Jumat, 09 Agustus 2013

Ballada PRT

arus mudik lebaran
Mudik lebaran merupakan ritual tahunan yang ditunggu banyak orang. Entah kapan dimulai, peristiwa pulang kampung saat lebaran menjadi peristiwa luar biasa yang membuat heboh seantero negeri. Bukan saja membuat heboh para pejabat di sektor transportasi untuk membawa mereka kembali ke masing-masing kampung halamannya, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Timur, tetapi juga menyangkut persiapan sarana jalan raya hingga materi berupa sandang pangan yang akan dibawa mudik, baik bagi para pemudik itu sendiri maupun berupa buah tangan bagi keluarga, kerabat dan tetangga di kampung halaman.

Kalau dulu mudik hanya dikenal bagi para perantau yang berasal dari Jawa, maka sekarang para perantau Minang atau wilayah lainnya yang bekerja di pulau Jawapun ikut "mudik" ke kampung halamannya walau dengan istilah lain. Misalnya "pulang basamo" bagi perantau Minang.

Mudik .... entah sejak kapan pulang ke kampung halaman pada saat lebaran diberi label mudik dan melahirkan istilah/kosa kata pemudik ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Seingat saya .... atau terkaan saya, mudik berasal dari kata "udik" dalam perbendaharaan bahasa Betawi yang berarti kampung.

Jadi, saat saya kecil dulu ..., saya lebih mengenal kata udik untuk menyebut sesuatu yang berbau kampung dan kalau boleh terus terang, nuansanya lebih kepada "ejekan/cemooh". Misalnya mengatakan "orang udik", buat mereka yang berasal dari wilayah di luar Jakarta, seperti misalnya Cibinong, Cibarusah dll  untuk menyebut asal muasal orang yang berasal dari perkampungan di pinggiran Jakarta atau bagi orang yang penampilan/perilakunya agak kampungan/norak.

Sekarang, kata udik sudah bertransformasi menjadi mudik sebagai kata kerja, yang berarti pulang ke kampung. Orangnya disebut pemudik. Sedangkan kata dasar "udik" sebagai padanan "kampung" sudah jarang digunakan. Nah .... saat-saat lebaran inilah kata mudik digunakan dengan intensitas yang sangat tinggi.
***

PRT di rumah saya berasal dari wilayah Cililin-Cimahi, sudah bekerja hampir 12 tahun. Sejak anaknya baru masuk SD hingga sekarang duduk di kelas XII, SMK Grafika jurusan broadcasting, kalo nggak salah. Saat naik ke kelas XII yang baru lalu ini, dia memperoleh ranking 1 di kelasnya. Gaya kan.....? Hehe ..... Semoga si anak, kelak menjadi kebanggaan ibunya dan mampu mengangkat derajat kehidupan si ibu.

Pembantu saya ini sebetulnya lulusan SMA di kampungnya dulu. Sebelum terdampar di rumah saya, pengalaman kerjanya juga lumayan banyak. Pernah jadi staff administrasi di suatu pabrik di wilayah Cimareme-Bandung. Pernikahannya yang gagal menyebabkan dia terpaksa keluar dari pabrik setelah suaminya yang notabene teman kerjanya itu menghilang begitu saja setelah anak mereka lahir.

Maka .... demi si bayi, kala itu, dia sempat merantau ke Surabaya, bekerja di restoran sambil mengasuh bayinya. Tentu bukan hal yang mudah bekerja sambil membawa bayi apalagi jauh dari keluarga. Itu pula yang menyebabkan hingga akhirnya dia memutuskan kembali ke kampungnya. Petualangan kerjanya di Jakarta bermula dari ajakan supir ibu saya, tetangganya di Cililin, untuk bekerja di rumah ibu. Kala itu, saya sudah hampir 2 tahun menetap dan tinggal kembali, menemani ibu di rumahnya. Memanfaatkan lokasi rumah yang berada tepat di tengah antara lokasi kantor suami dan kantor saya. Lagipula ... pengalaman kurang menyenangkan dengan pembantu rumah saat tinggal di Bekasi, merupakan salah satu pertimbangan yang membuat saya pindah ke rumah ibu.

Sang PRT, yang dipanggil Ddh, sangat cekatan dan sangat bisa dipercaya. Minimal hingga saat ini saya menganggapnya sangat bisa dipercaya. Saya selalu bilang padanya .... kalau uang atau harta saya dicuri, InSha Allah tidak akan membuat saya jatuh miskin secara tiba-tiba. Tetapi juga tidak akan membuat si pencuri kaya raya. Tentu tergantung dari sebesar apa harta curiannya, tetapi kekayaan hasil curian tidak akan pernah langgeng. Satu hal yang pasti ............, harta itu tidak berkah atau membawa keberkahan bagi diri dan keluarganya. Maka ..., akan sia-sialah segala ibadah yang dilakukannya sepanjang hayat.

Saat dia mulai bekerja di rumah, masih ada satu orang PRT lainnya yang berasal dari Jawa Tengah. Entah kenapa, selalu saja ada konflik diam-diam antara pembantu asal Jawa yang berpenampilan sangat lemah lembut ini dengan rekan kerjanya. Begitu juga dengan Ddh. Sejak dia mulai masuk, selalu saja ada pengaduan-pengaduan yang masuk tentang rekan kerjanya. Kesal karena pengaduan tak digubris, dia membuat ulah dengan sering-sering pulang kampung tanpa kejelasan berapa lama dia tinggal di kampung. Hingga suatu saat, setelah 1 bulan pulang kampung untuk berlebaran dengan janji hanya pulang selama 2 minggu saja, dia menelpon dari Solo. mengabarkan belum bisa kembali ke Jakarta dan entah apakah akan kembali ke Jakarta lagi. Saya dimintanya untuk mencari pengganti saja.

Konyolnya .... selang 1 minggu setelah saya mendapat pengganti, sang putri Solo tiba-tiba muncul di rumah ingin kembali bekerja. Saat itu hanya ada ibu saya dan Ddh di rumah. Konon kabarnya, begitu tahu di rumah sudah ada pengganti, maka murkalah si putri Solo yang biasanya lemah lembut itu dan mencaci-maki Ddh sebagai penyebab dia tidak bisa bekerja kembali. Padahal saya mencari ganti 1 bulan setelah dia menelpon, memberitahukan tidak pasti kapan kembali dimana saya sudah diminta untuk mencari ganti saja.

Dengan Ddh dan kemudian dia didampingi adiknya yang juga ikut bekerja di rumah, hampir segala urusan di rumah, ditanganinya dengan cukup baik. Beberapa bulan kemudian .... anaknya yang semula ditinggal di Cililin, saya minta dibawa saja ke Jakarta. Alasannya sederhana saja .... supaya dia bekerja dengan tenang sambil mengasuh anaknya yang saat itu berumur 5 tahun dan sudah masuk SD.

Di kampung, keluarga kakaknya, tempat dimana si anak dititipkan juga bukanlah keluarga mampu. Apa yang dikirim ke kampung untuk anaknya, pada kenyataannya digunakan untuk tambahan biaya rumah tangga keluarga si kakak. Jadi memang sangat tidak mengherankan bila saat si anak datang ke Jakarta untuk pertama kali, penampilannya sangat memprihatinkan. Khas anak kampung yang tidak terurus. Kurus kering dan dekil..... Alhamdulillah, sekarang si anak tumbuh jadi remaja yang sehat dan kelihatannya cukup gaul/aktif di sekolahnya. Tidak terlihat rendah diri karena ibunya hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga saja.

Ddh ini cukup cekatan untuk pekerjaan rumah. Pandai masak terutama masakan tradisional. Kreatif untuk coba-coba masakan yang dilihatnya di acara masak memasak di TV. Saya paling suka minta dibuatkan karedok .... Karedok buatannya luar biasa enak.... Betul-betul karedok dengan cita rasa Sunda yang kental. Jarang saya temukan karedok seenak buatannya, termasuk karedok di rumah makan Sunda manapun yang pernah saya cicipi.

Bekerja rumahan, walau dengan 1 anak remaja yang masih bersekolah di SMK, ternyata membuat hidupnya lebih lumayan dibandingkan dengan anggota keluarganya yang lain, terutama yang masih tinggal di kampung. Hal ini menjadi ironi tersendiri .... Ddh menjadi tumpuan harapan kakak/adiknya saat mereka kekurangan dana, apapun bentuk kekurangannya. Entah untuk keperluan anak sekolah, sogokan saat anak mau bekerja di pabrik, anak menikah dan bahkan saat lebaran. Satu persatu adik-kakaknya bergantian menelpon .... Mengingatkan agar dia tidak lupa membelikan pakaian buat keponakan-keponakannya ,,,,,, karena para orangtuanya belum sempat dan belum punya uang untuk membeli baju lebaran anak-anaknya. Mengingatkannya jangan sampai terlambat tiba di kampung, karena ketupat dan lauk-pauknya belum terbeli, menunggu kehadirannya untuk berbelanja ke pasar. Tentu bukan hanya sekedar menemani sang kakak berbelanja. Tetapi yang lebih penting lagi adalah kelengkapan isi dompet Ddh.

