Senin, 24 Juni 2013

Subsidi BBM...? Rakyat tersandera karenanya.

Pemerintah, akhirnya mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi (premium) dari Rp.4.500,- per liter menjadi Rp.6.500,- Sudah beberapa bulan ini, harga barang-barang konsumsi rumah tangga bergejolak hebat. Mulai dari harga daging sapi yang kenaikannya gila-gilaan. Dari yang semula hanya sekitar 60 ribu per kilo sekarang di sekitar 100 ribu per kilo. Lalu kenaikan harga bawang putih dan buah impor... Yang ini sih, nggak apalah ... toh konsumennya juga terbatas, dibandingkan dengan kenaikan harga daging yang sama-sama impor. Pasalnya, masyarakat umumnya tidak banyak mengkonsumsi buah, apalagi buah impor. Bawang putih, kalaupun ada kenaikan harga, penggunaannya sedikit.

Ironi ... bayangkan, negara yang dulu dikenal sebagai negara agraris dengan luas lahan/daratan yang sangat luas dan berada di wilayah hutan tropis, harus mengimpor kebutuhan rumah tangga hasil produk pertanian. Padahal .... di tahun 1980an, Indonesia sempat mendapat penghargaan karena swasembada beras.

Belum usai gonjang-ganjing harga daging dan buah impor, muncul isu kenaikan harga BBM yang kemudian selain memicu demonstrasi, tentu saja diikuti kenaikan harga segala kebutuhan rumah tangga. Padahal .... harga BBM (premium) bersubsidi belum lagi naik. Padahal lagi.... sebagian besar alat transportasi hasil bumi lebih banyak menggunakan solar (setahu dan menurut pengamatan saya, maaf kalau salah). Jadi entah bagaimana dan darimana hitung-hitungan kenaikan harga tersebut. Bahasa terangnya.... ada segelintir manusia yang serakah dan memanfaatkan keriuhan isu kenaikan BBM.

Sedih .... karena bulan Ramadhan dan Idul Fitri ... bulan dimana sudah sangat dipastikan harga kebutuhan rumah tangga, sandang, pangan dan segala macam barang konsumsi dipastikan akan naik tinggal dalam hitungan hari saja. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi masyarakat golongan bawah dalam memenuhi kebutuhan hidup. Jangan-jangan, tingkat kriminalitas akan meningkat drastis termasuk tingkat bunuh diri karena alasan tekanan ekonomi.

Apakah memang ada subsidi dalam penetapan harga BBM dalam negeri? Entahlah .... itu kan tergantung dari sudut pandang masing-masing pihak. Ada yang bilang subsidi itu akal-akalan pemerintah saja atau ... lebih tepatnya pemerintah terjebak atau dijebak dalam tata cara menghitung harga BBM berdasarkan masukan dari konsultannya Bappenas sejak jaman awal-awal pemerintahan Suharto (coba baca Confession of an Economic Hit Man nya Jihn Perkins deh...). Sehingga terbitlah istilah subsidi harga BBM dalam negeri.

Padahal, kalau mengacu pada pasal 33 UUD 45, harga BBM kan cukup dihitung dari biaya produksi + sedikit keuntungan bagi operatornya saja, karena minyak mentah yang nota bene berada di dalam tanah, adalah milik rakyat dan selayaknya digunakan untuk kepentingan dan untuk kemakmuran rakyat. Bukan untuk memperkaya perusahaan operator, apalagi kalau operatornya adalah operator asing.

Subsidi BBM konon ditimbulkan dari disparitas harga jual minyak mentah dunia ditambah dengan biaya kilang & transportasi dengan harga jual dalam negeri yang dianggap murah. Disparitas yang dianggap subsidi inilah yang menyandera rakyat dimana pemerintah lama - kelamaan menganggap rakyat menjadi manja dan melakukan penghamburan energi (bbm). Walaupun ada benarnya, .... penghamburan energi (bbm), salah satunya juga karena kesalahan pemerintah yang tidak cermat menggunakan anggaran, apalagi ada banyak kebocoran. Transportasi massal tidak pernah dikembangkan karena kuatnya tekanan pemodal ATPM alias produsen mobil sehingga penjualan mobil meningkat dan menimbulkan kemacetan dimana-mana.

Maka .... mungkin tidak ada salahnya bila harga BBM dalam negeri dipatok dengan acuan harga pasar  saja. Pemikiran ini dengan tujuan agar masyarakat tidak tersandera  dan jadi permainan pemerintah/dpr atas apa yg dinamakan SUBSIDI seperti yang sekarang terjadi.

Kalau harga BBM dalam negeri dipatok dengan harga pasar, maka pemerintah tidak punya dalih lagi untuk menghamburkan APBN melalui subsidi/BLSM dll yang ujung2nya kita semua tahulah dimana bocor2nya.

Memang pasti akan ada korban, terutama masyarakat golongan berpenghasilan rendah. Tapi mereka cukup babak belur/hancur sekali aja, walau mungkin habis2an. Sesudah itu, tidak ada alasan lagi bagi pemerintah untuk menaikkan harga bbm dengan dalih mengurangi subsidi. Toh kita  sudah pernah hancur2an saat krisis moneter 1997-1998 dimana harga melambung gila-gilaan. Nilai tukar dolar Amerika yang semula bertengger di sekitar Rp.2.200,- saja, melambung hingga kisaran Rp.16.000 - Rp.18.000,-, hingga sekarang nilai tukar tersebut tidak pernah lagi bisa turun di bawah Rp.8.250,-, yaitu nilai terendah saat Megawati naik menggantikan Gus Dur dan dianggap tidak mampu menangkap momentum penurunan harga dolar tersebut untuk memperbaiki kondisi dalam negeri

Apakah PERTAMINA binasa karena menerapkan harga jual BBM yang sama dengan SHELL? Logikanya, kalau Shell untung besar dengan harga jual sekarang (super+super extra), maka Pertamina pasti akan mengalami hal yang sama, apalagi kalau premium tidak lagi dijual lebih murah. Pertamina seharusnya UNTUNG BESAR juga ...... Apalagi sebaran SPBU Pertamina jauh lebih luas dari sebaran SPBU pemain asing. Maka dengan cara itu, maka  PERTAMINA akan punya dana yang besar untuk mengeksplorasi/ekspolitasi ladang minyaknya.

Kalau memang biaya produksi Pertamina rendah, ya jual saja BBM itu dengan harga rendah (dengan mengutip keuntungan sepantasnya saja) seperti yang dihitung para pakar itu. Pasti pemain asing (Shell, Total dll) tidak akan kuat bersaing dengan Pertamina dan mereka akan segera hengkang dari Indonesia seperti Petronas. Tapi masalahnya ternyata memang tidak sesederhana itu.

