Kamis, 15 Mei 2008

Problematika Rumah Tangga : Kasus 3 - Naif atau Tebar Pesona?

Suatu waktu, seorang suami bertugas ke luar kota untuk jangka waktu yang cukup lama. Menjelang keberangkatannya, dia mengajari istri dan anaknya untuk membuka email accountnya. Maklum saja, sang istri memang agak gap-tek, sementara anaknya masih duduk di bangku SD dan saat itu belum terlalu berminat dengan dunia internet. Si suami berharap  dengan memberikan akses ke dalam email accountnya,  komunikasi selama dia keluar kota tidak terganggu.

Suatu malam, si istri mulai membuka  mailbox. Keinginannya untuk belajar banyak menggunakan saluran internet, membuatnya berlama-lama mencermati email yang ada. Mungkin juga ada rasa keingintahuan yang besar atas aktifitas sehari-hari sang suami yang dilihat sangat larut saat mengakses internet setiap malam.

Satu demi satu email dibuka sampai suatu saat dia terpana …. Dalam sebuah email yang isinya sangat biasa …. Namun ditutup dengan ungkapan tidak biasa …. “peluk dan cium untukmu”. Email itu dari sang suami kepada seorang gadis. Bukan hanya satu buah email, tetapi beberapa buah. Nggak jelas apa mau si suami terhadap gadis itu. Naif atau memang berniat tebar pesona.

Sang suami mati-matian menyangkal adanya hubungan dengan si gadis. Tapi mana mungkin seorang lelaki mengakhiri pesan dengan kata-kata seperti itu bila tidak ada sesuatu di antara mereka? Siapa yang tahu?

Aku hanya ingat, di kantor, boss-boss itu sering bergurau… what shouldn’t  be done by men in case having an extra marital relationship. Katanya nih…;
  1. Kalo ingin makan sate ayam, nggak perlu pelihara ayam. Cukup beli eceran saja, dari mulai kelas kaki lima sampe di hotel berbintang 5, sesuai kemampuan kantong. Kalau mau, di semua tempat itu, pasti ada sate ayam.  (teganya… menyamakan perempuan dengan ayam….)
  2. Kalau suatu saat perselingkuhannya ketahuan atau kepergok istri, dengan cara apapun, jangan pernah mengaku.. Mengaku adalah perbuatan paling tolol sedunia, katanya.
 Gila ya….., begitu rupanya dunia lelaki.

Nah kembali kepada kasus di atas, kelihatannya semua berakhir dengan baik, walaupun perasaan si istri sangat terluka. Suami berjanji tidak melakukan hal itu lagi serta tidak akan melakukan kontak lagi dengan si gadis. Namun, maaf mungkin bisa diberikan oleh si istri, tetapi melupakan peristiwa itu bukanlah hal yang mudah. Mungkin mirip dengan peribahasa … “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”

Problematika Rumah Tangga : Kasus 2 - Suami rendah diri

Suatu hari, dengan raut wajah yang sukar diterka, seorang teman bercerita; dia baru saja menemani suaminya memenuhi panggilan Polda. Kasus yang dihadapi sangat menampar harga dirinya. Suaminya diadukan seorang perempuan atas dua hal; pertama ingkar janji untuk menikahi perempuan tersebut dan yang kedua ‘pemaksaan” atas pengguguran kandungan perempuan tersebut.

Bak selebriti, wartawan yang biasa mangkal di polda berkerumun berusaha mewawancarai kedua belah pihak yang berseteru. Temanku sendiri baru tahu kasus tersebut beberapa hari sebelumnya saat panggilan itu datang ke tempat kediaman mereka. Pada saat yang bersamaan itu pulalah sang suami membuka masalah yang dihadapinya beserta kronologis peristiwanya.

Sang suami lahir dari keluarga yang tercerai-berai. Orangtuanya bercerai karena bapaknya yang “pejabat tinggi” group suatu perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia, dengan status finansialnya yang cukup kuat, senang bermain perempuan. Itu sebabnya ibunya memilih bercerai dan membalas perilaku suaminya dengan mengawini lelaki yang lebih muda. Tinggallah anak-anaknya hidup sendiri, tumbuh besar tanpa pengasuhan orangtua.

Temanku berasal dari keluarga yang terlihat dari luar cukup harmonis. Bapaknya perwira menengah sedang ibunya sempat menjadi pejabat tinggi di Negara ini.

Pasangan ini bertemu di universitas, menikah hingga memiliki 3 orang anak. Tampaknya, usai menikah, temanku mengikuti jejak ibunya. Aktif di organisasi sosial dan politik sedangkan suaminya membantu usaha sang mertua. Walaupun bidang usaha dan kerjanya sangat bertolakbelakang dengan latar belakang pendidikannya, kelihatannya sang suami sangat larut dengan pekerjaannya. Mungkin di keluarga si istri dia merasa telah menemukan naungan kekeluargaan yang guyub. Sesuatu yang tidak ditemukannya di keluarganya yang telah tercerai berai.

