saja tiba di rumah di suatu tengah malam.

Suami yang kelelahan … entah karena lelah “beneran”, atau merasa disindir, tentu merasa sebal. Harapan bisa beristirahat dengan nyaman setelah lelah bekerja sepanjang hari di rumahnya yang besar, malah disambut dengan sindiran tajam, lalu meluapkan kemarahannya ;
“Kalau kau merasa tidak bahagia tinggal di rumah ini ….silakan keluar dan tinggal di kolong jembatan dengan suami impianmu itu…!!!”

Si istri kontan terdiam, kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan suaminya yang telak mematahkan rajukannya. Tentu dia tidak akan pernah rela meninggalkan rumah mewah dan segala kenyamanan hidupnya. Semua kehidupan yang menjadi impiannya dan diperjuangkan sedikit demi sedikit sejak awal masa pernikahan yang sederhana dulu. Dia juga tidak akan rela melepaskan kenyamanan itu untuk memberikan tempat dan kenyamanannya  kepada seorang perempuan lain, apabila dugaannya bahwa suami memiliki “perempuan lain” dalam hidupnya.

Bagaimana mungkin…., bertahun-tahun bahu membahu dengan suami untuk meraih kenyamanan hidup dalam bentuk harta, jabatan dan nama baik, lalu saat semuanya telah tergenggam, datang “orang baru” menikmati hasil perjuangannya??? Tidak…. Tentu tidak akan dilepaskannya posisi yang nyaman ini. posisi yang sebagai istri yang memberikannya akses pada kekayaan, posisi terhormat di keluarga maupun masyarakat sebagai istri dari suami “yang berhasil” dalam karirnya. Dengan berbagai cara, akan dipertahankannya status sebagai istri.

Itukah yang ada di dalam benak para istri para pejabat, pengusaha atau para lelaki “kaya dan berhasil” lainnya, yang dikhianati oleh suami. Apalagi kalau perempuan-perempuan itu hanya ibu rumah tangga yang sudah merasa cukup nyaman dengan statusnya sebagai subordinate dari suaminya. Tentu posisi tawarnya untuk menuntut kesetaraan dalam berbagai segi kehidupan rumah tangga semakin lemah dan dia hanya bisa menerima suratan takdir. Apapun yang terjadi.

Lebak bulus 30 juli 2007 jam 20.30


[1] sebagai Ani Yudhoyono, apa yang akan anda lakukan, mendengar berita pernikahan pertama suami?

Selasa, 19 Juni 2007

The Princess


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Jean P. Sasson
http://www.jeansasson.com/princess_trilogy.htm
Princess adalah salah satu trilogy dari Jean P Sasson. Dua buku lainnya adalah Princess Sultana’s Daughters dan Princess Sultana’s Circle.

Jean P Sasson, pengarang buku Princess, bertemu dan berkenalan dengan Sultana (bukan nama sebenarnya) salah satu cucu King Abdul Aziz, pendiri dinasti Al Saud pada tahun 1983 dan berhubungan erat hingga tahun 1991, saat Jean P Sasson benar-benar meninggalkan Saudi Arabia. Keakrabannya dengan Sultana, telah menjadikannya sebagai tempat Sultana mencurahkan isi hati, mimpi-mimpi dan keinginannya untuk “memerdekakan” perempuan Arab dari “penjajahan” kaum lelaki bangsanya.

Ini buku yang bercerita tentang kisah nyata kehidupan para putri kerajaan Saudi Arabia dan tercermin dalam kehidupan putri Sultana, salah satu cucu King Abdul Aziz. Ayah Sultana adalah anak dari satu di antara 300 orang isteri King Abdul Aziz. Dari istri-istrinya tersebut, King Abdul Aziz memiliki tak kurang dari 50 anak lelaki dan 80 anak perempuan dan ayah Sultana merupakan satu di antara 50 anak lelaki Abdul Aziz. Dinasti Al Saud, hingga kini merupakan penguasa Kerajaan Saudi Arabia.