Berapa biaya produksi/pembelian minyak mentah+komisi makelar + transportasi + ongkos kenakalan pejabat negara dll? Tidak ada yang tahu persis kecuali para pejabat terkait! Belum lagi kebocoran sana-sini akibat "permintaan jatah" atau "kebocoran" yang disengaja. Mungkin kita masih ingat bahwa beberapa tahun yang lalu pernah ditemukan pipa minyak mentah dari salah satu ladang Pertamina di Kalimantan menuju pantai, yang keberadaan pipa tersebut ternyata  "tidak tercatat" oleh Pertamina/operator manapun.

Memakai ongkos produksi operator asing sebagai acuan biaya produksi juga percuma kok, karena dalam biaya produksi mereka (cost recovery) sarat dengan mark up. Mereka bahkan memasukkan OHC kantor pusat di negaranya ke dalam biaya produksinya.

Masalah yang kita hadapi sekarang ini bukan sekedar harga jual BBM bersubsidi atau non subsidi, tapi lebih luas lagi adalah soal TATA KELOLA PEMERINTAHAN, di seluruh lini. Tidak ada keberpihakan kepada rakyat atau keinginan untuk bahu membahu demi kemajuan bangsa dan negara. Para penyelenggara pemerintahan dari tingkat pusat hingga pada level rendah lebih memikirkan kepentingan sesaat baik bagi pribadi, kelompok dan golongannya dan ini tidak saja para seniornya tetapi juga sudah merasuk ke generasi muda.

Kalaupun ada yang masih idealis, maka jumlahnya sangat tidak mencukupi untuk menggerakkan kesadaran akan masa depan bangsa dan negara ini. Menyedihkan ...? SANGAT .....!!!

Sabtu, 01 Juni 2013

GOSONG JILID KEDUA

Sejak sekitar satu bulan yang lalu, assisten dan penguasa dapur rumahku, sudah wanti-wanti minta ijin libur week end. Kakak kandungnya yang tinggal di wilayah Karawang mau mantu. Jadi sebagai salah seorang kerabat dekatnya yang dianggap paling "mampu", sang penguasa dapur ini diminta untuk hadir. Maunya sih dijadikan juru masak juga, karena dia memang piawai dalam hal masak memasak terutama masakan lokal.

Untuk ukuran "kampung", dia juga dianggap piawai mengolah masakan "berkelas" seperti spagety, macaroni schotel, kentang panggang siram keju dan sejenisnya yang jadi favorit anak2, yang menurut ceritanya, sering dipraktekkannya saat libur lebaran selama 2 minggu di kampungnya di Cimahi/Cihampelas sana, walau untuk jenis masakan ini, "taste"nya belum cocok dengan "taste" kami. Hal ini pula yang membuat sang kakak sedikit cemas, lantaran dia tidak bisa membantu masak-memasak sajian pesta pernikahan itu. Anaknya yang duduk di kelas 2 SMK Grafika harus menempuh EHB hari Senin 3 Juni 2013 ini, sementara pesta berlangsung hari Minggu malam. Nah ..., siang tadi setelah anaknya kembali dari sekolah dan makan siang, mereka berangkat ke Karawang.


sayur kering kerontang
Malam ini, saya dan anak gadis yang menghabiskan waktu week end nya di rumah, di temani oleh tukang kebun, menjadi penunggu rumah. Bapak ....., ada acara keluarga besarnya. Kumpul-kumpul, merayakan ulang tahun beberapa anggota keluarga, yaitu adik-adik dan keponakan-keponakannya di rumah peninggalan ibu mereka. Karena si bapak tidak ada di rumah, maka menu dan acara makan malam jadi agak "suka-suka". Tidak wajib duduk manis di meja makan, walau segelas perasan jeruk Pontianak setara dengan 3 - 4 buah, menjadi minuman wajib pembuka makan malam. Mumpung lagi musim ... Kalau nggak diperas, mana mungkin menyantap 4 buah jeruk sekaligus. 1 buahpun kadang tak habis dimakan.

Di kulkas, ada lontong yang tadi pagi saya beli di pasar. Masih ada sayur waluh berkuah santan encer berwarna merah cabe. Masih ada ayam masak lada hitam. Jadi ... cukup untuk makan malamku dan kang kebon yang asli Cihideung - Bogor. Si anak, biar nanti dipesankan lasagna dan steak with pasta. Delivery order dari Izzi Pizza yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah

Karena masakan bersantan itu disiapkan sebelum sang penguasa dapur, pergi ke Karawang, maka "si dia", wajib dihangatkan dulu supaya tidak basi, berikut sisa sup makaroni anakku. Cukup untuk makanan pembuka malam ini. Maka ...... kunyalakan kompor .... Yang ini, lancar jaya, nggak masalah. Walau bagaimana, turun ke dapur dan masak-memasak sederhana masih bisa dan biasa saya lakukan. Setelah ke dua panci tersebut bertenger di atas stove, kutinggal sebentar ke dalam .... Dalam pikiranku, 5 - 10 menit waktu yang dibutuhkan untuk menghangatkan ke dua jenis makanan itu, bisa kumanfaatkan untuk membereskan meja makan atau apalah. Daripada benging di depan panci. Toh sudah tidak ada suatu apapun yang dilakukan, kecuali menunggu makanan tersebut panas dan mendidih.

Begitulah .... tiba di meja makan, masih ada 3 buah risoles yang saya beli tadi siang di IF alias l'Institute Francaise di jl. Wijaya itu dan lupis ketan yang dirapikan lagi. Koran dan majalah yang berserakan .... tanpa sadar, wilayah jelajah melebar ke kamar ... ambil gadget, MacBook Pro dan lain-lain. Asyik meneruskan browsing rumah yang semalam kulakukan .... Apalagi teringat ada kiriman beberapa email dari rekanku di Surabaya mengenai prospek proyek yang tadi pagi dalam perjalanan ke IF, sempat diberikan komentar, walau filenya sendiri belum dilihat.

Asyik browsing hingga datang waktu shalat maghrib dan kemudian  kesibukan beralih untuk menelpon Izzi Pizza untuk meminta delivery order, pesanan si gadis .... yang tidak mendapat respons. Mungkin petugasnya super sibuk baik layanan on site, take away atau delivery order seperti biasanya malam Minggu, dimana sebagian penduduk Jakarta menghabiskan waktu di luar rumah atau menyantap makanan yang sedikit berbeda dari keseharian.

Karena hingga 15 menit usaha menelpon gatot alias gagal total, maka saya melangkahkan kaki ke belakang, mancari kang kebon, memintanya pergi membeli pizza.

