Senin, 11 Maret 2013

PESTA PERNIKAHAN


pengantin ondel-ondel

Kemarin, Minggu 10 Maret 2013 setelah beberapa bulan “mengharamkan” hadir dalam acara apapun juga yang diselenggarakan oleh siapapun pada hari minggu sore, maka aku dengan suami dan anak hadir dalam undangan acara resepsi pernikahan yang diselenggarakan di Bhirawa Assembly Hall–Hotel Bidakara. 

Istilah “mengharamkan” mungkin agak berlebihan ya … Istilah itu diambil karena minggu sore adalah jadwal antar anakku kembali masuk asrama. Kebetulan anakku tidak harus kembali ke asrama sore itu. Kalau bukan karena alasan yang sangat urgent, maka sebisanya kami berdua yang mengantarkannya ke asrama. Agar dia tidak merasa menjadi “anak terbuang”.

Melihat lokasi tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan tersebut, sudah terbayangkan bagaimana suasana yang akan tercipta di sana. Pasti ramai seperti “pasar”. Segala macam orang tumplek blek di sana. Apalagi ditambah dengan panjangnya waktu acara, selama 3 jam, dari biasanya hanya 2 jam dan jabatan yang disandang ibu mempelai perempuan …. Pasti yang diundang … kalau mungkin, seluruh pejabat dan pengusaha yang ada di lingkungan provinsi DKI Jakarta.

Mengantisipasi kemungkinan “antrian panjang”, maka kami baru keluar rumah sekitar jam 19.30 dengan perkiraan akan tiba di lokasi acara 1 jam kemudian. Dengan demikian kami berharap antriannya sudah sedikit menipis. Konyolnya, entah apa yang terjadi, akhir minggu kemarin, hampir seluruh ruas jalan yang terpantau dari lewatmana.com relatif “kosong”. Begitu juga dengan perjalanan kami tersebut kemarin. Hanya tersendat menjelang masuk ke area Hotel Bidakara. Ini bisa dimaklumi dan sudah diprediksi sejak awal.

Karena tidak menggunakan jasa supir … (ini yang seringkali dikeluhkan suami, karena saya alergi dengan keberadaan supir di tengah kami), kami sudah mulai merasakan ketidaknyamanan saat mulai memasuki tempat parkir …. Harus berputar panjang. Nggak kebagian tempat dan kemudian diarahkan menuju basement 2. Mungkin melihat tongkrongan mobil yang kami gunakan “agak keren”, penjaga area parkir lalu berbaik hati mencarikan tempat parkir yang “nyaman”. Tidak terlalu jauh dari lift lobby yang langsung membawa kami menuju Bhirawa Hall ….. (aduh …. Ternyata dimata penjaga area parkir, merek/jenis mobil jauh lebih berharga dari manusia ya?).

Maka ….. naiklah kami menuju Bhirawa Hall dan tiba tidak jauh dari pre function area, tempat dimana buku tamu dan souvenir + Photo booth berada. Ada trend baru rupanya pada pesta–pesta pernikahan sekarang, yaitu dibuat photo booth dimana para tamu bisa membuat photo dengan latar belakang sesuai dengan thema acara pernikahan tersebut. Mengantisipasi kecenderungan masa kini untuk mengunggah foto seluruh aktifitas ke jaring sosial terutama facebook.

Oupfs…… ternyata, perjalanan panjang kami belum selesai. Kami kemudian terhadang oleh antrian tamu yang juga baru tiba. Tidak ada celah yang bisa dilalui untuk masuk ke dalam ruangan utama, untuk mencicipi hidangan terlebih dulu, sambil menunggu antrian yang panjang mengular tersebut menipis. Cuma ada satu pintu yang dijaga oleh, terkaan saya, para abang–none Jakarta. Maklum …. Ibu mempelai perempuan dan mempelai lelaki adalah jebolan abang–none Jakarta …. Beda generasi tentunya.

Pintu tersebut rupanya akses yang disediakan untuk para VIP masuk menerobos antrian sehingga bisa langsung bersalaman dengan sohibul bait alias tuan/nyonya rumah. Ini juga bentuk diskriminasi dalam acara pernikahan yang agak bertentangan dengan kalimat penutup setiap undangan “ adalah sebuah kehormatan bagi kami bila ibu/bapak berkenan hadir dalam resepsi pernikahan… dst”. Karena penghormatan tuan/nyonya rumah hanya diberikan kepada para pejabat atau orang–orang yang diberi label “Very Important Person”. Penghormatan yang tidak hanya sekedar akses tersendiri, tetapi juga dilengkapi dengan ruang makan khuses yang nyaman dengan kursi-kursi dan meja–meja makan yang tertata indah. Sementara undangan biasa, silakan berdesakan cari makan yang terkadang sudah kehabisan pula …. (oupfs …. Protes terus….!!! Hehehe ….)

Untung saja, terdengar pemberitahuan bahwa undangan diperkenankan masuk melalui pintu khusus tersebut untuk mencicipi hidang terlebih dahulu, sambil menunggu antrian panjang. Maka masuklah kami melalui pintu tersebut, walau agak dipelototi oleh abang–none penjaga pintu yang mungkin tidak mendengar pengumuman tersebut. Mereka nggak tahu atau tepatnya belum merasakan bahwa daya tahan emak-emak berusia di atas 1/2 abad untuk berdiri lama, sudah jauh berkurang. Di dalam, kami bertemu dengan salah satu adik ibu mempelai perempuan yang mempersilakan kami menyantap hidangan terlebih dahulu.

Eits….. tunggu dulu …,!!! Ruang utama begitu padat dan pada beberapa meja saji yang tersedia, .....antrinya mak ……!!! Gimana mau makan ......? Sementara waktu sudah menunjukkan jam 20.30. Sudah lewat banyak dari jadwal rata–rata makan malam kami, ba’da maghrib. Maka menyingkirlah kami mencari tempat sajian makanan yang agak luang, yang rupanya berada di sisi kiri ruang utama yang mirip isi mangkuk cendol tersebut. Mencoba menikmati hidangan yang …., dari sudut pandang cita rasa kuliner, kurang lezat untuk kelas hotel berbintang. Dalam hal hidangan, rasanya belum ada yang mengalahkan hidangan di hotel Mulia–Senayan deh…

Begitulah … aku yang biasanya mengambil foto sambil menikmati suasana yang terbangun dan mengamati serta mengagumi ragam hias ruang resepsi menjadi agak skeptis dengan suasana yang ramai dan padat. Nyaris tidak ada ruang gerak yang nyaman tanpa harus bersentuhan dengan orang lain. Pengap ......!!! Akhirnya… usai menyantap hidangan kami bergegas masih harus masuk dalam barisan antrian yang cukup panjang sampai akhirnya sampai jugalah mengucapkan selamat kepada pengantin dan keluarganya.

Jujur saja …. andai yang mengundang bukan termasuk keluarga, yang sudah merepotkan atau lebih tepat lagi sudah kurepotkan hingga harus “mengutus” anak buahnya mengantarkan undangan tepat di hari penyelenggaraan akad nikah sebelum acara resepsi tersbut, melihat antrian yang “aduhai” panjangnya itu, pasti aku sudah menggamit lengan suami untuk pergi meninggalkan atau tepatnya mengurungkan niat hadir dalam resepsi pernikahan.

Kejadian ini sudah sering terjadi saat kami diundang oleh beberapa kenalan yang kebetulan jadi pejabat. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada pengundang,  kami kemudian mencari tempat makan yang nyaman di sekitar lokasi resepsi dengan kondisi “salah kostum”. Seringkali, kami merasa kelaparan, karena harus berangkat begitu usai shalat mangrib tanpa sempat mengisi perut.

Ada juga beberapa pejabat yang cukup tahu diri, hanya mengundang “kenalan dekat” saja dalam jumlah yang terukur sehingga undangan merasa cukup nyaman dan tidak  merasa menjadi cendol yang berdesakan.
***

Begitulah kebiasaan penyelenggaraan pesta pernikahan yang dilakukan oleh orang–orang berpunya dan para pejabat di Indonesia. Mengundang ribuan orang yang berarti minimum ada 2 kali jumlah undangan yang akan hadir, tanpa memperhatikan berapa kapasitas ruang acara agar yang hadir merasa nyaman dan tidak membuang waktu terlalu lama saat akan memberi ucapan selamat.