Sultana adalah anak bungsu dari isteri pertama ayahnya. Keluarga mereka hanya memiliki satu orang anak lelaki, Farouq, yang cepat menjadi "raja" di keluarga dimana segala titahnya wajib dituruti. Sebagaimana keluarga Arab, anak lelaki merupa "harta berharga". Anak lelaki merupakan kebanggaan sementara anak perempuan selalu merupakan "bencana keluarga" Paham dan tradisi ini masih lekat seolah mewarisi tradisi masa jahiliyah sebelum turunnya agama Islam.

Sultana kecil tumbuh dalam pemberontakan. Otaknya yang cerdas seakan meraba dan kemudian secara perlahan-lahan melihat berbagai "penyimpangan" ajaran agama Islam di dalam kehidupan keluarga Arab. Ajaran Islam yang meninggikan harkat perempuan di dalam masyarakat maupun keluarga serta memberikan perlindungan kepada perempuan diinterpretasikan dengan pemahaman patriarchat yang memutarbalikkan esensi ajaran agama.

Perbedaan perlakuan kepada anak perempuan dan anak lelaki, yang terjadi di rumahnya, sangat terasakan dengan kelahiran Farouq di dalam keluarga. Serentak, Farouq mendominasi kehidupan keluarga, menyisihkan kepentingan anak-anak lainnya yang terlahir lebih dahulu maupun terhadap Sultana. Apalagi, ternyata kelahiran Farouq merupakan kelahiran lekaki satu-satunya di dalam keluarga, menjadikan ibu Sultana terbelenggu rasa khawatir, bahwa kelak suaminya akan menambah dan menambah lagi isteri baru demi mendapatkan banyak anak lelaki sebagai “kekayaan dan kebanggaan” keluarga.

Sultana juga melihat dan merasakan kegetiran kehidupan kakak perempuannya Sarah, terutama saat kakaknya Sarah yang saat itu baru berumur 17 tahun, dipaksa menikah dengan pria yang berumur 62 tahun dan berstatus sebagai isteri ke tiga. Sarah sebagaimana perempuan Arab lainnya, telah mengenakan cadar saat berumur 15 tahun, yaitu ketika mendapatkan menstruasi, Sarah yang cantik dan pandai terpaksa mengubur cita-cita dan minatnya dalam bidang seni. Kegetiran dan ketidaksiapannya menghadapi pernikahan akhirnya membuat Sarah nekat mencoba menghabisi hidupnya.

Sultana sendiri akhirnya beruntung memperoleh suami yang dapat memahami cita-citanya untuk membebaskan belenggu “kekuasaan” lelaki dalam kehidupan perempuan. Mereka hidup bahagia di tengah pergulatan hati Sultana melihat dan merasakan penderitaan para wanita disekitarnya, walau kebahagiaan tersebut akhirnya ternodai saat suami Sultana menyatakan akan mengambil istri kedua. Hal mana menyebabkan Sultana membawa anak-anaknya “kabur” dari Saudi Arabia, demi memprotes keinginan suaminya tersebut.

Buku ini semakin memperkuat dugaan bahwa kehidupan sosial di Saudi Arabia “masih” belum beranjak dari tradisi maskulinitas jaman jahiliyah yang sangat jauh dari ajaran agama Islam yang “meletakkan” perempuan pada posisi terhormat. Perempuan Arab masih menjadi obyek seksual dari para pria dan bahkan yang paling parah, persepsi pria Arab terhadap perempuan non Arab, yaitu bahwa perempuan non Arab adalah semata-mata obyek seksual/pelacur.

Lelaki Arab juga “mewajibkan” perempuan Arab menjaga keperawanannya hingga saat waktunya menikah. Namun, di lain pihak para lelaki Arab dengan bebas merdeka melakukan hubungan seksual dengan perempuan non Arab yang berprofesi sebagai pelayan rumah mereka.

Ketertutupan hubungan perempuan – lelaki di Arab membuat mereka, para lelaki dan perempuan Arab memiliki persepsi yang sangat “primitif” atas hubungan terbuka antara lelaki dan perempuan seperti yang terjadi di Negara non Arab. Ketidaktahuan mereka tentang hubungan lelaki dan perempuan di luar hubungan seksual membuat mereka seakan “tidak bisa menerima” adanya hubungan professional atau kesetaraan antar lelaki dan perempuan.

