Jumat, 12 Juni 2015

MARHABAN ya RAMADHAN .....

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya hari Kamis 18 Juni 2015. Jadi, tidak sampai satu minggu. Gaungnya sudah mulai terasa dimana-mana terutama di social media.

Yang pertama tentu tulisan berkenaan dengan ucapan selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan disertai permintaan maaf, lalu status-status lainnya baik ditulis langsung ataupun link dari ucapan tokoh atau orang yang dianggap tokoh oleh si pembuat link tersebut. Tentu kemudian muncul tanggapan pro dan kontra dari perbincangan tersebut..

Yang paling menghebohkan dari ucapan tokoh konon adalah ucapan Lukman Saifuddin yang menteri Agama RI melalui twitter's account bahwa rumah makan/warung/restoran tidak berkewajiban menutup kegiatannya karena umat muslim juga harus menghormati yang tidak berpuasa. Ucapan ini mengundang "reaksi keras" dari banyak kalangan, walau sebenarnya .... tidak ada yang salah dengan tulisan tersebut. 

Selama melaksanakan ibadah shaum, di Indonesia, dimana secara resmi diakui ada penganut, sekurangnya dari 5 agama; kita juga tahu, umat agama lain pasti tidak melaksanakan ibadah shaum. Di kalangan muslim sendiri, pasti ada juga yang tidak melaksanakannya baik karena uzur, sedang dalam perjalanan (musafir), sakit, menstruasi dan banyak alasan lainnya yang dibenarkan. Karena Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang itu, tidak mau ibadah kepadaNya menyulitkan umatnya. Kepada mereka yang berhalangan, diberikan kemudahan untuk tidak melaksanakan ibadah shaum. Jadi ..... seharusnya, ungkapan sang menteri tidak perlu dijadikan kontroversi. 

Kehebohan lain adalah ..... acara "ketemuan sambil makan siang atau makan malam .... menjelang shaum Ramadhan. Duh rame deh ajakan ketemuan, dari sana-sini, sesama teman kantor, teman sekolah ataupun kenalan lainnya .... Ah .... kok seperti berpikir bahwa selama Ramadhan kita nggak akan ketemu makanan .... Ramadhan kan cuma menggeser waktu makan. Mungkin karena acara makan siangnya jadi terhalang ...? Hanya satu bulan tidak dapat makan siang secara "bebas" dibanding dengan 11 bulan lainnya. Boleh dong libur gak makan siang sama-sama .... Toh kalau sesama perempuan, pasti ada jeda shaum saat menstruasi, kecuali yang sudah menopause atau early menopause tentu shaumnya gak ada jeda. Siapa tahu sang tamu bulanan datang pada waktu yang sama ... Atau juga karena sedang menyusui atau sakit ..... hehe ... jadi bisa janjian makan siang bareng, kan....

Kehebohan juga di antaranya adalah mengatur acara buka puasa bersama .... Heboh mengatur menu, siapa yang mau jadi donatur. Kalau dilaksanakan di kantor, harus intip jadwal acara boss, supaya semua bisa hadir. Kalau acara buka puasa bersama alias Buk-ber keluarga, nah di tambah lagi mencari siapa yang bersedia "ketempatan". Belum lagi di organisasi - organisasi profesi dan banyak lagi persiapan-persiapan lainnya .....hihihi .... shaumnya belum mulai, sudah mengatur jadwal acara buka puasa bersama.

Nah ..... yang ini, buat sebagian orang, bisa membuat kening berkerut ... Masuknya proposal atau surat permohonan bantuan Infaq, Shodaqoh, Zakat (maal maupun fitrah) dari beragam instansi, masjid, rt/rw. Bisa datang dari tempat kita tinggal atau tempat-tempat yang kita kenal, namun bisa datang dari tempat atau organisasi yang tidak jelas apakah riel atau fiktif.... Namun satu hal yang perlu dicermati .... apakah kegiatan infaq shodaqoh dan zakat maal hanya perlu dilakukan saat Ramadhan saja ...? Rasanya ... tanpa mengurangi pahala yang akan diterima (ini kalau motivasi pelaksanaannya karena terdorong ingin mendapat pahala berlimpah), kegiatan menunaikan zakat maal, infaq dan shodaqoh bisa dilaksanakan kapan saja dan dimana saja. Tidak dibatasi waktu. Soal pahala .... Ah itu kan hak prerogatif Allah semata, bukan kata ustadz/ulama yang selalu diulang-ulang saat tausiah Ramadhan. Hitungan Allah tidak terjangkau manusia.... Jadi jangan takut kehilangan pahala kalau zakat infaq dan shodaqoh ditunaikan setiap waktu dan setiap saat sekalipun di luar bulan Ramadhan (wallahu' alam)

Akhirnya ..... yang tidak boleh dan wajib diingat adalah memberikan THR buat orang-orang rumah yang bekerja membantu kita ... membuat kita menjadi aman dan nyaman meninggalkan rumah... Kalau yang mau pulang kampung, persiapannya pasti lebih banyak lagi.... Saya seringkali mencandai asisten rumah tangga yang menghabiskan uang senilai hampir 4x lipat dari gajinya hanya untuk 1 minggu di kampungnya. Dia "diwajibkan" memenuhi segala kebutuhan rumah (sajian lebaran dan makan sehari-hari sekeluarga besar yang pulang kampung) selama dia berada di Kampung ... membawa oleh-oleh buat keponakan dan menyantuni mamang dan bibinya.

Beruntung atau mungkin juga sayangnya ... saya tidak pernah merasakan lebaran di kampung, kecuali saat masih kecil dan remaja tinggal di kota-kota kecil dimana orang tua saya berdinas....


Akhirnya .... Ibadah Shaum kan diwajibkan agar manusia bertaqwa kepadaNya dan orang yang ingin bertaqwa tentunya tidak ingin gembar gembor dan pasti ketaqwaannya tidak perlu dihormati oleh orang lain. Cukup dia dan sang Khalik yang tahu sampai dimana kadar ketaqwaannya.

Selamat Menunaikan ibadah Shaum Ramadhan ...
Maaf kalau tulisan di atas kurang berkenan
(karena masih belajar jadi umat Islam yang baik)
Maaf lahir batin ...

Jumat, 29 Mei 2015

BERITA SEDIH BUAT PARIWISATA INDONESIA

Bunga jatuh dari pohon peneduh
Minggu lalu, saya menulis status di Facebook, memperbandingkan kemajuan salah satu negara tetangga sesama ASEAN dengan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini, dalam rentang waktu 19 (sembilan belas) tahun. Kenapa harus menggunakan rujukan 19 tahun? Itu jadi pertanyaan salah satu rekan.

19 tahun memang bukan rujukan waktu yang tepat. Ini lebih pada pilihan pribadi. Tentu dengan suatu alasan tertentu. Pertama karena negara atau tepatnya ibukota negara yang saya bandingkan, saya kunjungi terakhir kali pada bulan April 1996. Jadi tepatnya 19 tahun 1 bulan saya mengunjunginya kembali dan tentunya sangat terkejut dengan kemajuan yang amat sangat dan luar biasa pesatnya. 