Tentu tidak semua yang menjadi pejabat atau orang kaya yang melakukan hal tersebut. Beberapa kali aku menghadiri resepsi pernikahan pengusaha/pejabat kondang yang suasananya cukup nyaman. Antrian saat memberikan selamat, masih dalam batas toleransi. Mungkin mereka membuat beberapa acara, sehingga undangannya tersebar … Tidak menumpuk pada saat resepsi. Bisa juga sebagian undangan dialihkan karena pihak mempelai lelaki membuat acara “unduh mantu”.
***

Baru saja aja yang nyeletuk …. Memberi komentar atas lokasi check in di Facebook "Bagaimana dengan resepsiku pernikahanku puluhan tahun yang lalu?"

Seingatku … undangan yang disebar saat itu,  tidak terlalu banyak. Kala itu, gedung pertemuan yang biasa digunakan untuk acara resepsi pernikahan juga tidak banyak. Yang paling sering digunakan orang karena relatif luas adalah Gedung DKI–Blok G, Wisma Iskandarsyah di kawasan Kebayoran Baru dan Gedung Kartika Eka Paksi – Jl. Gatot Subroto. Dua gedung terakhir ini, sekarang sudah hilang. Kartika Eka Paksi, setelah dihancurkan dan digabung dengan Balai Kartini yang bersebelahan sekarang (kalau tidak salah) tetap menyandang nama Balai Kartini, tapi lebih sering digunakan untuk exhibition hall.

Wisma Iskandarsyah di kawasan Blok M, telah bersalin rupa menjadi deretan ruko. Gedung DKI–Blok G sepertinya sudah jarang digunakan karena sekarang sudah banyak gedung–gedung pertemuan mewah yang memang dibangun untuk tujuan itu. Hotel–hotel pun sudah dilengkapi dengan ball room yang siap menampung ribuan undangan. Tinggal tuan rumah saja yang harus pandai berhitung jumlah undangan yang pantas agar tamu masih merasa nyaman saat hadir. Tidak antri terlalu panjang.

Sejujurnya … aku kurang terlalu suka dengan resepsi pernikahan yang kuanggap berlebihan. Dulupun, mati–matian aku menolak resepsi pernikahanku. Apalagi pernikahan itu memang terlalu mendadak dan kedua orang tuaku tidak tinggal di Indonesia. Tapi ke dua orangtuaku memberikan alasan telak yang tidak bisa dibantah. Saat itu, pernikahan yang tidak dirayakan, sebagian besar dan umumnya karena pengantin perempuan sudah hamil sebelum terjadinya pernikahan. Sehingga pernikahanpun diselenggarakan hanya sebagai peresmian di atas kertas dan umumnya para orang tua malu menyelenggarakan resepsi yang dihadiri umum. Tentu orangtuaku tidak ingin ada omongan negatif seperti itu.

Alasan itulah yang diajukan orangtuaku dan membuatku tidak berkutik menolak. Beda dengan jaman sekarang …. Orangtua dan pengantin sudah tidak terlalu risi dengan kondisi ini. Jaman memang sudah berubah.

Itu pula sebabnya, pada anak–anakku, sudah seringkali kusampaikan bahwa syarat nikah untuk mereka hanya satu iman dan kemudian akad nikah dalam suasana kekerabatan yang intim. Jadi mereka jangan berharap adanya resepsi pernikahan besar–besaran yang akan diselenggarakan oleh kami, orangtuanya. Tidak elok …. Terasa kurang bermanfaat …
***

Minggu depan dan 2 minggu sesudahnya, adikku akan menyelenggarakan pernikahan anak sulungnya. Acara pertama adalah akad nikah dan resepsi pernikahan yang diselenggarakan pihak perempuan. Acara ke dua adalah unduh mantu yang akan diselenggarakan adikku.

Mati–matian, kupengaruhi dia agar tidak perlu menyelenggarakan unduh mantu. Bukan karena malas membantu dan menerimanya tinggal di rumah sehingga mempelai lelaki "turun" dari rumah peninggalan orangtua kami. Tetapi lebih karena pertimbangan praktis. Dana yang tersedia, lebih baik dialokasikan untuk membuat rumah bagi anaknya di atas tanah yang sudah dibelinya beberapa tahun yang lalu ….
“ Tapi …. aku kan ingin bikin pesta pernikahan anak….! Lagi pula dananya sudah tersedia kok, jadi nggak mengganggu biaya rumah tangga”. Begitu kilahnya.

Ya sudahlah …. Mau bilang apa …? Asal jangan berhutang saja … 
Soal berhutang saat menyelenggarakan pernikahan anak juga sudah bukan rahasia umum. Ini terjadi bukan saja di desa atau kota kecil. Suamiku pernah bercerita bahwa salah satu kenalannya berhutang ratusan juta demi menyelenggarakan resepsi pernikahan anaknya di salah satu gedung pertemuan megah di Jakarta. Haiyaaaa……….

Lupakah bahwa bermegah–megah itu bertentangan dengan ajaran Islam? Lebih konyol lagi kalau bermegah–megah sambil berhutang… Masya Allah ……!!!

Senin, 25 Februari 2013

BRONDONG (bukan) JAGUNG

yang ini brondong jagung ya ..
Beberapa hari yang lalu, pulang dari Malang ..., aku cuma sendiri di ruang dalam rumahku. Anak gadisku belum pulang dari asrama. Ada acara sekolah di hari Sabtu pagi dimana anak-anak kelas X dan XI wajib hadir. Suami, ada undangan pernikahan yang ingin dihadirinya. Sebetulnya, kalau aku mau ikut, dia masih sempat untuk pulang menjemputku. Tapi aku merasa agak malas. Lelah karena baru pulang dari luar kota. Lalu lintas di Jakarta pada Jum'at juga sangat tidak bersahabat. Jadi daripada uring-uringan selama dalam perjalanan maupun acara pernikahan itu, lebih baik tinggal di rumah. Menikmati kesendirian sekali-sekali, pasti nikmat juga.

Nah .... karena selama di Malang, sambungan internet rada nggak "waras" dan iseng di rumah sendiri, maka browsing detik.com, blogspot dan facebook jadi sasaran kegiatan malam itu. Maka dari keisengan itulah aku menemukan sebuah foto sejoli anak muda di facebook dengan beberapa komentar foto.

Konon begini dialognya :
"Hai tante..... brondong darimana lagi nih....? sapa salah seorang teman dari perempuan yang fotonya terpampang di facebook.
"Hahaha .......!!!" sambut perempuan yang disebut tante tadi. Aku yakin, sebutan tante itu pasti cuma candaan antar teman. Kelihatannya mereka masih berumur 20 tahunan. Atau maksimal menjelang 30 tahun, tidak akan lebih dari kisaran usia tersebut, dilihat dari gaya berpakaian dan bahasa yang digunakannya.

Kususuri dialog antar teman itu sampai akhirnya kutemui satu komentar bernada amarah dari seorang lelaki...
"Hei... gue gak kenal elo, tapi gue gak suka disebut brondong... Kalau mau kasih komentar, coba menulis dengan bahasa yang sedikit lebih sopan", begitu katanya.
Hampir meledak tawaku, membaca komentar tersebut.

Brondong ....... Itu adalah istilah yang sekarang sering digunakan buat para lelaki muda yang memiliki hubungan "intim", entah masih dalam tahap pdkt atau sudah lebih intens dan lebih dalam lagi hubungannya dengan seorang perempuan yang usianya lebih tua dari si lelaki. Kelihatannya.... jaman sekarang hubungan seperti ini banyak sekali terjadi.

Penasaran, aku telusuri identitas si perempuan maupun lelaki yang ada dalam foto tersebut. Oh....., ternyata, usia si lelaki memang lebih muda beberapa tahun dari si perempuan. Pantas saja kalau teman-teman si perempuan tersebut menyebutnya sebagai brondong.

