Senin, 12 November 2007

Mendadak donor darah

Kalau ada suatu perbuatan yang tidak pernah terbayangkan akan dikerjakan pada saat usia sudah menjelang maghrib, maka itu adalah menjadi donor darah. Padahal, karya tulis yang saya buat saat duduk di bangku kelas 3 SMA yang menjadi prasyarat ujian akhir, juga berkaitan dengan darah à judulnya Peredaran Darah Manusia. Karya tulis yang kemudian menjadi salah satu karya tulis terbaik dari kelas IPA.

Sejak awal saya memang tidak suka melihat darah. Warnanya mencekam, apalagi baunya sangat tidak sedap. Amis...!!! Betul-betul sangat tidak menyenangkan. Apalagi kemudian, ada trauma yang berhubungan dengan darah selama bertahun-tahun akibat perdarahan yang saya alami selama hampir 7 tahun. Padahal, sebagai perempuan, darah menjadi bagian keseharian. Minimal, dia hadir satu minggu dalam setiap bulan kecuali saat hamil atau sudah memasuki periode menopause. Tetapi begitulah yang terjadi, seolah tanpa sadar, malam itu,saat mendengar berita bahwa adik saya membutuhkan darah menjelang operasi tumor, saya spontan mengajukan diri menjadi donor darah. Tanpa rencana, tanpa persiapan.

Saat itu, sabtu sore 6 oktober 2007 adik ipar saya menelpon menceritakan kondisi adik yang kurang baik dan memberitahu kebutuhan darah untuk ditransfusi pada hari minggu sebagai persiapan operasi. Spontan saja, saya jawab bahwa saya bersedia untuk menjadi donor. Sama sekali tidak terbayangkan, bahwa untuk memperoleh 1.500cc darah, ternyata membutuhkan minimal 6 orang donor. Entah darimana harus mengumpulkan orang sebanyak itu.

Usai berbuka puasa, saya berangkat ke PMI Kramat via RSCM menjemput adik ipar. Sendiri, karena suami sedang itikaf di At Tin – Taman Mini. Jalan di akhir pekan itu ternyata cukup macet. Butuh waktu 90 menit dari lebak bulus ke RSCM. Pakai salah, lagi. Saya membayangkan PMI masih berlokasi tidak jauh dari jalan Paseban. Ternyata, PMI sudah pindah ke sebrang apotik Titi Murni walaupun masih sama-sama di jalan Kramat Raya.

PMI, seperti biasa sangat ramai dengan calon donor. Sumpek dan kacau balau. Orang yang baru pertama kali berurusan dengan darah, pasti bingung kemana harus mencari informasi bagaimana prosedur permintaan darah atau untuk menjadi donor. Kami hanya melihat ada satu counter di sebelah kiri pintu masuk yang dilayani oleh dua orang perempuan yang dipenuhi manusia. Entah apa yang dikerubungi oleh manusia-manusia tersebut.

Saya masuk ke ruang tunggu, yang belakangan saya tahu ruang tersebut diperuntukkan untuk calon donor yang sudah lolos screening dan hanya menunggu panggilan untuk diambil darahnya saja. Adik ipar saya menyodorkan formulir donor yang sudah diisinya dan tinggal ditandatangani saja.  Sekitar jam 21.00 keluarganya berdatangan untuk mendonorkan darahnya. Kami, akhirnya berenam yang bermaksud mendonorkan sedikit darah, sabar menunggu. Ipar saya harus “menjaga” tumpukan formulir yang sudah dimasukkan ke counter depan, karena kalau tidak, aka nada banyak orang yang menyelipkan uang kepada petugas agar lebih cepat dilayani. Counter itu sendiri merupakan saringan pertama untuk memperoleh data golongan darah dan kadar Hb dari calon donor.

Sekitar jam 23.00, saya baru mendapat giliran untuk di screen kadar Hb dan golongan darah. Alhamdulillah, baik hasilnya. Kadar Hb saya 14,6, cukup tinggi dibandingkan dengan syarat minimum kadar Hb yang dipersyaratkan untuk menjadi donor, yaitu 12,5.

Usai saringan pertama, lalu menunggu kembali untuk diperiksa tekanan darah. Sayang, malam itu hanya 2 orang saja yang bisa lolos saringan. 3 perempuan tidak lolos screening. Dua di antaranya karena sedang menstruasi sedangkan satu lagi karena kadar Hb nya tidak memenuhi syarat. Sedangkan satu orang lelaki gagal menjadi donor walaupun prasyarat Hb memenuhi. Konon, dia masih mengkonsumsi antibiotic untuk menyembuhkan influenza, sehingga tidak diijinkan untuk menjadi donor .

Pada jam 23.45, kami masuk ruang donor untuk diambil darahnya. Cukup singkat, hanya 10 menit saja. Jujur saja, saya tidak berani melihat saat jarum ditusukkan pada lengan kiri saya, maupun aliran darah yang mengalir masuk ke dalam kantung. Warnanya yang merah pekat itu membuat saya mual. Untung saja semua berjalan dengan baik, Dari keduanya diambil masing – masing 350cc. Konon katanya, darah tersebut kemudian akan diproses lagi selama 12 jam sehingga hanya 500cc darah saja yang akan bisa diperoleh.

Usai mencuci tangan, saya langsung menuju tempat parkir mobil. Meminum teh hangat bermadu yang sudah disiapkan dari rumah dan sepotong roti. Malam itu, saya pulang sendiri dan tiba di rumah sekitar jam 00.45. Beruntung sekali, walau baru sekali itu mendonorkan darah, semua berjalan baik-baik.

Kebutuhan darah memang belum tercukupi pada malam itu. Untunglah, hari minggu 7 Oktober 2007, diperoleh bantuan lagi sehingga kebutuhan darah sebanyak 1500cc pun tercukupi. Alhamdulillah.
*****

Entah bagaimana kebijakan penyediaan darah serta manajemen donor darah yang dilakukan oleh PMI maupun rumah sakit. Yang jelas, seperti di banyak kesempatan di tempat-tempat umum,, budaya antri, menghormati hak-hak orang lain dalam pelayanan public sama sekali terabaikan. Bisik-bisik untuk memberikan “sekedar uang lelah” bagi petugas penerima agar lebih cepat dilayani dengan menempatkan formulir di “jalur cepat”, mewarnai rangkaian proses menjadi donor darah.

Petugas melayani dengan sikap yang jauh dari keramahan. Ditambah lagi dengan gerombolan calon donor yang memenuhi meja kerjanya. Lengkaplah sudah alasan untuk membenarkan terjadinya kesemrawutan pelayanan public. Entah sampai kapan kita mampu membenahi pelayanan public.

Reedit 14 Oktober 2007, lebak bulus jam 10.20

Kamis, 01 November 2007

Be a smart patient.

Menjadi manusia yang sehat jasmani dan rohani tentu menjadi dambaan semua orang. Itu sebabnya berbagai cara untuk menjadi sehat ditempuh. Ada yang melakukannya dengan cara sederhana dan mendasar yaitu mengatur pola makan dan berolah raga dan ada juga yang menempuh cara instant dan konsumtif dengan mengkonsumsi food supplement. Semua sah-sah saja untuk dilakukan, tergantung dengan selera, waktu yang tersedia dan tentunya juga dana pendukung.