Alasan kedua .... ini karena beberapa tahun sebelum pak Harto dilengserkan pada Mei 1998, beliau menyatakan bahwa perekonomian Indonesia sudah siap sedia untuk lepas landas. Jujur, saya lupa kapan pertama kali pak Harto menyatakan Lepas Landas tersebut, maka saya memperkirakannya tahun 1996. Lagi-lagi tentu dengan suatu alasan. 

Menurut telaah akademis tentang pembangunan ekonomi pada masa orde baru, tahun 1996 berada di tengah masa Pelita ke VI, dimana Pelita ke VI merupakan periode lima tahun pertama Pembangunan Jangka Panjang (25 tahunan) Indonesia tahap kedua yang ditetapkan sebagai tahap lepas landas. 

1996 juga adalah tahun PEMILU yang kemudian tetap memilih Suharto sebagai presiden RI untuk yang ke 6 kalinya. Pemilu yang kemudian tetap memilih Suharto sebagai presiden RI untuk yang ke 6 kalinya dimana Indonesia menganggap diri sedang berada di puncak "kejayaan". Itu sebab, Suharto kemudian dengan percaya diri, menetapkan para kroni dan orang dekatnya pada jajaran executive, legislative dan judicative dan bahkan anaknyapun masuk dalam jajaran menteri. 

Sayangnya optimisme Indonesia untuk lepas landas itu malah kandas dan harus terkubur dalam-dalam setelah negara-negara Asia mengalami krisis ekonomi yang mulai terasa pada bulan September-Oktober 1997. Krisis yang berlangsung terus menerus hingga akhirnya Suharto memutuskan untuk mengundurkan diri setelah dikhianati oleh para menteri dan orang-orang dekatnya.

Kembali pada cerita awal tersebut, negara yang ingin saya bandingkan dengan Indonesia adalah Thailand dan Bangkok sebagai ibukota negara yang dikenal dengan sebutan Siam, khususnya dalam kemajuan infrastruktur dan pariwisata.
***

Saya mengunjungi Bangkok untuk pertama kali, mungkin awal-awal tahun 1990an. Saat itu suami menjadi pembicara dalam sebuah seminar yang diselenggarakan di Universitas Chulalongkorn, di pusat kota Bangkok. Universitas ini menggunakan nama salah satu raja Siam yang meletakkan dasar pada Thailand modern. Kalau ada kesempatan berarti waktu dan dana, saya memang beberapa kali ikut suami seminar di luar Indonesia, ambil cuti dan berlibur ... Kalau jadwal seminar agak panjang, biasanya menyusul, menjelang kembali ke Jakarta. Atau berangkat bersama tetapi tidak mengikuti Ladies Program yang seringkali menyertai berbagai acara seminar atau raker/conference/congress. 


tampak luar Suvarnabhumi Airport - Bangkok
Kami mendarat di Don Muang dan selama di Bangkok, kami menginap di Nittaya Nivet, tidak jauh dari MBK alias Ma Boon Krong, sebuah pertokoan bergaya seperti pasar pagi Mangga Dua - di Jakarta. Jadi ... selama suami mengikuti seminar, MBK menjadi tempat saya menghabiskan waktu mencari souvenir unik khas Thailand. Baru setelah seminar selesai kami mengunjungi Grand Palace. 

Bangkok di awal tahun 1990an terkenal sangat macet dan tentunya sering kebanjiran. Transportasi seperti biasa, hanya ada bus, taxi dan tuktuk. Tidak banyak berbeda dengan Jakarta saat itu. Bahkan Jakarta di tahun 1990 terasa lebih nyaman dibandingkan dengan Bangkok.

Perjalanan ke 2 ke Bangkok bulan April tahun 1996 dilakukan dalam rangka persiapan Sea Games tahun 1997 dan dilakukan dengan private jet dan hanya menginap semalam untuk kemudian dilanjutkan meninjau pembangunan airport baru Kuala Lumpur - Malaysia yang saat itu masih dalam tahap pembangunan. Perjalanan kedua memang tidak memberikan kesan apa-apa karena waktu yang terbatas sehingga tidak sempat memperhatikan kondisi/kemajuan Bangkok, Namun... perjalanan inilah yang saja jadikan tolok ukur untuk membandingkan kemajuan Bangkok/Thailand pada umumnya dengan apa yang ada di Indonesia. Untuk alasan yang sudah dijelaskan di awal tulisan ini

Bangkok dengan airport Don Muang nya yang sederhana, sama sekali tidak meninggalkan kesan mendalam, kecuali keindahan sutra, bunga, seni ukir buah dan kerajinan tangan/interior serta komposisi warna yang sangat saya kagumi. Ingatan juga dibatasi oleh MBK yang mirip pasar pagi, walau pernah mendengar bahwa Bangkok sudah berhasil mengatasi kemacetan, namun sama sekali tidak dapat membayangkan bagaimana keberhasilan yang sudah dilakukan pemerintah kota Bangkok untuk mengatasi keruwetan kota tersebut.
Menunggu bus di pick up area Suvarnabhumi Airport
14 Mei 2015 jam 12.55
Pesawat GA 866 yang membawa 29 orang dalam rombongan kantor kami untuk berlibur di negeri Gajah Putih ini mendarat mulus di Suvarnabhumi airport. Nama yang agak familiar bagi masyarakat Indonesia ini digunakan sebagai nama airport baru. 

Jadi ... ini adalah kunjungan ke 3 ke negara Siam yang dilakukan 19 tahun kemudian sehingga, menjadi wajar bila mata uzur ini agak terperangah melihat bentuk airport yang kalau tidak salah diresmikan sekitar 7 tahun yang lalu itu. Megah dan sangat modern dengan gaya arsitektur yang hampir mirip dengan Dubai International Airport

Walau sepertinya dibangun "di tengah kota", dalam arti begitu keluar dari airport, kita sudah langsung terkepung dengan bangunan-bangunan tinggi, gedung parkir bertingkat dan fasilitas lainnya, mirip suasana airport modern di negeri Eropa, namun suasananya sangat nyaman, bersih dan teratur. 

Entry Gate 
Usai prosedur keimigrasian, perjalanan wisata dimulai untuk langsung menuju Pattaya. Mengapa harus Pattaya .... Kami yang sudah berumur, ikut saja dengan acara yang diatur anak muda dengan segala selera dan keinginannya. Perjalanan ke Pattaya sekitar 2 jam ditempuh melalui jalan bebas hambatan yang betul-betul bebas hambatan ... tanpa ada kemacetan dan yang paling penting adalah ........ mulus ....... 

Point pertama kelebihan Thailand ...... INFRASTRUKTUR sudah terbangun dengan baik ...... Walau belum seluruh jalan selesai, namun pekerjaannya sangat rapih. Nyaris tidak ada kotoran atau tumpukan material konstruksi yang mengganggu perjalanan. Satu point kelebihan Thailand dari prosedur pengerjaan proyek di Indonesia .....


penjual makanan di atas perahu
Obyek pertama yang dikunjungi adalah Pattaya FLOATING Market yang sepertinya dibangun di atas danau (padahal tadinya saya pikir, floating market dimana baik penjual maupun pembeli bertransaksi di atas perahu...). Duh ... duh ... belum apa2 sudah diajak belanja. Khas orang Indonesia kalau keluar negeri .... harus dan wajib belanja. Thailand memang surga belanja untuk barang2 kerajinan, kuliner, tanaman serta buah2an. Rasanya gemas betul melihat kualitas yang tersaji. Namun demikian, kalau acara wisatanya belanja terus, pusing juga kepala ....