Aku sendiri pernah mengalami hal seperti itu. Ini gara-gara temanku yang memang kurang mengenal kehidupan keluargaku, menemukan foto keluarga dimana wajah suamiku terlihat masih sangat muda. Padahal usianya 2 tahun lebih tua dari usiaku. Mungkin wajah perempuan memang terlihat lebih tua dan dewasa daripada lelaki. Itu sebabnya, dalam pernikahan beberapa dekade yang lalu, usia si lelaki selalu beberapa tahun lebih tua dari perempuan pasangannya. Jarang sekali terjadi pasangan yang usia istrinya lebih tua dari usia suami. Minimal tahun kelahiran keduanya sama. Berbeda dengan sekarang .. pernikahan dengan usia perempuan lebih tua dari usia pasangannya semakin banyak terjadi.

Entah kenapa, lelaki muda tersebut disebut brondong... Brondong yang kukenal saat kecil dulu adalah brondong jagung yang kriuk-kriuk rame. Saat di googling, brondong sekarang dikenal dengan bahasa/istilah modern pop corn. Jadi entah darimana datangnya istilah brondong ... Apakah karena brondong jagung itu renyah, ringan dan kalau dimakan, nggak bisa berhenti ... bukan karena enak rasanya, tapi karena kerenyahannya yang kriuk-kriuk dan enak dinikmati kala senggang...., lalu lelaki (yang usianya lebih) muda itu dianggap punya sifat seperti brondong jagung, terutama sifat "enak dinikmati kala senggang..."?

Sebutan brondong memang lazim digunakan di kalangan perempuan untuk menyebut lelaki muda yang ada di sekitar mereka, baik hanya sebagai gurauan belaka maupun sebutan serius bagi lelaki yang memang intim dengan mereka baik serius maupun pengisi waktu senggang. Bisa jadi para lelaki juga menyadari adanya istilah tersebut.... Oups ...... kalau begitu, pantas saja si lelaki dalam foto tersebut "marah" disebut brondong karena tidak suka dianggap sebagai cemilan dikala senggang.

Memang agak aneh juga menyadari bahwa sekarang semakin banyak saja lelaki yang menyukai perempuan yang usianya lebih tua usianya. Agak aneh karena dalam ajaran agama, lelaki adalah pemimpin dan imam keluarga. Secara tradisional, lelaki adalah pencari nafkah utama dan pelindung keluarga. Jadi harus "kuat, berwibawa, bertanggung jawab ..." dan banyak lagi kriteria-kriteria yang "wajib" dimiliki sebagai unggulan kala dia bermaksud mendekati perempuan untuk kemudian menikahinya.

Demikian juga perempuan, selalu mencari lelaki yang mampu melindunginya dalam berbagai hal, naik secara rohani maupun jasmani, secara moril maupun materiel termasuk juga di dalamnya dari sudut pendidikannya. Harus ada nilai unggulan/lebih dari si perempuan. Lelaki yang menyukai perempuan yang lebih tua usianya seringkali disebut terkena sindrom Oedipus Complex.

Dengan adanya berbagai kriteria tersebut, semestinya lelaki muda yang gemar berintim-intim dengan perempuan yang usianya lebih tua baik hanya sekedar iseng maupun serius, layaknya sadar akan kondisi dan konsekuensi hubungannya ini. Jadi .... nggak perlu marah kalau disebut brondong atau lelaki yang terkena sindrom Oedipus complex.

Para lelaki muda yang nggak mau disebut brondong ... ya jangan berhubungan atau mendekati perempuan yang usianya lebih tua dong .... Jadi lelaki yang memiliki banyak kelebihan dari pasangannya termasuk kelebihan hitungan usia ... Begitu lebih baik, kan...?






Senin, 18 Februari 2013

Yang muda yang (sedang ingin) bercinta

Yang muda yang bercinta ... kalau nggak salah, itu salah satu judul film tahun 70an karya almarhum Syumanjaya. Tapi aku cuma tahu judulnya. Nggak tahu apa isi filmnya, karena film atau lebih tepatnya nonton film bukan salah satu "passion"ku, kecuali kalau filmnya betul-betul istimewa untuk ditonton. Kalau memang menarik, baru aku tertarik menonton. Karenanya genre film yang kutontonpun bisa sangat beragam, yang penting jangan berbau horor...., karena aku termasuk jenis manusia yang sangat penakut.

Nah, apa kaitan antara judul film dengan catatan kecilku kali ini?
Sama seperti judul filmlah.... ingin cerita gaya salah tingkahnya orang-orang yang lagi jatuh cinta.

Anak gadisku, rasanya lagi jatuh cinta deh .... Setiap minggu, saat kembali dari asrama, ceritanya nggak pernah beranjak jauh. Isinya dari itu ke itu .... Nggak pernah jauh dari kakak kelas yang ditaksirnya, yang juga sama-sama tinggal di asrama. Dia pasti nggak sadar kalau emaknya "ngeri" banget dengar cerita orang yang lagi kasmaran.

Suasana komplek tempatnya bersekolah dan sekaligus merupakan lokasi asramanya memang "sangat mendukung" suasana romantisme. Lahannya luas ..., penuh dengan pepohonan dan ada gubuk tempat istrirahat. Walau lokasi asrama putera dan puteri berjauhan, tapi kalau ada niat untuk berpacaran, remaja-remaja itu pasti panjang akal untuk mengelabui pengawas asrama. Jadi aku cuma bisa berdoa saja ..., sambil tak pernah lupa mengingatkannya untuk menjaga martabat sebagai anak perempuan. Bukan hanya martabat duniawi tetapi yang jauh lebih penting adalah martabat dan pertanggungjawaban perilaku hidupnya di dunia kepada sang Penguasa Alam, kelak pada waktunya.
***

Cerita di kantor, lain lagi .... Sudah seringkali aku nggrendengi penguasa kantor yang mengurusi perekrutan karyawan.
"Mbok ya kalau cari karyawan itu yang enak dipandang. Supaya mata nggak sepet lihatnya. Dan manis dihati, supaya bisa membina kerjasama yang baik", itu selalu pesanku, di samping pesan-pesan standar perekrutan seperti proaktif, kreatif, inisiatif .... dan berbagai ragam tif-tif yang lain... dan .... yang terpenting adalah punya kepercayaan diri yang tinggi, tapi bukan megalomane.

Buatku, nggak perlu pengalaman kerja bertahun-tahun ... Fresh graduate pun nggak masalah karena dengan demikian lebih enak "membentuknya" agar sesuai dengan visi dan misi perusahaan, dibandingkan dengan orang-orang yang "merasa" sudah sangat berpengalaman.

Mungkin karena kerewelanku itu, maka dibandingkan dengan departemen lainnya, aku selalu ketinggalan dalam hal perekrutan. Nggak pernah kebagian orang yang memenuhi "seleraku" dan selalu sulit mencari orang yang memenuhi kriteria yang kuinginkan. Padahal ... aku nggak pernah pake "tools" yang aneh-aneh saat mencari orang. Pada sesi wawancarapun, sang calon cuma diajak ngobrol .... Ditanya ini-itu soal minatnya sambil menilai apakah sang calon memenuhi kriteria yang kutetapkan, terutama adalah kepercayaan diri yang kuat dan mau belajar. Pekerjaanku banyak berhubungan dengan pemilik perusahaan. Jadi kalau nggak punya kepercayaan diri yang tinggi, bisa sangat merepotkan semuanya.

Nah ... singkat kata, beberapa waktu yang lalu, setelah bertahun-tahun mencari-cari, hanya melalui satu sesi wawancara, akhirnya ada satu orang yang relatively memenuhi prasyaratku. Maka ... jadilah si dia bekerja denganku.

Sesuai dengan kerewelanku soal penampilan .... menurutku, yang satu ini relatif "good looking" dan dengan sangat mudah diterima oleh semua orang di kantor. Pembawaannya juga cukup "manis" sehingga mungkin ada beberapa gadis-gadis lajang di lingkungan grup perusahaan tempatku bekerja, yang klepek-kelepek hatinya .... Ada yang salah tingkah berhubungan dengan si "anak baru" ini sehingga alih-alih berteman dan bekerja secara profesional, keduanya malah seringkali "bertengkar" untuk hal-hal kecil yang sangat remeh temeh. Lucu ... dan menggugah serta mengubah suasana kantor, terutama saat makan siang bersama.