Secara materi, mereka hidup sangat berkecukupan. Usaha keluarga sangat menunjang gaya hidup kelas atas. Rmah besar tidak hanya di Jakarta, juga di luar negeri. Liburan di luar negeri sambil menikmati rumah yang mereka miliki di beberapa kota dunia, belanja barang-barang bermerek menjadi keseharian gaya hidup mereka. Sebagai pekerja di perusahaan keluarga, sang suami memiliki gaji. Namun tentu saja gaji tersebut tidak sebanding dengan pengeluaran keluarga. Katakanlah; gaji yang diterimanya itu hanya sebagai uang saku anggota keluarga. Yang digunakan untuk keperluan pribadi Bukan sebagai penghasilan yang digunakan untuk menghidupi keluarganya, karena pos pengeluaran rumah tangga sudah dipenuhi oleh keluarga besar si istri.

Situasi  seperti ini menyebabkan sang suami “terlepas” dari kewajiban menafkahi anak-isterinya. Ditambah lagi, perbedaan lingkungan pergaulan antara suami dan istri bagikan langit dan bumi. Si istri bergaul dikalangan elit Jakarta dan bahkan bersahabat dekat dengan berbagai kalangan pejabat tinggi negeri ini sementara sang suami tidak pernah keluar dari cangkang keluarga. Lama kelamaan, komunikasi mereka menjadi terhambat. Masing-masing berjalan sendiri dan semakin menjauh. Suami merasa “kerdil” di lingkungan gaul istrinya dan berusaha mencari tempat gaul dimana dia menjadi diri sendiri, dihargai sebagai manusia utuh bukan menjadi sub ordinate siapapun.

Dalam kondisi seperti itulah, dia berkenalan dengan perempuan di tempat dimana dia menghabiskan malam-malam sepi sementara sang istri sibuk dengan teman gaulnya. Dengan perempuan itu, dia kemudia menjadi “hidup” dan menikmati keberadaan sebagai “lelaki”, sebagai focal point. Menjadi lelaki yang "dibutuhkan", tempat bergantungnya seorang perempuan. Dimana dia memperoleh pengakuan atas eksistensinya sebagai manusia.

Hubungan ini berlanjut semakin dalam. Bahkan, diam-diam, perempuan itu sudah dibawanya ke pertemuan di lingkungan keluarganya. Hal ini sangat mudah dilakukan karena kesibukan gaul sang istri menyebabkan si istri jarang hadir dalam pertemuan keluarga suami. Hingga akhirnya terjadilah “petaka” itu. si perempuan hamil dan lelaki tersebut “kaget” dan tidak siap menghadapi buah perbuatannya.

Tentu si lelaki tidak siap. Menikahi perempuan itu dan atau bercerai dengan istrinya berarti dia kehilangan kenyamanan hidup. Apalagi, alih-alih “memarahi” menantu yang sudah “membuat malu” keluarga dengan menghamili perempuan lain, ibu mertuanya yang berasal dari Jawa malah memarahi anak perempuannya sebagai perempuan yang tidak mampu "menjaga" suami. Prinsip khas keluarga tradisional Jawa. Itu sebabnya dalam keadaan kalut, si suami berlindung di ketiak sang istri untuk menyelesaikan perseteruan dengan the other woman. Entah deal apa yang disepakati, pendek kata, the other woman “tidak berhasil” meminta pertanggungjawaban dan kasus ditutup begitu saja.

Konon usai peristiwa tersebut, pasangan ini bercerai. Walau demikian, bekas suami masih tetap “berlindung” dalam naungan ibu mertua. 

Selasa, 13 Mei 2008

Problematika Rumah Tangga ; Kasus 1

Prolog;
Cerita-cerita ini diangkat dari kisah nyata. Supaya tidak menyinggung siapapun, maka nama, tempat kejadian dan hal lainnya disamarkan.
*****
Kejadian ini memang sudah lama sekali. Saat itu, handphone belum lazim digunakan. Hanya orang-orang kaya yang punya mobilephone dengan antene “nyeplok” di atas atap mobil. Nah dalam kondisi ini, suatu hari seorang suami baru tiba di rumah lewat tengah malam. Ini hal yang luar biasa. Biasanya dia sudah tiba di rumah sebelum maghrib sehingga keluarga itu bisa makan malam bersama.