Itu mungkin yang menyebabkan para lelaki Arab selalu mencari kesempatan untuk melakukan hubungan seksual saat berada di luar Arab dan bahkan tidak jarang dari mereka yang melakukan perjalanan setidaknya 4 kali setahun keluar Arab bahkan hingga ke Indonesia untuk mencari kesenangan duniawi (kawin kontrak atau bahkan hanya mengejar objek wisata seksual). Konon, ada kelompok keluarga kerajaan yang saat ini sudah melebihi jumlah 20.000 orang, setiap minggu mengirim satu pesawat ke Paris untuk membawa perempuan penghibur ke beberapa kota/klub tertentu di Arab untuk melayani mereka

Di samping itu, fakta bahwa Rasulullah SWT berasal dari tanah Arab membuat mereka “merasa” memiliki derajat yang lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain di dunia. Hal yang tentunya sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam yang secara tegas menyatakan bahwa yang membedakan manusia di mata Allah SWT adalah ketaqwaannya.

Buku ini memang layak dibaca agar kita mengerti, sebaiknya Indonesia segera menghentikan pengiriman TKI ke Timur Tengah. Namun membaca bukuini sekaligus menyisakan kepedihan karena ajaran Islam yang sesungguhnya sangat “human” dijungkir-balikkan justru oleh orang Arab. Orang-orang sebangsa dengan Rasulullah SWT. Penerbitan buku ini, bukan tidak mungkin menjadi entry point untuk melecehkan ajaran Islam.

Selasa, 12 Juni 2007

Nostalgia

Mungkin ini penyakit orangtua .... Suka bernostalgia, mengingat-ingat kenangan masa lalu baik yang indah maupun yang sedih. Itu sebabnya, saat angka 40 tahun sudah terlewati... kita akan sangat senang menghadiri reuni dengan teman-teman sekolah/kuliah...
Banyak ragam untuk bernostalgia. Yang suka travelling akan menapak tilasi tempat-tempat yang pernah dikunjunginya di masa lalu, terutama tempat-tempat yang membawa kenangan manis. Yang suka makanan enak, akan mengejar tempat yang menjual makanan kesukaan di masa lalu terutama yang sekarang dipasarkan dengan label "dimasak dengan resep keluarga". Penggemar makan enak ini bisa gila-gilaan. Entah karena makanannya yang enak atau sekedar snob. Teman saya pernah terbang pergi-pulang ke Batam hanya sekedar untuk makan siang dengan menu gulai kepala ikan. Nah... yang senang lagu.... akan mencari lagu-lagu kuno...

Saya sebetulnya bukan penggemar salah satu aliran/genre musik yang fanatik. Apapun yang enak didengar saya nikmati. Mulai dari klasik, rock, R&B, pop, dangdut sampai musik kroncong dan tradisional (kecapi, suling, saluang, gamelan dll).Yang penting nyaman ditelinga dan ini sangat relatif.

Jujur saja, jangan ditanya nama penyanyi jaman sekarang, baik penyanyi lokal, apalagi penyanyi asing. Nggak ada yang nempel di kepala karena semua masuk ditelinga. Kalo enak... ya dinikmati tanpa harus mengetahui nama penyanyi atau nama lagunya.
Week end lalu, saat menemani suami beli cartridge, kami berpisah di lantai dasar Pons square - lebak bulus. Suami naik ke lantai 4, lantainya peralatan komputer. Sedang saya masuk ke atm. Usai dari atm, sambil menunggu saya melihat-lihat MP3. Siapa tahu ada yang berkenan. Repotnya, saya nggak kenal judul lagu dan penyanyi/grup band yang sekarang ini lagi ngetop. Jadi yang dicari, pasti oldies, baik lokal maupun yang berbahasa asing. Walhasil... dapatlah 3 buah cd MP3 dari Santana dan dua buah CD MP3 lagu Indonesianya Tetty Kadi, Ernie Djohan, Lilies Suryani, Bob Tutupoli. Yang paling menyenangkan, saya dapat lagu-lagunya The Rollies yang memang sudah lama saya cari. Selain itu dapat Audio disk Celine Dion (cover d'Elles), Bimbo, Balawan dan satu lagi cd gitar.