Sampai saat ini, dengan semampunya, tetap diusahakannya membeli dan memenuhi hampir seluruh permintaan adik-kakaknya. Padahal mereka, adik-kakak perempuannya, semua memiliki suami yang seharusnya berkewajiban memenuhi kebutuhan keluarganya. Miris ......, tapi begitulah kehidupannya, karena bahkan kakak lelakinyapun seringkali meminta bantuan keuangan. Beberapa kali sering saya ganggu dia .... bahwa dia memiliki piutang pada adik-kakaknya dengan nominal yang cukup besar yang entah kapan bisa kembali ke rekening tabungannya.

Saya hanya bisa mengingatkan dia ..... "Jangan biasakan memberi pinjaman kepada keluarga, karena cepat atau lambat pinjaman tersebut akan menjadi bahan pertengkaran antar keluarga. Kalau mau membantu keluarga, bantulah semampunya. Betul-betul dalam bentuk bantuan yang ikhlas. Bukan pinjaman. Dengan demikian bila uang itu tidak dikembalikan, maka kita tidak akan pernah merasa kehilangan. Wa Allahu alam



Rabu, 17 Juli 2013

Sekitar PENDIDIKAN anak REMAJA

Pagi tadi, saat sedang mengendarai mobil, tiba-tiba terdengar bunyi di perangkat Blackberry saya. Ada pesan masuk ....

"Mbak, do'a apa yaa supaya anak menjadi sholeh? Anakku yang gede kan aku pindahin sekolahnya dari Highscope ke Mentari. Sekarang anaknya ngomel gak mau dan pengen dipindahin lagi ke Highscope. Doa apa yaa supaya anakku jadi sholeh dan mau terus di Mentari? Mungkin punya pengalaman sama? Nuhun({})", begitu isi lengkap pesan yang masuk.
"Nanti, tiba di kantor aku ☎ ya, sekarang lagi setir!"

Duh ....., masih pagi begini kok sudah dapat pertanyaan berat. Walau sudah punya dua anak, dengan beda 15 tahun dimana satu sudah bekerja dan yang kecil duduk di bangku SMA kelas XI, tapi memberikan jawaban yang mudah diterima secara nalar dan emosi seorang ibu, pasti bukan soal mudah. Apalagi kalau ditambah dengan kiat mendoakan anak, atau menanyakan doa khusus. Waduh ... berat banget deh... saya bukan ustazah. Cuma ibu dari sepasang anak, seperti yang lain. Bedanya, kedua anak saya lahir dalam rentang waktu yang sangat jauh. Lagi pula ... apa yang saya didoakan buat anak adalah doa standar saja. Pasti doa-doa yang baik buat anak ... untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Teman saya itu memang dari kalangan the haves. Ini istilah "kuno" yang banyak digunakan pada era tahun 1970an untuk menunjukkan golongan orang berada, yaitu golongan menengah atas dan golongan atas, ditinjau dari sudut kekayaan. Suaminya kalau tidak salah bekerja di perusahaan minyak. Dia sendiri executive di salah satu perusahaan pengembang alias developer yang proyek-proyeknya lebih banyak membangun apartemen selain memiliki usaha bakery. Jadi secara materi mereka hidup sangat berkecukupan.

Itu sebabnya pula, maka pilihannya dalam menyekolahkan anak adalah sekolah national plus yang menyandang embel-embel IB alias International Baccalaureate. Entah dengan pertimbangan bahwa si anak kelak akan meneruskan sekolah di luar negeri atau hanya karena snobisme. Apapun alasannya ... memang begitulah gaya hidup sebagian golongan berpunya di kota-kota besar Indonesia saat memilih sekolah anak-anaknya.

Tiba di kantor, usai menyelesaikan beberapa dokumen di atas meja, sebelum tenggelam dan larut dalam pekerjaan, saya sempatkan menelpon teman tersebut. Dia pasti sudah menunggu-nunggu.


"Jadi ........, apa doa-doanya...? Lieur euy urang....!", begitu sergapnya menyambut telpon.
Duh, saya juga bingung mau jawab apa....? Ya... itu tadi, saya bukan ustazah. Modal dalam doa untuk anak-anak juga standar aja kok ...., sangat tidak fasih apalagi hafal doa-doa dalam bahasa Arab. Toh Allah Maha Tahu akan doa yang dipanjatkan seorang ibu bagi anak-anaknya. Yang penting tulus dan ikhlas bagi kebaikan dan kebahagiaan anak lahir batin, dunia akhirat.

"Doaku standar aja kok .... gak ada yang aneh-aneh....! Tapi ..... yang lebih penting, menurutku adalah sinkronisasi antara doa yang kita minta pada Allah SWT dengan perilaku kita sebagai orangtua. Bagaimana mungkin kita meminta pada Allah SWT berbagai hal yang baik-baik, sementara kita sebagai orangtua tidak memberi contoh yang sama dengan apa yang kita panjatkan?", tanpa sadar saya kok jadi nyerocos panjang lebar.
"Maksudna teh kumaha...?, tanyanya lagi, dalam bahasa campuran Sunda, daerah asalnya.
Ibu cantik ini memang berasal dari Bandung dan konon pada masa mudanya sempat main film jadi figuran di beberapa filmnya warkop.

"Ya .... begitu...! Doa yang kita panjatkan itu, in sha Allah akan dikabulkan Allah SWT, tapi bagaimana bentuk dan kapan waktunya, tidak ada yang tahu. Selama itu, si anak tumbuh dan berkembang mengikuti dan mencontoh apa yang ada disekitarnya. Dari orangtuanya, dari lingkungannya baik di rumah maupun di sekolah. Mereka cenderung "mengambil" apa yang mudah dan menyenangkan hati tanpa pikir panjang. Kalau orangtua tidak konsisten antara apa yang diucapkan dengan yang dilakukan, mana mungkin anak mau patuh? Tapi .... sebetulnya ada apa sih?", tanyaku, ingin tahu juga apa yang sebenarnya terjadi sebelum larut dalam perbincangan.

"Ieu tah .... yang pernah aku cerita tea. Anakku akhirnya aku masukkan ke Mentari, di salah satu kawasan perumahan elite lah! Asupna ge, geus 60 jutaan .... terus bulanan-nana ge, opat jutaan. Belum lagi buat kegiatan ini itu. Sakolana teh siga supermarket ... Saban kegiatan aya hargana. Jadi nggak murah juga....!!!", celotehnya seperti biasa, dalam bahasa campuran.
"Lalu ...?"
"Tah .... kamari teh, manehan-nana ketemu jeung teman2 sakolana ti SD jeung SMP ... Terus, biasalah... ngobrol ngalor ngidul, kesana-kemari, sampe pada kesimpulan, bahwa sekolah SMPnya itu the best lah .... moal aya duana!"


Hm ....., memang nggak ada salahnya. Sekolah dimana anaknya menjalani pendidikan SMP nya memang salah satu sekolah elite di bilangan Jakarta Selatan dengan gedung mewah dan pastinya biaya pendidikan yang luar biasa mahalnya bagi orang kebanyakan. Dan ... pasti dengan embel-embel IB yang sangat digandrungi kalangan berduit.

"Memang apa pembeda antara Mentari dan Highscope itu?"
"Sebetulnya sih nggak terlalu banyak beda. Guru-guruna sama aja. Kebanyakan Filipino dan ni anak ku urang malah diikutkeun program IB. Soalna, barudak yang ikut program nasional ngan saeutik. Kebanyakan ikut IB. Memang sih, bayaran sekolahnya lebih murah dibanding sekolah yang lama, tapi sebetulnya kan, bukan itu alasan pindahannya."

Teman saya ini, jauh sebelum tahun ajaran 2013, yaitu sekitar bulan Nopember 2012 yang lalu sudah pernah menanyakan rekomendasi saya untuk sekolah anaknya yang akan menempuh ujian SMP. Sempat terbersit keinginannya untuk masuk boarding school dan menjajaki kemungkinan si anak untuk masuk ke sekolah dimana anak saya sekarang bersekolah. Alasan utamanya adalah karena dia ingin si anak mendapat pengajaran dan pendidikan agama yang baik. SMPnya saat itu adalah sekolah sekuler yang sangat liberal dan dia sangat khawatir melihat dan mengamati perkembangan pergaulan si anak dengan teman-temannya. Teman-teman sekolah anaknya sudah tentu datang dari golongan menengah atas lengkap dengan gaya hidup borjuis, materialistis dan hedonistis. Namun kemudian, sepertinya keinginan tersebut tidak pernah diteruskan entah karena pertimbangan apa.