Si istri, sudah lelah menunggu dan kelaparan. Dia selalu menunggu suami untuk makan malam bersama. Itu sebabnya, dia selalu me “wanti-wanti” suami untuk menelpon ke rumah bila tidak bisa makan malam bersama. Usai mandi si suami baru bilang bahwa dia sudah kenyang makan dan mempersilakan istrinya makan sambil ditemani;

“Kok pulang malam sekali? Darimana saja, nggak ada kabar berita?”
“Aku tadi ke tempat Ade” sahutnya sambil menyebut nama teman lamanya. Seorang perempuan yang sudah bersuami.
“Lalu? Kok nggak nelpon ke rumah dan kenapa sampai malam begini? Ada apa Ade minta kamu ke rumahnya?”
“Siang tadi, sekitar jam 14.00 Ade telpon, minta tolong. Mobilnya mogok …. Jadi aku pergi ke sana, ngurus mobilnya. Dari situ aku ngantar dia pulang.”
“Lalu?? Kenapa nggak langsung pulang?”
“Aku di ajak makan malam. Kebetulan ada mas (suaminya), ngobrol. Sesudah itu Ade ngajak saya ke rumah sakit?”
“Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?”
“Si mbok …. Pembantu rumah tangga Ade.”
“Sampai selarut ini….?”

Setiap mendengar jawaban suami, suara istri berangsur-angsur meninggi. Tidak kuasa lagi dia menahan emosinya.
“Dengar ya….. Saya juga perempuan yang setiap hari setir mobil ke kantor. Kalau suatu kali mobil saya mogok, yang pertama saya telpon adalah kantor untuk minta bantuan supir. Kalau yang pertama tidak ada, saya minta tolong adik atau suami. Camkan baik-baik… saya tidak akan pernah meminta bantuan teman lelaki mengurusnya karena itu akan mengundang fitnah. Apa kata suaminya melihat istri meminta bantuan lelaki lain walaupun dia tahu lelaki itu teman sekolahnya dulu.”
“Aku ketemu dan ngobrol dengan suaminya. Dia baik-baik saja”
“Lelaki yang santun tidak akan mengumbar amarah di depan tamunya. Jaga perasaan orang lain. Sesudah itu apa urusanmu mengantar temanmu itu menjenguk pembantunya di RS. Itu sama sekali bukan urusanmu. Dengar baik-baik … saya betul-betul tidak suka dengan keadaan ini dan tidak akan pernah mau mendengar hal ini terjadi lagi. Kamu ini naïf atau apa sih?”

Panjang lebar si istri akhirnya ngomel di tengah malam itu. Entah apa yang ada di pikiran sang suami. Mungkin dia merasa ada kebenaran dalam ucapan istrinya sehingga dia tidak mau berpanjang lebar mendebat lagi.
*****
Begitulah cerita seorang teman…. Andai suami atau istri anda mengalami hal yang sama, apa yang akan anda lakukan?

Jumat, 09 Mei 2008

Wahyu Sha in memoriam

Mungkin, tidak banyak lagi yang kenal dengan nama Wahyu Sha. Jamannya sudah berubah. Tapi buat generasi atau mahasiswa FTUI tahun 70 an, Wahyu Sha cukup dikenal. Dia adalah Ketua POSMA 75 (Pekan Orientasi Mahasiswa FTUI angkatan 1975) dan kemudian terpilih menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa 1975 - 1976.
Di masyarakat, Wahyu Sha yang ngganteng ini dikenal sebagai penyiar radio Elshinta.  Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, saya meilihat namanya terpampang sebagai salah satu calon anggota Komisi Penyiaran. Dunia broadcast rupanya tidak pernah lepas dari kehidupannya. Menjelang ajalnya, beliau menjabat sebagai Dewan Pengawas RRI.  Berikut kenangan yang ditulis oleh rekan saya di milis FTUI :
Inna lilllahi wa inna ilaihi roji'un........
Hari ini kita kehilangan lagi seorang senior yang saya kenal baik....

Hari itu awal Januari 1975.....saat kaki ini pertama kali menapakkan kaki
di Kampus FTUI Salemba, setelah melihat Pengumuman di pagi harinya......kami semua mahasiswa baru 1975 berhadapan dengan seorang Senior yang sangat bersahaja.....sekaligus sebagai Ketua Panitia POSMA SM FTUI 1975....Wahyu Sha......

Dalam kurun waktu yang cepat saya bisa dekat hubungannya, khususnya
sebagai yunior dan senior.....bahkan sekali waktu 2 senior saat itu alm
Wahyu Sha dan alm. Widianto (Ars-70) pernah tinggal (indekost) disekitar
dimana saya tinggal untuk beberapa lama....keduanya adalah figur yang
sangat akrab dengan hampir seluruh mahasiswa FTUI saat itu.......

Belakangan, Wahyu Sha menjadi Ketua Senat Mahasiswa FTUI Periode
1975-1976......yang mana dalam perjalanannya cukup banyak menghadapi
dinamika kehidupan mahasiswa FTUI saat itu.....

Wahyu Sha juga dikenal sebagai seorang Penyiar Radio Elshinta saat itu,
mulai dari lokasi di sekitar Tosari, pindah ke Cikini dan terakhir saya
tahu di sekitar Rawasari.....beberapa kali saya ikut menemani Wahyu Sha
saat bertugas tengah malam....Rabu malam.....banyak hal yang kita
diskusikan pada acara malam sampai menjelang subuh itu.....

