Selasa, 19 Juni 2007

The Princess


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Jean P. Sasson
http://www.jeansasson.com/princess_trilogy.htm
Princess adalah salah satu trilogy dari Jean P Sasson. Dua buku lainnya adalah Princess Sultana’s Daughters dan Princess Sultana’s Circle.

Jean P Sasson, pengarang buku Princess, bertemu dan berkenalan dengan Sultana (bukan nama sebenarnya) salah satu cucu King Abdul Aziz, pendiri dinasti Al Saud pada tahun 1983 dan berhubungan erat hingga tahun 1991, saat Jean P Sasson benar-benar meninggalkan Saudi Arabia. Keakrabannya dengan Sultana, telah menjadikannya sebagai tempat Sultana mencurahkan isi hati, mimpi-mimpi dan keinginannya untuk “memerdekakan” perempuan Arab dari “penjajahan” kaum lelaki bangsanya.

Ini buku yang bercerita tentang kisah nyata kehidupan para putri kerajaan Saudi Arabia dan tercermin dalam kehidupan putri Sultana, salah satu cucu King Abdul Aziz. Ayah Sultana adalah anak dari satu di antara 300 orang isteri King Abdul Aziz. Dari istri-istrinya tersebut, King Abdul Aziz memiliki tak kurang dari 50 anak lelaki dan 80 anak perempuan dan ayah Sultana merupakan satu di antara 50 anak lelaki Abdul Aziz. Dinasti Al Saud, hingga kini merupakan penguasa Kerajaan Saudi Arabia.

Sultana adalah anak bungsu dari isteri pertama ayahnya. Keluarga mereka hanya memiliki satu orang anak lelaki, Farouq, yang cepat menjadi "raja" di keluarga dimana segala titahnya wajib dituruti. Sebagaimana keluarga Arab, anak lelaki merupa "harta berharga". Anak lelaki merupakan kebanggaan sementara anak perempuan selalu merupakan "bencana keluarga" Paham dan tradisi ini masih lekat seolah mewarisi tradisi masa jahiliyah sebelum turunnya agama Islam.

Sultana kecil tumbuh dalam pemberontakan. Otaknya yang cerdas seakan meraba dan kemudian secara perlahan-lahan melihat berbagai "penyimpangan" ajaran agama Islam di dalam kehidupan keluarga Arab. Ajaran Islam yang meninggikan harkat perempuan di dalam masyarakat maupun keluarga serta memberikan perlindungan kepada perempuan diinterpretasikan dengan pemahaman patriarchat yang memutarbalikkan esensi ajaran agama.

Perbedaan perlakuan kepada anak perempuan dan anak lelaki, yang terjadi di rumahnya, sangat terasakan dengan kelahiran Farouq di dalam keluarga. Serentak, Farouq mendominasi kehidupan keluarga, menyisihkan kepentingan anak-anak lainnya yang terlahir lebih dahulu maupun terhadap Sultana. Apalagi, ternyata kelahiran Farouq merupakan kelahiran lekaki satu-satunya di dalam keluarga, menjadikan ibu Sultana terbelenggu rasa khawatir, bahwa kelak suaminya akan menambah dan menambah lagi isteri baru demi mendapatkan banyak anak lelaki sebagai “kekayaan dan kebanggaan” keluarga.

Sultana juga melihat dan merasakan kegetiran kehidupan kakak perempuannya Sarah, terutama saat kakaknya Sarah yang saat itu baru berumur 17 tahun, dipaksa menikah dengan pria yang berumur 62 tahun dan berstatus sebagai isteri ke tiga. Sarah sebagaimana perempuan Arab lainnya, telah mengenakan cadar saat berumur 15 tahun, yaitu ketika mendapatkan menstruasi, Sarah yang cantik dan pandai terpaksa mengubur cita-cita dan minatnya dalam bidang seni. Kegetiran dan ketidaksiapannya menghadapi pernikahan akhirnya membuat Sarah nekat mencoba menghabisi hidupnya.

Sultana sendiri akhirnya beruntung memperoleh suami yang dapat memahami cita-citanya untuk membebaskan belenggu “kekuasaan” lelaki dalam kehidupan perempuan. Mereka hidup bahagia di tengah pergulatan hati Sultana melihat dan merasakan penderitaan para wanita disekitarnya, walau kebahagiaan tersebut akhirnya ternodai saat suami Sultana menyatakan akan mengambil istri kedua. Hal mana menyebabkan Sultana membawa anak-anaknya “kabur” dari Saudi Arabia, demi memprotes keinginan suaminya tersebut.

Buku ini semakin memperkuat dugaan bahwa kehidupan sosial di Saudi Arabia “masih” belum beranjak dari tradisi maskulinitas jaman jahiliyah yang sangat jauh dari ajaran agama Islam yang “meletakkan” perempuan pada posisi terhormat. Perempuan Arab masih menjadi obyek seksual dari para pria dan bahkan yang paling parah, persepsi pria Arab terhadap perempuan non Arab, yaitu bahwa perempuan non Arab adalah semata-mata obyek seksual/pelacur.