"Sebetulnya, si anak memang ingin meneruskan SMA di sekolah yang sama, tapi .... urang khawatir euy. Coba bayangin ... bebekelan itu teman2na teh, bukan cuma urusan ratusan rebu ...! Itungannya geus jut-jutan atawa kartu kredit! Ngeri kan ....? Gimana gua bisa menerapkan gaya hidup sederhana? Pernah suatu kali, anak gue menta duit keur nongton band .... teuinglah band naon, poho urang .... Pokona, harga karcisna teh 750 rebu! Ku urang teu dibere .... eh .... ditraktir...! dipangmayarkeun...! Coba... gelo, teu...?", panjang lebar dia cerita ....

"Mangkana ....ku urang dibujukan, supaya mau pindah dari situ. Dibujuk, dibawa libur ke Jepang, supaya dia maulah pindah sekolah....! Padahal, tadina mah nggak ada rencana sama sekali jalan-jalan ka Jepang...".

"Sekolah kan baru 1 minggu, kok sudah ribut mau keluar? Terlalu jauh kali ya ? dan ortunya atau supir ngrasa cape antar jemput?"
"Gak juga ah .... kan ada school bus. Jadi, antar jemputnya sampe citos doang"
"Lalu ....?"
"Ya itu tadi, gara-gara ketemu temen2nya tea .... udah gitu suami juga ngedukung lagi"
"Memang waktu mindahin anak sekolah, nggak berunding dan sepaham sama suami?"
"Sudah .......!!! Dia mendukung kok..."
"Nah..., lalu kenapa suami berubah pikiran?
"Beberapa hari yang lalu, suami teh nganter ....  trus ngeluh. Yang jalan masuk ke sekolahnya kecillah ... yang  jeleklah. Memang bangunan sekolahnya juga nggak semegah sekolah lamanya... Lebih sederhana. Nah, pulang dari situ, ada aja masalah. Jadi, sejak itu, dia mendukung banget kemauan si anak buat balik ke sekolah lama".
"Pasti perdebatan tentang sekolah itu  dilakukan di depan si anak ya...?", terka saya.
"Bukan debat lagi ....! Perang dunia...! Si anak ngrasa didukung bapaknya, dia bilang ...mamah mindahin aku supaya bayarannya murah ya... ngrasa rugi nyekolahin anak di sekolah yang bagus! Bayangin ... apa nggak sebel...?"
***


Bingung juga mesti menanggapi apa. Hampir 2 tahun lalu, saya juga berdebat cukup panjang dengan anak saat dia duduk di kelas 3 SMP semester 1. Saat itu, kami mulai berbincang mengenai rencana sekolah lanjutannya. Kriteria si anak adalah sekolahnya harus masuk jam 07.30 karena dia nggak mau berangkat terlalu pagi, ngantuk, katanya. Tidak mau sekolah negeri, karena dia banyak dengar cerita tentang bullying di sekolah negeri.

Atas dasar kriteria utama itu, kami mengusulkan beberapa SMA swasta yang kami pikir punya reputasi baik dalam segi akademis maupun pendidikan budi pekerti, moral dan agama. Hal yang penting dipertimbangkan juga adalah keterjangkauan transportasi. Namun semua usulan kami ditolaknya untuk alasan yang .... alhamdulillah, tidak pernah kami pikirkan sejauh itu. Tapi alasannya juga merupakan salah satu hal penting untuk menjaga kehormatan diri, terutama bagi anak perempuan. Anak saya memilih sekolah yang sama dengan SMPnya namun untuk tingkat SMAnya berlokasi di Sawangan. Berbagai upaya untuk memintanya bersekolah di Jakarta selalu ditolak.

Setelah bernegosiasi panjang, akhirnya dicapai solusi tengah, si anak boleh bersekolah di SMA pilihannya namun harus masuk asrama. Bukan karena kami membuangnya, namun lebih pada alasan agar dia tidak terlalu lelah menempuh perjalanan setiap hari, karena jadwal sekolahnya baru selesai sekitar jam 17.00. Walau si bapak berkantor di Depok, namun saat si bapak berhalangan menjemput usai jam sekolah, maka kami akan sangat kesulitan menjemputnya ke Sawangan.
***

"Tya ...., jujur aku bingung mesti jawab apa....! Tapi menurutku, samakan dulu persepsi orangtua mengenai sekolah dan pendidikan anak. Berikan juga contoh bahwa kedua orangtua konsisten dengan pilihan cara mendidik dengan perilaku kita. Nggak mungkinlah kita mendidik anak harus begini-begitu sementara ortu tidak memberikan contoh seperti apa yang dia harapkan dari si anak.... Anak kan cenderung meniru dan cermin dari apa yang diperbuat orangtua. Mereka hanya akan mengambil hal-hal yang enak dan menyenangkan saja",celoteh sok menggurui hehe....


"Memang maneh tara pasea jeung salaki soal sakola barudak...?, tanyanya

"Seringlah ..... tapi, elo lupa ya kalo suamiku dosen? Percuma debat soal pendidikan sama dia... Yang ada juga, gue dapet kuliah pedagogi gratis panjang lebar di meja makan. Kedua anakku tumbuh dalam rentang waktu yang panjang. Pasti ada perbedaan besar dalam mendidik mereka. Alhamdulillah mereka baik-baik saja walau jujur... gue harus mengakui, gue mungkin bukan ibu yang baik buat mereka", sahutku...
***

Ya ....., saya memang bukan ibu yang baik bagi kedua anak saya. Justru merekalah menjadi anak-anak yang sangat baik bagi kedua orangtuanya. Punya karakter yang kuat dan sebagai ibu, sekarang terasa bahwa saya seringkali mengecewakan mereka. Bukan karena tidak sayang kepada mereka, tapi bisa jadi karena saya tidak mampu dan tidak tahu bagaimana cara untuk mengekspresikan kasih sayang dengan cara yang baik dan benar....


"Iya juga kali ya .... urang jeung salaki teh agak kurang sepaham dalam pendidikan anak, jadi pasea terus...."

"Nah kalo gitu... coba ngomong sama suami... dengan kepala dingin... karena perempuan cenderung emosional kalo lagi ngomong sama suami. Jangan juga di depan anak ... nanti jadi bumerang. Kalau sudah sepaham, apa yang kita harapkan dari anak, harus diterapkan juga dalam perilaku orangtua supaya si anak juga bisa melihat bahwa orangtuanya konsisten omongan dan tindakan. Kalau sudah begitu, kan konsisten tuh antara doa ortu dengan contoh kehidupan yang dilihat anak .... In shaa Allah semua bakal beres"
"Iya deh .... gue coba ngomong sama suami ....!, semoga lancar...."
"Amiiinn ....."

upf .... obrolan telpon yang cukup lama akhirnya berakhir ....
***
Memilik anak di abad ke 21 ini sungguh-sungguh berat. Kemajuan teknologi menyebabkan sebaran informasi mengalir tak terbendung. Apa yang terjadi di belahan dunia manapun, dalam hitungan detik tersebar ke seluruh penjuru dunia. Apa yang diterbitkan, diedarkan dan dipasarkan di suatu tempatpun begitu pula.

Sebagai negeri berkembang, penduduk Indonesia berkiblat habis-habisan ke negara-negara yang dianggapnya lebih maju dalam segala hal. Segala macam ditiru... dari mulai pakaian hingga perilaku dan gaya hidup. Padahal kesemuanya belum tentu semua cocok bagi kita.

Gadget sudah menguasai dunia dan mengganti pola komunikasi interpersonal dan apakah karenanya penduduk Indonesia mengalami gegar budaya yang luar biasa? Wallahu alam

Sabtu, 06 Juli 2013

Wisata Kuliner di Malang dan sekitarnya

Selama hampir 2 tahun belakangan ini, kalau dihitung rata-rata, hampir 1 kali sebulan saya mengunjungi kota Malang, atau tepatnya wilayah kabupaten Malang (untuk membedakan dengan kotamadya Malang) dan kotamadya Batu untuk urusan pekerjaan.

Malang yang saya kenal ketika kecil, adalah apel walaupun kemudian kita baru mengetahui bahwa apel Malang yang kita kenal, tidak dihasilkan baik dari kota Malang maupun kabupaten Malang. Kebun apel hanya ditemui di wilayah Batu. Memang .... Batu dahulu kala masuk ke dalam wilayah kabupaten Malang.