Wahyu Sha seorang yang humoris dan pencinta musik juga....bersama-sama Prof. Ral...Arifin Sasongko....Ibnu Kartiko...Budi Sis...Desmond
Tobing....dan beberapa nama lain yang saya lupa, ikut menyemarakkan
kehidupan mahasiswa FTUI di bidang seni dengan membentuk LISMA - Lingkaran Seni Mahasiswa FTUI.......

Selamat jalan kakakku...sahabatku.....Wahyu Sha.....semoga seluruh amal
ibadah Mu diterima disisi Allah SWT....Amin....
Hari ini, di hari Jum'at yang baik, Allah SWT telah mencukupkan waktunya. Batas kehidupan dunia yang fana untuk memberikan jalan ke keabadian. Mungkin Allah SWT menganggap bekalnya untuk menghadapNya telah cukup, dan semoga demikian adanya.

Kita yang masih tertinggal dalam kereta duniawi masih menunggu giliran. Semoga waktu yang tersisa tidak membawa mudarat, yang bisa menghapus amal ibadah yang kita jalankan setiap hari.
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun 

Kamis, 08 Mei 2008

arti sebuah nama

Orang Indonesia, terutama dari suku Jawa, menurutku, kalo ngasi nama ke anak-anaknya rada njlimet. Nama anak itu nggak pernah simple bin singkat. Mnimal ada dua kata, harus punya arti.

Arti sebuah nama itu bisa diambil dari peristiwa yang terjadi saat si anak lahir. Kalau si anak lahir saat orangtuanya sedang prihatin, maka nama si anak bisa jadi mengandung kata prihatin. Contohnya Prihatiningrum atau Prihatiningsih. Saya pernah baca ada yang diberi nama Kasihani. Apa si ortu itu nggak mikir ..... si anak itu disuruh prihatin atau dikasihani seumur hidup, atau gimana?   

Nama anak juga, bisa menunjukkan tempat dimana dia lahir. Mungkin buat kenang-kenangan. Apalagi kalau si anak lahir di nagri orang. Gaya, kali ya. Tapi maksa banget .... Saya pernah nemuin orang yang namanya Belgiawan dan Malaysiawan. Mungkin kedua orang itu lahir di Belgia atau Malaysia. Atau saat si anak lahir, bapaknya lagi sekolah/dapat beasiswa di negara tersebut. Jadi si anak dikasi nama seperti itu. Lumayan buat kenang-kenangan. Tapi saya nggak pernah nemu anak yang namanya Medania atau Bogoriani, gitu.....

Saya juga pernah nemuin anak yang namanya Pariorza. Selintas, nama anak itu unik. Tapi saya tahu betul bahwa nama itu diambil dari padanan nama dua kota Paris dan Orsay. Si anak memang lahir di Paris saat bapaknya dapat beasiswa ke Perancis dan di Perancis mereka tinggal di Orsay. Anak itu sekarang mungkin sudah berumur sekitar 24 tahun.
Ini juga khas Jawa. Orangtua yang berasal dari Jawa, kalo ngasi nama anak, seringkali diawali dengan nama depan yang sama. Misalnya Bambang ini dan Bambang itu seterusnya atau Joko ini dan Joko itu ... untuk nama anak-anak lelaki. Atau Koes anu dan Koes ini atau Sri anu dan Sri ini. Contoh paling jelas, keluarga Sri Edi Swasono yang suami menteri negara pemberdayaan perempuan Meutia Hatta. Semua nama anggota keluarganya diawali dengan Sri. Minimal, ada satu yang saya kenal; Sri Bintang Pamungkas yang dedengkot PUDI dan pernah dipenjarakan oleh rezim Suharto dalam kasus penghinaan presiden di Dresden - Jerman.

Kakak beradik Sylviana Murni - walikota Jakarta Pusat yang asli betawi, punya nama akhir Murni. Dari mulai Diana Murni si sulung hingga yang bungsu.... hehehe, saya nggak tahu siapa namanya. Ini saya yakin gabungan dari penggalan suku kata pertama nama kedua orangtuanya. Mur dari Murdjani sang ayah dan Ni dari Ni'mah sang ibu. Cuma saya nggak tahu apakah Levi, lelaki satu-satunya dari 11 bersaudara itu menyandang nama Murni juga atau tidak, karena Murni rasanya lebih cocok disandingkan dengan nama perempuan.
RALDI - a Tibetan Spiritual Dagger

Nenek/kakek saya yang Minang, lain lagi gayanya dalam menamakan anak-anaknya. Lima anaknya yang besar, namanya biasa aja. Nama standar orang Minang. Nah 3 anaknya yang terkecil dinamakan sesuai dengan peristiwa yang terjadi pada tahun kelahirannya. Oomku yang lahir di tahun pemerintahan RIS (republik Indonesia Serikat) dinamakan Risdwan. Padahal biasanya orang menamakan anak Ridwan. 