Lelaki Arab juga “mewajibkan” perempuan Arab menjaga keperawanannya hingga saat waktunya menikah. Namun, di lain pihak para lelaki Arab dengan bebas merdeka melakukan hubungan seksual dengan perempuan non Arab yang berprofesi sebagai pelayan rumah mereka.

Ketertutupan hubungan perempuan – lelaki di Arab membuat mereka, para lelaki dan perempuan Arab memiliki persepsi yang sangat “primitif” atas hubungan terbuka antara lelaki dan perempuan seperti yang terjadi di Negara non Arab. Ketidaktahuan mereka tentang hubungan lelaki dan perempuan di luar hubungan seksual membuat mereka seakan “tidak bisa menerima” adanya hubungan professional atau kesetaraan antar lelaki dan perempuan.

Itu mungkin yang menyebabkan para lelaki Arab selalu mencari kesempatan untuk melakukan hubungan seksual saat berada di luar Arab dan bahkan tidak jarang dari mereka yang melakukan perjalanan setidaknya 4 kali setahun keluar Arab bahkan hingga ke Indonesia untuk mencari kesenangan duniawi (kawin kontrak atau bahkan hanya mengejar objek wisata seksual). Konon, ada kelompok keluarga kerajaan yang saat ini sudah melebihi jumlah 20.000 orang, setiap minggu mengirim satu pesawat ke Paris untuk membawa perempuan penghibur ke beberapa kota/klub tertentu di Arab untuk melayani mereka

Di samping itu, fakta bahwa Rasulullah SWT berasal dari tanah Arab membuat mereka “merasa” memiliki derajat yang lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain di dunia. Hal yang tentunya sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam yang secara tegas menyatakan bahwa yang membedakan manusia di mata Allah SWT adalah ketaqwaannya.

Buku ini memang layak dibaca agar kita mengerti, sebaiknya Indonesia segera menghentikan pengiriman TKI ke Timur Tengah. Namun membaca bukuini sekaligus menyisakan kepedihan karena ajaran Islam yang sesungguhnya sangat “human” dijungkir-balikkan justru oleh orang Arab. Orang-orang sebangsa dengan Rasulullah SWT. Penerbitan buku ini, bukan tidak mungkin menjadi entry point untuk melecehkan ajaran Islam.

Selasa, 12 Juni 2007

Nostalgia

Mungkin ini penyakit orangtua .... Suka bernostalgia, mengingat-ingat kenangan masa lalu baik yang indah maupun yang sedih. Itu sebabnya, saat angka 40 tahun sudah terlewati... kita akan sangat senang menghadiri reuni dengan teman-teman sekolah/kuliah...
Banyak ragam untuk bernostalgia. Yang suka travelling akan menapak tilasi tempat-tempat yang pernah dikunjunginya di masa lalu, terutama tempat-tempat yang membawa kenangan manis. Yang suka makanan enak, akan mengejar tempat yang menjual makanan kesukaan di masa lalu terutama yang sekarang dipasarkan dengan label "dimasak dengan resep keluarga". Penggemar makan enak ini bisa gila-gilaan. Entah karena makanannya yang enak atau sekedar snob. Teman saya pernah terbang pergi-pulang ke Batam hanya sekedar untuk makan siang dengan menu gulai kepala ikan. Nah... yang senang lagu.... akan mencari lagu-lagu kuno...

Saya sebetulnya bukan penggemar salah satu aliran/genre musik yang fanatik. Apapun yang enak didengar saya nikmati. Mulai dari klasik, rock, R&B, pop, dangdut sampai musik kroncong dan tradisional (kecapi, suling, saluang, gamelan dll).Yang penting nyaman ditelinga dan ini sangat relatif.

Jujur saja, jangan ditanya nama penyanyi jaman sekarang, baik penyanyi lokal, apalagi penyanyi asing. Nggak ada yang nempel di kepala karena semua masuk ditelinga. Kalo enak... ya dinikmati tanpa harus mengetahui nama penyanyi atau nama lagunya.
Week end lalu, saat menemani suami beli cartridge, kami berpisah di lantai dasar Pons square - lebak bulus. Suami naik ke lantai 4, lantainya peralatan komputer. Sedang saya masuk ke atm. Usai dari atm, sambil menunggu saya melihat-lihat MP3. Siapa tahu ada yang berkenan. Repotnya, saya nggak kenal judul lagu dan penyanyi/grup band yang sekarang ini lagi ngetop. Jadi yang dicari, pasti oldies, baik lokal maupun yang berbahasa asing. Walhasil... dapatlah 3 buah cd MP3 dari Santana dan dua buah CD MP3 lagu Indonesianya Tetty Kadi, Ernie Djohan, Lilies Suryani, Bob Tutupoli. Yang paling menyenangkan, saya dapat lagu-lagunya The Rollies yang memang sudah lama saya cari. Selain itu dapat Audio disk Celine Dion (cover d'Elles), Bimbo, Balawan dan satu lagi cd gitar.