Wah seneng banget deh... di rumah beberapa lagu pilihan di convert ke audio supaya bisa dipasang di mobil. Lumayan, sudah dapat sekitar 55 buah lagu oldies yang converted ke dalam 3 buah disk pengisi cd di mobil. Tinggallah anakku yang ngomel.... Ih... mama, lagu di cd nya kuno banget...
Ya.... namanya juga nostalgia

Jumat, 25 Mei 2007

Pendidikan untuk Bertanggung jawab

Bulan Mei adalah bulan dimana kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sayangnya peringatan Hari Pendidikan Nasional didahului dengan kejadian-kejadian yang mencederai makna Pendidkan.

Cedera Pendidikan secara nasional bermula dengan terungkapnya kematian Clift Muntu, praja/Mahasiswa IPDN akibat kekerasan kronis yang mewarnai pendidikan para pamong yang nota bene calon birokrat nasional. Kemudian ada kecurangan-kecurangan yang mewarnai Ujian Akhir Nasional yang bukan saja dilakukan oleh para peserta ujian, tetapi sudah merupakan kecurangan institusional yang melibatkan para pendidik sejak tingkat sekolah yaitu guru dan pejabat Dinas Pendidikan demi mengejar sebuah “prestasi” semu berupa tingginya tingkat kelulusan baik di tingkat sekolah maupun kabupaten/kota ataupun propinsi.

Belum cukup juga kecurangan memoles wajah dunia Pendidikan, kemudian ada kasus tewasnya seorang siswa kelas II SD Belarminus di Jakarta Timur akibat kekerasan teman sekelasnya. Entah sampai kapan kejadian-kejadian buruk ini akan terus berlangsung.

Ternyata, mencari pelaku tindak kekerasan dari berbagai kasus tersebut sangat tidak mudah. Entah karena aparat berwenang kesulitan menemukan jejak pelaku ataukah karena pelaku begitu pandai menyembunyikan perilakunya.

Beranjak lebih jauh dari pengungkapan pelaku tindak kekerasan di bidang pendidikan tersebut, rasanya hampir tidak pernah aparat hukum di Indonesia berhasil mengungkapkan para pelaku tindak kejahatan/pelanggaran di segala bidang. Kalaupun ada kasus-kasus yang terungkap, masyarakatpun terlanjur apatis dan menganggap bahwa pelaku yang dikenai hukuman adalah para kambing hitam semata.
*****

Bruk …. “wa….” Suara adik kecil terjatuh, langsung disambung dengan tangis kesakitan. Bayi berumur 7 – 10 bulan yang mulai belajar berdiri dan berjalan semakin sering terjatuh dan terantuk. Orangtua/pengasuh tak bisa melepaskan pandangan darinya.

Fungsi orang tua/pengasuh anak tidak semata menjaganya tetapi secara tidak sadar kita, orangtua dan pengasuhnya juga memasukkan unsur pendidikan yaitu melalui tindakan, perilaku maupun ucapan. Termasuk juga bagaimana kita bereaksi saat menghadapi seorang anak yang mengalami “musibah” berupa jatuh/terantuk.

Pada umumnya, reaksi pertama orangtua/pengasuh kala melihat anak/bayi menangis kesakitan adalah meraihnya, menggendong dan membujuknya agar berhenti menangis. Dalam upaya menghentikan tangis anak/bayi seringkali orangtua/pengasuh berkata:
“Cup…cup… jangan menangis lagi ya….! Ini kursinya nakal …., kita pukul ya…!” Kira-kira begitulah yang sering terjadi, bila ada anak/bayi menangis karena terantuk kursi.