Menjadi sehat, bisa murah, bisa juga menjadi mahal dan bahkan sangat mahal, tergantung bagaimana kita melihatnya. Kalau mau cara yang murah, cukup dengan mengkonsumsi makanan, sayur dan buah segar produk lokal sebagai sumber serat, tahu tempe sebagai sumber protein nabati. Lalu dilengkapi dengan olah raga berupa jalan cepat ataupun lari. Tidak perlu modal besar, cukup dengan setelan pakaian dan sepatu olahraga.

Atau, kalau mau sedikit bergengsi, menjadi anggota klub olah raga di hotel-hotel, mall atau di komplek perumahan menengah ke atas. Kemudian melengkapi diri dengan food supplement dan vitamin-vitamin dari luar negeri. Inilah gaya hidup golongan menengah ke atas.

Namun ada yang dilupakan, gaya hidup kota besar yang mencekam, stress atas ketatnya persaingan dunia kerja, stress akibat kemacetan di perjalanan, pola makan “enak” yang kurang sehat, turut memberikan sumbangan pada kondisi kesehatan kita. Apalagi meningkatnya usia, secara alamiah akan mempengaruhi kinerja organ tubuh manusia. Penurunan fungsi pencernaan akibat “fatique” karena usia, akan mempangaruhi pasokan energi bagi tubuh. Mungkin ini pula yang membuat industri food supplement berkembang pesat.

Salah satu penyakit degeneratif sebagai akibat dari pola makan dan gaya hidup manusia kota besar, yang sering diidap adalah penyakit jantung, darah tinggi, gagal ginjal dan diabetes mellitus – DM.
*****

Menjadi orang sakit di Indonesia, itu dilematis. Untuk sedikit golongan masyarakat, yaitu golongan atas, yang memiliki dana cukup dan atas asuransi kesehatan, sakit mungkin tidak menjadi masalah yang terlalu serius. Golongan miskin, insya Allah, dengan adanya asuransi khusus untuk keluarga miskin yang konon kabarnya sering disalahgunakan oleh para kerabat pejabat kelurahan, tidak akan mengalami kesulitan mengakses fasilitas kesehatan sejauh mereka “sabar” mengurus dokumen yang dibutuhkan. Namun tidak demikian dengan masyrakat “golongan tanggung”, Tidak cukup berduit untuk mendukung pengobatan jangka panjang, dan tidak cukup miskin untuk memperoleh dukungan asuransi kesehatan bagi keluarga miskin.

Usai dengan masalah dukungan dana untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang baik di rumah sakit, ternyata berhubungan dengan para praktisi kesehatan juga memerlukan “keberanian” untuk “mengkontrol” prosedur pengobatan yang diberikan kepada pasien. Dan fungsi “kontrol” ini bukanlah hal yang mudah. Selama ini, dokter terlanjur diposisikan sebagai “manusia setengah Tuhan” yang mampu menyembuhkan penyakit secara instant. Itu sebabnya, ada dokter “manjur” yang setiap obat yang diberikan dengan cepat menyembuhkan pasien. Dokter seperti ini diburu para pasien dan mereka terpaksa berpraktek hingga jauh larut malam setiap hari. Dokter-dokter laris ini kadang memperlakukan pasien sebagai nomor belaka. Memeriksa pasien secara simultan di ruang praktek. Tidak ada interaksi dengan pasien untuk mengetahui keluhan pasien. Entah bagaimana cara mereka mendeteksi penyakit pasien, kalau pemeriksaan dilakukan secara simultan. Namun anehnya, dengan perlakuan seperti itupun, pasien tidak kunjung surut.
*****

Adik perempuan saya yang terkecil, sudah lebih dari 5 tahun menderita DM. Seharusnya, walaupun tidak dapat disembuhkan, DM mudah diatasi. Dalam berbagai literature, penderita DM dapat hidup secara normal asalkan mampu mengkontrol kadar gula darahnya dengan memperhatikan konsumsi makanannya dan rutin berolahraga. Berlainan dengan penderita DM lainnya, DM yang diderita adik saya ternyata tidak mudah diatasi, malah semakin menjadi-jadi dan menyerang organ pencernaan dan kandung kemih. Melalui endoskopi, diketahui bahwa seluruh saluran pencernaan, ususnya, penuh dengan parut-parut merah dan perlukaan seperti sariawan. Kandung kemihnyapun penuh bakteri. Kalau saja terlambat buang air kecil, maka bakteri itu akan bereaksi “naik” sehingga dia muntah tak terkendali dan berakhir di ruang perawatan rumah sakit. Begitu selalu berulang-ulang. Konon kabarnya, kadar amilasenya sangat tinggi. Dokter menyebutnya bahwa adik saya mengalami komplikasi DM berupa pankreatitis.

Suatu kali, saat di rawat di RSPC, dia sempat terjatuh dan pingsan. Dokter kemudian memintanya untuk dilakukan MRI dan CT scan. Dari hasil keduanya diketahui bahwa ada tumor sebesar 27cm3 tersembunyi di antara otak dan simpul syaraf matanya.

Mendengar hasil MRI dan CT scan tersebut, adik saya yang lainnya, kebetulan dokter, walaupun hanya spesialis anak, sempat bicara pada si Arab (demikian kami memanggil suami adik yang sakit itu), bahwa satu-satunya “itis”, maksudnya misalnya bronchitis, meningitis, yang tidak disebabkan oleh virus atau bakteri adalah pancreatitis, karena posisi kelenjar pancreas tidak berhubungan “dunia luar” Jadi, kalau terjadi pankreatitis, maka penyebabnya ada di dalam tubuh itu sendiri. Adik saya menduga bahwa posisi tumor tersebut menekan syaraf pusat pengendali kelenjar tubuh sehingga mengacaukan fungsi seluruh kelenjar tubuh, di antaranya kelenjar pancreas. Dia menyarankan si Arab untuk mengkonsultasikan hal ini pada tim dokter yang menangani adik. Meminta agar tim dokter RSPC yang menanganinya mulai memperhatikan keberadaan tumor tersebut sebagai penyebab tidak terkendalinya DM yang diderita adik.

Namun sayang sekali, tim dokter menampik dengan tegas perkiraan adik saya itu.
“Tidak ada hubungan sama sekali antara atas (maksudnya tumor di kepala) dengan DMnya.Pankreatitis yang diderita, semata-mata sebagai komplikasi dari DM. Nah itu yang akan kami tangani”

Begitulah, bertahun-tahun adik saya tidak henti–hentinya keluar – masuk RSPC. Anak-anaknya mengistilahkan RSPC sebagai pesantren tempat ibunya mondok. Semua orang stress dibuatnya. Masuk dan keluar rumah sakit menjadi berita rutin yang membuat kami menjadi tidak sensitive lagi mendenganrnya dan malah menjadi semakin “sebal”. Sebal tentu saja, karena usul untuk mencari second opinion dan bahkan pindah rumah sakit, terutama ke RSCM dengan pertimbangan disini banyak dokter ahli dan pusat rujukan RS se Indonesia atau minimal ke Bandung agar bias dirawat di RS bawah pengawasan adik saya E, selalu ditampik si Arab dengan berbagai dalih. Mempengaruhi adik untuk mengikuti keinginan kami agar dia bersedia pindah rumah sakit juga tidak berhasil.
“Terserah abang saja”, begitu selalu jawabnya. Jawaban yang membuat kami, kakak-kakaknya yang menginginkan kesembuhannya, menjadi sebal. Kami betul–betul kehilangan akal dibuatnya.