Wah seneng banget deh... di rumah beberapa lagu pilihan di convert ke audio supaya bisa dipasang di mobil. Lumayan, sudah dapat sekitar 55 buah lagu oldies yang converted ke dalam 3 buah disk pengisi cd di mobil. Tinggallah anakku yang ngomel.... Ih... mama, lagu di cd nya kuno banget...
Ya.... namanya juga nostalgia

Jumat, 25 Mei 2007

Pendidikan untuk Bertanggung jawab

Bulan Mei adalah bulan dimana kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Sayangnya peringatan Hari Pendidikan Nasional didahului dengan kejadian-kejadian yang mencederai makna Pendidkan.

Cedera Pendidikan secara nasional bermula dengan terungkapnya kematian Clift Muntu, praja/Mahasiswa IPDN akibat kekerasan kronis yang mewarnai pendidikan para pamong yang nota bene calon birokrat nasional. Kemudian ada kecurangan-kecurangan yang mewarnai Ujian Akhir Nasional yang bukan saja dilakukan oleh para peserta ujian, tetapi sudah merupakan kecurangan institusional yang melibatkan para pendidik sejak tingkat sekolah yaitu guru dan pejabat Dinas Pendidikan demi mengejar sebuah “prestasi” semu berupa tingginya tingkat kelulusan baik di tingkat sekolah maupun kabupaten/kota ataupun propinsi.

Belum cukup juga kecurangan memoles wajah dunia Pendidikan, kemudian ada kasus tewasnya seorang siswa kelas II SD Belarminus di Jakarta Timur akibat kekerasan teman sekelasnya. Entah sampai kapan kejadian-kejadian buruk ini akan terus berlangsung.

Ternyata, mencari pelaku tindak kekerasan dari berbagai kasus tersebut sangat tidak mudah. Entah karena aparat berwenang kesulitan menemukan jejak pelaku ataukah karena pelaku begitu pandai menyembunyikan perilakunya.

Beranjak lebih jauh dari pengungkapan pelaku tindak kekerasan di bidang pendidikan tersebut, rasanya hampir tidak pernah aparat hukum di Indonesia berhasil mengungkapkan para pelaku tindak kejahatan/pelanggaran di segala bidang. Kalaupun ada kasus-kasus yang terungkap, masyarakatpun terlanjur apatis dan menganggap bahwa pelaku yang dikenai hukuman adalah para kambing hitam semata.
*****

Bruk …. “wa….” Suara adik kecil terjatuh, langsung disambung dengan tangis kesakitan. Bayi berumur 7 – 10 bulan yang mulai belajar berdiri dan berjalan semakin sering terjatuh dan terantuk. Orangtua/pengasuh tak bisa melepaskan pandangan darinya.

Fungsi orang tua/pengasuh anak tidak semata menjaganya tetapi secara tidak sadar kita, orangtua dan pengasuhnya juga memasukkan unsur pendidikan yaitu melalui tindakan, perilaku maupun ucapan. Termasuk juga bagaimana kita bereaksi saat menghadapi seorang anak yang mengalami “musibah” berupa jatuh/terantuk.

Pada umumnya, reaksi pertama orangtua/pengasuh kala melihat anak/bayi menangis kesakitan adalah meraihnya, menggendong dan membujuknya agar berhenti menangis. Dalam upaya menghentikan tangis anak/bayi seringkali orangtua/pengasuh berkata:
“Cup…cup… jangan menangis lagi ya….! Ini kursinya nakal …., kita pukul ya…!” Kira-kira begitulah yang sering terjadi, bila ada anak/bayi menangis karena terantuk kursi.

Secara logika … mana mungkin sebuah kursi bersalah atas musibah itu? Anak/bayi bersalah …? Tentu juga tidak. Ini suatu proses belajar berdiri – jatuh – berdiri kembali untuk kemudian melangkah satu, dua, tiga untuk kemudian mulai berjalan tertatih-tatih. Mengapa harus menyalahkan kursi, meja, pintu atau benda-benda lain di sekitar anak/bayi saat mereka terjatuh. Seolah kita mencari kambing atas “kesalahan” anak/bayi dalam proses belajar. Mengapa tidak kita katakan pada mereka :
“Ayo sayang…. Jangan menangis… Kita coba lagi ya…” 

Berbuat salah dalam suatu proses belajar adalah hal biasa yang akan menambah pengalaman hidup. Yang membuat kita bersemangat untuk belajar dan belajar lagi untuk kemudian tidak mengulangi kesalahan yang sama. Melemparkan penyebab “musibah” – dalam hal anak/bayi yang sedang belajar berjalan kepada benda mati (meja, kursi, pintu dan sebagainya), secara tidak sadar memupuk “rasa” untuk tidak mau mengakui kekurangan/kesalahan diri atau merasakan bahwa semua proses belajar melaui “jatuh dan bangun” merupakan suatu kekayaan pengalaman yang sangat berharga.