Secara logika … mana mungkin sebuah kursi bersalah atas musibah itu? Anak/bayi bersalah …? Tentu juga tidak. Ini suatu proses belajar berdiri – jatuh – berdiri kembali untuk kemudian melangkah satu, dua, tiga untuk kemudian mulai berjalan tertatih-tatih. Mengapa harus menyalahkan kursi, meja, pintu atau benda-benda lain di sekitar anak/bayi saat mereka terjatuh. Seolah kita mencari kambing atas “kesalahan” anak/bayi dalam proses belajar. Mengapa tidak kita katakan pada mereka :
“Ayo sayang…. Jangan menangis… Kita coba lagi ya…” 

Berbuat salah dalam suatu proses belajar adalah hal biasa yang akan menambah pengalaman hidup. Yang membuat kita bersemangat untuk belajar dan belajar lagi untuk kemudian tidak mengulangi kesalahan yang sama. Melemparkan penyebab “musibah” – dalam hal anak/bayi yang sedang belajar berjalan kepada benda mati (meja, kursi, pintu dan sebagainya), secara tidak sadar memupuk “rasa” untuk tidak mau mengakui kekurangan/kesalahan diri atau merasakan bahwa semua proses belajar melaui “jatuh dan bangun” merupakan suatu kekayaan pengalaman yang sangat berharga.

Apakah kebiasaan kita untuk enggan mengakui kesalahan dan cenderung mencari kambing hitam dalam segala masalah/musibah yang kita hadapi disebabkan karena sejak dini, kita sudah “terdidik” untuk mencari kambing hitam dari masalah/musibah yang dihadapi? Wallahu alam.

Lebak bulus – Jakarta Selatan 18 mei 2007

Selasa, 22 Mei 2007

Persepsi

“Bu …. Yang kemarin itu baju kan ya…?”, tanyanya saat saya membeli barang yang dijajakannya
”Ya....., ada apa? Nggak suka ya....?” saya balas bertanya.
”Tapi saya bukan muslim, bu.....” jawabnya agak ragu.
”Ah..... itu kan sekedar baju biasa! Nggak ada hubungannya dengan agama dan siapapun boleh memakainya. Siapa yang melarang?”
”Aduh bu. ... bajunya sudah saya berikan pada tukang warung di sebelah situ...”, sahutnya dengan nada menyesal.

Saya hanya mengangkat bahu, sambil berlalu. Sudahlah .... mungkin bukan rejekinya mendapat baju baru,

Itu petikan percakapan saya pagi ini dengan perempuan penjaja pisang di tepi jalan yang biasa saya lalui ketika berangkat ke kantor dan baju yang dipercakapkan adalah satu stel baju perempuan bermodel tunik dengan celana panjang dan berhias bordir. Baju seperti itu umumnya dipakai perempuan paruh baya dalam berbagai kesempatan.

Bagi saya, baju model tunik dengan padanan celana panjang adalah baju biasa saja yang bisa dipakai oleh siapapun tak perduli ras atau agama. Ternyata persepsi saya tentang setelan baju model tunik dengan celana sebagai model baju yang universal, salah. Buktinya, ada seorang perempuan yang ”menolak” memakai baju tersebut hanya karena dia tidak beragama Islam.

Adakah tunik dan rok panjang longgar[1] model A line terlarang untuk digunakan oleh non muslim? Mestinya tidak. Sayangnya, sekarang orang sering salah kaprah untuk memberi label kepada kedua model baju[2] tersebut sebagai ”busana muslim” atau .... bisa jadi, sebagian besar model baju yang di klaim sebagai busana muslim terdiri dari model tunik dan A line
Wallahu 'alam. 




[1] Rok panjang A line, sekarang sering disebut dengan nama gamis atau abaya,
[2] Model Gamis (rok panjang A line) dan tunik

Selasa, 01 Mei 2007

Benarkah Indonesia negeri kaya sumber daya energy dan mineral?

Minggu terakhir bulan April yang lalu, selama 4 hari saya mengikuti in house training yang berjudul “Petroleum Engineer for non Petroleum Engineer”. Jangan ditanya apa hubungan antara arsitektur dengan minyak. Pasti sama sekali nggak ada hubungannya. Tapi begitulah nyatanya … saat perusahaan ingin melebarkan bidang usaha, walaupun nyata-nyata nggak berhubungan dengan traditional main business (real estate), semua staff terpaksa harus siap sedia. Tapi, nggak apalah… tambah pengetahuan, apalagi kalo gratis, kan lumayan.