Walau hanya pasar "biasa" .... floating market di Pattaya ini isinya adalah souvenir kerajinan tangan, kaus/fashion dan kuliner namun beragam atraksi di gelar di beberapa spot floating market dan bahkan ada 2 buah sampan berisi pemain musik dan penari meliuk-liuk menyusuri celah-celah antara bangunan.... dan yang paling menarik, untuk membantu pengunjung menyusuri lika-liku pasar terapung ini, pada lantainya diberi tanda panah berbeda warna untuk membantu pengunjung menelusuri floating market dan kembali ke arah pintu ke  luar. Dengan demikian tidak akan ada penunjung yang tersesat. 

Dari Floating Market, kami diajak photo stop di Hard Rock Cafe Pattaya. Hadeuh ..... ngapain ya mampir ke Hard Rock Cafe? Beli merchandise ....? Bikin pemilik merek dagangnya tambah kaya ya....?


Malam hari, kami melihat Alcazar Show .... Cabaret show yang penampilnya adalah para transgender yang luar biasa cantik dan trampil. Jenis tariannya pasti modern dance seperti yang biasa kita lihat di Lido atau Moulin Rouge di Paris. Atau di Indonesia pernah dipopulerkan oleh Guruh Soekarnoputra melalui Swara Mahardikka di tahun 1980 - 1990an dulu.

Hari ke 2, usai makan pagi di hotel acara dimulai dengan mengunjungi Laser Buddha, yaitu pahatan gambar Buddha pada bukit batu yang pada pembuatannya menggunakan sinar laser. Setelah peserta seperti biasa melepaskan "hajat narsis"nya, kami diajak ke Nongnooch Village untuk melihat modern dance/cabaret show dan elephant show yang sangat menarik. Sayangnya, kunjungan ke Nongnooch Village hanya untuk menyaksikan ke 2 atraksi tersebut dan tidak untuk menikmati koleksi tanaman dan penataan lingkungannya yang tidak kalah menarik.

Satu hal yang tidak dapat dilupakan dan sangat disesalkan adalah ......... di toilet umum bagian wanita ..... sekali lagi bagian WANITA, karena sudah diyakini dengan mata kepala berulang kali sebelum masuk ke toilet yang berada di area Elephant Show ini, terdapat ...... ayo apa ......??? Urinoir ..... tahu kan apa urinoir .....? Aneh dan bikin agak - agak risi melihat urinoir ada di toilet wanita ...

Usai mengunjungi Bee Honey shop dan dry food shop, bus langsung menuju Bangkok until makan malam, kali ini di restoran halal Sophia.

Hari ke 3 di Bangkok, wisata dimulai untuk mengunjungi Grand Palace, Wat Arun dan "berlabuh: di Ma Boon Krong alias MBK. Sebagian lagi memisahkan diri untuk melihat Museum Lilin Madam Toussauds. Ini adalah kunjungan ke 3 setelah pertama kali di London dan di Amsterdam jauh sebelumnya. Tentu pesohor yang ditampilkannya berbeda walau ada beberapa pesohor "tetap" yang mungkin bisa dilihat di berbagai museum lilin di segala penjuru dunia.

Akan halnya MBK dan lingkungan sekitarnya di tahun 2015, kondisinya sungguh mencengangkan. Bayangan MBK yang "tidak jauh" berbeda dengan pasar pagi Mangga Dua, pupus sudah, berganti dengan bangunan modern yang dihubungkan melalui jembatan layang super luas dan bersih ke mall lainnya yang berada di seberang jalan tempat kami menuju museum lilin tersebut. Keadaan di dalam MBK sendiri sudah jauh lebih rapih dan bersih.

Perjalanan wisata hari ke 3 ditutup dengan dinner cruise di Chaopraya river yang sangat heboh karena demikian padatnya peminat dinner cruise. Sementara hari terakhir di Bangkok, diisi dengan lagi... dan lagi - lagi belanja. Kali ini sasaran utamanya adalah pasar Chatuchak dan beberapa diantaranya memisahkan diri untuk belanja buah2an di sebuah pasar buah di seberang Chatuchak.
***

Pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari Thailand, khususnya Bangkok di bidang pariwisata? Terlepas dari sejarah "terbentuknya citra" Pattaya sebagai kawasan wisata sex dan sensual bagi tentara USA selama perang Vietnam pada dekade 1960an, namun daya tarik pariwisata Thailand ternyata begitu besar. Kunjungan wisata ke Thailand baik ke Pattaya maupun Bangkok dan pasti juga ke beberapa daerah tujuan wisata lainnya seperti Phuket danChiang Mai, sangat besar dengan dukungan atraksi wisata dan infrastrukturnya yang prima. Tidak kalah dengan infrastruktur dan fasilitas wisata termasuk yang terpenting adalah sanitasi lingkungan di negara maju.

Akan hal destinasi wisata, terutama wisata alam (asli), Indonesia tentu tidak ada duanya dan inilah kekuatan pariwisata Indonesia. Sayangnya .... di dalam negeri, akomodasi, infrastruktur, sanitasi lingkungan, dan pengelolaannya belum ditangani dengan baik. Sementara pemasaran ke luar negeri masih dan terlalu BALI oriented dan melupakan kekuatan kekuatan wisata lainnya.

Menjaring minat wisata asing berkunjung ke Indonesia, memerlukan perencanaan dan waktu yang panjang, seraya memulainya dengan perbaikan di dalam negeri; yaitu akomodasi, infrastruktur (tentu termasuk transportasi yang aman dan nyaman), sanitasi dan lainnya untuk kemudian secara bersama-sama memasarkannya di dalam maupun di luar negeri. Mental para aparat imigrasi, bea cukai serta pengelola bandara internasional juga harus diperbaiki.

Ah ... masih banyak kerja keras untuk meningkatkan daya tarik pariwisata Indonesia.... Masih panjang perjalanannya agar Indonesia menjadi daerah tujuan wisata alam yang mumpuni di kawasan katulistiwa .... Mampukah ...? 



Rabu, 29 April 2015

Apakah kanker bisa disembuhkan ....?

Pagi ini ... saya membaca status seorang teman tentang meninggalnya kawan baik adik saya saat mereka masih di FKUI sekitar hampir 40 tahun yang lalu. Dokter spesialis penyakit Kulit dan Kelamin itu harus menyerah kalah pada ganasnya serangan sel kanker. Saya lupa, kanker apa yang menyerangnya ....

Kemarin sore .... saat tiba di kantor sepulang dari perjalanan dinas ke Purwakarta, saya mendapat berita dari rekan yang masih berada di kantor bahwa salah satu direktur kantor kami terpaksa meninggalkan kantor lebih cepat, usai menerima telpon dari suaminya. Sang suami memintanya mendampingi di rumah sakit karena si suami disarankan masuk Intensive Care Unit alias ICU usai menjalankan sesi pertama dari serangkaian sesi kemoterapi. Kalau tidak salah ada 7 sesi. 1 tahun yang lalu dia didiagnosis menderita kanker limfoma. Padahal ... saat itu dia masuk rumah sakit hanya untuk operasi kecil prostat. Memang, kalau dipikir-pikir... agak aneh juga, mengapa pelaksana operasi prostat itu adalah seorang ahli bedah kanker (oncologist?).