Selain itu Malang masuk dalam pikiran saya, karena saat saya kecil, selalu ada tamu istimewa dari Malang. Ini terjadi pada kurun waktu awal tahun 1960 - 1965. (hadooh ... ketauan deh, kalau umurku sudah "uzur hehe...). Konon mereka masih keluarga kakek saya yang memiliki kebun kopi di wilayah Dampit. Jadi saat tamu istimewa ini datang berkunjung ke rumah kami, mereka selalu membawakan biji kopi mentah, yang kemudian setelah disangrai, lalu dibawa nenek untuk digiling di pasar Jatinegara.

Pada akhir abad ke 20, hehe .... untuk menyebutkan kurun waktu 5 tahun terakhir menjelang tahun 2000, setiap kali saya bertugas ke Malang, maka oleh-oleh perjalanan ini adalah kue-kuean atau bakpau telo ungu yang dibeli dari toko-toko dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya. Saat itu memang belum ada penerbangan langsung ke Malang.


Nah ....... dulu, menjelang tiba di hotel, kami selalu mampir ke warung Jawa yang saya lupa namanya dan berada di Batu untuk makan siang karena walaupun sudah berangkat pagi dari Jakarta, perjalanan Surabaya - Malang memakan waktu antara 90 - 120 menit.

Warung yang menyajikan masakan khas Jawa ini adalah favorit big boss. Salah satu menu yang jadi incaran teman-teman adalah krengsengan. Entah bagaimana rasa masakan itu, hingga beberapa teman di Jakarta selalu memesan untuk dibawa ke Jakarta saat kami kembali pulang. Saya memang kurang tertarik dengan warna dan bentuknya, jadi tidak tahu apa yang membuat teman-teman tergila-gila dengan krengsengan itu. Belakangan ini, setelah ada penerbangan langsung dari Jakarta, tempat nongkrong makan siangnya beralih ke soto ayam pak Jari, masih di bilangan kotamadya Batu. Padahal ... seharusnya tidak ada hubungan antara tempat makan dengan lokasi pendaratan pesawat ya.

Perjalanan saya ke Malang biasanya berlangsung hanya 4 hari saja, sehingga masih ada 1 hari dalam minggu terkait untuk berkoordinasi dengan teman-teman di Jakarta, baik sebelum maupun sesudah perjalanan ke luar kota. Begitu juga selalu ada 1 atau 2 hari puasa selama perjalanan 4 hari tersebut.

Nah .... mari kita mulai dengan sarapan pagi. Di Hotel Kartika Wijaya tempat saya biasa menginap dan terletak di jalan Panglima Sudirman nomor 127, saya selalu memesan scramble egg dengan buah-buahan segar untuk sarapan pagi. Dimulai dengan makan buah dan ditutup dengan scramble egg. Untuk makan siang, maka kami yang bekerja di proyek ramai-ramai makan pecel Madiun di warung Amin, juga masih di jalan Panglima Sudirman, tidak jauh dari hotel, Pecelnya lumayan enak. Kadang suka ditambahi dengan bunga turi ( ?) mendampingi daun kemangi dan toge pentul, kesemuanya mentah, dan rempeyek.

Sebetulnya, di samping pecel Madiun yang disajikan dengan nasi atau lontong, masih ada gulai dan rawon. Nah .... makanan berdaging ini biarlah dimakan oleh rekan lelaki yang pada umumnya gembul. Saya tidak pernah mencobanya. Beraaaaatttt .........., mending makan pecel tanpa lontong/nasi. Sudah sangat mengenyangkan. Untuk sahur Kamis dinihari, biasanya saya minta dibawakan ke kamar soto ayam tanpa nasi dan buah potong.


sambal apel
Malam hari ...., kami biasanya makan di Warung Bambu ... Disini, kami makan ayam/gurame bakar, udang saus pedas, cumi goreng, kangkung cah dan tidak lupa........... tempe dan tahu penyet. Minuman pesanan saya biasanya jeniper alias jeruk nipis peras yang hangat, wedang rempah atau wedang jahe. Pokoknya yang hangat-hangat. Kalau anak lelaki, pesanan minumannnya lebih heboh...!!! Dari mulai beragam juice sampai beragam kopi dan minuman hangat lainnya.

Makan di Warung Bambu suasananya sangat menyenangkan. Kita ditempatkan di meja-meja rendah ... jadi makan sambil lesehan di gubuk bambu yang terletak di atas kolam ikan yang ditanami pepohonan. Harga makanannya relatif memadai .... apalagi kalau kita bandingkan dengan ukuran harga makanan sejenis di Jakarta dan sekitarnya. Biaya yang dihabiskan rata-rata hanya 50 ribu per pax sudah termasuk minuman berupa juice, kopi atau minuman hangat lainnya.

Di lain waktu, kami makan cwie mie di bilangan jalan Kawi ... lupa namanya... Cwie mie di resto berbendtuk ruko ini disajikan dalam mangkuk dan alas mie nya berupa lembaran pangsit goreng mengikuti bentuk mangkuk. Kuahnya beragam ... ada kuah bening atau kuah kental rasa asam manis yang ringan dengan berbagai tingkat "pedas"nya.


Penggemar mie lainnya bisa mencicipi mie gang Jangkrik (kalau nggak salah) di bilangan jalan Sukarno Hatta. Disini porsi mie nya luar biasa besar.... Buat ukuran perut "normal", rasanya bisa dimakan untuk 2 orang dan harganya memang lebih mahal daripada cwie mie jalan Kawi.


Bakwan Malang
Suka dengan bakwan/bakso Malang ....? Ada dua yang direkomendasikan teman-teman saya .... Bakso Solo yang relatif bertebaran di mana-mana dan satu lagi bakso DAMAS, kalau nggak salah di jalan Sukarno Hatta juga. Harganya relatif murah dan rasanya, menurut saya lebih OK daripada bakso Malang Karapitan yang ditemui di Jakarta. Tapi kalau ke Malang cuma untuk makan bakso Damas, jelas nggak masuk akal dong ... Berat di ongkos...!

Saya juga pernah makan di warung mahasiswa, yang berlokasi di depan kampus universitas Muhamadiyah.... 1 paket nasi+ayam goreng+tempe/tahu penyet cuma 10ribu saja. Murah meriah tapi susah dapat tempat kosong dan buat mereka yang porsi makannya besar, paket a la mahasiswa sepertinya kurang mengenyangkan. Maklum .... itu tempat favorit anak kost. Mereka juga menjual ketan durian .... Ini seperti ketan putih yang disiram dengan kinca berduren. Rasanya lumayan enak juga. Yang penting murah kan....?

Makanan modern a la kota besar seperti pasta dan steak ada di pusat kota Malang. Kami pernah mencicipinya di Hergi cafe. Tapi .... sepertinya teman-teman saya kurang menikmatinya sehingga kami tidak lagi mengunjungi tempat itu untuk makan malam.

Nah .... itulah resto atau warung yang biasa saya kunjungi. Tentu masih ada tempat lain seperti hot plate, Batu Suki dan lainnya... tapi kurang unik baik rasa maupun tempatnya.

Sekarang kita beralih ke oleh-oleh khas Malang.
Apel ......? itu sudah pasti .... tapi kalau sudah bosen apel atau buah tidak menjadi makanan pokok yang wajib terhidang di atas meja kita, maka pilihannya adalah kripik-kripikan a la Malang. Untuk ngemil sambil nonton tv.


Warung Bambu - Batu
Yang pertama adalah kripik tempe ... Ada yang bentuknya bulat (dengan diameter sekitar 6 cm). Ini yang umum ditemukan di toko2 ... Nggak boleh nyebut nama toko ya, karena saya bukan staff pemasarannya. Tapi .... saya biasa beli kripik tempe yang bentuknya persegi panjang sekitar 3 x 6 cm dan ini ditemukan di Batu. Anak dan suami juga lebih suka kripik tempe yang bentuknya kotak. Lebih renyah dan tidak keras dibandingkan dengan yang bulat.

Selain kripik tempe, ada kripik jamur dan kripik buah-buahan seperti apel, semangka, melon, nangka, mangga, duren, ubi manis (kuning), ubi ungu, ubi "anggrek" karena warnanya campuran ungu dan putih. Tentu ada kripik-kripik lainnya.... Yang saya sebut itu adalah yang sering saya beli untuk oleh-oleh teman dan keluarga. Selain kripik, makanan khas untuk oleh-oleh dari Malang adalah pia Mangkok dan moci. Ini rasanya juga enak. Jauh lebih enak dari bakpia Pathuk dari Jogja.