Bulan Mei 2007, YY dirawat lagi di RSPC selama satu bulan. Sudah habis–habisan semuanya. Semuanya betul–betul lelah lahir batin. Bukan saja anak dan suaminya saja yang merasakannya, tapi seluruh keluarga besar. SI Arab masih juga keras kepala tidak mengijinkan istrinya pindah ke RSCM. Entah bagaimana caranya mengubah pikirannya.

Sampai suatu malam, saya teringat, ada suatu rencana yang pernah terucap namun sudah satu tahun berlalu, rencana tersebut belum juga terlaksana. Usai menjenguk adik di rspc, dalam perjalanan pulang saya membicarakan kembali rencana tersebut dengan suami. Harus segera dilaksanakan, sekaligus memohon doa kesembuhan bagi ibu dan adik saya yang sama-sama menderita DM. setelah menghitung-hitung biaya, kami menelpon adik bungsu, lelaki di Bandung, meminta bantuannya agar rencana tersebut dapat dilaksanakan sekaligus prasyarat mendoakan kesembuhan ibu dan adik saya

Begitulah, rencana tersebut sudah terlaksana. Kami berbaik sangka saja dan tentunya sangat percaya bahwa Allah SWT akan menunjukkan cara dan jalan bagi kesembuhan keduanya terutama adik saya yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Bayangkan saja, tahun 2007, dari Januari hingga akhir Agustus ini saja rata-rata 1x per bulan dia di rawat di RSPC dengan rata masa inapnya 3 minggu. Jadi. Setiap masa rawatnya, hanya ada jeda 1 minggu saja dia tinggal di rumah.

Awal September 2007, adik saya masuk lagi ke RS. Saya sudah merasa “muak” dengan berita seperti itu. Jenuh dengan blunder yang diciptakan oleh dokter-dokter termasuk juga oleh adik dan suaminya. Sukar untuk “memecahkan” keterikatan satu sama lain agar adik bisa keluar dari rs tersebut dan ditangani oleh tim dokter dari rs yang lain.

Entah apa yang terjadi, setelah dua minggu di rs, pada awal-awal bulan Ramadhan, si Arab mengabarkan bahwa secara coincidence, saat harus konsultasi kepada dokter mata karena penglihatannya semakin mengabur, dokter matanya absent sehingga dia ditangani oleh dr Rita. Si dokter ini dengan santai mengatakan bahwa penglihatan adik akan kembali normal apabila tumor diangkat. RSCM, di bawah supervisi Prof Padmo Santjojo telah berhasil menangani 3 pasien, kesemuanya berhasil. Bahkan salah satu pasien adalah dokter yang kemudian bisa berpraktek kembali dengan baik.

Mendengar kabar ini, adik saya begitu antusias dengan kesempatan untuk meraih kesembuhan. Kesembuhan yang terjangkau. Sebetulnya operasi tumor sempat menjadi rencana. Namun dokter rspc menyebutkan angka antara 600 – 800 juta untuk biaya operasi tersebut termasuk operasi plastic untuk menyamarkan bekas sayatan luka operasi. Itulah yang menyebabkan operasi pengangkatan tumor tidak pernah terlaksana. Apalagi dokter rspc sudah tegas-tegas menyatakan tidak ada hubungan antara keberadaan tumor dengan pankreatitis. Sementara adik saya E sangat yakin bahwa pankreatitis dan rusaknya luas pandang adik saya disebakan oleh tumor tersebut.

Si Arab kemudian meminta dukungan kami atas rencana operasi tumor di rscm dan berusaha agar seluruh rangkaian prosedur operasi tersebut berada di bawah kendari Prof Padmo. Tinggal lagi menunggu kondisi adik sedikit membaik agar cukup mampu melaksanakan perjalanan transfer dari rspc di ujung selatan Jakarta ke rscm.

Begitulah, Jum’at 5 Oktober 2007 menjadi “hari bersejarah”. Perjalanan transfer dari rspc ke rscm berjalan baik, Prof Padmo menyediakan waktu yang cukup untuk memperhatikan kondisi adik yang sudah sangat kritis dan langsung “memerintahkan” seluruh jajarannya untuk segera menangani rencana operasi.

Week end pertama di bulan Oktober 2007 menjadi hari yang sibuk bagi tim dokter yang ditunuk prof Padmo untuk operasi adik saya. Serangkaian persiapan pra operasi dilaksanakan. Berbagai test laboratorium, MRI, CT scan, transfusi darah dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu. Hari Senin seluruh hasil laboratorium sudah tersedia untuk dianalisa. Dokter sempat menawarkan bila adik ingin berlibur dulu sebelum melaksanakan operasi karena bila operasi segera dilaksanakan, maka adik tidak akan berlebaran di rumah.

Entahlah… apakah tawaran tersebut memang untuk memberikan adik kesempatan berlebaran dengan keluarga. Atau karena mereka tahu bahwa operasi tersebut merupakan operasi besar yang sangat beresiko dan tim dokter kahwatir adik tidak mampu melewati masa kritis. Maklum saja, sebelum transfusi darah, kadar HBnya di bawah 8 dan PH darahnya asam sehingga ada resiko perdarahan yang hebat. Gula darahnya masih cukup tinggi, untuk itu pula adik harus dibekali dengan obat anti perdarahan yang harganya 3,5 juta per ampul.

Namun kami sudah bersepakat, ditundapun tidak menjamin bahwa kondisi adik akan lebih baik. Mengingat perjalanan penyakitnya selama ini, malah bukan tidak mungkin kondisi adik malah akan memburuk. Jadi, lebih baik melakukan operasi pengangkatan tumor sesegera mungkin.

Selasa 9 Oktober jam 10.00, adik masuk ke ruang operasi di rscm dan baru keluar pada jam 16.30. Usai melewati masa kritis selama 8 hari di ICU, sekarang dia sudah kembali ke ruang perawatannya di paviliun Cendrawasih. Pandangannya yang semula kabur ( 5% dan 45% saja) sudah berangsur kembali jelas. Dia sudah bisa melihat tv kembali. Pola diet ketat yang semula dilakukan selama dalam perawatan di rspc, di rscm dijungkir-balikkan. Apa-apa yang dilarang untuk dimakan, sekarang malah dianjurkan untuk dimakan. Pola makan seimbang. Begitu katanya. Semoga ini menjadi akhir dari segala penderitaannya. Tinggal lagi mengatur pola hidup dan pola makannya agar DM bisa terkendali dengan baik.
*****

Apa yang diperoleh dari semua pengalaman ini? Ternyata kita tidak bisa mengandalkan pada diagnosa dan prosedur pengobatan yang dilakukan dokter. Pasienpun harus pro aktif dan kritis terhadap seluruh tindakan yang dianjurkan dan akan diambil oleh dokter.

Ada dokter yang kritis dan mau belajar dari kasus-kasus yang ditanganinya untuk memperluas wawasan sekaligus mengasah dan mempertajam ketrampilannya dalam menangani penyakit. Namun kebanyakan dokter terutama yang berpraktek di rumah sakit swasta di Jakarta sudah menjadi robot-robot ekonomi yang tidak lagi sensitif terhadap penderitaan pasien. Merekapun seakan lupa pada janji dan etika profesinya.

Atau mungkin karena patient (orang sakit) juga berarti patient (sabar). Jadi, patient must be patient ….. orang sakit harus sabar. Nggak boleh protes, mesti pasrah.

Tuesday, October 16, 2007, 5:27:13 PM 

Rabu, 24 Oktober 2007

Pelecehan Warga Indonesia di luar negeri.