Ada oom yang dinamakan Syafruddin karena lahir pada saat Syafrudin Prawiranegara menjadi perdana menteri. Yang paling seru, oomku yang lahir pada saat dibukanya terusan suez yang memisahkan benua Afrika dengan benua Asia. Ayo siapa nama oomku itu.......? Ternyata dengan pe-denya, nenek dan kakekku menamakan anaknya SUEZ CANAL, alias terusan Suez. 

Suami saya, sebelas bersaudara, semuanya punya awal nama Raldi. Bayangin aja, 11 anak dengan nama depan Raldi ..... Jadi kalo suatu kali ada teman mereka datang ke rumah terus bilang  "Mau ketemu dengan Raldi..." Mungkin ibu/bapak mertuaku akan manggil ke 11 anaknya itu lalu dijejerin 11 Raldi itu di ruang tamu, terus bilang..... " eh tamu, pilih deh mau Raldi yang mana.....!" Hehehe......
Siler RALDI (Tibetan Dagger)
Sekarang, mereka semua sudah berumur.... yang paling kecil, sudah hampir 50 tahun. Problem lain timbul.... istri-istrinya berebut nama panggilan. Minimal setahu saya ada dua yang berebut nama panggilan suaminya sebagai mas Ral ..... Untung saya nggak termasuk, walaupun saya tahu, di kampus, suami dipanggil pak Ral oleh mahasiswa dan dosen yunior. Namun di kalangan dekat (keluarga) dan dosen senior yang notabene teman-teman kuliahnya dulu dia tidak dipanggil dengan nama Raldi.

Tapi apa sih sebetulnya Raldi? Saya pernah browsing dan ternyata Raldi adalah senjata tajam yang bentuknya seperti keris dengan bentuk unik penuh ragam hias yang berasal dari Tibet. Saya nggak tahu apakan ibu/bapak mertua tahu apa arti Raldi saat memberi nama ke 11 anaknya itu. Atau nama itu hanya rekaan semata yang dianggapnya cukup indah.

Saya lebih cenderung pada asumsi pertama, karena bapak mertua saya konon dulu penganut kejawen yang mendasari segala tindak-tanduk dan perilaku berdasarkan falsafah Jawa. Beliau tidak akan sembarangan dalam melakukan apapun juga. Wallahu alam.
Nah, berikut saya tampilkan bentuk-bentuk Raldi - sang "keris" Tibet. Indah, kan?

Rabu, 07 Mei 2008

Rahasia Meede - Misteri Harta Karun VOC


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:ES Ito
Rahasia Meede – Misteri harta karun VOC.
ES Ito

Saat seseorang menulis resensi buku Rahasia Meede di suatu milis, saya hanya membaca sekilas dan sama sekali tidak tertarik. Nama pengarangnya tidak pernah terdengar di belantara perbukuan Indonesia. Belum lagi judulnya yang berbau sejarah. Tidak banyak pengarang Indonesia yang mampu meramu dan menyajikan cerita berlatarbelakang sejarah dengan menarik. Kalau boleh jujur, jarang ada orang Indonesia yang menghayati sejarah bangsanya. Apalagi, setelah membaca tuntas 5 buah buku Gajah Mada, saya sangat kecewa membaca buku Candi Murca dari pengarang yang sama. Pendeknya, agak under estimate – lah terhadap buku Rahasia Meede.

Diam-diam, dua minggu yang lalu, suami membeli buku Rahasia Meede. Seperti biasa, dia membacanya dengan tempo yang sangat lambat. Buku tersebut lebih sering terlihat tergeletak di atas meja dibandingkan dengan berada ditangannya. Keadaan itu pulalah yang memancing saya membaca buku Rahasia Meede.
*****

Buku Rahasia Meede dibuka dengan prolog yang menggambarkan pertentangan di antara anggota delegasi Indonesia serta alotnya perundingan dalam KMB di Den Haag bulan Nopember 1949 yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia serta hak bangsa Indonesia atas Batig Slot .

Plot cerita kemudian beralih pada perjalanan Batu Noah Gultom, wartawan harian Indonesia Raya ke Boven Digul untuk investigasi kematian seorang pejabat tinggi Indonesia. Kematian tersebut rupanya memancing naluri investigatif Parada Gultom, wartawan senior harian yang sama, karena sama dengan 4 kematian sebelumnya atas tokoh-tokoh Indonesia, kematian Joko Prianto Surono didahului dengan isyarat berupa tulisan salah satu ucapan Mahatma Gandhi tentang dosa social dan seluruh lokasi kematian selalu berawal dengan huruf B. Lebih tegas lagi lokasi kematian selalu berhubungan dengan tempat-tempat bersejarah dalam kehidupan bung Hatta. Salah satu founding father bangsa Indonesia.