Dia sedang asyik menggosok-gosok panci dan dari dalamnya dia menunjukkan gumpalan-gumpalan makaroni. Keduanya sudah sama-sama menghitam dan legam garing ..... Dapur juga sudah bau gosong ...... Halaaaaaah ....... Sudah nggak bisa kasih komentar apa-apa lagi. Malu sama kang kebon ...., sekaligus ingin ketawa, menertawai kebodohan dan keuzuran.

Ini adalah kali ke dua .... kebodohan yang berulang ....
Konon ada peribahasa bahwa keledai (yang bodohpun) tidak akan pernah terperosok ke dalam lubang yang sama. Jadi .... kalau saya melakukan kebodohan yang sama, apapun alasannya, maka saya ternyata lebih bodoh dari keledai ya .....

Senin, 20 Mei 2013

ETIKA dan KEJUJURAN sudah jadi barang langka

Sabtu malam yang lalu, usai makan malam, kami bertiga keluar rumah menuju ke sebuah "grand surface" milik dan merek asing. Apa boleh buat ... bukan karena tidak cinta produk Indonesia, tapi ini karena kebetulan kami sudah kehabisan buah2an untuk disantap. Selain itu ... ada langganan yang, agak ge'er nih..." selalu menunggu kedatangan kami dan itu ditandai dengan matanya yang berbinar-binar saat melihat kami turun dari mobil. Dia adalah pedagang kue semprong ... Makanan rakyat yang sekarang ini, penggemarnyapun sudah mulai langka. Itulah salah satu sebab 1 bulan sekali, kami sempatkan untuk "mencari-cari" alasan berbelanja ke lokasi tersebut.

Sebetulnya, saya punya juga langganan penjual buah di pasar Pondok Labu. Sayangnya, si tukang buah itu sudah pindah profesi. Anaknya jadi tukang penganan gorengan sedang si bapak, sekarang mengkhususkan diri hanya menjual jambu biji merah. Jadi agak repot juga kalau setiap minggu, hanya menyantap jambu biji merah terus. Kurang variatif jadinya.

Begitulah, seperti yang sudah ditulis pada awal cerita ini, malam itu, kami pergi ke grand surface tersebut untuk membeli buah-buahan. Buah incaran kami biasanya nanas madu yang kecil itu lho .... Rasanya jauh lebih manis daripada nanas madu yang besar. Seratnyapun lebih halus sehingga enak digigit. Selain itu, kami juga mencari buah naga merah. Ini kesukaan suami karena konon katanya "nendang" banget buat membersihkan isi perutnya. Biasanya kami beberapa buah roti karena setelah jam 21.00, ada diskon, selain membeli roti jenis cheese royale yang sedap banget. Roti Cheese Royale ini nggak kena diskon.

Malam itu, kami juga membeli kopi kapal api buat suami. Entah bagaimana seleranya, berbagai jenis dan merek kopi disodorkan, balik-balik selalu kopi kapal api. Padahal ..... sudah berbagai macam kopi dibeli ... bahkan kopi Turki yang langsung beli ditempatnyapun tak disukai. Maka ... terpaksalah dia tak minum kopi, selama kami belum sempat belanja.

Usai membayar sejumlah belanjaan, kasir mengingatkan saya untuk mengambil hak PARKIR GRATIS di counter Penerangan di lantai di bawah tempat kami membayar. Maka saya menuju tempat itu ... Saya pikir, lumayanlah .... toh itu hak, sekaligus mengecek points dari akumulasi pembelanjaan.

Di counter, sudah ada 1 orang yang sedang menyelesaikan permintaan parkir gratis. Kepadanya, petugas memberikan uang sejumlah Rp.6.000,- sebagai pengganti karcis parkir.

Giliran saya, karena sudah beberapa kali memperoleh parkir gratis, maka kepada petugas lelaki saya ajukan bukti pembayaran dan tiket parkir. Biasanya tiket parkir itu digunakan untuk pencatatan dan pemeriksaan nomor polisi kendaraan. Seusai tiket parkir distempel, petugas tersebut menyobek bagian bawah bukti pembayaran dan mengembalikannya berikut tiket parkir. TANPA UANG.

Agak heran, saya tanyakan padanya :
" Karcis ini bisa digunakan untuk pembayaran parkir?"
" Ya bu ....", jawabnya.
" Maksud saya, cukup diperlihatkan saja... tanpa bayar?", ulang saya sekali lagi.
" Ya bu ..."

Walau agak bingung, karena melihat orang sebelum saya mendapat uang tunai, saya ambil juga tiket parkir yang sudah distempel PARKIR GRATIS itu. Masih berbaik sangka ... mungkin uang tunai pecahan Rp.2.000,- nya sudah habis. Jadi, sebagai ganti, cukup membubuhi tanda PARKIR GRATIS, dan nanti.... manajemen parkir yang akan melakukan/mengajukan klaim penggantian parkir tersebut. Toh, saya juga seringkali mendapatkan fasilitas sejenis di beberapa gedung perkantoran di Jakarta. Cukup dibubuhi stempel tanda bebas parkir alias gratis, maka kita bisa keluar tanpa bayar.

Begitulah ..... kami keluar dan dengan pede alias percaya diri, tidak menyiapkan uang parkir. Tapi ...., sungguh kaget ketika petugas gerbang parkir meminta pembayaran.
"Enam ribu rupiah, pak...." katanya kepada suami yang mengemudikan mobil.
"Hah ...., kan sudah ada tanda parkir gratis. Tadi diberi tahu cukup memberikan tiket yang sudah distempel saja". sahutnya
"Tidak pak ...., bapak kan sudah dapat uang pembayaran parkir ... Jadi uang itulah yang harus bapak gunakan untuk pembayaran parkir" sahutnya lagi.

Sambil bersungut-sungut, dikeluarkannya sejumlah uang pembayar parkir tersebut. Sepanjang jalan dia mengomel atas kejadian itu.
"Bikin surat komplen ke manajemennya ...", perintahnya pada saya.
"Tumben ngomel .....", sahut saya.
"Nggak bener tuh ....! Bukan soal besar uangnya, tapi ini soal hak ..... Korupsi dimulai dari yang kecil-kecil, tau nggak?"
"Iya tau .... Cuma ...., nggak biasanya kamu ngomel. Biasanya saya yang ngomel kalau ada urusan seperti ini dan lalu kenyang dinasehati ....!"
 "Ini soal prinsip ....."
"Iya ... tapi ngebayang enggak sih ...., berapa sih gaji petugas informasi itu? Kalau dilapori kemudian dipecat ... kan orang kecil juga yang kena...", begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran saya saat itu.
***

Saya, kemudian, cuma menumpahkan kekesalan itu dalam status di FB. Tindak ingin memperpanjang soal kecil itu. Tanpa bermaksud sombong ... insya Allah, kami tidak akan kekurangan dan jatuh miskin hanya karena terpaksa membayar Rp.6.000,-. Tetapi kalau kasus ini kami laporkan kepada manajemen grand surface tersebut, bisa jadi petugas informasi itu  akan ditegur atau terkena sanksi. Tetapi membiarkan hal tersebut terjadi, dampaknya akan jauh lebih luas .... Ada bibit penyelewengan wewenang disitu. Bayangkan ... diberi wewenang pengelolaan dana parkir yang mungkin hanya berjumlah 1 juta rupiah per hari saja sudah menjadi godaan perbuatan curang. Apalagi kalau diberi kesempatan yang lebih luas lagi di masa yang akan datang.