Ini adalah seri kemoterapi ke 2 yang dijalaninya, karena usai lately pet scan yang dijalaninya sekitar 2 minggu yang lalu, didapati ada noktah mencurigakan di limfa dan pinggang kiri-kanannya. Dan ..... serial kemo ke 1 dari 7 sesi yang harus dijalaninya ini, dan kalau nggak salah nama obatnya R-ICE ini sangat berat dampaknya, dibandingkan dengan serial kemo yang pernah dilaksanakan hampir 1 tahun yang lalu

Jadi .... usai menjalankan 1 sesi pertama kemoterapi R-ICE, kondisinya secara drastis, memburuk .... konon trombositnya hanya ada 0,.... (baca nol koma ...). Entahlah ... saya nggak ngerti apa artinya dan ya sudahlah ... begitu kenyataan yang sudah terjadi .... Operasi sudah dilaksanakan dan kemudian dilanjutkan dengan serangkaian kemoterapi, pet-scan dan serangkaian observasi lainnya sesuai dengan prosedur standar perawatan kanker. Di Indonesia dan di berbagai sudut lainnya di dunia ini.

Beberapa hari sebelumnya, saat ingin menghubungi salah satu direksi anak perusahaan, sang sekretaris memberitahu bahwa rekan kami yang sudah berbulan-bulan dirawat di RS Dharmais akhirnya kembali ke rumah. Semoga dia memang betul-betul sembuh 100%, bersih dari sel-sel kanker. Bukan karena sel kankernya belum bisa terdeteksi oleh alat-alat canggih supermodern itu.
***

Sudah beberapa dekade ini, kanker memang betul-betul menjadi momok bagi kesehatan umat manusia. Bukan saja momok bagi penderitanya ... yang merasa seperti divonis mati secara perlahan-lahan .... tetapi juga beratnya pendampingan oleh keluarga dan hampir bisa dipastikan biaya yang menguras seluruh persediaan keuangan rumah tangga.

Mengapa ini terjadi .... 
Entahlah ... 
Konon kabarnya karena kita tidak lagi hidup dalam arti menjalani kehidupan sehari-hari  dengan baik, termasuk juga asupan makanan kita sudah tidak alamiah. Terlalu banyak campur tangan bahan kimiawi sintetis di dalamnya. Belum lagi kalau penggunaanbahan kimiawi itu dilakukan secara serampangan. Bukan hanya makanan instant - cepat saji buatan pabrik yang mengandung bahan kimiawi apakah berbentuk bahan pengawet, penguat rasa atau pewarna, tetapi ternyata... bahkan gula, beras, garampun tidak lepas dari "campur tangan" bahan kimia dalam pengolahannya, Minimal berupa "pemutih".

Suka lalapan atau buah2an segar .... ? Ternyata, masih belum aman juga. "Raw food" inipun tak lepas dari jerat kimiawi berupa pupuk, pestisida selama masa tumbuh kembangnya dan saat pasca panen untuk mempertahankan kesegarannya. Belum lagi kecurangan-kecurangan untuk mendapatkan warna atau rasa yang prima dan yang paling canggih adalah mutasi genetik untuk mendapatkan bibit buah dan sayur yang bagus dalam bentuk, ketahanan terhadap hama, warna, dimensi dan lainnya. Itulah yang dikenal sebagai bibit transgenik yang banyak diproduksi oleh Monsanto dari USA. Apa dampaknya terhadap sel tubuh manusia ...? Entahlah .....

Bagaimana dengan konsumsi Susu untuk meningkatkan kesehatan manusia.....?
Belakangan ini, banyak pro dan kontra berkenaan dengan konsumsi susu untuk kesehatan manusia. Lagi-lagi jeratan kepentingan ekonomi lebih berperan dan menguasai mind set orang2 modern abad ke 21 ini. Mungkin sama dengan hilangnya peredaran minyak goreng dari kelapa "asli" yang berasal dan dibuat dari kopra yang sekarang ini diganti dengan minyak olahan dari kelapa sawit. 

Sejujurnya saya tidak tahu apa dampak konsumsi minyak sawit terhadap kesehatan, namun perkebunan sawit yang banyak dilaksanakan di Indonesia sudah "merusak alam". Minimal, sudah diketahui bahwa areal sawit yang monokultur tersebut sudah merusak kesetimbangan alam... Merusak ekologi. hilangnya banyak spesies flora dan fauna Indonesia dan pasti ada banyak lagi dampak ikutannya. Konon pula pohon kelapa sawit sangat rakus air dan unsur hara. Tapi ...., biarlah mereka para ahlinya, mengulas dan mungkin menyadari betapa kita ... manusialah yang merusak alam dan mempercepat kiamat dunia.

Saya tidak tahu bagaimana menghadapi kondisi bila suatu kali ada anggota keluarga into kami menderita kanker, walau konon kabarnya kanker bisa disembuhkan 100%. Pasti tidak akan mudah dijalani oleh mereka yang mengalaminya. Tetapi ada satu hal yang selalu saya pegang dalam menangani penyakit yang bercokol di dalam tubuh ... yaitu jangan mengingkari kehendak alam.

Mengapa ...?
Untuk kanker yang berbentuk tumor, saya selalu ingat pohon-pohon di halaman rumah yang kala dahannya dipangkas... maka beberapa minggu kemudian akan bermunculan tunas baru yang jumlahnya jauh lebih banyak dari batang yang dipangkas. Demikianlah saya menyikapi tindakan operasi pengangkatan sel tumor ganas yang ada di dalam tubuh. Dari akar tumor yang ada di dalam tubuh, akan tumbuh puluhan, ribuan atau entah jutaan "cabang/tunas" tumor baru... Belum lagi membayangkan jutaan sel kanker berloncatan masuk ke dalam sel darah, saat operasi dilakukan, karena saluran darah itu terbuka saat dioperasi dan itulah jalan penyebaran sel kanker ke seluruh jaringan tubuh.

Kemoterapi ...? Ya .... itulah tindakan lanjutan dari operasi pengangkatan tumor yang biasa dilaksanakan usai operasi. Namun beratnya prosedur dan pengobatan melalui kemoterapi yang akan mematikan seluruh sel-sel tubuh, bukan saja sel tumor tetapi juga sel sehat tentu tidak mudah dilaksanakan dan dijalani. It just like fatalistic battle. Mengerikan ....

Seorang kenalan pernah memberitahu saya tentang kemoterapi untuk penanganan tumor ganas, yang menurut saya lebih masuk akal dengan dampak yang sangat minim. Menyuntikkan obat-obatan kimiawi tersebut langsung pada inti sel kanker tanpa melakukan operasi apapun juga. Akibat pada penderita akan sangat minimal. Tumor ganas, kabarnya akan menciut dan tetap tinggal di dalam selongsongnya. Pasien cukup diminta datang setiap 6 bulan, untuk memastikan apakah sel kanker itu masih tetap "kisut" atau hidup lagi. Tentu ada persyaratan lainnya .... penderita harus menjalankan hidup sehat....