Cerita kemudian lompat kepada perjalanan 3 orang ahli purbakala yang dikirim oleh Yayasan Oud Batavie untuk menyelidiki tentang VOC, lalu tentang Guru Uban, seorang guru sejarah di sebuah kota kecamatan kecil di pinggiran Jakarta.

Ada juga petualangan Cathleen Zwinckel, mahasiswi pasca sarjana yang sedang menyusun thesisnya. Cathleen, selain ingin merampungkan thesisnya tentang misetri kebangkrutan VOC, ternyata juga menyimpan misi pribadi untuk menyusuri jejak moyangnya yang ternyata merupakan salah satu tokoh yang mempunyai peran besar pada zaman keemasan VOC di bumi Nusantara.

Bersama dengan Lusi, seorang putri diplomat, Cathleen diculik secara misterius dan setelah dipisahkan dari Lusi, dia dibawa ke Banda Neira untuk bertemu dengan Kalek yang dianggap sebagai salah satu gembong pelaku anarkis.

Masih banyak tokoh-tokoh lain seperti Parada Gultom, Attar Malaka yang sudah dianggap mati, Suryo Lelono, Rian, Darmoko, Roni Damhuri. Semua tokoh, masing-masing memiliki kisah dan kepentingan sendiri atas harta karun VOC. Seluruh kisah jalin menjalin dengan plot yang terlihat seperti berjalan sendiri-sendiri,

Cerita dibangun mirip seperti jalinan cerita Dan Brown dalam thriller Da Vinci Code dan Angel & Demon, namun ES Ito menuturkannya dalam tempo yang lebih lambat. Sangat menarik bahwa akhirnya ada pengarang muda Indonesia yang lahir pada tahun 1981, mampu menuturkan sebuah cerita dengan latar belakang sejarah dengan sangat baik. Sayangnya, berbeda dengan Dan Brown, ES Ito tidak memberikan indikasi lokasi, data-data dan benda bersejarah yang diadopsi dalam cerita benar-benar ada dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun sebagai karya anak bangsa, buku Rahasia Meede – Misteri Harta KarunVOC terlalu sayang untuk diabaikan.
----
KMB - Konferensi Meja Bundar
Batig Slot - Semacam pampas an/ganti rugi perang

Believe it or not - but its true


batuan yg konon keluar dr ginjalku
Dalam kondisi obat-obatan mahal dan kecurigaan kepada dokter di kota-kota besar yang cenderung memborbardir pasien dengan tata cara pengobatan yang berlebihan, banyak orang akhirnya beralih kepada pengobatan alternatif baik berupa pengobatan herbal maupun supranatural.

Pertemuan atau lebih tepat disebutkan “terjerumusnya” saya pada pengobatan supranatural bukan hal yang baru. Ini cerita lama yang bermula saat saya menderita “ketidakseimbangan” hormon yang mengakibatkan terjadinya perdarahan yang tidak berkeputusan. 

Itu terjadi pada tahun 1987 hingga tahun 1994, terutama pada separuh waktu terakhir. Setelah sembuh, saya tidak lagi berhubungan dengan cara-cara pengobatan seperti itu, tapi lebih kepada self healing. Sedangkan “percumbuan” kembali dengan dunia supranatural secara tidak sengaja terjadi sekitar dua minggu yang lalu. Kenapa saya menggunakan istilah percumbuan, tentu berkaitan dengan cara penyembuhan supranatural tersebut.

Sekitar dua bulan yang lalu, seorang rekan kantor yang sedang sibuk membantu mengurus pernikahan temannya bigboss bercerita bahwa seorang artis yang terlibat dalam kepanitiaan tersebut menginformasikan tentang seorang lelaki asal daerah timur Indonesia memiliki kemampuan supranatural untuk penyembuhan berbagai penyakit.Beberapa aktor/aktris terkenal diketahui menjadi pasiennya. Sang informan juga menceritakan cara pengobatan yang dilakukannya, sampai kami yang mendengarkan cerita tersebut akhirnya tertawa ngakak ….. tidak terbayangkan bagaimana saat sang ‘dukun” mengobati  pasien penderita kanker payudara. Kami, saya dan teman yang bercerita tersebut, saling berjanji untuk suatu saat “mencoba” pengobatan tersebut. Sekedar ingin tahu.

Rencana tersebut belum sempat terlaksana hingga suatu saat, teman saya itu cerita bahwa suaminya yang sedang bertugas di Banda Aceh terpaksa pulang ke Jakarta karena menderita. Kencingnya berdarah dan telah terindikasi terdapat batu yang menyumbat saluran kencing, sesuai dengan hasil ultrasonography alias USG. Dokter sudah “memerintahkan” untuk dilakukan operasi pembuangan batu ginjal. Sementara itu sang suami termasuk golongan yang takut menghadapi pisau operasi sehingga dalam kesakitan, dia berusaha “bernegosiasi” dengan istrinya untuk menunda-nunda pelaksanaan operasi. 