Apakah kebiasaan kita untuk enggan mengakui kesalahan dan cenderung mencari kambing hitam dalam segala masalah/musibah yang kita hadapi disebabkan karena sejak dini, kita sudah “terdidik” untuk mencari kambing hitam dari masalah/musibah yang dihadapi? Wallahu alam.

Lebak bulus – Jakarta Selatan 18 mei 2007

Selasa, 22 Mei 2007

Persepsi

“Bu …. Yang kemarin itu baju kan ya…?”, tanyanya saat saya membeli barang yang dijajakannya
”Ya....., ada apa? Nggak suka ya....?” saya balas bertanya.
”Tapi saya bukan muslim, bu.....” jawabnya agak ragu.
”Ah..... itu kan sekedar baju biasa! Nggak ada hubungannya dengan agama dan siapapun boleh memakainya. Siapa yang melarang?”
”Aduh bu. ... bajunya sudah saya berikan pada tukang warung di sebelah situ...”, sahutnya dengan nada menyesal.

Saya hanya mengangkat bahu, sambil berlalu. Sudahlah .... mungkin bukan rejekinya mendapat baju baru,

Itu petikan percakapan saya pagi ini dengan perempuan penjaja pisang di tepi jalan yang biasa saya lalui ketika berangkat ke kantor dan baju yang dipercakapkan adalah satu stel baju perempuan bermodel tunik dengan celana panjang dan berhias bordir. Baju seperti itu umumnya dipakai perempuan paruh baya dalam berbagai kesempatan.

Bagi saya, baju model tunik dengan padanan celana panjang adalah baju biasa saja yang bisa dipakai oleh siapapun tak perduli ras atau agama. Ternyata persepsi saya tentang setelan baju model tunik dengan celana sebagai model baju yang universal, salah. Buktinya, ada seorang perempuan yang ”menolak” memakai baju tersebut hanya karena dia tidak beragama Islam.

Adakah tunik dan rok panjang longgar[1] model A line terlarang untuk digunakan oleh non muslim? Mestinya tidak. Sayangnya, sekarang orang sering salah kaprah untuk memberi label kepada kedua model baju[2] tersebut sebagai ”busana muslim” atau .... bisa jadi, sebagian besar model baju yang di klaim sebagai busana muslim terdiri dari model tunik dan A line
Wallahu 'alam. 




[1] Rok panjang A line, sekarang sering disebut dengan nama gamis atau abaya,
[2] Model Gamis (rok panjang A line) dan tunik

Selasa, 01 Mei 2007

Benarkah Indonesia negeri kaya sumber daya energy dan mineral?

Minggu terakhir bulan April yang lalu, selama 4 hari saya mengikuti in house training yang berjudul “Petroleum Engineer for non Petroleum Engineer”. Jangan ditanya apa hubungan antara arsitektur dengan minyak. Pasti sama sekali nggak ada hubungannya. Tapi begitulah nyatanya … saat perusahaan ingin melebarkan bidang usaha, walaupun nyata-nyata nggak berhubungan dengan traditional main business (real estate), semua staff terpaksa harus siap sedia. Tapi, nggak apalah… tambah pengetahuan, apalagi kalo gratis, kan lumayan.

Dunia perminyakan sama sekali tidak pernah jadi perhatian saya, kecuali sejak ramai dibicarakan orang, di media massa, mengenai perebutan Blok Cepu antara Pertamina dengan Exxon Mobile Oil Indonesia (EMOI). Sejak itu pula, mungkin, berbagai istilah yang berkaitan dengan pengelolaan minyak bumi seperti PSC (Production Sharing Contract), TAC (Technical Assistant Contact), WPnB (Work Program and Budget), POD (Plan of Development), AFE (Authorization For Expenditure) dan banyak lagi istilah lainnya mulai masuk dalam ruang perhatian. Ini baru istilah “luar” yang biasa dikonsumsi publik. Masih banyak istilah teknis perminyakan yang pasti tidak dimengerti oleh orang yang tidak berkecimpung di dalamnya.

Konon katanya, Indonesia memiliki 60 mangkuk (basin) sumber minyak bumi dan gas alam (migas) yang terbentang di sepanjang pantai barat Sumatera termasuk di Laut Cina Selatan, pantai utara Jawa dan berbelok ke selat Makasar, yaitu di sepanjang pantai barat Kalimantan. Sedangkan potensi migas di Indonesia timur masih belum terdeteksi kecuali di sekitar pantai utara Irian. Dari 60 mangkok tersebut, baru 22 buah mangkuk saja yang sudah dikembangkan dan menghasilkan devisa Negara dari migas. Sisanya masih terpendam di dalam perut bumi. Berapa besar cadangan migas Indonesia yang berada dalam 38 mangkuk tersebut? Nobody knows…… Aneh ya Mengapa begitu?