Konon..., salah satu kiatnya adalah, buat agar kondisi tubuh dalam status alkaline - basa ...., karena kondisi acid - asam membuat tubuh manusia sangat rentan dihajar beragam penyakit.
https://www.youtube.com/watch?v=69P-Cqy7OSk

Selasa, 07 April 2015

Curhat seorang anggota DPR kepada Tim Luhut Panjaitan.

Saya mendapat kiriman text di melalui WA. Sepertinya dikirim simultan entah oleh siapa. Karena isinya cukup menarik, maka saya copy paste saja tulisan ini, sedngan sedikit editing agar tidak ada singkatan kata.

Curhatan Akbar Faisal thd Tim Luhut Panjaitan.

Yth. Pak Yanuar Nugroho, 

Saya Akbar Faizal. Alumni IKIP Ujung pandang jurusan sastra (S1) dan Komunikasi Politik (S2) UI. Sekarang anggota DPR-RI. Saya ucapkan selamat atas jabatan mentereng sebagai deputinya Jendral Luhut. Pak Luhut dulu bagian dari tim kampanye Jokowi-JK dan juga Tim Transisi.

Ada beberapa peran Pak Luhut yang cukup layak untuk dicatat dalam pemenangan Jokowi meski menurutku tidak sebesar peran Megawati yang memerintahkan PDIP hingga ke akar rumput untuk memenangkan Jokowi. Sesungguhnya Jokowi tak akan jadi Presiden jika PDIP atawa Mega tidak merekomendasikan Jokowi.

Hal yang sama juga terjadi pada Surya Paloh, Muhaimin Iskandar, Wiranto dan belakangan Sutiyoso. Selanjutnya bergabung berbagai relawan seperti Projo, Bara JP,  Seknas, dll. Tak boleh dilupakan sayap2 partai pengusung seperti PIR dari Nasdem dalam Komando Martin Manurung dan Relawan Cik Ditiro dalam komando kawan2 PDIP. Pasukan PKB terutama Marwan Jafar berjibaku dengan kami di Timkamnas dlm komando Cahyo Kumolo dan Andi Wijayanto berkeliling Indonesia meneriakkan "Pilih Jokowi karena bla...bla...bla...".

Tak ada anak Harvard di tim pemenangan kami. Yang agak jauh kuliahnya itu paling Eva K. Sundari yang pernah sekolah di Inggris entah di mana. Saya tak terlalu paham pula apakah di Inggris sana dia menemukan suaminya yang orang Timor Leste dan membuatnya dimaki setiap hari oleh tim Prabowo sebagai katholik sejati atau pengkhianat bangsa dst.

Rieke Pitaloka setahu saya kuliah di UI, namun berkeliling dari kampung ke kampung sepanjang Jawa untuk meyakinkan Ibu2 memilih Jokowi dan berakibat dia disumpahi sebagai keturunan PKI di semua media sosial. Ada pula yang bernama Teten Masduki yang setahu saya hanya alumni IKIP Bandung namun fokus ke Jawa Barat dan meyakinkan semua seniman2 bermartabat untuk mendukung Jokowi seperti Slank atau Iwan Fals atau Bimbo.

Jika Anda tahu tentang "Konser 2 Jari" yang menjadi pamungkas kampanye dan membalikkan persepsi publik tentang besarnya dukungan massa terhadap Jokowi dan Prabowo di masa2 krusial saat itu, itu adalah kerjaan Teten. Pak Luhut sendiri setahu saya (dan sesungguhnya saya sangat tahu masalahnya) banyak menghabiskan waktu di kantor pemenangan yang dibentuknya di Bravo 5 Menteng dan berdiskusi or menelepon banyak orang yang saya dengar sebagai "orang LBP" entah di mana saja.

Beberapa kali saya rapat dengan tim mereka di mana hadir para pensiunan Jendral yang --mohon maaf-- masih merasa sebagai komandan pasukan dengan berbagai kewenangan. Juga proposal beliau tentang sistem IT beliau yang --cukup memarkir mobil di depan KPU dan seluruh data2 bisa tersedot. Kami di Jl. Subang 3A --itu markas utama pemenangan Jokowi Mas-- terkagum2 membayangkan kehebatan teknologi Pak LBP sekaligus mengernyitkan dahi tentang proses kerja penyedotan data tadi. Saya yang pernah menjadi wartawan senyum2 saja sebab sedikit paham soal IT. Senyumanku semakin melebar saat membaca jumlah dana yg dibutuhkan untuk pengadaan teknologi sedot-menyedot tadi. Dalam hal massa, tercatat 2 kali LBP mengumpulkan masyarakat Batak di Medan dan Jakarta untuk mendukung Jokowi-JK.

Mas Yanuar, saya merasa perlu menulis seperti ini sebab saya merasa kantor Anda terlalu jauh mendeskripsikan diri akan tugas dan kualifikasi staff sebuah kantor Kastaf Presiden. Sebenarnya saya tak perlu terlalu menanggapi soal Harvard ini. Saya juga pernah ke sana tapi sebagai turis. Otak saya memang tak akan mampu kuliah di sana. Lha wong saya orang desa. Bahasa Bugis saya juga jauh lebih lancar dari Bahasa Inggris saya. Namun soal Harvard ini membuat saya merasa "koq kalian menghina bangsamu sendiri?" Merendahkan kualitas pendidikan bangsamu yang kabarnya akan kau katrol kualitasnya dengan cara memasukkan orang Harvard atau entah dari mana lagi di luar negeri sana? Mengapa kalian semakin jauh dari 'kesepakatan awal kita di tim dulu untuk menghormati bangsamu sendiri'? Mengapa kalian makin kurang ajar saja?" Saya sebenarnya pernah ingin mempersoalkan lembaga bernama Kastaf ini sebab sejujurnya "tak ada" dalam perencanaan kami di Tim Transisi dulu. Sekadar menginfokan kepada Anda Mas, bahwa Tim Transisi itu dibentuk Pak jokowi untuk merancang pemerintahan yang akan dipimpinnya. Tapi saya sungguh tak nyaman mempersoalkan itu sebab akan dituding macam2. Misalnya, "Akh...karena AF kecewa tidak jadi mentri dll".

Masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya pertanyakan. Termasuk surat presiden ke DPR tentang Budi Gunawan yang disusul kontroversi2 lainnya. Kemana para pemikir Tata Negara di sekitar Pak Jokowi sekarang? Yang aku dengar selanjutnya malah pengangkatan Refly Harun sebagai Komisaris Utama Jasa Marga. Mungkin Bu Rini anggap Refly sangat paham soal Jalan-Tol karena setiap hari melalui macet. Persoalan yang Pak Jokowi katakan dulu akan lebih mudah menyelesaikannya sebagai presiden ketimbang sebagai Gubernur DKI, dari rumahnya di Buaran sana. 