Kasus pelecehan terhadap warga Indonesia yang sedang melaksanakan perjalanan ke luar negeri, apalagi yang bertempat tinggal di luar negeri, semakin kerap terjadi. Awalnya hanya terjadi pada para tenaga kerja Indonesia – TKI yang, terutama, sedang mengadu untung di berbagai Negara Timur Tengah. Bukan sekedar pelecehan saja tetapi sudah mengarah kepada penyiksaan fisik yang kerap kali mengundang maut.

Belakangan ini, pelecehan terhadap warga Indonesia sudah pula merasuki warga Malaysia. Negara yang warganya dianggap serumpun dengan bangsa Indonesia. Ironisnya, pelecehan tersebut tidak lagi hanya menimpa para TKI, yaitu para pembantu rumah tangga dan pekerja gelap, yang notabene berada pada strata sosial rendah, tapi bisa menimpa siapa saja. Bahkan istri diplomatpun diperlakukan dengan tidak semena-mena, di Malaysia. Mengapa ini sampai terjadi?

Tenaga Kerja Indonesia di Timur Tengah.
Pelecehan TKI di Timur Tengah sangat kerap terjadi. Penyebabnya banyak sekali; antara lain perbedaan persepsi antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Saudi Arabia tentang tenaga kerja domestik baik perempuan maupun lelaki. Kalau kita sempat membaca buku Princess (memoire dari salah satu kerabat istana Saudi Arabia), tentu bisa mengerti bahwa secara tradisionil, masyarakat Saudi Arabia sangat bangga dengan kenyataan bahwa bangsa mereka telah diberi anugerah oleh Allah SWT sebagai bangsa yang melahirkan Rasul terakhir. Kondisi ini menyebabkan mereka merasa memiliki martabat yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tentunya terlebih kepada bangsa-bangsa pencari nafkah di negara mereka, terutama pencari nafkah golongan rendah. Pencari nafkah golongan rendah ini, di mata mereka tidak ubahnya seperti budak di jaman pra Islam.

Di samping itu, kedudukan perempuan dalam strata sosial di Timur Tengah masih sangat rendah. Ajaran Islam yang sangat melindungi dan memuliakan kedudukan perempuan, dimanipulir sedemikian rupa oleh masyarakat yang sangat patriachart. Perlindungan pada perempuan diimplementasikan pada ”pembatasan” hak-hak ekonomi, sosial, politik dan budaya. Akses pada pendidikan dan pekerjaanpun dibatasi sedemikian rupa, sehingga perempuan ”dipaksa” bangga dengan status sebagai ”perhiasan” rumah dan atau alat reproduksi semata. Bukan itu saja; ”pemuliaan” status perempuan tersebut sekaligus menghilangkan kesempatan komunikasi dua arah antara dua mahluk yang berbeda jenis kelaminnya. Akibatnya, sangat mudah ditebak, lelaki Timur Tengah tidak terbiasa memperlakukan perempuan dalam keadaan setara. Mereka memperlakukan perempuan sebagai obyek atau paling banter sebagai subordinat saja. Akibatnya,saat lelaki Arab bertemu dengan perempuan asing yang berfungsi sebagai tenaga kerja domestik, maka perempuan ditempatkan sebagai objek semata. Seorang budak, obyek yang akan ”dilalap” habis saat seorang lelaki Saudi memandang dan atau menyadari keberadaan perempuan bukan muhrimnya di lingkungan rumah.

Kondisi seperti ini sangat tidak disadari oleh para TKI. Perempuan-perempuan desa dengan pendidikan, pengetahuan serta ketrampilan seadanya seakan masuk ke kandang harimau. Perbedaan budaya, kebiasaan hidup, cuaca yang panas dan kering, bahkan cara pandang masyarakat Arab terhadap keberadaan TKI tidak menjadi bekal yang menjadi pegangan tatkala TKI masuk pada bursa kerja di Timur Tengah. Entahlah, sampai sejauh apa Pemerintah Indonesia melalui Departemen Tenaga Kerja sudah memberikan pembekalan dan perlindungan kepada para TKI tersebut.

Perempuan Indonesia terbiasa hidup dan bergaul secara terbuka dengan lelaki. Ditambah lagi, tidak semua TKI perempuan yang bekerja di Timur Tengah adalah perempuan yang telah terbiasa mengenakan jilbab penutup aurat. Mereka, mungkin perempuan desa yang terbiasa memakai gaun sebatas lutut berlengan pendek. Perempuan yang suka duduk berbanjar di tangga rumah dengan hanya menggunakan kutang, mencari udara segar sambil mencari kutu usai memasak di dapur.

Dengan latar belakang seperti itu, dapat dibayangkan, di tengah cuaca panas dan kering tanah Arab, perempuan yang tidak terbiasa menggunakan jilbab tersebut, serta merta akan melepaskan penutup auratnya. Mereka perpikir, toh sudah berada di rumah. Tempat yang dianggapnya cukup aman dari pandangan liar lelaki Arab. Mereka lupa, bahwa di rumahpun ada lelaki, entah itu majikannya, anak-anak majikan atau sanak keluarganya yang tidak terbiasa dengan pemandangan asing. Seorang perempuan asing, berstatus sebagai budak keluarga, berpakaian ”terbuka” menurut adab yang berlaku di tanah Arab.

Para TKI mungkin lupa atau bahkan tidak tahu bahwa dalam status sebagai budak, maka majikan sebagai pemilik budak berhak pula untuk ”menggaulinya”. Dan itu sah menurut hukum perbudakan. Akibatnya tentu bisa diduga. TKI perempuan hamil, kemudian kehamilannya diketahui majikan perempuan, lalu dia disiksa. Atau, kalau dia mampu menghalau niat buruk sang majikan lelaki, tentu memerlukan perjuangan berat. Diperkosa atau melawan hingga membunuh si pemerkosa. Keduanya sama tidak nyamannya. Jadi .... harap maklum kalau banyak kasus TKI perempuan yang meninggal, cacat ataupun pulang ke Indonesia dengan perut hamil besar.

Tenaga kerja di Malaysia.
Malaysia adalah negara serumpun dengan Indonesia. Begitu konon selalu didengung-dengungkan. Jawabnya adalah ya dan tidak. Ya, karena sejak jaman penjajahan Belanda dahulu, rumpun suku bangsa Aceh, Melayu dan Minang dari Sumatera telah banyak merantau ke tanah Malaya. Itu sebabnya banyak pejabat yang berkuasa di negeri jiran pada awal masa kemerdekaannya, memiliki hubungan kekerabatan dengan masyarakat Indonesia yang bertempat tinggal di Sumatera Barat, Deli dan Riau. (aku jadi ingat, mak tuo, kakak tertua ibuku, dipanggil uni upik Perak, karena beliau lahir di Perak - Malaysia). Namun kekerabatan – serumpun bangsa itu, terbatas hanya dengan masyarakat Riau, Aceh, Melayu – Deli dan Sumatera Barat. Tidak dengan orang-orang yang berasal dari Jawa, Sulawesi, apalagi dengan masyarakat Indonesia yang berasal dari Ambon dan Papua.