Sayang, si dia ini sudah punya pacar dan konon sudah berancang-ancang menikah tahun depan. Biar saja dan kita lihat saja bagaimana jadinya ... Mau nikah tahun depan, bulan depan atau bahkan minggu depan .... selama belum ada janur melengkung dan ijab kabul, maka segalanya bisa berubah drastis kalau Allah menginginkannya.
***

Rasa suka antar manusia berlainan jenis merupakan kejadian alam yang tidak bisa dihindari karena begitulah Allah menciptakan mahluk hidup sebagai bagian dari tujuanNya menciptakan alam semesta ini. Sebagai bagian untuk melanggengkan keberlangsungan kehidupan alam, yaitu beranak pinak dan hal ini berlaku bukan saja untuk manusia, tetapi juga tetumbuhan dan binatang. Kesemuanya diciptakan sebagai pasangan yang berasal dari lain jenis, terutama untuk bereproduksi. Hanya beberapa jenis binatang dan tumbuhan saja yang bersifat hermaphrodite, sehingga  mampu melakukan reproduksi sendiri. Sejauh ini, manusia hanya bisa bereproduksi karena adanya pasangan berlainan jenis.

Berbeda dengan binatang yang bereproduksi dengan cara kawin-mawin secara serampangan. Kawin dengan binatang lain yang berlainan jenis "dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja" maka Allah memberi aturan bagaimana umat manusia bereproduksi, yaitu melalui cara yang sakral. Menikah dan baru kemudian bereproduksi. Tentu ada makna dan maksud tertentu dibalik semua perintahNya itu.

Nah .... jaman sekarang ini, generasi muda yang sedang ingin bercinta, dengan dalih "gaya hidup masa kini" sudah banyak yang mengikuti gaya "dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja". Tentu tidak seekstrim binatang .... Dimana saja bisa diterjemahkan tidak harus di rumah, tapi bisa di luar ruangan, misalnya di mobil, semak-semak dan bahkan di pemakaman. Kapan saja adalah tidak perlu harus melalui proses pernikahan. tapi tergantung perasaan.  Kalau sudah cocok, baru kenalpun bisa dilanjutkan dengan hubungan reproduksi alias hubungan yang lebih "intim". Nahi ... begitulah yang terjadi ....

Dengan fenomena seperti itu, menjadi orangtua abad 21 memang menakutkan..... apalagi kalau ingat betapa orangtua bertanggungjawab anak akhlak anak-anaknya kelak di hadapan Allah. Atas dasar itu, maka orangtua yang tidak kuat mental dan paranoid berlebihan bisa jadi mengambil jalan pintas seperti yang pernah terjadi di Bandung beberapa tahun yang lalu, ketika seorang ibu membunuh anak-anaknya karena "ketakutan" berlebihan atas masa depan anak-anaknya terutama yang berkaitan dengan pertanggungjawabannya kepada sang Pencipta Alam.

Jumat, 15 Februari 2013

Garda Depan Perusahaan

Beberapa hari yang lalu, aku diminta mendampingi boss untuk menemui pemilik ijin lokasi di wilayah Jabodetabek. Konon, yang bersangkutan memiliki ijin lokasi untuk mengembangkan lahan seluas 60 hektar menjadi kawasan perumahan terpadu.

Biasalah ..., lagi musim istilah terpadu ...., judul tersebut rupanya dianggap "tuah" agar jualan rumahnya lebih dilirik orang. Padahal untuk menyebut diri "terpadu" pasti nggak sembarangan. Hei ..... belum apa-apa sudah ngelantur. Padahal bukan itu maksud isi tulisanku ini.

Kembali ke topik ....

Pemilik ijin lokasi itu memaparkan rencana kerjanya serta alasan mengapa dia mencari mitra. Tepatnya mencari investor, karena dari ijin lokasi seluas itu, dia baru membebaskan kurang dari 50%nya.

Bossku  ...., yang di awal kariernya pernah menjabat sebagai sales manager di salah satu perusahaan pengembang, rupanya sangat mengenal wilayah tersebut. Jadi, dari awal sudah memberikan indikasi bahwa lokasi tersebut memiliki tingkat pengembangan yang relatif stagnan. Namun, demi menghargai sesama pengusaha, aku menjanjikan untuk melihat lokasi sebelum secara definitf memberikan jawaban resmi.

Tiba di kantor, kuhubungi rekanku, salah satu direksi anak perusahaan untuk melakukan survey. DI luar dugaan, ternyata dia menyambut baik ajakan tersebut, karena dia mendengar banyak pengembang perumahan yang membebaskan lahan di sekitar wilayah tersebut. Berangkat dari sambutan itu, maka kami melakukan survey yang pagi tadi dilaksanakan itu.
***

Aku tiba 30 menit sebelum waktu yang dijanjikan. Kebetulan arah perjalanan kami berlawanan dengan mereka yang berangkat ke kantor. Maka, untuk mengisi waktu terluang, aku meminta staff bizdev yang turut survey untuk berpura-pura jadi calon pembeli perumahan yang berlokasi di mulut jalan perumahan yang akan kami survey tersebut.

Usai berkunjung ke kantor pemasaran, kami kembali ke lokasi meeting point untuk bertemu dengan contact person kami. Rupanya, karena ada rapat mendadak, dia menugaskan pimpinan proyeknya untuk mendampingi kami saat survey.

DD yang turun lebih dulu dari mobil untuk menemui sang pimpro, terlibat pembicara yang terlihat "alot". sehingga akupun turun mendekati pimpro setengah baya yang tanpa etika menyambutku masih dengan tetap memegang rokok di tangan dan menghisapkan. Haree geenee .... merokok di depan orang yang baru di kenal, tanpa berusaha mematikannya dulu, rasanya betul-betul cerminan orang yang kurang beretika. Usai bernegosiasi mengenai perlu tidaknya kami menunggu rekan yang masih di perjalanan, akhirnya kami mengalah untuk segera menuju ke lapangan.

Saat masuk kembali ke mobil, DD sempat berkomentar tentang sikap sang pimpro, namun saat itu, aku kurang memperhatikan komentarnya. Berusaha untuk tidak berprangsaka buruk terhadap orang yang baru ditemui.

Tepat seperti yang diduga, lokasi perumahan yang dituju memang agak jauh dari jalan utama, jalan kabupaten. Tapi sudah terlanjur ... ya dijalani saja, karena di dalam proposal yang kami baca, tergambar peta jalan yng bisa dianggap prospek baik pada lokasi tersebut..... hingga akhirnya kami tiba di area yang disebut, dalam plang yang dipasang di dinding bangunan sebagai kantor pemasaran. Sepi dan tidak terlihat ada aktifitas. Kamipun turun dari mobil masing-masing dan mulai berdialog :

"Ini batas lokasinya ... di sana lokasi yang sedang kami kerjakan .... sudah ada sekian unit yang sudah akad kredit..." begitu penjelasan sang pimpro.
"Akses ke lahan yang sudah dikembangkan lewat mana?, tanyaku...
"Jalan tadi, yang ada alat berat itu...", sahutnya.

Ah ya..., sekitar 100 meter sebelum kami berhenti, memang ada badan jalan yang sudah terisi bebatuan dan sekitar 100 meter jarak dari sudut jalan itu memang terlihat ada buldozer.
"Jalannya bisa di akses kalau saya mau lihat lokasi itu ...?" tanyaku.
Entah karena pertanyaanku yang dianggapnya mengada-ada atau mungkin semalam dia habis bertengkar dengan istrinya, nada suaranya sontak meninggi...
"Ibu ....!!!!," katanya dengan suara yang terdengar sangat tidak ramah.
"Di dalam sana, kami sudah membangun banyak rumah, sudah banyak yang laku dan bahkan sudah ada yang akad kredit! Bagaimana mungkin jalan itu tidak bisa diakses?"
"Jalan itu kan belum selesai .... permukaannya masih berbatu. Masih ada buldozer teronggok di tepi jalan. Jadi ... siapa tahu masih ada bagian badan jalan yang belum selesai dan tidak bisa diakses...", sahutku enteng.
"Kami sudah jualan bu ... bagaimana mungkin kami jualan kalau lapangan belum siap?", sahutnya masih dengan nada tinggi.

Dalam proposal yang sempat kubaca sebelumnya, tergambar dengan jelas bahwa bentuk lahan yang sudah dikuasai harus dilihat lebih teliti baik batas-batasnya maupun hamparannya. Apalagi, gambar yang dilampirkannya memuat ada jalan melintang membelah lokasi dengan notasi "jalan lingkar primer". Pasti badan jalannya lebar. Rugi besar kalau lahan tersebut dibebaskan dengan susah payah untuk kemudian "diambil' pemerintah.