Maka ... setelah dipertimbangkan lebih jauh akhirnya tadi pagi, dengan berat hati saya menulis keluhan kepada manajemen grand surface terkait sekaligus mengusulkan agar fasilitas parkir gratis tidak lagi diberikan dalam bentuk tunai. Cukup dengan stempel dengan tulisan PARKIR GRATIS saja.

Tanggapan dari manajemennya, melalui email juga, cukup cepat. Tidak lebih dari 2 jam saja saya sudah mendapat tanggapan. Tapi ... saya tidak ingin memperpanjang masalah dengan memenuhi permintaan mereka untuk memberikan nomor telpon pribadi atau apapun untuk melakukan komunikasi lagi dengan mereka. Case closed.
***

Saya sadar bahwa keluhan yang disampaikan kepada manajemen, mungkin akan berdampak pada petugas terkait. Kepada "orang kecil", yang mungkin gajinya masih di bawah UMR. Apalagi menurut penjelasan dari Section Head customer service, petugas tersebut baru direkrut.  Entah dimana salahnya ..... Si petugas lupa SOP pekerjaannya atau kesengajaan untuk melakukan  "manipulasi"? Kalau lupa... rasanya tidak mungkin karena konsumen sebelum saya menerima uang parkir.

Sebetulnya .... ada rasa terenyuh menyadari apabila keluhan saya berakibat pada pemutusan hubungan kerja. Tetapi membiarkannya terjadi seperti membiarkan "benih" kecurangan dan perilaku manipulatif berkembang biak ...

Entahlah .... Semua sudah terjadi .... Penyimpangan sekecil apapun memang harus dikurangi, karena dari situlah timbul bibit-bibit penyimpangan yang lebih besar lagi ...








Selasa, 23 April 2013

MENULIS ..........

Aku....? Jelas bukan penulis... kalau julukan penulis itu harus diartikan dengan memiliki buku yang sudah dicetak/diterbitkan dan kemudian dipasarkan lalu dibaca orang. Walau begitu, mungkin bukan kebetulan kalau di kantor, itu yang namanya tulis-menulis, hampir selalu atau lebih tepatnya sebagian besar terpaksa dan dipaksa mampir ke mejaku dulu sebelum persetujuan akhir dari big boss. Entah sejak kapan hal itu terjadi.

Awal "berkenalan" dengan big boss, beliau masih menjadi executive di salah satu anak perusahaan milik salah satu pengusaha pribumi yang cukup kondang di negeri gemah ripah loh jinawi yang sampai saat ini masih belum mampu membuat rakyatnya makmur dan sejahtera. Hubungan kerjaku dengannya tidak terlalu dekat, bahkan tidak pernah berhubungan langsung, kecuali saat big boss di awal tahun 90 bermimpi membuat Mall di Bekasi, setelah melihat kesuksesan Pondok Indah Mall. Ini terjadi sebelum berdirinya Metropolitan Mall yang berlokasi di gerbang toll Bekasi Barat. Saat itu, mengetahui aku pernah bekerja dan kenal dengan perencana lokal yang menjadi partner perencana utama Pondok Indah Mall, maka aku diminta menjadi penghubungnya. Itulah yang menjadi awal hubungan kerja langsung, tapi tidak juga mendekatkan kami.

4,5 tahun kemudian, saat beliau memegang tampuk jabatan sebagai ketua umum organisasi tempat kumpulnya para pengusaha dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai executive di perusahaan tersebut, beliau menawariku untuk bergabung di perusahaan yang didirikannya. Aku turut bergabung, bukan karena iming-iming materi, tapi memang karena setelah pergantian pimpinan perusahaan, suasana kantor lama terasa kurang kondusif lagi buatku.

Saat itu, sekitar pertengahan tahun 90an, untuk urusan tulis menulis beliau yang konon sejak masa mahasiswa adalah aktifis organisasi, ada satu wartawan dari satu media massa yang membantunya. Entah bagaimana cara kerjanya, yang pasti sang wartawan cukup sering mondar-mandir ke kantor. Maklum saja, jaman itu .... internet masih jadi barang aneh yang tidak banyak disentuh orang. Di rumah .... cuma suamiku yang mulai menggunakan korespondensi dengan email. Sementara aku baru mulai kenal dengan email tahun 1996, saat suamiku pergi ke Jerman untuk selama 3 bulan dan untuk kepentingan saling berkirim kabar itulah aku diberikan akses menggunakan email account nya di Indonet, satu-satunya provider email jaman itu. Eits ...., kok malah nglantur ke internet ya? Yuk ah, balik lagi ke urusan tulis menulis....

Aku juga lupa, sejak kapan big boss "mengenali" kemampuanku untuk membantunya dalam hal tulis menulis. Entah apakah melalui surat menyurat di kantor yang sering kulakukan sehubungan dengan pekerjaan atau hal lainnya. Yang kuingat adalah suatu kali doi meminta bantuanku untuk menulis makalah yang akan dipresentasikannya dalam forum panel diskusi dimana beliau menjadi salah satu pembicaranya. Usai acara tersebut, aku diberi amplop yang berisi uang cukup besar ... kalau tidak salah sekitar satu juta ..... Honor sebagai pembicara, karena amplop dengan label panitya, masih utuh tak terbuka, yang kemudian, sebagian habis untuk mentraktir teman sekantor, dan sebagian lagi masuk dalam pundi-pundi tabungan. Itulah honor yang pertama dan terakhir hahaha ....., Bukan karena doi nggak pernah jadi pembicara lagi. Mungkin lebih tepat disebut karena memang, seiring dengan waktu, beliau kemudian menolak honorarium dari panitya.