Pada kesempatan itulah, sang istri alias temanku menganjurkannya untuk mencoba pengobatan supranatural tersebut. Lagi-lagi sang suami yang sangat “rasional” menolak sambil “melecehkan” …..
“wah…… mau disembur apa lagi? Ntar jangan-jangan dia main sulap, segala macam batu dibikin keluar dari badanku…. Batu berlian boleh dong, dikeluarin …..!!!”, begitu katanya.

Namun demikian, karena tidak tahan dengan rasa sakit saat buang air kecil serta darah yang menyertainya, dia terpaksa mengikuti saran istrinya untuk melakukan pengobatan supranatural. Saya tidak sempat bertanya detail apa yang terjadi selama pengobatan tersebut dan bagaimana kelanjutannya. Pendek kata, si suami kembali ke Banda Aceh dengan gagah berani, walaupun belum melakukan pengecekan ulang pasca pengobatan supranatural tersebut dengan pemeriksaan USG, untuk meyakinkan diri bahwa batu-batu saluran ureternya telah lenyap.

Akhir bulan yang lalu, usai makan siang di warung Padang di kawasan pasar minggu, saya merasa sakit yang amat sangat di pinggang kanan. Seperti cedera otot berat namun kali ini disertai sakit kepala dan demam. Suhu badan terasa sedikit meningkat. Sore itu saya mencoba mengintrospeksi diri. Apa kegiatan dan makanan yang masuk ke dalam perut seharian itu. Hanya separuh porsi nasi ditambah ayam pop lengkap dengan daun singkong+sambal. Rasanya makanan itu tidak berpotensi menyebabkan sakit pinggang. Kombinasi sakit pinggang, sakit kepala dan demam menyebabkan saya menaruh curiga bahwa ginjal saya bermasalah.

Saya tidak terkejut karenanya. Kondisi ini sudah diramalkan 28 tahun yang lalu oleh dokter di Poitiers-France. Saat itu, pulang dari Paris, bangun tidur di pagi hari saya mengalami sulit kencing sepanjang hari dan malamnya, kontan keluar darah walaupun hanya beberapa tetes. Dokter sudah memberitahu bahwa radang kandung kemih yang saya alami saat itu merupakan pertanda bahwa saya memiliki kecenderungan untuk suatu saat “mendulang” batu ginjal.  

Hari kamis 24 April 2008
Saya memaksakan diri masuk kantor karena ada jadwal rapat rutin, tapi demam dan sakit kepala menyebabkan saya pulang lebih cepat. Di rumah, saya mengirim sms ke adik menceritakan “penderitaan” saya. Semula adik saya hanya menduga cedera otot. Saya ngotot, kalau hanya cedera otot, maka saya tidak akan mengalami sakit kepala dan demam. Akhirnya, adik saya menyarankan untuk melakukan pemeriksaan urine di laboratorium serta USG ginjal untuk mencari penyebabnya.

Jum’at 25 April 2008
Saya tidak masuk kantor. Semalaman saya tidak bisa tidur karena demam dan sakit kepala. Sekitar jam 10 pagi, saya memaksakan diri pergi ke Prodia di Bona Indah dan langsung tidur sesudahnya. Usai shalat ashar, saya meminta adik mengambil hasil lab dan langsung mengirimkan hasil pemeriksaan urine melalui sms.

Sambil menunggu hasil lab, saya browsing kesana kemari mencari informasi mengenai batu ginjal. Batu ginjal sebetulnya bukan penyakit. Semua orang bisa mengalaminya apabila dia seringkali menahan kencing sehingga terjadi kristaslisasi dari unsure mineral yang terkandung dalam air kemih. Mineral itu bisa disebabkan oleh kandunga purin (berasal dari jeroan), asam urat dan berbagai macam sumber yang berasal dari apa yang dimakan. Kecenderungan pembentukan batu ginjal akan bertambah apabila dalam keluarga ada yang pernah mengalami batu ginjal atau kita sering mengalami peradangan kandung kemih yang biasa disebut anyang-anyangan atau jeungjeuriheun kata orang sunda.

Batu ginjal bukan penyakit, tetapi apabila dia menyumbat dan melukai saluran kencing–ureter, maka luka tersebut akan mengundang datangnya bakteri dan bakteri akan naik ke ginjal melalui air kemih yang tersumbat. Bakteri itulah yang akan merusak kinerja ginjal yang lama kelamaan bisa mengakibatkan gagal ginjal. Warna batu ginjal bermacam-macam tergantung dari materi pembentuknya.

Tidak ada pengobatan untuk mencegah pembentukan batu ginjal kecuali kita memperbanyak minum air bening, tidak menahan kencing serta tidak menyantap makanan pembentuk batu ginjal, yaitu makanan pembentuk asam urat, purin dll.