Mestinya…. data-data itu ada di Pertamina yang dulu bertindak sebagai pemegang tunggal Hak Pengelolaan sumber daya energi (migas) di Indonesia. Atau di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Yup .... saya melihat peta potensi Migas Indonesia saat training itu. Cuma…… (lagi-lagi ada “negation” nya), data itu berasal dari data explorasi sebelum tahun 1960 yang diperoleh Pertamina dari pemerintah Belanda saat nasionalisasi ladang minyak Belanda (Shell) oleh Pertamina. Di situ disebutkan bahwa Indonesia memiliki 60 mangkuk yang mengandung minyak bumi dan gas. Berapa besarnya.....? Saya lupa mencermatinya. Tetapi ... sekali lagi, itu data +/- 50 tahun yang lalu. Yang diperoleh saat alat pendeteksi (seismic) masih sangat sederhana.  

Sayangnya, hingga saat ini…. hampir 50 tahun kemudian, pemerintah dan para operator industri migas masih berkutat mengembangkan 22 wilayah kerja tersebut. Sisa potensi migas di 38 mangkuk masih belum tersentuh. Bagaimana mungkin investor tertarik untuk melakukan investasi di bidang yang high risk dan high/low value ini? Pada abad ke 21 ini, dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih (3D dan bahkan 4D) seharusnya kita memiliki data yang mutahir yang memungkinkan pemerintah mampu menghitung seberapa besar potensi migas tersebut. Pemerintah tidak punya alat dan data akurat atas kandungan migas.  Semuanya masih dalam bentuk leads. Masih diperlukan berbagai bentuk study dan penelitian untuk mencapai tahap potensi à possible à proven. Kesemuanya masih memerlukan biaya yang sangat besar. Untuk menyerahkan pekerjaan tersebut kepada konsultan, juga diperlukan biaya yang sangat besar. Diperlukan juga semangat bertualang dan menjelajah alam yang masih liar untuk menggali semua potensi migas di Indonesia baik sumber existing (yang di data oleh Belanda sebelum 1960), apalagi untuk menggali potensi yang masih terkubur di wilayah timur. Sayangnya, jangankan untuk menggali potensi baru terutama di wilayah timur Indonesia. Untuk mengembangkan mangkuk yang sudah ada saja, Indonesia belum mampu, terutama dari segi pendanaan.

Memang, ada calon investor yang mau "mengorbankan" dana untuk melakukan "Joint Study". Ini akan memberikan hak prioritas (first right of refusal) kepada calon investor tersebut dan "melemahkan" posisi tawar pemerintah. Namun ... joint study inipun hanya dilakukan pada mangkuk existing saja dan pemerintahpun meng"amin"i alasannya... Masih ada 38 mangkuk yang belum di eksplorasi.

Untuk menarik investor, pemerintah Indonesia harus meng up-date data. Sekarang sudah abad ke 21…. Bagaimana mungkin kita menarik investor baik dari dalam negeri maupun asing, bila pemerintah sebagai fasilitator tidak melakukan explorasi yang cukup untuk memutahirkan data. Dengan demikian ada dasar yang memadai dalam menghitung kelayakan/keekonomian investasi di bidang migas baik bagi pemerintah sendiri maupun calon investor. Ada dasar perhitungan yang sama agar pemerintah tidak "kebobolan" dalam menghitung potensi sumber daya alamnya.

Jadi …. benarkah Indonesia kaya akan sumber daya energy/alam? Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Coba jelajahi tanah di Kalimantan! Sungai-sungai yang maha lebar … dengan air yang masih kebiruan menyiratkan kekayaan alam. Kepulan asap di musim kemarau, banyak disebabkan oleh pergesekan  benda/dedaunan yang sangat kering yang tertiup angin. Ditambah lagi, adanya kandungan batubara yang menyembul di permukaan tanah yang telah gersang karena penggundulan tak terkendali hutan tropis oleh para pengelola HPH.

Lihat pula bongkahan dan danau-danau yang ditimbulkan oleh penambangan timah di Bangka atau sebentar lagi di lahan olahan Newmont di Sumbawa. Coba, tengok pula, betapa Freeport Indonesia telah mengeruk potensi mineral di puncak Grasberg – Irian sehingga puncak gunung tersebut telah menjadi kerucut terbalik sedalam 3.500m. Konon …..tambang tembaga di Irian itu merupakan tambang terbesar ke 3 di dunia. Namun tambang sampingannya yang berupa emas merupakan hasil sampingan emas yang terbesar di dunia. Bayangkan.... dari 20 unit "super trailler" berdaya angkut 200 ton, yang dibuat oleh Caterpillar, konon 12 unit di antaranya beroperasi di Irian, di lahan garapan Freeport Indonesia. Dengan hasil yang fantastis tersebut .... penduduk Irian masih tetap miskin. Irian masih merupakan wilayah tertinggal dan kalaupun “katanya” hasil tambang Freeport banyak ditarik ke “pusat”, nyatanya tidak ada hasil yang terlihat bagi kemakmuran rakyat dan Indonesia masih tetap terbelit hutang.