Itulah sebagian kuliner Malang yang pernah saya nikmati. Semua yang saya sebut adalah jenis yang berulang kali saya makan ... artinya disukai juga oleh teman-teman yang mengantar ... Atau ... jangan-jangan, sebetulnya mereka kurang suka, tapi sungkan bilang terus terang... Hehe ... Jadi lebih tepat adalah kuliner pilihan saya ....

Ada yang mau menambahkan...?

Selasa, 02 Juli 2013

SITU CILEUNCA – Pangalengan


Situ Cileunca, kawasan tujuan wisata di wailayah Pangalengan ini sebetulnya tidak sengaja ingin dikunjungi. Tujuan utamanya adalah ingin jalan-jalan di areal kebun teh Pangalengan. Areal kebun teh yang seperti pada umumnya sudah dioperasikan sejak jaman penjajahan Belanda dulu. 

Itulah yang saya tahu tentang Pangalengan yang letaknya di wilayah Selatan kota Bandung, selain produk olahan yang berasal dari susu. Beberapa tahun yang lalu, sang suami pernah diajak rekan kantornya mengunjungi kampung keluarganya di wilayah ini dan kembali ke Jakarta berbekal beragam produk olahan susu. Yang saya ingat adalah pudding susu dalam cup yang rasanya enak sekali.

Pada liburan anak sekolah kali ini, mencuri waktu kerja ketika suami juga kebetulan sedang ada acara di luar kota untuk beberapa hari, kami berdua ... saya dan anak berangkat ke Bandung. Acara utamanya ke Rumah Mode, karena si gadis ... mungkin karena terpengaruh ocehan teman-temannya, ingin kesana. Karena acara ini pasti hanya "seru" untuk dilakukan hanya oleh perempuan ...., maka sengaja saya ambil cuti dua hari. Suami rencananya menyusul langsung dari bandara Cengkareng ke Bandung naik bis. Sudah diwanti-wanti harus pakai Primajasa supaya mudah penjemputannya.

Sabtu pagi ... eh nggak pagi juga sih. Akhirnya jam 11.00 kami baru berangkat dari Perumahan Gading Regency di bilangan Sukarno-Hatta menuju Pangalengan. Agak siang, karena selain menunggu bubur ayam mang Oyo yang terlambat datang, kami juga harus menunggu adik saya yang akan mengendarai mobil dan sebagai penunjuk jalan.

Bandung di waktu liburan sekolah anak dan week end pasti penuh dan "dibanjiri" dengan mobil berplat nomor B. Maka ..... adik saya memutar otak, mencari jalur mana yang layak dilalui untuk menghindari kemacetan parah. Maka ... walau hanya menempuh 1 gate saja, diputuskan kami masuk gerbang tol Buah Batu menuju gerbang tol Moch Toha. Usai mengambil kartu pass, terlihat arus kendaraan menuju gerbang tol Buah Batu dari arah Padalarang - Purwakarta mengular panjang bahkan hingga 1 km di jalur tol Padaleunyi. Gila ..... kalau di Buah Batu saja sudah sepanjang itu, bisa dibayangkan bagaimana di gerbang tol Pasteur. Untungnya ... gerbang tol Moch Toha sepi dari peminat, sehingga hanya ada 3 mobil saja di depan kami.


Harapan untuk menempuh perjalanan dengan nyaman, rupanya hanya fatamorgana. Jalan raya Banjaran macet total .... Penyebabnya, selain karena banyaknya trailers yang keluar masuk dari berbagai pabrik di sepanjang jalan Banjaran, juga akibat dari "peredaran" trailers yang overweight, maka sudah dipastikan jalan raya Banjaran tersebut hancur lebur. Ditambah lagi musim kemarau "basah" pasti menambah parah kerusakan. Maka .... upaya atau lebih tepatnya "niat baik" pemerintah menambal/memperbaiki jalan dengan melapisi jalan lama dengan beton setebal kira2 20cm menjadikan arus lalu lintas bukan saja tersendat, tapi nyaris macet total. Bayangkan saja, untuk bergerak sejauh 10 meter saja, kami harus menunggu sekitar 15 menit, lalu berhenti untuk menunggu 15 menit lagi. Begitu berulangkali.

Bayangan menikmati liburan yang menyenangkan betul-betul sudah hilang dari kepala. Mau memutar arah mobil untuk kembali ke Bandungpun hampir mustahil karena dari arah yang berlawanan, motor dan angkot berseliweran susul menyusul. Entah berapa jauh jarak yang kami tempuh selama 3 jam tersebut. Yang pasti ... akhirnya kami tiba di SItu Cileunca pada jam 15.00. Berarti + 4 jam untuk menempuh jarak sekitar 40km.

Situ Cileunca yang indah sudah terlihat dari jarak jauh ... bahkan cukup jauh. Indah terlihat ... hal itu juga yang menarik kami untuk langsung mengunjungi. Apalagi dengan adanya panel-panel petunjuk dan iklan adanya flying fox, paint ball, dan rafting Panglayang. Sepertinya menarik sekali ... apalagi disekitarnya terlihat banyak guest house. Maka ... rencana untuk berlibur di lokasi ini, menikmati semalam dua dengan keluarga besar mulai menari-nari di kepala.


Usai membayar uang masuk 50 ribu rupiah untuk mobil dan 9 penumpang dewasa dan anak-anak, kami mendapat tempat parkir dengan teramat mudah. Tidak banyak yang mengunjungi lokasi ini bila dibandingkan dengan Kawah Tangkuban Parahu, Ciater ataupun Kawah Putih.

Karena perut para kurcaci baru terisi Nu green tea dan lays potato chips, maka kami bergegas mencari gubuk tempat makan siang. Adik ipar saya, mendahului kami dengan ditemani seorang perempuan muda membawa tikar. Hm ..... pasti harus sewa tikar untuk dihampar di bawah tenda yang agak kumuh. Entah apa yang diperbincangkan ... dan salah saya juga yang biasanya agak cerewet dengan hal-hal seperti ini, kali ini mengikuti saja naik ke gubuk reyot itu... Alasan utamanya karena sudah tidak tahan menahan kebutuhan dasar ke toilet setelah minum begitu banyak air.

Persoalan pertama muncul ..... sebagaimana galibnya di hampir seluruh kawasan wisata di Indonesia, maka, toilet menjadi masalah utama dalam hal kebersihan. Jangan berpikir kenyamanan... ini sepertinya hal yang sangat mustahil ditemukan di Indonesia. Tidak berbau saja, maka kita sudah bisa dikatakan "beruntung". Sebagaimana umumnya "bagian belakang" rumah, apalagi sebagai tempat pembuangan sisa makanan/minuman manusia, maka toilet kita memang menjadi cermin tingkat kebersihan kawasan wisata. Jadi .... kalau kawasan wisatanya saja sudah sangat tidak terawat ..., maka bisa dibayangkan bagaimana tingkat kebersihan toiletnya. Masih beruntung, air yang melimpah meluruhkan bebauan khas, tapi ... kita tetap harus menahan napas dan membutakan mata melihat kondisi ruangnya.


Beruntung pula, pesanan makan siang sudah dilakukan sebelum melepas hajat. Kalau belum .... pasti hilanglah sudah selera untuk makan siang. Sudah pula terlambat waktunya.

Makan siang kami saat itu adalah tahu+tempe goreng ditambah dengan 4 ekor ikan mas goreng (total 1kg), 2 ekor ayam bakar, 1 ekor ayam goreng. krupuk aci dan lalapan+sambal. Tidak lupa tentu nasi untuk 9 orang. Tunggu punya tunggu .... kok makanan tak kunjung tiba ... langak-longok kesana kemari, tidak ada manfaatnya karena ada beberapa warung yang menyajikan menu yang sama dan kami betul2 tidak tahu dari warung mana perempuan muda tadi datang.

Akhirnya... kami hanya bisa bergurau sambil meringis menahan lapar...
"Jangan-jangan, ayamnya baru dipotong dan ikannya baru selesai dipancing..."
Tiba-tiba, adik saya yang baru saja keliling-keliling bilang...
"Eh .... beneran lho ... ayamnya baru dicabut bulunya di warung situ! ikan juga baru disiangi. Dia bilang ... semua disini fresh. Baru disiapin kalau ada yang pesan..."
Alamak ..... segar sih segar..... lha ini sudah jam 16.00 ................. Makan siang apa pula nih...?
Padahal ... malamnya sekitar jam 20.00, adik saya yang lain sudah pesan tempat untuk makan malam di Rumah Nenek di bilangan Cibeunying - Bandung.