"Orang jualan itu kan banyak caranya ... ada juga yang berjualan sambil merapikan lapangan... Itu yang sering disebut orang sebagai jualan gambar..."
"Ibu ini bicara sembarangan ....! kami ini sudah jualan dan sudah banyak laku!"
"Hei ..... saya datang kesini bukan untuk bertengkar ... hanya menanyakan apa yang saya ingin tahu! Saya sudah dengar dari pemilik proyek ini bahwa ada 125 unit yang sudah terjual! Saya hanya ingin tahu apa saya bisa masuk ke lokasi itu...! Apa salah kalau saya menanyakan hal itu?", sahutku keras.
"125 unit yang terjual itu bukan urusan ibu ....!"
"Eh .... saya enggak pernah bilang bahwa saya mau ngurusi yang 125 unit ya .... dan saya cuma tanya apa yang ingin saya tahu dari proyek ini..."
"Tapi pertanyaan ibu itu, tidak pada tempatnya...", masih ngotot juga orang itu.
"Maaf ... sekali lagi saya katakan saya kesini untuk mendapat kejelasan tentang proyek ini, bukan untuk bertengkar. Jadi tunjukkan saja jalan menuju lokasi yang sudah dikerjakan!", sahutku sebal.

Sang pimpro masuk ke mobilnya dan memandu kami masuk melintasi jalan berbatu yang di sana-sini sudah mulai tertimbun tanah merah. Tanah kavling yang tergerus air hujan. Di dalam mobil, kutelpon contact person yang kutemui saat makan siang dengan bossku dan pemilik proyek tersebut. Padanya kusampaikan protes keras atas perilaku sang pimpro yang ditugaskannya mendampingi kami.

DI lapangan, aku dan DD berbagi tugas untuk membuat dokumentasi kondisi proyek. DD keliling lapangan sementara aku masuk ke dalam sebuah rumah yang konon kata sang pimpro sudah dilakukan akad kredit. Entah betul atau tidak, tapi kondisi rumah itu masih sangat jauh dari selesai. Belum ada kaca jendela, sanitary dan kelengkapan lainnya. Deretan rumah lainnya sudah lama terbengkalai. Terlihat dari lumut yang menempel pada dinding rumah, ring balk yang melendut dan kusen kayu yang juga melendut keberatan beban. Kesemuanya menunjukkan kualitas bangunan yang buruk.

Begitu aku keluar dari rumah tersebut, di luar sang pimpro menyambut dengan suara yang mendadak sangat lunak dan dengan ramahnya menjelaskan ini itu mengenai proyeknya. Aku mendengarkannya dengan separuh minat. Bukan hanya karena rasa sebal yang sudah menggumpal sebelumnya, tetapi juga karena melihat kondisi lapangan yang tidak menyiratkan prospek yang baik. Pantas kalau pemilik proyek "kehabisan nafas"

Aku hanya berusaha untuk menilai proyek tersebut secara profesional, maka pada rekan yang membawahi masalah legal dan perijinan, kuminta bantuannya untuk melakukan pengecekan proyek tersebut ke instansi terkait. Tetapi .... perilaku sang pimpro sudah menjawab sebagian persoalan mengapa proyek tersebut tidak berkembang, selain masalah lokasi ....

Selasa, 12 Februari 2013

Rapuhnya cinta

Sabtu pagi di tempat kursus, Laure yang native speaker mengajar di kelas kami, mengajak kami membahas mengenai rencana pengesahan pasangan homoseksual di Perancis. Topiknya adalah bagaimana rencana tersebut dilihat dari sudut pandang 2 golongan politik, yaitu golongan conservatif/kanan dan golongan kiri.

Memang agak susah membahas masalah karena Laure yang native tentu melihatnya dari perspektif barat, sementara kami melihatnya dari perspektif timur yang masih lekat dengan norma ketimuran dan keagamaan. Jadi agak nggak nyambung, karena bagaimanapun juga dasar latar belakang budaya para pembahas memang sudah berbeda. Kala generasi muda mulai menggugat cinta manusia lain jenis yang demikian mudah hilang dan mengecewakan, maka mereka mulai mencari cinta sejenis yang dianggapnya lebih kokoh.

Itu cerita pagi hari .....
***

Sore hari, saya menerima broadcast dari seorang teman, sambil membaca isi pesannya, saya tergeilitik untuk melihat profile picture nya. Rupanya dia memasang foto salah seorang anak lelakinya.
"Wah gak krasa sudah besar ya, anakmu itu..... Masih mau tambah anak perempuan?" tanyaku iseng, Kawan saya itu sudah punya 3 anak lelaki. dan foto si bungsu itulah yang dipasang di blackberry messenger nya
"Gaaaaakkkk!", jawabnya.
Upf ..... galaknya keluar. Teman saya yang satu itu memang rada galak.
":)нáàª:$;)нàâª:&=Dнà᪪>:O=Dнàâ kenapa enggak mau punya satu anak perempuan? Umurmu masih cukup produktif untuk punya anak perempuan", sahutku tidak mau kalah.
"Daripada jadi alasan suami buat cari wil alias wanita idaman lain :)нáàª:$;)нàâª:&=Dнà᪪>:O=Dнàâ", godaku lagi...
"Lah, aku ama babenye anak-anak sudah mau bubar hehe....." sahutnya enteng
"Ha.......? Serius lo?"
"Ciyus ..........."

Duh ...... kok obrolan jadi nglantur begini ya...? Sungguh mati ... nggak ada maksud untuk bicara masalah pribadi.
Temanku yang satu ini, walau galak atau mungkin karena galak dan sangat mandiri itulah dia bisa mencapai jabatan direktur marketing di salah satu perusahaan asing. Padahal ... seperti yang diakuinya sendiri, dia tidak pernah bisa duduk betah di bangku kuliah. 
Bangku kuliahnya di salah satu fajultas di Universitas Indonesia, ditinggalkannya untuk mencoba kuliah di bidang lain. Itupun tidak pernah dituntaskannya. Tapi, driving force serta kepercayaan dirinya yang tinggi, kemudian membawanya bisa bekerja di perusahaan - perusahaan asing di Indonesia. 

"Kenapa lagi?", tanyaku
"Long story, dari dulu kan loe tau", jawabnya
"Selingkuhan lagi? Anak sudah gede gitu... Kasihan anak2... Repot ya, kalau suami doyang selingkuh... Itu yang gua bilang, orang menikah itu "berat", tanggung jawabnya bukan cuma materi, tapi ke "atas" juga dan yangg ke atas ini yg sering dilupain. Gue ngerti sih, soal ginian memang mesti datang dari 2 pihak"
"Hehe c'est la vie ............"

Ah ya ..... c'est la vie ....! Itulah hidup.....!
Usia pernikahan temanku itu sudah berlangsung lebih dari 15 tahun dan saya yakin, mereka menikah dengan landasan cinta. Tapi mungkin seperti apa yang kudengar pada pagi hari di kelas, ucapan salah satu teman:
"Kalau cinta sudah hilang ... untuk apa lagi pernikahan dipertahankan?"

Tak pernah diduga perjalanan pernikahan abad ke 21 ini, sedemikian entengnya. Aku mungkin atau tepatnya "pasti" termasuk golongan konvensional. Walau secara bercanda sering kukatakan bahwa menikah itu ibarat "mengikat diri dan terjerat masuk ke dalam penjara bernama pernikahan" sepanjang usia.

Kenapa kukatakan begitu? Karena ada banyak "kepentingan pribadi" dari sudah pasangan yang berani menikah yang harus "dikorbankan" seumur hidup terutama dengan kehadiran anak. Dan .... kehadiran anak sejatinya makin menjerat pasangan suami istri, walau seringkali dijabarkan dalam bahasa :halus" sebagai pengikat pernikahan. Karena dengan demikian pasangan suami istri "harus" bertanggungjawab akan masa depan anak-anak. Lahir batin .... Dunia dan akhirat .... Orangtua dan seluruh aspek kehidupan keluarga, sadar atau tidak, akan menjadi role model yang kelak akan diadopsi, atau minimal mempengaruhi cara, bagaimana si anak kelak menjalankan kehdiupan rumah tangganya.