Indonesia... sekali lagi, konon katanya, kaya raya. Hanya saja, jangankan rakyatnya. Pemerintahpun tidak memiliki data mutahir akan kekayaan alam ini. Akibatnya, saat berhadapan dengan investor asing yang kaya raya, kita tidak mampu berhitung dengan cerdas dan lugas. Lagi-lagi….. karena data yang dimiliki hanyalah data peninggalan Belanda yang dibuat sebelum tahun 1960. Mungkin…. para investor memilik data yang jauh lebih baik daripada pemerintah Indonesia. Mungkin pula, itu sebabnya, betapa Exxon Mobil begitu “ngotot” menguasai Blok Cepu hingga konon George W Bush ikut “nimbrung” memuluskan niat Exxon. Bukan tidak mungkin, data yang dimiliki oleh Exxon lebih akurat dan mutahir dibandingkan dengan data yang dimiliki oleh Indonesia. Rakyat dan pemerintah Indonesia hanya berbicara dengan data yang bersumber dari "katanya" yang tidak dapat diakui secara legal, bukan data ilmiah. 

Jadi ..... benarkah Indonesia kaya akan sumber daya alam (energi)?????
Wallahu’ alam

Selasa, 17 April 2007

Mukena-mukena cantik

Lebaran yang lalu, adik saya dari Bandung memakai mukena border. Hadiah dari mahasiswa S2 yang dibimbingnya, saat telah lulus. Mukena dengan hiasan bordir Tasikmalaya. Warna dasarnya standar … putih dengan border warna kuning dan hijau lembut Cantik sekali …. Ingin juga rasanya untuk memilikinya

Sebulan usai lebaran, saya jalan ke ITC Fatmawati dan melihat mukena bordir yang secara selintas mirip dengan mukena adik saya. Jadi, hati tergerak juga untuk menanyakan harganya. Kebetulan di dompet masih ada sisa-sisa uang belanja. Siapa tahu, harganya sesuai dengan “standard” isi kantong. Jadi, …. dengan percaya diri, saya menanyakan harga mukena cantik itu. Ternyata….. alamak…. Mahal nian!!! 850 ribu rupiah …… Duh… isi kantongku nggak cukup.

Memang ini bukan mukena termahal yang pernah saya lihat. Menjelang lebaran, seorang rekan yang biasa “nyambi” dagang, pernah membawa mukena lengkap dengan tas yang cantik dengan hiasan bordir dan payet. Harganya hampir dua juta rupiah. Entah seperti apa rasanya memakai mukena yang super mahal seperti itu. Tidak terbayang, apakah kita bisa shalat dengan khusu’ kala menggunakan mukena yang gemerlapan dengan payet. Atau mungkin karena saya belum mencapai “tingkatan” orang yang mampu menggunakan barang “mahal”, alih-alih shalat dengan khusu’ – yang ada malah rasa takabur untuk memamerkan mukena cantik. Cuma, sayangnya… rasa ingin memiliki mukena cantik memang tidak mudah dilepaskan dari pikiran. Apalagi mukena bordir yang saya pakai memang sudah agak lusuh. Maklum saja… itu dibuat sekitar 3 tahun yang lalu.

Nah… dua bulan yang lalu, saya iseng-iseng jalan ke Mayestik melihat-lihat bahan berbordir. Apalagi, kalau bukan untuk mukena. Ketemulah dengan bahan linen berbordir.
Pikir punya pikir … otak mereka-reka bentuk dan kombinasi warna yang pas, jadilah terbeli 2 set bahan. Harus 2 set, karena tidak mungkin saya membeli hanya satu saja. Anak gadis saya bisa ngomel panjang lebar kalau dia tidak memiliki mukena yang “persis” sama dengan ibunya. Mulailah saya memotong bahan – lalu pergi ke pasar untuk obras – dan setiap week end menjahitnya. Lengkap dengan renda yang sebelumnya sudah dibeli di Mangga Dua. Jadilah mukena yang diidam-idamkan.


Repotnya…. saat saya pakai di kantor…. Walah…. rekan kerja banyak yang “ngiri” … Duh….. bikin dosa lagi deh!!! Akhirnya …. diambil kompromi, … mereka membeli bahan dan seluruh kelengkapan, saya yang menjahitnya GRATIS. Maka …. ronde ke 2, saya menjahit 7 buah mukena. Tumpukan bahannya dan sibuknya nggak kalah dengan penjahit professional di Blok M. Nggak apalah…. Menyenangkan hati orang, kan berpahala… hehehe … Tapi kapok ah, nggak mau terima jahitan lagi. Mataku sakit. Maklum sudah udzur….!!!