Membaca sms yang berisi laporan hasil lab, adik perempuan saya menyatakan bahwa ada kemungkinan peradangan di ginjal karena kadar leukosit saya tinggi dan urine mengandung darah. Dia juga menganjurkan segera dilakukan USG untuk menentukan tindaklanjutnya. Saya mencoba mencari pelayanan USG, namun kesemuanya baru bisa dilakukan pada hari sabtu.

Sore itu, usai menelpon prodia Gunawarman–Kebayoran Baru, saya teringat teman saya dan pengobatan yang dijalani suaminya. Segera saya bujuk anak gadis saya untuk menemani. Suami saat itu belum pulang dari kampus. Hari Jum’at, dia biasanya bersepeda di kampus.

Jum’at sore itu, saya meluncur ke daerah Cipete. Untunglah, walaupun pinggang sakit ditambah dengan sakit kepala dan demam, saya masih sanggup setir mobil pulang pergi.

Tempat praktek itu cukup ramai, sempat kecut juga membayangkan waktu yang harus di”buang” untuk menunggu praktek supranatural tersebut. Apalagi, saya mendapat nomor 14, dan terlihat masih ada sekitar 8 orang di teras tempat para “pasien” menunggu.

Giliran saya tiba…. Pinggang saya ditekan-tekan dan….. slurp …..
“Hm …. Banyak pasirnya…. Ayo balik badannya”, katanya sambil membuang ludah ke atas tumpukan kertas. Air ludah itu berwarna keruh seperti teh.
Saya membalikkan badan dan ….. slurp …..
“Nah…. Ada satu nih…..!”, begitu katanya. Saya melihat ke arah tumpukan kertas yang berada di atas meja. Konon katanya batu tersebut diambilnya dari dalam ginjal saya.
“Boleh saya ambil pak?” Niat saya, ingin “menguji” apakah batu itu betul batu ginjal atau batu jejadian.
“Ya…. Bawa saja..! Jangan lupa…. Besok datang lagi, saya rasa 3 – 4 kali bisa tuntas. Jangan lupa oleskan minyak, silakan beli di luar (maksudnya di ruang tunggu)”, begitu katanya.

Tidak sampai 5 menit, pengobatan selesai. Sayapun segera pulang, setelah sebelumnya membeli sebotol ukuran 50ml ramuan minyak khas. Konon ramuan tersebut khusus dibuat di Palu, kampung halaman si bapak. Di rumah, saya segera mandi dan mengoleskan minyak tersebut dipinggang. Malam itu saya tidur dengan lebih nyenyak. Demam menghilang seketika.

Sabtu 26 April 2008.
Pagi saya kembali ke cipete. Pagi hari itu dikeluarkan 2 butir batu dengan ukuran yang lebih kecil sementara sore hari diambil 1 butir batu yang paling besar di antara ke 4 batu yang berhasil dikeluarkan.

Senin 28 April 2008,
Saya masih harus kembali lagi, karena konon katanya ginjal saya belum bersih. Masih berpasir katanya. Memang dalam laporan hasil pemeriksaan laboratorium Prodia, tertulis bahwa ada sediment halus dan kasar dalam urine. Itu adalah kondisi ginjal kanan. Sedangkan ginjal kiri, konon terdapat pengapuran yang harus dibersihkan.

Hari ini, Rabu 7 Mei 2008
Saya datang kembali ke Cipete.
“Hm …. Sudah bersih”, begitu katanya setelah melihat air yang dibuang ke atas kertas. Warnanya memang sudah lebih bening, tidak kerus seperti teh lagi.
“Kontrol lagi ya …..!”
“Kapan….?”
“Satu bulan lagi deh”
“OK ……, Terimakasih dan selamat siang pak”

Begitulah, saya menjalani pengobatan supranatural itu. Saya belum sempat meminta adik untuk mengecek apakah batu tersebut betul-betul batu ginjal. Namun teman saya mengkonfirmasikan bahwa batu yang “diambil” dari ureter suaminya memang sama bentuk dan bangunnya dengan batu yang keluar bersamaan dengan kencing suaminya.

Suaminya memang sudah “memiliki” batu ginjal [i] selama bertahun-tahun dan secara rutin setiap dua tahun, dia mengalami penderitaan “kencing darah” karena saluran kemihnya tersumbat batu dan setelah meminum air cukup banyak, sambil menahan rasa sakit yang amat sangat, batu-batu dan pasir bisa keluar bersama air kencingnya. Konon sang suami yang berasal dari sumatera barat memang “tidak mampu” menahan godaan memakan makanan yang dipantang oleh orang yang tubuhnya memiliki kecenderungan membentuk batu ginjal.  




[i] Ini foto “batu ginjal”  yang konon diambil lagi ginjal tanpa operasi

BUKAN KARANGAN BUNGA🌺🌺

 Dapat kiriman tulisan yang bagus, untuk refleksi diri DICARI Teman yg bisa  Mensholatkan kita...   Ketika KITA WAFAT... BUKAN KARANGAN BUNG...