Mas Yanuar, sebagai anggota DPR pendukung pemerintah dan insya Allah punya peran (meski sangat kecil) terhadap kemenangan Jkw -JK, saya ingin kalian di istana fokus pada tugas yang lebih membumi. Misalnya, jangan biarkan kami di DPR dihajar bagai sansak oleh orang2 Prabowo dalam kasus kebijakan tunjangan mobil pejabat, misalnya. Hanya karena kalian tak mampu berkomunikasi dengan kami di DPR (atawa parpol pendukung, ini juga satu soal sendiri karena terbaca dengan kuat kalau kalian di Ring 1 Presiden kini sukses melakukan deparpolisasi). Atau karena gagal meyakinkan publik akan seluruh keputusan2 presiden/pemerintah. Soal sesepele ini tak perlu kualitas Harvard. Saya merasa mengenal beberapa orang di istana negara tempat Anda berkantor sekarang. Entah apa mereka (masih) mengenal saya sekarang. Tapi saya nggak memikirkannya. Saya hanya minta kalian di sana berhenti melakukan hal2 yang tak perlu spt deklarasi soal Harvard yang akan masuk Istana itu.

Sekali lagi, saya sebenarnya tak perlu menulis panjang lebar seperti ini hanya untuk menanggapi soal Harvard ini. Tapi saya harus lakukan sebab menurutku kalian makin jauh dari seluruh rencana awal kita. Dan sayangnya, seluruh rencana awal itu saya pahami dan terlibat di dalamnya. Saya sekuat mungkin berusaha menghindari kalimat2 keras untuk memahami apa yang kalian lakukan disana. Tapi sepak terjang kantor Mas Yanuar bernama Kastaf Kepresidenan itu makin jauh. Terakhir, saya sarankan agar menahan diri dalam memberikan masukan ke Presiden. Jangan racuni pikiran Presiden yang polos ini dengan permainan yang dulu kami hindarkan Beliau melakukan meski kadang gregetan lihat langkah2 tim Prahara.

Terkhusus dengan Pak JK, saya minta kalian berikan rasa hormat. Tanggal 9 Juli lalu, 63% penduduk Indonesia memilih Jokowi - JK dan bukan Jendral Luhut Binsar Pandjaitan, apalagi Anda2 yg bergabung belakangan.

Selasa, 31 Maret 2015

PISANG BATU ... biar sepet tapi berkhasiat

pisang batu
Sabtu siang, seperti biasa sejak 1 tahun lalu, saya harus meluangkan waktu ke belahan selatan Jakarta, hampir mendekati batas wilayah kota Jakarta Selatan. Kali ini, adik saya bercerita tentang anak lelaki sulungnya yang sedang terbaring di rumah kesakitan. Segala posisi tubuh menjadi salah. tidur salah .... berdiri salah ... apalagi kalau harus duduk.... Minta ampun katanya ....

Tau enggak, apa sakitnya ...?
Norak banget deh ... tapi ini penyakit memang banyak menjangkiti masyarakat. Nama penyakitnya wasir atau juga sering disebut ambeien. Penyebab sesungguhnya dari wasir atau ambeien ini tidak diketahui dengan jelas. Ada yang bilang karena kebiasaan buang air besar yang tidak teratur (konstipasi atau diare). Ini bisa dan sangat mungkin terjadi. Sebab lainnya adalah kurang olah raga dan makanan yang dikonsumsi kurang atau sedikit mengandung serat. Biasanya terjadi pada orang yang kurang sukan makan sayur atau buah-buahan. Faktor pencetus lainnya adalah karena kembung berkepanjangan, atau kehamilan. Faktor lain yang diduga meningkatkan risikonya termasuk obesitas atau kebiasaan bekerja atau duduk dalam jangka waktu lama.


Suami saya yang mendengar cerita adik, langsung tertawa dan "nyamber" ....
"Waduh ..... itu penyakit kronisku tuh ....! Gampang kok nyembuhinnya...!"
Adik saya menyimak dengan wajah setengah percaya...
"Bener ......aku bertahun-tahun menderita penyakit itu, sejak jaman kuliah dulu...", lanjutnya 

Jaman kuliah ... itu berarti sudah berlalu 40 tahun dan tetap digunakan hingga saat ini bila ada tanda-tanda bahwa penyakit kronisnya itu akan kambuh.
Adas Pulosari

Resep andalan untuk menyembuhkan ambeien akut itu sudah disampaikan untuk dicobakan, namun dari raut wajahnya terlihat masih ada keraguan untuk mencoba resep tersebut, walaupun bahan-bahannya relatif sangat mudah dicari, pembuatan dan penggunaannyapun sangat mudah. Tinggal masalah kemauan dan kepercayaan akan resep tradisional saja.

Sambil kembali ke rumah, saya usahakan menelpon ibu si anak, menjelaskan kembali apa yang harus dilakukannya dengan pisang batu, cara membuat dan meminumnya sambil meyakinkannya bahwa obat tradisional ini sangat ampuh dalam penyembuhan ambeien. Bahkan lebih ampuh dari obat-obatan modern sekalipun. Si ibu berjanji akan membelinya segera di pasar tradisional keesokan harinya. Sepagi mungkin karena saat itu sudah menjelang maghrib.

Keesokan hari, saya kembali menelpon... memastikan bahwa apa yang dianjurkan sudah dilaksanakan, sambil memonitor apakah memang manjur sebagaimana yang selalu didengungkan oleh suami. Saat itu sudah menjelang tengah hari... jadi tentu si anak sudah meminumnya 1 kali.
"Alhamdulillah... sudah lebih baik. Si anak merasa ada denyutan pada bagian yang menonjol di duburnya dan terasa mulai mengecil"
"Ok.... semoga lebih baik, jangan lupa minum sekali lagi sore nanti. Batalkan janji konsultasi dengan dokter, besok (senin). Percaya deh ... dia nggak perlu ke dokter lagi....!!!"
"Ya ....., mudah-mudahan yang mendaftar belum bayar biaya pendaftarannya", jawabnya
"Lanjutkan konsumsi ramuan itu hingga minimal 2x sehari selama 3 hari"

Malamnya, saya menelpon kembali ke tempat adik ... menanyakan perkembangannya.
"Sudah jauh berkurang, walau masih terasa sakit. Tapi sekarang sudah bisa bangun dan ketawa-ketiwi..."
ini yang sudah matang
(memang kalau sedang kena serangan ambeien sedemikian parah, hingga tidak bisa bergerak dan bahkan tertawapun tak sanggup...?)

Senin siang, atau minimum setelah 3x minum ramuan pisang batu ... ternyata si anak sudah dengan sigap mengendarai mobil ke Bandung... menemani bapaknya yang harus kontrol penyakitnya setiap 2 bulan sekali ke dokter langganannya di Bandung...

Begitulah .... banyak kekayaan alam, terutama ramuan tradisional dalam penyembuhan penyakit yang tersia-sia karena gencarnya iklan obat-obatan modern di berbagai media.