Senin, 02 April 2007

Salah Kaprah Keterlibatan Orangtua dalam Pendidikan Anak

Minggu ini, beberapa rekan kantor berangkat ke Malang untuk Rapat Kerja sambil meninjau Proyek. Saya nggak ikut .... (alhamdulillah....),  sebab ... ssttt jangan bilang-bilang ya... Anak saya marah besar, saat saya bilang bahwa ibunya harus ke Malang selama 1 minggu. Ini dilematis perempuan yang sok jadi super woman dan berperan ganda. Karenanya saya terpaksa mencari alasan yang valid untuk menghindar acara rapat di Malang ini. Toh saya tidak terlibat langsung dalam pengelolaan proyek tersebut. Jadi ketidak hadiran saya, tidak akan mempengaruhi acara rapat (hikhik.. mencari pembenaran ....) . Itu alasan resmi .... karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.dan memang benar, saya harus monitor proyek yang langsung saya pegang dan ada rapat yang tidak bisa ditinggalkan.

Salah satu rekan kantor yang pegang proyek di Malang dan akan dipindahtugaskan ke Jogja, meminta pendapat saya mengenai rencananya untuk mengambil cuti selama 2 minggu pada pertengahan bulan April ini agar dapat mendampingi anak lelaki sulungnya yang duduk di bangku SMP menghadapi ujian nasional - UN. Dia agak khawatir, anaknya tidak bisa berkonsentrasi dalam menghadapi UN, karena prestasinya dalam berbagai try out yang diikutinya pada kelas bimbingan belajar, sangat tidak stabil. Konon, kondisi ini sangat mengkhawatirkan terutama dikaitkan dengan masa depan si anak.

Jujur saja, saya agak terperangah mendengar masalah yang dihadapinya. Mungkin saya memang sangat beruntung punya anak lelaki yang "sangat mandiri" dalam belajar. Atau mungkin juga karena kekhawatiran saya "diredam" dengan sangat keras oleh suami yang sangat menafikan prestasi akademis. Kondisi ini semua, dengan berbagai argumentasi dan perdebatan ibu-anak, telah menjadikan anak sulung saya akhirnya menjadi sangat "bebas" menentukan, apa maunya. Tetapi, diluar itu semua, prestasi akademisnya dari SD hingga menyelesaikan SMU memang luar biasa.

Nah, kembali dengan teman saya ini, dan lagi-lagi menurut ceritanya, setiap malam dia harus "membimbing" anak sulungnya dalam hampir seluruh mata pelajaran terutama matematika dan fisika. Kalau tidak, maka hasil ulangannya akan jeblog habis. ***

Konon, jaman dahulu kala .... orang tua murid relatif "tidak pernah" bersinggungan dengan sekolah. Bahkan saat dibagikan raport sekolahpun, kehadiran orangtua tidak dibutuhkan karena guru langsung membagikan raport kepada murid. Saat tamat SD dan pindah ke SLTP dan SLTA, semua murid mendaftarkan diri dan menyelesaikan seluruh kewajiban pembayaran sekolah tanpa didampingi orang tua. Penyerahan raport langsung kepada murid memang memiliki dampak "buruk".

Konon, murid-murid "nakal" yang isi raportnya "kebakaran" dengan bantuan teman-temannya akan mengganti angka-angka merah itu menjadi biru agar tidak diketahui orangtua. Entah bagaimana cara mereka mengelabui orangtua/guru saat raport itu harus kembali ke sekolah. Mungkin juga murid-murid tersebut akan memalsukan tandatangan orangtua di raport dan membuang semua surat panggilan dari sekolah kepada orangtua. (Alhamdulillah... saya tidak termasuk murid nakal...).

Buku pegangan setiap mata pelajaran disediakan sekolah. Setiap awal tahun ajaran baru, murid dibagikan setumpuk buku yang harus di sampul baik-baik untuk digunakan selama tahun pelajaran berlangsung  dan baru dikembalikan bersamaan dengan pembagian raport. Seingat saya, POMG apalagi model Komite Sekolah, sama sekali tidak terdengar keberadaannya. Jadi model sumbangan ini itu untuk kegiatan sekolah sama sekali tidak ada. Entah bagaimana caranya sekolah memenuhi biaya kegiatan-kegiatan tersebut. Tanpa permintaan sumbangan dari orang tua apalagi dengan dalih sumbangan rutin POMG, kegiatan ekstra kurikulum tetap berlangsung. Itu memang cerita kuno yang terjadi, mungkin hingga paruh tahun 1970 an. 