Lebih sempit lagi, di mata rakyat Malaysia, kekerabatan ini bermasyarakat berkaitan dengan kesamaan agama, yaitu Islam. Rakyat Indonesia yang berasal dari suku Dayak, suku-suku yang berasal dari wilayah timur Indonesia terutama yang memiliki ras Melanesia, apalagi yang tidak beragama Islam, bukanlah sanak serumpun. Sementara itu, Indonesia tidak melihat dari persepektif yang sama. Indonesia melihatnya secara luas, serumpun bangsa, mulai dari Aceh hingga tanah Papua yang bercirikan ras Melanesia. ini

Di akhir tahun 1960 hingga tahun 1970an, Indonesia masih dianggap sebagai guru dan ”idola”nya masyarakat Malaysia. Saat banyak masyarakat Malaysia datang berguru, sekolah di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Saat itu juga, guru dan dosen dari Indonesia diminta dengan penuh hormat untuk berbagi ilmu di Malaysia. Sekarang, jamannya sudah berbeda. Generasi baru, angkatan muda Malaysia tidak lagi melihat Indonesia sebagai guru dan idolanya lagi. Mereka melihat Indonesia sebagai ”perusuh” kenyamanan mereka dan kondisi ini sesungguhnya kurang disadari oleh Indonesia.

Sebut saja ”ekspor asap” yang selalu menjadi langganan setiap musim kemarau yang sangat mengganggu kenyamanan hidup rakyat Malaysia. Di samping itu; bila pada tahun – tahun awal seusai konfrontasi, tenaga kerja Indonesia terdidik berprofesi sebagai guru dan dosen Indonesia diundang dengan penuh hormat, maka sekarang terutama pasca krisis 97 – 98, rakyat Indonesia dari tingkat pendidikan terendahlah yang berduyun – duyun menyerbu Malaysia, bekerja di perkebunan. Kesemuanya sebagian besar dilakukan secara illegal.  Sebagian Malaysia yang pada awal tahun 1960an menjadi wilayah sengketa Indonesia berada di wilayah Kalimantan Utara. Berbatasan langsung dengan wilayah Kalimantan Barat – Timur dan Tengah. Melalui jalan darat ini, para pencari kerja, terutama yang ilegal, memasuki wilayah Malaysia.

Sementara itu, kondisi pendidikanpun terbalik, kini justru masyarakat Indonesialah yang berguru ke Malaysia, menyerbu Universitas-universitas di Malaysia untuk mengikuti pendidikan jenjang S2. Bukan itu saja, masyarakat Malaysia tentu sangat hafal dengan perilaku oknum pejabat maupun TNI yang saling bekerjasama melakukan pembalakan dan penyelundupan kayu, penyelundupan gelap BBM, penyelundupan pasir dari kepulauan di sekitar Bangka – Belitong yang ternyata mengandung kadar timah yang sangat tinggi. Bayangkan, mereka (Malaysia dan Singapore) membayar sangat murah termasuk tips bagi para pelindung dan pemberi konsesi yang notabene aparat pemerintah daerah untuk mendapatkan pasir laut dengan kandungan timah yang sangat tinggi.

Ditilik dari sisi ini, rakyat dan pemerintah Malaysia memang terlihat munafik. Memperlakukan secara keras para pendatang haram sekaligus memanfaatkan perilaku oknum untuk kepentingan industri dalam negeri Malaysia.

Belum lagi citra buruk mengenai kondisi negara Indonesia yang tersiarkan melalui  media massa. Berita – berita seputar politik, ekonomi, sosial dan budaya beserta berbagai gejolak yang terjadi di Indonesia saat ini sudah sangat tidak mungkin dibendung. Arus informasi mengalir dalam hitungan detik ke segala penjuru dunia tanpa bisa ditutup – tutupi. Termasuk di dalamnya arus pemberitaan tentang perilaku korupsi para pejabat, ketidakberdayaan pemerintah dalam menanggulangi berbagai bencana dan masalah dalam negeri. Kesemuanya sudah menjadi santapan masyarakat dunia.

Jadi...., saat kesemuanya sudah menjadi konsumsi umum masyarakat dunia. Pada saat para pejabat di Indonesia termasuk masyarakat umum sudah tidak mampu lagi menjaga perilaku dan martabatnya. Pada saat pemerintah Indonesia dianggap tidak mampu atau bahkan lebih jelek lagi dianggap tidak mau melindungi kepentingan bangsa dan negaranya, bagaimana kita bisa mengharapkan masih tersisa sedikit rasa hormat dari bangsa-bangsa lain di dunia kepada negara kita tercinta, Indonesia.

Bagaimana kita bisa mengharapkan bangsa lain menghormati warga negara Indonesia, bila rakyat Indonesia (baca para pejabatnya) tidak mampu menjaga martabat dirinya sendiri. Jangan hanya menyalahkan bangsa lain. Mari introspeksi diri.

Kalau Rela di Malaysia melakukan sweeping terhadap warganegara asing dan atau para pendatang haram di negaranya. Dan kebetulan sebagian besar pendatang haram itu berasal dari Indonesia, bukan tidak mungkin bila Rela belajar dari FPI – Front Pembela Islam .... Kelompok organisasi massa yang mengaku berbasiskan Islam tetapi sangat brutal melakukan perusakan, sweeping terhadap orang-orang asing beberapa waktu yang lalu. Seolah-olah merekalah yang paling benar dan Islami, tetapi memperlakukan orang  yang tidak sepaham dengan sangat tidak Islami.

Jangan lupa... sejarah sudah membuktikan bahwa Malaysia belajar banyak dari Indonesia. Kini, bukan tidak mungkin Rela belajar banyak dari FPI  tentang cara – cara brutal dalam menangani kasus pendatang haram.

Ada baiknya kita introspeksi diri. Pelecehan terhadap warga Indonesia di luar negeri memang sangat menyakitkan, tetapi hal itu akan tetap terjadi selama kita tidak mampu menjaga martabat diri. Jadi, mari kita buktikan dulu bahwa kita adalah bangsa yang bermartabat. Hentikan pengiriman TKI domestik, tahan diri untuk tidak melanggar batas wilayah kedaulatan negara lain melalui cara – cara menjadi buruh illegal, hentikan perilaku korup dan munafik para pejabat. Tunjukkan kesungguhan membasmi korupsi seperti yang dilakukan oleh pemerintah Cina. Tunjukkan bahwa pemerintah Indonesia mampu menggunakan APBNnya secara effisien untuk menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya, bukan menyelewengkan APBN/APBD untuk menggelembungkan isi kantong pribadi dan kelompoknya.

Kesemuanya memang tidak mudah dan perlu waktu yang panjang. Namun kita harus mulai dari sekarang. Kalau tidak, kemanapun kita melangkah, hanya pandangan perlecehan saja yang akan kita terima. Mari kita mulai dari sekarang memperbaiki diri agar saatnya datang yaitu saat, entah kapan.... warga Indonesia bisa melenggang di negara manapun di dunia dengan kepala tegak tanpa dihantui oleh pelecehan.

Final reedited; 14 oktober 2007- lebak bulus 10.00

Selasa, 02 Oktober 2007

Berbagi Rejeki

Malam minggu, sementara menunggu waktu shalat, ada telpon masuk. Dari Yudi. Rupanya ingin menuntaskan keinginannya bicara yang belum terlaksana pada sabtu siang, usai kursus.