Apa yang ditulis...?
Macam-macamlah .... sesuai dengan kepentingannya. Entah karena jabatan organisasi yang disandangnya, topik-topik seminar/panel diskusi yang mengundangnya sebagai pembicara, pers release perusahaan, advertorial, resensi buku sampai pada artikel yang berkaitan dengan kampanye elektoral dan belakangan ini naskah sambutan/pidato. Pokoknya macam-macam deh .... Jadi ragam isinyapun bermacam-macam. Bisa tentang Real estate (perumahan/pemukiman dan Lingkungan), ekonomi, politik, pendidikan dan lainnya.

Nah .... berkenaan dengan naskah pidato itu, pernah juga aku diminta bantuan untuk menyiapkan naskah pidato yang akan dibaca oleh wapres (saat itu). Entah apakah kemudian naskah tersebut jadi digunakan, entahlah .... Biasanya pejabat negara memiliki tim penulis naskah pidatonya sendiri .... Nggak sembarang naskah bisa diterima. Kalau sekedar masukan dari masyarakat, bisa jadi ada yang diterima. Tapi jadi naskah utama.... wallahu alam.... Aku hanya menulis sesuai arahannya sekaligus sambil meluapkan apa yang ada di pikiranku.

Sekarang, kalau ada surat permintaan makalah seminar/panel diskusi, sambutan dan yang sejenis, sang sekretaris sudah tahu dan langsung mengirimkan 1 kopi surat undangan dan lampiran-lampirannya ke mejaku, supaya aku punya kesempatan mengerti topiknya dan mencari referensi terkait. Setelah itu, biasanya, setelah sang sekretaris memberitahukan tentang undangan tersebut, si boss akan menelpon memberi arahan beberapa stressing  dari isi tulisan yang diinginkannya. Sisanya ....? Suka-sukalah... Apa yang ada di kepalaku bisa kutuangkan semua. Kadang ada issue menarik yang sedang hangat dan luput perhatiannya, bisa masuk dan bahkan akhirnya menjadi topik bahasan utama.

Sejujurnya, kegiatan ini seringkali menyita waktu kerja, apalagi kalau topiknya berat. Untungnya, aku kerja di kantor miliknya pribadi. Jadi rekan kerja yang lain terpaksa maklum kalau aku bilang nggak bisa diganggu karena lagi sibuk "mengarang" atau bahkan kalau kukatakan aku "terpaksa" datang terlambat ke kantor, kalau sudah mendekati tenggat waktu yang kujadwalkan sendiri, sementara kalau kukerjakan di kantor, konsentrasiku bisa buyar karena "gangguan" pekerjaan rutin.

Persiapannya.
Mungkin ini buah dari pendidikan kuno jaman buku pegangan pelajaran bahasa Indonesia masih dikarang oleh Poerwadarminta (maaf kalau salah .... it's been long time ago). Buku itu buatku fenomenal banget. Tokoh dan cerita sangat merakyat, baik isi ceritanya yang lebih banyak berisi kejadian sehari-hari, lokasi maupun nama anak-anaknya seperti Amir, Sudin, Muntu, Tuti .... Cita rasa lokalnya sangat terasa.

Ceritanyapun mengandung banyak hal yang menyangkut budi pekerti, kejadian alam/lingkungan, kesehatan dan lain-lain. Rasanya kalau Kemendiknas mau bikin buku ajar di SD yang konon kabarnya akan bersifat Thematic Integrative sebagaimana dicanangkan dalam Kurikulum 2013, maka buku pelajaran Bahasa Indonesia yang terdiri dari 2 buku yaitu Pelajaran Bahasa Indonesia yang berisi tata bahasa dan Bacaan Bahasaku, sangat layak "dihidupkan" lagi atau minimal menjadi acuan.

Sungguh .... buku pelajaran Bahasa Indonesia itulah yang membangkitkan minat bacaku. Begitu buku tersebut dibeli pada awal tahun ajaran, sudah langsung "kulahap" habis, sebagai pengisi waktu libur. Sehingga saat tahun ajaran dimulai, maka isi buku itu hanya menjadi bacaan ulangan saja. Tapi walau begitu, isi buku pelajaran bahasa Indonesia dan bacaan Bahasaku tersebut sama sekali tidak membosankan. Itulah awal kecintaanku terhadap buku dan bacaan.

Nah.... berkaitan dengan menulis .......! Dulu.... sejak duduk di bangku SD hingga tamat SMA, hal yang kusukai dan mungkin menyebalkan bagi sebagian anak lainnya adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan caturwulan. Jadi minimal ada 3 waktu yang menyebalkan atau menyenangkan buatku. Kenapa.....?
Karena .... pada hari itu, yang umumnya selalu dimulai dengan mata pelajaran bahasa, kami disuruh untuk membuat karangan. Apa saja .... tapi umumnya tentang kegiatan selama libur catur wulan.

Lain dari itu, selama di SMA, setiap murid diwajibkan membaca 1 buku sastra Indonesia setiap tahunnya. Jadi, minimal ada 3 bacaan genre sastra Indonesia, wajib baca. Mulai dari karangan dari  sastrawan angkatan Balai Pustaka,  Pujangga Baru, Angkatan 45 dan lain lain .... Tokoh-tokoh pengarang yang masih kuingat antara lain Sutan Takdir Alisyahbana alias STA, Marah Rusli, Nur St Iskandar, Armiyn Pane, Hamka, Utuy T Sontani, Pramudya Ananta Toer, Achdiat K, Aoh K, Amin Dt Madjoindo dan banyak lagi.

Buku-buku yang fenomenal antara lain Salah Asuhan, Siti Nurbaya, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Azab dan Sengsara dan lainnya ..... yang .... terus terang, aku lupa judul bukunya.... Lagi-lagi ....... it's been long time ago, tak terasa, sudah uzur juga rupanya. Jadi tidak mengherankan bila kemudian anak dan cucu STA berkecimpung tidak jauh dari apa yang sudah dirintis oleh sang God Father - STA, yaitu di dunia percetakan/penerbitan yang kini berkembang sebagai Femina Grup.

Kegemaran dan kebiasaan membaca, membuatku tidak bisa sembarangan saat menulis surat untuk urusan kantor ataupun apa-apa yang diminta big boss untuk keperluan organisasi/politiknya. Aku harus mengerti betul latar belakang tulisan yang akan dibuat dan karenanya dibutuhkan rujukan yang cukup. Bukan saja dari tulisan/buku ditambah dengan berbagai rujukan yang sekarang mudah diperoleh melaui internet, tetapi juga kepekaan terhadap berbagai masalah lingkungan dan kondisi masyarakat. Mungkin terlihat berlebihan, tapi menurutku itu salah satu kunci menulis yang baik dan berisi.