Akhirnya .... yang ditunggupun datang dan balatentara yang kelaparan langsung menyerbu hidangan "segar" a la situ Cileunca. Masakannya lumayan memenuhi selera walau sepertinya si ayam sudah agak tua sehingga dagingnya agak alot, terutama terasa pada ayam bakarnya.
Sambalnya lumayan pedas, tapi ... karedoknya masih kalah jauh enaknya dibandingkan dengan karedok olahan asisten dapurku yang orang Cihampelas - Cimahi itu.


Sekitar jam 17.00, kami putuskan untuk kembali ke Bandung, maka kudatangi warung untuk menyelesaikan pembayaran.
"Janten sabaraha bu...?"
"Genep ratus dua puluh rebu, neng ...!"
Ha .......? Sumpah mati ...... kaget banget dengar harganya ... Perkiraanku, dengan makanan seperti itu, kami hanya akan menghabiskan maksimal 450 ribu saja.
"Geuning awis pisan nya'...?"
"Sumuhun neng ... atuda si eneng henteu kadieu langsung... Eneng teh nganggo calo, janten pangaosna ge benten... manehna nu ngetang ....!"
Halah ............!!!!
Ya sudah deh ..... gak bisa ngomong apa-apa lagi. saya keluarkan uang secukupnya dan ...... hap ..... perempuan muda calo itu langsung menyambar uang yang tadinya sudah kuangsurkan untuk ibu pemilik warung ...! Si calo rupanya betul-betul jadi penguasa lapangan ....!

Sambil beres-beres barang yang ada di gubuk, si calo nagih lagi uang sewa tikar....
"tiga puluh ribu...." katanya, untuk sewa 2 tikar mendong butut selama 2 jam saja.
"Lho ..... bukannya sudah termasuk di harga makanan tadi..., kan kamu sudah dapat komisi disitu!" sahutku rada ketur.
"Nggak bu ... tikar ini lain lagi orangnya..."
Hadoh ....... 2 kali dikerjain ....!


Lenyap sudah angan-angan ingin berlibur sekali lagi menikmati udara Pangalengan dan Situ Cileunca yang sejuk itu. Sungguh ..............!!! Keindahan danau alias situ Cileunca tersebut sangat tidak sebanding dengan kondisi lapangan. Pengelolanya, biasanya pemerintah daerah, hanya tertarik untuk menarik retribusi karcis masuk saja tanpa melakukan perawatan lahan dan fasilitas umumnya sama sekali. Apalagi ditambah dengan calo-calo yag berseliweran berpura-pura menawarkan ini itu untuk kemudian "menjarah" pengunjung yang lengah.

Ini memang menjadi publisitas buruk bagi perkembangan kawasan wisata, terutama yang dikelola pemerintah daerah. Tapi memang begitulah kenyataan yang terjadi di hampir seluruh kawasan wisata yang dikelola pemerintah daerah dan hingga sekarang tidak pernah berubah.

Rasanya, perlu dipertanyakan juga apa yang dilakukan oleh Menteri Pariwisata dan industri kreatif dalam upayanya meningkatkan fasilitas dan kualitas kawasan wisata. Bagaimana kita bisa meningkatkan arus wisata dari luar negeri kalau kualitas kenyamanannya dan fasilitasnya sama sekali tidak diperhatikan? Pemerintah Daerah/pengelola kawasan wisata perlu diberikan pelatihan dan monitoring yang terus menerus agar mereka mampu meningkatkan kualitas dan kinerjanya. Jadi, memang masih banyak yang harus dilakukan untuk mampu menarik wisata dan "meredam" wisatawan yang gemar ke luar negeri untuk mau menikmati wisata di dalam negeri.

Wallahu alam

Senin, 24 Juni 2013

Subsidi BBM...? Rakyat tersandera karenanya.

Pemerintah, akhirnya mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi (premium) dari Rp.4.500,- per liter menjadi Rp.6.500,- Sudah beberapa bulan ini, harga barang-barang konsumsi rumah tangga bergejolak hebat. Mulai dari harga daging sapi yang kenaikannya gila-gilaan. Dari yang semula hanya sekitar 60 ribu per kilo sekarang di sekitar 100 ribu per kilo. Lalu kenaikan harga bawang putih dan buah impor... Yang ini sih, nggak apalah ... toh konsumennya juga terbatas, dibandingkan dengan kenaikan harga daging yang sama-sama impor. Pasalnya, masyarakat umumnya tidak banyak mengkonsumsi buah, apalagi buah impor. Bawang putih, kalaupun ada kenaikan harga, penggunaannya sedikit.

Ironi ... bayangkan, negara yang dulu dikenal sebagai negara agraris dengan luas lahan/daratan yang sangat luas dan berada di wilayah hutan tropis, harus mengimpor kebutuhan rumah tangga hasil produk pertanian. Padahal .... di tahun 1980an, Indonesia sempat mendapat penghargaan karena swasembada beras.

Belum usai gonjang-ganjing harga daging dan buah impor, muncul isu kenaikan harga BBM yang kemudian selain memicu demonstrasi, tentu saja diikuti kenaikan harga segala kebutuhan rumah tangga. Padahal .... harga BBM (premium) bersubsidi belum lagi naik. Padahal lagi.... sebagian besar alat transportasi hasil bumi lebih banyak menggunakan solar (setahu dan menurut pengamatan saya, maaf kalau salah). Jadi entah bagaimana dan darimana hitung-hitungan kenaikan harga tersebut. Bahasa terangnya.... ada segelintir manusia yang serakah dan memanfaatkan keriuhan isu kenaikan BBM.

Sedih .... karena bulan Ramadhan dan Idul Fitri ... bulan dimana sudah sangat dipastikan harga kebutuhan rumah tangga, sandang, pangan dan segala macam barang konsumsi dipastikan akan naik tinggal dalam hitungan hari saja. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi masyarakat golongan bawah dalam memenuhi kebutuhan hidup. Jangan-jangan, tingkat kriminalitas akan meningkat drastis termasuk tingkat bunuh diri karena alasan tekanan ekonomi.

Apakah memang ada subsidi dalam penetapan harga BBM dalam negeri? Entahlah .... itu kan tergantung dari sudut pandang masing-masing pihak. Ada yang bilang subsidi itu akal-akalan pemerintah saja atau ... lebih tepatnya pemerintah terjebak atau dijebak dalam tata cara menghitung harga BBM berdasarkan masukan dari konsultannya Bappenas sejak jaman awal-awal pemerintahan Suharto (coba baca Confession of an Economic Hit Man nya Jihn Perkins deh...). Sehingga terbitlah istilah subsidi harga BBM dalam negeri.

Padahal, kalau mengacu pada pasal 33 UUD 45, harga BBM kan cukup dihitung dari biaya produksi + sedikit keuntungan bagi operatornya saja, karena minyak mentah yang nota bene berada di dalam tanah, adalah milik rakyat dan selayaknya digunakan untuk kepentingan dan untuk kemakmuran rakyat. Bukan untuk memperkaya perusahaan operator, apalagi kalau operatornya adalah operator asing.

Subsidi BBM konon ditimbulkan dari disparitas harga jual minyak mentah dunia ditambah dengan biaya kilang & transportasi dengan harga jual dalam negeri yang dianggap murah. Disparitas yang dianggap subsidi inilah yang menyandera rakyat dimana pemerintah lama - kelamaan menganggap rakyat menjadi manja dan melakukan penghamburan energi (bbm). Walaupun ada benarnya, .... penghamburan energi (bbm), salah satunya juga karena kesalahan pemerintah yang tidak cermat menggunakan anggaran, apalagi ada banyak kebocoran. Transportasi massal tidak pernah dikembangkan karena kuatnya tekanan pemodal ATPM alias produsen mobil sehingga penjualan mobil meningkat dan menimbulkan kemacetan dimana-mana.

Maka .... mungkin tidak ada salahnya bila harga BBM dalam negeri dipatok dengan acuan harga pasar  saja. Pemikiran ini dengan tujuan agar masyarakat tidak tersandera  dan jadi permainan pemerintah/dpr atas apa yg dinamakan SUBSIDI seperti yang sekarang terjadi.

Kalau harga BBM dalam negeri dipatok dengan harga pasar, maka pemerintah tidak punya dalih lagi untuk menghamburkan APBN melalui subsidi/BLSM dll yang ujung2nya kita semua tahulah dimana bocor2nya.