Tanpa basa-basi, dia langsung nyrocos...:
”Madame..., tadi disodori surat nggak, sama anak-anak parkir di ccf?”
”Nggak...., kenapa?
”Aku tadi disodori anak-anak itu surat... Minta THR, katanya. Apa urusanku dengan anak-anak parkir? Aku kan cuma datang 1 kali seminggu.”
”Tahun lalu, saya juga disodori surat itu. Gak masalah, kan? Semua tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Kalau kita mau berbagi rejeki yang kita miliki dan ikhlas memberinya, ya kasih aja”.
”Tapi.... itu kan nggak mendidik. Harusnya kita tidak boleh selalu berada di ”bawah”, meminta-minta kepada orang lain. Apalagi saat lebaran, itu kan tujuannya konsumtif”
”Iya sih..., kenapa nggak kita tidak berpikir bahwa ada alasan yang cukup valid sehingga mereka begitu (meminta-minta). Misalnya karena butuh untuk berbagai keperluan lebaran. 

Memang, meminta sesuatu pada orang lain, apapun alasannya; hakikatnya ”merendahkan” martabat kita di hadapan yang kita ”mintai” sesuatu. Mungkin, mereka (peminta) juga malu melakukannya. Tapi rasa malu itu terpaksa ditelan dalam-dalam karena kebutuhannya untuk memenuhi hajat hidup jauh lebih penting daripada sekedar memegang teguh ”martabat dan harga diri”. Kasihan kan...?!. Di lain pihak, kita wajib memahami bahwa di dalam rejeki kita ada bagian dan hak orang-orang miskin dan fakir. Nah kenapa tidak kita tunaikan saja kewajiban itu. Jangan melihat siapa yang meminta”

”Tapi... apa memang mereka itu adalah para mustahik...? Yang wajib diberi bagian dari zakat kita? Jangan lupa lho.... ”para peminta-minta” itu ada di mana-mana. Di kantorku .... satpam yang sudah jelas mendapat THR dari pengelola gedung, toh mulai mengetuk pintu setiap kantor, meminta bagian. Belum lagi para rekanan, bahkan ”pejabat” yang biasa berurusan dengan kantorku, rame-rama ”nagih” bagian. Mana THRnya....??? Begitu katanya. Ini kan konyol.....!!!”
”Duh ... kamu kok ngotot banget sih...? Jangan mempersulit rejeki orang dong... Kasih ajalah, kalo memang ada rejekinya...!”
”Tapi itu nggak mendidik....”
”Kenyataannya, sebagian masyarakat kita memang belum terdidik dengan baik. Pemahaman agamapun masih sebatas ritual – seremonial. Untuk mengubahnya perlu waktu yang panjang. Kita lakukan saja apa yang kita anggap baik. Tapi juga nggak perlu ngotot gitu ah.”
”Sebel aja... Coba deh bayangin... aku punya milis, saat ada bencana di Madura, kami buka “dompet” sumbangan kebetulan di bulan puasa. Waduh… dalam sekejap terkumpul belasan juta rupiah. Eh… pas ada bencana lain yang terjadi bukan di bulan Ramadhan, dompet yang dibuka, cuma terisi ratusan ribu. Konyol kan?! Padahal kalo mau sedekah, kan nggak mesti ngeliat-liat bulan. Yang penting keikhlasan”.
“Setuju, tapi kalau pemahamannya memang sebatas itu?... Dengar aja di setiap pengajian dan khotbah. Selalu ditonjolkan bahwa ibadah di bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala berlimpah. Makanya, semua orang berebut mendapatkan pahala yang besar. Jadi, biarlah, kalo memang pemahamannya masih begitu. Minimal... mereka sudah mau meringankan tangan dan hati untuk berbuat baik, mengeluarkan hartanya untuk zakat, infaq dan sedekah. Walaupun itu dilakukan setahun sekali. Soal pahala, itu bukan urusan ustadz atau khatib. Allah SWT yang Maha Menghitung. Dia tidak buta akan apa yang kita lakukan. Termasuk juga niat yang ada di dalam hati kita. Udah ah, kamu kok ngomel terus dari tadi. Ntar pahala puasanya ilang lho...!!!”

Pembicaraan kemudian terputus begitu saja. Kalau belum puas, paling-paling dia akan menyambung pembicaraan hari sabtu yang akan datang.
 
Fenomena zakat – infaq – sadaqoh, selalu ramai diperbincangkan orang setiap bulan Ramadhan. Apa yang dikeluhkan Yudi memang tidak juga dapat disalahkan. Persepsi kita mengenai zakat – infaq – sadaqoh memang berbeda satu sama lain. Ada yang menganggap bahwa kesemuanya, terutama zakat, akan lebih afdol bila ditunaikan setelah nisabnya tercapai dan dibayarkan selama Ramadhan agar mendapat pahala berlimpah. Ada juga yang menyelesaikannya sesegera mungkin. Tidak lagi berhitung-hitung soal nisab atau pahala yang diperoleh sebagai imbalan atas ditunaikannya kewajiban berzakat. Bagi mereka, tunaikan kewajiban secepatnya karena pahala adalah hak prerogatif Allah yang tidak ada seorang manusiapun mampu memahami kriteria sesungguhnya yang diterapkan Allah untuk menghitung pahala umat manusia.

Begitu juga mengenai kriteria mustahik. Tentu akan panjang pula perdebatan mengenai siapa yang berhak atau tidak. Daripada berlama-lama berhitung-hitung, kenapa tidak disederhanakan saja polanya .... Prinsipnya ... kalau ada orang meminta sesuatu kepada kita; itu adalah ujian dari Allah SWT kepada kita. Kita disodorkan kesempatan untuk ”meraih pahala”. Akan diambilkah kesempatan itu, atau kita biarkan saja ”kesempatan meraih pahala” itu berlalu dari hadapan kita. Soal apakah dia berhak menerima zakat, infaq atau sadaqah ... serahkan saja kepada Allah SWT. Para pemberi infaq - sadaqah yang ikhlas, tidak akan pernah merugi.

Suami saya lebih ekstrim lagi, setiap saat saya mau berkomentar tentang "peminta-minta". dia akan langsung menghardik; "kalo kamu nggak ikhlas memberi, jangan berdalih untuk "mendidik masyarakat". Yang mereka butuhkan saat ini adalah uang untuk hidup. Bukan pendidikan yang memakan jangka panjang. Kesadaran untuk tidak meminta-minta, Insya Allah akan datang saat kebutuhan materi mereka tercukupi. Atau berbuatlah sesuatu yang nyata agar mereka tidak perlu meminta-minta sepanjang waktu. Nah kalau belum mampu berbuat sesuatu yang nyata, berikan saja kebutuhan jangka pendek mereka. Begitu lebih baik, daripada cuma ngomong".

Memang dalam buku-buku sering ditulis siapa saja yang dapat digolongkan sebagai orang-orang yang berhak menerima zakat, infaq atau sadaqah. Jadi kalau ada orang yang kita anggap bukan mustahik tetapi masih suka meminta... Mungkin karena secara fisik, dia sudah menyandang predikat pemberi zakat – infaq – sadaqoh tetapi jiwanya masih sebagai mustahik. Masih merasa berhak "disantuni" orang lain. Jadi... kasihanilah mereka ... Jangan bebani jiwa kita dengan segala prasangka. Insya Allah, hati kita akan merasa lebih ringan dan ikhlas memberi. Minimal kalo belum bisa memberi, nggak perlu nggrendeng di belakang, gitu...!!! Supaya pahala puasanya nggak berkurang. Setuju, kan...?