Itu sebabnya, buku yang ditulis oleh Pramudya Ananta Toer, Langit Kresna (serial Gajah Mada) Dan Brown terasa sangat "dalam"
***

Jaman sudah berubah dan kemajuan teknologi rupanya ada dampak negatifnya juga terhadap kemampuan tulis menulis. Kini banyak teman-temanku yang mengeluh bahwa di kantornya, kemampuan tulis menulis rekan kerja terutama para juniornya buruk sekali. Mereka umumnya tidak mampu lagi membedakan antara bahasa lisan dan bahasa tulisan. Pemotongan kalimat, kata dan suku kata begitu parah .... Bisa jadi, mungkin suatu saat akan ada biro jasa untuk membuat surat. Kita lihat saja....

Jumat, 19 April 2013

Pakai Barcode, UN 20 Paket Tetap Bocor. Ini Buktinya!


Thu Apr 18, 2013 5:12 am (PDT) . Posted by:
"Mohammad Ihsan" mohammad.ihsan

Kunci Jawaban UN 20 Paket Soal
Memperhatikan kunci jawaban yang beredar di kalangan siswa SMA di Surabaya membuat saya geleng-geleng kepala. Betapa tidak, kunci jawaban  tersebut nampak dipersiapkan sangat profesional. Jauh dari kesan palsu atau sekedar ulah orang iseng seperti salah satu komentar yang ditulis atas catatan saya di Kompasiana sebelumnya: Kecurangan Ujian Nasional Itu Nyata

Sebelum ini kita disuguhi berbagai pernyataan Mendikbud M. Nuh yang menjelaskan bahwa UN tahun ini dibuat sedemikian rupa sehingga kemungkinan bocor sangat kecil. Soal-soal UN dibuat dalam 20 paket, sehingga di dalam satu ruangan masing-masing siswa akan mengerjakan soal yang berbeda, sehingga kecurangan contekan juga hampir mustahil. Bahkan meski UN tertunda di 11 propinsi, Mendikbud mengklaim soal UN tidak akan bocor (Suara Pembaruan, 15 April 2013). Soal UN bocor akan mudah dilacak, karena memiliki barcode (Antara, 31 Maret 2013). 

Semua retorika Mendikbud bisa sejenak menenangkan kita yang menginginkan UN berlangsung jujur dan kredibel. Tapi ketenangan itu mendadak buyar ketika guru-guru di berbagai daerah melaporkan kecurangan UN dengan berbagai modusnya.

Benarkah UN masih bisa bocor? Bukankah naskah soal dilengkapi barcode sehingga siswa yang curang pasti sulit mengenalinya?

Saya sendiri awalnya menyangsikan bagaimana soal UN bisa bocor setelah 2 pengamanan yang dibuat (barcode dan paket sebanyak 20 soal) diterapkan dalam UN tahun ini. Ternyata, di mana-mana maling selangkah lebih lihai ketimbang polisi … Dan itu nyata terlihat dalam kunci jawaban yang beredar di kalangan siswa.
Bagaimana Cara Mengenali Barcode?
Sebelum mengerjakan, siswa harus lebih dulu mencocokkan apakah kunci jawaban yang dipegang sudah sesuai dengan soal yang dikerjakan. Dan jika melihat barcode tentu sulit. Maka cara yang dipakai adalah dengan tidak mempedulikan barcode tersebut, melainkan memakai trik lain.

Dari berbagai bentuk kunci jawaban yang beredar, setidaknya ada 2 cara mengenali soal tanpa melihat barcode, yaitu:
  1. Mencocokkan redaksi awal 2 contoh soal Ini bisa dilihat pada kunci jawaban pada gambar di atas. Misalnya, tertulis: BIG 1. Soal 16. Nadia will… Soal No. 20. Rafael Nadal… Siswa tinggal mencocokkan apakah di soal tersebut untuk soal no 16 diawali dengan redaksi “Nadia will…” dan pada soal nomor 20 diawali dengan kalimat “Rafael Nadal…”. Jika iya, maka berarti kunci jawaban sudah cocok dengan soal. Siswa tinggal menyalin saja kunci jawaban yang tertera di situ. Kalau belum cocok, ya cari saja pada kunci jawaban lainnya, kan siswa memegang kunci jawaban untuk semua paket soal.
  2. Memperhatikan kode yang tertulis di pinggir sampul soal. Coba perhatikan kunci jawaban UN mapel Kimia yang beredar di SMA di Palembang di bawah ini. Kunci jawaban dengan kode angka di pinggir sampul soal. Di bagian atas tertulis kode SA** (2 angka sengaja disamarkan), ternyata itu adalah kode yang sama persis dengan yang tertera di sampul soal. Semua soal yang ada menggunakan kode diawali SA, misalnya SA73, SA70, dan seterusnya. Siswa yang curang pasti sudah di-briefing untuk mencocokkan kunci jawabannya dengan soal yang sedang dikerjakannya.
Apakah pembuat soal kecolongan sehingga kode yang ditulisnya di sampul justru dimanfaatkan oleh mereka yang curang untuk mengenali naskah soal? Saya tidak tahu. Kemdikbud tentu lebih mengerti masalah ini.
Apakah kunci jawaban ini asli? 
Jangan-jangan buatan orang iseng yang asal menebak-nebak sembari  mendapatkan keuntungan dari penjualan kunci jawaban? Ya, kalau ini palsu, siswa pasti sudah berontak, sebab mereka mendapatkannya tidak gratis alias harus merogoh kantong Rp 50-100 ribu.

Kunci jawaban ini sungguh asli. Hal ini mudah dideteksi dari 2 butir soal yang dituliskan sebagai pengenal atau tulisan di kode sampulnya. Si pembocor pastilah orang yang amat sangat “hebat”, sebab mereka bisa mengakses semua soal. Langsung 20 paket soal sekaligus.

Masihkah Mendikbud terus beretorika bahwa tidak ada kebocoran UN? Bukti apa lagi yang ditunggu agar pemerintah sampai pada kesimpulan bahwa UN memang tidak valid karena pelaksanaannya penuh kecurangan?

Saatnya Reposisi UN. Sekarang Juga.
Tahun ini, meski Kemdikbud sudah berinovasi dengan barcode dan 20 paket soal, ternyata bocor juga. Saya sampai pada kesimpulan, mau dibuat paket lebih banyak lagi, UN tetap akan bocor, bocor, curang, dan curang… Semua ini karena siswa tidak memiliki pilihan lain, kecuali harus dapat nilai bagus agar bisa lulus sekolah. Nilai UN jeblok alamat siswa gagal lulus.