Memang pasti akan ada korban, terutama masyarakat golongan berpenghasilan rendah. Tapi mereka cukup babak belur/hancur sekali aja, walau mungkin habis2an. Sesudah itu, tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk menaikkan harga bbm dengan dalih mengurangi subsidi. Toh kita  sudah pernah hancur2an saat krisis moneter 1997-1998 dimana harga melambung gila-gilaan. Nilai tukar dolar Amerika yang semula bertengger di sekitar Rp.2.200,- saja, melambung hingga kisaran Rp.16.000 - Rp.18.000,-, hingga sekarang nilai tukar tersebut tidak pernah lagi bisa turun di bawah Rp.8.250,-, yaitu nilai terendah saat Megawati naik menggantikan Gus Dur dan dianggap tidak mampu menangkap momentum penurunan harga dolar tersebut untuk memperbaiki kondisi dalam negeri

Apakah PERTAMINA binasa karena menerapkan harga jual BBM yang sama dengan SHELL? Logikanya, kalau Shell untung besar dengan harga jual sekarang (super+super extra), maka Pertamina pasti akan mengalami hal yang sama, apalagi kalau premium tidak lagi dijual lebih murah. Pertamina seharusnya UNTUNG BESAR juga ...... Apalagi sebaran SPBU Pertamina jauh lebih luas dari sebaran SPBU pemain asing. Maka dengan cara itu, maka  PERTAMINA akan punya dana yang besar untuk mengeksplorasi/ekspolitasi ladang minyaknya.

Kalau memang biaya produksi Pertamina rendah, ya jual saja BBM itu dengan harga rendah (dengan mengutip keuntungan sepantasnya saja) seperti yang dihitung para pakar itu. Pasti pemain asing (Shell, Total dll) tidak akan kuat bersaing dengan Pertamina dan mereka akan segera hengkang dari Indonesia seperti Petronas. Tapi masalahnya ternyata memang tidak sesederhana itu.

Berapa biaya produksi/pembelian minyak mentah+komisi makelar + transportasi + ongkos kenakalan pejabat negara dll? Tidak ada yang tahu persis kecuali para pejabat terkait! Belum lagi kebocoran sana-sini akibat "permintaan jatah" atau "kebocoran" yang disengaja. Mungkin kita masih ingat bahwa beberapa tahun yang lalu pernah ditemukan pipa minyak mentah dari salah satu ladang Pertamina di Kalimantan menuju pantai, yang keberadaan pipa tersebut ternyata  "tidak tercatat" oleh Pertamina/operator manapun.

Memakai ongkos produksi operator asing sebagai acuan biaya produksi juga percuma kok, karena dalam biaya produksi mereka (cost recovery) sarat dengan mark up. Mereka bahkan memasukkan OHC kantor pusat di negaranya ke dalam biaya produksinya.

Masalah yang kita hadapi sekarang ini bukan sekedar harga jual BBM bersubsidi atau non subsidi, tapi lebih luas lagi adalah soal TATA KELOLA PEMERINTAHAN, di seluruh lini. Tidak ada keberpihakan kepada rakyat atau keinginan untuk bahu membahu demi kemajuan bangsa dan negara. Para penyelenggara pemerintahan dari tingkat pusat hingga pada level rendah lebih memikirkan kepentingan sesaat baik bagi pribadi, kelompok dan golongannya dan ini tidak saja para seniornya tetapi juga sudah merasuk ke generasi muda.

Kalaupun ada yang masih idealis, maka jumlahnya sangat tidak mencukupi untuk menggerakkan kesadaran akan masa depan bangsa dan negara ini. Menyedihkan ...? SANGAT .....!!!

Sabtu, 01 Juni 2013

GOSONG JILID KEDUA

Sejak sekitar satu bulan yang lalu, assisten dan penguasa dapur rumahku, sudah wanti-wanti minta ijin libur week end. Kakak kandungnya yang tinggal di wilayah Karawang mau mantu. Jadi sebagai salah seorang kerabat dekatnya yang dianggap paling "mampu", sang penguasa dapur ini diminta untuk hadir. Maunya sih dijadikan juru masak juga, karena dia memang piawai dalam hal masak memasak terutama masakan lokal.

Untuk ukuran "kampung", dia juga dianggap piawai mengolah masakan "berkelas" seperti spagety, macaroni schotel, kentang panggang siram keju dan sejenisnya yang jadi favorit anak2, yang menurut ceritanya, sering dipraktekkannya saat libur lebaran selama 2 minggu di kampungnya di Cimahi/Cihampelas sana, walau untuk jenis masakan ini, "taste"nya belum cocok dengan "taste" kami. Hal ini pula yang membuat sang kakak sedikit cemas, lantaran dia tidak bisa membantu masak-memasak sajian pesta pernikahan itu. Anaknya yang duduk di kelas 2 SMK Grafika harus menempuh EHB hari Senin 3 Juni 2013 ini, sementara pesta berlangsung hari Minggu malam. Nah ..., siang tadi setelah anaknya kembali dari sekolah dan makan siang, mereka berangkat ke Karawang.


sayur kering kerontang
Malam ini, saya dan anak gadis yang menghabiskan waktu week end nya di rumah, di temani oleh tukang kebun, menjadi penunggu rumah. Bapak ....., ada acara keluarga besarnya. Kumpul-kumpul, merayakan ulang tahun beberapa anggota keluarga, yaitu adik-adik dan keponakan-keponakannya di rumah peninggalan ibu mereka. Karena si bapak tidak ada di rumah, maka menu dan acara makan malam jadi agak "suka-suka". Tidak wajib duduk manis di meja makan, walau segelas perasan jeruk Pontianak setara dengan 3 - 4 buah, menjadi minuman wajib pembuka makan malam. Mumpung lagi musim ... Kalau nggak diperas, mana mungkin menyantap 4 buah jeruk sekaligus. 1 buahpun kadang tak habis dimakan.

Di kulkas, ada lontong yang tadi pagi saya beli di pasar. Masih ada sayur waluh berkuah santan encer berwarna merah cabe. Masih ada ayam masak lada hitam. Jadi ... cukup untuk makan malamku dan kang kebon yang asli Cihideung - Bogor. Si anak, biar nanti dipesankan lasagna dan steak with pasta. Delivery order dari Izzi Pizza yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah

Karena masakan bersantan itu disiapkan sebelum sang penguasa dapur, pergi ke Karawang, maka "si dia", wajib dihangatkan dulu supaya tidak basi, berikut sisa sup makaroni anakku. Cukup untuk makanan pembuka malam ini. Maka ...... kunyalakan kompor .... Yang ini, lancar jaya, nggak masalah. Walau bagaimana, turun ke dapur dan masak-memasak sederhana masih bisa dan biasa saya lakukan. Setelah ke dua panci tersebut bertenger di atas stove, kutinggal sebentar ke dalam .... Dalam pikiranku, 5 - 10 menit waktu yang dibutuhkan untuk menghangatkan ke dua jenis makanan itu, bisa kumanfaatkan untuk membereskan meja makan atau apalah. Daripada benging di depan panci. Toh sudah tidak ada suatu apapun yang dilakukan, kecuali menunggu makanan tersebut panas dan mendidih.

Begitulah .... tiba di meja makan, masih ada 3 buah risoles yang saya beli tadi siang di IF alias l'Institute Francaise di jl. Wijaya itu dan lupis ketan yang dirapikan lagi. Koran dan majalah yang berserakan .... tanpa sadar, wilayah jelajah melebar ke kamar ... ambil gadget, MacBook Pro dan lain-lain. Asyik meneruskan browsing rumah yang semalam kulakukan .... Apalagi teringat ada kiriman beberapa email dari rekanku di Surabaya mengenai prospek proyek yang tadi pagi dalam perjalanan ke IF, sempat diberikan komentar, walau filenya sendiri belum dilihat.

Asyik browsing hingga datang waktu shalat maghrib dan kemudian  kesibukan beralih untuk menelpon Izzi Pizza untuk meminta delivery order, pesanan si gadis .... yang tidak mendapat respons. Mungkin petugasnya super sibuk baik layanan on site, take away atau delivery order seperti biasanya malam Minggu, dimana sebagian penduduk Jakarta menghabiskan waktu di luar rumah atau menyantap makanan yang sedikit berbeda dari keseharian.

Karena hingga 15 menit usaha menelpon gatot alias gagal total, maka saya melangkahkan kaki ke belakang, mancari kang kebon, memintanya pergi membeli pizza.

Dia sedang asyik menggosok-gosok panci dan dari dalamnya dia menunjukkan gumpalan-gumpalan makaroni. Keduanya sudah sama-sama menghitam dan legam garing ..... Dapur juga sudah bau gosong ...... Halaaaaaah ....... Sudah nggak bisa kasih komentar apa-apa lagi. Malu sama kang kebon ...., sekaligus ingin ketawa, menertawai kebodohan dan keuzuran.