Jumat, 28 September 2007

Anak-anak Tsunami

Ada undangan berbuka puasa di studio Metrotv – Kedoya, dari mbak Rerie Moerdijat, Ketua Yayasan Sukma pada hari Rabu 17 September 2007. Acara utamanya adalah untuk menyaksikan Gladiresik rombongan siswa SMA Sukma Bangsa dari Aceh yang akan berlaga di AYAF 2007 (Asia-Pacific Youth Art Festival … ini singkatannya, kalo gak salah) yang akan diselenggarakan di Shenzen – Cina.

Kalau mau jujur, berbuka puasa di luar rumah dan ditengah hingar bingar khalayak, betul-betul tidak nyaman. Terbayang juga bahwa, jangankan tarawih, shalat maghribpun belum tentu bisa dilaksanakan tepat waktu. Tapi, di dalam undangan tertulis …. Mohon dukungan dan doa restu bagi anak-anak korban tsunami yang akan berangkat menuju festival AYAF 2007 … dan tulisan itu cukup membuat ingatan saya melayang pada peristiwa tsunami 26 Desember 2004 yang lalu. Terbayang lagi betapa banyaknya anak-anak yang harus kehilangan segalanya. Keberangkatan dan keikutsertaan mereka pada festival ini tentu merupakan bagian dari upaya yang terus menerus untuk menyembuhkan trauma serta untuk membangkitkan kepercayaan diri mereka. Untuk itulah, saya membujuk anak agar mengijinkan ibunya berbuka puasa di Metrotv.

Saya tiba di Kedoya menjelang jam 17. sudah mulai ramai. di lobby Grand Studio sedang diadakan pers release yang dihadiri oleh mbak Rerie yang mewakili Yayasan Sukma dan Nungki Kusumastuti mewakili IKJ.

Acara nya dipandu oleh Fifi Aleida Yahya dengan diselingi oleh Andi F Noya yang menceritakan proses pembentukan kelompok tari tersebut, visi dan misinya serta bagaimana upaya seluruh pembimbingnya untuk "mengangkat" moral anak-anak korban tsunami ini untuk maju dan menemukan rasa percaya diri.

Konon kabarnya AYAF 2007 ini akan dihadiri oleh 22 rombongan para penari professional yang masing-masing  mewakili  tv station dari negara peserta dan Indonesia akan diwakili oleh Metrotv. Pemenang AYAF 2006 adalah para penari 1000 tangan dewa yang sangat indah yang rekamannya pernah ditayangkan di Metrotv pada bulan Agustus 2007 yang lalu.

Saya sempat merekam gladiresik anak-anak Sekolah Sukma Bangsa tersebut dengan Nokia E90, sayangnya ternyata berbentuk file MP4 sehingga saat di upload, tidak bisa dilihat sama sekali.

Pagi ini saya mendapat sms dari mbak Rerie yang mendampingi mereka ke shenzen ;

hour 08.04 date 28/09/2007
Bapak/ibu yth;
Laporan semalam dari Asia Pacific Youth Art Festival, Gedung terasa hening sewaktu Sherina dan anak-anak Sukma pentas. Kata Annoucer, They are not professional artis but incredible. VT kita membuat mereka sesak nafas terharu.Judul Pementasan kolaborasi Sherina dengan lagu INdonesia menangis dan rtari Ratuh kita manisfestasikan menjadi Sparkling Wave; dari kesedihan, kepasrahan dan keikhlasankepada Tuhan Yang Maha Esa dan kekuatan untuk terus berjuang digambarkan dengan tari Ratuh. Dan Sparkling Wave adalah ombak harapan.
Tepukan tiada henti dan mereka mendapat sambutan dan liputan luar biasa. Mereka sudah berhasil tampil luar biasa dan membanggakan, bersaing dengan peserta negara lain yang semuanya professional. Kalaupun mereka tidak memenangkan festival, apapun hasilnya kita syukuri bersama. KArena sesungguhnya mereka telah menjadi pemenang dengan mampu tampil prima. Terima kasih atas dukungan dan doanya.

sms ke 2
hour 12.01, date 28/09/2007
Alhamdulillah. Tim sekolah Sukma Bangsa di AYAF menerima penghargaan sebagai 10 besar/ Top PerformerMendapatkan Piala Emas (untuk 10 besar penampil terbaik dan tidak ada ranking)!!!.
Program lengkap festival dakan disisarkan di 24 negara Asia PAcific melalui 45 tv station. Di Indonesia akan disiarkan oleh Metrotv, tanggal menyusul.
*****

Syukurlah!! Semoga mereka yang terlibat dalam membina anak-anak korban Tsunami ini mendapat berkah yang melimpah dari Allah SWT 

Selasa, 04 September 2007

Lewat Jalan TOL ...? Gak jamannya lagi!!! Kembangkan Moda Transportasi Masal

Berbeda dengan sebelumnya, Kali ini saya, walaupun saya bukan pengguna jalan Tol yang rutin, sama sekali nggak setuju kalo tariff TOL naik. Bukan dengan alasan solider dengan pengguna jalan tol tapi karena pengaruh investor dalam penentuan kebijakan publik harus dihentikan. Jalan tol harus menjadi bagian dari public service dari pemerintah sebagai kompensasi dari pengenaan pajak kendaraan.

Memang dalam kajian ekonomis para investor akan selalu mengasumsikan bahwa akan ada kenaikan tarif  tol, termasuk juga di dalamnya asumsi-asumsi kenaikan biaya operasional. Yang mesti diperjelas lebih lanjut, bagaimana dengan asumsi KENAIKAN JUMLAH PENGGUNA JALAN TOL. Apakah mereka merevisi asumsi kenaikan pengguna jalan tol, ketika mengajukan revisi tarif tol?

Secara kasat mata, kita akan melihat bahwa prediksi kenaikan pengguna jalan tol “meleset jauh” dalam arti kata asumsi kenaikan pengguna jalan tol yang digunakan saat membuat kelayakan jalan tol, LEBIH KECIL dari  kenyataannya. Buktinya cukup jelas dan bisa dihitung dari tingkat penjualan mobil baru di wilayah Jabotabek dikalikan dengan % asumsi jumlah kendaraan baru yang menggunakan jalan Tol. Kenaikan inilah yang sangat tidak transparan atau pura-pura dilupakan masyarakat terutama para pengambil keputusan atas kebijakan publik. Tidak pernah ada yang menghitung berapa besar pemasukan yang diperoleh investor berkenan dengan kenaikan jumlah pengguna tol. Ini sangat diperlukan agar  didapat angka riel, seberapa besar tarif tol harus naik atau bahkan tarif tol tidak harus dinaikkan karena kenaikan biaya operasional sudah terpenuhi dari tingkat kenaikan pengguna tol. 

Menggunakan jalan Tol atau tidak, tidak bisa dilepaskan dengan kebijakan tentang transportasi publik. Kebijakan transportasi di Indonesia selama ini selalu berorientasi kepada penggunaan alat transportasi pribadi apakah itu kendaraan beroda empat atau beroda dua. Kebijakan transportasi seperti ini sudah selayaknya dihentikan, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk terutama di pulau Jawa. Kalau saja kita tetap memegang erat kebijakan transportasi pribadi, maka pemerintah DIHARUSKAN untuk membangun dan membangun terus menerus Jalan Tol, jembatan layang, underpass dan lain-lain yang kesemuanya akan MENGGERUS jumlah LAHAN PERTANIAN atau lahan perhutani. Ini sudah terjadi dan sudah mengakibatkan daya dukung lahan di pulau Jawa menjadi sangat kritis.