Ingin tahu resepnya? Sederhana kok ....
Beli 1 sisir pisang batu mengkal (jangan yang matang), ini cukup untuk 4x minum
sejumput kecil (1/4 sendok teh peres/rata) Adas pulosari
gula merah atau madu untuk pemanis... sedikit saja (1 sendok teh)
cara pembuatannya:
- Cuci 1/2 sisir pisang batu (tidak perlu dikupas), lalu diparut
- haluskan adas pulosari
- campur adas pulosari halus dengan parutan pisang batu
- peras dengan kain kasa bersih. tambahkan air matang untuk mendapat 1 gelas +/- 200ml
- Bagi 2 air perasan tersebut, 1 bagian ditambahkan dengan gula merah/madu secukupnya lalu minum habis ....
- Sisanya masukkan ke kulkas untuk konsumsi sore harinya.
- Lakukan/minum ramuan ini hingga 3 hari (2x sehari)

Resep ini sangat bermanfaat dan sudah terbukti. Minimal, suami saya sembuh total dari ambeien parah yang dulu selalu menyerangkan setiap ujian semester... 

Rabu, 11 Maret 2015

e - KTP .... Antara PROYEK dan RUTINITAS

Awal bulan yang lalu, anak gadis saya memasuki usia 17 tahun. Usia yang cukup untuk memiliki Kartu Tanda Penduduk alias KTP. Kalau tidak salah ... setiap ada perubahan kependudukan, kita diwajibkan melaporkannya dalam jangka waktu 14 hari. Keterangan ini, biasanya tertulis dalam KTP.

Sehari sebelumnya, kebetulan si anak yang tinggal di asrama, mendapat libur sehingga dia berupaya mengurus permohonan pembuatan KTP dan .... amat disayangkan, walau hanya untuk pengambilan data saja, petugas di kelurahan menolaknya. Apa boleh buat .... kami harus mencari waktu luang lagi agar si anak diijinkan tidak masuk sekolah. Ijin sekolah yang agak sukar diperoleh mengingat mereka sedang mempersiapkan Ujian Nasional sehingga siswa "dilarang keras" tidak masuk sekolah.  

Maka ... 3 minggu setelah hari ulang tahunnya, si anak diberi ijin tidak ikut kegiatan sekolah untuk mengurus KTP dengan syarat segera kembali ke sekolah/asrama. Jadilah ... usai menunaikan shalat subuh, kami menjemputnya ke sekolah agar dia dapat mengurus KTP dan kemudian mengantarnya kembali ke sekolah/asrama.

Rupanya ..... era pembuatan e-KTP sudah berakhir. Jadi ... kalau kita menghendaki langsung memperoleh KTP, maka KTP yang kita dapat adalah KTP "lama" yang tercetak diatas selembar "security paper" berukuran sekitar 4x8cm yang harus di laminated agar bisa bertahan lama. e-KTP dalam bentuk plastik seperti SIM atau kartu kredit hanya bisa diterbitkan dalam waktu 6 .... sekali lagi enam bulan kemudian.

Aneh bin ajaib ....
Tapi , segala yang aneh bin ajaib memang seringkali terjadi di negeri jamrud katulistiwa ini.
***

Beberapa tahun yang lalu, pemerintah era SBY menggulirkan program e-KTP. Maksudnya tentu baik.... sebagaimana slogannya "SATU KTP, KTP Nasional - SATU KTP, Satu Identitas.

Penerapan dan penggunaan e-KTP yang sekaligus merupakan "single ID" memang dimaksudkan agar tidak lagi terjadi KTP ganda bagi penduduk Indonesia dimanapun dia berada karena KTP ganda seringkali digunakan untuk maksud-maksud tertentu yang biasanya selalu bertujuan negatif dan merugikan banyak pihak. 

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa banyak pemilik KTP DKI Jakarta yang berdomisili di wilayah Bogor - Depok - Tangerang - Bekasi, masih mempertahankan KTP DKI Jakarta dengan beragam alasan. Menjadi rahasia umum pula bahwa banyak diantara mereka juga memiliki KTP di wilayah tempat tinggal non DKI Jakarta tersebut. 

Mengapa hal itu bisa terjadi? Dari sudut pandang positif, tentu karena wilayah sekitar (Bo-De-Ta-Bek) membutuhkan data kependudukan yang valid karena biasanya kucuran dana APBN yang mengalir ke daerah diperhitungkan dengan melihat jumlah penduduk. Kalau jumlah penduduknya sedikit, tentu kecil pula kucuran dana APBNnya. Maka yang terjadi pemerintah daerah setempat akan berusaha membujuk pendatang membuat KTP daerah walau si pendatang tidak melampirkan surat keterangan pindah yang secara otomatis seharusnya "mencabut" kepemilikan KTP daerah asal. Maka dengan demikian orang tersebut akan memiliki 2 KTP.
Bagian Belakang e-KTP versi 1

Kita tentu berharap bahwa praktek pembuatan KTP ganda tersebut semakin berkurang, walau keadaan ini juga masih meragukan. Bukankah belum lama ini terungkap bahwa salah satu petinggi penegak hukum Indonesia memiliki KTP ganda yang digunakan untuk membuka rekening bank?
Nah kembali ke e-KTP yang dicanangkan pemerintah sekitar, kalau tidak salah, 3 tahun yang lalu dan sekarang sudah berakhir, ada beberapa hal yang agak mengganggu pikiran.

Yang terutama adalah .... mengapa masyarakat saat ini hanya mendapatkan KTP dalam bentuk lama dan tidak bisa langsung memperoleh e-KTP dalam bentuk kartu plastik seperti kartu SIM atau kartu kredit? Menunggu 6 bulan ....? Dagelan apa pula, ini?

Bukankah mencetak data kependudukan ke atas kertas (security paper) sama mudahnya dengan mencetak data kependudukan ke atas kartu plastik. Bukankah, alat cetak kartu plastik tersebut sudah dimiliki pemerintah? Minimal di kecamatan, kalau tidak ada di setiap kelurahan. Atau mungkin .... atau di kantor walikota/kabupaten ....? Masakan "proyek penerapan sistem dan pembuatan/pencetakan e-KTP yang nilainya trilyunan rupiah hanya bisa dilakukan di kantor wilayah (provinsi) dinas catatan sipil dan kepenudukan? Atau mungkin malah di kantor Kementerian Dalam Negeri saja ....?


Bagian Belakang e-KTP versi 2
Bukankah secara logika, berbarengan dengan penerapan e-KTP, tentu tersedia kartu-kartu plastik siap cetak beserta printernya di setiap kelurahan. Bila di saat awal hanya tersedia di tingkat kabupaten/kota .... berdasarkan logika, sewajarnya alat kelengkapan operasional kependudukan tersebut dilengkapi hingga ke tempat dimana penduduk mengurus KTP. Di kelurahan untuk wilayah yang jumpah penduduknya sangat padat, di kecamatan untuk wilayah berpenduduk jarang. Secara logika yang wajar, sejak pencanangan e-KTP dengan karti plastik, maka sejak itu pula pencetakan KTP di atas security paper dihentikan dan dialihkan kepada kartu plastik. Kondisi ini sudah biasa terjadi untuk kartu kredit dan bahkan SIM. Jadi agak mengherankan kalau setelah pemerintah membuat program/sistem pendataan penduduk dan membeli seluruh peralatan (komputer, camera/retina detection, printer dll) termasuk kartu plastik, lalu segala peralatan tersebut hanya sekali digunakan, yaitu saat "gembar-gembor" program e-KTP. Lalu setelah pendataan/program pertama selesai, lalu mandek. Seluruh sistem/program data mandek, printer dan komputer tidak digunakan secara berkesinambungan. Kita kembali lagi menggunakan kartu dalam bentuk security paper. Jadi semua investasi itu mubazir ... tidak digunakan lagi? Alangkah mubazirnya program e-KTP ini ...