Emansipasi yang menyebabkan perempuan memiliki akses untuk memperoleh "kebebasan" finansial,  pergaulan lebih luas di luar rumah dan menduduki jabatan setara dengan lelaki telah membuat perempuan menjadi lebih mandiri dan "merasa setara" dalam menjalankan rumah tangga. Sayangnya masih banyak suami yang tanpa sadar dan dalam beberapa kondisi masih sangat konvensional .... Sebagai kepala keluarga yang "wajib" ditempatkan sebagai focal point dalam rumah.

Maka .... tatkala pasangan suami istri, keduanya bekerja dan memiliki penghasilan dimana (terutama) si isteri merasa "mampu" membiayai diri dan keluarganya, maka .... sebaiknya toleransi antar pasangan harus lebih ditingkatkan, karena kemudian pertentangan akan semakin mudah tersulut. Maka .... manakala pertentangan semakin meruncing, mungkin saya terpaksa mengulangi lagi ucapkan kepada teman tadi

" Gue percaya, perceraian mungkin jalan keluar yang baik, karena walau gimana, bapak atau juga harus memberi contoh yang baik buat anak-anaknya. Kalau mereka tidak mampu menjadi contoh yang baik bagi anak-anak..., maka kita mempertaruhkan "kejiwaan" anak-anak, memberi contoh buruk bagaimana mengelola rumahtangga. Itulah contoh buat anak-anak saat mereka berumahtangga kelak. 

Senin, 28 Januari 2013

separuh jiwa melayang

Hadooohhhh.... melankoli banget deh....
Kebayang deh, kalau teman-temanku di kantor pasti ngakak abis kalau lihat hari-hari ini mataku bisa tiba-tiba berkaca-kaca. Mau dibilang norak ... atau apalah, aku nggak terlalu peduli. Memang begitu nyatanya ....
Lagi sedih banget...


Desember 2012 - Dubai
Hampir 13 tahun yang lalu, saat anak pertamaku masuk program internasional di salah satu ptn, aku memang sudah siap melepas dia pergi. Bukan karena tidak ingin kumpul dengan anggota keluarga yang utuh dan lengkap. Anakku itu, sejak duduk di bangku SMP sudah terlalu sering mengkritisi banyak hal yang terjadi di Indonesia, terutama sistem pendidikannya. Keinginan untuk sekolah di luar, sudah seringkali dilontarkan, sehingga masuk program internasional yang hanya mewajibkan minimal 1 tahun kuliah di universitas mitra di luar Indonesia merupakan win-win solution bagi kami.

jadi, begitulah... di usianya yang ke 19, di tahun ke 3 masa kuliahnya, anakku terbang melanjutkan kuliah di negeri tetangga. Sendiri .... terlalu mandiri untuk menerima tawaran kalau-kalau ingin ditemani pada minggu pertamanya di negeri orang.
" Memang, kalau mama/papa ikut untuk 1 minggu, bisa bantu apa?", begitu tanyanya ..

Duh ... tu anak....! Gak tahu perasaan orangtua..., Walau enggak bisa bantu apa-apa, minimal kami bisa menemaninya melewati "masa sulit", adaptasi awal di negeri orang. Apalagi, permohonan visanya sempat terhambat karena ditemukan flek di paru-paru, yang ternyata bekas memar tabrakan saat main bola, olah raga kesukaannya sejak di SMP.
Tapi ... ya sudahlah. Kalau yang bersangkutan tidak ingin ditemani.... Maka pergilah dia sendiri ke negeri orang.

Banyak teman yang menyayangkan "kenekatan" kami melepas si anak pergi tanpa ditemani, namun kami (lebih tepat suamiku) selalu punya prinsip "bumi Allah itu sangat luas ... dan setiap orang pada prinsipnya punya hak untuk tinggal dimanapun yang diingininya"


Desember 2012 - Istanbul
Secara universal, prinsip itu, tentu saja benar. Manusialah yang membagi-bagikan bumi ini menjadi negara-negara yang berbeda-beda ... memberi sekat-sekat berdasarkan bangsa, warna kulit, bahasa dan lain-lain sehingga manusia menjadi terkotak-kotak sedemikian rupa.

Begitulah ... tanpa terasa hampir 11 tahun berlalu, dia tinggal jauh dari orangtuanya dan selama itu baru 3 kali dia pulang menjenguk keluarganya. Yang terakhir kali adalah pada pertengahan Desember 2012 yang baru lalu.

Selama 6 minggu kami kembali berkumpul utuh dan sempat menikmati libur akhir tahun bersama selama 2 minggu perjalanan dengan penuh suka dan duka. Walau dia masih tetap dengan sikap yang acuh tak acuh terhadap sekelilingnya.

Mungkin ini pembawaan selama 15 tahun menjadi anak tunggal ... atau genetik dari bapaknya..., namun kehadirannya di tengah kami memberi warna lain. Kelengkapan sebuah keluarga ... Orang tua dengan sepasang anak walau mereka berdua punya jarak umur yang cukup jauh .... Jadi komunikasi ke dua anak itu agak kurang nyambung... apalagi jenis kelaminnya berbeda.

Sabtu 26 Januari 2013, kami mengantarnya kembali ke bandara... mengantarnya kembali melanglang buana ... meniti takdirnya entah sampai kapan...

dan ... kehilangan itu terasa kembali ....
........... separuh jiwaku melayang jauh

Selasa, 08 Januari 2013

Jalan–jalan ke Turki


jembatan yang melintasi selat Bosphorus
Istanbul adalah pintu masuk hampir seluruh turis Indonesia untuk memulai perjalanan wisata di Turki. Bahkan sebagian program ibadah umroh menyertakan wisata ke Istanbul ke dalam salah satu programnya dan umumnya mengunjungi Grand Bazaar, museum Aya Sofia alias Hagia Sophia, mesjid biru alias Grand Mosque, Topkapi Palace dan Bosphorus cruise.

Ada yang mencengangkan saat tiba di Kemal Attaturk Airport dan menunggu tour leader membeli visa on arrival. Sepengetahuan saya, berbagai negara maju di dunia umumnya memperoleh kemudahan masuk ke suatu Negara alias mendapatkan free entry visa yang mengijinkan mereka melakukan kunjungan antara 30–90 hari. Namun di Turki, berbagai negara maju seperti USA, United Kingdom, Canada, Australia, Negara–Negara Timur Tengah dan beberapa Negara yang tergabung dalam Schengen countries, yaitu Spain, Portugal, Belgium dan Hungary masih diwajibkan mendapatkan visa (on arrival) dulu. Indonesia ……? So pasti wajib punya visa. Rasanya baru di Asia Tenggara dan Hong Kong saja penduduk Indonesia bisa masuk secara bebas. Itupun hanya diberi waktu antara 7 – 14 hari saja. Konon kabarnya, Indonesia akan memperoleh free entry visa ke Negara yang tergabung dalam Schengen countries. Cuma, andai hal ini benar–benar terjadi, rasanya pemerintah Indonesia mesti hati – hati, karena cadangan devisa Indonesia bisa tergerus oleh “kekalapan” para pengejar branded items berbelanja di Eropa….
Interior of Hagia Sophia

Wah…, ngelantur jauh ya…, ayo ah balik ke topik semula!

Nah…, jadi begitu ketemu Burhan sang local tour guide, maka kami langsung digiring menuju dermaga untuk mengikuti Bosphorus cruise.

Hari masih sangat terang, saat kami naik ke kapal yang sepertinya khusus dipesan untuk rombongan dari Golden Rama yang sekarang berjumlah 31 orang ditambah dengan Burhan dan Mustafa sang supir.

Kapalnya bersih. Yang berminat mengambil foto bangunan di sepanjang selat Bosphorus yang membelah Istanbul menjadi dua, bisa mengambil tempat di atas. Sementara yang masih kaget dengan perubahan cuaca dari Abu Dhabi serta kurang berkenan dengan angin dingin bisa ambil tempat di dek sambil nyruput kopi atau chay alias teh. Cukup 1 TL alias Turkish Lira, maka teh kental yang panas dan disajikan dalam gelas yang unik bisa menemani perjalanan cruise tersebut.