Ini adalah kali ke dua .... kebodohan yang berulang ....
Konon ada peribahasa bahwa keledai (yang bodohpun) tidak akan pernah terperosok ke dalam lubang yang sama. Jadi .... kalau saya melakukan kebodohan yang sama, apapun alasannya, maka saya ternyata lebih bodoh dari keledai ya .....

Senin, 20 Mei 2013

ETIKA dan KEJUJURAN sudah jadi barang langka

Sabtu malam yang lalu, usai makan malam, kami bertiga keluar rumah menuju ke sebuah "grand surface" milik dan merek asing. Apa boleh buat ... bukan karena tidak cinta produk Indonesia, tapi ini karena kebetulan kami sudah kehabisan buah2an untuk disantap. Selain itu ... ada langganan yang, agak ge'er nih..." selalu menunggu kedatangan kami dan itu ditandai dengan matanya yang berbinar-binar saat melihat kami turun dari mobil. Dia adalah pedagang kue semprong ... Makanan rakyat yang sekarang ini, penggemarnyapun sudah mulai langka. Itulah salah satu sebab 1 bulan sekali, kami sempatkan untuk "mencari-cari" alasan berbelanja ke lokasi tersebut.

Sebetulnya, saya punya juga langganan penjual buah di pasar Pondok Labu. Sayangnya, si tukang buah itu sudah pindah profesi. Anaknya jadi tukang penganan gorengan sedang si bapak, sekarang mengkhususkan diri hanya menjual jambu biji merah. Jadi agak repot juga kalau setiap minggu, hanya menyantap jambu biji merah terus. Kurang variatif jadinya.

Begitulah, seperti yang sudah ditulis pada awal cerita ini, malam itu, kami pergi ke grand surface tersebut untuk membeli buah-buahan. Buah incaran kami biasanya nanas madu yang kecil itu lho .... Rasanya jauh lebih manis daripada nanas madu yang besar. Seratnyapun lebih halus sehingga enak digigit. Selain itu, kami juga mencari buah naga merah. Ini kesukaan suami karena konon katanya "nendang" banget buat membersihkan isi perutnya. Biasanya kami beberapa buah roti karena setelah jam 21.00, ada diskon, selain membeli roti jenis cheese royale yang sedap banget. Roti Cheese Royale ini nggak kena diskon.

Malam itu, kami juga membeli kopi kapal api buat suami. Entah bagaimana seleranya, berbagai jenis dan merek kopi disodorkan, balik-balik selalu kopi kapal api. Padahal ..... sudah berbagai macam kopi dibeli ... bahkan kopi Turki yang langsung beli ditempatnyapun tak disukai. Maka ... terpaksalah dia tak minum kopi, selama kami belum sempat belanja.

Usai membayar sejumlah belanjaan, kasir mengingatkan saya untuk mengambil hak PARKIR GRATIS di counter Penerangan di lantai di bawah tempat kami membayar. Maka saya menuju tempat itu ... Saya pikir, lumayanlah .... toh itu hak, sekaligus mengecek points dari akumulasi pembelanjaan.

Di counter, sudah ada 1 orang yang sedang menyelesaikan permintaan parkir gratis. Kepadanya, petugas memberikan uang sejumlah Rp.6.000,- sebagai pengganti karcis parkir.

Giliran saya, karena sudah beberapa kali memperoleh parkir gratis, maka kepada petugas lelaki saya ajukan bukti pembayaran dan tiket parkir. Biasanya tiket parkir itu digunakan untuk pencatatan dan pemeriksaan nomor polisi kendaraan. Seusai tiket parkir distempel, petugas tersebut menyobek bagian bawah bukti pembayaran dan mengembalikannya berikut tiket parkir. TANPA UANG.

Agak heran, saya tanyakan padanya :
" Karcis ini bisa digunakan untuk pembayaran parkir?"
" Ya bu ....", jawabnya.
" Maksud saya, cukup diperlihatkan saja... tanpa bayar?", ulang saya sekali lagi.
" Ya bu ..."

Walau agak bingung, karena melihat orang sebelum saya mendapat uang tunai, saya ambil juga tiket parkir yang sudah distempel PARKIR GRATIS itu. Masih berbaik sangka ... mungkin uang tunai pecahan Rp.2.000,- nya sudah habis. Jadi, sebagai ganti, cukup membubuhi tanda PARKIR GRATIS, dan nanti.... manajemen parkir yang akan melakukan/mengajukan klaim penggantian parkir tersebut. Toh, saya juga seringkali mendapatkan fasilitas sejenis di beberapa gedung perkantoran di Jakarta. Cukup dibubuhi stempel tanda bebas parkir alias gratis, maka kita bisa keluar tanpa bayar.

Begitulah ..... kami keluar dan dengan pede alias percaya diri, tidak menyiapkan uang parkir. Tapi ...., sungguh kaget ketika petugas gerbang parkir meminta pembayaran.
"Enam ribu rupiah, pak...." katanya kepada suami yang mengemudikan mobil.
"Hah ...., kan sudah ada tanda parkir gratis. Tadi diberi tahu cukup memberikan tiket yang sudah distempel saja". sahutnya
"Tidak pak ...., bapak kan sudah dapat uang pembayaran parkir ... Jadi uang itulah yang harus bapak gunakan untuk pembayaran parkir" sahutnya lagi.

Sambil bersungut-sungut, dikeluarkannya sejumlah uang pembayar parkir tersebut. Sepanjang jalan dia mengomel atas kejadian itu.
"Bikin surat komplen ke manajemennya ...", perintahnya pada saya.
"Tumben ngomel .....", sahut saya.
"Nggak bener tuh ....! Bukan soal besar uangnya, tapi ini soal hak ..... Korupsi dimulai dari yang kecil-kecil, tau nggak?"
"Iya tau .... Cuma ...., nggak biasanya kamu ngomel. Biasanya saya yang ngomel kalau ada urusan seperti ini dan lalu kenyang dinasehati ....!"
 "Ini soal prinsip ....."
"Iya ... tapi ngebayang enggak sih ...., berapa sih gaji petugas informasi itu? Kalau dilapori kemudian dipecat ... kan orang kecil juga yang kena...", begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran saya saat itu.
***

Saya, kemudian, cuma menumpahkan kekesalan itu dalam status di FB. Tindak ingin memperpanjang soal kecil itu. Tanpa bermaksud sombong ... insya Allah, kami tidak akan kekurangan dan jatuh miskin hanya karena terpaksa membayar Rp.6.000,-. Tetapi kalau kasus ini kami laporkan kepada manajemen grand surface tersebut, bisa jadi petugas informasi itu  akan ditegur atau terkena sanksi. Tetapi membiarkan hal tersebut terjadi, dampaknya akan jauh lebih luas .... Ada bibit penyelewengan wewenang disitu. Bayangkan ... diberi wewenang pengelolaan dana parkir yang mungkin hanya berjumlah 1 juta rupiah per hari saja sudah menjadi godaan perbuatan curang. Apalagi kalau diberi kesempatan yang lebih luas lagi di masa yang akan datang.

Maka ... setelah dipertimbangkan lebih jauh akhirnya tadi pagi, dengan berat hati saya menulis keluhan kepada manajemen grand surface terkait sekaligus mengusulkan agar fasilitas parkir gratis tidak lagi diberikan dalam bentuk tunai. Cukup dengan stempel dengan tulisan PARKIR GRATIS saja.

Tanggapan dari manajemennya, melalui email juga, cukup cepat. Tidak lebih dari 2 jam saja saya sudah mendapat tanggapan. Tapi ... saya tidak ingin memperpanjang masalah dengan memenuhi permintaan mereka untuk memberikan nomor telpon pribadi atau apapun untuk melakukan komunikasi lagi dengan mereka. Case closed.
***

Saya sadar bahwa keluhan yang disampaikan kepada manajemen, mungkin akan berdampak pada petugas terkait. Kepada "orang kecil", yang mungkin gajinya masih di bawah UMR. Apalagi menurut penjelasan dari Section Head customer service, petugas tersebut baru direkrut.  Entah dimana salahnya ..... Si petugas lupa SOP pekerjaannya atau kesengajaan untuk melakukan  "manipulasi"? Kalau lupa... rasanya tidak mungkin karena konsumen sebelum saya menerima uang parkir.

Sebetulnya .... ada rasa terenyuh menyadari apabila keluhan saya berakibat pada pemutusan hubungan kerja. Tetapi membiarkannya terjadi seperti membiarkan "benih" kecurangan dan perilaku manipulatif berkembang biak ...

Entahlah .... Semua sudah terjadi .... Penyimpangan sekecil apapun memang harus dikurangi, karena dari situlah timbul bibit-bibit penyimpangan yang lebih besar lagi ...








BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...