Di lain pihak, saat browsing e-KTP, saya menemukan bermacam bentuk kartu baik bentuk muka yang mencantumkan data penduduk, maupun kartu bagian belakang yang konon berisi data/chip. Entah program/sistem apa yang digunakan... Ataukah ada beberapa sistem yang digunakan? Kalau ya ... bagaimana mungkin mensinkronkan data kependudukan dalam satu ID sebagaimana yang dimaksud dalam slogan e-KTP.

Saya hanya ibu rumah tangga biasa dan sama sekali bukan ahli IT. Mengertipun, tidak ....! Tapi akal sehat saya melihat betapa banyaknya hal-hal janggal dalam program e-KTP ini...
Wallahu alam

Kamis, 12 Februari 2015

SUSI yang fenomenal

Susi Pudjiastuti .... perempuan "desa" pemilik Susi Air, perusahaan penerbangan charter, yang berasal dari Pangandaran, sebuah desa pariwisata di ujung timur wilayah Jawa Barat itu mendadak menjadi selebriti baru pada jajaran pejabat tinggi pemerintahan Republik Indonesia, terutama di antara menteri perempuan dalam Kabinet pemerintahan Joko Widodo yang berjumlah 6 orang. 

Sebetulnya, sosok Susi Pudjiastuti sudah lama dikenal dan bahkan sudah sering diliput media cetak. Namun sejak diangkat menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, nama kembali mencuat dan kegiatannya menjadi lebih sering menghias media massa baik media cetak maupun layar kaca.

Susi mungkin tidak pernah membayangkan bila suatu kali, dia akan diminta menjadi menteri walau kiprahnya di dunia usaha tidak bisa dianggap enteng.  Seringkali terpikir ... siapa yang memiliki ide agar Susi Pudjiastuti diangkat menjadi menteri Kelautan dan Perikanan lalu menyampaikan ide tersebut kepada presiden RI terpilih dan apa pula yang menyebabkan sang presidenpun menerima ide tersebut. Tentu ada alasan tertentu yang tidak sesederhana alasan yang sering diucapkan Susi, bahwa presiden membutuhkan "orang gila" untuk menangani masalah Kelautan dan Perikanan.


Perempuan unik yang tidak memiliki ijasah SMA karena dikeluarkan sekolahnya di Jogja juga menjadi pusat perhatian dengan sikap dan penampilannya yang urakan. Jauh berbeda dengan perempuan kelas atas lainnya yang begitu menjaga penampilan. Susi dikenal juga sebagai perokok dan memiliki tato, yang banyak terekspos adalah di betisnya. Lagi-lagi, di luar pakem penampilan perempuan "baik-baik kelas atas". Sikap dan perilakunyapun selalu seenaknya. Jauh dari elegante. Belum lagi pendidikannya yang putus hanya hingga kelas 2 SMA saja. Lengkaplah sudah alasan untuk mengganggap enteng kemampuannya. Itu sebab, pada awal pengangkatannya, Susi dilecehkan oleh kalangan yang merasa dan menganggap diri sebagai kaum intelektual

Namun......siapa yang menduga ketika Susi memulai ritme kerjanya dengan gebrakan yang menggetarkan jagat maritim nusantara. Dia tidak segan-segan, segera membongkar permainan mafia perikanan. Memerintahkan penangkapan para pencuri ikan di lautan nusantara baik yang menggunakan kapal berbendera asing maupun yang seolah berbendera nasional dan kemudian menenggelamkannya. Susi juga tidak takut menghadapi ancaman dan cercaan dari negara jiran asal para pencuri tersebut.
celoteh Susi

Pencurian isi perut lautan Indonesia sudah sejak lama menjadi rahasia umum. Sudah banyak dikeluhkan beragam pihak termasuk aparat kementerian terkait. Namun .... tidak ada tindakan apapun juga dari pihak yang berwenang selain mengeluh dan berdalih atas ketidakmampuan para lelaki yang padanya disematkan jabatan menteri untuk menanggulangi masalah pencurian ikan tersebut.

Berkali-kali sudah menteri berganti-ganti  dan selama bertahun-tahun itu pula para pencuri ikan berpesta pora seenaknya dan terang-terangan. Nelayan nusantara mungkin menjadi lupa, siapa tuan rumah sesungguhnya dari lautan nusantara ini. Para nelayan tradisionalkah atau para perompak ikan yang dengan seenaknya menjarah isi perut lautan.

Tulikah para aparat penjaga keamanan dan instansi kelautan dan perikanan ...... ? Atau mereka tidur lelap di atas tumpukan upeti yang disodorkan .... Atau mungkin memang mereka semua tak bernyali...., kecuali nyali mempertahankan jabatannya tanpa malu atas melempemnya kinerja mereka. Atau memang mereka sudah tidak peduli terhadap kedaulatan negeri ini kecuali kepedulian terhadap kepentingan diri, kelompok dan golongannya. 
Susi Pudjiastuti - Mata Najwa 11 Feb 2015

Bisa jadi bangsa Indonesia memang harus menunggu seorang Susi Pudjiastuti, yang karena kesederhanaan pendidikannya menjadi sangat bernyali untuk melawan apapun yang merugikan nelayan. Kelompok masyarakat yang sangat lekat dengannya. Kelompok dimana dia memulai kiprah dan kemudian mengasah kepekaan naluri bisnisnya.

Susi mungkin bekerja hanya dengan naluri dan niat ikhlas untuk kemajuan dan kesejahteraan nelayan. Untuk kewibawaan negeri dan bangsanya. Bukan karena gila jabatan. Tidak ..... Susi tidak terlalu mempedulikan jabatan sebagaimana yang disampaikannya dalam acara Mata Najwa tanggal 11 Februari yang lalu:
"Saya akan mundur setelah menyelesaikan masalah Kelautan dan Perikanan. Setelah semua regulasi yang akan dipersiapkannya berjalan dengan baik dan ini saya prediksi berlangsung selama 2 tahun. Cukup 2 tahun"


2 tahun dirasa lebih dari cukup bagi seorang Susi Pudjiastuti untuk menduduki jabatan sebagai Menteri.  Bukan main .... Sungguh mati .... baru kali ini seorang menteri menyatakan sendiri bahwa dia hanya akan menjabat selama 2 tahun saja dan mundur atas kemauan sendiri. Selama ini, tidak pernah ada menteri di Indonesia yang mengundurkan diri dengan sukarela, bahkan sekalipun kinerjanya sangat buruk.

Susi memang fenomenal...
Dia tidak menghitung untung rugi koceknya sendiri....
Jabatan sebagai Menteri mungkin hanya dianggap sebagai selingan belaka ...
Sebagai pembuktian bahwa pendidikan rendah tidak berarti rendah diri ...
Bahwa sekolah yang paling berpengaruh adalah kehidupan itu sendiri ...
Bahwa jabatan tidak sepantasnya menjadi tujuan memperkaya diri dan Susi mampu dan pasti akan bisa membuktikannya ...
Karena Susi sudah mencukupi dirinya sendiri...
Jauh..... jauh hari sebelumnya

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...