Grand Bazaar … pasar utama di tengah kota Istanbul yang konon sudah beroperasi sejak jaman dinasti Ottoman, menjadi pemuas mata para pencinta barang kerajinan lokal. Burhan sudah wanti–wanti bahwa harga di Bazaar lebih mahal dari harga kerajinan di kota – kota lainnya, sementara kualitas barangnya kurang terjamin. 

Basilica St John
Belanja di Bazaar dan ternyata di seluruh pelosok Turki, harus nekad dan berani melakukan tawar menawar. Cara berdagangnya mirip dengan orang Arab… Enggan melepaskan pembeli yang sudah “terperangkap” dalam jeratnya. Nah kalau sudah begitu, maka jangan sungkan untuk menawar, bahkan dengan angka yang tidak masuk akal sekalipun. Saya sempat mendapat sebuah Pashmina yang sebelumnya ditawarkan dengan harga 75TL menjadi hanya 15TL saja.

Penjelasan Burhan langsung menurunkan minat saya menambah koleksi souvenir berbagai Negara, jadi kami berempat hanya duduk di café minum chay dan kopte alias Turkish coffee sambil makan kestane.

Kestane dalam bahasa Turki, atau kastanya, chestnut atau di Perancis dikenal sebagai marron adalah biji–bijian yang dibakar di atas penggorengan/api. Cemilan khas Negara 4 musim dan hanya dijual pada musim dingin saja. Ini pula yang menjadi nostalgia masa–masa tinggal di Poitiers dan Stains yang kemudian senantiasa menemani dalam setiap perjalanan musim dingin …

Setelah selat Bosphorus dan the Grand Bazaar dijelajahi, lanjut kemana perjalanan kita ya?

Oh iya…. Canakkale ….
 Sebelum berangkat ke Canakkale, kami mengunjungi Blue Mosque, Hippodrome, Hagia Sophia dan Topkapi Palace dulu, lalu makan siang di Tamara Restaurant, baru berangkat menuju Canakkale dengan bus.

Interior Mesjid Biru - Istanbul
Apa yang ada di Canakkale? Sudah diceritakan sebelumnya kan? Nah….., setelah melihat kota Troy dengan legenda kuda Troya nya, kami kemudian menyusuri berbagai peninggalan berupa kota–kota kuno antara lain Ephesus yang ternyata dibangun hingga sembilan kali, karena seringkali dihancurkan baik karena peperangan maupun bencana, namun yang masih tertata dan bisa dinikmati dengan baik adalah bangunan–bangunan di Ephesus pada era ke 3.

Apa yang kita lihat di Turki?
Turki sebagaimana kota – kota di wilayah mediteranian seperti Italy Selatan, Yunani, wilayah Timur Tengah, sarat dengan peninggalan dari jaman ribuan tahun sebelum Masehi. Selain Ephesus kita juga melihat kota Hierapolis yang dibangun di atas cotton castle yang terkenal  di Pamukkale.

Topkapi Palace
Pamukkale, berarti "benteng kapas" dalam bahasa Turki, adalah sebuah situs alam di Provinsi Denizli di barat daya Turki. Kota ini berisi air panas dan batuan travertine, dan berbentuk teras yang terjadi akibat mineral karbonat yang ditinggalkan oleh air yang mengalir.

Travertine sendiri di Indonesia lebih dikenal sebagai salah satu jenis marmer yang sifatnya porous sehingga untuk menampilkan permukaan yang halus seringkali diisi oleh semacam resin yang transparent. Saat ini travertine, baik yang porous maupun yang filled in sedang laku digunakan sebagai finishing dinding bangunan.

Selain cotton castle (Pamukkale), yang digunakan sebagai nama kotanya, Pamukkale juga terkenal dengan peninggalan kota kuno dari jaman Yunani–Romawi dan Bizantium, yaitu Hierapolis. Kota ini dibangun di atas "benteng" putih (cotton castle). Secara total, luas Hierapolis adalah sekitar 2.700 meter (8.860 kaki) panjang dan lebar 600 m (1.970 kaki) dengan ketinggian sekitar 160 m (525 ft) dari Denzili, kota terdekat yang berjarak 20km dari Hierapolis. Dengan demikian cotton castle yang dari kejauhan terlihat seperti gunung salju ini dapat dilihat dari kejauhan termasuk dalam tata lampu yang menyinarinya saat malam hari.

Kappadokya yang unik.
toilet jaman Ephesus city ke 3
Cappadoce alias Kappadokya di wilayah Antalya (Anatolia–pada era Yunani) mungkin layak disebut sebagai ikon pariwisata Turki. Permukaan tanah di senagian besar wilayah Kappadokya sangat unik. Konon kabarnya, film–film holywood genre science fiction atau yang membutuhkan lokasi dengan struktur alam bernuansa “antah berantah” seringkali mengambil setting di Kappadokya.

Berbagai tempat wisata yang layak memang kunjung dan memang menjadi rekomendasi turistik antara lain adalah Kaymakli, Göreme, Pigeon Valley dan …… Hot Air balloon riding….

Göreme Open Air Museum
Göreme adalah distrik Provinsi Nevşehir di Turki. Setelah letusan Gunung Erciyes sekitar 2.000 tahun yang lalu, abu dan lava membentuk batuan lunak di wilayah Cappadocia, meliputi wilayah sekitar 20.000 km2. Batuan lembut itu terkikis oleh angin dan air, meninggalkan batu topi keras di atas pilar, dan saat ini berbentuk  seperti cerobong asap.

pemandangan Kappadokya dari udara
Orang Göreme, yang tinggal di jantung wilayah Kappadokya, menyadari bahwa batuan lunak tersebut dapat dengan mudah diukir menjadi bentuk rumah, gereja–gereja, biara–biara. Ini lingkungan tempat tinggal kaum Kristen yang menyimpan contoh seni–budaya era Bizantium dari periode pasca-iconoclastic. Selama periode iconoclastic (725-842) dekorasi tempat suci di wilayah ini dibuat sangat minimum. Biasanya symbol–symbol seperti penggambaran salib . Setelah periode ini, gereja-gereja baru digali ke dalam batu dan mereka kaya dihiasi dengan lukisan dinding warna-warni mengenai Jesus/Maria, masih dalam bentuk yang sangat sederhana.

Apa yang menjadi ikon pariwisata di Kappadokya selain Göreme open air museum ? Yang banyak dinikmati orang adalah Hot Air Balloon. Wisata dengan naik balon udara, melayang–layang selama 1 jam di atas  kota, mengikuti kemana arah angin berhembus sambil menikmati “tekstur” permukaan “tanah” yang aneh. Cukup dengan biaya US$ 220/orang. Mahal ya ….? Relatiflah …tergantung dari sudut mana kita memandangnya …, walau jujur, biaya itu cukup mahal buat dompet–dompet yang penghasilannya diperoleh dalam mata uang rupiah.

Pigeon Valley
Selain hot air balloon yang memaksa peserta bangun lebih pagi dari biasanya sementara udara masih berkisaran antara 00–50C , Kappadokya juga memiliki berbagai situs kuno yang sangat menarik antara lain Kaymakli yang merupakan kota bawah tanah yang terluas di Turki,

Kaymakli Underground City
Berada di dalam benteng Kaymakli di Wilayah Anatolia Tengah Turki dan pertama kali dibuka untuk wisatawan pada tahun 1964. Desa ini berada sekitar 19 km dari Nevşehir, di jalan Nevşehir–Niğde. Nama kuno Enegup. Rumah–rumah di desa tersebut di bangun membentuk sekitar hampir seratus terowongan dari kota bawah tanah. Terowongan masih digunakan sekarang sebagai area penyimpanan, kandang, dan gudang.

Kota bawah tanah di Kaymakli memilik terowongan yang rendah, sempit, dan terjal. Dari empat lantai terbuka untuk turis, masing–masing ruang diatur di sekitar poros ventilasi. Hal ini membuat desain setiap kamar atau ruang terbuka tergantung pada ketersediaan ventilasi. Saat ini hanya sebagian kecil dari kompleks terbuka untuk umum.

Goreme Open Air Museum
Selain Kaymakli, ada juga Pigeon Valley, masih merupakan “permainan” bangunan di dalam kubah bekas lava lunak. Kali ini rumah dalam kubah lava lunak ini diperuntukkan bagi burung dara. Masyarakat kemudian memanfaatkan kotoran burung dara yang memenuhi rumah sebagai pupuk alami.