Dunia perminyakan sama sekali tidak pernah jadi perhatian saya, kecuali sejak ramai dibicarakan orang, di media massa, mengenai perebutan Blok Cepu antara Pertamina dengan Exxon Mobile Oil Indonesia (EMOI). Sejak itu pula, mungkin, berbagai istilah yang berkaitan dengan pengelolaan minyak bumi seperti PSC (Production Sharing Contract), TAC (Technical Assistant Contact), WPnB (Work Program and Budget), POD (Plan of Development), AFE (Authorization For Expenditure) dan banyak lagi istilah lainnya mulai masuk dalam ruang perhatian. Ini baru istilah “luar” yang biasa dikonsumsi publik. Masih banyak istilah teknis perminyakan yang pasti tidak dimengerti oleh orang yang tidak berkecimpung di dalamnya.

Konon katanya, Indonesia memiliki 60 mangkuk (basin) sumber minyak bumi dan gas alam (migas) yang terbentang di sepanjang pantai barat Sumatera termasuk di Laut Cina Selatan, pantai utara Jawa dan berbelok ke selat Makasar, yaitu di sepanjang pantai barat Kalimantan. Sedangkan potensi migas di Indonesia timur masih belum terdeteksi kecuali di sekitar pantai utara Irian. Dari 60 mangkok tersebut, baru 22 buah mangkuk saja yang sudah dikembangkan dan menghasilkan devisa Negara dari migas. Sisanya masih terpendam di dalam perut bumi. Berapa besar cadangan migas Indonesia yang berada dalam 38 mangkuk tersebut? Nobody knows…… Aneh ya Mengapa begitu?

Mestinya…. data-data itu ada di Pertamina yang dulu bertindak sebagai pemegang tunggal Hak Pengelolaan sumber daya energi (migas) di Indonesia. Atau di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Yup .... saya melihat peta potensi Migas Indonesia saat training itu. Cuma…… (lagi-lagi ada “negation” nya), data itu berasal dari data explorasi sebelum tahun 1960 yang diperoleh Pertamina dari pemerintah Belanda saat nasionalisasi ladang minyak Belanda (Shell) oleh Pertamina. Di situ disebutkan bahwa Indonesia memiliki 60 mangkuk yang mengandung minyak bumi dan gas. Berapa besarnya.....? Saya lupa mencermatinya. Tetapi ... sekali lagi, itu data +/- 50 tahun yang lalu. Yang diperoleh saat alat pendeteksi (seismic) masih sangat sederhana.  

Sayangnya, hingga saat ini…. hampir 50 tahun kemudian, pemerintah dan para operator industri migas masih berkutat mengembangkan 22 wilayah kerja tersebut. Sisa potensi migas di 38 mangkuk masih belum tersentuh. Bagaimana mungkin investor tertarik untuk melakukan investasi di bidang yang high risk dan high/low value ini? Pada abad ke 21 ini, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih (3D dan bahkan 4D) seharusnya kita memiliki data yang mutahir yang memungkinkan pemerintah mampu menghitung seberapa besar potensi migas tersebut. Pemerintah tidak punya alat dan data akurat atas kandungan migas.  Semuanya masih dalam bentuk leads. Masih diperlukan berbagai bentuk study dan penelitian untuk mencapai tahap potensi à possible à proven. Kesemuanya masih memerlukan biaya yang sangat besar. Untuk menyerahkan pekerjaan tersebut kepada konsultan, juga diperlukan biaya yang sangat besar. Diperlukan juga semangat bertualang dan menjelajah alam yang masih liar untuk menggali semua potensi migas di Indonesia baik sumber existing (yang di data oleh Belanda sebelum 1960), apalagi untuk menggali potensi yang masih terkubur di wilayah timur. Sayangnya, jangankan untuk menggali potensi baru terutama di wilayah timur Indonesia. Untuk mengembangkan mangkuk yang sudah ada saja, Indonesia belum mampu, terutama dari segi pendanaan.