Pemerintah sudah selayaknya menghentikan pembangunan jalan tol dan mulai memperhatikan transportasi masal seperti Kereta Api untuk jarak jauh (antar kota antar propinsi - AKAP) dan transportasi masal seperti Monorail, subway/metro dan commuter-railways untuk jarak dekat. Bahasa terangnya, melalui kemacetan yang semakin menggila, masyarakat harus “dibuat jera” untuk menggunakan kendaraan pribadi sehingga secara berangsur-angsur mereka berpindah kepada moda transportasi umum/masal.

Memang masih banyak kerja keras yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk menuju perbaikan sistem transportasi publik. Baik dari segi perencanaan, implementasi dan pendanaannya. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang semakin parah. Tapi kita harus mulai dari sekarang, walaupun inipun sudah sangat terlambat.

Kemacetan yang terjadi di berbagai kota terutama di wilayah Jabodetabek, tidak selayaknya ditanggulangi dengan pembangunan Jalan layang/underpass dan jalan tol tetapi harus menjadi momentum untuk mengganti sistem transportasi pribadi menjadi sistem transportasi umum. Masyarakat harusnya mengingatkan pemerintah untuk tidak “menyerah” pada kepentingan industri kendaraan bermotor dan secara cerdas harus mencari terobosan agar industri kendaraan bermotor tetap hidup (yang berarti tidak perlu ada PHK) tetapi kepentingan “negara” terutama dalam kaitannya dengan “pemulihan daya dukung lahan” terutama di pulau Jawa harus dikedepankan. Jangan sampai pulau Jawa dipenuhi dengan jalan raya. Dalam jangka panjang, ini akan lebih menyengsarakan rakyat, khususnya para petani yang notabene rakyat kecil.

Saya ingat, saat jamannya kuliah Perkotaan dengan Pak Bianpoen di akhir tahun 70an (79-80), RUTR Jakarta sudah memasukkan moda transportasi MRT dan sekarang sudah lebih dari 25 tahun, moda transportasi itu sama sekali belum terealisir dan kita semakin terjerat dalam belenggu kaum kapitalis – para investor/industri mobil-motor. Entah sampai kapan, kita terbelenggu oleh kepentingan sesaat dan solusi jangka pendek saja.
salam - reedit 4/9/07


From: On Behalf Of xxxxxxxx
Sent: Tuesday, September 04, 2007 10:21 AM
To: xxxxxxxxxxx@yahoogroups.com
Subject: [alumni_ftui] Setuju TARIF TOL naik...!.
Temans,

Saya SETUJU dengan kenaikan tarif Tol sebesar 20 %, TAPI dengan perhitungan yang FAIR...

Beberapa hari ini kita disibukkan dengan kenaikan tarif Tol yang katanya disesuaikan sesuai laju Inflasi selama 2 tahun terakhir. Sebagian masyarakat kita mengajukan Class Action untuk membatalkan kenaikan yang dianggap semena-mena dan minta perubahan Undang-Undang tentang jalan, Namun sebenarnya permasalahan utama yang ada kan hanya besaran kenaikan 20%, ini yang harusnya jadi fokus terhadap para penentang
kenaikan tersebut.

Sebenarnya menteri PU yang menetapkan 20 % sesuai Inflasi tidak tepat, Investasi di Jalan Tol, komponen terbesar adalah untuk biaya pembangunan awal yang terdiri dari pembebasan lahan, pembangunan infrastruktur awal dan preliminary cost lainnya. Komponen biaya untuk operasional dan pemeliharaan kan hanya sebagian kecil (mungkin sekitar 20-30%) jika dibandingkan dengan pembangunan awal. Komponen biaya
operasional dan pemeliharaan ini yang terpengaruh oleh Inflasi.

Biaya-biaya pembangunan awal itu dilakukan di tahun-tahun awal pembiayaan, yang seharusnya tidak terpengaruh terhadap besaran Inflasi yang terjadi. Kita asumsikan saja bahwa Inflasi sebesar 20% sesuai dengan dasar yang dijadikan acuan oleh Menteri PU. Kenaikan tersebut hanya berpengaruh terhadap komponen operasional & pemeliharaan yang diasumsikan sebesar 30%

Jadi besaran kenaikan yang cukup FAIR adalah 20% x 30 % = 6 %.

Jadi saya SETUJU tarif Tol Naik 6 % He...he...he. ..

xxxxx -
yang setuju tarif tol naik.

Senin, 03 September 2007

Gara-gara MATRIX, semua jadi kacau balau

Sabtu 1 September 2007, betul-betul menjadi hari yang paling berantakan. Awalnya karena ada kebingungan. Tiba-tiba, cdma-fren yang biasanya cuma diketahui kalangan terbatas saja, kok jadi rame. Telpon masuk melalui fren bertubi-tubi membuat saya kehilangan konsentrasi di kelas. Masih belum sadar dengan apa yang terjadi, saya berusaha mengirim sms untk follow up isi pembicaraan telpon. Ternyata semua failed. Baru setelah mencoba berulang kali dan tetap saja gagal. saya memperhatikan bahwa di layar hp tertulis no connection to network.

Saya masih berpikir, mungkin handset nya bermasalah. Jadi, handset dimatikan, tunggu 5 menit dulu dan dinyalakan kembali. Begitu konon prosedur yang harus dilakukan bila ada gangguan, yang selalu dijelaskan oleh service assistant nya Indosat.
Konyolnya..... sampai 3 kali prosedur itu dilakukan, lalu dilakukan manual network search, tetap saja tidak ada signal.... Duh ribetnya. Komunikasi dengan suami yang lagi "jalan-jalan" ke Jogja jadi macet. Kacau banget....!!! Usai dari CCF, saya ke galeri indosat di Pondok Indah Plaza. Distu baru tahu bahwa sejak jam 08.00, network nya indosat memang ada gangguan.

Jam 14.00, signal Matrix mulai kelihatan. Saya mencoba menghubungi suami, tetap lost contact. User busy... begitu kedengerannya. Saya coba kirim sms, delivery reportnya tidak berfungsi sehingga nggak tahu apakah sms itu sampe atau nggak. Usai maghrib, saya coba lagi telpon suami, akhirnya dia bisa dihubungi.

Minggu malam, istri dari kakak ipar saya menelpon ke rumah. Mengucapkan terima kasih, karena beberapa hari sebelumnya dia mendapat undangan untuk nonton Nusantara Chamber Orchestra, yang konon dia bilang.... extraordinary....!!! Yang enggak enaknya, dia tanya... Kenapa nggak hadir di pemakamannya ibu Munadjat (mertua dari salah satu adik ipar saya yang lain)... Suaminya (kakak ipar) mengirim 2 kali sms untuk saya mengabarkan berita duka tersebut. Mati aku......!!!!

Sungguh mati, saya sama sekali nggak nerima sms apapun juga. Untungnya setelah saya jelaskan masalahnya, dia bisa mengerti dan pada saat bersamaan dia baru menyadari sebab-sebab supirnya tidak menjawab telpon, saat diminta menjemput karena si supir menggunakan Mentari. Oh alah....!!!! Cepat-cepat saya telpon keluarga yang berduka... menyampaikan permintaan maaf.

Pagi ini, sekitar jam 8.00 saya mulai menerima sms bertubi-tubi dari berbagai jurusan. Kesemuanya sms yang dikirim sejak hari Sabtu 1 September 2007 sampai Senin pagi tanggal 3 September 2007. Duh.... begini rasanya jadi korban alat komunikasi canggih.

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...