Sudah saatnya Kemdikbud mengembalikan fungsi UN tidak lagi sebagai penentu kelulusan, melainkan hanya sebagai alat pemetaan mutu pendidikan. Urusan lulus nggak lulus biar menjadi domain guru dan sekolah. Karena nggak menentukan kelulusan, insya Alloh siswa nggak akan ngoyo mencari bocoran dan berbuat curang, toh berapapun nilai UN, kelulusan ditentukan sekolahnya.

Jadi, saran untuk Mendikbud, stop UN yang penuh rekayasa ini. Tahun depan, tak perlu lagi ada UN. Atau, jika pun UN dipertahankan, ubah fungsinya hanya untuk pemetaan mutu pendidikan saja. [ihsan@igi.or.id]

Sumber:

Kamis, 18 April 2013

Carut Marut Pendidikan Nasional


Ada 2 issue penting dunia pendidikan yang saat ini ramai diperbincangkan masyarakat. Yang pertama adalah ujian akhir nasional yang penyelenggaraan tahun ini Jelek banget deh. Betul-betul jelek sampe nggak abis pikir. Ujian akhir kan bukan terjadi sekarang ini aja... sudah bertahun-tahun dan berulang-ulang.  

Minggu ini, siswa SMA/SMK sedang menempuh Ujian Akhir Nasional. Sayangnya, suasana tenang dan kondusif, pada saat terakhir, rusak gara-gara Kemendiknas sendiri.
Ujian akhir nasional kan sudah rutin setiap tahun. Jadi Kemendiknas mestinya sudah punya manajemen handal yang kerja dengan jadwal terukur. Jadi mestinya nggak ada tuh yang namanya penundaan. 

Bayangkan, ada 11 provinsi terlambat melaksanakan ujian. Alasannya karena ada kendala percetakan, kesalahan pengiriman dan hal lain. Jadi 11 Provinsi yang telat itu, bakal ujian hari Kamis 18 April 2013. Ternyata di provinsi yang melaksanakan ujian tepat waktupun, masih  kekurangan naskah. Jadi masih harus bikin foto copy soal–soal ujian. 

Nah ..... hari ini, 11 Provinsi yang terlambat itu melaksanakan Ujian Akhir. Mulus......? Nggak Juga tuh ....!  Ada yang ujiannya jam 14.00, ada yang jam 16.00 .... di Samarinda malah ada beberapa sekolah yang nggak nerima soal ujian. Nah lo .....?! Untung aja Walikotanya cukup cekatan .... UN di Samarinda ditunda semua ....! Bravo pak Walikota .... Cuma, masalah nggak selesai dengan penundaan! Keterlambatan ini adalah salah satu bentuk pendzaliman terhadap siswa sekolah. 

Anak-anak yang (semoga) sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi ujian akhir, mengalami ketegangan jiwa ..... eh, taunya UN ditunda. Ini kan memperpanjang "penderitaan" jiwa anak-anak/remaja. Frustrasi deh ... bukan siswanya aja, tapi semuanya ....

Segala cara dikerjakan sebagai pembekalan siswa menjelang ujianpun. Ada yang melatih siswa mati-matian dengan soal2 tapi ada juga yang jauh melenceng. Mandi kembanglah, ke dukunlah dan lain-lain. ini kan makin menunjukkan kalau anak-anak itu nggak punya pegangan dan kepercayaan diri. Bukan anak-anaknya aja... Jangan-jangan ortu dan gurunyapun podo wae.... Hadeuh .....!!!!

Itu pejabat Kemendiknas itu punya anak nggak sih? Semuanya juga pernah ngrasain ujian akhir kan? Lupa kali ye, gimana rasanya ngadepin UN. Nggak salah juga kali ya kalau mereka disumpahin abis-abisan sama banyak orang.

Rasanya, dulu-dulu lebih sederhana deh ... Padahal nggak ada peralatan canggih. 
Aneh juga ya ... jaman sudah bisa melaksanakan cetak jarak jauh begini, kok pencetakan harus tersentralisasi. Lupa atau nggak tahu sih kalau transportasi naskah ujian itu masih jadi masalah besar di Indonesia karena kondisi geografi. Sudah jadi rahasia umumlah, kalau ada begitu besarnya disparitas kondisi dan fasilitas sarana prasarana/infra struktur di Indonesia.

Lagipula, UN itu perlu banget nggak sih? Kenapa nggak UAS aja sih ....? Toh kita tahu, kalau mau masuk Universitas, itu angka2 UN juga nggak digubris sama Universitas. Mereka lebih percaya sama hasil test masuknya sendiri. Kita juga tahulah gimana kualitas sekolah maupun kualitas guru dan sekolah di Indonesia. Jangankan membandingkan kualitas sekolah antara Jakarta dengan wilayah Timur Indonesia. Wong sesama sekolah di Jakarta aja, kualitasnya mascam-macam kok....

Ditambah lagi dengan pola pikir materialistis dan budaya instan di masyarakat. Banyak orang sudah nggak peduli sama kualitas, etika, moral. Kecurangan jadi "raja". Kalau dulu, bekal curangnya bikin gebetan, nulis rumus dan contekan dikertas yang digulung atau nulis di tangan, atau paha. Sekarang pake beli soal. Sudah jadi rahasia umum, kecurangan saat jadi kecurangan sistemik. Semua terlibat. Bukan anak-anak peserta ujian aja, tapi juga sudah melibatkan orangtua siswa maupun institusi sekolah dan guru. Kesemuanya demi kelulusan 100%.

Aduh.... nasib bangsaku ini ... Mau dibawa kemana sih masa depan negara ini? Padahal konon Kemendiknas itu adalah Kementrian yang mendapat alokasi APBN terbesar di negeri ini. Mungkin saking besarnya alokasi APBN itu, banyak yang silau dengan deretan angka anggaran, sampe lupa kerja yang bener .... Omong jeleknya, jangan-jangan pada sibuk ngitungin komisi kali ye...?

Kita liat aja... kan menterinya sudah sesumbar ..."Kalau ada Korupsi, saya yang bertanggung jawab". Begitu katanya! Nah ..... ayo dong BPK, KPK, ICW .... ayo bergerak....! Mari kita lihat ......., semoga carut marut ini cuma karena human error ... bukan karena hengki pengki dan john toel berseliweran ngrubutin kue proyek bernama Ujian Nasional ....
Ntar dilaknat Tuhan loh...!

Senin, 15 April 2013

REMAJA GALAU


Jum'at lalu, saat kembali dari asrama seperti biasa, wajah anakku terlihat tidak seperti biasa. Konon katanya .... tenggorokannya sakit. Gejala batuk. Maka untuk itu kutawarkan apakah dia mau minum air rebusan jahe ditambah dengan madu atau jeniper alias jeruk nipis peras hangat tambah madu.