Entah sejak kapan keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak dimulai. Yang teringat adalah pada akhir tahun 1970, raport tidak lagi dibagikan kepada murid sehingga saya kerap diminta orangtua mewakilinya untuk mengambil raport adik. Mungkin kenakalan murid sekolah mulai tak tertangani oleh sekolah atau ada alasan lain yang melatar belakangi keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah. Yaitu dimulai dengan pengambilan raport, lalu adanya lembaga POMG yang kemudian "diberdayakan" menjadi salah satu sumber dana kegiatan ekstra kurikulum. Mungkin juga "entry point" ini menjadikan keterlibatan orangtua ke dalam pendidikan sekolah semakin lama semakin dalam. 

Lama kelamaan, bahkan dalam berbagai kegiatan ekstra kurikulum, orangtua murid terlibat menjadi panitia aktif. Semakin jauh dan semakin jauh. Bahkan melalui pengamatan di salah satu SD tempat anak saya bersekolah, melalui Komite Sekolah, campur tangan orangtua semakin dalam dan mulai memasuki wilayah akademis. Beruntung bila orangtua yang campur tangan memiliki kompetensi atau kepedulian dalam arah pendidikan yang benar. Yang seringkali terjadi, campur tangan tersebut lebih didasarkan kepada snobisme/ikut-ikutan atas model pendidikan "gaya luar" yang diterapkan oleh sekolah lain yang menjadi referensi, demi gengsi semata. Bukan atas kepentingan dan masa depan anak didik.

Mungkin itu juga sebabnya esensi pendidikan anak mulai bergeser. Bila dulu anak murid "tidak mengenal" les ini itu yang berkaitan dengan mata pelajaran dan cukup percaya diri menempuh ujian akhir bahkan untuk menempuh ujian masuk universitas. Sekarang, les dan kursus yang bertalian dengan mata pelajaran bertebaran dimana-mana. Anak-anak (atau jangan-jangan orangtua mereka) merasa tidak percaya diri bila si anak tidak diikutsertakan pada les atau kursus-kursus tersebut. Dan cengkeraman pengaruh les/kursus sangat luar biasa. 

Bila dua dekade lalu, kursus atau sekarang populer dengan sebutan bimbingan belajar/BIMBEL hanya diikuti oleh anak-anak yang akan menempuh ujian akhir saja. Sekarang, anak-anak "dipaksa" orangtua mengikuti bimbel pada setiap jenjang kelas. Ikut sibuk mencarikan sekolah-sekolah favorit, ikut cawe-cawe menentukan kegiatan (terutama kegiatan ekstra kurikulum) anak-anak di sekolah. Bukan itu saja... konon katanya cara belajar di kelas 3 disebuah sekolah unggulan nasional, bukan lagi belajar "normal" untuk memahami ilmu pengetahuan tetapi latihan soal a la bimbingan belajar untuk ujian masuk universitas. 

Yang sangat mengejutkan, beberapa waktu yang lalu di koran ibukota ramai diberitakan bahwa BIMBEL telah masuk secara resmi ke sekolah-sekolah melalui kerjasama. Lalu... apa dong fungsi guru sekolah? Kalau tujuan sekolah hanya sekedar mendapat ijasah atau lulus masuk PTN, yang nggak usah bikin sekolah yang esensinya mendidik (akademis dan moralitas), bikin aja kursus-kursus.

Keleluasaan pemerintah/DikNas kepada sekolah dan daerah untuk turut me"warnai" kurikulum melalui muatan lokal turut menambah carut-marut profil mata pelajaran dan pada akhirnya menambah beban anak. Banyak mata pelajaran yang tumpang tindih atau terkesan "diadakan" agar sekolah dapat masuk dalam kategori sekolah favorit dan tidak dipandang sebelah mata oleh kalangan berpunya. Bahkan di salah satu tayangan televisi, ada seorang ibu yang dengan bangga memamerkan anaknya atau lebih tepat dikatakan BAYI berumur 9 ... baca SEMBILAN bulan yang sudah bersekolah. Entah sekolah macam apa yang diikuti bayi tersebut dan entah pula apa latar belakang dan maksud pendidikan super dini itu. Saya hanya masih membayangkan bahwa anak atau bayi berumur 9 bulan, lebih membutuhkan belaian dan perlindungan orang tua daripada hiruk pikuk sekolah bayi. 

Memang betul bahwa pendidikan anak bukan semata tanggung jawab guru, tetapi juga tanggung jawab orang tua. Tapi kan ada bagian-bagiannya. Kalau semua mau cawe-cawe melampaui batas wewenang dan kemampuannya ... ya repot. Akhirnya tujuan akhir pendidikan jadi kabur ... semua tergantung dari uang dan pengaruh. Siapa yang kuat dan ber"uang", itu yang menang ... Jadi nggak salah ya... ber"uang" dan beruang, setali tiga uang. Cakarnya memang tajam menancap

Halah....... mau kemana sih pendidikan anak-anak Indonesia ini?

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...