Inti dari wisata wilayah Kappadokya adalah menawarkan keunikan lahan wilayahnya yang terbentuk dari kubah lava lunak yang sudah berusia ribuan tahun.

Usai menikmati keunikan Kappadokya, kita juga diajak mengunjungi Mevlana Museum di Konya dalam perjalanan menuju Ankara.

Tahun nggak, apa maksudnya Mevlana? Burhan sang tour guide bilang bahwa Mevlana adalah gelar setara dengan Lord. Di Indonesia diterjemahkan sebagai “Maulana”. Yang dimaksud adalah …. Ayo siapa coba….?

Sudah tahu ….? Ini penjelasannya…! Ssstttt …. Jangan bilang–bilang ya… aku nyadap dari Wikipedia nih…!

hot air balloon riding
Mevlana Museum adalah komplek museum yang terdiri dari makam Jalal ad-Din Muhammad Rumi alias Jalaluddin Rumi, seorang tokoh mistik Sufi dan berbagai barang peninggalannya berikut penggambaran 3 dimensi suasana “sekolah sufisme” yang didirikan oleh keluarga Mevlana tersebut. Itu sebabnya keluarga itu juga dikenal dengan sebutan Mevlana Rumi (Lord of Romain, alias Maulana dari Romawi) pemilik pondok darwis (tekke) dari urutan Mevlevi. Pondok datwis ini terkenal karena dalam tata cara peribadatannya kepada Allah SWT/dzikirnya lebih dikenal dilakukan dengan cara “menari/darwis berputar-putar (whirling).

Setelah Mustafa Kemal Attaturk mengambil alih pemerintahan dari kekaisaran Ottoman dan mengubah Turki menjadi Republik sekuler, maka pada tanggal 6 April 1926 terbit keputusan yang menegaskan bahwa makam dan pondok darwis (Dergah) milik keluarga Mevlana Rumi dijadikan museum.

cotton castle
Museum ini mulai dibuka pada tanggal 2 Maret 1927dan pada tahun 1954 dinamai "Mevlana Museum". Mevlana Museum berisikan makam Jalaludin Rumi dan para muridnya, penganut sufi serta berbagai koleksi lainnya.

Perjalanan dilanjutkan ke Ankara.
Apa yang bisa kita temukan di Ankara selain Mausoleum Mustafa Kemal Attaturk? Entahlah … kami hanya diajak mengunjungi Mausoleum atau makamnya Mustafa Kemal Attaturk saja dan makan siang di Rasgele Balikci  yang sangat unik tata ruangnya untuk kemudian dilanjutkan hingga Bolu. Kota terakhir dalam kunjungan ke Turki karena keesokan harinya, dari Bolu kami langsung diantar ke Airport.

Apa yang kudapat dalam perjalanan selama 8 hari mengelilingi sebagian wilayah Turki bagian Asia?
Yang terutama, perjalanan ini membuka wawasan dan pemahamanku sekaligus juga menjungkirbalikkan isi otakku tentang Turkey and Turkish. Turki adalah negeri maju yang sangat layak disetarakan dengan Negara–Negara di Eropa. Itu sebabnya Turki begitu “ngotot” untuk masuk dan diakui sebagai bagian dari Negara yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi Eropa dengan mata uang tunggal Euro. Keinginan ini, hingga saat ini belum juga dipenuhi oleh parlemen MEE. Entahlah apa Turki masih berminat menjadi anggota MEE setelah adanya krisis yang dimulai dari Yunani dan ikut beramai–ramai menanggung beban defisit Negara MEE.

gedung Mevlana Museum
Ada berbagai KPI alias Key Performance Indicator yang menyebabkan Turki layak disetarakan dan dianggap sebagai Negara maju. Ini bukan hanya karena sejarah peradabannya yang sudah berumur ribuan tahun sebelum Masehi tetapi jejak kemajuan peradaban maju itu masih dan tetap ada.

Ditinjau dari bidang pertanian, di sepanjang perjalanan dari kota ke kota, melewati tanah – tanah yang terlihat seolah gersang, berjajar pepohonan apel, apricot dan lainnya yang sedang “meditasi” karena dedaunannya telah berguguran menjelang musim dingin. Tinggallah jajaran pohon zaitun dan jeruk Mandarin yang sarat buah berwarna orange. Sangat rapi dan menunjukkan betapa perkebunan itu ditangani secara serius dengan memanfaatkan teknologi. Di pedesaan tersebut tidak terlihat gubuk–gubuk reyot, kecuali rumah–rumah berlantai 2 atau apartemen. Bahkan banyak di antaranya terlihat gelap tak berpenghuni. Burhan menyatakan bahwa sebagian besar rumah yang kosong itu memang hanya dihuni pada musim panas saja.

traditional pottery
Seperti yang pernah saya ceritakan, pariwisata di Turki sepertinya ditangani oleh sebuah institusi pariwisata yang professional. Seluruh karcis masuk kecuali Mevlana Museum dan apa ya…. lupa nih…., memiliki bentuk, ukuran dan design yang sama. Perbedaanya hanya tulisan yang menyatakan nama dan lokasi situs wisata terkait saja. Kebersihannya sangat terjamin, begitu juga …. dan ini yang sangat penting… TOILET nya. Bersih, berlimpah air, tidak macet, lengkap dengan kertas toilet, sabun di wastafel serta automatic paper dispenser untuk lap tangah usai cuci tangan. Kalaupun bisa disetarakan di Indonesia, toilet di Terminal 2 bolehlah …..!

Toilet ini ada yang kloset jongkok maupun kloset duduk tapi keduanya sama terawat. Ada yang diberi tariff sebesar 1TL, sekitar Rp.5.600,- tetapi banyak juga yang gratis. Urusan toilet, walaupun hanya sekedar tempat buang hajat, ternyata tidak sederhana. Hal ini menunjukkan perilaku  serta tingkat kehidupan sosial/ekonomi masyarakat. Toilet yang berada di rest area di sepanjang toll ways, di situs wisata maupun di resto sama bersih dan kelengkapannya. Yang berbeda hanya jumlahnya. Ada yang terdiri dari beberapa kabin, namun ada yang hanya memilik 1 hingga 3 kabin saja.

KPI lainnya adalah bus pariwisata yang nyaman dengan mengadopsi regulasi yang berlaku umum di Eropa. Supir tidak boleh bekerja lebih dari 12 jam/hari serta harus istirahat yang  diistilahkan sebagai toilet stop setiap 2 jam mengendarai bus secara non stop. Ketatnya pengadopsian European Regulation ini terasa sekali saat minya power steering bocor beberapa kilometer menjelang Konya. Perusahaan mengirim bus pengganti untuk mengantar kami menuju Ankara, sementara dilakukan perbaikan.


sarcophagus of Kemal Attaturk
Pendeknya, sarana dan prasarana di Turki sangat prima. Seluruh jalan antar kota terdiri dari 2 jalur terpisah sebagaimana jalan tol di Indonesia. Jadi …. Kalau ditanya apa yang berbeda antara Turki dengan Eropa ….,? Menurut saya hanya ada satu ….. Jalan di Eropa sangat mulus, sehingga kita bisa tidur nyenyak di dalam bus. Sementara jalan di Turki, walau standard lebar dan keselamatannya mendekati dan mengadopsi regulasi Eropa, tetapi masih terasa tidak mulus… masih terasa gruduk… gruduk … hehe…

Turki mampu mengembangkan diri menjadi Negara industri, the real industrial country dengan segala keunggulannya. Karpet dan tekstil berkualitas tinggi, hasil pertanian, handicraft dan bahkan mereka mampu membuat kulit kambing menjadi setipis dan sehalus sutera …. Bukan main…!!! Itulah Turki yang sudah mengubah persepsi saya…. Turki bukan negaranya Turkey yang ayam kalkun lagi.

Sekarang tinggal memupuk mimpi, kapan Indonesia bisa mengejar segala ketertinggalan ini…? Kita pasti mampu, karena kita memiliki segalanya… tinggal tunggu waktu, semoga rakyat Indonesia mampu memilih pemimpin yang amanah, tidak munafik … Percayalah…!!! Walaupun masih samar–samar, akan datang masanya. Jadi, tidak perlu sedih …

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...