Usai menyiapkan jeniper alias jerk nipis peras hangat, dan setelah diminumnya sebagian jeniper hangat bermadu itu, setengah berbisik, karena di sofa seberang bapaknya sedang baca koran, si gadis bilang ...
"Ma ... aku mau cerita deh ..."
"Hm ya.... ada apa...?"
"Itu ma .... cowo itu akhirnya ngajak aku ngomong...!"
"Ngomong apa...?"
"Tapi mama jangan marah atau ngetawain ya.....!", pintanya.
"Iyalah .... cerita aja....!"
"Beberapa hari yang lalu, dia bilang ... Katanya dia suka aku, tapi suka sebagai adik kelas dan juga sayang aku sebagai sesama muslim..."
"hm ......, lalu ......?"
"Ya aku jawab bahwa aku ngerti kok .... Aku juga bilang kalau aku suka dia, mungkin cuma sesaat ini aja ... Tahun depan mungkin bisa berubah ... Nanti saat kuliah ... juga akan berubah lagi, karena masih banyak cowo yang bakal aku temui. Kalaupun suatu saat aku menikah, katakanlah di usia 25, entah aku akan menikah dengan siapa ... ya dijalani aja...!"
"Hm ... jadi rencananya nikah umur 25 tahun?", tanyaku untuk mengurangi suasana murung yang terdengar dari suaranya.

"Jawabanku salah nggak, ma....? tanyanya lagi, tanpa menggubris pertanyaanku.
"Nggak .... that's a smart statement! Memang kenyataannya begitu kok!", jawabnya. Dan ini jawaban jujur. Bukan sekedar untuk menyenangkan hatinya.
"Ya sudah kalo gitu...!"
"Tapi konsisten ya .... Tunjukkan juga bahwa ucapanmu itu betul-betul bisa dilaksanakan. Tunjukkan juga bahwa kamu tidak terpengaruh oleh ucapannya .... Anggap angin lalu ... dan kalau ketemu orangnya lagi.. sapa dengan baik seperti kamu menyapa teman lelaki yang lain. Bahwa dia tidak lebih istimewa dari yang lain". Sambungku lagi
"Iya ma... tapi waktu tadi mau pulang, aku cuma lewat di depannya, nggak sempat nyapa. Kan terburu-buru mau pulang".
"Nggak apa-apa .... Yang penting untuk selanjutnya! Jadi perempuan yang tangguh ... Tahu martabat dan harga diri dan yang tidak kalah penting, tahu menjaga diri supaya tidak terjadi hal-hal buruk!".
***

Hadooooohhhh ........... Dalam hati kecil aku nyumpah-nyumpah juga ....
Gila anak gadis gue yang cantik, pintar dan baik hati, walau seringkali ngeselin hati emaknya, ditolak cowo... Huahaha... Sedih dan sakit hati juga nih emaknya. Tapi nggak apa-apa juga. Begitulah hidup. Nggak selamanya hidup berbunga-bunga dan menyenangkan.

Nggak ada yang salah di situ. Si cowo juga cukup gentle, bicara langsung walau konon kata anakku, sikap yang diambilnya karena teman-temannya mendorongnya untuk menjelaskan situasi. Konon si cowo sudah dijodohkan ibunya dengan kerabat keraton demi menjaga kemurnian darah biru mereka.  Halaaaahhhhh..... haree geenee .....

Teman-teman anakku mungkin merasa bersalah ikut jadi kompor penyulut perasaan suka remaja kencur ini. Jadi mendorong anak cowo itu untuk bicara. Ditinjau dari sudut si cowo .... aku suka dengar cerita ada anak remaja yang sedemikian taat pada orangtua. Terlihat dari sikapnya yang santun, rajin ibadah dan kalau benar, mau menerima perjodohan itu. Walau demikian prihatin juga, kok masih ada orangtua yang "mengekang" jiwa anaknya.

Tapi sebetulnya, konyol juga sih .... Tahu anakku suka sama dia, si cowo suka kirim-kirim suaranya lagi nyanyi, minta dinilai suaranya .... Pernah sekali. saat ada acara sekolah, adik si cowo yang masih duduk di SD, dipasrahkan ke anakku untuk dijaga .... Walah...... si gadis kencur ini klepek-klepeklah hatinya.....

Di lain pihak, aku rasa, jawaban anakku juga cukup cerdas.... walau aku yakin pasti hatinya babak belur  dan hancur lebur.... hehehe.... Lha, emaknya aja ikut sebal dan sedih kok, walau dalam hati agak merasa lega. Lega karena salah satu kekhawatiran melepas anak hidup di asrama, dilanda asmara dengan sesama penghuni asrama pula sekarang sudah pupus..... Aduuuhhhh...., kalau ada apa-apa,... ngeri skalee.... Takut kebablasan euy.....!!!
***

Sebetulnya, sejak awal masuk sekolah, aku sudah mulai ketar-ketir dan sebel banget deh ...! Tidak ada cerita week end, saat balik dari asrama yang ceritanya tidak nyerempet-nyerempet soal cowo itu. Ekspresif banget deh ....!


Berulang kali aku katakan..."Jadi anak perempuan itu jangan suka ngumbar perasaan deh....! Biar suka setengah mati sama cowo, nggak perlu pecicilan kesana-kemari. Jaga martabat!"
Tapi si anak terlalu cuek...
"Kuno ah...." Begitu selalu jawabnya

 Iya .... memang kuno, lha si anak aja lahir saat umur emaknya hampir 42 tahun. Ya jelas aja pikiran emaknya, kuno!
"Suka dan jatuh cinta itu peristiwa yang sangat alamiah... tidak bisa dihindari dan tidak perlu juga diingkari. Yang diperlukan adalah jaga sikap, jaga diri dan martabat"
"Iya ma ... aku juga nggak mau pacaran dulu kok...". Itu selalu jadi jawaban pamungkasnya saat terjadi perdebatan soal cowo itu
"Nah kalo gitu ... nggak usah heboh dong...."
***

Ah sudahlah ... Cerita itu sudah berlalu....! Sekarang, pasti si gadis sedang galau banget. Mungkin juga masih "nangis darah" gara-gara hal itu. Walau jawabannya cukup cerdas, tapi perasaan tetap akan berkata lain. Tapi .... tenang aja non ... Perasaan sedih, galau dan sakit hati akan hilang sebentar lagi kok .... remaja gitu loh ....!

Emaknya juga pernah ngalamin "nangis darah" gara-gara merasa dikhianati kok .... Walau lebih sering membuat hati orang tercerai berai hai....hai ........!!! Eh imbang kok kecewa dan mengecewakan orang.

Hidup kan tetap berlangsung apapun yang terjadi. So ....... keep spirit ..... dunia masih belum kiamat ....!!!

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...