Memang, ada calon investor yang mau "mengorbankan" dana untuk melakukan "Joint Study". Ini akan memberikan hak prioritas (first right of refusal) kepada calon investor tersebut dan "melemahkan" posisi tawar pemerintah. Namun ... joint study inipun hanya dilakukan pada mangkuk existing saja dan pemerintahpun meng"amin"i alasannya... Masih ada 38 mangkuk yang belum di eksplorasi.

Untuk menarik investor, pemerintah Indonesia harus meng up-date data. Sekarang sudah abad ke 21…. Bagaimana mungkin kita menarik investor baik dari dalam negeri maupun asing, bila pemerintah sebagai fasilitator tidak melakukan explorasi yang cukup untuk memutahirkan data. Dengan demikian ada dasar yang memadai dalam menghitung kelayakan/keekonomian investasi di bidang migas baik bagi pemerintah sendiri maupun calon investor. Ada dasar perhitungan yang sama agar pemerintah tidak "kebobolan" dalam menghitung potensi sumber daya alamnya.

Jadi …. benarkah Indonesia kaya akan sumber daya energy/alam? Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Coba jelajahi tanah di Kalimantan! Sungai-sungai yang maha lebar … dengan air yang masih kebiruan menyiratkan kekayaan alam. Kepulan asap di musim kemarau, banyak disebabkan oleh pergesekan  benda/dedaunan yang sangat kering yang tertiup angin. Ditambah lagi, adanya kandungan batubara yang menyembul di permukaan tanah yang telah gersang karena penggundulan tak terkendali hutan tropis oleh para pengelola HPH.

Lihat pula bongkahan dan danau-danau yang ditimbulkan oleh penambangan timah di Bangka atau sebentar lagi di lahan olahan Newmont di Sumbawa. Coba, tengok pula, betapa Freeport Indonesia telah mengeruk potensi mineral di puncak Grasberg – Irian sehingga puncak gunung tersebut telah menjadi kerucut terbalik sedalam 3.500m. Konon …..tambang tembaga di Irian itu merupakan tambang terbesar ke 3 di dunia. Namun tambang sampingannya yang berupa emas merupakan hasil sampingan emas yang terbesar di dunia. Bayangkan.... dari 20 unit "super trailler" berdaya angkut 200 ton, yang dibuat oleh Caterpillar, konon 12 unit di antaranya beroperasi di Irian, di lahan garapan Freeport Indonesia. Dengan hasil yang fantastis tersebut .... penduduk Irian masih tetap miskin. Irian masih merupakan wilayah tertinggal dan kalaupun “katanya” hasil tambang Freeport banyak ditarik ke “pusat”, nyatanya tidak ada hasil yang terlihat bagi kemakmuran rakyat dan Indonesia masih tetap terbelit hutang.

Indonesia... sekali lagi, konon katanya, kaya raya. Hanya saja, jangankan rakyatnya. Pemerintahpun tidak memiliki data mutahir akan kekayaan alam ini. Akibatnya, saat berhadapan dengan investor asing yang kaya raya, kita tidak mampu berhitung dengan cerdas dan lugas. Lagi-lagi….. karena data yang dimiliki hanyalah data peninggalan Belanda yang dibuat sebelum tahun 1960. Mungkin…. para investor memilik data yang jauh lebih baik daripada pemerintah Indonesia. Mungkin pula, itu sebabnya, betapa Exxon Mobil begitu “ngotot” menguasai Blok Cepu hingga konon George W Bush ikut “nimbrung” memuluskan niat Exxon. Bukan tidak mungkin, data yang dimiliki oleh Exxon lebih akurat dan mutahir dibandingkan dengan data yang dimiliki oleh Indonesia. Rakyat dan pemerintah Indonesia hanya berbicara dengan data yang bersumber dari "katanya" yang tidak dapat diakui secara legal, bukan data ilmiah. 

Jadi ..... benarkah Indonesia kaya akan sumber daya alam (energi)?????
Wallahu’ alam

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...